i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

158

Upload: others

Post on 26-Oct-2020

10 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

Page 1: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i
Page 2: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

i/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

KAUTILYA ARTHASASTRAJejak Pemikiran Politik Hindu

Page 3: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

ii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

Page 4: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

iii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

JejakJejakJejakJejakJejak P e m i k i r a n P o l i t i k H i n d u P e m i k i r a n P o l i t i k H i n d u P e m i k i r a n P o l i t i k H i n d u P e m i k i r a n P o l i t i k H i n d u P e m i k i r a n P o l i t i k H i n d u.....................................................................................................................................................................

NNNNN ..... Y Y Y Y Y o g a S e g a r ao g a S e g a r ao g a S e g a r ao g a S e g a r ao g a S e g a r a

KautilyaArthasastra

Kata Pengantar :Kata Pengantar :Kata Pengantar :Kata Pengantar :Kata Pengantar :PrPrPrPrPr of. Drof. Drof. Drof. Drof. Dr. I W. I W. I W. I W. I Waaaaa yyyyyan Suka Yan Suka Yan Suka Yan Suka Yan Suka Yasa, M.Si.asa, M.Si.asa, M.Si.asa, M.Si.asa, M.Si.Guru Besar Sastra Hindu, Universitas Hindu Indonesia

Page 5: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

iv/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

Cover Design : M. SetiaLay Out : N. Bakti

Cetakan : I Desember 2019ISBN : 978- 602-6740-47-2Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Penerbit : CV. Setia BaktiJl. Padma 30 Penatih Denpasar [email protected]

Isi di luar tanggung jawab percetakanPT. Mabhakti

I Nyoman Yoga Segara

KAUTILYA ARTHASASTRAJejak Pemikiran Politik Hindu

Page 6: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

v/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

KATA PENGANTARProf. Dr. I Wayan Suka Yasa, M.Si.

Guru Besar Sastra Hindu, Universitas Hindu Indonesia

Kehadiran buku ini patut disambut suka cita selain karenaisinya yang kaya dengan perspektif baru tinimbang buku sejenis,kehadirannya juga akan memperkaya khasanah literaturHindu. Temanya juga tak tanggung-tanggung: politik Hindu.Sebagaimana diakui sendiri oleh penulisnya, buku ini tidaksepenuhnya membahas Kautilya dan Arthasastra, tetapibagaimana kedua subjek ini memberikan ide untukmemperbesar spektrum kita tentang pemikiran seorang tokohbesar dalam kitab yang disusunnya. Dan penulis cukup berhasilmengelaborasi lalu menyarikan pikiran sang maharsi yangsangat luasdan kompleks itu, sehingga tulisannya merembesibanyak kanal perspektif. Tak lupa, komparasi pemikiranantartokoh menjadi cara yang cerdik penulis untuk memberikaninsightlain kepada pembaca. Meskipun cara ini juga rentanmenjadi simplitis, namun sepanjang perbandingan itu memilikititik temu yang justru memperkuat argumentasi tokoh yangdikaji, tetaplah sahih.

Selain telah dilakukan penelusuran literatur hingga keLeiden University saat mengikuti post-doctoral, sebagian besarisi buku ini oleh penulis telah pula dipublikasikan ke dalam jurnaldan orasi ilmiah. Harapannya, pembaca atau pendengar sudahmengujinya sendiri. Cara ini menjadi penting dalam dunia

Page 7: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

vi/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

akademik agar kebaruan sebuah buku terus hidup danterpelihara, selain materi buku yang diambil dari kitab suci inijuga terus dan akan hidup sepanjang jaman. Bukan saja karenaditulis oleh seorang maharsi, tetapi juga isinya yang selalu relevandengan detak jantung kehidupan, dari dulu hingga kini.Tampaknya isi kitab Arthasastra mengandung nilai-nilaiperenialisme, sekaligus bersifat preskriptif, dan normatif, khaskitab-kitab suci yang dituliskan ribuan tahun silam.

Menjadi menarik dan layak ditunggu apakah proyeksipenulis bahwa ajaran Kautilya yang beberapa teksnya dalamArthasastra dianggap ideal akan dapat diaktualisasikan meskidengan cara yang bisa saja berbeda, sesuai kemauan jaman.Aktualisasi itu memang tak harus serupa dengan apa yangdipikirkan Kautilya di masa lalu yang hampir semuanya baik-baik saja. Hal ini karena kontekstualisasi pemikiran memangtidak selalu diametral dengan teks, namun keduanya sangatmungkin berlangsung dialektis, berjalan bolak balik. Karena itu,saat penulis memberanikan diri menyatakan bahwa Arthasastradapat saja digunakan oleh para pegawai disebuah pemerintahan,perusahaan swasta atau organisasi modern bukan dimaksudkanuntuk mengecilkan posisi Arthasastra. Sebaliknya, untukkepentingan bagaimana Arthasastra terus dapat menjadi bukumanual bagi umat Hindu, utamanya dalam bidang politik dankekuasaan. Proyeksi penulis seperti ini harus mendapat kredittersendiri karena Arthasastra sejak semula dianggap sebagaikitab multiperspektif. Kautilya sendiri adalah glorifikasi daribanyak tokoh. Sekali lagi, sebagai kitab yang prescriptive,Arthasastra akan terus menemani manusia dalam ceruk jamanyang terus berubah. Jika tidak karena isinya yang normative,kitab ini sudah lama ditinggalkan. Pun, tidak akan ada bukuNiti Sastra hingga kakawin Niti Sastra yang dengan indah dapatdinyanyikan di segala waktu. Konsep-konsep kepemimpinanHindu yang lainnya juga tidak akan kita pelajari seperti sekarang.

Page 8: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

vii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

“Keberanian” penulis untuk mengatakan bahwa KautilyaArtahasastra merefleksikan politik Hindu, lebih-lebih berdimensifilosofis, tetap harus diuji dengan mendiskusikan celah kosongyang alfa diisinya. Termasuk mengkritik proyeksi penulis bahwakitab ini dapat diarahkan sebagai panduan bagi siapa saja yangmemiliki otoritas memimpin. Berbeda dengan ilmu politikmodern, terutama di Barat, Arthasastra agak rentan untukdijustifikasi secara monolitik karena selain ruang lingkupnyasangat luas, juga didominasi aspek moral dan spiritual, sepertikebanyakan karya seorang maharsi. Adagium bahwa yang ideal(yang suci, yang sakral) tidak serta merta dapat segera menjadiaktual (yang profan, yang sekuler) adalah tantangan tersendiridari penulis, dan bagi kita semua. Namun sekurang-kurangnyausaha ke arah itu telah dirintis, bukan hanya oleh penulis seorang.

“Kekayaan” lain dari buku ini adalah penjelajahan penulisuntuk meyakinkan bahwa kitab Arthasastra memang adalah salahsatu kitab politik, selain menjadi kitab ekonomi, ilmu pemerintahan,ketatanegaraan, admisnitrasi, dlsb. Meskipun kita semua jugamemililiki keyakinan yang sama, tampaknya penulis memerlukanamunisi lain karena anggapan umum itu dirasakannya masihsamar, remang-remang, dan dipenuhi keraguan. Penolakanpertama penulis, tepatnya meminta untuk didiskusikan lagi adalahkesimpulan sederhana banyak orang bahwa Kautilya itu samapersis dengan Nicollo Machiavelli, bahkan Machiavelli didaulatsebagai Kautilya dari Timur. Untuk penjernihan ini, penulis sudahtepat menyediakan satu bab khusus untuk membahas dua tokohbesar ini. Tidak berhenti pada Machiavelli, penulis juga inginmeyakinkan dengan menyelami pemikiran politik dan kekuasaan,terutama tema kontrak sosial dari Thomas Hobbes, terutama daribuku spektakulernya, Leviathan. Komparasi seperti ini tentu sajatidak pernah cukup memuaskan. Namun apa yang dilakukanpenulis dapat dilanjutkan oleh peneliti selanjutnya. Boleh jadi,dengan cara seperti ini penulis ingin memberikan pola untukmelakukan kajian serupa.

Page 9: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

viii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

Agar mewakili pemikiran Timur, penulis juga berusahakeras mendalami kebudayaan Jawa yang pernah mendapatpengaruh langsung dan begitu dekat dengan Hindu, terutamasaat beberapa kerajaan Hindu berkuasa penuh di tanahjambudwipa. Usaha ini pun harus dihargai sebagai cara penulisuntuk merefleksikan politik Hindu dengan adab keindonesiaan.Jawa dipilih mungkin karena telah menjadi sumbu awal saatpijar-pijar kejayaan Hindu ditiupkan hingga menyebar keseluruh nusantara. Selain kerajaan Hindu yang silih bergantimewarnai Jawa, juga kesusasteraan melalui teks dan prasastibanyak lahir bukan saja memengaruhi perjalanan agama Hindudi Jawa tetapi juga Indonesia. Kitab Nagarakretagama danPararaton yang menjadi rujukan tentang kehebatan pengaruhHindu lahir dari rahim kebudayaan Jawa. Kesusateraan yanglain, misalnya Mpu Tantular melalui kakawin Sutasoma telahmenjadi inspirasi para pendiri bangsa untuk menjelaskan bahwasejak lama Indonesia itu majemuk. Sesanti Bhinneka Tunggal Ikalalu dicengkeram kuat-kuat oleh kaki burung Garuda, simbolnegara yang juga “sangat Hindu”. Dan ini semua bukan tentangsebuah nostalgia ke masa lalu belaka.

Terakhir, sebagai karya akademik, buku ini dapat menjadireferensi terutama mereka yang ingin mendalami politik Hindupada umumnya. Lepas dari kekurangan yang ditinggalkan,buku ini tetap memiliki kredit karena kegigihan penulis yangsejak 2012 membaca jejak pemikiran politik Hindu melalui kitabArthasastra. Tentu tidak mudah, sekaligus pasti melelahkan.Namun semua itu terbayar lunas, bukan hanya karena berhasilditerbitkan, tetapi karena buku ini layak dibaca, bukan saja olehpara dosen, peneliti, dan akademisi lainnya, tetapi juga umatHindu pada umumnya. Selamat membaca, semoga jejakpemikiran politik Hindu menjadi lebih terang dengan buku ini.

Tembau, 10 Nopember 2019

Page 10: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

ix/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

PR A K ATA

Naskah buku ini sebenarnya sudah lama selesai, tepatnyapada 2014, namun dalam waktu panjang itu belum jugaditerbitkan. Bukan apa-apa. Pemikiran Kautilya sudah banyakdibicarakan dalam berbagai forum, juga ditulis dan diinterpretasi.Bagi saya, kitab ini sudah tidak lagi orisinil. Satu-satunya yangmembedakan buku ini dengan buku sejenis adalah keberaniansaya merefleksikan pemikiran Kautilya dan Arthasastra denganilmu yang saya gemari selama ini, yaitu filsafat dan antropologi,terutama saat membaca filsafat politik dan antropologikekuasaan. Pendekatan ini tentu juga tak mudah. Perlu tarikandialektis antara apa yang dipikirkan Kautilya dalam teks dengantindakan manusia secara kontekstual.

Kehati-hatian, namun sekaligus penyemangat sayamenerbitkan buku ini karena secara mainstream, KautilyaArthasastra “hanya” dianggap sebagai kitab ekonomi atausebatas ilmu pemerintahan. Yang lain mengatakan sebagai kitabuntuk pemimpin. Semua anggapan itu tidak salah tentu saja,karena di dalam kitab ini banyak ditemukan konsep dan strategipengelolaan ekonomi, mengatur administrasi pemerintahan, danjuga pesan-pesan penting kepada penguasa. Namun bagi saya,kitab ini jika diibaratkan sajian prasmanan, penuh dengan ragammakanan. Karena itu, Arthasastra sudah benar tidak dibacamono-perspektif, karena kitab ini mengemanasikan ilmu tentangnegara, etika dan moralitas, administrasi, manajemen hingga

Page 11: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

x/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

politik. Saya hanya mendekatinya dari filsafat politik danantropologi kekuasaan untuk menelusuri jejak-jejak pemikiranpolitik Hindu di dalamnya. Setidaknya ada tiga kata kuncidalam buku ini yang sejak awal perlu saya sampaikan.

Pertama, buku ini bukanlah buku yang secara khususmenjelaskan ilmu politik Hindu, tema yang dapat kita bacadalam banyak literatur politik, atau kita dengar dari ilmuwanpolitik. Politik Hindu yang sampai hari ini belum jelas pola danstrukturnya masih mengikuti arus disiplin ilmu politik padaumumnya. Mengikuti ilmu politik di Barat, tentu tidak tabu. Iniadalah pekerjaan yang belum tuntas dari para ilmuwan Hinduyang bergerak dalam disiplin politik. Artinya secara epistemologi,politik Hindu berintersepsi dengan pengertian politik yang kitakenal secara umum. Dan cara ini tentu juga tidak keliru, apalagimempersoalkannya. Jika perilaku manusia atau sekelompokorang dalam masyarakat untuk membangun interaksi menjadibasis ilmu politik, maka pernyataan itu sama saja dengan apayang dikatakan Kuatilya dalam Arthasastra. Namun, sedikitberbeda dengan Barat, Kautilya Arthasastra—jika kitamenyepakatinya sebagai politik Hindu—sejak awalmenawarkan aspek etika dan moral dalam setiap pembahasanmengenai politik, terkhusus untuk penguasa dan kepemimpinanpada umumnya. Karena itu, bicara politik Hindu, itu artinyakita membicarakan kepemimpinan Hindu yang tercerap kedalam banyak kitab suci, tidak saja Arthasastra karena beberapapernyataan politik juga ditemukan dalam Kitab Weda Sruti danWeda Smrti.

Kedua, tentang Kautilya. Ada banyak nama lain yang jugadikenal luas, dua diantaranya Canakya dan Wisnugupta. Ketiganama ini sebenarnya merujuk pada satu nama yang sama, dansecara konsisten dalam buku ini hanya akan disebut Kautilyasaja. Sebagai penulis, saya tidak akan memperdebatkan kembaliperbedaan ketiga nama tokoh, mengingat sulitnya menemukan

Page 12: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xi/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

referensi yang akurat, terutama sejarah hidup dan jejakpemikirannya. Namun berdasarkan simpulan beberapa ahliyang khusus menulis politik Hindu, ketiga nama tersebutdiyakini sama. Dalam tradisi India, kadang nama seorang tokohtidak serta merta menunjuk nama orang, bahkan namakelompok atau komunitas menjadi lebih terkenal tinimbangnama aslinya. Misalnya, banyak yang menduga nama Wyasabukanlah nama untuk seseorang, tetapi sekelompok maharsiyang bertugas mengkodifikasi Weda. Kata Wyasa dalam bahasaSanskerta diartikan sebagai penghimpun. Dugaan seperti iniperlu mendapat kajian, mengingat masih banyak nama tokohlainnya memiliki keserupaan dengan nama seperti Wyasa.Lebih-lebih di masa lalu, terutama para mahakawi, sering merekatidak menuliskan namanya (anonim). Jika pun ditemukan namapengarang, umumnya juga menggunakan nama samaran.Misalnya, Mpu Tanakung yang mengarang Lubdaka diyakinisamaran dari seseorang yang mengaku “tidak memiliki lagicinta dan asmara”.

Ketiga, Arthasastra. Kitab ini juga dianggap sama denganNiti Sastra, meskipun keduanya juga bisa berbeda, tetapi paraahli menyebutnya sama saja. Malah yang terkenal adalahCanakya Niti Sastra. Secara tradisional, Arthasastra diartikansebagai kitab politik atau ilmu pemerintahan. Kitab inidigolongkan sebagai Upaweda, yang secara harafiah berartikitab yang dekat dengan Weda. Tiga kitab lain Upaweda adalahAyurweda, Dhanurweda, dan Gandharwaweda. Niti Sastra, olehumat Hindu di Indonesia lebih dekat sebagai ilmu tentangkepemimpinan. Masyarakat Bali, misalnya juga sudah lamamengenal Niti Sastra sebagai kakawin yang dinyanyikan setiapwaktu karena tidak terikat oleh jenis upacara yadnya. Janganlupa, di Jawa pada masa kerajaan dan kesusasteraan tumbuh,terdapat kitab Panitisastra yang juga mengajarkan sikap hidupyang etis. Jika di India, dan di dunia pada umumnya, Arthasastra

Page 13: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

lebih dipahami sebagai kitab politik, ekonomi, administrasihingga ilmu kepemerintahan, maka di Bali, aspek moralitas darikitab ini adalah Niti Sastra, sehingga ia juga menjadi buku etika.Namun, baik Arthasastra dan Niti Sastra pada dasarnya menjadipedoman bagi pemimpin, bahkan pemimpin dalam bidangpekerjaan apa saja.

Dengan demikian, Kautilya Arthasastra menjadi menariktidak saja dibincangkan tetapi juga dipraktikkan; tidak sajamenjadi teori tetapi juga praktis. Dan biasanya, politik menjadimakin menarik, jika berkelindan dengan momentum politik,seperti di Indonesia dengan pilpres, pileg, pilkada, dan kinibahkan pada pemilihan kepala dusun di kampung-kampung.Fakta ini menjadi lumrah manakala terdapat kontestasi yangberkenaan dengan emosi keagamaan dan afiliasi politik.Mempraktikkan kembali Arthasastra sama persis seperti Kautilyamelakukannya seperti pada masa Candragupta, tentu saja agakmuskil, karena pertama, teks kitab ini relatif tua, malah sangattua jika mengandaikannya masa kini sama dengan masa ketikaKautilya menuliskannya. Ada lompatan yang terlalu jauh,sekaligus naif jika apa yang dipikirkan secara ideal dan kompleksdalam Arthasastra dapat diimitasi secara sederhana. Karena itu,konteks menjadi sangat penting untuk menangkap apa yangdiinginkan Kautilya. Kedua, dan sudah diterangkan di atas,Arthasastra untuk masa kini terlalu ideal, kalau tidakmenyebutnya utopis, serta mengandung konsep yang terlalukompleks untuk ukuran jaman post-modern yang memintasebaliknya: sederhana, mudah, cepat, dan murah. Tepatnyamenuntut semacam spesialisasi. Ketiga, cara paling mudahnyaadalah menjadikan Arthasastra sebagai self reminder yangdimulai dari diri sendiri, karena saat ini manusia juga beradadalam jebakan kesendirian. Agak sulit memaksakan sebuahajaran, seideal apapun itu untuk dilakukan secara massif.Harapan ini bisa sama seperti konsep Ahimsa yang bukan saja

Page 14: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xiii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

berhasil merasuki alam pikir orang India secara kolektif, tetapijuga sukses dimodifikasi menjadi sebuah gerakan oleh MahatmaGandhi. Sekali lagi, ajaran Arthasastra bisa dimulai dari dirisendiri, lalu menular pada kelompok yang lebih besar.

Selain ketiga alasan itu, dunia yang dibayangkan dalamArthasastra sangat mungkin kini terbagi-bagi ke dalam banyaksubordinat. Misalnya, tentang manajemen dan administrasi bisasaja menjadi panduan bagi para pegawai atau karyawan didalam organisasi atau perusahaan dalam mengerjakan tugas-tugas kepegawaian, HRD, manajer, dlsb. Strategi perang Kautilyadalam menghadapi musuhnya yang dahulu bahkan suksesmelawan The Alexander Agung, kini bertransformasi padaperang dagang, bisnis dunia maya hingga proxy war. Atau,bagaimana ajaran Kautilya tentang seorang pemimpin yangharus memiliki kesanggupan untuk memanfaatkan sumberdaya alam untuk kepentingan masyarakat banyak dapatdipraktikkan mulai dari tingkat bawah, di kampung, pedesaan,kelurahan hingga ke level makro, propinsi dan negara misalnya.Begitu juga ajaran hidup seorang pemimpin yang justru merasabahagia jika melihat rakyatnya bahagia dengan hidup bersamarakyatnya, bahkan di gubuk reyot sekalipun, adalah carapemimpin merasakan bau keringat rakyat yang dipimpinnya.Bukan sebaliknya, melihat kebahagiaan rakyatnya melaluijendela istana yang mewah. Artinya pemimpin itu turun kebawah, bersama rakyatnya menjadi pelayan.

Yang paling serius, dalam kaitannya dengan politikpraktis, secara khusus untuk konteks Indonesia, ajaran Kautilyatentang swamin yang kini nyaris mulai hilang tampaknyamenjadi sesuatu yang bukan saja perlu tetapi sangat pentingdihidupkan lagi. Jika dahulu seorang raja didampingi purohita,dan Kautilya sendiri malah menjadi perdana menteri sekaliguspenasehat raja, kini peran itu mulai hilang. Tak ada penasehat,apalagi purohita. Politik dan politisi sering mengalami

Page 15: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xiv/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

disorientasi. Tak salah, khusus peran ini, Kautilya dapatdisamakan dengan pikiran Plato tentang The Philosopher King.Para pemimpin kita, tepatnya juga politikus lebih banyakditemani konsultan politik yang mengorientasikan kekuasaansebagai target tunggal. Sedangkan Kautilya mengajarkanbanyak hal kepada Candragupta agar siap menjadi pemimpinbesar. Mungkin, jika Kautilya hidup hari ini, ia yang denganrambut terkuncir dan senyum tipisnya kira-kira akan berujar:“tidak bisalah anda menjadi pemimpin hebat jika hanya bermodalkecantikan atau ketampanan, uang melimpah, ketenaran dan hasilsurvei bernama elektabilitas semata”!

Melalui penelisikan berbagai hal yang berkenaan denganKautilya, Arthasastra, politik dan kekuasaan ini, sayaberkesempatan untuk menemukan titik temu pemikiran antaraKautilya dengan tokoh besar lainnya, seperti Machiavelli,Hobbes, dan inspirasi apa yang kita dapatkan dari sosok GajahMada misalnya. Oleh karena itu, saya juga harus bergerakmenyemai pemikiran Kautilya yang tertanam ke dalam konsepkekuasaan, politik dan negara, terutama pada masa kerajaanHindu khususnya di Jawa. Tentu saja cara ini tidak selalu tepat,apalagi paling benar. Karena itu, sebuah buku hasil elaborasiseorang tokoh yang sangat mewah pada masanya bisa terusdidiskusikan, bahkan didebat. Semoga buku ini menjadipelenting ide para terpelajar Hindu untuk membaca Arthasastradari perspektif lain yang berbeda. Kekayaan kitab ini justru padaapa yang masih tersembunyi dalam setiap babnya [*]

Serangan, 10 Oktober 2019INYS

Page 16: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xv/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

UCAPAN TERIMA KASIH

Terbitnya buku ini tak lepas dari dukungan banyak orang,terutama mereka yang dekat di hati saya. Dian Karina, istriku.Anak-anakku, I Gde Amartya Sattvika Segara dan I KadekChaka Sababathi Segara. Juga kedua orang tuaku, I Made Jayadan Ni Wayan Suni. Ucapan terimakasih saya sampaikan jugakepada Nanang Sutrisno, Kadek Surpi, Ni Nyoman Ayu NikkiAvalokitesvari, I Gede Suwantana dan penulis lain yang terlampirdalam buku “Politik Hindu, Sejarah, Moral dan Proyeksinya“IHDN Press.[*]

Page 17: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xvi/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

DA F TA R I S I

Halaman Depan ...................................................................... iHalaman Judul ....................................................................... iKata Pengantar ....................................................................... vPrakata .................................................................................... ixUcapan Terima Kasih ............................................................ xvDaftar Isi ................................................................................. xvi

Bab Satu: Tentang Buku Ini ............................................... 1A. Apa Masalahnya? ........................................................ 1B. Bagaimana Buku Ini Dikerjakan?.............................. 5C. Apa Posisi Buku Ini? .................................................... 9

Bab Dua: Jejak Hidup, Karakter, dan GagasanKautilya ........................................................................... 12A. Asal Muasal Nama Kautilya,

dan Intelektualitasnya ................................................ 12B. Suka Duka Kehidupan Kautilya, dan Intuisi Cemerlangnya ........................................................... 15C. Kautilya, Sang Penganut Ajaran Satya .................... 19D. Saripati Pemikiran Kautilya dalam Arthasastra ...... 22

Page 18: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xvii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

Bab Tiga: Sejarah Politik Hindu dan Refleksinyadalam Arthasastra ........................................................ 31A. Pembabakan Sejarah Politik Hindu ......................... 31B. Arthasastra: Pesan Politik kepada Penguasa

Negara ........................................................................ 44C. Menjalankan Swadharma sebagai Praktik Politik

Hindu .......................................................................... 48

Bab Empat: Filsafat Politik, Teori Politik,dan Ajaran Niti ............................................................. 51A. Politik Hindu dan Kekuasaan dalam

Dimensi Filosofis ........................................................ 51B. Teori Politik dalam Arthasastra untuk

Mengelola Negara ................................................... 61C. Kautilya Arthasastra, dan Ajaran Tentang Niti ..... 68

Bab Lima: Kautilya dalam Perbandingan dan TafsirKekuasaan .................................................................... 80A. Kautilya dan Niccolo Machiavelli ........................... 80B. Kautilya dan Thomas Hobbes ................................ 88C. Politik Hindu di Nusantara ..................................... 95

Bab Enam: Melanjutkan Pesan Politik KautilyaArthasastra................................................................... 110A. Berpolitik, Kenapa Tidak? ....................................... 110B. Syarat, Tujuan dan Strategi dalam Politik Hindu. 113C. Dari Kautilya untuk Kita ......................................... 121

Catatan Penutup .................................................................. 127Daftar Pustaka ..................................................................... 130Tentang Penulis .................................................................... 137

Page 19: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

xviii/Kautilya Artha sastra Jejak Pemikiran Politik Hindu

Page 20: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

1/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB SATU

TENTANG BUKU INI

“(Raja) yang terlalu lemah memegang Danda Negara, dianggaprendah. (Raja) yang secara tepat memegang Danda Negara akandihormati. Karena Danda yang dipergunakan dengan penuhpertimbangan, akan memberi kepada rakyat kebahagiaan rohani,kesejahteraan jasmani dan kesenangan indria” (Arthasastra BukuPertama, Bab Tiga, Bagian 1: 9-11)

A. Apa Masalahnya?Buku ini adalah hasil kajian terhadap salah satu pemikiran

tokoh besar Hindu, Maharsi Kautilya. Selama membaca karyamonumental sang tokoh, Arthasastra, saya menjadikan filsafatdan antropologi, utamanya filsafat politik dan antropologikekuasaan sebagai “teman dialog” sejak awal hinggamenyudahinya dengan sebuah catatan penutup. Lalu yangmenarik adalah kitab Arthasastra dapat dibaca melalui berbagaispektrum. Arus besar memahaminya sebagai kitab ekonomikarena banyak menguraikan masalah-masalah ekonomi danbagaimana mengelolanya. Arus besar lainnya menganggapArthasastra sebagai kitab politik karena kitab ini mengajarkanbagaimana strategi mengelola sumber-sumber daya alam untukkepentingan orang banyak. Melengkapi kedua arus ini,

BAB SATU........................................................................................................

Page 21: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

2/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Arthasastra juga adalah kitab etika sekaligus ilmu pemerintahan,manajemen, administrasi, bahkan seni berperang.

Perdebatan posisi Arthasastra tidak saja masalah isinya,namun juga pengarangnya. Banyak pihak, terutama intelektualHindu, masih ada yang mensimplikasinya dengan mengatakanKautilya itu sama dengan Nicollo Machiavelli, hanya karenasama-sama membicarakan masalah politik. Bagi saya,perbandingan keduanya—Kautilyadan Machiavelli—dengancara seperti ini terasa ganjil dan tidak adil, terutama karenamereka tidak hidup sejaman. Kautilya misalnya, hidup di abad4 Sebelum Masehi, bandingkan dengan Machiavelli yangdilahirkan di Florence, 3 Mei 1469 saat Italia dan daratan Eropabergolak akibat kecamuk perang. Kemegahan figur Machiavelliyang seolah menenggelamkan tokoh-tokoh lain pada jamannya,mungkin saja Kautilya termasuk di dalamnya, hanya dilihatdalam salah satu buku paling masyurnya, Il Principe. Meskipunmemang buku ini adalah “kitab kuning” bagi penggiat politikdari dulu hingga ke masa kini.1

Harus diakui pula, gaya politik Machiavelli telah menjadimagnet bagi perpolitikan dunia, ia dibenci dan ditolak namunpada saat bersamaan ideologi politiknya diikuti dan bahkandijalankan, meski tidak terang-terangan. Pun namanya yangmenjulang sering dimirip-miripkan dengan banyak tokoh yangmuncul belakangan. Atas kontribusi besarnya dalam ilmu politik,Machiavelli mendapat gelar “Bapak Ilmu Politik”, meski tidaksemua ahli menyetujuinya, salah satunya Hannah Arendt yangmengungkapkannya dalam Between Past and Future (1968).2

Dalam buku ini, saya merasa tidak perlu ikut menyibukkandiri hanya dengan mencari titik lemah keduanya, bukan karenaagak merepotkan, tetapi lebih pada timbangan pertanggung1 Banyak karya menjelaskan hal ini, dua di antaranya yang cukup penting adalah L.A.

Burt, (ed). 1891. Il Principe. Oxford dan Donno Daniel. 1985.The Prince with Selectionfrom Discourses, Niccolo Machiavelli. New York: Bantam Books.

2 Hannah Arendt. 1968. Between Past and Future. New York: Penguin Books.

Page 22: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

3/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

jawaban ilmiah. Sintesis pemikiran jauh lebih penting, terutamasebagai lesson learn. Bertungkai-pangkai dengan mencari manayang lebih baik, atau siapa lebih dulu dari siapa adalah ketidak-bajikan dalam dunia yang semakin cair, sempit dan kecil. Sebabjika pandangan naif seperti ini membesar di mana-mana, makayang terjadi hanya saling klaim kebenaran (truth claim) dantanpa disadari esensi perbandingan menjadi kabur.3 Buku inihanya mencoba menstimulus pemikiran ke arah sintesis itu,dengan menjawab pertanyaan: siapa itu Kautilya, apa sajagagasan besarnya, bagaimana pandangan dan tafsir pemikirlainnya, dan apa yang bisa diambil dari Kautilya Arthasastrauntuk kita (baca: politik Hindu)?

Melalui pertanyaan-pertanyaan tersebut, buku ini bertujuanuntuk memberikan insight bagi siapa saja yang masih gelisahuntuk menemukan wacana baru, hanya saja, saya memulai dariseorang tokoh, sehingga pendekatan yang dapat digunakanantara lain sejarah dan historisitas sekaligus. Meski hanyaselintas, dan terutama karena bukan murni penelitian sejarah,nantinya jejak-jejak kehidupan Kautilya sangat perlu diceritakankembali untuk merespon agar kajian ini tidak bersifat ahistoris.Menurut saya, langkah ini harus dilakukan lebih awal karenasebuah gagasan besar tidak hadir begitu saja, terlebih gagasanitu bernuansa filsafati. Sebuah gagasan besar itu, biasanya akandigodok oleh tradisi dan budaya pada masanya dengan berbagaikejadian-kejadian penting dan bersejarah, hasil kontemplasiintelektualitas maupun pergolakan batin sang empunya gagasanitu. Sebuah gagasan jenius, sekali lagi, biasanya juga akan

3 Lihat selengkapnya perbandingan umum ini dalam M.V. Krishnarao. 1979. Studies inKautilya. Munshiram Manoharlal Publisher Pvt. Ltd., yang menyatakan terutama padaBab VI “The Prince” in the Political System of Machiavelli and Kautilya (hal 56) dan BabVI The Swami in the System of Kautilya (hal 68). Dalam dua bab itu, memang sepertinyaRao tidak secara eksplisit mengarahkan pembaca untuk sampai pada perbandinganpersonal yang subjektif namun lebih memaparkan titik temu pemikiran, khususnyaketika membahas satu ikon abstrak yang dianggap memiliki fungsi penting dalammengelola negara, yakni The Prince dalam Machiavelli dan Swami dalam Kautilya.

Page 23: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

4/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

melahirkan satu perspektif yang boleh jadi baru, atau bahkanbelum pernah dipikirkan banyak orang. Karena orisinalitasnyapula, gagasan jenius itu dapat melampui batasan spasial dantemporalitas pemikirnya sendiri, bahkan ketika ia tiada,gagasannya akan tetap hidup abadi. Universalisme pemikiranseperti ini sekurang-kurangnya dapat ditelusuri dari bagaimanaseorang pemikir, katakanlah Kautilya dalam kasus ini,mengalami “proses menjadi”.

Bagaimana lika-liku perjalanan hidup Kautilya, akan cobadiungkap dari berbagai sumber, dengan harapan penulis dapatmenangkap sisi lain dari apa yang telah diwariskannya kini.Penelusuran ini, meski hanya selintas, tetap penting karenaberbagai peristiwa yang mewarnai pengalaman hidupnya adalahbuah dari pertemuannya dengan situasi tertentu yang padaakhirnya akan memperlihatkan siapa Kautilya itu sebenarnya.Hal ini saya lakukan karena bagaimanapun aspek waktu dantempat, diikuti berbagai peristiwa yang mewarnai kehidupanseorang tokoh besar mengandung arti bahwa kehadirannyatidak bisa dilepaskan dari karakter, kepribadian, dan suasanabatin yang melingkupinya.

Setelah memahami peta pemikiran Kautilya secara utuhmelalui pendekatan sejarah, saya akan melakukan teknikevaluasi kritis yang bersifat reflektif melalui berbagai buku lain,sehingga kajian ini benar-benar mengambil posisinya yang jelas,bukan kajian teks semata. Saya ingin menjernihkan maksud ini,bahwa sedikit berbeda dengan kajian teks yang umumnyabersumber pada teks-teks utama tertentu, lalu ditafsirkan, salahsatunya yang berkembang dalam ilmu linguistik adalahsemiotika atau teknik hermeneutika dalam metode filsafat.Dalam kajian pemikiran yang beremanasi filosofis, seorangpenulis harus berani memperluas interpretasi tidak hanya padateks yang eksplisit tetapi juga gagasan tokoh dibalik berbagaikejadian waktu dan peristiwa yang bersifat menyejarah. Gagasan

Page 24: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

5/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

itu bisa saja implisit tersebar ke dalam banyak tulisan dan tafsirorang lain di waktu yang berbeda. Namun bukan berarti kajianpemikiran lebih progresif ketimbang kajian teks, karenakeduanya memiliki kekuatan sebagai konsekuensi metodologisyang jika dikerjakan sama berat dan sulitnya.

Jadi, buku ini diarahkan dapat memberi sumbanganpemikiran terhadap, pertama, mendorong kajian pemikiranseorang tokoh besar dari berbagai perspektif, sehingga menjadilebih kaya dan makin banyak pilihan untuk memahaminya.Kedua, mendorong kajian pemikiran dan gagasan tokoh Hinduyang dianggap berjasa dalam dunia keilmuan maupunperadaban. Ketiga, mengembangkan pemikiran seorang tokohuntuk dijadikan bahan dalam menganalisis isu aktual, terutamadalam bidang politik dan kekuasaan. Keempat, buku inidiarahkan sebagai bahan pendamping dari matakuliah filsafatpolitik dan antropologi kekuasaan.

B. Bagaimana Buku Ini Dikerjakan?Penulisan buku ini selain menggunakan studi komparasi

tokoh antara Kautilya dengan Machiavelli, dan tokoh lainnyatermasuk menelisik refleksi politik dan kekuasaan dalamkesusasteraan Jawa, juga akan menggunakan tafsir dari filsafatbahasa dan hermeneutika. Ikut digunakannya filsafat bahasakarena para filsuf di masa lalu sering menghadapi masalahtentang konsep-konsep filsafat yang pada dasarnya dituangkanke dalam bahasa. Masalah ini kemudian dicarikan solusinyadengan analisa bahasa yang akhirnya melahirkan filsafatbahasa.4 Selanjutnya, melalui filsafat bahasa akan dibahas,dianalisis dan dicarikan hakikat dari obyek material filsafatnya.

Cara tersebut menurut Paul Recoeur masuk akal karenamanusia itu pada hakikatnya adalah bahasa, karena bahasa

4Lihat Steven Davis. 1976. Philosophy and Language. TheBobbs Merril Company.

Page 25: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

6/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

merupakan syarat utama bagi pengalaman manusia. Artinyabahwa manusia mengungkapkan dirinya rnelalui bahasa,memahami dirinya dan segala sesuatu yang ada melalui bahasa.Manusia bergaul dalam masyarakat melalui bahasa. Bahasatempat bermuaranya seluruh aktivitas manusia, menalar,berlogika, menangkap fenomena, menghadap Tuhannya,menganalisa kejiwaannya, menafsirkan sesuatu, mengung-kapkan gagasan-gagasan, emosi, rasa seni dan filsafat. Bahasadiwujudkan melalui ucapan dan tulisan atau teks. Teks menurutRicoeur adalah suatu diskursus yang difiksasi dengan tulisan.Menurut definisi ini, eksasi dengan tulisan menampakkanketentuan teks itu sendiri.5 Ricoeur selanjutnya menyatakanbahwa kata dalam wujud teks itu pada dasarnya adalah simbolyang mempunyai pluralitas makna bila dihubungkan dengankonteks yang berbeda, bersifat polisemi, memiliki lebih dari satumakna.

