jurnal translate

of 23 /23
EPIDEMIOLOGI INSOMNIA, GANGGUAN DEPRESI, DAN KECEMASAN. Daniel J. Taylor, PhD1; Kenneth L. Lichstein, PhD 2 ; H. Heith Durrence, PhD 3 ; Brant W. Reidel, PhD 4 ; Andrew J. Bush, PhD 5 1 The University of North Texas, Denton, TX; 2 The University of Alabama, Tuscaloosa, AL; 3 Somaxon Pharmaceuticals, Inc., San Diego, CA; 4 The University of Memphis, Memphis, TN; 5 University of Tennessee Health Science Center, Memphis, TN Tujuan penelitian: Penelitian menggunakan kriteria diagnosis insomnia yang emperik dan tervalidasi untuk membandingkan gangguan gangguan depresi dan kecemasan pada orang-orang dengan insomnia maupun tidak. Kami juga mengamati variabel tidur yang spesifik yang berhubungan dengan gangguan gangguan depresi dan kecemasan. Pada akhirnya, kami membandingkan gangguan gangguan depresi dengan kecemasan (1)perbedaan jenis-jenis insomnia, (2)kaukasia dan Afrika Amerika, dan (3)jenis kelamin. Pada semua variabel kesehatan, demografi, gangguan tidur organik, dan gejala dari gangguan tidur organik. Jenis penelitian: Cross-sectional dan retrospektif Subjek penelitian: Sampel berbasis komunitas (N=772) dari kurang lebih 50 pria dan 50 wanita dalam rentang waktu 10 tahun, dari usia 20 tahun sampai usia 89 tahun. Teknik pengukuran: pengukuran berdasarkan pengamatan subjek yang meliputi pola tidur, gangguan gangguan depresi, dan kecemasan. Hasil: Orang-orang dengan insomnia memiliki tingkat gangguan depresi dan kecemasan yang lebih besar dibandingkan orang yang tidak memiliki insomnia dimana 9.82-17.35 kali lebih mungkin untuk menderita gangguan gangguan depresi dan kecemasan. Peningkatan frekuensi Insomnia terkait dengan peningkatan gangguan gangguan depresi dan kecemasan, dan peningkatan jumlah terbangun juga berkaitan dengan peningkatan gangguan depresi. Ini adalah 2 variabel tidur yang signifikan berhubungan dengan gangguan depresi dan 1

Author: karen-mogi

Post on 06-Apr-2016

226 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

dfgshjkxnsxm

TRANSCRIPT

EPIDEMIOLOGI INSOMNIA, GANGGUAN DEPRESI, DAN KECEMASAN.Daniel J. Taylor, PhD1; Kenneth L. Lichstein, PhD2; H. Heith Durrence, PhD3; Brant W. Reidel, PhD4; Andrew J. Bush, PhD51The University of North Texas, Denton, TX; 2The University of Alabama, Tuscaloosa, AL; 3Somaxon Pharmaceuticals, Inc., San Diego, CA; 4The University of Memphis, Memphis, TN; 5University of Tennessee Health Science Center, Memphis, TN

