jiwa plato & rene descartes

Download Jiwa Plato & Rene Descartes

Post on 14-Apr-2016

226 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

filsafat

TRANSCRIPT

SIFAT JIWA MENURUT IDEALISME

SIFAT JIWA MENURUT IDEALISME

PLATO DAN RENE DESCARTESI. PENDAHULUAN.Aliran idealisme merupakan aliran yang sangat penting dalam perkembangan sejarah pemikiran manusia.

Mula mula dalam filsafat barat kita temui dalam bentuk ajarannya yang murni dari Plato, yang menyatakan bahwa alam cita-cita, alam pikiran (idea) itu ialah yang merupakan kenyataan yang sebenarnya. Adapun alam nyata yang menempati ruang ini hanyalah berupa bayangan saja dari alam idea tersebut.

Sebenarnya dapat dikatakan bahwa sepanjang masa tak pernah paham idealisme hilang sama sekali. Di masa abad pertengahan malahan satu-satunya pendapat yang disepakati oleh semua ahli ahli fikir adalah dasar idealisme ini. Di zaman aufklarung misalnya, juga para ahli-ahli filsafat mengakui paham idealisme ini diantaranya adalah Rene Descartes.

Selain itu segenap kaum agama sekaligus dapat kita golongkan pada penganut idealisme yang paling setia sepanjang masa, walaupun mereka tidak memakai dalil-dalil filsafat secara mendalam. Puncak kejayaan zaman idealisme ini yaitu pada abad ke XVIII dan ke XIX khususnya di Eropa.

Dalam uraian makalah ini, akan berusaha mencoba mempertemukan antara filosof periode klasik dengan filosof periode modern, yaitu dua orang filosof yang terkenal pada masanya yaitu PLATO dan RENE DESCARTES. Plato sendiri adalah seorang filosof dari kalangan filsafat klasik, sedang Rena Descartes adalah seorang filosof yang termasuk hidup pada abad modern yakni sekitar abad ke XIV yang disebut filsafat periode modern.

Keduanya akan dicoba mempertemukannya dalam soal sifat jiwa menurut ajaran idealisme mereka masing-masing, dengan metode memperbandingkan antara pendapat keduanya.

Uraian makalah akan dilengkapi pula dengan uraian mengenai biografi kedua tokoh di atas sebagai pelengkap. Demikian pula akan diuraikan sekilas pendapat mereka tentang idea yang akan medahului uraian inti dari makalah ini.

II. BIOGRAFI PLATO DAN RENE DESCARTES.Secara berurutan akan di uraikan sekilas biografi kedua tokoh di atas dan akan di mukai dari Plato.

A. PLATO

Pada mulanya beliau bernama Aristokles, lalu kemudian diganti dengan Plato oleh guru senamnya yang diambil dari nama neneknya sendiri. Beliau dilahirkan pada tanggal 29 Mei tahun 427 SM di Athena, dan beliau meninggal dunia tahun 347 SM. Dalam usia delapan puluh tahun di tempat yang sama. Ayahnya bernama Ariston, sedangnya ibunnya benama Priktione.

Beliau adalah seorang yang berketurunan bangsawan Athena dan hampir semua peranan penting dalam pemerintahan di pegang oleh keluarganya. Dengan adanya latar belakang keluarga yang umumnya berperan dalam pemerintahan tersebut memberi peluang bagi beliau untuk menekuni bidang politik sehingga beliau sempat tercatat sebagai salah seorang politikus Athena, hal ini sangat nampak pada karya-karya beliau yang umumnya mebahas tentang politik.

Beliau telah mengenal Socrates sejak beliau masih kanak-kanak, maka pantaslah kalau pemikiran pemikiran beliau banyak terpengaruh oleh Socrates. Sehingga beliau menganggap Socrates sebagai orang paling baik, paling bijaksana dan paling jujur.