Kesimpulannya, paradigma teks pertama dari Ricoeur adalahtentang diskursus yang selalu direalisasikan secara temporaldalam waktu, sedangkan sistem bahasa itu virtual dan keluardari waktu. Paradigma teks kedua adalah maksud pengarang danmakna teks berhenti menyesuaikan. Makna teks tidak lagiberhubungan dengan psikologi maksud pengarang. Paradigmateks ketiga adalah teks membebaskan diri dari referensi yangdiucapkan dengan membuka being-in-the-world yang baru.Membebaskan makna dari situasi yang dialogis. Paradigma tekskeempat adalah diskursus sediri tidak hanya sebuah dunia tapiyang lain, orang lain, teman bicara yang diskursus arahkan. Padasaat yang sama, diskursus ditampakkan seperti diskursus dalamuniversalitas sasarannya.6

5 Paul Ricoeur. 1991. Hermeneutics the Human Sciences: Essays on Language, Action andInterpretation, Ed. and Trans. John B. Cambridge: Cambridge University Press, hlm.106

6 Ibid, hlm. 145-150

Page 26: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

7/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Keempat paradigma di atas menunjukkan bahwa sebuahteks memiliki otonomi, yakni otonom dari maksud pengarang(intensi), otonom dari situasi kultural dan kondisi sosial ketikateks dibuat, otonom dari untuk siapa teks itu dimaksudkan.Otonomi ini menunjukkan bahwa materi teks melepaskan diridan cakrawala intensi yang terbatas dari pengarangnya. Terjadipembebasan dari konteks (dekontekstualisasi), di mana teksmembuka diri terhadap kemungkinan dibaca secara luas, olehpembaca yang berbeda-beda dalam konteks yang baru sehinggaterjadi proses masuk kembali ke dalam konteks (rekontek-stualisasi). Awalnya ada sesuatu yang asing kemudian dijadikansebagai milik (apropriasi). Bagaimana menghadirkan yang asing(otherness) itu yang memiliki jarak (distansi) secara temporal danspasial menjadikannya sebagai kemilikan (owness).

Dengan demikian, apropriasi masa lalu berproses terusmenerus secara dialektis. Bila para pakar bidang sains mene-rangkan bahwa ia akan berhenti pada kasus yang ia terangkansebagai suatu fakta atau peristiwa, menggunakan diagramilmiah untuk memberikan penjelasan, jadi bersifat obyektifterstruktur. Sebaliknya para interpreter menafsirkan ilmu-ilmukemanusiaan agar ia dapat memahami dan mempergunakanmetode interpretasi, tanpa perlu menjelaskan sehingga bersifatsubyektif. Kelonggaran ini dikarenakan interpretasi itu selalubersifat open minded, terbuka untuk diinterpretasi ulang.lnterpretasi tidak mempunyai titik akhir. Menurut Ricoeur antaramenjelaskan dan memahami bukan dua hal yang harusdipertentangkan dan saling meniadakan, tapi keduanyaberproses secara dialektis. Proses dari pemahaman ke penjelasanakan memahami makna teks secara keseluruhan. Proses daripenjelasan kepemahaman, akan memahami mode pemahamanyang didukung dengan prosedur penjelasan.

Dengan demikian, ada tiga tahapan pemahaman, yaitupertama, menafsirkan makna verbal teks berarti menafsirkan

Page 27: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

8/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

seluruhnya sebagai sebuah karya kumulatif dan holistik, bukansekedar tulisan. Kedua, menafsirkan teks berarti menafsirkanindividu, karena di samping karya dihasilkan berdasarkan aturangeneriknya, juga karya sebagai yang tunggal. Ketiga, teks literalmelibatkan cakrawala makna potensial yang mungkindimaksimalisasikan dengan cara yang berbeda-beda. Pema-haman tidak hanya sekadar mencari hubungan antara teksdengan pengarangnya, tetapi untuk mencari dunia proposi-proposisi yang terbuka oleh referensi teks.

Langkah-langkah metode hermeneutik dari Ricouerdilakukan melalui distansi, interpretasi dan apropriasi. Distansi,yaitu membuat jarak antara apa yang dikatakan dari intensisubyek yang menulis, antara penafsiran si penafsir denganmakna yang dimaksudkan oleh penulis. Pembaca mencaribukan sesuatu yang ada di belakang teks, tapi mencari sesuatuyang terbuka di hadapan teks. Makna melampui apa yangdikatakan. Apa yang dikatakan oleh teks tidak berhubungandengan apa yang dimaksud oleh penulisnya. Dalam ekspresiucapan atau oral sudah mengandung relasi dan situasi tertentuantara yang mengucapkan dengan yang mendengarkan,sedangkan diskursus tertulis berhadapan dengan pembacanyayang tidak dikenal, situasi pengucapan tidak ikut ambil bagian.Artinya teks membuka diri kepada pembacanya yang takterhitung jumlahnya, dengan latar belakang yang berbeda-beda.

Dimensi referensial terbuka untuk proses penafsiran.Interpretasi suatu teks adalah self understanding yang tidak dapatdisamakan dengan subyektivisme naif. Hermeneutik berkaitandengan understanding of being dan hubungan antar being.Dengan demikian, Ricouer mencoba memisahkan antarapenjelasan tentang kebenaran dengan pemahaman. Prosedurvalidasi lebih mempergunakan logika probabilitas. Suatuinterpretasi lebih propable atau lebih tepat dari interpretasi yanglainnya jika dilihat dari kekuatan argumentasinya. Metode

Page 28: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

9/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

hermeneutika fenomenologis dari Paul Ricoeur menurut sayaakan dapat berperan dalam memberikan pemahaman tentangjejak politik Hindu seperti apa yang dapat dibaca dari pemikiranKautilya dalam Arthasastra. Artinya, sebuah gagasan danwacana tidak akan muncul secara tiba-tiba, oleh karena itu basissosial kehidupan pemikirnya juga akan dilacak. Itulah yang akandikerjakan saat mengungkap sosok Kautilya.

C. Apa Posisi Buku Ini?Mungkin buku ini tidak bisa dianggap baru, dalam arti,

kebaruannya melampui buku-buku yang sudah adasebelumnya. Yang jelas, buku ini tetap dan masih bersinggungandengan buku-buku sejenis. Satu yang pasti, buku inimenggunakan berbagai sumber, baik yang terserak di Barat,terutama ketika membaca ilmu dan atau filsafat politik.7 Selainitu, buku-buku terbitan India, tentu saja menjadi rujukan utama,meskipun selalu ada kesulitan tersendiri untuk memahaminya.Sebagaimana umumnya buku-buku yang ditulis penulis India,sering satu buku berisi banyak tema dan terdapat pertautanantartema yang melintasi berbagai jaman. Tidak jarang bukuyang ditulis pada tahun ini, misalnya, isinya seolah terbawa kemasa lalu, seperti masuk ke jaman lahirnya Purana yangdipenuhi berbagai mitologi.8 Lalu bagaimana dengan buku-buku yang ditulis intelektual Indonesia?

7 Lihat Robert E. Goddin and Philip Pettit (eds.). 1997. Contemporary Political Philosophy:An Anthology. Oxford: Blackwell Publisher Ltd; William Ebenstein. 1959. Modern PoliticalThought: The Great Issues. New York: Rinehart & Company, Inc; J. Charles King andJames A. McGilvray. 1973. Political and Social Philosophy: Traditional and ContemporaryReadings. New York: McGraw-Hill; Alan Brown. 1986. Modern Political Philosophy.Middlesex: Penguin Books; Kymlicka, Will. 1990. Contemporary Political Philosophy: AnIntroduction. Oxford: Oxford University Press; William L. McBride. 1994. Social andPolitical Philosophy. New York: Paragon House; A.R.M. Murray 1953. An Introduction toPolitical Philosophy. London: Cohen and West; Steven M. Cahn. 2005. Political Philosophy,The Essential Texts. New York: Oxford University Press.

8 Sebut saja satu buku, misalnya dari R.K. Mookerji. 1943. Chandragupta MauryaandHis Times. Madras.

Page 29: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

10/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Tampaknya, ketika akan membahas politik, kebanyakanbuku-buku yang disusun intelektual Hindu berusaha kerasmencuplik beberapa aspek atau ajaran kepemimpinan dalamHindu. Salah satu yang paling jamak adalah Astha Brata.9

Memang, isi buku-buku tersebutbercerita tentang ilmukepemimpinan, namun belum dapat dikategorikan sebagai bukupolitik. Saya tetap memberi kredit yang besar terhadap buku-buku klasik tersebut karena telah menyumbang banyak dalambuku ini yang saya juga tidak posisikan sebagai buku politikHindu.

Dus, buku ini sebenarnya diinspirasikan oleh IB. S.Radendra,10 yang membahas Arthasastra namun hanya dariaspek ekonomi dan politik. Bagaimana dan mengapa Ekonomidan Politik itu ada dalam Arthasastra, sepertinya masih harusdielaborasi sehingga saya punya kesempatan untukmengembangkannya lebih lanjut. Buku yang saya susun iniakan fokus pada satu aspek, yakni politik dan kekuasaan.Namun karena Arthasastra mengandung banyak aspek, makapolitik dan kekuasaan yang saya lihat adalah sebuah refleksi.Dengan cara seperti ini, saya memiliki kesempatan untukmenjelajahi buku-buku lain dan menempatkannya sebagaisebuah kajian politik dan kekuasaan.11

9 Buku-buku itu, misalnya dari Tjok Rai Sudharta. 2009. Kepemimpinan Hindu Asta Brathadan Nasehat Sri Rama Lainnya. Surabaya: Paramita; I Gusti Agung Oka. 1970. NitiSastra, Rajaniti, Pengetahuan (untuk Leadership yang Berorientasi) Agama Hindu; KetutGede Ariasna. 2000. Kepemimpinan Hindu. Surabaya: Paramita; S. Budhisantoso. (atal), 1990. Niti Raja Sasana. Depdikbud; G.K. Adia Wiratmadja. 1975. Leadership:Kepemimpinan Hindu. Magelang: s.n; G.K. Adia Wiratmadja. 1995. Kepemimpinan Hindu.Denpasar: Yayasan Dharma Narada.

10 IB. S. Radendra. 2009. Ekonomi dan Politik dalam Arthasastra. Denpasar: Vidya Dharma.11 Ada bua buku lain yang sangat membantu saya untuk merefleksikan Kautilya

Arthasastra sebagai kajian politik dan kekuasaan, yakni Dharmayasa. 1995. ChanakyaNiti Sastra. Jakarta: Yayasan Dharma Naradha dan M.V. Krishnarao. 1979. Studies inKautilya. Munshiram Manoharlal Publisher Pvt. Ltd.Selain itu, saya juga dibantu denganmembaca kisah hidup sang maharsi dalam Chanakya. An Original Novel by B.K.Chaturvedi. New Delhi: Diamond Pocket Books Pvt. Ltd.

Page 30: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

11/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Mengingat buku ini berusaha menemukan makna barudibalik teks, maka ada buku utama yang penting dijadikanetalase untuk dicari pada bagian apa buku tersebut merefleksikanpolitik dan kekuasaan. Buku utama itu adalah Arthasastra yangditerjemahkan Made Astanadan C.S. Anomdiputro.12 Dipilihnyabuku ini bukan tanpa sebab. Pertama, sampai saat ini buku inimenjadi rujukan utama untuk memahami Arthasastra. Kedua,dua penerjemah buku ini menggunakan dua buku lain sekaligusdengan bobot yang sejajar. Ketiga, buku ini menjadi peta yangcukup lengkap. Berdasarkan tiga alasan tersebar, buku ini akanmengambil posisi dengan hanya membaca aspek politik dankekuasaan dalam Kautilya Arthasastra. Beberapa buku sejenistetap menjadi perspektif dan inspirasi untuk dikembangkandengan membuka ruang diskusi lebih lanjut [*]

12Made Astana dan C.S. Anomdiputro. 2003. Arthasastra. Terjemahan dari buku Kautilya’sArthasastra oleh R. Shamasastry dan The Kautilya Arthasastra oleh R.P. Kangle. Surabaya:Paramita

Page 31: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

12/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB DUA

JEJAK HIDUP, KARAKTER DAN

GAGASAN KAUTILYA

“Raja yang telah terlatih dalam ilmu-ilmu, berniat memerintahrakyatnya dengan baik akan menikmati Bumi (sendiri) tanpadiganggu oleh penguasa lain, dan ia akan menjadi curahankesejahteraan bagi semua makhluk”(Arthasastra Buku Pertama, BabLima, Bagian 2: 17)

A. Asal Muasal Nama Kautilya, dan IntelektualitasnyaAda satu kerumitan untuk mengenal lebih jauh tentang

siapa tokoh yang sebenarnya menyampaikan gagasannyadalam Arthasastra. Kesulitan ini dikarenakan begitu banyaknyanama yang disebut dalam berbagai buku. Serta belum ada satubuku khusus yang membahas profil Kautilya secara utuh,semacam biografi. Kesulitan ini bukan hanya ketika membacaKautilya, tetapi hampir semua tokoh besar Hindu lainnya,contohnya Mahatma Gandhi. Bahkan saya harus membacaGandhi dari buku-buku yang dikarang penulis Barat. Kalaupunada tulisan dari penulis Hindu, sering menjadi semacamkompilasi saja dari berbagai pemikiran yang tercecer di sanasini. Tidak mengherankan jika ada kesan antara satu bukudengan buku lainnya saling dipertentangkan. Namun denganbekal pemahaman terhadap teks, sebenarnya semua nama yang

BAB DUAJEJAK HIDUP, KARAKTER

DAN GAGASAN KAUTILYA

BAB DUA..........................................................................................

Page 32: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

13/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

beredar menunjuk satu nama yang sama yaitu Kautilya. Padabab ini saya akan coba jelaskan kembali siapa Kautilya itu,meskipun lagi-lagi terbatas pada bacaan banyak buku, bukanbiografinya.

Awal kesulitan mendalami tokoh ini sebenarnya adalahketika di setiap buku kita akan mendapati nama Canakya Pandit.Nama ini sepertinya tidak banyak dikenal dalam sejarah,khususnya yang berkaitan dengan Arthasastra. Satu-satunyadata yang cukup memadai adalah ketika ia diketahui pernahbelajar di Universitas Taksasila. Beberapa buku menyebutnyaUniversitas Taxila. Ayahnya bernama Canaka, dan karena namaayahnya itu pula, ia disebut Canakya. Mengingat kecerdasannyayang luar biasa, khususnya dalam ilmu politik, ia diberi namaKautilya. Tidak sampai di sini, masih ada nama lain yang acapdikaitkan dengan Kautilya, yaitu Wisnugupta, nama asli yangsebenarnya diberikan orang tuanya. Kelak di kemudian hari,Wisnugupta adalah seorang perdana menteri yang cerdas,bijaksana dan ahli strategi, politik dan pemerintahan.

Selain nama-nama di atas, adapula yang menyatakanbahwa nama Kautilya adalah sebuah ejekan, kini semacambullying yang diberikan oleh para penganut Buddha ketikaterjadi gerakan untuk mereformasi sistem kehidupan keagamaanketika itu. Namun yang cukup mengejutkan, nama Canakyadiasosiasikan sebagai pribadi yang kutila, yaitu orang yangmemiliki sifat-sifat licik dalam arti yang positif. Disebut kutilakarena ia tidak mudah ditipu, suka membalas kebaikan dengankebaikan dan keburukan dengan keburukan. Atas sifat-sifattersebut, kata kutila akhirnya lama-lama menjadi Kautilya.Namun jika merujuk saat ditulisnya Arthasastra yangdiperkirakan sekitar abad ke 4 Sebelum Masehi, banyak ahlicenderung mempercayai nama Chanakya sebagai penulisnya,meskipun nama Kautilya juga sangat jelas tertera, dan pada saatbersamaan di akhir ayat kitab ini (Arthasastra). Dalam Wisnu

Page 33: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

14/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Purana memang disebut Kautilya, dan dalam Niti Sara karyaKamandaka ia disebut Wishnugupta. Jadi, kedua nama inimenunjuk satu orang, yaitu Kautilya yang sebenarnya berkaitanerat dengan asal muasal keluarganya dari kutila gotra.

Beragamnya nama Kautilya seperti di atas, sekaliguskerumitan untuk menggambarkan personanya, merujuk padapendapat Ganapatri Sastri, seorang penulis yang dapatdiandalkan, juga Jolly dalam karyanya Arthasastra of Kautilya.Namun jika nama Kautilya, Wisnugupta dan Chanakyamemang benar satu orang, lengkap dengan segala tafsir dankontroversi yang menyertainya, saya dalam tulisan buku inihanya akan menggunakan nama Kautilya saja, bukan sematauntuk memudahkan pembaca tetapi juga untuk menjagakonsistensi. Dan menyebutnya Kautilya saja sangatlah pentingdi tengah banyaknya nama “Kautilya” lainnya.

Masa muda Kautilya, apalagi kelahirannya tidak banyakdiketahui orang, terutama karena alasan-alasan yang telahdisebut di atas. Beberapa legenda hanya mengisahkan bahwakepandaian Kautilya yang berasal dari Magadha sudah tampakbersinar sejak masa anak-anak. Minat terbesarnya ada padapengetahuan Weda dan ilmu politik. Minat ini terusdipeliharanya untuk suatu saat menjadi ahli strategi politik.Untuk memperdalam intuisi politiknya, ia kuliah di UniversitasTaksasila, salah satu universitas paling berpengaruh saat itu.Sempat ia mengalami masa sulit ketika universitas ini dipenuhipengungsi akibat kekacauan kota Taksasila, namun peristiwaitu justru menjadi berkah buatnya karena ia menjadi salah satuintelektual muda universitas yang dilibatkan untuk meredamkonflik. Selepas kuliah, ia menjadi pengajar di almamaternya,dan meraih gelar professor.

Page 34: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

15/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Apa yang kita ketahui secara ringkas dari berbagai bukuitu, tampaknya atau mungkin dapat disimpulkan bahwaKautilya tidak lahir dari keluarga sembarangan. Ia telahmendapat banyak ilmu terutama dari orang tuanya sendiri,sesuatu yang khas pada keluarga-keluarga brahmana di Indiamasa lalu, tak terkecuali Kautilya. Selintas, fakta ini dapat kitaketahui dari tradisi dalam ashram atau lembaga perguruan Hindumasa silam di India. Bahkan ketika Rsi Bhyasa atau Wyasamenghimpun Weda bersama murid-muridnya, beliau juga harusmenelusuri aspek kesejarahan dan keturunan asal-usul(geneologi) penyusun Catur Weda.

B. Suka Duka Kehidupan Kautilya, dan IntuisiCemerlangnya

Ketika Kautilya menikmati masa emasnya sebagai salahsatu pengajar terpandang, India mengalami pergolakan hebatdari serangan asing. Ia memilih jalan menyelamatkan negaranya,dan selanjutnya meninggalkan Universitas Taksasila menujuPataliputra untuk membuka jalan baru bagi perubahan politikIndia. Ia diceritakan mengabdi pada Raja Nanda di Pataliputra.Raja Nanda diartikan sebagai Dhana-Nanda, yaitu Nanda yangkaya raya. Nanda adalah nama seorang raja. Sayangnya,Kautilya dianggap telah mengabdi pada raja yang arogan,angkuh dan tidak memiliki kehormatan. Bahkan dalam artiyang sebenarnya, Raja Nanda dianggap sebagai anak haram,buah perselingkuhan.

Masa bulan madu pengabdian Kautilya kepada Raja Nandaberakhir. Ada banyak versi yang menceritakan bagaimanaakhirnya Kautilya berseberangan dengan sang raja. DalamStudies in Kautilya disebutkan bahwa Raja Nandamelaksanakan upacara besar untuk memperingati kerajaanyang puncak acaranya harus diselesaikan oleh seorangbrahmana. Kautilya lalu dihadirkan untuk menyempurnakan

Page 35: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

16/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

upacara tersebut, namun karena ia berpenampilan sederhanadengan wajah yang tidak rupawan, Raja Nanda yangbergelimang harta dan kekuasaan menjadi sangat marah laluhabis-habisan menghina Kautilya. Tidak berhenti sampai disitu,Nanda lalu mengusirnya dengan kata-kata yang serampangan.Sayangnya, saat Nanda mengusirnya, Kautilya diceritakan sedangasyik makan. Akibatnya, Kautilya menjadi sangat malu danbatinnya terpuruk. Ia merasa sangat terhina. Sejak saat itu, benihkebencian dan balas dendam mulai tumbuh subur di hatinya.

Versi yang lain menyebutkan, saat Kautilya mengabdi padaRaja Nanda di Pataliputra, Kautilya sempat dijadikan PemimpinSungha (Trust), namun diturunkan dari jabatannya dengansebab yang tidak jelas. Keputusan ini dianggap Kautilya. sangatmenyakitkan dan membuat luka batinnya sangat dalam. Di lainpihak, Raja Nanda diceritakan pula mulai membasmi semuaketurunan Mauriya, dan hanya menyisakan seorang anak yangkelak dikenal sebagai Chandragupta.

Akibat dari dua kisah pilu yang sama-sama berakhir denganpedih dan getir tersebut, Kautilya lalu diceritakan pergimelakukan pengembaraan. Dalam perjalanannya itu, iamenyamar menjadi pertapa hingga ke pelosok desa-desa, hinggaakhirnya bertemu dengan seorang pemuda bernamaChandragupta, salah satu dari dinasti Mauriya yang selamat ataspenaklukan kejam Raja Nanda. Dengan instuisinya yang tajam,Kautilya sangat terkesan melihat Chandragupta yang sudahmenunjukkan sifat-sifat kepemimpinan, terutama saat iabermain peran. Selanjutnya, Kautilya rela membayar 1.000 panauntuk membawa Chandragupta ke Taksasila. Atas kesamaandendam kepada orang yang sama, Kautilya dengan tekunmembimbing dan mempersiapkan Chandragupta sebagaipemimpin besar.

Oleh Kautilya, proses pembimbingan ini dipraktikkan secaranyata dengan langsung menyertakan Chandragupta ke dalam

Page 36: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

17/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

medan perang ketika bangsa Yunani, yang dikomandaniPanglima Alexander the Great melakukan kolonialisme ke India.Setelah India selamat dan bebas dari upaya ekspansi ini, Kautilyadan Chandragupta berpaling untuk menaklukkan Raja Nandayang telah lama dibencinya bersama rakyat karena kazali-mannya. Pendek cerita, Kautilya dan Candragupta yangdisokong kekuatan rakyat berhasil mengalahkan Raja Nanda.Bersama seluruh keturunanannya, Raja Nanda akhirnya tewas.Kautilya dan rakyat lalu menasbihkan Chandragupta sebagairaja untuk meneruskan dinasti Mauriya yang sempatkocar kacir.

Dalam cerita yang lain namun dengan versi yang berbeda,disebutkan bahwa sebenarnya Kautilya dan Chandraguptaadalah alat yang digerakkan oleh Wikatara yang juga ikutmembalas dendam kepada Raja Nanda. Dikisahkan, suatu saatRaja Nanda hendak menyelenggarakan upacara Sraddha, yaknipersembahan korban yang ditujukan kepada leluhurnya. RajaNanda lalu mengutus seorang menterinya bernama Wikatara.Ia juga disebut dengan nama Raksasa, Amatya Raksasa atauMudra Raksasa. Witakara diminta untuk mencari seorangbrahmana untuk memimpin upacara Sraddha tersebut. Namunbegitu ia tiba di luar istana, Wikatara terngiang tentangkejahatan dan kekejaman yang dilakukan Raja Nanda kepadakeluarganya. Ia sangat geram mengingat seluruh keluarganyayang dipenjarakan mati kehausan dan kelaparan. Wikataraingin membalas dendam namun ia tak sanggup melakukannyasendirian. Oleh karena itu, ia merancang strategi denganmenggunakan perantara seorang brahmana yang mampumembunuh seluruh keluarga Raja Nanda dan keturunannya.Witakara ingin mengimitasi Raja Nanda saat menghabisi seluruhkeluarganya.

Dalam perjalanannya mencari seorang brahmana itu,Wikatara lalu melihat seseorang yang berkulit gelap, bibirnya

Page 37: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

18/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

tebal, matanya kecil namun berwarna merah, seperti sedangmemendam amarah yang luar biasa. Ciri-ciri yang lainnya,orang tersebut menggunakan tali suci yang melingkar dari bahuke pinggangnya. Witakara yakin orang ini seorang brahmana.Keyakinannya semakin kuat karena brahmana itu jugamenggunakan tilaka, semacam abu suci yang dioleskan padaanggota badan tertentu dan sikha atau rambutnya sedikitdisisakan dan dibiarkan tidak terikat di belakang kepalanya.Wikatara melihat brahmana tersebut sedang mencabut alang-alang yang lalu disirami dengan racun.

Setelah sebelumnya memberi sujud hormat, Wikataramenanyakan tingkah brahmana yang menurutnya sangat aneh.Brahmana itu lalu menceritakan bahwa alang-alang tersebutdianggapnya telah berbuat kesalahan besar ketika ayahnya,Canaka berjalan-jalan di hutan. Alang-alang itu memiliki racunyang mematikan saat menusuk paha ayahnya hinggameninggal, dan membuat ia kehilangan figur seorang ayah.Kepada Witakara ia memperkenalkan dirinya dengan namaCanakya yang akan membasmi alang-alang tersebut sampai keakar-akarnya tanpa sisa. Oleh Wikatara, apa yang dilakukanCanakya tersebut sejalan dengan misinya untuk membasmi RajaNanda sampai ke akar-akarnya. Selanjutnya, kedua orang iniberkoalisi karena Canakya pernah dihina dan dilecehkan RajaNanda saat memimpin upacara. Witakara dan Canakya berhasilmembalas dendam kusumatnya dengan membasmi Raja Nandadan seluruh keturunannya, seperti Canakya mencabut alang-alang beracun hingga ke akar-akarnya.

Beberapa cerita di atas, meski dengan alur yang berbeda,dan mungkin juga dengan setting yang sedikit liyan, semuanyamemiliki kesamaan, yaitu Wikatara, Kautilya dan Chandraguptaberhasil membalaskan dendamnya kepada Raja Nanda.Meskipun dalam cerita lainnya, Chandragupta dan Wikataradiceritakan tidak akur dan sempat bermusuhan, namun Kautilya

Page 38: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

19/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dengan kepiwaiannya dikatakan berhasil mendamaikanhubungan keduanya menjadi sebuah sinergi yang besar.Chandragupta diangkat sebagai raja agung, Wikatara dijadikanabdi paling setia, sedangkan Kautilya menjadi penasehatkerajaan yang bijaksana.

Dari beberapa cerita di atas, terlihat dengan sangat jelas,betapa Kautilya telah menunjukkan dirinya sebagai sosok yangsangat terkenal karena penguasaan strateginya dalam bidangpolitik, ketatanegaraan, administrasi, ekonomi dan etika yangdituangkan dengan sangat baik melalui buku Arthasastra.Praktik politik dan ilmu perangnya teruji dalam medan perang.Puncaknya saat menghadapi Raja Nanda dan menghalauserangan Alexander the Great terhadap India. Selain itu, ia jugadikenal sebagai king maker, mulai dari mendidik hinggamenempatkan Candragupta sebagai raja besar. Padahal ia sendiripunya peluang untuk mengambil haknya sebagai pemenang.Sampai di sini, puncak kecemerlangan intuisinya baik sebagaibrahmana maupun politikus telah mendapat pujian danpengakuan.

C. Kautilya, Sang Penganut Ajaran SatyaSejak berusia sangat muda hingga memasuki usia yang

matang, Kautilya digambarkan sebagai orang yang tetapmemiliki karakter teguh untuk memegang apa yang diyakininyasebagai kebenaran. Ia tidak pernah berubah untuk urusan ini.Kautilya, misalnya sangat percaya pada teori brahmana tentangalam semesta dan keterpautannya yang kuat pada sistem sosialyang dibangun atas adat istiadat dan agama brahmana melaluiempat kasta dan ashrama. Namun pada saat yang bersamaan,Kautilya adalah pencinta tindakan ahimsa dan melarangpembunuhan diri sendiri. Hal yang sama juga diberlakukanuntuk binatang dan makhluk hidup lainnya. Pandangan dansikap hidupnya ini, Kautilya banyak dipengaruhi ajaran Buddha.

Page 39: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

20/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Untuk mewujudkan gagasan tanpa kekerasannya, Kautilyadiceritakan menyediakan tempat-tempat pemotongan binatangdan mengijinkan pemberian daging.

Kautilya dianggap brahmana yang semasa hidupnyamengalami langsung situasi saat gerakan reformasi dan ajaranBuddha menyebar dan “menyerang” kaum brahmana. NamunKautilya juga adalah orang yang memiliki karakter kuat untukmemegang Trayi Dharma. Itulah yang mewarnai tindakannyauntuk menyukai perdamaian dan jauh dari tindakan himsakarma. Sementara dalam membangun disiplin politiknya,Kautilya secara tegas mengatakan sangat berhutang budi padakitab Atharwa Weda, dan lebih khusus Arthasastra. Keduanyatelah mengayakan, dan menjadikan dirinya tampak ideal.

Meski ia sering dianggap immoral karena ketegasannyapada pengganggu keamanan negara, Kautilya sejatinyamemiliki kecintaan untuk memuliakan negara. Itulah sebabnya,dalam beberapa buku yang menginterpretasinya, Kautilyadikatakan rela melakukan apa saja, bahkan dikritik telahbertindak kejam, namun misi utamanya, sekaligus kemuliaanajarannya adalah bagaimana mengelola negara agar tetapmakmur, damai dan stabil dengan meminimalkan potensikonflik dan gangguan. Integritasnya yang lain, dan ini sangatmengagumkan adalah ketika ia memiliki kesempatan memilikikemasyuran sebagai raja, ia justru memilih berada di balik layardengan mempersiapkan secara matang Candragupta sebagairaja diraja. Kehebatan Candragupta adalah buah gemblengan-nya sebagai seorang pemikir dan praktisi karena ia politikussekaligus seorang brahmana suci, sebuah peran yang tidak bisadicarikan bandingannya mungkin sampai hari ini.

Setelah malang melintang dan melewati segala onak danduri perjuangannya yang berakhir manis, Kautilya berhasilmemposisikan dirinya sebagai purohita, sebanding denganAristoteles yang menjadi penasehat untuk Raja Iskandar. Bagi

Page 40: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

21/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kautilya, purohita bukan sekadar peran yang kecil, tetapi agenyang sangat penting untuk mempertahankan keutuhan negarayang ditanamkan melalui Candragupta. Ia menjadi purohitakarena kemampuannya dalam berbagai bidang disiplin ilmu,sekaligus orang yang sanggup menjadi panglima untukbertarung di medan perang. Dengan pencapaian gemilangnyaini, Kautilya dianggap telah berhasil menurunkan ajaranagama yang bersifat abstrak pada kitab suci, menjadi sesuatuyang riil untuk kemanusiaan dan kehidupan. Kautilya jugasukses memerankan sosok religius yang suci sekaligus politikusyang sangat ulung. Menurut Kautilya, ilmu kebajikan telahmenuntunnya menjadi seseorang yang harus mengutamakankesejahteraan negara. Seni politik tidak dapat memberikankepada umat manusia di mana segalanya harus ada, tetapi justrudapat menunjukkan kepada negara apa yang terbaik.

Memang, pada akhirnya banyak kritik yang ditujukankepada politik Kautilya yang dianggap terlalu keras dan seolahmenghalalkan segala cara. Namun begitulah Kautilya yangmenjadi sosok paling teguh dalam memilih jalan kebenaran(satya). Ini adalah bentuk totalitas politik praktis yang sampaisaat ini telah menjiwai konsep-konsep kepemimpinan sejak lama,misalnya Catur Upaya Sandi, Pramiteng Prabhu, Asta Bratahingga Catur Pariksa, yang semuanya ini terinspirasi dari NitiSastra. Bahkan saat-saat kematian Raja Nanda, Wikatara berujarbahwa “Raja Niti itu bagaikan wanita tuna susila yang tidakpernah menaruh cintanya di satu tempat”. Begitu pula politik yangtidak pernah mencintai seseorang selamanya. Ketika Raja Nandaterguling, politikpun menjatuhkan cintanya pada Chandra-gupta. Dalam dunia politik, khususnya politik praktis,pemandangan dramatis kekalahan Raja Nanda dan nasehatagung Witakara seolah masih relevan hingga saat ini, bahkansejak Arthasastra dikarang ribuan tahun lalu.

Page 41: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

22/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

D. Saripati Pemikiran Kautilya dalam ArthasastraPerjalanan hidup Kautilya, seperti diceritakan dalam banyak

versi, secara langsung tergambar dalam gagasannya yang jugapenuh spektrum. Karena ia seorang rohaniwan besar, pikirannyajuga sangat filosofis, tak terkecuali tentang politik. Bahkan,seluruh ide besarnya dalam politik sarat filsafat. Tegasnyamengandung filsafat politik. Jika benar, dapat saja filsafatpolitiknya menjadi bagian dari filsafat praktis. Ini disebabkanArthasastra bukan hanya kitab teoritik semata tetapi juga dapatdan seharusnya dipraktikkan dalam hidup. Dan ini berbedadengan filsafat etika yang lebih mengatur norma individual,meskipun dari aspek sosialnya, etika memberi jalan bagaimanamanusia harus diatur dalam satu rumah besar bernamamasyarakat.

Seluruh gagasan Kautilya, terutama politik dalamArthasastra, sebenarnya ia tuangkan bersama dengan lika-likukehidupannya yang penuh gejolak politik. Kondisi inimengharuskannya, kalau tidak disebut memaksanya untukmembuat satu panduan praktis yang dapat dijalankan secarakonkrit. Namun pasang surut perjalanan hidup yang ikutdilibatkan dalam pokok pikirannya mengafirmasi asumsibanyak orang dengan mengatakan Kautilya telah menjauhkanide politiknya dari etika dan moral. Padahal bagi Kautilya, dalamhal berpolitik praktis, salah satunya mengatur negara, iamemaksa masyarakat atau orang yang bermoral untukmemantapkan moralitas yang bersumber dari agama demi danuntuk terwujudnya kepatuhan praktis dalam menjalankanaturan hidup bersama. Sekali lagi, Kautilya malah menempatkanmoralitas atau budi pakerti luhur sebagai azas paling pentingyang harus dimiliki seorang swamin atau penguasa.

Bagi Kautilya, menjadi swamin bukanlah perkara mudah,bahkan bisa menjadi sulit jika tidak sanggup memenuhibeberapa syarat yang diajukannya, antara lain Abhigamika

Page 42: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

23/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

(mampu menarik simpati rakyatnya), Pradnya (arif danbijaksana), Utsaha (kreatif dan inovatif), Atma Sampad (berbudipakerti yang luhur), Sakya Samanta (menjadi pemimpin mampumengontrol bawahannya) dan Aksudra Parisatka (mampumemimpin sidang dan menyimpulkannya).13 Selain sejumlahsyarat itu, Kautilya juga mengajarkan untuk menegakkankebenaran, terutama dalam rangka membuat kepatuhan warganegara kepada penguasa, seorang swamin harus menjauhkandiri dari perangkap moralitas. Ajarannya ini memang cenderungkejam, keji, kotor dan tidak berperikemanusiaan, tetapi itulahyang mau tidak mau harus dilakukan jika negara dalamancaman dari orang-orang jahat. Untuk aspek ini pula, banyakpembaca enggan menggunakan strategi Kautilya yang seolahbernuansa horror.

Ajaran lain yang tak kalah pentingnya diberikan Kautilyakepada para swamin adalah gagasannya tentang rajadharmamelalui pemerintahan sendiri (swaraj) dan bergantung padapenguasaan diri serta penaklukan diri (atma samyana). Kautilyamenghadapi suatu konsepsi tentang jabatan raja yangdisingkirkan dari noda absolutisme dan menyatakan bahwahanya penguasa yang mengusai dirinya sendirilah yang akandapat mengusai orang lain dalam waktu yang lama.Menurutnya, siapa saja yang menjadi raja walaupun wilayahnyamembentang sampai ke ujung dunia, bila moralnya bejat danindranya tidak dikuasai, maka ia pasti akan segera binasa.

Masih tentang swami, Kautilya mempersepsikan raja adalaharsitek dharma dan dengan itu seorang raja adalahdharmapravartaka yang secara terus menerus berada dalampekerjaan yang benar, pelindung tatanan sosial, serta tugas danfungsi raja adalah tugas dan fungsi negara. Pernyataan-pernyataan tersebut memang terkesan ekstrim, seekstrim dengan

13 Tentang hal ini, lihat lebih lengkap I Gusti Agung Oka, Op.cit., hlm. 20.

Page 43: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

24/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

menganjurkan raja untuk tinggal di gubuk bukan saja untukmendekatkan dirinya dengan rakyat, tetapi juga agar dapatmerasakan bahwa kebahagiaan rakyat adalah juga kebahagiaanraja, bukan sebaliknya. Kebahagiaan rakyat adalah kebahagiaanraja, kesejahteraan rakyat adalah kesejahteraan raja.Kesejahteraan raja bukanlah apa-apa yang diinginkan oleh raja,tetapi adalah apa yang menjadi kesukaan rakyat. Intinya,pemimpin harus mampu mencium bau keringat rakyat yangdimpimpinnya hingga ke tingkat bawah, bukan rakyatnyadipaksa mencium wangi tubuhnya.

Sementara secara filosofis, gagasan politik Kautilya dapatdigunakan para pemimpin atau penguasa untuk dipraktikkanmelalui alat-alat negara. Oleh karena itu, membincangkanpolitik Kautilya juga harus membicarakan bagaimana pemimpinmempraktikkan gagasan itu, yang menurutnya ada empatbidang yang harus dilakukan negara, yaitu(1) melindunginegara yang obyek paling utamanya adalah masyarakat (loka),(2) memelihara kepatuhan kepada aturan, di mana dharmamenjadi alat paling utama untuk memelihara keteraturan, (3)memajukan kesejahteraan dengan membahagiakan rakyatnya,bukan dirinya sendiri, (4) menjaga kepatuhan terhadap hukumdan keadilan, dan (5) menjaga stabilitas perdamaian dengankonsep mandala.

Secara eksplisit, beberapa pernyataan menarik Kautilya yangditransformasi ke dalam Canakya Niti Sastra, terutama tentangbagaimana para penguasa (raja) harus bertindak, antara lain:1. Sukhayasya mulam dharmah: sumber kebahagiaan sejati

adalah kalau orang kembali kepada dharma (agama dankewajiban) asli sang roh, yaitu melakukan pelayanan cintakasih bhakti kepada Tuhan.

