iv. hasil dan pembahasan 4.1 hasil 4.1.1 keadaan (jmum

19
IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum Desa Mentulik Kabupaten Kampar merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi Riau yang memilil<i luas + 11.707,64 km'^ atau 12,38 % dari luas Provinsi Riau. Secara geografis Kabupaten Kampar terletak pada 100^29'56,9" - 10r40'47,l" BT dan 0''22'55,8" LS - 0°55'28,2" L U yang secara administrasi berbatasan dengan wilayah sebelah Utara dengan Kota Pekan Paki dan Kabupaten Siak; sebelah Selatan dengan Kabupaten Kuantan Singingi; sebelah Barat dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi Sumatera Barat; dan sebelah Timur dengan Kabupaten Siak (Lampiran 1). Sebagian besar Kabupaten Kampar merupakan daerah perbukitan yang berada di sepanjang Bukit Barisan yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dengan ketinggian 200 - 300m dari permukaan laut, beriklim tropis dengan temperatur suhu maksimal rata-rata 3 l^C - 32°C. Danau oxbow banyak dijumpai di Kabupaten Kampar yang tersebar sepanjang aliran Sungai Kampar. Danau-danau tersebut dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan ikan yang potensial bagi penduduk Kampar. Salah satu diantaranya adalah Danau Paki yang terdapat di Kecamatan Kampar Kiri Hilir. Danau Paki secara geografis terletak di Desa Mentulik. Desa ini memiliki luas ± 12.000 ha, berada pada posisi 0''7'49,9r' - 0°17'14,3" LU dan 10l'^29'28,6 - 10l''37'58,9" BT, dengan batas wilayah sebelah Utara dengan Desa Siak Hulu, Selatan dengan Desa Sungai Pagar, Timur dengan Kecamatan Langgam dan sebelah Barat dengan Kecamatan Tambang. Topografi Danau Paki terdiri dari dataran rendah, dimana danau ini terletak di seberang Sungai Kampar Kiri, disekitar Danau Paki terdapat areal perkebunan kelapa sawit dan karet yang dilakukan oleh penduduk. Untuk mencapai Danau Paki mengharuskan penggunaan alat transportasi air (sampan, perahu mesin) dari Desa Mentulik. Desa Mentulik ini berdasarkan orbitasinya dari ibukota kecamatan sejauh 25 km, dari ibukota kabupaten sejauh 70 km dan dari ibukota Provinsi sejauh 43 km (Kantor Kecamatan Kampar Kiri Hilir).

Upload: others

Post on 30-Nov-2021

6 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil

4.1.1 Keadaan (Jmum Desa Mentulik

Kabupaten Kampar merupakan salah satu kabupaten yang terdapat di Provinsi

Riau yang memilil<i luas + 11.707,64 km'̂ atau 12,38 % dari luas Provinsi Riau. Secara

geografis Kabupaten Kampar terletak pada 100^29'56,9" - 10r40'47,l" BT dan

0''22'55,8" LS - 0°55'28,2" LU yang secara administrasi berbatasan dengan wilayah

sebelah Utara dengan Kota Pekan Paki dan Kabupaten Siak; sebelah Selatan dengan

Kabupaten Kuantan Singingi; sebelah Barat dengan Kabupaten Rokan Hulu dan Provinsi

Sumatera Barat; dan sebelah Timur dengan Kabupaten Siak (Lampiran 1). Sebagian besar

Kabupaten Kampar merupakan daerah perbukitan yang berada di sepanjang Bukit Barisan

yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Barat dengan ketinggian 200 - 300m dari

permukaan laut, beriklim tropis dengan temperatur suhu maksimal rata-rata 3 l^C - 32°C.

Danau oxbow banyak dijumpai di Kabupaten Kampar yang tersebar sepanjang

aliran Sungai Kampar. Danau-danau tersebut dimanfaatkan sebagai daerah penangkapan

ikan yang potensial bagi penduduk Kampar. Salah satu diantaranya adalah Danau Paki

yang terdapat di Kecamatan Kampar Kiri Hilir.

Danau Paki secara geografis terletak di Desa Mentulik. Desa ini memiliki luas ±

12.000 ha, berada pada posisi 0''7'49,9r' - 0°17'14,3" L U dan 10l'^29'28,6 - 10l''37'58,9"

BT, dengan batas wilayah sebelah Utara dengan Desa Siak Hulu, Selatan dengan Desa

Sungai Pagar, Timur dengan Kecamatan Langgam dan sebelah Barat dengan Kecamatan

Tambang.

Topografi Danau Paki terdiri dari dataran rendah, dimana danau ini terletak di

seberang Sungai Kampar Kiri, disekitar Danau Paki terdapat areal perkebunan kelapa

sawit dan karet yang dilakukan oleh penduduk. Untuk mencapai Danau Paki

mengharuskan penggunaan alat transportasi air (sampan, perahu mesin) dari Desa

Mentulik. Desa Mentulik ini berdasarkan orbitasinya dari ibukota kecamatan sejauh 25

km, dari ibukota kabupaten sejauh 70 km dan dari ibukota Provinsi sejauh 43 km (Kantor

Kecamatan Kampar Kiri Hilir).

Page 2: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

21

4.1.2. Nitrat dan Fosfat

Konsentrasi nitrat pada penelitian di Danau Paki ini berkisar antara 0,441-0,633

mg/1 sedangkan konsentrasi fosfat berkisar antara 0,0581-0,0763 mg/1. Dengan ratio nitrat

dan fosfat 8,2 : 1 (Tabel 2).

Tabel 2. Perbandingan Nitrat dan Fosfat di Perairan Danau Paki Desa Mentulik Selama Penelitian

Parameter yang Diukur Satuan Stasiun

Parameter yang Diukur Satuan St 1 St 2 St 3

Nitrat mg/1 0,5763 0, 6220 0,4710 Fosfat mg/1 0,0687 0,0746 0,0600 Ratio N/P - 8,3851 8,3415 7,8456

Sumber: Data Primer

4.1.3. Kelimpahan Fitoplankton

Berdasarkan hasil analisis data selama penelitian di perairan Danau Paki Desa

Mentulik dapat diketahui bahwa kelimpahan rata-rata fitoplankton pada stasiun I

sebesar 63.367 sel/1, stasiun I I sebesar 60.950 sel/1 dan pada stasiun I I I sebesar 48.400

sel/1 (Tabel 3).

