judul mata kuliah penyakit sistem pernapasan atas … · terapi tambahan seperti dekongestan untuk...

25
- Judul Mata Kuliah : Penyakit Sistem Pernapasan Atas - Blok Sistem : Respirasi - Nama Dosen Pengampu: Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Rahardjo, Sp.T.H.T.K.L.(K) - Standar Kompetensi : Area Kompetensi 5 : Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran - Kompetensi dasar : Menerapkan Ilmu Kedokteran Klinik pada Sistem Respirasi - Indikator : Menegakkan diagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada penyakit sistem Respirasi - Level Kompetensi : 4A - Alokasi Waktu : 3 x 50 menit - Tujuan Instruksional Umum (TIU) : o Mampu melakukan Diagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri dan tuntas pada penyakit Sistem Pernapasan Atas - Tujuan Instruksional Khusus (TIK) : o Mampu menyebutkan hasil pemeriksaan fisis pada penyakit Sistem Pernapasan Atas - Isi Materi : Lihat Lampiran - Informasi Pendukung : o Soepardi, E,A, 2011, Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan Leher dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi keenam, FKUI Jakarta. o Nael, Patrick and Robert Gurkov, 2012, Hidung dan Sinus Paranasal dalam Dasar-Dasar Ilmu THT, edisi kedua, EGC o Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C, Alobid I, Baroody F, et al. European Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012. Rhinol Suppl. 2012 Mar(23): 1-298 - Latihan latihan o Sebutkan Gejala-gejala yang sering ditemui pada pemeriksaan penyakit saluran pernapasan atas? o Sebutkan penyakit-penyakit yang terdapat pada saluran pernapasan atas?

Upload: phamcong

Post on 28-Aug-2018

221 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

- Judul Mata Kuliah : Penyakit Sistem Pernapasan Atas

- Blok Sistem : Respirasi

- Nama Dosen Pengampu: Prof. Dr. dr. Sutji Pratiwi Rahardjo, Sp.T.H.T.K.L.(K)

- Standar Kompetensi : Area Kompetensi 5 : Landasan Ilmiah Ilmu Kedokteran

- Kompetensi dasar : Menerapkan Ilmu Kedokteran Klinik pada Sistem Respirasi

- Indikator : Menegakkan diagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara

mandiri dan tuntas pada penyakit sistem Respirasi

- Level Kompetensi : 4A

- Alokasi Waktu : 3 x 50 menit

- Tujuan Instruksional Umum (TIU) :

o Mampu melakukan Diagnosis dan melakukan penatalaksanaan secara mandiri

dan tuntas pada penyakit Sistem Pernapasan Atas

- Tujuan Instruksional Khusus (TIK) :

o Mampu menyebutkan hasil pemeriksaan fisis pada penyakit Sistem Pernapasan

Atas

- Isi Materi : Lihat Lampiran

- Informasi Pendukung :

o Soepardi, E,A, 2011, Pemeriksaan Telinga, Hidung, Tenggorok, Kepala dan

Leher dalam Buku Ajar Ilmu Kesehatan THT-KL edisi keenam, FKUI Jakarta.

o Nael, Patrick and Robert Gurkov, 2012, Hidung dan Sinus Paranasal dalam

Dasar-Dasar Ilmu THT, edisi kedua, EGC

o Fokkens WJ, Lund VJ, Mullol J, Bachert C, Alobid I, Baroody F, et al. European

Position Paper on Rhinosinusitis and Nasal Polyps 2012. Rhinol Suppl. 2012

Mar(23): 1-298

- Latihan – latihan

o Sebutkan Gejala-gejala yang sering ditemui pada pemeriksaan penyakit saluran

pernapasan atas?

o Sebutkan penyakit-penyakit yang terdapat pada saluran pernapasan atas?

HIDUNG DAN SINUS PARANASALIS

Saluran pernapasan atas merujuk pada bagian-bagian tersebut pada saluran pernapasan:

Hidung (nasal) dan sinus sekitar hidung (Sinus Paranasalis)

Tenggorok: faring dan laring

A. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah:

1. Sumbatan hidung (obstruksi nasi)

2. Hidung berair (Rinore)

3. Sekret di hidung dan tenggorok (Post nasal drip)

4. Bersin

5. Rasa nyeri di daerah wajah dan kepala

6. Perdarahan dari Hidung (epistaksis)

7. Gangguan Penghidu (Hiposmia/anosmia)

B. Pemeriksaan Fisis

1. Pemeriksaan Hidung & Sinus Paranasalis dari Luar

Ada 3 keadaan yang penting kita perhatikan saat melakukan inspeksi hidung

dan sinus paranasalis, yaitu :

Kerangka dorsum nasi (batang hidung).

Adanya luka, warna, udem & ulkus nasolabial.

Bibir atas.

Ada 4 struktur yang penting kita perhatikan saat melakukan palpasi hidung &

sinus paranasalis, yaitu :

Dorsum nasi (batang hidung).

Ala nasi.

Regio frontalis sinus frontalis.

Fossa kanina.

Ala nasi penderita terasa sangat sakit pada saat kita melakukan palpasi.

