kti lisrawati akper pemkab. muna

of 170/170
ASUHAN KE (5 TAHUN) GEDUN U Diajukan Sebag Program Dip P KEPERAWATAN ANAK S USIA PRA SEK DENGAN MARASMUS DI RUANG KEN NG KEMUNING LANTAI I RUMAH SAK UMUM PUSAT dr. HASAN SADIKIN BANDUNG KARYA TULIS ILMIAH gai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan P ploma III Keperawatan pada Akademi Keper Pemerintah Kabupaten Muna IRHAM NIM : 13.1 DISUSUN OLEH : LISRAWATI NIM : 13.13.1112 PEMERINTAH KABUPATEN MUNA AKADEMI KEPERAWATAN RAHA 2016 KOLAH NANGA KIT Pendidikan rawatan

Post on 16-Apr-2017

115 views

Category:

Business

13 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • ASUHAN KEPERAWATAN ANAK S USIA PRA SEKOLAH(5 TAHUN) DENGAN MARASMUS DI RUANG KENANGA

    GEDUNG KEMUNING LANTAI I RUMAH SAKITUMUM PUSAT dr. HASAN SADIKIN

    BANDUNG

    KARYA TULIS ILMIAH

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan PendidikanProgram Diploma III Keperawatan pada Akademi Keperawatan

    Pemerintah Kabupaten Muna

    IRHAM

    NIM : 13.1

    DISUSUN OLEH :

    LISRAWATI

    NIM : 13.13.1112

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    RAHA2016

    ASUHAN KEPERAWATAN ANAK S USIA PRA SEKOLAH(5 TAHUN) DENGAN MARASMUS DI RUANG KENANGA

    GEDUNG KEMUNING LANTAI I RUMAH SAKITUMUM PUSAT dr. HASAN SADIKIN

    BANDUNG

    KARYA TULIS ILMIAH

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan PendidikanProgram Diploma III Keperawatan pada Akademi Keperawatan

    Pemerintah Kabupaten Muna

    IRHAM

    NIM : 13.1

    DISUSUN OLEH :

    LISRAWATI

    NIM : 13.13.1112

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    RAHA2016

    ASUHAN KEPERAWATAN ANAK S USIA PRA SEKOLAH(5 TAHUN) DENGAN MARASMUS DI RUANG KENANGA

    GEDUNG KEMUNING LANTAI I RUMAH SAKITUMUM PUSAT dr. HASAN SADIKIN

    BANDUNG

    KARYA TULIS ILMIAH

    Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat dalam Menyelesaikan PendidikanProgram Diploma III Keperawatan pada Akademi Keperawatan

    Pemerintah Kabupaten Muna

    IRHAM

    NIM : 13.1

    DISUSUN OLEH :

    LISRAWATI

    NIM : 13.13.1112

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    RAHA2016

  • ii

    HALAMAN PERSETUJUAN

    Karya Tulis Ilmiah ini berjudul :

    Asuhan Keperawatan Anak S Usia Pra Sekolah (5 Tahun) dengan

    Marasmus di Ruang Kenanga Gedung Kemuning Lantai I Rumah Sakit

    Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

    Telah diterima dan disetujui untuk diajukan dan dipertahankan di depan dewan

    penguji.

    Raha, Juni 2016

    Pembimbing

    ASMALIA, S.Kep.,Ns., M.KesNIP.

    Mengetahui,

    Direktur Akper Pemkab Muna

    SANTHY, S.Kep.,Ns., M.KepNIP. 19800212 200312 2 006

  • iii

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    Jl. Poros Raha-Tampo Km. 6 Motewe Tlp. 0403-22954

    HALAMAN PENGESAHAN

    Karya Tulis Ilmiah ini telah Dipertahankan Dihadapan Dewan Penguji

    Pada Tanggal 2 Juli 2016

    DEWAN PENGUJI

    1. Asmalia, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    2. Santhy, S.Kep.,Ns., M.Kep (................................ )

    3. Wa Ode Fitri Ningsih, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    Karya Tulis Ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan

    untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akademi

    Keperawatan Pemkab Muna

    Raha, 2 Juli 2016

    Direktur Akper Pemkab Muna

    SANTHY, S.Kep., Ns., M.KepNIP. 19800212 200312 2 006

    iii

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    Jl. Poros Raha-Tampo Km. 6 Motewe Tlp. 0403-22954

    HALAMAN PENGESAHAN

    Karya Tulis Ilmiah ini telah Dipertahankan Dihadapan Dewan Penguji

    Pada Tanggal 2 Juli 2016

    DEWAN PENGUJI

    1. Asmalia, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    2. Santhy, S.Kep.,Ns., M.Kep (................................ )

    3. Wa Ode Fitri Ningsih, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    Karya Tulis Ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan

    untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akademi

    Keperawatan Pemkab Muna

    Raha, 2 Juli 2016

    Direktur Akper Pemkab Muna

    SANTHY, S.Kep., Ns., M.KepNIP. 19800212 200312 2 006

    iii

    PEMERINTAH KABUPATEN MUNAAKADEMI KEPERAWATAN

    Jl. Poros Raha-Tampo Km. 6 Motewe Tlp. 0403-22954

    HALAMAN PENGESAHAN

    Karya Tulis Ilmiah ini telah Dipertahankan Dihadapan Dewan Penguji

    Pada Tanggal 2 Juli 2016

    DEWAN PENGUJI

    1. Asmalia, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    2. Santhy, S.Kep.,Ns., M.Kep (................................ )

    3. Wa Ode Fitri Ningsih, S.Kep.,Ns., M.Kes (................................ )

    Karya Tulis Ilmiah ini telah diterima sebagai salah satu persyaratan

    untuk menyelesaikan Pendidikan Diploma III Keperawatan pada Akademi

    Keperawatan Pemkab Muna

    Raha, 2 Juli 2016

    Direktur Akper Pemkab Muna

    SANTHY, S.Kep., Ns., M.KepNIP. 19800212 200312 2 006

  • iv

    ABSTRAK

    Latar Belakang, berdasarkan hasil medical record di Ruang Kenanga Gedung Kemuning Lantai IRumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung periode Januari sampai dengan Desember2015, pasien dengan Marasmus tidak terdapat dalam kategori 10 penyakit terbesar, namunmenempati urutan kelima belas dengan jumlah penderita 9 orang (0,65%) tetapi sangatmemprihatinkan sehingga memerlukan penanganan yang serius.Tujuan, dari Karya Tulis Ilmiah ini untuk dapat memperoleh gambaran yang jelas danpengalaman secara nyata dalam melakukan asuhan keperawatan kepada anak dengan Marasmussecara komprehensif mencakup bio, psiko, social dan spiritual berdasarkan ilmu & kiatkeperawatan.Metode, yang digunakan adalah metode analisis deskriptif yang berbentuk studi kasus denganberdasarkan pendekatan suatu proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosakeperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.Hasil, setelah 4 hari di laksanakan tindakan keperawatan di mulai dari tanggal 01 sampai dengan04 Maret 2016, dari hasil pengkajian didapatkan ada 8 diagnosa keperawatan yaitu kekuranganvolume cairan, perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh, keterlambatan pertumbuhan danperkembangan, intoleransi aktivitas, defisit perawatan diri, kecemasan keluarga, resiko kerusakanintegritas kulit dan resiko infeksi. Dari hasil evaluasi keperawatan, dari 8 masalah yang ditemukanada 3 diagnosa keperawatan yang teratasi yaitu yaitu kekurangan volume cairan, defisit perawatandiri dan kecemasan keluarga dan 5 diagnosa yang belum teratasi yaitu perubahan nutrisi kurangdari kebutuhan tubuh, keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan, intoleransi aktivitas, resikokerusakan integritas kulit dan resiko infeksi, namun sudah ada kemajuan. Hal ini terjadi karenabeberapa masalah keperawatan membutuhkan waktu yang berbeda - beda dalam prosespenyembuhan.Kesimpulan, tercapainya penyembuhan dari penyakit diperlukan evaluasi secara berkelanjutandan terarah dengan adanya catatan perkembangan serta pengelolaan asuhan keperawatan denganpendekatan proses keperawatan yang komprehensif serta kerja sama antara perawat, klien, orangtua, keluarga dan tim kesehatan lainnya.

  • v

    KATA PENGANTAR

    Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas berkat

    Rahmat dan Hidayah-Nya, Sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan

    laporan Karya Tulis Ilmiah yang berjudul Asuhan Keperawatan Anak S Usia

    Pra Sekolah (5 Tahun) dengan Marasmus di Ruang Kenanga Gedung

    Kemuning Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

    Penulisan Karya Tulis Ilmiah ini di maksudkan untuk memenuhi salah satu

    syarat dalam rangka menyelesaikan pendidikan program Diploma III

    Keperawatan di Akademi Keperawatan Pemerintah Kabupaten Muna. Dalam

    penyusunan studi kasus ini penulis banyak mendapat hambatan dan kesulitan,

    namun berkat bimbingan dan pengarahan serta bantuan dari berbagai pihak,

    akhirnya penulis dapat menyelesaikan Karya Tulis Ilmiah ini. Untuk itu pada

    kesempatan ini, penulis menyampaikan ucapan terima kasih, yang terhormat

    kepada :

    1. Ibu dr. Ayi Djembarsari, MARS Selaku Direktur Utama Rumah Sakit Umum

    Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung yang telah memberikan waktu dan

    kesempatan untuk praktek dan melaksanakan ujian praktek klinik keperawatan

    pada Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

    2. Ibu Santhy, S.Kep., Ns., M.Kep selaku Direktur Akper Pemkab Muna yang

    telah memberikan kesempatan pada penulis untuk mengikuti pendidikan di

    Akper Pemkab Muna.

    3. Ibu Asmalia, S.Kep.,Ns., M.Kes Selaku pembimbing yang telah memberikan

    bimbingan dan arahan serta saran dalam penyusunan Karya Tulis Ilmiah ini.

    4. Ibu Harnia, S.Kep,Ns selaku penguji praktek klinik di Rumah Sakit Umum

    Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

    5. Ibu Iis Suhaeni AMK, Sebagai CI serta semua staf ruang Kenanga Gedung

    Kemuning Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung,

  • vi

    yang telah memberikan arahan dan masukan dalam melaksanakan asuhan

    keperawatan pada klien Anak S untuk penyusunan laporan studi kasus ini.

    6. Seluruh Dosen dan Staf Akper Pemkab Muna yang telah memberikan

    bimbingan selama mengikuti pendidikan dan penyusunan Karya Tulis Ilmiah.

    7. Klien Anak S dan nenek klien yang telah bersedia bekerja sama dengan

    penulis selama melaksanakan asuhan keperawatan.

    8. Teristimewa kepada kedua orang tuaku Bapak La Kae (Alm) dan Ibu Wa

    Ngkurami yang tercinta yang telah mengasuh, memberikan motivasi serta

    pengorbanan materi yang tidak terhingga selama penulis mengikuti

    pendidikan dan Saudaraku Bapak Rui, S.pd & Pratu Kopasus Syariflan yang

    telah memberikan dukungan dan dorongan baik moril maupun materil selama

    mengikuti pendidikan.

    9. Spesial untuk teman-temanku di Akper Pemkab Muna khususnya Irham,

    Erwin, Nur khalida, Majid, Irna dewi, Lm. Sarifudin, Ld. Ganirudin, Lm.

    Safar, Isra wati, Tika yuslindah, Rismawati, Ramlawati, Juni, Samlin, Siti

    Alwarti dan rekan-rekan akper pemkab muna.

    Penulis menyadari bahwa Karya Tulis Ilmiah ini masih jauh dari

    kesempurnaan, untuk itu segala kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat

    penulis harapkan demi kesempurnaan Karya Tulis Ilmiah ini.

    Demikian dengan segala kerendahan hati penulis mempersembahkan

    Karya Tulis Ilmiah ini, kiranya dapat bermanfaat khususnya bagi penulis dan

    pembaca dalam mengembangkan ilmu keperawatan khususnya asuhan

    keperawatan anak dengan Marasmus dan Semoga Allah SWT memberikan

    imbalan yang setimpal atas segala bantuan dan kebaikannya dalam mewujudkan

    Karya Tulis Ilmiah ini.

    Raha, Juni 2016

    Penulis

  • vii

    DAFTAR ISI

    Halaman

    HALAMAN JUDUL ..... I

    HALAMAN PERSETUJUAN ..... Ii

    HALAMAN PENGESAHAN .. Iii

    ABSTRAK.. Iv

    KATA PENGANTAR .. V

    DAFTAR ISI . Vii

    DAFTAR TABEL . X

    DAFTAR GAMBAR

    DAFTAR BAGAN

    DAFTAR LAMPIRAN

    MOTTO..

    Xii

    xiii

    xiv

    xv

    BAB I PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang ......