No. Jenis Nilai Kelimpahan

Total/Jeilis No. Jenis St 1 St 2 St 3 Total/Jeilis

Cyanophyceae

1 Aphantxapsa elachista 2.333 2.600 2.300 7.233

2 Calothrix coriacea 2.700 2.800 2.800 8.300

3 Dactylococcopsis acicularis 3.800 4.667 3.567 12.033

4 Holopedium irregulare 2.233 2.200 1.900 6.333

5 Microchaeta investiens 3.400 3.600 3.167 10.167

6 Microcytis flasaquae 1.900 2.333 1.767 6.000

7 Lyn^hya limnetica 1.667 1.567 1.150 4.383

8 Raphicliopsis curvata 3.867 3.667 2.567 10.100

9 Synechocystis aquetilUs 2.867 3.200 2.400 8.467

Bacillariophyceae

10 Nitzschia vermicularis 3.800 3.533 3.267 10.600

11 N. closterium 7.367 7.067 6133 20.567

12 N. curvala 5.400 4.700 4.000 14.100

1.3 fragilaria cyilindrus 1.933 1.833 1.567 5.333

Chlorophyceae

14 Closterium gracile 3.033 2.800 1.400 7.233

15 Schroederia setigara 7.500 7.133 5.533 20.167

16 Spyrogyra pseudoylinrica 4.900 4.550 2.400 11.850

17 Ulotnx zonata 933 1.400 0 2.333

18 Schroderia nitzschioides 1.400 1.300 933 3.633

Xanthophyceae

19 Batrydiopsis arrhiza 2.333 0 1.550 3.883 Total 63.367 60.950 48.400 172.717 Rata-rata 3.335 3.208 2.547

Sumber: Data Primer

Page 3: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

22

4.1.4. Jenis Fitoplankton

Jenis fitoplankton yang ditemukan selama penelitian di sekitar perairan Danau

Paki Desa Mentulik terdiri dari 19 jenis dan 4 kelas, yang terdiri dari kelas

Cyanophyceae (9 spesies), kelas Bacillariophyceae (4 spesies), kelas Chlorophyceae (5

spesies), kelas Xanthhophyceae (1 spesies). Jenis fitoplankton yang teridentifikasi

selama penelitian berdasarkan kelas dapat dilihat pada Tabel 4.

Tabel 4. Jenis-Jenis Fitoplankton yang ditemukan di Perairan Danau Paki Selama Penelitian

Kelas Ordo Famili Genus Spesies

Cyanophyceae Oscillatoriales Oscillatoriaceae Lyngbya Lyngbya limnetica

Nostocales Rivulariaceae Calothrix Calothrix coriacea

Chroococcales Chroococcaceae Microcytis Microcytis

Jlosaquae

Aphanocapsa Aphanocapsa

elachista

Synechocystis Synechocystis

aquetiUis

Microchaeta Microchaeta

investiens

Dactylococcopsis Dactylococcopsis

acicularis

Chroococcales Holopediumaceae Holopedium Holopedium

irregulare

Chroococcales Rhaphidiophyceae Raphidiopsis Raphidiopsis

curvata

Bacillariophyceae Epithemiales Nitzschiaceae Nitzschia Nitzschia

vermicularis

N. closterium

N. curvala

Paimales Fragileceae Fragilaria Fragilaria cylindrus

Chlorophyceae Ulotrichales Ulotrichaceae Ulotrix Ulotrix zonata

Chlorococcales Oocystaceae Closteropsis Closterium gracile

Characiaceae Schroederia Schroederia

nitzschioides

Schroederia setigara

Zygnemateles Zygnemataceae Spyrogyra Spyrogyra

pseudoylinrica

Xanthophyceae Mischococcales Pleurochloridaceae Batrydiopsis Batrydiopsis arrhiza

Sumber ; Data Primer

Page 4: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

23

Nilai indeks keragaman jenis (H') di perairan Danau Paki Desa Mentulik yang

paling tinggi dijumpai pada stasiun 1 yaitu 4,545, terendah berada pada stasiun IJI

(3,0658). Nilai indeks dominansi jenis ( C ) fitoplankton tertinggi dijumpai pada

stasiun I I I (0,0703) dan terendah pada stasiun I (0,0679), sedangkan nilai indeks

keseragaman jenis (E') fitoplankton tertinggi dijumpai pada stasiun I I (0,9639). Untuk

lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 5 berikut.

Tabel 5. Hasil Perhitungan Indeks Keragaman (H'), Dominansi ( C ) dan Keseragaman (E') Jenis Fitoplankton di Danau Paki Selama Penelitian

No Stasiun Indeks Keragaman Jenis (H')

Indeks Dominansi Jenis ( C )

Indeks Keseragaman Jenis (E')

1. I 4,5450 0,0679 0,9545 2. II 4,0195 0,0699 0,9639 3. III 3,8348 0,0703 0,9196

Sumber. Data Primer

4.1.5. Parameter Kualitas Perairan

Kualitas air memberikan pengaruh yang cukup besar bagi pertumbuhan

mahluk yang hidup di air. Suatu perairan dianggap layak bila kualitas airnya mampu

mendukung kelangsungan hidup organisme yang terdapat di dalamnya. Hasil

pengukuran parameter kualitas perairan Danau Paki Desa Mentulik selama penelitian

adalah. suhu berkisar 27,4-30,4 "C, kecerahan berkisar 27-37 cm, kekeruhan berkisar

23-28 NTU, pH berkisar 5,9-6,3, oksigen terlarut berkisar 4,0-4,9 mg/1,

karbondioksida bebas berkisar 4,8-6,1 mg/1 (Lampiran 8). Adapun nilai rata-rata

pengukuran parameter kualitas air di Danau Paki dapat dilihat pada Tabel 6 berikut.

Tabel 6. Hasil Pengukuran Rata-Rata Parameter Kualitas Perairan di Danau Paki Selama Penelitian

No. Parameter Satuan Stasiun

No. Parameter Satuan 1 2 3 1 Suhu °C 28,86 28,80 28.23

2 Kecerahan cm 34,67 33,00 29,00

3 Kekeruhan NTU 24,67 25.67 27,00

4 pH 6,13 6,23 6,00

5 O2 terlarut mg/1 4,70 4,57 4,13

6 CO2 bebas mg/1 5,00 5.20 5,83

7 Nitrat mg/1 0,58 0,62 0,47

8 Fosfat mg/1 0,07 0,07 0,06

Sumber : Data Primer

4.2. Pembahasan

4.2.1. Nitrat

Berdasarkan hasil penelitian di Danau Paki diketahui rata-rata konsentrasi nitrat

tertinggi dijumpai pada stasiun I I (0,622 mg/1) dan yang terendah terdapat pada stasiun I I I

Page 5: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

24

(0,471 mg/1). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3. Tingginya konsenterasi

nitrat pada stasiun II disebabkan stasiun ini sangat dekat dengan lokasi perkebunan kelapa

sawit, diduga nitrat berasal dari sisa pupuk maupun pestisida yang di gunakan petani dan

terbawa oleh air permukaan pada saat hujan. Sebagai mana yang di nyatakan oleh Effendi

(2003) bahwa imtuk meningkatkan pasokan nitrogen di dalam tanah maka petani

menggunakan urea, dimana urea ini mengandung amonium. Ketika terjadi hujan,

amonium ini akan terbawa melalui parit yang bermuara ke perairan Danau Paki. Selain itu

Hendersend-Seller dan Markland (1987) menyatakan bahwa unsur hara dapat masuk ke

dalam danau melalui proses alami seperti erosi yang disebabkan oleh angin atau air hujan.

