kasus appendisitis

of 34 /34
Case Report APPENDISITIS Diajukan untuk Memenuhi Persyaratan Pendidikan Program Profesi Dokter Stase Bedah Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta Pembimbing : dr. Hariyono, Sp. B Diajukan Oleh : Intani Mundiartasari, S.Ked J500100112

Author: wisnu-wijayanto

Post on 16-Jan-2016

79 views

Category:

Documents


0 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Kasus Appendisitis

TRANSCRIPT

Case ReportAPPENDISITIS

Diajukan untuk Memenuhi PersyaratanPendidikan Program Profesi Dokter Stase BedahFakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pembimbing :dr. Hariyono, Sp. B

Diajukan Oleh :Intani Mundiartasari, S.KedJ500100112

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU BEDAHFAKULTAS KEDOKTERANUNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA2014Case ReportAPPENDISITIS

Diajukan Oleh :

Intani MundiartasariJ500100112

Telah disetujui dan disahkan oleh Bagian Program Pendidikan Profesi Fakultas Kedokteran Universitas Muhammadiyah Surakarta

Pada hari,2014

Pembimbing dr. Hariyono, Sp. B(.................................)

Disahkan Ketua Program Profesi :dr. D. Dewi Nirlawati(...............................

DAFTAR ISI

HalamanHALAMAN JUDUL ..............................................................................iLEMBAR PENGESAHAN ...................................................................iiBAB I CASE REPORT ..........................................................................1A. IDENTITAS ................................................................................1B. ANAMNESIS ..............................................................................1C. ANAMNESIS SISTEM .............................................................2D. PEMERIKSAAN FISIK ...........................................................4E. PEMERIKSAAN PENUNJANG .............................................6F. RESUME .....................................................................................7G. DIAGNOSA .................................................................................7H. DIAGNOSIS BANDING ...........................................................8I. TATALAKSANA ......................................................................8J. FOLLOW UP .............................................................................9BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...........................................................15A. DEFINISI ...................................................................................16B. ANATOMI APPENDIKS ........................................................16C. ETIOLOGI .................................................................................16D. PATOFISIOLOGI ......................................................................17E. MANIFESTASI KLINIS ..........................................................18F. DIAGNOSIS ................................................................................19G. DIAGNOSIS BANDING ...........................................................19H. PENATALAKSANAAN ...........................................................20I. KOMPLIKASI ...........................................................................20Daftar Pustaka

CASE REPORT

A. IDENTITASNama: An. PJenis kelamin: Laki-lakiUmur: 14 tahun Alamat: Jetis 6/3 Suruh Tasikmadu Karanganyar Pekerjaan: PelajarTanggal Masuk: 30 Agustus 2014No. RM: 22.82.81B. ANAMNESISRiwayat penyakit pasien diperoleh secara autoanamnesis dan alloanamnesis. a. Keluhan UtamaSakit pada perut kanan bawahb. Riwayat Penyakit SekarangSejak 4 hari SMRS, pasien mengeluh ulu hati terasa sakit disertai badan demam. Kemudian pasien merasakan perut terasa tegang, mual, dan muntah. Muntah 3x, berisi makanan, tidak ada darah.Setelah itu, 2 hari SMRS pasien mengeluh nyeri perut kanan bawah dan badan masih demam. Nyeri dirasakan bertambah jika pasien berjalan sehingga harus membungkukkan badan untuk mengurangi rasa sakit. Sakit tidak menjalar ke pinggang.Menurut pasien, 1 tahun yang lalu pernah mengalami sakit seperti ini, yaitu nyeri perut kanan bawah disertai demam, mual, dan muntah. Namun setelah diberi obat keluhan tersebut dapat hilangc. Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit serupa: diakui 1 tahun yang lalu Riwayat alergi obat: disangkal Riwayat mondok di RS: disangkal

d. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat penyakit serupa: disangkal Riwayat Diabetes Melitus: disangkal Riwayat Hipertensi: disangkal Riwayat alergi obat : disangkale. Riwayat Kesehatan Lingkungan dan KebiasaanPasien seorang pelajar, berangkat ke sekolah pagi dan pulang siang. Rutinitas seperti itu terjadi setiap hari. Pasien tinggal bersama orang tua. Keluarga dan tetangga sekitar rumah tidak ada yang mengalami penyakit serupa. Pasien mempunyai kebiasaan makan makanan pedas.

