laporan kasus asma -aidil dafitra

Post on 03-Jun-2018

228 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    1/20

    1

    BAB I

    TINJAUAN PUSTAKA

    1. Definisi

    Asma merupakan penyakit inflamasi kronis saluran napas yang ditandai dengan mengi

    episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas.1 Asma penyakit

    gangguan inflamasi kronis saluran pernafasan yang dihubungkan dengan hiperresponsif,

    keterbatasan aliran udara yang reversibel dan gejala pernafasan.2 Asma sebagai kumpulan

    tanda dan gejala wheezing (mengi) dan atau batuk dengan karakteristik sebagai berikut:

    timbul secara episodik dan atau kronik, cenderung pada malam hari/dini hari (nocturnal),

    musiman, adanya faktor pencetus diantaranya aktivitas fisik dan bersifat reversibel baik

    secara spontan maupun dengan pengobatan, serta adanya riwayat asma atau atopi lain pada

    pasien/keluarganya, sedangkan sebab-sebab lain sudah disingkirkan. Asma terdiri atas tiga

    hal yaitu obstruksi saluran nafas yang reversibel, hiperaktif saluran nafas serta inflamasi

    saluran nafas.3,4

    Global Initiative for Asthma (GINA) mendefinisikan asma sebagai gangguaninflamasi kronik saluran nafas dengan banyak sel yang berperan, khususnya sel mast,

    eosinofil, dan limfosit T. Padaorang yang rentan inflamasi ini menyebabkan mengi berulang,

    sesak nafas, rasatertekan di dada dan batuk, khususnya pada malam atau dini hari.4

    2. Epidemiologi

    Asma merupakan peyakit kronik yang menjadi masalah kesehatan masyarakat dunia

    dan termasuk 10 besar penyakit penyebab kesakitan dan kematian di indonesia. Asma

    mempunyai distribusi bifasik yaitu prevalensi tertinggi penyakit ini terjadi pada saat usia

    anak kemudian pada usia pertengahan dan dewasa tua. sekitar separuh kasus timbul sebelum

    usia 10 tahun dan sepertiga kasus lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun.4

    Prevalensi asma di seluruh dunia adalah sebesar 8-10% pada anak dan 3-5% pada

    dewasa, dan dalam 10 tahun terakhir ini meningkat sebesar 50%. Di Amerika kunjungan

    pasien asma pada pasien berjenis kelamin perempuan di bagian gawat darurat dan akhirnyamemerlukan perawatan di rumah sakit dua kali lebih banyak daripada pasien pria. Di

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    2/20

    2

    Australia, Kanada dan Spanyol dilaporkan bahwa kunjungan pasien dengan asma akut

    dibagian gawat darurat berkisar antara 1-12%.5

    Hasil penelitian International study on asthma and alergies in childhoodpada tahun

    2006, menunjukkan bahwa di Indonesia prevalensi gejala penyakit asma meningkat dari 4,2%

    menjadi 5,4%.6

    Di Indonesia belum ada data epidemiologi yang pasti namun diperkirakan berkisar 3-

    8%. Penelitian yang dilakukan oleh Anggia (2005) di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru

    didapatkan kelompok umur terbanyak yang menderita asma adalah 25-34 tahun sebanyak 17

    orang (24,29%) dari 70 orang, dan perempuan lebih banyak dari pada laki-laki (52,86%).7

    Dua pertiga penderita asma bronkial merupakan asma bronkial alergi (atopi) dan 50%

    pasien asma bronkial berat merupakan asma bronkial atopi. Asma bronkial atopi ditandai

    dengan timbulnya antibodi terhadap satu atau lebih alergen seperti debu, tungau rumah, bulu

    binatang dan jamur. Atopi ditandai oleh peningkatan produksi IgE sebagai respon terhadap

    alergen. Prevalensi asma bronkial non atopi tidak melebihi angka 10%. Asma bronkial

    merupakan interaksi yang kompleks antara faktor genetik dan lingkungan. Data pada

    penelitian saudara kembar monozigot dan dizigot, didapatkan kemungkinan kejadian asma

    bronkial diturunkan sebesar 60-70%.

    8

    3. Patofisiologi

    Pemicu yang berbeda akan menyebabkan eksaserbasi asma oleh karena inflamasi

    saluran nafas atau bronkospasme akut atau keduanya. Sesuatu yang dapat memicu serangan

    asma ini sangat bervariasi antara satu individu dengan individu yang lain. Beberapa hal

    diantaranya adalah alergen, polusi udara, infeksi saluran nafas, kelelahan, perubahan cuaca,

    makanan, obat atau ekspresi emosi yang berlebihan, rinitis, sinusitis bakterial, menstruasi,

    refluks gastroesofageal dan kehamilan.1

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    3/20

    3

    Berikut adalah gambar patofisiologi dari asma.

