kelarutan intrinsik obat (ismayani)

37
KELARUTAN INTRINSIK OBAT A. Tujuan Adapun tujuan pada percobaan ini yaitu: 1. Untuk menetapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat 2. Untuk mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat. B. Landasan Teori Titrasi adalah suatu metode kimia analisis kuantitatif yang dapat digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu dengan cara mereaksikan sejumlah volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui secara tepat. Titrasi biasa dibedakan berdsarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam proses titrasi, misalnya proses tittasi asam- basa yang artinya melibatkan larutan asam-basa (Purba, 2007).

Upload: ismayani-arifin

Post on 05-Aug-2015

365 views

Category:

Documents


6 download

TRANSCRIPT

Page 1: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

KELARUTAN INTRINSIK OBAT

A. Tujuan

Adapun tujuan pada percobaan ini yaitu:

1. Untuk menetapkan faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan zat

2. Untuk mengetahui pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat.

B. Landasan Teori

Titrasi adalah suatu metode kimia analisis kuantitatif yang dapat

digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu larutan tertentu dengan cara

mereaksikan sejumlah volume larutan lain yang konsentrasinya sudah diketahui

secara tepat. Titrasi biasa dibedakan berdsarkan jenis reaksi yang terlibat di dalam

proses titrasi, misalnya proses tittasi asam-basa yang artinya melibatkan larutan

asam-basa (Purba, 2007).

Pada pengukuran konsentrasi larutan dengan menggunakan metode titrasi

asam-basa, biasanya secara umum yang sering dilakukan adalah dengan menetesi

larutan uji, yang sebelumnya telah diberi larutan indikator, apabila terjadi

peribahan warna yang disebut titik akhir maka penetesan larutan dihentikan.Dan

ini disebut larutan yang diuji setara secara kimia dengan larutan uji (Yulianto,

2009).

Indikator umumnya adalah senyawa yang berwarna, dimana senyawa

tersebut akan berubah warnanya dengan adanya perubahan pH. Indikator dapat

menanggapi munculnya kelebihan titran dengan adanya perubahan

Page 2: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

warna.Indikator berubah warna karena system kromofornya diubah oleh reaksi

asam basa (Suirta, 2010).

Melarut tidaknya suatu zat dalam suatu sistem tertentu dan

besarnya kelarutan, sebagian besar tergantung pada sifat serta

intensitas kekuatan yang ada pada zat terlarut-pelarut dan resultan

interaksi zat terlarut-pelarut (Lachman dkk, 1989).

Dalam besaran kuantitatif kelarutan didefinisikan sebagai konsentrasi zat

terlarut dalam larutan jenuh pada temperatur tertentu, dan secara kualitatif

didefinisikan sebagai interaksi spontan dari dua atau lebih zat untuk membentuk

dispersi molekuler homogen.Suatu larutan tidak jenuh atau hampir jenuh adalah

larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi di bawah konsentrasi

yang dibutuhkan untuk penjenuhan yang sempurna pada temperatur

tertentu.Larutan jenuh adalah suatu larutan dimana zat terlarut berada dalam

keadaansetimbang dengan fase padat. Sedangkan larutan lewat jenuh adalah suatu

larutan yang mengandung zat terlarut dalam konsentrasi lebih banyak dari

yangseharusnya pada temperatur tertentu terdapat juga zat terlarut yang tidak

larut, keadaan lewat jenuh mungkin terjadi apabila inti kecil zat terlarut yang

dibutuhkan untuk pembentukan kristal permulaan lebih mudah larut daripada

kristal besar, sehingga menyebabkan sulitnya inti terbentuk dan tumbuh dengan

akibat kegagalan kristalisasi (Martin dkk, 1993).

Kelarutan suatu senyawa bergantung pada sifat fisika dan kimia zatterlarut

dan pelarut, selain itu dipengaruhi pula oleh faktor temperatur, tekanan, pH

Page 3: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

larutan dan untuk jumlah yang lebih kecil bergantung pada terbaginya zat terlarut

(Martin dkk, 1993).

