laporan fix

of 71 /71
SKENARIO KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGAN BLOK 25 Oleh: Prof.Dr.Tan Malaka Sebuah desa terletak di pinggir jalan raya Lintas Sumatera di Ogan Ilir yakni di desa Mjt. Komunitas disini terdiri atas sekitar 500 KK dengan populasi sekitar 2000 orang. Mata pencaharian utama di desa ini adalah pertanian dan pertukangan. Pertanian terutama padi sawah dan karet alam. Rumah penduduk beragam ada yang dari kayu dan ada yang dari semen sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Dari kedua jenis itu, ada pula yang lantainya dari tanah. Anak-anak dan orang dewasa sebagian memakai alas kaki tapi lebih banyak yang telanjang kaki. Sumber air utama masyarakat untuk kebutuhan domestic adalah sungai Ogan; juga dari air rawa yaitu dari sawah di sekitar desa. Sebagian besar KK memiliki sumur sendiri, namun sumur tersebut biasanya kering di musim kemarau. Sumber energi yang digunakan penduduk untuk lampu/penerangan adalah listrik; untuk masak memasak sebagian besar masih memakai kayu bakar, sebagian kecil memakai kompor minyak tanah. Tapi sejak minyak tanah menjadi langka, penduduk kembali menggunakan kayu bakar, hanya sebagian kecil yang menggunakan gas LPG. Ada sebagian masyarakat yang menggunakan briket batubara. Pada Bulan Januari sampai Agustus, kualitas udara di desa baik sekali namun pada Bulan September sampai Desember seringkali ada serangan kabut asap yang dapat sampai berminggu-minggu. 1

Author: denis-puja-sakti

Post on 14-Apr-2017

227 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

SKENARIO KESEHATAN MASYARAKAT LINGKUNGANBLOK 25Oleh: Prof.Dr.Tan MalakaSebuah desa terletak di pinggir jalan raya Lintas Sumatera di Ogan Ilir yakni di desa Mjt. Komunitas disini terdiri atas sekitar 500 KK dengan populasi sekitar 2000 orang. Mata pencaharian utama di desa ini adalah pertanian dan pertukangan. Pertanian terutama padi sawah dan karet alam.Rumah penduduk beragam ada yang dari kayu dan ada yang dari semen sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Dari kedua jenis itu, ada pula yang lantainya dari tanah. Anak-anak dan orang dewasa sebagian memakai alas kaki tapi lebih banyak yang telanjang kaki.Sumber air utama masyarakat untuk kebutuhan domestic adalah sungai Ogan; juga dari air rawa yaitu dari sawah di sekitar desa. Sebagian besar KK memiliki sumur sendiri, namun sumur tersebut biasanya kering di musim kemarau.Sumber energi yang digunakan penduduk untuk lampu/penerangan adalah listrik; untuk masak memasak sebagian besar masih memakai kayu bakar, sebagian kecil memakai kompor minyak tanah. Tapi sejak minyak tanah menjadi langka, penduduk kembali menggunakan kayu bakar, hanya sebagian kecil yang menggunakan gas LPG. Ada sebagian masyarakat yang menggunakan briket batubara.Pada Bulan Januari sampai Agustus, kualitas udara di desa baik sekali namun pada Bulan September sampai Desember seringkali ada serangan kabut asap yang dapat sampai berminggu-minggu.Pelayanan kesehatan di desa ini dilakukan oleh Pustu sedangkan Puskes ada di kota kecamatan sekitar 15 km ke arah Palembang.Petugas kesehatan yang ada di desa adalah Mantri dan bidan desa. Tapi jumlah kelahiran yang ditolong dukun masih lebih banyak dari bidan. Peran dukun masih cukup penting sebagai garis pertama melayani orang sakit.Di desa ini pengelolaan sampah dilakukan oleh masing-masing rumah tangga, tidak ada organisasi desa yang khusus bertugas untuk ini. Karena disekitar desa banyak rawa, maka ini menjadi tempat ideal untuk buang sampah.

Laporan tahunan dari Puskesmas memperlihatkan 10 besar penyakit yang terdeteksi di desa ini adalah: ISPA Gastrointestinal dan diare Kulit Malaria DHF Tuberkulosis Asma Gigi dan mulut Hipertensi Cidera karena kecelakaan lalu lintasDalam kurun waktu tahun 2010-2011 desa ini dua kali mengalami keracunan makanan yaitu tatkala ada hajatan perkawinan yang melibatkan banyak orang.Dari pihak kabupaten pernah melakukan pemeriksaan kualitas air minum yang bersumber dari air sumur penduduk dan hasilnya diberikan pada lampiran. Dari pihak propinsi pernah juga melakukan pengukuran kualitas udara tatkala ada serangan asap, hasilnya juga diberikan di lampiran.Ada hal menarik yang pernah dilakukan mahasiswa Unsri di desa ini di tahun 2009 yaitu Penelitian tentang Kualitas Udara Ruangan (Indoor Air Quality). Menurut studi itu akibat penggunaan bahan bakar kayu dan briket arang, sedangkan ventilasi dapur tidak baik, maka kualitas udara di dalam rumah tidak cukup baik, khususnya kadar debu halus (PM10) yang tinggi.Akhir-akhir ini sejak harga karet alam naik, desa ini kebanjiran motor yang menyebabkan tingkat kecelakaan yang cukup tinggi. Menurut penuturan Kades, selain kecelakaan akibat motor, desa ini juga mulai mengalami budaya minuman keras dan narkoba.

Lampiran:1. Hasil Pengujian Kualitas Air Minum

Parameter:Hasil UjiE. coli2000/100 ccTotal Coliform1000/100 ccArsen0,05 mg/LFlourida1,4 mg/LTotal Kromium0,03 mg/LKadmium0,001 mg/LNitrit2 mg/LNitrat25 mg/LSianida0,07 mg/LSelenium0,01 mg/L

2. Kualitas UdaraParameterWaktu PengukuranHasil UjiSO224 jam500 micrgr/m3CO24 jam30.000 micrgr/m3NOx24 jam200 micrgr/m3O31 jam200 micrgr/m3Hidrocarbon3 jam100 micrgr/m3Total SuspendedParticulate (TSP)24 jam500 micrgr/m3Pb24 jam5 micrgr/m3

I. Klarifikasi Istilaha. Populasi: Sekumpulan data yang mempunyai karakteristik yang sama dan menjadi objek atau sampel dari penelitian.b. Komunitas: Kelompok organisme (orang dsb) yang hidup dan saling berinteraksi di dalam daerah tertentu.c. Kebutuhan Domestik:Kebutuhan yang berhubungan dengan d. Air Rawa: Air yang berada di tanah yang rendah (di daerah pantaidan digenangi air)e. Sumur: Sumber air yang digalif. Pustu: Puskesmas Pembantu,unit pelaksana teknis dinas kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (desa).g. Mantri: Juru rawat kepala (biasanya laki-laki;pembantu dokter)h. Dukun: Orang yang mengobati,menolong orang sakit,pemberi jampi-jampi.i. Bidan Desa: Seseorang yang telah menempuh pendidikan kebidanan setara D3.Spesialisasi pada masalah kehamilan, ibu dan anak.j. Puskesmas: Unit pelaksana teknis dinas kesehatan yang bertanggung jawab menyelenggarakan pembangunan kesehatan di suatu wilayah kerja (kecamatan).k. Kualitas Udara: Tingkat kebaikan udara menurut sifat-sifat pembentuknya.l. Kualitas Air Minum: Kriteria air yang memenuhi persyaratan air bersih sesuai dengan perundang-undangan berlaku dan dapat diminum apabila sudah dimasak.m. Ventilasi:Pertukaran udara;Perputaran udara secara bebas di dalam ruangan.n. Bricket Batu Bara: Gumpalan (sebesar kepalan tangan) dari barang lunak yang dikeraskan melalui pembakaran (Batu Bara)o. Debu Halus (PM 10): Partikel debu yang berukuran kurang dari atau sama dengan 10 mikron yang bersifat sangat mudah terhirup dan masuk saluran pernafasan.p. Keracunan Makanan: Suatu kondisi yang disebabkan oleh konsumsi makanan yang telah terkontaminasi oleh bakteri.

II. Identifikasi Masalaha. Sebuah desa terletak di pinggir jalan raya Lintas Sumatera di Ogan Ilir yakni di desa Mjt. Komunitas disini terdiri atas sekitar 500 KK dengan populasi sekitar 2000 orang. Mata pencaharian utama di desa ini adalah pertanian dan pertukangan. Pertanian terutama padi sawah dan karet alam.b. Rumah penduduk beragam ada yang dari kayu dan ada yang dari semen sesuai dengan kemampuan ekonomi mereka. Dari kedua jenis itu, ada pula yang lantainya dari tanah. Anak-anak dan orang dewasa sebagian memakai alas kaki tapi lebih banyak yang telanjang kaki.c. Sumber air utama masyarakat untuk kebutuhan domestic adalah sungai Ogan; juga dari air rawa yaitu dari sawah di sekitar desa. Sebagian besar KK memiliki sumur sendiri, namun sumur tersebut biasanya kering di musim kemarau.d. Sumber energi yang digunakan penduduk untuk lampu/penerangan adalah listrik; untuk masak memasak sebagian besar masih memakai kayu bakar, sebagian kecil memakai kompor minyak tanah. Tapi sejak minyak tanah menjadi langka, penduduk kembali menggunakan kayu bakar, hanya sebagian kecil yang menggunakan gas LPG. Ada sebagian masyarakat yang menggunakan briket batubara.e. Pada Bulan Januari sampai Agustus, kualitas udara di desa baik sekali namun pada Bulan September sampai Desember seringkali ada serangan kabut asap yang dapat sampai berminggu-minggu.f. Pelayanan kesehatan di desa ini dilakukan oleh Pustu sedangkan Puskes ada di kota kecamatan sekitar 15 km ke arah Palembang.g. Petugas kesehatan yang ada di desa adalah Mantri dan bidan desa. Tapi jumlah kelahiran yang ditolong dukun masih lebih banyak dari bidan. Peran dukun masih cukup penting sebagai garis pertama melayani orang sakit.h. Di desa ini pengelolaan sampah dilakukan oleh masing-masing rumah tangga, tidak ada organisasi desa yang khusus bertugas untuk ini. Karena disekitar desa banyak rawa, maka ini menjadi tempat ideal untuk buang sampah.i. 10 besar penyakit yang terdeteksi di desa Mjt.j. Dalam kurun waktu tahun 2010-2011 desa ini dua kali mengalami keracunan makanan yaitu tatkala ada hajatan perkawinan yang melibatkan banyak orang.k. Dari pihak kabupaten pernah melakukan pemeriksaan kualitas air minum yang bersumber dari air sumur penduduk dan hasilnya diberikan pada lampiran. Dari pihak propinsi pernah juga melakukan pengukuran kualitas udara tatkala ada serangan asap, hasilnya juga diberikan di lampiran.l. Penelitian tentang Kualitas Udara Ruangan (Indoor Air Quality) yang dilakukan oleh mahasiswa Unsri di tahun 2009. Menurut studi itu akibat penggunaan bahan bakar kayu dan briket arang, sedangkan ventilasi dapur tidak baik, maka kualitas udara di dalam rumah tidak cukup baik, khususnya kadar debu halus (PM10) yang tinggi.m. Akhir-akhir ini sejak harga karet alam naik, desa ini kebanjiran motor yang menyebabkan tingkat kecelakaan yang cukup tinggi. Menurut penuturan Kades, selain kecelakaan akibat motor, desa ini juga mulai mengalami budaya minuman keras dan narkoba.