Tujuan penelitian: Penelitian menggunakan kriteria diagnosis insomnia yang emperik dan tervalidasi untuk membandingkan gangguan gangguan depresi dan kecemasan pada orang-orang dengan insomnia maupun tidak. Kami juga mengamati variabel tidur yang spesifik yang berhubungan dengan gangguan gangguan depresi dan kecemasan. Pada akhirnya, kami membandingkan gangguan gangguan depresi dengan kecemasan (1)perbedaan jenis-jenis insomnia, (2)kaukasia dan Afrika Amerika, dan (3)jenis kelamin. Pada semua variabel kesehatan, demografi, gangguan tidur organik, dan gejala dari gangguan tidur organik. Jenis penelitian: Cross-sectional dan retrospektifSubjek penelitian: Sampel berbasis komunitas (N=772) dari kurang lebih 50 pria dan 50 wanita dalam rentang waktu 10 tahun, dari usia 20 tahun sampai usia 89 tahun.Teknik pengukuran: pengukuran berdasarkan pengamatan subjek yang meliputi pola tidur, gangguan gangguan depresi, dan kecemasan.Hasil: Orang-orang dengan insomnia memiliki tingkat gangguan depresi dan kecemasan yang lebih besar dibandingkan orang yang tidak memiliki insomnia dimana 9.82-17.35 kali lebih mungkin untuk menderita gangguan gangguan depresi dan kecemasan. Peningkatan frekuensi Insomnia terkait dengan peningkatan gangguan gangguan depresi dan kecemasan, dan peningkatan jumlah terbangun juga berkaitan dengan peningkatan gangguan depresi. Ini adalah 2 variabel tidur yang signifikan berhubungan dengan gangguan depresi dan kecemasan. Orang dengan gabungan insomnia mengalami gangguan depresi lebih besar daripada orang-orang dengan onset, pemeliharaan, atau campuran insomnia. Tidak ada perbedaan antara jenis insomnia yang lainnya. Afrika Amerika yang 3,43-4,8 kali lebih mungkin untuk memiliki gejala klinis yang signifikan dengan gangguan gangguan depresi dan kecemasan tidak bisa dibandingkan dengan Kaukasia. Perempuan memiliki kadar gangguan depresi dibandingkan laki-laki.Kesimpulan: Hasil ini menegaskan bahwa adanya hubungan erat antara insomnia, gangguan gangguan depresi, dan kecemasan.Kata kunci: Insomnia, gangguan gangguan depresi, cemas, epidemiologi, jenis kelamin, etnik.Citation: Taylor DJ; Lichstein KL; Durrence HH et al. Epidemiology of insomnia, depression, and anxiety. SLEEP 2005;28(11): 1457-1464

PENDAHULUAN

INSOMNIA KRONIS MEMPENGARUHI SEKITAR 9%-12% DARI PREVALENSI POPULASI1-3 PENYAKIT JANTUNG, KANKER, AIDS, penyakit neurologi, masalah pernapasan, masalah kencing, diabetes, dan masalah gastrointenstinal.4 Peneliti memperkirakan total biaya tahunan insomnia sekitar $30-$35 juta.5 Meskipun insomnia dipandang sebagai ancaman yang signifikan untuk kesehatan, namun beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa adanya hubungan antara insomnia, gangguan gangguan depresi, dan kecemasan, di mana insomnia merupakan faktor resikonya.6 Sayangnya, anggapan dari hubungan ini masih belum jelas karena hasil studi sebelumnya memiliki definisi yang beragam mengenai insomnia. Studi saat ini mendefinisikan insomnia dengan menggunakan kriteria empiris tervalidasi tentang hubungan antara insomnia, gangguan gangguan depresi, dan kecemasan. Kami lebih lanjut menjelaskan hubungan ini, dengan menguji gangguan gangguan depresi dan kecemasan terhadap hubungannya dengan tingkat keparahan insomnia dan jenis insomnia.Banyak studi epidemiologi insomnia sebelumnya dengan menganalisis ulang data dari studi epidemiologi sebelumnya (misalnya, Alameda County, Epidemiologic Catchment Area, dll) yang terutama berhubungan dengan yang tidak tidur. Definisi operasional yang paling sering dalam studi ini adalah bahwa adanya laporan dari 2 minggu atau lebih mengalami insomnia kapan saja dalam retan waktu 6 bulan terakhir, 12 bulan, atau bahkan seumur hidup. Definisi insomnia ini mengacu pada insomnia sementara (yaitu, hanya 2 minggu dalam seumur hidup) harus memiliki insomnia kronis saat ini, mungkin membuat tingkat prevalensi gangguan depresi dan kecemasan akurat untuk orang-orang dengan insomnia kronis saat ini. Beberapa penelitian telah dilakukan dengan keluhan insomnia. Namun, penelitian ini hanya difokuskan pada rentang usia terbatas (misalnya > 50 tahun)9,11,12 atau memiliki definisi insomnia yang luas (misalnya, masalah gangguan tidur, rasa lelah) dan psikopatologi.13,14 Selanjutnya, tidak ada yang dibicarakan di atas berusaha untuk menyingkirkan yang mendasari gangguan tidur dan banyak yang tidak berusaha untuk menyingkirkan penyebab medis dari insomnia, gangguan depresi, atau kecemasan.15,16 Selain itu, tidak ada penelitian yang berusaha untuk menentukan apa peran keparahan insomnia bermain dalam hubungan dengan depresi dan kecemasan. Insomnia adalah gangguan yang sangat heterogen dengan beberapa individu yang mengalami kesulitan tidur hanya beberapa malam dalam seminggu, dan lain-lain mengalami kesulitan tidur setiap malam ataupun ditengah malam. Kebanyakan studi pengobatan biasanya hanya melaporkan beberapa variabel tidur (misalnya, sleep-on set latency [SOL], total sleep time [TST], sleep efficency [SE]). Jika variabel tidur lainnya yang lebih erat terkait dengan depresi dan kecemasan, hal tersebut menjadi penting untuk dilaporkan dalam hasil penelitian.Pada akhirnya, hubungan antara berbagai jenis insomnia, depresi dan kecemasan masih belum jelas. Meskipun kebanyakan studi di daerah tidak menemukan perbedaan antara jenis insomnia dengan gangguan depresi atau kecemasan,17-21 beberapa peneliti telah menunjukkan bahwa kecemasan lebih sering terjadi pada onset tidur insomnia.13,22 Penelitian ini meneliti tingkat depresi dan kecemasan dalam suatu komunitas, dimana membandingkan kelompok yang berkaitan dengan status insomnia, tingkat keparahan insomnia, dan jenis insomnia. Ada hipotesis bahwa (1) orang dengan insomnia akan mengalami gangguan depresi dan kecemasan secara signifikan (2) insomnia berat, mengakibatkan tingkat depresi dan kecemasan akan meningkat pula.