Tanda ini dapat kita temukan pada furunkel vestibulum nasi.

Ada 2 cara kita melakukan palpasi pada regio frontalis sinus frontalis, yaitu:

kita menekan lantai sinus frontalis ke arah mediosuperior dengan tenaga optimal

dan simetris (besar tekanan sama antara sinus frontalis kiri dan kanan). Palpasi kita

bernilai bila kedua sinus frontalis tersebut memiliki reaksi yang berbeda. Sinus

frontalis yang lebih sakit berarti sinus tersebut patologis. Kita menekan dinding

anterior sinus frontalis ke arah medial dengan tenaga optimal dan simetris. Hindari

menekan foramen supraorbitalis. Foramen supraorbitalis mengandung nervus

supraorbitalis sehingga juga menimbulkan reaksi sakit pada penekanan.

Penilaiannya sama dengan cara pertama di atas.

Palpasi fossa kanina kita peruntukkan buat interpretasi keadaan sinus

maksilaris. Syarat dan penilaiannya sama seperti palpasi regio frontalis sinus

frontalis. Hindari menekan foramen infraorbitalis karena terdapat nervus

infraorbitalis.

Perkusi pada regio frontalis sinus frontalis dan fossa kanina kita lakukan

apabila palpasi pada keduanya menimbulkan reaksi hebat. Syarat-syarat perkusi

sama dengan syarat-syarat palpasi.

2. Rinoskopi Anterior

Tujuannya untuk memeriksa rongga hidung bagian dalam dari depan dengan

menggunakan speculum hidung Hartmann dengan menilai:

Vestibulum nasi

Septum nasi

Konka nasi

Meatus Nasi

Mukosa hidung

Cara kita memegang spekulum hidung Hartmann sebaiknya menggunakan tangan

kiri dalam posisi horisontal. Tangkainya yang kita pegang berada di lateral

sedangkan mulutnya di medial. Mulut spekulum inilah yang kita masukkan ke

dalam kavum nasi (lubang hidung) pasien. Cara kita memasukkan spekulum

hidung Hartmann yaitu mulutnya yang tertutup kita masukkan ke dalam kavum

nasi (lubang hidung) pasien. Setelah itu kita membukanya pelan-pelan di dalam

kavum nasi (lubang hidung) pasien. Cara kita mengeluarkan spekulum hidung

Hartmann yaitu masih dalam kavum nasi (lubang hidung), kita menutup mulut

spekulum kira-kira 90%. Jangan menutup mulut spekulum 100% karena bulu

hidung pasien dapat terjepit dan tercabut keluar.

Ada 5 tahapan pemeriksaan hidung pada rinoskopia anterior yang akan kita

lakukan, yaitu :

Pemeriksaan vestibulum nasi.

Pemeriksaan kavum nasi bagian bawah.

Fenomena palatum mole.

Pemeriksaan kavum nasi bagian atas.

Pemeriksaan septum nasi.

Pemeriksaan Vestibulum Nasi pada Rinoskopia Anterior

Ada 4 hal yang perlu kita perhatikan pada pemeriksaan kavum nasi (lubang

hidung) bagian bawah, yaitu :

Warna mukosa dan konka nasi inferior.

Besar lumen lubang hidung.

Lantai lubang hidung.

Deviasi septi yang berbentuk krista dan spina.

Fenomena Palatum Mole Pada Rinoskopia Anterior

3. Rinoskopi Posterior

Tujuannya untuk melihat bagian belakang hidung sekaligus untuk melihat keadaan

nasofaring.

Prinsip kita dalam melakukan rinoskopia posterior adalah menyinari koana dan

dinding nasofaring dengan cahaya yang dipantulkan oleh cermin yang kita

tempatkan dalam nasofaring.

Syarat-syarat melakukan rinoskopi posterior, yaitu :

Penempatan cermin. Harus ada ruangan yang cukup luas dalam nasofaring untuk

menempatkan cermin yang kita masukkan melalui mulut pasien Kita juga menekan

lidah pasien ke bawah dengan bantuan spatula (spatel). Penempatan cahaya. Harus

ada jarak yang cukup lebar antara uvula dan faring milik pasien sehingga cahaya

lampu yang terpantul melalui cermin dapat masuk dan menerangi nasofaring.

Cara bernapas. Hendaknya pasien tetap bernapas melalui hidung.

Ada 4 alat dan bahan yang kita gunakan pada rinoskopia posterior, yaitu :

Cermin nasofaring.

Spatula lidah.

Lampu spritus.

Teknik-teknik yang kita gunakan pada rinoskopia posterior, yaitu :

Cermin nasofaring kita pegang dengan tangan kanan. Sebelum memasukkan dan

menempatkannya ke dalam nasofaring pasien, kita terlebih dahulu memanaskan

punggung cermin pada lampu spritus yang telah kita nyalakan. Minta pasien

membuka mulutnya lebar-lebar. Lidahnya ditarik ke dalam mulut, jangan

digerakkan dan dikeraskan. Bernapas melalui hidung. Spatula kita pegang dengan

tangan kiri. Ujung spatula kita tempatkan pada punggung lidah pasien di depan

uvula. Punggung lidah kita tekan ke bawah di paramedian kanan lidah sehingga

terbuka ruangan yang cukup luas untuk menempatkan cermin kecil dalam

nasofaring pasien. Masukkan cermin ke dalam faring dan kita tempatkan antara

faring dan palatum mole kanan pasien. Cermin lalu kita sinari dengan

menggunakan cahaya lampu kepala. Khusus pasien yang sensitif, sebelum kita

masukkan spatula, kita berikan lebih dahulu tetrakain 1% 3-4 kali dan tunggu ± 5

menit.