III. Analisis Masalaha. Bagaimana resiko kesehatan pada komunitas ini: Terletak di pinggir jalanJawab:Letak desa di tepi jalan raya dan meningkatnya kendaraan roda dua meningkatkan polusi udara dimana hasilnya sebagai berikut : Peningkatan SO2 gangguan fungsi paru dan pernapasan, iritasi mata, iritasi saluran napas, asma, bronchitis kronis, dan gangguan vaskularisasi. Peningkatan CO menyebabkan anoksia jaringan, gangguan SSP, dan kematian. Peningkatan NOx gangguan sistem respirasi, bronkopneumonia, edema paru, sianosis, dan methemoglobinemia. Peningkatan TSP pneumonia, gangguan sistem pernapasan, iritasi mata, alergi, dan bronchitis kronis. Peningkatan Pb gangguan SSP, sel darah, ginjal dan kematian.

Mata pencaharianJawab:Pada kasus ini, mata pencaharian utama di desa ini adalah pertanian dan pertukangan. Hal ini berpengaruh pada tingkat pendapatan penduduk, pendapatan penduduk di desa ini bervariasi karena tidak semua petani adalah pemilik lahan atau sawah, sebagian bekerja sebagai petani yang menggarap sawah atau lahan milik orang lain yang tentu saja penghasilannya tidak besar. Sama halnya dengan pertukangan, yang sebagian besar dari mereka hanya bekerja sebagai pelaksana di toko atau usaha pertukangan orang lain, yang notabene jenis pekerjaannya serabutan maka tingkat pendapatannyapun tak menentu.Tingkat pendapatan mempengaruhi daya beli seseorang, ketika pendapatan seseorang itu tergolong rendah maka taraf hidup orang tersebut juga masih rendah. Hal tersebut termasuk juga dalam pembelian kebutuhan makan dan kebutuhan pokok lainnya, seperti pakaian, perumahan, pendidikan dan kesehatan serta pemenuhan kebutuhan lain yang bisa mensejahterakan keluarga itu sendiri juga masih sangat rendah. Rendahnya kemampuan pemenuhan kebutuhan makanan menyebabkan defisiensi zat gizi tertentu, Selain itu, ketidakmampuan memenuhi kebutuhan sandang pangan dan papan juga dapat menyebabkan kurangnya higenitas, sanitasi, dan ventilasi udara suatu keluarga.Selain itu, bila ditinjau dari sisi lain, untuk mata pencaharian karet alam, apabila tempat pengumpulan karet berada di dekat pemukiman warga maka dapat menyebabkan polusi udara karena baunya dan mengundang banyak lalat sehingga dapat mempengaruhi kesehatan masyarakat yang tinggal di sekitarnya.

Kondisi tempat tinggal (banyak yang telanjang kaki dengan kondisi lantai dari tanah)Jawab: Rumah berlantai tanah mempunyai kelembaban udara tinggi yang meningkatkan perkembangbiakan mikroba. Kebiasaan berjalan tanpa alas kaki dengan kondisi lantai dari tanah dapat meningkatkan risiko kecacingan dan cedera kaki khususnya pada anak-anak.

Sumber air (interpretasi lampiran)Jawab:Kualitas Air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi, fisika, kimia dan radioaktif.Hasil Pengujian Kualitas Air MinumParameterHasil UjiKadar maksimum yang diperbolehkanInterpretasi

Parameter Mikrobiologi

E. Coli2000 / 100 cc0 / 100 cc sampelMelebihi ambang batas/ kontaminasi

Total Coliform1000 / 100 cc0 / 100 cc sampelMelebihi ambang batas / kontaminasi

Kimia an-organik

Arsen0,05 mg / L0,01 mg / LMelebihi ambang batas / kontaminasi

Fluorida1,4 mg / L1,5 mg / LNormal

Total Kromium0,03 mg / L0,05 mg / LNormal

Kadmium0,001 mg / L0,003 mg / LNormal

Nitrit2 mg / L3 mg / LNormal

Nitrat25 mg / L50 mg / LNormal

Sianida0,07 mg / L0,07 mg / LNormal, namun dalam ambang batas maksimum

Selenium0,01 mg / L0,01 mg / LNormal, namun dalam ambang batas maksimum

Pada skenario dijelaskan bahwa sumber air domestic ( makan, minum, masak, mencuci dan kebutuhan rumah tangga lainnya ) berasal dari sungai ogan dan juga dari air rawa yang berasal dari sawah di sekitar desa. Sungai dan juga rawa merupakan air permukaan yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber baku penggunaan air bersih. Pada umumnya air permukaan telah terkontaminasi dengan berbagai zat-zat yang berbahaya bagi kesehatan, sehingga memerlukan pengolahan terlebih dahulu. Kontaminan dapat berasal dari buangan domestik, buangan industri dan limbah pertanian. Air rawa, juga mempunyai resiko pencemaran yang tinggi apalagi diskenario dijelaskan bahwa rawa cenderung menjadi tempat yang ideal untuk membuang sampah. Sehingga, air rawa dan sungai pada desa ini telah mengalami pencemaran , dimana pada pengujian kualitas air minum di sumur warga didapatkan hasil : Kadar E. Coli dan Total Coliform yang melebihi nilai ambang batas. Coliform total kemungkinan berasal dari lingkungan ,sedangkan E.coli terindikasi kuat akibat pencemaran tinja. Kadar E.coli dan Total coliform ini meningkatkan resiko untuk terjadinya gangguan gastrointestinal, demam tinggi, diare, dll. Beberapa kategori E. Coli yang bersifat beracun , dan dapat menyebabkan diare. Ada beberpa strain E. Coli yang bersifat enterotoxigenic (ETEC), enteropathogenic (EPEC), enterohemorrhagic (EHEC), dan enteroinvasive (Levine, 1987). E. Coli enterotoxigenic dapat menyebabkan radang lambung (gastroenteristis) dan diare yang hebat disertai dengan kram perut dan muntah-muntah (Harris, 1986). Kira-kira 2% - 8 % dari E. Coli yang terdapat di dalam air bersifat enteropathogenic yang dapat menyebabkan diare. Air dan makanan merupakan faktor penularan atau penyebaran dari E. Coli tersebut. Dosis infeksi dari E. Coli jenis ini relatif tinggi yakni berkiasar antara 106- 109 organisme. Arsen yang melebihi batas maksimum menyebabkan risiko penyakit GIT / keracunan saluran pencernaan, kardiorespirasi, dan sistem saraf. Paparan akutPaparan akut dapat terjadi jika tertelan (ingestion) sejumlah 100 mg As. Gejala yang dapat timbul akibat paparan akut adalah mual, muntah, nyeri perut, diarrhae, kedinginan, kram otot serta oedeme dibagian muka (facial). Paparan dengan dosis besar dapat menyebabkan koma dan kolapsnya peredaran darah.Dosis fatal adalah jika sebanyak 120 mg arsenik trioksid masuk ke dalam tubuh. Paparan kronisGejala klinis yang nampak pada paparan kronis dari arsen adalah peripheral neuropathy (rasa kesemutan atau mati rasa), lelah, hilangnya refleks, anemia, gangguan jantung, gangguan hati, gangguan ginjal, keratosis telapak tangan maupun kaki, hiperpigmentasi kulit dan dermatitis.Konsentrasi arsenik yang dianggap tidak berbahaya dalam air minum oleh WHO adalah kurang dari 10 ppb.Selain karena arsenik menjadi bahan pestisida yang dipakai untuk menyemprot sayur dan buah, arsenik juga berpotensi mencemari perairan.Arsenik yang ditemukan di air adalah arsenik bentuk arsenat V (HAsO42-) dan arsenit III (H3AsO3). Kadar sianida dan selenium berada di ambang batas juga dapat membahayakan kesehatan masyarakat. Sianida:Sianida adalah senyawa sian (Cn) yang sudah lama terkenal sebagai racun. Didalam tubuh akan menghambat pernafasan jaringan, sehingga terjadi asphyxia, orang merasa akan tercekik dan cepat diikuti oleh kematian. Keracuanan kronis menimbulkan malaise, dan iritasi. Sianida ini didapatkan secara alami di berbagai tumbuhan. Apabila ada didalam air minum, maka untuk menghilangkan nya diperlukan pengolahan khusus. Selenium:Dalam dosis besar Se akan menyebabkan gejala GI seperti muntah dam diare. Bila pemaparan berlanjut, maka akan terjadi gejala gangguan susunan urat syaraf seperti hilang nya reflex-reflex, iritasi cerebral, konvulsi, dan dapat juga menyebabkan kematian. Se merupakan racun sistemik, dan mungkin juga bersifat karsinogenik. Sumber energiJawab:Memasak menggunakan kayu bakar dan briket batubara dengan ventilasi dapur yang tidak baik dapat mempengaruhi Kualitas Udara Ruangan (Indoor Air Quality), maka kualitas udara di dalam rumah tidak cukup baik. Asap pembakaran yang tidak sempurna dari kayu bisa menyebabkan kanker paru-paru, kebutaan, jantung, bahkan pengaruh kognitif pada anak. Anak disebut juga menjadi korban karena biasanya mereka diajak oleh si ibu ketika memasak. Demikian disampaikan Kirk R. Smith, Direktur Kesehatan Global dan Program Lingkungan Kesehatan Masyarakat, University of California, Berkeley, Amerika Serikat. Asap yang melayang di sekitar si ibu dan anak, dikatakan Smith, sama dengan bahaya rokok. Malah, risiko kesehatannya lebih besar karena jumlah asap yang dihasilkan lebih besar dan menguap ke ruangan yang menaungi mereka. Menurut WHO, memasak dengan bahan bakar padat (batu bara) di ruangan mengakibatkan kematian dini. Diperkirakan 1,6 juta orang meninggal tiap tahun, kebanyakan perempuan dan anak-anak. Dampak pembakaran bahan bakar padat memudahkan manusia terkena infeksi pernapasan dan kanker paru.Polusi udara dalam ruangan yang diakibatkan karena pembakaran bahan bakar biomassa padat dengan menggunakan tungku tradisional merupakan salah satu faktor utama penyebab mortalitas dan penyebab berbagai penyakit. (Lebih dari setengah penduduk dunia, masih menggunakan bahan bakar padat , seperti kayu bakar, sisa pertanian, kotoran sapi atau kerbau, dan juga batu bara sebagai sumber bahan bakar utama untuk memasak di rumah tangga dan untuk menghangatkan ruangan). Pembakaran bahan bakar padat dalam ruangan dengan menggunakan tungku tradisional menghasilkan partikel halus (PM) dalam jumlah besar. Tingkat emisi polusi udara dalam ruangan yang diakibatkan penggunaan bahan bakar padat bisa mencapai 20 100 kali lebih tinggi dibandingkan dengan bahan bakar yang bersih seperti LPG, dan seringkali 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan tingkat polusi maksimum yang diperbolehkan sesuai dengan aturan atau petunjuk yang dikeluarkan oleh WHO dan standard nasional seperti dapat dilihat pada tabel 1.