METODE PROSEDUR Subjek dipilih dengan menggunakan angka acak lewat protokol panggilan Shelby County, Tennessee. Subjek kemudian dikirimkan informed consent dan paket kuesioner yang terdiri dari 14 buku harian tidur, bentuk informasi umum, kuesioner kecemasan, kuesioner depresi, dan pengukuran kegiatan harian lainnya. Subjek menyelesaikan kuesioner setelah menyelesaikan 14 buku harian tidur. Penjelasan lebih rinci tentang prosedur yang digunakan dalam penelitian ini diberikan sebelumnya dalam buku yang diterbitkan.4

Teknik pengukuranFormulir Informasi UmumBentuk informasi umum4 digunakan untuk mengumpulkan data tentang usia, etnis, ada tidaknya gangguan tidur, status kesehatan, tinggi badan, berat badan, penggunaan rokok, penggunaan alkohol, dan penggunaan kafein. Bentuk ini dikembangkan oleh kelompok riset kami dan tidak memiliki reliabilitas dan validitas data. Subjek ditanya apakah mereka punya masalah tidur dan kemudian mendefinisikannya. Peserta dikeluarkan dari analisis ini jika mereka melaporkan apa pun selain tidak adanya masalah tidur atau insomnia (misalnya, apnea). Masalah kesehatan yang operasional didefinisikan sebagai jawaban afirmatif untuk 1 kategori penyakit global, misalnya: penyakit jantung, kanker, AIDS, tekanan darah tinggi, penyakit neurologis (misalnya, kejang, penyakit Parkinson), masalah pernapasan (misalnya, asma, emfisema), masalah perkemihan (misalnya, penyakit ginjal, masalah prostat), diabetes, nyeri kronis (misalnya, arthritis, sakit punggung, migrain), dan masalah gastrointestinal (misalnya, perut, sindrom iritasi usus, ulkus).Gejala gangguan tidur non-spesifik yang secara operasional didefinisikan sebagai jawaban afirmatif1 dari pertanyaan-pertanyaan berikut: Apakah anda sering mendengkur?; Apakah anda sulit bernapas pada saat anda tidur?; Apakah kaki anda sering tersentak saat tidur atau mereka merasa gelisah tertidur?. Jawaban-jawaban inilah yang nantinya akan dianalisis.Beck Depression Inventory Mood pada siang hari dinilai dengan Beck Depression Inventory (BDI), 23 yang merupakan ukuran yang terdiri dari 21 item depresi dengan skor mulai dari 0 sampai 63. Skor yang lebih tinggi menunjukkan depresi yang tinggi. Ini merupakan penilaian gangguan depresi yang paling banyak digunakan dan memiliki reliabilitas dan validitas data.24 Subjek dikategorikan depresi ringan (BDI 18).

