ergonomi lanjut

113
BAB III LANDASAN TEORI 3.1. Ergonomi 3.1.1. Defenisi Ergonomi Istilah “Ergonomi” berasal dari bahasa Latin, yaitu Ergon (kerja) dan Nomos (hukum), sehingga ergonomi dapat didefenisikan sebagai studi tentang aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi, fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan desain/perancangan. Ergonomi berkenaan juga dengan optimisasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan, dan kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan dimana saja manusia berada 1 Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah : . Ergonomi merupakan studi tentang manusia, fasilitas kerja dan lingkungan yang saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan manusia. 3.1.2. Tujuan Ergonomi 2 1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental dan mengupayakan kepuasan kerja. 1 Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, edisi kedua, Guna Widya, Surabaya, 2004, p.1 2 Tarwaka.dkk, Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, 2004, p.7 Universitas Sumatera Utara

Upload: arsi-nata-nasution

Post on 11-Aug-2015

299 views

Category:

Documents


23 download

TRANSCRIPT

Page 1: ergonomi lanjut

BAB III

LANDASAN TEORI

3.1. Ergonomi

3.1.1. Defenisi Ergonomi

Istilah “Ergonomi” berasal dari bahasa Latin, yaitu Ergon (kerja) dan

Nomos (hukum), sehingga ergonomi dapat didefenisikan sebagai studi tentang

aspek-aspek manusia dalam lingkungan kerjanya yang ditinjau secara anatomi,

fisiologi, psikologi, engineering, manajemen, dan desain/perancangan. Ergonomi

berkenaan juga dengan optimisasi, efisiensi, kesehatan, keselamatan, dan

kenyamanan manusia di tempat kerja, di rumah, dan dimana saja manusia berada1

Secara umum tujuan dari penerapan ergonomi adalah :

.

Ergonomi merupakan studi tentang manusia, fasilitas kerja dan lingkungan yang

saling berinteraksi dengan tujuan utama yaitu menyesuaikan suasana kerja dengan

manusia.

3.1.2. Tujuan Ergonomi

2

1. Meningkatkan kesejahteraan fisik dan mental melalui upaya pencegahan

cedera dan penyakit akibat kerja, menurunkan beban kerja fisik dan mental dan

mengupayakan kepuasan kerja.

1 Eko Nurmianto, Ergonomi Konsep Dasar dan Aplikasinya, edisi kedua, Guna Widya, Surabaya, 2004, p.1 2 Tarwaka.dkk, Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, 2004, p.7

Universitas Sumatera Utara

Page 2: ergonomi lanjut

2. Meningkatkan kesejahteraan sosial melalui peningkatan kualitas kontak sosial,

mengelola dan mengkoordinir kerja secara tepat guna dan meningkatkan

jaminan sosial baik selama waktu produktif maupun setelah tidak produktif.

3. Menciptakan keseimbangan rasional antara aspek teknis, ekonomis,

antropologis dan budaya dari sistem kerja, sehingga tercipta kualitas kerja dan

kualitas hidup yang tinggi.

3.1.3. Tipe-tipe Masalah Ergonomi 3

a. Anthropometric

Masalah ergonomi dapat dikategorikan ke dalam bermacam-macam grup

yang berbeda, bergantung kepada wilayah spesifik dari efek tubuh seperti :

Antropometri berhubungan dengan dimensi antara ruang geometri fungsional

dengan tubuh manusia. Antropometri ini merupakan pengukuran dari dimensi

tubuh secara linier, termasuk berat dan volume, jarak jangkauan, tinggi mata

saat duduk, dan lain-lain. Masalah antropometri merupakan ketidaksesuaian

antara dimensi terhadap desain ruang dan sarana kerja. Pemecahan masalah ini

dengan memodifikasi desain dan menyesuaikan kenyamanan.

b. Cognitive

Masalah cognitive muncul ketika beban kerja berlebih atau berada di bawah

kebutuhan proses. Keduanya dalam jangka waktu panjang maupun dalam

jangka waktu pendek dapat menyebabkan ketegangan. Pada sisi lain fungsi ini

tidak sepenuhnya berguna untuk pemeliharaan tingkat optimum. Pemecahan

3 Tarwaka.dkk, Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, 2004, p.8

Universitas Sumatera Utara

Page 3: ergonomi lanjut

masalah ini dengan melengkapkan fungsi manusia dengan fungsi mesin untuk

meningkatkan performansi.

c. Musculoskeletal

Ketegangan otot dan sistem kerangka termasuk dalam kategori ini. Hal tersebut

dapat menyebabkan insiden kecil atau trauma efek kumulatif. Pemecahan

masalah ini terletak pada penyediaan bantuan performansi kerja atau

mendesain kembali pekerjaan untuk menjaga agar kebutuhannya sesuai dengan

batas kemampuan manusia.

d. Cardiovaskular

Masalah ini diakibatkan oleh ketegangan sistem sirkulasi, termasuk jantung.

Jantung memompa lebih banyak darah ke otot untuk memenuhi tingginya

permintaan oksigen. Pemecahan masalah ini dengan mendesain kembali

pekerjaan untuk melindungi pekerja dan melakukan rotasi pekerjaan.

e. Psychomotor

Permasalahan dalam hal ini adalah ketegangan pada sistem psychomotor.

Pemecahannya adalah dengan menegaskan kebutuhan pekerjaan untuk

disesuaikan dengan kemampuan manusia dan menyediakan bantuan

performansi pekerjaan.

3.1.4. Aplikasi Ergonomi untuk Perancangan Tempat Kerja

Penerapan ergonomi pada umumnya merupakan aktivitas rancang bangun

(desain) ataupun rancang ulang (re-desain). Hal ini dapat meliputi perangkat keras

seperti misalnya perkakas kerja (tools), control and display, dan lain-lain.

Universitas Sumatera Utara

Page 4: ergonomi lanjut

Ergonomi dapat berperan sebagai desain pekerjaan pada suatu organisasi,

misalnya penentuan jumlah jam istirahat, pemilihan jadwal pergantian waktu kerja

(shift kerja), meningkatkan variasi pekerjaan, dan lain-lain.

Ergonomi juga memberikan peranan penting dalam meningkatkan faktor

keselamatan dan kesehatan kerja, misalnya desain suatu sistem kerja untuk

mengurangi rasa nyeri dan ngilu pada sistem kerangka dan otot manusia dan

desain stasiun kerja untuk alat peraga visual (Visual Display Unit Station). Hal

tersebut untuk mengurangi ketidaknyamanan visual, postur kerja, serta desain

suatu perkakas kerja untuk mengurangi kelelahan kerja, desain suatu peletakan

instrumen dan sistem pengendalian untuk mendapatkan optimasi dalam proses

transfer informasi dengan dihasilkannya suatu respon yang cepat dengan

meminimumkan resiko kesalahan serta upaya untuk mendapatkan optimasi,

efisiensi kerja dan hilangnya resiko kesehatan akibat metode kerja yang kurang

tepat.

Ilmu ergonomi dalam penerapannya perlu informasi yang lengkap

mengenai kemampuan manusia dengan segala keterbatasannya. Manusia tidak

cukup mempelajarinya dari satu segi ilmu saja, tetapi diperlukan berbagai disiplin

ilmu antara lain psikologi, antropologi, faal kerja, biologi, sosiologi, perencanaan

kerja, fisika, dan lain-lain. Disiplin ilmu tersebut berfungsi sebagai pemberi

informasi dan para ahli teknis bertugas untuk meramu masing-masing informasi

sebagai pengetahuan untuk merancang fasilitas sehingga fasilitas tersebut

Universitas Sumatera Utara

Page 5: ergonomi lanjut

mencapai kegunaan yang optimal. Usaha yang dapat ditempuh untuk memperoleh

informasi tersebut adalah4

a. Penyelidikan tentang display

:

Display adalah bagian dari lingkungan yang mengkomunikasikan keadaannya

langsung kepada manusia dalam bentuk lambang atau tanda. Persoalan yang

sering terjadi adalah display yang tidak mengkomunikasikan keadaan secara

langsung dan oleh karena itu kita perlu memikirkan bagaimana merancang

suatu alat yang bisa menerjemahkan informasi sehingga mudah dimengerti

manusia. Display harus dirancang dengan baik agar dapat menjalankan

fungsinya untuk menyajikan informasi yang diperlukan manusia dalam

melaksanakan pekerjaannya. Perancangan display yang baik adalah apabila

display tersebut dapat menyampaikan informasi selengkap mungkin tanpa

menimbulkan banyak kesalahan dari manusia yang menerimanya.

b. Penyelidikan Mengenai Hasil Kerja Manusia dan Proses Pengendaliannya

Dalam hal ini dilakukan penyelidikan tentang aktivitas manusia pada saat

bekerja dan kemudian mempelajari cara mengukur setiap aktivitas tersebut.

Penyelidikan ini banyak berhubungan dengan biomekanika. Hal ini

mencakup pengukuran kekuatan/daya tahan fisik manusia ketika bekerja dan

mempelajari bagaimana cara bekerja sehingga peralatan harus dirancang agar

sesuai dengan kemampuan fisik manusia ketika melakukan aktivitas tersebut.

Pengukuran kekuatan fisik manusia dalam hal ini adalah mengukur berapa

besarnya tenaga yang dibutuhkan oleh seorang pekerja untuk melaksanakan

4 Sutalaksana, dkk. Teknik Tata Cara Kerja. Laboratorium Tata Cara Kerja dan Ergonomi Departemen Teknik Industri, ITB, 1979, p.64

Universitas Sumatera Utara

Page 6: ergonomi lanjut

pekerjaannya. Secara umum kriteria pengukuran aktivitas dapat dibagi dalam

dua kelas, yaitu:

1. Kriteria Fisiologi

Kriteria ini merupakan kegiatan manusia yang ditentukan berdasarkan

kecepatan denyut jantung dan pernafasan. Usaha untuk menentukan

besarnya tenaga yang akurat berdasarkan kriteria ini agak sulit karena

perubahan fisik dari keadaan normal menjadi keadaan fisik yang aktif akan

melibatkan beberapa fungsi fisiologis, seperti tekanan darah, peredaran

udara dalam paru-paru, jumlah oksigen yang digunakan, jumlah

karbondioksida yang dihasilkan, temperatur badan dan sebagainya.

2. Kriteria Operasional

Kriteria ini melibatkan teknik untuk mengukur atau menggambarkan hasil

yang bisa dilakukan tubuh atau anggota tubuh pada saat melaksanakan

gerakan. Secara umum gerakan yang dapat dilakukan tubuh atau anggota

tubuh dapat dibagi dalam bentuk range (rentang) gerakan, pengukuran

aktivitas berdasarkan kekuatan, ketahanan, kecepatan dan ketelitian.

c. Penyelidikan Mengenai Tempat Kerja.

Ukuran tempat kerja harus sesuai dengan ukuran dimensi tubuh manusia. Hal

ini dipelajari di antropometri. Data hasil pengukuran (data antropometri)

dijadikan sebagai data untuk perancangan peralatan.

d. Penyelidikan Mengenai Lingkungan Fisik.

Lingkungan fisik meliputi ruangan dan fasilitas yang digunakan manusia

serta kondisi lingkungan kerja yang keduanya banyak mempengaruhi tingkah

Universitas Sumatera Utara

Page 7: ergonomi lanjut

laku manusia. Pendekatan khusus yang ada dalam disiplin ergonomi adalah

aplikasi yang sistematis dari segala informasi relevan yang berkaitan dengan

karakteristik dari prilaku manusia dalam perancangan peralatan, fasilitas dan

lingkungan kerja yang dipakai. Untuk analisa dan penelitian maka ergonomi

akan meliputi hal yang berkaitan dengan :

1. Anatomi (struktur), fisiologi, dan antropometri tubuh manusia.

2. Psikologi yang fisiologis mengenai berfungsinya otak dan sistem syaraf

yang berperan dalam tingkah laku manusia.

3. Kondisi kerja yang dapat mencederai baik dalam waktu yang pendek

maupun panjang, atau membuat celaka manusia sehingga diperlukan

desain kondisi kerja yang dapat membuat nyaman manusia dalam bekerja.