2. Naikam cakram paribhramayati: (kereta)tidak akan bisa bergerakdengan satu roda. Begitu juga kerajaan, tidak akan bisa berjalankalau raja tanpa menteri, atau menteri tanpa raja.

Page 44: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

25/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

3. Apastu snehasanyuktam mitram: yang disebut teman adalahdia yang tetap setia pada saat kita mengalami musibah ataukedukaan.

4. Saktihino balavantamasrayet: kalau merasa diri kurang kuat,bertemanlah atau bergabunglah dengan yang kuat, sehinggatidak akan ada kecemasan. Dengan cara ini, rasa percaya diriakan menjadi mantap.

5. Priyamapyahitam na waktawyam: jangan mengucapkan kata-kata manis dan menarik tetapi tidak mengandung kebaikandan kebenaran.

Mempertegas pesan di atas, Kautilya dalam Arthasastramenyatakan beberapa pesan yang menarik lainnya, antara lain:1. Awasendriyascaturanto’pi raja sadyo winasyati: raja yang tidak

menguasai indriya-indriyanya, walaupun raja tersebut kuatdan sakti, pasti segera binasa.

2. Dutamukha wai rajanah: mata-mata adalah muka sang raja.3. Praja sukhe sukham rajnah, prajanam ca hita hitam, natma-

priyam hitam rajnah, prajanam tu priyam hitam: kebahagiaanrakyat adalah kebahagiaan raja. Kesejahteraan rakyat adalahkesejahteraan raja. Kesejahteraan raja bukanlah apa-apa yangdiinginkan oleh raja, tetapi adalah apa yang menjadi kesukaanrakyat, itulah yang mensejahteraan raja.

Saripati pemikiran politik Kautilya dapat diambil dari beberapabuku yang ditulis oleh para penafsirnya, atau hasil terjemahan.Salah satu yang dianggap mewakili adalah Kautilya Arthasastrayang diterjemahkan Made Astana dan Anomdiputera,14

14 Dipilihnya buku ini sebagai rujukan utama bukan berarti buku lain tidak sebanding,tetapi buku ini sudah cukup mewakili buku sejenis yang telah ada karena penerjemahini menggunakan dua buku utama lainnya sekaligus, Kautilya’s Arthasastra dan TheKautilya Arthasastra. Buku-buku lain menjadi pendukung bahkan saya sangat terbantuoleh buku-buku tersebut, misalnya Studies in Kautilya yang diterjemahkan I Gde Sura.2003. Denpasar UNHI. Buku ini bahkan kental sebagai perbandingan antara Kautilyadengan Machiavelli. Ada dua bab khusus yang bahkan secara khusus membahasaspek politik dari gagasan keduanya.

Page 45: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

26/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

meskipun Kautilya juga diyakini pernah menulis banyak bukuselain Arthasastra, seperti Laghu Canakya, Wrddha Canakya,Canakya Niti, dan Canakya Sutra. Penelusuran jejak pemikiranpolitik Hindu dalam Kautilya Arthasastra, yang menjadi pintumasuk buku ini, akan dibaca melalui bab ke bab. Setidaknyadalam Lima Belas Buku yang terbagi-bagi lagi ke dalam Babdan 180 Bagian, pemikiran politik Kautilya cukupmenghamparkan ide dimaksud. Tentu tidak semua bab dalamKautilya Arthasastra merefleksikan jejak pemikiran politikHindu karena kitab ini, sekali lagi, memiliki spektrum yang luas.Berikut ini, saya menganggap beberapa bab yang merefleksikanjejak pemikiran politik Hindu.

1. Buku Satu Mengenai LatihanPada bab ini, Kautilya memulai gagasannya tentang

daftar ilmu-ilmu, di mana ilmu politik (dandaniti) menempatiposisi yang sangat penting di antara ilmu-ilmu lainnya. Temaini diawali pada Bab Lima Bagian 2 tentang Hubungandengan Orang-Orang Tua dan secara tegas pada momor 8disebutkan: “Setelah dilakukan inisiasi oleh gurupembimbing, ia harus belajar ketiga Weda dan Anwiksaki(filsafat) dari Sistha (guru yang berwenang), Warta (ilmuekonomi) dari kepala pemerintahan (dan) Dandaniti (ilmupolitik) dari Waktriprayoktribhya (orang yang tahu ilmu politiksecara teori dan praktik)”.

Pada Bab Delapan Bagian 4 tentang Pengangkatan ParaMenteri. Bab ini semakin memperlihatkan dengan jelasbagaimana Kautilya mengetengahkan perdebatan dalammemilih dan mengangkat para Menteri, serta persoalanintegritas dalam politik. Hal yang sama juga dapat dibacapada Bab Sembilan Bagian 5 saat Kautilya menjelaskantentang bagaimana tata cara dan mekanisme PengangkatanPenasehat dan Pendeta. Puncaknya adalah pada Bab Sepuluh

Page 46: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

27/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Bagian 6, saat Kautilya memberikan apa yang disebutnyaPenegasan tentang Integritas atau Tidak Adanya Integritaspara Menteri dengan Cara Ujian Rahasia. Masih tentangintegritas, Kautilya memberikan ujaran yang sama ketikamengangkat orang-orang yang akan bekerja dalam dinasrahasia (Bab Sebelas Bagian 7 tentang Pengangkatan Orangdalam Dinas Rahasia), yang dilanjutkan dengan membuataturan kepada para petugas rahasia (Bab Dua Belas Bagian 8tentang Peraturan untuk Petugas Rahasia). Pada Bab EnamBelas Bagian 13 Kautilya mulai memikirkan bagaimanamempersiapkan putra raja dengan segala aturan untukmenjaganya. Hal ini dilakukannya agar putra raja suatu saatakan siap menjadi raja dengan berbagai bekal, termasuk ilmupengetahuan agama. Sementara pada Bab Sembilan BelasBagian 16, Kautilya menyampaikan aturan apa saja yangboleh dan tidak dilakukan seorang raja. Tampak sekali, sejakawal Kautilya mulai memposisikan diri sebagai apa yangdisebut Plato sebagai The Philosoper King. Hal yang samadapat dibaca secara jelas mulai Bab ini hingga Bab Dua PuluhSatu Bagian 18.

Gagasan Kautilya di atas memperlihatkan bahwa desaindan setting dalam mempersiapkan negara, setiap detilnyamendapat perhatian yang serius, yang dimulai dari pemetaandan percabangan berbagai disiplin ilmu. Kautilyamemberanikan diri untuk memposisikan ilmu politik(dandaniti) secara tegas dan jelas dalam memahami persoalan-persoalan politik dan negara. Artinya, dandaniti menjadi aspekyang penting dalam mengelola dan melindungi bumi, dimana hasilnya diarahkan untuk kepentingan rakyat banyakseluas-luasnya.

Perencanaan bagaimana negara akan dikelola dan modalapa yang harus dimiliki seorang penguasa atau pemimpinmenjadi penting untuk diuraikan di sini. Jika merujuk pada

Page 47: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

28/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

pendapat ahli politik, salah satunya misalnya tentang distribusibarang-barang dalam sebuah masyarakat, maka ilmu politikakan memusatkan perhatiannya pada aturan atau prinsipbagaimana menentukan distribusi barang-barang tersebut,bukan tentang “bagaimana properti itu didistribusikan”,tetapi “distribusi properti apa yang adil dan fair”. Begitu jugahalnya politik tidak akan mempersoalkan “hak dan kebebasanapa yang sesungguhnya dimiliki rakyat” tetapi sebaliknya,“hak dan kebebasan apa yang seharusnya dimiliki rakyat”.Dua pandangan ini memperlihatkan ada pembagian antarastudi normatif dan studi deskriptif yang ternyata tidak selalusejelas seperti yang mungkin disangka banyak orang karenamasalah perilaku manusia seringkali berada di antara duatitik pembagian deskriptif dan normatif. Dengan demikian,apa yang digagas Kautilya di awal bab ini merefleksikantentang studi normatif, di mana negara harus dikelola denganbaik dan benar serta sesuai perencanaan yang matang.

2. Buku Ke Ketujuh tentang Enam Kebijakan PolitikPada bab ini secara eksplisit, Kautilya menyampaikan

bagaimana menyusun perhitungan enam kebijakan (Bab SatuBagian 98) dan Penentuan (Kebijakan) Kemunduran, KeadaanStabil dan Kemajuan (Bab Satu Bagian 99). Sebetulnya EnamKebijakan Politik Kautilya dapat dibaca mulai Bagian 98hingga Bab Delapan Belas Bagian 126. Namun secaraberturut-turut kita dapat memahami sikap politik Kautilyadalam Bab Tiga Bagian 101 tentang bagaimana MentaatiKebijakan oleh (Raja) yang Sama, yang Lebih Lemah danLebih Kuat.

Lalu, bagaimana Kautilya memandang perang? Pan-dangannya tentang perang disampaikan pada Bab EmpatBagian 103 Berdiam Diri Setelah Berperang, Bagian 104Berdiam Diri Setelah Berdamai, Bagian 105 Bergerak Setelah

Page 48: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

29/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Berperang, Bagian 106 Bergerak Setelah Berdamai dan Bagian107 Bergerak Bersama (raja-raja lain). Bagi Kautilya, perangadalah sebuah pergulatan, sehingga harus diatur sedemikianrupa, kapan harus melakukan apa dan kapan melakukanrefleksi dan kontemplasi. Sementara pada Bab Enam BelasBagian 121, Kautilya menyam-paikan bagaimana seharusnyamenunjukkan Sikap yang (Tepat) bagi Raja yangMenundukkan (Raja lain) dengan kekuatan. Pandangannyaini dapat dikatakan sebagai buah refleksi perjuangannyaketika menghadapi musuh-musuhnya, dan perjalanan karirpolitiknya yang mengalami jatuh bangun.

Pada buku Ketujuh dalam kitab Arthasastra ini, Kautilyamengawalinya dengan menyampaikan enam kebijakanpolitik yang dapat menjadi dasar pembentuk negara (prakertimandala), di antaranya (1) memasuki perjanjian adalahperdamaian, (2) melukai adalah sebuah perang, (3) tetap tidakmemihak adalah tinggal diam/netral, (4) meningkatkan(kekuatan) adalah siaga, (5) menyerah pada orang lain adalahaliansi, dan (5) mengadakan perdamaian (dengan yang satu)tetapi berperang (dengan yang lain) adalah kebijakan ganda.Enam kebijakan politik ini menjadi refleksi pemikiran politikKautilya yang berada pada dua kutub di mana perang bisakapan saja dilakukan tetapi yang terpenting bagaimanamenjamin dan menjalankan sebuah perdamaian.

3. Buku Lima Belas tentang Metode IlmuMengakhiri buku ini, Kautilya sekali lagi menyimpulkan

bahwa sumber kehidupan umat manusia adalah artha(kesejahteraan), yakni bumi dan segala isinya yang dihunimanusia. Sedangkan ilmu yang mencakup cara untukmemperoleh hasil dan melindungi bumi adalah Arthasastra(ilmu politik). Dalam bab terakhir ini, Kautilya menegaskanbahwa ilmu-ilmu lain dan cara-cara pengelolaan administrasi,

Page 49: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

30/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

perang, dan pengelolaan sumber daya yang terdapat dalambuku ini, tidak bisa dilepaskan dari ilmu politik, dan dapatdikatakan sebagai bagian dari ilmu politik itu sendiri.Tampaknya, Kautilya berhasil membuat jalinan pemikiranyang sejak awal dikatakannya sebagai keterkaitan antarilmudan diakhiri dengan kesimpulan tentang alat yang dipakaidalam (olah) ilmu itu sendiri.

Pada poin 3 dalam Bab Satu Bagian 180 menggambarkangagasan utuh Kautilya tentang bangunan ilmu politik,termasuk permainan logika dan silogisme serta analogi-analogi. Misalnya, pada poin 4. Objek, tentang pernyataanapa yang dibuat, adalah topik. Pada poin 5 dijelaskan, di mana(uraian) tunggal ini tentang ilmu politik disusun sebagian besardengan menghimpun (ajaran) sebanyak uraian tentang ilmupolitik yang telah disusun oleh para guru kuno untukmemperoleh dan melindungi bumi. Silogisme seperti inidalam mengurai gagasan sistem politik yang dapat dibacapada poin-poin selanjutnya. Pertama, pada Bab VI yangkhusus memperlihatkan bagaimana Kautilya dan Machiavellimenggagas istilah ”The Prince” dalam sistem politik di antaramereka. Kedua, pada Bab VII, Kautilya menggagas istilahswamin yang dalam sistem politik praktisnya diaktualisasikansecara gemilang oleh Candragupta. Sementara aspek lain yangdibahas namun lebih dekat dengan konsep negara, Kautilyamenyampaikannya pada Bab VIII tentang Prinsip-prinsipKemahakuasaan dan Bab XII saat Kautilya membahasbeberapa aspek masyarakat Arthasastra. Apa dan bagaimanatafsir dan atau refleksi jejak pemikiran politik Hindu dalamkitab ini, akan diuraikan secara cair dan diaktis pada bab-bab selanjutnya [*]

Page 50: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

31/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB TIGA

SEJARAH POLITIK HINDU DAN

REFLEKSINYA DALAM ARTHASASTRA

“Bagi seorang raja, sumpah (sucinya) adalah kesediaannya untukbekerja, pengorbanan dalam urusan pemerintahan adalahpengorbanan sucinya, imbalan dari pengorbanannya adalah sikapyang adil, (dan) inisiasi pengorbanan baginya adalah pentas-bihannya. Kebahagiaan rakyatnya adalah letak kebahagiaan raja,dan apa yang bermanfaat bagi rakyatnya juga bermanfaat bagidirinya sendiri. Apa yang berharga bagi dirinya sendiri belum tentubagi negara, tetapi apa yang berharga bagi rakyatnya adalahbermanfaat bagi dirinya”(Arthasastra Buku Pertama, Bab SembilanBelas, Bagian 16: 33-34)

A. Pembabakan Sejarah Politik HinduPolitik Hindu, baik sebagai bagian dari ilmu politik maupun

sebagai nilai yang sebenarnya telah dipraktikkan dalam hidup,tidak hadir begitu saja. Memang menempatkan politik Hinduansich ilmu politik sebagaimana ilmuwan politik modernmendefinisikannya, maka politik Hindu tidak akan persis samadengan ilmu politik modern. Dalam buku ini, saya tidak akanmembuat adagium ilmu politik modern vis-à-vis politik Hindu,namun implicit meaning yang terdapat dalam kitab Arthasastrasebagai refleksi politik Hindu dalam bab tersendiri. Oleh karenaitu, pada bab ini saya akan memulainya dengan pembabakan

SEJARAH POLITIK HINDUDAN REFLEKSINYA DALAM

ARTHASASTRA

BAB TIGA

Page 51: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

32/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

politik Hindu, dan mengapa Arthasastra sebagai representasiuntuk maksud ini.

Namun membicarakan politik, sebenarnya pula kita akanmembincangkan kekuasaan secara bolak balik, keduanya(poliltik dan kekuasaan) menjadi satu tema yang sekiranyadibahas secara bersamaan. Hal ini karena secara konseptual,konsep kekuasaan dalam ilmu politik tidak dapat dilepaskandari peranan besar sosiologi, yang terutama karena membahaskekuasaan dalam konteks relasi dan interaksi sosial. Para ahlitampaknya sepakat dengan kesimpulan bahwa konsepkekuasaan memiliki banyak segi dan aspek yang perlu dikajilebih lanjut. Oleh karena itu, konsep kekuasaan dalamkehidupan sehari-hari mengandung ragam dimensi lainnya,seperti wewenang, legitimasi, kedaulatan, kepentingan, hinggapengaruh. Dalam bab ini, saya hanya akan memaparkanbagaimana lintasan sejarah yang dilalui politik Hindu dankekuasaan yang baik ditemukan dalam keseharian maupunakibat silang pengaruh dari satu kerajaan dengan kerajaanlainnya.

1 Periode Weda (2000-600 SM): dari lembah sungaiSindhu hingga kecamuk Bharatayuda

Untuk memetakan politik Hindu, meskipun tidak akanpernah tuntas, dapat dilakukan dengan melakukanperjalanan jauh ke masa lalu. Nanang Sutrisno me-resumenya dengan cukup rapih,15 dengan pertama-tamamengajak kita untuk sejenak menyelami romantisme sejarahawal mula peradaban Hindu, termasuk pergulatan politikdi dalamnya, mulai dari lembah sungai Sindhu. Berdasarkan

15Nanang Sutrisno. “Sejarah Politik Hindu” dalam I Nyoman Yoga Segara (ed). 2019.Politik Hindu. Sejarah, Moral dan Proyeksinya. Denpasar: IHDN Press, hlm 1-12. Sebagianbesar isi dalam bab ini, dan beberapa bab lainnya, diadaptasi maupun disarikan dari bukumonograf ini.

Page 52: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

33/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

hasil bacaannyayang cukup memadai dari beberapa ahli,Sutrisno memaparkan bahwa lembah ini adalah petunjukmahapenting untuk mengetahui sejauhmana kemajuan sukuDrawida, suku bangsa pribumi India dalam rentang tahun3000-2000 SM. Beberapa bukti cukup mengesankan untukmenunjukkan peradaban Hindu yang terhampar saatdaerah Harappa dan Mohenjodaro digali. Temuan darireruntuhan bekas kota dinyatakan sudah tertata, teknologiperalatan hidup juga sudah digunakan, dan artefak-artefakbernuansa religius banyak ditemukan. Sayangnya memang,belum ditemukan keterangan tentang seperti apa politikbangsa Drawida. Kabar baiknya adalah gambaran awaltentang aktivitas politik masyarakat India, pertama-tamaditemukan dalam Catur Weda Samhita. Kitab ini menjadisatu peta jalan untuk memasuki kebudayaan dankeagamaan bangsa Arya yang saat itu diyakini telahberkembang antara 2000-1000 SM. Lalu petunjuk lain untukmenjelaskan politik Hindu, terutama periode Weda awaldapat ditemukan dalam kitab Rgweda Samhita, meskipunlagi-lagi, informasi tersebut agak tumpang tindih denganmunculnya berbagai kepercayaan, mitos, dan petunjukkeagamaan lainnya.

Salah satu catatan penting soal politik Hindu dapatdibaca dalam Rgweda VII.18, 33, 83, yang menjelaskanbahwa telah terjadi perang antara Sudasa melawan aliansisepuluh raja (dasarajna yuddha). Tentang Sudasa ini, paraahli sejarah agak berbeda pendapat, misalnya munculpertanyaan “apakah Sudasa berasal dari klan Bharata atauTritsu?”. Dari peristiwa perang itu, para sejarawanmengemukakan beberapa hipotesisnya, antara lain pertama,perang ini berlangsung di wilayah barat laut Doab terkaitmigrasi suku Bharata. Terdapat pola yang sistematis untukmenguasai wilayah ini dengan mendorong penduduk asli

Page 53: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

34/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

ke wilayah pinggiran. Dengan begini, pusat kota akanmudah dikuasai. Kedua, perang ini cenderung sebagaiperang antarsuku tinimbang perang antarnegara karenaistilah “rajan” lebih sebagai jabatan kepala suku, bukan raja.Ketiga, terdapat indikasi awal untuk menyebut adanya sistemmonarki rajarshi, misalnya Sudasa yang dihubungkandengan Maharshi Wasistha dan Wishwamitra sebagaipurohita. Keempat, nama Bharatawarsa (tanah kaumBharata) sebagai wilayah India Kuno telah menegaskandominasi klan Bharata setelah berhasil menaklukkan 10 klanyang lainnya. Penaklukan ini selain berdampak besar padaperluasan wilayah kekuasaan Bharata, juga makinmemperlihatkan supremasi Bharata atas klan-klan lainnya.

Selanjutnya, klan Bharata melakukan aliansi,tepatnya mungkin koalisi dengan klan Puru untukmembentuk dinasti Kuru. Tidak hanya itu, kalau Bharatajuga menggandeng klan Pancala dalam menjalankanpemerintahan di sekitar lembah sungai Gangga danYamuna. Dapat dikatakan, dinasti Kuru-Pancala adalahpenguasa tunggal Bharatawarsa (India Kuno) pada periodeWeda Pertengahan sekira 1200-900 SM. Bukti kuatberkuasanya dinasti Kuru adalah ketika mereka suksesmelakukan semacam reorganisasi sosial, kalau tidak disebuttransformasi besar yang pernah terjadi pada zaman RgwedaKuno dari masyarakat tribal menuju negara monarki. Itulahsebabnya, daerah Kuru dicap sebagai negara pertama diIndia. Alasan kuat ini didukung pernyataan dalamYajurweda dan sejumlah teks Brahmana bahwa kondisisosial politik bangsa Arya pada saat itu telah begitu mapansehingga ritual-ritual keagamaan mulai tingkat keluarga(grihya) hingga kenegaraan (sautra), misalnya Aswamedha,Wajapeya, dan Rajasuya berhasil dilaksanakan.

Page 54: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

35/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Dus, Kitab Catur Weda Samhita, Brahmana, danUpanisad juga menyebut Parikshit, dan penggantinya kelak,Janamejaya sebagai raja dinasti Kuru paling populer. Bahkannama Parikshit setidaknya ditemukan dalam AtharwawedaSamhita, XX. 127.7-10, sebagai raja wilayah Kuru yangberhasil menciptakan kemakmuran dan kedamaian.Sedangkan Mahabharata I.109.1, menyebutkan bahwakekuasaan Raja Kuru telah mencakup wilayah di sekitarlembah sungai Gangga dan Saraswati. Wilayah kekuasaanKuru dibagi tiga bagian, yaitu Kurujangala, Kuru, danKurukshetra. Batas wilayah Kurukshetra disebutkan jelasdalam Taittiriya Aranyaka, yaitu Kandhawa di bagianselatan, Turghana (utara), dan Parinah (barat), sedangkanibukotanya berada di Asandiwant.

Setelah Parikshit mangkat, Janamejaya meneruskankejayaan dinasti Kuru yang penobatannya telah dimuatdalam Teks Aitareya Brahmana VIII.21. Dijelaskan dalamkitab ini bahwa Tura Kawaseya adalah maharsi yangmenobatkan Janamejaya melalui sebuah AindraMahabhiseka atau inisiasi Indra. Keharuman Janamejayajuga disebut dalam Satapatha Brahmana XIII, 5.4.3 yangbenerangkan bahwa Janamejaya dan tiga saudaranya, yaituBhimasena, Ugrasena, serta Srutasena telah berhasilmenyelenggarakan upacara Aswamedha dan Brahmahatya.Kedua upacara ini adalah ritual penebusan dosa-dosa leluhuratas pembunuhan para Brahmana. Tentang sepak terjanggemilang Janamejaya banyak diceritakan dalamMahabharata, terutama saat menceritakan kisah leluhurJanamejaya, yaitu wangsa Bharata yang terdiri dariPandawa dan Kaurawa. Meski demikian, kebenaran sejarahyang diceritakan dalam Mahabharata masih belumsepenuhnya meyakinan para sejarawan dan para indolog.

Page 55: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

36/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Adapun temuan arkeologi yang dikaitkan dan disebut-sebut dalam Mahabharata adalah Painted Grey Ware (PGW),yaitu Hastinapura, Indraprastha, Ahicchatra, dan Kausambi.Atas temuan itu, disusun hipotesis untuk menyatakan bahwatemuan ini sezaman dengan era Mahabharata sekira 1100SM. Namun, temuan Ochre Coloured Pottery (OCP) diSanauli, Barnawa, dan Chandayana, Uttar Pradeshmemberikan hipoteis berbeda. OCP diperkirakan berasal daritahun 2000-1800 SM atau zaman Harappa akhir sehinggatemuan kereta dan persenjataan perang di wilayah tersebutmemberikan semangat baru untuk membangun hipotesisbaru bahwa kisah Mahabharata ada sekira milenium ke-2SM atau sejaman dengan periode Weda Awal. Seturutdengan asumsi bahwa kereta dan persenjataan perang yangditemukan itu lebih menyerupai gambaran dalam perangBharatayuddha. Kendati begitu, para sejarawan yang laintetap meragukan kesamaan antara Dasarajna Yuddha danBharatayudha, yang itu berarti, temuan OCP diperkirakansebagai peninggalan bangsa Arya dari zaman Rgweda awal,bukan pada zaman Mahabharata.

Adapun masa-masa sandyakalaning dinasti Kuruseperti dikisahkan dalam Mahabharata juga diperkirakanmemiliki relasi historis dengan makin melemahnya pengaruhkekuasaan para penerus Janamejaya. Misalnya, dinasti Kurudikatakan hanya memainkan peran politik yang tak begituberarti dalam sejarah India Kuno pada zaman Weda Akhir,tak sebanding dengan kejayaannya di masa sebelumnya.Figur yang muncul setelah era ini adalah Janaka, raja Widehayang dalam Satapatha Brahmana V. 1.1.13 dan AitareyaBrahmana VIII.14 disebut sebagai Samraj. Era Janakaberjarak sekira 5 hingga 6 generasi atau antara 150-200 tahundengan era Janamejaya atau diperkirakan berlangsungantara tahun 900–700 SM. Maharaja Janaka dikisahkan

Page 56: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

37/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dalam Itihasa Ramayana sebagai ayah dari Dewi Sita,meskipun lagi-lagi, aspek historisnya masih perlu dikaji lebihlanjut. Selain Wideha, masih terdapat sembilan negaraberdaulat lainnya di India bagian utara, yaitu Gandhara,Kekaya, Madra, Usinara, Matsya, Kuru, Pancala, Kasi, danKosala.

Memasuki abad ke-6 SM, sejarah politik India Kunomengalami masa kegelapan setelah melemahnyacengkeraman kuku monarki Wideha-Janaka. Kemunculannegara-negara berdaulat “Mahajanapada” di wilayah IndiaKuno dianggap sebagai tanda bahwa negara-negara tersebuttidak lagi berada di bawah kekuasaan Samraj, sebagaimanadicantumkan dalam teks Buddha, Anguttara Nikaya. Teksini menyebutkan sekurangnya ada 16 negara (solasamahajanapada), yaitu Kasi, Kosala, Anga, Magadha, Wajji,Malla, Chetiya (Chedi), Wamsa (Watsa), Kuru, Panchala,Surasena, Assaka, Awanti Machchha (Matsya), Gandhara,dan Kamboja. Catatan yang liyan ditemukan dalam teksJaina, Bhagawati Sutra, yang menyebut Kasi, Kosala, Bajji(Wajji), Anga, Magaha (Magadha), Malawa, Moli, Malaya,Achchha, Banga, Ladha (Radha), Wachchha (Watsa),Kochchha, Sambhuttara, Awaha, dan Padha (Pandya)sebagai negara yang terdaftar sebagai Mahajanapada.

Dari negara-negara yang terdaftar sebagaiMahajanapada dijelaskan bahwa Kasi, Kosala, Anga,Magadha, dan Wajji adalah nama negara yang sama-samadisebutkan dalam teks Anguttara Nikaya dan BhagawatiSutra. Sedangkan Malawa diidentikkan dengan Awati danMoli dengan Malla. Sehingga dapat diprediksi bahwa teksAnggutara Nikaya ditulis lebih dulu daripada BhagawatiSutra sehingga ada beberapa negara dalam AnggurataNikaya yang tidak disebutkan lagi dalam Bhagawati Sutra.Para ahli menyebut, negara-negara tersebut mungkin telah

Page 57: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

38/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

hilang pengaruhnya, mungkin juga runtuh pada saatBhagawati Sutra ditulis. Berkebalikan dengan ini, BhagawatiSutra menyebut sejumlah nama untuk negara baru yangtidak semuanya berada di wilayah India Utara, namun jugadatang dari India bagian selatan dan timur jauh. Lepas dariberagam hipotesis tersebut, dapat dipahami bahwaMahajanapada menjadi gambaran peta politik India Kunopada periode Weda akhir (sekitar 600 SM), yang pada saatbersamaan dengan itu, agama Buddha dan Jaina mulaimemiliki pengaruh yang luas di India.

2. Periode Kemunduran (543 SM-185 SM): terang dangelap kerajaan Magadha.

Akhir era Mahajanapada diperkirakan sekira abadke-6 SM yang ditandai dengan runtuhnya kekuasaan hampirsemua kerajaan yang digantikan dengan munculnyaimperium Magadha yang ditasbihkan sebagai kerajaanterbesar di India Kuno. Awalnya, kerajaan Magadhahanyalah satu dari solasa mahajanapada Mahajana pada yangwilayah kekuasaannya tercatat berada di sekitar Bihar,bagian selatan Gangga dengan Rajagriha sebagaiibukotanya. Selain Magadha, sebenarnya masih ada tiganegara berdaulat lainnya, yaitu Kosala, Watsa, dan Awantinamun tidak mampu menandingi kemegahan Magadha.Selain itu, juga lahir beberapa republik oligarki kecil lainnyayang didirikan oleh klan non Arya, yaitu Sakya diKapilawastu, Koliya di Ramagama, Bhagga di bukitSusumara, Buli di Allakappa, Kallama di Kesaputta, Moriyadi Phippalivana, dan Yakka di Alawaka yang didirikan olehklan non-Arya.

Page 58: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

39/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Magadha didirikan oleh Bimbisara atau juga dikenalsebagai Srenika atau Seniya yang berasal dari dinastiHaryanka. Teks Mahawamsa menyebutkan bahwaBimbisara dinobatkan pada usia 15 tahun oleh ayahnya(Bhattiya) dan memerintah Magadha selama 52 tahun (546-494 SM). Ikhwal pembentukan imperium Magadha diawalidengan perkawinan Bimbisara dengan anggota keluargapenguasa Madra, Kosala, dan Waisali. Perkawinan inimelapangkan jalan Bimbisara untuk memperlebar wilayahkekuasaannya melalui ekspansi ke India bagian baratdan utara. Melalui gerakan ekspansi politiknya itu,Bimbisara sukses menguasai wilayah Anga dan sebagianwilayah Kasi. Disebutkan juga bahwa Magadha berhasilmenguasai daerah Bihar hingga Benggal setelahmenundukkan Bajji dan Anga. Dalam keterangan yangdiperoleh dalam teks Mahawagga, wilayah kekuasaanBimbisara dikatakan mencapai 80.000 kota.

Setelah Bimbisara, Kunika Ajatashatru, putranya sendirihasil perkawinannya dengan Kosala berkuasa penuh diMagadha. Kunika Ajatashatru memerintah antara tahun 494-462 SM. Yang mengejutkan adalah beberapa catatan dalamteks Buddha menyebutkan bahwa Kunika Ajatashatru malahmembunuh sang ayah, Bimbisara dan permaisuri Kosalamelakukan bunuh diri (sati) demi cintanya pada Bimbisara.Alhasil, pemerintahan Kunika Ajatasatru banyak diwarnaikonflik dan beberapa peperangan. Merujuk pada sejumlahteks Buddha dan Jaina diketahui bahwa Kunika Ajatasatruberperang melawan raja Pasanedi, penguasa Kosala yangmenarik kembali pemberian sebagian wilayah Kasi (padaera Bimbisara) setelah saudara perempuannya (permaisuriBimbisara) meninggal. Kunika Ajatashatru juga diceritakanberperang melawan raja Cethaka-Waisali karena

Page 59: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

40/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

pelanggaran perjanjian terhadap wilayah Licchhawi yangmemiliki kekayaan berupa tambang permata.

Penerus Kunika Ajathashatru adalah Udayin atauUdayibhaddha. Teks Parisishtaparvan memberi petunjukpenting bahwa pada tahun keempat kekuasaannya, Udayinberhasil membangun ibukota baru di Pataliputra.Pemindahan kekuasaan dari Bihar (Rajagriha) ke Pataliputraini diperkirakan akibat penyerangan Pradyota, raja Awanti,yang sejak masa Kunika Ajatashatru adalah musuh utamaMagadha. Secara berturut-turut, pemerintah Udayinberlangsung antara tahun 462-446 SM, dilanjutkanArunadha dan Munda (446-438 SM), kemudian Nagadasaka(438-414 SM) yang sekaligus menandai peralihan dari dinastiHiranya ke dinasti Shishunaga. Dinasti Shishunagamemerintah Magadha dari tahun 414 SM hingga 346 SMlalu diteruskan oleh dinasti Nanda.

Pada masa selanjutnya, kerajaan Magadha diperintahdinasti Maurya yang berhasil menaklukkan kekuasaandinasti Nanda. Chadragupta Maurya menjadi raja pertama(322 SM) dan memperluas wilayah kekuasaannya ke baratmelintasi India tengah dan barat, serta menundukkanprovinsi yang ditinggalkan Alexander Agung. Dan pada 317SM, Chandragupta Maurya berhasil mendudukisepenuhnya daerah barat laut India. KeberhasilanChandragupta Maurya tersebut tidak lepas dari peran besarMaharsi Kautilya, seorang Brahmana dari Takshashila yangmenjadi penasihat sekaligus ahli strateginya. Pada masainilah, para pendeta atau Brahmana Hindu kembalimendapatkan kehormatannya dan menduduki sejumlahposisi penting dalam struktur pemerintahan. PemerintahanChandragupta Maurya berlangsung antara 322-298 SM, lalu

Page 60: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

41/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dilanjutkan Bindhusara (298-272 SM) dan Ashoka (272-232SM). Sepeninggal Ashoka, kekuasaan dinasti Mauryadianggap telah melemah meski masih ada beberapa rajayang tercatat dari dinasti Maurya, yaitu Dasaratha (232-224SM), Samprati (224-215 SM), Shalisuka (212-202 SM),Dewawarman (195-187 SM), dan Brihaddatha (187-185 SM).

Dapat dikatakan, sisi gelap akhir Magadha sebagai erakemunduran politik Hindu karena para penguasanya tidaklagi mempraktikkan ajaran-ajaran Hindu dengan taat. Saatmengalami sandyakalaning inilah menjadi masa kejayaanagama Buddha dan Jaina pada sisi yang lain. Secara politik,ironisnya raja-raja Magadha mulai memperlihatkan sikapanti Hindu (Brahmanisme), misalnya dengan melarangseluruh upacara yadnya menggunakan binatang sebagaikurban. Akhirnya, pada era kekuasaan dinasti Mauryahampir semua raja Magadha dikaitkan dengan agamaBuddha dan Jaina. Kenyataan ini ditemukan dalam teksBuddha yang mengklaim bahwa Bimbisara telah mencapaitingkatan pencerahan dalam ajaran Buddha atau Sotappana.Di lain pihak, teks-teks Jaina juga menyebut Bimbisarasebagai pengikut Jaina dan setelah kematiannya terlahirkembali sebagai Mahapadma (Padmanabha), yaitu salahseorang thirtankara masa depan. Hal yang sama jugadikaitkan dengan Ashoka yang diyakini memiliki jasa palingbesar dalam penyebaran agama Buddha, terutama di AsiaTengah dan Asia Selatan. Namun demikian, pada eraMaurya inilah umat Hindu diberikan ruang yang luas untukmempraktikkan agamanya, misalnya membangun kuil-kuilHindu. Keleluasaan ini terjadi karena pengaruh MaharsiKautilya dalam kebijakan politik dinasti Maurya,sebagaimana yang disampaikannya dalam Arthasastra.

Page 61: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

42/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

3. Periode Kebangkitan (300 SM-700 M): ritual Hindu,kesultanan Islam, dan politik modern

Setelah mengalami kemunduran yang telak, politikHindu mulai bangkit yang ditandai munculnya sosokPusyamitra Shunga, seorang Brahmana yang berhasilmenggulingkan kekuasaan Bhrihaddatha Maurya pada 185SM. Sosok Pusyamitra Shunga dan kiprahnya tercatatdalam kitab Harshacarita yang menceritakan bahwa padasaat raja Brihaddatha sedang mengadakan inspeksi pasukandalam sebuah parade, ia dibunuh oleh Pushyamitra, senaniatau senapati perang kerajaan Magadha. Setelah peristiwaitu, Pusyamitra Shunga merebut kerajaan Magadha dariMaurya dan mendirikan dinasti Brahmana bernamaShunga. Sejatinya, wilayah kekuasaan Magada di bawahdinasti Sunga meliputi beberapa bagian, yaitu bagian tengahkerajaan Magadha (Maurya) lama, dan pusat kota Ayodhyadi India bagian tengah-utara. Cakupan wilayah kekuasaanini tertulis dalam prasasti Dhanadewa-Ayodhya. Dapatdikatakan, Pushyamitra Sungha memiliki peransignifikan dalam kebangkitan kembali politik Hindu diMagadha, khususnya dalam sikap dan kebijakan politiknyaterhadap agama Buddha yang hampir selama 300 tahunmenguasai India.

Adapun sosok Pushyamitra Sungha, banyak disebut-sebut kitab agama Buddha dan catatan Taranatha, sejarawanBuddha yang berasal dari Tibet yang diperkirakan hidupsekitar abad ke-16 masehi. Kitab Buddha dan Taranathamenyatakan bahwa Pushyamitra Sungha adalah rajaBrahmana yang kejam. Pushyamita Sungha bahkan disebutsebagai orang yang tidak percaya dengan ajaran-ajaran SangBuddha, dan dia sendiri diyakini sebagai pemimpindalam penyerangan dengan membakar Wihara dan

Page 62: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

43/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

menghancurkannya, serta membunuh para Bhikku.Pernyataan ini dikuatkan oleh kitab Buddha lainnya, salahsatunya kitab Diwyawadana.