Ada 4 tahap pemeriksaan yang akan kita lalui saat melakukan rinoskopia posterior,

yaitu :

Pemeriksaan tuba kanan.

Pemeriksaan tuba kiri.

Pemeriksaan atap nasofaring.

Pemeriksaan kauda konka nasi inferior.

4. Transiluminasi (Diaphanoscopia)

Pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) kita gunakan untuk mengamati sinus

frontalis dan sinus maksilaris. Cara pemeriksaan kedua sinus tersebut tentu saja

berbeda.

Cara melakukan pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) pada sinus frontalis

yaitu kita menyinari dan menekan lantai sinus frontalis ke mediosuperior. Cahaya

yang memancar ke depan kita tutup dengan tangan kiri. Hasilnya sinus frontalis

normal bilamana dinding depan sinus frontalis tampak terang.

Ada 2 cara melakukan pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) pada sinus

maksilaris, yaitu :

Cara I. Mulut pasien kita minta dibuka lebar-lebar. Lampu kita tekan pada

margo inferior orbita ke arah inferior. Cahaya yang memancar ke depan kita

tutup dengan tangan kiri. Hasilnya sinus maksilaris normal bilamana palatum

durum homolateral berwarna terang.

Cara II. Mulut pasien kita minta dibuka. Kita masukkan lampu yang telah

diselubungi dengan tabung gelas ke dalam mulut pasien. Mulut pasien

kemudian kita tutup. Cahaya yang memancar dari mulut dan bibir atas pasien,

kita tutup dengan tangan kiri. Hasilnya dinding depan dibawah orbita tampak

bayangan terang berbentuk bulan sabit.

Penilaian pemeriksaan transiluminasi (diaphanoscopia) berdasarkan adanya

perbedaan sinus kiri dan sinus kanan. Jika kedua sinus tampak terang, menandakan

keduanya normal. Namun khusus pasien wanita, hal itu bisa menandakan adanya

cairan karena tipisnya tulang mereka. Jika kedua sinus tampak gelap, menandakan

keduanya normal. Khusus pasien pria, kedua sinus yang gelap bisa akibat pengaruh

tebalnya tulang mereka.

C. Penyakit – penyakit pada Hidung

1. Rinosinusitis

• Rinosinusitis adalah inflamasi pada hidung dan sinus-sinus paranasal yang

ditandai dengan adanya dua atau lebih gejala, dimana salah satunya termasuk

hidung tersumbat/ obstruksi/ kongesti atau keluarnya cairan dari hidung (sekret

hidung yang jatuh ke anterior/ posterior hidung):

± nyeri wajah/ nyeri tekan pada wajah

± penurunan/ hilangnya fungsi penghidu

• dan salah satu dari:

a. temuan nasoendoskopi:

- polip dan/ atau

- sekret mukopurulen dari meatus medius dan/ atau

- edema/ obstruksi mukosa di meatus medius

b. dan atau gambaran tomografi komputer:

- perubahan mukosa di kompleks osteomeatal dan/atau sinus

Rinosinusitis akut (ARS) didefinisikan sebagai gejala berlangsung kurang

dari 12 minggu dengan resolusi komplit dan dapat dibagi menjadi:

• Common cold / rinosinusitis viral akut (didefinisikan dengan durasi gejala

kurang dari 10 hari, dan

• Rinosinusitis viral non-akut (didefinisikan dengan peningkatan gejala setelah

lima hari atau gejala-gejala menetap (persisten) setelah 10 hari dengan durasi

kurang dari 12 minggu)

Rinosinusitis kronis (dengan atau tanpa polip nasal) adalah didefinisikan

dengan gejala-gejala yang berlangsung lebih dari 12 minggu tanpa disertai gejala

resolusi komplit/penyembuhan (termasuk rinosinusitis kronis eksaserbasi akut)

dan dapat dibagi menjadi:

• rinosinusitis kronik dengan polip nasal dan

• rinosinusitis kronik tanpa polip nasal;

Patofisiologi:

Rinosinusitis merupakan suatu proses peradangan yang mempengaruhi

mukosa hidung dan sinus yang sering dikaitkan dengan gangguan mukosiliar,

infeksi (bakteri), alergi, atau yang jarang seperti obstruksi hidung atau variasi

anatomi.

Rinosinusitis Akut non-virus (ARS) didefinisikan sebagai:

• Peningkatan gejala setelah 5 hari atau

• Gejala-gejala yang menetap/persisten setelah 10 hari dari onset mendadak

dari 2 atau lebih gejala:

- Sumbatan/ kongesti hidung

- Sekret yang jatuh baik di Anterior atau Posterior Nasal

- Nyeri wajah pada saat ditekan

- Dan/atau adanya penurunan/kehilangan kemampuan menghidu.

