kedaruratan tht fix

of 77/77
REFERAT KEDARURATAN THT ILMU KESEHATAN THT ANGGOTA KELOMPOK : Nama Rina Biariani D. Fitriana Wijayati Bagus Haryo Kusumaputra NIM 0210101010 02 0310101010 72 0420101010 08 Kelompok G2 Z2B H1 Dokter Pembimbing : dr. Bambang Indra, Sp.THT

Post on 02-Jan-2016

241 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

kedaruratan dalam tht

TRANSCRIPT

PENDAHULUAN

REFERAT KEDARURATAN THTILMU KESEHATAN THT

ANGGOTA KELOMPOK:Nama

Rina Biariani D.

Fitriana Wijayati

Bagus Haryo KusumaputraNIM

021010101002

031010101072

042010101008Kelompok

G2

Z2B

H1

Dokter Pembimbing:

dr. Bambang Indra, Sp.THTDisusun Untuk Melaksanakan Tugas Kepaniteraan Klinik Madya

LAB/SMF Ilmu Kesehatan THT FK UNEJ-RSD Dr. Soebandi Jember

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS JEMBER

2009PENDAHULUAN

Kedaruratan Telinga, Hidung dan Tenggorokan (THT) meupakan hal yang penting untuk diketahui. Kelainan pada telinga, hidung dan tenggorokan dapat terlokalisasi pada system organ atau keseluruhan pada multi system proses penyakit. Kegawat daruratan yang meliputi telinga, hidung dan tenggorokan dapat menjadi sumber kecemasan, bukan hanya untuk pasien tetapi juga bagi keluarga pasien karena dapat mengancam jiwa, menimbulkan gangguan fungsi dan menimbulkan kecacatan. Diagnosis yang tepat dan penanganan yang cepat dapat mengurangi angka kematian dan kesakitan. Secara anatomi ruang lingkup THT yang kecil dan kompleks memiliki dampak vital terhadap kehidupan. Secara anatomi letak telinga dan hidung dekat dengan otak dan hidung juga berhubungan dengan orbita. Penanganan yang telat terhadap infeksi di hidung dan telinga dapat menyebabkan komplikasi intrakranial atau orbita yang dapat meningkatkan angka kesakitan dan kematian. THT juga berhubungan dengan sistem pernapasan yang merupakan bagian penting dari kehidupan. Pada anak-anak sering terjadi sumbatan akibat benda asing yang ditelan oleh anak tanpa pengawasan orang tua. Benda-benda yang sering tertelan oleh anak-anak adalah koin, kancing dan mainan anak-anak yang kecil. Terkadang juga terdapat makanan yang tersumbat karena terlalu besar. Anak laki-laki terinhalasi benda asing dua kali lebih banyak daripada anak perempuan, dan kira-kira 80% dari penderita adalah anak-anak di bawah umur 4 tahun. Kacang tanah dan kacang kacangan lainnya yang dapat dimakan, merupakan kasus yang terbanyak didapat dan letaknya di bronkhus kanan sedikit lebih banyak daripada di bronkhus kiri.

Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak segera ditolong. Beberapa virus penyebab ketulian mendadak sensorineural ditemukan pada kasus-kasus penyakit MUMPS, measles, rubella, dan influenza yang disebabkan oleh infeksi adenovirus dan sitomegalovirus (CMV).Pada referat ini akan dibahas lebih lanjut mengenai kedaruratan THT yang mana dibagi menjadi kedaruratan THT yang mengancam jiwa, menimbulkan gangguan fungsi, dan menimbulkan kecacatan, yaitu mencakup sumbatan laring, epistaksis posterior, komplikasi omsk, tuli mendadak, dan trauma maksilofasial.SUMBATAN LARING

Gambar: Anatomi laring

Sumber: http://www.pitt.edu/~crosen/voice/anatomy2.html

Laring atau organ pembentuk suara, merupakan jalan nafas bagian atas, terletak antara trakhea dan pangkal lidah. Pembagian laring berdasarkan kepentingan klinik yang berkaitan dengan lokasi suatu kelainan yang timbul, maka laring dibagi menjadi 3 bagian:1. Supraglotis tidak lain adalah daerah vestibulum laring, yang meliputi epiglotis, plika ariepiglotis, aritenoid dan plika ventrikularis.

2. Glotis adalah daerah laring setinggi plika vokalis. Daerah ini meliputi plika, rima glotis dan komisura anterior serta komisura posterior.

3. Subglotis adalah daerah dibawah plika vokalis sampai tepi bawah kartilago krikoid. (Bambang S. 1993)Laring sebagai fungsi pernapasan merupakan saluran napas yang paling sempit, oleh karena itu tidak dapat disangkal lagi bahwa laring merupakan saluran napas yang sering mendapat gangguan. Gangguan laring yang paling serius adalah menjadi sempitnya rima glotis yang memang sudah kecil. (Bambang S. 1993)Pada anak-anak sering terjadi sumbatan akibat benda asing yang ditelan oleh anak tanpa pengawasan orang tua. Benda-benda yang sering tertelan oleh anak-anak adalah koin, kancing dan mainan anak-anak yang kecil. Terkadang juga terdapat makanan yang tersumbat karena terlalu besar. Etiologi yang dapat menyebabkan sumbatan laring dibagi menjadi :

1. Benda asing

2. Trauma3. Infeksi, seperti epiglotitis 4. Neoplasma, seperti tumor laring5. Gangguan neurogenik pada laring: Parese pita suara bilateral

Gejala dan tanda sumbatan yang tampak adalah :

Serak (disfoni) sampai afoni

Sesak napas (dispnea)

Stridor (nafas berbunyi) yang terdengar pada waktu inspirasi.

Cekungan yang terdapat pada waktu inspirasi di suprasternal, epigastrium, supraklavikula dan interkostal. Cekungan itu terjadi sebagai upaya dari otot-otot pernapasan untuk mendapatkan oksigen yang adekuat.

Gelisah karena pasien haus udara (air hunger)

Warna muka pucat dan terakhir menjadi sianosis karena hipoksia.Jakson membagi sumbatan pada laring menjadi 4 stadium dengan tanda dan gejala:Stadium 1

Cekungan tampak pada waktu inspirasi di suprasternal, stridor pada waktu inspirasi dan pasien masih tenang.

Stadium 2

Cekungan pada waktu inspirasi didaerah suprasternal makin dalam, ditambah lagi dengan timbulnya cekungan didaerah epigastrium. Pasien sudah mulai gelisah. Stridor terdengar pada waktu inspirasi.

Stadium 3

Cekungan selain didaerah suprasternal, epigastrium juga terdapat di infraklavikula dan sela-sela iga, pasien sangat gelisah dan dispnea. Stridor terdengar pada waktu inspirasi dan ekspirasi.

Stadium 4

Cekungan-cekungan di atas bertambah jelas, pasien sangat gelisah, tampak sangat ketakutan dan sianosis. Jika keadaan ini berlangsung terus maka pasien akan kehabisan tenaga, pusat pernapasan paralitik karena hiperkarpnea. Pasien lemah dan tertidur, akhirnya meninggal karena asfiksia.

(Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E. dalam Iskandar, N. dan Sopeardi, E. A. 2007)Dalam penatalaksanaan sumbatan pada prinsipnya diusahakan supaya jalan napas lancar kembali. Tindakan konservatif dengan pemberian anti inflamasi, anti alergi, antibiotika, serta pemberian oksigen intermiten dilakukan sumbatan stadium 1 yang disebabkan peradangan. Tindakan operatif atau resusitasi untuk membebaskan jalan napas ini dapat dengan cara memasukkan pipa endotrakea melalui mulut (intubasi orotrakea) atau melalui hidung (intubasi nasotrakea), membuat trakeostoma atau melakukan krikotirotomi.

Intubasi endotrakea dan trakeostomi dilakukan pada pasien dengan sumbatan stadium 2 dan 3, sedang krikotirotomi dilakukan pada sumbatan stadium 4. Tindakan operatif atau resusitasi dapat dilakukan berdasarkan analisis gas darah (pemeriksaan gas darah).

Bila fasilitas tersedia, maka intubasi endotrakea pilihan pertama, sedangkan jika ruangan intensif tidak tersedia, sebaiknya dilakukan trakeostomi. Apabila pada sumbatan laring total dilakukan prasat Heimlich untuk pertolongan pertama untuk mencegah kematian. (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E. dalam Iskandar, N. dan Sopeardi, E. A. 2007)Benda Asing

Benda asing yang sering masuk laring antara lain: biji-bijian, serpihan atau potongan tulang, jarum pada valekula, sinus piriformis atau glotis.Benda asing dilaring dapat menutup laring, tersangkut diantara pita suara atau berada di subglotis. Gejala sumbatan laring tergantung pada besar, bentuk dan letak benda asing. Sumbatan total di laring akan menimbulkan keadaan yang gawat biasanya kematian mendadak karena terjadi asfiksia dalam waktu singkat. Hal ini disebabkan oleh timbulnya spasme laring dengan gejala antara lain disfonia sampai afoni, apne dan sianosis. Sumbatan tidak total di laring dapat menyebabkan gejala suara parau, disfonia sampai afonia, batuk yang disertai sesak, odinofagia, mengi, sianosis, hemoptisis dan rasa subjektif dari benda asing dan dipsnea dengan derajat bervariasi. (Junizaf, M. H, 2007)Diagnosis ditegakkan dengan pemeriksaan laringoskopi indirekta atau direkta. Secara prinsip benda asing di saluran napas diatasi dengan pengangkatan segera dengan endoskopi dalam kondisi paling aman dengan trauma minimum. Pada anak dengan sumbatan total pada laring dapat dicoba dengan memegang anak dengan posisi terbalik, kepala dibawah, kemudian daerah punggung dipukul. Cara lain adalah dengan perasat Heimlich. Pada sumbatan benda asing tidak total di laring, perasat Heimlich tidak dapat digunakan. Dalam hal ini pasien masih dapat dibawa ke rumah sakit terdekat untuk diberi pertolongan dengan menggunakan laringoskop atau bronkoskopi, atau kalau alat alat tersebut tidak ada dilakukan traekostomi. (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)Trauma Laring

Trauma pada laring dapat berupa trauma tumpul yang dapat menghancurkan struktur laring juga menyebabkan cedera pada jaringan lunak seperti otot, saraf, dan pembuluh darah. Hal ini dapat terjadi dalam kehidupan sehari-hari seperti leher terpukul oleh tangkai pompa air, leher membentur dash board dalam kecelakaan waktu mobil berhenti tiba-tiba, tertendang atau terpukul waktu berolah raga beladiri, berkelahi, dicekik atau usaha bunuh diri dengan menggantung diri. Trauma akibat tindakan medik juga dapat menyebabkan sumbatan jalan napas atas seperti tindakan pemasangan endotrakeal tube (ETT) oleh tenaga medis yang kurang terampil sehingga mengakibatkan terjadi pembengkakan jalan napas. Pemakaian ETT yang terlalu lama juga sehingga terjadi stenosis pada laring atau trakea.