3.1.4.1. Desain Stasiun Kerja untuk Sikap Kerja Duduk

Posisi tubuh saat bekerja sangat ditentukan oleh jenis pekerjaan yang

dilakukan. Masing-masing posisi kerja memberikan pengaruh yang berbeda

terhadap tubuh. Bekerja dengan posisi duduk mempunyai keuntungan antara lain:5

1. Mengurangi kelelahan dan keluhan subjektif bila bekerja lebih dari dua jam.

2. Mempunyai derajat stabilitas tubuh yang tinggi.

3. Operator memerlukan sedikit istirahat dan lebih produktif.

Posisi duduk mempunyai keuntungan maupun kerugian. Sikap duduk

terlalu lama dapat menyebabkan otot perut melembek dan tulang belakang akan

melengkung, maka untuk mendapatkan hasil kerja yang lebih baik tanpa pengaruh 5 Tarwaka.dkk, Ergonomi untuk Keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, 2004, p.23

Universitas Sumatera Utara

Page 8: ergonomi lanjut

buruk pada tubuh, perlu dipertimbangkan jenis pekerjaan apa saja yang paling

baik untuk posisi duduk yaitu sebagai berikut :

1. Pekerjaan yang memerlukan kontrol dengan teliti pada kaki.

2. Memerlukan ketelitian pada tangan.

3. Tidak memerlukan tenaga dorong yang besar.

4. Objek yang dipegang tidak memerlukan tangan bekerja pada ketinggian lebih

dari 15 cm dari landasan kerja.

5. Diperlukan tingkat kestabilan tubuh yang tinggi.

6. Pekerjaan dilakukan pada waktu yang lama.

7. Seluruh objek yang dikerjakan atau disuplai masih dalam jangkauan dengan

posisi duduk.

Salah satu pertimbangan dasar dalam perancangan tempat duduk adalah

tinggi permukaan bagian atas dari landasan tempat duduk diukur dari permukaan

lantai. Jika suatu landasan tempat duduk terlalu tinggi letaknya, bagian bawah

paha akan tertekan yang dapat menimbulkan ketidaknyamanan dan gangguan

peredaran darah. Landasan tempat duduk yang tidak memungkinkan telapak kaki

untuk menapak pada permukaan lantai menyebabkan stabilitas tubuh akan

melemah, sebaliknya jika letak suatu landasan tempat duduk terlalu rendah, kaki

akan memanjang dan posisinya maju ke depan. Pada posisi demikian kaki akan

meniadakan stabilitas tubuh.

Secara antropometrik, tinggi lipatan dalam lutut (jarak diukur secara

vertikal dari permukaan lantai hingga bagian bawah paha tepat di bagian belakang

lutut) harus menjadi ukuran pada data yang digunakan untuk menentukan tinggi

Universitas Sumatera Utara

Page 9: ergonomi lanjut

landasan tempat duduk. Rentang data yang terkecil misalkan data persentil 5

merupakan pedoman yang tepat karena data ini mencakup bagian populasi yang

berukuran tubuh paling kecil.

Pertimbangan lainnya dalam perancangan tempat duduk adalah kedalaman

landasan tempat duduk (jarak yang diukur dari bagian depan hingga belakang

sebuah tempat duduk). Apabila kedalaman landasan tempat duduk terlalu sempit,

dapat menyebabkan posisi tidak stabil karena berkurangnya penopang pada

bagian bawah paha. Secara antropometrik, jarak dari pantat ke lipatan dalam lutut

(jarak horizontal dari permukaan paling belakang pantat hingga bagian belakang

dari kaki bagian bawah) merupakan pedoman penentuan kedalaman tempat duduk

yang tepat.

Tempat duduk dengan alas yang keras dan datar tidak akan nyaman

digunakan dalam jangka waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah ini salah

satu cara yang dapat digunakan adalah dengan pemberian bantalan pada dasarnya.

Tujuan pemberian bantalan ini dapat juga sebagai upaya penyebaran tekanan.

Tetapi jika peracangan bantalan tidak tepat, tegangan tekanan yang dihasilkan

akan mempengaruhi keseimbangan tubuh. Rekomendasi yang dapat dijadikan

pedoman dalam perancangan bantalan adalah :6

- Untuk busa bantalan medium, ketebalan bantalan 1,5 inci atau 3,8 cm.

- Untuk busa bantalan yang rapat, ketebalan bantalan 0,5 inci atau 1,3 cm.

Tempat duduk yang dipakai harus memungkinkan untuk melakukan

variasi perubahan posisi. Ukuran tempat duduk disesuaikan dengan antropometri 6 J.Panero dan M.Zelnik. Human Dimension & Interior Space. New York: Watson-Guptill. 2003 .p.51-64

Universitas Sumatera Utara

Page 10: ergonomi lanjut

pemakainya. Fleksi lutut membentuk sudut 900 dengan telapak kaki bertumpu

pada lantai atau injakan kaki. Tulang belakang akan membungkuk ke depan jika

landasan kerja terlalu rendah dan bahu akan terangkat pada posisi rileks jika

landasan kerja terlalu tinggi. Prinsip untuk mengatur ketinggian landasan kerja

pada posisi duduk, yaitu :7

1. Jika memungkinkan sediakan meja yang dapat diatur turun dan naik.

2. Landasan kerja harus memungkinkan lengan menggantung pada posisi rileks

dari bahu dan lengan bawah mendekati posisi horizontal atau sedikit

menurun.

3. Ketinggian landasan kerja tidak memerlukan fleksi tulang belakang yang

berlebihan.

3.1.5. Sistem Manusia-Mesin

Sistem manusia-mesin adalah kombinasi antara satu atau beberapa

manusia dengan satu atau beberapa mesin yang saling berinteraksi untuk

menghasilkan keluaran berdasarkan masukan yang diperoleh. 8

7 Sanders dan Mc.Cormick. Human Factor in Engineering and Design, Mc.Graw-Hill, New York, 1987.p.344 8 Sutalaksana, dkk. Teknik Tata Cara Kerja. Laboratorium Tata Cara Kerja dan Ergonomi Departemen Teknik Industri, ITB, 1979, p.62

Mesin adalah

mencakup semua objek fisik seperti peralatan, perlengkapan, fasilitas dan benda

yang digunakan manusia dalam melaksanakan kegiatannya, sehingga dengan

mempelajari manusia sebagai salah satu komponen sistem manusia-mesin,

diharapkan dapat meletakkan fungsi manusia dengan segala kemampuan dan

keterbatasannya untuk merancang sistem manusia-mesin yang terdiri dari

Universitas Sumatera Utara

Page 11: ergonomi lanjut

manusia, peralatan dan lingkungan kerja sedemikian rupa sehinga memberikan

hasil akhir yang optimal.

Dalam sistem manusia mesin dikenal tiga macam hubungan, yaitu :9

1. Sistem Manusia Mesin Manual (Manual Man-Machine System)

Dalam system ini input akan langsung ditransformasikan oleh manusia

menjadi output. Manusia memegang kendali secara penuh dalam

melaksanakan aktivitasnya. Peralatan kerja yang ada hanya sekedar

menambah kemampuan atau kapabilitas dalam menyelesaikan pekerjaan yang

dibebankan kepadanya.

2. Sistem Manusia Mesin Semi Otomatis (Semi Automatic Man-Machine

System)

Terdapat mekanisme khusus yang akan mengolah input atau informasi dari

luar sebelum masuk ke dalam sistem kerja manusia, demikian pula reaksi

yang berasal dari sistem ini akan diolah atau dikontrol terlebih dahulu

melewati suatu mekanisme tertentu sebelum suatu output berhasil diproses.

Pada sistem ini mesin akan memberikan power (tenaga) dan manusia akan

melaksanakan fungsi control.

3. Sistem Manusia Mesin Otomatis (Automatic Man-Machine System)

Sistem berlangsung secara otomatis, mesin akan melaksanakan dua fungsi

sekaligus yaitu menerima ransangan dari luar (sensing) dan pengendali

aktivitas seperti umumnya dijumpai pada prosedur kerja yang normal. Fungsi

operator hanyalah memonitor dan menjaga agar mesin tetap bekerja dengan

9 Sritomo Wignjosoebroto. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Guna Widya, Surabaya, 1995.p.35-40.

Universitas Sumatera Utara

Page 12: ergonomi lanjut

baik serta memasukkan data atau mengganti dengan program-program baru

apabila diperlukan.

Merancang sistem manusia mesin yang efektif dan efisien perlu dipahami

keunggulan masing-masing serta memanfaatkan keunggulan tersebut secara

optimum. Kegiatan yang merupakan keunggulan manusia dan kegiatan yang

merupakan keunggulan mesin adalah: 10

1. Keunggulan Manusia

- Mengindra stimulus yang sangat rendah seperti bunyi, cahaya, rasa, dan

lain-lain.

- Mendeteksi pola stimulus yang kompleks yang bervariasi dengan situasi.

- Mengindra kejadian yang tidak umum dalam lingkungannya.

- Menyimpan informasi dalam jumlah yang besar dan waktu yang lama

dalam ingatan.

- Mengeluarkan informasi dari ingatan dalam frekuensi yang cukup tinggi.

- Mengambil manfaat/pelajaran dari berbagai pengalaman masa lalu.

- Menggunakan prinsip untuk memecahkan problema yang bervariasi.

- Membuat estimasi dan evaluasi subjektif.

- Mengembangkan penyelesaian masalah secara menyeluruh.

- Mengonsentrasikan diri pada kegiatan terpenting jika mengalami situasi

padat.

- Mengadaptasikan diri terhadap variasi dalam lingkungan operasional.

10 Sanders dan Mc.Cormick. Human Factor in Engineering and Design, Mc.Graw-Hill, New York, 1987.p.526

Universitas Sumatera Utara

Page 13: ergonomi lanjut

2. Keunggulan Mesin

- Mengindra stimulus yang berada di luar kepekaan normal manusia.

- Memonitor kejadian yang telah terspesifikasi.

- Menyimpan informasi yang telah terkode dengan kecepatan tinggi.

- Mengeluarkan informasi yang telah terkode secara cepat dan akurat

melalui instruksi yang spesifik.

- Mengolah informasi yang kuantitatif berdasarkan program tertentu.

- Merespon secara cepat dan konsisten terhadap signal input.

- Melakukan kegiatan berulang-ulang secara handal.

- Memelihara kinerja yang relatif stabil dalam periode kerja yang relatif

panjang.

- Menghitung jumlah dengan kecepatan sangat tinggi.

- Melakukan operasi secara efisien pada kondisi beban yang tinggi.

3.1.6. Pengembangan Metode untuk Mengefektifkan dan Mengefisienkan

Kerja

Analisa metode (Methods Analysis) adalah kegiatan pencatatan secara

sistematis dan pemeriksaan dengan seksama mengenai cara yang berlaku atau

diusulkan untuk melaksanakan kerja. Hal ini dimaksudkan untuk mempelajari

prinsip-prinsip dan teknik-teknik pengaturan kerja yang optimal dalam suatu

sistem kerja. Sistem kerja merupakan komponen kerja seperti manusia, mesin,

material serta lingkungan fisik berinteraksi dengan aturan tertentu untuk mencapai

suatu tujuan.

Universitas Sumatera Utara

Page 14: ergonomi lanjut

Terdapat 4 macam komponen sistem kerja yang harus dipelajari untuk

memperoleh metode kerja yang sebaik-baiknya, yaitu :

1. Komponen Material

Material meliputi bahan baku, komponen, produk jadi, limbah, dan

sebagainya. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara menempatkan material,

jenis material yang mudah diproses, dan sebagainya.

2. Komponen Manusia

Hal yang perlu diperhatikan adalah posisi orang pada saat bekerja sehingga

memberikan gerakan yang efektif dan efisien.

3. Komponen Mesin

Desain dari mesin merupakan faktor utama yang harus disesuaikan dengan

prinsip ergonomi.

4. Komponen Lingkungan Kerja Fisik

Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah kondisi lingkungan fisik aman dan

nyaman.