Asam salisilat yang memiliki rumus molekul C6H4COOHOH berbentuk

Kristal kecil berwarna merah muda terang hingga kecoklatan yang memiliki berat

molekul sebesar 138,123 g/mol dengan titik leleh sebesar 1560C dan densitas pada

250C sebesar 1,443 g/mL. Mudah larut dalam air dingin tetapi dapat melarutkan

dalam panas.Asam salisilat dapat menyublim tetapi dapat terdekomposisi dengan

mudah menjadi karbon dioksida dan phenol bila dipanaskan secara cepat pada

suhu sekitar 2000C.Selain itu asam salisilat mudah menguap dalam steam.Asam

salisilat merupakan salah satu bahan kimia yang banyak digunakan sebagai bahan

intermediet dari pembuatan obat-obatan seperti antiseptik dan analgesik serta

pembuatan bahan baku untuk keperluan farmasi (Kristian, 2007).

Page 4: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

C. Alat dan Bahan

1. Alat

Adapun alat yang digunakan pada percobaan ini yaitu:

a. Pipet tetes

b. Erlenmeyer 250 mL

c. Statif dan klem

d. Tabung reaksi

e. Pipet ukur 10 mL

f. Filer

g. Buret 50 mL

h. Gelas arloji

i. Timbangan analitik

j. Rak tabung reaksi

k. Corong

2. Bahan

Adapun bahan yang digunakan pada percobaan ini yaitu:

a. Asam salisilat

b. NaOH 0,1 N

c. Propilen glikol

d. Etanol

e. Aquadest

f. Tissue

g. Kertas saring

Page 5: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

D. Prosedur Kerja

- Dimasukkan ke dalam tabung reaksi 1-7- Ditambahkan etanol:

Tabung I = 0 mLTabung II = 0,5 mLTabung III = 1 mLTabung IV = 1,5 mLTabung V = 3 mLTabung VI = 3,5 mLTabung VII = 4 mL

- Ditambahkan propilen glikol:Tabung I = 4 mLTabung II = 3,5 mLTabung III = 3 mLTabung IV = 1,5 mLTabung V = 1 mLTabung VI = 0,5 mLTabung VII = 0 mL

- Ditambahkan asam salisilat 1 gr pada tabung 1-7- Dikocok selama 30 menit- disaring

-- ditambahkan indikator pp 3 tetes- dititrasi dengan NaOH 0,1 N- dicatat volume NaOH yang digunakan- ditentukan kadar asam salisilat

Tabung I = 0,134Tabung II = 0,04Tabung III = 0,08Tabung IV = 0,07Tabung V = 0,1Tabung VI = 0,11Tabung VII = 0,07

Aquadest 6 mL

Residu Filtrat

Page 6: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

E. Hasil pengamatan

1) Tabel hasil pengamatan

Tabung

ke-

Volume (mL) Volume NaOH yang

digunakan (mL)Air Etanol P. Glikol

1 6 0 4 6,7

2 6 0,5 3,5 2

3 6 1 3 4

4 6 1,5 2,5 3,5

5 6 3 1 5

6 6 3,5 0,5 5,5

7 6 4 0 3,5

2) Perhitungan

1. Molaritas NaOH

Diketahui : Normalitas NaOH = 0,1 N

Ditanyakan : Molaritas NaOH…….?

Perhitungan :

N=M ×ek

M= Nek

M=0,1

grekL

1 grek

mol

Page 7: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

M=0,1 mol

L

M=0,1 Molar

2. Kadar asam salisilat

Tabung 1

Diketahui : V NaOH = 6,7 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

6,7 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,134 M

Tabung II

Diketahui : V NaOH = 2 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

2 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,04 M

Page 8: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Tabung III

Diketahui : V NaOH = 4 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

4 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,08 M

Tabung IV

Diketahui : V NaOH = 3,5 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

3,5 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,07 M

Tabung V

Diketahui : V NaOH = 5 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Page 9: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

5 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,1 M

Tabung VI

Diketahui : V NaOH = 5,5 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

5,5 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,11 M

Tabung VII

Diketahui : V NaOH = 3,5 mL

M NaOH = 0,1 M

V asam salisilat = 5 mL

Ditanyakan : Kadar asam salisilat…….?

