kebahayaan pemimpin-pemimpin sekte

of 12 /12
1 Joe Navarro menulis buku terbarunya yang terbit tahun ini, “Dangerous Personalities,” tentang orang-orang berpribadi berbahaya: Narsis hanya memuja diri sendiri, Paranoid yang penuh misteri dan Predator yang memangsa orang-orang yang terlanjur sudah percaya kepadanya. Buku yang patut dibaca bagi anak muda yang ingin menikah agar segera tahu dan menghindar dari calon pacar yang memiliki personalitas berbahaya. Bahkan patut dibaca oleh ibu rumah tangga, pegawai, bos dan siapa saja demi untuk tanggap dini dan melindungi diri dari orang-orang yang berbahaya bisa melukai jiwa raga. Personalitas berbahaya ini bisa siapa saja: pacar, karyawan, bos, dokter, tukang kayu, dsb. Tetapi bagaimana jika ada pemuka-pemuka agama memiliki personalitas yang berbahaya? Seorang predator yang menelan jiwa pengikutnya? Seorang narsis yang ingin menjadi ilah karena diidolakan pengikutnya? Seorang paranoid megalomania delusional yang membawa pengikutnya berjiwa sektarian? Dalam pengalamannya 25 tahun lebih mengenali personalitas yang berbahaya di tengah pemimpin-pemimpin agama, Joe Navarro menulis artikel ini untuk memberikan kewaspadaan atas kebahayaan yang ditimbulkan kepada pengikut mereka. “Kapankah seorang pemimpin sekte menjadi “jahat” atau “rusak?” Atau tepatnya lagi, “Kapankah sesorang pemimpin sekte sakit jiwa atau menjadi berbahaya bagi orang-orang lain?” Ini adalah pertanyaan yang tepat sebab ditinjau dari catatan sejarah dapat terlihat besarnya dampak berbahaya secara emosional, kejiwaan, kerohanian, badani, atau keuangan yang diakibatkan oleh berbagai pemimpin-pemimpin sekte di seluruh dunia. Dalam penyelidikannya sebagai agen FBI khusus bidang pengawasan bagi ajaran sekte dan pemimpin sekte, Navarro dapat mengantipasi dengan jeli bahwa seseorang itu berbahaya, dan amatlah yakin dapat mencederai orang-orang lain. Dalam penyelidikannya atas hidup, ajaran, dan prilaku dari Jim Jones (Jonestown Guyana), David Karesh (Branch Davidians), Stewart Traill (The Church of Bible Understanding), Charles Manson, Shoko Asahara (Aum Shinrikyo), Joseph Di Mambro (The Order of the Solar Temple aka Ordre du Temple Solaire), Marshall Heff Applewhit (Heaven’s Gate), Bhagwan Rajneesh (Rajneesh Movement), and Warren Jeffs (pemimpin ajaran poligami), Navarro menyimpulkan bahwa terlihat jelas semua individu pemimpin agama ini adalah orang-orang narsistik sakit jiwa (pathologically narcissistic). Mereka semua memiliki keyakinan yang berkelebihan bahwa mereka begitu spesial, dan hanya mereka sajalah yang memiliki semua jawaban atas segala persoalan, dan mereka patut dihormati. Mereka menuntut kesetiaan total dari pengikut-pengikut mereka, mereka RECI SydnEy nEwSlEttER Vol 88, oCtobER - noVEmbER 2014 B a c k t o B a s i c Bersambung ke halaman 2.... KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

Upload: others

Post on 30-Nov-2021

35 views

Category:

Documents


5 download

TRANSCRIPT

Page 1: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

1

Joe Navarro menulis buku terbarunya yang

terbit tahun ini, “Dangerous Personalities,”

tentang orang-orang berpribadi berbahaya:

Narsis hanya memuja diri sendiri, Paranoid

yang penuh misteri dan Predator

yang memangsa orang-orang

yang terlanjur sudah percaya

kepadanya. Buku yang patut

dibaca bagi anak muda yang

ingin menikah agar segera tahu

dan menghindar dari calon pacar

yang memiliki personalitas

berbahaya. Bahkan patut dibaca

oleh ibu rumah tangga, pegawai,

bos dan siapa saja demi untuk

tanggap dini dan melindungi diri

dari orang-orang yang berbahaya

bisa melukai jiwa raga.

Personalitas berbahaya ini bisa

siapa saja: pacar, karyawan, bos,

dokter, tukang kayu, dsb.

Tetapi bagaimana jika ada

pemuka-pemuka agama memiliki

personalitas yang berbahaya?

Seorang predator yang menelan

jiwa pengikutnya? Seorang

narsis yang ingin menjadi ilah

karena diidolakan pengikutnya?

Seorang paranoid megalomania

delusional yang membawa

pengikutnya berjiwa sektarian?

Dalam pengalamannya 25 tahun

lebih mengenali personalitas

yang berbahaya di tengah

pemimpin-pemimpin agama, Joe Navarro

menulis artikel ini untuk memberikan

kewaspadaan atas kebahayaan yang

ditimbulkan kepada pengikut mereka.

“Kapankah seorang pemimpin sekte

menjadi “jahat” atau “rusak?” Atau tepatnya

lagi, “Kapankah sesorang pemimpin sekte

sakit jiwa atau menjadi berbahaya bagi

orang-orang lain?” Ini adalah pertanyaan

yang tepat sebab ditinjau dari catatan

sejarah dapat terlihat besarnya dampak

berbahaya secara emosional, kejiwaan,

kerohanian, badani, atau keuangan yang

diakibatkan oleh berbagai

pemimpin-pemimpin sekte di seluruh dunia.

Dalam penyelidikannya sebagai agen FBI

khusus bidang pengawasan bagi ajaran sekte

dan pemimpin sekte, Navarro

dapat mengantipasi dengan jeli

bahwa seseorang itu berbahaya,

dan amatlah yakin dapat

mencederai orang-orang lain.

Dalam penyelidikannya atas

hidup, ajaran, dan prilaku dari

Jim Jones (Jonestown Guyana),

David Karesh (Branch

Davidians), Stewart Traill (The

Church of Bible Understanding),

Charles Manson, Shoko Asahara

(Aum Shinrikyo), Joseph Di

Mambro (The Order of the Solar

Temple aka Ordre du Temple

Solaire), Marshall Heff

Applewhit (Heaven’s Gate),

Bhagwan Rajneesh (Rajneesh

Movement), and Warren Jeffs

(pemimpin ajaran poligami),

Navarro menyimpulkan bahwa

terlihat jelas semua individu

pemimpin agama ini adalah

orang-orang narsistik sakit jiwa

(pathologically narcissistic).

Mereka semua memiliki

keyakinan yang berkelebihan

bahwa mereka begitu spesial, dan

hanya mereka sajalah yang

memiliki semua jawaban atas

segala persoalan, dan mereka patut

dihormati. Mereka menuntut kesetiaan total

dari pengikut-pengikut mereka, mereka

R E C I   S y d n E y n E w S l E t t E R V o l 8 8 , o C t o b E R - n o V E m b E R 2 0 1 4

B a c k t o B a s i c

Bersambung ke halaman 2....

KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

Page 2: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

2

menilai diri berlebihan dan pada saat yang

sama merendahkan orang-orang di

sekeliling mereka. Mereka tidak sanggup

menerima kritikan, dan terlebih lagi mereka

tidak boleh diragukan atau ditantang. Dan

tentunya, walaupun adanya ciri-ciri yang

buruk dalam diri mereka,

mereka tidak menghadapi

kesulitan apapun untuk

menjadi daya tarik bagi

orang-orang yang bersedia

mengabaikan semua

ciri-ciri buruk mereka.

Jika anda mengetahui

adanya seorang pemimpin

sekte agama yang

memiliki hampir semua

dari ciri-ciri di atas maka

besarlah kemungkinan dia

akan mencederai banyak

orang secara emosional,

kejiwaan, fisik,

kerohanian, atau finansial,

yaitu mereka yang

mengasihinya.

Dalam bukunya,

Dangerous Personalities,

Navarro menyebutkan

sejumlah checklist untuk

mengetahui ciri-ciri dari

pemimpin sekte yang berjiwa patologis

(narsis dan predator) agar anda bersikap

hati-hati, dan jika perlu lari atau menghindar

sedapat mungkin:

1. Dia memiliki ide membesar-besarkan

diri penuh keyakinan akan siapa dirinya dan

apa yang dapat dicapainya.

2. Terlena dengan fantasi akan sukses,

kuasa atau kehebatan yang tanpa batas.

3. Menuntut ketaatan buta yang tidak

boleh dipertanyakan.

4. Mengharapkan rasa kagum

berkelebihan dari para pengikut dan orang

luar.

5. Rasa memiliki hak – mengharapkan

diperlakukan spesial setiap saat.

6. Eksploitasi orang-orang dengan

meminta uang mereka atau menaruh

orang-orang dalam kondisi bahaya secara

finansial.

7. Arogan dan sombong dalam sikap atau

prilaku.

8. Memiliki rasa berkuasa berkelebihan

sehingga dia membengkokkan aturan dan

melanggar hukum.

9. Mencari keuntungan secara seksual dari

anggota-anggota sekte yang dipimpin.

10. Seks sebagai sebuah keharusan bagi

orang-orang dewasa sebagai bagian dari

ritual sekte.

11. Sangat hipersensitif akan diri atau

bagaimana pandangan orang lain.

12. Merendahkan orang-orang di depan

publik sebagai orang yang inferior, tidak

mampu, atau tidak berguna.

13. Membuat orang-orang harus mengakui

kesalahan di depan publik lantas mengejek

atau mempermalukan mereka dengan

mengorek-ngorek kelemahan orangyang

bersalah.

14. Mengabaikan kebutuhan orang-orang

lain, termasuk: kebutuhan

biologis, fisik, emosional,

dan finansial.

15.Berkicau sombong

terus-menerus atas semua

pencapaiannya.

16.Haus menjadi pusat

perhatian dan melakukan

sesuatu untuk menarik

perhatian orang-orang,

seperti datang terlambat,

memakai baju yang menarik

perhatian, berpidato sangat

dramatis, atau masuk

ruangan dengan tindakan

yang menarik perhatian.

17.Menuntut selalu memiliki

yang terbaik (rumah, mobil,

perhiasan, pakaian) dan

orang-orang lain diberikan

barang dan fasilitas lebih

rendah darinya.

18.Nampaknya tidak tulus

menyimak kebutuhan orang

lain, komunikasinya lebih

sering satu arah mendikte.

19. Arogan, membesarkan diri, dan haus

control adalah bagian dari personalitasnya.

20. Melihat orang lain sebagai obyek untuk

diperalat, dimanipulasi atau dikeruk bagi

kepentingan sendiri.

21. Ketika dikritik, dia cenderung meledak

bukan saja dengan marah tetapi murka yang

benci.

22. Setiap orang yang mengkritik atau

mempertanyakannya akan dipanggil sebagai

“musuh.”

23. Menyebut orang-orang lain yang bukan

pengikutnya sebagai “musuh.”

.....KEbahayaan PEmImPIn-PEmImPIn SEKtE...daRI hal 1

Bersambung ke halaman 3....

Page 3: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

3

.....KEbahayaan PEmImPIn-PEmImPIn SEKtE...daRI hal 2

24. Bertindak dengan memaksa kehendak

dengan berbagai cara, tanpa ada keinginan

mengerti apa yang dipikirkan atau yang

diinginkan oleh orang-orang lain.

25. Mempercayai dirinya bagai mahakuasa.

26. Memiliki jawaban atau solusi “ajaib”

atas semua permasalahan.

27. Kelihatan mengagumkan.

28. Kebiasaan merendahkan orang lain

sebagai inferior dan hanya dirinya yang

superior.

29. Memiliki semacam kepribadian yang

dingin dan menjaga

jarak agar

orang-orang

menduga-duga

siapakah dia

sesungguhnya atau

apakah mereka

sungguh

mengenalnya.

30. Mudah

tersinggung jika

melihat orang-orang

bosan, mengabaikan

atau menganggapnya

tidak penting.

31. Memperlakukan

orang lain dengan

arogan dan

merendahkan.

32. Terus-menerus

mengamati siapa

yang menjadi

ancaman baginya

atau siapa yang

menyembahnya.

33. Kata “Aku”

mendominasi

pembicaraan. Dan dia tidak sadar betapa

sering dia mengacu kepada diri sendiri.

34. Benci jika dipermalukan atau terlihat

gagal di depan publik – dia akan

menghadapinya dengan murka yang bengis.

35. Nampaknya tidak merasa bersalah

akesalahan yang diperbuat dan tidak merasa

perlu meminta maaf atas prilakunya.

36. Percaya diri memiliki solusi dan

jawaban atas persoalan dunia.

37. Percaya dirinya adalah ilahi atau wakil

yang terpilih dari yang ilahi.

38. Kaku, tidak mau berubah, atau tidak

sensitive demikianlah kita gambarkan

caranya berpikir.

39. Berusaha mengontrol atas apa saja yang

dilakukan, dibaca, atau dipikirkan oleh

orang-orang lain.

40. Setiap anggota sektenya diisolasi dari

keluarganya atau dari dunia luar.

41. Mengamati atau membatasi hubungan

dengan keluarga dan dunia luar.

42. Bertindak pada sedikit tetapi menuntut

paling banyak.

43. Selalu menekankan bahwa dia

“ditentukan menjadi besar” atau dia akan

jadi “martir.”

44. Sangat lapar pemujaan dan penghargaan

dan sering memancing untuk dipuji.

45. Menggunakan desakan atau tindakan

untuk mencari dan mendapatkan pujian dari

anggota atau mereka yang memujanya.

46. Melihat diri sebagai seorang yang

“tidak bisa dihentikan” dan bahkan

mengatakan hal demikian juga.

47. Menutup-nutupi latar belakang atau

keluarga agar jangan diketahui sebagai

orang yang biasa saja.

48. Tidak pernah berpikir ada yang salah

dengan dirinya – kenyataannya selalu

melihat diri sempurna atau “diberkati.”

