integrasi nasional dalam perspektif sejarah di indonesia yang meniscayakan mereka saling ... bangsa...

Download INTEGRASI NASIONAL DALAM PERSPEKTIF SEJARAH di Indonesia yang meniscayakan mereka saling ... bangsa Indonesia mengalami penjajahan kolonial Barat ... dengan perubahan politik kolonial

Post on 15-Feb-2018

224 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • INTEGRASI NASIONALDALAM PERSPEKTIF SEJARAH INDONESIA

    SEBUAH PROSES YANG BELUM SELESAI

    PIDA TO PENGUKUHAN

    Disajikan pada UpacaraPenerimaan Jabatan Guru Besar

    dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas SastraUniversitas Diponegoro

    di Semarang, 9 Februari 2002

    Oleh:

    Agustina Magdalena Djuliati Suroyo

  • Yang saya muliakan,

    Bapak Rektor/Ketua Senat dan Sekretaris SenatUniversitas Diponegoro,Para anggota Dewan Penyantun Universitas Diponegoro,Para anggota Senat dan Dewan Guru Besar Universitas

    Diponegoro,Para Guru Besar tamu,Para anggota Muspida Propinsi Jawa Tengah danPemerintah !

  • komunikasi, sehingga pe.ristiwa dan tindakan manusia apapun, dimana pun, k; Ipan pun, dapat diketahui dalamsekejap. Yang lebih penting, peristiwa tersebut dapatmenyulut reaksi ker dS dan mengguncang kehidupanmanusia di sebagian besar dunia dalam sekejap pula, takterkecuali di negara kita, seperti penabrakan pesawat kegedung WTC di New York, 11 September 2001.

    Sa at ini bangsa Indonesia, masih mengal3.mi krisismultidimensi yang menggoyang kehidupan kita sebagaibangsa sejak gerakan Reformasi bergulir tahun 1997,yang mengakibatkan runtuhnya pemerintah Orde Baru.Salah satu masalah utama dari krisis besar itu adalahancaman disintegrasi bangsa, yang h!ngga saat ini,setelah pergantian pemerintahan dan pergantian presidenhingga tiga kali, ancaman disintegrasi bangsa masih belummereda, seperti pergo:'3.kan di Aceh, Papua Barat, dandaerah lain, setelah kita kehilangan Timor Timur padatahun 1999. Mengingat disintegrasi bangsa ataudisintegrasi nasional ini berkaitan langsung denganeksistensi kita se~agai satu bailgs8, izinkanlah saya dalalTlkesempatan in: mengangkat tema, yaitu :

    INTEGRASI NASIONALDALAryIJ PERSPEKTIF SEJARAH INDONESIA:

    SEBUAH PROSES YANG BELUM SELESAI.

    Hadirin yang mulia,Integrasi nasional pada hakikatnya adalah Pengertian

    bersatunya suatu bangsa yang menempati wilayah tertentu integrasicalam sebuah negara yang berdaulat. Dalam rea!itas nasional

    integrasi nasional dapat dilihat dari aspek politik, lazimdisebut integrasi politik, aspek ekonomi (ir!tegrasi ekonomi,saling ketergantungan ekonomi antardaerah yang bekerja-sarna secara sinergjs), dan aspek sosial budaya (integrasiso sial budaya, hubungan antara suku, lapisan dan

    golongan).

    2

  • Secara umum integrasi nasional mencerminkanproses persatuan orang-orang dari berbagai wilayah yangberbeda, atau memiliki berbagai perbedaan baik etnisitas,sosial budaya, atau latar belakang ekonomi, menjadi satubangsa (nation) terutama karena pengalaman sejarah danpolitik yang relatif sarna (Drake, 1989:16). Selanjutnya,dalam menjalani proses pembentukan sebagai satubangsa berbagai suku bangsa in! sebenarnya mencita-citakan suatu masyarakat baru, yaitu sebuah masyarakat

    politik yang dibayangkan (imagined political community)akan memiliki rasa persaudaraan dan solidaritas yangkental, memiliki identitas kebangsaan dan wilayahkebangsaan yang jelas serta memiliki kekuasaanmemerintah (Anderson, 1983:15-16). Dalam tataranintegrasi politik terdapat dimensi yang bersifat vertikalmenyangkut hubungan elit dan massa, baik antara elitpolitik dengan massa pengikut, atau antara penguasa danrakyat guna menjembatani celah perbedaan dalam rangkapengembangan proses politik yang partisipatif, dandimensi horisontal, yaitu hubungan yang berkaitan denga.nmasalah teritorial (Sjamsuddin, 1989:2).