    B. Ruang Lingkup Pembahasan ....

    C. Tujuan ...........................................................................

    D. Manfaat .........................................................................................................

    E. Metode Telaahan ..........................................................................................

    F. Waktu Pelaksanaan .......................................................................................

    G. Tempat Pelaksanaan ...................................................................................

    H. Sistematika Telaahan.....................................................................................

    1

    5

    5

    6

    7

    8

    8

    8

    BAB II TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN ANAK M

    DENGAN MALFORMASI ANOREKTAL (MAR)

    A. Konsep Dasar ...............................

    1. Pengertian .

    2. Anatomi Fisiologi sistem pencernaan.......

    11

    11

    12

  • viii

    3. Etiologi .

    4. Patofisiologi ..

    5. Tanda dan Gejala ..

    6. Klasifikasi .

    7. Pemeriksaan Penunjang

    8. Penatalaksanaan Medis .

    9. Komplikasi ...

    10. Penyimpangan KDM

    B. Tinjauan teoritis tentang asuhan keperawatan ..............

    1. Pengkajian ...

    2. Diagnosa Keperawatan .

    3. Perencanaan ..

    4. Implementasi ........

    5. Evaluasi ...

    26

    27

    28

    29

    30

    31

    35

    36

    37

    37

    55

    56

    61

    62

    BAB III TINJAUAN KASUS DAN PEMBAHASAN

    A. Laporan Kasus ..................

    1. Pengkajian

    a. Pengumpulan data .

    b. Klasifikasi data ..

    c. Analisa data .......

    d. Prioritas Masalah ...

    2. Diagnosa keperawatan ..

    3. Perencanaan...............................

    4. Implementasi dan evaluasi .......

    5. Catatan perkembangan

    B. Pembahasan

    1. Pengkajian ...

    2. Diagnosa keperawatan .

    63

    63

    63

    82

    84

    88

    92

    97

    103

    112

    125

    125

    127

  • ix

    3. Perencanaan .........

    4. Implementasi ...

    5. Evaluasi ...

    130

    132

    134

    BAB IV KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

    135

    137

    A. Kesimpulan .................................................................................................

    B. Rekomendasi ...............................................................................................

    DAFTAR PUSTAKA

    RIWAYAT HIDUP

    LAMPIRAN

  • x

    DAFTAR TABEL

    Halaman

    1.

    2

    3.

    4.

    5.

    6.

    7.

    8.

    9.

    10.

    11.

    12.

    13.

    14.

    15.

    16.

    Distribusi 10 Penyakit Terbesar di Gedung Kemuning Lantai I Ruang

    Kenanga ..

    Kecukupan Energi dan Protein yang Dianjurkan ...

    Perkembangan Anak Usia 0-60 Bulan ...

    Pengukuran Antropometri Usia 0-60 Bulan

    Berat Badan Ideal (BBI) dalam Kategori.

    Intervensi dan Rasional Perubahan Nutrisi Kurang dari Kebutuhan

    Tubuh ..

    Intervensi dan Rasional Kerusakan Integritas Kulit

    Intervensi dan Rasional Keterlambatan Pertumbuhan dan

    Perkembangan

    Intervensi dan Rasional Defisiensi Pengetahuan .

    Intervensi dan Rasional Resiko Infeksi ..

    Pola Perubahan Nutrisi

    Pola Aktivitas Sehari hari .

    Hasil Pemeriksaan Laboratorium .

    Analisa Data

    Rencana Asuhan Keperawatan .

    Implementasi dan Evaluasi ..

    4

    30

    42

    46

    47

    57

    58

    59

    60

    61

    71

    79

    81

    84

    97

    103

  • xi

    17 Catatan Perkembangan 112

  • xii

    DAFTAR GAMBAR

    Halaman

    1. Anatomi Sistem Pencernaan .. 12

  • xiii

    DAFTAR BAGAN

    Halaman

    1. Penyimpangan KDM . 36

    2. Genogram 3 Generasi .... 68

  • xiv

    DAFTAR LAMPIRAN

    Lampiran 1

    Lampiran 2

    Lampiran 3

    Lampiran 4

    Lampiran 5

    :

    :

    :

    :

    :

    Rencana penyuluhan

    Satuan acara penyuluhan

    Materi penyuluhan

    Leaflet

    Lembar konsultasi

  • 1

    BAB I

    PENDAHULUAN

    A. Latar Belakang

    Pembangunan kesehatan pada hakekatnya adalah upaya yang

    dilaksanakan oleh semua komponen Bangsa Indonesia yang bertujuan untuk

    meningkatkan kesadaran, kemauan, dan kemampuan hidup sehat bagi setiap

    orang agar terwujud derajat kesehatan masyarakat yang setinggi-tingginya,

    sebagai investasi bagi pembangunan sumber daya manusia yang produktif

    secara sosial dan ekonomis. Keberhasilan pembangunan kesehatan sangat

    ditentukan oleh kesinambungan antar upaya program dan sektor, serta

    kesinambungan dengan upaya-upaya yang telah dilaksanakan oleh periode

    sebelumnya. Untuk mewujudkan keberhasilan pembangunan kesehatan harus

    didukung oleh pelayanan kesehatan yang komprehensif, termasuk pelayanan

    keperawatan (KemenKes RI, 2015).

    Sistem layanan kesehatan sangat berpengaruh terhadap derajat

    kesehatan individu dan masyarakat. Layanan kesehatan terdepan bukan

    semata berfokus pada pengobatan, tetapi juga pada pemeliharaan dan

    peningkatan kesehatan. Dalam sistem ini, kita tidak lagi menekankan upaya

    kuratif, melainkan upaya promotif dan preventif. Salah satu masalah

    kesehatan di Indonesia yang perlu mendapat perhatian dan pelayanan yang

    baik adalah peningkatan angka kematian balita yang disebabkan kebutuhan

    gizi yang tidak terpenuhi / malnutrisi diantaranya marasmus (Asmadi, 2008).

  • 2

    Marasmus adalah suatu bentuk kurang kalori dan protein yang berat.

    Keadaan merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan makanan dan

    penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa faktor lain pada anak

    sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh terhadap terjadinya

    marasmus. Marasmus ini dapat menyebabkan perubahan berat badan menjadi

    kurus, turgor kulit jelek, kulit keriput tampak seperti orang tua, ubun-ubun

    besar dan cekung, perut buncit dan diare sehingga akan berdampak pada

    malnutrisi kronik, hipoglikemia, hipotermia, dehidrasi, gangguan

    keseimbangan elektrolit dan mudah terkena penyakit infeksi. Dampak yang

    lebih serius dari marasmus ini adalah gangguan pertumbuhan dan

    perkembangan anak baik fisik maupun mental sehingga anak mengalami

    penurunan kecerdasan dan terjadi atropi otot karena hilangnya lapisan

    subkutan. Jika hal ini tidak segera ditangani maka dapat meningkatkan angka

    kesakitan dan kematian balita (Hidayat, 2012).

    Angka kesakitan dan kematian gizi buruk atau malnutrisi pada balita

    relatif sering terjadi. Data WHO menunjukkan bahwa insiden kejadian Gizi

    buruk akut atau malnutrisi terdapat 49 % dari 10,4 juta kematian yang terjadi

    pada anak di bawah lima tahun di negara berkembang. Kasus kekurangan gizi

    tercatat 50 % anak anak di Asia. Menurut UNICEF tahun 2008, ada sekitar

    40 % anak Indonesia di bawah usia lima tahun menderita gizi buruk. Pada

    tahun 2013 di Amerika Serikat terdapat 1,7 juta diantara 19 juta anak usia di

    bawah lima tahun (balita) menderita gizi buruk (Puspitawati & Sulistyarini,

    2013).

  • 3

    Angka prevalensi balita yang mengalami gizi buruk di Indonesia

    masih tinggi. Hasil Riskesdas menunjukkan adanya peningkatan prevalensi

    balita gizi kurang dan buruk secara nasional, prevalensi berat dan kurang

    pada tahun 2013 adalah 19,6 %, terdiri 5,7 % gizi buruk dan 13,9 % gizi

    kurang. Jika dibandingkan dengan angka prevalensi nasional tahun 2007

    (18,4 %) dan tahun 2010 (17,9 %) terlihat meningkat. Mencuatnya kembali

    mengenai balita gizi buruk yang ditemukan dan meninggal menunjukan

    sistem surveilans dan penanggulangan dari berbagai instansi belum optimal.

    Pasien pasien yang dirawat di rumah sakit dalam kondisi status gizi buruk

    juga semakin meningkat (Liansyah, 2015).

    Insiden gizi buruk dan gizi kurang pada anak balita yang dirawat

    mondok di rumah sakit masih tinggi diantaranya 935 (38%) penderita

    malnutrisi dari 2453 anak balita yang dirawat di RSU dr. Pirngadi Medan

    yang terdiri dari 67% gizi kurang dan 33% gizi buruk. Penderita gizi buruk

    yang paling banyak dijumpai ialah tipe marasmus. Angka kejadian marasmus

    yang dirawat di Rumah Sakit dr. Sutomo Surabaya mendapatkan 47% dan di

    RSU di dr. Pirngadi Medan sebanyak 42%. Hal ini dapat dipahami karena

    marasmus sering berhubungan dengan keadaan kepadatan penduduk dan

    higiene yang kurang di daerah perkotaan yang sedang membangun dan serta

    terjadinya krisis ekonomi di lndonesia (Liansyah, 2015).

  • 4

    Adapun distribusi 10 penyakit terbesar yang dirawat di Ruang

    Kenanga Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung dapat dilihat

    pada tabel di bawah ini :

    Tabel 1. Distribusi 10 Penyakit Terbesar yang dirawat di Ruang Kenanga GedungKemuning Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandungpada Periode Januari sampai dengan Desember 2015

    No Penyakit Jumlah Presentase (%)123456789

    1015

    Chemotherapy session for neoplasmBronchopneumonia unspecifiedOther prophylactic chemoterapiBacterial sepsis of newbornAplastic anemia, unspecifiedAcute lymphoblastic leukimiaTyphoid lever (infection due to salmonella thypi )Pateut ductus arteriosusDengue haemorrhagis leverVery low Birth Weight ( VLBW )Marasmus

    671190110626159555453429

    49,4414,018,104,564,494,344,053,973,913,090,65

    Jumlah 1366 100%Sumber : Medical Record Di Ruang Kenanga Gedung Kemunin Lantai I Rumah Sakit

    Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung Januari sampai dengan Desember 2015

    Dari tabel I. di atas terlihat bahwa dari 1.366 jumlah pasien di Ruang

    Kenanga Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung,

    penderita penyakit marasmus tidak terdapat dalam kategori 10 penyakit

    terbesar tetapi terdapat pada urutan ke lima belas (15) dengan jumlah

    penderita sebanyak 9 orang (0,65 %), namun sangat memprihatinkan

    sehingga memerlukan penanganan yang serius.

    Melihat keadaan diatas penulis tertarik untuk menulis karya Tulis

    Ilmiah dengan judul Asuhan Keperawatan Anak S Usia Pra Sekolah (5

    Tahun) dengan Marasmus di Ruang Kenanga Gedung Kemuning Lantai

    I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

  • 5

    B. Ruang Lingkup Pembahasan

    Dalam penyusunan karya Tulis Ilmiah ini, penulis membatasi ruang

    lingkup masalah yang di bahas yaitu Asuhan Keperawatan Anak S Usia Pra

    sekolah (5 Tahun) dengan Marasmus di Ruang Kenanga Gedung Kemuning

    Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung meliputi

    Pengkajian, Diagnosa keperawatan, Rencana tindakan, Implementasi,

    Evaluasi dan Catatan Perkembangan.

    C. Tujuan

    1. Tujuan umum

    Memperoleh gambaran yang jelas dan pengalaman secara nyata dalam

    melakukan asuhan keperawatan pada Anak S Usia Pra sekolah (5 Tahun)

    dengan Marasmus secara komprehensif yang meliputi aspek bio, psiko,

    sosial dan spiritual berdasarkan ilmu & kiat keperawatan.

    2. Tujuan khusus

    a. Mampu melaksanakan pengkajian secara komprehensif meliputi aspek

    bio, psiko, sosial dan spritual yang dimulai dengan pengumpulan data,

    analisa data pada Anak dengan Marasmus.

    b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan berdasarkan prioritas

    masalah pada anak dengan Marasmus.

    c. Mampu menyusun rencana keperawatan berdasarkan permasalahan

    yang muncul sesuai dengan diagnosa keperawatan pada anak dengan

    Marasmus.