49. Mengambil kebebasan untuk pergi

meninggalkan, bepergian, mengatur hidup,

dan kebebasan pengikut-pengikutnya.

50. Mengisolasikan pengikutnya secara

harafiah, seperti pergi ke tempat terpencil,

agar tidak

diamat-amati.

Ketika pemimpin

sekte atau organisasi

agama memiliki

sejumlah besar

ciri-ciri tersebut

maka kita dapat

antisipasi akan ada

satu saat terjadi, dan

terlanjur sudah,

kerusakan akibat

abusif secara

emosional, kejiwaan,

atau finansial kepada

mereka yang

mengidolakannya.

Jika ciri-ciri ini

terlihat dekat dan

lazim dengan

pemimpin-pemimpin,

atau kelompok, sekte,

atau organisasi yang

anda amati, maka

pencederaan jiwa dan

emosi akan terjadi

walau mereka belum

melihat kenyataan ini.

* * * * * * * * * * * *

Sumber dari artikel “Dangerous Cult

Leaders” Spycatcher, publikasi pada tanggal

25 Agustus 2012 dan buku Dangerous

Personalities (New York: Rodale, 2014)

oleh Joe Navarro, M.A. (25 tahun veteran

agen FBI)

Page 4: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

4

Allah yang berdaulat mutlak atas segala

sesuatu adalah Allah yang menyatakan

diri-Nya kepada semua manusia melalui

wahyu umum dan kepada umat pilihan-Nya

melalui wahyu khusus. Salah satu bentuk

wahyu khusus Allah yaitu Kristus dan Alkitab.

Alkitab disebut wahyu Allah karena Alkitab

diilhamkan oleh Allah. Alkitab diilhamkan

Allah dengan cara Allah memakai sarana para

penulis Alkitab yaitu para nabi, rasul, dll yang

dipakai Allah untuk mengomunikasikan

wahyu-Nya kepada manusia, sehingga Alkitab

dapat dipahami dengan bahasa manusia. Oleh

karena itu, tidak heran, di dalam Alkitab, kita

menemukan begitu

banyak jenis literatur

mulai dari sejarah, puisi,

kata-kata bijak, dll.

Semuanya ini

membuktikan Allah

dapat memakai semua

bentuk literatur manusia

untuk menyatakan

kehendak-Nya bagi

umat-Nya.

Bagaimana kita

mengetahui bahwa

Alkitab diilhamkan

Allah? Di PL, kita

menemukan begitu

banyak tulisan “Allah

berfirman” (Kej. 1:22;

17:9; 35:10; dst). Di PB,

Kristus di keempat Injil

mengutip PL (Mat.

4:10; 26:31; Mrk. 7:6;

dst) dan karena Kristus

adalah Allah, maka para penulis kitab Injil

menuliskan kata-kata Kristus sebagai kata-kata

Allah sendiri. Hal ini ditandai dengan

seringnya Kristus berkata, “Aku berkata

kepadamu ... ” (Mat. 5:18, 20, 22, 44; dst) dan

perkataan-Nya lain seperti “Akulah...” (Yoh.

6:35; 9:5; 10:9, 11; 11:25; 14:6; 15:1) Selain

itu di PB, Rasul Paulus dalam surat-suratnya

merujuk pada perkataan Kristus di dalam Injil

dan Petrus pun dalam surat-suratnya merujuk

pada surat-surat Paulus (2Ptr. 3:15). Semuanya

ini membuktikan bahwa Alkitab diilhamkan

oleh Allah.

Mengapa firman Allah ini berbentuk tulisan?

Firman-Nya ini berbentuk tulisan dengan

maksud demi “pemeliharaan dan penyebaran

kebenaran tersebut secara lebih baik, dan demi

peneguhan dan penghiburan yang makin pasti

bagi Gereja-Nya dalam melawan kecemaran

daging, dan melawan niat jahat Iblis dan dunia,

...” (Pengakuan Iman Westminster I.1)

Karena Alkitab diilhamkan Allah, maka

dengan sendirinya, Alkitab itu berotoritas. Apa

arti otoritas Alkitab? Otoritas Alkitab berarti

Alkitab menjadi sumber sekaligus dasar

membangun ajaran dan praktik hidup Kristiani

yang bertanggung jawab. Pengakuan Iman

Westminster menegaskan hal ini, “Hakim

Tertinggi yang olehnya semua kontroversi

agama harus diputuskan, dan semua dekrit dari

konsili-konsili, pendapat dari penulis-penulis

kuno, doktrin manusia, dan spirit pribadi,

harus diperiksa, yang pada keputusan-Nya kita

harus bersandar, hanyalah Roh Kudus yang

berbicara di dalam Alkitab.” (Pengakuan Iman

Westminster I.10) Bukan hanya itu saja,

Alkitab juga menjadi sumber kita menafsirkan

Alkitab. Artinya, kita menafsirkan Alkitab

bukan dengan tradisi gereja maupun Tradisi

rasuli seperti yang diimani oleh Gereja

Katolik, tetapi kita menafsirkan Alkitab

dengan membiarkan Alkitab menjelaskan

dirinya sendiri.

Dari sini, kita belajar bahwa otoritas Alkitab

berkaitan erat dengan otoritas Allah sebagai

penulisnya (2Tim. 3:16-17; 2Ptr. 1:19-20).

Pengakuan Iman Belgia mengajarkan,

... Bukan hanya karena Gereja menerimanya,

dan menganggapnya begitu, melainkan

terutama karena Roh Kudus menyaksikan di

dalam hati kita,

bahwa kitab-kitab ini berasal dari Allah,

...

(Pengakuan Iman Belgia Pasal 5)

Prof. Wayne Grudem, Ph.D. mengajarkan

konsep ini secara implisit dengan mengatakan

bahwa ketika kita meragukan otoritas Alkitab

dengan tidak mempercayainya, maka kita

sebenarnya sedang meragukan otoritas Allah

dan ketika kita meragukan otoritas Allah

dengan tidak mempercayai-Nya, itu berarti

kita menempatkan diri kita sebagai otoritas

yang lebih tinggi dari Allah.

Bagaimana dengan kita?

Kita yang mengaku

bertheologi Reformed,

sudahkah kita

benar-benar tunduk pada

otoritas Alkitab?

Ketundukan kita

ditandai bukan dengan

perkataan kita saja,

tetapi dengan tindakan

nyata yang selalu

menguji segala sesuatu

baik ajaran maupun

praktik hidup kita

dengan Alkitab dan

kerelaan kita mengubah

ajaran maupun praktik

hidup kita yang jelas

bertentangan dengan

ajaran Alkitab dengan

penafsiran yang

bertanggung jawab.

Apakah hal ini berarti kita menyesampingkan

pengalaman rohani, Tradisi rasuli, pemimpin

gereja (pendeta), dll? Kita akan membahas hal

ini di bagian 2.

