jurnal endo fix

Click here to load reader

Post on 16-Nov-2015

48 views

Category:

Documents

16 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

jurnal endo mengenai kalsium hidroksida

TRANSCRIPT

Ulasan: Pasta kalsium hidroksida: klasifikasi dan indikasi klinis

L. R. G. Fava & W. P. Saunders

ASTARI MIRYASANDRA 160112120019NUR WIDYA DAMAYANTI 160112120023

UNIVERSITAS PADJADJARAN

FAKULTAS KEDOKTERAN GIGI

BANDUNG

2013AbstrakFava LRG, Saunders INP. Pasta kalsium hidroksida: klasifikasi dan indikasi klinis (Ulasan). International Endodontic Journal, 32, 257-282, 1999.Artikel ulasan Kalsium hidroksida telah digunakan dalam endodontologi selama bertahun-tahun.Tujuan makalah ini adalah untuk meninjau berbagai formulasi kalsium hidroksida yang telah dideskripsikan dengan referensi khusus ke wahana yang digunakan untuk membawa senyawa.Persyaratan wahana dideskripsikan, dan penelitian ex vivo dan in vivo diulas.Wahana dapat diklasifikasikan dalam kategori aqueous, kental dan berminyak; sifat klinis kalsium hidroksida berubah tergantung pada jenis wahananya. Review ini juga mendeskripsikan penggunaan berbagai komponen aktif yang telah ditambahkan dengan kalsium hidroksida, termasuk agen antimikroba dan anti-inflamasi. Ulasan ini akan membantu dokter untuk membuat penilaian terinformasi mengenainya keharusan penggunaan formulasi kalsium hidroksida untuk prosedur endodontik tertentuKata kunci: kalsium hidroksida, pasta, wahana.Pendahuluan

Sejak diperkenalkannya kalsium hidroksida ke kedokteran gigi oleh Hermann (1920, 1930), obat ini telah diindikasikan untuk mempromosikan penyembuhan dalam banyak situasi klinis. Namun, referensi awal penggunaannya disematkan ke Nygren (1838) untuk perawatan 'fistula dentalis', sementara Codman (1851) adalah orang pertama yang mencoba untuk mempreservasi pulpa gigi yang terserang.

Menurut Cvek (1989) kalsium hidroksida jadi dikenal lebih luas pada tahun 1930-an melalui karya perintis Hermann (1936) dan introduksi bahan ini ke Amerika Serikat (Teuscher& Zander 1938, Zander 1939). Laporan pertama yang berkaitan dengan keberhasilan penyembuhan pulpa dengan menggunakan kalsium hidroksida muncul dalam literatur antara tahun 1934 hingga 1941.Sejak saat itu, dan terutama setelah Perang Dunia Kedua, indikasi-indikasi klinis untuk penggunaannya diperluas dan sekarang zat kimia ini dianggap sebagai obat terbaik untuk menginduksi deposisi jaringan keras dan meningkatkan penyembuhan jaringan periapikal dan pulpa yang vital (Garcia 1983).

Meskipun mekanisme keseluruhan aksi kalsium hidroksida tidak sepenuhnya dipahami, banyak artikel yang telah dipublikasikan mendeskripsikan sifat-sifat biologis yang dicapai dengan disosiasi ion-ion Ca2+ dan OH-. Peran pH tinggi dan aktivitas ion dalam proses penyembuhan, difusi melalui tubulus dentin, pengaruh pada kebocoran mikro apikal dan beberapa topik klinis, seperti penempatan pasta dalam saluran akar, bagaimana menangani interim flare-up, pentingnya tindak lanjut periodik dan redressings, dan pentingnya pemulihan antar waktu kontrol, adalah contoh bagaimana bahan ini telah dievaluasi sejak diperkenalkan.