Gejala klinik:

Stridor

Suara serak ( disfoni ) sampai suara hilang ( afoni )

Hemoptisis

Disfagia ( sulit menelan )

Odinofagia ( nyeri menelan )(Munir, M., Hadiwikarta, A., Hutauruk, S.M, 2007)EpiglotitisEpiglotitis akut atau laringitis supraglotis adalah suatu peradangan akut dari laring yang menyebabkan timbulnya pembengkakan dan edem dari struktur supraglotis. Peradagan ini sering terjadi pada anak-anak dan proses ini berjalan sangat cepat tanpa memberi gejala yang spesifik, sehingga mengakibatkan sumbatan jalan nafas yang mendadak. Epiglotitis adalah inflamasi akut yang melibatkan epiglotis, valekula, plika ariepiglotis dan aritenoid. Yang tersering disebabkan oleh virus Hemofilus Influenza tipe B (Hib). (Bambang S, 1993)Pada anak-anak epiglotitis aku lebih mudah menimbulkan problema-problema yang berbahaya daripada orang dewasa, hal ini disebabkan karena:

1. Pada anak-anak mukosa epigloits lebih banyak jaringan longgar, rima glotis lebnih sempit dan sudut antara epiglotis dan rima glotis lebih kecil.

2. Epiglotis berbentuk omega yang cenderung melipat dan plika vokalis tertarik keatas.

3. Mukosa laring pada anak-anak lebih sensitif dan lebih mudah membengkak daripada orang dewasa. (Bambang S, 1993)

Gambar: Epiglotitis

Pada gambar sebelah kiri sebuah endoskopi memperlihatkan obstruksi jalan napas yang hampir total. Pada gambar sebelah kanan jalan napas telah terbuka setelah pemasangan endotrakeal tube, terlihat adanya hiperemi dan sisa darah.

Sumber: http://www.merck.com/mmhe/print/sec23/ch272/ch272f.html

Gejala klinis epiglottitis akut berupa nyeri tenggorok (sore throat), nyeri menelan (odinofagia) yang mengakibatkan sulit menelan (disfagia), suara berubah (muffled voice atau hot potato voice), demam sampai menggigil, stridor inspirasi dan sesak nafas karena sumbatan jalan nafas. Tetapi di Indonesia walaupun epiglotitis ini banyak dijumpai pada anak-anak ataupun pada orang dewasa, gejala-gejala yang timbul tidak separah gejala-gejala di Eropa. Pada epiglotitis tanpa disertai gangguan jalan napas hanya diberikan medikamentosa seperti antibiotik dan antipiretik-anti inflamasi. Tetapi pada epiglotitis yang disertai gangguan airway yang hebat, perlu dilakukan intubasi, trakeostomi sampai krikotirotomi. (Bambang S, 1993, Bowman, J. G,2009, Felter, R. A. 2009)Tumor LaringTumor jinak laring

Tumor jinak laring tidak banyak ditemukan , hanya kurang lebih 5 % dari semua jenis tumor laring. Tumor jinak laring dapat berupa (Hermani B, Abdurrachman H, 2007):

Papiloma laring

Adenoma

Kondroma

Mioblastoma sel granuler

Hemangioma

Lipoma

Neurofibroma

Gambar: Papiloma laring

Sumber: http://www.ucdvoice.org/papilloma.html

Tumor ganas laring

Penyebab pasti sampai saat ini belum diketahui, namun didapatkan beberapa hal yang berhubungan erat dengan terjadinya keganasan laring yaitu : rokok, alkohol, sinar radio aktif, polusi udara, radiasi leher dan asbestosis. Ada peningkatan resiko terjadinya tumor ganas laring pada pekerja-pekerja yang terpapar dengan debu kayu. Klasifikasi letak tumor :

Supraglotik

Glotik

Subglotik

Gejala tumor laring :

Serak

Dispnea

Stridor

Nyeri tenggorok

Disfagia

Batuk dan hemoptisis

Diagnosis

Laringoskop

Biopsi

Pemeriksaan radiologi

CT scan

Penatalaksanaan

Pembedahan

Radiasi

Obat sitostatik

Kombinasi

Stadium I : radiasi

Stadium II III : operasi

Stadium IV : operasi dengan rekonstruksi

(Hermani B, Abdurrachman H, 2007)Intubasi Endotrakea

Indikasi intubasi endotrakea (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007):

Untuk mengatasi sumbatan saluran napas bagian atas

Membantu ventilasi Memudahkan menghisap secret dari traktus trakeobronkial

Mencegah aspirasi secret yang ada di rongga mulut atau yang berasal dari lambung

Gambar: Teknik intubasi endotrakeaSumber: http://members.tripod.com/~dgholgate/endotrachealintubation.htmlPipa endotrakea dibuat dari bahan polyvinilchloride dengan balon (cuff) pada ujungnya dapat diisi dengan udara. Ukuran pipa endotrakea harus sesuai dengan ukuran trakea pasien dan umumnya untuk orang dewasa dipakai yang diameter dalamnya 7-8,5 mm. pipa endotrakea yang dimasukkan melalui hidung dapat dipergunakan untuk beberapa hari. Secara umum dapat dikatakan bahwa intubasi endotrakea jangan melebihi 6 hari dan untuk selanjutnya sebaiknya dilakukan trakeostomi. Komplikasi yang dapat timbul adalah stenosis laring atau trakea. (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)

Gambar. Pipa endotrakeal

Sumber: http://www.medihel.com/doce/instrument.htmlTeknik Intubasi (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007): Posisi pasien tidur terlentang leher fleksi sedikit dan kepala ekstensi

Laringoskop dengan spatel bengkok di pegang dengan tangan kiri, dimasukkan melalui mulut sebelah kanan sehingga lidah terdorong kekiri

Spatel diarahkan menelusuri pangkal lidah ke valekula lalu laringoskop diangkat keatas sehingga pita suara dapat terlihat.

Dengan tangan kanan pipa endotrakea dimasukkan melalui mulut terus melalui celah antara kedua pita suara kedalam trakea.

Pipa endotrakea dapat pula dimasukkan melalui lubang hidung sampai rongga mulut dan dengan cunam magill ujung pipa endotrakea dimasukkan kedalam celah antara kedua pita suara sampai ke trakea.

Kemudiian balon diisi dengan udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan baik.

Apabila menggunakan laringoskop yang lurus maka pasien yang tidur telentang pundaknya harus diganjal dengan bantal pasir, sehingga kepala mudah diekstensikan maksimal.

Laringoskop dengan spatel yang lurus dipegang dengan tangan kiri dan dimasukkan mengikuti dinding faring posterior dan epiglotis diangkat horizontal ke atas bersama-sama sehingga laring jelas terlihat.

Pipa endotrakea dipegang dengan tangan kanan dan dimasukkan melalui celah pita suara sampai di trakea.

Kemudian balon diisi udara dan pipa endotrakea difiksasi dengan plester.Trakeostomi

Trakeostomi adalah tindakan membuat lubang pada dinding depan/anterior trakea untuk bernapas. Menurut letak stoma trakeostomi dibedakan letak yang tinggi dan letak yang rendah dan batas letak ini adalah cincin trakea ke tiga. Sedangkan menurut waktu dilakukan tindakan maka trakeostomi dibagi dalam:

Trakeostomi darurat dan segera dengan persiapan sarana sangat kurang

Trakeostomi berencana (persiapan sarana cukup) dan dapat dilakukan secara baik (legal artis)

(Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)Indikasi trakeostomi :

Mengatasi obstruksi laring

Mengurangi ruang rugi (dead air space) disaluran napas bagian atas seperti daerah rongga mulut, sekitar lidah dan faring. Dengan adanya stoma maka seluruh oksigen yang dihirupnya akan masuk ke dalam paru, tidak ada yang tertinggal diruang rugi itu. Hal ini berguna pada pasien dengan kerusakan paru, yang kapasitas vitalnya berkurang.

Mempermudah pengisapan sekret dari bronkus pada pasien yang tidak dapat mengeluarkan sekret secara fisiologik, misalnya pada pasien dalam keadaan koma Untuk memasang respirator atau alat bantu pernapasan

Untuk mengambil benda asing dari subglotik, apabila tidak mempunyai fasilitas untuk bronkoskopi.

(Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)

Gambar: Jenis pipa trakeostomi

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/Tracheostomy

Tehnik Trakeostomi

Pasien tidur terlentang, bahu diganjal dengan bantalan kecil sehingga memudahkan kepala untuk diekstensikan pada persendian atalantooksipital. Dengan posisi seperti ini leher akan lurus dan trakea akan terletak di garis median dekat permukaan leher. Kulit leher dibersihkan sesuai dengan prinsip aseptik dan antiseptik dan ditutup dengan kain steril. Obat anestetikum disuntikkan di pertengahan krikoid dengan fossa suprasternal secara infiltrasi. Sayatan kulit dapat vertikal di garis tengah leher mulai dari bawah krikoid sampai fosa suprasternal atau jika membuat sayatan horizontal dilakukan pada pertengahan jarak antara kartilago krikoid dengan fosa suprasternal atau kira-kira dua jari dari bawah krikoid orang dewasa. Sayatan jangan terlalu sempit,dibuat kira-kira lima sentimeter.