  • 6

    d. Mampu melakukan tindakan keperawatan sesuai dengan rencana yang

    telah ditentukan pada anak dengan Marasmus.

    e. Mampu mengevaluasi tindakan keperawatan yang telah dilakukan

    pada anak dengan Marasmus.

    f. Mampu mendokumentasikan hasil asuhan keperawatan pada anak

    dengan Marasmus.

    D. Manfaat

    1. Bagi Rumah Sakit

    Adapun manfaat yang diharapkan kepada pihak rumah sakit bahwa dengan

    adanya Karya Tulis Ilmiah ini dapat digunakan Sebagai bahan masukan

    bagi pihak rumah sakit khususnya perawat dalam penerapanan asuhan

    keperawatan untuk lebih meningkatkan mutu pelayanan asuhan

    keperawatan pada anak dengan Marasmus maupun untuk bahan penelitian

    lebih lanjut.

    2. Bagi Institusi Pendidikan

    Diharapkan menjadi bahan masukan dalam mempelajari asuhan

    keperawatan pada anak dengan Marasmus khususnya dalam pelaksanaan

    perkuliahan dan dalam proses pendidikan.

    3. Bagi Profesi

    Sebagai bahan masukan bagi rekanrekan sejawat dalam melakukan

    penelitian lebih lanjut dengan permasalahan yang sama yaitu asuhan

    keperawatan anak dengan Marasmus.

  • 7

    4. Bagi Penulis

    Sebagai acuan berfikir dalam melaksanakan asuhan keperawatan &

    Menambah wawasan dan keterampilan dalam penerapan proses asuhan

    keperawatan pada anak dengan Marasmus.

    E. Metode Telaahan

    Metode penulisan yang digunakan dalam menyusun karya Tulis

    Ilmiah ini adalah metode analisis deskriptif yang berbentuk studi kasus

    dengan berdasarkan pendekatan proses keperawatan yaitu pengkajian,

    diagnosa keperawatan, perencanaan, implementasi dan evaluasi.

    Adapun Tehnik yang digunakan penulis dalam pengumpulan data

    pada karya tulis ilmiah ini adalah :

    1. Wawancara

    Mengadakan tanya jawab langsung dengan klien dan keluarga klien serta

    tenaga kesehatan lain untuk memperoleh informasi yang akurat yang

    mendukung terhadap adanya masalah pada anak.

    2. Observasi

    Mengamati keadaan klien secara langsung yang meliputi bio, psiko, sosial,

    kultural dan spiritual.

    3. Pemeriksaan Fisik

    Pengumpulan data dengan melakukan pemeriksaan fisik pada klien secara

    head to toe dengan menggunakan teknik inspeksi, palpasi, perkusi, dan

    auskultasi yang diaplikasikan secara persistem sehingga dapat dijadikan

    data objektif yang mendukung terhadap adanya masalah pada anak.

  • 8

    4. Studi Dokumentasi

    Pengumpulan data atau informasi yang diperoleh dari buku status klien

    yang meliputi catatan atau arsip dari medical record yang berhubungan

    dengan perkembangan kesehatan klien pada saat itu untuk dijadikan salah

    satu dasar dalam melaksanakan asuhan keperawatan.

    5. Studi Kepustakaan

    Mengumpulkan informasi dan bahan bahan bacaan dari berbagai buku-

    buku literatur dan internet yang relevan yang dapat dipercaya untuk

    mendapatkan kejelasan teori yang berhubungan dengan masalah klien

    (Nursalam, 2013).

    F. Waktu Pelaksanaan

    Studi kasus ini dilaksanakan pada tanggal 01 sampai dengan 04 Maret

    2016.

    G. Tempat Pelaksanaan

    Studi kasus ini dilaksanakan di Ruang Kenanga Lantai I Rumah Sakit

    Umum Pusat dr. Hasan Sadikin Bandung.

    H. Sistematika Telaahan

    Untuk memahami apa yang ada dalam Karya Tulis ini, maka penulis

    menguraikan dalam beberapa bab dan sub bab dengan susunan sebagai

    berikut :

  • 9

    BAB I : Pendahuluan, bab ini menjelaskan tentang Latar Belakang,

    Ruang Lingkup Pembahasan, Tujuan, Manfaat, Metode

    Telaahan, Waktu Pelaksanaan, Tempat Pelaksanaan, dan

    Sistematika Telaahan.

    BAB II : Tinjauan Teoritis Asuhan Keperawatan Anak dengan

    Marasmus, bab ini menguraikan tentang konsep dasar yang

    meliputi Pengertian, Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan,

    Etiologi, Patofisiologi, Tanda dan Gejala, Klasifikasi,

    Pemeriksaan Penunjang, Penatalaksanaan Medis, Komplikasi,

    Penyimpangan KDM dan Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan

    Keperawatan yang meliputi Pengkajian, Diagnosa Keperawatan,

    Perencanaan, Implementasi dan Evaluasi.

    BAB III : Tinjauan Kasus dan Pembahasan, bab ini berisikan laporan

    kasus yang merupakan laporan Asuhan Keperawatan Pada Anak

    S usia pra sekolah (5 Tahun) dengan Marasmus di Ruang

    Kenanga Lantai I Rumah Sakit Umum Pusat dr. Hasan Sadikin

    Bandung dan Pembahasan berisikan ulasan naratif dari setiap

    tahapan keperawatan secara tinjauan teoritis yang dilakukan serta

    perbandingan antara teori dan kasus nyata terdiri dari pengkajian,

    diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan, evaluasi dan

    catatan perkembangan yang tersusun secara sistematis

    berdasarkan tahapan proses keperawatan.

  • 10

    BAB IV : Kesimpulan dan Rekomendasi, bab ini berisikan Kesimpulan

    dan Rekomendasi dari pelaksanaan asuhan keperawatan dan

    formulasi saran atau rekomendasi yang operasional terhadap

    masalah yang ditemukan.

  • 11

    BAB II

    TINJAUAN TEORITIS ASUHAN KEPERAWATAN ANAK

    DENGAN MARASMUS

    A. Konsep Dasar

    1. Pengertian

    Marasmus adalah suatu bentuk kurang kalori dan protein yang

    berat. Keadaan merupakan hasil akhir dari interaksi antara kekurangan

    makanan dan penyakit infeksi. Selain faktor lingkungan, ada beberapa

    faktor lain pada anak sendiri yang dibawa sejak lahir, diduga berpengaruh

    terhadap terjadinya marasmus (Nurarif & Kusuma, 2015).

    Marasmus atau Gizi buruk adalah keadaan kurang gizi yang

    disebabkan karena kurang asupan energi dan protein juga mikronutrien

    dalam jangka waktu lama dan disebabkan oleh factor langsung dan tidak

    langsung (Depkes, 2003 dikutip dalam Sari, 2013).

    Marasmus atau lebih dikenal dengan malnutrisi energi protein

    adalah suatu keadaan tidak cukupnya masukan protein dan kalori (Hidayat,

    2012).

    Dari beberapa pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa

    marasmus adalah suatu kondisi dimana anak mengalami penurunan berat

    badan yang disebabkan oleh kekurangan kalori dan protein yang

    dibutuhkan oleh tubuh.

  • 12

    2. Anatomi Fisiologi Sistem Pencernaan

    a. Anatomi Sistem Pencernaan

    Gambar 1. Anatomi Sistem PencernaanSumber : (Smeltzer & Bare, 2002).

    Saluran pencernaaan makanan merupakan saluran yang

    menerima makanan dari luar dan mempersiapkannya untuk diserap oleh

    tubuh dengan jalan proses pencernaan (pengunyahan, penelanan dan

    pencampuran) dengan enzim dan zat cair yang terbentang mulai dari

    mulut/oris sampai anus (Syaifuddin, 2006).

    Secara sistematis sistem pencernaan terdiri dari sistem

    pencernaan atas dan sistem pencernaan bawah.

  • 13

    1) Sistem pencernaan bagian atas

    a) Mulut

    Mulut atau oris adalah permulaan saluran pencernaan

    yang terdiri atas dua bagian yaitu :

    (1) Bagian luar yang sempit atau vestibula yaitu ruang

    diantara gusi, gigi, bibir dan pipi.

    (2) Bagian dalam yaitu rongga mulut yang dibatasi sisi-

    sisinya oleh tulang maxilaris, palatum, mandibularis serta

    di sebelah belakang bersambung dengan awal faring

    (Syaifuddin, 2006).

    Selaput lendir mulut ditutupi epitelium yang berlapis-

    lapis, di bawahnya terletak kelenja-kelenjar halus yang

    mengeluarkan lendir. Kemudian selaput ini kaya akan

    pembuluh darah dan juga memuat banyak ujung akhir saraf

    sensoris. Di sebelah luar mulut ditutupi oleh kulit dan di

    sebelah dalam ditutupi oleh selaput lendir (mukosa). Otot

    orbikularis oris menutupi bibir. Levator anguli oris mengangkat

    dan depresor anguli oris menekan ujung mulut (Syaifuddin,

    2006).

    Palatum, terdiri atas 2 bagian yaitu :

    (a) Palatum durun (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-

    tajuk palatum dan sebelah depan tulang maxilaris dan

    lebih ke belakang terdiri dari 2 tulang palatum.

  • 14

    (b) Palatum mole (palatum lunak) terletak di belakang yang

    merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak,

    terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lendir. Setelah

    makanan dicerna dimulut maka makanan tersebut ditelan

    dengan gerakan membentuk makanan menjadi sebuah

    bolus dengan bantuan gigi, lidah dan kelenjar ludah

    melalui belakang mulut masuk ke dalam faring

    (Syaifuddin, 2006).

    b) Faring

    Faring (tekak) Merupakan penghubung antara rongga

    mulut dan kerongkongan (esofagus). Di dalam lengkung faring

    terdapat tonsil (amandel) yaitu kumpulan kelenjar limfe yang

    banyak mengandung limfosit dan merupakan pertahanan

    terhadap infeksi (Syaifuddin, 2006).

    Setelah makanan masuk ke faring maka palatum lunak

    naik untuk menutup nares posterior, glotis menutup oleh

    kontraksi otot-ototnya dan otot konstriktor faring menangkap

    makanan dan mendorongnya masuk ke esophagus, pada saat

    ini pernapasan berhenti, jika tidak maka akan tersedak

    (Syaifuddin, 2006).

    c) Esophagus

    Esophagus merupakan sebuah tabung berotot atau

    saluran yang menghubungkan tekak dengan lambung,

  • 15

    panjangnya 20-25 cm, dimulai dari faring sampai pintu masuk

    kardiak dibawah lambung. Esofagus berdinding empat lapis.

    Lapisan dinding dari dalam ke luar yaitu lapisan selaput lendir

    (mukosa), lapisan submukosa, lapisan otot melingkar sirkuler

    dan lapisan otot memanjang longitudinal. Esofagus terletak

    dibelakang trakea dan didepan tulang punggung, setelah

    melalui toraks menembus diafragma masuk ke dalam abdomen

    menyambung dengan lambung (Syaifuddin, 2006).

    d) Lambung

    Lambung (gaster) merupakan kantong besar yang

    terletak di bawah rusuk terakhir sebelah kiri. Lambung

    menerima makanan dari esophagus melalui erifisium kardia

    dan bekerja sebagai penimbun sementara. Lambung terdiri atas

    tiga bagian, yaitu kardiak (berdekatan dengan hati)

    berhubungan dengan esophagus, fundus (tengah) dan pylorus

    yang memiliki empat lapisan, yaitu Lapisan peritoneal, Lapisan

    berotot, Lapisan submukosa dan Lapisan mukosa.

    Kelenjar dalam lapisan mukosa lambung mengeluarkan

    sekret yaitu getah lambung. Di dalam getah lambung terdapat

    beberapa enzim pencernaan penting yaitu :

    (1) Pepsin berfungsi mengubah protein menjadi pepton

    (2) Renin adalah membekukan susu dan membentuk kasein

    dan karsinogen yang dapat larut

  • 16

    (3) Lipase berfungsi untuk memecahkan lemak (Syaifuddin,

    2006).

    2) Sistem pencernaan bagian bawah

    a) Usus halus

    Usus halus atau intestinum minora adalah bagian dari

    sistem pencernaan makanan yang berpangkal pada pilorus dan

    berakhir pada sekum panjangnya 6 m merupakan saluran

    paling panjang tempat proses pencernaaan dan absorbsi hasil

    pencenaan yang terdiri dari lapisan usus halus (lapisan mukosa

    terletak sebelah dalam, lapisan otot melingkar atau sirkuler,

    lapisan otot memanjang atau longitudinal dan lapisan serosa

    terletak sebelah luar).