Namun citra Pushyamitra Sungha juga menga-gumkan. Ia dipandang sebagai Brahmana yang sangat gigihdalam melindungi, mempertahankan, dan menyebarkankembali agama Brahmana. Ia pula menjadi pioneer untukmendobrak dan memusnahkan pengaruh agama Buddhadi India. Pada masa kekuasaannya inilah ia menghidupkankembali kejayaan agama Brahmana dengan melaksanakankembali kurban binatang (pasuyajna) yang sebelumnyasempat dilarang keras oleh Ashoka. Dilaksanakannyakembali ritual keagamaan Hindu, seperti Aswamedha-yadnya dalam pemerintahan Pushyamitra Sungha jugadisebutkan dalam prasasti Ayodya. Bersamaan dengan itujuga, sejumlah mazhab Hindu mulai bermunculan, terutamayang paling penting dan berpengaruh mazhab Shaiwa danWaishnawa. Kedua mazhab ini berperan besar memudarkanpengaruh agama Buddha di India.

Secara berturut-turut, dan menurut silsilahnya,Pushyamitra Sungha memerintah Magadha dari tahun 185SM hingga 159 SM. Selanjutnya diteruskan oleh Agnimitra(149-141 SM), Wasujyesta (141-131 SM), Wasumitra (131-124 SM), Bhadraka (124-122 SM), Pulindaka (122-119 SM),Ghoshawasu (119-108 SM), Wajramitra (108-94 SM),Bhagabhadra (94-83 SM), dan Dewabhuti (83-73 SM).Setelah kekuasaan dinasti Sungha berakhir, kerajaanMagadha dikuasasi oleh dinasti Kanwa antara 73 SM hingga30 SM, yang kemudian ditaklukan oleh dinasti Saliwahana.Tanda dan bukti epigrafis dan numismatik telah menguatkandugaan bahwa setelah dinasti Saliwahana, hegemoni dan

Page 63: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

44/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dominasi kerajaan Magadha telah berakhir dan munculkerajaan baru di bawah dinasti Mitra dari Kausambhi dariabad ke-1 SM hingga abad ke-3 M. Periode ini dapatdikatakan sebagai lenyapnya imperium Magadha di India.

Baru setelah abad ke-3 M, mulai muncul beberapanegara baru di India. Misalnya, Dinasti Kushana menguasaisebagan besar wilayah Srilanka pada abad ke-4 M, ataudalam sejarah Buddhisme disebut sebagai “Ashoka kedua”.Kemudian muncul juga era “Gupta kedua” yang dipimpinChandragupta, Samudragupta I, dan Samugragupta IIantara abad ke-4 hingga ke-7 M. Periode Gupta inilahdianggap sebagai periode akhir Hindu klasik. Setidaknya,dari abad ke-7 hingga ke-10 telah terdapat tiga dinasti yangmenguasai India Barat, yaitu Gurjara Pratihara di Malwa,Pala di Bengal, dan Rasthrakuta di Deccan. Pada masa ini,Muhammad bin Qasim juga telah melakukan invasi kewilayah Sindhu (711 M). Setelah abad ke-13, India akhirnyadikuasai kesultanan Islam yang berpusat di Delhi hinggaabad ke-16 M. Salah satu kerajaan Hindu yang muncul padaperiode ini adalah Wijayanagar di India Selatan (1333 M).Setelah berkuasanya kesultanan Islam, India memasukiimperialisme Eropa dan dikuasi kerajaan Inggris (1858-1947M). Pascakemerdekaan India pada 15 Agustus 1947, Indiasudah memasuki periode sejarah politik modern.

B. Arthasastra: Pesan Politik Kepada PenguasaNegaraArthasastra yang disusun Kautilya banyak mengambil

bahan baku dari literatur politik Hindu kuno, tradisi politik, danpengalaman hidupnya. Menurut Sil (dalam Avalokitesvari),16

16 Ni Nyoman Ayu Nikki Avalokitesvari. “Canakya Arthasastra: Warisan PolitikKenegaraan Hindu” dalam I Nyoman Yoga Segara (ed). 2019. Politik Hindu. Sejarah,Moral dan Proyeksinya. Denpasar: IHDN Press, hlm. 19-24

Page 64: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

45/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Arthasastra diartikan sebagai sastra (science) of artha (wealth orterritory with human population). Namun Arthasastra bukanhanya tentang “the science of wealth” tetapi juga “political science”atau “the science of government”. Oleh karena itu Kautilya secarakhusus juga menulis tentang pemimpin, moral politik yangdijelaskannya sebagai rajanitisastra atau rajanitisamuccaya.

Avalokitesvari secara rinci menjelaskan bahwa kitabArthasastra terdiri dari dari 32 bagian, 15 adikarana (buku)dengan 150 bab, 180 Prakarana (bagian yang ditujukan untuktopik tertentu) dan 6000 sloka. Berdasarkan data ini, tidak keliruArthasastra dianggap sebagai kompendium lengkap atau sebuahrisalah mengenai tata pemerintahan sebuah negara. Risalah yangsangat komprehensif ini membahas berbagai hal yang berkaitandengan masalah serta fungsi-fungsi yang dibutuhkan padaadministrasi dalam negeri sekaligus hubungan luar negeri sebuahnegara. Kompendium ini memberikan pendidikan kepadapenguasa negara tentang cara untuk mencapai tujuan nasionalnegara seperti perluasan pengaruh dari kerajaannya.Kompendium ini tidak hanya luas, namun juga terperinci.Bagaikan sebuah panduan praktis yang tak terlalu mengikatdan baku untuk dapat menghadapi kondisi lingkungan strategisyang selalu berubah-ubah dari sebuah negara. Tidak keliru juga,banyak ahli membandingnya dengan pemikir hebat padamasanya, sebut saja Plato, Aristoteles, dan Machiavelli.

Menurut Kautilya, seorang raja atau pemimpin negaraharus berupaya mengakumulasi kekuatan negaranya untukmenjadi yang terkuat, dengan maksud agar negara aman dariserangan negara lain. Kitab Arthasastra hadir sebagai jawabanatas kondisi umum sistem internasional yang bersifat anarki yangmemperlihatkan tanpa supremasi yang lebih tinggi dari negara.Keadaan ini diperparah dengan nirkesepakatan terhadap

Page 65: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

46/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

penghormatan atas kedaulatan dan batas teritori suatu negara,selaiknya yang sedang menjadi tren dimasa modern saat ini.Padahal pada masa dinasti Candragupta misalnya, sistem yangada telah sanggup mengembangkan realisme. Pandangan inimengedepankan self-help, yaitu sebuah upaya negara untuk terusmengakumulasi kekuatan-kekuatan itu agar keberlangsungannegara tetap terjaga.

Secara mainstream, ada dua arus utama pandangan yangberkembang dalam antarnegara, yaitu antara menaklukkanatau ditaklukkan. Pengembangan power atau growth negara bisaterjadi ketika negara berhasil mengakuisisi wilayah kerajaantetangganya atau kerajaan-kerajaan lain yang ditaklukkannya.Akuisisi ini dianggap penting karena dengan strategi itu, sebuahkerajaan yang powerful akan memperoleh tidak hanyapenambahan wilayah, memperbesar asset, tapi juga penguasaanmelalui upeti dan sumber daya alam yang terdapat padakerajaan yang dikalahkannya. Cara pandang seperti ini menjadisalah satu fokus pemikiran politik Kautilya yang menganggapbahwa negara adalah institusi tertinggi yang wajib dijagakeberlangsungannya. Artinya, seorang raja yang menjadipenguasa negara harus memiliki tanggung jawab yang besaruntuk menjalankan tata kelola negara. Memang, kekuasaan itubersifat absolut, namun ini tidak bermakna bahwa raja dapatbertindak sewenang-wenang. Hal ini karena Kautilya tetapkukuh dengan moralitas dari filsafat politik praktisnya yangbertujuan untuk mengutamakan kebahagiaan dan kesejahteraanrakyatnya.

Bagi Kautilya, segala daya upaya untuk membahagiakandan mensejahterakan rakyat adalah tugas utama seorangpemimpin, terlebih ia terikat oleh sumpah suci sebagai raja yangbersedia untuk bekerja secara aktif untuk meningkatkankesejahteraan negara dan rakyatnya. Pada sisi yang bertolak

Page 66: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

47/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

lainnya, seorang raja dilarang untuk mencari kesenanganpribadinya karena kesenangan raja belum tentu diametraldengan keadaan rakyatnya. Jika penguasa sejahtera tapirakyatnya tidak, maka penguasa itu dianggap gagalmewujudkan salah satu tujuan bernegara, yaitu mensejahterakanrakyat. Seorang penguasa negara juga harus memilikikemampuan mumpuni untuk mencegah segala gangguan danancaman terhadap negara yang telah dan akan timbul, lalumengatasinya, dan terakhir menghentikan secara tuntas bahayayang membahayakan keselamatan negara.

Pesan politik yang ingin disampaikan Kautilua dalamArthasastra begitu kuat. Resonansi ini berangkat dari ketegasansikap hidupnya, tentu juga konsistensinya dalam menjalankanfungsi-fungsi negara. Bagi Kautilya, negara membutuhkanadministrasi untuk menjamin kelangsungan tata kelola dalamnegeri maupun hubungannya dengan luar negeri. Risalah yangingin disampaikan dianggap sebagai pendidikan bagi penguasanegara secara detail, analog panduan praktis untuk menghadapikondisi lingkungan strategis yang selalu berubah-ubah darisebuah negara.

Berdasarkan latar di atas, kuat alasannya mengapa Kautilyamemulai pembahasannya dalam adhikarana (buku) pertamamengenai raja yang harus melewati sejumlah pelatihan khusus,prosedur pengangkatan menteri, pejabat negara, keamanan danmenjaga keselamatan negara. Alasan yang sama juga dilakukanKautilya pada adhikarana ketujuh saat ia menjabarkan teorimandala, lingkaran negara dan juga teori enam kebijakan luarnegeri yang dapat digunakan dalam ragam situasi. Teori-teoriitu secara konsisten digunakan untuk mencapai tujuan akhiryang telah ditetapkan, yaitu memastikan semua rakyat dalamkeadaan sejahtera.

Pada Adhikarana-adhikarana selanjutnya, Kautilyamembahas secara rinci berbagai topik sebagai pengetahuan

Page 67: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

48/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dalam membangun negara yang kuat, strategi melakukanpertempuran maupun cara-cara rahasia untuk menaklukkanmusuh. Secara eksplisit pula, Kautilya Arthasastra mengajarkansecara detail teknik dan metode untuk membangun sebuahnegara dan memelihara kekuatannya dalam lingkungan yangkompetitif secara strategis, dan dalam kekuasaan adversarialdengan bahaya inheren dari subversi politik serta ketidakstabilansosial. Semangat Kautilya ribuan tahun silam ini tampak terasahidup di masa kini saat kondisi global yang mengalami disruptionmenjangkiti negara diberbagai belahan dunia.

C. Menjalankan Swadharma sebagai Praktik Politik HinduJika kembali membaca kitab Weda Sruti, terang disebutkan

tentang apa dan bagaimana seorang umat Hindu seharusnyamelaksanakan kewajibannya sebagai warga negara. Artinya,terminologi dharma negara yang kita kenal selama ini sebenarnyamengandung banyak aspek, mulai dari isu kepemimpinan,politik, keamanan, medan perang, bahkan juga tentangpenghasilan dan pengadilan. Pertanyaan tentang apa kontribusisetiap warga (umat Hindu) kepada negara, jelas adalahpertanyaan politik, baik yang dapat dilakukan melalui konsepdharma negara maupun tentu saja melalui dharma agama. Surpi17

menjelaskan cukup jernih kewajiban-kewajiban setiap umatHindu, terutama narasi tentang dharma agama yangmenurutnya telah banyak terhampar dalam Regweda,Samaweda, Yajurweda dan Atharwaweda.

Bagaimana menjalankan kewajiban (dharma) itu juga dapatditemukan dalam teks-teks penting lainnya, seperti Ramayana,Mahabharata, dan Arthasastra. Pesan yang sama jugaditemukan dalam Pustaka Pararatwan I Bhumi Jawadwipa,

17 Lihat lebih lengkap Ni Kadek Surpi. “Moral Politik dan Merosotnya Kualitas PeradabanManusia” dalam I Nyoman Yoga Segara (ed), 2019. Politik Hindu.Sejarah, Moral danProyeksinya. Denpasar: IHDN Press. hlm. 59-61.

Page 68: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

49/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Pustaka Rajya-Rajya I Bhumi Nusantara, Naskah TanjungTanah (naskah Hindu tertua di Asia Tenggara) yang hampirsemuanya menjelaskan tentang jalan ksatriya untukmempersembahkan hidupnya kepada ibu pertiwi yangdianggap sebagai persembahan tertinggi. Pengorbanan inidianggap sebagai jalan terhormat dalam konsep teologi patriotikyang menjadi pondasi politik dan tata negara serta membangunkesejahteraan negara dalam Hindu.

Lebih lanjut, Avalokitesvari bahkan menyatakan tegasbahwa agama Hindu sendiri jika harus menyebutnya sebagai“bangunan ilmu” juga merefleksikan konsep teologi yangselama ini belum banyak didiskusikan, utamanya teologi cintatanah air atau kecintaan kepada ibu perthiwi. Konsep ini dapatdengan rinci ditemukan dalam Atharwaweda XII.1.2,Atharwaweda IX.10.12, Atharwaweda XII.1.1, YajurwedaXXV.17, dan Yajurweda IV.22. Tidak saja dalam teks suci, konsepini juga sangat banyak disebut-sebut dalam kitab Weda Smrti,salah satunya dalam Ramayana Yudha Kanda. Disebutkanbahwa Sri Rama, tokoh sentral dalam Itihasa Ramayana,mengajarkan bahwa tanah air dan mencintainya jauh lebihtinggi dari surga sehingga setiap putra dari ibu pertiwi wajibmendedikasikan dirinya untuk negeri tempat ia dilahirkan. Apayang diwedarkan Sri Rama ini sekaligus juga memotivasiuntuk membangun teologi patriotik sebagai dasar praktikdharma negara. Saat ini kecintaan kepada tanah air, juga mulaidikembangkan dengan semangat bela negara, patriotisme,nasionalisme yang semuanya diarahkan untuk mewujudkannilai-nilai kebangsaan. Dalam Hindu, semua aspek yangberkenaan dengan kecintaan pada tanah air disebut prthiwibhakti.

Selain dalam Itihasa Ramayana, konsep kecintaan padatanah air juga tak kalah menariknya ditemukan dalam Itihasa

Page 69: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

50/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Mahabharata. Dalam kisah pertarungan keluarga Bharata inidijelaskan bahwa konsep kecintaan pada tanah air dapat terdiridari dasar-dasar mencintai tanah air, ilmu pemerintahan,keahlian setiap putraprthiwi yang sangat dibutuhkan dalammembela dharma hingga ke aturan perang dan perdamaian.Perang besar di Kuruksetra yang terjadi hampir 5000 tahunsilam memperlihatkan bagaimana seorang putra prthiwiharusberdiri mengorbankan jiwa raganya demi negara. Dalam perangkolosal ini juga ditegaskan bahwa Hindu bukanlah agama yangmengajarkan perang atas agama, melainkan atas perangmelawan kebatilan, kezaliman dan syahwat kekuasaan.

Kisah Arjuna yang tidak tahan dan ingin pergi dari medanperang saat melawan orang-orang yang dicintainya, juga sangatmenarik untuk membincangkan konteks swadharma di atas. Saatmendapati Sang Partha lunglai dan tidak ingin melanjutkanpertempuran, Sri Krishna datang sebagai motivator denganmenyatakan bahwa tugas utama seorang ksatria adalahmembela negara dan kebenaran. Jika pembelaan itu harusdilakukan di medan perang, maka ia harus total melakukannya.Resiko dari pengorbanan itu adalah membunuh dan dibunuh.Oleh karena itu, Krishna meminta Arjuna melanjutkanpeperangan sebagai cara terbaik menjalankan swadharmaksatria. Menurut Krishna, Tuhan menjamin seorang ksatriadengan pahala surga jika ia mati menjalankan swadharmanyadi medan perang. Sebaliknya, seorang ksatria yang lari daritanggung jawab dan desersi, diibaratan seseorang yang memilikiluka namun tidak pernah menemukan obat penyembuh hinggaakhir hayatnya. Ksatria pengecut itu akan menderita sepanjanghidupnya [*]

Page 70: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

51/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB EMPATFILSAFAT POLITIK, TEORI POLITIK DAN

AJARAN NITI

“Sumber kehidupan umat manusia adalah Artha (kesejahteraan),dengan kata lain, adalah Bumi (dengan segala isinya) yang dihunimanusia. Ilmu yang mencakup cara untuk memperoleh hasil danmelindungi Bumi adalah Arthasastra, Ilmu Politik”(ArthasastraBuku Kelima Belas, Bab Satu, Bagian 180: 1-2)

A. Politik Hindu dan Kekuasaan dalam Dimensi FilosofisPemikiran politik Kautilya dalam Arthasastra mungkin

tidak sama persis dengan pengertian ilmu politik modernsebagaimana ahli politik mendefinisikannya secara ketat.Namun, jika membaca ulang definisi politik dari para ahli, tentusaja apa yang diajarkan Kautilya berintersepsi pula dengan ilmupolitik, salah satunya karena berbasis manusia dan segalatindakannya. Faktor manusia pula telah menjadi inti dari politik,sehingga telaah terhadap ilmu politik tidak bisa meninggalkanfaktor manusia. Djawamaku (dalam Abdulkadir B. Nambu danMuhammad Rusdiyanto)18 mengatakan bahwa pribadi seorangmanusia adalah unit dasar empiris analisa politik. Bahkan asalkata politik, yaitu politic menunjukkan sifat pribadi atauperbuatan. Kata politik juga telah lama dikenal dalam beberapa

18 Baca Abdulkadir B. Nambu dan Muhammad Rusdiyanto Puluhuluwa. “MemahamiTentang Beberapa Konsep Politik (Suatu Telaah dari Sistem Politik)”. Jurnal Mimbar.Volume XXI No. 2 April-Juni 2005: 262-285.

FILSAFAT POLITIK, TEORI POLITIKDAN AJARAN NITI

..........................................................................................BAB EMPAT

Page 71: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

52/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

bahasa. Misalnya, “politicus” dalam bahasa Latin, dan“politicos” yang diartikan relating to a citizen. Kedua kata, baik“politicus” dan “politicos” berasal dari kata “polis” yangbermakna city atau kota. Asal kata politik ini juga terserap kedalam bahasa Indonesia, yang diartikan segala urusan dantindakan/kebijaksanaan, siasat, dlsb mengenai pemerintahansesuatu negara terhadap negara lain, tipu muslihat ataukelicikan.19

Dalam perjalanan selanjutnya, disiplin ilmu politik dapatditelusuri dari sejarahnya. Isitilah politik sendiri pertama kalidikenal pada masa Yunani Kuno melalui Plato yang menulisbuku Politeia. Buku ini juga memperkenalkan istilah republik.Karya Plato diteruskan muridnya, Aristoteles melalui karyanya,Politicia. Dua karya filosof ini dianggap sebagai awal mulapemikiran politik karena keduanya mengajarkan tentangbagaimana mengatur masyarakat dan bagaimana sebuahpemerintahan dapat dijalankan untuk mewujudkan kelompokmasyarakat atau organisasi negara dengan baik.20 Tentu saja,definisi lain tentang ilmu politik dapat kita baca dari pendapatahli. Misalnya, Budiardjo21 menyatakan bahwa politik adalahbermacam-macam kegiatan dalam suatu sistem politik (ataunegara) yang menyangkut proses menentukan tujuan-tujuandari sistem itu dan melaksanakan tujuan-tujuan itu. Noer22

kembali menyatakan bahwa politik tidak terbatas pada suatukegiatan yang berkenaan dengan hanya decision making ataupublic politicies. Simpulan dari dua pendapat ini menunjukkanbahwa sistem politik sebagai hubungan manusia meliputibentuk-bentuk kekuasaan, pengawasan, pengaruh, sehinggapengertian politik tidak terbatas hanya pada soal negara tetapijuga menyangkut bentuk yang lain, seperti komunitas,perkumpulan sosial, dan organisasi.19Ibid., hlm. 263.20Delia Noer. 1983. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta: Rajawali. hlm. 11-1221Miriam Budiardjo. 1983. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta: Gramedia. hlm. 822Delia Noer., Op.Cit. hlm 11-12

Page 72: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

53/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Berdasarkan definisi di atas, apa yang disampaikan Kautilyadalam Arthasastra dapat saja digolongkan sebagai bagian dariilmu politik karena prasyarat sebagai ilmu politik jika merujukpendapat ahli sudah terpenuhi. Namun saya juga inginmengelaborasinya melalui dimensi filosofis, entah pemikiranpolitik dan atau kekuasaan, tetapi juga disiplin ilmu lainnya.Disebut mengandung dimensi filosofis karena kitab ini selaindisusun oleh seorang maharsi besar dengan intuisi suci sebagaibrahmana, juga mengajarkan konsep mengelola negaraberdasarkan agama Hindu. Alasan ini pula, Arthasastradimasukkan sebagai kitab ilmu pemerintahan dan tergolongUpaweda, yaitu kitab yang sangat dekat dengan Weda Smrti.Selain Arthasastra, kitab Upaweda lainnya adalahGandharwaweda (ilmu seni), Dhanurweda (ilmu berperang) danAyurweda (ilmu pengobatan). Artinya pula, dengan begituluasnya konsep dan ajaran yang terkandung dalam Arthasastra,kitab ini menjadi glorifikasi pemikiran Kautilya.

Selain itu, dalam sebuah proses kontemplasi, sayamengingat-ingat kembali salah satu keabadian sifat khas darifilsafat, yaitu ruhnya akan terus dapat hidup melintasi ruangdan waktu, dan yang selalu menawarkan idealisasi sebuahpandangan besar. Perenungan ini menjadi entry point untukmemahami bukankah apa yang dipikirkan Kautilya dalamArthasastra di masa lalu juga sangat idealistik, bahkan sebagianpikirannya masih akan terus dapat bersenyawa dengankehidupan di masa kini. Dalam benak saya, sebuahpengetahuan—terlebih berdimensi filosofis—hadir untukmerekatkan seluruh pengalaman manusia dengan dirinyasendiri, kehidupan dan termasuk imajinasinya tentang masadepan. Perjalanan filsafat, betapa pun tuanya, bahkanpencetusnya sendiri telah lama mati, akan ikut sertamendampingi hidup manusia kini, merasuki alam batiniah danjasmaniah. Ia (filsafat) seolah terus hidup, bahkan ketika

Page 73: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

54/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

kehadirannya tidak dikehendaki. Jika kehidupan ini ibaratpuzzle, adalah tugas filsafat menyambung kembali bidak-bidakyang tercerai itu dengan satu universalisme ideologi, baik yangdisukai maupun yang dibenci sekalipun. Kehadiran filsafatmelingkupi ruang spasial manusia dari waktu ke waktu. Salahsatu kekhususan filsafat, barangkali terletak pada titik tolakpembahasannya yang lebih elaboratif. Jika ilmu pengetahuansering hanya sampai pada pencarian know-how, filsafat biasanyamemasuki pintu know-why. Ada usaha tanpa lelah untukmempersoalkan sebuah esensi, yang kemudian dipertanyakanberdasarkan kategori-kategori yang dalam ilmu filsafatdimanifestasikan ke dalam epistemologi, ontologi dan aksiologi.Pendek alasan, kategori ini bagi saya tetap bermuara pada ujungyang sama, yaitu pencarian makna hakiki yang melampuibatasan temporal untuk martabat kemanusiaan.

Mengingat pemikiran politik dan kekuasaan Kautilyapenuh dengan emanasi filsafat, dan dengan asumsi itu, makasaya memiliki kesempatan juga untuk mengkonstruksinyasebagai filsafat politik. Oleh karena itu, isu pertama yang harusditelusuri adalah subject matter dari filsafat politik. Usaha inimembawa saya juga harus memahami geneologi filsafat politik,terutama ahli politik di Barat. Beberapa pendapat pentingtentang filsafat politik, dapat dimulai dari Alan Brown23

yang menyatakan bahwa filsafat politik ada sejak manusiamenyadari dirinya dapat hidup satu sama lain dengan cara yanglebih bermanfaat. Artinya, kerjasama di antara manusia sangatdimungkinkan, dan usaha menata kehidupan bersama yangideal melalui rasionalitas mulai dikembangkan. Denganrasionalitasnya, manusia menyadari bahwa berbagai pilihanterbuka untuk mengatur dan mengembangkan kehidupanbersama, meskipun tidak selalu jelas mana di antara berbagaipilihan itu yang dapat dianggap paling baik.

23Alan Brown. 1986. Modern Political Philosophy. Middlesex: Penguin Books, hlm. 11

Page 74: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

55/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kita bisa mulai mendiskusikan filsafat politik secara panjanglebar dari pernyataan Brown di atas yang lebih lanjutmengatakan, dengan rasionalitasnya manusia mencobamempertanyakan apa hakikat dari organisasi masyarakatyang baik dan tepat. Pernyataan tentang yang baik dan yangbenar seperti ini telah lama menjadi “perkelahian” dalamstudi filsafat politik, terutama antara paham teoleogi dandeontologi. Pertanyaannya adalah mana yang lebih utama,apakah prinsip kebaikan harus mengalah pada prinsipketepatan, ataukah prinsip ketetapan harus diletakkan dibawah prinsip kebaikan,24 atau “bagaimana cara hidup yangterbaik dan paling tepat bagi manusia, entah sebagai individumaupun kelompok”. Tulisan Brown memberi insight bahwafilsafat politik adalah studi tentang penilaian dan kritik moralterhadap proses yang melandasi sebuah kehidupan sosial, politikdan ekonomi demi penciptaan susunan organisasi masyarakatyang baik dan tepat. Secara tegas Brown menyatakan bahwafilsafat politik berkenaan dengan hal-hal praktis atauberhubungan dengan bagaimana pengaturan dan pengor-ganisasian kehidupan masyarakat yang seharusnya. Cara lainuntuk lebih memahami subject matter filsafat politik adalahdengan membedakannya dari ilmu politik dan teori politik.Kembali pada Brown25 yang menyatakan bahwa pokokperhatian ilmu politik adalah realitas atau peristiwa politik sepertiperebutan kekuasaan, kecenderungan memilih, hubunganantara kelas sosial dalam masyarakat dengan partai politikdan teori yang menjelaskan realitas dari berbagai peristiwapolitik itu sendiri.

24 Untuk mendiskusikan teori kebaikan dan teori kebenaran seperti ini dapat dibacadalam Richard B. Brand. 1979. Theory of the Good and The Right; juga Pettit Philip, “TheContribution of Analytical Philosophy”, in A Companion to Contemporary PoliticalPhilosophy, Robert E. Goodin and Philip Pettit (eds). 2004.

25 Alan Brown., Op.Cit., hlm. 14

Page 75: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

56/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Selain Brown, pemikiran filsafat politik juga disampaikanSheldon S.Wolin26 yang menyatakan bahwa:

Filsafat politik bukan sekadar hasil refleksi pasif atau mirrorimages tentang masyarakat. Ini semata karena jauh sebelummanusia mulai berfilsafat tentang masyarakat, institusipolitik dan struktur sosial sudah ada lebih dahulu sehinggabatas dan substansi dari subject matter filsafat politiksebagian besar ditentukan oleh praktek-praktek yang sudahada dalam masyarakat.Kecenderungan ini tampak dalam filsafat politik klasik,

seperti dipikirkan Plato yang tidak membedakan filsafatpolitik dan filsafat pada umumnya, karena penyelidikantentang the nature of the good life of individual diasosiasikandengan penyelidikan yang mempertemukannya dengan thenature of the good community. Banyak filsuf klasik memberikansumbangan pada perkembangan ide-ide politik, denganmenawarkan metode analisis dan kriteria penilaian, dan karenaitu secara historis perbedaan utama antara filsafat dan filsafatpolitik sering dianggap sebagai masalah spesialisasi, bukansebagai masalah metode atau pembawaan.27 Persekutuan yangerat antara filsafat dan filsafat politik ini menjelaskan mengapapara filsuf politik menerima dorongan untuk mengejarpengetahuan yang sistematis seperti yang dilakukan para filsufpada umumnya. Namun, ada pengertian lain yang lebihfundamental tentang keterkaitan yang erat antara filsafatpolitik dengan filsafat pada umumnya. Filsafat dipahami sebagaiusaha mengejar kebenaran hingga ke akar-akarnya, meskipunkualitas esensial tentang apa yang “politis” (political) mulaimendapat perhatian di kalangan para ahli teori politik danpokok masalah filsafat politik mulai terbentuk dengan

26Sheldon S. Wolin. 2004. Politics and Vision. Expanded Edition. New Jersey: Princeton University Press. hlm. 727Ibid., hlm. 4

Page 76: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

57/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

menentukan keterkaitannya dengan apa yang dianggap“publik”.28

Pendapat Wolin, agak sejalan dengan pikiran WilliamL. McBride29 yang menyatakan “filsafat politik selalumengandung aspek aktif dan kreatif, yang terpisah atau berbedadengan keadaan yang sedang berlaku, dan dengan demikianjuga mengimplikasikan adanya kritik terhadap keadaan yangada pada saat ini”. Pandangan McBride ini menandakan bahwafilsafat politik juga memiliki sejumlah karakteristik yang lain.Salah satu yang utama adalah studi filsafat politik pada dasarnyamerupakan cabang dari filsafat praktis (practical philosophy),yaitu cabang filsafat yang terkait erat dengan etika atau filsafatmoral, yang bertugas menangani pertanyaan moral darikehidupan publik. Para ahli mengakui adanya kontinuitas yangfundamental antara moralitas dan filsafat politik. Artinya pula,filsafat moral sangat menentukan latar-belakang dan batas bagifilsafat politik.

Namun Will Kymlicka30 memiliki pandangan sedikitberbeda di antara para filsuf politik menyangkut pembagianbidang moralitas dan filsafat politik serta tentang kriteria untukargumen yang dianggap paling berhasil. Filsafat politik berbedadengan etika karena etika berhubungan dengan dimensi moralpribadi, misalnya bagaimana seseorang seharusnya hidup, nilaiatau gagasan ideal apa yang seharusnya dipegang dan aturanhidup macam apa yang hendaknya diperhatikan. Namun,perbedaan antara moralitas pribadi dan filsafat politik yangmenekankan etika bersama tidak mudah ditentukan. Aristotelesmisalnya menyatakan bahwa negarawan tidak bolehdikacaukan dengan pemilik budak atau kepala rumah tangga.

28Ibid., hlm. 429William L. McBride. 1994. Social and Political Philosophy. New York: Paragon

House.30Will Kymlicka. 1990. Contemporary Political Philosophy: An Introduction. Oxford: Oxford

University Press. hlm. 6.

Page 77: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

58/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Negarawan menyangkut sesuatu yang ’politis’, sedangkanpemilik budak atau kepala rumah tangga tidak bersangkutpaut dengan yang ’politis’. Masalahnya kemudian, para filsufpolitik ketika memisahkan subject matter yang dalam realitasnyatidak bisa dipisahkan, karena kenyataannya tanggungjawabmoral yang ada pada seseorang kepada orang lain kadangmenjadi sesuatu yang pribadi, hanya melibatkan peraturanperilaku personal, namun kadang juga menjadi masalah publik,yakni harus dipaksakan melalui lembaga-lembaga politik.Akan tetapi, karena filsafat digambarkan sebagai usaha sistematisuntuk memahami prinsip yang mendasari semua hal,penyelidikan tentang apa yang ’politis’ (political) dianggap harusmembentuk bagian dari usaha berfilsafat secara umum.31

Pendapat lain dapat dicerap dalam Jonathan Wolf32

yang menyatakan bahwa karakteristik lain dari filsafat politikadalah pengetahuan normatif, yaitu filsafat politik mencobamembentuk norma (aturan atau standar ideal), yang dapatdibedakan dari pengetahuan deskriptif, yaitu mencobamenguraikan bagaimana sesuatu itu secara apa adanya. Studinormatif mencari tahu bagaimana sesuatu itu seharusnya: apayang benar, adil dan secara moral tepat, sementara studipolitik deskriptif dilakukan oleh ilmuwan politik, sosiolog, danahli-ahli sejarah. Analisa yang bisa diajukan di sini, misalnya,meskipun filsuf politik memiliki perhatian yang sama sepertihalnya ilmuwan politik yang mempertanyakan distribusibarang-barang dalam sebuah masyarakat, maka seorang filsufpolitik (berbeda dengan ilmuwan politik) akan memusatkanperhatiannya pada aturan atau prinsip apa yang menentukandistribusi barang-barang tersebut. Seorang filsuf politik tidakbertanya ’bagaimana properti itu didistribusikan’, tetapi

31William L. McBride. Op.Cit., hlm. 132Jonathan Wolf. 2006. An Introduction to Political Philosophy. Revised Edition. Oxford:

Oxford University Press.

Page 78: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

59/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

’distribusi properti semacam apa yang adil dan fair’, ia tidakbertanya ’hak dan kebebasan apa yang sesungguhnya dimilikirakyat’ tetapi ’hak dan kebebasan apa yang seharusnya dimilikirakyat’. Tentu saja, pembagian antara studi normatif dan studideskriptif tidak selalu sejelas seperti yang mungkin disangkakarena masalah perilaku manusia seringkali berada di antaradua titik pembagian deskriptif dan normatif.

Dengan demikian, teori politik merupakan kumpulandoktrin-doktrin tentang organisasi masyarakat politik yangdiinginkan, seperti liberalisme, sosialisme atau anarkisme.Doktrin teori politik adalah deskripsi tentang kemungkinanbentuk masyarakat yang dianggap baik dan tepat serta didalamnya juga terkandung berbagai rencana dan programpolitik, dan karena itu sering diistilahkan sebagai ideologi.Sedangkan filsafat politik, meski menaruh perhatian terhadapdoktrin-doktrin politik, namun lebih berkepentingan untukmemberikan landasan kefilsafatan terhadap doktrin-doktrinnormatif tersebut. Asumsinya adalah bahwa teori politik (dansebenarnya juga teori-teori ekonomi dan sosial) bisa saja tidakmemiliki justifikasi rasional, atau hanya merupakan bentukrasionalisasi praktik politik, ekonomi dan sosial yangdikembangkan berdasarkan kepercayaan semata melaluiotoritas tertentu seperti agama. Jadi, minat filsafat politik dapatdibedakan dari teori politik dalam hal bahwa ada kebutuhanuntuk memberikan landasan rasional atas nilai-nilai, ideal-idealdan prinsip-prinsip yang memberikan bentuk pada teori ataudoktrin itu.

Untuk semakin memahami filsafat politik, dan berusahamensejajarkan gagasan Kautilya sebagai filsafat politik, makapenelusuran peta dan sejarah pemikiran politik India harusdilakukan, dan sebagian telah diuraikan pada bab sebelumnya.Penelusuran ini penting artinya karena pemikiran seorangtokoh, seperti Kautiliya tumbuh dan besar bersama sejarah di

Page 79: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

60/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

mana ia hidup. Pembabakan sejarah politik Hindu dankekuasaan beberapa kerajaan yang pernah ada di masa lalu,atau India kuno, telah mengajarkan banyak hal kepada Kautilyadalam menata kelola negara (state), pemerintahan (government),administrasi publik (public administration), hukum dan masalahsosial (law and society), juga seni peperangan serta keadaanmasyarakat dan sejarah politiknya. Sejarah politik Hindu dankehidupan Kautilya pada masa awal abad masehi memengaruhiArthasastra sebagai kitab yang lengkap.

Selain itu, Maharsi Kautilya yang hidup pada jamanBrahmana yang menggantikan jaman Weda Samhita ber-pengaruh besar terhadap isi kitab Arthasastra yang disusunnya.Kitab ini dianggap sebagai salah satu kitab dalam wacanaHinduisme yang memuat gagasan bersifat preskriptif dannormatif. Artinya, sejak awal Arthasastra digagas Kautilyasebagai ajaran yang dipedomani para kepala negara untukmenjalankan roda pemerintahannya, sehingga tidak berlebihanjika isi Arthasastra sangat filosofis ketika memandang politik dankekuasaan, misalnya penuh dengan pesan-pesan moral yangsebaiknya diikuti penguasa dan rakyat. Secara tersirat, Kautilyamengatakan bahwa Arthasastra yang disusunnya adalahkelanjutan dari Arthasastra yang disusun para guru dan maharsisebelum dirinya. Kitab ini menjadi pegangan bagi penguasadalam memperoleh dan memelihara bumi. Bagi Kautilya,pengetahuan politik akan membawa kita mencapai dharma,artha, dan kama sebagai tujuan agama Hindu, lalu dharma dankama akan tergantung pada artha.

Page 80: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

61/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

B. Teori Politik dalam Arthasastra untuk Mengelola Negara

Maharsi Kautilya adalah orang yang sangat teguh denganpendirian idealnya. Bahkan dalam menjalankan ajaran satya,ia termasuk yang melakukannya dengan penuh totalitas.Sejarah hidupnya yang penuh onak duri, karakternya yangkuat dan ide-idenya yang tegas dalam Arthasastra sudah cukupmenguatkan siapa dirinya. Sebagai karya yang disusun denganintusi kebrahmanaan, pemikiran Kautilya mengandungsejumlah teori politik, terutama konsepnya tentang diplomasi.Seorang penguasa negara haruslah mempedomani ajaran-ajarannya ini.

Avalokitesvari33 melalui artikelnya memberikan paparanbahwa ada beberapa hal yang harus diperhatikan seorangpenguasa, yaitu (1) keadaan internal negaranyamelalui teoriSaptanga, (2) teori Mandala yang membahas tentang konstelasigeopolitik negara mana saja yang akan diajak bekerjasama ataumalah ditaklukkan, (3) kebijakan apa yang harus diambil jikamenghadapi negara lain melalui Sadguna, dan (4) setelah itubaru diputuskan upaya apa yang dapat ditempuh untukmenjalankan kebijakan luar negeri tersebut, apakah dengansama, dama, bedha dan danda (Catur Upaya). Yang menarikadalah ajaran Kautilya ini tidak bersifat kaku, apalagi bersifattextbook. Ini pula salah satu alasan mengapa pemikirannyatentang politik Hindu dan kekuasaan terus dapat mengikuti arusjaman, hingga hari ini.