Dalam jangka waktu tertentu akan menumpuk di perairan. Walaupun ketika dilakukannya

penelitian tidak terjadinya hujan, melihat kondisi danau yang airnya tidak mengalir dan

lambatnya kecepatan arus maka akan terjadi penumpukan nirat.

Selain dekat dengan perkebunan kelapa sawit di sekitar stasiun I I banyak dijumpai

pepohonan yang rindang sehingga daun-daun yang gugur akan jatuh ke perairan. Daim

yang jatuh ke perairan dalam waktu tertentu akan mengalami proses dekomposisi oleh

jamiir dan bakteri. Dari proses dekomposisi bahan organik di dasar perairan akan

mengahasilkan amoniak. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Effendi (2003) bahwa

sumber amoniak di perairan adalah dari pemecahan nitrogen organik (protein dan urea)

dan nitrogen organik yang terdapat dalam tanah dan air yang berasal dari proses

dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang sudah mati). Amoniak akan

dirubah oleh bakteri Nitrosomonas menjadi nitrit kemudian nitrit yang bersifat tidak stabil

akan dirubah oleh bakteri Nitrobacter menjadi nitrat.

Tingginya konsentrasi nitrat pada stasiun I I sangat mendukung keberadan

fitoplankton, hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai kelimpahan fitoplankton (60.950

sel/1). Menurut Alaerts dan Santika (1984), Nitrat merupakan salah satu senyawa penting

untuk sintesis protein tumbuhan dan hewan. Nitrogen yang diserap oleh organisme

berada dalam bentuk senyawa nitrat. Nitrat pada konsentrasi yang tinggi dapat

menstimulasi pertumbuhan dan unsur nitrat ini sangat di butuhkan oleh fitoplankton

dalam proses photosintesis walaupim dalam konsentrasi yang rendah.

Rata-rata konsenterasi nitrat paling rendah terdapat pada pada stasiun III yaitu

0,47 mg/1. Hal ini disebabkan stasiun III terletak agak jauh dari sumber air masuk dan

perkebunan, hal ini tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap penambahan

konsenterasi nitrat di danau tersebut. Sumber nitrat pada stasiun III berasal dari proses

Page 6: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

24

(0,471 mg/1). Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3. Tingginya konsenterasi

nitrat pada stasiun II disebabkan stasiun ini sangat dekat dengan lokasi perkebunan kelapa

sawit, diduga nitrat berasal dari sisa pupuk maupun pestisida yang di gunakan petani dan

terbawa oleh air permukaan pada saat hujan. Sebagai mana yang di nyatakan oleh Effendi

(2003) bahwa untuk meningkatkan pasokan nitrogen di dalam tanah maka petani

menggunakan urea, dimana urea ini mengandung amonium. Ketika terjadi hujan,

amonium ini akan terbawa melalui parit yang bermuara ke perairan Danau Paki, Selain itu

Hendersend-Seller dan Markland (1987) menyatakan bahwa unsur hara dapat masuk ke

dalam danau melalui proses alami seperti erosi yang disebabkan oleh angin atau air hujan.

Dalam jangka waktu tertentu akan menumpuk di perairan. Walaupun ketika dilakukannya

penelitian tidak terjadinya hujan, melihat kondisi danau yang airnya tidak mengalir dan

lambatnya kecepatan arus maka akan terjadi penumpukan nirat.

Selain dekat dengan perkebunan kelapa sawit di sekitar stasiun I I banyak dijumpai

pepohonan yang rindang sehingga daun-daun yang gugur akan jatuh ke perairan. Daun

yang jatuh ke perairan dalam waktu tertentu akan mengalami proses dekomposisi oleh

jamur dan bakteri. Dari proses dekomposisi bahan organik di dasar perairan akan

mengahasilkan amoniak. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Effendi (2003) bahwa

sumber amoniak di perairan adalah dari pemecahan nitrogen organik (protein dan urea)

dan nitrogen organik yang terdapat dalam tanah dan air yang berasal dari proses

dekomposisi bahan organik (tumbuhan dan biota akuatik yang sudah mati). Amoniak akan

dirubah oleh bakteri Nitrosomonas menjadi nitrit kemudian nitrit yang bersifat tidak stabil

akan dirubah oleh bakteri Nitrobacter menjadi nitrat.

Tingginya konsentrasi nitrat pada stasiun I I sangat mendukung keberadan

fitoplankton, hal ini ditunjukkan dengan tingginya nilai kelimpahan fitoplankton (60.950

sel/1). Menurut Alaerts dan Santika (1984), Nitrat merupakan salah satu senyawa penting

untuk sintesis protein tumbuhan dan hewan. Nitrogen yang diserap oleh organisme

berada dalam bentuk senyawa nitrat. Nitrat pada konsentrasi yang tinggi dapat

menstimulasi pertumbuhan dan unsur nitrat ini sangat di butuhkan oleh fitoplankton

dalam proses photosintesis walaupun dalam konsentrasi yang rendah.

Rata-rata konsenterasi nitrat paling rendah terdapat pada pada stasiun III yaitu

0,47 mg/1. Hal ini disebabkan stasiun I I I terletak agak jauh dari sumber air masuk dan

perkebunan, hal ini tidak memberikan pengaruh yang besar terhadap penambahan

konsenterasi nitrat di danau tersebut. Sumber nitrat pada stasiun I I I berasal dari proses

Page 7: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

25

alamiah seperti terjadinya pelapukan bahan organik yang terdapat di sekitar danau.

Rendahnya konsentrasi nitrat pada stasiun I I I mempengaruhi kelimpahan fitoplankton, ini

dapat diketahui dari rendahnya nilai kelimpahan fitoplankton pada stasiun I I I .

Secara keseluruhan konsentrasi nitrat di perairan Danau Paki selama penelitian

dalam kondisi yang baik, menurut Poemomo dan Hanafi (1982), kadar nitrat yang sesuai

untuk perairan adalah 0,20 mg/1, nitrat akan menjadi faktor pembatas di perairan apabila

konsentrasinya di bawah 0,144 mg/1. Perairan Danau Paki ini digolongkan pada perairan

yang kurang produktif dalam kaitannya dengan bahan organik yang dibentuknya

(oligotrofik) konsentrasi nitrat yang didapat yaitu 0,0 - 1,0 mg/1 sesuai dengan pendapat

Vollenweider {(hlam Effendi, 2003).