    Usus halus terdiri dari :

    (1) Duodenum atau usus 12 jari

    Bagian usus dua belas jari merupakan bagian

    terpendek dari usus halus, dimulai dari bulbo duodenale

    dan berakhir di ligamentum Treitz. Duodenum panjangnya

    sekitar 25-30 cm, berbentuk sepatu kuda melengkung ke

    kiri. Pada duodenum terdapat dua muara saluran yaitu dari

    pankreas dan kantung empedu. Di duodenum juga terdapat

    getah pankreas yang terdiri dari 3 jenis enzim yaitu :

    (a) Amilase berfungsi mencerna hidrat arang menjadi

    disakarida.

  • 17

    (b) Lipase berfungsi memecah lemak menjadi gliserin

    dan asam lemak.

    (c) Tripsin mengubah protein dan pepton menjadi

    golongan polipeptida (Syaifuddin, 2006).

    (2) Yeyenum

    Panjangnya sekitar 7 meter, dalam Yeyenum berupa

    membran mukus dan terdapat jonjot usus (vili), yang

    memperluas permukaan dari usus. Di dalam yeyenum,

    makanan masih mengalami pencernaan secara kimiawi

    oleh enzim-enzim yang dihasilkan oleh dinding usus,

    sehingga menjadi bubur yang sangat lembut dan encer

    (Syaifuddin, 2006).

    (3) Ileum

    Panjang sekitar 2-4 meter dan terletak setelah

    duodenum dan yeyenum, dan dilanjutkan oleh usus buntu.

    Dinding usus halus menghasilkan getah usus yang

    mengandung beberapa enzim, yaitu :

    (a) Enterokinase berfungsi untuk mengubah enzim

    tripsinogen yang dihasilkan pancreas menjadi tripsin.

    (b) Erepsin berfungsi untuk menyempurnakan pencernaan

    protein dengan mengubah polipeptida menjadi

    berbagai asam amino.

    (c) Intertase berfungsi untuk bekerja atas gula

  • 18

    (d) Lactase berfungsi untuk membelah lactose menjadi

    glukosa dan galaktosa diubah menjadi glukosa dalam

    hati.

    (e) Maltose berfungsi untuk mengubah maltose menjadi

    dekstrose.

    (f) Sukrosa berfungsi untuk mengubah sukrosa menjadi

    monosakarida (Syaifuddin, 2006).

    b) Usus besar

    Usus besar atau intestinum mayor panjangnya 1 1/2

    meter, lebarnya 5-6 cm dan merupakan sambungan dari usus

    halus mulai dari katub ilekolik atau ileoseikal yaitu tempat

    makanan lewat. Reflex gastrokolik terjadi ketika makanan

    masuk lambung dan menimbulkan peristaltik di dalam usus

    besar. Reflex ini menyebabkan defekasi atau buang air besar

    (Syaifuddin, 2006).

    Kolon sebagai kantong yang mekar dan terdapat

    apendiks vernivormis atau umbai cacing. Sekum terletak di

    daerah iliaka kanan dan menempel pada otot iliopsoas. Dari

    sini kolon naik melalui daerah kanan lumbal yang disebut

    asendens. Di bawah hati, berbelok pada tempat yang disebut

    flexura hepatica, lalu berjalan melalui tepi daerah epigastrium

    dan umbilical sebagai kolon tranversum di bawah limfe ia

    membelok sebagai flexura sienalis dan berjalan melalui daerah

  • 19

    kanan lumbal sebagai kolon desendens. Di daerah kanan iliaka

    terdapat belokan yang disebut flexura sigmoid dan dibentuk

    kolon sigmoid atau kolon pelvis dan kemudian masuk ke

    pelvis besar menjadi rectum (Syaifuddin, 2006).

    Struktur kolon terdiri atas empat lapisan dinding yang

    sama seperti usus halus. Serabut longitudinal pada dinding

    berotot tersusun dalam 3 jalur yang memberi rupa berkerut-

    kerut dan berlubang-lubang. Dinding mukosa lebih halus dan

    tidak memiliki vili, dalamnya terdapat kelenjar serupa kelenjar

    tubular dalam usus dan dilapisi oleh epithelium silinder yang

    memuat sel cangkir (Syaifuddin, 2006).

    Struktur rektum serupa yang ada pada kolon tepi

    dinding yang berotot tebal dan membran mukosanya memuat

    lipatan-lipatan membujur yang disebut kolumna morgagni.

    Semua ini menyambung ke dalam saluran anus. Di dalam anus

    ini terdapat otot interna. Sel-sel yang melapisi saluran anus

    berubah sifatnya. Lapisan usus besar dari dalam keluar yaitu:

    Selaput lendir, lapisan otot melingkar, lapisan otot memanjang

    dan Jaringan ikat (Syaifuddin, 2006).

    Fungsi usus besar yaitu :

    (1) Absorbsi air, garam dan lemak

    (2) Sebagai populasi bakteri

    (3) Defekasi (Syaifuddin, 2006).

  • 20

    c) Hati

    Hati atau hepar merupakan organ yang paling besar di

    dalam tubuh kita. Warnanya coklat dan beratnya kira-kira 1

    kg. letaknya pada bagian atas dalam rongga abdomen sebelah

    kanan bawah diafragma. Hati terbagi atas dua lapisan utama

    permukaan yaitu

    (1) Permukaan atas berbentuk cembung terletak di bawah

    diafragma

    (2) Permukaan bawah tidak rata dan memperlihatkan fisura

    tranfersus.

    Fisura longitudinal memisahkan belahan kanan dan kiri

    dibagian atas hati. Hati dibagi empat belahan yaitu lobus kanan,

    lobus kiri, lobus kuadrata dan lobus quadratus. Hati

    mempunyai dua jenis peredaran darah yaitu arteri hepatica dan

    vena porta. Setiap lobulus terdiri dari jajaran sel hati

    (hematosit) yang berfungsi menyerap nutrient, oksigen dan

    racun dari darah (Syaifuddin, 2006).

    Fungsi hati antara lain :

    (1) Metabolisme karbohidrat

    (a) Gikolisis : pembentukan glukosa menjadi glikogen

    (b) Glikogenolisis : pembentukan glikogen menjadi

    glukosa

  • 21

    (c) Glukoneogenesis : pembentukan glukosa bukan dari

    karbohidrat, tetapi dari protein dan lemak.

    (2) Metabolisme protein

    Beberapa asam amino diubah menjadi glukosa. Asam

    amino yang tidak dibutuhkan menjadi urea yang

    dikeluarkan dari sel hati kedalam darah dan disekresikan

    oleh ginjal dalam bentuk urine.

    (3) Metabolisme lemak

    Lemak diubah menjadi asam lemak dan giserol selain itu

    asam lemak dibawah menuju hati dalam darah porta dari

    usus dan diubah menjadi jenis partikel-partikel kecil yang

    dapat digunakan dalam proses metabolik (Syaifuddin,

    2006).

    Selain fungsi hati sebagai regulator hampir semua

    metabolisme yang terjadi di dalam tubuh seperti metabolisme

    karbohidrat, protein dan lemak, hati juga berfungsi sebagai

    tempat sintesa (pengeluaran) dari berbagai bagian protein,

    pembekuan darah, urea dan zat-zat lain yang sangat vital bagi

    tubuh. Yang paling penting dari organ ini adalah biang detoks

    atau penyaring dan pengeluaran racun yang masuk ke dalam

    tubuh. Selain fungsi tersebut, hati juga mengeluarkan beberapa

    enzim, dua diantaranya adalah SGOT dan SGPT ke dalam

    darah. Ketika sel hati mengalami kerusakan akibat sesuatu baik

  • 22

    virus atau gangguan lain, maka akan terjadi pengeluaran enzim

    SGPT dari dalam sel hati ke darah sehingga terjadi

    peningkatan (Syaifuddin, 2006).

    d) Kandung empedu

    Kandung empedu adalah sebuah kantong organ

    berbentuk terong dan merupakan membran berotot, letaknya

    dalam sebuah lobus di sebelah permukaan bawah hati sampai

    pinggir depannya, panjangnya 8-12 cm, berkapasitas 60 cm3.

    Lapisan empedu terdiri dari lapisan luar serosa/parietal, lapisan

    otot bergaris, lapisan dalam mukosa/viseral disebut juga

    membran mukosa. Organ ini terhubungkan dengan hati dan

    usus dua belas jari melalui saluran empedu.

    Empedu memiliki 2 fungsi penting yaitu :

    (1) Membantu pencernaan dan penyerapan lemak.

    (2) Berperan dalam pembuangan limbah dari tubuh, terutama

    haemoglobin (Hb) yang berasal dari penghancuran sel

    darah merah dan kelebihan kolesterol (Syaifuddin, 2006).

    (3) Pankreas

    Pankreas merupakan sekumpulan kelenjar yang

    strukturnya sangat mirip dengan kelenjar ludah, panjangnya

    kira-kira 15 cm, lebar 5 cm mulai dari duodenum sampai ke

    limpa, dan beratnya rata- rata 60-90 gram. Pankreas terbentang

    pada vertebra lumbalis 1 dan 2 di belakang lambung.

  • 23

    Fungsi pankreas yaitu :

    (1) Fungsi eksokrin, membentuk getah pankreas yang berisi

    enzim dan elektrolit.

    (2) Fungsi endokrin, sekelompok kecil sel epitelium yang

    berbentuk pulau langerhans, yang bersama-sama

    membentuk organ endokrin yang menyekresikan insulin.

    (3) Fungsi sekresi ekternal, cairan pankreas dialirkan ke

    duodenum yang berguna untuk proses pencernaan

    makanan di intestinum.

    (4) Fungsi sekresi internal, sekresi yang di hasilkan oleh

    pulau-pulau langerhands sendiri langsung dialirkan ke

    dalam peredaran darah (Syaifuddin, 2006).

    b. Fisiologi Sistem Pencernaan

    Untuk melakukan fungsinya, semua sel memerlukan nutrien.

    Nutrien ini harus diturunkan dari masukan makanan yang terdiri dari

    protein, lemak, karbohidrat, vitamin dan mineral serta serat selulosa.

    1) Pencernaan oral

    Proses pencernaan mulai dengan aktivitas mengunyah,

    dimana makanan dipecah ke dalam partikel kecil yang dapat ditelan

    dan dicampur dengan enzim-enzim pencernaan. Makan atau bahkan

    melihat, mencium dan mencicipi makanan dapat menyebabkan

    reflex saliva. Saliva adalah sekresi pertama yang kontak dengan

    makanan. Saliva disekresi dalam mulut melalui kelenjar saliva pada

  • 24

    kecepatan kira-kira 1,5 liter setiap hari. Saliva mengandung enzim

    ptyalin atau amilase saliva yang dimulai pencernaan zat pati, juga

    mengandung mukus yang membantu melumasi makanan saat

    dikunyah, sehingga memudahkan menelan (Smeltzer & Bare, 2002).

    2) Menelan

    Menelan dimulai sebagai aktivitas volunter yang diatur oleh

    pusat menelan dimedula oblongata dari sistem saraf pusat. Saat

    makanan ditelan, epiglotis bergerak menutup lubang trakea dan

    mencegah aspirasi makanan ke dalam paru-paru. Menelan

    mengakibatkan bolus makanan berjalan ke dalam esophagus atas,

    yang berakhir sebagai aktivitas refleks. Otot halus di dinding

    esophagus berkontraksi dalam urutan irama dari esophagus ke arah

    lambung untuk mendorong lobus makanan masuk lambung.

    Akhirnya sfingter esophagus menutup dengan rapat untuk mencegah

    reflex isi lambung ke dalam esofagus (Smeltzer & Bare, 2002).

    3) Kerja lambung

    Lambung mensekresi cairan yang sangat asam, mempunyai

    PH rendah, memperoleh keasamannya dari asam hiklorida yang

    disekresikan oleh kelenjar lambung. Fungsi kelenjar asam yaitu :

    a) Untuk memecah makanan menjadi komponen yang lebih mudah

    diabsrobsi.

    b) Untuk membantu distruksi kebanyakan bakteri pencernaan

  • 25

    Sekresi lambung juga mengandung enzim pepsin yang

    penting untuk memulai pencernaan protein. Faktor intrinsik disekresi

    oleh mukosa lambung, senyawa ini berkombinasi dengan Vitamin

    B12 dalam diet, sehingga Vitamin dapat diabsorbsi di dalam ileum.

    Kontraksi peristaltik di dalam lambung mendorong isi

    lambung kearah pylorus Karena partikel makanan besar tidak dapat

    melewati spingter pilorus, partikel ini di aduk kembali ke korpus

    lambung untuk dihancurkan menjadi partikel yang lebih kecil.

    Peristaltik dalam lambung dan kontraksi spingter pilorus

    memungkinkan makanan dicerna sebagian untuk masuk ke usus

    halus pada kecepatan yang memungkinkan absorpsi nutrien efisisen

    (Smeltzer & Bare, 2002).