Dengan gunting panjang yang tumpul kulit serta jaringan di bawahnya dipisahkan lapis demi lapis dan ditarik ke lateral dengan pengait tumpul sampai tampak trakea yang berupa pipa dengan susunan cincin tulang rawan yang berwarna putih. Bila lapisan ini dan jaringan di bawahnya dibuka tepat di tengah maka trakea ini mudah ditemukan. Pembuluh darah yang tampak ditarik lateral. Ismuth tiroid yang ditemukan ditarik ke atas supaya cincin trakea jelas terlihat. Jika tidak mungkin, ismuth tiroid diklem pada dua tempat dan dipotong ditengahnya. Sebelum klem ini dilepaskan ismuth tiroid diikat keda tepinya dan disisihkan ke lateral. Perdarahan dihentikan dan jika perlu diikat. Lakukan aspirasi dengan cara menusukkan jarum pada membran antara cincin trakea dan akan terasa ringan waktu ditarik. Buat stoma dengan memotong cincin trakea ke tiga dengan gunting yang tajam. Kemudian pasang kanul trakea dengan ukuran yang sesuai. Kanul difiksasi dengan tali pada leher pasien dan luka operasi di tutup dengan kasa.

Untuk menghindari terjadinya komplikasi perlu diperhatikan insisi kulit jangan terlalu pendek agar tidak sukar mencari trakea dan mencegah terjadinya emfisema kulit. (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007) Gambar: Lokasi trakeostomi skematis

Sumber: http://en.wikipedia.org/wiki/TracheostomyPerawatan Pasca Trakeostomi

Secera setelah trakeostomi dilakukan:

1. Rontgen dada untuk menilai posisi tube dan melihat timbul atau tidaknya komplikasi

2. Antibiotik untuk menurunkan risiko timbulnya infeksi

3. Mengajari pihak keluarga dan penderita sendiri cara merawat pipa trakeostomi

Perawatan pasca trakeostomi sangat penting karena sekret dapat menyumbat dan menimbulkan asfiksia. Oleh karena itu, sekret di trakea dan kanul harus sering diisap ke luar dan kanul dalam dicuci sekurang-kurangnya dua kali sehari lalu segera dimasukkan lagi ke dalam kanul luar. Bila kanul harus dipasang dalam jangka waktu lama, maka kanul harus dibersihkan dua minggu sekali. Kain basah di bawah kanul harus diganti untuk menghindari timbulnya dermatitis. Gunakan kompres hangat untuk mengurangi rasa nyeri pada daerah insisi. (Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)

Gambar: Lokasi trakeostomiSumber: http://drbatraent.com/wp-content/uploads/2008/05/t_52701.jpgKrikotirotomiKrikotirotomi: tindakan darurat mengatasi obstruksi jalan nafas, dengan membuka/ melubangi membran krikotiroidea. Krikotirotomi adalah segera harus dilakukan untuk mengamankan jalan nafas, terutama pada kasus obstruksi jalan nafas bagian atas yang hebat.Indikasi operasi: Obstruksi jalan nafas atas yang hebat, dimana persiapan trakeostomi belum dapat dilakukan Luka berat daerah hidung atau muka (dimana intubasi hidung atau mulut dikontraindikasikan) Luka akibat inhalasi bahan kimia(Wikipedia, 2009)Kontraindikasi:

Tidak bisa mengidentifikasi membran krikotiroid

Adanya abnormalitas anatomi (ex: hematom, abses, tumor)

Infeksi akut atau trauma laring

Anak usia kurang dari 10 tahun(Wikipedia, 2009)

Gambar: Lokasi insisi krikotirotomi

Sumber: http://www.ecmaj.com/cgi/content-nw/full/178/9/1133/F214Teknik

Dapat dilakukan dengan anestesi lokal atau tanpa anestesi. Pada anestesi lokal diperlukan lidokain dengan dosis maksimal 7 mg/ kg BB. Terlentang dengan hiperekstensi kepala, bahu diberi bantalan sehingga trakea lebih tampak ke anterior, kepala diberi bantalan doughnut Stabilisasi larinx dengan jari dan palpasi membran krikotiroid Buat insisi vertikal dengan skalpel menembus membran krikotiroid, putar 900 supaya lubang terbuka, lebarkan lubang dengan klem Kelly. Hati-hati jangan melukai kartilago krikoid. Pasang kanul trakeostomi kecil. Selanjutnya pasien dilakukan ventilasi(http://bedahumum.wordpress.com/2008/10/10/krikotirotomi)

Gambar: Teknik Krikotomi

Sumber: http://comps.fotosearch.com/bigcomps/LIF/LIF145/PED01015.jpg

Perasat Heimlich(Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E, 2007)Hentakan perut pada pasien/korban dewasa dan anak yang sadar.1) Penolong berdiri dibelakang pasien sambil memeluk badannya

2) Tangan kanan dikepalkan dan dengan bantuan tangan kiri, kedua tangan diletakkan pada perut bagian atas 3) Lalu lakukan penekanan rongga perut ke arah dalam dan ke atas dengan hentakan beberapa kali

4) Diharapkan dengan hentakan 4-5 kali benda asing akan terlempar keluar Hentakan perut pada pasien/korban dewasa dan anak, tidak sadar.1) Penolong berlutut dengan kaki pada kedua sisi pasien

2) Sebelumnya posisi muka pasien dan leher harus lurus3) Kepalan tangan kanan diletakkan di bawah tangan kiri di daerah epigastrium4) Dengan hentakan tangan kiri ke bawah dan ke atas beberapa kali udara dalam paru akan mendorong benda asing keluar

Gambar: Hentakan perut.

(A) Korban sadar. (B) Korban tidak sadar

Sumber: http://home.utah.edu/~mda9899/cprpics.htmlHentakan dada pada pasien/korban dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang sadar.

1) Berdirilah dibelakang pasien/korban. Lengan memeluk pasien/korban melalui bawah ketiak dibagian dada.2) Posisikan tangan membentuk kepalan seperti pada hentakan perut tepat di atas pertengahan tulang dada.

3) Lakukan hentakan dada sama seperti pada pasien yang sadar

4) Lanjutkan sampai jalan nafas terbuka atau pasien/korbanmenjadi tidak sadar.

Hentakan dada pada pasien/korban dewasa yang kegemukan atau wanita hamil yang tidak sadar.

Langkahnya sama seperti pada pasien/korban dewasa atau anak yang tidak sadar hanya posisi penolong berlutut disamping pasien/korbanletakkan tumit tangan pada pertengahan tulang dada.

Gambar: Hentakan dada

(A) Korban sadar. (B) Korban tidak sadar

Sumber: http://home.utah.edu/~mda9899/cprpics.htmlOTITIS MEDIA SUPURATIF KRONIK

OMSK adalah stadium dari penyakit telinga tengah dimana terjadi peradangan kronis dari telinga tengah dan mastoid dan membran timpani tidak intak (perforasi) dan ditemukan sekret (otorea), purulen yang hilang timbul. Sekret mungkin encer atau kental, bening atau berupa nanah dan berlangsung lebih dari 2 bulan. Perforasi sentral adalah pada pars tensa dan sekitar dari sisa membran timpani atau sekurang-kurangnya pada annulus. Defek dapat ditemukan seperti pada anterior, posterior, inferior atau subtotal. Menurut Ramalingam bahwa OMSK adalah peradangan kronis lapisan mukoperiosteum dari middle ear cleft sehingga menyebabkan terjadinya perubahan-perubahan patologis yang ireversibe. (Djaafar Z. A., 2007, Helmi, 2007 dan Berman S, 2007)Gejala Klinis

1. Telinga Berair (Otorrhoe)

Sekret bersifat purulen atau mukoid tergantung stadium peradangan. Pada OMSK tipe jinak, cairan yang keluar mukopus yang tidak berbau busuk yang sering kali sebagai reaksi iritasi mukosa telinga tengah oleh perforasi membran timpani dan infeksi. Keluarnya sekret biasanya hilang timbul. Pada OMSK stadium inaktif tidak dijumpai adannya sekret telinga. Pada OMSK tipe ganas unsur mukoid dan sekret telinga tengah berkurang atau hilang karena rusaknya lapisan mukosa secara luas. Sekret yang bercampur darah berhubungan dengan adanya jaringan granulasi dan polip telinga dan merupakan tanda adanya kolesteatom yang mendasarinya. Suatu sekret yang encer berair tanpa nyeri mengarah kemungkinan tuberkulosis. 2. Gangguan Pendengaran

Biasanya dijumpai tuli konduktif namun dapat pula bersifat campuran. Beratnya ketulian tergantung dari besar dan letak perforasi membran timpani serta keutuhan dan mobilitas sistem pengantaran suara ke telinga tengah. Pada OMSK tipe maligna biasanya didapat tuli konduktif berat.

3. Otalgia (Nyeri Telinga)

Pada OMSK keluhan nyeri dapat karena terbendungnya drainase pus. Nyeri dapat berarti adanya ancaman komplikasi akibat hambatan pengaliran sekret, terpaparnya durameter atau dinding sinus lateralis, atau ancaman pembentukan abses otak. Nyeri merupakan tanda berkembang komplikasi OMSK seperti Petrositis, subperiosteal abses atau trombosis sinus lateralis.