Pemeriksaan

a. Rinoskopi anterior

Pemeriksaan Rinoskopi anterior dapat melewatkan polip nasal yang kecil

namun perlu dilakukan untuk semua pasien dengan penyakit hidung kronik.

Jika terdapat keraguan diagnostik pasien dapat dirujuk untuk pemeriksaan

endoskopi hidung.

b. Radiologi

Pemeriksaan radiologi tidak direkomendasikan untuk pemeriksaan rutin

penegakan diagnosis dan penatalaksanaan rhinosinusitis dikarenakan foto

polos sinus dapat memberikan hasil positif palsu dan positif negatif.

Pemeriksaan CT scan, modalitas radiologi sebaiknya dilakukan bila tanda

dan gejala bersifat unilateral atau memberikan tanda kondisi yang lebih

serius.

Penatalaksanaan

a. Antiinflamasi steroid intranasal (topikal) terutama yang Rinosinusitis Akut

b. Boleh atau tidak dikombinasi dengan antibiotik sistemik.

c. Boleh atau tidak dikombinasi dengan antiinflamasi steroid sistemik.

d. Terapi tambahan seperti Dekongestan untuk obstruksi nasi, Antihistamin

untuk rinosinusitis alergi,

2. Rinitis Alergi

Rinitis alergi adalah penyakit inflamasi yang disebabkan oleh reaksi alergi pada

pasien atopi yang sebelumnya sudah tersensitasi dengan allergen yang sama serta

dilepaskannya suatu mediator kimia ketika terjadi paparan ulangan dengan

allergen spesifik tersebut. Definisi menurut WHO ARIA adalah kelainan pada

hidung dengan gejala bersin-bersin, rinore, rasa gatal dan tersumbat setelah

mukosa hidung terpapar allergen yang diperantarai oleh Ig E.

Berdasarkan cara masuknya allergen dibagi atas:

a. Alergen inhalan, yang masuk bersama dengan udara pernapasan, misalnya

tungau debu rumah, kecoa, serpihan epitel kulit binatang (kucing, anjing),

rerumputan serta jamur.

b. Alergen ingestan, yang masuk ke saluran cerna, berupa makanan, misalnya

susu sapi, telur, coklat, ikan laut, udang, kepiting, cumi dan kacang-

kacangan.

c. Alergen injektan, yang masuk melalui suntikan atau tusukan, misalnya

penicillin dan sengatan lebah.

d. Alergen kontaktan, yang masuk melalui kontak kulit atau jaringan mukosa,

misalnya bahan kosmetik, perhiasan.

Klasifikasi Rinitis alergi berdasarkan rekomendasi dari ARIA (Allergic Rhinitis

and its Impact on Atshma) WHO berdasarkan sifat berangsungnya dibagi

menjadi:

a. Intermitten (Kadang-kadang): bila gejala kurang dari 4 hari/minggu atau

kurang dari 4 minggu.

b. Persisten (menetap) bila gejala lebih dari 4 hari per minggu dan lebih dari 4

minggu.

Diagnosis

Diagnosis Rnitis alergi ditegakkan berdasarkan:

a. Anamnesis

b. Pemeriksaan Fisik

c. Pemeriksaan Penunjang

Penatalaksanaan

a. Menghindari kontak dengan allergen penyebabnya (Avoidance) dan

eliminasi

b. Medikamentosa dengan menggunakan antihistamin baik oral maupun

antihistamin topikal (intra nasal). Juga dapat digunakan decongestan untuk

obstruksi nasi, Anti inflamasi steroid intranasal dan preparat antikolinergik

topikal untuk mengatasi Rinore.

c. Operatif dengan melakukan konkotomi parsial (pemotongan sebagian konka

inferior), konkoplasty.

d. Imunoterapi

Komplikasi

a. Polip hidung

b. Otitis media efusi yang sering residif, terutama pada anak-anak

c. Sinusitis paranasal

3. Sinusitis Paranasalis

Sinusitis didefinisikan sebagai proses inflamasi mukosa sinus paranasal.

Umumnya disertai atau dipicu oleh rhinitis sehingga sering disebut rinosinusitis.

Bila mengenai beberapa sinus disebut multisinusitis sedangkan bila mengenai

semua sinus paranasal disebut pansinusitis.

Etiologi

Berbagai faktor etiologi dan predisposisi antara lain ISPA alibat virus, bermacam

rhinitis terutama riitis alergi, rhinitis hormonal pada wanita hamil, polip hidung,

kelainan anatomi seperti deviasi septum atau hipertrofi konka, sumbatan

kompleks ostio-meatal (KOM), infeksi tonsil, infeksi gigi (sinusitis dentogen),

kelainan imunologik, diskinesia silia seperti pada sindroma Kartagener dan di

luar negeri adalah penyakit fibrosis kistik. Hipertrofi adenoid pada anak.