Suatu meta-analisis dari studi-studi global tentang resiko pneumonia pada anak-anak balita menunjukkan bahwa anak anak yang terpapar asap dari bahan bakar padat beresiko 1.8 kali lebih besar untuk terkena pneumonia dari pada anak-anak yang tidak terpapar (Smith et al. 2010). Analisis juga menunjukkan bahwa peningkatan resiko untuk terkena penyakit-penyakit infeksi saluran pernapasan bawah (ALRI), penyakit paru-paru obstruktif kronis (COPD), katarak, kanker paru-paru, dan penyakit jantung cukup bervariasi dari kurang dari 10 persen sampai bahkan 2 kali lebih besar. Rerata, kemungkinan untuk terkena penyakit-penyakit yang disebutkan terdahulu berkisar antara 78 persen untuk penyakit yang berhubungan dengan pernapasan bagian bawah (ALRI) pada anak balita dan sampai 150 persen untuk COPD pada wanita berumur di atas 15 tahun.

Faktor Resiko Sumber Energi : (secara singkat)1. Penggunaan listrik dapat meningkatkan risiko tersengat listrik yang dapat menyebabkan kematian.2. Bahan bakar kayu meningkatkan risiko gangguan asma pada anak dan PPOK pada dewasa serta kecelakaan rumah tangga berupa kebakaran maupun kecacatan apabila tidak berhati-hati.3. Bahan bakar kayu juga meningkatkan faktor risiko kanker nasofaring dan tuberkulosis, pneumonia, bronkitis, BBLR, katarak, dan gangguan kardiovaskuler.4. Penggunaan kayu bakar mengindikasikan bahwa banyak pepohonan yang ditebang untuk memenuhi kebutuhan energi. Hal ini berhubungan dengan perluasan daerah rawa yang menjadi media perkembangbiakan nyamuk malaria.5. Bahan bakar briket batubara meningkatkan risiko kanker paru dimana pembakaran batubara menimbulkan polycyclic aromatic hydrocarbon, emisi CO, metana, NOx, dan SO2. Emisi CO dan metana dapat meningkatkan efek rumah kaca dan mengakibatkan risiko penyakit kulit meningkat.6. Penggunaan briket batubara pada saat memasak juga dapat meningkatkan risiko keracunan arsenik.Penggunaan LPG dapat meningkatkan risiko kecelakaan di rumah tangga, seperti kebakaran yang disebabkan oleh ledakan gas LPG.

Kualitas udara (interpretasi lampiran)Jawab:Hasil Pengujian Kualitas Udara Ambien

ParameterWaktu PengukuranHasil UjiBaku MutuInterpretasi

SO224 jam500 g/365 g/Melebihi

CO24 jam30.000 g/10.000 g/Melebihi

NOx24 jam200 g/150 g/Melebihi

O31 jam200 g/235 g/Normal

Hidrokarbon3 jam100 g/160 g/Normal

TSP24 jam500 g/230 g/Melebihi

Pb24 jam5 g/2 g/Melebihi

1. Bahan bakar kayu meningkatkan risiko gangguan asma pada anak dan PPOK pada dewasa serta kecelakaan rumah tangga berupa kebakaran maupun kecacatan apabila tidak berhati-hati.1. Bahan bakar briket batubara meningkatkan risiko kanker paru dimana pembakaran batubara menimbulkan polycyclic aromatic hydrocarbon, emisi CO, NOx, dan SO2.1. Letak desa di tepi jalan raya dan meningkatnya kendaraan roda dua meningkatkan polusi udara dimana hasilnya sebagai berikut : Peningkatan SO2 gangguan fungsi paru dan pernapasan, iritasi mata, iritasi saluran napas, asma, bronchitis kronis, dan gangguan vaskularisasi. Peningkatan CO menyebabkan anoksia jaringan, gangguan SSP, dan kematian. Peningkatan NOx gangguan sistem respirasi, bronkopneumonia, edema paru, sianosis, dan methemoglobinemia. Peningkatan TSP pneumonia, gangguan sistem pernapasan, iritasi mata, alergi, dan bronchitis kronis. Peningkatan Pb gangguan SSP, sel darah, ginjal dan kematian.Kabut asap yang berada pada bulan penghujan September sampai Desember kemungkinan disebabkan pembakaran hutan untuk pembuatan lahan perkebunan pohon karet atau perkebunan lain dimana mengancam kesehatan masyarakat di desa.

Layanan kesehatan (dilakukan oleh Pustu+jumlah kelahiran yang ditolong oleh dukun masih banyak)Jawab:Mantri dan bidan desa serta letak puskesmas yang jauhmenyebabkan pelayanan kesehatan tidak optimal sehingga dapat meningkatkan morbiditas dan mortalitas penyakit serta berisiko tinggi terhadap malpraktik dan pengobatan yang tidak sesuai. Selain itu persalinan yang lebih banyak ditolong oleh dukun dapat menyebabkan angka kematian ibu tinggi akibat resiko malpraktik dan pertolongan persalinan yang tidak sesuai.

Pengelolaan sampahJawab: Sampah tidak dikelola dan hanya dibuang di rawa-rawa dimana air rawa tersebut dipakai untuk air minum tanpa diolah terlebih dahulu sehingga mengancam kesehatan masyarakat yang telah terbukti adanya keracunan makanan pada hajatan perkawinan. Air rawa yang terkontaminasi tersebut juga meresap ke aliran sungai tanah / air tanah sehingga berisiko terhadap kesehatan masyarakat.

10 besar penyakitJawab:1) ISPA: ventilasi yang kurang baik sehingga tidak terjadi pertukaran udara dan mikroorganisme akan tinggal di dalam ruangan dan menyebabkan infeksi. Ventilasi yang kurang menyebabkan kadar oksigen bagai penghuninya berkurang dan CO2 meningkat. Selain itu ventilasi yang baik akan menjaga kelembaban udara dalam ruangan. Kelembaban ini merupakan media yang baik bagi bakteri-bakteri penyebab penyakit.Aliran udara yang baik juga berfungsi memberihkan udara darai bakteri-bakteri patogen.Asap dari penggunaan kayu bakar juga bisa mengganggu sistem pernafasan dan tinggi nya polusi udara di desa tersebut.Perilaku masyarakat/ higiene yang buruk, seperti tidak menutup mulut jika batuk, membuang ludah sembarangan, membawa anak-anak saat memasak di dapur menggunakan kayu bakar, dll.2) Gastrointestinal dan diare: Penggunaan air yang terkontaminasi zat berbahaya serta mikroorganisme sehingga masyarakat bisa mengalami masalah pencernaan.Air minum yang mengandung E. Coli yang tidak direbus sampai mendidih. Air sungai yang tercemar bakteri E.coli karena orang diare buang air besar di sungai digunakan untuk mencuci bahan makanan, peralatan dapur, sikat gigi, dan lain-lain. Makanan yang terkontaminasi dengan bakteri E.Coli yang dibawa oleh lalat (vektor) yang hinggap pada tinja, karena buang air besar (BAB) tidak di jamban kemudian dimakan oleh manusia. Higiene yang buruk: Tangan yang terkontaminasi dengan bakteri E.coli (sesudah BAB tidak mencuci tangan dengan sabun) 3) Kulit : Sanitasi lingkungan dan higiene masyarakat yang kurang baik sehingga akan memudahkan penularan penyakit seperti penyakit kulit.Penyakit kulit biasa dikenal dengan nama kudis, skabies, gudik, budugen. Cara penularan penyakit ini dengan cara kontak langsung atau melalui peralatan seperti baju, handuk, sprei, tikar, bantal, dan lain-lain. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor: Penyediaan air tidak memenuhi syarat. Air bersih dibutuhkan untuk menjaga kebersihan diri, mandi dengan air bersih minimal 2 kali sehari dengan sabun, serta hindari kebiasaan tukar menukar baju dan handuk. Kesehatan perorangan jelek, rendahnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan pribadi seperti: mandi 2 kali sehari menggunakan sabun, cuci tangan menggunakan sabun, memotong kuku, dll. Perilaku tidak higienis: kebiasaan menukar baju, handuk, jarang mencuci pakaian, BAB di sembarang tempat, dll4) Malaria :Kondisi lingkungan yang banyak rawa dan sawah serta masyarakat seringkali membuang sampah menjadikan banyak tempat genangan air, sehingga vector malaria yaitu nyamuk akan mudah berkembang biak dan memudahkan penularan penyakit malaria. Lingkungan rumah/ventilasi kurang baik, serta perilaku yang tidak sehat seperti menggantung baju-baju. Dapat meningkatkan resiko penularan malaria.5) DHF: Sama seperti malaria, juga karena vector nyamuk yang semakin mudah berkembang biak.6) Tuberkulosis: Infeksi oleh Mycobacterium tuberculosis akan sangat mudah menular apabila ventilasi rumah tidak baik, karena mikroorganisme ini bisa bertahan berjam - jam di udara sehingga jika pertukaran udara tidak baik maka risiko tertular akan lebih tinggi. 7) Asma: Penggunaan kayu bakar bisa mengganggu pernafasan dan meningkatkan risiko terkena asma.8) Gigi dan mulut: Kebiasaan masyarakat yang suka merokok dan minum alkohol dapat mengganggu kesehatan gigi dan mulut.9) Hipertensi: Juga disebabkan karena kebiasaan merokok dan minum alkohol.10) Cedera karena kecelakaan lalu lintas: Kebiasaan masyarakat minum alkohol.

Tingkat kecelakaanJawab:Lokasi desa di tepi jalan raya Lintas Timur Sumatera dan meningkatnya jumlah kendaraan roda dua meningkatkan risiko kecelakaan lalu lintas di jalan raya maupun di dalam desa. Selain itu, cedera karena kecelakaan lalu lintas pada kasus disebabkan karena kebiasaan masyarakat minum alkohol.

Pergeseran budayaJawab:Budaya meminuman minuman keras/ alkohol dan narkoba merupakan kebiasaan yang tidak baik bagi kesehatan. Salah satu risiko minuman keras terhadap kesehatan adalah mengganggu fungsi hati, gangguan kognitif, kerusakan jantung, lambung, kanker, stroke, kematian dll. Adapun dampak buruk penyalahgunaan narkoba adalah ketergantungan, kanker, impotensi, jantung, HIV/AIDS, hepatitis dll.

b. Bagaimana nasehat yang spesifik untuk setiap resiko diatas Terletak di pinggir jalanJawab: Berhati-hati ketika menyebrang jalanan karena tatanan desa yang terletak di pinggir jalan raya maka akan meningkatkan resiko untuk terjadinya kecelakaan Rajin membersihkan rumah, karena rumah yang terletak di pinggir jalan raya akan lebih rentan untuk masuknya debu-debu ke dalam rumah yang bisa menjadi sumber penyakit seperti asma dan penyakit pernafasan lainnya.

