kimia : kinetika kimia

of 39 /39
PERCOBAAN III KINETIKA KIMIA I. TUJUAN 1. Mengukur perubahan konsentrasi pereaksi menurut waktu. 2. Mengamati pengaruh konsentrasi, suhu dan katalis pada laju reaksi. 3. Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berair II. TEORI Dalam kimia fisik, kinetika kimia atau kinetika reaksi mempelajari laju reaksi dalam suatu reaksi kimia. Analisis terhadap pengaruh berbagai kondisi reaksi terhadap laju reaksi memberikan informasi mengenai mekanisme reaksi dan keadaan transisi dari suatu reaksi kimia. (Wikipedia) Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meledaknya petasan, adalah contoh reaksi yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses perkaratan besi, pematangan buah di pohon, dan fosilisasi sisa organisme merupakan peristiwa- peristiwa kimia yang berlangsung sangat lambat. Reaksi kimia selalu berkaitan dengan perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk).

Author: jacka24

Post on 05-Dec-2015

210 views

Category:

Documents


13 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

PERCOBAAN IIIKINETIKA KIMIAI. TUJUAN 1. Mengukur perubahan konsentrasi pereaksi menurut waktu.2. Mengamati pengaruh konsentrasi, suhu dan katalis pada laju reaksi.3. Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berairII. TEORIDalam kimia fisik, kinetika kimia atau kinetika reaksi mempelajari laju reaksi dalam suatu reaksi kimia. Analisis terhadap pengaruh berbagai kondisi reaksi terhadap laju reaksi memberikan informasi mengenai mekanisme reaksi dan keadaan transisi dari suatu reaksi kimia. (Wikipedia) Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meledaknya petasan, adalah contoh reaksi yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses perkaratan besi, pematangan buah di pohon, dan fosilisasi sisa organisme merupakan peristiwa- peristiwa kimia yang berlangsung sangat lambat. Reaksi kimia selalu berkaitan dengan perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk). Pereaksi (reaktan) → Hasil reaksi (produk) Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi per satuan waktu atau bertambahnya jumlah (konsentrasi) hasil reaksi per satuan waktu. (Ivan Permana, 2009) Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Satuan jumlah zat bermacam-macam, misalnya gram, mol atau konsentrasi. Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari atau pun tahun. Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan satuan konsentrasi (molaritas). (James E. Brady, 1990)Cepat lambatnya suatu reaksi kimia yang berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer, millimeter merkurium, atau pascal. Satuan waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada reaksi tersebut berjalan cepat atau lambat. Konsentrasi reaktan memainkan peran penting dalam mempercepat atau memperlambat reaksi tertentu. Dalam reaksi kimia terdapat perbedaan laju reaksi antara reaksi yang satu dengan reaksi yang lain. Misalnya ketika kita membakar kertas, reaksi35berlangsung begitu cepat sedangkan reaksi pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang sangat lama. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa reaksi kimia memiliki laju reaksi yang berbeda. (Yayan Sunarya, 2002) Pada awal reaksi, reaktan ada dalam keadaan maksimum sedangkan produk ada dalam keadaan minimal. Setelah reaksi berlangsung, maka produk akan mulai terbentuk. Semakin lama produk akan semakin banyak terbentuk, sedangkan reaktan semakin lama semakin berkurang. Bahwa konsentrasi reaktan semakin berkurang, sehingga laju reaksinya adalah berkurangnya konsentrasi R setiap satuan waktu, dirumuskan sebagai:v=−Δ[?]Δ? dengan: Δ[R] = perubahan konsentrasi reaktan (M) Δt = perubahan waktu (detik) v = laju reaksi (M detik-1) Tanda (–) artinya berkurang Bahwa produk semakin bertambah, sehingga laju reaksinya adalah bertambahnya konsentrasi P setiap satuan waktu, dirumuskan sebagai:v=+Δ[?]Δ? dengan: Δ[R] = perubahan konsentrasi reaktan (M) Δt = perubahan waktu (detik) v = laju reaksi (M detik–1) Tanda (+) artinya bertambah. Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi, luas permukaan, temperatur dan katalis. (James E. Brady, 1990) Umumnya reaksi kimia dapat berlangsung cepat jika konsentrasi zat-zat yang bereaksi (reaktan) diperbesar. (James E. Brady, 1990) Secara umum pada reaksi: xA + yB → pC+ qD36Persamaan laju reaksi dapat ditulis sebagai: v = k [A]x [B]y Persamaan seperti di atas, disebut persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi. Persamaan laju reaksi seperti itu menyatakan hubungan antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi. Bilangan pangkat pada persamaan di atas disebut sebagai orde reaksi

TRANSCRIPT

PERCOBAAN IIIKINETIKA KIMIAI. TUJUAN 1. Mengukur perubahan konsentrasi pereaksi menurut waktu.2. Mengamati pengaruh konsentrasi, suhu dan katalis pada laju reaksi.3. Menentukan hukum laju suatu reaksi dalam larutan berairII. TEORIDalam kimia fisik, kinetika kimia atau kinetika reaksi mempelajari laju reaksi dalam suatu reaksi kimia. Analisis terhadap pengaruh berbagai kondisi reaksi terhadap laju reaksi memberikan informasi mengenai mekanisme reaksi dan keadaan transisi dari suatu reaksi kimia. (Wikipedia) Reaksi kimia berlangsung dengan kecepatan yang berbeda-beda. Meledaknya petasan, adalah contoh reaksi yang berlangsung dalam waktu singkat. Proses perkaratan besi, pematangan buah di pohon, dan fosilisasi sisa organisme merupakan peristiwa- peristiwa kimia yang berlangsung sangat lambat. Reaksi kimia selalu berkaitan dengan perubahan dari suatu pereaksi (reaktan) menjadi hasil reaksi (produk). Pereaksi (reaktan) Hasil reaksi (produk) Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai berkurangnya jumlah (konsentrasi) pereaksi per satuan waktu atau bertambahnya jumlah (konsentrasi) hasil reaksi per satuan waktu. (Ivan Permana, 2009) Laju reaksi menyatakan laju berkurangnya jumlah reaktan atau laju bertambahnya jumlah produk dalam satuan waktu. Satuan jumlah zat bermacam-macam, misalnya gram, mol atau konsentrasi. Sedangkan satuan waktu digunakan detik, menit, jam, hari atau pun tahun. Dalam reaksi kimia banyak digunakan zat kimia yang berupa larutan atau berupa gas dalam keadaan tertutup, sehingga dalam laju reaksi digunakan satuan konsentrasi (molaritas). (James E. Brady, 1990)Cepat lambatnya suatu reaksi kimia yang berlangsung disebut laju reaksi. Laju reaksi dapat dinyatakan sebagai perubahan konsentrasi pereaksi atau produk per satuan waktu. Konsentrasi biasanya dinyatakan dalam mol per liter, tetapi untuk reaksi fase gas, satuan konsentrasi dapat diganti