Patofisiologi

Adanya Gangguan pada patensi ostium-ostium sinus dan lancarnya klirens

mukosiliar di dalam KOM. Bila terjadi sumbatan pada ostium-ostium sinus maka

akan terjadi tekanan negative di dalam rongga sinus yang menyebabkan

transudasi, mula-mula serous namun bila keadaan ini menetap, sekret yang

berkumpul dalam sinus merupakan media baik untuk pertumbuhan dan

multiplikasi bakteri. Sekret menjadi purulen dan perlu terapi antibiotic. Jika terapi

tidak berhasil inflmasi berlanjut terjadi hipoksia dan bakteri anaerob berkembang.

Mukosa makin membengkak dan ini merupakan rantai siklus yang terus berputar

sampai akhirnya perubahan mukosa menjadi kronik yaitu hipertrofi, polipoid atau

pembentukan polip dan kista. Pada keadaan ini mungkin diperlukan tindakan

operasi.

Klasifikasi dan Mikrobiologi

Menurut Konsensus tahun 2004 Sinusitis berdasarkan perlangsungan dibagi

menjadi akut (< 4 minggu), Sub akut (> 4 minggu - < 3 bulan) dan kronik (>3

bulan)

Menurut berbagai penelitian, bakteri utama yang ditemukan pada sinusitis akut

adalah Streptococcus pneumonia (30-50%), Hemophylus influenza (20-40%) dan

Moraxella catarrhalis (4%). Pada anak, M. catarrhalis lebih banyak ditemukan.

Gejala Sinusitis

Keluhan Utama yang akut adalah Hidung tersumbat disertai nyeri atau rasa

tekanan pada wajah dan ingus purulen yang sering kali turun ke tenggorok (post

nasal drip), dapat disertai gejala sistemik seperti demam dan lesu. Keluhan nyeri

pipi menandakan sinusitis maxilla, nyeri di antara atau di belakang kedua bola

mata menandakan sinusitis ethmoid, nyeri di dahi atau seluruh kepala

menandakan sinusitis frontal. Pada sinusitis sphenoid nyeri dirasakan di vertex,

oksipital, belakang bola mata dan daerah mastoid.

Gejala lain adalah sakit kepala, hiposmia/anosmia, halitosis, post nasal drip yang

menyebabkan batuk dan sesak pada anak. Keluhan sinusitis kronik tidak khas

sehingga sulit didagnosis. Kadang-kadang hanya 1 atau 2 dari gejala-gejala di

bawah ini yaitu sakit kepala kronik, post nasal drip, batuk kronik, gangguan

tenggorok, gangguan telinga akibat sumbatan kronik muara tuba eustachius,

gangguan ke paru seperti bronchitis, bronkiektasis dan yang penting adalah

serangan asma yang meningkat dan sulit diobati. Pada anak, mukopus yang

tertelan dapat menyebabkan gastroenteritis.

Diagnosis

Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan

penunjang. Pemeriksaan fisik dengan rinoskopi anterior dan posterior,

pemeriksaan dengan nasoendoskopi sangat dianjurkan untuk diagnosis yang lebih

tepat dan dini. Tanda khas adalah adanya pus di meatus medius (pada sinusitis

maxilla, ethmoid anterior dan frontal) atau di meatus superior (pada sinusitis

ethmoid posterior dan sphenoid). Pada rinosinusitis akut, mukosa edema dan

hiperemis. Pada anak sering ada pembengkakan dan kemerahan di daerah kantus

medius.

Pemeriksaan penunjang yag penting adalah Foto polos atau CT Scan. Foto polos

posisi waters, PA dan lateral, umumnya hanya mampu menilai kondisi sinus-

sinus besar seperti sinus maksilla dan frontal. Kelainan akan terlihat

perselubungan, batas udara-cairan (air fluid level) atau penebalan mukosa.

CT Scan sinus merupakan gold standard diagnosis sinusitis karena mampu

menilai anatomi hidung dan sinus, adanya penyakit dalam hidung dan sinus

secara keseluruhan dan perluasannya.

Pemeriksaan Mikrobiologik dan tes resistensi dilakukan dengan mengambil

sekret dari meatus medius/superior, untuk mendapat antibiotik yang tepat guna.

Penatalaksanaan

Tujuan terapi sinusitis ialah:

a. Mempercepat penyembuhan

b. Mencegah komplikasi

c. Mencegah perubahan menjadi kronik.

Prinsip pengobatan ialah membuka sumbatan di KOM sehingga drenase dan

ventilasi sinus-sinus pulih secara alami.

Antibiotik dan dekongestan merupakan terapi pilihan pada sinusitis akut bacterial.

Antibiotic diberikan selama 10-14 hari meskipun gejala klinik sudah hilang.

Selain dekongestan oral dan topikal, terapi lain dapat diberikan jika diperlukan

seperti analgetik, mukolitik, steroid oral/topikal, nasal doughing dengan NaCl,

anti histamine tidak rutin diberikan, imunoterapi dapat dipertimbangkan jika

pasien menderita kelainan alergi yang berat. Bila sinusitis kronik yang tidak

mengalami perbaikan dengan terapi adekuat makan dapat dilakukan tindakan

Operasi (Bedah Sinus Endoskopi Fungsional).