Mata pencaharianJawab: Untuk mata pencaharian masyarakat yang utamanya adalah pertanian dan pertukangan dianjurkan pemakaian alas kaki dan hindari kontak langsung dengan tanah terutama saat bekerja, Edukasi warga untuk mengurangi penggunaan pestisida, mengurangi pencemaran air, mengurangi pencemaran udara, mereduksi pemakaian pupuk anorganik dengan melakukan kombinasi pemakain pupuk anorganik, pupuk organik dan pupuk hayati. Edukasi warga untuk menjaga kebersihan tubuhnya baik sebelum maupun sesudah bekerja Edukasi warga untuk tidak membuang sampah industrinya ( pertanian dan pertukangan ) di rawa maupun sungai

Kondisi tempat tinggal (banyak yang telanjang kaki dengan kondisi lantai dari tanah)Jawab: Gunakanlah sandal setiap berpergian, dan didalam rumah jika lantai rumahnya masih berupa tanah. Untuk menghindari infeksi cacing tambang yang dapat mennyebabkan anemia Fe, dan infeksi-infeksi lain serta luka yang dapat disebabkan oleh benda tajam di sekitar lingkungan. Selain itu dapat menyebabkan TBC karena kelembapan yang tinggi. Penyemenan atau memberi alas plastik di lantai.

Sumber airJawab: Memperhatikan sumber air yang layak untuk digunakan dan dikonsumsi yang sebaiknya bukan dari air rawa atau sumur tercemar Memperhatikan cara pengolahan air minum. Sebaiknya ditampung terlebih dahulu, diendapkan atau disaring, kemudian dimasak agar mikroorganisme yang terlarut di dalamnya mati Perlu diperhatikan bentuk dan lokasi penggalian sumur terhadap sumber pencemaran Membuat mandiri penyaringan air untuk menyaring air dari sungai jika musim kemarau tiba Melakukan pengelolaan sampah Sumber energiJawab: Memperhatikan sumber air yang layak untuk digunakan dan dikonsumsi yang sebaiknya bukan dari air rawa atau sumur tercemar Memperhatikan cara pengolahan air minum. Sebaiknya ditampung terlebih dahulu, diendapkan atau disaring, kemudian dimasak agar mikroorganisme yang terlarut di dalamnya mati Perlu diperhatikan bentuk dan lokasi penggalian sumur terhadap sumber pencemaran Membuat mandiri penyaringan air untuk menyaring air dari sungai jika musim kemarau tiba Melakukan pengelolaan sampah Penggunaan Bahan Bakar AlternatifUpaya untuk memperbaiki udara dan cuaca global salah satunya adalah dengan memakai sumber energi yang tidak lagi berasal dari dalam bumi seperti bahan bakar minyak, yang hasil pembakarannya berpengaruh buruk terhadap lingkungan Memakai sumber bahan bakar seperti LPG Penambahan Ruang Terbuka HijauPepohonan merupakan filter alami untuk polusi udara. Hal ini dapat dilihat bahwa semakin berkurangnya ruang terbuka hijau di kota-kota besar di Indonesia berdampak secara signifikan pada kenaikan suhu udara dan kualitas udara Kualitas udaraJawab: Ventilasi dapat berupa cerobong asap dapur sekurang-kurangnya 40% dari luas lantai Memakai masker pada saat serangan kabut asap Mengurangi penggunaan kendaraan bermotor Disarankan menggunakan LPG untuk memasak Pembersihan rutin lingkungan desa Himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya dan tidak membuang sampah ke rawa atau sumber air bersih Pembentukan tempat pembuangan akhir sampah khusus desa Mjt Layanan kesehatanJawab: Edukasi pada masyarakat tentang dampak kesehatan lingkungan terhadap kesehatan tubuhnya. Menambah tenaga kesehatan dan kader penyuluhan. Menghimbau masyarakat untuk segera mengunjungi puskesmas apabila mengalami gangguan kesehatan Menghimbau masyarakat untuk melahirkan dengan bidan desa. Meminta koordinasi dengan kepala desa untuk mengajukan dibuatnya puskesmas yang dekat dengan desa meranjat kepada dinas kesehatan

Pengelolaan sampahJawab: Sampah tidak dikelola dan hanya dibuang di rawa-rawa dimana air rawa tersebut diapaki untuk air minum tanpa diolah terlebih dahulu sehingga mengancam kesehatan masyarakat yang telah terbukti adanya keracunan makanan pada hajatan perkawinan Air rawa yang terkontaminasi tersebut juga meresap ke aliran sungai tanah / air tanah sehingga berisiko terhadap kesehatan masyarakat.

Keracunan makananJawab: Mencuci tangan sebelum dan setelah menangani pangan. Mencuci tangan setelah menggunakan toilet. Mencuci dan membersihkan peralatan masak serta perlengkapan makan sebelum dan setelah digunakan. Menjaga area dapur/tempat mengolah pangan dari serangga dan binatang lainnya. Tidak meletakkan pangan matang pada wadah yang sama dengan bahan pangan mentah untuk mencegah terjadinya kontaminasi silang. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah kadaluarsa atau pangan dalam kaleng yang kalengnya telah rusak atau menggembung. Tidak mengkonsumsi pangan yang telah berbau dan rasanya tidak enak. Tidak mengkonsumsi jamur liar. Mengkonsumsi air yang telah dididihkan. Memasak pangan sampai matang sempurna agar sebagian besar bakteri dapat terbunuh. Proses pemanasan harus dilakukan sampai suhu di bagian pusat pangan mencapai suhu aman ( > 70 Derajat Celcius) selama minimal 20 menit. Menyimpan segera semua pangan yang cepat rusak dalam lemari pendingin (sebaiknya disimpan di bawah suhu 5 Derajat Celcius). Tidak membiarkan pangan matang pada suhu ruang lebih dari 2 jam karena mikroba dapat berkembang biak dengan cepat pada suhu ruang. Mempertahankan suhu pangan matang lebih dari 60 Derajat Celcius sebelum disajikan. Dengan menjaga suhu di bawah 5 Derajat Celcius atau di atas 60 Derajat Celcius, pertumbuhan mikroba akan lebih lambat atau terhenti. Menyimpan produk pangan yang harus disimpan dingin, seperti susu pasteurisasi, keju, sosis, dan sari buah dalam lemari pendingin. Menyimpan produk pangan olahan beku, seperti nugget , es krim, ayam goreng tepung beku, dll dalam freezer.

Tingkat kecelakaanJawab: Edukasi terhadap kesadaran dan taat berlalu lintas yang benar Memasang rambu-rambu lalu lintas seperti dilarang berhenti, kecepatan maksimal untuk mengurangi angka kejadian kecelakaan lalu lintas Penyuluhan keselamatan berkendara dan dampak tidak menggunakan helm

Pergeseran budayaJawab:Sosialisasi dan penyuluhan serta meminta tokoh desa ataupun kepala desa untuk mengingatkan Memberikan penyuluhan kepada masyarakat setempat mengenai dampak minuman keras dan narkoba bagi kesehatan. Penegakan hukum yang tegas Peran keluarga dalam mendidik dan mengawasi pergaulan anak-anaknya. Memperbanyak kegiatan keagamaan pada desa tersebutc. Apa saja rekomendasi langkah penting yang harus dilakukan oleh pihak puskesmas?Jawab:Masalah kesehatan di desa MjtLangkah penting yang harus dilakukan Puskesmas

Kondisi demografis Menggalakkan budaya beralas kaki Promosi ventilasi rumah yang baik Promosi obat cacing setiap enam bulan sekali sekaligus identifikasi kecacingan

Sumber air bersih Upaya promosi kesehatan berupa penyuluhan tentang sumber air bersih dan cara pengolahannya Upaya kesehatan lingkungan berupa menjaga sumber air di desa Mjt supaya tidak terkontaminasi oleh zat-zat berbahaya

Kualitas udara ambient Penyuluhan pemakaian masker atau penutup hidung dan mulut pada saat terjadi serangan asap kabut Identifikasi atau skrining harus tuberkulosis paru baru

Pengelolaan sampah Puskesmas harus mewaspadai adanya lonjakan penyakit infeksi atau keracunan dengan mempersiapkan sebagai berikut: Pengobatan yang memadai untuk penyakit infeksi yang sering terjadi di desa Mjt Penggalakan pola perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) Melaporkan kondisi kesehatan desa ke pejabat setempat berserta rekomendasi yang diajukan

Pelayanan kesehatan Peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kesehatan yang telah ada Memberikan usulan kepada pemerintah setempat untuk menambah jumlah tenaga kerja Puskesmas Memberikan penyuluhan dan edukasi masyarakat mengenai praktik tenaga kesehatan dan perizinannya Melakukan usaha promotif dan preventif kesehatan

d. Bagaimana simpul pathogenesis penyakit (10 besar penyakit) dan kaitkan penyebabnya dengan skenario diatas? ISPAJawab: Simpul 1 (sumber penyakit/tempat yang secara konstan mengeluarkan agent penyakit)golongan kimia : zat-zat kimia yang berbahaya, akibat serangan kabut asap dan kualitas udara dalam ruangan yang jelek akibat ventilasi udara yang buruk Simpul 2 (media transmisi penyakit) udara Simpul 3 (perilaku pemajanan) saluran pernafasan Simpul 4 (penyakit) ISPA (infeksi saluran pernapasan akut)

Gastrointestinal dan diareJawab: Simpul 1 (sumber penyakit/tempat yang secara konstan mengeluarkan agent penyakit)Golongan kimia :Makanan dan minuman yang telah tercemar zat kimia Golongan biologis : Makanan dan minuman yang terkontaminasi bakteri, tidak higienis, tidak sehat Simpul 2 (media transmisi penyakit) udara, air Simpul 3 (perilaku pemajanan) saluran pencernaan Simpul 4 (penyakit) Diare

KulitJawab:Simpul 1 :Komponen lingkungan Gol.Fisik : Panas, radiasi Gol.Kimia : ArsenGol.Biologis : virus, jamur, bakteriSimpul 2 :Media transmisi penyakit : Air, manusiaSimpul 3 :Perilaku Pemajanan : Kontak kulit Simpul 4 :Penyakit : Dermatitis kontak

MalariaJawab:Vector malaria yaitu nyamuk akan mudah berkembang biak karena banyak rawa dan sawah serta masyarakat seringkali membuang sampah sembarangan di rawa tersebut. Hal ini membuat banyak sekali tempat untuk nyamuk berkembang biak dan memudahkan penularan penyakit malaria.