dengan satuan tekanan seperti atmosfer, millimeter merkurium, atau pascal. Satuan waktu yang digunakan dapat berupa detik, menit, jam, hari, bulan, bahkan tahun bergantung pada reaksi tersebut berjalan cepat atau lambat. Konsentrasi reaktan memainkan peran penting dalam mempercepat atau memperlambat reaksi tertentu. Dalam reaksi kimia terdapat perbedaan laju reaksi antara reaksi yang satu dengan reaksi yang lain. Misalnya ketika kita membakar kertas, reaksi35berlangsung begitu cepat sedangkan reaksi pembentukan minyak bumi memerlukan waktu yang sangat lama. Dari hal ini dapat disimpulkan bahwa reaksi kimia memiliki laju reaksi yang berbeda. (Yayan Sunarya, 2002) Pada awal reaksi, reaktan ada dalam keadaan maksimum sedangkan produk ada dalam keadaan minimal. Setelah reaksi berlangsung, maka produk akan mulai terbentuk. Semakin lama produk akan semakin banyak terbentuk, sedangkan reaktan semakin lama semakin berkurang. Bahwa konsentrasi reaktan semakin berkurang, sehingga laju reaksinya adalah berkurangnya konsentrasi R setiap satuan waktu, dirumuskan sebagai:v=[] dengan: [R] = perubahan konsentrasi reaktan (M) t = perubahan waktu (detik) v = laju reaksi (M detik-1) Tanda () artinya berkurang Bahwa produk semakin bertambah, sehingga laju reaksinya adalah bertambahnya konsentrasi P setiap satuan waktu, dirumuskan sebagai:v=+[] dengan: [R] = perubahan konsentrasi reaktan (M) t = perubahan waktu (detik) v = laju reaksi (M detik1) Tanda (+) artinya bertambah. Laju reaksi dipengaruhi oleh konsentrasi, luas permukaan, temperatur dan katalis. (James E. Brady, 1990) Umumnya reaksi kimia dapat berlangsung cepat jika konsentrasi zat-zat yang bereaksi (reaktan) diperbesar. (James E. Brady, 1990) Secara umum pada reaksi: xA + yB pC+ qD36Persamaan laju reaksi dapat ditulis sebagai: v = k [A]x [B]y Persamaan seperti di atas, disebut persamaan laju reaksi atau hukum laju reaksi. Persamaan laju reaksi seperti itu menyatakan hubungan antara konsentrasi pereaksi dengan laju reaksi. Bilangan pangkat pada persamaan di atas disebut sebagai orde reaksi atau tingkat reaksi pada reaksi yang bersangkutan. Jumlah bilangan pangkat konsentrasi pereaksi-pereaksi disebut sebagai orde reaksi total. Artinya, reaksi berorde x terhadap pereaksi A dan reaksi berorde y terhadap pereaksi B, orde reaksi total pada reaksi tersebut adalah (x + y). Faktor k yang terdapat pada persamaan tersebut disebut tetapan reaksi. Harga k ini tetap untuk suatu reaksi dan hanya dipengaruhi oleh suhu dan katalis. (Budi Utami, 2009) Tetapan laju reaksi disimbolkan dengan k. Harga k bergantung pada jenis reaksi dan suhu. Setiap jenis reaksi mempunyai harga k tertentu. Jika reaksi berlangsung cepat, maka harga k besar. Begitu pula sebaliknya. Jika reaksi berlangsung lambat, maka harga k kecil. (Crys Fajar Partana, 2009) Pada umumnya, harga orde reaksi merupakan bilangan bulat sederhana, yaitu 1, 2, atau 3, tetapi kadang-kadang juga terdapat pereaksi yang mempunyai orde reaksi 0, atau bahkan negatif. Orde reaksi menyatakan besarnya pengaruh konsentrasi pereaksi pada laju reaksi. Beberapa orde reaksi yang umum terdapat dalam persamaan reaksi kimia beserta maknanya sebagai berikut: 1. Reaksi Orde Nol Suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde nol, jika besarnya laju reaksi tersebut tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi. Artinya, seberapa pun peningkatan konsentrasi pereaksi tidak akan mempengaruhi besarnya laju reaksi. 