1. Teori Saptanga: tujuh elemen pembentuk negara kuat

Teori Saptangga adalah teori yang menjelaskan bahwaterdapat tujuh elemen yang membentuk sebuah negara.

33Ni Nyoman Ayu Nikki Avalokitesvari. Op.Cit.,hlm. 24-29.

Page 81: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

62/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Dalam Arthasastra (6.1.1), negara itu dianalogikan sebagaiorganisme yang terus tumbuh, berkembang dan secaraprakrithis adalah bagian tubuhnya. Tujuh elemen ituadalah:

a. Swamin, yaitu raja/penguasa/pemimpin negarab. Amatya, yaitu anggota dewan, semacam legislator atau

mereka yang mewakili institusi negara

c. Janapada, yaitu sumber daya negara, termasuk wilayahdan penduduk sebagai kekuatan

d. Durg, yaitu entitas berdaulat yang dibentengi

e. Kosa, yaitu asset atau perbendaharaan negaraf. Danda atau Bala, yaitu pasukan militer dan penjagaan

ketertiban

g. Mitra, yaitu teman dan sekutu negara

Kautilya menjelaskan bahwa ketujuh elemenpembentuk negara itu adalah sebuah eksposisi dari teoriMandala yang melandasi kebijakan luar negeri dilingkungan yang didominasi oleh ekspansionisme teritori.Oleh karena itu, menurut Kautilya sebelum melanjutkanekspedisi untuk menaklukkan wilayah lainnya, seorang rajaharus mampu menggunakan langkah-langkah preventif danstrategi defensif untuk menghalau ancaman yang akanmelemahkan salah satu unsur penyusun negaranya sendiri.Lebih lanjut, Kautilya menyatakan bahwa seorang raja harusmemiliki optimisme dan gigih berjuang untuk melakukantugas dan tanggung-jawabnya kepada rakyat dannegaranya. Tugas dan tanggung jawab tersebut meliputiperlindungan, pelayanan administrasi dan mensejahterakanrakyatnya.

Page 82: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

63/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Teori Saptanga yang disampaikan Kautilya tidak hanyadiyakini sebagai tujuh elemen namun menjadi unsurpembentuk yang menginginkan kekuatan mumpuni bagibangsa dan negaranya. Teori ini juga dapat dimaknaisebagai tujuh elemen kedaulatan negara. Bagi Kautilya,sebuah negara selaiknya menjaga ketujuh elemen itu karenasemua elemen itu merupakan satu kesatuan yang komplit.Jika salah satu elemen itu lemah maka akan melemahkanelemen yang lainnya. Sebaliknya, jika ketujuh elemen itusama-sama kokoh akan dapat menjadi kekuatan super yangakan membuat penguasa mampu menjaga danmemperkuat negaranya.

Tujuh elemen atau prakrithis itu secara bersamaanmemanifestasikan Shakti atau kekuatan bagi negara.Kautilya mengidentifikasi tiga shakti dalam Arthasastra, yaituPrabhawa-shakti, Mantra-shakti dan Utsaha-shakti. Prabhawa-shakti adalah kekuatan yang dapat melahirkan sebuah“efek” menguntungkan bagi negara, terutama dalam halmengembangkan ekonomi dan membangun kekuatanmiliter. Mantra-shaktidapat dimaknai sebagai kekuatanuntuk memengaruhi, memberi nasihat, dan mendorongnegara lain untuk dikooptasi oleh sang Wijigicu (raja ataunegara penakluk). Dalam ilmu politik, khususnya dalamhubungan internasional, prabhawa-shakti dapat dikatakanbersifat hard power, sedangkan mantra-shakti bersifat softpower. Kedua sifat ini oleh Kautilya diarahkan sepenuh-penuhnya untuk memperkokoh utsaha-shakti sebagaikekuatan pendorong yang akan mengarahkan prabhawa-shakti dan mantra-shakti sehingga menjadi energi besar yangterfokus untuk melindungi negara. Melalui tiga shakti ini,Kautilya menggambarkan penguasa negara memiliki tugasuntuk menjalankan manajemen negara secara terarah danterencana.

Page 83: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

64/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

2. Teori Mandala: negara dalam lingkaran negaraTeori Mandala yang digagas Kautilya dalam Arthasastra

menjelaskan tentang adanya konstelasi geopolitik darisebuah negara. Wijigisu akan mengambil posisi di tengahnegara-negara lain dalam percaturan politik internasionalyang berupaya saling memengaruhi antara satu negaradengan negara lainnya. Dalam teori ini, terdapat 12 kategorinegara dalam lingkaran negara, yaitu:

a. Wijigisu adalah negara yang memiliki hasrat tinggi untukmenaklukkan negara lain

b. Ari adalah negara yang menjadi musuh utama dari negarapenakluk

c. Mitra adalah sekutu dari sang Wijigisu

d. Arimitra adalah sekutu dari musuhe. Mitramitra adalah teman dari sekutu sang Wijigisu

f. Arimitramitra adalah teman dari sekutu sang musuhg. Parsnigraha adalah musuh di garis belakang sang Wijigisu

h. Akranda adalah sekutu dari sang Wijigisu di garis belakangi. Parsnigrahasara adalah sekutu dari musuh di garis

belakang sang Wijigisu

j. Akrandasara adalah sekutu dari akranda

k. Madhyama merupakan negara tengah yang berbatasandengan Wijigisu serta Ari atau musuh.

l. Udasina adalah tipe negara netral yang acuh tak acuh,berada di luar dari lingkaran negara, dan umumnya lebihkuat dari Wijigisu, Ari, dan maupun Madhyami.

Page 84: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

65/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Dalam konstelasi geopolitik, Kautilya memberikantitik tekan bahwa sang Wijigisu tidak dapat dimaknai secaraharafiah sebagai negara yang selalu berminat melakukanpenaklukan. Wijigisu juga tidak selalu menjadi episentrumdari negara-negara lainnya. Penggambaran 12 kategorinegara di atas adalah simbolisasi atas keadaan nyata yangmeniscayakan terbentuknya Mandala yang dapat saja salingtumpang tindih, tergantung konstelasi dan arah kerjasamamaupun analisa lingkungan strategis dalam percaturangeopolitik, dari politik regional maupun global. Namun yangjelas, konstelasi ini bersifat dinamis dan dapat berubah karenamemungkinkan juga negara tetangga yang sebelumnyamenjadi mitra menjadi musuh. Kondisi sebaliknya bisa terjadinegara itu menjadi ramah dan hubungannya bersifat vasalatau menjadi negara bawahan.

3. Teori Sadgunya: enam kebijakan luar negeriTeori Sadgunya adalah enam kebijakan luar negeri yang

dipraktikkan oleh sebuah negara sesuai dengan kondisi danlingkungan strategisnya, terutama terhadap negara-negaralain dalam percaturan politik internasional. Teori ini sangatpenting untuk mengetahui bagaimana sebuah negara akanbersikap dengan dengan negara lainnya. Keenam kebijakanitu adalah:

a. Samdhi, yaitu membuat atau menjalin perdamaian

b. Wigraha, yaitu melakukan peperanganc. Asana, yaitu tinggal diam atau sikap memilih netral

d. Yana, yaitu mempersiapkan diri untuk perang atau bersiap siaga atau selalu berjaga-jaga

e. Samsraya, yaitu mencari dukungan atau menjalin aliansi

Page 85: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

66/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

f. Dwaidibhawa, yaitu kebijakan ganda untuk membuatperdamaian dengan satu negara sementara itu jugamengadakan peperangan dengan negara lainnya.

Pada dasarnya, sebuah negara dapat menjalankanlebih dari satu kebijakan atau di saat yang bersamaan denganbeberapa negara lain sekaligus. Adapun praktik dari teoriSadgunya di atas tidak berjalan linear sesuai urutanhirarkhisnya, namun disesuaikan dengan perkembangansituasi dan kondisi strategis negara saat itu. Artinya, pasangsurut lingkungan sekitar sebuah negara sangat menentukankebijakan apa yang akan diambil dan dijalankan. Kautilyasendiri beralasan bahwa setidaknya ada dua cara yang dapatditempuh oleh Wijigisu dalam rangka mencapai tujuannya,yaitu melalui perang atau jalur diplomasi.

Adapun saat Kautilya menjelaskan makna Wijigisu,ia menjangkarkan gagasannya pada konsep raja sebagaiWijigisu, yang kira-kira bermakna sebagai orang yangingin menaklukkan. Istilah teknis ini merujuk pada artiseorang penguasa yang memiliki keinginan kuat atauberkomitmen tinggi dalam upaya penaklukkan. Namun, jikaWijigisu diarahkan pada makna kekinian dengan situasipercaturan politik internasional, istilah itu dapat diartikansebagai sebuah negara yang menginginkan untukmemperluas pengaruhnya atau kekuatannya ke negara-negara lain secara terus-menerus.

Lebih lanjut, dalam hal menyusun strategi diplomasidengan pihak luar, Kautilya dalam Arthasastramelakukannya melalui atisamdhana, yaitu pembuatan paktaatau perjanjian dengan pihak lain atau negara lain, sertamenggunakan kesepakatan perjanjian ini untuk mengecohdan mengungguli pasangan potensial mereka. Kemampuan

Page 86: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

67/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

politik ini menjadi praktik sederhana dari samdhi, salah satuenam kebijakan politik luar negeri. Istilah samdhi sendirimerujuk kepada pembuatan pakta atau aliansi denganpenguasa negara lain untuk mencapai tujuan bersama,misalnya untuk menyerang pihak ketiga yang dianggapsebagai musuh bersama. Kautilya juga menginstruksikanuntuk menggunakan aliansi sebagai peluang untuk tidakhanya mengalahkan musuh bersama tetapi juga sebagaisebuah proses untuk melemahkan sekutu Wijigicu itu sendiri.Strategi politik ini akan terlihat seperti membunuh duaburung dengan satu batu dalam waktu bersamaan. Strategijitu Kautilya ini juga sekaligus menjadi bagian dariMantrayuddha atau “perang kecerdasan”.

Bagi Kautilya, mantra-shakti atau kemampuanberdiplomasi diyakininya sebagai kemampuan terkuat yangharus dimiliki oleh seorang pemimpin negara. Sesung-guhnya, dari tiga shakti yang diajarkan Kautilya, mantra-shakti dianggap paling penting karena kemampuanberdiplomasi dengan menggunakan kekuatan narasi,seperti menasehati, memengaruhi, menarik perhatiandan mengkooptasi negara-negara lain seharusnya dimilikioleh seorang pemimpin negara. Kautilya menganalogikankompetensi ini dengan sebuah ungkapan yangmengesankan:

Anak panah yang dilepaskan oleh seorang pemanahdapat saja membunuh satu orang atau bahkan justrutidak membunuh seorangpun. Namun kecerdasanyang dijalankan oleh orang (pemimpin) bijak bahkanbisa membunuh anak yang masih di dalamkandungan.

Page 87: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

68/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Berdasarkan uraian teori politik dan kekuasaanKautilya Arthasastra di atas, dapat disimpulkan sang maharsimemberikan perhatian besar pada peranan diplomasi,namun secara bersamaan tidak memberikan preferensi atasperang. Gagasan bernasnya ini juga diyakini karenapengaruh situasi dan kondisi sistem sosial saat kerajaan dariDinasti Maurya berkuasa. Pada saat itu, kaum ksatriamendapatkan porsi paling besar sebagai pengelola negara,yang secara stereotype pula mengesankan para ksatriamemang seperti ditakdirkan untuk “berperang”. Untukmemperkuat negara, Kautilya memberikan satu konsepstrategis kepada para penguasa untuk menjalankan mantra-shakti, yaitu berdiplomasi sebagai bagian dari soft powerguna mencapai banyak tujuan penting, misalnya menariksekutu, menunda perang jika sebuah negara itu lemah danmudah diserang serta untuk membuat apa yang disebut postwar arrangements for a new order.

C. Kautilya Arthasastra dan Ajaran Tentang Niti

Memaknai gagasan dan pemikiran Kautilya dalamArthasastra sebagai filsafat politik dan kekuasaan itu penuhtantangan. Mungkin karena politik dan ilmu politik itu sudahkadung dianggap tabu, terstigma kotor. Bias diskursus ini adalahampas dari ketertutupan dalam membincangkan politik di ruangpublik, terkhusus pada jaman orde baru di masa lalu, meskipunselepas orde reformasi, pembicaraan politik malah merembesbablas. Pada sub bab ini, saya ingin kembali menyarikan maknapolitik dan kekuasaan dalam Arthasastra, melanjutkan apa yangsebagian telah diuraikan pada bagian awal bab ini, sertamengaitkannya dengan ajaran tentang kepemimpinan Hindu,terutama yang berkembang di Bali.

Page 88: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

69/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Untuk meyakinkan maksud di atas, tampaknya perludipertegas kembali bahwa Arthasastra meskipun telah berumursekira 2000an tahun, tidak banyak orang menyadari begitupenting kehadirannya, kecuali para intelektual, akademisi danmungkin saja spiritualis, dan komunitas ini pastilah berjumlahminor. Baru setelah R. Shamasastri “menemukan” danmempublikasikannya pada 1905, segera bermunculan banyakkomentar, analisis dan interpretasi serta tentu yang tak dapatdihindari, mulai banyak terjemahan tentang Arthasastra.Berbagai usaha ini baik-baik saja, namun juga menyulitkanuntuk menganggap salah satu di antara sekian banyak literaturitu “asli”, atau “murni” berasal dari kitab aslinya. Kegembiraanlainnya adalah kitab ini telah pula diterjemahkan ke dalamberbagai bahasa di dunia, sekaligus menjadi kesulitan baru karenaakan terdapat bias di sana sini.

Kesulitan lain untuk mengkontekstualisasikan Arthasartaadalah ketimpangan waktu dan tempat hidup Kautilya sehinggatidak mudah juga melakukan justifikasi bahwa Arthasastradipandang hanya sebagai kitab politik Hindu semata, meskisecara khusus kitab ini dipersembahkan Kautilya sebagaikitab politik. Dalam Buku 1, Bab 2, Bagian 1, Ayat 1, Kautilyasecara eksplisit menyebutkan bahwa Anwiksaki (filsafat), ketigaWeda (Rg, Sama dan Yajur), Warta (ekonomi), dan Dandaniti(politik) adalah empat ilmu-ilmu utama (Widya). Secarafundamental, ilmu politik dijadikan penyokong ilmu-ilmu utamaitu, salah satunya melalui kitab Arthasastra. Oleh karena itu,menjelajahinya dengan satu perspektif, dalam hal ini sebagaifilsafat politik adalah cara paling mudah untuk memahamisebagian saja isi kitab yang posisinya disejajarkan sama kuatdengan kitab klasik dan sastra Hindu lainnya, seperti WisnuPurana, Kamandaka-Nitisara, Panchatantra, dlsb.8

8Hal yang sama diakui oleh Made Astana dan Anomdiputro dalam katapengantarnya.Op.Cit., hlm. 2003: vi

Page 89: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

70/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Agak beralasan jika Arthasastra disebut kitab politik karenahampir sebagian besar isinya mengajarkan bagaimanaseorang penguasa seharusnya mengelola negara melalui politik,ekonomi, budaya, manajemen, administrasi, dlsb. Secarahiperbolik, kitab ini dapat dianggap sebagai buku manualpraktis bagi seorang penguasa dalam mengelola negara denganbaik dan benar. Untuk menegaskan bahwa kitab ini sangatpenting untuk para penguasa, penerjemah (Made Astana danAnomdiputro) memberikan kutipan bahwa Kautilya—bahkansampai kitab ini benar-benar berakhir untuk dibaca—memangingin menjadikan Arthasastra sebagai kitab politik dengan salahsatu tujuan utamanya mensejahterakan rakyat banyak. PadaBuku 15, Bab Satu, Bagian 180, Ayat 1 Kautilya menyatakan:“Sumber kehidupan umat manusia adalah artha (kesejahteraan),dengan kata lain adalah bumi (dengan segala isinya) yang didiamimanusia. Ilmu yang mencakup cara untuk mencapai danmelindungi bumi adalah Arthasastra, Ilmu Politik”.9 Selainkarena sebagian besar isinya mengajarkan ilmu politik, kitabini juga merepresentasikan penulisnya sendiri yang padajamannya dianggap sebagai ahli strategi, ahli perang dan ahlipolitik, sekaligus ahli agama (brahmana) yang suci.

Berkelindan dengan argumen di atas, sejarah dan tradisipolitik di India sebetulnya setua dengan usia Weda itu sendiri.Politik, baik sebagai ilmu maupun secara praktis telah dikenalsejak awal kitab Smrti dan Purana-Purana sebagai Dandanitiyang isinya merupakan kristalisasi dari tradisi Arthasastra danDharmasastra. Meskipun harus diakui bahwa meski telahbanyak terdapat referensi tentang manuskrip politik sebelumabad 4 SM, namun interpretasi yang dianggap paling populerdan benar-benar ilmiah dan akademis hanya ditemukan dalamKautilya Arthasastra.

9Ibid., hlm. vi

Page 90: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

71/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Untuk menemukan posisi Arthasastra sebagai kitab politik,tampaknya kita perlu mencari padanannya yang sebanding.Misalnya, Arthasastra sering disamakan atau erat hubungannyadengan Dharmasastra. Upaya menyamakan kedua kitab inidisebabkan baik dharma maupun artha adalah tujuan hidupmanusia. Tujuan ini kemudian dirumuskan ke dalam istilah CaturPurusharta.10 Kitab lain yang dianggap sederajat denganArthasastra adalah Niti Sastra, meskipun dalam beberapa halterdapat perbedaan yang cukup mendasar. Namun satu hal yangmenguatkannya adalah keyakinan para sastrawan bahwa NitiSastra, yang dikenal di Bali sebagai kakawin, penyusunnya, yaituDang Hyang Nirartha sekurang-kurangnya diyakini telah ataupernah membaca Arthasastra.

Sampai saat ini pun, banyak kalangan mengartikan NitiSastra sebagai ilmu politik atau ilmu kepemimpinan, padahalkakawin ini juga mengajarkan ilmu pengetahuan tentangmoralitas, budi pekerti, tata cara pergaulan setiap hari, dengansesama makhluk, sesama umat manusia dan bagaimanamemusatkan perhatian dan memusatkan pelayanan bhaktikepada Tuhan. Anggapan Niti Sastra sebagai ilmu politik dankepemimpinan lebih disebabkan kitab ini populer dikalanganumat Hindu kebanyakan, terutama di Indonesia melaluikakawin berbahasa Jawa Kuno atau lontar-lontar. Di tengahperdebatan itu, ada juga yang menganggap kitab yangsebenarnya menjadi kitab politik adalah Raja Niti, bukan NitiSastra. Darmayasa34 menguraikan panjang lebar perbedaandan persamaan kitab Arthasastra, Niti Sastra, Raja Niti dankitab-kitab lain sejenis. Bahkan diawal buku kecilnya itu,penerjemah tegas menyatakan bahwa Canakya Niti Sastramemang diposisikan sebagai pustaka yang berisikan pemikiran-pemikiran tinggi tentang moralitas, pergaulan sehari-haridan juga tentang bhakti kepada Tuhan.

10 IB Gunadha dalam kata pengantar buku Studies in Kautilya. Terjm. I Gde Sura. Op.Cit.,hlm. viii-ix

34 Made Darmayasa, Op.Cit., hlm xix-xxii

Page 91: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

72/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Ilmu politik atau ilmu kepemimpinan pada akhirnyamenjadi satu tema yang mengikat berbagai tema yangditemukan dalam literatur politik Hindu. Hal ini tidak lepasjuga dari pengertian dasar kata Niti dalam Arthasastra, NitiSastra maupun Raja Niti. Suhardana35 menjelaskan kata Nitidari bahasa Sanskerta, “ni” dan “ktin” yang berarti “to lead,memimpin”. Dalam Kamus Kecil Sanskerta-Indonesia yangdikutipnya, kata “ni” berarti “menuntun atau memimpin atauhal memimpin”. Dengan demikian, kata Niti diartikan sebagai“kemudi, pimpinan”. Arti lainnya adalah “politik, sosial etik,pertimbangan atau kebijakan”. Sedangkan dalam Kamus JawaKuno-Indonesia yang juga dikutipnya, menjelaskan arti kata Nitisebagai “cara bekerja atau menjalankan yang betul/baik/benaratau bijaksana”. Kata Niti juga diartikan sebagai “ilmu tatanegara atau politik, kebijaksanaan politik”. Pengertian yanglainnya adalah “kebijaksanaan duniawi”. Dengan demikian,kata Niti Sastra misalnya, dapat disimpulkan sebagai “ilmutentang etika politik”. Berdasarkan beberapa pengertian tersebut,Niti Sastra dianggap sebagai kitab yang mengajarkan ilmupolitik, ilmu etika dan moralitas dan ilmu kepemimpinan. Selainitu, Niti Sastra juga disebut dengan nama lain, meskipun masing-masing istilah tersebut memiliki makna yang sedikit berbeda-beda, antara lain:1. Danda Niti, yaitu ilmu pengetahuan tentang sendi-sendi

hukum atau pemerintah yang berfungsi mengatur kehidupanmanusia

2. Artha Sastra, yaitu ilmu pengetahuan tentang negara yangberfungsi mengatur kehidupan untuk mencapai kemakmuran

3. Raja Dharma, yaitu ilmu pengetahuan tentang kewajiban-kewajiban pemimpin

35 K.M. Suhardana, 2008. Niti Sastra. Ilmu Kepemimpinan atau Management BerdasarkanAgama Hindu. Surabaya: Paramita. hlm. 5-8.

Page 92: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

73/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

4. Raja Niti, yaitu ilmu pengetahuan tentang ilmukepemimpinan

Suhardana36 juga menjelaskan bahwa berdasarkanpengertian tentang Niti tersebut, umat Hindu di Bali danumumnya di Indonesia mengenal banyak konsep kepemimpinanHindu, antara lain:

1. Asta Brata. Ajaran kepemimpinan ini merupakan rangkumandari nasehat Sri Rama kepada Wibhisana ketika akandinobatkan sebagai Raja Alengkapura. Ajaran ini tersuratdalam Kitab Manawadharmasastra VII. 4 untuk dipedomanioleh para pemimpin dengan mengikuti sifat-sifat baik daridelapan dewa, yaitu Dewa Indra (raja para dewa dan sebagaidewa hujan), Dewa Wayu (dewa angin), Dewa Yama (dewamaut, kematian), Dewa Surya (dewa matahari), Dewa Agni(dewa api), Dewa Candra (dewa bulan) dan Dewa Kuwera(dewa harta, kekayaan).

2. Sad Upaya Guna. Konsep ini mengajarkan kepada pemimpinuntuk bersahabat dengan para pemimpin lainnya danmengembangkan enam sifat persahabatan, antara lain:

a. Siddhi, yaitu kemampuan untuk mengadakanpersahabatan

b. Wigrha, yaitu kemampuan untuk memisahkan setiappermasalahan dan dapat mempertahankan hubunganbaik

36 Ibid., hlm 53-73. Selain itu, dalam banyak buku sejenis, para penulis selain memaparkankonsep kepemimpinan yang sudah dikenal selama ini, juga mengembangkannya. Lihatmisalnya, Tut De Ariasna. 2011. Kepemimpinan Hindu. Surabaya: Paramita. hlm. 9-41.Sebenarnya, masalah kepemimpinan juga sangat banyak ditemukan di Bali, salah satunyadalam Lontar Wrati Sasana yang menceritakan nasehat etik kepada para pemimpin.Lihat lebih lengkap I Ketut Subagiasta. 2010. Kepemimpinan Hindu dalam Lontar WratiSasana. Surabaya: Paramita.

Page 93: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

74/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

c. Wibawa, yaitu memiliki kewibawaand. Winarya, yaitu kecakapan dalam memimpine. Sasraya, yaitu kecakapan untuk menghadapi lawan

yang kuatf. Sthana, yaitu mampu mempertahankan setiap hubungan

yang baik3. Catur Paramita. Konsep ini mengajarkan bahwa seorang

pemimpin haruslah melengkapi dirinya dengan empat sifatutama, antara lain:

a. Maitri, yaitu mampu memandang orang lain sebagaiteman karib atau sahabat

b. Karuna, yaitu mampu memberikan bantuan kepada orangyang membutuhkan atau yang dipimpinnya

c. Upeksa, yaitu pemimpin tidak boleh terlalumemperhatikan pendapat orang lain yang belum tentubenar

d. Mudhita, yaitu selalu berusaha mendapatkan simpatiorang lain

4. Panca Sthiti Dharmaning Prabhu. Konsep ini mengajarkankepada pemimpin untuk memberikan contoh danketeladanan bagi orang lain dan bawahannya. Konsep inisebenarnya diambil dari cerita pewayangan dengan lakonArjuna Sastrabahu. Lima keteladanan itu adalah:

a. Ing ngarsa sung tulada, yaitu pemimpin berada di depanmemberikan contoh dan motivasi

b. Ing madya mangun karsa, yaitu pemimpin berada ditengah-tengah masyarakat dengan mengembangkan ataumembangkitkan semangat dan kreativitas

Page 94: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

75/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

c. Tut wuri handayani, yaitu pemimpin berada di belakanguntuk memberikan dorongan semangat, kebebasanberkreasi dan mengembangkan ide-ide yang positif

d. Maju tanpa bala, yaitu pemimpin harus berani maju kedepan walaupun tanpa anak buah, bahkan rela berkorbandengan kepentingan bawahannya

e. Sakti tanpa aji, yaitu seorang pemimpin meskipun suksesdalam melaksanakan tugasnya, hendaknya tidak mudahmenerima pujian.

5. Sad Warnaning Rajaniti. Ajaran ini juga disebut Sad Sasanayang mengajarkan bahwa pemimpin harus memiliki enamsifat utama, sebagai berikut:

a. Abhikamika, yaitu pemimpin harus tampil simpatik,berorientasi ke bawah dan mengutamakan rakyat banyak

b. Prajna, yaitu pemimpin harus bersikap bijaksana dancerdas dengan menguasai agama dan ilmu pengetahuandan teknologi

c. Utsaha, yaitu pemimpin harus produktif, kreatif, inovatifdan berinisiatif untuk maju

d. Atma Sampad, yaitu pemimpin harus memiliki kepribadianyang baik, integritas tinggi, moral luhur dan obyektif

e. Satya Samanta, yaitu pemimpin harus mampu mengawasibawahannya secara efektif

f. Aksuda Parisakta, yaitu pempimpin harus akomodatif,memadukan berbagai perbedaan dalam permusya-waratan, pandai berdiplomasi dan mampu menyerapaspirasi bawahannya

Page 95: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

76/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

6. Panca Upaya Sandhi. Konsep ini mengajarkan kepadapemimpin untuk menghadapi lawan-lawannya. Dalamlontar Siwa Bhudda Gama Tattwa disebutkan antara lain:

a. Maya, yaitu mempunyai upaya untuk mengumpulkandata atas permasalahan yang belum jelas

b. Upeksa, yaitu mempunyai gagasan untuk menyelidiki danmenganalisis semua data dan informasi yang diterima

c. Indrajala, yaitu mempunyai upaya untuk mencari jalankeluar dari setiap masalah yang dihadapi

d. Wikrama, yaitu mempunyai upaya untuk melaksanakansemua usaha yang telah dirumuskan pada tingkat Indrajala

e. Lokika, yaitu mempunyai logika untuk melaksanakansemua tindakannya agar selalui diawali denganpertimbangan yang matang dan dapat diterima oleh akalsehat dan tidak berdasarkan emosi.

7. Nawa Natya. Ajaran ini memberikan pedoman agar seorangpemimpin dalam memilih pembantu-pembantunya haruslahselalu bijaksana. Dalam lontar Nawa Natya yang ditulisdengan Jawa Kuno disebutkan sembilan tuntunan, antaralain:

a. Pradya Widagda, yaitu pempimpin itu orang yangbijaksana, luas pengetahuannya, pintar, mahir dalamberbagai ilmu

b. Wira Sarwa Yuda, yaitu pemimpin itu seorang pemberanidan pantang menyerah dalam pertempuran

c. Paramartha, yaitu pemimpin itu orang yang mempunyaibudi pekerti luhur

d. Dhirotsaha, yaitu pemimpin itu orang yang tekun, ulet, dantidak kenal lelah dalam melaksanakan tugasnya

Page 96: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

77/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

e. Pragiwakya, yaitu pemimpin itu orang yang pandai bicaradan cakap berdiplomasi

f. Samaupaya, yaitu pemimpin itu orang tidak pernah ingkarjanji, selalu setia pada kata-kata yang diucapkannya

g. Laghawangartha, yaitu pempimpin itu orang yang tidakpernah pamrih dengan harta benda dan ikhlas

h. Wruh ring sarwa bastra, yaitu pempimpin itu orang pandaimengatasi berbagai masalah, kekacauan dan kerusuhan.

8. Tri Upaya Sandhi. Dalam lontar Rajapati Candala disebutkanbahwa ada tiga upaya yang harus dilakukan seorangpemimpin, sebagai berikut:

a. Rupa, yaitu seorang pemimpin harus memahami arti dariraut wajah orang yang dipimpinnya, apakah dalamkeadaan senang, sedih atau stress. Dengan memahamiekspresi ini, pemimpin akan mencari jalan dan petunjukyang bijaksana.

b. Wangsa, yaitu seorang pemimpin harus memahamistratifikasi sosial orang yang dipimpinnya dari klan, soroh,wangsa atau kelompok sehingga ia memiliki banyakpendekatan

c. Guna, yaitu seorang pemimpin harus memahami gunaatau sifat, karakter, tabiat dan bakat orang yangdipimpinnya. Dengan begitu, ia akan memahami danmengembangkan kesenangan, kepiawaian, potensi parabawahannya.

Berdasarkan berbagai pengertian dan konsep lain tentangilmu politik, Niti Sastra tampaknya menjadi aspek moralitasdari Arthasastra, sekaligus menjadi kitab etika Hindu,sebagaimana juga dapat dibaca dalam Slokantara danSarasamuscaya. Semua ajaran dalam Arthasastra dan Niti

Page 97: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

78/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Sastra disampaikan secara estetik melalui pernyataan-pernyataannya yang indah dan menawan tetapi juga mistikkarena tidak mudah memahaminya dengan sederhana karenadibutuhkan kontemplasi untuk memaknai bahasa simbolik dananaloginya. Di Bali, Arthasastra dan Niti Sastra diajarkan melaluiSubhasita atau kata-kata bijak atau aphorisme yang sangatpenting dalam kesusasteraan Hindu.

Agastya37 menyatakan bahwa Subhasita telah banyakdikutip dalam berbagai percakapan dan membentuknyamenjadi tak terhingga yang disampaikan dalam tradisi bertuturatau Subhasita Sanggraha. Karya sastra Niti ini menjadimonumental karena dikenal di banyak negara, termasuk diIndonesia di mana kesusasteraan Sanskerta diterjemahkan kedalam bahasa Jawa Kuna, seperti Ramayana, Mahabharata,Purana hingga Panca Tantra. Karya lain dalam Jawa Kuna yangbersumber dari sastra Sanskerta adalah Nitisastra atau Nitisarabaik kerangka maupun antologi bahasa Sanskertanya yangbergaya agak bebas yang bersumber dari KamandakyaNitisastra. Subhasita sering dirangkai ke dalam cerita-cerita ataukarya sastra katha, misalnya Panca Tantra dan Hitopadesa.Hitopadesa atau Hita Upadesa adalah lanjutan dari Panca Tantradan merupakan suatu kumpulan daftar nasehat-nasehat yangsangat berguna. Kitab ini juga dapat dikatakan sebagai ajarantentang hidup sejahtera dengan menggunakan berbagai fabeldan menjadi buku tentang seni bercerita di India yang secaratradisi dapat ditelusuri pada kitab Rgweda dan Upanisad (daritahun 1500 hingga 500 Sebelum Masehi).38

Dengan demikian, substansi Kautilya Arthasastra yangmeliputi ajaran politik, kekuasaan, negara dan etikatelahditerjemahkan dengan sangat baik melalui nasehat-nasehat37Tentang ini diambil dari IBG. Agastya. “Cerita Tantri sebagai Nitisastra dan Subhasita”.

Makalah Temu Sastra Purnama Jagatnatha, tanggal 14 April 2014. hlm. 1-338Lihat juga lebih lengkap I Wayan Maswinara (alih Bahasa). 2000. Hita Upadesa. Surabaya:

Paramita.

Page 98: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

79/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

kebaikan atau Subhasita di dalam karya sastra Panca Tantra.Seperti diketahui, Panca Tantra menceritakan bagaimanahubungan manusia dengan manusia lainnya lengkap dengansegala dinamikanya. Mungkin semua aspek kehidupan yangdilakonkan melalui binatang tidak eksplisit sebagai representasiilmu politik, tetapi bagaimana perilaku manusia satu denganmanusia lainnya maupun dalam kelompoknya penuh dengantindakan-tindakan politik. Dalam interaksi sosial itu, terdapatstrategi, perlawanan hingga bagaimana membangun hubunganyang baik.

Dalam lima buku yang disadur Darmayasa,39 tindakanpolitik dalam cerita Tantri secara berturut-turut dapat dibacadengan tema “Perselisihan di Antara Sahabat”, “MendapatkanTeman”, “Gagak dan Burun Hantu”, “KehilanganKeberuntungan” dan “Perbuatan Tanpa Pertimbangan Baik”.Menurut Agastya,40 Panca Tantra adalah salah satu kitab yangdikenal sangat luas di dunia. Tradisi sastra di Bali mewarisisejumlah teks Panca Tantra yang dikenal dengan TantriKamandaka atau Tantra Wakya atau Candra Pinggala. Resepsiestetisnya dikenal dengan Kidung Tantri Nandaka Prakarana,Kidung Tantri Manduka Prakarana dan Kidung Tantri PisacaPrakarana, di samping Parikan Tantri, Tantri Prasi, dlsb [*]

39 Darmayasa (penyadur). 1995. Perselisihan di Antara Sahabat. Buku Pertama. Denpasar:Manikgeni; 1996. Mendapatkan Teman. Buku Kedua; 1996. Gagak dan Burun Hantu.Buku Ketiga; 1998. Kehilangan Keberuntungan. Buku Keempat; dan 1998. Perbuatan TanpaPertimbangan Baik. Buku Kelima.

40 IBG. Agastya, Op.Cit., hlm. 2

Page 99: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

80/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB LIMA

KAUTILYA DALAM PERBANDINGAN DAN

TAFSIR KEKUASAAN

“Inilah enam kebijakan politik. Jika berada dalam dalam keadaanlebih lemah dibandingkan dengan musuh, ia hendaknya menyatakanperdamaian. Jika lebih unggul, ia hendaknya menyatakan perang.(Jika ia mengira) ‘Musuh tidak dapat menyerang saya, begitupunsaya tidak dapat menyerangnya,’ ia harus tetap netral. Jika memilikisejumlah kelebihan sifat unggul, ia harus bersiaga. Jika kehilangankekuasaan, ia harus mencari perlindungan. Dalam suatu pekerjaanyang bisa dicapai dengan bantuan teman, ia harus mengadakankebijakan ganda” (Arthasastra Buku Ketujuh, Bab Satu, Bagian 98,99: 13-18)

A. Kautilya dan Niccolo Machiavelli

1. Perbedaan yang Menyatukan

Tidak dapat dipungkiri bahwa Kautilya paling seringdikaitkan dengan Machiavelli. Tak sedikit, intelektual Hindumenyamakannya lalu secara dramatis menyebut Kautilyasebagai Machiavelli dari timur. Mungkin karena keduanyasama-sama galak, sedikit kotor dan juga kejam jikamenyangkut bagaimana melindungi keamanan negara.Mereka bahkan dimasukkan sebagai pemikir yang “tak

KAUTILYA DALAM PERBANDINGANDAN TAFSIR KEKUASAAN

BAB LIMA..........................................................................................

Page 100: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

81/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

berhati” dan “tak bermoral”. Memang pada akhirnya,perbandingan keduanya tetap tidak bisa diametral karenabeberapa faktor, seperti waktu dan tempat kelahirannya, jugasituasi dan kondisi yang mewarnai bukan saja jejakkehidupannya tetapi juga pikiran-pikirannya. Meskipunada keliyanan yang cukup besar, keduanya tetap dianggapmemiliki kesamaan, terutama sekali lagi, pandangannyatentang keamaan negara dan melindunginya dari ancamanmusuh.

Perbedaan kedua tokoh yang berbeda jaman ini dapatkita mulai dari suasana kebatinan yang memengeruhigagasannya, dan bagaimana para ahli memberikantanggapan terhadap keduanya. Dalam upaya melacakkesamaan kedua tokoh ini, Surpi41 dalam artikelnya memulaidengan uraiannya tentang peradaban Weda, yang salahsatunya telah melahirkan pemikir besar di bidang politik,yaitu Kautilya. Maharsi ini tidak saja sebagai penulisArthasastra tetapi juga perdana menteri, penasihat politikutama, juga seorang Brahmana yang agung. KitabArthasastra mungkin disusun Kautilya saat ia pensiundengan mengundurkan diri dari pelayanannya dalampemerintahan Candragupta. Sementara itu, jauh setelahKautilya, tepatnya saat peradaban manusia memasuki abadpencerahan atau, Niccolo Machiavelli hadir denganmenawarkan pikiran besar di bidang politik modern.Mengutip Russell, Surpi menyatakan filsafat politikMachiavelli itu bersifat ilmiah dan empiris, yang hampirsebagian besar pemikirannya didasarkan pada pengalamanhidupnya sendiri, dan berbicara tentang cara untuk meraihtujuan, terlepas apakah tujuan itu baik atau buruk.

41Ni Kadek Surpi. Op.Cit., hlm. 61-66.