Perhitungan :

V NaOH x M NaOH = V asam salisilat x M asam salisilat

3,5 mL x 0,1 M = 5 mL x M asam salisilat

M asam salisilat = 0,07 M

Page 10: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

3. Konstanta dielektrik (ε) masing-masing pelarut dalam pelarut

campuran

1. Konstanta dielektrik air dalam pelarut campur

Pada tabung I – VII

Diketahui : ε air = 80,4

V air = 60 (% v/v)

Ditanyakan : ε air dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

ε air dalam pelarut campur = ε air × % v/v air

=80,4 ×60

100

= 48,24

2. Konstanta dielektrik etanol (alkohol)

Tabung I

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 0 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Page 11: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

0100

= 0

Tabung II

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 5 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanol dalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

5100

= 1,285

Tabung III

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 10 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

Page 12: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

= 25,7 ×

10100

= 2,57

Tabung IV

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 15 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

15100

= 3,855

Tabung V

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 30 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

30100

= 7,71

Page 13: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Tabung VI

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 35 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

35100

= 8,995

Tabung VII

Diketahui : ε etanol = 25,7

V etanol = 40 (% v/v)

Ditanyakan : ε etanol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εetanoldalam pelarut campur = ε etanol × % v/v etanol

= 25,7 ×

40100

= 10,28

3. Konstanta dielektrik propilen glikol

Tabung I

Diketahui : ε p.glikol = 50

V p.glikol = 40 (% v/v)

Page 14: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

ε p.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 50 ×

40100

= 20

Tabung II

Diketahui : ε p.glikol = 50

V p.glikol = 35 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

ε p.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 50 ×

35100

= 17,5

Tabung III

Diketahui : ε p.glikol = 42.5

V p.glikol = 30 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εp.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

Page 15: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

= 50 ×

30100

= 15

Tabung IV

Diketahui : ε p.glikol = 50

V p.glikol = 15 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εp.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 50 ×

15100

= 7,5

Tabung V

Diketahui : ε p.glikol = 50

V p.glikol = 10 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εp.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 50 ×

10100

= 5

Page 16: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Tabung VI

Diketahui : ε p.glikol = 50

V p.glikol = 5 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εp.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 50 ×

5100

= 2,5

Tabung VII

Diketahui : ε p.glikol = 42.5

V p.glikol = 0 (% v/v)

Ditanyakan : ε p.glikol dalam pelarut campur…….?

Perhitungan :

εp.glikol dalam pelarut campur = ε × % v/v

= 42.5 ×

0100

= 0

Page 17: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Konstanta dielektrik pelarut campur

Tabung

Ke-ε air

ε

alkohol

ε

P.Glikol

ε pelarut campur

(ε air + ε alkohol + ε gliserol)

Kadar Asam

Salisilat

1 48,24 0 20 68,24 0,134

2 48,24 1,285 17,5 67,025 0,04

3 48,24 2,57 15 65,81 0,08

4 48,24 3,855 7,5 59,595 0,07

5 48,24 7,71 5 60,95 0,1

6 48,24 8,995 2,5 59,735 0,11

7 48,24 10,28 0 58,52 0.07

3) Grafik HasilPercobaan

0.04 0.07 0.07 0.08 0.1 0.11 0.13452545658606264666870

Kurva Hubungan ε Pelarut Campur vs Kadar Asam Aalisilat

Kadar Asam Aalisilat

ε Pe

laru

t Cam

pur

Page 18: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

F. Pembahasan

Kelarutan atau solubilitas adalah kemampuan suatu zat kimia tertentu, zat

terlarut (solute), untuk larut dalam suatu pelarut (solvent).Kelarutan dinyatakan

dalam jumlah maksimum zat terlarut yang larut dalam suatu pelarut pada

kesetimbangan.Larutan hasil disebut larutan jenuh.Zat-zat tertentu dapat larut

dengan perbandingan apapun terhadap suatu pelarut.

Kelarutan suatu senyawa tergantung pada sifat fisika kimia zat pelarut dan

zat terlarut, temperatur, pH larutan, tekanan untuk jumlah yang lebih kecil

tergantung pada hal terbaginya zat terlarut.Bila suatu pelarut pada temperatur

tertentu melarutkan semua zat terlarut sampai batas daya melarutkannya larutan

ini disebut larutan jenuh.

Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan suatu zat padat dalam cairan

antara lain, Intensitas Pengadukan, pH (keasaman atau kebasaan), suhu, komposisi

cairan pelarut, ukuran partikel, pembentukan kompleks, dan tekanan.Tahap-tahap

terjadinya kelarutan adalah sebagai berikut :

1. Tahap pertama menyangkut pemindahan suatu molekul zat dari zat terlarutatau

pelepasan satu molekul dari kristal solut pada temperatur tertentu.

2. Tahap kedua menyangkut pembentukan lubang dalam pelarut yang cukup besar

untuk menerima molekul zat terlarut.

3. Tahap ketiga molekul zat terlarut akhirnya ditempatkan dalam lubang pelarut.

Pada percobaan kali ini ditentukan kelarutan asam salisilat dengan

menggunakan pelarut campur yaitu akuades, etanol dan propilen glikol.Karena

pada percobaan ini dilakukan dengan menggunakan metode titrasi, maka

Page 19: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

diperlukan juga indikator di tiap perlakuan sebagai penanda ketika nanti telah

tercapainya titik akhir titrasi.

Percobaan ini dilakukan pada tujuh sampel dengan variasi volume etanol

dan propilen glikol di tiap tabung itu berbeda, namun massa asam salisilat dan

volume akuades tetap sama di tiap tabung. Propilen glikol merupakan suatu zat

yang kental yang bersifat nonpolar, sedangkang etanol dan aquadest besifat polar.

Dan perlakuan selanjutnya harus dihomogenkan dengan mengocoknya selama 30

menit. Alasan dari penambahan pelarut campur dengan volume yang berbeda

yaitu untuk melihat kepolaran dari zat terlarut tersebut.

Percobaan dilakukan dengan metode titrasi asam basa. Itu dikarenakan

sampel yang akan diuji kelarutannya serta penentuan kadarnya adalah asam,

sehingga dengan metode ini dapat mempermudah proses atupun percobaan yang

dilakukan. Teorinya, ketika makin banyak volume NaOH yang digunakan nanti,

maka akan semakin sedikit terlarutnya zat. Karena dibutuhkan banyak NaOH

untuk dapat menyetarakan mol dengan asam salisilat.

Berdasarkan percobaan yaitu dari penambahan etanol dan propilen glikol

yang bervariasi di tiap tabung, maka volume NaOH yang ditambahkan dalam

proses titrasi ini bervariasi pula untuk mencapai titik akhir titrasi dan titik

ekuivalennya. Seperti contoh pada tabung I yang menggunakan propilen glikol

sebanyak 4 mL dan tanpa menggunakan etanol, diperlukan NaOH sebanyak 6.7

mL untuk dapat mencapai titik akhir titrasinya. Kemudian pada tabung II dengan

etanol sebanyak 0.5 mL dan propilen glikol sebanyak 3.5 mL, diperlukan NaOH

sebanyak 2 mL. Begitu selanjutnya pada tabung III, IV, V, VI, dan VII,

Page 20: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

ditambahkan etanol sebanyak 1, 1.5, 3, 3.5, dan 4 mL kemudian propilen glikol

sebanyak 3, 1.5, 1, 0.5, dan 0 mL, sehingga untuk mencapai titik akhir titrasinya

diperlukan NaOH sebanyak 4, 3.5, 5, 5.5, dan 3.5 mL.

Dari hasil maka didapatkan kadar asam salisilat yang larut pada tabung I,

II, III, IV, V, VI, VII yaitu 0.134, 0.04, 0.08, 0.07, 0.1, 0.11, dan 0.07. Dan untuk

konstanta dielektrik pelarut campurnya yaitu 68.24, 67.025, 65.81, 59.595, 60.95,

59.735, dan 58.52.