DHFJawab:Demam berdarah dengue (dbd)Demam berdarah adalah penyakit yang disebarkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk aedes aegypti. Vector DHF yaitu nyamuk akan mudah berkembang biak karena banyak rawa dan sawah serta masyarakat seringkali membuang sampah sembarangan di rawa tersebut. Hal ini membuat banyak sekali tempat untuk nyamuk berkembang biak dan memudahkan penularan penyakit DHF.Hal-hal yang perlu diketahui dan harus dilakukan oleh petugas kesehatan untuk mencegah dan menanggulangi dbd:Pendataana) Data kasus dbd di tahun berjalan. b) Tempat potensial perindukan nyamuk.c) Kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (psn).d) Perilaku berisiko masyarakat terhadap gigitan nyamuk penular dbd, dalam hal ini penggunaan obat anti nyamuk/repellant.PemetaanMelakukan pemetaan kepadatan vektor penular dbd, kemudian disandingkan dengan data-data yang ada. Data dan hasil pemetaan ini dibahas pada pertemuan musyawarah desa, termasuk mengupayakan bantuan/fasilitasi bagi kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (psn) dan pengadaan obat anti nyamuk atau repellant melalui berbagai sumber pendanaan, baik yang bersifat swadaya masyarakat maupun bantuan stimulan/dana bergulir.Penyebarluasan informasi kesehatanMateri penyuluhanMateri penyuluhan tentang pengertian, gejala, cara mencegah, serta cara menanggulangi dbd, termasuk didalamnya mengenai pemberantasan sarang nyamuk (psn) serta informasi rujukan bagi penderita dbd.Metode penyuluhan yang dapat dilakukan, yaitu:a) Penyuluhan perorangan, seperti kunjungan rumah, pada saat melakukan pendataan kasus, maupun pada saat warga berkunjung ke puskesmas.b) Penyuluhan kelompok, seperti pada saat pertemuan desa, forum pengajian atau majelis taklim, khotbah jumat, khotbah minggu, kunjungan posyandu, pertemuan pkk, pertemuan karang taruna.c) Penyuluhan massa, dapat dilakukan pada saat digelarnya pesta rakyat, kesenian tradisional, pemutaran film, ceramah umum, tablig akbar. Selain itu, penyuluhan massa juga dapat dilakukan melalui pemasangan media massa seperti poster dan spanduk di tempat-tempat keramaian yang sesuai dengan kelompok sasaran (balai desa, posyandu, poskesdes, puskesmas dan lain-lain).Pemberdayaan dan penggerakkan masyarakata) Mengajak masyarakat untuk melakukan PHBS.b) Mengajak masyarakat untuk melakukan pemeriksaan jentik nyamuk di lingkungan sekitar rumah maksimal 3 hari sekali.c) Gerakan pemberantasan sarang nyamuk (psn) minimal seminggu sekali di tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan institusi kesehatan.d) Menjadikan anak sekolah sebagai agent of change.e) Mengaktifkan poskesdes.f) Melakukan mobilisasi massa untuk bersama-sama mencegah dan menanggulangi dbd.Pembinaana) Melakukan pertemuan rutin dengan kader untuk membahas permasalahan kesehatan terkait dbd.b) Membina kader untuk melakukan pemantauan di setiap wilayah, terutama di wilayah potensial kejadian dbd.Pembinaan kesehatan di tingkat tatanan rumah tangga, tatanan sekolah, tatanan tempat-tempat umum, tatanan tempat kerja, dan tatanan institusi kesehatan dengan berkoordinasi dengan pihak-pihak terkait.

TuberkulosisJawab: Simpul 1 (sumber penyakit/tempat yang secara konstan mengeluarkan agent penyakit) Golongan fisik: tanah, kelembapan Golongan biologi: droplet yang mengandung mikobakterium tuberkulosis.Agent penyakit berupa bakteri M.tuberculosis yang dapat ditularkan oleh penderita TB pada orang di sekitarnya. Risiko tertular tergantung dari tingkat pajanan dengan percikan droplet nukleus (apabila transmisinya melalui udara). Pasien TB paru dengan BTA positif memberikan kemungkinan risiko penularan lebih besar dari pasien TB paru dengan BTA negatif. Selain itu factor. Faktor risiko terjadinya infeksi TB antara lain adalah daerah endemis, serta lingkungan yang tidak sehat ( higiene dan sanitasi tidak baik). Simpul 2 (media transmisi penyakit) udara dan air liur.Tuberkulosis ditularkan melalui udara oleh partikel kecil yang berisi kuman tuberkulosis yang disebut droplet nukleus. Droplet nukleus yang berukuran 1-5 m dapat sampai ke alveoli. Droplet nukleus kecil yang berisi basil tunggal lebih berbahaya daripada sejumlah besar basil didalam partikel yang besar, sebab partikel besar akan cenderung menumpuk dijalan napas daripada sampai ke alveoli sehingga akan dikeluarkan dari paru oleh sistem mukosilier.Batuk merupakan mekanisme yang paling efektif untuk menghasilkan droplet nukleus. Satu kali batuk yang cepat dan kuat akan menghasilkan partikel infeksius sama banyaknya dengan berbicara keras selama lima menit. Penyebaran melalui udara juga dapat disebabkan oleh manuver ekspirasi yang kuat seperti bersin, berteriak, bernyanyi.Satu kali bersin dapat menghasilkan 20.00040.000 droplet, tapi kebanyakan merupakan partikel yang besar sehingga tidak infeksius. Pasien yang batuk lebih dari 48 kali/malam akan menginfeksi 48% dari orang yang kontak dengan pasien. Sementara pasien yang batuk kurang dari 12 kali/malam menginfeksi 28% dari kontaknya. Simpul 3 (perilaku pemajanan) saluran pernafasanBasil tuberkulosis lebih sering masuk ke dalam tubuh melalui saluran pernapasan.Inhalasi partikel besar yang berisi lebih dari tiga basil tuberkulosis tidak akan sampai ke alveoli, partikel akan melekat di dinding bronkus dan akan dikeluarkan oleh sistem mukosiliari, tetapi inhalasi partikel kecil yang berisi 1-3 basil dapat sampai ke alveoli. Selain itu basil tuberculosis juga dapat masuk ke dalam tubuh melalui traktus gastrointestinal ketika minum susu yang mengandung Mikobakterium tuberkulosis. Jalan masuk lain kedalam tubuh manusia adalah melalui luka pada kulit atau membran mukosa, tetapi penyebaran dengan cara ini sangat jarang. Jika fokus tuberkulosis telah terbentuk pada satu bagian tubuh maka penyakit dapat menyebar ke bagian tubuh yang lain melalui pembuluh darah, saluran limfatik, kontak langsung, saluran cerna (sering dari intestinum kembali ke darah melalui duktus torasikus). Simpul 4 (penyakit) tuberkulosis

AsmaJawab: Simpul 1 (sumber penyakit/tempat yang secara konstan mengeluarkan agent penyakit)Golongan kimia : akibat serangan kabut asap dan kualitas udara dalam ruangan yang jelek akibat ventilasi udara yang buruk, obat-obatan yang dapat merangsang penyempitan pada saluran pernapasanGolongan psikososial: stress Simpul 2 (media transmisi penyakit) udara Simpul 3 (perilaku pemajanan) saluran pernafasan Simpul 4 (penyakit) Asma

Gigi dan mulutJawab:Simpul 1 :Komponen lingkungan Gol.Biologis : E.Coli, Total Coliform Simpul 2 :Media transmisi penyakit : AirSimpul 3 :Perilaku Pemajanan : Saluran Pencernaan Simpul 4 :Penyakit :Gangguan gigi dan mulut

HipertensiJawab: Disebabkan karena kebiasaan merokok dan minum alkohol. Kadar Pb yang tinggi juga bisa menjadi salah satu resiko untuk menyebabkan terjadinya hipertensi.

Cidera karena kecelakaan lalu lintasJawab:Kebiasaan masyarakat minum alcohol dan ketidaktahuan masyarakat terhadap cara berkendaraan yang benar.

e. Apa saja nasehat untuk pertimbangan bagi Dinkes dan Pemda setempat?Jawab:Saran yang harus diberikan untuk pertimbangan Dinkes dan Pemda :a. Agar bisa melakukan kunjungan untuk memastikan kebenarannyab. Melakukan penyuluhan tentang pentingnya berprilaku hidup sehat (memakai ala kaki, membuang sampah pada tempatnya)c. Memberikan penyuluhan untuk menggunakan LPG sebagai sumber energi untuk memasak dan meninggalkan kayu bakar dan briket batu bara sebagai bahan bakar karena oengaruhnya terhadap kesehatand. Menyediakan sarana PDAM di desa Mjte. Menyediakan tenaga kesehatan yang berkompeten lebih banyak seperti dokter,bidan,perawat.f. Membentuk organisasi yang bisa membantu kinerja Pemda dan Dinkesg. Membuat tempat pembuangan akhir agar sampah tidak di buang ke rawah. Mengajak masyarakat untuk bekerja sama membersihkan sampah yang dibuang ke rawai. Memberikan penyuluhan agar jika sakit segera berobat danminum oabat secara teraturj. Memberi penyuluhan agar di setiap rumah harus memiliki ventilasi udara yang cukupk. Pihak Pemda bisa bekerja sama dengan POLISI untuk memberikan penyuluhan berkendara yang baik dan menjelaskan aturan dalam lalu lintasl. Memberikan penjelasan jika penggunaan minuman keras dan narkoba akan merusak kesehatan dan melanggar hukumm. Menjelaskan tentang pentingnya menjaga kebersihan dalam memasak (menggunakan air bersih, alat yang bersih, bahan yang segar)

f. Apa saja rekomendasi beberapa pelatihan khusus untuk pemuka masyarakat dan petugas kesehatan?Jawab:Masalah kesehatan di desa MjtJenis pelatihan khusus untuk pemuka masyarakat dan petugas kesehatan dalam mengatasi masalah yang ada di desa Mjt

Kondisi demografis Pelatihan kepada tenaga kesehatan di Puskesmas mengenai tindakan primer ketika terjadi kecelakaan kerja Pelatihan identifikasi infeksi kecacingan Penyuluhan rumah sehat dan pola perilaku hidup bersih dan sehat

Sumber air bersih Pelatihan pengolahan air sungai Ogan untuk bisa dijadikan sebagai sumber air bersih dan sumber air minum Pelatihan pengolahan sampah yang benar Pelatihan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS)

Kualitas udara ambienPelatihan khusus yang direkomendasikan adalah pelatihan pemasangan pemeriksaan dan penggunaan kompor gas LPG (Pemda)

Pengelolaan sampah Membuang sampah pada tempatnya serta pengelolaannya yang tepat Penyuluhan tentang higien dan sanitasi lingkungan Pelatihan warga terutama pemuda untuk mengolah atau mendaur ulang sampah menjadi kompos atau benda lain yang bernilai ekonomi tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan desa

