Hematology Poultry

Download Hematology Poultry

Post on 28-Sep-2015

46 views

Category:

Documents

9 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Darah adalah jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri atas sel-sel yang terendam dalam plasma darah (Dellman dan Brown, 1992). Plasma darah berfungsi sebagai suplemen dalam bentuk protein sebagai makanan. Darah mempunyai fungsi penting dalam pengaturan keseimbangan lingkungan internal dan transportasi yakni sebagai termoregulasi, berperan mempertahankan keseimbangan air, berperan dalam sistem buffer, membawa nutrien yang telah disiapkan oleh

TRANSCRIPT

<p>Nama: Afrio Arisman</p> <p>Nim: 1402101020048</p> <p>PENDAHULUAN</p> <p>Darah adalah jaringan khusus yang menjalani sirkulasi, terdiri atas sel-sel yang terendam dalam plasma darah (Dellman dan Brown, 1992). Plasma darah berfungsi sebagai suplemen dalam bentuk protein sebagai makanan. Darah mempunyai fungsi penting dalam pengaturan keseimbangan lingkungan internal dan transportasi yakni sebagai termoregulasi, berperan mempertahankan keseimbangan air, berperan dalam sistem buffer, membawa nutrien yang telah disiapkan oleh saluran pencernaan menuju ke jaringan tubuh, membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan, membawa karbondioksida dari jaringan ke paru-paru, membawa produk buangan dari berbagai jaringan menuju ke ginjal untuk di ekskresikan, membawa hormon dari kelenjar endokrin ke organ lain di dalam tubuh, serta mengandung faktor-faktor untuk pertahanan tubuh (Moyes dan Schulte, 2008). Fungsi transportasi dan kekebalan dapat dilihat dari variabel darah yang berupa eritrosit dan leukosit serta diferensial leukosit darah. Kesehatan fisik juga dapat diukur melalui status darah.PEMBAHASAN</p> <p>Eritrosit Eritrosit pada mamalia tidak berinti, sedangkan pada unggas, ikan, reptilia, dan amphibi memiliki inti. Sel darah merah atau eritrosit pada unggas berbentuk bikonkaf dan berukuran 7 m tebal 1-3 m dan eritrosit ini ada sebanyak 45% dari volume total darah. Fungsi utama eritrosit adalah untuk mengangkut hemoglobin yang selanjutnya membawa oksigen dari paru-paru ke jaringan (Guyton dan Hall, 1997). Pada dasarnya eritrosit dapat melakukan fungsi pernafasan darah. Produksieritrosit dipengaruhi oleh tinggi rendahnya kandungan oksigen dimana protein penginduksi akan menginduksi pertumbuhan dan diferensiasi sehingga produksi eritrosit akan meningkat. </p> <p>Pembentukan eritrosit melalui sebuah proses yang disebut Eritropoesis. Eritropoesis pada masa embrional unggas terjadi dalam kantung kuning telur. Setelah perkembangan embrio pembentukan sel darah merah terjadi di hati, pembuluh limfe dan sumsum tulang (Guyton dan Hall 1997). Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988) jumlah normal sel darah merah ayam broiler berkisar 2,0-3,2 juta butir/mm3</p> <p>Gambar: EritrositLeukosit Fungsi leukosit adalah untuk pertahanan tubuh suatu organisme. Pertahanan ini dilakukan dengan cara menghancurkan agen penyerang dengan proses fagositosis atau dengan pembentukkan antibodi (Guyton dan Hall, 1997). Fungsi leukosit yang paling utama adalah pertahanan terutama terhadap benda asing (mikroba patogen) (Frandson, 1996; Moyes dan Schulte, 2008). </p> <p>Peningkatan sekresi epinefrin dan kortikosteroid yang terjadi pada kondisi stress, baik secara fisik maupun emosional atau akibat penyakit yang diderita dapat menyebabkan peningkatan jumlah leukosit (Jain, 1993). Dalam keadaan normal sebagian leukosit bersirkulasi dalam seluruh aliran darah, kira-kira tiga kali jumlah leukosit disimpan dalam sumsum tulang (Guyton dan Hall, 1997). Leukosit digolongkan menjadi