isi buku - bisniskokoh.com filepagi, baca koran, ngopi, sarapan, dan begitu seterusnya. siang rapat,...

36

Upload: duongbao

Post on 07-Apr-2019

237 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

1 © Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Isi Buku

Kata Pengantar

Chapter #1

Chapter #2

Chapter #3

Chapter #4

Chapter #5

Chapter #6

Chapter #7

Chapter #8

2

5

9

13

17

21

25

30

33

2© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

KATA PENGANTARPelanggan Semen Gresik yang terhormat, Memiliki bisnis keluarga adalah anugerah yang layak dipelihara dan dikembangkan. Tidak semua orang beruntung dikaruniai sebuah bisnis yang merupakan pilihan, terutama di saat ekonomi sedang sulit seperti ini. Untuk itu, mengembangkan dan melestarikannya sampai beberapa generasi, apabila memungkinkan, adalah salah satu tujuan yang pantas dicanangkan.

Dalam upaya mencapai tujuan ini, tentu dibutuhkan segala aspek perjuangan, bahkan juga pengorbanan. Yang terberat – tapi ampuh – adalah berinisiatif melakukan perubahan bila dihitung perlu. Sebab bagaimanapun kondisi secara umum berubah, pasar berubah, konsumen lebih cerdas, dan sebagainya.

Perubahan ini bisa menyangkut visi, misi, strategi, pasar, cara pengelolaan bisnis, dan bahkan sumber daya manusia. Namun sebelum melakukan perubahan, ada baiknya Anda mengevaluasi beberapa hal. Yang pertama adalah mengenali wajah baru bisnis di era digital ini (Bab 1). Setelah memahaminya, sejumlah hal dapat dilihat lagi, terutama tantangan yang sedang dihadapi secara umum (Bab 2).

Memulai perubahan selayaknya dilakukan oleh orang yang berpengaruh di dalam bisnis. Siapa lagi kalau bukan Anda, pemilik usaha, yang menjadi pelopor di garis terdepan (Bab 3). Sekali perubahan telah ditetapkan pemimpin, maka akan lebih mudah bagi bawahan untuk mengikuti jejak yang telah dibuat. Termasuk juga ketika kondisi terkini mendorong manajemen usaha beralih dari yang konvensional ke yang modern (Bab 4).Strategi terdepan dalam mengembangkan bisnis masa kini adalah menerapkan inovasi (Bab 5). Kalau tidak, usaha Anda mungkin akan tergilas oleh mereka yang lebih agresif dan lincah gerakannya.

Mengembangkan inovasi belum tentu sulit, apalagi bila Anda berhasil membuat anak tertarik untuk mengelola usaha Anda (Bab 6). Sebagai orang yang berasal dari generasi yang lebih muda dan hidup di zaman teknologi canggih, anak-anak Anda memiliki ide-ide yang lebih segar dan punya segudang potensi bila digali. Tentu saja, mungkin dibutuhkan kiat-kiat tertentu untuk menjembatani perbedaan antargenerasi di bisnis Anda (Bab 7). Namun bila semua itu bisa diselesaikan, Anda hanya tinggal selangkah lagi dalam mengurai kunci sukses bisnis keluarga Anda (Bab 8). Hasilnya, sebuah bisnis yang panjang umur, mapan, dan meraih keuntungan.

Delapan bab ini kami sajikan untuk dipelajari dan didiskusikan. Semoga manfaatnya segera terasa dan menjadi pelajaran penting dalam menjalankan strategi usaha. Selamat membaca!

3 © Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #1

Sudah sering dikatakan kalau teknologi digital membawa

perubahan di dunia bisnis. Seperti apakah perubahan itu? Yang paling gampang dilihat adalah smartphone yang Anda gunakan sekarang ini.

Merek apa yang Anda pakai? Samsung, i-Phone, Lenovo, Sony, LG, BlackBerry? Saya yakin hampir tidak ada lagi yang menggunakan Nokia, ponsel sejuta umat yang 15 tahunan lalu paling laris di muka bumi.

Nokia yang gagal beradaptasi kini punah dengan sukses. Blackberry, kalau tidak bisa segera meningkatkan kinerjanya, juga akan menyusul. Seperti dinosaurus yang kini hanya tinggal fosilnya. Merek-merek seperti Nokia, Kodak, Compaq, juga hanya tinggal kenangan.

CHAPTER #1 WAJAH BARU BISNIS DI ERA DIGITAL

Bisnis Baru, Perilaku Baru

Kemajuan teknologi digital telah mengubah perilaku dan kebiasaan

orang saat ini. Coba ingat-ingat bagaimana kehidupan kita dulu sebelum wabah ponsel cerdas melanda. Bangun pagi, baca koran, ngopi, sarapan, dan begitu seterusnya. Siang rapat, lalu istirahat, makan siang, lalu bekerja lagi. Terus sampai sore dan malam.

Sekarang? Apa yang berubah? Nyaris semua kegiatan kita berubah. Bangun pagi rasanya tak lengkap kalau tidak membuka ponsel untuk tahu perkembangan di WA atau BBM Group.

Baca koran? Nggak sempat, kan bisa lihat di Android.

Bisa tahu juga gosip terkini sampai kericuhan politik. Dari jembatan runtuh sampai serangan teroris. Pekerjaan yang semakin bertambah mungkin juga bikin Anda kurang waktu untuk makan siang keluar. Tapi tak usah pusing. Daripada menyuruh OB yang sedang banyak kerjaan, tinggal pesan GoFood.Inovasi teknologi digital betul-betul mengubah wajah bisnis. Dari kegiatan pagi yang sederhana saja, bisa terlihat dinamika bisnis. Mana yang mulai tersingkir, atau mana yang baru mulai marak. Koran atau majalah, mungkin bukan lagi benda-benda yang wajib dipunyai.

Lalu, untuk apa punya mobil kalau memang tidak suka menyetir? Mereka bisa pilih Uber dan GrabCar saja supaya praktis, tidak ada biaya parkir, bensin, maupun pemeliharaan. Taksi konvensional bukannya tidak dipakai lagi, namun dengan dibebaskannya Jakarta dari 3 in 1, kehadirannya menjadi semakin jarang.

Telepon rumah – juga telepon umum – kini bukan benda yang jadi syarat kenyamanan. Malah ada orang yang tidak pernah mau menjawab telepon rumahnya karena tidak tahu siapa orang ‘usil’ yang menelepon. Sebentar lagi, telepon rumah – kecuali ada kegunaan lain, mungkin akan bernasib sama seperti mesin faksimili yang hilang pamor karena adanya email.

4© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #1

Bisnis yang dari dulu ada tapi sekarang baru terlihat sangat

diperlukan adalah penjualan pulsa ponsel/internet. Bahkan di jalan saja anak-anak sudah mulai resah kalau tidak ada Wi-Fi yang bisa diakses.

Oleh karena itu, provider TV berlangganan yang hanya menyediakan channel TV kurang peminat. Ya, digantikan oleh merek-merek TV berlangganan yang lincah menyediakan Wi-Fi.

Kalau sebegitu berbedanya wajah bisnis, lalu bagaimana dengan bisnis surat-menyurat? Kartu Hallmark kelihatannya tidak laku lagi. Tapi untungnya PT Pos Indonesia di bawah dirutnya, Gilarsi W Setijono, sangat kreatif.

Menyadari bahwa orang tak lagi banyak bersurat-suratan, Gilarsi membuat sejumlah gebrakan. Ia menggandeng BPJS Kesehatan untuk menjadi distributor Kartu Indonesia Sehat (KIS) di beberapa wilayah. Kartu sampai ke tangan penerima, biaya distribusi pun minimal karena kantor pos sudah ada di mana-mana.

Outlet-outlet kantor pos itu juga dimanfaatkan untuk menjadi kantor bayar PT Taspen. Para pensiunan yang domisilinya jauh dari Kantor Taspen, tidak perlu lagi datang langsung untuk mengurus pensiun

Bisnis Harus Dikelola Dengan Kreatif

pertama atau Tabungan Hari Tua. Selain Taspen, Gilarsi juga bermitra dengan MatahariMall.com, khususnya di fitur Online to Offline (O2O). Fitur ini memungkinkan pelanggan untuk mengambil, mengembalikan, bahkan membayar barang yang sudah dipesan secara online di lokasi offline, dalam hal ini kantor pos.