2. Reaksi Orde Satu Suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde satu, apabila besarnya laju reaksi berbanding lurus dengan besarnya konsentrasi pereaksi. Artinya, jika konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali semula, maka laju reaksi juga akan meningkat besarnya sebanyak (2)1 atau 2 kali semula juga. 3. Reaksi Orde DuaSuatu reaksi dikatakan mempunyai orde dua, apabila besarnya laju reaksi merupakan pangkat dua dari peningkatan konsentrasi pereaksinya. Artinya, jika37konsentrasi pereaksi dinaikkan 2 kali semula, maka laju reaksi akan meningkat sebesar (2)2 atau 4 kali semula. Apabila konsentrasi pereaksi dinaikkan 3 kali semula, maka laju reaksi akan menjadi (3)2 atau 9 kali semula. 4. Reaksi Orde Negatif Suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde negatif, apabila besarnya laju reaksi berbanding terbalik dengan konsentrasi pereaksi. Artinya, apabila konsentrasi pereaksi dinaikkan atau diperbesar, maka laju reaksi akan menjadi lebih kecil. (Budi Utami, 2009)38III. Prosedur Kerja3.1 Alat dan Bahan Alat:1. Erlenmeyer 100 mL : 5 buah2. Erlenmeyer 150 mL : 5 buah3. Gelas piala 50 mL : 5 buah4. Gelas piala 100 L : 5 buah5. Batang pengaduk : 1 buah6. Pipet tetes : 5 buah7. Labu takar 100 mL : 1 buah8. Stopwatch : 1 buah9. Tabung reaksi : 10 buah10. Rak tabung reaksi : 1 buah11. Gelas ukur 50 mL : 1 buahBahan:1. Na2S2O32. Aquades3. HCl4. Asam Asetat5. Asam Sulfat6. KMnO47. Asam Oksalat8. Pita Mg393.2 Skema KerjaA. Orde reaksi dalam reaksi Natrium Tiosulfat dengan asam hidrokloridaTabel: Komposisi campuran dalam penentuan orde reaksi untuk natrium tiosulfatNa2S2O3 (ml)[Na2S2O3] (M)H2O (ml)HCl (ml)[HCl](M)250,15-42200,12542150,091042100,06154250,032042Tabel: Komposisi campuran dalam penentuan orde reaksi untuk asam hidroksidaNa2S2O3 (ml)[Na2S2O3] (M)H2O (ml)HCl (ml)[HCl] (M)250.5-53,0250.5231,8250.5410,6ErlenmeyerDicatat waktu saat asam ditambahkan sampai saat timbulnya kekeruhanDimasukkan campuran zat-zat pereaksi dengan konsentrasi dan volume seperti pada tabel 10.1Dibuat grafik [S2O32-] terhadap t dan [S2O32-] terhadap 1/tDiulangi percobaan dengan kompisisi campuran seperti pada tabel 10.240B. Orde reaksi dalam reaksi antara Mg dengan HClTabel: Komposisi campuran Mg dengan HCl[HCl] (M)Volume HCl (Ml)0,61000,81001,01001,21001,41001,61001,81002,0100ErlenmeyerDimasukkan 100 mL larutan HCl yang telah diencerkan ke dalam masing-masing Erlenmeyer dengan konsentrasi yang telah ditentukanDimasukkan 8 potong pita Mg ke dalam masing-masing ErlenmeyerDisediakan 16 potong pita Mg yang telah dibersihkanDisediakan 8 buahDibuat grafik l/t terhadap [HCl]2Diulangi percobaan ini 1x lagiDicatat waktu larut pita Mg41C. Pengaruh campuran Mg dangan HClD. Pengaruh katalis terhadap laju reaksiTabung reaksiDisediakan 6 buahDimasukkan 8 mL Asam Oksalat 0.1 N dan 2 mL Asam Sulfat 6 NGelas piala pertama didihkanGelas pialaDisediakan 3 buahGelas piala kedua dipanaskan hingga 500CDimasukkan air setengah penuhGelas piala tidak dipanaskanDitambah 3 tetes KMnO4 0.1 N setelah 10 menitDimasukkan 2 tabung reaksi ke dalam pialaDiulangi percobaan ini 1x lagiDiperhatikan