B. RENE DESCARTESRene descartes lahir pada tanggal 31 Maret 1596 di sebuah kota yang bernama La Haye di Prancis. Beliau meniggal dunia di Stockholm Swedia pada tahun 1650, dan mandapat gelar bapak filsafat modern.

Satu hal yang menarik yang pernah beliau alami adalah beliau pernah berkali-kali bermimpi yang aneh-aneh, dan yang lebih aneh lagi, beliau menafsirkan mimpinya itu sebagai suatu isyarat Tuhan untuk mentakdirkannya menemukan kesatuan pengetahuan dasar alamnya yang kemudian dinamakan matematika. Semenjak itu beliau memberikan perhatian yang besar kepada fisika dan matematika, di mana beliau di beri dorongan oleh persekutuan dengan matematika Isaac Beeckman, dan tidak dapat dipungkiri bahwa beliau memang banyak terpengaruh pada Isaac Beeckman yang banyak perhatian dalam banyak bidang keilmuan itu yang juga sekaligus sebagai sahabat beliau.

Descartes tercatat sebagai seorang filosof sekaligus sebagai seorang ahli matematika dan seorang ilmuan.

III. IDEA MENURUT PLATO DAN RENE DESCARTES.

Berikut ini akan digambarkan secara umum pendapat keduanya khususnya pendapat mereka tentang idea.

A. Idea Menurut Plato.

idea Plato merupakan inti dan dasar dari seluruh filsafatnya, idea disini mempunyai pengertian tersendiri dan terkhusus, yang berbeda dengan pengertian yang umum dipahami seperti yang sering dikemukakan oleh ahli pikir lainnya. Menurut pengertian umum, idea berarti suatu gagasan, pengertian, atau cita-cita yang muncul dalam jiwa dan pemikiran seseorang karena adanya tanggapan terhadap suatu keadaan. jadi idea disini berifat subjektif. Sedang pengertian idea menurut Plato adalah hakekat segala sesuatu yang berbeda dibalik kenyataan. Jadi merupakan sesuatu yang objektif, terlepas dari subjek yang berfikir. Idea tidak diciptakan oleh pemikiran dan tidak bergantung pada pemikiran, bahkan pemikiran itu sendiri tergantung pada idea, karena pemikiran tidak lain dari pada menaruh perhatian kepada idea sebagai hakikat segala sesuatu. Apa yang nampak oleh mata atau dapar dirasakan oleh panca indra bukan itu yang sesungguhnya, itu hanyalah bayangan atau model idea.

Menurut Plato, dunia pengalaman ini merupakan bayangan atau model idea. Idea itu merupakan contoh dari bayangan-bayangan itu, dan caranya menjadi bayangan-bayangan tidak satu macam, melainkan bermacam-macam.

Oleh Plato idea atau hakikat tidak menjadi objek pengindraan, dan hakikat tidak bersifat kebendaan. Menurutnya, psykhis tidak termasuk dunia idea melainkan dunia kejadian, persis seperti kajasmanian segala sesuatu yang fanah dan menjadi objek pengindraan, seperti objek opistemologi yang primer. Batas antara kejadian dan idea adalah batas antara apa yang berubah dan apa yang tidak berubah. Apa yang berubah adalah kejadian dan kebendaan, sedang apa yang tidak berubah adalah idea. Jadi idea itu tetap dan tidak berubah. Fungsi kesadaran walaupun rokhani, termasuk proses perubahan dan tergantung kepada benda-benda yang berubah dalam proses pengindraan, fungsi itu adalah bagian dari dunia kejadian. Kesatuan-kesatuan jasmani, jika mengandung sesuatu yang tidak berubah, umpamanya fungsi estetika dapat termasuk dunia idea atau hakekat. Batas antara kejadian dan hakekat pada Plato tidak sama dengan batas antara tubuh dan jiwa.

