kelarutan semu

26
KELARUTAN SEMU 1 KELARUTAN SEMU A. TUJUAN Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadapkelarutanbahanobat yang bersifatasamlemah. B. LANDASAN TEORI Kelarutanmerupakansalahsatusifatfisikokimiasenyawaob at yang pentingdalammeramalkanderajatabsorpsiobatdalamsaluranc erna.Obat-obat yang mempunyaikelarutankecildalam air(poorly soluble drugs) seringkalimenunjukkanketersediaanhayatirendahdankecepa tandisolusimerupakantahappenentu (rate limitingstep) pada proses absorpsiobat (1-3) (Zaini, 2011). Kelarutansuatusenyawabergantungpadasifatfisikadankimia AWAL RAFIUL LEO IMAM SUTRISNO, S. Farm. O1A114099

Upload: zaid-farmasi

Post on 25-Sep-2015

259 views

Category:

Documents


0 download

DESCRIPTION

farmasi

TRANSCRIPT

KELARUTAN SEMU

KELARUTAN SEMU 2

KELARUTAN SEMUA. TUJUANTujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh pH larutan terhadapkelarutanbahanobat yang bersifatasamlemah.B. LANDASAN TEORIKelarutanmerupakansalahsatusifatfisikokimiasenyawaobat yang pentingdalammeramalkanderajatabsorpsiobatdalamsalurancerna.Obat-obat yang mempunyaikelarutankecildalam air(poorly soluble drugs) seringkalimenunjukkanketersediaanhayatirendahdankecepatandisolusimerupakantahappenentu (rate limitingstep) pada proses absorpsiobat (1-3) (Zaini, 2011).Kelarutansuatusenyawabergantungpadasifatfisikadankimiazatterlarutdanpelarut, jugabergantungpadafaktor temperature, tekanan, pH larutandanuntukjumlahyanlebihkecil, bergantungpadahalterbaginyazatterlarut (Martin, dkk., 2009).Daya kelarutan suatu zat berkhasiat memegang peranan penting dalam formulasi suatu sediaan farmasi (Kim CK, 1999). Lebih dari 50% senyawa kimia baru yang ditemukan saat ini bersifat hidrofobik. Kegunaan secara klinik dari obat-obat hidrofobik menjadi tidak efisien dengan rendahnya daya kelarutan, dimana akan mengakibatkan kecilnya penetrasi obat tersebut di dalam tubuh (Lawrence, 2000). Kelarutan suatu zat berkhasiat yang kurang dari 1 mg/ml mempunyai tingkat disolusi yang kecil karena kelarutan suatu obat dengan tingkat disolusi obat tersebut sangat berkaitan (Jufri, dkk., 2004).Kelarutanmerupakan parameter yang pentingdiketahuidalampenelitianpreformulasisuatuobatmenjadisuatusediaanfarmasi.Sebelumobatdapatterabsorpsimenembus membrane, obatharusmelaluifasepelarutan di dalamcairantubuh.Kelarutansuatuobatseringkalidipengaruhiolehkeberadaanbahan lain yang harusdigunakansebagaibahantambahandalamformulasi (Akhmad, dkk.,2000).Parameter kelarutanmerupakansuatukonsepyang penting, yang dapatdigunakansebagai parameter pemilihanpelarut.Penggunaan parameter kelarutandalampemilihanpelarutadalahberdasaraturankimia yang telahdikenalyakni like dissolved like. Jikagayaantarmolekulantaramolekulpelarutdansolutmemilikikekuatan yang mirip, makapelaruttersebutmerupakanpelarut yang baikbagisoluttersebut (Hartati, 2012).Asambenzoat (C6H5COOH) merupakansalahsatubahanpengawet yang seringdigunakandalammakanan. Pengawetinisangatcocokdigunakanuntukbahanmakanan yang bersifatasam. Benzoat yang umumdigunakanadalahbenzoatdalambentukgaramnyakarenalebihmudahlarutdibandingasamnya.Dalambahanpangan, garambenzoatteruraimenjadibentukefektifyaitubentukasambenzoat yang tidakterdisosiasi.Bentukinimempunyaiefekracunpadapemakaianberlebihterhadapkonsumen, sehinggapemberianbahanpengawetinitidakmelebihi 0,1% dalambahanmakanan (Siaka, 2009).