Page 101: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

82/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kedua pemikir politik ini, Kautilya dan Machiavelli, tidakbisa dibandingkan begitu rupa, terutama karena landasanberpikirnya tidak sama. Machiavelli menggunakan daya pikirdan pengalaman empirisnya semata dalam menyusunpemikiran politik, sedangkan Kautilya menulis denganliteratur yang sudah disusun oleh para rsi pada jamansebelumnya dan pengetahuan politik juga sudah tersebar padasejumlah dinasti politik pada kerajaan Hindu. Perbedaan yanglain, Kautilya mendasarkan tulisannya pada intusikebrahmanaanya, agama dan sastra, sedangkan Machiavellimelalui berbagai pernyataan kerasnya kadang mengutukagama dan mengambil posisi yang berjauhan dengan agama.

Boesche, seperti dikutip Surpi menyatakan walaupunMachiavelli disebut sebagai “a teacher of evil” namunpemikirannya juga jauh lebih moderat meskipun ia tetapdianggap radikal pada jamannya. Ia misalnya, menghindarisemua prinsip moral yang absolut dan menilai tindakan baikatau buruk berdasarkan konsekuensinya saja. Pendapatnyaini menandakan apa yang dicari Machiavelli bukanlah barangyang absolut dan tidak lekang oleh waktu, tetapi barangumum atau barang publik yang dapat diekspresikan secaraberagam. Bagi Machiavelli, seseorang atau kita harus relakadang-kadang menggunakan cara-cara politik yang keras,kejam, atau yang oleh publik disebut tidak bermoral. Ia jugasepakat dengan orang-orang sezamannya bahwa tujuanpolitik yang tepat adalah kehormatan, kemuliaan, danketenaran.

Lebih lanjut, ada sebuah nasihat Machiavelli yang sangatterkenal bahwa seorang pangeran wajib memperolehkekuatan untuk menjadi tidak baik, dan memahami kapanmeng-gunakannya dan kapan tidak menggunakannya.Pendek kata, seorang pemimpin politik dan atau militer harusmemiliki pemahaman bahwa untuk mewujudkan sesuatu

Page 102: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

83/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

yang baik, mulia, agung hingga yang megah, misalnyamendirikan negara baru atau mendirikan aturan hukum ataumenyelamatkan pasukan, seseorang harus rela mengotoritangannya dengan cara yang bahkan dianggap tidakbermoral. Dan jika seseorang ingin mencapai suatu kebaikan,Machiavelli juga berpendapat bahwa seseorang harus relamelakukan apa yang secara umum dianggap sebagai tindakanjahat atau tidak bermoral. Pandangan Machiavelli inisebenarnya tidak jauh berbeda dengan Kautilya yangmenyatakan bahwa musuh yang jahat harus ditundukkandengan berbagai, dengan jahat juga sekalipun sepanjang demimelindungi negara. Meskipun demikian, bukan berartiseorang pemimpin boleh menggunakan cara-cara tidak terpujidan sewenang-wenang pada setiap kesempatan. Artinya,pemimpin harus tahu waktu yang tepat untuk menggunakancara-cara itu.

Buku The Prince yang ditulis Machiavelli secara eksplisitmenanggalkan pertimbangan moralitas yang menjadi acuanperilaku para penguasa. Russel seperti dikutip Surpimenyatakan bahwa seorang pemimpin akan mati jika ia selaluberbuat baik. Oleh karena itu, ia juga harus selicik serigaladan segalak singa. Pernyataan ini dimuat pada bukunya “InWhat Way Princess Must Keep Faith”, Bab XVIII yangmenyatakan bahwa para raja harus menjaga imannya ketikamemang dibutuhkan, bukan sebaliknya, seorang raja suatusaat harus mengingkari imannya. Machiavelli secara tegasmenyatakan bahwa seorang pemimpin harus memilikikemampuan untuk memainkan dramaturgi denganmenyamarkan sikap aslinya, pandai berpura-pura, pintarmenyembunyikan diri, menjadi manusia yang sederhana dansiap memenuhi berbagai kebutuhan yang muncul.Machiavelli menegaskan pula bahwa seorang raja haruslahterlihat seperti seorang yang religius.

Page 103: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

84/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Meskipun ada kesamaan, gagasan Machiavelli seperti diatas mungkin terasa masih dangkal tinimbang gagasan rinciKautilya tentang seorang raja, menteri maupun para pemimpinkerajaan (lihat kembali uraian tentang teori politik pada babsebelumnya). Meskipun demikian, satu hal yang dianggapsama-sama penting dari keduanya adalah bagaimanamemper-juangkan tujuan politik dengan memilih strategi yangtepat dan benar sesuai kebutuhan. Bagi seorang santa, jikaterjun ke dunia politik pasti juga menginginkan kesuksesansebagaimana layaknya seorang pendosa. Machiavelli menulisbanyak contoh pendosa yang berhasil lebih banyak jumlahnyadibandingkan dengan para santa yang berhasil. Tidak terangbenar ia menyatakan bahwa ilmu tentang keberhasilanmemang harus dipelajari sama baiknya oleh pendosa maupunorang baik.

Persoalan mahapenting lainnya, mungkin menjadipuncak pemikiran Machiavelli adalah kekuasaan yangseringkali dianggapnya bergantung pada opini, dan opinibergantung pada propaganda. Ia membenarkan bahwasebuah keuntungan yang ada dalam propaganda tampaknyalebih berbudi tinimbang musuhnya, dan bahwa cara agartampak berbudi, pastilah berbudi. Dengan adagium iniseringkali terjadi bahwa kemenangan dapat berada pada pihakyang memiliki sebagian besar dari apa yang dianggap baikoleh publik. Apa yang dikata-kan Machiavelli relevan dengansituasi di Barat saat itu. Menurut Machiavelli, kadang perlumemperlihatkan sebuah wujud kebenaran di hadapan publikyang bodoh.

Adapun moralisme Kautilya mengikuti tradisi rajadharma(tugas raja), yaitu seorang raja haruslah selalu berpegang padadharma, sedangkan Machiavelli lebih jamak dipandu olehketegangan antara moral dan apa yang seharusnya.Berdasarkan ini, keduanya tampak sepakat bahwa

Page 104: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

85/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

keberhasilan adalah sumum bonum dalam kehidupan politik.Keduanya lebih menekankan dua aspek yang berbeda.Seorang brahmin Hindu, Kautilya ingin menemukankekuatan politis pada dharma, sedangkan Machiavelli skeptistentang kemanjuran moralitas belaka dan ingin melihatkebajikan dibentengi kekuatan yang nyata.

Kautilya dalam bab penutup Arthasastra menegaskankembali bahwa sumber kehidupan umat manusia adalah artha(kesejahteraan) yang terdapat pada bumi yang ditinggalimanusia. Ilmu yang mencakup cara untuk mewujudkansekaligus melindungi bumi, tidak lain Arthasastra. Kautilyamemandang bahwa ilmu politik adalah kunci utamakesejahteraan masyarakat bahkan bumi sekalian. Secaraimplisit, Kautilya menegaskan bahwa ilmu politik harusdidedikasikan untuk menjaga dan melindungi bumi, bukanmerusaknya hanya karena semata-mata ingin berkuasa.Dengan pikiran hebatnya seperti ini menempatkan Kautilyasebagai Teachers of Political Morals.

Avalokitesvari42 mempertegas apa yang diuraikan Surpidengan merujuk apa yang pernah diungkapkan Max Webersewaktu memberikan kuliah politiknya yang berjudul Politicsof Vocation. Menurut Weber, pemikiran Machiavelli bukanlahpemikiran yang brutal melainkan moderat, jika dibandingkandengan pemikiran Sun Tzu dalam The Arts of War danpemikiran Kautilya dalam Arthahastra. Kedua pemikiran iniberisi anjuran dalam state craft (seni memerintah) dengan carayang lebih kejam melalui penggunaan mata-mata,membunuh musuh politik, penggunaan tentara bayaran,bahkan penyiksaan. Memang penggunaan tentara bayaransudah lama dikenal, bahkan oleh Aristoteles tentang tiraniPisistratus dan Tacitus tentang penguasa Tiberius, namunMachiavelli tidak menganjurkan pemimpinnya untuk

42Ni Nyoman Ayu Nikki Avalokitesvari. Op.Cit., hlm. 21.

Page 105: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

86/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

melakukan apa yang dikatakan Sun Tzu dan Kautilya.Machiavelli bahkan terkesan lebih lunak hanya denganmenganjurkan paham oportunisme politik yang berlandaskanpada sikap yang tamak, kejam, tidak dapat dipercaya,congkak dan keras kepala.

Berdasarkan diskusi di atas, saya menyimpulkan bahwaMachiavelli tampaknya yang “hanya” bermain di wilayahpolitik modern, sedangkan gagasan Kautilya Arthasastra lebihkomprehensif karena juga membincangkan banyak hal yangberkenaan dengan negara (politik, hukum, keadilan, ekonomi,kepemimpinan, dlsb). Tidak sampai di sini, Kautilya jugamenjelaskan hal-hal teknis dan praktis, misalnya bagaimanapenguasa seharusnya mengelola pertanian, mineral dan energiuntuk kepentingan rakyat banyak. Pada titik ini, Kautilyatidak cukup disamakan dengan Machiavelli yang lebihmodern, tetapi dapat juga disandingkan dengan Plato danAristoteles pada masa Yunani klasik. Implikasinya, Kautilyatidak bisa hanya dibaca secara monolitik namun justruspektrumnya diperlebar mengingat Kautilya menjadisemacam glorifikasi dari banyak pemikiran dan tokoh.

2. Kesamaan dalam Dua Gagasan BesarUntuk membuka ruang kesamaan antara Kautilya dan

Machiavelli,13 dalam sub bab ini saya menggunakan karyaL.N. Rangarajan43 (selanjutnya disingkat LNR) dan DonnoDaniel44 (DD) untuk melihat kesamaan pandangan keduanya.

13Khusus Machiavelli dapat dibaca melalui Paul Strathern. 1997. Machiavelli in 90 Minutes.Jakarta: Erlangga; Niccolo Machiavelli. 1891 (2002). Sang Penguasa: Surat SeorangNegarawan kepada Pemimpin Republik. Alih Bahasa C. Woekirsari dari judul asli IlPrincipe. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama; Niccolo Machiavelli. 2001. The Art of War,translated from The Art of War. Da Capo Press, Cambridge, USA.; Michael Curtis.1961. The Great Political Theories. New York, Avpn Book Division; dan St. Sularto.2003. Niccolo Machiavelli: Penguasa Arsitek Masyarakat. Jakarta: Kompas.

43L.N. Rangarajan (ed). 1992. The Arthasastra. Delhi: Penguin Book.44Donno Daniel. Op.Cit.

Page 106: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

87/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Selanjutnya, saya juga berkesempatan membangun tematikperbandingan, yang memperlihatkan dua simpulan besarantara Kautilya dan Machiavelli, yaitu pertama, tema tentang“Negara dan Kekuasaan”. Dalam DD disebutkan, agakberbeda dengan Plato yang mengajarkan negara harusdijalankan secara paternalistik serta bertolak belakang dengangagasan Aristoteles tentang cara matrimonial, Machiavellimenginginkan kekuasaan negara diselenggarakan secaradespotik, yakni dijalankan secara tunggal oleh penguasa kepadarakyatnya. Dan untuk menjaga keutuhan negara harusdiperkuat dengan tentara atau militer yang hebat, yang dilatihdengan baik, di mana hukum harus tegak (hal 47, 48, 53).

Sementara dalam LNR, Kautilya mengasumsikan bahwakeamanan negara hanya bisa terjamin jika militernya kuat,namun ia memperluasnya dengan bagaimana polahubungan kerja yang baik di antara perangkat kekuasaanpenyelenggara negara, di mana militer termasuk didalamnya. Pandangan ini diuraikan lengkap pada Bab IIItentang Elemen-Elemen Pembentuk Negara dan Ancaman-Ancamannya (hal 25-37). Pada bab ini dijelaskan secaralengkap elemen apa saja yang dijadikan penyusun negara,para penasehat dan menteri atau amatya, angkatan perang,sekutu/mitra di luar negeri, hubungan antara raja danmenteri, antara menteri dan janapada, antara kosa(kekayaan) dan tentara, antara tentara dan sekutu.

Kedua, tema tentang ”Penguasa Negara”. DDmenguraikan bahwa seorang pemimpin harus dicintairakyatnya dan ini tidak sulit didapat asalkan penguasa tidakmenyakiti hati rakyatnya serta menjadikan kemakmuranrakyat sebagai prioritas (hal 14). Dan untuk menjadipenguasa yang baik, maka mereka harus mempersiapkandiri secara matang dan banyak belajar dari sifat-sifatbinatang. Jika perlu penguasa itu seperti setengah binatang(hal 62). Yang terpenting adalah bagaimana ia mem-

Page 107: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

88/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

praktikkannya dengan cara generous, open-handed, merciful,faithful, fierce and bold, courteous, frank, pliant, merry, religious(hal 56). Menurut Machiavelli, rakyat akan senang jikapemimpinnya memiliki kualitas seperti ini (hal 56-57) danterpuji jika melakukannya secara sungguh-sungguh,berbelas kasihan, setia, manusiawi, jujur dan religius (hal 63).Dengan sifat-sifat sempurna ini, penguasa harus memilikikualifikasi sebagai orang yang berhati-hati untuk berbuattidak baik sehingga ia terhindar dari kebencian rakyatnya.Penguasa juga tidak boleh serakah atau merampas hak milikrakyatnya (hal 63, 95).

Dalam LNR dinyatakan, gagasan Kautilya tentangbagaimana menyiapkan penguasa yang baik dapat dilihatpada salah satu bab yang khusus membicarakan Raja.Kautilya bahkan menguraikan detail tentang perlunyapelatihan khusus bagi calon raja, bagaimana raja harusmengutamakan disiplin diri (sadhana), mengikuti pelatihanuntuk sang calon pangeran. Masuk ke aspek etika danreligius, seorang raja harus mampu mengalahkan enammusuh yang ada dalam dirinya, sehingga ia bisa dikatakansebagai Rajarishi-Raja yang bijaksana. Pada bab ini puladiuraikan tugas-tugas apa yang harus dilakukan seorangcalon raja kelak ketika naik tahta, bagaimana ia diamankandan dilindungi dari bahaya orang-orang terdekatnya,pemberontakan, persekongkolan dan pengkhianatan.

B. Kautilya dan Thomas HobbesSalah satu gagasan Kautilya, yaitu tentang negara dan

bagaimana mengelolanya, telah pula mendapat banyakperhatian. Dan gagasan ini memang yang paling sulit dijelaskan.Sejak lama, bukan saja dalam ilmu politik, soal negara jugamenjadi kajian menarik dalam antropologi. Ketertarikan paraantropolog di masa lalu adalah fenomena orang, yang sepanjanghayatnya, dipengaruhi oleh pemikiran dan tindakan orang lain

Page 108: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

89/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

di sekitarnya. Atas hal ini, pendiri antropologi lalu mengem-bangkan konsep masyarakat sebagai sistem dari bagian-bagianyang saling berkaitan.45

Dalam upayanya membangun hubungan antarmanusia,orang seringkali dihambat oleh tindakan orang lain karenamereka, nenek moyang mereka, terlibat dalam suatu kontrak.Hobbes memandang kontrak seperti itu yang menghambatmereka dari bertindak sepenuhnya atas kehendak sendiri,melainkan untuk menguntungkan bagi setiap orang. Hal yangsama dikemukakan Rousseau yang mengatakan bahwamasyarakat, bukan sebagai gejala alam, melainkan penjumlahankekuatan-kekuatan (yang) hanya dapat muncul apabila beberapaorang berhimpun.46 Melanjutkan pemikiran Hobbes dan Rousseudi atas, termasuk ke arah konsep negara, Dwipayana47 denganruntut menyandingkannya dengan Kautilya Arthasastra.

Konsep negara, sampai hari ini memang agak tidakmudah didefinisikan. Bahkan dalam antropologi sekalipun yangmenjadi tugasnya membicarakan kesukubangsaan, juga penuhdiskusi. Istilah negara, bangsa dan kebangsaan sering menjadiperdebatan. Salah satu pemicu perdebatan itu adalah gagasanAnderson48 dalam Imagined Communities: Reflection on the Originand Spread of Nationalism, yang di dalamnya memuat dimensisensoris jika membicarakan rasa kebangsaan sehingganasionalisme tidak semata-mata dipandang hanya sebagai prinsippolitik. Antropologi menempatkan nasionalisme bersamaandengan negara karena di dalamnya terdapat nilai-nilai kesetiaan,komitmen dan rasa memiliki negara yang tidak hanya bersifatinstrumental, yaitu keterikatan oleh prinsip politik melainkan jugabersifat sensorik yang berisi sentimen, emosi dan perasaan.49

45 Lihat Achmad Fedyani Saifuddin. 2006. Antropologi Kontemporer: Suatu Pengantar KritisMengenai Paradigma. Jakarta: Kencana. hlm. 141.

46 Ibid., hlm. 14147 Dirangkum dari AAGN. Ari Dwipayana. “Antara Leviathan dan Hukum Ikan”. Jurnal

Ilmu Sosial & Ilmu Politik. Vol. 3 No 2 November 1999: 188-205.48 Lihat lebih lengkap Benedict.Anderson. 1991. Imagines Communities: Reflection The

Origins and Spread Nationalism. London: Verso.49 Lihat juga ErnestGellner. 1983. Nations and Nationalism. New Perspectives on the Past.

Oxford: Basil Blackwell.

Page 109: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

90/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Pertanyaannya adalah jika rasa berbangsa dan bernegaratidak hanya berprinsip politik, tetapi berdimensi sensorik sepertidi atas, maka rasa kebangsaan juga akan menjadi sesuatu yangimagined. Artinya, orang-orang yang mendefinisikan dirimereka sebagai warga suatu bangsa, meski tidak pernah salingmengenal, bertemu, atau bahkan mendengar, namun dalampikiran mereka hidup suatu image mengenai suatu kesatuanbersama. Itulah sebabnya ada warga negara yang relamengorbankan jiwa raganya demi membela bangsa dannegaranya, sebagaimana diartikan dalam cinta tanah air ataubela negara.

Berangkat dari gagasan Anderson bahwa nation itu padaakhirnya imagined, maka nasionalisme adalah suatu ideologiyang menyelimuti imajinasi itu, sehingga nasionalisme dapatsaja mengalami kemerosotan apabila terdapat distorsi yangdisebabkan oleh faktor internal dan eksternal dalam negarabangsa. Oleh karena itu, negara-bangsa juga harus direfleksikankembali bahkan juga dapat diintropeksi mengingat akanberhadapan dengan perubahan. Indonesia yang beragam olehbanyak hal (suku, agama, ras, etnis, bahasa, adat istiadat, dlsb)secara keseluruhan harus diikat oleh rasa kebangsaan yangsetidaknya terdiri dari tiga pilar, yaitu kesadaran identitasbersama, kesadaran historis dan gerakan bersama dalammenghadapi berbagai ancaman. Ketiga pilar ini bekerja bersama-sama, terlebih Indonesia dianggap sebagai salah satu negara-bangsa yang muncul pasca perang dunia kedua.50

Berkelindan dengan antropologi, ilmu politik jugamengalami kesulitan untuk mendefinisikan negara. Kesulitanini salah satunya disebabkan karena belum ditemukannya cukupbukti untuk meyakinkan tentang genetika negara. Implikasinya,

50 Lihat lebih lengkap Benedict.Anderson. 1991. Imagines Communities: Reflection TheOrigins and Spread Nationalism. London: Verso.

Page 110: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

91/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

berbagai teori tentang negara umumnya bercorak spekulatifdan abstrak. Oleh karena itu, kita perlu kembali pada teorikontrak sosial, yang sekurang-kurangnya dianggap sebagaidasar hubungan negara dan masyarakat. Tampaknya, teorikontrak sosial terinspirasi dari berbagai tradisi pemikiran, mulaidari pemikiran klasik India dalam Kautilya Arthasastra,rasionalisme dalam tulisan para filosof Yunani Kuno hinggapemikiran John Locke dan Rousseau. Apa yang dapatdiperbandingkan antara Hobbes dalam Leviathan dan Kautilyadalam arthasastra?

Leviathan adalah karya besar Thomas Hobbes, selain TheElement of Law (1640), Natural and Political (1640) dan TheCitizen (1642). Seperti Kautilya dan kebanyakan para ahli dimasa lalu, kehadiran Leviathan juga sangat dipengaruhi olehsejarah dan peristiwa besar yang dilaluinya. Misalnya, ketika iadilahirkan pada 3 April 1588 di Malmesburry, Inggris, ia danseluruh penduduk ketika itu terancam bahaya akibat kehadiranarmada tak terkalahkan dari Spanyol. Selain peristiwa yangmenakutkan dan peperangan yang melanda Inggris hinggakekalahan Raja Charles I, secara intelektualitas, Hobbesdipengaruhi oleh Machiavelli dan Bacon. Yang pasti, Hobbesbukanlah seorang negarawan atau bagian dari penguasa negara,tetapi filosof yang memiliki ketertarikan besar dalam bidangpolitik. Sebagai Machivellian, Hobbes searah dengan mentornyamenemukan hukum moral yang bukan berdasarkan atas akaltetapi nafsu. Nafsu untuk berkuasa dianggapnya sebagai akarterdalam dari tingkah laku manusia, sehingga jika adapandangan lain yang tidak sesuai dengan pendapatnya inidianggap tidak mampu memahami tingkah laku manusia.

Lebih lanjut, keadaan Inggris yang penuh tekanan danketakutan serta potensial terjadi perang saudara, sejalan denganpenggambaran Hobbes sebagai keadaan alamiah sebelumterbentuknya masyarakat sipil yang dianggapnya bukan

Page 111: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

92/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

keadaan yang ideal menemukan keamanan dan keadilan.Keadaan ini disebutnya penuh kekacauan, tanpa hukum dantanpa perintah, serta tanpa ikatan sosial antarindividu. MenurutHobbes, the state of nature itu didorong oleh sifat-sifat kodratmanusia sebagai makhluk yang cenderung mengutamakandirinya sendiri, egoistik, individualistik dan tindakannya tidakdituntun oleh akal sehat tetapi didominasi oleh nafsu (passion).Manusia seolah berhadapan dengan manusia lainnya melaluikompetisi, ketidakpercayaan dan kebesaran diri. Salah satupernyataan Hobbes yang terkenal mengenai alam adalahperang semua melawan semua. Jika setiap orang memiliki hakuntuk setiap hal, maka setiap orang juga mempunyai hak untukmengambilnya dari orang lain. Bagi Hobbes, kebahagiaan akansulit ditemukan dalam keadaan alamiah manusia sebeluminstitusi yang disebut pemerintah atau negara ada. Jadi, keadaanalamiah terjadi karena absennya negara dan masyarakat sipil.51

Keadaan alamiah dengan segala kekacauan danketidakteraturan itu, menurut Hobbes harus dihentikan karenatidak dapat diteruskan dan berlangsung lama. Oleh karena itu,manusia dengan akalnya perlu menjalin hubungan denganmanusia lainnya melalui kontrak sosial. Manusia yangsebelumnya hidup dalam keadaan alamiah itu berjanjimenyerahkan hak-hak kodrat yang dimilikinya dalam keadaanalamiah kepada seseorang atau kepada sebuah badan. Perjanjianmelalui kontrak sosial ini mengakhiri anarkhi yang terjadipada keadaan alamiah menuju terbentuknya negara.Selanjutnya Hobbes mengatakan bahwa hanya terdapat satuperjanjian, yaitu perjanjian pemerintahan dengan jalan manasegenap individu yang berjanji menyerahkan hak-hak kodratyang mereka miliki ketika hidup dalam keadaan alamiah kepada

51 Lihat lebih lengkap tentang hal ini dalam Thomas Hobbes. 1962. Leviathan. M. Oakshott(ed). New York: Coller Books.

Page 112: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

93/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

seseorang atau sekelompok orang yang ditunjuk untuk mengaturkehidupan mereka.

Namun, Hobbes juga mengatakan bahwa perjanjian sajabelum cukup, karena itu harus pula diberikan kekuasaan. BagiHobbes, negara harus berkuasa penuh sebagaimana halnyabinatang buas “Leviathan” yang dapat menaklukkan segenapbinatang buas lainnya. Negara harus diberikan kekuasaanyang mutlak sehingga kekuasaan negara tidak dapat ditandingidan disaingi oleh kekuasaan apapun. Pandangan kekuasaannegara yang absolut ini, mengantarkan Hobbes sebagai peletakdasar falsafah dan absolutisme negara. Pendeknya, kehendakHobbes adalah tidak ada yang dapat menandingi kekuasaannegara. Bagaimana pandangan Kautilya tentang kontrak sosialdan negara?

Pandangan Kautilya tentang negara dalam keadaanalamiah dapat dilacak saat ia menjadi penasehat utamaCandragupta yang menawarkan “teori hukum ikan”.Menurutnya, dalam hukum ini, ikan yang besar akan memangsaikan yang lebih kecil. Dalam keadaan seperti itu, manusiamengalami ketakutan dan kebingungan, yang dalam gambaranHobbes, manusia satu merupakan lawan dari manusia lainnya.Dalam kondisi inilah terjadi anarki, tidak ada hukum dannegara yang mengatur kehidupan bersama. Untuk menyudahikeadaan alamiah ini, maka dibuat kontrak sosial denganmengangkat Manu sebagai raja. Dalam kontrak sosialnya,masing-masing orang harus menyerahkan haknya kepada rajauntuk digunakan sebagai jaminan kelangsungan hidupbersama. Bagi Kautilya, kehadiran negara atau raja lebihbertujuan untuk melaksanakan beberapa peran.

Pertama, peranan utama negara (atau raja) yaitumelindungi seluruh wilayah dan janapada (rakyatnya). Objekdari perlindungan negara adalah masyarakat atau loka yangterdiri dari catur warna dan catur asrama yang diperintah olehraja untuk memelihara jalannya kekuasaan, mematuhi

Page 113: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

94/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

kewajiban dan pekerjaannya. Kedua, peranan negara adalahmemelihara kepatuhan kepada aturan yang ada. Negaramelindungi dharma sehingga jika negara melindungimasyarakatnya, ia telah membawa masyarakatnya ke surga.Sebaliknya jika negara melalaikan tugasnya, masyarakat akanmendapatkan bencana. Ketiga, negara berperan memajukankesejahteraan rakyatnya. Kautilya menyatakan sumpah seorangraja adalah selalu siaga untuk membuat rakyatnya bahagia. Olehkarena itu, negara menurut Kautilya memiliki otoritas mutlakuntuk menarik pajak dari rakyatnya. Bahkan dirumuskan, jikaseorang raja mampu bersikap adil dengan melindungirakyatnya, ia akan memperoleh masing-masing seperenambagian, jika tidak, ia hanya menerima seperenam bagian juga.Juga, jika raja yang tidak adil tetapi masih menarik pajak, setelahmati akan masuk neraka. Keempat, negara memiliki perananuntuk menjaga kepatuhan rakyatnya pada hukum dan keadilan.Kelima, negara berperan menjaga stabilitas perdamaian duniadengan konsep Mandala.

Melalui teori kontrak sosial di atas, Kautilya memilikiposisi yang sama dengan Hobbes dalam membela posisi negarayang absolut. Beberapa pernyataan Kautilya dalam Arthasastraberikut menguatkan kesamaan pandangannya dengan Hobbestentang Leviathan, hukum ikan dan keadaan (negara) alamiah:

“Ketika masyarakat tertindas oleh hukum ikan(matsyayana: ikan besar memangsa ikan yang lebih lecil),mereka mengangkat Manu, putra Wiswawat menjadi raja.Kemudian mereka menetapkan seperenam bagian dari biji-bijian (gandum) dan sepersepuluh dari barang-barang danuang sebagai sumbangan. Raja yang telah menerimasumbangan ini akan mampu menjamin keberadaan dankelangsungan warganya”.52

52 Dwipayana., Op.Cit., hlm. 199 yang kutipannya ini diambil dari Majalah Warta HinduDharma (1996: 8-9).

Page 114: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

95/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

“Ketika ciptaan ini (yang diciptakan Prajapati) hidup tanparaja, semuanya hidup dalam ketakutan dan kebingungan,menyebar ke segala arah. Tuhan menciptakan raja untukmelindungi semuanya (ciptaanNya). Pada kitabMahabharata dinyatakan, memberikan perlindunganadalah pupuk atau esensi dari kewajiban raja/negara. Olehkarena itu, raja harus selalu aktif dan menyelesaikankewajibannya: sumber kesejahteraan adalah aktivitas, dankejahatan adalah sebaliknya”.53

“Rakyat menderita akibat dari anarkis, seperti diibaratkanikan besar memangsa ikan yang kecil. Mula-mula Manuturunan Wiswawat, terpilih menjadi raja mereka,menetapkan seperenam bagian dari biji yang tumbuh, dansepersepuluh dari barang dagangan diberikan kepada raja.Atas penerimaan ini, raja berkewajiban dan bertyanggungjawab atas keamanan dan keselamatan rakyatnya, danmemberikan ganjaran apabila aturan denda hukuman danpajak dilanggar. Pertapaan juga menyerahkan seperenambiji-bijian yang dikumpulkannya dengan menganggappembayaran tersebut kepada orang yang memberikanperlindungan”.54

C. Politik Hindu di Nusantara

1. Pasca Kedatangan HinduPertanyaan banyak orang apakah sistem politik Hindu yangberlaku di India, termasuk konsep politik dan kekuasaan yangtersebar dalam banyak kitab dan buku terbawa hingga ke

53Ibid., hlm. 199-200.54Ibid., hlm. 201 yang kutipannya ini diambil dari dari KA. Nilakanta. 1957.

Manu and Kautilya. London: Pelican Book. hlm. 107

Page 115: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

96/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

luar India? Tidak dapat dipastikan secara valid. Cerita tentangkedatangan Maharsi Agastya sebagai brahmana pertamayang langsung datang dari India, masih diperdebatkan.Diskusi panjang juga mewarnai apakah kedatangan India keIndonesia sebagai misi penyebaran agama Hindu, penaklukanatau perdagangan masih samar. Kedatangan rombonganpertama itu memiliki banyak misi dengan kehadiran parabrahmana, ksatria dan waisya (pedagang) di dalamnya.

Namun anasir Arthasastra yang terserap ke dalam PancaTantra atau kakawin Niti Sastra hingga ke Bali misalnya,menandakan pengaruh itu dapat menyebar, salah satunyamelalui cerita dan berbagai karya sastra. PerjalananArthasastra dan Niti Sastra yang menyebar dari India kebeberapa negara membuktikan tesis itu. Misalnya, di Tibetada ajaran Niti-Niti yang disebut Tanjur. Karya yang samaditulis Masuraksa dengan judul Subhasita Ratna Nidhi yangbersumber dari ajaran Niti ditemukan bahasa Mongol, MongolBarat, dan Mancuria. Begitu juga di Nepal dijumpaiChanakya Niti Sastra yang lengkap dan kitab lain SubhasitaRatna Kosa. Sedangkan di Srilangka terdapat ajaran Niti dalambahasa Singghli. Darmayasa mencatat masih banyak laginegara-negara di luar India yang terpengaruh dari bagaimanaajaran Niti itu dapat berkembang pesat.55

Secara simplitis namun tanpa mengurangi aliran sejarahyang telah diyakini selama ini, usaha yang dapat dilakukanselain membaca pengaruh India melalui karya sastra di atasadalah menggambarkan kembali awal mula kedatanganHindu di tanah nusantara, terutama saat kerajaan Hindupertama hingga berakhir di Bali. Bagaimanapun, sepertidiuraikan Sutrisno,56 kehadiran agama Hindu dari India keIndonesia dianggap memiliki peran yang sangat penting dalam

55Darmayasa, Op.Cit., hlm. Xxii-xxiii.56Nanang Sutrisno, Op.Cit., hlm. 12-15.

Page 116: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

97/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

transformasi sosial-budaya dan lanskap peta politik dinusantara. Bahkan masuknya Hindu dianggap ikutmengeluarkan bangsa Indonesia dari residu sejarah yangburam (nirleka) sekaligus memperkenal-kannya dengansistem politik yang baru. Fakta sejarah itu dapat dimulaidengan berdirinya kerajaan Kerajaan Kutai pada sekitar abadke-4 masehi. Kehadiran kerajaan Hindu pertama di Indonesiaini, dengan raja Kudungga dan setelahnya Mulawarmanmenjadi awal mula sejarah politik nusantara wajahperpolitikan melalui kerajaan makin terang diteruskan secaraberturut-turut di Jawa Barat melalui kerajaan Tarumanegaradengan raja Purnawarman (400-700 M), Kerajaan Kalingga(618-906 M) di Jawa Tengah yang dipimpin seorang rajaperempuan bernama Ratu Simha yang pada masakepemimpinannya diperkirakan telah ada kontak intensifantara Hindu dan Buddha.57

Lebih lanjut, Sutrisno menguraikan bawa politikHindu di Jawa mulai mengalami perkembangan pesat,terutama masa Mataram Kuno yang ditandai denganbanyak temuan prasasti dan artefak keagamaan Hindu.Pada masa ini pula, dinasti Sanjaya (Hindu-Shiwa) dandinasti Syailendra (Buddha Mahayana) menjadipenguasanya, dan keduanya (Siwa-Buddha) menjadi agamanegara yang berkaitan dengan wangsa-wangsa kerajaanyang berkuasa. Semasa dengan itu, di Jawa Timur mulai jugamuncul kerajaan Hindu bernama Kanjuruhan, sebagaimanatertulis dalam prasasti Dinoyo berangka tahun 760 M yangmenceritakan bahwa pada abad ke-8, terdapat kerajaanyang dipimpin Dewasimha, berputra Limwa yangmenggantikannya sebagai raja dengan Gajayana. KerajaanHindu di daerah Jawa Timur didirikan dinasti Isana

57 Tentang sejarah Hindu awal mula di nusantara, lihat selengkapnya dalam Soekmono.1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2. Yogyakarta: Kanisius.

Page 117: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

98/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

(Isanawamsa) setelah berakhirnya kekuasan Sanjayawamsadi Jawa Tengah. Raja pertama dari dinasti ini adalah MpuSindok (929-947 M) yang kemudian digantikanDharmawangsa Teguh Anantawikramatunggadewa(991-1016 M). Pada masa ini pula perkembangan keagamaanHindu semakin pesat degan penulisan kembali teks-teksHindu dan Buddha ke dalam bahasa Jawa Kuno. PenerusDharmawangsa Teguh adalah Airlangga yang digambarkansebagai titisan Wisnu, yang sebelum mangkat pada 1049 M,ia membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Jenggala(Singhasari) beribukota di Kahuripan dan Panjalu (Kadiri)yang beribukota di Daha.

Pada mulanya, kerajaan Panjalu (Kadiri) lebihberkembang dengan raja pertamanya Sri Jayawarsa DigjayaSastraprabhu, sesuai prasasti berangka tahun 1104 M.Kejayaannya dilanjutkan oleh Kameswara (1115-1130 M) danditeruskan oleh Jayabaya (1130-1160 M) yang pemerin-tahannya dikekalkan dalam Kakawin Bharatayuddhagubahan Mpu Sedah dan Mpu Panuluh. Jayabaya digantiSarweswara (1160-1170 M), serta Aryeswara (1170-1180).Raja terakhir Kadiri adalah Krtajaya (1200-1222 M) dan padamasa inilah pemerintahan berpindah ke Singhasari setelahKen Arok berhasil mengalahkan Krtajaya dalam sebuahpertempuran di Genter.

Kemenangan Ken Arok menjadikannya raja Singhasaripada 1222-1227 M, sebelum digulingkan Anusapati (1227-1248 M). Anusapati digulingkan oleh Tohjaya dan Tohjayayang akhirnya digulingkan juga oleh Ranggawuni–putraAnusapati sendiri. Sejak 1248 M, Singhasari diperintahRanggawuni dengan gelar Sri Jaya Wisnuwardhana. Padatahun 1254 M, Wisnuwardhana melantik puteranya,Krtanegara sebagai raja Singhasari dan meraih puncakkejayaannya. Dalam teks Negarakertagama disebutkan

Page 118: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

99/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

bahwa Kertanegara berhasil menaklukkan Bali, Pahang,Sunda, Bakulapura (Kalimantan Barat) dan Gurun(Maluku). Selain itu, Kertanegara juga telah membangunhubungan politik dengan Campa dengan memberi salah satuputrinya kepada raja Campa, Jaya Simhawarman III.Kejayaan Singhasari akhirnya mengalami kehancuran pada1292 M yang diakibatkan serangan dari kerajaan Kadiri yangmulai bangkit lagi setelah dipimpin Jayakatwang.

Diceritakan bahwa Raden Wijaya yang sedangmengejar tentara Kadiri ke utara terpaksa melarikan dirisetelah mengetahui Singhasari jatuh. Ia bersama pasukannyalalu menyeberang ke Madura untuk mencari perlindungankepada Arya Wiraraja di Sumenep. Atas saran dan jaminanArya Wiraraja, Raden Wijaya mengabdikan diri keJayakatwang di Kadiri dan dianugerahi tanah di desa Tarik.Dengan memanfaatkan serangan pasukan Tiongkok keSinghasari, maka Raden Wijaya berhasil menguasaiSinghasari dan mendirikan kerajaan baru bernamaMajapahit. Dengan bantuan pasukan Singhasari yangkembali dari ekspansi Pamalayu ke Sumatera, Raden Wijayalalu dinobatkan sebagai raja pertama Majapahit bergelarKrtarajasa Jayawardhana (1293-1309 M). Raden Wijayadigantikan Kalagemet atau Jayanegara (1309-1328 M) yangselanjutnya digantikan Bhre Kahuripan bergelarTribhuwananottunggadewi Jayawisnuwardhani (1328-1360M). Pada tahun 1331 M, muncul pemberontakan di Sadengdan Keta yang berhasil ditumpas oleh Gajah Mada.Tribhuwanottunggadewi menyerahkan tahta kerajaankepada putranya, Hayam Wuruk yang bergelarRajasanagara (1360-1369 M) dan Gajah Mada diangkatsebagai Mahapatih. Pada masa pemerintahan Hayam Wurukdengan patih Gajah Mada inilah, Majapahit mengalamipuncak keemasan. Seluruh wilayah nusantara (Indonesia

Page 119: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

100/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

sekarang) berhasil dikuasi Mahapahit dan kekuasaannyajuga merambat ke sejumlah wilayah di Asia Tenggarasekarang. Pasca mangkatnya Raja Hayam Wuruk,Majapahit mengalami masa kemunduran dan menujukehancurannya, sekaligus ditandai dengan masuknya Islamke Jawa. Penerus Majapahit akhir adalah Kertabumi atauBrawijaya yang memerintah pada tahun 1453-1478 M, tetapitidak diketahui mengenai perjalanan kerajaannya.