Kerja sama hampir mirip juga dilakukan dengan Zalora, khususnya dalam pengembalian barang, yang dapat dinikmati secara langsung oleh konsumen di 2,900 outlet kantor pos di seluruh Indonesia.

Singkatnya, untuk bertahan, atau memulai bisnis baru di era digital ini, Anda perlu pandai-pandai memanfaatkan peluang. Mereka yang berbisnis kafe atau restoran misalnya, kecuali hidangannya sangat lezat, orisinal. dan dikejar-kejar pelanggan, tak mungkin jadi destinasi favorit jika tidak dilengkapi Wi-fi. Toko kelontong, bahan pangan, atau bisnis apa pun yang menerima tamu, juga bakal dilewat saja kalau tokonya berantakan dan panas tak ber-AC.

Sebaliknya, mereka yang sukses memanfaatkan peluang bakal menangguk untung berlipat. 7 Eleven yang akrab disebut ‘Sevel’ misalnya, adalah salah satu dari bisnis lama yang bersalin rupa.

Tidak hanya menjual kopi kemasan, ia membebaskan pelanggan membuat kopinya sendiri dengan menyediakan

5 © Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #1

Pelajaran penting:

1. Berubah atau mati bukan sekadar jargon. Bisnis Anda bisa sehebat Nokia dulu, tapi kematian pun bisa menghadang seperti yang dialami Nokia bila tidak mampu beradaptasi dengan kemajuan zaman.

2. Teknologi digital memegang peran penting dalam perubahan bisnis. Memahami dan menguasai teknologi digital adalah kunci bertahannya bisnis.

3. Diperlukan sebuah lompatan kreativitas yang bersifat breakthrough jika Anda tidak ingin tersalip oleh bisnis-bisnis baru yang dibuat dengan landasan teknologi digital yang kuat. Seperti dilakukan PT Pos Indonesia, kantor-kantor yang tersebar di berbagai wilayah dimanfaatkan untuk menampung pergerakan bisnis baru yang membutuhkannya seperti KIS, MatahariMall.com, maupun Zalora.

air panas. Plus snack ringan yang disediakan dan tempat duduk-duduk yang nyaman, jadilah outlet-outletnya sebagai tempat berkumpul anak muda. Selama kreatif dan jeli mencari peluang, bisnis justru berkembang.

Jadi tidak perlu terperanjat lagi bila bermodalkan smartphone saja, tukang sayur Anda bisa berhenti bekerja saat makan siang. Ia sudah punya pelanggan tetap, bisa memprediksi bahan pangan mana yang perlu disediakan, dan ke daerah mana saja yang perlu didatangi untuk menawarkan jualannya.

Dan kalau dikatakan dunia sudah ada di genggaman Anda, itu bukan sekadar propaganda. Buka smartphone Anda, (pastinya, sebagai imigran di dunia digital, Anda perlu belajar menguasainya) cari apa yang Anda mau, hampir semua ada, tanpa perlu beranjak dari tempat Anda. Ya, pasti ada hal-hal yang tidak ada, dan di situlah sebenarnya peluang bisnis menyeruak.

6© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #1

7

CHAPTER #2

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #2 TANTANGAN BISNIS KELUARGA

Enggan untuk berubah

Cara mengelola perubahan

Era digital atau bukan, bisnis keluarga memang memiliki karakter yang

berbeda dengan bisnis lainnya. Bisnis keluarga menyatukan kebutuhan bisnis dengan kebutuhan keluarga sekaligus. Sementara pada dasarnya bagaimana keluarga dibina berbeda dengan bagaimana bisnis dikelola.

Keluarga dibina dengan prinsip-prinsip saling berbagi dan saling menjaga perasaan. Sementara bisnis dikelola dengan kompetensi dan kompetisi. Perbedaan ini membuat bisnis keluarga seringkali dipandang tidak profesional dan bahkan diprediksi tidak akan bertahan lama.

Kenyataannya, banyak bisnis keluarga yang bertahan dari generasi ke generasi. Bahkan tidak jarang menjadi besar, seperti Nyonya Meneer, Maspion Group, Ciputra, bahkan BMW dan Ford. Di dunia ini, dunia bisnis sebenarnya didominasi oleh perusahaan keluarga (95 persen bisnis yang berkembang di Indonesia adalah perusahaan keluarga. Demikian pula halnya di Asia, Timur Tengah, Italia dan Spanyol. Sementara 80 persen bisnis keluarga menguasai Perancis dan Jerman, dan 60-70 persen di Amerika).

Anehnya, perusahaan keluarga seringkali dipertanyakan kemampuan saat berhadapan dengan tantangan mempertahankan bisnis untuk diturunkan dari generasi ke generasi. Bahkan sering disebut-sebut perusahaan keluarga hanya akan bertahan sampai generasi ketiga saja.

Apa saja karakter-karakter yang membedakan perusahaan keluarga di era digital ini? Harus diakui, beberapa cirinya sangat tidak menguntungkan, yaitu:

Bisnis keluarga cenderung enggan untuk berubah. Dengan asumsi bahwa selama ini bisnis keluarga yang dijalankan baik-baik saja. Maka keluarga atau penerus bisnis keluarga merasa tidak perlu atau bahkan takut melakukan perubahan.

Baik itu pada bisnisnya maupun pada pengelolaannya. Padahal dengan perkembangan teknologi dan informasi saat ini, bagaimana produk dihasilkan dan dipasarkan akan sangat berbeda dengan era sebelumnya.

Hal ini perlu direspons dengan cepat apabila bisnis keluarga ingin bertahan di tengah persaingan. Mempertahankan tradisi keluarga dalam menjalankan bisnis tidak selamanya menguntungkan atau perlu diterjemahkan dalam bentuk yang lain bila benar-benar dibutuhkan.

Sebaliknya, tantangan perubahan ini juga bisa terjadi ketika penerus perusahaan keluarga menginginkan perubahan. Sementara orang tua sebagai pendiri yang sudah bertahun-tahun mengelola bisnis keluarga merasa sebaliknya.

8

CHAPTER #2

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Problem pada suksesi dan kepemimpinan

Bisnis keluarga biasanya berorientasi jangka panjang, dicita-citakan untuk dapat diturunkan dari generasi ke generasi. Maka perubahan kepemimpinan adalah hal yang tidak bisa dielakkan. Namun bukan hal yang mudah.

Selain isu-isu managerial, ada isu-isu emosional yang harus diatasi. Keputusan mengganti pemimpin seharusnya berdasarkan pada kompetensi orang yang akan dipilih. Masalah muncul ketika keluarga, khususnya anak yang diharapkan mewarisi bisnis keluarga, ternyata tidak cukup kompeten memimpin perusahaan.

Sebetulnya hal seperti ini dialami juga oleh bisnis yang lain ketika perusahaan sulit menemukan

pengganti. Namun dalam bisnis keluarga, momen ini bisa menjadi momen yang sensitif, emosional, dan dilematis.

Bagaimana bila anak-anak yang diharapkan menggantikan posisi orang tua merasa tidak siap mengambil alih kepemimpinan? Bagaimana bila anak yang lebih mampu menjadi pemimpin perusahaan bukan anak tertua, atau bukan anak laki-laki, misalnya? Bagaimana perasaan keluarga ketika perusahaan terpaksa merekrut orang baru di luar keluarga sebagai pemimpin karena anak-anak tidak mampu menggantikan orang tua memimpin perusahan?

Suksesi adalah transisi besar. Suksesi bukan saja persoalan mengganti pemimpin dari generasi pertama ke generasi kedua. Suksesi juga melibatkan revolusi budaya organisasi. Dibangun oleh generasi berikutnya melalui ide-ide baru mereka tentang bagaimana bisnis dijalankan dan dikembangkan.

Anak-anak mungkin melihat bisnis keluarga perlu segera disesuaikan dengan perkembangan teknologi dan tuntutan pasar. Sementara orang tua merasa bisnis yang dijalankan sudah cukup menghasilkan.

Hal ini bisa menimbulkan konflik dan bahkan perpecahan dalam keluarga. Dampaknya juga akan dirasakan oleh karyawan, pemasok, bahkan juga konsumen karena mereka akan bingung berhadapan dengan dua keinginan dan pengelolaan yang berbeda.

