hukum perkawinan adat

Download Hukum Perkawinan Adat

Post on 24-Jun-2015

744 views

Category:

Law

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Hukum Perkawinan Adat

TRANSCRIPT

  • 1. Hukum PerkawinanSejarah dan Pendapat-PendapatI. Didalam membicarakan sejarah, dapat kita mengambil kitab dari Prof.Elwood di dalam kitabnya The Psychology Of Human Society yangmenyatakan bahwa kehidupan sosial itu harus dipandang sebagai suatu tabiatkejiwaan yang lebih tinggi dan lebih tersusun dari unsur-unsur keharusanbiologis, sehingga merupakan elemen untuk hidup berkelompok yaitu :- dorongan untuk makan,- dorongan untuk mempertahankan diri,- dorongan untuk melangsungkan jenis.II. Hal tersebut juga dinyatakan oleh Aristoteles, bahwa manusia adalah zoonpoliticon (makhluk sosial). Dengan demikian tegaslah bahwa perkawinanadalah merupakan peristiwa penting untuk kehidupan individu maupunmasyarakat maupun bangsa.III. Hal tersebut juga dinyatakan dengan tegas oleh Plato di dalameugenetiknya (ilmu perbaikan keturunan), dimana Plato menyatakan bahwawanita-wanita yang baik agar dikawinkan dengan pria yang baik supayamendapat keturunan yang baik pula. Baik disini tidaklah baik dalam artifisik, akan tetapi baik dalam arti ilmu.