Dalam menganalisa dan mengevaluasi metode kerja untuk memperoleh

metode kerja yang lebih efisien, perlu dipertimbangkan prinsip-prinsip ekonomi

gerakan (The Principles of Motion Economy). Berikut ini diuraikan aplikasi

prinsip ekonomi gerakan :11

11 Sritomo Wignjosoebroto. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Guna Widya, Surabaya,1995. p.100-104.

Universitas Sumatera Utara

Page 15: ergonomi lanjut

a) Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan dengan Penggunaan Anggota Tubuh

Manusia

- Manusia memiliki kondisi fisik dan struktur tubuh yang memberi

keterbatasan dalam melaksanakan gerakan kerja.

- Apabila memungkinkan kedua tangan harus memulai dan menyelesaikan

gerakan dalam waktu yang bersamaan.

- Kedua tangan jangan menganggur pada waktu bersamaan kecuali sewaktu

istirahat.

- Gerakan tangan harus simetris dan berlawanan arah

- Untuk menyelesaikan pekerjaan hanya bagian tubuh yang memang

diperlukan saja yang bekerja agar tidak terjadi penghamburan tenaga dan

kelelahan yang tidak perlu.

- Hindari gerakan yang patah-patah karena akan cepat menimbulkan

kelelahan.

- Pekerjaan harus diatur sehingga gerak mata terbatas pada bidang yang

menyenangkan tanpa perlu sering merubah fokus.

b) Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan dengan Tempat Kerja

- Tempat tertentu yang tidak sering dipindahkan harus disediakan untuk

semua alat dan bahan sehingga dapat menimbulkan kebiasaan tetap (gerak

rutin).

- Letakkan bahan dan peralatan kerja pada jarak yang dapat dengan mudah

dan nyaman dicapai pekerja sehingga mengurangi waktu mencari-cari.

Universitas Sumatera Utara

Page 16: ergonomi lanjut

- Tata letak bahan dan peralatan kerja diatur sehingga memungkinkan

ururtan gerakan yang baik.

- Tinggi tempat kerja atau mesin harus disesuaikan dengan ukuran tubuh

manusia sehingga pekerja dapat mengerjakan pekerjaan dengan mudah dan

nyaman. Prinsip antropometri diperlukan untuk merancang fasilitas kerja

tersebut.

- Kondisi ruangan pekerja seperti penerangan, temperature, kebersihan,

ventilasi udara dan sebagainya yang berkaitan dengan persyaratan

ergonomis harus diperhatikan sehingga dapat diperoleh area kerja yang

lebih baik.

c) Prinsip Ekonomi Gerakan Dihubungkan dengan Desain Peralatan Kerja

- Kurangi sebanyak mungkin pekerjaan tubuh (manual) apabila hal tersebut

dapat dilaksanakan dengan peralatan kerja.

- Usahakan menggunakan peralatan kerja yang dapat melaksanakan

berbagai macam pekerjaan sekaligus, baik yang sejenis maupun yang

berlainan.

- Siapkan dan letakkan semua peralatan kerja pada posisi tepat untuk

memudahkan pemakaian dan pengambilan pada saat diperlukan tanpa

harus bersusah payah mencari-cari.

Prinsip ekonomi gerakan ini dapat digunakan untuk menganalisa gerakan

kerja setempat yang terjadi dalam suatu stasiun kerja dan dapat juga untuk

kegiatan kerja yang berlangsung secara menyeluruh antar stasiun kerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 17: ergonomi lanjut

3.1.7. Peta Kerja

3.1.7.1. Definisi Peta Kerja

Peta kerja adalah suatu alat yang menggambarkan kegiatan kerja secara

sistematis dan jelas. Dengan menggunakan peta kerja dapat dilihat semua langkah

atau kejadian yang dialami oleh benda kerja mulai dari masuk ke pabrik yang

berbentuk bahan baku, kemudian menggambarkan semua langkah yang

dialaminya seperti transportasi, operasi, pemeriksaan dan perakitan, sampai

menjadi produk, baik produk jadi atau produk setengah jadi. Dengan

menggunakan peta kerja maka usaha memperbaiki metode kerja dari suatu proses

produksi akan lebih mudah dilaksanakan. Peta kerja merupakan alat yang baik

untuk menganalisa suatu pekerjaan sehingga akan mudah untuk menganalisa dan

memperbaiki kesalahan, dan akan sangat bermanfaat dalam perencanaan sistem

kerja. Perbaikan yang mungkin dilakukan antara lain :

- Menghilangkan operasi yang tidak perlu.

- Menggabungkan suatu operasi dengan operasi lainnya.

- Menemukan urutan kerja/proses produksi yang lebih baik.

- Menentukan mesin yang lebih ekonomis.

- Menghilangkan waktu menunggu antar operasi.

Pada dasarnya semua perbaikan tersebut ditujukan untuk mengurangi

biaya produksi secara keseluruhan, jadi peta ini merupakan alat yang baik untuk

menganalisis suatu pekerjaan sehingga mempermudah perencanaan perbaikan.

Universitas Sumatera Utara

Page 18: ergonomi lanjut

3.1.7.2. Jenis-jenis Peta Kerja

Berdasarkan kegiatannya peta kerja dibagi atas dua kelompok besar, yaitu:

1. Peta kerja untuk menganalisis kegiatan kerja keseluruhan.

Yang termasuk peta kerja keseluruhan yaitu :

a. Peta Proses Operasi (Operation Process Chart)

b. Peta Aliran Proses (Flow Process Chart)

c. Peta Proses Perakitan (Assembly Process Chart)

d. Peta Proses Kelompok Kerja (Gang Process Chart)

e. Diagram Aliran (Flow Diagram)

2. Peta-peta kerja untuk menganalisis kegiatan kerja setempat.

Yang termasuk peta kerja setempat yaitu :

a. Peta Pekerja dan Mesin (Man-Machine Chart)

b. Peta Tangan Kiri dan Tangan Kanan

Suatu kegiatan disebut kegiatan kerja keseluruhan apabila kegiatan

tersebut melibatkan sebagian besar atau semua fasilitas yang diperlukan untuk

membuat produk yang bersangkutan. Sedangkan suatu kegiatan disebut kegiatan

kerja setempat apabila kegiatan tersebut terjadi dalam suatu stasiun kerja yang

biasanya melibatkan orang dan fasilitas dalam jumlah terbatas. Hubungan antara

kedua macam kegiatan adalah untuk menyelesaikan suatu produk diperlukan

beberapa stasiun kerja, di mana satu sama lainnya saling berhubungan dan

kelancaran proses produksi secara keseluruhan tergantung pada kelancaran setiap

stasiun kerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 19: ergonomi lanjut

3.1.7.3. Peta Pekerja dan Mesin (Man-Machine Chart)

Peta pekerjaan dan mesin merupakan suatu grafik yang menggambarkan

koordinasi antara waktu bekerja dan waktu menganggur dari kombinasi antara

pekerja dan mesin. Dengan demikian peta ini merupakan alat yang baik digunakan

untuk mengurangi waktu menganggur. Kegunaan peta pekerja dan mesin antara

lain berupa informasi yang paling penting diperoleh melalui peta pekerja dan

mesin yaitu hubungan yang jelas antara waktu kerja operator dan waktu operasi

mesin yang ditanganinya. Dengan informasi ini, kita mempunyai data yang baik

untuk melakukan penyelidikan, penganalisaan, dan perbaikan terhadap suatu

sistem kerja.

Dalam beberapa hal, hubungan antara operator dengan mesin sering

bekerja secara bergantian, yaitu sementara mesin menganggur, operator bekerja

atau sebaliknya. Waktu menganggur adalah suatu kerugian, sehingga harus

dihilangkan atau setidaknya diminimumkan, tetapi harus masih berada dalam

batas-batas kemampuan manusia dan mesinnya.

3.1.7.4. Kegunaan Peta Pekerja dan Mesin

Informasi paling penting yang diperoleh melalui peta pekerja-mesin ialah

hubungan yang jelas antara waktu kerja operator dan waktu operasi mesin yang

ditanganinya. Dengan informasi ini dapat diambil data yang memadai untuk

melakukan penyelidikan, penganalisaan, dan perbaikan suatu kegiatan kerja,

sehingga efektifitas penggunaan pekerja dan mesin dapat ditingkatkan serta

keseimbangan kerja antara pekerja dan mesin dapat lebih diperbaiki.

Universitas Sumatera Utara

Page 20: ergonomi lanjut

Peningkatan efektifitas penggunaan dan perbaikan keseimbangan kerja

tersebut dapat dilakukan, misalnya dengan cara :

1. Merubah Tata Letak Tempat Kerja

Tata letak tempat kerja merupakan salah satu factor yang menentukan

lamanya waktu penyelesaian suatu pekerjaan. Penataan kembali suatu tata

letak tempat kerja diharapkan dapat menempatkan elemen sistem kerja pada

tempat yang tepat sehingga benar-benar dapat menghemat waktu

penyelesaian.

2. Mengatur Kembali Gerakan-gerakan Kerja.

Gerakan kerja merupakan faktor yang menentukan waktu penyelesaian suatu

pekerjaan. Penataan kembali gerakan-gerakan yang dilakukan pekerja akan

sangat membantu meningkatkan efektivitas kerja dan mempengaruhi efisiensi

penggunaan tenaga.

3. Merancang Kembali Mesin dan Peralataan

Keadaan mesin dan peralatan seringkali perlu dirancang kembali untuk

meningkatkan efektivitas pekerja dan mesin. Misalnya untuk mengurangi

waktu mengangkut dan sekaligus menghemat tenaga pekerja, maka pekerjaan

memindahkan barang terutama barang berat yang tadinya menggunakan

gerobak dorong dapat menggunakan alat peluncur atau yang bertenaga motor.

Dengan demikian selain diperoleh keuntungan seperti di atas, kapasitas

pemindahan dapat jauh lebih besar.

Universitas Sumatera Utara

Page 21: ergonomi lanjut

4. Menambah Pekerjaan bagi Sebuah Mesin atau sebaliknya, Menambah Mesin

bagi Seorang Pekerja.

Apabila ditemukan bahwa efektivitas pekerja yang menangani sebuah atau

beberapa mesin itu rendah, seperti pekerja banyak menganggur, sementara di

tempat lain banyak terdapat mesin yang menganggur, maka penambahan tugas

bagi pekerja tersebut mungkin dapat meningkatkan efektivitas dan efisiensi.

Sebaliknya jika terdapat pekerja yang terlampau sibuk dalam menangni

tugasnya sehingga tidak memungkinkan baginya untuk dapat melepas lelah

dan melakukan kepentingan pribadi lainnya, tentu hal ini pun akan merugikan,

baik bagi perusahaan atau pekerja itu sendiri. Pekerja akan cenderung lebih

banyak melakukan kesalahan, sehingga ini mungkin saja dapat mengakibatkan

kerusakan pada mesin atau menurunkan kualitas produksi. Dampak negatif

yag dialami pekerja, terutama yang dirasakan dalam jangka panjang akan

mengakibatkan menurunnya kondisi tubuh pekerja tersebut. Salah satu cara

yang dapat dilakukan adalah dengan penambahan pekerja sehingga

keseimbangan antara pekerja dan mesin dapat diperoleh.

3.1.7.5. Prinsip-prinsip Pembuatan Peta Pekerja dan Mesin

Ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam membuat peta pekerja

dan mesin, yaitu

1. Nyatakan identifikasi peta yang dibuat.

Biasanya dibagian paling atas kertas dinyatakan “ PETA PEKERJA DAN

MESIN “ sebagai kepalanya, kemudian diikuti oleh informasi-informasi yang

Universitas Sumatera Utara

Page 22: ergonomi lanjut

melengkapi, meliputi : nomor peta, nama pekerja yang dipetakan, metoda

sekarang atau usulan, tanggal dipetakan, dan nama orang yang membuat peta

tersebut.

2. Uraikan semua elemen pekerjaan yang terjadi.

Tiga jenis kolom (bar) digunakan untuk melambangkan elemen-elemen yang

bersangkutan. Kolom tersebut dibuat memanjang dari atas hingga ke bawah

dengan panjang masing-masing sebanding dengan lamanya waktu

pelaksanaan elemen pekerjaan tersebut.