Bardasarkan teori, konstanta dielektrik pelarut campur berbanding terbalik

dengan zat terlarut. Yaitu makin banyak konstanta dielektrik pelarut campurnya,

maka akan semakin sedikit zat terlarut. Seharusnya didapatkan hasil yang berurut

sesuai dengan konstanta dielektrik pelarut campurnya untuk melihat kelarutan,

yaitu dari tabung I hingga tabung VII.Namun pada percobaan kali ini didapatkan

hasil yang berbeda dari teori.Susunan berdasarkan hasil yang didapat yaitu tabung

I, II, III, V, VII, IV, kemudian VII.

Teori yang kedua, kepolaran berbanding lurus dengan asam salisilat yang

larut. Yaitu makin banyak zat yang bersifat polar dalam larutan tersebut, maka

akan makin banyak zat yang larut. Dalam percobaan ini dimisalkan dengan, ketika

makin banyak campuran dari etanol, maka zat yang terlarut akan makin banyak,

sebab etanol yang bersifat polar akan melarutkan asam salisilat, kemudian

didukung juga dengan adanya aquadest yang bersifat polar juga. Dibandingkan

propilen glikol yang bersifat nonpolar sehingga sulit melarutkan. Berdasarkan

teori, seharusnya didapatkan hasil tabung VII yang memiliki kadar kelarutan

paling tinggi dibandingkan dengan yang lain karena pada tabung VII yang

Page 21: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

memiliki tambahan etanol yang paling banyak dibandingkan tabung lainnya.

Namun kali ini berbeda.Didapatkan hasil I, VI, V, III, VII, IV, kemudian II.

Perbedaan hasil pada percobaan dengan teori bisa saja terjadi.Adapun

penyebabnya bisa dari alat, praktikan, ataupun kesalahan dalam prosedur

kerja.Pada percobaan kali ini, perbedaan antara hasil dengan teori diduga

diakibatkan karena pada pengocokan menggunakan tangan padahal seharusnya

pada percobaan menggunakan alat pengocok orbital agar pengocokan lebih

merata. Kemudian waktu pegocokan seharusnya 2 jam, namun dipotong menjadi

30 menit saja, mengingat waktu yang begitu terbatas. Dan yang terakhir kesalahan

dapat disebabkan olah praktikan sendiri karena kurangnya ketelitian.

Page 22: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

G. Kesimpulan

Adapun kesimpulan dari percobaan ini yaitu:

1. Faktor-faktor yang mempengaruhi kelarutan yaitu intensitas pengadukan,

pH (keasaman atau kebasaan), suhu, komposisi cairan pelarut, ukuran

partikel, pembentukan kompleks, dan tekanan.

2. Adapun pengaruh pelarut campur terhadap kelarutan suatu zat yaitu untuk

melihat kepolaran dari zat tersebut.

Page 23: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

DAFTAR PUSTAKA

Abdassah, Marline. 1990. Liposom sebagai Sistem Penghantar Obat Kanker . Jurusan Farmasi FMIPA UNPAD. Jatinangor-Sumedang.

Avery, H. E. 1981. Basic Reaction Kinetics and Mechanism. Formerly PrincipalLecturer in Chemitry. Lanchester Polytechnics Coventry.

Chang, Raymond. 2006. Kimia Dasar Jilid 2. Jakarta. Erlangga.

Clark, Jim. 2007. Basa Kuat dan Basa Lemah. http://www.che-is-try.org/materi_kimia/kima_fisika1/kesetimbangan_asam_basa/basa_kuat_dan_basa_lemah/ .Diakses 21 Mareet 2011.

Daintith, Jonh. 2010. Kamus Lengkap Kimia. Erlangga. Jakarta.

Damunir. 2007. Aspek Kinetika Reaksi Kernel U3O8 Dengan Gas H2 Terhadap Karakreristik Energi Aktivitas, Konstanta Laju Reaksi Rasio O/U Kernel UO2. Jurnal Tek. Bhn. Nukl. Vol. 3 No.2. Pusat Teknologi Akselerator dan Proses Bahan – BATAN. Yogyakarta.

Ditjen POM. 1979. “Farmakope Indonesia” Edisi III. Departemen Kesehatan RI. Jakarta.

Herlina, Elin. 2008. Upaya Peningkatan Kelarutan Hidroklortiazida dengan Penambahan Surfaktan Tween 60. Skripsi. Universitas Muhammadiyah. Surakarta.

http://id.wikipedia.org/wiki/asam-lemah. Diakses 21 Maret 2011.