Pelayanan kesehatanPeningkatan kualitas SDM, baik dari segi peningkatan pengetahuan maupun pelayanan kesehatan

g. Lakukan inventarisasi Peraturan Perundangan Terkait!Jawab:1. UU kesehatan no.36 tahun 2009 Pasal 162 :: Upaya kesehatan lingkungan ditujukan untuk mewujudkan kualitas lingkungan yang sehat baik fisik,kimia,biologi,maupun sosial yang memungkinkan setiap oran mencapai derajat kesehatan yang setinggi tingginya Pasal 163 :: 1) Pemerintah, pemerintah daerah dan masyarakat menjamin ketersediaan lingkungan yang sehat dan tidak mempunyai resiko buruk bagi kesehatan2) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat 1 mencakup lingkungan pemukiman , tempat kerja, tempat rekreasi, serta tempat dan fasilitas umum3) Lingkungan sehat sebagaimana dimaksud pada ayat 2 bebas dari unsur unsur yang menimbulkan gangguan kesehatan antara lain :: Limbah padat Limbah cair Limbah gas Sampah yang tidak diproses sesuai dengan persyaratan yang ditetapkan pemerintah Binatang pembawa penyakit Zat kimia yang berbahaya Kebisingan yang melebihi ambang batas Radiasi sinar pengion dan non pengion Air yang tercemar Udara yang tercemar Makanan yang terkontaminasi 4) Ketentuan mengenai standar baku mutu kesehatan lingkungan dan proses pengolahan limbah sebagaimana dimaksud pada ayat 2 dan ayat 3 ditetapkan dengan peraturan pemerintah. 2. Undang-undang No. 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan danPengelolaan Lingkungan Hidup3. Undang-undang No. 36 Tahun 2009 tentang Kesehatan4. Peraturan Pemerintah No. 18 Tahun 1999 Peraturan Pemerintah No. 85 tahun 1999 tentang Pengelolaan Limbah B35. Peraturan Pemerintah No. 41 tahun 1999 tentang Pengendalian Pencemaran Udara6. Peraturan Pemerintah No. 74 Tahun 2001 tentang Pengelolaan B3a) Peraturan Perundangan Terkait Kualitas airKualitas Air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi, fisika, kimia dan radioaktif. Berikut persyaratan kualitas air minum menurut Permenkes NO.492/Menkes/Per/IV/2010.b) Peraturan Perundangan Terkait Kualitas udaraPeraturan pemerintah republik Indonesia, Nomor : 41 tahun 1999, Tanggal: 26 mei 1999 tentang Baku mutu udara ambien nasional.c) Masalah sampah dan limbahPeraturan Pemerintah mengenai pembuangan limbah dan pembuangan tinja.1) UU No. 23 tahun 1992 tentang kesehatan2) UU No. 23 tahun 1997 tentang pengelolaan lingkungan hidup3) UU No. 24 tahun 1992 tentang Penataan ruang4) UU No. 5 tahun 1990 tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya5) PP No. 27 tahun 1999 tentang analaisis mengenai dampak lingkungan (AMDAL)6) PP No. 18 tahun 1999 tentang pengolahan limbah bahan berbahaya dan beracun7) PP No. 20 tahun 1999 tentang pengendalian pencemaran air8) Keppres Mo. 77 tahun 1994 tentang bedan pengendalian dampak lingkungan (BAPEDAL)9) Keputusan Menteri negara lingkungan Hidup (KEP-39/MENLH/11/1996 tentang jenis usaha atau kegiatan yang wajib dilengkapi dengan AMDAL10) Keputusan Menteri negara lingkungan Hidup (KEP-50/MENLH/11/1996) tentang baku tingkat kebauand) Peraturan Perundangan Terkait Makanan 1) Kepmenkes : 715/Menkes/SK/V/2003 tentang Persaratan Higiene Sanitasi Jasaboga. Kepmen 715/03 mengatur:i. Ketentuan umum ii. Penggolongan iii. Laik Higiene Sanitasi iv. Persaratan Higiene Sanitasi v. Pembinaan Pengawasan vi. Sanksi. 2) Kepmenkes No. 942/MENKES/SK/VII/2003 tentang pedoman persyratan hygien sanitasi makanan jajanan3) Kep BPPOM No. HK. 00.05.5.1641 tentang pedoman pemeriksaan sarana produksi pangan industri rumah tangga (IRT)4) PP no 28 tahun 2004 tentang keamanan, mutu dan gizi pangane. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 1997 Tentang Narkotikaf. Keputusan Presiden RI Nomor 3 Tahun 1997 Tentang Pengawasan dan Pengendalian Minuman beralkohol.

IV. HipotesisKomunitas Desa Meranjat yang terletak di pinggir jalan raya lintas sumatera di ogan ilir mengalami masalah kesehatan lingkungan yaitu higien dan sanitasi lingkungan.

V. Kerangka Konsep

Kondisi tempat tinggal yang tidak baik.Letak desa Mjt. di pinggir jalan raya

Serangan kabut asap (kualitas udara yang buruk)

Masalah kesehatan lingkungan (10 besar penyakit) di desa MjtKualitas air minum yang tidak baik.

Tingkat Kecelakaan yang tinggi

Pelayanan Kesehatan yang kurang baik.

Budaya minuman keras dan narkoba

Pengelolaan sampah yang buruk (membuang sampah ke rawa-rawa)

Mata pencaharian utama pertanian dan pertukangan.

Penggunaan kayu bakar dan briket batubara untuk memasakKebiasaan tidak memakai alas kaki dengan kondisi lantai dari tanah

VI. Learning IssueKesehatan lingkungan PENYEDIAAN AIR BERSIHPeraturan Perundangan Terkait Kualitas airKualitas Air harus memenuhi syarat kesehatan yang meliputi persyaratan mikrobiologi, fisika, kimia dan radioaktif. Berikut persyaratan kualitas air minum menurut Permenkes NO.492/Menkes/Per/IV/2010.

Bakteri Coliform adalah jenis bakteri yang umum digunakan sebagai indikator penetuan kualitas sanitasi makanan dan air. Coliform sendiri sebenarnya bukan penyebab dari penyakit-penyakit bawaan air, namun bakteri jenis ini mudah untuk dikultur dan keberadaannya dapat digunakan sebagai indikator keberadaan organisme patogen seperti bakteri lain, virus atau protozoa yang banyak merupakan parasit yang hidup dalam sistem pencernaan manusia serta terkandung dalam faeses. Organisme indikator digunakan karena ketika seseorang terinfeksi oleh bakteri patogen, orang tersebut akan mengekskresi organisme indikator jutaan kali lebih banyak dari pada organisme patogen. Hal inilah yang menjadi alasan untuk menyimpulkan bila tingkat keberadaan organisme indikator rendah maka organisme patogen akan jauh lebih rendah atau bahkan tidak ada sama sekali (Servais; 2007). Jenis bakteri ini berbentuk bulat, gram negatif, tidak berspora serta memfermentasi laktosa dengan menghasilkan asam dan gas apabila di inkubasi pada 35-37C. Bakteri ini terdapat sangat banyak pada faeses organisme berdarah panas, dapat juga ditemukan di lingkungan perairan, di tanah dan pada vegetasi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa apabila terdapat bakteri coliform pada badan air maka badan air tersebut sudah tercemar oleh faeses. Genus yang termasuk dalam kelompok bakteri coliform antara lain Citrobacter, Enterobacter, Escherichia, Hafnia, Klebsiella, Serratia. Bakteri coliform dijadikan sebagai bakteri indikator karena tidak pathogen, mudah serta cepat dikenal dalam tes laboratorium serta dapat dikuantifikasikan, tidak berkembang biak saat bakteri pathogen tidak berkembang biak, jumlahnya dapat dikorelasikan dengan probabilitas adanya bakteri pathogen, serta dapat bertahan lebih lama daripada bakteri pathogen dalam lingkungan yang tidak menguntungkan. Eschericia coli, E. coli, merupakan anggota coliform yang dapat dibedakan dari bakteri coliform lain karena kemampuannya memfermentasikan laktosa pada suhu 44C (pada JPT hal ini dilakukan pada tahap terakhir atau saat uji kelengkapan). Pengidentifikasian dapat dilihat dari pertumbuhan dan reaksi yang memberikan warna berbeda pada media kultur khusus. Saat dikulutur pada media EMB, hasil positif E. coli adalah koloni berwarna hijau metalik. Tidak seperti golongan coliform pada umumnya, E. coli merupakan bakteri yang berasal dari feses dan kehadirannya efektif mengkonfirmasi adanya kontaminasi fekal pada badan air. Umumnya, pada fese, E. coli ada sebanyak 11% dari coliforms.Diare, merupakan penyakit yang sudah dikenal karena gejalanya sangat jelas yaitu, buang air besar yang lebih sering dari biasanya, dengan tinja yang lembek sampai cair. Kemudian penderita akan merasa lemas, perut sakit/ mules, terkadang disertai pula dengan mual dan muntah, panas, serta sakit kepala. Bahkan ada pula yang diarenya kemudian bercampur darah dan lendir. Menurut Depkes, di Indonesia umumnya setiap anak mengalami diare rata-rata 1 sampai 2 kali setahun. Diare merupakan salah satu penyebab dari kekurangan gizi. Hal ini disebabkan adanya anoreksia (tidak ada nafsu makan) pada penderita, dan kemampuan tubuh untuk menyerap sari makanan berkurang. Penyakit diare termasuk sepuluh besar penyakit yang sering terjadi di Indonesia walaupun biasanya ada pada peringkat kesembilan namun menjadi penyebab kematian yang cukup besar. Penyakit diare dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus, keracunan makanan dan alergi makanan. Diare akut disebabkan oleh infeksi bakteri (Vibrio cholera, Escherichia coli, Salmonella sp, Shigella sp, dan non pathogenic bacteria bila jumlahnya berlebihan), infeksi virus (Enterocytopathogenic orphan lype 18/ECHO, Poliomyelitis, Coxsackie, Orbivirus), keracunan makanan dan alergi makanan. Diare khronis disebabkan oleh Enteropathogenic Escherichia coli/EPEC, Pseudomonas, Proteus, Staphylococcus, Streptococcus, infeksi parasit (Entamoeba histolitika, Giardia lamblia, Trichuris trichiura). Penularan diare karena infeksi bakteri dan virus biasa melalui air minum sehingga disebut water borne diseases atau penyakit bawaan air. Sehingga pada penyebaran kasus diare, air merupakan media transmisi tidak hidup atau biasa disebut vehicle. Penyakit diare hanya dapat menyebar apabila mikroorganisme penyebab masuk ke badan air yang dipakai oleh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Selain pada hidrosfer, penyebaran penyakit diare juga dipengaruhi oleh perilaku masyarakat atau sosiosfer. Penyebaran penyakit ini, seperti penyakit menular saluran pencernaan dapat juga disebabkan karena tidak terbiasanya mencuci tangan setelah buang air, dan komunitas masyarakat tidak mementingkan penyediaan fasilitas cuci ini. Penularan lewat media air, tanah, makanan, dan vektor juga ditentukan oleh perlakuan dan etik masyarakat terhadap lingkungan disekitarnya (Sterrit, 1988). Secara umum, penyakit fekal oral seperti diare dapat menyebar melalui berbagai cara serta media transmisi antara lain melalui tangan yang terkontaminasi, perabot yang tidak bersih, air cucian yang mengandung agen, lalat, dan lainnya. Peran air dalam penyebaran penyakit menular bawaan air dapat melalui berbagai cara: (1) Air sebagai penyebar mikroorganisme pathogen; (2) Air sebagai sarang organisme penyebar penyakit; (3) Jumlah air bersih yang tersedia tidak mencukupi sehingga manusia dalam masyarakat tidak dapat membersihkan diri dan lingkungan sekitarnya dengan baik (sanitasi buruk); (4) Air sebagai sarang host sementara suatu penyakit.