Mitos “Generasi pertama menciptakan, generasi kedua mengembangkan, dan

generasi ketiga menghancurkan”

Generasi pertama adalah peletak batu pertama bisnis keluarga. Dimulai dengan modal yang kecil dan berbekal tekad yang besar. Generasi pertamalah yang menciptakan bisnis keluarga ini. Generasi-generasi berikutnya seringkali tidak memiliki daya juang dan

9

CHAPTER #2

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

keberanian yang sama dengan generasi pertama.

Survei menunjukkan 50 persen bisnis keluarga berhasil diturunkan ke generasi kedua, hanya 20 persen yang berhasil diturunkan pada generasi ketiga, dan hanya kurang dari 5 persen yang bertahan di generasi keempat. Generasi kedua biasanya adalah generasi yang mengembangkan bisnis keluarga. Bisnis dikembangkan dengan modal yang lebih besar, produk yang lebih inovatif, dan teknologi yang lebih maju.

Belajar dari pengalaman bagaimana orang tua merintis bisnis keluarga. Bisa jadi membentuk karakter dalam mendidik anak-anak mereka dan mengelola bisnis keluarga. Bisa jadi generasi kedua ini harus merasakan pahitnya jatuh bangun generasi pertama merintis bisnis keluarga.

Berbekal pengalaman ini, generasi kedua biasanya ingin hidup anak-anak mereka jauh lebih baik dari orang tuanya. Anak-anak kemudian diberikan pendidikan yang lebih baik dan kehidupan yang lebih mewah. Akibatnya, generasi ketiga menjadi lebih manja dan tidak punya daya juang. Generasi ketiga cenderung gagal memimpin perusahaan karena umumnya mereka langsung menduduki posisi puncak tanpa pengalaman yang memadai.

Pelajaran penting:

1. Sejalan dengan perubahan era digital, tantangan terhadap perusahaan keluarga menjadi bertambah.

2. Selain tantangan eksternal, secara internal bisnis keluarga dihadapkan pada sejumlah hal yang perlu dikelola, yaitu keengganan untuk berubah, cara mengelola perubahan, suksesi dan kepemimpinan, serta mematahkan mitos antar generasi.

10

CHAPTER #2

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

1. PENDIRI2. PENERUS 3. ?

11

CHAPTER #3

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #3 PEMIMPIN DI GARIS DEPAN

Dalam buku Change yang saya tulis tahun 2005, salah seorang

pemimpin dunia bisnis di Indonesia yang kharismatis. Yakni Robby Djohan – belum lama ini beliau wafat dan dunia bisnis kehilangan salah satu putra terbaiknya – menuliskan kata pengantar yang sangat mengena: “Perubahan adalah bagian yang penting dari manajemen dan setiap pemimpin diukur keberhasilannya dari kemampuan memprediksi perubahan dan menjadikan perubahan tersebut suatu potensi.”

Tulisan Robby itu jelas menunjuk bahwa pemimpin berada di garis terdepan dalam proses perubahan. Dialah yang bertanggung jawab melihat seperti apa dunia berubah, bagaimana ia (dan perusahaannya) merespons perubahan tersebut, mampukah ia memprediksi seperti apa perusahaannya setahun – bahkan lima tahun – ke depan, dan apakah ia bisa melihat potensi yang tidak terpikir oleh bawahannya.

Siapakah orang di dalam perusahaan yang harus pertama-tama mengakui bahwa dunia berubah? Betul, pemimpinlah yang harus melihat ini.

Akui Dunia Telah Berubah

Pada konsumen, perubahan terlihat signifikan. Dulu kita tidak mengira

bahwa kaum perempuan mau membeli busana tanpa harus pergi ke toko untuk meraba tekstur kainnya dan mengepasnya. Begitu pula halnya ketika

membeli kosmetik. Kita juga berpikir bahwa untuk pergi traveling ke negara lain butuh waktu lama untuk mengurus tiket pesawat dan hotel. Kini, semuanya bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit saja via internet.

Kalau untuk busana yang sifatnya sangat personal dapat disajikan di toko online. Bagaimana pula halnya dengan buku, elektronik, mainan, aksesori mobil, atau barang-barang lain yang sudah jelas bentuk dan mereknya? Alat-alat bangunan, semen, peranti rumah tangga, misalnya, pasti juga bisa dijual online. Ini terbukti ketika situs-situs jual beli seperti bukalapak.com, tokopedia.com, bahkan Facebook menawarkan bahan bangunan dan semen. Situs-sitis semacam tokobahanbangunan.com dan hargabahanbangunan.com dibuat untuk memudahkan konsumen melihat barang dan mengetahui info harga terbaru.

Namun pemimpin harus melihat lebih jauh daripada hanya sekadar memindahkan (atau menambah) pasar. Ia juga harus melihat konsekuensi yang terjadi karena proses perubahan. Yang terpenting adalah mengelola SDM yang bekerja di perusahaannya untuk ikut berubah. Apakah mereka sudah terpapar internet? Apakah mereka siap membuat laporan lebih rapi dan terdokumentasi di sistem komputer?

Apakah ruang kerja dan toko sudah ber-AC agar komputer tahan lama dan konsumen yang datang merasa betah? Berapa lama waktu yang dibutuhkan agar setiap karyawan siap berpindah

12

CHAPTER #3

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

dari kertas ke komputer?Sudah pasti perubahan menelan korban, yang paling sepele adalah korban perasaan. Tapi dampaknya bisa besar. Karyawan yang tidak bahagia bisa jarang tersenyum dan mungkin ketus pada pelanggan. Padahal, dengan pilihan toko yang sedemikian banyak, di di dunia maya maupun dunia nyata, konsumen bisa seeenaknya beralih ke toko tetangga.

Reaktif Atau Kreatif?

Memimpin perusahaan tidak bisa sekadar punya usaha. Hanya

memilih orang-orang yang bikin hati senang karena penurut dan tidak kritis bukan jawaban. Apalagi bila karakternya jahat. Jangan-jangan bisnis jadi tidak memuaskan.

Sebagai pemimpin, ada dua pilihan yang tersaji. Apakah ingin menjadi pemimpin reaktif atau yang kreatif. Pemimpin reaktif cenderung menutup diri terhadap alternatif, terlalu cepat bereaksi untuk segala hal, mudah tersinggung, dan lebih melihat “kesulitan” di balik setiap kesempatan.

Pemimpin jenis ini adalah tipe orang yang membuat bingung bawahan karena suasana tempat bekerja seperti bom waktu saja. Kalau situasi sedang nyaman, sang pemimpin anteng. Tapi begitu ada hal yang di luar dugaan, pemimpin kalang-kabut dan jadi memengaruhi suasana kerja, termasuk juga pekerjaan anak buahnya. Dalam hal

ada perubahan, reaksi pemimpin seperti ini cenderung negatif sehingga tidak melihat peluang yang mungkin muncul. Sementara itu pemimpin yang kreatif pandai mengendalikan agresivitasnya dalam bentuk komunikasi yang teratur dan menimbulkan semangat kerja.

Cenderung kreatif mencari jalan keluar, dan mampu melihat “kesempatan-kesempatan” indah yang ada di balik setiap kesulitan, adalah ciri khasnya. Pemimpin seperti ini dirindukan setiap bawahan di manapun. Untuk mengawal perubahan. Pemimpin kreatif inilah yang dibutuhkan.

Untuk memimpin anak buah, boleh juga dikutip teori Peter Koestenbaum, Ph.D. tentang Leadership Diamond. Ia mengatakan bahwa kepemimpinan dalam organisasi dibentuk melalui empat unsur, yaitu Visi (Vision), Keberanian (Courageness), Realitas (Reality), dan Etika (Ethics).

Inti dari teori itu adalah, pemimpin selayaknya orang yang berpikir terbuka, bisa melihat jauh ke depan. Perubahan dilihatnya sebagai tantangan dan kesempatan untuk melakukan sesuatu yang lebih daripada yang telah dicapai.

Pemimpin juga diharapkan memiliki keberanian dan melaksanakan tugasnya sepenuh hati. Orang seperti ini akan melakukan terobosan-terobosan baru atau inisiatif dan berani mengambil risiko.

13

CHAPTER #3

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Ia juga andal dalam memotivasi bawahannya. Dan sebagai pemimpin, ia tahu persis bagaimana menggunakan alat-alat tertentu agar para pengikut atau anak-anak buahnya terpacu mencapai tujuan tertentu.