Irawan, M.K., Hendra, C. 2004. Perancangan Kontrol Ph Pada Proses Titrasi Asam Basa.Jurnal Proses Penetralan pH. Jurusan Teknik Fisika – Fakultas Teknologi Industri. Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Surabaya.

Kristian dkk. 2007. Penentuan Waktu kelarutan pada Uji Disolusi Obat. FMIPA USU. Medan.

Lachman, dkk. 1994. Teori dan Praktek Farmasi Industri II. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Mangkoedihardjo, Sarwoko. 2005. Perencanaan Tata Ruang Fitostruktur Wilayah Pesisir Sebagai Penyangga Perencanaan Tata Ruang Wilayah Daratan. Jurusan Teknik Lingkungan ITS: Surabaya.Martin, A., Arthur

Page 24: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

C., James S. 1993. Farmasi Fisik, Edisi Ketiga Jilid 1. Universitas Indonesia Press. Jakarta.

Martin, A., Arthur C., James S. 1993. Farmasi Fisik Edisi ke-3.UI-Press. Jakarta.

Mildy, Sahri David. 2010. Teori Asam Basa. http://sahri.ohlog.com/teori-asam-basa.oh80823.html . Diakses 21 Maret 2011.

Moechtar. 1987. Farmasi Fisika; Bagian Larutan dan Sistem Dispersi. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.

Noorma R. 2004. Studi Kelarutan Astemizol(2): Perhitungan Rasio Saturasi dan Penentuan Parameter Termodinamika pada Proses Solubilisasi Miselar Menggunakan Tween 80 sebagai Solrrbilizing Agent.. Fakultas Farrnasi Universitas Airlangga. Jakarta.

Nugroho, A. K., Suwaldi M., Tedjo M. 2000. Pengaruh Propilen Glikol Terhadap Kelarutan Semu Teofilin dan Kofein. Majalah Farmasi 11 (3). Fakultas Farmasi Universitas Gadjah Mada. Yogyakarta.

Petrucci, R.H. 1987. Kimia Dasar. Erlangga. Bogor.

Sastrohamidjojo, Hardjono. 2001. Kimia Dasar. UGM Press. Yogyakarta.

Soesilo, Diana, Rinna E.S., Indeswati D. 2005. Peranan sorbitol dalam mempertahankan kestabilan pH saliva pada proses pencegahan karies. Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Airlangga: Surabaya. Suirta, I W. 2010. Sintesis Senyawa Orto-fenilazo-2-Naftol sebagai Indikator Dalam Titrasi. Universitas Udayana, Bukit Jimbaran. Bali.

Suirta, I W. 2010. Sintesis Senyawa Orto-Fenilazo-2-Naftol sebagai Indikator dalam Titrasi. Universitas Udayana, Bukit Jimbaran. Bali.

Svehla, G. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Mikro dan Semimikro. PT. Kalman Media Pustaka. Jakarta Yulianto, 2009. Aplikasi PPI 8255 sebagai Alat Ukur Konsentrasi Larutan Metode Titrasi. UMM. Malang.

Underwood, A. L dan Day A. R. 1990. Analisis Kimia Kuantitatif Edisi Kelima. Penerbit Erlangga. Jakarta.

Utami, T. S., Rita A., Doddy N. 2007. Kinetika Reaksi Transesterifikasi CPO terhadap Produk Metil Palmitat dalam Reaktor Tumpa, ISSN. UI. Depok.

Page 25: kelarutan intrinsik obat (ismayani)

Widyaningsih, Linda. 2009. Pengaruh Penambahan Kosolven Propilen Glikol Terhadap Kelarutan Asam Mefenamat. Skripsi. Universitas Muhammadiyah. Surakarta.

Yulianto. 2009. Aplikasi PPI 8255 sebagai Alat Ukur Konsentrasi Larutan Metode Titrasi. UMM. Malang.

Zulkifly, Oktavian. 2003. http://zulfiky.blogspot.com/2010/03/larutan-penyangga.html. Diakses pada 18 maret 2011.