4. Vertigo

Keluhan vertigo seringkali merupakan tanda telah terjadinya fistel labirin akibat erosi dinding labirin oleh kolesteatom. Vertigo yang timbul biasanya akibat perubahan tekanan udara yang mendadak atau pada panderita yang sensitif keluhan vertigo dapat terjadi hanya karena perforasi besar membran timpani yang akan menyebabkan labirin lebih mudah terangsang oleh perbedaan suhu. Penyebaran infeksi ke dalam labirin juga akan meyebabkan keluhan vertigo. Vertigo juga bisa terjadi akibat komplikasi serebelum

(Djaafar Z. A., 2007, Helmi, 2007 dan Berman S, 2007)Tanda Klinis

Tanda-tanda klinis OMSK tipe maligna (Paparella MM, Adams GL, Levine SC, 1997):

1. Adanya Abses atau fistel retroaurikular

2. Jaringan granulasi atau polip diliang telinga yang berasal dari kavum timpani.

3. Pus yang selalu aktif atau berbau busuk (aroma kolesteatom)

4. Foto rontgen mastoid adanya gambaran kolesteatom.

Komplikasi

Tendensi otitis media mendapat komplikasi tergantung pada kelainan patologik yang menyebabkan otore. Walaupun demikian organisme yang resisten dan kurang efektifnya pengobatan, akan menimbulkan komplikasi. biasanya komplikasi didapatkan pada pasien OMSK tipe maligna, tetapi suatu otitis media akut atau suatu eksaserbasi akut oleh kuman yang virulen pada OMSK tipe benigna pun dapat menyebabkan komplikasi. Komplikasi intra kranial yang serius lebih sering terlihat pada eksaserbasi akut dari OMSK berhubungan dengan kolesteatom.

A. Komplikasi ditelinga tengah :

1. Perforasi persisten membrane timpani

2. Erosi tulang pendengaran

3. Paralisis nervus fasial

B. Komplikasi telinga dalam

1. Fistel labirin

2. Labirinitis supuratif

3. Tuli saraf ( sensorineural)

C. Komplikasi ekstradural

1. Abses ekstradural

2. Trombosis sinus lateralis

3. Petrositis

D. Komplikasi ke susunan saraf pusat

1. Meningitis

2. Abses otak

3. Hindrosefalus otitis

(Helmi, 2007)Perjalanan komplikasi infeksi telinga tengah ke intra kranial harus melewati 3 macam lintasan:

1. Dari rongga telinga tengah ke selaput otak

2. Menembus selaput otak.

3. Masuk kejaringan otak.

Dalam hal ini komplikasi yang dapat menyebabkan keadaan serius adalah komplikasi ekstradural dan susunan saraf pusat. (Helmi, 2007)Komplikasi ke Ekstradural

Petrositis

Kira-kira sepertiga dari populasi manusia, tulang temporalnya mempunyai sel-sel udara sampai ke apeks os petrosum. Terdapat beberapa cara penyebaran infesi dari telinga tengah ke os petrosum. Yang sering ialah penyebaran langsung ke sel-sel udara tersebut. Gejalanya diplopia, nyeri daerah parietal, temporal atau oksipital, otore yang persisten. Kecurigaan terhadap petrosis terutama bila terdapat nanah yang keluar terus menerus dan rasa nyeri yang menetap pasca mastoidektomi. Pengobatan petrositis ialah operasi. Pada waktu melakukan operasi telinga tengah dilakukan juga eksplorasi sel-sel udara tulang petrosum serta mengeluarkan jaringan patogen. (Helmi, 2007).Tromboflebitis Sinus Lateralis

Invasi infeksi ke sinus sigmoid ketika melewati tulang mastoid akan menyebabkan terjadinya trombosis sinus lateralis. Demam yang tidak dapat diterangkan penyebabnya merupakan tanda pertama dari infeksi pembuluh darah. Rasa nyeri biasanya tidak jelas, kecuali bila sudah terdapat abses perisinus. Kultur darah biasanya positif, terutama bila darah diambil ketika demam.

Pengobatan haruslah dengan jalan bedah, membuang sumber infeksi di sel-sel mastoid, membuang tulang yang berbatasan dengan sinus yang nekrotik, atau membuang dinding sinus yang terinfeksi atau nekrotik. Jika sudah terbentuk thrombus harus juga dilakukan drainase sinus dan mengeluarkan thrombus. (Helmi, 2007).Abses Ekstradural

Abses ekstradural adalah terkumpulnya nanah di antara duramater dan tulang. Ini berhubungan dengan jaringan granulasi dan kolesteatom yang menyebabkan erosi tegmen timpani atau mastoid. Gejalanya terutama berupa nyeri telinga hebat dan nyeri kepala. (Helmi, 2007).Komplikasi ke Susunan Saraf Pusat

Meningitis

Komplikasi otitis media ke sususan saraf usat yang paling sering ialah meningitis. Gejalanya biasanya berupa kaku kuduk, penurunan kesadaran, kenaikan suhu tubuh, mual, muntah hingga proyektil, serta nyeri kepala yang hebat, Pada pemeriksaan klinik terdapat kaku kuduk dan tanda kernig positif. Pengobatan dengan mengobati meningitisnya dulu dengan antibiotik yang sesuai, kemudian infeksi di telinganya ditanggulangi dengan operasi mastoidektomi. (Helmi, 2007).Abses Otak

Abses otak biasanya merupakan perluasan langsung dari infeksi telinga tengah dan mastoid atau tromboflebitis. Umumnya didahului oleh suatu abses ekstradural. Gejalanya berupa ataksia, afasia, disdiakdoko-kinetik, tremor intensif, tidak tepat menunjuk suatu objek dan nadi yang lambat serta serangan kejang. Gejala lain berupa nyeri kepala, demam, muntah serta keadaan letargik. Pengobatan abses otak ialah dengan jalan operasi dengan melakukan drainase dari lesi. Selain itu pengobatan dengan antibiotika harus intensif. (Helmi, 2007).Hidrosefalus Otitis

Ini ditandai dengan peninggian tekanan likuor serebrospinal yang hebat tanpa adanya kelainan kimiawi dari likuor itu. Gejala berupa nyeri kepala yang menetap, diplopia, pandangan yang kabur, mual dan muntah. Pada pemeriksaan terdapat edema papil. (Helmi, 2007).EPISTAKSISEpistaksis adalah keluarnya darah dari hidung merupakan suatu keluhan atau tanda, bukan penyakit. Perdarahan yang terjadi di hidung adalah akibat kelainan setempat atau penyakit umum. Penting sekali mencari asal perdarahan dan menghentikannya, di samping perlu juga menemukan dan mengobati sebabnya (Kartika, Henny. 2009).

Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak segera ditolong. (Hembing. 2008 ; Ichsan, Mohammad. 2009).

Pada umumnya terdapat dua sumber perdarahan yaitu dari bagian anterior dan bagian posterior. Epistaksis anterior dapat berasal dari Pleksus Kiesselbach atau dari arteri ethmoidalis anterior. Sedangkan epistakasis posterior dapat berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior. Epistaksis biasanya terjadi tiba-tiba. Perdarahan mungkin banyak, bisa juga sedikit. Penderita selalu ketakutan sehingga merasa perlu memanggil dokter. Sebagian besar darah keluar atau dimuntahkan kembali (Kartika, Henny. 2009).

Etiologi

Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik.

Lokal

Trauma

Infeksi

Neoplasma

Kelainan kongenital Sebab-sebab lain termasuk benda asing dan perforasi septum.

Pengaruh lingkungan

Sistemik

Kelainan darah Penyakit kardiovaskuler

Infeksi akut Gangguan endokrin

Ada 2 macam lokasi terjadinya epistaksis :1. Epistaksis anterior Perdarahan berasal dari septum (pemisah lubang hidung kiri dan kanan) bagian depan, yaitu dari pleksus Kiesselbach atau arteri etmoidalis anterior. Perdarahan dapat berhenti sendiri (spontan) dan dapat dikendalikan dengan tindakan sederhana

2. Epistaksis posterior

Berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior. Perdarahan cenderung lebih berat dan jarang berhenti sendiri, sehingga dapat menyebabkan anemia, hipovolemi dan syok (Soepardi dan Iskandar. 2001).Diagnosis

1. Anamnesis

riwayat yang perlu diperhatikan:

Riwayat sebelumnya dimana seringkali berdarah setelah tindakan bedah (cabut gigi, sirkumsisi-sunat)

Riwayat keluarga dengan perdarahan, epistaksis berulang, menstruasi berlebihan

Penggunaan obat-obatan, contoh obat semprot hidung, obat-obatan hidung, NSAIDS (non steroidal anti inflammatory drugs)

2. Pemeriksaan Fisik

Rinoskopi anterior.

Rinoskopi posterior. Pengukuran tekanan darah.

Rontgen sinus 3. Pemeriksaan Laboratorium

Pemeriksaan yang dapat dilakukan adalah :

Darah lengkap Pemeriksaan fungsi hemostatis Tes fungsi hati dan ginjal

4. Mencari sumber perdarahan (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).PenatalaksanaanPrinsip pertama dari penatalaksanaan epistaksis yang pertama adalah menjaga ABC tetap baik

A : airway : pastikan jalan napas tidak tersumbat/bebas, posisikan duduk menunduk B : breathing: pastikan proses bernapas dapat berlangsung, batukkan atau keluarkan darah yang mengalir ke belakang tenggorokan C : circulation : pastikan proses perdarahan tidak mengganggu sirkulasi darah tubuh, pastikan pasang jalur infus intravena (infus) apabila terdapat gangguan sirkulasiAda 3 prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, mencegah berulangnya epistaksis. Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri.

Menghentikan perdarahan:Pada epistaksis posterior, sebagian besar darah masuk ke dalam mulut sehingga pemasangan tampon anterior tidak dapat menghentikan perdarahan. Perdarahan posterior lebih sukar diatasi karena perdarahan biasanya hebat dan sulit melihat bagian belakang dari rongga hidung. Dilakukan pemasangan tampon posterior (tampon Bellocq), yaitu tampon yang mempunyai tiga helai benang, 1 helai di setiap ujungnya dan 1 helai di tengah. Tampon dipasang selama 2-3 hari disertai dengan pemberian antibiotik peroral untuk mencegah infeksi pada sinus ataupun telinga tengah. Pada epistaksis yang berat dan berulang, yang tak dapat diatasi dengan pemasangan tampon, perlu dilakukan pengikatan arteri etmoidalis anterior dan posterior (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001). Epistaksis akibat patah tulang atau septum hidung biasanya berlangsung singkat dan berhenti secara spontan, kadang-kadang timbul kembali beberapa jam atau beberapa hari kemudian setelah pembengkakan berkurang. Jika hal ini terjadi mungkin perlu dilakukan pembedahan terhadap patah tulang atau pengikatan arteri (Hembing. 2008; Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001)..