Seorang pemimpin bekerja dalam alam yang realistis, bukan mitos, bukan pula gossip, atau opini-opini. Ia tahu persis dan mampu membedakan yang mana ilusi orang-perorangan dan mana yang fakta. Oleh karena itu ia harus berani menantang setiap ‘perlawanan’ bila akan melakukan perubahan.

Pemimpin juga diharuskan memahami dan mengikuti etika. Ia peka, humanis, dan tidak akan melakukan apa pun yang dianggap dapat merugikan orang lain, bawahan, atasan, pemegang saham, komunitas di sekitar perusahaan, konsumen, warga masyarakat, dan sebagainya.

Pemimpin yang besar adalah pemimpin yang sadar akan nama baiknya, dan ia bekerja dengan kepercayaan. Semua itu diperoleh karena ia menuntut standar yang tinggi, yang berawal dari nilai-nilai yang ia anut.

Pelajaran penting:

1. Setiap pemimpin menyadari dan mengakui bahwa perubahan adalah sesuatu yang tidak terelakkan. Oleh karena itu ia harus mematahkan ungkapan bahwa perusahaan keluarga enggan berubah.

2. Pemimpin berada di garda terdepan dalam mengawal perubahan. Agar perubahan berjalan mulus, ia harus jeli memilih SDM yang mampu membantunya melakukan perubahan.

3. Pada kondisi apa pun, terutama ketika perubahan sedang berlangsung, pemimpin diharapkan bersikap kreatif, bukan reaktif.

4. Agar bisnis menjadi besar, perlu penerapan Leadership Diamond, yang mengintegrasikan empat unsur penting kepemimpinan, yaitu visi, keberanian, jeli melihat realitas, dan menganut etika (bisnis).

14

CHAPTER #3

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

15

CHAPTER #4

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #4 INOVASI ATAU MATI

Kata ‘inovasi’ jadi primadona belakangan karena sebuah peristiwa

fenomenal terjadi di ibukota republik ini. Pada Maret lalu, ribuan pengemudi taksi menggerumut di kawasan Balai Kota DKI Jakarta, Istana Negara, dan kantor Kementerian Komunikasi dan Informatika, menolak kehadiran taksi (dan ojek) yang berbasis aplikasi online. Penyebabnya gampang diterka, tergerusnya penghasilan sementara setoran bertambah.

Ramai publik bersahut-sahutan di media sosial maupun online, bahkan juga masih diperbincangkan di whatsapp group sejumlah teman. Karena perbincangan di strata konsumen, maka yang beredar lebih banyak dari sudut pandang konsumen.

Hampir semua menyalahkan para eksekutif taksi konvensional. Kok bisa membiarkan bisnis berjalan seperti biasa padahal pasar berubah total. Kok bisa setoran masih tinggi padahal pendapatan berkurang?

Sebagai pemakai jasa angkutan umum, banyak konsumen yang prihatin pada nasib supir taksi. Tapi, datangnya alternatif baru semacam Uber dan GrabCar tentu saja disambut baik. Tarif lebih murah, taksinya wangi, dan pengemudinya cenderung ramah. Pilihan untuk membayar beramai-ramai juga ada. Seperti yang diusung situs www.nebeng.com, aplikasi yang mempertemukan pemilik kendaraan pribadi dengan mereka yang membutuhkan angkutan ke arah

yang sama. Ini pasti sesuai dengan tema ‘hijau’ yang sering dilontarkan pejabat dan aktivis. Tarif hemat, macet berkurang karena mobil dipakai sama-sama.

Inovasi Di Model Bisnis

Di bisnis taksi konvensional, kita bukan hanya harus membayar

jasa angkutannya, tetapi secara tidak langsung juga mesti menanggung biaya kredit mobilnya, gaji pegawai perusahaan taksinya, biaya listrik dan AC, dan sebagainya. Di bisnis taksi berbasis aplikasi, kita tidak ikut menanggung biaya-biaya tersebut.

Jadi, kalau rute Kuningan ke Bandara Soekarno Hatta membuat Anda merogoh kocek sampai 150 ribu rupiah bila menumpang taksi konvensional, maka taksi berbasis aplikasi membuat Anda lebih berhemat karena tarifnya tak sampai 90 ribu rupiah.

Inilah yang saya sebut model bisnis baru: sharing economy. Dan di mata saya, model bisnis ini adalah inovasi. Masih banyak contoh-contoh lain dari keberhasilan inovasi macam ini. Dulu ada Air Asia, yang membuat setiap orang bisa terbang. Tak hanya orang berada saja.

Kini di luar negeri ada www.airbnb.com yang mempertemukan para pemilik rumah pribadi yang ingin menyewakan rumahnya, dengan orang-orang yang mencari penginapan. Pangsa

16

CHAPTER #4

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

IDE-IDE INOVASI

Untungnya, manusia dianugerahi saraf-saraf otak berjumlah jutaan,

yang kalau digunakan terus bukan usang tetapi malah lebih tajam. Maka tidak ada kata sulit atau kurang jika ingin berinovasi.

Iseng-iseng saya mengecek situs www.mapan.id yang digawangi PT Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA). Situs ini sebenarnya ‘hanya’ memanfaatkan hobi arisan kaum perempuan yang sudah terkenal itu, yaitu pembelian barang dalam sistem arisan. Maka, dalam ARISAN MAPAN, begitu produk ini disebut, setiap pemenang arisan bukan mendapat uang, tapi bisa memilih barang yang diinginkan. Barang yang ditawarkan beragam, dari peranti dapur, tas bermerek, sampai barang elektronik.

pasar bisnis perbankan juga mulai terganggu oleh hadirnya perusahaan-perusahaan crowd funding seperti di www.lendingclub.com. Perusahaan ini mengumpulkan dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit ke masyarakat.

Bedanya, proses mendapatkan kreditnya jauh lebih simpel ketimbang perbankan, dan suku bunganya pun lebih murah. Coba cek juga www.gandengtangan.org, yang mendanai bisnis untuk usaha skala UMKM dan social enterprise.Menanggapi perubahan model bisnis seperti ini, percayalah, kalau inovasi tidak segera dilakukan taksi konvensional, bisnisnya akan mati.

Harganya diklaim lebih murah karena PT RUMA membelinya langsung dari distributor.

Yang unik dari inovasi ini adalah si penjual tak perlu repot mencari pembeli. Karena untuk menjadi anggota ARISAN MAPAN, perlu ada ketua arisan yang mendaftarkan minimal 4 anggota arisannya. Arisan dikocok, pemenang menentukan pilihan barang yang dibeli, maka barang akan dikirim. Cara ini telah membuat 70 ribu orang dinyatakan sebagai anggota ARISAN MAPAN.

Aplikasi teknologi memang paling mudah memperlihatkan diri sebagai wajah inovasi. Pada perusahaan-perusahaan semen misalnya kita mengenal adanya supply chain management atau manajemen rantai pasokan yang lebih maju.

Sebagai produsen, mengidentifikasi selera konsumen. Lalu mengupayakan seluruh kebutuhan input dari pemasok. Memproduksi dan mendistribusikan produk tersebut sesuai dengan selera konsumen yang dibidik adalah teori dasar yang wajib dijalankan.

Agar distribusi material dari pemasok, aliran material dalam proses produksi sampai dengan distribusi produk ke tangan konsumen menjadi optimal, diterapkanlah konsep Supply Chain Management (SCM). Konsep ini tidak baru. Jebarus (2001) menyebutkan bahwa SCM merupakan pengembangan lebih lanjut dari manajemen distribusi produk untuk memenuhi permintaan

17

CHAPTER #4

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

konsumen, yang menekankan pada pola terpadu setiap proses bisnis.SCM lalu dikembangkan dengan aplikasi yang kini juga sedang marak diperbincangkan di dunia bisnis, yaitu Enterprise Resources Planning (ERP). Pada intinya ERP ini adalah sistem yang dapat mengintegrasikan semua data dan proses di sebuah perusahaan ke dalam sebuah sistem tunggal. Tujuannya adalah efisiensi.