perubahan warna dan catat waktu dan reaksi dalam setiap tabungTabung reaksiPerhatikan perubahan warna dan catat waktu reaksiDitambahkan 2 mL H2SO4 1 M pada tabung 1 dan 2Disediakan 6 buahDitambahkan 3 tetes KMnO4 pada setiap tabungDitambahkan 4 mL H2O pada tabung 5 dan 6Diisi 6 mL larutan Asam OksalatDitambahkan 1 mL H2SO4 1 M pada tabung 3 dan 442IV. Hasil dan Pembahasan4.1 Hasil pengamatan A. Orde reaksi dalam reaksi Natrium Tiosulfat dengan Asam Hidroklorida Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Natrium TiosulfatNa2S2O3 (ml)Na2S2O3 (M)H2O (ml)HCl (M)HCl (ml)t (detik)1/t (det-1)250.15-2417.710.056200.1252421,510.046150.09102439.290.025100.062524950,011a. Grafik hubungan antara [S2O32-] terhadap 1/tb. Grafik hubungan antara [S2O32-] terhadap t00.010.020.030.040.050.0600.020.040.060.080.10.120.140.16[S2O32-] terhadap 1/t43Pengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Asam HidrokloridaNa2S2O3 (ml)Na2S2O3 (M)H2O (ml)HCl (ml)[HCl] (M)T (detik)l/t (det-1)250,5-53,04,750,21250,5231,83,520,28250,5410,67,570,13 Grafik hubungan antara konsentrasi [HCl] terhadap t02040608010000.050.10.150.2waktukonsentrasi[S2O32-] terhadap t01234567800.511.522.533.5[HCl] terhadap t44 Grafik hubungan antara konsentrasi [HCl] terhadap 1/tB. Orde reaksi dalam reaksi Magnesium dengan Asam HidrokloridaPengamatan terhadap pengaruh konsentrasi Asam Hidroklorida : Grafik hubungan [HCl] terhadap t00.050.10.150.20.250.300.511.522.533.5[HCl] terhadap 1/t0102030405060708000.511.522.5[HCl] terhadap t[HCl] (M)HCl (ml)t (detik)l/t (det-1)[HCl]2Log [HCl]Log (l/t)0,850670,0140.64-0.09-1,851,25032,950,031.440.07-1,521,65017,580,0562.560.2-1,252,05012,350,0840.3-1,0945 Grafikhubungan [HCl] terhadap 1/t Grafik hubungan antara [HCl]2 terhadap 1/tC. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi Waktu reaksi pada berbagai suhu (detik)00.010.020.030.040.050.060.070.080.0900.511.522.5[HCl] terhadap 1/t00.020.040.060.080.10123451/tkonsentrasi[HCl]2terhadap 1/tUlanganSuhu Reaksi100 0C50 0C25 0C12546,7292212,1820,39136Rata rata18,5933,5514446D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi Waktu reaksi dari berbagai suhu (detik)UlanganH2SO42 ml1 ml0 ml161393082437455Rata rata588381,5Perhitungan A. Orde reaksi natrium tiosulfat dengan asam hidroklorida1. Pada tabel 10.1a. Data 1 dan 20.150.12 = 0.0560.046 (1.25)=1.217X = log1.217log1.25 x = 0.88b. Data 1 dan 30.150.09 = 0.0560.025 (1.67)=2.332x = log2.332log1.67 x = 1.65c. Data 1 dan 40.150.06 = 0.0560.011 (2.5)=5.09x =log5.09log2.5x = 1.78d. Data 2 dan 30.120.09 = 0.0460.025 (1.33)=1.84x = log1.84log1.33 x = 2.13e. Data 2 dan 40.120.06 = 0.0460.011 (2)=4.18x = log4.18log2 x = 2.06f. Data 3 dan 40.090.06 = 0.0250.011 (1.5)=2.27x = log2.27log1.5x = 2.0247Orde reaksi Na2S2O3=0.88+1.65+1.78+2.13+2.06+2.026 = 1.752. Pada tabel 10.2a. Data 1 dan 231.8 = 0.210.28 (1.67)=0.75x = log0.75log1.67 x = -0.56b. Data 1 dan 330.6 = 0.210.13 (5)=1.615x =log1.615log5x = 0.297c. Data 2 dan 31.80.6 = 0.280.13 (3)=2.15x =log2.15log3 x = 0.696 Orde reaksi HCl terhadap 1/t=0.56+0.297+0,6963 = 0.43 Orde reaksi total = orde Na2S2O3 + orde HCl = 1.75 + 0.43 = 2.18 B. Orde reaksi Magnesium dengan Asam Hidrokloridaa. Data 1 dan 20.81.2 = 0.0140.030 (0.67)=0.467x = log0.467log0.67 x = 1.9b. Data 1 dan 3480.81.6 = 