TULI MENDADAK

Tuli mendadak ( istilah medis: sudden deafness ) merupakan keadaan emergensi di telinga, dimana telinga mengalami ketulian secara mendadak, kadang tanpa disertai keluhan, umumnya mengenai satu telinga. Dikatakan emergensi karena keadaan ini sering kali menetap, jika tidak diketahui cepat penyebabnya (Soepardi dan Iskandar, 2001: Supriyono, 2009).Tuli mendadak ialah tuli yang terjadi secara tiba-tiba, bersifat sensorineural dan penyebabnya tidak dapat langsung diketahui. Beberapa ahli mendefinisikan tuli mendadak sebagai penurunan pendengaran sensorineural 30 dB atau lebih paling sedikit pada tiga frekuensi berturut-turut yang berlangsung dalam waktu kurang dari 3 hari. Tuli mendadak bukanlah suatu penyakit tetapi merupakan gejala dari banyak penyakit (NIDCD, 2003).

Suckfull dkk mendefinisikan tuli mendadak sebagai berikut: tuli sensorineural yang berlangsung mendadak lebih dari 15 dB pada tiga frekuensi atau lebih dibandingkan dengan telinga yang sehat atau pemeriksaan audiometri sebelumnya, disertai dengan atau tanpa gejala tinitus dan vertigo. Kerusakannya terutama di klokea dan sifatnya permanent (Universitas Sumatra Utara, 2008).

Etiologi

Etiologi tuli mendadak sampai sekarang belum diketahui secara pasti. Banyak ahli berpendapat bahwa tuli mendadak bukanlah suatu penyakit melainkan suatu gejala dengan banyak faktor penyebab. Terdapat 4 teori utama penyebab tuli mendadak yang berkembang berdasarkan studi etiologi, yaitu: infeksi virus, autoimun, kerusakan membran telinga dalam dan gangguan vaskuler (Universitas Sumatra Utara, 2008).

Beberapa virus penyebab ketulian mendadak sensorineural ditemukan pada kasus-kasus penyakit MUMPS, measles, rubella, dan influenza yang disebabkan oleh infeksi adenovirus dan sitomegalovirus (CMV). Pemeriksaan serologis terhadap pasien dengan ketulian sensorineural idiopatik menunjukkan adanya peningkatan titer antibody terhadap sejumlah virus. Antara 25-30 % pasien dilaporkan dengan riwayat infeksi saluran nafas atas dengan kurang satu bulan onset kehilangan pendengaran. Pemeriksaan histopatologi tulang temporal pasien yang mengalami ketulian mendadak menunjukkan adanya atrofi organ corti, atrofi stria vaskularis dan membran tektorial serta hilangnya sel rambut dan sel penyokong dari koklea (Ghossaini, 2007 : Soepardi dan Iskandar, 2001)..

Ketulian sensorineural yang disebabkan oleh proses autoimun telinga dalam masih belum jelas, tapi aktivitas imunologik koklea menunjukkan fakta yang tinggi. Pembuluh darah koklea merupakan ujung arteri (end artery), sehingga bila terjadi gangguan pada pembuluh darah ini koklea sangat mudah mengalami kerusakan. Pada kasus emboli, trombosis, vasospasme, dan hiperkoagulasi atau viskositas yang meningkat terjadi iskemia yang berakibat degenerasi luas pada sel-sel ganglion stria vaskularis dan ligament spiralis. Kemudian diikuti oleh pembentukan jaringan ikat dan penulangan (Soepardi dan Iskandar, 2001 : Supriyono. 2009).

Ruptur membran labirin berpotensial menyebabkan kehilangan pendengaran sensorineural yang tiba-tiba, membran basalis dan membran reissner merupakan selaput tipis yang membatasi endolimfe dan perilimfe. Ruptur salah satu dari membran atau keduanya dapat menyebabkan ketulian mendadak (Supriyono. 2009).

Gejala Klinik

Penderita mengeluh pendengarannya tiba-tiba berkurang pada satu atau kedua telinga yang sebelumnya dianggap normal. Biasanya keadaan ini disadari penderita ketika bangun tidur pagi hari ataupun setelah bekerja. Umumnya penderita dapat mengatakan dengan pasti saat mulai timbulnya ketulian. Ketulian dapat mengenai semua frekuensi pendengaran, tetapi yang sering pada frekuensi tinggi. Tuli mendadak biasanya disertai dengan tinitus (91,0%), vertigo (42,9 %), rasa penuh pada telinga yang sakit (40,7%), otalgia (6,3%), parestesia (3,5%), tuli saraf sebelumnya(9,2%), tinitus sebelumnya (4,2%) dan gangguan vestibuler sebelumnya(5,0%). (Universitas Sumatra Utara, 2008)

Pada infeksi virus, timbulnya tuli mendadak biasanya pada satu telinga, dapat disertai tinitus dan vertigo. Kemungkinan ada gejala dan tanda penyakit virus seperti parotis, varisela, variola atau pada anamnesis baru sembuh dari penyakit virus tersebut. Pada pemeriksaan klinis tidak ditemukan kelainan (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Pemeriksaan Audiologi

1. Tes penala: Rinne positif, Weber lateralisasi ke telinga yang sehat, Schwabach memendek. Kesan: tuli sensorineural.

2. Audiometri nada murni: tuli sensorineural derajat ringan sampai sangat berat.

3. BERA (pada anak-anak atau pada pasien yang tidak kooperatif): tuli saraf ringan sampai berat.

4. Tes SISI (short increment sensitivity index) skor 70-100%. Kesan : dapat ditemukan rekruitmen.

5. Tes Tone Decay : tidak ada kelelahan. Kesan : bukan tuli retrokoklea.

6. Audiometri tutur: speech discrimination score (SDS) kurang dari 100%. Kesan : tuli sensorineural.

7. Audiometri impedans: timpanogram tipe A (normal), refleks stapedius ipsilateral. Negatif atau positif, sedangkan kontralateral positif. Kesan : tuli sensorineural koklea. (Soepardi dan Iskandar, 2001 : Universitas Sumatra Utara, 2008).Penatalaksanaan

Penatalaksanaan tuli mendadak sampai saat ini masih menimbulkan perdebatan. Adanya laporan perbaikan pendengaran secara spontan berkisar antara 47%-63% menyulitkan hasil evaluasi penatalaksanaan tuli mendadak. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa suatu obat secara bermakna dapat menyembuhkan tuli mendadak. Apabila penyebab tuli mendadak yang spesifik dapat diidentifikasi, penatalaksanaan yang rasional dapat diberikan. Koreksi terhadap penyebab, misalnya bising, DM, penyakit vaskuler. Obat-obat yang sering dipakai:

Vasodilator yang cukup kuat misalnya complamin injeksi :

3 x 900 mg (3 ampul) selama 4 hari

3 x 600 mg (2 ampul) selama 4 hari

3 x 300 mg (1 ampul) selama 6 hari

disertai vasodilator oral complamin 3X2 tablet tiap hari.

Kortikosteroid merupakan obat anti inflamasi yang digunakan untuk mengobati ketulian sensorineural mendadak idiopatik.

Prednisone 4 x 10 mg tapering off tiap tiga hari, hati2 pd penderita DM.

Obat anti virus : asiklovir dan amantadin pengobatan pada etiologi virus.

Hiperbarik Oksigen. Terapi hiperbarik oksigen menggunakan 100% oksigen dengan tekanan 250 kPA selama 60 menit dalam ruangan tertutup.

Vitamin C 100 mg 2X1 tab/ hari dan neurobion 3X1 tab/ hari.

(Ghossaini, 2007 : Soepardi dan Iskandar, 2001)Evaluasi fungsi pendengaran dilakukan tiap minggu selama satu bulan. Bila gangguan pendengaran tidak sembuh dengan pengobatan, dapat dibantu dengan alat bantu dengan (hearing aid). Rehabilitasi pendengaran agar sisa pendengaran dapat digunakan secara maksimal bila memekai alat bantu dengar dan rehabilitasi suara agar dapat mengendalikan volume, nada dan intonasi. Apabila dengan alat bantu dengar juga belum dapat berkomunikasi secara adekuat dilakukan psikoterapi dengan tujuan agar pasien dapat menerima keadaan (Soepardi dan Iskandar, 2001). TRAUMA MAKSILOFACIAL

Struktur

Struktur tulang maksilofacial yang terdiri dari os maksila, zigomatikus dan ethmoid yang tersusun secara khusus berperan sebagai peredam kejut yang melindungi otak. Pemeriksaan dilakukan menyeluru dengan memperhatikan kerusakan di tempat lain baik yang dekat maupun yang jauh terutama cedera otak. Pemeriksaan lokal dilakukan dengan inspeksi dan palpasi ekstra oral maupun intraoral. Pada trauma maksilofacial penyebab dari trauma dapat dibedakan menjadi empat yaitu :

Trauma tumpul

Trauma tajam

Trauma termal

Trauma kimia.

Pada inspeksi diperhatikan adanya asimetri muka, pembengkakan, hematom, trismus dan nyeri spontan serta maloklusi. Fraktur maksilofasial biasanya disertai odema dan ematom sehingga muka tampak sangat bengkak (wajah balon). Lefort membedakan fraktur maksilofasial atas tiga macam yaitu fraktur sepertiga atas (Lefort III), fraktur Fraktur sepertiga tengah (Lefort II), fraktur sepertiga bawah (Lefort I). Palpasi harus dilakukan secara serentak (kanan kiri bersama-sama), seksama, dan sistematis (Iskandar dan Helmi. 2001).