Contoh sederhananya bila Anda menerima order untuk 100 unit Produk A. Sistem ERP akan membantu menghitung berapa yang dapat diproduksi berdasarkan segala keterbatasan sumber daya yang ada. Apabila sumber daya tersebut tidak mencukupi, sistem ERP dapat menghitung berapa lagi sumber daya yang diperlukan, sekaligus membantu Anda dalam proses pengadaannya.

Ketika hendak mendistribusikan hasil produksi, sistem ERP juga dapat menentukan cara pemuatan dan pengangkutan yang optimal kepada tujuan yang ditentukan pelanggan. Pada proses ini semua informasi tercatat dan diketahui oleh setiap divisi lain yang berhubungan. Misalnya daftar produk bisa dipakai oleh bagian pembelian, bagian perbekalan, bagian produksi, bagian gudang, bagian pengangkutan, bagian keuangan dan sebagainya.

Contoh inovasi lain dapat Anda temukan sendiri ketika melayani pelanggan. Berbekal data dan informasi, serta intuisi dalam menentukan arah pasar,

inovasi bisa dibuat. Bahkan soal sepele seperti pengantaran barang dalam rute searah, sudah menjadi inovatif karena dapat menekan harga dan waktu antar. Terapkan hal-hal kecil sepele ini kepada karyawan Anda, dan sejak dari hal sederhana sampai rumit, karyawan akan mulai berpikir inovatif dan kreatif.

Pelajaran penting:

1. Inovasi mutlak diperlukan agar masih bisa bersaing dalam era bisnis yang kian kompetitif.

2. Pada intinya, inovasi digunakan untuk mempertahankan konsumen, mengakuisisi kosumen baru, menekan harga jual, serta mendukung efisiensi.

3. Inovasi adalah gabungan teknologi dan manajemen. Karena itu menguasai teknologi adalah keharusan, dan diperlukan keahlian mengelola supaya proses bisnis berjalan dengan baik dan lancar.

18

CHAPTER #4

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

19

CHAPTER #5

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #5 AGAR ANAK TERTARIK BISNIS ANDA

Susah-susah merintis bisnis dari bawah, tentu yang diinginkan orang

adalah agar bisnisnya berkembang dan langgeng. Kalau sudah bicara langgeng, maka harapannya adalah agar anak-anak mau meneruskan bisnis itu.

Kenyataannya, tidak selamanya bisnis yang dikelola keluarga menarik bagi generasi berikutnya. Perusahaan yang dikelola secara tradisional, menggunakan teknologi yang konvensional, mungkin tidak akan dilirik oleh anak-anak sendiri. Anak-anak muda sekarang cenderung suka yang trendi, dari penampilan (baju, sepatu, tas, ponsel, mobil) sampai pada pilihan di mana mereka akan bekerja.

Sebagai pelaku bisnis, Anda tentu lebih tahu bahwa putaran uang miliaran rupiah setiap harinya tidak berhenti di lautan beton gedung-gedung pencakar langit itu. Toko-toko seperti yang Anda dan sejumlah orang lain miliki menyumbang sebagian besar dari uang yang berputar tersebut.

Tapi usia dan pengalaman yang masih muda mungkin membuat anak-anak tidak mengendus aroma yang harum dari bisnis yang dijalankan ayah-ibu mereka. Mereka mungkin berpikir bisnis orangtuanya tidak cukup trendi untuk mereka jalankan.

Daya juang yang cenderung rendah, juga membuat generasi sekarang lebih memilih bisnis yang berorientasi jangka pendek. Cepat berganti jenis usaha ketika bisnis mengalami kesulitan.

Hal ini menyebabkan anak muda sulit memahami ide bisnis keluarga sebagai bisnis yang bisa diturunkan dari generasi ke generasi.

Pahami Kekhawatiran Anak

Harus diakui bahwa pendidikan dasar di Indonesia tidak mengajarkan

murid-muridnya untuk memiliki kemampuan berwirausaha. Tidak heran bila anak-anak muda sekarang merasa lebih tertarik menjadi pekerja kantoran atau menjalani karier sebagai eksekutif di perusahaan besar. Kecuali, bila usaha yang dijalankan itu sifatnya berbasiskan teknologi, hal yang disukai generasi muda sekarang.

Coba lihat event-event yang memberi kesempatan pada pelaku bisnis start-up untuk menjalin networking, selalu penuh dengan deretan peserta yang antusias. Sebenarnya baik saja, asal core bisnis yang dijalankan itu dikuasai dengan baik. Dan jangan lupa, pada suatu waktu, bisa saja bisnis semacam ini mencapai titik jenuh.

Hal lain yang membuat anak-anak tidak tertarik menjalankan bisnis keluarga, adalah adanya kekhawatiran bahwa mereka tidak bisa memenuhi harapan dan sulit bekerjasama dengan generasi yang lebih tua. Yang lain lagi adalah kekhawatiran tidak bisa melepaskan diri dari bayang-bayang pencapaian orang tua dalam bisnis keluarga, atau tidak bisa bebas mengambil keputusan

20

CHAPTER #5

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Buat Agar Mereka Tertarik

Anak-anak harus bergabung dengan bisnis keluarga untuk alasan yang

tepat. Bila mereka bergabung dengan bisnis keluarga untuk mendapatkan kenyamanan, tempat berlindung yang aman, dan prestise, maka mereka bergabung untuk alasan yang salah. Harus dipastikan bergabungnya mereka

strategis karena kendali orang tua yang terlalu kuat. Kekhawatiran-kekhawatiran lain bisa juga menjadi alasan mengapa bisnis keluarga tidak menarik bagi anak-anak. Misalnya khawatir bekerja dengan keluarga akan memunculkan lebih banyak konflik karena bisnis keluarga secara alami memiliki aspek emosional yang kuat.

Anak-anak bisa juga mengkhawatirkan citra mereka di mata karyawan-karyawan yang lain, apakah mereka akan menghormatinya, apakah mereka tidak akan memandang sebelah mata kemampuan anak-anak ini menjalankan bisnis keluarga, dan lain sebagainya.

Pertanyaan-pertanyaan ini adalah pertanyaan-pertanyaan yang harus dicari tahu jawabannya sebelum meminta anak-anak bergabung dan meneruskan bisnis keluarga. Julukan anak kemarin sore, atau bertemu dengan bos di rumah maupun di kantor, belum tentu merupakan kondisi yang bisa dijalankan setiap orang.

Paling baik adalah bila anak merasa tertarik untuk menjalankan bisnis yang dikelola keluarga. Apa saja yang mungkin dilakukan?

1. Mengenalkan anak pada produk, tempat kerja, dan lingkungan bisnis keluarga dari kecil.

2. Generasi sekarang besar dengan kehidupan yang berbeda dari orangtuanya. Bisnis apa pun, juga sebaiknya selalu mengikuti tuntutan zaman.

Berbisnis restoran, misalnya, kalau tidak enak-enak amat sampai selalu dicari orang, ya harus mengikuti selera pasar. W-fi, AC, serba tekno, suasana yang nyaman, adalah selera anak sekarang. Anak Anda juga tidak jauh berbeda. Mungkin tidak semuanya bisa dipenuhi, tergantung bisnis yang dijalankan, tapi penyesuaian tetap harus dilakukan.

3. Memiliki waktu untuk menjelaskan bisnis Anda, nilai-nilai yang berlaku, dan rencana masa depan kepada mereka. Gaya kepemimpinan biasanya berbeda, pahami bahwa anak Anda bukan Anda.

4. Libatkan anak-anak dalam rencana masa depan perusahaan. Melibatkan tak hanya berarti memberi anak

dalam bisnis keluarga tidak secara otomatis memberikan keistimewaan bagi mereka sebagai anak pemilik perusahaan.

21

CHAPTER #5

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

segepok berlian yang disajikan di atas pinggan emas. Justru, anak-anak harus memahami betapa pentingnya kehadiran mereka di perusahaan, sehingga anak-anak merasa mereka penting. Bukan karena mereka anak Anda, tapi karena perusahaan juga membutuhkan mereka.

5. Beri anak bekal yang cukup. Bekal dalam hal ini adalah investasi pendidikan dan pengalaman. Anak-anak yang kembali ke pangkuan Anda dengan mata, pikiran, dan hati terbuka, pasti akan memberikan kontribusi yang berguna bagi Anda maupun perusahaan. 6. Beri petunjuk bahwa Anda percaya anak-anak akan bisa mengelola perusahaan yang sedang dijalankan ini. Salah satunya dengan memberikannya ruang gerak yang cukup untuk berkreasi dan memimpin perusahaan.