State-Trait Anxiety Inventory-Form Y Trait ScaleTingkat kecemasan dinilai dengan State-Trait Anxiety Inventory-Form Y Trait Scale(STAI),25 yang terdiri dari 20-item, dengan skor antara 20 sampai 80 dimana skor yang lebih tinggi menunjukkan adanya kecemasan. The STAI adalah salah satu yang paling umum digunakan dan dapat diandalkan validitasnya.26 Subjek dikategorikan dalam kecemasan minimal apabila (T-score 70).26

Sleep Diaries Subjek menyelesaikan catatan4 tidur setelah bangun setiap pagi dalam jangka waktu 2 minggu. Buku harian meminta subjek untuk memberikan perkiraan tidur mereka pada malam sebelumnya (misalnya, waktu tidur, onset tidur). Biasanya, tidur semalam dianggap sebagai gold standart untuk penilaian gangguan tidur.27,28 Meskipun peneliti telah menemukan bahwa orang dengan insomnia secara konsisten meremehkan TST dan melebih-lebihkan sols dibandingkan dengan polisomnografi, korelasi antara buku harian tidur dan polisomnografi tetap tinggi (r =. 63-,87) Selanjutnya, Standards of Practice Committee of the American Sleep Disorders Association29 telah menyatakan bahwa polisomnografi hanya "ditunjukkan ketika gangguan pernapasan terkait saat tidur atau dicurigai gangguan gerakan pada tungkai secara periodik, diagnosis awal tidak pasti, pengobatan gagal. Meskipun buku harian tidur tidak optimal untuk memeriksa hubungan antara insomnia, depresi, dan kecemasan, namun sangat mendekati apa yang terjadi dalam praktek klinis. Variabel berikut ini dihitung menggunakan data dari buku harian tidur: rata-rata SOL, rata-rata jumlah terbangun pada malam hari, rata-rata wake time after sleep onset (WASO), rata-rata TST, rata-rata SE (rasio TST terhadap total waktu yang dihabiskan di tempat tidur x 100), berarti nilai kualitas tidur (1 = sangat kurang sampai 5 = sangat baik), berarti total waktu tidur siang, dan frekuensi insomnia (jumlah episode insomnia per 2 minggu).

Orang dengan insomnia yang secara operasional didefinisikan sebagai individu dengan adanya keluhan insomnia selama minimal 6 bulan; keluhan siang hari; dan setidaknya 3 malam dalam seminggu (1) SOL 31 menit, (2) WASO 31 menit, atau (3) kombinasi dari 2 kriteria ini telah divalidasi secara empiris dan merupakan praktek yang paling umum dalam penelitian pengobatan Insomnia.30 Jenis insomnia yang secara operasional didefinisikan sebagai Onset (SOL kriteria 3 kali seminggu), Perawatan (kriteria WASO 3 kali seminggu), Campuran (jika kriteria baik SOL atau WASO adalah 3 kali seminggu, ketika SOL dan kriteria WASO digabungkan, mereka terjadi 3 kali seminggu), dan gabungan (baik SOL dan kriteria WASO bertemu 3 kali seminggu). Subjek dalam kelompok gabungan tidak termasuk dalam serangan atau perawatan kelompok. Semua analisis statistik berikut dilakukan dengan menggunakan SPSS 12.0.1 for Windows (SPSS, Inc Chicago, IL).

HASIL SubjekSebanyak 1.769 subjek direkrut, dengan tingkat respon yang disesuaikan dari 37,7% .4 Tabel 1 menunjukkan demografi, gangguan tidur, dan distribusi variabel kejiwaan dari sampel akhir dari 772 peserta. Serangkaian regresif logistik sederhana multivariat dilakukan pada sampel ini dari 772 peserta, dengan orang-orang dengan insomnia dan orang-orang tidak insomnia sebagai dependen variabel, dan semua demografi (usia, etnis, jenis kelamin) masuk secara bersamaan sebagai variabel independen. Hasil ini menunjukkan bahwa perempuan 1,8 kali lebih mungkin dibandingkan pria mengalami insomnia (95% confidence interval [CI] = 1,23-2,67, P