    Hadirin yang berbahagia,Marilah rJta lihat bagaimana proses pembentukan Proses

    persatuan bangsa Indonesia menurut pengalaman pembentuksejarahnya. Bukan secara kebetulan bahwa masyarakat anpersatuyang kita cita-citakan terpampang dalam lam bang negara an bangsa

    Republik Indonesia BHINNEKA TUNGGAL IKA, berbeda-beda namun satu jua. Semboyan ini berakar dari sejarahpada masa kerajaan Majapahit, diangkat dari karyakakawin Sutasoma ciptaan Empu TaQtular, menggambar-kan berkembangnya agama-agama, sekte-sekte agamadan kepercayaan yang berbeda-beda namun hidupberdampingan secara damai, karena hakikatnya satu:menyembah Tuhan Sang Pencipta (Poerbatjaraka,1957:40-45).

    3

  • Demikian pula aengan bangsa Indonesia yang Perbedaanberangkat dari suku I Jangsa yang beraneka ragam berikut dan

    banyak keberagamc:n lain yang melekat pada dirinya. kesamaan

    Keberagaman, atau lebih lazim disebut perbedaan yangdimiliki bangsa ini meliputi antara lain wilayah kepulauanyang demikian tersebar di antara kawasan-kawasan laut diNusantara, geografi, ekologi, sistem mats pencaharian,ratusan budaya etnis atau lokal, agama, kepercayaan, da:1bahasa (Wertheim, 1999:1-10; Koenqaraningrat, 1971).

    Oi samping keberagaman atau perbedaan, berbagaisuku bangsa di Indonesia juga memiliki beberapakesamaan. Pertama, adalah bahasa perhubungan antar-suku dan antarbangsa (lingua franca), yaitu bahasaMelayu yang dikenal dan digunakan oleh semua suku danorang-orang asing yang mengunjungi seluruh kepulauanIndonesia, bahkan tE;.rsebar hingga ke Asia Tenggara,pantai timur Afrika, Jazirah Arab, Asia Selatan, danTaiwan. KedL!a, budaya penghormatan roh nenek moyangyang dilaksanakan dengan berbagai bentuk sesajilpenghorrnatan rnakam leluhur, pensakrala!l makam nenekmoyang atau ritual kematian. Ketiga, budaya pembuatandan penggunaan jenis kapak batu, anak panah, danbarbaga! oeralatan lain dari batu, dan per..!nggu padab'.Jdaya palaeolithicum, mezolithicum, dan neolithicum.Budaya yang tersebar dari daratan Asia Tenggara keSumatera hingga Papua Barat menunjukkan adanyapersamaan tingkat budaya dan hubungan budaya yangtelah terja1in antara berbagai suku (Soejono, 1984;Koentjaraningrat, 1971 :-21). Keerrlpat, budaya bahari(maritim), yaitu kemampuan berlayar, pengetahuan alamkelautan, dan teknologi perkapalan yang telah dimilikisuku-suku di Indonesia yang meniscayakan mereka salingberkomunikasi untuk aktivitas ekonomi (perdagangan),sosial (mobilitas penauduk), budaya (pe~umpaan budaya,penyebaran agama) dan aktivitas politik (kunjunganpejabat, atau penyerbuan) (Tjandrasasmita, 1984: 1 02-172;PUSPINOO, 1990; Manguin, 1993:197-213; Lapian, 1992).

    4

  • Kelima, adalah kesamaan sejarah bahwa semua sukubangsa Indonesia mengalami penjajahan kolonial Baratyang merendahkan harga diri kita sebagai suku bangsayang berdaulat, dan menyebabkan keterbelakangan di

    segala bidang.

    Dengan adanya berbagai perbedaan di satu sisi dankesamaan-kesamaan pada sisi lain, cukup beralasan bagiberbagai suku di Indonesia untuk bersatu. Motto BhinnekaTllnggal !ka ssbagai lambang kesatuan bangsa atauintegrasi nasional masih relevan untuk digunakan, dengansubstansi agak berbeda namun sarna dalam makna.