4.2.2. Fosfat

Berdasarkan hasil penelitian di Danau Paki rata-rata konsentrasi fosfat tertinggi

dijumpai pada stasiun I I sebesar 0,075 mg/1, hal ini karena pada stasiun I I terdapat aliran air

masuk dari perkebunan kelapa sawit yang di perkirakan akan membawa fosfat dari sisa

pupuk dan pestisida yang digunakan oleh petani. Proses dekomposisi pada stasiun I I , akibat

dari pepohonan rimbun di sekitamya juga mempengaruhi kadar fosfat di perairan. Tingginya

kadar fosfat yang ditemukan pada stasiun 11 di perkirakan sangat mendukung pertumbuhan

fitoplankton, ini dapat dilihat dari tinggginya nilai kelimpahan fitoplankton (60.950 sel/1).

Selain nitrat, fosfat juga sangat dibutuhkan oleh fitoplankton untuk proses fotosintesis.

Konsentrasi rata-rata fosfat terendah di dijumpai pada stasiun I I I (0,060), sumber

fosfat pada stasiun ini berasal dari serasah dan pelapukan kayu yang jatuh dan terendam

pada perairan. Pada stasiun III ini tidak di temukan adanya sumber fosfat selain dari proses

alamiah. Menurut Libes dalam Mianto (2006), kd)eradaan fosfor di perairan alami biasanya

relatif kecil, kadamya lebih kecil daripada nitrogen, karena sumber fosfor yang lebih sedikit

bila dibandingkan dengan sumber nitrogen. Sumber fosfor alami yang terdapat di dalam air

berasal dari pelapukan batuan mineral dan hasil dekomposisi organisme yang teJah mati,

sedangkan unsur fosfor /ainnya berasal dari limbah industri dan domestik, limbah deterjen,

serta limpasan limbah pertanian yang menggunakan pupuk. Untuk lebih jelasnya dapat

dilihat pada Gambar 3.

Fosfat merupakan unsur hara kunci bagi produktifitas perairan. Di dalam

perairan fosfat ini tersebar dalam bentuk teriarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel

organisme. Fosfat dalam bentuk teriarut berupa ortofosfat, yang sekaligus merupakan

Page 8: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

26

salah satu senyawa fosfat yang paling banyak terdapat di dalam perairan. Tanaman

mengikat senyawa fosfat juga dalam bentuk ortofosfat.

Secara keseluruhan konsentrasi fosfat di perairan Danau Paki selama penelitian

(0,058-0,076 mg/1) dalam kondisi baik dan mendukung pertumbuhan dan

perkembangan fitoplankton. Perairan danau paki digolongkan perairan yang kaya akan

nutrien (eutrofik) berdasarkan pengklasifikasian menurut Vollenweider (dalam

Effendi, 2003) yang menyatakan kesuburan perairan berdasarkan kandungan fosfat

0,031-0,100 mg/1 dinyatakan sebagai peraiaran eutrofik.

4.2.3. Perbandingan Nitrat dan Fosfat

Berdasarkan hasil penelitian didapatkan rata-rata konsentrasi nitrat 0,556 mg/1,

sedangkan rata-rata konsentrasi fosfat 0,068 mg/1. Perbandingan rata-rata konsentrasi

nitrat dan fosfat dalam bentuk sederhana yaitu 8,2 : 1 dengan nilai 0,556:0,068 mg/1.

Menurut Graneli, Wallsstrom, Larsson, W. Graneli dan Elmgren (1990), perbandingan

konsentrasi nitrat dan fosfat terlarut umumnya lebih kecil dari perbandingan Redfield

yaitu 16; 1. Jika perbandingan nitrat dan fosfat lebih kecil dari perbandingan Redfield,

maka nitrat merupakan faktor pembatas. Selanjutnya jika perbandingan nitrat dan

fosfat lebih besar dari perbandingan Redfield, maka fosfat merupakan faktor pembatas.

Sementara Colle (1988), menyatakan bahwa perbandingan nitrat dan fosfat pada

suatu perairan masih dalam keadaan normal jika tidak melebihi angka 9:1, tetapi jika

perbandingannya sudah mencapai 15:1 maka perairan tersebut diperkirakan akan

mengalami blooming. Untuk melihat perbandingan nitrat dan fosfat pada penelitian ini,

dapat dilihat pada Gambar 3. Dari perbandingan CoIIe (1988) dapat diketahui bahwa

perbandingan nitrat dan fosfat di perairan Danau Paki masih dalam keadaan normal untuk

pertumbuhan organisme diperairan karena nilai perbandingan nitrat dengan fosfat < 9:1.

0 . 7 T

0 6

0 . 5 -

E 0 . 3

0 . 2

0 . 1 .

0 -I . , . , .

1 2 3

Stasiun

• Nitrat • Fosfat

Gambar 3. Perbandingan Konsentrasi Nitrat dan Fosfat pada Tiap Stasiun di Danau Paki Selama Penelitian.

Page 9: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

27

4.2.4. Fitoplankton

4.2.4.1. Jumlah Jenis Fitoplankton

Jumlah jenis fitoplankton yang paling banyak ditemukan adalah pada stasiun I

yaitu 19 jenis dan pada stasiun I I dan I I I terdapat jumlah jenis fitoplankton yang sama

yaitu 18 jenis. Banyak faktor yang mempengaruhi jumlah jenis fitoplankton pada setiap

stasiun diantaranya adalah kualitas air seperti keberadaan unsur hara nitrat dan fosfat, serta

adanya selektif feeding seperti yang diungkapkan Odum (1993) bahwa dalam kondisi

kepadatan fitoplankton yang tinggi dan jenisnya beragam, zooplankton akan melakukan

pemilihan (selectif feeding) terhadap jenis, bentuk dan ukuran fitoplankton yang hendak

dimakannya. Dengan adanya jenis fitoplankton yang tidak dapat dimakan oleh

zooplankton dan adanya kemampuan selektifitas yang dimiliki zooplankton, maka jenis-

jenis fitoplankton tertentu tersisa karena tidak dimakan atau tidak dipilih dan akan

berkembang serta mendominasi komunitas fitoplankton perairan tersebut dengan

dukungan unsur-unsur hara yang tersedia, baik yang berasal dari dalam maupun luar

ekosistem.

Berdasarkan hasil penelitian di Danau Paki didapatkan jenis fitoplankton dari kelas

Cyanophyceae 9 jenis, kelas Bacillariophyceae 4 jenis, kelas Chlorophyceae 5 jenis dan

kelas Xanthhophyceae 1 jenis, banyaknya jenis fitoplankton dari kelas Cyanophyceae

diduga karena pada perairan danau terdapat ranting-ranting kayu yang hanyut dan menjadi

tempat hidup yang baik bagi organisme tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Odum

(1993) yang menyatakan bahwa Cyanophyceae 2/3 dari jumlah spesiesnya terdapat di air

tawar dan jenis fitoplankton dari kelas Baciliariophyceae banyak hidup di laut dan sedikit

sekali di temukan di perairan tawar.