Jika seseorang mendapat trauma pada muka yang disebabkan oleh banyak factor, dapat menimbulkan kelainan berupa sumbatan jalan nafas, shock karena perdarahan, gangguan pad vertebra servikalis, atau terdapatnya gangguan fungsi saraf otak. Penanganan khusus trauma maksilofasial harus dilakukan segera atau pada waktu berikutnya. Penanggulangan ini tergantung kepad kondisi jaringan yang terkena trauma (Iskandar dan Helmi. 2001).

Penderita dengantrauma maksilofasial dapat timbul beberapa keluhan seperti yang disebutkan dibawa ini misalnya :

1. Kerusakan jaringan lunak (edema, kontusio, abrasi dan laserasi).

2. Epistaksis (anterior dan posterior)

3. Terdapat deformitas yang dapat dilihat atau diperiksa dengan cara perabaan

4. Gangguan pada mata

5. Gangguan saraf sensoris

6. Gangguan saraf motorik

7. Trismus

8. Maloklusi

9. Emfisema subkutis

10. Krepitasi tulang pada maksila, mandibula, atau tulang hidung

11. Keluarnya cairan otak

12. Rasa sakit

13. Terdapat tanda infeksi pada jaringan lunak pada tempat hematoma

14. Terdapat fraktur gigi atau terlepasnya gigi tersebut

15. Adanya obstruksi hidung (Iskandar dan Helmi. 2001).Fraktur Os Nasal

Fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah. Sedangkan jika disebabkan oleh trauma kecepatan tinggi biasanya berhubungan dengan fraktur wajah biasanya Le Fort tipe 1 dan 2. Selain itu, injury nasal juga berhubungan dengan cedera leher atau kepala (Soepardi dan Iskandar, 2001.: http://www.w3.org/1999.xhtml).Penyebab trauma nasal ada 4 yaitu: mendapat serangan misal dipukul, injury karena olah raga, kecelakaan (personal accident) dan kecelakaan lalu lintas. Dari 4 causa diatas, yang paling sering karena mendapat serangan misalnya dipukul dan kebanyakan pada remaja. Jenis olah raga yang dapat menyebabkan injury nasal misalnya sepak bola, khususnya ketika dua pemain berebut bola diatas kepala; olah raga yang menggunakan raket misalnya ketika squash, raket dapat mengayun ke belakang atau depan dan dapat memukul hidung atau karate; petinju (Ross,A.T, 2007).

Kemungkinan adanya fraktur tulang hidung harus dibuktikan dengan pemeriksaan foto rontgen dengan proyeksi Water, foto os nasal dan pemeriksaan foto rontgen dengan proyeksi dari atas hidung, untuk mengetahui kemungkinan timbulnya kelainan oklusi dari rongga mulut (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Tanda Klinis Fraktur Os Nasal

1. Edema/ hematoma di hidung dan sekitarnya.

2. Struktur hidung berubah, bengkok ke lateral atau batang hidung terdesak ke dalam.

3. Terdapat krepitasi bila os nasalis diraba.

4. Terdapat dislokasi septum nasi.

(Iskandar dan Helmi, 2001)Jika pyramid hidung rusak karena tekanan atau pukulan dengan beban berat akan menimbulkan fraktur hebat pada tulang hidung, prosesus frontal os maksial dan prosesus nasalis os frontal. Bagian dari pyramid hidung yang terletak antara kedua mata terdorong ke belakang, akibatnya terjadi fraktur nasoetmoid, nasomaksila dan nasoorbita yang menimbulkan komplikasi sekuela. Komplikasi yang terjadi pada hidung antara lain:

a. Perubahan bentuk hidung

b. Obstruksi rongga hidung yang disebabkan oleh fraktur, dislokasi atau hematome pada septum

c. Gangguan penciuman (hiposmia atau anosmia)

d. Epistaksis posterior yang disebabkan karena robeknya arteri etmoidalis

e. Kerusakan duktus nasofrontalis dengan menimbulkan sinusitis frontalis atau mukokel.

(Soepardi dan Iskandar, 2001 : Iskandar dan Helmi, 2001).

Penatalaksanaan

Pada keadaan dislokasi os nasalis dan septum nasi, bila tidak terdapat edema atau hematoma, dilakukan reposisi segera, yaitu dengan memasukan 3 buah kapas pada masing-masing lubang hidung (tampon kapas) yang diteteskan lidocain 1-2% serta epinefrin 1/1000 selama 5 menit, atau semprotan xylocaine. Masing-masing diletakkan pada meatus superior, antara konka media dan septum, dan antara konkainferior dan septum nasi, kemudian ditunggu 10 menit.

Reduksi fraktur os nasal dilakukan 1-2 jam sesudah trauma atau maksimal kurang dari 14 hari.

Pada trauma terbuka dilakukan eksplorasi di tempat luka, fragmen tulang direposisi, kemudian di fiksasi dengan kawat. Bila terjadi avulsi, jaringan dijahit kembali

(Ross, A. T, 2007 : Iskandar dan Helmi, 2001)

Perawatan Paska bedah Infus Ringer Laktat / Dekstrose 5 % 1 : 4 dilanjutkan selama 1 hari Antibiotik profilaksis diteruskan setiap 8 jam , sampai 3 kali pemberian.

Analgetika diberikan kalau perlu.

Penderita sadar betul boleh minum sedikit-sedikit, bila 8 jam kemudian tidak apa apa boleh makan bubur (lanjutkan 1 minggu).

Diperhatikan posisi tidur, daerah operasi tidak boleh tertekan dan rawat luka pada hari ke 2 - 3 , angkat jahitan hari ke-7. Follow-Up: Tampon hidung dilepas hari 3-4, Splint septum dilepas hari 10, Gips kupu-kupu dilepas minggu ke-3 dan kontrol tiap bulan selama 3 bulan.(http://www.bedahumum.wordpress.com., 2008)Fraktur Maksila

Fraktur maksila sering terjadi sebagai akibat dari trauma tumbukan dengan energi tinggi pada tulang tengkorak. Tipe mekanisme trauma termasuk kecelakaan sepeda motor, jatuh, dan terpukul. Dengan semakin dikenalnya peraturan menggunakan sabuk keselamatan, luka pada pengemudi akibat efek dari terkena roda kemudi telah beralih dari trauma pada dada menjadi trauma pada wajah. Jika terjadi fraktur maksila harus segera dilakukan tindakan untuk mendapatkan kembali fungsi normal dan efek kosmetik yang baik. Tujuan dari tindakan penaggulangan ini adala untuk memperoleh fungsi normal pada waktu menutup mulut atau oklusi gigi dan memperoleh kontur muka yang cocok (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001). Harus diperhatikan juga jalan nafas yang baik serta profilaksis kemungkinan terjadinya infeksi. Edema faring dapat menimbulkan gangguan pada jalan nafas sehingga mungkin dilakukan tindakan trakeostomi. Perdarahan hebat yang bersal dari arteri maksilaris interna atau arteri ethoidalis anterior sering terdapat pada fraktur maksila dan harus segera diatasi (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).Klasifkasi fraktur maksila

1. Fraktur maksila Lefort I

Fraktur Lefort I ( fraktur Guerin) meliputi fraktur bagian bawah. Bisa unilateral maupun bilateral. Garis fraktur berjalan sepanjang maksila bagian bawah sampai bagian bawah rongga hidung. Fraktur berjalan dari septum hidung hingga ke bagian lateral piriformis, fraktur berjalan secara horizontal diatas apikal gigi, mmenyeberang dibawah sambungan zygomatikomaksilar dan hingga mengganggu dasar os pterigoid. Kerusakan yang mungkin terdapat pada fraktur Le fort I ini adalah kerusakan pada:

a) Prosesus arteroralis

b) Bagian dari sinus maksilaris

c) Palatum durum

d) Bagian bawah lamina pterigoid

Gerakan tidak normal akibat fraktur ini dapat dirasakan dengan menggerakkan dengan jari. Garis fraktur yang mengarah ke vertikal , yang biasanya terdapat pada garis tengah, membagi muka menjadi dua bagian (Moe, kris. 2008).

Gambar: Fraktur maksila Le fort I

Sumber: Moe, kris. 2008.. http://emedicine.medscape.com2. Fraktur maksila Le fort II

Fraktur Le Fort II (pyramidal) dapat terjadi dari hantaman pada maksila bagian bawah atau tengah. Fraktur ini mempunyai bentuk seperti piramida dan terjadi pada jembatan hidung atau dibawah sutura nasofrontalis melalui prosessus frontalis maksila, secara inferolateral melaluii tulang lakrimal dan inferior dasar orbital dan berakhir di dekat inferior foramen orbital, dan secara inferior melalui dinding anterior sinus maksilaris; kemudian berjalan dibawa zygoma menyeberangi fissure pterigomaksila dan menuju ke lamina pterigoid. Fraktur pada lamina ciribriformis dan atap sel ethmoid dapat merusak sistem lakrimalis, karena fraktur ini sangat mudah digerakkan maka disebut floating maxilla (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).

Gambar: Fraktur maksila Le fort II

Sumber: Moe, kris. 2008.. http://emedicine.medscape.com3. Fraktur maksila Le fort III

Fraktur Le fort III (craniofacial dysjunction) adalah suatu fraktur yang memisahkan secara lengkap antara tulang-tulang cranial. Garis fraktur berjalan melalui sutura nasofrontal diteruskan sepanjang ethmoid junction melaui fisura orbitalis superior melintang ke arah dinding lateral ke orbita, sutura zygomatika frontal dan sutura temporozygomatik. Fraktur Le fort III ini biasanya bersifat kominutif yang disebit keainan dishface. Fraktur maksila Le fort III ini sering menimbulkan komplikasi intrakanial seperti timbulnya pengeluaran cairan otak melalui atap sel ethmoid dan lamina cribiformis (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).