--Bersambung--

Denny Teguh Sutandio, S.S. yang lahir di

Surabaya, 19 Juli 1985 adalah jemaat Gereja

Kristus Rahmani Indonesia (GKRI) Exodus,

Surabaya yang digembalakan oleh Pdt. Yakub

Tri Handoko, Th.M. Studi theologi awam

bidang Biblika, Historika, dan Doktrin di

Sekolah Theologi Awam Reformed (STAR)

dari GKRI Exodus dan aktif membaca

buku-buku theologi bermutu. Telah menulis

beberapa buku dan artikel-artikel doktrin dan

praktika.

oleh: Denny Teguh Sutandio

Reformed in Brief-2 (Seri Pengajaran Theologi Reformed Secara Singkat dan Praktis):

OTORITAS ALKITAB-1: InSpIRASI dAn OTORITAS ALKITAB

Page 5: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

5

Ayat-ayat Alkitab yang Sulit Ditafsir

Q: Bagaimana mengerti kisah Hakim-hakim

11:29-40, ketika Yefta bersumpah untuk

memberi korban bakaran dari siapa yang

pertama kali menyambut kepulangannya,

apakah berarti terjadi pengorbanan manusia

di mezbah? Jika benar demikian, bagaimana

menjelaskan Alkitab memuji iman Yefta?

A: Apakah betul Yefta mengorbankan anak

demi untuk menggenapkan nazarnya yang

sangat bodoh itu? Jawaban yang diberikan

kebanyakan orang adalah “iya.” Tetapi saya

lebih setuju untuk menafsirkan bahwa nazar

Yefta ini tidak bermaksud secara harafiah

membunuh seseorang, melainkan nazar ini

bisa bermakna simbolis memberi

persembahan yang teragung kepada Tuhan.

Pandangan saya ini berdasarkan beberapa

pertimbangan ini.

1. Penulis Ibrani menyatakan secara positif

akan iman Yefta (Ibr 11:32-34). Yefta

termasuk dalam tokoh-tokoh iman yang

menyatakan iman dan menjalankan keadilan.

Apakah penulis Ibrani dapat dikatakan

berlaku benar memasukkan Yefta dalam

daftar ini, jikalau tindakan akhir yang dicatat

dalam Hakim-Hakim adalah membunuh dan

mengorbankan anaknya di mezbah?

2. Dalam Hakim 11:29, disebutkan bahwa

Roh Tuhan menghinggapi Yefta, lalu di ayat

30 selanjutnya Yefta mengeluarkan nazar

yang menghebohkan ini. Secara konteks

yang dekat ini, jelas sekali bahwa nazar

Yefta dicetuskan sebagai hasil dari dipenuhi

oleh Roh Kudus. Agak sukar dimengerti jika

nazar ini ditafsir Yefta melakukan tindakan

yang bertentangan dengan Roh. Kita bisa

melihat pola yang diberikan oleh kitab

Hakim-Hakim apa artinya ketika seorang

hakim dipenuhi/dihinggapi oleh Roh Allah,

mereka melakukan hal yang positif dan luar

biasa seperti Samson meremukkan seekor

singa (14:6) dan mengalahkan musuh

(15:14,19).

3. Kita dapat menyimpulkan bahwa Yefta

tahu jelas tidaklah mungkin seekor binatang

atau binatang peliharaan yang akan lari

keluar menyambut kepulangannya.

Kesimpulan ini bisa terlihat dari ayat 31 “apa

yang keluar dari pintu rumahku untuk

menemui aku…,” kata “menemui”

senantiasa dipakai berarti menemui manusia

dan bukan hewan. Alasan kedua, yaitu dalam

konteks budaya zaman itu, ketika para pria

pulang dari peperangan, maka para wanita

lazim untuk menyambut dengan girang dan

mengadakan perayaan kemenangan (lih. Kel

15:20; 1 Sam 18:6).

4. Dengan latar belakang dari poin-poin di

atas, maka apakah kita harus menafsir kata

“persembahan bakaran” sebagai

persembahan dalam arti harafiah:

mengorbankan manusia? Setidaknya kita

bisa melihat adanya ayat dalam Perjanjian

Lama yang memakai kata “korban”

(sacrifice) bersifat simbolis, seperti Mazmur

51:19 “Korban sembelihan kepada Allah

ialah jiwa yang hancur.” Sehingga kita bisa

menafsirkan bahwa Yefta dengan dihinggapi

Roh Allah atasnya, memakai kata “korban

sembelihan” yang berarti simbolis: dedikasi

yang termulia dan paling sempurna yang

diberikan kepada Tuhan.

5. Anak perempuan Yefta bersedia

menggenapkan nazar ayahnya ini, bukan

dikorbankan melainkan dedikasi

keperawanannya (11:37). Ia meminta waktu

dua bulan untuk meratapi keperawanannya,

dan Alkitab mencatat bahwa ia

menggenapkan nazar ayahnya dengan tidak

memiliki seorang pria dalam hidupnya.

6. Nazar Yefta ini, dalam dorongan Roh

Allah, adalah sebagai satu korban

persembahan memberikan salah satu anggota

rumahnya, dan yang tidak disangka-sangka

adalah anak perempuan yang dikasihinya,

untuk dipisahkan sebagai pelayan penuh bagi

Tuhan, dan bukan melakukan pekerjaan

normal di rumah seperti menikah dan punya

anak. Di sinilah kita melihat hidup Yefta

menjadi bayang-bayang bagi Yesus Kristus

yang rela datang menggenapkan rencana

Bapa-Nya di sorga dengan sepenuh hati

sebagai penyataan persembahan hidup yang

terbesar. Nazar Yefta adalah cetusan hati

untuk memberi yang terbaik bagi Tuhan, dan

pengorbanan ini semakin besar

pengorbanannya, ketika yang akhirnya harus

diberikan adalah anak yang paling dikasihi.

Q & A (Question and Answer)

Page 6: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

6

LIPUTAN PERISTIWA Father’s Day

Food Bazaar

Page 7: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

7

Father’s Day, One Day Seminar, Revival Night andIndonesian Food Bazaar 2014

1 Day Seminar

Revival Night

Page 8: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

8

II Samuel 6 berkisah tentang Daud yang begitu

bahagia karena berhasil membawa pulang

Tabut Perjanjian ke kota Yerusalem. Sepanjang

arak-arakan pengangkutan tabut itu, ia menari

dan meloncat-loncat dengan sekuat tenaga.

Seluruh orang Israel pun turut bersuka ria.

Sayangnya, istrinya sendiri, Mikhal, malu

melihat perilaku suaminya. Ia tidak setuju bila

raja Israel sampai menari-nari di depan rakyat-

nya. Menurunkan martabat.

Dilarang Memakai Alat Musik

Walaupun Perjanjian Lama mencatat pemaka-

ian alat musik yang beraneka ragam untuk

penyembahan

umat Allah, Per-

janjian Baru

tidak menye-

butkan satupun

alat musik

dalam ibadah.

Konon, gereja

purba melarang

pemakaian alat

musik karena

asosiasinya yang

erat dengan

penyembahan

berhala dan ke-

bejatan moral.

Tarian juga

bernasib sama:

Dilarang!

Clement dari

Alexandria, seo-

rang bapa

gereja, menye-

but permainan

alat musik seba-

gai “teater untuk pemabuk.”

Lebih Baik Diam!