Fitoplankton merupakan organisme produsen yang sangat penting karena

bertindak sebagai produser primer yang menyumbangkan material organik pada

organisme yang lebih tinggi seperti zooplankton, ikan dan organisme lainnya. Menurut

Odum (1993), bahwa penyebaran fitoplankton di daerah perairan terbuka terutama terdiri

dari tiga kelompok yaitu diatom (Bacillariophyceae), alga hijau (Chlorophyceae) dan alga

biru (Cyanophyceae), yang lainnya terdiri dari jenis flagellata hijau yaitu eugleneidae,

Dinoflagellata dan Valvocidae.

Jika dilihat dari jumlah jenis organisme fitoplankton yang ditemukan maka,

jenis terbanyak adalah Nitzschia closterium sebanyak 20.567 sel/1 (tergolong kelas

Bacillariophyceae), Schroederia setigara sebanyak 20.167 sel/1 (tergolong kelas

Page 10: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

28

Chlorophyceae) dan selanjutnya diikuti oleh jenis-jenis lainnya. Banyaknya jenis

fitoplankton tersebut disebabkan karena kemampuan adaptasi yang baik terhadap

perairan Danau Paki. Selanjutnya Cornelius (1999) mengatakan bahwa untuk dapat

tumbuh dengan baik maka fitoplankton membutuhkan unsur hara dalam jumlah yang

banyak, disamping itu untuk perkembangan fitoplankton membutuhkan persyaratan

tertentu yang menunjang keberhasilan pertumbuhannya. Sedangkan karakteristik dan

klasifikasi dari masing-masing spesies fitoplankton yang ditemukan di perairan Danau

Paki selama penelitian adalah sebagai berikut;

1. Kelas Cyanophyceae

Cyanophyceae atau alga biru merupakan bakteri yang mengalami proses

fotosintesis dan penyuplai oksigen bebas diperairan, alga biru memiliki krolofil-a. Algae

ini mampu bertahan dalam kondisi tanpa cahaya atau dalam kondisi gelap. Adapun sifat

dari algae hijau biru ada 2 yaitu; planktonik dan bentik. Habitat dari algae ini di air tawar,

payau, laut dan terristerial. Alga ini belum atau tidak memiliki inti yang sempurna. Intinya

berupa partikel-partikel chromatine yang berkelompok-kelompok. Bentuk dari spesies ini

ada yang bersel banyak, berkoloni dan ada yang berfilamen. Menurut Sachlan (1980)

bahwa golongan Cyanophyceae sebagai indikator kandungan bahan organik yang tinggi

diperairan. Disamping itu alga ini mampu mengambil CO2 dan fosfor dalam konsentrasi

lingkungan yang rendah. Selanjutnya reproduksi dari algae biru secara iragmentasi (Bold

and Wyne, 1985). Beberapa spesies yang ditemukan selama penelitian antara lain;

Aphanocapsa elachista, Calothrix coriacea, Dactylococcopsis aciadaris, Holopedium

irregulare dan iain-lain.

2. Kelas Bacillariophyta

Bacillariophyceae sering disebut diatom yang memiliki klorofil a dan c, memiliki

pigmen kuning (P - karoten), pigmen coklat (fiicoxanthin). Bacillariophyceae yang

berarti bentuknya seperti batang (bacil). Habitat pada daerah air tawar, air payau, air laut.

Bacillariophyceae ada yang bersifat planktonik dan bentik. Pembentuk dinding sel dari

komponen silikat. Sedangkan bagian selnya terdapat katup, pori-pori atau pintu dan

saluran dalam badan atau rongga. Bacillariophyceae ada yang memiliki sel yang berflagel.

Kelas Bacillariophyceae bereproduksi secara vegetatif dan seksual (Bold and Wyne,

1985). Struktur katup saling menyatu disentral atau ditengah. Katup ada yang berbentuk

Page 11: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

29

radial dan sentris atau saling terikat sehingga membentuk dua, tiga atau lebih gonoid dan

bentuk katup jelas. Adapun spesies yang ditemukan selama penelitian adalah: Nitzschia

vermicularis, N. Closterium, N. Curvaul dan fragilaria cylindrus.

3. Kelas Chlorophyceae

Chlorophyceae merupakan algae hijau yang memiliki klorofil a dan b . Algae hijau

ini memiliki pigment a - P - y-caroten dan beberapa xanthophil yaitu 2-5 Tilakoid. Alga

hijau merupakan phylum alga terbesar di perairan tawar, artinya jenis alga ini terdiri dari

banyak golongan-golongan ordo, famili dan spesies. Habitat dari algae hijau antara lain di

air tawar, payau, laut dan teristerial. Bereproduksi secara aseksual dan seksual (Bold and

Wyne, 1985). Selanjutnya Sachlan (1980) menyatakan bahwa golongan Chlorophyceae

paling banyak dijumpai di perairan tawar dan jenis ini menyebabkan air selalu tampak

berwarna hijau karena Chlorophyceae banyak mengandung klorofil. Adapun spesies yang

ditemukan selama penelitian antara lain: Ulotrix zonata, closterium gracile, Schroederia

setigara, Spyrogyra pseudoylinrica dan Scharoderia nitzschioides.

4. Kelas Xanthophyceae

Xanthophyceae memiliki pigmen yang banyak dan bersamaan dengan pigment a -

P - y-caroten yang mewamai alga ini menjadi kuning hijau. Habitat alga ini antara lain

hidup di air tawar tetapi lebih banyak di air laut (Sachlan, 1980). Spesies yang ditemukan

selama penelitian hanya 1 yaitu ^a^rvJ/o/^^worr/i/za.

4.2.4.2 Kelimpahan Jenis Fitoplankton

Total rata-rata kelimpahan fitoplankton di Danau Paki Desa Mentulik berkisar antara

48.400-63.367 sel/1. Kisaran rata-rata kelimpahan fitoplankton yang terendah ditemukan di

Stasiun 111 sedangkan rata-rata kelimpahan tertinggi di temukan di stasiun I (Gambar 4).

Kelimpahan Fitoplankton

70000 5 60000

- 50000

I 40000

I 30000

1 20000

I 10000

0

63367 60950

48400

Stasiun

Gambar 4. Nilai Rata-Rata Kelimpahan Jenis Fitoplankton (sel/1) Tiap-Tiap Stasiun di Danau Paki

Page 12: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

30

Berdasarkan Gambar 4 dapat dilihat bahwa kelimpahan jenis fitoplankton

tertinggi terdapat pada Stasiun I (63.367 sel/1) yang merupakan kawasan air masuk,

selain itu letak stasiun pada kawasan terbuka sehingga penetrasi cahaya matahari dapat

langsung menembus perairan. Hal ini juga dapat ditunjukkan dengan tingginya

kandungan oksigen terlarut (4,9 mg/1) sebagai hasil fotosintesis oleh fitoplankton dan

tingginya rata-rata konsentrasi nitrat (0,58 mg/1) dan fosfat (0,07mg/l), tidak demikian

halnya dengan stasiun I I . Tingginya kadar nitrat (0,62 mg/1) dan fosfat (0,07mg/]) tidak

didukung oleh kualitas air, seperti suhu (28,8 °C) yang lebih rendah akibat tehalang

rimbunan pohon yang berada di sekitar stasiun I I dan nilai kekeruhan perairan (25,67

NTU) yang lebih tinggi dibanding stasiun I

Stasiun I I I merupakan stasiun yang rendah rata-rata kelimpahan jenis

fitoplanktonnya (48.400 sel/1). Hal ini diperkirakan sebagai akibat dari tingginya nilai

kekeruhan (27 NTU), sehingga penentrasi cahaya matahari yang mengenai permukaan

perairan terhalang. Rendahnya konsentrasi rata-rata unsur hara nitrat (0,47 mg/1) dan

fosfat (0,06 mg/1) pada stasiun I I I ini juga berpengaruh terhadap rendahnya rata-rata

kelimpahan fitoplankton, karena akan menghambat perkembangan fitoplankton akibat

terhalangnya proses photosintesis.