2. IV. a. Pendapat Prof. Dr. Steinmetz yang menyatakan amatdisayangkan sekali bahwa para rama dan para suster tidakdiperbolehkan kawin, sehingga mereka tidak mempunyaiketurunan. Sedangkan mereka sebenarnya adalah orang-orangpilihan.V. Sebagai analog eugenetik Plato, maka pada masa sekarangbanyak terjadi kunstmatige inseminatie (insiminasi buatan).Arti Insiminasi buatan adalah : pembuahan tidak denganpersetubuhan.VI. Persoalan perkawinan adalah lebih merupakan persoalanpsikhis/kejiwaan. Hal tersebut dapat dibuktikan dalam hal-halsebagai berikut : 3. Di dalam BW diakui adanya perkawinan in extremis yangberarti perkawinan yang dilakukan oleh orang-orang yangsudah lanjut usianya ataupun dimana salah satu pihak sudahhampir meninggal dunia.Dalam falsafah orang Jawa, dalam mengambil menantu,suami ataupun isteri diambil sebagai patokan ialah : bibit,bebet dan bobot.Bibit berarti : keturunan dari orang baik-baik ditinjaudari sudut kejiwaan.Bebet berarti : jika seorang wanita adalah wanita yangsuci, dan jika seorang pria yang gagah perkasa berarti priayang berani bertanggung jawab.Bobot berarti : diambil dari orang yang berbudi pekerti 4. Menurut hukum adat perkawinan adalah urusan individu,urusan kerabat, urusan keluarga, urusan masyarakat maupunurusan derajat satu sama lain dengan hubungannya yangsangat berbeda-beda.Pengertian Perkawinan menurut hukum agama adalahperbuatan yang suci (sakramen) yaitu suatu perikatan antaradua pihak dalam memenuhi perintah dan anjuran TuhanYang Maha Esa, agar kehidupan berkeluarga danberumahtangga serta berkerabat berjalan dengan baik sesuaidengan ajaran agama masing-masing. 5. Menurut Hukum Islam, Perkawinan adalah perikatanantara wali perempuan (calon isteri) dengan calon suamiperempuan itu. Menurut Hukum Kristen Katolik , Perkawinan adalahpersekutuan hidup antara pria dan wanita atas dasar ikatancinta kasih yang total dengan persetujuan bebas darikeduanya yang tidak dapat ditarik kembali. Menurut Hukum Hindu, Perkawinan (wiwaha) adalahikatan antara seorang pria dan wanita sebagai suami isteriuntuk mengatur hubungan seks yang layak gunamendapatkan keturunan anak pria yang akanmenyelamatkan arwah orang tuanya dari neraka Put, yangdilangsungkan dengan upacara ritual menurut agama Hindu. 6. Menurut Hukum Agama Budha yangmerupakan Keputusan Sangha Agung tanggal 1Januari 1977, Perkawinan adalah suatu ikatan lahirbatin antara seorang pria sebagai suami dan seorangwanita sebagai isteri yang berlandaskan cinta kasih(metha), kasih sayang (karunia), dan rasasepenanggungan (mudita) dengan tujuan untukmembentuk suatu keluarga (rumah tangga) bahagiayang diberkati oleh Sangyang Adi Budha/TuhanYang Maha Esa, para Budha dan para Bodhisatwa-Mahasatwa. 7. Hukum Perkawinan Adat Perkawinan dlm Hukum Adat meliputikepentingan dunia lahir dan dunia gaib. HAZAIRIN:Perkawinan merupakan rentetan perbuatan-perbuatanmagis, yang bertujuan untukperbuatan menjamin ketenangan,kebahagiaan, dan kesuburan. 8. A. Van GennepPerkawinan sebagai suatu rites de passage(upacara peralihan) peralihan status keduamempelai.Peralihan ini terdiri 3 tahap:- rites de separation- rites de merge- rites de aggregation 9. Djojodigoeno:Perkawinan merupakan suatu paguyuban atausomah (Jawa: keluarga), dan bukan merupakansuatu hubungan perikatan atas dasar perjanjian. Hubungan suami-istri sebegitu eratnya,sebagai suatu ketunggalanCth: Adanya harta gono-gini, adanyaistilah garwa (Jawa), adanyaperubahan nama setelah kawinmenjadi nama tua 10. PERTUNANGAN Suatu fase sebelum perkawinan, dimanapihak laki-laki telah mengadakan prosesilamaran kepada pihak keluarga perempuandan telah tercapai kesepakatan antara duabelah pihak untuk mengadakanperkawinan. Pertunangan baru mengikat apabila pihaklaki-laki telah memberikan kepada pihakperempuan tanda pengikat yang kelihatan(Jawa: peningset atau panjer). 11. Beberapa alasan / motif pertunangan:- Ingin menjamin perkawinan yangdikehendaki dapat berlangsung dalamwaktu dekat.- Untuk membatasi pergaulan pihak yangtelah diikat pertunangan- Memberi kesempatan bagi kedua belahpihak untuk lebih saling mengenal 12. Akibat pertunangan:Kedua belah pihak telah terikat untukmelangsungkan perkawinan Tetapi, walaupun sudah terikat dalampertunangan bukan berarti keduamempelai harus melaksanakanperkawinan. Tetap dimungkinkanterjadinya pembatalan pertunangan 13. Kemungkinan pembatalan pertunangan:1. Oleh kehendak kedua belah pihak2. Oleh kehendak salah satu pihak- Jika dilakukan pihak yang menerima tandatunangan, mengembalikan tanda tunangansejumlah atau berlipat dari yang diterima.