Sejarah gereja memang memberi banyak bukti

tentang kecintaan umat Allah akan musik dan

nyanyian. Namun, tahukah Anda bahwa seo-

rang bapa gereja dari Mesir bernama Pambo

(meninggal sekitar tahun 375) pernah meny-

atakan bahwa lebih baik diam daripada

bernyanyi? Menurutnya, berdiam diri meno-

long jiwa untuk menyembah ketimbang

bernyanyi yang diibaratkan sama seperti

“suara lenguh lembu.” Nah lho!?

Bolehkah Wanita Bernyanyi Dalam Ibadah?

Pada awal abad ke-4, para pemimpin gereja

berbeda pendapat perihal apakah wanita di-

izinkan bernyanyi dalam ibadah. Ambrosius

(330-397) membela hak wanita untuk turut

bernyanyi memuji Allah. Namun, Isidore dari

Pelusium (meninggal sekitar tahun 435)

melarang wanita bernyanyi. Baginya, suara

wanita saat bernyanyi dapat merangsang piki-

ran jorok. Alamak!

Perintis Solmisasi yang Dikucilkan

Guido dari Arrezo (990-1050) diakui oleh para

ahli musik sebagai perintis sistem solmisasi.

Sebenarnya, ia adalah seorang rahib yang

berusaha membantu paduan suara anak ketika

itu untuk belajar musik. Namun, upayanya ini

membuat rekan-rekan biarawan lainnya

khawatir. Mereka takut bila para murid akan

cepat juga mempelajari musik duniawi. Kare-

nanya, Guido sempat diusir dari biara!

Musik Polifoni versus Musik Monofoni

Selama berabad-abad, gereja memakai

nyanyian dengan satu melodi (monofoni) yang

dikenal sebagaiplainchant. Memasuki zaman

Renaisans, nyanyian dengan banyak melodi

yang dinyanyikan secara paralel (polifoni)

mulai digubah untuk kepentingan gereja. Pe-

rubahan ini juga diserang banyak pemimpin

gereja. Ada yang menyamakan musik polifoni

sebagai “konser kegaduhan” dan “ringkikan

pengundang nafsu syahwat.” Maklum saja,

pada zaman itu lute memang lebih sering men-

giringi lagu balada percintaan.

Tarian Murahan dari Jenewa

John Calvin (1509-1564) menggunakan

melodi populer dari masyarakat Jenewa yang

penuh semangat untuk semua lagu gereja. Ia

juga berusaha supaya syair lagu-lagu diangkat

dari Mazmur (Psalmody) dan beberapa teks

dari Perjanjian

Baru seperti

Doa Bapa

Kami. Namun,

lagu gereja

yang bergairah

ini malah di-

hina oleh Ratu

Elizabeth dari

Inggris seba-

gai “tarian mu-

rahan dari

Jenewa.”

Butuh 80

Tahun

Orgel pertama

kali diperke-

nalkan dalam

ibadah gereja

Reformed di

Belanda pada

tahun 1560-an.

Namun, perke-

nalan ini sama

sekali tidak berlangsung mulus. Dewan kota

yang mendukung orgel harus bertengkar den-

gan dewan gereja yang menentang orgel.

Perselisihan ini berlangsung hampir 80 tahun!

Barulah pada tahun 1640-an orgel akhirnya di-

terima oleh semua pihak.

Butuh 80 Tahun

Orgel pertama kali diperkenalkan dalam

ibadah gereja Reformed di Belanda pada tahun

1560-an. Namun, perkenalan ini sama sekali

oleh: G.I. Jimmy Setiawan (Direktur Mentoring Center for Worship Renewal)

SuAmI menARI, ISTRI meRenguT:Selalu Kontroversial, Belajar dari Sejarah

Bersambung ke halaman 9....

Page 9: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

9

tidak berlangsung mulus. Dewan kota yang

mendukung orgel harus bertengkar dengan

dewan gereja yang menentang orgel. Perselisi-

han ini berlangsung hampir 80 tahun! Barulah

pada tahun 1640-an orgel akhirnya diterima

oleh semua pihak.

Pendobrak Psalmody

Isaac Watts (1674-1748) adalah “Bapa

Hymnody Inggris.” Ia memelopori penulisan

himne modern dalam bahasa Inggris. Sebagai

seorang Kalvinis, ia tidak puas dengan keter-

batasan Psalmody. Ia pun memberanikan diri

menulis lagu-lagu yang tidak lagi berdasarkan

Mazmur. Seorang tokoh gereja koloni di

Amerika Serikat, Cotton Mather, memuji lagu-

lagu Watts. Namun, ia tidak menyarankannya

untuk dinyanyikan di gereja. Cukup di rumah!

Orgel Bagi Kerohanian yang Rendah

Saat alat musik orgel beranjak populer di

kalangan gereja di Amerika Serikat pada abad

ke-19, Alexander Campbell, seorang

pengkhotbah ternama, dengan sinis berkata,

“Bagi mereka yang tidak memiliki kerohanian

yang sungguh-sungguh… alat musik seperti itu

bukan hanya disukai tetapi dibutuhkan untuk

menggerakkan jiwa mereka.” Pengkhotbah

lain, Moses E. Lard, bahkan menganjurkan su-

paya jemaat lebih baik keluar dari gereja yang

memakai orgel.

Anehnya Nyanyian Solo

Suara Ira Sankey (1840-1908) begitu dipakai

Tuhan dalam ibadah penjangkauan yang dip-

impin oleh Pendeta D. L. Moody. Banyak pen-

dengar yang tersentuh oleh nyanyian solo

Sankey. Nyanyian Sankey dan khotbah Moody

menjadi kunci kebangunan rohani di mana-

mana. Namun, ada pemimpin gereja yang

menolak nyanyian solo karena memang tidak

biasa pada zaman itu untuk acara-acara

kegerejaan. “Nyanyian solo tempatnya di

gedung konser!” keluh mereka.

“Anti Kristus” yang Melayani Banyak Orang

William Booth (1829-1912), pendiri Bala Ke-

selamatan, dikenal sebagai penginjil yang

melayani masyarakat miskin. Ia memakai alat

musik yang berisik seperti terumpet dan

melodi sekuler dalam pelayanannya. Bahkan,

ia mengajak jemaat bertepuk tangan dalam

ibadah. Karenanya, ia sampai dijuluki “anti

Kristus” oleh Anthony Cooper, pendeta Inggris

lainnya. Bahkan ada yang mengatakan bahwa

ia meminjam melodi dari setan.

Mari Balik ke Masa Lalu

Pada pertengahan abad ke-20, seorang profe-

sor musik bernama Richard T. Gore mener-

bitkan tulisannya yang berjudul “Penghujatan

Dalam Musik.” Dalam tulisannya, ia menye-

butkan bahwa semua musik gereja yang

beredar saat itu sebagai “penghujatan,” “gema

dari rumah bordil,” dan “persembahan yang

tidak hormat kepada Allah.” Dia membujuk

pembacanya untuk kembali kepada Gregorian

Chant dan musik polifoni Barok seperti kan-

tata Bach!

Bagaimana dengan Gaya Musik Pop Masa

Kini?