Hal tersebut didukung oleh pendapat Cornelius (1999) yang menyatakan bahwa

salah satu penyebab kelimpahan fitoplankton menurun karena kurangnya nutrien

di dalam perairan. Kelimpahan fitoplankton di suatu perairan dipengaruhi oleh

berbagai factor seperti nutrient, intensitas cahaya matahari, pH, oksigen terlarut,

karbondioksida dan suhu.

Perairan Danau Paki termasuk kedalam golongan kelimpahan fitoplankton yang

tinggi karena kelimpahan fitoplankton di Danau Paki > 17000 sel/l yaitu berkisar 48.400-

63.367 sel/1. Hal ini sesuai dengan Rimper (2002), mengelompokan kelimpahan

fitoplankton atas 3 kategori yaitu rendah, sedang dan tinggi. 1) kelimpahan fitoplankton

rendah < 12500 sel/l, 2) kelimpahan fitoplankton sedang 12.500-17.000 sel/l dan 3)

kelimpahan fitoplankton > 17000 (sel/l) tergolong tinggi.

4.2.4.3 Keragaman Jenis Fitoplankton

Nilai indeks keragaman jenis (H') di perairan Danau Paki Desa Mentulik pada

Stasiun I adalah 4,55, Stasiun I I sebesar 4,02 dan Stasiun I I I sebesar 3,83 (Tabel 5).

Secara keseluruhan semua stasiun penelitian mempunyai nilai indeks keragaman di

Page 13: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

31

atas 3, Hal ini menunjukkan bahwa secara umum kondisi perairan Danau Paki Desa

Mentulik memiliki keragaman jenis fitoplankton yang bervariasi dan keragamannya

tergolong sangat tinggi. Hal ini sesuai dengan pendapat Shannon-Wieber {dalam

Odum, 1993) yang menyatakan jika nilai keragaman (H') berada > 3 maka keragaman

jenis tinggi dengan sebaran individu yang tinggi pula. Dengan demikian maka perairan

Danau Paki masih tergolong dalam kondisi yang masih baik keragaman jenis

fitoplanktonnya, karena keragaman jenisnya relatif tinggi (> 3).

Indeks keragaman digunakan untuk menyatakan berbagai jenis organisme yang

terdapat pada suatu ekosistem. Semakin baik kondisi lingkungannya maka keragaman

jenisnya semakin tinggi. Siagian (1997) menyatakan suatu komunitas yang mengandung

relatif sedikit individu dari banyak spesies mempunyai indeks keragaman yang lebih tinggi

dari pada suatu komunitas yang mempunyai individu dari jenis yang lebih sedikit.

4.2.4.4 Dominansi Jenis Fitoplankton

Indeks dominansi yang diperoleh selama penelitian di Danau Paki Desa

Mentulik berkisar antara 0,068-0,070. Secara keseluruhan semua stasiun penelitian

mempunyai nilai indeks dominansi jenis mendekati nilai 0. Berdasarkan pendapat

Simpson {dalam Odum, 1993^ nilai tersebut menunjukan bahwa tidak ada jenis yang

mendominasi di perairan Danau Paki Desa Mentulik. Hal ini menunjukkan bahwa

perairan Danau Paki masih baik keanekaragaman jenisnya karena belum ada jenis yang

mendominasi dalam komunitas fitoplankton di perairan tersebut.

4.2.4.5 Keseragaman Jenis Fitoplankton

Indeks keseragaman yang diperoleh selama penelitian di Danau Paki Desa

Mentulik berkisar antara 0,91-0,96 (Tabel 5). Secara keseluruhan semua stasiun

penelitian mempunyai nilai indeks dominansi jenis mendekati nilai 1. Hal ini

menunjukan bahwa kondisi perairan masih dalam kondisi yang baik karena

keseragaman jenis fitoplankton masih seimbang di perairan Danau Paki Desa Mentulik

(Pilou dalam Krebs, 1987). Dengan demikian maka kondisi perairan Danau Paki masih

baik kondisinya, karena belum ada jenis yang mendominasi dalam persaingan ruang

(relung/niche) serta masih tinggi keanekaragaman jenisnya.

Odum (1993) menyatakan bahwa penggunaan indeks-indeks dalam struktur

komunitas erat hubungannya dengan daya tahan hidup (survival) dan adanya persaingan

Page 14: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

32

antar jenis yang satu dengan jenis yang lainnya. Daya tahan hidup ini sangat berkaitan erat

dengan kualitas lingkungan, sedangkan persaingan antara spesies biasa terjadi dalam hal

mencari makanan dan tempat.

4.2.5. Hubungan Fitoplankton dengan Parameter Kualitas Perairan

Fitoplankton sebagai suatu organisme membutuhkan persyaratan tertentu untuk

dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Beberapa faktor yang mempengaruhi

pertumbuhan fitoplankton yaitu suhu, intensitas cahaya, O2 terlarut dan bahan-bahan organik

yang terdapat di perairan (Arinardi, Sutomo, Trimaningsih, Asnaryanti dan Riyono, 1997).

1. Suhu

Hasil pengukuran suhu air pada masing-masing stasiun pengamatan menunjukan

variasi rata-rata suhu yang tidak jauh berbeda, karena lokasi yang tidak terlalu jauh

jaraknya. Suhu di perairan Danau Paki berkisar antara 27,4-30,4 "C, dengan suhu yang

tertinggi berada pada stasiun I yaitu 30,4 °C. Tingginya suhu pada stasiun I diduga akibat

luas permukaan perairan tidak banyak yang ditutupi vegetasi di sekitar pinggir danau

sebaliknya pada stasiun I I dan I I I merupakan kawasan yang banyak ditutupi oleh vegetasi

terutama pepohonan di pinggiran danau.