Komplikasi

Komplikasi yang biasa terjadi adalah:

a. Komplikasi Orbita edema palpebra, selulitis orbita, abses subperiosteal,

abses orbita dan selanjutnya dapat terjadi thrombosis sinus kavernosus.

b. Komplikasi Intrakranial Meningitis, abses ekstradural atau subdural, abses

otak dan thrombosis sinus kavernosus.

FARING

A. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah:

1. Nyeri tenggorok

2. Nyeri menelan (odinofagia)

3. Rasa Banyak dahak di tenggorok

4. Sulit menelan (disfagia)

5. Rasa ada yang menyumbat atau mengganjal (sense of lump in the neck)

B. Pemeriksaan Fisis

Dengan lampu kepala yang diarahkan ke rongga mulut. Dilihat keadaan bibir, mukosa

rongga mulut, lidah dan gerakan lidah. Dengan menekan bagian tengah lidah

memakai spatula lidah maka bagian-bagian rongga mulut lebih jelas terlihat.

Pemeriksaan dimulai dengan melihat keadaan dinding belakan faring serta kelenjar

limfenya, uvula, arkus faring serta gerakannya, tonsil mukosa pipi, gusi dan gigi

geligi. Palpasi rongga mulut diperlukan bila ada massa tumor, kista dan lain-lain.

Adakah rasa nyeri di sendi temporo mandibula ketika membuka mulut.

C. Penyakit – penyakit pada Faring

1. Faringitis Akut

Faringitis adalah proses inflamasi pada dinding faring yang dapat disebabkan oleh

virus, bakteri, alergi, trauma, toksin dan lain-lain.

a. Faringitis Viral

Rinovirus menimbulkan gejala rhinitis dan beberapa hari kemudian akan

menimbulkan faringitis

Etiologi

Virus yang biasa menyebabkan faringitis diantaranya coxsachievirus,

cytomegalovirus, adenovirus, Epstain Barr Virus (EBV), HIV-1.

Gejala

Demam disertai rinore, mual, nyeri tenggorok, sulit menelan

Pemeriksaan Fisik

Tampak Faring hiperemis. Tanda-tanda yang lain tampak tergantung pada jenis

virusnya. Misalnya tanda lesi vesicular di orofaring dan lesi kulit berupa

maculopapular rash (coxachievirus). Konjungtivitis biasanya menyertai

faringitis oleh karena infeksi adenovirus pada anak. Tampak exudat yang

banyak pada faring dan terdapat pembesaran kelenjar limfa di seluruh tubuh

pada infeksi EBV.

Gambar 1. faringitis viral karena coxsachievirus

Penatalaksanaan

Istrahat dan minum yang cukup. Kumur dengan air hangat. Analgetik jika perlu

dan tablet hisap.

Antivirus seperti metisoprinol (isoprenosine) dapat diberikan pada faringitis

causa Haepes Simplex.

b. Faringitis Bakterial

Etiologi

Infeksi grup A Streptokokus hemolitikus merupakan penyebab faringitis akut

pada orang dewasa dan pada anak.

Gejala

Nyeri kepala yang hebat, muntah, kadang-kadang disertai demam. Jarang

disertai batuk.

Pemeriksaan Fisik

Faring dan tonsil hiperemis dan terdapat exudat di permukaannya. Beberapa

hari kemudian tampak bercak petechiae pada palatum dan faring. Kelenjar

limfe leher anterior membesar, kenyal dan nyeri pada penekanan.

Gambar 2. Faringitis akut

Penatalaksanaan

Pemberian antibiotic, Kortikosteroid, analgetik dan kumur dengan air hangat

atau antiseptik.

c. Faringitis Fungal

Etiologi

Golongan Candida yang sering muncul pada mukosa rongga mulut dan faring.

Gejala

Keluhan nyeri tenggorok dan nyeri menelan.

Pemeriksaan Fisik

Tampak plak putih di orofaring dan mukosa farong lainnya hiperemis.

Gambar 3. Faringitis Fungal

Penatalaksanaan

Memberian anti jamur seperti Nystatin dan analgetik.

2. Faringitis Kronik

Faktor predisposisi proses radang kronik di faring adalah rhinitis kronik, sinusitis,

iritasi kronik oleh rokok, minum alcohol, inhalasi uap yang merangsang mukosa

faring dan debu.

a. Faringitis Kronik Hiperplastik

Gejala

Mula-mula pasien mengeluh tenggorok kering dan gatal dan akhirnya batuk

yang bereak.

Penatalaksanaan

Dengan melakukan kaustik faring menggunakan AgNO3 atau dengan elektro

cauter. Pengobatan simptomatis dengan obat kumur atau tablet hisap

b. Faringitis Kronik atrofi

Faringitis kronik atrofi sering timbul bersamaan dengan rhinitis atrofi.

Gejala

Pasien mengeluh tenggorok kering dan tebal serta mulut berbau.

Pemeriksaan fisis

Tampak mukosa faring ditutupi oleh lender yang kental dan bila diangkat

tampak mukosa kering.