3. Buatlah kesimpulan dalam bentuk ringkasan yang memuat waktu menganggur

dan waktu kerja, sehingga dapat diketahui penggunaan waktu dari pekerja

atau mesin tersebut. Satuan waktu biasanya digunakan dalam detik. Lambang

yang digunakan dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Peta pekerja dan mesin ini, seperti peta-peta lainnya mempunyai fungsi

khusus, sehingga penganalisis harus dapat memilih mana diantara peta kerja

tersebut yang paling cocok untuk pekerjaan yang akan dianalisis. Peta pekerja dan

mesin dapat digunakan hanya jika terdapat hubungan kerja sama antara mesin

atau fasilitas kerja dengan pekerja/operator. Dari peta ini dapat dihitung waktu

menganggur dari pekerja dan mesin serta menentukan jumlah mesin yang dapat

ditangani oleh seorang pekerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 23: ergonomi lanjut

Tabel 3.1. Lambang Peta Pekerja dan Mesin

No. Lambang Fungsi Keterangan

1.

Menunjukkan waktu

menganggur

Digunakan untuk menyatakan

pekerja atau mesin yang sedang

menganggur atau salah satu sedang

menunggu yang lain

2.

Menunjukkan kerja

independen

Jika ditinjau dari pekerjanya, keadaan

ini menunjukkan seorang pekerja yang

sedang bekerja dan independen

dengan mesin dan pekerja lainnya,

sebaliknya jika ditinjau dari pihak

mesin, mesin sedang beroperasi tanpa

bantuan pekerja.

3.

Menunjukkan kerja

kombinasi

Jika ditinjau dari pihak pekerja,

lambang ini digunakan apabila

diantara operator dan mesin atau

dengan operator lainnya sedang

bekerja secara bersama-sama. Jika

ditinjau dari pihak mesin, mesin

tersebut memerlukan pelayanan dari

operator.

Universitas Sumatera Utara

Page 24: ergonomi lanjut

3.1.8. Keluhan Muskuloskeletal 12

1. Keluhan sementara (Reversible), yaitu keluhan otot yang terjadi pada saat

otot menerima beban statis, keluhan tersebut segera hilang apabila

pembebanan dihentikan.

Keluhan muskuloskeletal adalah keluhan pada otot skeletal yang dirasakan

oleh seseorang mulai dari keluhan yang sangat ringan sampai pada yang sangat

sakit. Apabila otot menerima beban statis secara berulang dan dalam waktu yang

lama, maka dapat menyebabkan keluhan berupa kerusakan pada sendi, ligamen,

dan tendon. Keluhan hingga kerusakan ini disebut juga musculoskeletal disorders

(MSDs) atau cedera pada sistem muskuloskeletal. Secara garis besar keluhan otot

dapat dikelompokkan menjadi dua, yaitu :

2. Keluhan menetap (Persistent), yaitu keluhan otot yang bersifat menetap.

Walaupun pembebanan kerja telah dihentikan, namun rasa sakit pada otot

masih berlanjut.

Keluhan muskuloskeletal dapat terjadi oleh beberapa penyebab,

diantaranya adalah :

1. Peregangan otot yang berlebihan.

Peregangan otot yang berlebihan pada umumnya sering dikeluhkan oleh

pekerja yang aktivitas kerjanya menuntut pengerahan tenaga yang besar

seperti aktivitas mengangkat, mendorong, menarik, dan menahan beban yang

berat.

12 Tarwaka.dkk, Ergonomi Untuk keselamatan, Kesehatan Kerja dan Produktivitas, Uniba Press, Surakarta, 2004, p.117-120

Universitas Sumatera Utara

Page 25: ergonomi lanjut

2. Aktivitas berulang

Aktivitas berulang adalah pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus

seperti pekerjaan mencangkul, membelah kayu, dan sebagainya. Keluhan otot

terjadi karena otot menerima tekana akibat beban kerja secara terus-menerus

tanpa memperoleh waktu untuk relaksasi.

3. Sikap kerja tidak alamiah.

Posisi bagian tubuh yang bergerak menjauhi posisi alamiah, misalnya

pergerakan tangan terangkat, punggung terlalu membungkuk, kepala

terangkat, dan sebagainya dapat menyebabkan keluhan pada otot skeletal.

4. Faktor penyebab skunder.

Faktor skunder yang juga berpengaruh terhadap keluhan muskuloskeletal

adalah tekanan, getaran dan mikroklimat.

5. Penyebab kombinasi

Resiko terjadinya keluhan otot skeletal akan semakin meningkat apabila

dalam melakukan tugasnya pekerja dihadapkan pada beberapa faktor resiko

dalam waktu yang bersamaan, misalnya pekerja harus melakukan aktivitas

mengangkat beban di bawah tekanan panas matahari.

Langkah-langkah untuk mengatasi keluhan muskuloskeletal sebagai berikut:

1. Rekayasa Teknik

Rekayasa teknik dilakukan melalui pemilihan beberapa alternatif sebagai

berikut :

Universitas Sumatera Utara

Page 26: ergonomi lanjut

- Eliminasi, yaitu menghilangkan sumber bahaya yang ada. Hal ini jarang

dapat dilakukan mengingat kondisi dan tuntutan pekerjaan yang

mengharuskan menggunakan peralatan yang ada.

- Substitusi, yaitu mengganti alat/bahan lama dengan alat/bahan baru yang

aman, menyempurnakan proses produksi dan menyempurnakan prosedur

penggunaan peralatan

- Partisi, yaitu melakukan pemisahan antara sumber bahaya dengan pekerja,

contonya memisahkan ruang mesin yang bergetar dengan ruang kerja

lainnya.

- Ventilasi, yaitu dengan menambah ventilasi untuk mengurangi resiko

sakit, misalnya akibat suhu udara yang terlalu panas.

2. Rekayasa Manajemen

Rekayasa manajemen dapat dilakukan melalui tindakan sebagai berikut :

- Pendidikan dan pelatihan

Melalui pendidikan dan pelatihan, pekerja menjadi lebih memahami

lingkungan dan alat kerja sehingga diharapkan lebih inovatif dalam

upaya pencegahan resiko sakit akibat kerja.

- Pengaturan waktu kerja istirahat yang seimbang

Menyesuaikan kondisi lingkungan kerja dan karakteristik pekerjaan

sehingga dapat mencegah paparan yang berlebihan terhadap sumber

bahaya.

Universitas Sumatera Utara

Page 27: ergonomi lanjut

- Pengawasan yang intensif

Melalui pengawasan yang intensif dapat dilakukan pencegahan secara

lebih dini terhadap kemungkinan terjadinya resiko sakit akibat kerja.

3.1.8.1. Standard Nordic Questionnaire (SNQ)

Ada beberapa cara dalam melakukan evaluasi ergonomi untuk mengetahui

hubungan antara tekanan fisik dengan resiko keluhan otot skeletal. Pengukuran

terhadap tekanan fisik ini cukup sulit karena melibatkan berbagai faktor subjektif

seperti kinerja, motivasi, harapan dan toleransi kelelahan. Salah satunya adalah

melalui Standard Nordic Questionnaire (SNQ). Melalui kuesioner ini dapat

diketahui bagian otot yang mengalami keluhan dengan tingkat keluhan mulai dari

Tidak Sakit (TS), Agak Sakit (AS), Sakit (S) dan Sangat Sakit (SS). Dengan

melihat dan menganalisis peta tubuh seperti pada Gambar 3.1. maka dapat

diestimasi jenis dan tingkat keluhan otot skeletal yang dirasakan oleh pekerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 28: ergonomi lanjut

(Sumber : Gempur Santoso, Ergonomi : Manusia, Peralatan dan Lingkungan)

Gambar 3.1. Standard Nordic Questionnaire

3.1.9. Antropometri

Istilah Antropometri berasal dari kata “anthro” yang berarti manusia dan

“metri” yang berarti ukuran. Antropometri dapat diartikan sebagai satu studi yang

berkaitan dengan pengukuran dimensi tubuh manusia13

13 Sritomo Wignjosoebroto. Ergonomi, Studi Gerak dan Waktu, Guna Widya, Surabaya, 1995.p.60

. Manusia pada umumnya

NO JENIS KELUHAN TINGKAT KELUHAN Tida

k Sakit

Agak Sakit

Sakit Sangat Sakit

0 Sakit kaku di leher bagian atas 1 Sakit kaku di leher bagian bawah 2 Sakit di bahu kiri 3 Sakit di bahu kanan 4 Sakit lengan atas kiri 5 Sakit di punggung 6 Sakit lengan atas kanan 7 Sakit pada pinggang 8 Sakit pada bokong 9 Sakit pada pantat 10 Sakit pada siku kiri 11 Sakit pada siku kanan 12 Sakit pada lengan bawah kiri 13 Sakit pada lengan bawah kanan 14 Sakit pada pergelangan tangan

kiri

15 Sakit pada pergelangan tangan kanan

16 Sakit pada tangan kiri 17 Sakit pada tangan kanan 18 Sakit pada paha kiri 19 Sakit pada paha kanan 20 Sakit pada lutut kiri 21 Sakit pada lutut kanan 22 Sakit pada betis kiri 23 Sakit pada betis kanan 24 Sakit pada pergelangan kaki kiri 25 Sakit pada pergelangan kaki

kanan

26 Sakit pada kaki kiri 27 Sakit pada kaki kanan

Universitas Sumatera Utara

Page 29: ergonomi lanjut

memiliki bentuk, ukuran, berat dan lain-lain yang berbeda satu dengan lainnya.

Data antropometri yang berhasil diperoleh akan diaplikasikan secara luas antara

lain dalam hal :

- Perancangan areal kerja (work station, interior mobil, dan lain-lain)

- Perancangan peralatan kerja seperti mesin, equipment, perkakas, dan sebagainya.

- Perancangan produk konsumtif seperti pakaian, kursi, meja, komputer, dan lain-

lain.

- Perancangan lingkungan kerja fisik.

Pada dasarnya peralatan kerja yang dibuat dengan mengambil referensi

dimensi tubuh tertentu jarang sekali bisa mengakomodasikan seluruh range

ukuran tubuh dari populasi yang akan memakainya. Kemampuan penyesuaian

(adjustability) suatu produk merupakan satu prasyarat yang sangat penting dalam

proses perancangan, terutama untuk produk yang berorientasi ekspor.

Beberapa faktor yang akan mempengaruhi ukuran tubuh manusia dan

seorang perancang produk harus memperhatikan faktor tersebut, yaitu :

a) Umur

Secara umum dimensi tubuh manusia akan tumbuh dan bertambah besar

dengan bertambahnya umur sejak awal kelahiran sampai dengan umur sekitar

20 tahunan.

b) Jenis kelamin (Sex)

Dimensi ukuran tubuh laki-laki umumnya akan lebih besar dibandingkan

dengan ukuran tubuh wanita, kecuali untuk beberapa ukuran tubuh tertentu

seperti pinggul, dan sebagainya.

Universitas Sumatera Utara

Page 30: ergonomi lanjut

c) Suku/bangsa (Ethnic)

Setiap suku, bangsa ataupun kelompok etnik akan memiliki karekteristik fisik

yang akan berbeda satu dengan yang lainnya.

d) Posisi tubuh (Posture)

Posisi tubuh standar harus diterapkan untuk survei pengukuran karena

berpengaruh terhadap ukuran tubuh. Pengukuran posisi tubuh dapat dilakukan

dengan dua cara pengukuran yaitu:

- Pengukuran dimensi struktur tubuh (Structural Body Dimension).

Posisi tubuh diukur dalam berbagai posisi standar dan tidak bergerak.

Istilah lain dari pengukuran tubuh dengan cara ini dikenal dengan “Static

Anthropometry”. Ukuran diambil dengan persentil tertentu seperti 5-th,

50-th dan 95-th.

- Pengukuran dimensi fungsional tubuh (Functional Body Dimensions).

Disini pengukuran dilakukan terhadap posisi tubuh pada saat melakukan

gerakan tertentu. Hal pokok yang ditekankan dalam pengukuran dimensi

fungsional tubuh ini adalah mendapatkan ukuran tubuh yang nantinya

berkaitan erat dengan gerakan nyata yang diperlukan tubuh untuk

melaksanakan kegiatan tertentu. Cara pengukuran semacam ini juga biasa

disebut dengan “Dynamic Anthropometry”.

e) Cacat tubuh

Data antropometri diperlukan untuk perancangan produk bagi orang cacat

seperti kursi roda, kaki/tangan palsu, dan lain-lain.