HIGIEN MAKANANPengertian hygiene menurut Depkes (2005) adalah upaya kesehatan dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan individu subyeknya. Misalnya mencuci tangan untuk melindungi kebersihan tangan, cuci piring untuk melindungi kebersihan piring, membuang bagian makanan yang rusak untuk melindungi keutuhan makanan secara keseluruhan. Sanitasi makanan adalah salah satu usaha pencegahan yang menitik beratkan kegiatan dan tindakan yang perlu untuk membebaskan makanan dan minuman dari segala bahaya yang dapat menganggu atau memasak kesehatan, mulai dari sebelum makanan diproduksi, selama dalam proses pengolahan, penyimpanan, pengangkutan, sampai pada saat dimana makanan dan minuman tersebut siap untuk dikonsumsikan kepada masyarakat atau konsumen. Sanitasi makanan ini bertujuan untuk menjamin keamanan dan kemurnian makanan, mencegah konsumen dari penyakit, mencegah penjualan makanan yang akan merugikan pembeli. mengurangi kerusakan atau pemborosan makanan (World Health Organization, 2007). Cara Penyimpanan Bahan Makanan Di Indonesia, pada umumnya setiap makanan dapat dengan leluasa beredar dan dijual tanpa harus terlebih dahulu melalui kontrol kualitas, dan kontrol keselamatan sehingga masih lebih 70 % makanan yang dijual dihasilkan oleh produsen yang masih tradisional yang dalam proses produksinya kebanyakan masih jauh dari persyaratan kesehatan dan keselamatan, sehingga kasus keracunan makanan meningkat. Bahan makanan yang dimaksud disini adalah bahan makanan yang mentah (segar) yaitu bahan makanan yang perlu pengolahan sebelum dihidangkan, contohnya daging, beras, sayuran, singkong dan kentang. Makanan yang terolah (pabrik) yaitu makanan yang sudah dapat langsung dimakan tetapi digunakan untuk proses lebih lanjut. Contohnya tahu, tempe, kecap, ikan kaleng, kornet dan lain-lain. Makanan yang siap santap, yaitu nasi remes, soto mie, bakso, goreng ayam dan lain-lain.Penyimpanan bahan makanan sebelum diolah perlu perhatian khusus mulai dari wadah tempat penyimpanan sampai dengan cara penyimpanannya perlu diperhatikan dengan maksud untuk menghindari terjadinya keracunan karena kesalahan penyimpanan. Contoh bahan makanan seperti bumbu dapur yang digunakan untuk proses pengolahan makanan hendaknya ditata dengan baik dalam wadah yang berbeda, sehingga apabila akan menggunakannya dengan mudah dapat mengambilnya, hindari penyimpanan bahan beracun dengan tempat penyimpanan bumbu dapur. Selain itu penyimpanan bahan makanan yang mudah rusak seperti ikan, sayur- sayuran, tomat, lombok yang belum digunakan sebaiknya disimpan dalam lemari es sesuai dengan suhu penyimpannya, sedangkan yang tidak mudah rusak disimpan digudang atau pada lemari bahan makanan.Pengolahan Bahan Makanan Pengolahan makanan menjadi makanan siap santap merupakan salah satu titik rawan terjadinya keracunan, banyak keracunan terjadi akibat tenaga pengolahnya yang tidak memperhatikan aspek sanitasi. Pengolahan makanan yang baik adalah yang mengikuti kaidah dan prinsip-prinsip hygiene dan sanitasi, yang dikenal dengan istilah Good Manufactering Practice (GMP) atau cara produksi makanan yang baik. Terjadinya kasus keracunan makanan disebabkan karena tempat pengolahan makanan dan peralatan masak di mana peralatan masak juga dapat menyebabkan keracunan pada makanan. Kita ketahui bahwa logam dan senyawa kimia dapat terlarut dalam alat masak atau kontainer yang digunakan untuk mengolah dan menyimpan makanan, dapat menyebabkan keracunan . Logam dan senyawa kimia dapat terlaut, umumnya disebabkan karena makanan yang bersifat asam. Seorang tenaga pengolah makanan, atau penjamah makanan baik dalam mempersiapkan, mengolah, menyimpan, mengangkut, maupun menyajikan dan memperhatikan hygiene perorangannya. Salah satu contoh adalah kebersihan tangan. Biasakan mencuci tangan sebelum makan atau mengolah makanan.Seorang penjamah makanan yang tidak sehat dapat menjadi sumber penyakit dan dapat menyebar kesuatu masyarakat konsumen, peranannya dalam suatu penyebaran penyakit dengan cara kontak antara penjamah makanan yang menderita penyakit menular dengan konsumen yang sehat , kontaminasi terhadap makanan oleh penjamah makanan yang sakit, misalnya batuk atau luka ditangan , dan pengolah atau penanganan makanan oleh penjamah makanan yang sakit atau pembawa kuman.Makanan masak merupakan campuran bahan yang lunak dan sangat disukai bakteri. Bakteri akan tumbuh dan berkembang dalam makanan yang berada dalam suasana yang cocok untuk hidupnya sehingga jumlahnya menjadi banyak. Di antara bakteri terdapat beberapa bakteri yang menghasilkan racun (toksin), ada racun yang dikeluarkan oleh tubuhnya (eksotoksin), dan ada yang disimpan dalam tubuhnya (endotoksin/ enterotoksin). Sementara di dalam makanan juga terdapat enzim. Enzim terutama terdapat pada sayuran dan buah-buahan yang akan menjadikan buah matang dan kalau berlangsung terus buah akan menjadi busuk.Penyajian Bahan Makanan Penyajian makanan juga salah satu faktor yang dapat menyebabkan keracunan pada makanan. Penyajian oleh jasa boga berbeda dengan rumah makan. Di rumah makan tempat penyajian relatif berdekatan dengan dapur pengolahan, sehingga untuk terjadinya kontaminasi dengan lingkungan luar sangat sedikit, sedangkan pada jasa boga tempat penyajian bisa berkilo-kilometer dari tempat pengolahan, oleh karena itu maka faktor pengangkutan makanan menjadi penting karena akan mempengaruhi kondisi penyajian. Keterlambatan penyajian dapat terjadi akibat adanya hambatan diluar dugaan, misalnya kemacetan lalu lintas/ gangguan lain dalam perjalanan. Tempat penyajian seperti di kantin melalui jasa boganya sebab kasus keracunan makanan pada umumnya terjadi di kantin-kantin dan lain-lain.Penyakit-Penyakit Yang Dapat Ditimbulkan Gejala biasanya dimulai secara tiba-tiba dengan mual yang hebat dan muntah-muntah, sekitar 2-8 jam setelah makan makanan yang tercemar. Gejala lainnya berupa kram perut, diare dan kadang-kadang sakit kepala dan demam. Kehilangan cairan dan elektrolit dapat menyebabkan kelemahan dan tekanan darah yang rendah (syok). Gejala biasanya berlangsung selama kurang dari 12 jam dan penyembuhannya sempurna. Kadang-kadang keracunan makanan dapat berakibat fatal, terutama bila terjadi pada anak-anak, orang tua dan orang dengan kondisi lemah karena sakit menahun (Camilleri,M., Murray,J.A., 2008) Diare adalah peningkatan frekuensi buang air besar dimana kotoran yang dikeluarkan lebih cair dari biasanya. Diare karena infeksi dapat disebabkan oleh berbagai macam kuman baik virus, bakteri, atau parasit lainnya. Hal ini berarti seorang yang mengalami diare dapat menunjukkan gejala-gejala yang berbeda-beda tergantung dari penyebab diarenya itu. Gejala diare umumnya diawali dengan nyeri perut atau mulas. Diare yang terjadi selama lebih dari 2 minggu disebut sebagai diare kronik. Diare tanpa adanya darah biasanya disebabkan oleh virus, parasit atau toksin yang dihasilkan oleh bakteri. Infeksi saluran pencernaan yang disebabkan suatu virus yang disebut rotavirus akan menyebabkan diare yang encer. Sebagian besar kuman yang menyebabkan diare juga dapat menyebabkan gejala-gejala lain seperti demam, hilangnya nafsu makan, nyeri perut, kram perut, mual, muntah, hilangnya berat badan, dan terutama dehidrasi. Kuman penyebab diare dapat pula masuk dan menyebar ke aliran darah dan mengakibatkan infeksi di organ tubuh lain yang jauh dari pencernaan seperti otak.Pencegahan Basuh tangan dengan sabun setiap kali selepas menggunakan tandas dan setiap kali sebelum dan selepas mengendalikan atau menyediakan makanan. Gunakan air panas dan bersabun untuk membersihkan perkakas memasak, papan memotong dan lain-lain permukaan yang digunakan. Apabila membeli-belah, menyediakan atau menyimpan makanan, asingkan daging mentah, ternakan, ikan dan makanan bercangkerang daripada makanan lain bagi mengelakkan pencemaran silang (CDC, 2005). Masak makanan pada suhu yang selamat. Cara terbaik bagi memastikannya adalah dengan menggunakan termometer makanan. Anda boleh membunuh organisma yang boleh menjejaskan yang terdapat dalam kebanyakan makanan dengan memasak pada suhu antara 63 C hingga 74 C. Sejukkan atau dinginkan makanan yang mudah rosak dalam tempoh dua jam pembelian atau penyediaannya. Jika suhu bilik lebih 32 C, sejukkan makanan yang tidak tahan lama itu dalam masa sejam. Letakkan makanan di dalam pembeku jika tidak mahu memakannya dalam masa dua hari. Mencairbekukan makanan dengan selamat. Jangan lembutkan makanan pada suhu bilik. Cara terbaik untuk melembutkan makanan adalah dengan mencairbekukan makanan di dalam peti sejuk atau mikro gelombang. Melalukan air sejuk ke atas makanan untuk melembutkannya juga selamat (CDC, 2005) Buangkan sahaja makanan itu kalau anda ragu-ragu dengan cara penyediaan, penyimpanan atau hidangannya. Makanan yang dibiarkan pada suhu bilik dengan terlalu lama mungkin mengandungi bakteri atau racun