C. ANAMNESIS SISTEMSistem CerebrospinalGelisah (-), lemah (+), demam (-)

Sistem CardiovascularAkral hangat (+), sianosis (-), anemis (-),

Sistem RespiratoriusBatuk (-), sesak napas (-)

Sistem GenitourinariusBAK (+) dbn

Sistem GastrointestinalPerut sebah (-), nyeri perut (+), mual (+), muntah (-), BAB (+) dbn

Sistem MusculosceletalBadan terasa lemas (+), ekstremitas bawah oedem (-/-)

Sistem IntegumentumPerubahan warna kulit (-), sikatriks (-), tanda penyakit kulit (-)

D. PEMERIKSAAN FISIK1. Status Generalis Keadaan Umum: Lemah Kesadaran : Compos mentis, E4V5M6 Vital Sign: Tekanan Darah: 100/60 Nadi: 100 x/menit Respirasi: 120 x/menit Suhu: 370 C2. Status interna Kepala: Normocephal, conjungtiva anemis (-/-), sklera ikterik (-/-), sianosis (-), reflek pupil (+/+)- Leher: Leher simetris, distensi vena leher (-), deviasi trachea (-), massa (-), peningakatan JVP (-/-), pembesaran kelenjar limfe (-/-)- ThoraxParuHasil pemeriksaan

InspeksiDada kanan dan kiri simetris, tidak ada ketinggalan gerak, pelebaran costa (-), retraksi (-)

PalpasiTidak ada nafas yang tertinggal, Fremitus dada kanan dan kiri sama

PerkusiSonor

AuskultasiTerdengar suara dasar vesikuler (+/+), wheezing (-/-), ronkhi (-/-)

JantungHasil pemeriksaan

InspeksiDinding dada pada daerah pada daerah pericordium tidak cembung / cekung, tidak ada memar maupun sianosis, ictus cordis tidak tampak

PalpasiIctus cordis tidak kuat angkat, teraba di SIC 5 linea mid clavicularis sinistra

PerkusiBunyi : redupBatas Jantung :Batas Kiri Jantung ^ Atas : SIC II di sisi lateral linea parasternalis sinistra.^ Bawah : SIC V linea mid clvicularis sinistra.Batas Kanan Jantung^ Atas : SIC II linea parasternalis dextra^ Bawah : SIC IV linea parasternalis dextra

AuskultasiHR= 100 x/menit BJ I/II murni reguler, bising (-), gallop (-)

AbdomenAbdomenHasil pemeriksaan

InspeksiPerut datar, sikatriks (-)

AuskultasiSuara peristaltik (+), suara tambahan (-)

PalpasiNyeri tekan (+) didaerah inguinal dextra, nyeri Mc. Burney (+), rebound sign (+)

Perkusi Suara timpani (+), nyeri ketok costovertebrae (-)

Ekstremitas Ekstremitas Superior DextraAkral Hangat (+), Edem (-)

Ekstremitas Superior SinistraAkral Hangat (+), Edema (-)

Ekstremitas Inferior DextraAkral Hangat (+), Edema (-)

Ekstremitas Inferior SinistraAkral Hangat (+), Edema (-)

3. Status lokalisPemeriksaan regio inguinal dextra Inspeksi: tampak kesakitan, memegangi perut kanan bawah, perut datar, tidak terlihat massa (benjolan), warna kulit coklat sama seperti di sekitarnya Auskultasi: peristaltik normal, metalic sound (-). Perkusi : redup pada daerah iliaka atau pada kuadran kanan bawah, Palpasi : - Mc. Burney : nyeri tekan (+)- Rovsing sign (+)- Psoas sign (+)- Obturator sign (+)

E. PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan laboratorium 19 juni 2014PemeriksaanAngkaSatuanNilai Normal

Hemoglobin14,4gr/dlLk : 13,0 16,0Pr : 12,0 14,0

Lekosit11,7x 10^3 ul5-10

Eritrosit4,43X 10^3 ul5-10

Hematokrit42,7%Lk : 40 48Pr : 37 43

MCV96,4Pf82 92

MCH32,5Pg27 -31

MCHC33,7g/dl32 36

Leukosit1,9103ul4,00-5,00

Trombosit148103ul150 300

Limfosit %9,0F2%25-40

Monosit %4,6F2%3 9

Limfosit #1,1x 10^3ul1,25- 4,00

Monosit #0,5x 10^3ul0,30 1,00

Gran%86,4F4%50-70

RDW11,9%11,5-14,7

GDS53Mg/100ml70-150

Pemeriksaan USG pada tanggal 24 juni 2014

Keterangan : proses radang mc burney (appendisitis sub akut) Rotgent thorax

F. RESUME1. Anamnesisa. Nyeri perut kanan bawahb. Riwayat demam sebelum masuk rumah sakitc. Pusingd. Mual e. Muntah 1 kalif. BAB sulit 2. Pemeriksaan fisik : dbn3. Status lokalisPemeriksaan regio inguinal dextra Inspeksi: tampak kesakitan, memegangi perut kanan bawah, perut datar, tidak terlihat massa (benjolan), warna kulit coklat sama seperti di sekitarnya Palpasi : - mc burney : nyeri tekan (+), nyeri ketok (+)- rovsing sign (+)- psoas sign (+)- obrurator sign (+)4. pemeriksaan USG : proses radang mc burney (appendisitis sub akut)

G. DIAGNOSA Appendisitis kronis eksaserbasi akut

H. DIAGNOSIS BANDING Gastroententeritis Limfadenitis mesenterika

I. PENATALAKSANAANa. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 2x1d. Inj. Pragesol 3x1e. Inj. Ranitidin 2x1f. Inf. Metronidazole 3x500 mgg. Inj. Ketorolac 3x5 gr

FOLLOW UP20/06/14S/pasien datang dari IGD dengan keluhan nyeri perut hingga tembus kebelakang, BAB (+), kentut (+), riwayat demam (+) 2 hari, riwayat mag, sesak nafas (-)O/T = 130/90 N= 88x/menitS = 36,4 RR= 28x/menitKU = sedang KS=CMAL = 11,7A/Colic abdomen susp appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1

Cek lab urinTelp dr bakri 18.30 Tx lanjut Inf metronidazole 3x500 mg USG

21/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra berkurang, mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 120/80 N= 88x/menitS = 36,7 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMK/L = PKGB (-/-), CA (-/-). SI (-/-)Tho = Pulmo :inspeksi = dada simetris palpasi = gerakan simetrisperkusi = sonorauskultasi = SDV (+/+), wh (-/-), rh (-/-)Cor :HR = 88x/menitInspeksi = ictus tidak terlihatPalpasi = teraba tidak kuat angkat di SIC V linea mid clavicularis sinistraPerkusi = redupAuskultasi = BJ1/II reg murni, bising (-), gallop (-)Abdomen :Inspeksi = perut datar, sikatrik (-)palpasi = NT (-)defans muscular (-), mc burney (+), rebound sign (+), psoas (+)perkusi = timpaniauskultasi = suara peristaltik (+)Eks = Akral hangat, udem eksremitas bawah (-/-)A/Susp appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1f. Inf metronidazole 3x500 mgg. USG

22/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra berkurang, mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 120/70 N= 80x/menitS = 36,5 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMStatus LokalisInspeksi : DatarPalpasi : Lemas, nyeri tekan di titik Mc Burney (+)Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomenAuskultasi : Bising usus (+)Pemeriksaan tambahan : Rovsing sign (+), Psoas (+), rebound sign (+)A/Susp appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1f. Inf metronidazole 3x500 mg

23/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra berkurang, mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 120/80 N= 76x/menitS = 36,3 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMStatus LokalisInspeksi : DatarPalpasi : Lemas, nyeri tekan di titik Mc Burney (+)Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomenAuskultasi : Bising usus (+)Pemeriksaan tambahan : Rovsing sign (+), Psoas (+), rebound sign (+)A/Susp appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1 Inf metronidazole 3x500 mg

24/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra , mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 130/90 N= 78x/menitS = 36,3 5 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMUSG : AppendisitisStatus LokalisInspeksi : DatarPalpasi : Lemas, nyeri tekan di titik Mc Burney (+)Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomenAuskultasi : Bising usus (+)Pemeriksaan tambahan : Rovsing sign (+), Psoas (+), rebound sign (+)A/Susp appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1f. Inf metronidazole 3x500 mg