    Hadirin yang mulia,Apabila sejarah menurut filsuf Leopold yon Ranke

    adalah memberi jawaban kepada apa yang sesungguhnyaterjadi pada masa lampau (Nash, 1969:4), sedangkanTaufik Abdullah lebih menekankan sejarah sebagai dialogdengan masa lalu, sehingga cerita sejarah ditentukan olehjenis pertanyaan yang dirumuskan (Abduliah, 2001 :98-99),maka pertanyaannya adalah apa yang sesungguhnya.te~adi dengan proses integrasi nasicnal bangsa ini,sehingga setetah 56 tahun Indonesia Merdeka integrasibangsa terasa masih rapuh oleh an"aman disintegrasi?

    Secara historis sebenarnya Indonesia pernah Modelmemiliki model integrasi nasional yang meliputi wilayah integrasihampir seluas Negara Republik Indonesia (RI). Yang ?asio'!al:pertama adalah kemaharajaan (imperium) Majapahit (a bad ,:;~enu::XIV-XV). Struktur kemaharajaan yang begitu luas ajapa It

    diperkirakan berbentuk mirip kerajaan Mataram Islam,yaitu struktur konsentris. Dimulai dengan konsentrispertama yaitu wilayah inti kerajaan (nagaragung): pulauJawa dan Madura yang diperintah langsung oleh raja dansaudara-saudaranya, menerapkan sistem pemungutanpajak langsung untuk biaya hidup keluarga raja. Konsentriskedua adalah wilayah di luar Jawa (marlcanegara danpasisiran) yang merupakan kerajaan-kerajaC2n ot~nom,

    5

  • atau kerajaan te:1akluk yang mengakui hegemoniMajapahit, deng; In kebebasan penuh mengatur negerimereka masing-nlasing. Kewajiban terhadap negara pusat

    hanya menghaddp maharaja Majapahit dUB kali setahundengan membawa upeti sebagai pajak. Konsentris ketiga(tanah sabrang) adalah negara-negara sahabat dimanaMajapahit menjalin hubungan diplomatik dan hubungandagang, antara lain dengan Champa, Kamboja, Ayudya-pura (Thailand). Integrasi vertikal dibC'.ngun melaluipenguasaan maritim, hubungC3f"' pusat dan daeiah dibi~amelalui hubungan perdagangan dan kunjungan pejabat.Ekspedisi angkatan laut (ja/ad/) digunakan apabila terjadipembangkangan, seperti yang diceritakan dalam HikayatRaja-raja Pasai. Kewibawaan Majapahit tercermin dalamberbagai hikayat maupun tradisi lisan dari berbagai daerahdi Nusantara, selain dalam f'Jagarakertagama (Alfian,1999: 33-43; Holben, 1992: 212-231; Moertono, 1974:111-112; Hall, 1985: 232-260). Disintegrasi Majapahitterjadi karena pertama, kelemahan di pusat kekuasaan(konflik perebutan takhta). Kedua, saling pengaruh antarafaktor ekonomi, kemakmuran kota-kota pelabuhan, danfaktor budaya, berkembangnya agama Islam, yangmembentuk solidaritas dan integrasi horizontal kerajaan-kerajaan pesisir di daerah mela'wan kekuasaan f\1ajapahitdi pusat.

    Integrasi nasional kedua, lebih tepat disebut dengan Integrasiintegrasi kolonial, atas wilayah Hindie Belanda baru kolonialsepenuhnya dicapai pad a dekade kedua abad xx denganwilayah yang terentang dari Sabang sampai Merauke.Pemerintah kolonial mampu membangun integrasi wi/ayah

    juga dengan menguasai maritim, sedang integrasi vertikalantara pemerintah pusat dan pemerintah daerah dibinamelalui jaringan birokrasi k%nial, yang terdiri dariambtenaar-ambtenaar (pegawai) Belanda can pribumiyang tidak memi/iki jaringan dengan massa rakyat. Dengankata lain pemerintah tidak memiliki dukungan massa yangberarti. Masyarakat kolonial yang pluralistik dan segregatif

Recommended

View more >