Universitas Sumatera Utara

Page 31: ergonomi lanjut

f) Tebal/tipisnya pakaian yang dipakai

Faktor iklim yang berbeda akan memberikan variansi yang berbeda pula

dalam bentuk rancangan dan spesifikasi pakaian. Dengan demikian dimensi

tubuh orangpun akan berbeda dari satu tempat dengan tempat yang lain.

g) Kehamilan (Pregnancy)

Kondisi ini jelas akan mempengaruhi bentuk dan ukuran tubuh (khusus bagi

perempuan). Hal tersebut jelas membutuhkan perhatian khusus terhadap

produk yang dirancang bagi segmentasi ini.

Agar rancangan suatu produk dapat sesuai dengan ukuran tubuh manusia

yang akan mengoperasikannya, maka prinsip penggunaan data antropometri harus

sesuai. Prinsip tersebut adalah :14

1. Prinsip Perancangan Produk Bagi Individu Dengan Ukuran Yang Ekstrim.

Rancangan produk dibuat agar dapat memenuhi dua sasaran produk, yaitu:

a. Dapat sesuai untuk ukuran tubuh manusia yang mengikuti klasifikasi

ekstrim dalam arti terlalu besar atau kecil bila dibandingkan dengan rata-

rata.

b. Dapat digunakan untuk memenuhi ukuran tubuh yang lain (mayoritas dari

populasi yang ada).

Ukuran yang diaplikasikan agar memenuhi sasaran pokok tersebut yaitu :

- Dimensi minimum yang ditetapkan dari suatu rancangan produk umumnya

didasarkan pada nilai persentil yang terbesar seperti 90-th, 95-th, atau 99-th.

14 Sutalaksana, dkk. Teknik Tata Cara Kerja. Laboratorium Tata Cara Kerja dan Ergonomi Departemen Teknik Industri, ITB, 1979. p.78

Universitas Sumatera Utara

Page 32: ergonomi lanjut

Contoh kasus ini dapat dilihat pada penetapan ukuran minimal dari lebar dan

tinggi dari pintu darurat, dan lain-lain.

- Dimensi maksimum yang ditetapkan diambil berdasarkan nilai persentil yang

terendah, seperti 1-th, 5-th, atau 10-th dari distribusi data antropometri yang

ada. Contohnya penetapan jarak jangkau dari suatu mekanisme kontrol yang

harus dioperasikan oleh seorang pekerja.

2. Prinsip Perancangan Produk yang Dapat Dioperasikan Pada Rentang Ukuran

Tertentu (Adjustable).

Rancangan dapat berubah ukurannya sehingga cukup fleksibel dioperasikan

oleh setiap orang yang memiliki berbagai macam ukuran tubuh. Contoh yang

paling umum dijumpai adalah perancangan kursi mobil yang letaknya bisa

digeser maju dan mundur, begitu juga dengan sandarannya bisa dirubah

sudutnya sesuai dengan keinginan. Untuk mendapatkan rancangan yang

fleksibel hal semacam ini umumnya mengaplikasikan data antropometri

dalam rentang persentil 5-th s/d 95-th.

3. Prinsip Perancangan Produk dengan Ukuran Rata-rata.

Dalam hal ini rancangan produk didasarkan terhadap rata-rata ukuran

manusia. Problem pokok yang dihadapi dalam hal ini adalah justru sedikit

sekali mereka yang berada dalam ukuran rata-rata.

Berkaitan dengan aplikasi data antropometri yang diperlukan dalam proses

perancangan produk ataupun fasilitas kerja, maka ada beberapa

Universitas Sumatera Utara

Page 33: ergonomi lanjut

saran/rekomendasi yang bisa diberikan sesuai dengan langkah-langkah sebagai

berikut :15

a. Tetapkan anggota tubuh yang mana yang akan difungsikan untuk

mengoperasikan rancangan tersebut.

b. Tentukan dimensi tubuh yang penting dalam proses perancangan tersebut,

dalam hal ini juga perlu diperhatikan apakah mengunakan data static

anthropometry atau dynamic anthropometry.

c. Tentukan apakah produk dirancang khusus untuk individu tertentu, untuk

semua populasi, atau dilakukan pengambilan sampel dengan tujuan mewakili

populasi terbesar yang harus diantisipasi, diakomodasikan dan menjadi target

utama pemakai rancangan produk tersebut.

d. Untuk perancangan fasilitas atau produk dengan target pemakainya adalah

populasi, tetapkan prinsip ukuran yang harus diikuti misalnya apakah

rancangan tersebut untuk ukuran individual yang ekstrim, adjustable, ataukah

ukuran rata-rata.

e. Untuk setiap dimensi tubuh yang telah diidentifikasi selanjutnya

pilih/tetapkan nilai ukurannya apakah dilakukan pengukuran langsung

terhadap dimensi tubuh tersebut atau ukurannya telah tersedia dan dapat

diambil dari tabel data antropometri yang sesuai.

f. Jika data berasal dari sampel dan perancangan produk atau fasilitas kerja

diaplikasikan untuk populasi atau tujuan perancangan untuk ukuran rata-rata,

15 Sanders dan Mc.Cormick. Human Factor in Engineering and Design, Mc.Graw-Hill, New York, 1987.p.338

Universitas Sumatera Utara

Page 34: ergonomi lanjut

pilih persentil populasi yang harus diikuti; persentil 90-th, 95-th, 99-th

ataukah nilai persentil yang lain yang dikehendaki.

g. Aplikasikan data tersebut dan tambahkan faktor kelonggaran (allowance) bila

diperlukan seperti halnya tambahan ukuran akibat faktor tebalnya pakaian

yang harus dikenakan oleh operator, pemakaian sarung tangan, dan

sebagainya.

Pengukuran antropometri pada posisi berdiri dan posisi duduk dapat

dilihat pada Gambar 3.2. Nama dimensi tubuh untuk pengukuran antropometri

dapat dilihat pada Tabel 3.2.

Gambar 3.2. Pengukuran Antropometri Posisi Berdiri dan Posisi Duduk

Universitas Sumatera Utara

Page 35: ergonomi lanjut

Tabel 3.2. Antropometri Posisi Berdiri dan Posisi Duduk

No. Nama Dimensi 1 Tinggi tubuh posisi berdiri tegak 2 Tinggi mata posisi berdiri tegak 3 Tinggi bahu posisi berdiri tegak 4 Tinggi siku posisi berdiri tegak (siku tegak lurus) 5 Tinggi kepalan tangan yang berjulur lepas posisi berdiri tegak 6 Tinggi tubuh posisi duduk 7 Tinggi mata posisi duduk 8 Tinggi bahu posisi duduk 9 Tinggi siku posisi duduk 10 Tebal atau lebar paha 11 Panjang paha diukur dari pantat sampai ujung lutut 12 Panjang paha diukur dari pantat sampai bagian belakang dari lutut/betis 13 Tinggi lutut diukur baik dalam posisi berdiri maupun duduk 14 Tinggi tubuh posisi duduk yang diukur dari lantai sampai paha 15 Lebar dari bahu 16 Lebar pinggul/pantat 17 Lebar dari dada (tidak tampak dalam gambar) 18 Lebar perut 19 Panjang siku diukur dari siku sampai ujung jari dalam posisi siku tegak

lurus 20 Lebar kepala 21 Panjang tangan diukur dari pergelangan sampai ujung jari 22 Lebar telapak tangan 23 Lebar tangan posisi tangan terbentang lebar ke samping kiri-kanan 24 Tinggi jangkauan tangan posisi berdiri tegak, diukur dari lantai sampai

dengan telapak tangan yang terjangkau lurus keatas 25 Tinggi jangkauan tangan posisi duduk tegak (tidak ditunjukkan dalam

gambar) 26 Jarak jangkauan tangan yang terjulur ke depan, diukur dari bahu sampai

ujung jari tangan

3.1.10. Postur Kerja

Pertimbangan ergonomi yang berkaitan dengan postur kerja dapat

membantu mendapatkan postur kerja yang nyaman bagi pekerja, baik itu postur

kerja berdiri, duduk maupun postur kerja lainnya. Pada beberapa jenis pekerjaan

terdapat postur kerja yang tidak alami dan berlangsung dalam jangka waktu yang

Universitas Sumatera Utara

Page 36: ergonomi lanjut

lama. Hal ini akan mengakibatkan keluhan sakit pada bagian tubuh, cacat produk

bahkan cacat tubuh. Berikut ini beberapa hal yang harus diperhatikan berkaitan

dengan postur tubuh saat bekerja :

1. Semaksimal mungkin mengurangi keharusan pekerja untuk bekerja dengan

postur membungkuk dengan frekuensi kegiatan yang sering atau dalam jangka

waktu yang lama. Untuk mengatasi masalah ini maka stasiun kerja harus

dirancang dengan memperhatikan fasilitas kerjanya yang sesuai dengan

kondisi fisik pekerja, agar operator dapat menjaga postur kerjanya dalam

keadaan tegak dan normal. Ketentuan ini sangat ditekankan khususnya pada

pekerjaan yang harus dilaksanakan dalam keadaan berdiri.

2. Pekerja tidak seharusnya menggunakan jangkauan maksimum. Pengaturan

postur kerja dalam hal ini dilakukan dalam jarak jangkauan normal. Untuk

hal-hal tertentu operator harus mampu dan cukup leluasa mengatur tubuhnya

agar memperoleh postur kerja yang nyaman.

3. Pekerja tidak seharusnya duduk atau berdiri dengan leher, kepala, dada atau

kaki berada dalam posisi miring.

Beberapa sikap kerja yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut :

1. Hindari posisi kepala dan leher yang terlalu menengadah ke atas

2. Hindari tungkai yang menaik

3. Hindari postur memutar atau asimetris

4. Sediakan sandaran bangku yang cukup di setiap bangku

Universitas Sumatera Utara

Page 37: ergonomi lanjut

3.1.11. The Quick Exposure Check (QEC)

QEC adalah suatu alat untuk penilaian terhadap resiko kerja yang

berhubungan dengan ganguan otot (Work Related Musculoskeletal Disorders –

WMSDs) pada tempat kerja. QEC menilai gangguan resiko yang terjadi pada

bagian belakang punggung (back), bahu/lengan (should arm), pergelangan tangan

(hand wrist), dan leher (neck).

Alat ini mempunyai beberapa fungsi, antara lain :

a. Mengidentifikasi faktor resiko WMSDs

b. Mengevaluasi gangguan resiko untuk daerah/bagian tubuh yang berbeda-beda.

c. Mengevaluasi efektivitas dari suatu intervensi ergonomi di tempat kerja.

d. Menyarankan suatu tindakan yang perlu diambil dalam rangka mengurangi

gangguan resiko yang ada.

e. Mendidik para pemakai tentang resiko muskuloskeletal di tempat kerja.

Penilaian QEC dilakukan kepada peneliti dan pekerja. Selanjutnya dengan

penjumlahan setiap skor hasil kombinasi masing-masing bagian diperoleh skor

dengan kategori level tindakan.