granulosit dan agranulosit Granulosit mengandung granula di dalam sitoplasma dan memberikan pewarnaan yang mengandung eosin (merah) dan zat warna metilen (biru), yang termasuk dalam kelompok granulosit adalah heterofil, eosinofil dan basofil, sedangkan yang termasuk kelompok agranulosit adalah monosit dan limfosit.Heterofil Heterofil merupakan leukosit polymorphonuklear-pseudoesinophilic granulosit. Heterofil pada ayam berdiameter 10-15 m, granul sitoplasma berbentuk batang pipih seperti jarum (Sturkie and Grimminger 1976). Menurut Dellman dan Brown (1992), heterofil memiliki butir halus dalam sitoplasmanya dan intinya bergelambir. Heterofil tua memiliki gelambir lebih banyak atau jelas daripada heterofil muda. Carneiro dan Junqueira (1980) menyatakan bahwa heterofil muda mempunyai lobus atau gelambir sebanyak 1-3 lobus, sedangkan heterofil tua mempunyai 5 lobus atau lebih. Di dalam butir-butir sitoplasma heterofil mengandung enzim hidrolitik, oksidatif, proteolitik, dan dua zat yang mempunyai kesanggupan dalam membunuh antigen yaitu lisosim dan fagositin (Rumawas 1989). </p> <p>Gambar: HeterofilLimfosit </p> <p>Limfosit adalah leukosit yang jumlahnya paling banyak pada ayam dan ukurannya bervariasi dari yang kecil sampai yang besar. Limfosit kecil merupakan bentuk dewasa, sedangkan limfosit sedang dan besar merupakan limfosit muda (paralimfosit) (Guyton 1997). Sitoplasmanya merupakan kurang basofilik dan pada salah satu sisi tepinya nukleusnya menepi (Sturkie and Grimminger 1976). Menurut Guyton (1997), limfosit dibentuk di jaringan limfoid seperti daun payer, limpa, tonsil, timus, dan bursa fabricius. Masa hidup limfosit sangat lama, berkisar antara 100-300 hari atau bahkan setahun.</p> <p>Pada preparat ulas darah yang diwarnai dapat dibedakan limfosit besar dan limfosit kecil (Dharmawan 2002). Menurut Guyton (1997), limfosit besar merupakan bentuk yang belum dewasa dan sering disebut dengan paralimfosit atau sel blast besar. Populasi dari limfosit dalam darah ada 2 tipe sel yaitu sel T dan sel B. Limfosit T diperkirakan proporsinya adalah 70-75% dari seluruh jumlah limfosit sedangkan jumlahnya antara 10-20% dari jumlah seluruh limfosit. Limfosit B berfungsi sebagai imunitas humoral yang mampu menyerang antigen dengan memproduksi antibodi. Limfosit T berperan sebagai sel imunitas yang diperoleh dari pembentukan limfosit teraktivasi yang mampu menghancurkan benda asing.</p> <p>Gambar: LimfositMonosit </p> <p>Monosit merupakan leukosit yang terbesar yang berdiameter 15-20 m dan jumlahnya 3-9% dari seluruh sel darah putih (Dharmawan 2002). Sitoplasma monosit lebih banyak dari limfosit dan berwarna abu-abu pucat. Intinya berbentuk lonjong seperti ginjal atau mirip tapal kuda dan jelas memiliki lekuk cukup dalam. Kromatin inti mengambil warna lebih pucat dari kromatin inti limfosit. Inti memiliki satu sampai tiga nukleolus. </p> <p>Monosit darah tidak pernah mencapai dewasa penuh sampai bermigrasi ke luar pembuluh darah dan masuk ke jaringan. Di dalam jaringan, sel ini menjadi makrofag tetap (fixed macrophage) seperti sinusoid hati, sumsum tulang, alveoli paru-paru, dan jaringan limfoid. Monosit lebih sering terletak dekat pembuluh darah (Dharmawan 2002). Monosit sebagai respon peradangan terutama menelan dan membunuh bakteri dan merupakan garis pertahanan kedua setelah heterofil (Ganong 1995). Aktivitas fagositosis dari monosit tergantung pada bahan yang akan difagosit. Umur monosit di dalam perifer selama beberapa hari (3-4 hari) (Tizard 1988).