Pelajaran penting:

1. Agar anak mau meneruskan usaha keluarga, pengenalan terhadap produk maupun lingkungan bisnis sangat diperlukan sehingga anak bisa mencintai bisnis itu. Lakukan sejak mereka kecil.

2. Luangkan waktu untuk mentransfer pengalaman, ilmu, dan nilai-nilai perusahaan kepada anak.

3. Beri kesempatan bagi mereka untuk memimpin usaha, bila saatnya tiba.

22

CHAPTER #5

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

23

CHAPTER #6

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #6 KESENJANGAN GENERASI, BAGAIMANA MENGATASINYA?

Dunia bisnis saat ini sedang mengukir sejarah baru. Untuk pertama kalinya,

baru sekarang inilah ada empat generasi bekerja sama dalam satu tim di dunia kerja.

Mengapa saya berpendapat seperti itu, bacalah file orang-orang yang bekerja di perusahaan Anda. Adakah orang yang lahir di tahun 1947 – mungkin Anda, pemilik usaha, atau pendiri perusahaan yang masih rajin bekerja – dan orang yang lahir di antara tahun itu sampai era 90-an?

Kalau ada, mungkin kita bisa lihat dari merek ponsel yang dipakainya. Generasi yang lebih sepuh umumnya masih setia dengan Nokia dan Blackberry, sementara yang termuda mungkin sudah tidak lagi menenteng Iphone, tapi menggantinya dengan Samsung.

Kalau cuma sekadar beda tentangan ponsel, tidak ada masalah. Tapi kita tahu perbedaan generasi juga menciptakan problema baru: perbedaan cara berkomunikasi dan pada gilirannya memengaruhi cara bekerja.

Ciri Setiap Generasi

Dunia barat mencatat 4 generasi yang dibedakan namanya yaitu

Traditionalist, Baby Boomer, Generasi X, dan Generasi Y. Nilai-nilai yang mereka anut juga berbeda. Urutannya adalah Sejarah, Ekonomi, Budaya, dan Teknologi.

Ciri Generasi Traditionalist (lahir terakhir tahun 1947) adalah kesetiaan dan disiplin. Karena dibesarkan di zaman perang, tak heran kalau mereka ini sangat hemat, bahkan mungkin terlihat orang sebagai sosok yang pelit.

Sedangkan generasi Baby Boomers’ (1948 – 1963) menunjukkan ciri pemimpin yang luar biasa. Senang bekerja keras – maklum dididik oleh orangtua traditionalist di era sesudah perang membuat mereka adalah orang-orang yang optimis, idealis, dan ingin mendobrak aturan yang mengekang. Ada yang menyebutnya sebagai generasi air tajin, karena memang waktu itu hidup masih susah sehingga minum susu pun jarang, digantikan air tajin.

Waktu kecil, generasi ini punya hiburan sangat terbatas. Televisi masih hitam putih. Bacaannya kalau di Indonesia masih Khoo Ping Ho, cerita silat dalam buku-buku kecil yang dijilid berseri-seri. Kelebihan utama adalah mereka punya totalitas kerja yang tinggi, tidak mudah mengeluh dalam kesusahan, disiplin dan etos kerja tinggi, dan cenderung radikal kalau menyangkut nilai-nilai tertentu, sehingga terkesan agak memaksakan.

Namun kekurangannya, kadang mereka suka bernostalgia, butuh respek atas pengalaman mereka dan repotnya, agak gagap teknologi.

Generasi yang sekarang paling banyak menduduki kursi manajerial adalah Generasi X (1964 – 1979). Mereka mandiri, kreatif, dan inovatif. Penemuan-

24

CHAPTER #6

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

penemuan teknologi menjadi salah satu cirinya. Karena daya juang dan inovasinya yang tinggi, generasi ini bahkan bisa bekerja sendiri tanpa tim bila dia merasakan yang lainnya begitu lambat.

Mereka ini generasi yang sudah menikmati hidup, tetapi masih mengadopsi nilai-nilai kedisiplinan. Berbeda dengan Baby Boomers’ yang keras, mereka ini berusaha tidak terlalu keras kepada anak-anaknya.

Hasil sensus global menunjukkan bahwa inilah generasi yang pendidikan dan kepedulian masalah sosialnya tinggi karena mereka memberontak terhadap sistem sebelumnya. Kelebihan generasi ini adalah fleksibel, kompromistis serta moderat. Namun, kekurangannya kadang Gen X ini masih plin-plan.

Lalu ada lagi generasi termuda di angkatan kerja, Generasi Y, yang juga sering disebut Generasi Milenium (lahir 1980-1999). Mereka dipenuhi ide-ide cemerlang dan brilian, dan dapat diandalkan menjadi team player.

Cirinya tidak bisa diam, harus bergerak, dan punya akal banyak agar hidupnya tidak membosankan. Kelebihan generasi ini adalah mereka sangat canggih menggunakan produk baru. Apa kekurangannya? Kadang mereka sukar menerima proses yang lama bahkan cenderung tidak sabaran.

Menyatukan empat generasi dengan ciri yang berbeda itu tidak selamanya

gampang. Pelabelan adalah hal paling sering terjadi. Yang satu merasa bahwa generasi termuda – kendati punya modal banyak dalam dirinya, adalah generasi yang cenderung cengeng, sangat tidak sopan, dan egois. Yang lainnya menjuluki generasi-generasi di atasnya sebagai kaum yang terlalu banyak nostalgia dan feodal!

Feodal? Saya kaget juga mendengar ucapan anak-anak muda di banyak industri tentang senior-senior mereka. “Feodal, takut menghadapi perubahan, bicaranya satu arah, meeting-nya lama dan tak ada keputusan, semua serba uang, lamban, berubahnya pelan-pelan. Itu artinya tidak ada perubahan sama sekali.”

Bagi saya, pelabelan feodal di dalam bisnis cukup berat. Sebab biarpun teknologi baru dapat dipelajari, kemajuan informasi dikuasai, mengubah watak feodal yang bersifat satu arah dan merasa benar sendiri sangat sulit.

Kalau dilihat dari statistik, rata-rata perusahaan di Indonesia, berhenti merekrut pegawai sejak krisis moneter menerpa ekonomi Indonesia (1997-2007). Birokrasi kita bahkan lebih lama lagi (sejak awal 1990), sudah melakukan prinsip zero growth. Praktis birokrasi dan dunia usaha sama-sama mengalami kegalauan, tak tahu apa yang harus diperbuat.

25

CHAPTER #6

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Pahami Bahasa Mereka!

Tapi bisnis harus terus berjalan kendati masalah perbedaan generasi

ini menghantui bisnis Anda. Satu-satunya hal yang bisa dilakukan adalah menjalankan komunikasi yang baik. Dan komunikasi yang baik ditandai dengan berbicara dalam ‘bahasa yang sama’.

Saya melihat banyak orang gagal berkomunikasi juga karena pilihan saluran komunikasinya tidak tepat. Bos yang traditionalist pasti akan tersinggung bila dilapori hanya via email atau media sosial. Ia akan menginginkan pertemuan tatap muka.

Sebaliknya, kalau Anda ingin mem-briefing Gen Y, tak usah banyak basa-basi. SMS atau Whatsapp, bisa dilakukan. Jangan sampai cari gara-gara dengan membuat dia menempuh separuh Jakarta di Jumat sore yang macet.

Jadi, bagaimana mengatasi kesenjangan antargenerasi ini?

Tergantung siapa yang Anda ajak bicara, kalau yang perlu didekati adalah bawahan, maka:

Intinya, generasi telah berbeda, makanya dituntut pula pendekatan yang juga berbeda! Tahun ini mencari karyawan akan semakin sulit. Untuk itu, menjaga karyawan yang sudah ada sangat membantu menurunkan biaya rekrutmen yang mahal.

1. Kenali bahasa mereka. Kenali istilah-istilah yang mereka pakai, dan bergaullah dengan cara mereka. Atasan pun harus mencoba menyesuaikan dengan bahasa mereka, gadget yang digunakan untuk

berkomunikasi. Kalau perlu jadilah follower mereka di Twitter ataupun komunikasikan lewat media sosial.