Tabel 3.3. Penilaian Pekerja (Worker) QEC

Faktor Kode 1 2 3 4

Beban a ≤ 5 kg 6-10 kg 11-20 kg > 20 kg

Durasi b < 2 jam 2-4 jam > 4 jam

Kekuatan

tangan c <1 kg 1-4 kg 4 kg

Vibrasi d Tidak

ada/kecil Sedang Tinggi

Universitas Sumatera Utara

Page 38: ergonomi lanjut

Tabel 3.3. Penilaian Pekerja (Worker) QEC (Lanjutan)

Faktor Kode 1 2 3 4

Visual e Tidak

diperlukan

Diperlukan untuk

melihat detail

Langkah f Tidak susah Kadang-kadang

susah

Lebih sering

susah

Tingkat stres g Tidak ada Kecil Sedang tinggi

Sumber : www.hse.gov.uk

Tabel 3.4. Penilaian Observer QEC

Faktor Kode 1 2 3

Belakang A Hampir netral Berputar atau

bengkok sedikit

Cenderung

berputar atau

bengkok

Frekuensi pergerakan

bagian belakang B ≤ 3 / menit Kira-kira 8 / menit ≥12 / menit

Tinggi tugas C

Pada atau

setinggi

pinggang

Setinggi dada Setinggi bahu

Gerakan bahu /

lengan D Sesekali

Reguler / teratur

dengan jeda Hampir kontinu

Postur pergelangan

tangan/tangan E Hampir lurus Bengkok / berputar

Pergerakan

pergelangan

tangan/tangan

F ≤ 10 / menit 11-20 / menit ≥ 20 / menit

Postur leher G Hampir netral

Kadang-kadang

bengkok/berputar

secara berlebihan

pada kepala/leher

Bengkok/ berputar

secara berlebihan

pada kepala/leher

Sumber : www.hse.gov.uk

Universitas Sumatera Utara

Page 39: ergonomi lanjut

Tabel 3.5. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan Total Skor

Exposure 1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber : www.hse.gov.uk

Exposure level (E) dihitung berdasarkan persentase antara total skor aktual

exposure (X) dengan total skor maksimum (Xmaks) yaitu :

% 100 X

X (%) Emaks

×=

Dimana :

X = total skor yang diperoleh dari penilaian terhadap postur (punggung

+ bahu / lengan + pergelangan tangan + leher )

Xmaks = total skor maksimum untuk postur kerja ( punggung + bahu / lengan +

pergelangan tangan + leher ).

Xmaks adalah konstan untuk tipe-tipe tugas tertentu. Pemberian skor

maksimum (Xmaks = 162) apabila tipe tubuh adalah statis, termasuk duduk atau

berdiri dengan /tanpa pengulangan (repetitive) yang sering dan penggunaan

tenaga/beban yang relatif rendah. Untuk Pemberian skor maksimum (Xmaks = 176)

apabila dilakukan manual handling, yaitu mengangkat, mendorong, menarik, dan

membawa beban.

Universitas Sumatera Utara

Page 40: ergonomi lanjut

3.2. Statistik Deskriptif

Metode statistik adalah prosedur yang digunakan dalam pengumpulan,

penyajian, analisis dan penafsiran data. Metode tersebut terbagi dalam dua kelompok

yaitu statistika deskriptif dan inferensia statistik.

Statistika deskriptif adalah metode yang berkaitan dengan pengumpulan data

dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna.

Sedangkan inferensia statistik adalah metode yang berhubungan dengan analisis

sebagian data untuk kemudian sampai pada peramalan atau penarikan kesimpulan

mengenai keseluruhan data. Beberapa pengolahan data dalam statistika deskriptif

yaitu :

1. Perhitungan Rata-rata (Mean)

Perhitungan rata-rata biasanya dapat disingkat dengan rata-rata yaitu jumlah

dari semua data dibagi dengan banyaknya data. Rata-rata untuk sampel

biasanya dinyatakan dengan simbol X dan untuk populasi dinyatakan dengan

simbol µ. Data terbagi atas data yang dikelompokkan dan data yang tidak

dikelompokkan. Perhitungan rata-rata untuk data yang tidak dikelompokkan

yaitu dengan menjumlahkan semua data yang dibagi dengan banyaknya data

dapat dinyatakan dengan rumus:

X = n

Xin

i∑=1

Keterangan :

Σ = Tanda jumlah

n = Banyaknya data

Universitas Sumatera Utara

Page 41: ergonomi lanjut

Xi= Besarnya tiap-tiap data.

Untuk mencari rata-rata data yang dikelompokkan biasanya disusun dalam

distribusi frekuensi. Rata-ratanya dapat dicari dengan rumus:

X = ∑

=

=k

ii

n

iui

f

fX

1

1

Keterangan :

k = banyaknya kelas

f = frekuensi

2. Standar Deviasi

Standar deviasi menunjukkan penyimpangan data dari rata-ratanya. Pada

standar deviasi untuk menghilangkan pengaruh positif dan negatif selisih data

dengan rata-rata tidak dengan harga mutlak, tetapi dengan dikuadratkan

kemudian jumlah dari kuadratnya diakarkan. Standar deviasi untuk populasi

biasanya diberi simbol σ, sedangkan untuk sampel diberi simbol s. Rumus

untuk data yang tidak dikelompokkan adalah sebagai berikut:

σ = n

UXik

i∑=

−1

2)( atau ∑∑

==

−=n

i

n

iXiXin

n 1

2

1

2 )(.1σ

)1(

)( 2

1

−=∑=

n

XXis

n

i atau )1(

)(1 1

22

−=

∑ ∑= =

nn

XXns

n

i

n

iii

Universitas Sumatera Utara

Page 42: ergonomi lanjut

3. Nilai Maksimum dan Minimum

Nilai maksimum adalah nilai terbesar dari sejumlah data yang disimbolkan

dengan Xmaks. Nilai minimum adalah nilai terkecil dari sejumlah data

dilambangkan dengan Xmin.

4. Range

Range adalah wilayah sekumpulan data yang merupakan selisih antara

pengamatan terbesar dan pengamatan terkecil dengan rumus :

minXXR maks −=

5. Median

Median dari segugus data yang telah diurutkan dari data terbesar hingga data

terkecil adalah pengamatan yang tepat di tengah bila data itu ganjil atau rata-

rata dua pengamatan di tengah bila data itu genap. Untuk data yang telah

dikelompokkan rumus yang dipakai adalah:

−+=

2

2

221

f

FnCLM e

6. Modus

Modus segugus pengamatan adalah nilai yang paling sering terjadi atau

memiliki frekuensi yang paling tinggi.

+

+=21

1

dddCLM o

Universitas Sumatera Utara

Page 43: ergonomi lanjut

3.2.1. Statistik Nonparametrik

Istilah nonparametrik sendiri pertama kali digunakan oleh Wolfowitz,

1942. Istilah lain yang sering digunakan antara lain distribution-free statistics dan

assumption-free test. Dari istilah ini dengan mudah terlihat bahwa metode statistik

nonparametrik merupakan metode statistik yang dapat digunakan dengan

mengabaikan segala asumsi yang melandasi metode statistik parametrik terutama

yang berkaitan dengan distribusi normal.

Uji statistik parametrik diterapkan/dipakai sebagai uji statistik apabila

skala data/pengukuran sekurang-kurangnya berskala interval dan data yang

dimiliki terdistribusi normal. Apabila salah satu atau kedua syarat pada uji

statistik parametrik ini tidak terpenuhi, maka uji statistika parametrik tidak dapat

dipergunakan/diterapkan, sehingga diperlukan uji lain, yaitu uji statistik

nonparametrik.

Uji pada statistik nonparametrik digunakan pada saat berikut :

1. Apabila hipotesis yang harus diuji tidak melibatkan suatu parameter populasi.

2. Apabila data telah diukur dengan skala yang lebih lemah dibanding yang

dipersyaratkan oleh uji pada statistik parametrik yang semestinya digunakan.

Sebagai contoh, data mungkin terdiri atas data hitung atau data peringkat,

sehingga menghalangi penerapan uji pada statistik parametrik yang

semestinya lebih tepat.

3. Apabila asumsi yang diperlukan agar penggunaan suatu uji pada statistik

parametrik, misalnya data yang dimiliki terdistribusi normal, menjadi

kabur/tidak valid. Dalam banyak hal, rancangan suatu proyek riset mungkin

Universitas Sumatera Utara

Page 44: ergonomi lanjut

menganjurkan penggunaan uji pada statistik parametrik tertentu. Pemeriksaan

data mungkin mengungkapkan bahwa salah satu atau beberapa asumsi yang

mendasari pengujian betul-betul tidak dapat dipenuhi/dipatuhi. Dalam hal ini,

uji pada statistik nonparamaterik merupakan pengganti satu-satunya.

4. Apabila hasil riset harus segera disajikan dan perhitungan dikerjakan manual.

3.2.2. Uji Chi -Square (Uji Kai Kuadrat)16

Uji distribusi normal adalah uji untuk mengukur apakah data berdistribusi

normal sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik. Cara yang biasa dipakai

untuk menghitung masalah ini adalah Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov (K-

S). Kedua tes dinamakan masuk dalam kategori Goodness of Fit Test, yaitu uji

apakah data empirik yang didapatkan dari lapangan sesuai dengan distribusi

teoritik tertentu. Kedua uji ini memiliki perbedaan yang dapat dijadikan landasan

dalam memilih uji yang tepat untuk data yang akan diolah. Perbedaan tersebut

adalah sebagai berikut :

Tabel 3.3. Perbedaan Antara Chi-Square dan Kolmogorov-Smirnov

No. Chi-Square Test K-S Test 1. Ukuran sampel besar Ukuran sampel kecil 2. Mengelompokkan data ke

dalam kategori Data tidak dikelompokkan

3. Membandingkan distribusi teoritik dan empirik (observasi) berdasarkan kategori

Membandingkan frekuensi kumulatif distribusi teoritik dan frekuensi kumulatif distribusi empirik (observasi)

4. Dapat diaplikasikan ke distribusi diskrit dan kontiniu

Hanya untuk distribusi yang kontiniu

5. Approximate Exact Sumber : Engineering Statistic Handbook

16 Andi Supangat, Statistika dalam Kajian Deskriptif, Inferensi dan Nonparametrik, Jakarta, Kencana, 2008, p.307-311

Universitas Sumatera Utara

Page 45: ergonomi lanjut

Dalam statistik, chi-square (dilambangkan dengan X2) termasuk dalam

statistik nonparametrik. Distribusi nonparametrik adalah distribusi dimana

besaran-besaran populasi tidak diketahui. Distribusi ini sangat bermanfaat dalam

melakukan analisis statistik jika kita tidak memiliki informasi tentang populasi

atau jika asumsi-asumsi yang dipersyaratkan untuk penggunaan statistik

parametrik tidak terpenuhi. Pengujian menggunakan uji chi-square dilakukan

dengan membandingkan antara fakta yang diperoleh berdasarkan hasil observasi

dengan fakta yang didasarkan secara teoritis (yang diharapkan). Hal ini sejalan

dengan konsep kenyataan yang sering terjadi bahwa hasil observasi biasanya

selalu tidak tepat dengan yang diharapkan (tidak sesuai) dengan yang

direncanakan berdasarkan konsep dari teorinya (sesuai dengan aturan teori

probabilitas).

Tahap pengujian dengan menggunakan chi-squre pada dasarnya hanya

menentukan nilai berdasarkan hasil observasi dan harapannya untuk kemudian

dibandingkan dengan nilai berdasarkan nilai kritis yang menunjukkan luas di

bawah kurva berdasarkan tingkat kepercayaan dan derajat kebebasannya. Nilai

kritis tersebut ditetapkan dari tabel chi-square . Dalam menentukan uji nyata

dari suatu persoalan yang diungkapkan, jumlah derajat kebebasan (v) ditentukan

oleh:

a. v = k - 1, (k: banyaknya peristiwa yang terjadi)

Derajat kebebasan ini digunakan jika frekuensi yang diharapkan dapat

dihitung tanpa menduga parameter populasi dari statistik sampelnya.

Universitas Sumatera Utara

Page 46: ergonomi lanjut

b. v = k – 1 - m

Derajat kebebasan ini digunakan jika frekuensi yang diharapkan dapat

dihitung hanya dengan menduga m parameter populasi dari statistik

sampelnya.

c. Tingkat keyakinan (1- α) atau tingkat ketidakyakinan (taraf nyata) α

ditetapkan sebagai nilai kritis untuk menarik kesimpulan dari yang

diobservasi, selanjutnya dapat ditunjukkan ada beda atau tidaknya setelah

dibandingkan hasil perhitungan nilai yang diobservasi dan nilai

berdasarkan nilai kritisnya.

d. Penarikan kesimpulan untuk menyatakan ada beda atau tidak dinyatakan

sebagai berikut : jika > maka ada perbedaan yang nyata dan

jika < maka tidak ada perbedaan yang nyata antara hasil

observasi dan yang diharapkan.

e. Secara umum tahapan pengujian didasarkan pada penetapan hipotesis nol

(Ho), yaitu menetapkan kesimpulan sementara berdasarkan asumsi dari yang

membuat pengamatan sedangkan hipotesis alternatif (Ha) adalah kebalikan

dari hipotesis nol.

f. Untuk mengambil kesimpulan diterima atau ditolaknya kesimpulan semantara

(hipotesis) sering digunakan taraf nyata 1%, 5% dan 10% atau dengan kata

lain pengamatan dilakukan dengan tingkat keyakinan antara 99%, 95% dan

90%. Selanjutnya batas pengamatan ini dijadikan sebagai batas nilai kritis

untuk menolak atau menerima hipotesis dengan ketentuan seperti di atas.