0.0140.030 (0.5)=0.25x = log0.25log0.5x = 2c. Data 1 dan 40.82 = 0.0140.08 (0.4)=0.175x =log0.175log0.4 x = 1.9d. Data 2 dan 31.21.6 = 0.030.056 (0.75)=0.54x = log0.54log0.75 x = 2.14e. Data 2 dan 41.22 = 0.0300.08 (0.6)=0.375x = log0.375log0.6 x = 1.92f. Data 3 dan 41.62 = 0.0560.08 (0.8)=0.7x = log0.7log0.8 x=1,6 Orde reaksi HCl terhadap 1/t=1.9+2+1.9+2.14+1.92+1.6 6=1,91494.2 Pembahasan A. Orde reaksi dalam reaksi natrium tiosulfat dengan Asam Hidroklorida Pada percobaan ini, praktikan akan menentukan tingkat reaksi terhadap pereaksi untuk reaksi antara Natrium Tiosulfat dengan Asam Hidroklorida. Natrium tiosulfat yang volume dan konsentrasinya berbeda direaksikan dengan HCl yang volume dan konsentrasinya sama dan ada beberapa reaksi yang diambahkan beberapa ml air. Setelah itu diamati pembentukan endapannya kemudian hitung dan catat waktu pada saat HCl dicampurkan sampai timbulnya kekeruhan yang dapat dilihat pada tabel dan grafik di atas. Adapun langkah kerjanya adalah menyiapkan 4 buah Erlenmeyer 100 ml. Selanjutnya buat campuran pereaksi antara Na2S2O3 dengan HCl dengan volume dan konsentrasi yang sudah ditentukan pada table 10.1. Setelah setiap Erlenmeyer yang sudah berisi campuran pereaksi Na2S2O3 dan ditambahkan dengan HCl dan H2O, dicatat waktu pada saat asam dimasukkan dan hentikan saat sudah terjadi pengendapan dan perubahan warna. Pada percobaan ini waktu yang diperoleh pada setiap Erlenmeyer yaitu 17,71 detik; 21,51 detik; 39,29 detik dan 95 detik. Percobaan ini diulang 1 kali lagi. Langkah kerjanya adalah menyiapkan 3 buah Erlenmeyer 100 ml. Selanjutnya buat campuran pereaksi antara Na2S2O3 dengan HCl dengan volume dan konsentrasi yang sudah ditentukan pada table 10.2. Setelah setiap Erlenmeyer yang sudah berisi campuran pereaksi Na2S2O3 dan ditambahkan dengan HCl dan H2O, saat asam mulai dimasukkan dicatat waktunya sampai saat sudah terjadi pengendapan dan perubahan warna. Pada percobaan ini waktu yang diperoleh pada setiap Erlenmeyer yaitu 4,75 detik; 3,52 detik dan 7,57detik. Dari data yang peroleh, maka dalam penentuan orde reaksi menggunakan perbandingan konsentrasi zat dengan waktu. Setelah itu dibuat grafiknya. Dalam menentukan nilai orde reaksi keseluruhan diperoleh menjumlahkan orde reaksi Na2S2O3 dan HCl kemudian dicari rata-ratanya. Dalam praktikum ini, banyak terjadi kesalahan dalam hal pengamatan. Ini terjadi karena kurang telitinya praktikan dalam menentukan volume dan konsentrasi zat yang digunakan, kemudian kurang bersihnya alat-alat yang digunakan saat mencuci, kurang telitinya dalam pencatatan waktu ketika reaksi sedang berlangsung dan lain sebagainya, sehingga menyebabkan percobaan ini tidak mendapatkan data yang valid.50B. Orde reaksi dalam reaksi antara Magnesium dengan Asam Hidroklorida Pada percobaan ini menentukan orde reaksi antara Magnesium dengan Asam Hidroklorida. Pada percobaan kedua ini praktikan menggunakan 4 buah Erlenmeyer yang masing-masing diisi dengan larutan HCl dengan volume yang sama yaitu 50 ml dengan konsentrasi yang berbeda. Seperti pada table 10.3. kemudian setiap tabung dimasukkan pita Mg sepanjang 2 cm dan selanjutnya catat waktu mulai dari pita Mg dimasukkan hingga pita Mg tersebut larut larut dalam HCl. Sehingga diperoleh hasil waktu pada tabung pertama 67 detik, pada