Tingginya suhu pada stasiun I ini sangat berpengaruh terhadap fitoplankton,

hal ini dapat dilihat dari tinnginya nilai kelimpahan fitoplankton pada stasiun ini yaitu

63.367 sel/1. Nurdin (2000) menyatakan bahwa suhu dapat mempengaruhi fotosintesis

di perairan baik secara langsung maupun tidak langsung Pengaruh secara langsung

yakni suhu berperan untuk mengontrol reaksi kimia enzimatik dalam proses

fotosintesis. Tinggi suhu dapat menaikan laju maksimum fotosintesis (Pmax),

sedangkan pengaruh secara tidak langsung yakni dalam merubah struktur hidrologi

kolom perairan yang dapat mempengaruhi distribusi fitoplankton.

2. Kecerahan

Hasil pengukuran kecerahan rata-rata pada setiap stasiun pengamatan di

perairan Danau Paki yaitu berkisar 27-37 cm. Kecerahan adalah ukuran transparasi

suatu perairan atau kedalaman perairan yang dapat ditembus cahaya matahari yang

diamati secara visual. Nilai kecerahan suatu perairan merupakan suatu petunjuk dalam

menentukan baik atau buruknya mutu suatu perairan karena kecerahan dapat

mempengaruhi daya penetrasi cahaya matahari. Kecerahan yang rendah menandakan

banyaknya partikel-partikel yang melayang dan larut dalam air sehingga menghalangi

Page 15: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

33

penetrasi cahaya matahari yang menembus perairan (Harahap, 2000). Dengan

demikian maka kecerahan perairan Danau Paki tergolong baik untuk mendukung

kehidupan organisme akuatik terutama fitoplankton, hal ini dapat diketahui dari

tingginya nilai kelimpahan fitoplankton.

Simarmata (2001) mengemukakan bahwa cahaya yang berasal dari matahari

penting untuk kehidupan makluk hidup karena hampir semua energi yang

menggerakan dan mengontrol metabolisme di perairan berasal dari energi matahari

yang dikonversi secara biokimia melalui proses fotosintesis menjadi energi potensial.

3. Kekeruhan

Berdasarkan hasil penelitian nilai kekeruhan berkisar antara 23-28 NTU.

Dengan tingkat kekeruhan terendah pada stasiun I (23 NTU), rendahnya tingkat

kekeruhan berpengaruh besar terhadap intensitas cahaya yang masuk ke perairan.

Tingginya intensitas cahaya yang masuk ke perairan berpengaruh besar terhadap

keberadaan fitoplankton, ini dapat diketahui dari tingginya nilai kelimpahan pada

stasiun I (63.367sel/l). Kekeruhan (turbidity) adalah gambaran sifat optik air dari suatu

perairan yang ditentukan berdasarkan banyaknya sinar (cahaya) yang dipancarkan dan

diserap oleh partikel yang ada dalam air tersebut. Kekeruhan terutama dipengaruhi

oleh bahan-bahan tersuspensi seperti Lumpur, bahan organik, plankton serta organisme

makroskopik lainnya (Sedana, Syafi^iadiman, Saberina dan Niken, 2001). Kekeruhan

yang baik adalah kekeruhan yang disebabkan oleh jasad-jasad renik atau plankton

(Kordi,1994).

Kekeruhan berbanding terbalik dengan nilai kecerahan. Menurut Alaert dan

Santika (1984) mengatakan nilai kekeruhan minimum adalah 5 NTU dan maksimum

yang diperbolehkan 25 NTU. Selanjutnya MENKLH (1998) menjelaskan bahwa nilai

ambang batas kekeruhan bagi organisme perairan lebih kecil atau sama dengan 30

NTU, dengan demikian nilai kekeruhan di Danau Paki masih tergolong baik karena

nilainya (23-28 NTU) masih di bawah ambang batas yang di tetapkan oleh MENKLH.

4. pH

Hasil pengukuran rata-rata pH selama penelitian tidak begitu jauh berbeda pada

setiap stasiun berkisar antara 5,9-6,3. Hal ini menunjukkan bahwa perairan Danau Paki

bersifat asam. Rendahnya pH disebabkan oleh tingginya tingkat pembusukan bahan

organik yang berasal dari hydrilla yang ada di perairan ini. Kordi (1994) menyatakan

bahwa angka derajat keasaman yang ideal adalah 4-9, hal ini juga sesuai dengan PP

Page 16: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

34

No 82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran

Lingkungan dan Kepmenlh No. 02 Tahun 1988 yang menyatakan bahwa kisaran pH

yang masih dapat ditolerir adalah 6-9. Berdasarkan literatur, maka nilai pH di Danau

Paki Desa Mentulik masih tergolong baik dan mendukung untuk tempat hidup

organisme perairan seperti fitoplankton.

5. O2 terlarut

Kisaran rata-rata konsentrasi oksigen terlarut pada setiap stasiun tidak jauh berbeda

yaitu 4,0-4,9 mg/1, berdasarkan konsentrasi O2 terlarut pada penelitian maka perairan

danau paki digolongkan air kelas I I (untuk sarana/prasarana rekreasi air, budidaya air

tawar, petemakan, mengairi pertanian) berdasarkan PP No 52 tahun 1998. Pada penelitian

ini konsentrasi oksigen terlarut tertinggi dijumpai pada stasiun I (4,9 mg/1), kelimpahan

fitoplankton pada stasiun ini juga cukup tinggi (63.367 sel/1). Hal ini disebabkan oleh

adanya gerakan air akibat ams air masuk yang menyebabkan oksigen dapat masuk ke

perairan melalui udara serta dari hasil proses fotosintesis fitoplankton dan tumbuhan air.

Fardiaz (1992) menyatakan bahwa oksigen terlarut merupakan kebutuhan dasar

untuk kehidupan tanaman dan hewan dalam air. Kehidupan makluk hidup dalam air

sangat tergantung dari kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen

minimal yang dibutuhkan untuk kehidupannya, besamya kandungan oksigen terlamt

dalam air dipengamhi oleh banyak faktor antara lain cuaca, kepadatan fitoplankton,

siang dan malam serta dinamika organisme yang ada didalamnya. Oksigen teriamt

didalam suatu perairan digunakan oleh organisme untuk mengoksidasi nutrien yang

masuk kedalam tubuhnya. Oksigen terlamt dalam air berasal dari diftisi udara dan hasil

fotosintesis organisme nabati yang berhijau daun yang hidup diperairan.

Menumt Rimper (2002), kelimpahan fitoplankton yang tinggi menghasilkan

oksigen yang lebih banyak jika dibandingkan dengan kelimpahan fitoplankton yang

lebih rendah, ini terjadi karena oksigen terlamt mempakan produksi dari hasil

fotosintesis. Jadi kelimpahan fitoplankton yang tinggi cendmng menghasilkan

kandungan oksigen yang tinggi sebagai hasil dari proses fotosintesis.