C. ALAT DAN BAHAN1. AlatAlat yang digunakanpadapercobaaniniadalah :a. Aluminium foilb. Batangpengadukc. Corongd. Pipet volume 10 mle. Fillerf. Gelaskimia 100 mlg. Pipettetesh. Timbangananalitiki. Labutakar 50 mlj. Tabungreaksi2. BahanBahan yang digunakanpadapercobaaniniadalah :a. Alkohol 70%(b. Aquades ()c. Asambenzoate ()d. Asamsalisilat ()e. Natriumsalisilat()f. KertassaringD. PROSEDUR KERJA1. Pembuatanlarutanasam basaAsamsalisilat-Ditimbangsebanyak 1 g-Dimasukkandalamgelaskimia-Dilarutkandenganalkohol-Dipindahkanlarutankedalamlabutakar 100ml-DitambahkanaquadeshinggatandateraAsamsalisilat 0,1 MNatriumsalisilat-Ditimbangsebanyak 1 g-Dimasukkandalamgelaskimia-Dilarutkandenganaquades-Dipindahkanlarutankedalamlabutakar 100ml-Ditambahkanaquadeshinggatandatera-DipindahkandalambotolgelapNatriumsalisilat 0,1 M

2. Pembuatanlarutan pHAsamsalisilat-Dimasukkandalamgelaskimiasebanyak 12,5 ml denganmenggunakan pipet volume-Ditambahkanlarutannatriumsalisilat 0,1 M sebanyak 12,5 mlLarutanpH 3Asamsalisilat-Dimasukkandalamgelaskimiasebanyak2,5 ml denganmenggunakan pipet volume-Ditambahkanlarutannatriumsalisilat 0,1 M sebanyak 22,5 mlLarutan pH 4

Asamsalisilat-Dimasukkandalamgelaskimiasebanyak 1,5 ml denganmenggunakan pipet volume-Ditambahkanlarutannatriumsalisilat 0,1 M sebanyak 23,5 mlLarutan pH 5Asamsalisilat-Dimasukkandalamgelaskimiasebanyak 0,5 ml denganmenggunakan pipet volume-Ditambahkanlarutannatriumsalisilat 0,1 M sebanyak 24,5 mlLarutan pH 6

3. Ujipengaruh pH terhadapkelarutanasambenzoatAsambenzoat 0,2 g-Dimasukkandalamtabungreaksi-Ditambahkan 10 ml larutan pH 3-Dikocok-Disaringmenggunakankertassaring

Sisaasambenzoat + kertassaringFiltrat Dikeringkandalam oven Ditimbang Dihitungasambenzoat yang larut Dihitungkonsentrasi yang lainHasilPengamatan

E. HASIL PENGAMATAN1. Data PengamatanNo KertassaringkosongKertassaring + residu Massa asambenzoat(A) gram (B) gram (B - A) gram

1. pH 3 = 0,27 0,28 0,01 2. pH 4 = 0,28 0,35 0,073. pH 5 = 0,27 0,43 0,164. pH 6 = 0,28 0,33 0,05

2. Perhitungana. pH 31. Massa terlarutMassa terlarut = massaasambenzoat massatidaklarut = 0,2 g 0,01 g = 0,19 g2. Kelarutanintrinsik () = = = 0,15 M

3. Kelarutansemu (S)

S = 0,16b. pH 41. Massa terlarutMassa terlarut = massaasambenzoat massatidaklarut = 0,2 g 0,07 g = 0,13 g2. Kelarutanintrinsik () = = = 0,11 M

3. Kelarutansemu (S)

S = 0,18c. pH 51. Massa terlarutMassa terlarut = massaasambenzoat massatidaklarut = 0,2 g 0,16 g = 0,04 g2. Kelarutanintrinsik () = = = 0,033 M

3. Kelarutansemu (S)

S = 0,25d. pH 61. Massa terlarutMassa terlarut = massaasambenzoat massatidaklarut = 0,2 g 0,05 g = 0,15 g2. Kelarutanintrinsik () = = = 0,12 M