Gambar 4. Faringitis kronik

Penatalaksanaan

Pengobatan ditujukan pada rhinitis atrofinya dan untuk faringitis kronik atrofi

ditambahkan dengan obat kumur dan menjaga kebersihan mulut.

3. Tonsilitis Akut

Proses inflamasi yang terjadi pada tonsil palatina.

Etiologi

Tonsilitis akut disebabkan oleh Virus (virus ebstain barr, H. Imfluenza) dan

bakteri (Grup A Streptokokkus hemolitikus, streptokokkus viridians, dan

streptokokkus piogenes)

Gejala

Nyeri tenggorok, nyeri menelan, demam dengan suhu yang tinggi, rasa lesu, rasa

nyeri di sendi-sendi, tidak nafsu makan dan rasa nyeri di telinga (otalgia) akibat

refer pain melalui n. glossofaringeus.

Pemeriksaan Fisik

Tampak tonsil membengkak, hiperemis dan terdapat detritus berbentuk folikel,

lacuna atau tertutup oleh membrane semu. Kelenjar submandibula membengkak

dan nyeri tekan.

Gambar 5. Tonsilitis akut

Penatalaksanaan

Untuk kausa bakteri istrahat yang cukup, analgetika dan antivirus diberikan jika

gejala berat.

Pada kausa bakteri diberikan antibiotic spectrum luas seperti penicillin, eritromisin.

Antipiretik dan obat kumur yang mengandung desinfektan.

Komplikasi

Pada sering menimbulkan komplikasi otitis media akut, sinusitis, abses peritonsil,

abses parafaring, bronchitis, glomerulonefritis akut, miokarditis, arthritis serta

septicemia akibat infeksi v. jugularis interna.

4. Tonsilitis Kronik

Etiologi

Faktor prediposisi timbulnya tonslitis kronik ialah rangsangan yang menahun dari

rokok, beberapa jenis makanan, hygiene mulut yang buruk, penaruh cuaca,

kelelahan fisik dan pengobatan tonsillitis akut yang tidak adekuat. Kuman

penyebabnya sama dengan tonsillitis akut tapi kadang-kadang kuman berubah

menjadi kuman golongan Gram negative.

Gejala

Rasa mengganjal di tenggorok, dirasakan kering di tenggorok dan napas berbau.

Pemeriksaan Fisik

Tampak tonsil membesar dengan permukaan yang tidak rata. Kriptus melebar dan

beberapa kripti terisi detritus.

Gambar 6. Tonsilitis Kronik

Penatalaksanaan

Terapi lokal ditujukan pada hygiene mulut dengan berkumur atau obat hisap.

Komplikasi

Rhinitis kronik, sinusitis, otitis media secara perkontinuitatum. Komplikasi jauh

secara hematogen atau limfogen dapat timbul endokarditis, arthritis, miositis,

nefritis, uveitis, iridosiklitis, dermatitis, pruritus, urtikaria dan furunkulosis.

Tonsilektomi dilakukan bila terjadi infeksi yang berulang atau kronik, gejala

sumbatan serta kecurigaan neoplasma.

5. Abses Peritonsiler

Etiologi

Proses ini terjadi sebagai komplikasi tonsillitis akut atau infeksi yang bersumber

dari kelenjar mukus weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman penyebab adalah

kuman aero dan anaerob.

Gejala

Selain gejala-gejala pada tonsilitias akut juga terdapat odinofagia yang hebat

biasanya pada sisi yang sama juga terjadi nyeri telinga (otalgia), mungkin terdapat

muntah (regurgitasi), mulut berbau, hipersalivasi, suara gumam (hot potatoes

voice), kadang-kadang ada trismus serta pembengkakan kelenjar submandibula

dengan nyeri tekan.

Pemeriksaan Fisis

Kadang-kadang sulit memeriksa faring karena adnya trismus. Palatum molle

tampak membengkak dan menonjol ke depan, dapat teraba fluktuasi. Uvula

bengkak dan terdorong ke arah tengah, depan dan bawah.

Gambar 7. Abses Peritonsiler

Penalaksanaan

Pada stdium infiltrasi, diberikan antibiotika golonan penicillin atau klindamisin.

Dan obat simptomatik. Juga perlu kumur-kumur dengan cairan hangat dan kompres

dingin pada leher.

Bia terbentuk abses, dilakukan punksi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk

mengeluarkan pus. Kemudian pasien dinjurkan untuk tonsilektomi.

Komplikasi

a. Abses pecah spontan, dapat mengakibatkan perdarahan, aspirasi paru atau

piemia

b. Penjalaran infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses

parafaring, pada perjalanan selanjutnya, masuk ke mediastinum, sehingga

terjadi mediastinitis

c. Bila terjadi penjalaran ke daerah intracranial, dapat mengakibatkan thrombus

sinus kavernosus, meningitis dan abses otak.

6. Angina Ludovici

Angina ludovici ialah infeksi ruang submandibula berupa selulitis dengan tanda

khas berupa pembengkakan seluruh ruang submandibula, tidak membentuk abses,

sehingga keras pada perabaan submandibula.