- Jika dilakukan pihak yang memberi tandatunangan, tanda tunangan tidak dikembalikan.Perkawinan tanpa pertunangan:- kawin lari- kawin rangkat 14. PERKAWINAN dan Sifat Genealogis Perkawinan dlm sistem PATRILINEAL Perkawinan dlm sistem MATRILINEL Perkawinan dlm sistem PARENTAL 15. 1. Perkawinan Patrilineal Perkawinan dengan pembayaran JUJUR Jujur sebagai tanda diputuskannyahubungan si isteri dengan persekutuannya Setelah perkawinan, si isteri masuksepenuhnya ke dalam keluarga / persekutuansi suami Sistem pembayaran jujur:- Secara kontan- Dibayar dikemudian hari- Tidak dibayar 16. Jika Jujur dibayar di kemudian hari:(Bali: Nunggonin, Batak: Mandinding.) Hubungan antara menantu laki-laki dengankeluarga isteri seperti buruh dan majikan. Si laki-laki harus memberikan jasanya padakeluarga mertuanya, tetapi ia tidak masuk kekeluarga isterinya (tetap sebagai anggotapersekutuan asalnya) Selama jujur belum dibayar, anak yang lahirakan masuk menjadi anggota persekutuankeluarga isteri. 17. Jika jujur telah dibayar, anak-anak setelahpembayaran jujur tersebut masuk ke keluargalaki-lakiJika jujur tidak dibayar: Dimaksudkan agar si laki-laki masukke keluarga isteri Sehingga anak yang dilahirkan nantimenjadi penerus keturunan /clan daribapak mertua laki-laki tersebut. 18. Dalam perkawinan sistem patrilineal dikenalkawin ganti suami (levirat)/ kawin ganti isteri(sororat) Jika suami mati, maka si isteri yangmenjada harus kawin lagi dengan saudaraalmarhum suaminya, atau jika si isterimati maka si suami harus kawin dengansaudara almarhum isterinya 19. Perbedaan Jujur dan mas kawin/maharJujur MaharKonsep adat Kewajiban kerabat priayang dilakukan pada saatpelamaran kepada kerabatwanita untuk dibagikankepada marga pihakperempuanDilakukan pada saatpelamaranTidak bisa dihutang Konsep Islam Kewajiban mempelai priakepada mempelai wanita(individu) Dilakukan setelah akadnikah Bisa dihutang 20. 2. Perkawinan Matrilineal Merupakan kebalikan perkawinan jujur Dilakukan dalam rangka mempertahankanketurunan pihak isteri Pihak pria tidak membayar jujur kepadapihak perempuan, bahkan untuk daerahMinagkabau proses pelamaran dilakukanoleh pihak perempuan kepada pihak laki-laki. 21. Suami turut berdiam di rumah isteri dankeluarga isteri. Tetapi suami tidak masuk ke dalam keluargaisterinya, melainkan tetap masuk keluarganyasendiri. Anak-anak keturunan dari perkawinantersebut nantinya akan masuk ke dalam clanisterinya, dan si ayah tidak mempunyaikekuasaan terhadap anak-anaknya. 22. 3. Perkawinan Parental Si suami masuk ke dalam keluargaisterinya, dan sebaliknya. Sehingga akibat adanya perkawinan, baiksuami maupun isteri menjadi mempunyaidua kekeluargaan. Dikenal pemberian hadiah perkawinan drpihak laki-laki kepada pihak perempuan,tetapi bukan berfungsi sebagai jujurmelainkan lebih kepada sumbangan biayaperkawinan dari pihak laki-laki. 23. SISTEM PERKAWINANAda tiga macam:1. Sistem Endogami (Berlaku di daerah toraja)2. Sistem Eksogami (Gayo, Alas, Tapanuli,Minagkabau, Sumatera Selatan, Buru,danSeram).3. Sistem Eleutherogami (Paling banyakditerapkan di daerah-daerah diIndonesia 24. UU No. 1 Th 1974 Perkawinan diatur secara unifikasi Hukum adat tentang perkawinandikesampingkan, karena yangdigunakan adalah hukum agama (psl 2ayat 1) Perkawinan dikonsepkan sebagai suatuperjanjian (psl 6 ayat 1) 25. UU No. 1 tahun 1974 tentangPerkawinanPasal 1 menyebutkan :Perkawinan ialah ikatan lahir batin antara seorang priadengan seorang wanita sebagai suami isteri dengantujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yangbahagia dan kekal berdasarkan Ke Tuhanan Yang mahaEsa.Hal ini sesuai dengan apa yang diusulkan oleh BadanPembinaan Hukum Nasional (BPHN) yangmengusulkan agar di dalam perkawinan membentuksuatu brayat dan menimbulkan harta bersama. 26. ALASANBPHN1. Ada perkawinan yang tidak membentuk brayat, yaitu : di Jawa Barat adanya perkawinan yang disebut : nyalindung kagelung manggih koyo di Jawa Tengah masih banyak juga adanya perkawinan yangdisebut selir dan gundik. di dalam mastarakat patrilinial di Batak masih adanyaperkawinan amani manu di masyarakat matrilinial masih adanya perkawinanbertandang2. Timbulnya vergesellschaftung dari keluargaAkibat-akibat dari vergesellschaftung yang tidak baik bagiindividu maupun masyarakat adalah angka perceraian naik danbanyak anak-anak yang lahir di lua

Recommended

View more >