Gambar: Fraktur maksila Le fort III

Sumber: Moe, kris. 2008.. http://emedicine.medscape.comTanda dan gejala klinis

Fraktur pada tulang wajah seperti fraktur pada tulang-tulang lain menimbulkan gejala seperti rasa sakit, memar, dan bengkak disekitar jaringan lunak. Fraktur pada hidung, dasar tengkorak, atau maksila dapat dihubungkan dengan epistaksis. Patah pada hidung dapat diasosiasikan dengan deformitas hidung, memar, dan bengkak. Deformitas pada wajah seperti tulang pipi yang lebih menonjol dan gigi yang tidak dapat menutup secara sempurna dapat dijadikan tanda adanya fraktur. Asimetris pada wajah menandakan fraktur tulang wajah atau kerusakan pada syaraf. Penderita patah tulang mandibula biasanya menderita rasa sakit dan kesulitan ketika membuka mulut dan bengkak pada dagu dan bibir ( Moe, Kris.2008).

Diagnosis

Radiografi, biasa digunakan untuk mendiagnosis fraktur, agiografi dapat digunakan untuk menentukan lokasi sumber perdarahan. CT scan lebih akurat untuk mendeteksi patah tulang dan memeriksa jaringan lunak serta menentukan apakah tindakan bedah memang dibutuhkan (Soepardi dan Iskandar. 2001).Penatalaksanaan

Penanggulangan fraktur maksila (mid facial fracture) sangat ditekankan agar rahang atas dan rahang bawah dapat menutup. Dilakukan fiksasi inter-maksilar sehingga oklusi gigi menjadi sempurna. Pada tindakan ini banyak digunakan kawat baja atau miniplate sesuai garis fraktur. Reposisi, suspensi(Le fort I,II dengan zygomatico circumferential wiring, Le fort III dengan fronto circumferential wiring) interdental wiring. Untuk fraktur maksila yang impresif perlu dilakukan traksi skeletal. Interdental wiring dipertahankan satu bulan sedangkan suspensi dipertahankan selama dua bulan ( Moe, Kris.2008).Fraktur Mandibula

Fraktur mandibula paling sering terjadi. Hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Penanganan fraktur mandibula sangat penting terutama untuk mendapatkan efek kosmetik yang memuaskan, oklusi gigi yang sempurna, proses mengunyah dan menelan yang sempurna. Fraktur mandibula sangat penting dihubungkan dengan adanya otot yang bekerja dan berorigo atau berisersio pada mandibula ini. Otot tersebut adalah otot elevator, otot depressor, dan otot protusor (Iskandar dan Helmi. 2001).

Trauma dan fraktur pada mandibula dapat mengancam jiwa. Sebaga contoh trauma pada ipsilateral body fracture dan contralateral subcondylar fracture. Trauma pada symphysis dapat menyebabkan fraktur symphyseal dan fraktur bilateral subcondylar. Dengan adanya fraktur bilateral, parasymphyseal selalu melindungi jalan nafas dari obstruksi yang disebabkan retrodisplaced lidah. Gangguan pada jalan nafas sering terjadi pada fraktur mandibula, sehingga dapat menyebabkan perdarahan intraoral, odema, keilangan gigi, dan posterior dislokasi mandibula dan atau lidah dikarenakan pergeseran segmen mandibula. Lokasi terjadinya fraktur mandibula biasanya pada daerah condylar-subcondylar, tubuh dann angulus. Frekuensi lokasi fraktur mandibula sebagai berikut:

Condilus - 29%

Angulus- 24%

Symphysis - 22%

Tubuh - 16%

Ramus - 1.7%

Coronoid - 1.3%

Tipe fraktur biasanya disebabkan oleh kecelakaan kendaraan bermotor. Fraktur symphyseal dan bilateral parasymphyseal disebabkan oleh mandibula yang menghantam roda kemudi atau dashboard (Iskandar dan Helmi. 2001; Moe, kris. 2008.).

.

Gambar: lokasi fraktur mandibula

Sumber: Chang, Edward.2008. http://emedicine.medscape.comGejala klinis

Diagnosis fraktur mandibula ditegakkan berdasarkan adanya riwayat kerusakan rahang bawah dengan memperhatikan gejala sebagai berikut:

1. Pembengkakan, ekimosis ataupun laserasi pada kulit yang meliputi mandibula

2. Rasa sakit yang disebabkan oleh kerusakan pada nervus alveolaris inferior

3. Anastesia pada satu sisi bibir bawah, pada gusi, atau pada gigi dimana nervus alveolaris inferior menjadi rusak

4. Maloklusi

5. Adanya krepitasi

6. Trismus, rasa sakit mengunyah

7. Gangguan jalan nafas

8. dll ((Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).Diagnosis

Radiografi, biasa digunakan untuk mendiagnosis fraktur dengan melakukan foto polos pada posisi posteroanterior, lateral, towne, lateral oblik kiri dan kanan, agiografi dapat digunakan untuk menentukan lokasi sumber perdarahan. CT scan lebih akurat untuk mendeteksi patah tulang dan memeriksa jaringan lunak serta menentukan apakah tindakan bedah memang dibutuhkan (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001).Penatalaksanaan

Penatalaksanaan tergantung pada lokasi fraktur mandibula, luasnya fraktur dan keluhan penderita. Lokasi fraktur ditentukan dengan pemeriksaan radiografi. Dapat digunakan juga mini atau mikro palte pada mandibula dengan tindakan pembedahan. Penatalaksanaan non operatif dilakukan pada fraktur mandibula minimal dan dislokasi. Pada anak-anak biasanya sering terjadi fraktur yang tidak sempurna yang disebut fraktur greenstick dimana biasanya dilakukan perawatan konservati pada pasien dewasa dengan fraktur minimal juga dilakukan perawatan secara konservatif. Reposisi terbuka, fiksasi dengan interosseous wiring dan interdental wiring. Interdental wiring dipertahankan selama satu bulan. Pilihan fiksasi interna yang adalah dengan pemasangan plat dan sekrup. Fraktur daerah ramus, kondilus, koronoid, yang maloklusinya dapat dikoreksi dengan reposisi tertutup, cukup diimmobilisasi dengan interdental wiring (Iskandar dan Helmi. 2001; Soepardi dan Iskandar. 2001; Chang, Edward.2008).PARESE NERVUS FASIALIS

Kelumpuhan nervus Fasialis (parese N.VII) merupakan kelumpuhan otot-otot wajah. N. Fasialis terdiri dari 3 komponen yaitu komponen motoris, sensoris dan parasimpatis (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Gangguan nervus fasialis dapat mengakibatkan kelumpuhan otot-otot wajah, kelopak mata tidak bisa ditutup, gangguan air mata dan ludah, gangguan rasa pengecap di bagian belakang lidah serta gangguan pendengaran (hiperakusis). Kelumpuhan fungsi motorik nervus fasialis mengakibatkan otot-otot wajah satu sisi tidak berfungsi, ditandai dengan hilangnya lipatan hidung bibir, sudut mulut turun, bibir tertarik kesisi yang sehat. Pasien akan mengalami kesulitan mengunyah dan menelan. Air ludah akan keluar dari sudut mulut yang turun. Kelopak mata tidak bisa menutup pada sisi yang sakit, terdapat kumpulan air mata di kelopak mata bawah (epifora). Refleks kornea pada sisi sakit tidak ada (Sholehudin. 2008).

Pada tulang temporal, n.VII dibagi dalam 3 segmen yaitu segmen labirin yang terletak antara kanal akustik internus dan ganglion genikulatum, segmen timpani terletak diantara bagian distal ganglion genikulatum dan berjalan ke arah posterior telinga tengah, kemudian ke arah fenestra ovalis dan stapes, kemudian terletak sejajar dengan kanal semisirkularis horizontal. Segmen mastoid, mulai dari dinding medial dan superior kavum timpani, bagian ini merupakan bagian paling posterior dari n.VII, sehingga mudah terkena trauma pada saat operasi (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Di dalam tulang temporal n.VII memberikan 3 cabang, yaitu nervus petrosus superior mayor, nervus stapedius dan korda timpani. Nervus petrosus superior mayor yang keluar dari ganglionj genikulatum. Saraf yang memberikan rangsang untuk sekresi pada kelenjar lakrimalis. Nervus stapedius yang mensarafi muskulus stapedius dan berfungsi sebagai peredam suara. Korda timpani yang memberikan serabut perasa pada dupertiga lidah bagian depan (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Etiologi Parese n.Fasialis

Penyebab kelumpuhan n.fasialis antara lain kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah dan idiopatik. Kelumpuhan yang didapat secara kongenital bersifat ireversibel dan terdapat bersamaan dengan anomali pada telinga dan tulang pendengaran (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Proses infeksi pada intrakranial atau infeksi telinga tengah, dapat menyebabkan kelumpuhan n.Fasialis. Infeksi intrakranial yang menyebabkan kelumpuhan, sindrom Ramsey-Hunt, herpes optikus, dan infeksi telinga tengah ialah otitis media supuratif kronis yang telah merusak kanal Fallopi. Tumor ekstrakranial yang menyebabkan kelumpuhan n.VII adalah tumor telinga tengah dan tumor parotis, sedangkan tumor inrakranial dapat berupa tumor serebelopontin, neuroma akustik dan neuriloma juga dapat menyebabkan kelumpuhan n.fasialis (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Fraktur yang menyebabkan kelumpuhan n.Fasialis adalah fraktus pars petrosa os temporal. Gangguan pembuluh darah misalnya trombosis arteri karotis, a.Maksilaris dan a.serebri media (Soepardi dan Iskandar, 2001).

Pemeriksaan fungsi n. Fasialis

Tujuan pemeriksaaan untuk menentukan letak lesi dan menentukan derajat kelumpuhannya.

Untuk menentukan derajat kelumpuhan, dilakukan pemeriksaan fungsi motor. Hasilnya dihitung dalam persen (%).

Pemeriksaan gustometer, dapat ditentukan ambang kecep dari pasien.

Tes Schimer, caranya dengan meletakkan kertas lakmus pada bagian inferior konjungtiva. Dapat dihitung berapa banyak sekresi kelenjar lakrimalis.