    4) Kerja usus halus

    Ada dua tipe kontraksi yang terjadi secara teratur di usus

    halus. Kontraksi segmentasi yang menghasilkan campuran

    gelombang yang menggerakkan isi usus ke belakang dan ke depan

    dalam gerakan mengaduk. Peristaltik usus mendorong isi usus

    tersebut kearah kolon (Smeltzer & Bare, 2002).

    5) Kerja usus besar (Kolon)

    Dalam 4 jam setelah makan, materi sisa residu melewati

    ileum terminalis dan dengan perlahan melewati bagian proksimal

    kolon melalui katub ileosekal. Katup ini secara normal tertutup,

    membantu mencegah isi kolon mengalir kembali ke usus halus.

  • 26

    Aktivitas peristaltik yang lemah menggerakkan isi kolon dengan

    perlahan sepanjang saluran. Transport lambat ini memungkinkan

    reabsorbsi efisiensi terhadap air dan elektrolit. Materi sisa dari

    makanan akhirnya mencapai dan mengembangkan anus, biasanya

    kira-kira 12 jam (Smeltzer & Bare, 2002).

    6) Defekasi

    Sebagian besar rektum tidak berisi feses, hal ini karena

    adanya spingter yang lemah 20 cm dari anus pada perbatasan

    antara kolon sigmoid dan rektum serta sudut tajam yang menambah

    resistensi pengisian rektum. Bila terjadi pergerakan massa ke

    rektum, kontraksi rektum dan relaksasi sfingter anus akan timbul

    keinginan defekasi (Smeltzer & Bare, 2002).

    3. Etiologi

    Marasmus atau gizi buruk dapat disebabkan oleh beberapa faktor,

    antara lain :

    a. Pemasukan kalori yang tidak mencukupi, sebagai akibat kekurangan

    dalam asupan makanan.

    b. Kebiasaan-kebiasaan makanan yang tidak layak, seperti terdapat pada

    hubungan orang tua anak yang terganggu misalnya pemberian yang

    tidak efektif atau malformasi bawaan.

    c. Gangguan setiap sistem tubuh yang parah dapat mengakibatkan

    terjadinya malnutrisi.

  • 27

    d. Disebabkan oleh pengaruh negatif faktor-faktor sosial ekonomi,

    pendidikan dan pengetahuan ibu yang berperan terhadap kejadian

    malnutrisi. umumnya, keseimbangan nitrogen yang negatif dapat pula

    disebabkan oleh diare kronik malabsorbsi protein, hilangnya protein

    air kemih (sindrom nefrotik), infeksi menahun dan penyakit hati

    (Nurarif & Kusuma, 2015).

    4. Patofisiologi

    Kekurangan energi protein dan kalori (KEP) adalah manifestasi

    dari kurangnya asupan protein dan energi, dalam makanan sehari-hari

    yang tidak memenuhi angka kecukupan gizi (AKG), dan biasanya juga

    disertai adanya kekurangan dari beberapa nutrisi lainnya. Disebut

    malnutrisi primer bila kejadian KEP akibat kekurangan asupan nutrisi,

    yang pada umumnya didasari oleh masalah sosial ekonomi, pendidikan

    serta rendahnya pengetahuan dibidang gizi. Malnutrisi sekunder bila

    kondisi masalah nutrisi seperti diatas disebabkan karena adanya penyakit

    utama, seperti kelainan bawaan, infeksi kronis ataupun kelainan

    pencernaan dan metabolik, yang mengakibatkan kebutuhan nutrisi

    meningkat, penyerapan nutrisi yang turun dan meningkatnya kehilangan

    nutrisi. Makanan yang tidak adekuat, akan menyebabkan mobilisasi

    berbagai cadangan makanan untuk menghasilkan kalori demi

    penyelamatan hidup, dimulai dengan pembakaran cadangan karbohidrat

    kemudian cadangan lemak serta protein dengan melalui proses katabolik.

    Jika terjadi stres katabolik (infeksi) maka kebutuhan akan protein akan

  • 28

    meningkat, sehingga dapat menyebabkan defisiensi protein yang relatif.

    Dengan demikian, pada Kekurangan energi protein dan kalori dapat terjadi

    gangguan pertumbuhan, atrofi otot, penurunan kadar albumin serum,

    penurunan hemoglobin, penurunan sistem kekebalan tubuh (Hidayat,

    2012).

    5. Tanda dan Gejala

    Manifestasi klinik dari marasmus adalah sebagai berikut :

    a. Anak cengeng, rewel dan tidak bergairah

    b. Diare kronis atau persisten

    c. Mata besar dan dalam dan Ubun-ubun cekung

    d. Akral dingin dan tampak sianosis

    e. Wajah seperti orang tua

    f. Rambut tipis, jarang dan kusam

    g. Pertumbuhan dan perkembangan terganggu

    h. Terjadi pantat begi karena terjadi atrofi otot

    i. Jaringan lemak dibawah kulit akan menghilang, kulit keriput, dan

    turgor kulit jelek.

    j. Perut membuncit atau cekung dengan gambaran usus yang jelas

    k. Nadi lambat dan metabolisme basal menurun

    l. Vena superfisialis tampak lebih jelas

    m. Tulang pipi dan dagu kelihatan menonjol

    n. Anoreksia (Nurarif & Kusuma, 2015).

  • 29

    6. Klasifikasi

    Klasifikasi gizi buruk atau KEP adalah sebagai berikut :

    a. Marasmus

    Marasmus merupakan salah satu bentuk gizi buruk yang paling sering

    ditemukan pada balita. Hal ini merupakan hasil akhir dari tingkat

    keparahan gizi buruk. Pada marasmus awalnya pertumbuhan yang

    kurang dan atrofi otot serta menghilangnya lemak di bawah kulit tanpa

    adanya edema.

    b. Kwashiorkor

    Kwashiorkor adalah salah satu bentuk malnutrisi protein yang berat

    disebabkan oleh asupan karbohidrat yang normal atau tinggi namun

    asupan protein yang inadekuat yang ditandai dengan adanya edema

    diseluruh tubuh terutama kaki, tangan atau anggota badan lain.

    c. Marasmik Kwashiorkor

    Tipe marasmik kwashiorkor merupakan gabungan beberapa gejala

    klinik kwashiorkor dan marasmus yang disertai dengan edema yang

    tidak mencolok (Liansyah, 2015).

    Seorang anak balita dikatakan Kekurangan Energi Protein (KEP)

    apabila tingkat konsumsi energi dan protein < 80 % AKG.

  • 30

    Kecukupan energi protein untuk anak balita perorang perhari

    menurut kelompok umur dapat dilihat pada tabel 2. di bawah ini :

    Tabel 2. Kecukupan Energi dan Protein yang dianjurkanUmur Energi (Kkal) Protein (gr)0 - 6 bulan 550 10

    7 12 bulan 650 161 3 tahun 1000 254 6 tahun 1550 39

    Sumber : (Depkes 2005, dikutip dalam Sari, 2013)

    7. Pemeriksaan Penunjang

    a. Pemeriksaan fisik

    b. Mengukur TB dan BB

    c. Menghitung indeks masa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi

    dengan tinggi badan (dalam meter)

    d. Mengukur ketebalan lipatan kulit kelengan atas sebelah belakang

    (lipatan trisep) ditarik menjauhi, sehingga lapisan lemak dibawah

    kulitnya dapat diukur, biasanya dengan menggunakan jangka lengkung

    (kapiler) lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50% dari lemak tubuh.

    Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-laki dan sekitar 2,5 cm

    pada wanita (Nurarif & Kusuma, 2015).

    e. Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk

    memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa,

    massa tubuh yang tidak berlemak).

    f. Pemeriksaan laboratorium : albumin, kreatinin, elektrolit, Hb dan Ht.

  • 31

    8. Penatalaksanaan Medis

    Penatalaksanaan marasmus mengikuti 10 langkah utama

    penatalaksanaan gizi buruk yaitu sebagai berikut :

    a. Pengobatan atau pencegahan hipoglikemia

    Pada hipoglikemia, anak terlihat lemah, suhu tubuh rendah. Jika anak

    sadar dan dapat menerima makanan usahakan memberikan makanan

    sering atau cair 2-3 jam sekali. Jika anak tidak dapat makan (tetapi

    masih dapat minum) berikan air gula dengan sendok.

    b. Pengobatan dan pencegahan hipotermia

    Hiportemia ditandai dengan suhu tubuh yang rendah < 36 0 c Pada

    keadaan ini harus di hangatkan dengan cara ibu atau orang dewasa lain

    mendekap anak di dadanya lalu di tutupi selimut atau dengan

    membungkus anak dengan slimut tebal dan meletakan lampu di

    dekatnya. Selama masa penghangatan di lakukan pengukuran suhu anak

    pada dubur setiap 30 menit sekali. Jika suhu anak sudah normal dan

    stabil tetap di bungkus dengan selimut atau pakaian rangkap agar tidak

    jatuh kembali pada kaadaan hipotermia.

    c. Pengobatan dan pencegahan kekurangan cairan

    Tanda klinis yang sering di jumpai pada anak KEP berat dengan

    dehidrasi ada riwayat, anak sangat kehausan, mata cekung, tangan dan

    kaki teraba dingin, anak tidak buang air kecil dalam waktu cukup lama.

    Tindakan yang dapat dilakukan :

  • 32

    (1) Jika anak masih menyusui, teruskan ASI dan berikan setiap jam

    sekali tanpa berhenti. Jika anak masih dapat minum, lakukan

    tindakan rehidrasi oral dengan memberi minum anak 50 ml (3

    sendok makan ) setiap 30 menit dengan sendok makan.

    (2) Jika tidak ada personal untuk anak dengan KEP berat dapat

    menggunakan oralit yang diencerkan 2 kali. Jika anak tidak dapat

    minum, lakukan rehidrasi intravena (infus) RL/Glukosa 5 % dan

    Nacl perbandingan 1 : 1

    d. Lakukan pemulihan gangguan keseimbangan elektrolit pada semua

    KEP berat atau gizi buruk terjadi gangguan keseimbangan elektolit di

    antaranya :

    (1) Kelebihan natrium (Na) tubuh walaupun kadar Na plasma rendah.

    (2) Defisiensi kalium dan Magnesium (Mg).

    Ketidakmampuan elektrolit ini memicu terjadinya edema dan

    untuk pemulihan keseimbangan elektrolit di perlukan waktu

    minimal 2 minggu. Berikan makanan tanpa diberi garam atau

    rendah garam, untuk rehidrasi, berikan cairan oralit 1 liter yang di

    encerkan 2 x ( dengan Pe+an 1 liter air) ditambah 4 gr kecil dan

    50 gr gula atau bila balita KEP bisa makan berikan bahan

    makanan yang banyak mengandung mineral bentuk makanan

    lumat.

  • 33

    e. Lakukan pengobatan dan pencegahan infeksi.

    Pada KEP berat, tanda yang umumnya menunjukan adanya infeksi

    seperti demam seringkali tidak tampak. Pada semua KEP berat secara

    rutin di berikan antibiotik spektrum luas.

    f. Pemberian makanan, balita KEP berat

    Pemberian diet KEP berat dibagi 3 Fase :

    (1) Fase Stabilisasi ( 1-2 hari)

    Pada fase stabilisasi perlu pendekatan yang sangat hati- hati

    karena keadaan faal anak yang sangat lemah dan kapasitas

    homeostatis berkurang, pemberian makanan harus dimulai segera

    setelah anak di rawat sehingga energi protein cukup untuk

    memenuhi metabolisme basal saja, formula khusus seperti

    formula WHO. 75/ modifikasi/ modisko yang dilanjutkan dan

    jadwal pemberian makanan harus di susun agar dapat mencapai

    prinsip tersebut dengan persaratan sebagai berikut : porsi kecil,

    sering, rendah serat dan rendah laktosa, energi 100 kkl/ kilogram

    perhari, protein 1-1,5 gram/ kilogram bb/ hari, cairan 130

    ml/kg/bb/hari (jika ada edema berat 100 ml/kg/bb/ hari), bila anak

    mendapat ASI teruskan, dianjurkan memberi formula.

    (2) Fase transisi (minggu II)

    (a) Pemberian makanan pada fase transisi di berikan secara

    perlahan untuk menghindari resiko gagal jantung yang dapat

  • 34

    terjadi bila anak mengkonsumsi makanan dalam jumlah

    banyak secara mendadak.

    (b) Ganti formula khusus awal (energi 75 kal dan protein 0,9

    1,0 gr/ 100). Dengan formula khusus lanjutan (energi 100

    kkal dan protein 2,9 gr/100 ml) dalam jangka waktu 24 jam.

    Modifikasi bubur/ makanan keluarga dapat digunakan asal

    kandungan energi dan protein sama.