3. Kelarutansemu (S)

S = 7,86

F. PEMBAHASANKelarutan semu merupakan keadaan dimana suatu larutan terlihat seolah olah larut, padahal masih ada ion ion atau partikel partikel kecil yang belum larut. Kelarutan semu diperoleh berdasarkan pengamatan secara langsung. Sedangkan kelarutan intrinsik merupakan kelarutan yang sebenarnya.Kelarutanmerupakanfaktor yang sangatpentingdalamsuatu proses formulasisediaanobat. Padasediaanliquida, data kelarutanjugasangatdiperlukankarenasediaantersebutmemerlukansuatupembawacair.Padasediaan tablet data kelarutansangatpentinguntukmemperkirakankecepatanabsorpsiobatdalamsalurancerna. Dan merupakansalahsatucarauntukmeningkatkanketersediaanhayatisuatuobat (zataktif) di dalamtubuhkhususnya.Kelarutansuatusenyawabergantungpadasifatfisikadankimiazatterlarutdanpelarut, jugabergantungpadafaktor temperature, tekanan, pH larutandanuntukjumlahyanlebihkecil, bergantungpadahalterbaginyazatterlarut.Praktikuminidilakukanpercobaankelarutanpadabahanobatdenganmenggunakanempatjenislarutan pH yang berbedayaitu pH 3,0 ; pH 4,0 ; pH 5,0 dan pH 6,0. Penggunaan pH yang dibuatberbebeda-bedabertujuanuntukmengetahuipengaruhperubahan pH terhadapkelarutansemuasambenzoat, sehinggavariabelbebasdalamhalinilarutan pH harusdibuatbervariasi.Sedangbahan yang digunakansebagaisampelobat yang akandilihatkelarutansemunyaadalahasam benzoate, sebagaimanadiketahuibahwaasam benzoate merupakansalahsatubahanpengawet yang seringterdapatpadamakanan/minumanringan. Asam benzoate denganrumusmolekul C6H5COOH inibekerjasecaraefektifpada pH 2,5-4,0. Dalambahanpangan ,garam benzoate teruraimenjadibentukefektifyaitubentukasam benzoate yang tidakterdisosiasi. Bentukinimempunyaiefekracunpadapemakaianberlebihterhadapkonsumen, sehinggapemberianbahanpengawetinitidaklebih 0,1 % dalambahanmakanan.Hasil yang diperolehdaripercobaaniniyaitukelarutansemudariasambenzoatsemakintinggipadalarutan pH yang tinggi pula.Hal iniberbandinglurusdenganteoribahwasemakinbesar pH suatularutanmakakelarutanbahanobatsemakinbesar.Jika pH dinaikkan, makakelarutannya pun akanmeningkat, karenaselainterbentuklarutanjenuhobatdalambentukmolekul yang tidakterionkan (kelarutan intrinsic) jugaterlarutobat yang terbentuk ion.Satuhal yang menjadikesalahanpadapercobaaniniyaitukelarutansemudariasambenzoatpada pH 6,0sebenarnyalebihtinggidarihasil yang didapatkan. Hal inidisebabkankarenapraktikan yang kuranghati-hatipadasaatmengeringkankertassaring di oven sehinggamenyebabkankertassaringterbongkardanresidubanyak yang jatuh. Hal inimenyebabkankurangnyaberatresidupada proses penimbangan. Namunhasilinisudahcukupmemuaskankarenahasilsudahsesuaidenganteori.

G. KESIMPULANBerdasarkanpraktikum yang telahdilakukan, dapatdisimpulkanbahwasemakinbesar pH suatularutanmakakelarutanbahanobatsemakinbesar.Yaitupadalarutan pH 3,0 : 0,16 ; larutan pH 4,0 : 0,18 ; larutan pH 5,0 : 0,25 ; sertalarutan pH 6,0 : 7,86.

DAFTAR PUSTAKA

Akhmad, K.N., Suwaldi, M.,danTedjo, Y., 2006, PengaruhPropilenGlikolTerhadapKelarutanSemuTeofilindanKofein, Majalah Farmasi Indonesia, Vol. 11 (3),161-167.

Hartati, I., 2012, PrediksiKelarutanTheobrominepadaBerbagaiPelarutMenggunakan Parameter Kelarutan Hildebrand, Momentum, Vol. 8(1), 11-16.Jufri, M., Binu, A.,Rahmawati,J., 2004,FormulasiGameksandalamBentukMikroemulsi, MajalahIlmuKefarmasian, Vol. 1 (3), 160-174.

Marten, A., James, S., Arthur, C., 2009, FarmasiFisikedisi 3 Jilid 1, Universitas Indonesia (UI-Press), Jakarta.Siaka, I.M., 2009, AnalisisBahanPengawet Benzoate PadaSaosTomat yang Beredar di Wilayah Kota Denpasar, Jurnal Kimia, Vol 3 (2), Hal 87-92.

Zaini, E., Halim, A., Soewandhi, S., Setyawan, D., 2011, PeningkatanLajuPelarutanTrimetoprimMelaluiMetodeKo-Kristalisasidengan Nikotinamida, JurnalFarmasi Indonesia, Vol. 5 (4),205-212.

AWAL RAFIUL LEO IMAM SUTRISNO, S. Farm.O1A114099