Singkat cerita, setelah berkembangnya kerajaan-kerajaan Islam di nusantara, Blambangan menjadi kerajaanHindu terakhir yang baru dapat ditaklukkan oleh MataramIslam dan VOC pada 1771 M, dan hanya menyisakan Balisebagai satu-satunya kerajaan Hindu yang tetapmencatatkan eksistensinya hingga era colonial. Sejarahkerajaan Bali dapat dibentangkan dari periode Bali Kuno(abad ke-8 sampai ke-14 M) hingga Bali Majapahit (abadke-14 sampai era kemerdekaan). Dengan berakhirnyakerajaan Bali seiring dengan perubahan sistem politiknasional, maka berakhir pula sejarah politik Hindu nusantara.

Lepas dari memudarnya pengaruh dan kerajaan Hindudi nusantara, pada masa kejayaan Majapahit pula,kita dapatmenemukan dua kitab penting yang menggambarkanpolitik Hindu dan bagaimana kekuasaan itu diajalankanolehsebelumnya dalam kerajaan Singashari lalu mencapaipuncaknya oleh Hayam Wuruk dan Gajah Mada. Pertama,kitab Nagarakretagama yang digubah oleh Mpu Prapanca58

atau Dang Acarya Nadendra, seorang DharmadyaksaKasogatan pada tahun Caka Gunung-Gajah-Budi-Janma

58 Meskipun nama ini oleh kalangan kritikus sastra sering dikritik sebagai pujangga yangterlalu subjektif bahkan suka hanya memuja muji Prabhu Rajasanagara (Hayam Wuruk),sehingga gambaran masa keemasan Majapahit melalui Nagarakrtagama dianggap begitusempurna tanpa cela. Lihat Stuart Robson (Monash University).”MemperkenalkanNagarakrtagama sebagai Karya Sastra Agung”. Makalah Seminar pada 26 Mei 2008,hlm. 1-17.

Page 120: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

101/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

atau 1287 C/1365 M. Kitab ini disusunnya sebagai pujianatau puja sastra untuk mengagungkan kebesaran HayamWuruk khususnya dan Majapahit secara umum dalam 94/2Pupuh. Nagarakretagama diartikan sebagai “sejarahpembangunan negara”, namun juga diberi namaDesawarnana yang berarti “uraian tentang desa-desa”berdasarkan hasil amatan dan pengalaman sang mpu saatikut berkeliling sepanjang perjalanan bersama para penguasakerajaan. Kedua, kitab Pararaton. Kitab ini cukup terkenal,namun sayang tidak diketahui secara pasti penulisnya.Hanya waktu penulisannya dapat diperkirakan. Jikamerujuk waktu disusunnya Nagarakretagama, diperkirakanPararaton disusun 248 tahun setelah Nagarakretagama,tepatnya pada Caka Wisaya-Guna-Banyuning-Wong atau1535 C/1613 M. Berbeda dengan Naragakretagama, paraahli cenderung membaca Pararaton sebagai kitab yangisinya penuh dongeng. Ada 14 bagian dalam Pararaton yangmenceritakan riwayat Ken Arok saat sebelum menjadiraja Singashari hingga berakhir pada Bhre Pandan Salas.Namun yang pasti, Pararaton tidak sama denganNagarakretagama.59

2. Politik dan Kekuasaan dalam Kebudayaan JawaMelanjutkan perjalanan sejarah Hindu yang mengaliri

nusantara, dan menempatkan Jawa sebagai episentrumnyamelalui sistem kerajaan, temuan prasasti dan artefak, sertatersebarnya teks Hindu, lebih kurang mulai abad 4 M hinggajatuhnya Majapahit di akhir abab 15, maka politik dankekuasaan sebagai sebuah konsep dapat juga dikonstruksimulai dari Jawa. Meskipun konstruksi ini sangat ringkihsecara epistemologis karena lebih kuat dengan klaim bahwa

59 Lihat selengkapnya dalam K.M. Suhardana. 2008. Nagarakretagama & Pararaton.Sejarah Pembangunan Majapahit. Surabaya: Paramita.

Page 121: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

102/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Jawa pernah dikuasai agama dan ajaran Hindu sangat lama,namun tidak dapat dinapikan bahwa pengaruh itu mungkinsaja atau masih hidup di tanah Jawa. Jadi, konstruksi konseppolitik dan kekuasaan menurut kebudayaan Jawa adalahakumulasi dari silang pengaruh berbagai agama yangpernah ada di Jawa, salah satu yang sempat dominan adalahHindu. Oleh karena itu, konstruksi ini mengambil banyaksudut pandang, termasuk ketika Sultan Agung memerintahMataram (1613-1615), namun tidak keluar darikejawaannya. Bagaimanapun, sebuah sistem pemerintahantidak hanya ditemukan dalam masyarakat modern, tetapijuga pada masyarakat tradisional, seperti Mesir Kuno, ChinaKuno, dan Romawi Kuno, termasuk di Indonesia khususnyapada era sebelum kolonialisme.60

Kita dapat mulai dari pendapat ahli Anderson61 yangmembagi konsep kekuasaan menurut Jawa ke dalam empatbagian, yang sekaligus dapat menjadi perbandingan konsepkekuasaan di barat. Pertama, kekuasaan itu konkrit karenakeberadaannya diturunkan langsung oleh Hyang MurbengDumadi atas dasar wahyu kepada para “wakilnya” di dunia.Jika pendapat ini dikaitkan dengan politik, maka kekuasaanitu merupakan ungkapan kesekten atau sakti yang didasarkanatas wahyu. Berbeda dengan konsep di barat bahwakekuasaan itu bersifat abstrak dan akan ada kalau orang ataukelompok yang saling berhubungan, dan kepatuhan padakemauan orang atau sekelompok orang lainnya. DalamHindu, dan pada masa lalu saat sistem kerajaan begitu absolut,terdapat istilah Dewa Raja, yaitu raja dianggap sebagai wakilTuhan yang memerintah masyarakat.

60 Lihat juga Peter M. Blau dan Marshall W. Meyer. 2000. Birokrasi dalam MasyarakatModern (terjemahan). Jakarta: Prestasi Pustakaraya.

61 Benedict R.OG. Anderson. 1972. “The Idea of Power in Javanese Culture” in HoltClaire (ed). Culture and Polirics in Indonesia

Page 122: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

103/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kedua, kekuasaan itu homogen, yaitu semuakekuasaan pada dasarnya sama jenis dan sumbernya.Kekuasaan di tangan satu orang atau kelompok itu samasaja dengan kekuasaan yang ada di tangan individu ataukelompok lain, di manapun ia berada. Berbeda dengan dibarat, yang memandang kekuasaan itu bersifat heterogenyang sumbernya beraneka, misalnya kekuasaan yangbersumber pada kekayaan, status sosial, senjata, kepandaian,hingga jumlah dan populasi. Ketiga, jumlah kekuasaan dalamalam semesta selalu bersifat tetap. Jadi, kekuasaan itu adalahungkapan dari realitas yang sama, berasal dari sumbertunggal yang sama, berkualitas sama dan bahkan kekuasaanitu lebih dulu ada tinimbang keberadaan yang lain. Konsepini jauh berbeda konsep di barat yang menganggapkekuasaan itu bersifat inheren yang sifatnya tak terbatas.Keempat, kekuasaan itu tidak mempersoalkan keabsahankarena sumber kekuasaan itu tunggal dan homogensehingga tidak perlu mempersoalkan kekuasaan itubersumber darimana.62

Berdasarkan pandangan Anderson di atas, konsepkekuasaan dalam budaya Jawa lebih kepada bagaimanamenghimpun atau memusatkan kekuasaan karena dengancara itu akan melahirkan kekuatan luar biasa pada diripenguasa. Berbeda dengan konsep kekuasaan di barat yangmenitikberatkan pada bagaimana menggunakan kekuasaanitu. Tidak mengherankan jika pada masa lalu, dan mungkinmasih berlaku hingga saat ini, seorang pemimpin akanmenghimpun kekuatan melalui ragam cara, misalnyabertapa (asketik). Bahkan ada seseorang yang menginginkan

62Selain Anderson, tentu saja ada banyak pembagian kekuasaan menurut ahli lainnya,misalnya dari Blaine Lee. 2002. Prinsip Kekuasaan. Terjemahan Arvin Saputra. Jakarta:Binarupa Aksara. hlm. 29, yang membagi kekuasaan itu menjadi tiga, yaitu kekuasaanyang dibangun atas paksaan, manfaat dan prinsip kehormatan.

Page 123: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

104/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

kekuasaan dengan menghimpun kekuatan melalui tindakanyang terkesan irasional, seperti memelihara “orang-oranganeh”, atau melakukan persekutuan dengan dunia gaib.Membawa serta banyak pengikut dan iringan-iringan rakyat(abdi) dalam perayaan dan penobatan seorang raja di masalalu juga dianggap sebagai bagian untuk memegahkanpanggung si penguasa. Fakta ini adalah satu keunikan dankekhasan budaya Jawa dalam memandang kekuasaan yangmerupakan salah satu unsur budaya serta menjadi bagiandari klasifikasi simbolik dan orientasi nilai budaya Jawadalam bahasa, kesenian, agama, ritus, dlsb.

Dapat disimpulkan bahwa kekuasaan dalamkebudayaan Jawa bukan semata ditentukan olehkemampuan penguasa memusatkan kekuasaannya tetapiditandai oleh adanya “wahyu”. Selain itu, pemusatankekuasaan seringkali disimbolisasi dengan kesuburan,kemuliaan dan keadaan yang aman atau stabil. Tidakmengherankan pula, karena simbolisasi ini, para penguasaberlomba-lomba untuk mengejar kesuburan sebagaipertanda kemakmuran dan stabilitas sebagai pertandakeadaan yang aman.

Wurianto63 menjelaskan panjang lebar tentangbagaimana seorang raja menjadi sumbu utama dari pijarkekuasaannya kelak, yang dalam tataran budaya Jawamerupakan simbol atas hakikat hidup, hakikat karya,hakikat hubungan dengan alam, persepsi waktu danhubungan sosial lainnya. Dalam Serat Sastra Gending yangdiciptakan Sultan Agung, kekuasaan diformulasikan denganTurasing Ratu Pinandhita Kang Hanyakrawati Kang WenangMasesa Wong Sanagari. Sifat Kuwagung dadi Wewayanging

63 Dirangkum dari Arif Budi Wurianto. “Gung Binatara: Kekuasaan dan Moralitas Jawa.Kasus Religiusitas Sultan Agung di Mataram”. Jurnal Ilmiah Bestari. No. 32. Th. XIV.2001: 46-52.

Page 124: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

105/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Allah. (tokoh keturunan raja yang bersifat pendeta yangpatut dan layak menjadi penguasa negara. Mampu berbuatarif bijaksana laksana bayang-bayang Tuhan). Oleh karenaitu, seorang raja dalam memeriksa semua pengikutnya danmenyayangi laskar prajuritnya, ia harus memiliki empatmacam cara, yaitu pertama kali duduk, kedua kepandaian,ketiga pekerjaan dan keempat keberanian (Panitisastra:Jasadipura I).64

Konsep politik dan kekuasaan yang digagas SultanAgung saat memerintah Mataram adalah kelanjutan dariStatecraft atau istilah untuk sebuah kerajaan pertanian yangkhas yang dilingkupi oleh struktur filosofis budaya agraris,sekaligus kosmis, mistik dan simbolis. Kondisi ini melahirkansebuah konsep budaya politik dan kenegaraan yangmengakumulasikan sistem perubahan sosial budaya yangradikal. Sultan Agung yang memerintah Mataram padamasa itu, dianggap sebagai peletak dasar ketatanegaraandan sistem politik yang mensinkretiskan atau bahkanmelakukan kompromi antara sistem formal dengansupranatural, termasuk perubahan dari pengaruh peradabanHindu-Buddha atau jaman Kebudan ke arah pengaruh Islamatau jaman Kewalen. Dalam perjalanannya, konsep politik,kekuasaan dan ketatanegaraan Sultan Agung ditafsirkandalam berbagai bentuk sinkretik.

Tafsiran pujangga Ranggawarsita tentang kekuasaanyang baik adalah kekuasaan yang mengutamakankeseimbangan jika pemimpinnya memiliki sifat Ajipamasadan Raja Pengging Witaradya, antara lain Paramengkawi,

64Dalam kebudayaan Jawa, kitab Panitisastra cukup terkenal dan banyak dipengaruhi olehberbagai gubahan dari karya sastra dan epos Jawa Kuno. Panitisastra berisi ajaran tentangmoral dan sikap hidup, terutama yang berasal Nitisastra Jawa Kuno yang “kembalihidup”, terutama dalam kurun waktu abad XVIII hingga XIX. Untuk mengetahui lebihlengkap kitab ini, baca A. Sudewa. 1991. Serat Panitisastra. Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.

Page 125: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

106/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

yaitu pemimpin yang ahli dalam ilmu-ilmu luhur termasukpengetahuan yang luas tentang kajian sejarah lama;Sambegana, yaitu pemimpin yang melalui kekuasaannyadapat menimbang secara adil dalam melihat perbedaanantara hak dan wewenang, dan Nawangkridha, yaitukekuasaan yang menjadikan sosok idaman yang dapatmemperlihatkan fleksibelitas suara jaman dan perubahan.

Adapun tafsiran dari pujangga Jasadipura tentangkekuasaan yang gung binathara dapat menjadi lengkapapabila dalam kekuasaan itu terdapat beberapa sifat, antaralain Amartanipura, yaitu kekuasaan yang membawapemerintahan secara teguh dan menjamin keselamatanrakyat; Wijangkalpa, yaitu tidak meninggalkan kaumpendahulu, pini sepuh, dan para guru; dan Kalantagrahita,yaitu kekuasaan seorang pemimpin yang cukup memilikibakat intelektual sehingga mampu menangkap tanda-tandaperubahan jaman dalam mewujudkan keinginan orang yangdipimpin atau rakyatnya.

3. Inspirasi dari Gadjah Mada tentang Politik Hindu danKekuasaan

Tafsir terhadap Gajah Mada tentang kekuasaan tidakbisa dilepaskan dari pengalaman hidupnya yang sangatpanjang hingga menjadi mahapatih paling legendaris padasebuah kerajaan yang kekuasaanya sangat luas, Majapahit.Farchan dan Syam65 mencoba menafsir kembali kekuasaanmenurut Gajah Mada, yang secara filosofis dipengaruhi olehkonsep kosmologis dalam ajaran Brahma, kosmologis dariajaran Buddhisme dan kosmogini Hinduisme. Melanjutkanberbagai pengaruh ini, kekuasaan dalam pandangan Gajah

65 Dirangkum dari Yusak Farchan dan Firdaus Syam. “Tafsir Kekuasaan Menurut Gajah Mada”. Jurnal Politik. Vol. 11 No. 01. 2015: 1589-1599.

Page 126: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

107/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Mada dapat ditafsirkan sebagai kemampuan untukmengendalikan tindakan orang lain, baik lansung maupuntidak langsung. Dan ini dapat dilakukannya karena iaseorang patih yang memiliki tugas dan wewenang penuhuntuk menjalankan pemerintahan.

Tafsir kekuasaan Gajah Mada, sekali lagi, tak bisadilepaskan dari pandangannya tentang kepemimpinan. Iamisalnya, adalah penggagas falsafah kepemimpinan TriDharma yang memiliki dimensi spiritual, dimensi moral, dandimensi manajerial. Adapun upaya Gajah Mada dalammengendalikan kekuasaanya dilakukan melalui, pertama,penataan birokrasi yang dilakukan dengan dua mekanisme,yaitu penataan struktur dan mencari dukungan di tingkatdesa. Kedua, penerapan militer dengan melakukanpenaklukan dan persekutuan kekuatan militer dalam rangkamengukuhkan kedaulatan, melindungi rakyat danmendapatkan pengakuan dari politik pesaingnya. Ketiga,penerapan sistem hukum di mana saat menjadi patih,Majapahit telah memiliki kitab-kitab hukum tertulis yangbersifat “nasional”, hukum adat masih dijadikan sumberaturan tambahan dan pengetahuan tentang hukum formaltelah dikenal oleh penduduk pedesaan. Keempat, penerapannilai-nilai tradisi besar dan aktivitas publik dengan maksudpengendalian kekuasaan dilakukan melalui pendirianbangunan peribadatan yang bersifat monumental, upacara-upacara yang diselenggarakan di keraton, dan perjalanankeliling kerajaan.

Namun yang tak dapat dipungkiri adalah GajahMada juga amat sangat dipengaruhi oleh Gayatri, putribungsu Kertanegara, Raja Singashari yang juga ibu RajaHayam Wuruk. Setidaknya ada empat tema besar sebagaidialektika pemikiran antara Gayatri dan Gajah Mada, yaitupertama, tentang kesetiaan. Gayatri menjelaskan bahwa

Page 127: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

108/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

ketika seseorang memberikan kesetiaannya kepadaseseorang yang jahat, kesetiaannya itu tidak diabdikan padatujuan yang lebih mulia, maka kesetiaan semacam itu hanyaakan merendahkan dirinya sendiri. Kedua, tentang perluasanterritorial kerajaan. Gayatri memiliki pandangan bahwauntuk menyatukan seluruh negara tetangga di seanterokepualauan nusantara ke dalam sebuah federasi yangdilandasi oleh jalinan kebudayaan, bahasa, agama, sertaekonomi. Namun sebenarnya, Gayatri tidak percaya bahwapenaklukan adalah cara paling efektif untuk menciptakanpersatuan. Ketiga, tentang pembangunan tata hukumbersama. Tujuan upaya menciptakan seperangkat hukumadalah untuk menggantikan banyaknya peraturan dansanksi tradisional serta agama yang membingungkan dansaling tumpang tindih yang penerapannya tidak sama dibeberapa wilayah kerajaan. Keempat, tentang pentingnyapembangunan monumen peninggalan dinasti penguasaMajapahit. Menurut Gayatri, pembangunan momunentersebut dimaksudkan untuk mengajarkan kepada khalayaktentang peninggalan agung dinasti Majapahit. Empat hasildiskusinya dengan Gayatri ini, Gajah Mada dikatakansangat antusias untuk diwujudkan, dan sebagian besar telahberhasil diwujudkannya.

Selain menjadi negarawan hebat, sosok Gajah Madajuga dikenal pula sebagai ahli hukum dan politik.Pemikirannya dibidang politik disusunnya ke dalam kitabKutaramanwa yang dijadikan kitab hukum pada masaKerajaan Majapahit. Kitab ini didasarkan pada kitab hukumKutarasastra dan kitab Hindu Manawadharmasastra. GajahMada juga memiliki konsep kepemimpinan yang juga sangatmenarik untuk menjadi inspirasi yang dikenal dengan

Page 128: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

109/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Pancadasa Pramiteng Prabhu.52 Lima belas sifat kepe-mimpinan ini merupakan perwujudan dari tabiat istimewaGajah Mada yang secara khusus tertuang dalam kitabNagara Kertagama karya Mpu Prapanca. Lima belas sifatbaik kepemimpinan itu anatar lain:a. Wijaya, yaitu bijaksana, tenang, dan sabarb. Mantriwira, yaitu gagah berani membela kebenaranc. Matanggwan, yaitu mendapat kepercayaan bawahan

dan menghormati kepercayaan itud. Satya Bhakti Aprabhu, yaitu memiliki loyalitas atau setia

dengan tulus ikhlase. Wagmi Wak, yaitu pandai berbicara untuk meyakinan

pendapatnya kepada orang lainf. Wicaksaneng Naya, yaitu bijaksana dalam segala

tindakan atau cerdik mengatur siasatg. Sarjjawopasama (Sarjawa Upasama), yaitu rendah hati,

tidak sombongh. Dhirotsaha, yaitu ulet, rajin dan tekun bekerjai. Tan Sutrsna, yaitu tidak mementingkan keperluan

pribadi, pandai mengendalikan nafsuj. Sih Samastabhuwana (Masihi Samasta Bhuwana), yaitu

mencintai semua makhluk dan alam semestak. Ginong Pratidina (Ginung Prati Dina), yaitu berusaha

berbuat baik dan menghindari perbuatan yang tidak baikl. Diwyacitta (Diwyacitra), yaitu lapang dada, berhati baik,

demokratis dan mau menerima pendapat orang lainm. Anayaken Musuh, yaitu mampu mengalahkan dan

menguasai musuhn. Tanleana (Tan Lalana), yaitu teguh iman, selalu optimis,

bersifat gembira.

1I Gusti Agung Oka, Op.Cit., hlm. 7

Page 129: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

110/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

BAB ENAM

MELANJUTKAN PESAN POLITIK KAUTILYA

ARTHASASTRA

Bagi seorang raja, sumpah (sucinya) adalah kesediaannya untukbekerja, pengorbanan dalam urusan pemerintahan adalah pengor-banan sucinya, imbalan dari pengorbanannya adalah sikap yangadil, (dan) inisiasi pengorbanan baginya adalah pentasbihannya(Arthasastra Buku Pertama, Bab Kesembilan Belas, Bagian 16:33)

A. Berpolitik, Kenapa Tidak?Membaca pikiran Kautilya, dan mencermati para

penafsirnya, tampaknya posisi Arthasastra sangat kuatmerepresentasikan kitab yang prescriptive dan normative,layaknya kitab-kitab yang disusun oleh para maharsi dan padajaman Brahmana. Bahkan mungkin pada masa itu, yaitu pascaWeda, kitab ini telah menjadi pegangan pokok bagi penguasasangat erat kaitanya dengan situasi dan kondisi yang terjadi.Secara filosofis, pesan dalam kitab ini sangat kuat untuk siapasaja yang ingin menjadi politisi dan pemimpin, namun jugasecara normatif kepada siapa saja yang mau belajar politik dankekuasaan. Ini berarti, Arthasastra menjadi pedoman sekaligustuntunan bagi kita semua.

Membicarakan politik dan kekuasaan, juga melaksa-nakannya, jika merujuk pada apa yang ideal diajarkan Kautilya,

MELANJUTKAN PESAN POLITIKKAUTILYA ARTHASASTRA

BAB ENAM...........................................................................................................

Page 130: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

111/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

menjadi sesuatu yang (seharusnya) biasa, bukan sebuah tabu.Banyak teks suci menjustifikasi narasi ini. Selain Arthasastradan Niti Sastra, juga masih ada Manawadharmasastra dankarya-karya sastra lainnya yang terpengaruh laungsung maupuntidak dari Arthasastra. Kita yang hidup hari ini, juga dapat belajardari beberapa tokoh besar Hindu yang telah berhasil bukan sajamemahami, tetapi juga sekali lagi, mempraktikkan ilmu politikdan kekuasaan. Maharsi Kautilya sudah membuktikan itu padajamannya, bahkan dalam arena yang mungkin sangat kompleks,khas kejadian di masa lalu. Cerita perang dalam Ramayana danMahabharata memperlihatkan kompleksitas kejadian itu.

Banyak tokoh spiritual Hindu yang juga berhasil berjuangdi ranah politik. Selain Kautilya, Mahatma Gandhi salah satudari sekian banyak tokoh lainnya. Ia bahkan secara konsistenmenjalankan ajaran Hindu dalam pergerakan politiknya,sekaligus tanpa harus kehilangan atau menurunkan derajatkesucian dirinya. Mungkin saja ada banyak ajaran moral yangmengajarkan kita saat berada dalam proses tumbuh danberkembang dalam dekapan spiritual, lalu mencobamenghindari politik, namun bergerak di ranah politik bukanlahsebuah larangan, bukan juga tabu yang gelap gulita. Namunasumsi ini dapat saja salah, sehingga tidak dimakusdkan sebagaigeneralisasi, karena mungkin dalam sebuah tradisi atauperguruan spiritual tertentu terdapat tata cara yang melarangpara murid atau bhakta yang telah mencapai tahapan tertentuuntuk terjun ke dalam politik praktis.

Suwantana67 menunjukkan beberapa tradisi itu, salahsatunya tradisi kesulinggihan di Bali yang sangat melarangseseorang yang telah melaksanakan upacara dwijati dan atausudah menjadi sulinggih untuk terjun ke dalam politik praktis.

67 Tulisan dalam bab ini banyak bersumber dari I Gede Suwantana. “Politik Hindu, AntaraNatural dan Moral” dalam I Nyoman Yoga Segara (ed). 2019. Politik Hindu. Sejarah,Moral dan Proyeksinya. hlm. 100-113

Page 131: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

112/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Mereka harus taat mengikutinya jika memang berada dalamsistem atau perguruan itu. Namun jika mengingat bahwakesadaran spiritual itu sesuatu yang bersifat universal, baikmereka yang berada pada sistem tertentu itu atau tidak, makaHindu memberikan juga kebebasan untuk memilih. Misalnya,jika memang berkehendak untuk terjun ke politik praktis,mereka mesti tidak memasuki kedudukan khusus tertentu didalam sistem keagamaan, sebagaimana pada modelkesulinggihan itu.

Kembali kepada Mahatma Gandhi, seorang spiritualissekaligus politikus yang mengedepankan nilai-nilai moral denganpandangan bahwa politik sebagai alat yang dapat digunakanuntuk mencapai kebenaran bersama.68 Bagi Gandhi, perjuanganmanusia pada hakikatnya adalah meraih kebebasan, dan politikmenjadi salah satu alat paling efektif untuk membebaskanmanusia dari berbagai sistem tirani yang memenjarakannya.Pada saat India, dan juga yang dilihat Gandhi secara langung diAfrika Selatan, Inggris melakukan tidak saja penjajahan, tetapiperbudakan, eksploitasi, hegemoni, dan membuat ketimpangansistem sosial mengakar tajam di masyarakat, dilawannya denganpendekatan politik. Bagi Gandhi, politik dalam konteks ini tidakdimaksudkan dalam rangka memusuhi mereka, melainkanberupaya untuk merangkul dan menyadarkan mereka. Cararevolusionernya ini tidak saja ditujukan kepada pihak lawanyang nyaman sebagai penjajah dan yang ternyamankan sebagaibudak atau pihak terjajah. Menurutnya, kehidupan seperti inibukan lagi kehidupan yang bebas, merdeka, egaliter danberperikemanusiaan.

Pada tahap pemikiran yang lebih tinggi, kehidupanmanusia pada hakikatnya adalah sama, yaitu sama-sama

68 Tentang sepak terjang Mahatma Gandhi dapat dibaca dalam banyak buku, salahsatunya dari penulis sendiri. I Nyoman Yoga Segara. 2017. Ahimsa dalam TeropongFilsafat Antropologi. Denpasar: WartamPlus

Page 132: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

113/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

sebagai makhluk hidup yang bebas, saling mengasihi danmenyayangi, bukan sebaliknya saling menguasai danmemusuhi. Oleh karena itu, senjata perjuangan Gandhi bukanlagi senjata canggih dan mutakhir, tetapi perjuangannirkekerasan (ahimsa), kebenaran (satya), kemandirian (swadesi)dan welas asih (karuna). Model perjuangan ini digunakan Gandhidengan harapan manusia akan mampu melihat sesamanyasebagai dirinya hanya ketika ia juga memiliki kesadaran diriyang luas. Gerakan politik Gandhi ini sebenarnya adalahupayanya yang tak kenal lelah untuk menyadarkan manusiaakan hakikat sang diri yang sejati. Baginya, tujuan ultimatepolitik adalah bangkitnya kesadaran manusia sehingga merekamampu melihat dirinya pada orang lain dan orang lain padadirinya senditi. Dengan begitu, hasil akhir dari perjuangannyaadalah munculnya rasa kebersamaan, toleransi, salingmenghormati, kasih sayang, dan tolong menolong. Dan padaakhirnya, India menikmati kemerdekaan dari buah perjuanganpanjang Gandhi, sang jiwa yang agung (Mahatma).

B. Syarat, Tujuan dan Strategi dalam Politik Hindu1. Syarat Orang Berpolitik

Permasalahan pokok dalam politik Hindu bukanlahtentang apa konsekuensi dari pelaksanaan ilmu itu, tetapibagaimana politik Hindu itu berjalan sebagaimana mestinya,lengkap dengan tujuan yang baik dan benar yang hendakdiwujudkan. Kautilya, dan juga Machiavelli dan Hobbessecara tersirat menginginkan suasana membahagiakanrakyat harus dilakukan melalui politik, bernegara danadanya pemimpin di tengah masyarakat. Untuk maksud ini,Suwantana69 memberikan sejumlah prasyarat yang perludipertimbangkan dalam menjalankan politik. Pertama, siapa

69 I Gede Suwantana, Op.Cit., hlm. 102

Page 133: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

114/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dari mereka yang mau terjun ke dunia politik praktis? Kedua,apa yang akan diperjuangkan di dalam dunia politiktersebut? Ketiga, bagaimana mestinya mereka melakukanperjuangan itu? Pertanyaan tentang siapa akan berkenaandengan kriteria yang harus dipenuhinya, misalnya latarbelakang hidupnya, pendidikan, karakter dan ketentuanlainnya. Lalu, pertanyaan tentang apa yang akandiperjuangkannya sangat tergantung dari isi dan tujuanperjuangannya. Terakhir, pertanyaan bagaimana politik ituakan dijalankan lebih kepada strategi yang akan digunakandalam memperjuangkan tujuan politiknya.

Dalam ajaran Hindu, persyarat khusus tentang siapasaja yang boleh terjun ke dalam politik praktis diperlukankarena politik berkaitan erat dengan kekuasaan danbagaimana mengatur orang banyak. Dengan syarat ini, tidaksemua orang yang, misalnya karena memiliki uang banyakatau hanya karena terkenal bisa dengan mudah masuk keranah ini. Kualitas diri sejak semula menjadi penentu apakahia layak atau tidak masuk dalam lingkaran politik. Sebab,jika sebagian besar orang yang masuk ke dalamnya tidaklayak, dapat dipastikan sistem ketatanegaraan akanmengalami kehancuran.

Dalam beberapa kitab suci dan juga teks lontar di Bali,disebutkan bahwa siapa saja yang hendak terjun ke dalampolitik praktis dan oleh rakyatnya dianggap layak untukmemimpin dan memegang kekuasaan diwajibkanmempunyai beberapa kualitas kepemimpinan, sebagaimanayang sudah diuraikan pada Bab Empat di atas. Sebagaitambahan, seorang politisi juga semestinya adalah merekayang memiliki karakter seperti pohon yang kuat, berbuahmanis dan lebat. Dalam kitab Bhagawadgita disebutkan 20karakter seorang politikus Hindu yang harus dimiliki, yaitukejujuran (arjawam), kebenaran (satyam), keberanian

Page 134: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

115/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

(abhayam), kepahlawanan (sauryam), tahan uji (titiksa),ketetapan hati (sankalpa), hidup sederhana (tapasya), hiduppenuh semangat (tejah), pengendalian diri (dama),kebijaksanaan yang mantap (samah samya), tidak mencarikesalahan orang lain (apaisunam), rendah hati (aminatwam),tanpa kekerasan (ahimsa), tidak membenci (adwesta), tidakmarah (akrodah), tidak serakah (alouptwam), kedermawanan(danam), berterimakasih (kritajna), suci (saucam), pantanganseksual (brahmacharya), ketidakterikatan (wairagya),kesabaran (ksantih), pengampunan (ksama), welas asih(karuna), pertemanan (maitri), kelemah-lembutan(mardawam), dan damai (santih).

Lebih khusus dalam Kautilya Arthasastra (IV.I.2-6)70

dinyatakan ada enam disiplin hidup jika seseorang inginmenjadi pemimpin, yaitu abhigamika (simpatik kepadarakyat), prajna (cerdas, arif, dan bijaksana), utsaha(mengambil inisiatif, proaktif), atmasampad (berintegritastinggi, bermoral luhur), sakhyasamanta (mampu mengawasibawahannya), dan aksudraparisakta (mampu memadukanpendapat yang berbeda). Demikianlah kualitas individu yangmenjadi syarat pokok yang harus diperhatikan bagiseseorang yang ingin menjadi politikus atau yang sudah terjundalam ranah politik praktis.

2. Tujuan Politik HinduJika membicarakan politik Hindu, maka kita akan

memasuki konsep besar Catur Purusartha. Siapapun orangyang ingin terjun atau telah berkecimpung dalam duniapolitik, mau tidak mau harus terlebih dahulu memahamisecara tepat ajaran tentang bagaimana meraih kebebasan

70 Tut De Ariasna. 2011. Kepempimpinan Hindu. Surabaya: Paramita, hlm. 40. Namun jikaharus merujuk pada syarat-syarat menjadi pemimpin, di luar teks yang telah dikutipdalam buku ini, masih sangat banyak yang belum dikompilasi, bahkan syarat-syarat itujuga diajarkan dalam mantra kitab Weda Sruti dan Smrti lainnya.

Page 135: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

116/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

(moksa) melalui tahapan dharma, artha, dan kama. Dalamkonsep Hindu, manusia lahir ke dunia pada dasarnya untukmenjalankan dharmanya sendiri dengan benar, dan secaraalamiah diarahkan untuk memenuhi,pertama-tamakebutuhan dasarnya, seperti makan, tidur, dlsb. Yang kedua,secara transcendental manusia pada akhirnya juga harusmenggunakan akal, pikiran dan kecerdasannya untukmengembangkan kesadaran dirinya sehingga dapatmelaksanakan aktivitas kemanusiaan lainnya, sepertimelayani, mengasihi, menciptakan perdamaian dansejenisnya. Kedua jenis dharma ini (alamiah dan transedental),diyakini dapat mengantarkan mereka pada tujuan tertinggi,yaitu kebebasan (moksa) baik yang diperoleh di duniamaupun setelahnya, baik kebebasan individu maupunkebahagiaan dunia (jagadhita).

Dalam rangka menjalankan dharma untuk meraihmoksa ini diperlukan kekayaan materi (artha) dan kehendakatau niat atau nafsu (kama). Artha dan kama hanya alat bantuuntuk mewujudkan kebebasan. Artha dan kama digunakandalam dunia politik hanya untuk mencapaisemua tujuantersebut, bukan sebaliknya, politik dipakai dalam upayamerengkuh kekayaan sebanyak-banyaknya dan kesenangansepuas-puasnya. Dalam kitab Bhagawadgita diuraikanbahwa tujuan akhir setiap orang adalah menyadari bahwadirinya adalah Yang Tertinggi itu, dan benda material ataukeinginan-keinginan di dalam diri harus digunakan secaraefektif dan efisien.

Apapun, politik praktis yang dapat menjadi pilihanorang Hindu harus diarahkan untuk melahirkan jagadhita,yaitu dunia yang dipenuhi keadilan, kemakmuran,kesejahteraan, dan kebahagiaan atau Loka Samgraha. Pikiranideal, dan perilaku konsisten (satya) dengan ajaran CaturPurusartha harus menjadi panduan sejak awal memulai

Page 136: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

117/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

langkah besar menjadi politisi. Ini adalah visi Hindu tentangpolitik. Untuk mencapai visi ini, setiap politisi Hindu wajibberkomitmen untuk memegang prinsip-prinsip politik yangdinafasi ajaran agama. Sekali lagi, Gandhi jika harusmenjadikannya sebagai role model, pernah mengatakanbahwa mereka yang berpolitik tanpa prinsip akanmendatangkan dosa sosial. Seorang pemimpin harus satyauntuk menciptakan negara dan pemerintahan yang bersihdan berwibawa, mewujudkan keadilan dan kesejahteraansosial, saling menghargai dan menghormati, memeliharakeutuhan negara dan tetap merawat nilai-nilai luhur budayabangsanya. Menurut Gandhi, pemimpin juga harus memilikikemampuan manajemen yang baik, memiliki kesanggupansecara obyektif menempatkan orang secara benar, memilikistrategi pemerintahan yang mumpuni, mampu menyusunperencanaan yang matang, menjadi eksekutor yang baik,memiliki kemampuan manajemen konflik, dan memilikistrategi alternatif jika strategi awal yang dijalankanmengalami kegagalan. Terakhir, pemimpin juga harusmampu memprediksi sebuah peristiwa secara tepat denganmenganalisis tanda-tanda dari apa yang terjadi secara nyatadi lapangan.

Dengan demikian, dasar pemikiran politik Hindu dankekuasaan terletak pada dialektika filosofis yang tercerap didalamnya. Artinya, siapapun mereka, apapun tujuan yangdiperjuangkan, apapun strategi yang akan digunakannyakelak, arah politik seharusnya menuju pada dua kanal besar,yaitu moral-transendental dan natural. Secara moral-transcendental artinyamereka berjuang dalam kedalamankesadarannya dan tujuannya adalah untuk mencapaikedalaman itu secara makro, sedangkan secara naturalartinya politik yang dijalankan sesuai dengan naluri manusia,yaitu keinginan untuk berkuasa, memperoleh kehidupan,

Page 137: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

118/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dan kenyamanan lahir batinnya. Dunia politik adalah duniapertarungan kedua sifat dan sikap manusia ini. Kemenangandari pertarungan politik ini sangat ditentukan oleh keduapondasi ini, apakah dominan moral-transendental ataunatural.