Etiologi

Sumber infeksi seringkali berasal dari gigi atau dasar mulut oleh kuman aerob dan

anaerob.

Gejala

Nyeri tenggorok dan leher,

Pemeriksaan Fisis

Tampak pembengkakan di daerah submandibula yang hiperemis dank eras pada

perabaan.

Dasar mulut membengkak, dapat mendorong lidah ke atas belakang, sehingga

menimbulkan sesak napas karena sumbatan jalan napas.

Gambar 8. Angina Ludovici

Penatalaksanaan

Antibiotika parenteral dosis tinggi.

Dilakukan eksplorasi untuk tujuan dekompresi (mengurangi ketegangan) dan

evakuasi pus (pada angina ludovici jarang terdapat pus) atau jaringan nekrosis.

Perlu dilakukan pengobatan terhadap sumber infeksi (gigi), untuk mencegah

kekambuhan.

Pasien dirawat inap sampai infeksi reda.

Komplikasi

a. Sumbatan jalan napas

b. Penjalaran abses ke ruang leher dalam lain dan mediastinum

c. Sepsis

LARING

A. Gejala-gejala yang sering dikeluhkan pasien adalah:

1. Suara serak (disfoni), suara hilang sama sekali (afoni)

2. Batuk

3. Disfagia

4. Rasa ada sesuatu di tenggorok.

B. Pemeriksaan Fisis

Pasien duduk lurus agak condong ke depan dengan leher agak fleksi. Kaca laring

dihangatkan dengan api lampu spiritus agar tidak terjadi kondensasi uap air pada kaca

waktu dimasukkan ke dalam mulut.

Sebelum dimasukkan ke dalam mulut kaca yang sudah dihangatkan itu dicoba dulu

pada kulit tangan, apakah tiak terlalu panas.

Pasien diminta untuk membuka mulut dan menjulurkan lidahnya sejauh mungkin.

Lidah dipegang dengan tangan kiri memakai kain kasa dan ditarik keluar dengan hati-

hati sehingga pangkal lidah sehingga tidak menghalangi pandangan ke arah laring.

Kemudian kaca laring dimasukkan ke dalam mulut dengan arah kaca ke bawah,

besandar pada uvula dan palatum molle. Melalui kaca dapat terlihat hipofaring dan

laring. Bila laring belum terlihat jelas penarikan lidah dapat ditambah sehingga

pangkal lidah lebih ke depan dan epiglottis lebih terangkat.

Untuk menilai gerakan pita suara aduksi, pasien diminta mengucapkan “iiiiii”,

sedangkan untuk menilai gerakan pita suara abduksi dan melihat daerah subglotik

pasien diminta untuk inspirasi dalam.

Pemeriksaan laring dengan menggunakan kaca laring disebut laringoskopi tidak

langsung (laryngoscopy indirect)

C. Penyakit – penyakit pada Laring

1. Laringitis Akut

Proses inflamasi akut yang terjadi pada laring yang merupakan kelanjutan dari

rinofaringitis (common cold). Pada laryngitis akut ini dapat menimbulkan

sumbatan jalan napas.

Etiologi

Bakteri (radang local) atau virus (radang sistemik)

Gejala

Gejala-gejala umum seperti Demam, malaise. Dan gejala local seperti disfoni

sampai afoni. Nyeri ketika menelan atau berbicara serta gejala sumbatan laring.

Selain itu terdapat batuk kering dan lama kelamaan disertai dengan dahak kental.

Pemeriksaan fisis

Tampak mukosa laring hiperemis, membengkak, terutama di atas dan di bawah pita

suara. Biasanya terdapat juga tanda radang akut di hidung atau sinus paranasal atau

paru.

Gambar 9. Laringitis Akut

Penatalaksanaan

Istrahat berbicara dan bersuara selama 2-3 hari.

Menghirup udara lembab.

Menghindari iritasi pada faring dan laring misalnya merokok, makanan pedas atau

minum es.

Antibiotika diberikan apabila peradangan berasal dari paru. Bila terdapat sumbatan

laring, dilakukan pemasangan pipa endotrakhea atau trakheostomi.

2. Laringitis Kronik

Etiologi

Sering merupakan radang kronis yang disebabkan oleh sinusitis kronis, deviasi

septum yang berat, polip hidung atau bronchitis konis. Bisa juga disebabkan oleh

penyalaguanan suara (vocal abuse) seperti berteriak-teriak atau biasa berbicara

keras.

Gejala

Suara parau yang menetap, rasa tersangkut di tenggorok sehingga pasien sering

mendehem tanpa mengeluarkan sekret, Karena mukosa yang menebal.

Pemeriksaan fisis

Tampak mukosa menebal, permukaan tidak rata dan hiperemis. Bila terdapat

daerah yang dicurigai menyerupai tumor, maka perlu dilakukan biopsy.

Gambar 10. Laringitis Kronik

Penatalaksanaan

Terapi yang terpenting ialah mengobati peradangan di hidung, faring serta bronkus

yang mungkin menjadi penyebab laryngitis kronis itu. Pasien diminta untuk tidak

banyak berbicara.