    Gambar 1.Patofisiologi Asma

    9

    Alergen akan memicu terjadinya bronkokonstriksi akibat dari pelepasan Ig E

    dependent dari sel mast saluran pernafasan dari mediator, termasuk diantaranya histamin,

    prostaglandin, leukotrien sehingga akan terjadi kontraksi otot polos. Keterbatasan aliran

    udara yang bersifat akut ini kemungkinan juga terjadi oleh karena saluran pernafasan pada

    pasien asma sangat hiperresponsif terhadap bermacam-macam jenis serangan. Akibatnya

    keterebatasan aliran udara timbul oleh karena adanya pembengkakan dinding saluran nafas

    dengan atau tanpa kontraksi otot polos. Peningkatan permeabilitas dan kebocoran

    mikrovaskular berperan terhadap penebalan dan pembengkakan pada sisi luar otot polos

    saluran pernafasan.10

    Penyempitan saluran pernafasan yang bersifat progresif yang disebabkan oleh

    inflamasi saluran pernafasan dan atau peningkatan tonus otot polos bronkhioler merupakan

    gejala serangan asma akut dan berperan terhadap peningkatan resistensi aliran, hiperinflasi

    pulmoner, dan ketidakseimbangan ventilasi dan perfusi.1

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    4/20

    4

    Pada penderita asma bronkial karena saluran nafasnya sangat peka (hipersensitif)

    terhadap adanya partikel udara, sebelum sempat partikel tersebut dikeluarkan dari tubuh,

    maka jalan nafas (bronkus) memberi reaksi yang sangat berlebihan (hiperreaktif), maka

    terjadilah keadaan dimana10:

    Otot polos yang menghubungkan cincin tulang rawan akan berkontraksi /memendek. Produksi kelenjar lendir yang berlebihan Bila ada infeksi akan terjadi reaksi sembab /udem saluran nafas

    Proses inflamasi kronik pada asma akan meimbulkan kerusakan jaringan yang secara

    fisiologis akan diikuti oleh proses penyembuhan (healing process) yang menghasilkan

    perbaikan (repair) dan pergantian selsel mati/rusak dengan sel-sel yang baru. Proses

    penyembuhan tersebut melibatkan regenerasi jaringan yang rusak dengan jenis sel parenkim

    yang sama dan pergantian jaringan yang rusak dengan jaringan peyambung yang

    menghasilkan jaringan skar. Pada asma, kedua proses tersebut berkontribusi dalam proses

    penyembuhan dan inflamasi yang kemudian akan menghasilkan perubahan struktur yang

    mempunyai mekanisme sangat kompleks dan banyak belum diketahui dikenal dengan

    airway remodeling. Hasil akhir dari semua ini adalah penyempitan rongga saluran nafas.

    Akibatnya menjadi sesak nafas, batuk keras bila paru mulai berusaha untuk membersihkan

    diri, keluar dahak yang kental bersama batuk, terdengar suara nafas yang berbunyi yang

    timbul apabila udara dipaksakan melalui saluran nafas yang sempit. Suara nafas tersebut

    dapat sampai terdengar keras terutama saat mengeluarkan nafas.9

    Obstruksi aliran udara merupakan gangguan fisiologis terpenting pada asma.

    Gangguan ini akan menghambat aliran udara selama inspirasi dan ekspirasi dan dapat dinilai

    dengan tes fungsi paru yang sederhana sepertiPeak Expiratory Flow Rate(PEFR) dan FEV1

    (Forced Expiration Volume). Ketika terjadi obstruksi aliran udara saat ekspirasi yang relatif

    cukup berat akan menyebabkan pertukaran aliran udara yang kecil untuk mencegah

    kembalinya tekanan alveolar terhadap tekanan atmosfer maka akan terjadi hiperinflasi

    dinamik. Besarnya hiper inflasi dapat dinilai dengan derajat penurunan kapasitas cadangan

    fungsional dan volume cadangan. Fenomena ini dapat pula terlihat pada foto toraks yang

    memperlihatkan gambaran volume paru yang membesar dan diafragma yang mendatar.1

    Penyempitan saluran napas asma bronkial disebabkan oleh reaksi inflamasi kronik

    yang didahului oleh factor pencetus, beberapa factor yang sering menjadi pencetus seranganasma adalah11:

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    5/20

    5

    A. Faktor penjamu, faktor pada pasien

    1. Aspek genetik2. Kemungkinan alergi3. Saluran napas yang memang mudah terangsang4. Jenis kelamin5. Ras/etnik

    B. Faktor l ingkungan

    1. Bahan-bahan di dalam ruangan :- Tungau debu rumah

    - Binatang, kecoa

    2. Bahan-bahan di luar ruangan- Tepung sari bunga

    - Jamur

    3. Makanan-makanan tertentu, Bahan pengawet, penyedap,pewarna makanan

    4. Obat-obatan tertentu5. Iritan (parfum, bau-bauan merangsang, household spray )6. Ekspresi emosi yang berlebihan7. Asap rokok dari perokok aktif dan pasif8. Polusi udara dari luar dan dalam ruangan9. Infeksi saluran napas10.Exercise induced asthma, mereka yang kambuh asmanya ketika melakukan

    aktivitas fisik tertentu.

    11. Perubahan cuaca

  • 8/12/2019 Laporan Kasus Asma -Aidil Dafitra

    6/20

    6

    4. Klasifikasi

    Klasifikasi berdasrkan derajat asma dapat dibagi11:

    1. Intermitena) Gejala klinis 1 kali/ minggu tetapi < 1 kali/hari

    b) Gejala malam >2 kali perbulanc) Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidurd) Volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) 80% nilai prediksi atau arus

    puncak ekspirasi (APE) 80% nilai terbaik

    e) Variability APE 20% - 30%3. Persisten Sedang

    a) Gejala setiap harib) Gejala malam > 1 kali/mingguc) Serangan dapat mengganggu aktivitas dan tidurd) Volume ekspirasi paksa detik pertama (VEP1) 60% - 80% nilai prediksi atau arus

    puncak ekspirasi (APE) 60% - 80% nilai terbaik

    e) Variability APE >30%4. Persisten Berat

    a) Gejala terus menerusb) Gejala malam seringc) Serin