Pemeriksaan NET (nervus extability test) dengan membedakan kiri dan kanan. Bila perbedaan lebih dari 3,5 mA menandakan fungsi n.VII dalam keadaan serius. Dimana test ini untuk mengetahui ambang rangsang permukaan n.VII.

Hiperakusis, jika ada kelumpuhan N. Stapedius yang melayani otot stapedius maka suara-suara yang diterima oleh telinga pasien menjadi lebih keras intensitasnya.(Kedokteran dan Linux, 2008)

Penatalaksanaan

1. Pada parese N.VII dengan gangguan hantaran ringan dan fungsi motor masih baik pengobatan ditujukan untuk menghilangkan edema saraf dengan menggunakan obat-obatan: anti edema, vasodilatansia dan neurotronika.

2. Pada parese N.VII dengan gangguan hantaran berat atau sudah terjadi denervasi total tindakan operatif segera harus dilakukan dengan teknik dekompresi N.VII transmastoid.

(Soepardi dan Iskandar, 2001).RINGKASAN DAN SARANLaring sebagai fungsi pernapasan merupakan saluran napas yang paling sempit, sehingga merupakan saluran napas yang sering mendapat gangguan. Etiologi yang dapat menyebabkan sumbatan laring dibagi menjadi: benda asing; trauma; infeksi, seperti epiglotitis; neoplasma, seperti tumor laring; gangguan neurogenik pada laring. Jakson membagi sumbatan pada laring menjadi 4 stadium dengan tanda dan gejala. Dalam penatalaksanaan sumbatan pada prinsipnya diusahakan supaya jalan napas lancar kembali. Pada stadium 1 tindakan konservatif dengan pemberian anti inflamasi, anti alergi, antibiotika, serta pemberian oksigen intermiten. Pada stadium 2 dan 3 dilakukan intubasi endotrakea dan trakeostomi. Pada stadium 4 dilakukan krikotirotomi.Epistaksis sering ditemukan sehari-hari dan mungkin hampir 90% dapat berhenti dengan sendirinya (spontan) atau dengan tindakan sederhana yang dilakukan oleh pasien sendiri dengan jalan menekan hidungnya. Epistaksis berat, walaupun jarang dijumpai, dapat mengancam keselamatan jiwa pasien, bahkan dapat berakibat fatal, bila tidak segera ditolong. epistakasis posterior dapat berasal dari arteri sphenopalatina dan arteri ethmoid posterior. Epistaksis dapat ditimbulkan oleh sebab-sebab lokal dan umum atau kelainan sistemik. Diagnosis ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium, dan mencari sumber perdarahan Prinsip pertama dari penatalaksanaan epistaksis yang pertama adalah menjaga ABC tetap baik. Ada 3 prinsip utama dalam menanggulangi epistaksis yaitu menghentikan perdarahan, mencegah komplikasi, mencegah berulangnya epistaksis. Jika pasien dalam keadaan gawat seperti syok atau anemia lebih baik diperbaiki dulu keadaan umum pasien baru menanggulangi perdarahan dari hidung itu sendiri.OMSK mempunyai potensi serius karena komplikasinya yang dapat mengancam kesehatan bahkan kematian. Biasanya ini terdapat pada pasien OMSK tipe maligna. Komplikasi yang dapat menyebabkan keadaan serius adalah komplikasi ekstradural dan susunan saraf pusat. Pengobatan medikamentosa yang tidak mengurangi gejala klinis seperti otorea yang tidak berhenti, harus dicurigai kemungkinan terjadinya komplikasi. Pemeriksaan fisik dan radiologik yang tepat dapat menegakkan diagnosis sehingga mempercepat pemberian terapi yang efektif.Tuli mendadak (sudden deafness) merupakan keadaan emergensi, bersifat sensorineural dan penyebabnya tidak dapat langsung diketahui, umumnya mengenai satu telinga. Gejala tuli mendadak biasanya disertai dengan tinitus, vertigo, rasa penuh pada telinga yang sakit, otalgia, parestesia dan gangguan vestibuler sebelumnya. Belum ada penelitian yang dapat membuktikan bahwa suatu obat secara bermakna dapat menyembuhkan tuli mendadak. Fraktur maksila sering terjadi sebagai akibat dari trauma tumbukan dengan energi tinggi pada tulang tengkorak. Jika terjadi fraktur maksila harus segera dilakukan tindakan untuk mendapatkan kembali fungsi normal dan efek kosmetik yang baik. Harus diperhatikan juga jalan nafas yang baik serta profilaksis kemungkinan terjadinya infeksi. Fraktur maksila diklasifikasikan menjadi fraktur maksila Le Fort I, fraktur maksila Le Fort II, dan fraktur maksila Le Fort III. Fraktur pada tulang wajah seperti fraktur pada tulang-tulang lain menimbulkan gejala seperti rasa sakit, memar, dan bengkak disekitar jaringan lunak. Penanggulangan fraktur maksila (mid facial fracture) sangat ditekankan agar rahang atas dan rahang bawah dapat menutup. Dilakukan fiksasi inter-maksilar sehingga oklusi gigi menjadi sempurna.Fraktur mandibula paling sering terjadi. Hal ini disebabkan kondisi mandibula yang terpisah dari kranium. Penanganan fraktur mandibula sangat penting terutama untuk mendapatkan efek kosmetik yang memuaskan, oklusi gigi yang sempurna, proses mengunyah dan menelan yang sempurna. Diagnosis fraktur mandibula ditegakkan berdasarkan adanya riwayat kerusakan rahang bawah dengan memperhatikan gejala-gejalanya. Penatalaksanaan tergantung pada lokasi fraktur mandibula, luasnya fraktur dan keluhan penderita. Penatalaksanaan non operatif dilakukan pada fraktur mandibula minimal dan dislokasi.Kelumpuhan nervus Fasialis merupakan kelumpuhan otot-otot wajah. Penyebab kelumpuhan antara lain kongenital, infeksi, tumor, trauma, gangguan pembuluh darah dan idiopatik. Pemeriksaaan dilakukan untuk menentukan letak lesi dan derajat kelumpuhannya. Bila gangguan hantaran ringan pengobatan ditujukan untuk menghilangkan edema saraf dan gangguan berat dengan tindakan operatif. Pada fraktur nasal disebabkan oleh trauma dengan kecepatan rendah, dengan tanda-tanda adanya edema/ hematoma, struktur hidung berubah, terdapat krepitasi dan dislokasi septum nasi. Penatalaksanaan dengan reduksi dan pada trauma terbuka dilakukan eksplorasi di tempat luka.DAFTAR PUSTAKA

Anna H messner, MD. Et al. 2009. Epidemiology and etiology of epistaxis in children. http://eccap0602p.utd.comBambang S. 1993. Laringologi. Balai penerbit UNDIP: Semarang.

Berman S. Otitis media in developing countries. Pediatrics. July 2006. Available from URL: http://www.pediatrics.org/

Bowman, J. G. 2009. Epiglottitis. eMedicine. http://emedicine.medscape.com/article /763612-overviewChang, Edward. 2008. Mandible fractures general principle and occlusion. http://emedicine.medscape.comDjaafar ZA. Kelainan telinga tengah. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta 2007.Felter, R. A. 2009. Epilgottitis. eMedicine. http://emedicine.medscape.com/article/ 801369-overviewGhossaini. 2007. Sudden Hearing Loss. http://www.american-hearing.org.Hadiwikarta, A., Rumarjono dan Soepardi, E. Penanggulangan Sumbatan Laring. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta 2007.Helmi. Komplikasi Otitis Media Supuratif Kronis Dan Mastoiditis. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta 2007.Hembing. 2008. Mengatasi dan Mencegah Perdarahan Hidung (Mimisan). http:// cybermed.cbn.net.id.htmIchsan, Mohammad. 2009. Penatalaksanaan Epistaksis. http://cdk.mhtIskandar dan Helmi. 2001. Panduan Penatalaksanaan Gawat Darurat THT. FKUI. Jakarta

Jeffry A Evans, MD. Et al. 2008. Epistaksis. http://emedicine.comJunizaf, M. H. Benda Asing Di Saluran Napas. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta 2007.

Kartika, Henny. 2009. Epistaksis. http://[email protected] dan Linux. 2008. Pemeriksaan Saraf. http://www.medlinux.com

Moe, kris. 2008. Facial Trauma, maxillary , and Le Fort Fractures. http://emedicine. medscape.comMunir, M., Hadiwikarta, A., Hutauruk, S.M.. Trauma Laring. Dalam : Soepardi EA, Iskandar N, Ed. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorokan Kepala & Leher. Edisi VI. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Jakarta 2007.

NIDCD. 2003. Sudden Deafness. USA. http://www.nidcd.nih.govPaparella MM, Adams GL, Levine SC. Penyakit telinga tengah dan mastoid. Dalam: Effendi H, Santoso K, Ed. BOIES buku ajar penyakit THT. Edisi 6. Jakarta: EGC, 1997Ross, A.T. 2007. Nasal and Septal Fractures. http://www.emedicine.com

Sholehudin. 2008. Gangguan pada Nervus Cranialis. http://www.cermin-kedokteran.comSupriyono. 2009. Tuli Mendadak. http://nawalahusada.wordpress.com/artikel-kedokteranUniversitas Sumatra Utara. 2008. Tuli Mendadak. USU Digital Library

Wikipedia. 2009. Tracheotomy. http://en.wikipedia.org/wiki/Tracheostomy

Wikipedia. 2008. Cricothyrotomy. http://en.wikipedia.org/wiki/Cricothyrotomyhttp://bedahumum.wordpress.com/2008/10/10/krikotirotomi. Krikotirotomi. 2008http://bedahumum.wordpress.com. Reposisi Fraktur Nasal. 2008http://www.w3.org/1999.xhtml. Fraktur Nasal. 19991 Pita Suara2 Kartilago Tiroid3 - Kartilago Kricoid4 - Kartilago Trachea5 - Balloon cuff

A B

A B

46