25/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra , mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 120/80 N= 68x/menitS = 36,0 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMUSG : AppendisitisStatus LokalisInspeksi : DatarPalpasi : Lemas, nyeri tekan di titik Mc Burney (+)Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomenAuskultasi : Bising usus (+)Pemeriksaan tambahan : Rovsing sign (+), Psoas (+), rebound sign (+)A/Pre op appendisitisP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj. Pragesol 1 amp 3x1f. Inf metronidazole 3x500 mgg. puasa

26/06/14S/ Pasien masih mengeluh nyeri di inguinal dextra, mual (-), muntah (-), BAK BAB dbn, makan dan minum dbnO/T = 130/90 N= 78x/menitS = 36,3 5 RR = 16 x/menitKU = sedang KS = CMUSG : AppendisitisStatus LokalisInspeksi : DatarPalpasi : Lemas, nyeri tekan di titik Mc Burney (+)Perkusi : Timpani pada 4 kuadran abdomenAuskultasi : Bising usus (+)Pemeriksaan tambahan : Rovsing sign (+), Psoas (+), rebound sign (+)A/OP appendisitisP/a. Operasi appb. Bed rest c. Inf RL 20 tpmd. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jame. Inj. Ranitidin 1amp 2x1f. Inj ketorolac 3x1g. Pasang DC

27/06/14S/ Sakit pada bekas jahitan, flatus (-)O/ KU= sedang KS= CMT = 130/90 N= 78x/menitS = 36,3 5 RR = 16 x/menitAbd: nyeri pada bekas jahitanA/Post op app hari IP/a. Bed rest b. Inf RL 20 tpmc. Inj. Cefotaxim 1gr/12 jamd. Inj. Ranitidin 1amp 2x1e. Inj ketorolac 3x1f. Lepas DC

28/07/14T= 120/90s/ pasien stabil, nyeri bekas jahitan (-)o/ dbna/ p.o app infiltratp/ blplBLPLAmoxiclav 3x1Paracetamol 3x1

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Appendisitis adalah peradangan pada appendix vermiformis B. Anatomi appendiks Apendiks merupakan organ berbentuk tabung, panjangnya kira-kira 10 cm (kisaran 3-15 cm), dan berpangkal caecum. Posisi appendiks Promontorik : ujung appendix menunjuk ke promontorium sacri Retrocolic : appendix berada di depan caecum Antecaecal : appendix berada di depan caecum Paracaecal : appendix terletak horizontal di belakang caecum Retrocaecal : appendix berputar ke atas di belakang caecum. Vascularisasi : a. Appendiclaris cabang cari a. iliocaecalis cabang dari a. mesenterica superior Histologi : Tunika mukosa Tunika submukosa Tunika muscularis Tunika serosa Fungsi appendiks : kemungkinan berhubungan dengan sistem imun

C. EtiologiObstruksi lumen apendiks diikuti dengan kongesti vaskular, inflamasi dan edema, penyebab obstruksi pada umumnya berupa:1. Fekolit2. Pada 30% hingga 35% kasus (paling banyak terjadi pada orang dewasa).3. Benda asing4% (misalnya biji bah-buahan, cacing kermi, cacing pita, cacing tambang, kakulus)4. InflamasiPada 50% hingga 60% kasus (hiperplasi jaringan limfoid submukosa merupakan etilogi yang paling sering pada anak-anak dan remaja)5. Neoplasma1% (karsinoma, penyakit metastasis, karsinoma)