Universitas Sumatera Utara

Page 47: ergonomi lanjut

g. Jika nilai mendekati nol, dapat diartikan bahwa frekuensi yang diamati

hampir sama dengan frekuensi yang diharapkan.

h. Uji chi-square dapat dipakai untuk menentukan apakah distribusi teoritis

seperti distribusi normal dan lainnya sesuai dengan distribusi empiris, yaitu

distribusi yang diperoleh dari data sampel yang dijadikan sebagai objek

pengamatan.

Universitas Sumatera Utara

Page 48: ergonomi lanjut

BAB IV

METODOLOGI PENELITIAN

4.1. Tempat dan Waktu Penelitian

Penelitian dilakukan di UD. Tiga Bawang yang beralamat di jalan Ujung

Serdang Pasar III Kecamatan Tanjung Morawa. UD. Tiga Bawang merupakan

usaha pembuatan keripik ubi dengan merek Dora yang mengolah 6 ton ubi kayu

setiap harinya.

Penelitian pendahuluan dilakukan pada tanggal 5 Juni 2009 untuk

mengetahui kondisi perusahaan dan menganalisa permasalahan yang terjadi di

usaha tersebut. Pengambilan data yang diperlukan untuk penelitian melalui

wawancara, observasi (pengamatan dan pengukuran secara langsung) dimulai

pada bulan Agustus hingga bulan November 2009.

4.2. Rancangan Penelitian

Studi pada penelitian ini dilakukan dengan 2 cara yaitu studi eksploratif

yang dilakukan pada penelitian pendahuluan untuk mengetahui secara mendalam

tentang kondisi perusahaan serta proses produksi sehingga dapat dirumuskan

permasalahan serta tujuan penelitian. Studi eksploratif yang dilakukan adalah

dengan cara mewawancarai pemilik perusahaan dan pekerja. Wawancara

dilakukan untuk mengetahui tentang sejarah dan latar belakang perusahaan dan

juga mengetahui keluhan yang dialami oleh pekerja.

Universitas Sumatera Utara

Page 49: ergonomi lanjut

Studi yang kedua adalah studi deskriptif dengan jenis studi kasus, yaitu penelitian

yang berusaha untuk memaparkan pemecahan masalah terhadap suatu masalah

yang ada sekarang secara sistematis dan faktual berdasarkan data-data. Jadi

penelitian ini meliputi proses pengumpulan, penyajian, dan pengolahan data, serta

analisis dan interpretasi. Studi ini dilakukan dengan mengumpulkan data keluhan

muskuloskeletal, dimensi mesin perajang dan data antropometri pekerja dengan

melakukan pengukuran secara langsung.

4.3. Objek Penelitian

Objek yang diteliti pada penelitian ini adalah fasilitas kerja perajangan ubi

kayu, operator laki-laki di UD. Tiga Bawang dan prosedur kerja pada stasiun

perajangan. Pada stasiun perajangan terdapat tiga fasilitas kerja yang dioperasikan

oleh tiga operator. Operator bertugas merajang ubi kayu dari stasiun pengupasan

yang diangkut ke stasiun perajangan oleh petugas transportasi. Petugas

transportasi bertugas menyediakan input atau bahan-bahan yang diperlukan oleh

setiap stasiun kerja dan mengangkat output dari stasiun kerja tersebut ke stasiun

kerja berikutnya.

4.4. Variabel Penelitian

Variabel adalah setiap hal dalam suatu penelitian yang datanya diperlukan

untuk penelitian tersebut (Mustafa, 2006). Pada penelitian ini terlebih dahulu

dilakukan pengumpulan dan pengolahan data tingkat keluhan muskuloskeletal dan

postur kerja aktual operator pada stasiun perajang untuk mengidentifikasi keluhan

Universitas Sumatera Utara

Page 50: ergonomi lanjut

muskuloskeletal dan postur kerja yang tidak ergonomis pada operator perajangan.

Dari hasil pengolahan data dirumuskan perbaikan rancangan yang akan dilakukan

pada fasilitas kerja yaitu penyesuian dimensi fasilitas kerja dengan dimensi tubuh

operator, perbaikan bentuk dan bahan yang digunakan, dan perbaikan prosedur

kerja. Dari perbaikan dimensi fasilitas kerja dapat ditentukan variabel penelitian

yaitu data antropometri yang sesuai untuk melakukan perbaikan rancangan terdiri

dari tinggi bahu duduk, lebar pinggul pada posisi duduk, panjang popliteal, tinggi

popliteal dan jangkauan tangan. Variabel berikutnya adalah dimensi fasilitas

kerja. Untuk perbaikan prosedur kerja diperlukan variabel waktu dan urutan

proses kerja aktual.

Variabel dalam penelitian ini dibedakan atas variabel bebas (yang

mempengaruhi) dan variabel terikat (variabel akibat). Yang merupakan variabel

terikat adalah dimensi dan postur kerja pada fasilitas kerja usulan, sedangkan

variabel bebasnya adalah:

1. Data keluhan muskuloskeletal operator di stasiun perajangan. Diukur

dengan menggunakan Standart Nordic Questionnaire.

2. Postur kerja aktual operator pada stasiun perajangan. Diukur dengan

menggunakan Quick Exposure Check (QEC).

3. Data antropometri operator, yaitu:

a. Tinggi bahu duduk, digunakan untuk menentukan tinggi maksimal

fasilitas kerja. Diukur dengan menggunakan human body martin.

b. Lebar pinggul pada posisi duduk, digunakan untuk menentukan lebar

kursi operator. Diukur dengan menggunakan human body martin.

Universitas Sumatera Utara

Page 51: ergonomi lanjut

c. Panjang popliteal, digunakan untuk menentukan kedalaman kursi

operator. Diukur dengan menggunakan kursi antropometri.

d. Tinggi popliteal, digunakan untuk menentukan tinggi kursi. Diukur

dengan menggunakan human body martin.

e. Jangkauan tangan, digunakan untuk menentukan lebar fasilitas kerja.

Diukur dengan menggunakan human body martin.

4. Data dimensi fasilitas kerja

Dimensi yang diukur meliputi : tinggi mata pisau dari lantai, ukuran lubang

untuk memasukkan ubi serta panjang, tinggi dan lebar tempat duduk yang

digunakan. Diukur dengan menggunakan meteran.

5. Data waktu dan urutan proses kerja aktual pada stasiun perajangan. Diukur

dengan menggunakan stopwatch.

4.5. Instrumen Penelitian

Penelitian ini menggunakan beberapa instrumen untuk membantu dalam

pengumpulan data. Instrumen yang digunakan yaitu :

1. Panduan wawancara

Berisi pertanyaan-pertanyaan yang diajukan ketika melakukan wawancara

dengan pemilik usaha dan karyawan. Panduan wawancara ini dapat dilihat

pada lampiran.

2. Standart Nordic Questionnaire

Digunakan untuk mengetahui keluhan muskuloskeletal yang dialami operator

di stasiun perajangan.

Universitas Sumatera Utara

Page 52: ergonomi lanjut

3. Kamera digital (merek Sony, 8 Megapixel)

Digunakan untuk mengambil foto postur kerja operator di stasiun perajangan.

4. Human body martin ( model YM-1)

Digunakan untuk mengukur dimensi tubuh operator.

5. Kursi antropometri ( model YM-1)

Digunakan untuk mengukur dimensi tubuh operator dalam posisi duduk

6. Meteran (merek Crossman, 5 m-Pro Power Tape dengan ketelitian 1mm.

Digunakan untuk mengukur dimensi fasilitas kerja

7. Stopwatch (merek Apparatus, tipe TN 102)

Digunakan untuk mengukur waktu proses perajangan ubi kayu di stasiun

perajangan.

4.6. Pelaksanaan Penelitian

Penelitian dilaksanakan dengan terlebih dahulu melakukan penelitian

pendahuluan di perusahaan untuk mengidentifikasi masalah kemudian

merumuskan masalah dan tujuan penelitian. Penelitian pendahuluan ini

dilaksanakan pada tanggal 5 Juni 2009. Tahap berikutnya adalah pengumpulan

data yang diperlukan untuk penelitian.

4.6.1. Pengumpulan Data

4.6.1.1. Sumber Data

Jenis data yang dikumpulkan pada penelitian ini adalah data primer. Data

primer adalah data yang diperoleh dari pengamatan dan pengukuran langsung

Universitas Sumatera Utara

Page 53: ergonomi lanjut

terhadap objek penelitian di lapangan. Data yang dikumpulkan dengan cara ini

adalah gambaran umum perusahaan, proses pembuatan produk, mesin yang

digunakan perusahaan, data keluhan muskuloskeletal, data postur kerja aktual

operator, data antropometri operator, data waktu dan uraian proses kerja di stasiun

perajangan, dan data dimensi fasilitas kerja. Pengambilan data gambaran umum

perusahaan, proses pembuatan produk, mesin yang digunakan perusahaan dan

data lain yang dianggap perlu untuk penelitian ini dilaksanakan tanggal 10 – 14

Agustus 2009, data keluhan muskuloskeletal dan penilaian postur kerja operator

pada tanggal 8 Oktober 2009, pengukuran antropometri operator dilaksanakan

pada tanggal 28-29 Oktober 2009 dan pengukuran data waktu dan uraian proses

kerja dilaksanakan pada 21 November 2009.

4.6.1.2. Cara Pengumpulan Data

Data yang dibutuhkan dalam penelitian ini dikumpulkan dengan cara

sebagai berikut:

1. Wawancara

Melakukan tanya jawab dan diskusi tentang hal yang berhubungan dengan

penelitian dengan pimpinan atau karyawan.

2. Kuesioner

Menyebarkan Standart Nordic Questionnaire (SNQ) yang berisi daftar

pertanyaan kepada operator mesin perajang yaitu sebanyak tiga operator

untuk mengidentifikasi keluhan muskuloskeletal.

Universitas Sumatera Utara

Page 54: ergonomi lanjut

3. Observasi

Melakukan pengamatan dan pengukuran langsung di lapangan yaitu

melakukan pengamatan mesin dan proses produksi, pengukuran dimensi

fasilitas kerja, pengamatan dan pengambilan foto postur kerja aktual operator,

pengukuran dan pengamatan waktu dan uraian proses pada stasiun

perajangan, dimensi tubuh operator dan sebagainya.

Data pertama yang dikumpulkan adalah data keluhan muskuloskeletal

yang diidentifikasi melalui Standart Nordic Questionnare (SNQ) yang disebarkan

kepada operator di stasiun perajangan yang berjumlah 3 orang operator untuk

mengetahui tingkat keluhan muskuloskeletal yang dialami operator. sampel ini

diambil dengan teknik pengambilan sampel dengan tujuan tertentu (purposive

sample) dengan cara mengambil subjek didasarkan atas strata, random atau daerah

didasarkan atas tujuan tertentu. Kemudian dilakukan dilakukan penilaian postur

kerja aktual dengan menggunakan Quick Exposure Check (QEC) untuk

mengetahui gerakan yang tidak sesuai dengan postur kerja alami manusia. Dari

hasil pengolahan data SNQ dan QEC dapat diketahui bagian tubuh operator yang

mengalami keluhan sakit dan pegal serta postur kerja yang tidak alamiah yang

menjadi masalah dan diupayakan penyelesaiannya dengan penelitian ini.