    (c) Naikan dengan 10 ml setiap kali sampai hanya sedikit

    formula tersisa, biasanya hanya tercapai jumlah 30 ml/ kg

    bb/kali pemberian (200 ml/ kg bb/hari).

    (3) Fase rehabilitasi (minggu III-VII)

    (a) Formula WHO F 135/ Pengganti/ modisko dengan

    jumlah tidak terbatas dan sering.

    (b) Energi : 150-220 kkal/kg bb/hari.

    (c) Protein : 4-6 kg/ kkal/kg bb/ hari.

    (d) Bila anak masih mendapat ASI, teruskan ASI, ditambah

    dengan makanan formula karena energi dan protein ASI tidak

    akan mencukupi untuk tumbuh kejar.

    (e) Secara perlahan di perkenalkan makanan keluarga.

    g. Lakukan penanggulangan kekurangan zat gizi mikro dengan berikan

    setiap hari :

    (1) Tambahan multivitamin lain

  • 35

    (2) Bila BB mulai naik berikan zat besi dalam bentuk tablet besi

    folat/ sirup besi.

    (3) Bila anak diduga menderita cacingan berikan pirantel pamoat

    dosisi tunggal.

    (4) Vitamin A oral 1 kali.

    (5) Dosis tambahan disesuaikan dengan buku pedoman pemberian

    kapsul vitamin A.

    h. Berikan stimulasi dan dukungan emosional

    i. Persiapan untuk tidak lanjut

    Bila BB anak sudah berada digaris warna kuning anak dapat dirawat

    dirumah dan dipantau oleh tenaga kesehatan, puskesmas/ bidan di desa

    (Nurarif & Kusuma, 2015).

    9. Komplikasi

    a. Infeksi tuberculosis

    b. Malnutrisi kronik

    c. Gangguan tumbuh kembang.

    d. Hipoglikemia

    e. Hipotermia

    f. Dehidrasi

    g. Gangguan keseimbangan elektrolit (Liansyah, 2015).

  • 36

    11. Penyimpangan KDM

    Malabsorbsi, infeksi dan kegagalan melakukan sintesis protein

    Intake kurang dari kebutuhan

    Defisiensi kalori dan protein Perubahan status kesehatan

    Fungsi saluran cerna terganggu kurang pengetahuantentang gizi seimbang

    HiperperistaltikDefisiensi pengetahuan

    Daya tahan tubuh Hilangnya lemak Penyerapan makananmenurun dibantalan kulit di usus menurun Malnutrisi

    Keadaan umum lemah Turgor kulit menurun Diare Asam amino esensialdan keriput menurun dan produksi

    Portal of entry Distensi abdomen albumin menurunKerusakan integritas

    Resiko infeksi kulit Peningkatan asam lambung Atropi/pengecilan otot

    Anoreksia Keterlambatan pertumbuhandan perkembangan

    Ketidakseimbangan nutrisiKurang dari kebutuhan

    tubuh

    Bagan 1. Penyimpangan KDM(Sumber : Nurarif & Kusuma, 2015)

  • 37

    B. Tinjauan Teoritis Tentang Asuhan Keperawatan

    Proses keperawatan adalah metode untuk menerapkan suatu konsep dalam

    praktik keperawatan. Hal ini disebut suatu pendekatan problem solving yang

    memerlukan ilmu. Teknik dan keterampilan interpersonal dan ditujukan untuk

    memenuhi kebutuhan klien dan keluarga (Nursalam, 2013).

    Proses keperawatan terdiri atas lima tahap yang berurutan dan saling

    berhubungan yaitu pengkajian, diagnosa keperawatan, perencanaan, pelaksanaan

    (implementasi), evaluasi dan catatan perkembangan (Nursalam, 2013).

    1. Pengkajian

    Pengkajian adalah tahap awal dari proses keperawatan dan merupakan suatu

    proses pengumpulan data yang sistematis dari berbagai sumber untuk

    mengevaluasi dan mengidentifikasi status kesehatan klien (Nursalam, 2013).

    Adapun tahap-tahap pengkajian adalah sebagai berikut :

    a. Pengumpulan Data

    Tipe data pada pengkajian keperawatan dapat dibedakan menjadi dua

    yaitu data subjektif dan data objektif. Data subjektif adalah data yang

    didapatkan dari klien sebagai suatu pendapat terhadap suatu situasi dan

    kejadian. Data subjektif ini diperoleh dari riwayat keperawatan termasuk

    persepsi klien, perasaan dan ide tentang status kesehatannya sedangkan

    data objektif adalah data yang dapat diobservasi dan diukur oleh perawat.

    Yang termasuk data objektif adalah frekuensi pernapasan, tekanan darah,

    adanya edema dan berat badan (Nursalam, 2013).

  • 38

    Adapun data yang dapat dikumpulkan yaitu :

    1) Biodata

    a) Identitas Klien

    Meliputi nama, umur, jenis kelamin, agama, pendidikan, pekerjaan,

    suku/bangsa, tanggal masuk Rumah Sakit dan tanggal pengkajian,

    nomor medrek, diagnosa medik dan alamat (Wong, 2004).

    b) Identitas Penanggung Jawab

    Meliputi nama, umur, agama, jenis kelamin, pendidikan, pekerjaan,

    hubungan dengan klien dan alamat (Wong, 2004).

    2) Riwayat Kesehatan

    a) Riwayat Kesehatan Sekarang

    (1) Riwayat Sebelum Masuk Rumah Sakit

    Pengumpulan data yang dilakukan untuk mendapatkan alasan

    utama individu mencari bantuan profesional kesehatan (Wong,

    2004).

    (2) Keluhan Utama

    Merupakan keluhan yang paling menonjol yang dirasakan oleh

    klien dan merupakan alasan pokok klien masuk rumah sakit

    (keluhan utama saat MRS) atau keluhan utama saat dilakukan

    pengkajian oleh beberapa waktu atau hari setelah klien MRS.

    Pada umumnya anak dengan marasmus keluhan yang paling

    dirasakan oleh klien adalah gangguan pertumbuhan (berat

  • 39

    badan semakin lama semakin turun), bengkak pada tungkai,

    sering diare dan keluhan lain yang menunjukan terjadinya

    kekurangan gizi (Wong, 2004).

    (3) Riwayat Keluhan Utama

    Keluhan utama klien dijadikan dasar untuk menggali kondisi

    klien saat ini dengan menggunakan format PQRST, sebagai

    petunjuk untuk mempermudah mengingat langkah-langkah

    pengumpulan data.

    (a) Paliative/Provokatif (P) : Apa penyebab keluhan tersebut,

    Faktor apa saja yang memperberat atau mengurangi

    keluhan. Biasanya penyebab diare pada anak dengan

    marasmus adalah kekurangan energi protein.

    (b) Quality/Quantity (Q) : Bagaimana keluhan tersebut

    dirasakan, apakah terlihat, terdengar. Seberapa sering

    keluhan itu dirasakan. Keluhan biasanya dirasakan terus

    menerus.

    (c) Region/Radiasi (R) : Lokasi keluhan tersebut dirasakan,

    apakah penyebarannya juga ke area lain. Biasanya pada

    anak dengan marasmus ini dirasakan bagian abdomen.

    (d) Severity/scale (S) : Severity of scale, Intensitas keluhan

    yang dirasakan, apakah sampai mengganggu atau tidak.

    Pada klien dengan marasmus tidak mempunyai skala.

  • 40

    (e) Timming (T) : Kapan keluhan tersebut mulai muncul/

    dirasakan, seberapa sering keluhan tersebut muncul?

    apakah munculnya secara tiba-tiba atau bertahap. Biasanya

    keluhan dirasakan bertambah pada saat klien bergerak atau

    beraktivitas dan berkurang saat klien istrahat/tidur

    (Asmadi, 2008).

    b) Riwayat Kesehatan Dahulu

    (1) Riwayat Antenatal Care (ANC)

    Yang perlu diketahui yaitu Kesehatan ibu selama hamil, berapa

    kali dalam melakukan pemeriksaan kehamilan, tempat

    pemeriksaan, keluhan selama hamil, imunisasi TT berapa kali,

    nutrisi selama ibu hamil, lamanya hamil dan kebiasaan atau

    perilaku ibu sewaktu hamil yang merugikan bagi

    perkembangan dan pertumbuhan janin seperti : kebiasaan

    merokok dan mengkonsumsi obat - obatan secara sembarang

    (Wong, 2004).

    (2) Riwayat Intranatal Care (INC)

    Yang perlu diketahui yaitu tempat persalinan, penolong

    persalinan, jenis dan lamanya partus, jenis pertolongan

    persalinan, berat badan lahir, dan komplikasi waktu lahir

    (Wong, 2004).

  • 41

    (3) Riwayat Post Natal Care (PNC)

    Yang perlu diketahui yaitu keadaan bayi lahir awal, berat badan

    dan panjang badan, penilaian APGAR Skor (warna, sianosis,

    pucat, ikhterik), demam, kesulitan menghisap, kesulitan

    pemberian makan atau ASI (Wong, 2004).

    c) Riwayat Kesehatan Keluarga

    Yang perlu dikaji adalah silsilah keluarga, pendidikan dan

    pekerjaan keluarga, penyakit keluarga, riwayat penyakit keturunan

    atau penyakit menular lainnya dalam keluarga dengan

    menggunakan genogram keluarga tiga generasi (Wong, 2004).

    d) Riwayat Imunisasi

    Yang perlu diperhatikan bahwa pemberian imunisasi

    dimulai sejak lahir hingga umur 1 (satu) tahun seperti BCG

    diberikan 1 kali pada saat usia lahir bayi 0-11 bulan, DPT diberikan

    sebanyak 3 kali pada saat usia bayi 2-11 bulan, hepatitis B

    diberikan 3 kali pada usia 0-11 bulan, polio diberikan sebanyak 4

    kali pada saat usia bayi 0-11 bulan dan campak diberikan 1 kali saat

    usia anak 9-11 bulan (Depkes, 2000 dikutip dalam Hidayat, 2012).

    e) Riwayat Tumbuh Kembang

    (1) Pertumbuhan Fisik Anak

    Hal yang perlu diketahui yaitu berat badan selama sakit (berat

    badan selama sakit biasanya menurun disebabkan oleh

  • 42

    kekurangan energi protein, panjang badan, jumlah gigi, lingkar

    kepala, lingkar lengan atas dan lingkar dada. Biasanya pada

    anak dengan marasmus terjadi gangguan pertumbuhan dan

    perkembangan (Wong, 2004).

    (2) Perkembangan Anak

    Tabel 3. Perkembangan Anak Usia 0-60 BulanNo Umur

    (Bulan)Motorik Kasar Motorik Halus

    1. I Dapat memutar kepala darisatu sisi kesisi lain bilatelungkup.

    Refleks menggenggam kuat

    2. 2 Bila telungkup, dapatmengangkat kepala hampir 45derajat dari meja.

    Tangan sering terbuka danreleks menggenggammenghilang.

    3. 3 Mampu mengangkat kepaladan bahu dari posisi telungkupsampai 45-90 derajat darimeja.

    Menggenggam tangansendiri dan menarik selimutatau pakaian.

    4. 4 Mampu duduk tegak biladisangga dan berguling daritelungkup kesisi lain.

    Menggenggam objek dengankedua tangan dan dapatmemasukkan objek ke mulut

    5. 5 Dapat membalik dari posisitelungkup ke telentang danbila telentang, menempatkankaki ke mulut.

    Mampu menggenggamobjek secara volunter danmemainkan jari-jari kaki.

    6. 6 Berguling dari telungkup ketelentang

    Memegang botol danmenggenggam kaki lalumenarik ke mulut.

    7. 7 Bila digendong dalam posisiberdiri, meloncat secara aktif.

    Memindahkan objek darisatu tangan ke tangan lain.

    8. 8 Duduk dengan mantap tanpasokongan

    Mulai menggenggam denganmenggunakan jari telunjuk.

    9. 9 Menarik badan ke posisiberdiri dan berdiriberpegangan pada perabot

    Menggunakan ibu jari danjari telunjuk dalammenggenggam kasar.

    10. 10 Saat berdiri, mengangkat salahsatu kaki untuk melangkah

    Mulai menggenggam objekdengan tangan

    11. 11 Bila duduk, berputar untukmeraih objek dan berjalanmemegang perabot

    Memiliki genggaman lebiherat.

    12. 12 Berjalan dengan satu tangandipegang dan dapat duduk dariposisi berdiri tanpa bantuan

    Melepaska kotak kedalamcangkir.

  • 43

    13. 15 Berjalan tanpa bantuan danmemanjat tangga.

    Membangun menara daridua kotak dan mencoret-coret secara spontan

    14. 18 Berlari secara kikuk, seringjatuh dan melompat ditempatdengan kedua kaki

    Membangun menara tigasampai empat kotak danmengatur sendok tanpamemutar.