Sejak paruh akhir abad ke-20, gaya musik pop

merambah ke dalam ibadah gereja. Sekali lagi,

sebagaimana yang sudah ditunjukkan oleh se-

jarah, perubahan ini juga mengundang kontro-

versi. Calvin Johansson, seorang profesor

musik gereja, tidak segan-seganmengatakan,

“Musik pop, atau apapun namanya, adalah he-

donistik… Kita patut menyimpulkan bahwa

penggunaan musik pop sebagai medium untuk

berita Injil adalah salah!”

Bagaimana di Indonesia?

Sebagian kalangan masih bersikeras menen-

tang masuknya gaya musik pop dan sejenisnya

ke dalam gereja. Seorang pembicara musik

gereja senior meradang, “Masak gereja jadi

night club?!” Seorang Doktor Teologi

menuliskan di blog-nya, “Musik gereja tidak

boleh meminjam dari dunia musik kontem-

porer Kristen karena… perwakilan dari suatu

roh yang asing.” Bahkan seorang pengkhotbah

terkenal pernah berseru dari mimbar, “Musik

ini adalah musik sampah!”Hmmm…

Bagaimana dengan Anda?

Sejarah yang Berulang!

Orgel, piano, dan gitar pernah melewati masa-

masa “penganiayaan”. Mereka dikutuk dan di-

cibir oleh gereja di masa lalu dengan pelbagai

alasan yang sama seperti asal muasalnya dari

luar gereja,

asosiasinya dengan keduniawian, dianggap

tidak layak untuk penyembahan kepada Allah

yang Besar, sampai alat musik setan!

Sekarang, drum set yang sedang dipeributkan.

Tampaknya, sejarah terus berulang tanpa kita

sadari. Akankah 100 tahun dari sekarang, drum

set akan diterima dengan baik oleh gereja dan

bahkan dianggap sebagai instrumen ibadah

yang utama seperti piano sekarang? Hanya

Tuhan yang tahu.

Referensi:

1. http://www.buildingchurchleaders.com/ar-

ticles/2003/churchcentral-030512.html?start=1

2. http://truthmagazine.com/archives/vol-

ume23/TM023326.html

3. http://truthmagazine.com/archives/vol-

ume23/TM023333.html

4. http://www.truthmagazine.com/historical-

study-of-controversy-over-instrumental-music-

in-worship-3

5.

https://www.ministrymagazine.org/archive/194

8/September/controversy-over-protestant-

church-music

6. http:// www.buletinpillar.org/artikel/dog-

matisme -dalam-musik#hal-1

7. http://

www.gkagloria.or.id/artikel/index.php

8. http:// graphe-

ministry.org/articles/?p=1166

9. Journal of the American Musicological

Society, Volume 7 (1954).

10. Andrew Wilson-Dickson, The Story of

Christian Music (Oxford: Lion Publishing,

1992).

11. Barry Liesch, The New Worship (Grand

Rapids: Baker

12. Brian Wren, Praying Twice (Louisville:

Westminster John Knox Press, 2000).

13. Paul Westermeyer, Te Deum (Minneapo-

lis: Fortress Press, 1998).

14. Richard J. Mouw & Mark A. Noll (editor),

Wonderful Words of Life (Grand Rapids:

William B. Eerdmans Publishing Company,

2004).

15. Steve Miller, The Contemporary Christian

Music Debate (Wheaton:Tyndale House Pub-

lishers, 1993).

Catatan Redaksi:

GI. Jimmy Setiawan meraih gelar Master of

Theological Studies dalam teologi penyemba-

han dengan predikat memuaskan di Calvin

Theological Seminary, Amerika Serikat.

Calvin Institute of Christian Worship dari

Calvin College menganugerahkannya CICW

Liturgical Studies Award atas prestasinya

dalam studi penyembahan. Setelah kembali ke

Indonesia, ia mendirikan Mentoring Center for

Worship Renewal.

.....SuamI mEnaRI, IStRI mEREngut .....daRI hal 8

Page 10: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

10

Uria. Bukan itu saja, raja Daud juga terlihat

sebagai raja yang memberikan penghargaan

kepada Uria yang telah berjuang. Almost per-

fect crime! Kecuali satu hal muncul: Uria

hanya tidur di luar. Orang lain boleh berpen-

dapat bahwa kandungan Batsyeba adalah

buah Uria, tetapi Uria tahu jelas nantinya jika

anak itu lahir, anak itu bukan anaknya.

Banyak orang bisa tersamar dengan pikiran

licik Daud ini, tetapi akal sehat Uria tidak

bisa ditipu. Sebelum semua motif licik ini

muncul di permukaan kemudian hari, Uria

harus dikubur habis. Harus sekarang! Sebab

Uria belum tahu.

Sampai detik ini, semua rakyat tahu reputasi

mulia raja Daud. Dia membunuh musuh,

tidak pernah membunuh kawan dan rekan

seperjuangan. Dia telah memberi yang terbaik

dan berkorban bagi kesejahteraan rakyat dan

senantiasa membenci ketidak-adilan terhadap

perampasan hak orang kecil. Reputasi mulia

raja Daud ini harus tetap terjaga sekalipun di

dalam kelicikan jahat akan membunuh Uria

yakni Uria harus mati, tetapi mati sebagai

pahlawan. Ini bukan pembunuhan. Ini sebuah

pengorbanan.

Keberanian dan dedikasi mati sahid dari Uria

adalah kekuatan besarnya. Tetapi sekaligus

loophole yang bisa dipakai. Karena dia berani

dan berdedikasi, maka tidak akan ada yang

curiga jika Uria dikirim ke barisan terdepan

di medan pertempuran. Sejarah kerajaan akan

mencatat Uria sebagai pahlawan yang gugur

dengan gagah berani dan hanya segelintir

orang yang tahu bahwa dia di plot untuk ter-

bunuh. Ah, ini hanya rumor, sebuah kasak-

kusuk saja.

Dari berpikir licik, kini raja Daud mengambil

pikiran jahat dan gelap demi reputasinya tidak

terbongkar. Pikiran gelap ini dituangkan di

atas sebuah surat rahasia untuk diserahkan

kepada panglima Yoab di medan perang.

Surat ini diantar oleh Uria. Ia mengantar surat

kematiannya sendiri. Sejauh ini, semua

strategi pikiran jahat ini hanya ada di otak

raja Daud. Dengan surat ini, dia beresiko ra-

hasia ini sekarang diketahui oleh panglima

Yoab juga. Daud yakin Yoab akan eksekusi

permintaannya, sebab tangan Yoab juga

bersimbah darah Abner yang tidak bersalah

yang dibunuhnya. Dosa Yoab ini diperalat

Daud sehingga Yoab pasti akan melakukan

apa saja yang minta Daud dan dia tutup

mulut. Dan “rahasia” Daud ini juga nantinya

akan dipakai oleh Yoab untuk melakukan apa

saja, termasuk melanggar semua titah Daud,

dan Daud tidak berdaya menyentuh Yoab.

Dua orang yang melakukan dosa yang sama

akan saling menutupi dan saling memperalat.

Daud memang berkuasa dan hebat, bagai

dewa, apa saja yang diinginkan didapat dan

apa saja yang direkayasa tercapai. Pem-

bunuhan Uria adalah rekayasa Daud dan

Yoab. Tetapi berita yang sampai ke istana dan

telinga rakyat: Uria gugur dalam peperangan.