</p> <p>Gambar: MonositEosinofil </p> <p>Eosinofil adalah granulosit polimorfonuklear-eosinofilik dengan ukuran yang hampir sama dengan heterofil, ganulosit ini berbentuk bulat dan relatif luas (Sturkie and Grimminger 1976). Eosinofil berdiameter 10-15 m. Intinya bergelambir dua dan dikelilingi oleh butir-butir asidofil yang cukup besar berukuran 0,5-1,0 m. Sitoplasma beraspek basofil lemah tampak di antara sebaran butir-butir. Granul pada sitoplasmanya mengambil warna eosinofilik yang kuat. Intinya khas yaitu mempunyai dua lobus, tidak multilobus seperti heterofil (Caceci 1998). Jumlah eosinofil dalam aliran darah berkisar antara 2-8 % dari jumlah leukosit. Sel ini berkembang dalam sumsum tulang sebelum bermigrasi ke dalam aliran darah (Tizard 1988). </p> <p>Jangka hidup sel ini 3-5 hari. Eosinofil ini berperan aktif dalam mengatur proses pembarahan dan memfagositosis bakteri, antigen-antibodi kompleks, mikoplasma, dan ragi. Sel ini juga mengandung histaminase yang mengaktifkan histamin dan melepaskan serotonin dari sel tertentu, juga melepaskan Zn yang menghalangi agregasi trombosit dan migrasi makrofag (Dharmawan 2002). Eosinofil diproduksi pada saat infeksi parasit dan pada saat terjadinya reaksi alergi. Pada saat reaksi alergi, sel mast dan basofil melepaskan faktor kemotaktik eosinofil sehingga eosinofil bermigrasi ke arah jaringan yang meradang (Guyton 1997). Menurut Tizard (1988), eosinofil memiliki 2 fungsi istimewa. Pertama mampu menyerang dan menghancurkan larva cacing (parasit) yang menyusup. Kedua enzim eosinofil mampu menetralkan faktor radang yang dilepaskan oleh sel mast dan basofil pada proses hipersensitivitas tipe 1.</p> <p>Gambar: EosinofilBasofil </p> <p>Basofil adalah granulosit yang bersifat polymorphonuklear basofilik yang bentuk dan ukurannya hampir sama dengan heterofil (Sturkie and Grimminger 1976). Basofil adalah leukosit yang jumlahnya paling rendah sekitar 0,5-1,5% dari seluruh leukosit dalam aliran darah. Diameter basofil adalah 10-12 m (Dharmawan 2002). Intinya dua bergelambir atau bentuk inti tidak teratur, berwarna agak pucat jika dibandingkan dengan butir-butir spesifik. Butirnya berukuran 0,5-1,5 m, berwarna biru tua sampai ungu yang sering menutupi inti yang berwarna agak cerah (Dellman dan Brown 1992). Basofil berperan sebagai mediator untuk aktifitas perbarahan dan alergi, memiliki reseptor immunoglobulin E (IgE) dan immunoglobulin G (IgG) yang menyebabkan degranulasi, dan membangkitkan reaksi hipersensitif dengan sekresi yang bersifat vasoaktif</p> <p>Gambar: Basofil</p> <p>DAFTAR PUSTAKACarneiro J, Junqueira LC. 1980. Histologi Dasar. Edisi III. Widjayakusumah MD, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Lange Medical Publication.</p> <p>Dellman HD, Brown EM. 1992. Histologi Veteriner. Edisi III. Jakarta: UI Press.Dharmawan NS. 2002. Pengantar Patologi Klinik Veteriner (HematologiKlinik).</p> <p>Cetakan II. Denpasar: Pelawa Sari.</p> <p>Guyton, A. C. &amp; Hall J. E. 1997. Fisiologi Kedokteran. Terjemahan : Irawati, Ken Ariata Tengadi dan Alex Santoso. Penerbit Buku Kedokteran, EGC. Jakarta.Guyton AC, Jhon EH. 1997. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-9. Setiawan I, Tengadi KA, Santoso A, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari: Textbook of medical physiology.</p> <p>Jain NC. 1993. Essential of Veterinery Hematology. Philadelphia: Lea &amp; Febiger.</p> <p>Moyes, C. D. &amp; P. M. Schulte. 2008. Principal of Animal Physiology. 2nd Ed. Perarson International Edition, New York.Sturkie PD and Grimminger. 1976. Avian Physiology. New York: Cornell University Press.Tizard I. 1988. Pengantar Imunologi Veteriner. Edisi kedua. Hardjosworo S, penerjemah. Surabaya: Airlangga University Press. Terjemahan dari: An Introduction to Veterinary Immunology.</p>