D. Patofisiologi

E. Gejala KlinisApendisitis akut merupakan diagnosis abdomen yang paling mudah atau paling sulit. Kasus klasik ditandai dengan :a. Rasa tidak nyaman ringan didaerah periumbilikusVariasi lokasi anatomi apendiks memberikan banyak variasi lokasi utama fase somatik dari rasa sakit. Misalnya, apendiks yang panjang dengan inflamasi di ujung kuadran kiri bawah menyebabkan nyeri pada daerah itu. Apendiks retrocecal dapat menyebabkan nyeri pinggul atau sakit punggung, apendiks pelvis, terutama nyeri suprapubik, dan apendiks retroileal, nyeri testis, mungkin karena iritasi arteri spermatika dan ureter. Malrotasi usus juga bertanggung jawab pada pola nyeri pada apendisitis.b. Anoreksia, mual, muntah, obstipasi, diareAnoreksia hampir selalu menyertai apendisitis. Hal ini begitu konstan sehingga diagnosis apendisitis perlu dipertanyakan jika pasien tidak anoreksia. Walaupun hampir 75% pasien mengalami muntah, tetapi ini tidak menonjol dan kebanyakan pasien hanya muntah sekali atau dua kali. Muntah disebabkan oleh stimulasi saraf dan adanya ileus. Kebanyakan pasien biasanya juga mengeluhkan kesuliatan buang air besar sebelum timbul sakit perut, dan banyak yang merasa bahwa dengan buang air besar akan menghilangkan rasa sakit perut mereka.Diare terjadi pada beberapa pasien, terutama pada anak-anak, sehingga pola fungsi usus memberikan sedikit nilai diagnosis. Urutan timbulnya gejala memberikan arti yang besar untuk diagnosis banding. Pada 95% pasien dengan apendisitis akut, anoreksia merupakan gejala utama. Kemudian diikuti dengan nyeri perut lalu muntah-muntah. Jika muntah timbul sebelum rasa sakit, diagnosis apendisits perlu dipertanyakan.c. Nyeri tekan kuadran kanan bawah yang dalam beberapa jam berubah menjadi rasa pegal dalam atau nyeri di kuadran kanan bawah. d. Demam e. Leukositosis

F. Diagnosis1. Anamnesis2. Pemeriksaan fisik3. Pemeriksaan penunjang4. Alvarado score

Manifestasi Skor

Gejala Adanya migrasi nyeri 1

Anoreksia 1

Mual/muntah 1

Tanda Nyeri RLQ 2

Nyeri lepas 1

Febris 1

Laboratorium Leukositosis 2

Shift to the left 1

Total poin 10

Keterangan :0-4 : kemungkinan appendicitis kecil5-6 : bukan diagnosis appendicitis7-8 : kemungkinan besar appendicitis9-10 :hampir pasti menderita appendicitisBila skor 5-6 dianjurkan untuk diobservasi di rumah sakit, bila skor >6 maka tindakan bedah sebaiknya di lakukan

G. Diagnosis BandingPada keadaan tertentu, beberapa penyakit perlu dipertimbangkan sebagai diagnosis banding, yaitu:1. Gastroenteritis Pada gastroenteritis, mual, muntah dan diare mendahului rasa sakit. Sakit perut lebih ringan dan tidak berbatas tegas. Hiperperistaltik sering ditemukan. Panas dan leukositosis kurang menonjol dibandingkan apendisitis akut.2. Limfadenitis mesenterikaLimfadenitis mesenterika yang biasa didahului oleh enteritis atau gastroenteritis ditandai dengan nyeri perut, terutama kanan disertai dengan perasaan mual, nyeri tekan perut samar, terutama kanan3. Kelainan ovulasiFolikel ovarium yang pecah (ovulasi) mungkin memberikan nyeri perut kanan bawah pada pertengahan siklus menstruasi. Pada anamnesis, nyeri yang sama pernah timbul lebih dahulu. Tidak ada tanda radang, dan nyeri biasa hilang dalam waktu 24 jam, tetapi mungkin dapat menganggu selama dua hari.4. Infeksi panggulSalpingitis akut kanan sering dikacaukan dengan apendisitis akut. Suhu biasanya lebih tinggi daripada apendisitis dan nyeri perut bagian bawah lebih difus. Infeksi panggul pada wanita biasanya disertai keputihan dan infeksi urin. Pada colok vagina akan timbul nyeri hebat di panggul jika uterus diayunkan. Pada gadis dapat dilakukan colok dubur jika perlu.

H. Penatalaksanaan1. Non farmakologi Bed rest Diet lunak2. Farmakologi Antibiotik Analgetik 3. Pembedahan Appendektomi

I. Komplikasi1. Gangren2. Perforasi dinding appendix3. Appendikuler Abses 4. Syok sepsis

Daftar Pustaka

De Jong, Wim. 1997. Buku Ajar Ilmu Bedah. Jakarta: EGC

Greenberg. 2007. Teks Atlas Kedokteran Kedaruratan. Jakarta: EMS

http://www.digestive.niddk.nih.gov (diakses pada tanggal 29 Juni 2014)

Mansjoer,A., dkk. 2000. Kapita Selekta Kedokteran Edisi Ketiga Jilid Kedua. Penerbit Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta.

Price S A, Wilson L M., 2005. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Jakarta: EGC

Sudoyo, Aru et al.2006. Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta :FKUI