Berita sedih ini diam-diam diterima dengan

gembira oleh raja Daud. Berita sedih ini tidak

boleh berlalu begitu saja. Berita sedih ini,

atau tepatnya kebusukan ini, harus dijadikan

momentum kemuliaan. Pertama-tama, jen-

deral Uria segera dianugerahi bintang jasa

utama dan pahlawan nasional. Kedua, janda

dan keluarganya harus dipelihara hidupnya,

maka raja Daud mengambil Batsyeba menjadi

salah-satu dari istrinya. Sebuah klimaks yang

manis: tidak ada rekayasa Daud membunuh

Uria dan mendapatkan Batsyeba, melainkan

Daud memelihara hidup keluarga pahlawan

Uria dengan menikahi Batsyeba, jandanya

yang sedang hamil. Ia bisa mengatur

sedemikian rupa sehingga berbuat dosa, ia

tidak dihukum dan menghilangkan nyawa

seseorang dengan cara yang licik, dia dipan-

dang berjasa menikahi janda orang yang di-

bunuhnya. Karena ia berpikir dia adalah

tuhan. Almost perfect crime! Ada satu hal

yang jangan takabur: ada Tuhan yang benar

yang berdaulat.

Siapapun mereka: pemimpin negara, pemilik

perusahaan, ketua partai, ketua sinode atau

jawara apapun, ketika mereka berlakon bagai

tuhan maka mereka sedang dimabukkan oleh

self-glory yang destruktif. Mereka yang

berpikir bisa merubah dosa terlarang menjadi

mulia diri, memutarbalik kesalahan dengan

menuding orang lain, mencabut hak

pelayanan seseorang dengan alasan men-

jalankan kehendak Allah, dan berpura-pura

terlihat berjasa menolong padahal sesungguh-

nya bermaksud membunuhnya, karena

mereka dipandang berkarisma, berjasa, berko-

rban dan berkarunia. Mereka berani

melakukan sebuah perfect crime, sebab

mereka yakin orang-orang tidak akan mem-

percayainya. Dan mereka akan semakin be-

rani, sebab perfect menjelang ending-nya

sesuai perencanaan, sampai titik dimana Alk-

itab berkata, “Hal itu jahat di mata Tuhan” (2

Samuel 11:27). Anda bukan tuhan! ALMOST

perfect crime!

Mang Bijak

.....thE PERFECt CRImE.....daRI hal 12puisi

Make Me What You Will,

Lord

Make me what You will, Lord,

and set me where You will.

Let me be a vessel of silver or gold,

or a vessel of wood or stone,

just so I am a vessel of honor;

of whatever form or metal,

whether higher or lower,

finer or coarser,

I am content.

If I am not the head or the eye or the ear,

one of the nobler and more honorable

instruments

You will employ,

let me be the hand or the foot,

one of the most laborious and lowest and most

contemptible of all the servants of my Lord.

Let my dwelling be on the dunghill,

my portion in the wilderness,

my name and lot be amongst the hewers of

wood,

or drawers of water,

among the door-keepers of Your house:

anywhere, where I may be serviceable.

I put myself wholly into Your hands.

Put me to what You will,

rank me with whom You will,

put me to doing,

put me to suffering.

Let me be employed for You or

laid aside for You;

exalted for You or trodden under foot for You.

Let me be full; let me be empty;

let me have all things; let me have nothing.

I freely and heartily resign all to

Your pleasure and disposal.

- John Wesley

Page 11: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

11

RESEnSI buKu

THE PRODIGAL GOD ( PENGARANG: TIMOTHY KELLER )

Timothy Keller dalam bukunya yang berjudul The Prodigal God mengupas

mengenai perumpamaan anak yang hilang yang tercatat di dalam injil Lukas.

Seperti tercatat di dalam injil Lukas, ketika Yesus menceritakan perumpamaan

ini, kita mendapati bahwa orang-orang yang datang ingin mendengar Yesus

terbagi menjadi 2 kelompok. Kelompok pertama adalah pemungut-pemungut

cukai dan para pendosa – dilambangkan sebagai anak bungsu, sedangkan

kelompok kedua berisi orang-orang Farisi dan imam-imam – dilambangkan

sebagai anak sulung.

Seringkali hal yang ditekankan melalui perumpamaan ini adalah bagaimana

besar kasih Tuhan terhadap orang-orang berdosa, yang dilambangkan oleh sang

ayah yang mau menerima anaknya kembali tanpa memedulikan kesalahan yang

diperbuat oleh sang anak bungsu. Namun Tim Keller mengatakan bahwa target

sebenarnya dari perumpamaan ini bukanlah hanya tertuju kepada ‘anak bungsu’

yang melambangkan orang-orang berdosa yang tidak peduli dan menolak

kebaikan dan kasih Tuhan, tetapi juga kepada ‘anak sulung’ yang melambangkan

orang-orang percaya yang mematuhi perintah-perintah Tuhan, tetapi sebenarnya

tidak memiliki hubungan personal yang dekat kepada Tuhan sehingga mereka

gagal mengerti akan Tuhan dan anugerahNya.

Kisah ini seringkali membuat kita berpikir bahwa sang anak bungsu hilang atau

tersesat secara spiritual, tetapi ketika kita kupas lebih dalam lagi maka kita akan

melihat dengan jelas bahwa sang anak sulung pun sebenarnya juga hilang atau

tersesat secara spiritual. Perumpamaan ini menunjukkan bagaimana sang anak

bungsu begitu memusatkan segala sesuatu pada dirinya sendiri, tetapi terlebih

lagi kisah ini juga menegur dengan tegas sang anak sulung yang begitu

membanggakan moralitasnya sehingga ia tidak benar-benar menggenggam

esensi yang benar mengenai injil Kristus.

Banyak orang menganggap bahwa esensi Kekristenan terdapat pada bagaimana mereka menjalani moralitas mereka, dimana mereka percaya

bahwa apa yang Tuhan inginkan adalah mereka menjalani kehidupan dengan perilaku yang lebih baik. Mereka beranggapan bahwa apa yang

dimaksud dengan dosa adalah sekedar melanggar peraturan-peraturan. Namun dari kisah ini kita dapat melihat bahwa sang anak sulung yang

kelihatannya tidak melanggar peraturan-peraturan ataupun melakukan perilaku-perilaku yang tidak bermoral-pun juga bisa sama hilang dan

tersesat seperti mereka yang tidak bermoral dan hidup tanpa mematuhi aturan apapun. Ia begitu patuh dan berbuat begitu banyak kebaikan,

tetapi bukan didasari untuk menyenangkan hati Tuhan ataupun karena mereka betul-betul mengasihi Tuhan. Moralisme akan menghasilkan

orang-orang berdosa yang (berpotensi) berperilaku lebih baik, tetapi hanya Injil Kristus yang sanggup mengubahkan hati orang-orang berdosa

yang akan tercermin di dalam kehidupan mereka. Dengan demikian kita dapat dengan jelas melihat bahwa masing-masing anak sama-sama

memberontak kepada sang ayah – yang satu dengan berbuat hal-hal yang sangat buruk dan yang lain dengan melakukan perbuatan yang sangat

baik.