tabung kedua 32,95 detik, pada tabung ketiga 17,58 detik, dan pada tabung keempat 12,35 detik. Saat pita Mg dan larutan HCl bereaksi, muncul asap putih dari dalam Erlenmeyer yang memberikan tanda bahwa adanya reaksi. Dari data tersebut dibuat grafik. C. Pengaruh suhu terhadap laju reaksi Dalam praktikum ini, praktikan menggunaka reaski antara Asam Oksalat (C2H2O4), Asam Sulfat (H2SO4) dan Kalium Permanganat (KMnO4) dalam suasana asam. Cara kerjanya adalah isi 3 buah gelas piala dengan air dengan perlakuan yang berbeda yaitu dididihkan, dipanaskan hingga suhu 500 C, dan tidak dipanaskan. Pada percobaan ini, praktikan menggunakan 8 ml Asam Oksalat 0,1 N dan 2 ml Asam Sulfat 6 N yang dimasukkan ke dalam 6 buah tabung reaksi. Tabung reaksi 1 dan 2 dimasukkan pada gelas piala yang berisikan air yang mendidih, tabung reaksi 3 dan 4 dimasukkan pada gelas piala yang berisikan air dengan suhu 500 C, dan tabung reaksi 5 dan 6 dimasukkan pada gelas piala yang berisikan air yang tidak dipanaskan dan dibiarkan selama 10 menit. Setelah 10 menit teteskan 3 tetes KMnO4 pada setiap masing-masing tabung reaksi tersebut. Diamati perubahan warna pada masing-masing tabung reaksi. Pada tabung reaksi 1 dan 2 waktu rata-ratanya adalah 18,59 detik. Pada tabung 3 dan 4 waktu rata-ratanya adalah 33,55 detik dan pada tabung 5 dan 6 waktu rata-ratanya adalah 144 detik. D. Pengaruh katalis terhadap laju reaksi Katalis merupakan zat yang dapat mempercepat suatu reaksi tanpa mengalami perubahan dalam reaksi tersebut yang berfungsi untuk menurunkan energi aktivasi dengan memperbanyak tahap-tahap reaksi. Katalis mempunyai sifat spesifik yang hanya berperan untuk reaksi tertentu tetapi tidak berperan untuk reaksi yang lain.Pada praktikum ini, katalis yang digunakan adalah KMnO4. Langkah kerjanya adalah menyiapkan 6 buah tabung reaksi. Setiap tabung reaksi51dimasukkan 6 ml larutan Asam Oksalat. Tabung reaksi 1 dan 2 ditambahkan 2 ml H2SO4 1 M. Pada tabung reaksi 3 dan 4 ditambahkan 1 ml H2SO4 1 M. Pada tabung 5 dan 6 tidak ada penambahan H2SO4. Masing-masing dari setiap tabung dimasukkan 3 tetes KMnO4. Hasil yang diperoleh adalah pada tabung reaksi 1 dan 2 rata-rata waktunya adalah 5 detik, pada tabung reaksi 3 dan 4 rata-rata waktunya adalah 88 detik, pada tabung 5 dan 6 rata-rata waktunya adalah 381,5 detik. Dari percobaan diatas dapat diketahui bahwa peranan katalis sangat efektif dalam mempercepat laju reaksi. Hal ini dapat diketahui dengan memberikan KMnO4 ke dalam campuran larutan yang volumenya berbeda-beda.52V. Kesimpulan dan Saran5.1 Kesimpulan1. Kinetika kimia atau kinetika reaksi mempelajari laju reaksi dalam suatu reaksi kimia. Analisis terhadap pengaruh berbagai kondisi reaksi terhadap laju reaksi memberikan informasi mengenai mekanisme reaksi dan keadaan transisi dari suatu reaksi kimia.2. Faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi :a. Konsentrasi: semakin besar konsentrasi maka semakin cepat laju reaksinya.b. Suhu: semakin tinggi suhu maka semakin cepat laju raksinya.c. Katalis: menurunkan energi aktifasi.d. Hukum laju untuk reaksi kimia dalam larutan berair yaitu dengan menentukan orde reaksi masing-masing reaktan V= k [A]m[B]ne. Katalis memiliki peran dalam mempercepat laju reaksi.5.2 Saran1. Saat melakukan praktikum, praktikan harus berhati-hati karena bermain langsung dengan senyawa.2. Alat yang digunakan dalam keadaan baik agar hasil yang diperoleh juga akan lebih baik.53Daftar PustakaAnonim. (2014). Laju reaksi. Dipetik April 25, 2014, dari http://wikipedia.org Brady, J. (1999). Kimia Universitas Asas Dan Struktur Edisi kelima Jilid II. Jakarta: Bina rupa Aksara. Partana, C. F. (2009). Mari Belajar Kimia II. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Permana, I. (2009). Memahami Kimia. Jakarta: Departemen Pendidikan Nasional. Sunarya, Y. (2002). Mudah Dan Aktif Belajar Kimia. Jakarta: Setia Purna Inves.54LampiranPertanyaan Prapraktek1. Apa definisi ringkas dari (a) hukum laju, (b) tetapan laju, (c) orde reaksi, (d) energi aktivasi.2. Apakah satuan tetapan reaksi untuk (a) reaksi orde nol, (b) reaksi orde satu, (c) reaksi orde dua.3. Belerang dioksida mereduksi HIO3 dalam larutan asam dengan reaksi3SO2(g) + 3H2O(l) + HIO3(aq) 3H2SO4(aq) + HI(aq) Pada akhir reaksi, jika terdapat HIO3 berlebih. Zat ini dapat diambil dengan larutan kanji. Senyawa HI dan HIO3 segera bereaksi membentuk I2 yang diserap oleh kanji dan menimbulkan warna biru. Dari percobaan diperoleh data :[SO2] (M)[HIO3] (M)T (detik)14,6 x 10-43,60 x 10-325,87,31 x 10-33,60 x 10-352,814,6 x 10-47,21 x 10-312,6Tentukan orde reaksi untuk setiap pereaksi dan orde keseluruhannya. Jawaban: 1. Devinisia. Hukum laju yaitu persamaan yang mengaitkan laju reaksi dengan konsentrasi molar atau tekanan parsial pereaksi dengan pangkat yang sesuai.b. Tetapan laju adalah tetapan perbandingan antara laju reaksi dan hasil kali konsentrasi spesi yang mempengaruhi laju reaksi. Tetapan laju juga merupakan perubahan konsentrasi pereaktan atau produk reaksi per satuan waktu dalam suatu reaksi jika konsentrasi semua pereaksi sama dengan satu.c. Orde reaksi adalah pangkat bilangan pada konsentrasi reaktan yang memengaruhi laju reaksi.d. Energy aktivasi adalah energy minimum yang diperlukan untuk menghasilkan tumbukan.2. -Orde reaksi nol adalah suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde nol, jika besarnya laju reaksi tersebut tidak dipengaruhi oleh konsentrasi pereaksi. Artinya, seberapa pun peningkatan konsentrasi pereaksi tidak akan mempengaruhi besarnya laju reaksi.55-Orde reaksi satu adalah suatu reaksi kimia dikatakan mempunyai orde satu, apabila besarnya laju reaksi berbanding lurus dengan besarnya konsentrasi pereaksi. Artinya, jika konsentrasi pereaksi dinaikkan dua kali semula, maka laju reaksi juga akan meningkat besarnya sebanyak (2)1 atau 2 kali semula juga. -Orde reaksi dua adalah suatu reaksi dikatakan mempunyai orde dua, apabila besarnya laju reaksi merupakan pangkat dua dari peningkatan konsentrasi pereaksinya. Artinya, jika konsentrasi pereaksi dinaikkan 2 kali semula, maka laju reaksi akan meningkat sebesar (2)2 atau 4 kali semula. Apabila konsentrasi pereaksi dinaikkan 3 kali semula, maka laju reaksi akan menjadi (3)2 atau 9 kali semula. 3. Laju reaksi = 1/tLaju reaksi 1 =125,8 = 0,0387 = 0,04Laju reaksi 2 =152,8 = 0,0189 = 0,02Laju reaksi 3 = 112,6 = 0,0793 = 0,08 Orde reaksi [SO2] Orde reaksi [HIO3]12 = 2 1 2 2 m 13 = HIO3 1 HIO3 3 n0,040,02 = 14,6 x 1047,31 x 104 m 0,040,08 = 3,60 x 1037,21 x 103 n 2 = 2 m 12 = 12 n m = 1 n = 1 Orde reaksi keseluruhan: m + n = 1 + 1 = 2