    15. 24 Berlari dengan seimbang danmenendang bola tanpagangguan keseimbangan

    Membangun menara denganenam sampai tujuh kotak

    16. 30 Melompat dengan kedua kakidan berdiri pada satu kaki.

    Membangun menara dengandelapan kotak.

    17. 36 Mengendarai sepeda roda tiga Membangun menara dari 9atau 10 kotak

    18. 48 Melompat dan meloncat padasatu kaki dan berjalan,menangkap bola dan menurunitangga dengan kaki bergantian

    Menggunakan guntingdengan baik untukmemotong gambarmengikuti garis.

    19. 60 Meloncat dan melompat padakaki bergantian melompat dariketinggian 12 inci danbertumpu pada ibu jari kaki.

    Mengikat tali sepatu,menggunakan gunting, alatsederhana atau pensildengan sangat baik & dapatmeniru gambar segitiga.

    Sumber : (Wong, 2004)

    f) Riwayat Nutrisi

    yang perlu ditanyakan adalah riwayat pemberian ASI, pemberian

    susu formula, pemberian makanan tambahan dan pola perubahan

    nutrisi tiap tahapan usia (Wong, 2004).

    3) Pemeriksaan Fisik

    Pemeriksaan fisik dapat dilakukan melalui empat teknik yaitu

    inspeksi, palpasi, perkusi dan auskultasi (Nursalam, 2013). Adapun

    yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan fisik yaitu :

    a) Keadaan Umum

    Keadaan umum pasien mulai saat pertama kali bertemu dilanjutkan

    sewaktu mengukur tanda-tanda vital.

  • 44

    b) Kesadaran

    Pada umumnya tingkatan kesadaran terdiri dari enam tingkatan

    yaitu :

    (1) Komposmentis : sadar sepenuhnya, dapat menjawab semua

    pertanyaan tentang keadaan sekeliling.

    (2) Apatis : keadaan kesadaran yang segan untuk berhubungan

    dengan kehidupan sekitarnya, sikapnya acuh tak acuh.

    (3) Somnolen : keadaan kesadaran yang mau tidur saja, dapat

    dibangunkan dengan rangsangan nyeri tetapi jatuh tidur lagi.

    (4) Delirium : keadaan kacau motorik yang sangat memberontak,

    berteriak dan tak sadar terhadap orang lain, tempat dan waktu.

    (5) Supor/semikoma : keadaan kesadaran yang menyerupai koma,

    reaksi hanya dapat ditimbulkan dengan rangsangan nyeri.

    (6) Koma : keadaan kesadaran yang hilang sama sekali dan tidak

    dapat dibangunkan dengan rangsangan nyeri apapun (Nurarif &

    Kusuma, 2015).

    GCS (Glasgow Coma Score) yaitu skala yang digunakan

    untuk menilai tingkat kesadaran atau respon utama klien terhadap

    lingkungannya yaitu membuka mata, mengucap kata dan

    melakukan gerakan (Muttaqin, 2008).

  • 45

    Eye (Buka Mata)

    (4)

    (3)

    (2)

    (1)

    :

    :

    :

    :

    Spontan

    Berdasarkan suara

    Dengan rangsangan nyeri

    Tidak ada respon

    Respon verbal

    (5)

    (4)

    (3)

    (2)

    (1)

    :

    :

    :

    :

    :

    Senyum, orientasi terhadap obyek

    Menangis tetapi dapat ditenangkan

    Menangis dan tidak dapat ditenangkan

    Mengerang dan agitatif

    Tidak memberi respon

    Respon Motorik

    (6)

    (5)

    (4)

    (3)

    (2)

    (1)

    :

    :

    :

    :

    :

    :

    Mengikuti perintah/aktif

    Melokalisir rangsang nyeri

    Menjauhi rangsangan nyeri

    Fleksi abnormal

    Ekstensi abnormal

    Tidak memberi respons (Nurarif & Kusuma, 2015)

    c) Tanda-Tanda vital

    Tanda-tanda vital terdiri atas empat pemeriksaan, yaitu tekanan

    darah, nadi, suhu dan pernapasan. Biasanya anak dengan marasmus

    TTV lebih rendah dibandingkan dengan anak sehat (Wong, 2004).

  • 46

    d) Pemeriksaan Antropometri

    Pengukuran antropometri adalah pengukuran yang dilakukan

    untuk mengetahui ukuranukuran fisik anak (berat badan, tinggi

    badan, lingkar kepala, lingkar lengan atas dan lingkar dada) dengan

    menggunakan alat ukur sesuai usia dan dapat dilihat pada tabel

    berikut :

    Tabel 4. Pengukuran Antropometri Usia 0 - 60 Bulan

    No.Umur

    (Bulan)BB (kg) TB (cm) LK (cm)

    LILA(cm)

    LIDA

    (cm)1. 0 2,5-4,0 48-52 32-38 9,5-13,5 30-382. 1 3,0-4,3 49,8-54,6 34-41 - -3. 2 3,6-5,2 52,8-58,1 36-42,5 - -4. 3 4,2-6,0 55,5-61,1 37,5-44 - -5. 4 4,7-6,7 57,8-63,7 38,5-45 - -6. 5 5,3-7,3 59,8-65,9 39,5-45,5 - -7. 6 5,8-7,8 61,6-67,8 40-46 14,75 -8. 7 6,2-8,3 63,2-69,5 40,5-47 14,75 -9. 8 6,6-8,8 64,6-71,0 41-47,5 14,75 -10. 9 7,0-9,2 66,0-72,3 41,5-48 15,10 -11. 10 7,3-9,5 67,2-73,6 41-48 15,10 -12. 11 7,6-9,9 68,5-74,9 42,5-49 15,10 -13. 12 7,8-10,2 69,6-76,1 43-49,5 16,00 -14. 15 8,4-10,9 72,9-79,4, 44-50 - -15. 17 8,9-11,5 75,9-82,4 44,5-50,5 - -16. 24 9,9-12,3 79,2-85,6 45-51 16,25 -17. 29 10,8-13,5 83,7-90,4 45,5-52,5 - -18. 36 11,7-14,6 87,8-94,9 46-53 16,50 -19. 41 12,5-15,7 91,5-99,1 46,5-53,5 - -20. 48 13,2-16,7 96,4-102,9 47-53,8 16,75 -21. 53 13,8-17,7 99,7-106,6 47,5-53,8 - -22. 60 14,5-18,7 102,7-109,9 47,8-54 17,00 -

    Sumber: (Djitowiyono, 2010)

    untuk menentukan BB Ideal Balita (0-5 tahun) dengan

    menggunakan rumus Berat Badan Ideal (BBI) :

    (Umur (tahun) X 2) + 8 = 2n + 8

  • 47

    Keterangan :

    n = umur

    2 dan 8 = nilai konstanta (Depkes, 1973 dikutip dalam Nursalam, 2008).

    Tabel 5. Berat Badan Ideal (BBI) dalam Kategori

    No.Umur

    (Tahun)Kategori

    Normal Kurus Sangat Kurus1. 1 7,8-10,2 6,1-7,7 < 6,02. 2 9,9-12,3 7,6-9,8 < 7,53. 3 11,7-14,6 8,8-11,6 < 8,74. 4 13,2-16,7 10,0-13,1 < 9,95. 5 14,5-18,7 10,9-14,4 < 11,0

    Sumber : (Djitowiyono, 2010)

    Selain menggunakan rumus Berat badan ideal (BBI) tersebut,

    dapat juga menggunakan rumus sebagai berikut :

    BBBMI =

    (TB)2

    Keterangan :

    BB = Berat badan (kg)

    TB = Tinggi badan (m)

    Interprestasi status gizi berdasarkan kategori IMT / BMI

    menurut Kemenkes RI (2003) :

    (1) Kategori kurus jika nilai IMT/BMI < 18,0

    (2) Kategori normal jika nilai IMT/BMI berada diantara 18,5 - 25,0

    (3) Kategori gemuk (obesitas) jika nilai IMT/BMI > 25,0

  • 48

    e) Pemeriksaan Fisik Secara Persistem

    (1) Sistem Integument

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu warna kulit dan

    distribusi rambut, adanya pembengkakan atau tidak dan turgor

    kulit. Biasanya anak dengan marasmus kulit kering, turgor kulit

    jelek, wajah nampak seperti orang tua, akral teraba dingin dan

    mengendor disebabkan karena kehilangan banyak lemak di

    bawah kulit dan otot-ototnya terjadi atropi serta rambut tampak

    kering dan mudah rontok, kusam, jarang dan depigmentasi

    (Engel, 2009).

    (2) Sistem Pernapasan

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu bentuk dada simetris

    atau tidak, pergerakan dada, frekuensi pernafasan, bunyi napas,

    taktil fremitus, vokal resonan, perkusi paru, kembang kempis

    paru dan adanya pembengkakan atau tidak. Biasanya pada anak

    dengan marasmus terjadi gangguan sistem pernapasan yaitu

    batuk, sesak napas dan ada bunyi napas tambahan (ronchi)

    (Engel, 2009).

    (3) Sistem Kardiovaskuler

    Pada umumnya yang perlu dikaji dalam sistem ini adalah

    konjungtiva anemis atau tidak, adanya peningkatan vena

  • 49

    jugularis, bunyi jantung, adanya peningkatan TD atau tidak dan

    bunyi perkusi jantung (Udjianti, 2010).

    (4) Sistem Pencernaan

    Pada umumnya yang perlu dikaji dalam sistem ini adalah

    bentuk mulut dan abdomen simetris atau tidak, warna kulit,

    terdapat peradangan atau lesi pada mulut dan gusi, jumlah gigi,

    adanya stomatitis, keadaan lidah, adanya pembengkakan,

    frekuensi bising usus, bunyi perkusi abdomen dan terdapat

    nyeri tekan. Biasanya pada anak dengan marasmus perut

    tampak buncit, terjadi hepatomegali dan bising usus meningkat

    bila terjadi diare (Wong, 2004).

    (5) Sistem Pengindraan

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu kesimetrisan, ketajaman

    penglihatan, lapang pandang, konjungtiva anemis atau tidak,

    sklera icterus, bentuk hidung, adanya sekret pada hidung atau

    tidak, bentuk telinga, adanya nyeri tekan atau tidak. Biasanya

    tidak ada kelainan/gangguan pada sistem pengindraan (Engel,

    2009).

    (6) Sistem Persarafan

    Pengkajian neurologi meliputi fungsi serebral yaitu kesadaran

    dan status mental, fungsi saraf kranial, fungsi motorik dan

    fungsi sensorik (Muttaqin, 2008).

  • 50

    (7) Sistem Muskuloskeletal

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu bentuk kesimetrisan,

    kekuatan otot dan pergerakan. Biasanya pada anak dengan

    marasmus terjadi atrofi otot hingga tulang-tulang terlihat lebih

    jelas karena kurangnya asupan energi protein sehingga terjadi

    kelemahan otot (Engel, 2009).

    (8) Sistem Endokrin

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu adanya pembesaran

    kelenjar tiroid dan para tiroid atau tidak, refleks menelan dan

    adanya nyeri tekan atau tidak. Biasanya tidak ada kelainan pada

    sistem endokrin (Engel, 2009).

    (9) Sistem Perkemihan

    Pada umumnya yang perlu dikaji adalah fungsi eliminasi klien

    apakah terjadi perubahan pola eliminasi atau tidak. Biasanya

    tidak ada kelainan pada sistem perkemihan (Engel, 2009).

    (10)Sistem Reproduksi

    Meliputi fungsi alat reproduksi normal ataupun tidak. Biasanya

    tidak ada kelainan pada sistem reproduksi (Engel, 2009).

    (11)Sistem Imun

    Pada umumnya yang perlu dikaji yaitu daya tahan tubuh klien

    apakah menurun atau masih dalam keadaan stabil. Biasanya

    anak dengan marasmus terjadi penurunan daya tahan tubuh

  • 51

    yang disebabkan kurangnya asupan kalori dan protein (Engel,

    2009).

    4) Pola Aktifitas Sehari-hari

    Yang perlu dikaji dalam kegiatan sehari-hari adalah :

    a) Nutrisi

    Yang perlu dikaji adalah bagaimana kebiasaan makan klien apakah

    ada perubahan sebelum dan selama di rumah sakit, riwayat

    pemberian ASI, pemberian makanan tambahan, nafsu makan

    biasanya berkurang, kaji apakah ada mual/muntah dan keadaan

    umum lemah (Wong, 2004).

    b) Eliminasi

    BAB dan BAK biasanya tidak terjadi gangguan.

    c) Istirahat tidur

    Biasanya istirahat tidur klien terganggu, tidak merasa segar setelah

    tidur, tidur tampak tidak nyenyak akibat diare (Wong, 2004).

    d) Personal hygiene

    Bagaimana kebiasaan mandi klien, perawatan rambut, potong kuku,

    gosok gigi, apakah ada perubahan selama sakit atau tidak.