Seiring dengan makin luasnya penggunaan klinis kalsium hidroksida, literatur juga membahas penggunaan berbagai formulasi dan menyediakan saran-saran untuk mencampurkan bubuk kalsium hidroksida dengan zat-zat lainnya. Seperti yang akan kita lihat, banyak zat telah ditambahkan ke bubuk ini untuk meningkatkan sifat-sifatnya seperti aksi antibakteri, radiopasitas, aliran, dan konsistensi. Selanjutnya, pasta dapat dibuat di tempat praktek gigi sebelum digunakan, tetapi ada banyak juga merek eksklusif yang telah diuji pada hewan dan manusia.Namun tampaknya belum ada pasta yang terbukti lebih unggul ketimbang pasta lainnya, baik secara biologis maupun secara klinis.

Terlepas dari variasi-variasinya, literatur belum menyediakan klasifikasi mengenai formulasi pasta yang berbeda-beda, Holland (1994) merupakan satu-satunya penulis yang menyarankan klasifikasi yang sesuai dengan wahana pasta.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan dan menjelaskan aneka formulasi kalsium hidroksida, dalam kaitannya dengan penelitian in vitro, evaluasi pada hewan laboratorium dan penelitian-penelitian klinis di mana pasta yang berbeda telah digunakan.Hal ini dapat membantu dokter untuk memilih pasta yang benar dan untuk memahami mengapa pasta yang mengandung wahana tertentu harus digunakan secara klinis.

Karakteristik kimiawi kalsium hidroksida.

Kapur adalah batuan alam yang terutama terdiri dari kalsium karbonat (CaCO3), yang terbentuk ketika larutan kalsium karbonat yang ada di pegunungan dan air laut mengkristal (Alliet & Vande Voorde 1988). Pembakaran batu kapur antara 900 dan 1200 C menyebabkan reaksi kimia berikut:

CaCO3 CaO + CO2

Kalsium oksida (CaO) yang terbentuk disebut 'kapur (quicklime)' dan memiliki kemampuan korosif yang kuat. Ketika kalsium oksida kontak dengan air, maka terjadi reaksi berikut ini:

CaO + H20 Ca(OH)2

Kalsium hidroksida adalah bubuk putih tanpa bau dengan rumus kimia Ca(OH)2 dan berbobot molekul 74.08. Zat ini mempunyai solubilitas yang rendah dalam air (sekitar 1.2 g L-1 pada suhu 25C) dan solubilitas ini menurun seiring dengan kenaikan suhu. Zat ini mempunyai pH yang tinggi (sekitar 12.5-12.8) dan tidak dapat larut dalam alkohol.Solubilitas yang rendah ini pada gilirannya jadi karakteristik klinis yang baik, karena perlu waktu lama sebelum terlarut dalam fluida jaringan ketika kontak langsung dengan jaringan vital. Bahan ini secara kimia diklasifikasikan sebagai dasar yang kuat (Maisto & Capurro 1964, Maisto 1975, Torneck et al. 1983, Badillo et al. 1985, Lopes et al. 1986, 1996, Malo et al. 1987, Ricci & Travert 1987, Cvek 1989, Estrela 1994).

Analisis kimia pembebasan ion OH- dari kalsium hidroksida memungkinkan persentase ion Ca2 + dan OH- yang dilepaskan diketahui sebagai berikut (Estela 1994):

Ca(OH)2+ Ca2+ + OH-

1 nCa2+ = 40,08

1 nOH- = 17,0 2n OH- = 34(1 nCa(OH)2 = 40,08 + 34 = 74.08

(bobot molekul)

Dengan kalkulasi matematika sederhana, mudah untuk mendapatkan persentase ion OH- dan ion Ca2 + dalam zat tersebut:

74,08 100%

}X = 45,89% 20H- = 45,89%

34 X%

Ca2+ = 100% - 20H-% 100% - 45,89%

Ca2+ = 54,11%

Aksi utama kalsium hidroksida berasal dari disosiasi ionik ion-ion Ca2 + dan OH-, dan aksi ion-ion ini pada jaringan vital dan bakteri menghasilkan induksi deposisi jaringan keras dan efek antibakteri (Estela 1994). Namun, ketika ion Ca2+ kontak dengan karbon dioksida (CO2) atau ion karbonat (CO3-) dalam jaringan, kalsium karbonat terbentuk yang mengubah proses mineralisasi dengan mengkonsumsi secara keseluruhan ion Ca2+ (Maisto & Capurro 1964, Berbert 1978, Holland et al. 1979b). Selain itu, kalsium karbonat tidak memiliki sifat biologis atau pun sifat antibakteri (Estrela 1994).