SANITASI TEMPAT-TEMPAT UMUMHigiene adalah suatu pencegahan penyakit yang menitikberatkan pada usaha kesehatan perseorangan atau manusia beserta lingkungan tempat orang tersebut berada.Sanitasi adalah suatu usaha pencegahan penyakit yang menitikberatkan kegiatan kepada upaya kesehatan lingkungan hidup manusia (Widyati R, 2002).Tempat-tempat umum adalah tempat untuk melakukan kegiatan bagi umum yang dilakukan oleh badan-badan pemerintah, swasta atau perorangan yang langsung digunakan oleh masyarakat yang mempunyai tempat dan kegiatan yang tetap serta memiliki fasilitas (Depkes RI, 2007).Sanitasi tempat-tempat umum merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling cukup mendesak karena tempat umum merupakan tempat bertemunya segala macam masyarakat dengan segala penyakit yang dimiliki oleh masyarakat tersebut.Oleh sebab itu maka tempat umum merupakan tempat menyebarnya segala penyakit terutama penyakit-penyakit yang medianya makanan, minuman, udara dan air. Dengan demikian maka sanitasi tempat-tempat umum harus memenuhi syarat-syarat kesehatan dalam arti melindungi, memelihara, dan mempertinggi derajat kesehatan masyarakat ( Mukono, 2006 )Tempat-tempat umum mempunyai potensi sebagai tempat terjadinya penularan penyakit, pencemaran lingkungan, ataupun gangguan kesehatan lainnya.Pengawasan atau pemeriksaan sanitasi tempat-tempat umum dilakukan untuk mewujudkan lingkungan tempat-tempat umum yang bersih guna melindungi kesehatan masyarakat dari berbagai kemungkinan penularan penyakit dan gangguan kesehatan lainnyaTujuan pengawasan sanitasi tempat-tempat umum, antara lain :1. Untuk memantau sanitasi tempat-tempat umum secara berkala 2. Untuk membina dan meningkatkan peran aktif masyarakat dalam menciptakan lingkungan yang bersih dan sehat di tempat-tempat umum (Chandra, 2007). Sedangkan manfaat dan pentingnya sanitasi adalah sebagai berikut :1. Mencegah penyakit menular 2. Mencegah kecelakaan 3. Mencegah timbulnya bau yang tidak sedap 4. Menghindari pencemaran 5. Mengurangi jumlah (persentase) sakit6. Lingkungan menjadi bersih, sehat dan nyaman (Widyati R, 2002). Untuk membedakan dan menerapkan apakah sebuah tempat termasuk tempat umum atau bukan, diterapkan batas batas ataupun syarat syarat sebagai berikut :1. Ada tempat dan kegiatan permanen 2. Dilakukan kegiatan kegiatan atau aktifitas yang dapat menimbulkan terjadi penyakit menular, penyakit akibat kerja dan kecelakaan 3. Tempat tersebut diperuntukan bagi masyarakat umum.4. Terdapat fasilitas fasilitas atau perlengkapan yang dapat menimbulkan penyakit atau kecelakaan. 5. Tempat tersebut diperuntukan bagi masyarakat umum 6. Terdapat fasilitas atau perlengkapan yang dapat menimbulkan penyakit atau kecelakaan.Sesuai dengan ruang lingkupnya, maka tempat umum dikelompokan Atas 4 bagian, yaitu :1. Yang berhubungan dengan sarana pariwisata dan jenis jenisnya adalah hotel, penginapan, kolam renang, pemandian umum, restoran, rumah makan, bioskop, gedung pertemuan dan taman hiburan 2. Yang berhubungan dengan sarana perhubungan. Jenis-jenisnya adalah terminal angkutan darat, angkutan laut, pelabuhan udara dan stasiun kereta api 3. Yang berhubungan dengan sanitasi sosial. Jenis-jenisnya adalah tempat-tempat beribadah dan pasar 4. Yang berhubungan dengan komersial lainnya. Jenis-jenisnya adalah tempat salon kecantikan dan panti pijat. Dari ruang lingkup yang telah diuraikan diatas maka pelabuhan temasuk tempat umum yang berhubungan dengan sarana perhubungan yang harus mendapat pengawasan sesuai peraturan yang ada.Pelabuhan adalah tempat dan termasuk fasilitas yang didatangi oleh masyarakat untuk menunggu, naik, atau turun dari kapal, mengangkut barang barang keluar dan masuk pelabuhan (Chandra, 2007).

PENGENDALIAN VEKTORPengertian pengendalian vektor Vektor adalah anthropoda yang dapat menimbulkan dan menularkan suatu Infectious agent dari sumber Infeksi kepada induk semang yang rentan. Bagi dunia kesehatan masyarakat, binatang yang termasuk kelompok vektor yang dapat merugikan kehidupan manusia karena disamping mengganggu secara langsung juga sebagai perantara penularan penyakit, seperti yang sudah diartikan diatas.Adapun dari penggolongan binatang ada dikenal dengan 10 golongan yang dinamakan phylum diantaranya ada 2 phylum sangat berpengaruh terhadap kesehatan manusia yaitu phylum anthropoda seperti nyamuk yang dapat bertindak sebagai perantara penularan penyakit malaria, deman berdarah, dan Phyluml chodata yaitu tikus sebagai pengganggu manusia, serta sekaligus sebagai tuan rumah (hospes), pinjal Xenopsylla cheopis yang menyebabkan penyakit pes. Sebenarnya disamping nyamuk sebagai vektor dan tikus binatang pengganggu masih banyak binatang lain yang berfimgsi sebagai vektor dan binatang pengganggu.Namun kedua phylum sangat berpengaruh didalam menyebabkan kesehatan pada manusia, untuk itu keberadaan vektor dan binatang penggangu tersebut harus di tanggulangi, sekalipun demikian tidak mungkin membasmi sampai keakar-akarnya melainkan kita hanya mampu berusaha mengurangi atau menurunkan populasinya kesatu tingkat ertentu yang tidak mengganggu ataupun membahayakan kehidupan manusia. Dalam hal ini untuk mencapai harapan tersebut perlu adanya suatu managemen pengendalian dengan arti kegiatan-kegiatan/proses pelaksanaan yang bertujuan untuk memurunkan densitas populasi vektor pada tingkat yang tidak membahayakan.Jadi Pengendalian vektor adalah semua upaya yang dilakukan untuk menekan, mengurangi, atau menurunkan tingkat populasi vektor sampai serendah rendahnya sehigga tidak membahayakan kehidupan manusia. Meteologi Pengendalian vectorDalarn pengendalian vektor tidaklah mungkin dapat dilakukan pembasmian sampai tuntas, yang mungkin dan dapat dilakukan adalah usaha mengurangi dan menurunkan populasi kesatu tingkat yang tidak membahayakan kehidupan manusia. Namun hendaknya dapat diusahakan agar segala kegiatan dalam rangka memurunkan populasi vektor dapat mencapai hasil yang baik. Untuk itu perlu diterapkan teknologi yang sesuai, bahkan teknologi sederhanapun, yang penting d dasarkan prinsip dan konsep yang benar. Adapun prinsip dasar dalam pengendalian vektor yang dapat dijadikan sebagai pegangan sebagai berikut :1. Pengendalian vektor harus menerapkan bermacam-macam cara pengendalian agar vektor tetap berada di bawah garis batas yang tidak merugikan/ membahayakan.2. Pengendalian vektor tidak menimbulkan kerusakan atau gangguan ekologi terhadap tata lingkungan hidup.Konsep dasar pengendalian Vektor 1. Harus dapat menekan densitas vektor2. Tidak membahayakan manusia3. Tidak mengganggu keseimbangan lingkunganTujuan pengendalian vektor 1. Mencegah wabah penyakit yang tergolong vector-borne disease >> memperkecil risiko kontak antara manusia dg vektor penyakit dan memperkecil sumber penularan penyakit/reservoir2. Mencegah dimasukkannya vektor atau penyakit yg baru ke suatu kawasan yg bebas >> dilakukan dengan pendekatan legal, maupun dengan aplikasi pestisida (spraying, baiting, trapping) Cara Pengendalian Vektor1. Usaha pencegahan (prevention) >> mencegah kontak dengan vektor >> pemberantasan nyamuk, kelambu 2. Usaha penekanan (suppression) >> menekan populasi vektor sehingga tidak membahayakan kehidupan manusia 3. Usaha pembasmian (eradication) >> menghilangkan vektor sampai habis Metode pengendalian Vektor1. Pengendalian secara alamiah (naturalistic control) >> memanfaatkan kondisi alam yang dapat mempengaruhi kehidupan vector >> jangka waktu lama2. Pengendalian terapan (applied control) >> memberikan perlindungan bagi kesehatan manusia dari gangguan vektor >> sementara a. Upaya peningkatan sanitasi lingkungan (environmental sanitation improvement)b. Pengendalian secara fisik-mekanik (physical-mechanical control) >> modifikasi/manipulasi lingkungan >> landfilling, drainingc. Pengendalian secara biologis (biological control) >> memanfaatkan musuh alamiah atau pemangsa/predator, fertilisasi d. Pengendalian dengan pendekatan per-UU (legal control) >> karantinae. Pengendalian dengan menggunakan bahan kimia (chemical control) Jenis-jenis vectorSeperti telah diketahui vektor adalah Anthropoda yang dapat memindahkan/menularkan suatu infectious agent dari sumber infeksi kepada induk semang yang rentan.Sebagian dari Anthropoda dapat bertindak sebagai vektor, yang mempunyai ciri-ciri kakinya beruas-ruas, dan merupakan salah satu phylum yang terbesarjumlahnya karena hampir meliputi 75% dari seluruh jumlah binatang.Antropoda dibagi menjadi 4 kelas :1. Kelas crustacea (berkaki 10): misalnya udang2. Kelas Myriapoda : misalnya binatang berkaki seribu3. Kelas Arachinodea (berkaki 8) : misalnya Tungau4. Kelas hexapoda (berkaki 6) : misalnya nyamuk

VII. KesimpulanKomunitas Desa Meranjat yang terletak di pinggir jalan raya lintas sumatera di ogan ilir mengalami masalah kesehatan lingkungan yang disebabkan oleh perilaku, higien dan sanitasi lingkungan yang buruk

DAFTAR PUSTAKA

Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan Mengenai Persyaratan Kualitas Air Minum Nomor : 492 / Menkes / Per/ IV/ 2010 tanggal 19 April 2010. Jakarta, Indonesia Deputi Bidang Tata Lingkungan - Kementerian Negara Lingkungan Hidup. 2007. Memprakirakan Dampak Lingkungan Kualitas Udara. Jakarta , IndonesiaKemenkes RI. 2011. Promosi kesehatan di daerah terpencil, perbatasan dan kepulauan. Jakarta, IndonesiaPencemaran.http://www.kelair.bppt.go.id/Publikasi/BukuAirMinum/BAB1.pdf diakses tanggal 13 mei 2014Peraturan pemerintah Republik Indonesia. 1999. Baku mutu udara ambien nasional Nomor : 41 tahun 1999, Tanggal : 26 mei 1999. Jakarta, IndonesiaRahadin, A.E. , E. Kardena. 2010. Kualitas Air pada Proses Pengolahan Air Minum di Instalasi Pengolahan Air Minum Lippo Cikarang. Program Studi Teknik Lingkungan Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan, Institut Teknologi Bandung, IndonesiaWorld Health Organization (WHO). Environmental Health. Disitasi dari http://www.WHO.int. Last Update : Januari 2008.

33