Menumt Nurdin (2000), kualitas air (oksigen terlamt) suatu perairan dapat

digolongkan menjadi lima yaitu kandungan oksigen lebih atau sama dengan 8 mg/1

digolongkan sangat baik, kurang lebih 6 mg/1 digolongkan baik, kurang dari 4mg/l

digolongkan kritis, 2 mg/1 digolongkan buruk dan kurang dari 2 mg/1 digolongkan sangat

bumk. Jika dilihat dari oksigen terlamt pada penelitian ini, maka kandungan oksigen

Page 17: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

35

Danau Paki tergolong dalam perairan yang kualitas airnya baik, karena nilai O2 terlarut

lebih dari 4 mg/1 yaitu 4,0-4,9 mg/1.

6. CO2 Bebas

Karbondioksida bebas merupakan hasil dari proses respirasi oleh organisme

dalam air serta dekomposisi hewan akuatik. Keberadaan karbondioksida memegang

peranan penting bagi kehidupan tumbuhan hijau di dalam perairan, bagi tumbuhan hijau

karbondioksida harus tersedia dalam jumlah yang cukup untuk proses fotosintesis. Hasil

pengukuran karbondioksida selama penelitian berkisar 4,8-6,1 mg/1, kadar karbondioksida

tertinggi dijumpai pada Stasiun I I I dan terendah terdapat pada Stasiun I . Rendahnya kadar

karbondioksida pada Stasiun I ini di pengaruhi oleh tingginya nilai kecerahan (37 cm)

yang mengakibatkan cahaya matahari dapat masuk ke perairan. Intensitas cahaya

matahari yang tinggi mengakibatkan tingginya aktifitas proses fotosintesis yang dilakukan

oleh fitoplankton dengan memanfaatkan CO2 bebas di perairan untuk menghasilkan

oksigen, hal ini dapat dilihat dari tingginya kelimpahan fitoplankton pada stasiun I (63.367

sel/1).

Berdasarkan hasil pengukuran CO2 bebas yang didapatkan maka perairan Danau

Paki masih mendukung kehidupan organisme aquatik yang terdapat di dalamnya. Hal ini

sesuai dengan pendapat Boyd (1982) bahwa perairan yang diperuntukkan untuk kegiatan

perikanan sebaiknya mengandung kadar karbodioksida bebas kurang dari 5 mg/1, kadar

karbondioksida bebas sebesar 10 mg/1 masih dapat ditolerir oleh organisme aquatik asal

disertai kadar oksigen teriarut yang cukup.

4.2.6. Kesuburan Perairan Danau Paki Ditinjau Dari Kelimpahan Fitoplankton

Berdasarkan analisis fitopalankton selama penelitian di perairan Danau Paki di

dapatkan hasil kelimpahan fitoplankton dengan kisaran 48.400 - 63.367 sel/1, menurut

Golman dan Home dalam Rimper (2002) perairan yang tingkat kesuburannya rendah

mempunyai kelimpahan kurang dari 10'* sel/1, perairan yang tingkat kesuburannya sedang

mempunyai kelimpahan fitoplankton lebih dari 10'* sel/1. Sedangkan perairan yang tingkat

kesuburannya sangat tinggi mempunyai kelimpahan fitoplankton 10'' sel'l, perairan yang

mempunyai kelimpahan fitoplankton 10̂ atau lebih maka fitoplankton yang terdapat

diperairan tersebut dinyatakan blooming. Dengan demikian dapat kita simpulkan bahwa

perairan Danau Paki termasuk kedalam perairan yang tingkat kesuburannya sedang, karena

mempunyai nilai kelimpahan fitoplankton lebih dari 10'* sel/1.

Page 18: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

36

4.2.7. Regresi Hubungan Nitrat dan Fosfat Terhadap Kelimpahan Fitoplankton

Untuk melihat hubungan nitrat dan fosfat terhadap kelimpahan fitoplankton

dianalisis berdasarkan regresi linier berganda. Dari hasil analisis memberikan gambaran

hubungan antara variabel-variabel bebas (nitrat dan fosfat) terhadap variabel terikat

(fitoplankton) dalam bentuk persamaan:

Persamaan diatas berarti ; Koefisien regresi X I (nitrat) = 126.307,4

menyatakan bahwa, setiap ada penambahan (karena tanda +) 1 satuan nitrat, akan

meningkatkan kelimpahan fitoplankton sebesar 126.307,4 sel/1. Demikian juga

penurunan X2 (fosfat) sebesar 506.551 menyatakan bahwa setiap ada penurunan

(karena tanda - ) 1 satuan fosfat di perairan, akan menurunkan kelimpahan fitoplankton

sebesar 506.551 sel/1.

Berdasarkan analisis, maka diperoleh nilai r (koefisien korelasi ) sebesar 0,893

berarti antara nitrat dan fosfat dengan kelimpahan fitoplankton mempunyai hubungan

yang positif ( r mendekati +1) dan erat, ini disebabkan nilai r berkisar antara -1 hingga

1. Menurut pendapat Tim Peneliti dan pengembangan Wahana Komputer menyatakan

bahwa analisis korelasi menunjukkan besar keeratan hubungan antara X dengan Y.

Besarnya keeratan ini berkisar antar -1 < r > 1. Semakin mendekati nilai 1 maka

koefisien korelasi antara dua variabel tersebut semakin erat. Nilai (+) atau (-)

menunjukkan arah korelasinya. Jika berkorelasi positif maka diartikan semakin tinggi

variabel bebas X (nitrat dan fosfat) dan akan semakin tinggi pula variabel terikat Y

(kelimpahan fitoplankton). Jika berkorelasi negatif maka semakin tinggi variabel

bebas X (nitrat dan fosfat) dan semakin rendah variabel terikat Y (kelimpahan

fitoplankton). Dengan demikian semakin tinggi nilai nitrat dan fosfat di Danau Paki

maka akan semakin tinggi kelimpahan fitoplankton.

Secara parsial pengaruh konsentrasi nitrat terhadap kelimpahan fitoplankton di

perairan Danau Paki desa Mentulik adalah 87,5% dan pengaruh konsentrasi fosfat

terhadap kelimpahan fitoplankton adalah 77,7% ini dapat dilihat dari tabel nilai

korelasi (Lampiran 9). Nilai adjusted koefisien determinasi (adjusted R^) yaitu sebesar

Y X I X2 ai, a2 Koefesien penentu

Page 19: IV. HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil 4.1.1 Keadaan (Jmum

37

0,729, nilai tersebut menunjukkan bahwa pengaruh dari nitrat dan fosfat yang diamati

terhadap kelimpahan fitoplankton sebesar 72,9% sedangkan selebihnya dipengaruhi

oleh faktor kualitas air lain seperti suhu, pH, kecerahan, oksigen terlarut,

karbondioksida bebas dan kekeruhan. Dari uji regresi linier berganda diperoleh nilai

Fhitung 11,776 > Ftabel 5,14 yang berarti ada pengaruh signifikan nitrat dan fosfat

terhadap kelimpahan fitoplankton pada tingkat kepercayaan 95%, hal ini juga dapat

dilihat dari nilai signifikan pada tabel anova yaitu 0.008 (Lampiran 9).