Ketika bubuk kalsium hidroksida dicampur dengan wahana yang cocok, pasta terbentuk dan, karena komponen utama adalah kalsium hidroksida, Maisto (1975) mengklasifikasikan formulasi ini sebagai pasta basa karena pH-nya tinggi.Menurut beberapa penulis (Maisto 1975, Goldberg 1982, Leonardo et al. 1982), pasta ini harus memiliki karakteristik sebagai berikut:

1. terutama terdiri dari kalsium hidroksida yang dapat digunakan dalam hubungannya dengan zat-zat lain untuk meningkatkan beberapa sifat fisikokimia seperti radiopasitas, aliran, dan konsistensi;

2. tidak mengeras;

3. dapat terlarut atau diserap dalam jaringan vital, baik secara lambat atau secara cepat tergantung pada wahana dan komponen-komponen lainnya;

4. dapat dipreparasi untuk digunakan di sisi kursi dental atau tersedia sebagai pasta paten;

5. dalam sistem saluran akar, mereka digunakan hanya sebagai dressing sementara dan bukan sebagai bahan pengisi definitif.

Metode termudah untuk mempersiapkan pasta kalsium hidroksida adalah mencampur bubuk kalsium hidroksida dengan air sampai konsistensi yang diinginkan tercapai. Namun, Leonardo et al. (1982) menyatakan bahwa pasta yang dipreparasi dengan air atau wahana hydrosoluble non-kental lain tidak memiliki sifat fisikokimia yang baik, karena tidak radioopak (tidak kedap gelombang radio), permeabel terhadap cairan jaringan, dan jadi dapat larut dan diserap ulang dari daerah periapikal dan dari dalam saluran akar. Karena alasan-alasan ini dan alasan-alasan yang dipaparkan di sini, Leonardo et al. (1982) merekomendasikan penambahan zat-zat lain ke dalam pasta tersebut:

1. untuk menjaga konsistensi bahan pasta yang tidak mengeras;

2. untuk meningkatkan aliran;

3. untuk mempertahankan pH tinggi kalsium hidroksida;

4. untuk meningkatkan radiopacitas;

5. untuk mempermudah penggunaan klinis;

6. untuk tidak mengubah sifat biologis yang unggul yang dimiliki oleh kalsium hidroksida itu sendiri.

Pada dasarnya, pasta kalsium hidroksida yang digunakan dalam endodontik terdiri dari bubuk, wahana, dan radiopacifier. Zat lain dapat ditambahkan untuk meningkatkan sifat fisikokimia atau tindakan antibakteri.

Tipe-tipe wahana dan nilai pentingnya

Telah ditegaskan bahwa semua aksi biologis kalsium hidroksida akan meningkatkan disosiasi ion pada ion Ca2 + dan OH- (Leonardo et al. 1982, Estrela 1994). Wahana memainkan peran yang paling penting dalam keseluruhan proses karena menentukan kecepatan disosiasi ion yang menyebabkan pasta terlarut dan diserap dengan berbagai level oleh jaringan periapikal dan dari dalam saluran akar (Fava 1991). Menurut Fava (1991), wahana yang ideal harus:

1. memungkinkan pelepasan ion Ca2 + dan OH- secara bertahap dan lambat;

2. memungkinkan difusi lambat dalam jaringan dengan solubilitas yang rendah dalam fluida jaringan;

3. tidak memiliki efek buruk pada induksi deposisi jaringan keras.

Beberapa penelitian in vitro menunjukkan bahwa jenis wahana memiliki hubungan langsung dengan konsentrasi dan kecepata