2. Jangan terlalu menggunakan pendekatan manajemen mikro alias terlalu details. Beri mereka kepercayaan, diskusi dengan mereka soal tujuan dan cara mengerjakan.

Bebaskan mereka untuk mengerjakan, tapi seringlah diajak diskusi soal perkembangan kerja mereka.

3. Kurangi sekat-sekat birokrasi. Libatkanlah masukan dari mereka.

4. Beri rewards yang sifatnya lebih personal. Bukan lagi cuma gaji, tetapi juga misalkan hadiah berlibur ataupun hadiah yang lebih sesuai dengan hobi dan minat mereka.

5. Perusahaan dan manajemen memang perlu lebih ‘gaul’. Ciptakanlah ruang bermain dan ruang game.

26

CHAPTER #6

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Pelajaran penting:

1. Setiap generasi memiliki sifat yang berbeda-beda, karena setiap manusia memiliki 4 dimensi yaitu tubuh, hati, pikiran dan juga jiwa. Maka itu pahami cara mereka berpikir dan berkomunikasi.

2. Percayai generasi di bawah Anda untuk mengambil keputusan. Memberi arah pada mereka itu baik, tapi jangan ambil semua panggung manajemen ke dalam tanggung jawab Anda, supaya mereka bisa belajar dan tidak manja.

3. Libatkanlah setiap generasi dalam melakukan pekerjaan di perusahaan, supaya terjadi keakraban.

27

CHAPTER #6

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #7 MENGUBAH MANAJEMEN KONVENSIONAL KE MODERN

Telah dipahami bahwa bisnis keluarga memiliki keunikan tersendiri

dibanding bisnis yang dikelola tenaga profesional. Salah satu ciri yang membedakan adalah SDM dan cara berbisnis di mana banyak perusahaan keluarga dilabeli manajemen konvensional. Padahal, cara-cara manajemen konvensional mungkin sudah tidak mungkin dilakukan. Sebab, kita tahu bahwa pasar sudah berubah dan persaingan makin berat.

Juga perlu diingat bahwa perang SDM makin ketat. Sebuah survei memproyeksikan bahwa Indonesia akan mengalami jurang kekurangan tenaga profesional yang besar pada tahun 2020, terutama di taraf manajemen menengah. Jika perusahaan tak memiliki tawaran yang menarik untuk mempertahankan SDM, mereka akan kehilangan orang-orang terbaik.

Tantangan ketiga sekaligus terberat adalah peralihan generasi. Statistik menunjukkan, tingkat keberhasilan (survival) transisi dari generasi ke-1 ke generasi ke-2 hanya 30 persen. Artinya, 70 persen mengalami kegagalan. Kemudian tingkat keberhasilan dari generasi ke-2 ke generasi ke-3 jatuh menjadi 7 persen. Ini cukup menakutkan. Namun bukan berarti fakta ini membuat kita berkecil hati. Ada cara membuat perusahaan keluarga mampu bertahan. Yaitu bila perusahaan keluarga diprofesionalisasi dengan baik.

Profesional Seperti Apa?

Untuk mengelola perusahaan keluarga yang tadinya menganut

manajemen konvensional menjadi professional. Perlu ada kesadaran dari anggota keluarga untuk memiliki pandangan yang jernih seputar sistem dan proses bisnisnya. Skala bisnis yang membesar dari tahun ke tahun, umpamanya naiknya permintaan dari waktu ke waktu, membutuhkan sistem dan kontrol yang profesional, termasuk transparansi.

Mengubah manajemen konvensional ke profesional bisa dilakukan dengan cara berikut:

1. Catatan pembelian dan penjualan yang dulu hanya ada di buku, tentu harus berganti ke file-file di komputer. Segala sesuatu di zaman digital ini mengarah pada penyimpanan sejumlah data yang besar, namun dengan peranti (devices) yang makin mungil. Penyimpanan di file – dalam bentuk PDF misalnya – juga tidak memberikan peluang bagi siapa pun untuk mengutak-atiknya.

2. Berubahnya catatan pembelian dan penjualan perlu diiringi pelaporan akuntansi standar yang kredibel.

3. Komputer membutuhkan ruang kerja yang apik dan berpendingin (AC). Kalau usaha konvensional biasa tidak rapi, ini saatnya pengaturannya diperbaiki. Mungkin juga sampai ke

28

CHAPTER #7

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

desain atau lay out ruangan sudah perlu berubah.

4. Selain untuk kenyamanan SDM, penting juga diperhatikan adalah kenyamanan pelanggan. Kita bisa melihat sekarang bahkan tempat cuci mobil pun bersalin rupa. Tahu kalau banyak pelanggan yang mencucikan mobilnya bukan hanya kaum laki-laki tapi perempuan juga, ruang-ruang tunggu di tempat-tempat pencucian mobil modern bukan lagi tempat kumuh. AC, TV, koran dan majalah, serta minuman dalam kemasan pun disediakan.

Sementara dunia perbankan yang sudah lebih dulu profesional dari awal, sejak dulu sudah menyediakan lounge atau ruangan yang bisa dipakai pelanggan untuk bertemu dengan kolega bisnisnya. Bahkan, Bank BTPN menyediakan ruangan untuk arisan dan berolahraga buat para pensiunan.

5. Profesional bukan hanya diwujudkan dalam hal yang berhubungan dengan fisik saja. Yang juga sangat diperlukan adalah membangun platform SDM yang mapan. Hal ini tidak dapat dilakukan seketika karena butuh waktu bertahun-tahun.

6. Khususnya untuk perusahaan keluarga, dibutuhkan juga tata kelola keluarga yang lebih modern. Tata kelola keluarga akan memperjelas persoalan suksesi supaya perselisihan tidak terjadi antara anak-anak pendiri.

7. Perbaikan struktur manajemen, terutama terkait dengan penempatan anggota keluarga dalam struktur organisasi beserta kompetensi yang diperlukannya.

8. Di samping keluarga, eksistensi perusahaan juga ditentukan oleh pelanggan, karyawan, dan komunitas. Euforia reformasi justru makin memberikan tekanan bagaimana perusahaan bisa dikelola agar kompetitif tanpa melupakan aspek tanggung jawab kepada masyarakat.

Untuk itu, karyawan profesional yang qualified di bidangnya direkrut untuk mempromosikan akuntabilitas manajemen, membuat keputusan berdasarkan penilaian bisnis murni, dan memperluas jaringan.

Sinergi NilaiKeluarga & Manajemen Modern

Berbicara tentang perusahaan keluarga tentu tak luput dari

suksesi. Suksesi merupakan isu yang paling krusial, terutama kalau kendali perusahaan sudah mulai bergerak ke arah generasi kedua, apalagi generasi ketiga.

Isu-isu dalam suksesi antara lain adalah rencana suksesi yang tidak jelas dan konflik antara calon-calon pengganti. Kata kunci dalam suksesi adalah kapan perusahaan akan diwariskan dan kepada

29

CHAPTER #7

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

siapa. Secara implisit, komunikasi mutlak diperlukan di sini. Penunjukan putra mahkota misalnya, tidak akan efektif jika tidak dikomunikasikan sejak awal.

Salah satu strategi yang mungkin lebih mudah diterapkan adalah mengombinasikan nilai-nilai keluarga (family values) dengan konsep manajemen modern. Inilah yang kita lihat ketika sebuah bisnis telah dipenuhi dengan generasi muda lulusan sekolah manajemen dan bisnis ternama di dunia. Namun nilai-nilai kehidupan orang tua atau kakek-neneknya (pendiri) terus dipahami sebagai nilai fundamental dalam mengelola perusahaan.

Sinergi antara keduanya memang memantapkan jejak langkah bisnis di masa depan. Di satu sisi komitmen untuk meneruskan warisan dari satu generasi ke generasi selanjutnya dibutuhkan sebagai semangat dalam mengembangkan bisnis. Di sisi lain, kemajuan metode pengelolaan perusahaan seperti prinsip pencatatan akuntansi yang mengacu pada standar pelaporan, atau mungkin adanya tuntutan pendanaan melalui penawaran publik merupakan konsekuensi dari perjalanan umur sang bisnis.