Dari pandangan tersebut diatas dapat dipahami bahwa plato memandang idea berada dibalik kenyataan ini, menurutnya idea adalah satu-satunya hakekat mutlak yang tidak dapat berubah, maka alam pengalaman tidak hanya bersifat bayangan, tetapi timbul sebagai penjelmaan idea, walaupun hanya melalui ingatan idea mutlak.

B. Idea Menurut Rene Descartes.

Tentang idea descartes membedakannya dalam tiga corak sebagai berikut :

1. idea-idea bawaan (innate ideas) adalah bentuk proses struktur, kegiatan atau potensi dari pemikiran sendiri.

2. idea-idea buatan (factitious ideas) adalah idea yang dibentuk oleh pikiran untuk memahami benda-benda.

3. idea-idea kebetulan (adventition ideas) adalah idea yang muncul sebagai stimulus dari dunia luar.

Menurut beliau, suatu idea baru disebut jelas jika idea itu dapat dipahami sebagai suatu keseluruhan dan tanpa adanya ketidak runtuhan. Ada tiga (3) idea yang jelas dan pilah (self-evident) mengenai hak kenyataan dan memberikan dasar bagi filsafat, yaitu :

1. extention (materi yang menempati ruang).

2. figure (bentuk, ukuran dimensi keruangan).

3. movement (gerak).Descartes tidak pernah menyusun semua pertanyaannya mengenai gagasan dalam satu buku, atau mengemukakan sebuah pertanyaan sehingga suatu gagasan nanti akan dapat dijawab. Namun beliau mampu mengemukakan bagaimana menghadirkan dalam batin kita hal dan benda yang diperlukan untuk memahami alam.

Dalam teori idea, descartes menurunkan perbedaan antara indra dan intelek, menyangkal bahwa pemahaman ilmiah bergantung pada operasi organ-indra, dan mencoba memperbaiki doktrin yang hampir tidak dapat dipahami. Menurut beliau kerja benda-benda terhadap organ-indra semata-mata masalah benturan, dengan pasca efek dalam sistem syaraf pada kelenjar pineal, dan gerakan-gerakan ini bertindak sebagai isyarat bagi jiwa rasional, yang bergabung dengan tubuh pada kelenjar pineal untuk menghasilkan sejenis pengalaman sadar atau idea tertentu.

Descarter mengatakan bahwa agar supaya idea menjadi mengena terhadap sesuatu, maka haruslah ada kemiripan antara gagasan dan benda-benda yang digagasi, tetapi kemiripan itu perlu ditefsirkan sebagai non-fotografis. kemiripan dalam makna yang terkait dapat merupakan masalah suatu benda dapat memenuhi suatu spesifikasi yang dipikirkan.

Nampaknya idea descartes membuang pengandalan skolastik mengenai fungsi-fungsi yang berbeda untuk indra-indra dan intelek, karena pada teori beliau indra-indra tidak memiliki objek sama sekali. Indra hanya menerima benturan dari materi disekitarnya, jiwa rasional-lah yang mewakili benda itu. Sebagai akibatnya, sifat-sifat materi yang teramati tidak-lah benar-benat terbagi kepada sifat indrawi dan intelektual.

IV. SIFAT JIWA MENURUT IDEALISME PLATO DAN RENE DESCARTES.

Semua macam idealaisme menerima adanay perinsip hidup untuk manusia, tetapi perinsip hidup itu tidak material, kami sebut saja non-material. Baik dari filsafat maupun beraneka ragam agama ada pendapat, bahwa ada sesuatu yang non-material pada manusia itu. Nama dalam bahasa kita maupun bahasa asing bermacam-macam juga, begitu pula sifat yang non-material itu. Walaupun pada dasarnya kami tidak menolak nama-nama lain, untuk keperluan ini dalam bahasa kita kami pergunakan istilah jiwa untuk perinsip hidup yang non-material ini. Dalam uraian selanjutnya mudah-mudahan nampak bagaimana sifat jiwa itu m