Namun secara ideal, dan juga dicontohkan olehKautilya dan Gandhi, hasil akhir dari perjuangan politikadalah meraih tujuan-tujuan moral-transendental, sedangkanapa yang terjadi di luar itu lebih berhubungan dengankekuasaan dan bagaimana memperolehnya. Adapun visi,misi, atau program kerja yang dikampanyekan hanyalahbunga-bunga atau barang dagangan untuk meyakinan calonpemilihnya. Jika kita mendapati orang terjun ke dunia politiksemata-mata untuk memenuhi Hasrat naturalnya untukberkuasa, maka ia sebenarnya bukan melakukan perjuangansama sekali, namun hanya sekadar memehuhi ambisipribadinya. Padahal politik hanyalah alat belaka, bukantujuan segala-galanya.

3. Strategi dalam Politik HinduStrategi dalam politik Hindu yang dimaksudkan di

sini adalah metode yang sekurang-kurangnya dapatdilakukan dalam perjuangan politik praktis. Hindumemandang bahwa strategi tidak hanya bicara keterampilankhusus yang bersifat textbook namun strategi yang bertujuanmengarahkannya pada sesuatu yang menjadi bagian daridirinya sendiri, bukan sekadar pengetahuan yangditempelkan begitu rupa. Dapat dibilang bahwa seorangpolitisi Hindu harus memiliki skill inheren, yaitu keterampilanyang lahir dari pengetahuan dan pengalamannya, misalnyataksu dan anugerah yang diperoleh dari Tuhan. Keterampilanyang muncul dari pengetahuan dan pengalaman mencakuppemahamannya yang komprehensif atas peta politik dari

Page 138: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

119/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

politik lokal, regional dan geopolitik, pengetahuannyatentang sistem hukum dan ketatanegaraan, pengetahuannyatentang strategi dan keterampilan berkomunikasi,memahami sistem kepartaian dan segala hal yang berkenaandengan politik secara teknis maupun substantif.

Tentang taksu atau yoni menurut Hindu sangatpenting, meskipun dalam dunia kontemporer dan post-modern ini tidak banyak yang memahaminya, bahkanmengabaikannya. Taksu sering dimaknai sebagai bakat alamatau sesuatu yang telah dibawa sejak lahir, dan anugrah iniboleh jadi sangat menentukan karena orang yang bekerjasesuai dengan yoninya akan kelihatan patut, pantas dansesuai dengan apa yang dikerjakannya.71 Dalam teksBhagawadgita ada disebutkan bahwa setiap orang sebenar-nya telah digariskan untuk menjalankan swadharma sesuaidengan guna dan karmanya. Misalnya, jika seseorangmemiliki kelahiran Brahmana, maka kelak pekerjaan yangberhubungan dengan kebrahmanaan akan menjadipekerjaannya, demikian juga bagi mereka yang memilikikelahiran sebagai Ksatrya, Waishya dan Sudra.

Selain taksu atau yoni, anugerah Tuhan jugamemegang peranan yang sangat penting. Sehebat apapunorang sudah melakukan berbagai usaha, atau sebanyakapapun pengetahuan yang dimiliki, pengalaman yangdialami, dan keterampilan yang dikuasainya, jika Tuhantidak berkehendak, maka ia tidak akan pernah dapatmaksimal melakukan dan mendapatkan hasil atau mungkinia akan mengalami kegagalan. Anugerah Tuhan seperti ini

71 Dalam kebudayaan Bali, taksu dianggap sebagai salah satu karakter manusia Bali yangpaling utama. Lihat IB. Mantra 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: YayasanDharma Sastra. Untuk mengatahui karakter orang Bali, dan mungkin akan bergunasebagai bahan untuk melihat siapa diri sebelum terjun ke dunia politik, baca GregoryBateson. 1972. Steps to an Ecology of Mind, Balinese Ethos. Collected Essay in Anthro-pology, Psychiatry and Epistemology. University of Chicago Press; I Ketut Artadi.1993. Manusia Bali. Denpasar: Bali Post.

Page 139: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

120/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dapat dikaitkan dengan respon alam terhadap perilaku dantindakan seseorang. Jika seseorang yang pribadinya sudahkelihatan memiliki kualitas untuk terjun di bidang politikdan kemudian dia tampak sangat pandai memainkan politikserta bekerja dengan sangat keras, tetapi jika Tuhanmempunyai kehendak berbeda, ia tidak akan mampumeraih puncak kariernya dalam politik. Oleh karena itu, kitabBhagawadgita tegas mengatakan bahwa agar seseorangtetap merasakan kebahagiaan, ia disarankan untuk tidakterikat terlebih dahulu dengan hasilnya. Setiap orangdisarankan untuk tetap dan selalu fokus pada tindakannyadan membiarkan Tuhan yang bekerja untuk memberikanhasilnya. Dalam teks yang berbeda dengan makna yangsama disebutkan dalam Yoga Sutra Patanjali melalui IshwaraPranidana, yaitu berserah sepenuhnya kehadapan Tuhan,sebab hanya dengan itu, seseorang bisa berkembangkesadarannya.

Seorang politisi jika ingin memiliki keterampilan danteknik (strategi) politik dengan mumpuni ia dapatmemperolehnya melalui pendidikan formal, seperti pelatihan,seminar, atau bahkan belajar otodidak yang semuapengetahuan itu akan berupa konsepsional, filosofi maupunteknis. Ia juga dapat memiliki keterampilan yang bersumberdari luar, misalnya dari mentor, buku, expert, maupunsumber lainnya. Artinya, seorang politisi haruslah menjaditerpelajar yang tidak saja paham teori tetapi jugamempraktikkannya secara benar, bukan hanya kayamaterial dan populer saja. Dalam cerita dan epos, salahsatunya dalam kisah Mahabharata disebutkan Arjunasekalipun membutuhkan seorang guru hebat bernama Dronauntuk mengasah bakat alamnya (yoni). Hal yang sama jugadilakukan dengan sangat gigih oleh Ekalawya yang bahkansecara otodidak. Jadi, seorang politisi yang sempurna adalahdia yang berkepribadian mantap dan yang ahli di bidangnya.

Page 140: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

121/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kitab Bhagawadgita menyebutnya sebagai seseorang yangSthita Pradnya.

Satu hal lain yang tidak kalah penting harus jugadimiliki oleh seseorang yang ingin ulung sebagai politisiadalah mengetahui yoninya secara tepat. Jika ia merasa yoniitu dalam bidang politik, maka seharusnya sejak awal iasudah berkecimpung di dalamnya yang bisa dimulai dariberbagai tingkatan, misalnya organisasi kepemudaan,melaksanakan kegiatan-kegiatan yang menghadirkan orangbanyak, ikut serta dalam kepanitiaan sebuah kegiatan danatau secara langsung terjun dari tingkat dasar di dunia politikpraktis. Dengan pengalaman yang lama, bertahap danberjenjang seperti ini, seseorang akan dikatakan mapansehingga posisinya layak diperhitungkan. Jam terbang inipula dapat menjadi medan ujian yang sesungguhnya,apakah antara yoni dan keterampilan yang dipelajari telahsesuai. Jika orang telah merasa nyaman di sana, maka antarayoni dan kemampuannya dianggap telah sesuai sehinggaapapun tantangan dan hambatan yang akan dihadapinyadapat dilalui dengan merangkak terus hingga sampai kepuncak karier sebagai seorang politikus.

Mengetahui bakat (taksu atau yoni) lalumengasahnya melalui pengalaman dan jam terbang,ditambah usaha untuk memperoleh pengetahuanpolitikadalah strategi yang dapat dikembangkan oleh siapasaja yang ingin menjadi politisi Hindu. Ia akan menjadipolitisi mumpuni, jika prasyarat yang ditentukan dandengan tujuan yang jelas, tepat dan benar akan menjadikanpolitik Hindu bermartabat.

C. Dari Kautilya untuk KitaApa yang bisa kita pelajari dari seluruh uraian di atas?

Bukankah pikiran Kautilya terlalu ideal, bahkan mungkin utopis.Bukankah juga, Arthasastra hingga sosok Gajah Mada yang

Page 141: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

122/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dihadirkan dalam uraian sangat romantik, sesuatu yang tidakbisa diulang begitu rupa. Mari kita berefleksi, dengan memulaidari semesta kefilsafatan—termasuk tentu saja kebudayaan didalamnya—bahwa aspek waktu, terlebih peristiwa-peristiwamenyejarah dalam hidup manusia menjadi penting untukdiulang. Bahkan dalam momen tertentu, manusia dewasa secaraparadoks sering ingin kembali ke masa lalunya.72 Kondisipsikologis ini menjadi satu fakta bahwa masa lalu dapat terusdihidupkan. Memang, menjadikan masa lalu sama persis sepertisaat ini, atau sebaliknya, saat ini harus sama seperti di masa laluadalah sebuah kemuskilan. Jika waktu tidak bisa meruang lagiseperti dikehendaki, manusia memiliki kemampuan untukmelakukan manuver, atau bahkan yang terjauh mampumengubah dan memetik pelajaran penting apa yang pernahterjadi di masa lalu dengan tujuan memenuhi kepentingan dankebutuhannya kini.

Mengambil, setidaknya hanya belajar pada masa lalu,menjadi cara paling sederhana untuk dilakukan karena padadasarnya manusia tidak bisa hidup dalam kevakuman secaraterus menerus.73 Atas alasan seperti ini, sub bab ini akanmenguraikan apa saja yang Kautilya telah sukses lakukan dimasa lalu, dan ajaran apa saja dalam Arthasatra yang bisadipelajari kembali sebagai “ajaran baru”, bahkan mungkin Neo-

72 Lihat juga P. Swantoro. 2007. Masa Lalu Selalu Aktual. Cet. 1. Jakarta: Buku Kompas,Rumah Budaya TeMBi

73 Bandingkan hal ini dengan konsep hegemoni dari Antonio Gramsci. 1971. Selectionfrom the Prison Notebooks. Q. Hoare, Q and G Nowel Smith, eds. New York: InternationalPublishers. Sementara masalah waktu, banyak yang meyakini dalam kehidupan seringterjadi apa yang disebut repetisi sejarah. Dalam antropologi, upaya memahami sejarahdan masa lalu mendapat ruang yang sangat besar karena bagaimanapun, seperti dalamkalimat Tony Rudyansjah. 2009. Sejarah, Kekuasaan dan Tindakan. Jakarta: RajawaliPress, hlm. 17, 18: “kebudayaan tidak mungkin ada tanpa sejarah, dan sejarah tidakmungkin ada tanpa kebudayaan; melalui sejarah kebudayaan mewujud, dan melaluikebudayaan sejarah mengada”. Pernyataan ini memperlihatkan bahwa keberadaan manusiadalam kebudayaannya dapat terbentuk melalui mediasi sejarah, dan sejarah dapat terwujudmelalui mediasi kebudayaan, sehingga keduanya selalu dapat berdialektika. Namunsejarah yang dimaksud dalam buku ini bukanlah ilmu sejarah sebagaimana sejarawanmempelajari teks dan artefak dalam bingkai time and space.

Page 142: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

123/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Kautilya untuk memenuhi kebutuhan kita dimasa kini, karenaArthasastra, sebagaimana kitab suci dan cerita religi masa lalu,value yang dikandungnya diyakini akan terus dapat hidup.Semangat seperti ini dapat ditemukan dalam kalimat awal dalamwiracerita Ramayana: “yawat sthayanti girayah, saritas’camahitale, tawat Ramayanakatha lokesu pracarisyati” (selamagunung masih tegak berdiri dan sungai-sungai masih mengalirdipermukaan bumi, selama itu pula wiracarita Ramayana akantetap masyur di seluruh dunia. Ramayana itu tetap awet meskiWalmiki dipercaya menulisnya pada sekitar 3.100 SebelumMasehi.74 S. Budhisantoso yang mengutip Teeuw75 menyatakan“was ducrerbt von deinen vetern hast, erwirt es um es zu besitzewn”(apa yang kamu warisi dari leluhur atau nenek moyang, haruskamu rebut agar dapat dimiliki).76

Pada bagian lain, karena Arthasastra juga muncul denganbatas-batas ke-Asia-annya, maka tidak adil kalau melupakanarus pemikiran besar dibidang politik yang berkembang di Asia.Bagaimana pun, situasi politik di Indonesia misalnya, tidak bisalepas dari dinamika geopolitik Asia secara umum. WilliamTheodore de Bary77 juga menceritakan bagaimana cita-cita idealkepemimpinan di Asia yang diharapkan datang dari hubungan

74 Lihat kembali semangat ini melalui Tjok Rai Sudharta. 2009. Kepemimpinan Hindu AstaBratha dan Nasehat Sri Rama Lainnya. Surabaya: Paramita.

75 S. Budhisantoso (at al), Op.Cit.76 Untuk sekadar mendapatkan insight dari masa lalu, kita bisa belajar dari pikiran filsuf

Hannah Arendt. 1968. Between Past and Future. New York: Penguin Books, yangmengajarkan bagaimana seorang intelektual (filosof) seharusnya dapat membacawacana dengan berada di antara (in between) masa lalu dan masa depan. Buku lainnyadari Limen Yohanes Jehuru. “Meneropong Krisis Negara Indonesia Dengan TeleskopNegara Ideal Plato”. Biro Penelitian Sekolah Tinggi Filsafat Teologi, Fajar Timur Hal: 73-97. Vol. 7 (2011) afl. 2 (Apr). Artikel ini mengajak penulis untuk membaca dimensikrisis yang dialami Indonesia, jika misalnya, Indonesia diimajinasikan sebagai negarayang digagas Plato sebagai negara ideal.

77 William Theodore de Bary. 2004. Nobility and Civility: Asian Ideals of Leadership andThe Common Good. Cambridge, Mas: Harvard University Press.

Page 143: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

124/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

raja dan atau para bangsawan dengan masyarakatnya dansebagai manifestasi dari apa yang disebut The Common Good.Hal yang kurang lebih sama juga dikatakan Alton L. Beckerand Aram A78 bahwa sistem koherensi yang terjadi khususnyadi Asia Tenggara, yang ternyata selalu ada dialektika bolak balikantara imajinasi dan realitas. Oleh karena itu, memahamilanskap sejarah dan budaya dari lima negara paling penting didaratan Timur dan Selatan Asia, yakni Malaysia dan Indonesia,Cina dan Korea, dan Jepang menjadi sangat penting, hingga apayang bisa dikaitkan dengan kepemimpinan Hindu di Bali.79

Lalu bagaimana dengan Arthasastra yang ditulis Kautilya?Beberapa literatur memperlihatkan bahwa dalam beberapakonteks tertentu, ajaran Arthasastra sekurang-kurangnya masihcukup relevan, bahkan masih bisa dipraktikkan. Untuk sampaimempraktikkannya kini, tentu kita juga harus memahamibagaiamana perenialisme ajaran Kautilya tetap mengikuti setiapjejak waktu. Romila Thapar,80 mengatakan bahwa pada masaIndia kontemporer, citra Asoka (anak dari Bhindusara dan cucuChadragupta) yang menjadikan Arthasastra sebagai bukupegangan pada kerajaan Maurya begitu populer danmemengaruhi banyak orang. Bahkan konsep seperti ahimsaberhubungan sangat erat dengan ide-ide Asoka. Gejala ini adalahtradisi panjang politik Asoka mulai dari non-kekerasan dantoleransi dari semua keyakinan politik dan agama, dirawat terustak terputus selama berabad-abad dan akhirnya memuncak

78 Alton L. Becker and Aram A. “The Imagination of Reality: Essay in Southeast AsianCoherence System”. Papers Presented at a Conference Held at Coherence System, Yengoyan.1979

79 Baca tentang hal ini dalam I Gede Sura. 1985. “Kepemimpinan Yang Ideal dalam SastraJawa Kuno dan Pengaruhnya dalam Masyarakat Bali”. Laporan Pertemuan IlmiahKebudayaan Bali, 26-29 Desember 1985; I Made Suastika. “Konsepsi KepemimpinanHindu di Bali: Telaah Teks Bahasa Jawa Kuna serta Penerapan Zaman Gelgel.”Historiografi. Makalah Seminar Sejarah Nasional 4. Yogyakarta, 16-19 Desember 1985.

80 Romila Thapar. 1961 dalam Ashoka and the decline of the Mauryas. Oxford:OxfordUniversityPress, hlm. 214

Page 144: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

125/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dalam filsafat politik Mahatma Gandhi. Ashoka pada masaIndia kuno, juga diceritakan telah belajar banyak dari kitabArthasastra terutama bagaimana strateginya memperluaswilayah kekuasaan, meningkatkan komoditi, melindungikerajaan dari musuh sekaligus mengembangkan strategibersaing antarkerajaan.

Sekali lagi, sebagai langkah awal dari analisis dalam bukuini, beberapa konsep filsafat politik dan kekuasaan KautilyaArthasastra yang masih bagus untuk dirawat, antara lainpertama, pemimpin itu juga sekaligus pemikir. Konsep inimengingatkan kita pada apa yang dikatakan Plato dalam TheRepublic sebagai The Philosopher King,81 yakni raja juga sekaliguspemikir yang bijak. Artinya, kepemimpinan dan kapasitasmelekat menjadi satu di dalamnya. Bandingkan kini di Indonesiabegitu mudah orang menjadi pemimpin, misalnya hanyabermodal populer sebagai artis atau dapat meraih kekuasaandan jabatan hanya semata-mata karena memiliki pengikut yangbanyak, status sosial yang dibawa dari lahir dan harta berlimpah.Kedua, keteraturan negara akan baik kalau disokong oleh nilai-nilai bersama di mana moralitas individu menjadi panglima.Bandingkan misalnya, kalau Indonesia sebagai negara bangsaharus takluk dan lembek kepada para teroris dan kelompok-kelompok intoleran melalui gerakan anarkhis yang bertujuanmengganti ideologi bersama. Kautilya, dan juga Machiavelli,menghendaki negara tidak bisa membiarkan cara-cara sepertiitu. Ketiga, pemimpin itu harus dipersiapkan secara matang. OlehKautilya disebut swamin yang berhasil dilakukannya pada diriChandragupta. Bagaimana dengan sekarang?

Masih berkaitan dengan poin pertama, tidak banyak orangyang ingin menjadi pemimpin atau penguasa di Indonesia harusrepot mengikuti proses pematangan diri seperti digagas Kautilya.

81 Lihat selengkapnya Francis Macdonald Cornford. The Republic of Plato (translated withIntroduction and Notes). Oxford at The Clarendon Press.

Page 145: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

126/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Edukasi, terutama politik belum banyak ada. Mereka hanyamengandalkan konsultan politik yang saat ini sedang menjamur,ditambah hanya bersandar pada lembaga-lembaga survei untukmengetahui elektabilitasnya di masyarakat, bukan karenakapabilitas yang dimilikinya. Peran purohito pada masa kerajaankini sudah tergantikan ahli atau konsultan politik. Meskiperubahan seperti ini tidak bisa dihentikan, tetapi peran purohito(atau konsultan politik kini) mestinya tidak hanya menasehatiraja atau pemimpin tentang ilmu duniawi tetapi juga rohani.Karena bagaimanapun, di Indonesia, terutama Bali, dua duniaini tidak bisa berjalan sendirian dan saling menegasi. Raja danpurohito atau pendeta di masa lalu adalah dua sosok yang bisasaling melengkapi. I Gusti Agung Oka82 menyatakan dengan“wiku tan pa natha ya hilang, tan pa wiku ratu ya cirnna” (pendetabila tanpa didampingi atau dilindungi raja tiada berarti,demikian pula seorang raja tanpa dibantu oleh pendeta akanhancur). Sementara itu bagaimana hubungan yang harusdibangun seorang raja, S. Budhisantoso83 memaparkan agar rajadengan rakyat dan dengan pendeta harus selalu dalam keadaanharmonis [*]

82 I Gusti Agung Oka, Op.Cit., hlm. 783 S. Budhisantoso (at al), Op.Cit., hlm. 112-116

Page 146: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

127/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

CATATAN PENUTUP

Bagai menyelam di tengah samudera pengetahuan yangluas. Analogi ini juga belum telat benar untuk menggambarkanupaya menyelami sejarah pemikiran politik Hindu. Meskidemikian, ajaran-ajaran serta dalil yang membahas mengenaisistem politik, filsafat politik kenegaraan, kepemimpinan, sistemtata negara, etika politik maupun pemikiran-pemikiran politikHindu masih dapat dilacak keberadaannya dari puluhan ributahun yang lalu, dimulai dari kitab Weda Sruti maupun WedaSmrti. Salah satu kitab yang dianggap sangat dekat denganWeda yang membahas secara detail mengenai ilmu politik danpermerintahan adalah Arthasastra.

Kitab Arthasastra mungkin tidak dapat dinyatakantunggal sebagai kitab politik semata, tetapi juga ilmu tentangadministrasi pemerintahan, mengatur dan mengelola negara,pemberdayaan aparatur (agen), mendayagunakan sumber-sumber alam untuk kemakmuran masyarakat. Namun, satu halyang agak sama adalah semua daya upaya ini, sesuaikonteksnya, diarahkan sebagai pedoman bagi pemimpin/penguasa negara. Ketika hal ini eksplisit dinyatakan, maka iamenjadi ideologi politik yang harus diperjuangkan, bahkandengan cara-cara yang tidak lazim sekalipun. Pada sisi yanglain, jika menyelami sosok Kautilya, ia terlihat menjadi glorifikasi

Page 147: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

128/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dari perpaduan banyak karakter. Yang paling kentara adalahketika ia tampil dengan wajah brahmana yang amat sangatreligius dengan kemampuan dan pengetahuan agama yangdimilikinya. Pada saat yang bersamaan, ia menjadi sosokpemberani, teguh memegang kebenaran yang diyakininya,pemimpin dalam menjaga keamanan negara, bahkandilakukannya di medan perang.

Pelajaran penting yang dapat diambil dari KautilyaArthasastra adalah tentang ajarannya yang mengisyaratkanbahwa pemimpin, termasuk politikus dalam hal ini, wajibmengutamakan tiga dasar utama dalam Catur Purusartha, yaitudharma, artha, dan kama untuk mewujudkan kesejahteraanbersama. Oleh karena itu, raja/pemimpin/politikus harusmengusahakan ketiganyasebagai sesuatu yang konkretdalam hidup dengan tujuan akhir, yaitu moksa. Berikut lessonlearn dari saripati gagasan Kautilya.

Pertama, Dharma yang jika diturunkan ke tataran sosialdapat diartikan sebagai (a) guna, yaitu susila atau seperangkataturan tingkah laku yang ditujukan bagi masyarakat dansekaligus menjadi niti, yakni kemampuan politik dan senimemimpin bagi raja dan perangkat pemerintah di bawah raja.Dalam konteks niti ini, raja disarankan untuk menerapkandelapan kepemimpinan (Astabrata). (b) mengusahakan widya,terutama apara widya, yaitu “pengetahuan duniawi” bagirakyatnya agar dapat melaksanakan karmaatau swadharma.Melalui widya ini, raja dan rakyat dapat bekerja secaraprofesionaldemi untuk kesejahteraan duniawi. (c) rta, yaituhukum untuk menegakkan keadilan. Kedua, Artha yang dapatdiartikan sebagai kekuatan atau modal sosial di sampingkekayaan materiil dalam arti yang sebenarnya. Arti inibarangkali dapat diperluas sesuai dengan kepentingankemakmuran dan keamanan negara dan rakyat. Dan ketiga,Kama dalam konteks sosial dapat diartikan sebagai pelestarian

Page 148: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

129/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

dan pengembangan seni budaya. Selain juga berarti keingiananatau motivasi.

Selanjutnya, Kautilya adalah tokoh yang sanggupmenurunkan, kalau bukan membumikan ajaran suci dalamArthasastra menjadi sesuatu yang practical, nyata. Jadi, bolehdikatakan bahwa Arthasastra menjadi semacam kompediumtentang bagaimana seorang pemimpin atau penguasa mengelolasebuah negara secara lengkap, utuh dan detail. Hal ini karenamengingat isi dan cakupan Arthasastra sangat luas. Selain yangsudah dijelaskan, Arthasastra juga dianggap sebagai kitabtentang pengobatan dan ilmu magi. Sebagai sosok yangdianggap keras dan kejam, Kautilya bergeming dari segalakritik atau ketidakberanian banyak orang untuk membacaArthasastra, terutama bagaimana gagasannya dalammempertahankan keutuhan negara dan memberikan keadilanbagi rakyatnya. Ia menjadi begitu satya karena tempaan jamanyang berliku.

Terakhir, inspirasi yang dapat kita ambil maknanya, selainyang sudah banyak dibicarakan di bagian atas adalahbagaimana ia diakhir buku Arthasastra menyatakan: “Sumberkehidupan umat manusia adalah artha (kesejahteraan), dengan katalain adalah Bumi dengan segala isinya yang didiami manusia. Ilmuyang mencakup cara untuk mencapai dan melindungi Bumi adalahArthasastra, Ilmu Politik!” [*]

Page 149: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

130/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Page 150: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

131/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

DAFTAR PUSTAKA

Adia Wiratmadja, G.K.1975. Leadership: Kepemimpinan Hindu.Magelang: s.n.

Adia Wiratmadja, G.K. 1995. Kepemimpinan Hindu. Denpasar:Yayasan Dharma Narada.

Agastya, IBG. “Cerita Tantri sebagai Nitisastra dan Subhasita”.Makalah Temu Sastra Purnama Jagatnatha, tanggal 14April 2014.

Anderson, Benedict R.OG. 1972. “The Idea of Power in JavaneseCulture” in Holt Claire (ed). Culture and Polirics inIndonesia. Ithaca: Cornel University Press.

Anderson, Benedict. 1991. Imagines Communities: Reflection TheOrigins and Spread Nationalism. London: Verso.

Arendt, Hannah. 1968. Between Past and Future. New York:Penguin Books.

Ariasna, Ketut Gede. 2000. Kepemimpinan Hindu. Surabaya:Paramita.

Ariasna, Tut De. 2011. Kepemimpinan Hindu. Surabaya:Paramita.

Artadi, I Ketut. 1993. Manusia Bali. Denpasar: Bali Post.Astana,Made dan C.S. Anomdiputro. 2003. Arthasastra.

Terjemahan dari buku Kautilya’s Arthasastra oleh R.Shamasastry dan The Kautilya Arthasastra oleh R.P.Kangle. Surabaya: Paramita.

Page 151: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

132/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Avalokitesvari, Ni Nyoman Ayu Nikki. “Canakya Arthasastra:Warisan Politik Kenegaraan Hindu” dalam I NyomanYoga Segara (ed). 2019. Politik Hindu. Sejarah, Moral danProyeksinya. Denpasar: IHDN Press, hlm. 19-31.

Bateson, Gregory. 1972. Steps to an Ecology of Mind, BalineseEthos. Collected Essay in Anthropology, Psychiatry andEpistemology. University of Chicago Press.

Bary, William Theodore de. 2004. Nobility and Civility: AsianIdeals of Leadership and The Common Good. Cambridge,Mas: Harvard University Press.

Becker, Alton L. and Aram A. “The Imagination of Reality: Essayin Southeast Asian Coherence System”. Papers Presentedat a Conference Held at Coherence System, Yengoyan. 1979.

Blau, Peter M. dan Marshall W. Meyer. 2000. Birokrasi dalamMasyarakat Modern (terjemahan). Jakarta: PrestasiPustakaraya.

Budhisantoso, S. (at al), 1990. Niti Raja Sasana. Depdikbud.Budiardjo, Miriam. 1983. Dasar-Dasar Ilmu Politik. Jakarta:

Gramedia.Burd, L.A., (ed). 1891. Il Principe. Oxford University Press.Brown, Alan. 1986. Modern Political Philosophy. Middlesex:

Penguin Books.Cahn, Steven M. 2005. Political Philosophy, The Essential Texts.

New York: Oxford University Press.Chaturvedi, B.K. Chanakya. An Original Novel. New Delhi:

Diamond Pocket Books Pvt. Ltd.Cornford, Francis Macdonald. The Republic of Plato (translated

with Introduction and Notes). Oxford at The ClarendonPress.

Curtis, Michael. 1961. The Great Political Theories. New York,Avpn Book Division.

Daniel, Donno. 1985. The Prince with Selection from Discourses,Niccolo Machiavelli. New York: Bantam Books.

Page 152: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

133/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Dharmayasa. 1995. Chanakya Niti Sastra. Jakarta: YayasanDharma Naradha.

Darmayasa (penyadur). 1995. Perselisihan di Antara Sahabat.Buku Pertama. Denpasar: Manikgeni.

Darmayasa (penyadur). 1996. Mendapatkan Teman. Buku Kedua.Denpasar: Manikgeni.

Darmayasa (penyadur). 1996. Gagak dan Burun Hantu. BukuKetiga. Denpasar: Manikgeni.

Darmayasa (penyadur). 1998. Kehilangan Keberuntungan. BukuKeempat. Denpasar: Manikgeni.

Darmayasa (penyadur). 1998. Perbuatan Tanpa PertimbanganBaik. Buku Kelima. Denpasar: Manikgeni.

Davis, Steven. 1976. Philosophy and Language. TheBobbs MerrilCompany.

Dwipayana, AAGN. Ari. “Antara Leviathan dan Hukum Ikan”.Jurnal Ilmu Sosial & Ilmu Politik. Vol. 3 No 2 November1999: 188-205.

Ebenstein, William. 1959. Modern Political Thought: The GreatIssues. New York: Rinehart & Company, Inc.

Farchan, Yusak dan Firdaus Syam. “Tafsir Kekuasaan MenurutGajah Mada”. Jurnal Politik. Vol. 11 No. 01. 2015: 1589-1599.

Gellner, Ernest. 1983. Nations and Nationalism. New Perspectiveson the Past. Oxford: Basil Blackwell.

Geertz, Clifford. 1969. The Old Societies and New States. Chicago:Aldine Publ.

Goddin, Robert E. and Philip Pettit (eds.). 1997. ContemporaryPolitical Philosophy: An Anthology. Oxford: BlackwellPublisher Ltd.

Gramsci, Antonio. 1971. Selection from the Prison Notebooks. Q.Hoare, Q and G Nowel Smith, eds. New York:International Publishers.

Page 153: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

134/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Hobbes, Thomas. 1962. Leviathan. M. Oakshott (ed). New York:Coller Books.

Jehuru, Limen Yohanes. “Meneropong Krisis Negara IndonesiaDengan Teleskop Negara Ideal Plato”. Biro PenelitianSekolah Tinggi Filsafat Teologi, Fajar Timur Hal: 73-97.Vol. 7 (2011) afl. 2 (Apr).

King, J. Charles and James A. Mc Gilvray. 1973. Political andSocial Philosophy: Traditional and Contemporary Readings.New York: Mc Graw-Hill.

Krishnarao, M.V. 1979. Studies in Kautilya. MunshiramManoharlal Publisher Pvt. Ltd.

Kymlicka, Will. 1990. Contemporary Political Philosophy: AnIntroduction. Oxford: Oxford University Press.

Lee, Blaine. 2002. Prinsip Kekuasaan. Terjemahan Arvin Saputra.Jakarta: Binarupa Aksara.

Machiavelli, Niccolo. 1891 (2002). Sang Penguasa: Surat SeorangNegarawan kepada Pemimpin Republik. Alih Bahasa C.Woekirsari dari judul asli Il Principe. Jakarta: GramediaPustaka Utama.

Machiavelli, Niccolo. 2001. The Art of War, translated from TheArt of War. Da Capo Press, Cambridge, USA.

Mantra, IB. 1996. Landasan Kebudayaan Bali. Denpasar: YayasanDharma Sastra.

Maswinara, I Wayan. 2000. Hita Upadesa (alih Bahasa).Surabaya: Paramita.

McBride William L. 1994. Social and Political Philosophy. NewYork: Paragon House

Mookerji, R.K. 1943. Chandragupta Mauryaand His Times.Madras.

Murray, A.R.M. 1953. An Introduction to Political Philosophy.London: Cohen and West.

Nambu, Abdulkadir B. dan Muhammad RusdiyantoPuluhuluwa. “Memahami Tentang Beberapa Konsep

Page 154: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

135/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Politik (Suatu Telaah dari Sistem Politik)”. Jurnal Mimbar.Volume XXI No. 2 April-Juni 2005: 262-285.

Noer, Delia. 1983. Pengantar ke Pemikiran Politik. Jakarta:Rajawali.

Oka, I Gusti Agung. 1970. Niti Sastra, Rajaniti, Pengetahuan(untuk Leadership yang Berorientasi) Agama Hindu.

Philip, Pettit. “The Contribution of Analytical Philosophy”, in ACompanion to Contemporary Political Philosophy, RobertE. Goodin and Philip Pettit (eds). 2004.

Radendra, IB. S. 2009. Ekonomi dan Politik dalam Arthasastra.Denpasar: Vidya Dharma.

Rangarajan, L.N. (ed). 1992. The Arthasastra. Delhi: PenguinBook.

Ricoeur, Paul. 1991. Hermeneutics the Human Sciences: Essays onLanguage, Action and Interpretation, Ed. and Trans. JohnB. Cambridge: Cambridge University Press.

Robson, Stuart (Monash University) “MemperkenalkanNagarakrtagama sebagai Karya Sastra Agung”. MakalahSeminar pada 26 Mei 2008, hlm. 1-17.

Rudyansjah, Tony. 2009. Sejarah, Kekuasaan dan Tindakan. Jakarta:Rajawali Press.

Saifuddin, Achmad Fedyani. 2006. Antropologi Kontemporer:Suatu Pengantar Kritis Mengenai Paradigma. Jakarta:Kencana.

Segara, I Nyoman Yoga. 2017. Ahimsa dalam Teropong FilsafatAntropologi. Denpasar: WartamPlus.

Soekmono. 1981. Pengantar Sejarah Kebudayaan Indonesia 2.Yogyakarta: Kanisius.

Strathern, Paul. 1997. Machiavelli in 90 Minutes. Jakarta:Erlangga.

Suastika, I Made. “Konsepsi Kepemimpinan Hindu di Bali:Telaah Teks Bahasa Jawa Kuna serta Penerapan Zaman

Page 155: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

136/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Gelgel.” Historiografi. Makalah Seminar Sejarah Nasional4. Yogyakarta, 16-19 Desember 1985.

Subagiasta, I Ketut. 2010. Kepemimpinan Hindu dalam LontarWrati Sasana. Surabaya: Paramita.

Sudewa, A. 1991. Serat Panitisastra. Yogyakarta: Duta WacanaUniversity Press.

Sudharta, Tjok Rai. 2009. Kepemimpinan Hindu Asta Bratha danNasehat Sri Rama Lainnya. Surabaya: Paramita.

Suhardana, K.M. 2008. Niti Sastra. Ilmu Kepemimpinan atauManagement Berdasarkan Agama Hindu. Surabaya:Paramita.

Suhardana, K.M. 2008. Nagarakretagama & Pararaton. SejarahPembangunan Majapahit. Surabaya: Paramita.

Sularto, St. 2003. Niccolo Machiavelli: Penguasa ArsitekMasyarakat. Jakarta: Kompas.

Sura, I Gede. 1985. “Kepemimpinan Yang Ideal dalam SastraJawa Kuno dan Pengaruhnya dalam Masyarakat Bali”.Laporan Pertemuan Ilmiah Kebudayaan Bali, 26-29Desember 1985.

Sura, I Gde. 2003. Studies in Kautilya. (terjm). Denpasar: UNHI.Surpi, Ni Kadek. “Moral Politik dan Merosotnya Kualitas

Peradaban Manusia” dalam I Nyoman Yoga Segara (ed),2019. Politik Hindu.Sejarah, Moral dan Proyeksinya.Denpasar: IHDN Press, hlm. 58-73.

Sutrisno, Nanang. “Sejarah Politik Hindu” dalam I NyomanYoga Segara (ed). 2019. Politik Hindu. Sejarah, Moral danProyeksinya. Denpasar: IHDN Press, hlm. 1-18.

Suwantana, I Gede. “Politik Hindu, Antara Natural dan Moral”dalam I Nyoman Yoga Segara (ed). 2019. Politik Hindu.Sejarah, Moral dan Proyeksinya. Denpasar: IHDN Press,hlm. 101-114.

Swantoro, P. 2007. Masa Lalu Selalu Aktual. Cet. 1. Jakarta: BukuKompas, Rumah Budaya TeMBi.

Page 156: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

137/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

Thapar, Romila. 1961 dalam Ashoka and the decline of theMauryas. Oxford: OxfordUniversityPress.

Wolin, Sheldon S.. 2004. Politics and Vision. Expanded Edition.New Jersey: Princeton University Press.

Wolf, Jonathan. 2006. An Introduction to Political Philosophy.Revised Edition. Oxford: Oxford University Press.

Wurianto, Arif Budi. “Gung Binatara: Kekuasaan dan MoralitasJawa. Kasus Religiusitas Sultan Agung di Mataram”.Jurnal Ilmiah Bestari. No. 32. Th. XIV. 2001: 46-52.

Page 157: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i

138/Kautilya Artha Sastra, Jejak Pemikiran Politik Hindu

TE N TA N G PE N U L I S

I Nyoman Yoga Segara lahir di Serangan, Denpasar.Menyelesaikan S1 Sastra dan Filsafat Agama di UniversitasHindu Indonesia, S2 Ilmu Filsafat di Universitas Indonesia, danS3 Antropologi di Universitas Indonesia. Selama di Jakartadari 1998-2015, sempat menjadi pegawai di Ditjen Bimas Hindu,Widyaisawara serta Peneliti di Badan Litbang dan DiklatKementeria Agama, dan dosen di Binus University, UniversitasAtmajaya, Universitas Mercu Buana, dan STAH DN Jakarta.Sejak 2016 menjadi dosen di IHDN Denpasar dalam bidangAntropologi Sosial dan Budaya. Penulis dapat dihubungi [email protected] [*]

Page 158: i/sim.ihdn.ac.id/app-assets/repo/repo-dosen-102005021913-99.pdf · i/ ... i