Tidak hanya itu, bisnis konvensional kini mulai dihadapkan pada tuntutan menjalankan teknik-teknik pemasaran yang tepat agar tetap dikenal oleh pasar. Artinya tanpa adanya perpaduan dengan konsep modern, niscaya bisnis keluarga akan berjalan lebih lambat, bahkan

berpotensi lekang oleh waktu.Menerima perubahan, terlebih jika kita berbicara tentang pola pikir atau cara pandang dalam proses seseorang mengais rezeki memang bukanlah hal yang sederhana. Kekhawatiran bahwa konsep modern tak selalu cocok dengan karakteristik usaha, atau adanya persepsi bahwa pengelolaan modern identik dengan pengeluaran yang lebih besar pada dasarnya merupakan hal yang perlu dilihat secara lebih bijaksana.

Pelajaran penting:

1. Manajemen modern adalah keharusan. Cara menerapkannya bisa dengan mengkombinasikann dengan family values yang dianut.

2. Manajemen modern identik dengan profesionalisasi.

3. Investasi pada SDM terbaik mutlak diperlukan untuk bersaing di pasar modern.

30

CHAPTER #7

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

31

CHAPTER #8

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

CHAPTER #8 KUNCI SUKSES BISNIS KELUARGA

Menurut Arie de Geus dalam bukunya The Living Company, perusahaan

akan mampu bertahan dalam dunia bisnis jika memiliki empat sifat:

Karakteristik bicara tentang kekuatan dan kelemahan. Beberapa

faktor yang dominan sebagai kekuatan perusahaan keluarga, yaitu:

Apa Kekuatan Dan Kelemahan?

Apa yang dituliskan Arie de Geus juga berlaku bagi perusahaan keluarga. Namun, memang selalu ada sisi unik dari perusahan keluarga, karena adanya karakteristik yang khas. Bagaimana meramu perusahaan keluarga menjadi sukses dan bertahan adalah dengan mengenali karakteristik yang berupa kekuatan dan kelemahan.

1. Peka terhadap dunia sekeliling. Perusahaan-perusahaan yang panjang umur adalah perusahaan yang mau belajar, dan beradaptasi dengan apa yang terjadi di sekitarnya.

2. Sadar akan identitasnya. Perusahaan bisa menjadi sangat kohesif dan memiliki rasa identitas yang kuat berkat kemampuan membangun bersama-sama dengan masyarakat.

3. Toleran terhadap ide-ide baru. Sifat seperti ini akan membuat inovasi mengalir deras dalam perusahaan. Lalu, seperti halnya manusia, perusahaan juga mesti memiliki sifat sabar: memberikan kesempatan pada anak-anak usaha atau cabang-cabangnya untuk mengembangkan layanan sesuai dengan kebutuhan stakeholder-nya.

4. Perusahaan perlu mengelola keuangannya secara konservatif. Jangan besar pasak daripada tiang.

1. Dalam bisnis keluarga, kepentingan yang utama ada di tangan keluarga. Kapan pun keluarga membuat keputusan bisnis, keputusan tersebut selalu untuk kepentingan keluarga, dalam hal bisnis. Sementara keadaan ini tidak selalu terjadi di bisnis profesional. Kadang eksekutif bisnis profesional membuat keputusan untuk melindungi karier masing-masing, bukan untuk kebaikan perusahaan.

2. Rapat perusahaan keluarga itu seperti rapat keluarga, sehingga lebih luwes dalam pengambilan keputusan. Apa yang dirasakan oleh keluarga adalah apa yang terjadi di perusahaan. Jika keluarga rukun maka perusahaan itu juga rukun, kekal, dan kuat. Sebaliknya, apabila keluarga bertengkar, maka perusahaan juga akan tercerai-berai.

3. Keputusan juga bisa diambil secara cepat dan tangkas. Pengambilan keputusan yang biasanya membutuhkan waktu berbulan-bulan di perusahaan profesional bisa dilakukan kapan saja di mana saja oleh pemilik perusahaan keluarga.

32

CHAPTER #8

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Namun bisnis keluarga tentunya juga punya beberapa kelemahan, di antaranya adalah:

1. Seringkali tidak ada keselarasan visi antara generasi lama, generasi baru, dan tenaga profesional yang bekerja di perusahaan itu. Pendiri bisnis (generasi lama) memiliki tujuan yang ingin dicapai. Tetapi, generasi baru tidak paham sebab tujuan tersebut tidak diartikulasikan oleh si pendiri.

4. Nilai-nilai keluarga bisa dipahami sebagai aturan tidak tertulis yang mengatur dan mengendalikan perilaku anggota keluarga. Dalam bisnis keluarga nilai ini juga dibangun untuk mengatur perilaku anggota keluarga dalam mencapai visi keluarga dan misi bisnis mereka.

5. Dalam bisnis keluarga, perilaku anggota keluarga lebih mudah ditebak. Akibatnya, konflik yang mungkin terjadi bisa diprediksi. Dengan demikian pemecahan masalahnya pun bisa diprediksi sebelumnya.

6. Bisnis keluarga juga memiliki keunggulan dalam soal komitmen. Mereka yang memulai bisnisnya sendiri biasanya memiliki ambisi dan komitmen yang tinggi atas bisnis tersebut. Hal ini berdampak pula pada fleksibilitas kerja, waktu, dan bahkan keuangan. Dengan keluarga, perusahaan tidak harus bernegosiasi soal beban kerja, jam kerja dan bonus, serta uang lembur.

2. Lemahnya struktur organisasi di perusahaan keluarga karena kurangnya transparansi.

3. Tidak jelasnya pembagian wewenang dan tanggung jawab. Mungkin saja terjadi dalam bisnis yang hanya dipimpin suami istri saja, terjadi kekacauan karena keduanya tidak membagi pekerjaan dengan baik. Karyawan bingung ketika mendapat perintah yang berbeda dari pasangan suami istri pendiri bisnis itu.

Kunci Sukses Bisnis Keluarga

Agar kekuatan bisa dioptimalkan dan segala kelemahan diminimalkan,

maka perlu dilakukan langkah-langkah berikut:

1. Pembagian wewenang dan tanggung jawab dalam sebuah perusahaan keluarga.

2. Apakah orang yang diberi wewenang itu punya kemampuan dan mau menjalankan tugas itu. Perusahaan lain bisa memperoleh SDM dari pasar, tetapi perusahaan keluarga hanya dapat memperolehnya dari dalam keluarga.

Untuk itu perlu dipersiapkan generasi penerus yang memenuhi syarat. Kita mengenal ada 3 model pengembangan yang perlu dicermati. Pertama, calon penerus menimba pengalaman dulu di perusahaan lain, baru masuk ke dalam bisnis keluarga.

33

CHAPTER #8

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali

Kedua, calon penerus langsung memulai kariernya di perusahaan keluarga, mulai dari posisi dasar lalu naik dengan cepat. Yang ketiga, calon penerus juga bisa langsung diceburkan ke bisnis keluarga. Namun, keluarga memberinya lebih banyak waktu untuk belajar lebih lama di posisi dasar.

3. Menjalankan regenerasi (suksesi) yang sebaiknya diumumkan dari awal. Ini akan menghindari kebingungan di bisnis keluarga bila pendiri atau eksekutif mendadak tidak dapat menjalankan tugas atau bahkan meninggal dunia.

4. Manajemen konflik. Bisnis keluarga adalah bisnis yang melibatkan banyak emosi. Oleh karenanya potensi konflik yang muncul lebih besar dibandingkan bisnis yang lain.

Konflik umumnya muncul antara ayah dan anak laki-laki serta persaingan antar saudara. Selama ini telah dipahami sebelumnya, maka gesekan menuju konflik bisa diminimalkan, bahkan ditiadakan.

5. Hubungan dengan karyawan yang bukan keluarga. Begitu bisnis keluarga berkembang, mulai ada kebutuhan untuk merekrut karyawan dari pihak luar. Apabila perusahaan memutuskan untuk merekrut karyawan dari pihak luar, harus dipastikan perusahaan bisa menciptakan lingkungan yang bebas konflik.

Pelajaran penting:

1. Perusahaan keluarga punya sederet kekuatan yang perlu dioptimalkan.

2. Suksesi dan regenerasi adalah hal yang perlu dibicarakan sejak awal.

3. Perlu penyelarasan visi di internal perusahaan keluarga, baik antaranggota keluarga maupun karyawan profesional.

34

CHAPTER #8

© Semen Gresik 2016 by Prof. Rhenald Kasali