    Pasien dengan marasmus biasanya belum dapat melakukan personal

    hygiene sendiri seperti biasanya karena kelemahan otot sehingga

    memerlukan bantuan dari orang-orang terdekat (Wong, 2004).

  • 52

    e) Aktivitas & olahraga

    Kaji kemampuan klien beraktifitas sebelum sakit dan sesudah sakit.

    Aktivitas biasanya belum bisa dilakukan oleh klien akibat

    kelemahan yang dirasakan (Wong, 2004).

    5) Data Psikologis

    a) Status Emosi : dapat dijumpai ketidakstabilan emosi klien dan

    keluarga.

    b) Pola Koping : hal apa saja yang dilakukan klien dalam mengatasi

    masalahnya adakah tindakan yang maladaptif (Nursalam, 2008).

    6) Data Sosial

    Mencakup orang yang terdekat dengan klien, hubungan dan pola

    interaksi klien dalam keluarga dan masyarakat. Biasanya pada anak

    terjadi penarikan diri dari interaksi sosialnya atau hubungan

    interpersonal akibat ketidakmampuan untuk berkomunikasi (Nursalam,

    2008).

    7) Data Spritual

    Mengidentifikasi tentang keyakinan hidup, optimisme keluarga

    terhadap kesembuhan anak (Nursalam, Susilaningrum & Utami, 2008).

    8) Reaksi Hospitalisasi

    a) Pemahaman orang tua terhadap anaknya yang sakit dan dirawat di

    rumah sakit dipengaruhi oleh berbagai macam faktor diantaranya

    tingkat keseriusan penyakit anak, pengalaman sebelumnya

  • 53

    terhadap sakit dan dirawat di rumah sakit serta prosedur

    pengobatan

    b) Pemahaman anak tentang rumah sakit dan rawat inap (Nursalam,

    2008).

    9) Data Penunjang

    Pemeriksaan penunjang pada malformasi anorektal (anus imperforata)

    adalah sebagai berikut :

    a) Pemeriksaan fisik

    b) Mengukur TB dan BB

    c) Menghitung indeks masa tubuh, yaitu BB (dalam kilogram) dibagi

    dengan tinggi badan (dalam meter)

    d) Mengukur ketebalan lipatan kulit kelengan atas sebelah belakang

    (lipatan trisep) ditarik menjauhi, sehingga lapisan lemak dibawah

    kulitnya dapat diukur, biasanya dengan menggunakan jangka

    lengkung (kapiler) lemak dibawah kulit banyaknya adalah 50%

    dari lemak tubuh. Lipatan lemak normal sekitar 1,25 cm pada laki-

    laki dan sekitar 2,5 cm pada wanita.

    e) Status gizi juga dapat diperoleh dengan mengukur LLA untuk

    memperkirakan jumlah otot rangka dalam tubuh (lean body massa,

    massa tubuh yang tidak berlemak) (Nurarif & Kusuma, 2015).

  • 54

    10)Pengobatan & Perawatan

    a) Pengobatan

    (1) Antibiotik untuk mencegah terjadinya infeksi

    (2) Pemberian multivitamin

    (3) Pemberian zinc jika terjadi diare

    (4) Pemberian cairan glukosa/RL 5 % dan Nacl (Nurarif &

    Kusuma, 2015).

    b) Perawatan

    (1) Pencegahan penyakit infeksi, dengan meningkatkan kebersihan

    lingkungan dan kebersihan perseorangan.

    (2) Pemberian air susu ibu (ASI) sampai umur 2 tahun merupakan

    sumber energi yang paling baik untuk bayi.

    (3) Ditambah dengan pemberian makanan tambahan yang bergizi

    pada umur 6 tahun ke atas.

    (4) Pemberian makanan tinggi kalori dan tinggi protein

    (5) Pemberian imunisasi

    (6) Penyuluhan /pendidikan gizi tentang pemberian makanan yang

    adekuat merupakan usaha pencegahan jangka panjang.

    (7) Pemantauan (surveilance) yang teratur pada anak balita di

    daerah yang endemis kurang gizi dengan cara penimbangan

    berat badan tiap bulan.

  • 55

    b. Klasifikasi/ Pengelompokan Data

    Klasifikasi/pengelompokan data adalah mengidentifikasi masalah

    kesehatan yang terdiri dari data subjektif dan data objektif.

    Pengelompokan data merupakan suatu pengaturan yang sistematis yang

    terdiri dari :

    1) Data Subjektif : merupakan data yang berdasarkan keluhan- keluhan

    pasien yang tidak dirasakan oleh orang lain.

    2) Data Objektif : merupakan data yang bisa dilihat dan diukur oleh

    seorang perawat (Nursalam, 2013).

    c. Analisa Data

    Analisa data adalah proses intelektual yaitu kegiatan mentabulasi,

    menyelidiki, mengklasifikasi, dan mengelompokan data serta

    mengkaitkannya untuk menentukan kesimpulan dalam bentuk diagnosa

    keperawatan, biasa di temukan data subjektif dan data objektif. Analisa

    data terdiri dari PES (Problem, Etiologi, Symptom) (Asmadi, 2008).

    d. Prioritas Masalah

    Setelah masalah di analisa, maka diprioritaskan sesuai dengan kriteria

    prioritas masalah untuk menentukan masalah yang harus segera diatasi

    yaitu :

    1) Masalah yang dapat mengancam jiwa klien

    2) Masalah aktual

    3) Masalah potensial atau resiko tinggi (Asmadi, 2008).

  • 56

    2. Diagnosa Keperawatan

    Diagnosis keperawatan adalah suatu pernyataan yang menjelaskan

    respon manusia (status kesehatan atau risiko perubahan pola) dari individu

    atau kelompok dimana perawat sebagai akuntabilitas dapat mengidentifikasi

    dan memberikan intervensi secara pasti untuk menjaga status kesehatan,

    menurunkan, membatasi, mencegah dan mengubah (Nursalam, 2013).

    Diagnosis keperawatan terdiri atas tiga tipe, yaitu diagnosis

    keperawatan aktual, diagnosis keperawatan risiko dan diagnosis keperawatan

    potensial (Asmadi, 2008).

    Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada klien dengan

    marasmus berdasarkan ( Nurarif dan Kusuma, 2015). adalah sebagai berikut :

    a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

    dengan intake yang kurang.

    b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi.

    c. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan

    malnutrisi.

    d. Defisiensi pengetahuan mengenai kondisi,diet,perawatan,dan pengobatan

    berhubungan dengan kurangnya informasi.

    e. Resiko infeksi berhubungan dengan daya tahan tubuh menurun.

  • 57

    3. Perencanaan

    Perencanaan adalah salah satu tahap dari proses keperawatan yang

    meliputi proses penentuan prioritas dan metode yang akan digunakan untuk

    penyelesaian masalah kesehatan klien. Tujuan dari perencanaan adalah

    menyusun rencana asuhan keperawatan berdasarkan respon klien terhadap

    masalah kesehatan baik yang aktual, risiko, maupun potensial (Nursalam,

    2013).

    Adapun contoh rencana keperawatan untuk klien dengan marasmus

    berdasarkan beberapa diagnosa keperawatan yang mungkin muncul dapat

    diuraikan sebagai berikut :

    a. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan

    dengan intake yang kurang.

    Tujuan : kebutuhan nutrisi menjadi adekuat

    Kriteria hasil :

    1) Nafsu makan meningkat

    2) Berat badan dalam batas normal (14-18 kg)

    3) Porsi makan dihabiskan

    4) Tidak ada tanda-tanda malnutrisi

  • 58

    Tabel 6. Intervensi dan Rasional : Perubahan Nutrisi kurang dari Kebutuhan TubuhNo Intervensi Rasional1)

    2)

    3)

    4)

    5)

    Kaji tingkat kebutuhan nutrisiklien

    Monitor bising usus

    Timbang berat badan pasiensetiap hariCatat dan monitor adanyaanoreksia, kelemahan umum,nyeri abdomen munculnya mualdan muntah

    Kolaborasi dengan ahli gizi

    1) Untuk mengetahui kebutuhan nutrisiklien sehingga dapat menentukanintervensi selanjutnya.

    2) Bising usus hiperaktif mencerminkanpeningkatan motilitas lambung yangmenurunkan atau mengubah fungsiabsorbsi.

    3) Indikator kebutuhan nutrisi ataupemasukan yang adekuat.

    4) Peningkatan aktifitas adrenergic dapatmenyebabkan gangguan sekresi insulinatau terjadi resisten yang mengakibatkanhiperglikemia, polidipsi, poliuria,perubahan kecepatan dan kedalamanpernapasan (tanda asidosis metabolic).

    5) Bermanfaat untuk menentukan kegunaanatau kebutuhan kalori dengan tepat

    Sumber : Nurarif & Kusuma, 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkandiagnosa medis & NANDA NIC- NOC

    b. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan perubahan status nutrisi

    Tujuan : Tidak akan terjadi kerusakan pada kulit

    Kriteria hasil :

    1) Turgor kulit baik

    2) Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembapan kulit dan

    perawatan alami.

    3) Integritas kulit yang baik bisa di pertahankan (sensasi, temperature,

    hidrasi dan pigmentasi) dan tidak ada luka.

    Tabel 7. Intervensi dan Rasional : Kerusakan Integritas KulitNo Intervensi Rasional1) Anjurkan pasien untuk

    menggunakan pakayan yanglonggar

    1) Menghindari dermal langsung danmeningkatkan evaporasi lembab padakulit

    2) Jaga kebersihan kulit agar tetapbersih dan kering

    2) Mencegah terjadinya kerusakan padakulit.

  • 59

    3) Mobilisasi pasien (ubah posisipasien setiap dua jam sekali)

    3) Baring yang sering akan mengakibatkanpenekanan pada kulit dan mengurangistress pada titik yang tertekan

    4) Oleskan lotion atauminyak/baby oil pada daerahyang tertekan

    4) Dengan mengoleskan lation akan dapatmenjaga kebersihann kulit dankenyamanann pada kulit

    5) Memandikan pasien dengansabun dan air hangat

    5) Mandi dapat menjaga kebersihan kulit

    Sumber : Nurarif & Kusuma, 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkandiagnosa medis & NANDA NIC- NOC

    c. Keterlambatan pertumbuhan dan perkembangan berhubungan dengan

    malnutrisi

    Tujuan : pertumbuhan dan perkembangan anak baik

    Kriteria hasil :

    1) Anak berfungsi optimal sesuai tingkatannya

    2) Kematangan fisik yaitu tinggi badan dan berat badan sesuai usia.

    3) Status nutrisi seimbang

    4) Berat badan dalam batas normal (14-18 kg).

    Tabel 8. Intervensi dan Rasional : Keterlambatan Pertumbuhan dan PerkembanganNo Intervensi Rasional1) Kaji faktor penyebab gangguan

    perkembangan anak1) Agar tindakan yang dilakukan slebih

    tepat dan akurat2) Mendorong asupan makanan dan

    cairan tinggi kalium yang sesuai2) Membantu dalam proses penyembuhan

    3) Berikan pasien makanan yangtinggi kalori dan tinggi proteinserta makanan dan minumanbergizi yang mudah dikonsumsi.

    3) Agar perkembangan mental anak tidakmengalami pemberhentian ataukemunduran

    4) Kolaborasi dengan ahli gizi,jumlah kalori dan jenis nutrisiyang di butuhkan untukpersyaratan gizi yang sesuai.

    4) Untuk mengevaluasi asupan nutrisi

    5) Berikan perawatan yang konsisten 5) Dengan perawatan yang baik makadapat mempercepat kesembuhanberbagai macam penyakit

  • 60

    6) Pantau kecenderungan kenaikandan penurunan berat badan

    6) Untuk mengetahui peningkatan beratbadan

    Sumber : Nurarif & Kusuma, 2015. Aplikasi asuhan keperawatan berdasarkandiagnosa medis & NANDA NIC- NOC

    d. Defisiensi pengetahuan mengenai kondisi, diet, perawatan dan

    pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi.

    Tujuan : Dapat mengetahui dan mengerti penyakit yang di alami

    Kriteria hasil :

    1) Pasien dan keluarga menyatakan pemahaman tentang penyaki, kondisi,

    prognosis dan program pengobatan

    2) Pasien dan keluarga mampu melakasanakan prosedur yang di jelaskan

    secara benar

    3) Menjelaskan kembali apa yang di jelaskan perawat atau tim kesehatan.

    Tabel 9. Intervensi dan Rasional : Defisiensi PengetahuanNo Intervensi Rasional1)

    2)

    3)

    4)

    Instruksikan pasi