Buku ini bukan hanya menenangkan dan meyakinkan bahwa tidak ada dosa sebesar apapun yang melebihi besar anugerah Tuhan, sehingga

selalu ada harapan akan keselamatan bagi mereka yang belum percaya ataupun sudah membalikkan badan terhadap Tuhan. Tetapi buku ini

juga menegur dengan keras orang-orang Kristen yang mejalani kehidupan moral yang baik dan sudah menerima anugerah Tuhan tetapi malah

merasa superior dan gagal untuk menyadari bahwa tidak ada satu perbuatan baik pun yang sudah kita lakukan untuk mendapatkan anugerah

tersebut dan gagal untuk menyalurkan anugerah itu kepada mereka yang belum percaya ataupun mereka yang menjalankan kehidupan yang

tidak begitu bermoral. Kita selalu sadar bahwa sang anak bungsu harus bertobat akan perbuatan buruknya dan kembali ke jalan yang benar,

namun seringkali kita lupa bahwa sang anak sulung pun harus bertobat akan segala kebaikan yang ia lakukan yang tidak didasari oleh Injil

Kristus.

Tidak ada dosa yang begitu besar sehingga seseorang ada diluar jangkauan keselamatan Kristus dan tidak ada orang yang begitu baik dan

benar sehingga Ia tidak memerlukan Kristus untuk menyelamati dirinya. Sudahkah kita sebagai orang Kristen betul-betul memahami anugerah

yang sudah kita terima dan menjalani hidup kita sesuai dengan anugerah itu? (JJ)

puisi

Page 12: KEBAHAYAAN PEMIMPIN-PEMIMPIN SEKTE

12

Penanggung Jawab: Pdt Effendi Susanto Sth • tim Redaksi: Albert K, Putra, Mark, Monica Puspita Dwika & Jessica Jap• Photographer: Edi Hilman • Email: [email protected]

Gembala Sidang: Pdt. Effendi Susanto S.Th. Ph. (61-2) 9482 5220 Mob: 0411 234 678Sekretariat: Unit 13 / 20 - 22 College Crescent, Hornsby, NSW 2077Kebaktian Umum: Minggu jam 9.30 pagi Kebaktian Kaum Muda: Minggu jam 16.30 sorePersekutuan Remaja dan Sekolah Minggu: Minggu jam 9.30 pagi Persekutuan Doa: Minggu jam 9.00 pagiTempat Kebaktian: 1 - 3 Pearson St, Gladesville, SydneySydney Life Community: Shop 96, 732 Harris St,Apartment Taragon (Next to Rest. Lestari), Ultimo, NSW 2007Website: www.recisydney.org

reformed eVANGeLICAL CHUrCH of INdoNesIA, sYdNeY

thE almoSt PERFECt CRImE

Dia bermalas-malasan di sotoh istana, puncak

yang tertinggi dari semua bangunan yang ada,

simbol kebesaran tertinggi, sebab dia seorang

raja. Bukan raja sembarangan, melainkan raja

yang sukses, hebat, penuh bakat dan jiwa be-

rani. Dia berselonjor malas-malasan, sebab

tidak ada lagi yang perlu dibuktikan. Bawahan

sedang pergi berperang

merebut wilayah lain,

dan jika berhasil maka

wilayah itu toh akhirnya

diklaim miliknya. Dia

telah meraih segala hal.

Dia telah menggapai

dan menggenggam

segala sesuatu. Sembari

berbaring di kursi

malas, matanya berputar

melihat sekeliling. Se-

jauh matanya meman-

dang, semua yang

dilihat adalah miliknya.

Semua yang dipandan-

gnya adalah miliknya-

kah? Ternyata tidak!

Ketika matanya melihat

satu sosok wanita telan-

jang sedang mandi,

tubuh molek ini milik

orang lain. Wanita itu

isteri orang lain, isteri

Uria, bawahannya.

Tetapi tubuh indah itu selalu terbayang dalam

pikiran raja Daud, sayang jika dia tidak memi-

likinya. Bukankah dia seorang raja? Dan men-

jadi raja berarti terkandung di dalamnya segala

hak untuk mendapatkan apa yang diinginkan-

nya? He is craving for illicit sex, dia ngidam

akan seks icip-icip yang terlarang. Maka…

Daud berselingkuh dengan Batsyeba. Nafsu

ingin ini terpenuhi bukan karena dorongan bi-

rahi semata. Dia sedang berada di puncak ke-

jayaan, reputasi tertinggi telah tercapai.

Self-glory! Reputasi agung telah diraihnya se-

bagai pejuang yang berani berkorban. Dahulu

rakyat berpantun, “Saul membunuh ribuan

musuh, tetapi Daud membunuh jutaan musuh,”

sekarang telah menjadi “national anthem.” Dia

memakan buah terlarang ini sebab reputasi

self-glory-nya besar dan perbuatan remeh ini

tidak akan dipercayai orang. Siapa yang per-

caya Daud berselingkuh? Siapa yang percaya

Daud berani tidur dengan isteri bawahan?

Catatan sejarahnya memberitahu bahwa Daud

memperlakukan wanita dengan terhormat.

Ingat Abigail, istri Nabal, walau cantik tetapi

Daud perlakukan dengan hormat. Di puncak

jaya, Daud percaya dia berkuasa memperli-

hatkan good images apa yang harus ditonton

dan menyembunyikan bayangan gelapnya dari

publik. Almost perfect crime! Hampir sem-

purna perselingkuhan ini ditutupi tanpa jejak.

Kecuali satu hal di luar scenario muncul: Bat-

syeba hamil!

Dari nafsu liar menghasilkan pikiran kotor,

dan kini berkembang pikiran licik. Segera

surat dilayangkan kepada panglima Yoab

bahwa raja ingin mendengar berita terbaru dari

medan perang dan

khusus meminta Uria

kembali untuk menje-

laskan secara rinci. Ini

berita penting, masalah

keamanan negara. Raja

Daud menggumpulkan

tentunya para penasehat

dan punggawa istana

untuk mendengar current

affair dari di medan

perang. Di depan umum,

Daud spontan menghar-

gai jasa perjuangan Uria,

padahal itu bukan peng-

hargaan tetapi penyua-

pan, “Uria, pulanglah,

lepas kangenmu kepada

istrimu,” titah raja Daud.

Di depan umum, peng-

hargaan ini adalah “

maksud mulia” raja

Daud, tidak ada seorang

pun yang tahu di ba-

liknya adalah maksud

licik agar tersamarlah siapa bapak sesungguh-

nya dari janin di kandungan Batsyeba. Bahkan

Daud membuat Uria mabuk agar Uria kehilan-

gan kesadaran 100 persen, sehingga dia tidak

terlalu yakin apakah telah tidur bersama

istrinya atau tidak. Sungguh licik! Bukan saja

raja Daud telah mencicipi harta indah Uria,

sekarang ia mau mencederai akal sehat Uria.

Banyak orang tahu bahwa Uria pulang dan jika

nanti Batsyeba melahirkan anak, tentu itu anak

Bersambung ke halaman 10....