Data yang dikumpulkan selanjutnya adalah data antropometri operator

yang didapat dengan melakukan pengukuran dimensi tubuh operator laki-laki di

UD. Tiga Bawang yang berusia antara 20 sampai 35 tahun.

Universitas Sumatera Utara

Page 55: ergonomi lanjut

Dimensi fasilitas kerja selanjutnya diukur untuk menentukan dimensi

aktual sehingga dapat dianalisa bagian yang perlu diperbaiki untuk mendapatkan

usulan perbaikan rancangan fasilitas kerja.

Data waktu dan urutan proses perajangan pada stasiun perajangan

selanjutnya diukur dan dikumpulkan sebagai data dalam pembuatan peta pekerja

dan mesin sehingga dapat dianalisa hubungan kerjasama antara fasilitas kerja

dengan operator dan hubungan tersebut dapat dibandingkan setelah dilakukan

usulan perbaikan rancangan fasilitas kerja.

4.7. Pengolahan Data

Pengolahan data terdiri dari :

1. Pengolahan Standart Nordic Questionnaire (SNQ).

SNQ yang telah dibagikan kepada operator mesin perajang yaitu sebanyak 3

operator direkapitulasi kemudian dilakukan pengolahan sehingga dapat

diketahui tingkat keluhan muskuloskeletal yang dialami operator.

2. Penilaian postur kerja dengan Quick Exposure Check (QEC).

Postur kerja aktual operator dianalisa dan dinilai dengan menggunakan QEC

sehingga dapat diketahui skor penilaian postur kerja dan level resiko. Dari

hasil pengolahan data dapat dirumuskan tindakan perbaikan yang mungkin

dilakukan terhadap fasilitas kerja berdasarkan hasil pengolahan SNQ dan

QEC.

Universitas Sumatera Utara

Page 56: ergonomi lanjut

3. Uji kenormalan data antropometri.

Pengujian ini bertujuan untuk mengetahui apakah data diperoleh telah

memenuhi distribusi normal atau dapat didekati oleh distribusi normal

sehingga dapat dipakai dalam statistik parametrik. Pada penelitian ini uji

kenormalan data dilakukan dengan model chi-square dengan bantuan

software SPSS 15.0 for Windows. Metode Chi-Square digunakan karena data

antropometri yang digunakan adalah data parametrik yang dapat diketahui

nilai parameter/statistik data (rata-rata, standar deviasi, dan sebagainya),

merupakan data kontiniu (hasil pengukuran), dan ukuran sampel memenuhi

(34 sampel) sehingga metode Chi-Square dapat digunakan untuk melakukan

uji kenormalan data. Program ini akan secara otomatis menampilkan output

uji kenormalan data yang diinputkan.

4. Uji keseragaman data antropometri.

Uji keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data dimensi tubuh

yang diambil seragam atau berada pada batas kendali atas (BKA) dan dan

batas kendali bawah (BKB). Apabila dalam satu pengukuran terdapat satu

jenis atau lebih data tidak seragam maka data tersebut akan langsung ditolak

atau dilakukan revisi dengan cara membuang data out of control tersebut dan

melakukan perhitungan kembali. Pada penelitian ini peneliti menggunakan

tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% karena tujuan penelitian

yaitu merancang fasilitas kerja yang ergonomis tidak berpengaruh langsung

atau tidak memberikan dampak secara langsung terhadap tujuan pendirian

usaha tersebut yaitu memperoleh profit dari hasil penjualan untuk menambah

Universitas Sumatera Utara

Page 57: ergonomi lanjut

kesejahteraan karyawan, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dan

tingkat ketelitian 5% peneliti yakin data yang disajikan layak untuk membuat

rancangan fasilitas kerja tersebut. Persamaan yang digunakan untuk menguji

keseragaman data adalah:

σ2+= XBKA σ2−= XBKB

Jika X min > BKB dan Xmax < BKA maka data seragam.

Jika X min < BKB dan Xmax > BKA maka data tidak seragam.

5. Uji kecukupan data antropometri.

Uji kecukupan data dilakukan untuk mengetahui apakah data dimensi tubuh

operator yang telah dikumpulkan dan telah melewati uji sebelumnya sudah

mencukupi untuk melakukan perbaikan rancangan mesin perajang. Untuk uji

kecukupan data dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat kepercayaan 95%

digunakan persamaan :

2

1

2

11

240'

=

∑∑

=

==

n

ii

n

ii

n

ii

X

XXNN

Keterangan:

NI = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan (dari hasil perhitungan)

N = Pengamatan pendahuluan

Jika NI < N, maka data pengamatan cukup

Jika NI > N, maka data pengamatan kurang dan perlu tambahan data.

Universitas Sumatera Utara

Page 58: ergonomi lanjut

6. Penentuan usulan dimensi fasilitas kerja.

Data antropometri hasil pengukuran yang telah melewati uji statistik

selanjutnya menjadi ukuran untuk menentukan dimensi fasilitas kerja usulan

yang sesuai dengan dimensi operator.

7. Pembuatan peta pekerja dan mesin sekarang.

Data waktu dan urutan proses perajangan ubi kayu digambarkan dalam

sebuah peta yaitu peta pekerja dan mesin sekarang sebelum dilakukan

perbaikan. Langkah-langkah pembuatan peta kerja dan mesin adalah sebagai

berikut:

4. Nyatakan identifikasi peta yang dibuat.

Biasanya dibagian paling atas kertas dinyatakan “ PETA PEKERJA DAN

MESIN “ sebagai kepalanya, kemudian diikuti oleh informasi-informasi

yang melengkapi, meliputi : nomor peta, nama pekerja yang dipetakan,

metoda sekarang atau usulan, tanggal dipetakan, dan nama orang yang

membuat peta tersebut.

5. Uraikan semua elemen pekerjaan yang terjadi.

Tiga jenis kolom (bar) digunakan untuk melambangkan elemen-elemen

yang bersangkutan. Kolom-kolom tersebut dibuat memanjang dari atas

hingga ke bawah dengan panjang masing-masing sebanding dengan

lamanya waktu pelaksanaan elemen pekerjaan tersebut.

6. Buatlah kesimpulan dalam bentuk ringkasan yang memuat waktu

menganggur dan waktu kerja, sehingga dapat diketahui penggunaan waktu

Universitas Sumatera Utara

Page 59: ergonomi lanjut

dari pekerja atau mesin tersebut. Satuan waktu biasanya digunakan dalam

detik.

4.8. Analisis Pemecahan Masalah

Analisis dan pemecahan masalah yang dilakukan adalah sebagai berikut :

1. Analisis hasil SNQ yang telah dibagikan kepada tiga operator fasilitas kerja

perajangan untuk mengetahui keluhan tingkat muskuloskeletal yang dialami

oleh operator yang menjadi landasan dalam menentukan perbaikan rancangan

fasilitas kerja.

2. Analisis postur kerja aktual pada fasilitas perajangan untuk mengetahui

gerakan yang tidak sesuai dengan postur kerja alami manusia sehingga dapat

ditentukan bagian-bagian fasilitas kerja yang harus diperbaiki.

3. Analisis kondisi aktual fasilitas kerja sehingga dimensi, bahan dan bentuk

yang tidak ergonomis dapat diperbaiki.

4. Analisis prosedur kerja aktual. Analisis ini dilakukan dengan menganalisis

hubungan antara operator dan fasilitas kerja ketika melaksanakan proses

perajangan ubi kayu dari peta manusia dan mesin sekarang.

5. Perancangan fasilitas kerja usulan. Hal yang menjadi pertimbangan adalah

dimensi, bahan dan bentuk yang tidak ergonomis sehingga dengan

dilakukannya perbaikan rancangan fasilitas kerja operator nyaman

mengoperasikan fasilitas kerja tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Page 60: ergonomi lanjut

6. Analisis postur kerja pada fasilitas kerja usulan. Postur kerja dianalisis

melalui gambar usulan yang memperlihatkan penggunaan fasilitas kerja

usulan.

7. Membandingkan fasilitas kerja aktual dengan fasilitas kerja usulan.

8. Membuat peta manusia dan mesin usulan.

Pembuatan peta manusia dan mesin usulan dilakukan untuk mendapatkan

perbaikan prosedur kerja berdasarkan peta pekerja dan mesin sekarang.

9. Membuat prosedur kerja baru sesuai dengan penggunaan fasilitas kerja

usulan.

10. Membandingkan prosedur kerja aktual dengan prosedur kerja usulan.

4.9. Kesimpulan dan Saran

Tahap terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan yang berisi

butir penting dalam penelitian ini. Kesimpulan merupakan perumusan dari tahap

analisis sebelumnya. Saran-saran yang diberikan berguna untuk perbaikan hasil

penelitian dan pemberian saran kepada pihak perusahaan untuk

mengimplementasikan hasil penelitian ini. Blok diagram metodologi penelitian

dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Universitas Sumatera Utara

Page 61: ergonomi lanjut

Studi Pendahuluan Melakukan pengamatan langsung ke tempat usaha

Melakukan Identifikasi MasalahPerumusan masalah & tujuan penelitian

Studi PustakaLiteratur antropometri, postur kerja, peta kerja, uji statistik

dan perancangan fasilitas kerja yang ergonomis

Penentuan Data yang dikumpulkan Tahap I : - Gambaran umum perusahaan - Proses produksi dan mesin yang digunakan - Data tingkat keluhan muskuloskeletal - Data postur kerja aktual

Penentuan Instrumen Penelitian : - Standart Nordic Questionnaire (SNQ) - Kamera

Teknik Pengumpulan Data Secara Langsung : - Wawancara dengan pemilik usaha dan karyawan - Observasi ke tempat usaha - Penyebaran SNQ

Pengumpulan Data Tahap I (Data Primer) : - Penyebaran dan rekapitulasi SNQ - Penilaian postur kerja aktual

Pengolahan Data : - Pengolahan SNQ - Penentuan skor dan level resiko postur kerja aktual - Merumuskan tindakan perbaikan rancangan fasilitas kerja - Penentuan dimensi antropometri yang sesuai

Penentuan Variabel Penelitian - Dimensi fasilitas kerja - Waktu dan uraian proses perajangan

Penentuan Instrumen Penelitian - Human body martin - Kursi antropometri - Meteran - Stopwatch

Teknik Pengumpulan Data Secara LangsungMelakukan observasi ke tempat usaha

Pengolahan Data : - Uji kenormalan data - Uji keseragaman - Uji kecukupan data - Perhitungan dimensi rancangan fasilitas kerja

Analisis Pemecahan Masalah - Analisis tingkat keluhan Muskuloskeletal - Analisis postur kerja aktual - Analisis kondisi fasilitas kerja aktual - Analisis peta pekerja dan mesin sekarang (prosedur kerja aktual) - Perancangan fasilitas kerja usulan - Analisis postur kerja pada fasilitas kerja usulan - Membandingkan fasilitas kerja aktual dengan usulan - Pembuatan peta pekerja dan mesin usulan - Pembuatan prosedur kerja yang baru - Membandingkan prosedur kerja aktual dengan usulan

Kesimpulan dan Saran

Pengumpulan Data Tahap II (Data Primer) : - Dimensi tubuh operator - Dimensi fasilitas kerja aktual - Pembuatan peta pekerja dan mesin sekarang

Gambar 4.1. Blok Diagram Metodologi Penelitian

Universitas Sumatera Utara

Page 62: ergonomi lanjut

BAB V

PENGUMPULAN DAN PENGOLAHAN DATA

5.1. Data Keluhan Muskuloskeletal

Data yang dikumpulkan merupakan data primer yang dihasilkan melalui

pengisian SNQ. Data tersebut direkapitulasi dengan melakukan pembobotan

untuk mengetahui tingkat keluhan muskuloskeletal pada tiap bagian tubuh dengan

masing-masing kategori rasa sakit, sehingga dapat diketahui bagian tubuh mana

yang paling merasakan sakit untuk dilakukan perbaikan rancangan fasilitas kerja

yang dapat meminimalkan rasa sakit tersebut. Rekapitulasi bobot SNQ dapat

dilihat pada Tabel 5.1. Nilai bobot pada masing-masing kategori tersebut yaitu:

Tidak sakit : bobot 0

Agak sakit : bobot 1

Sakit : bobot 2

Sangat sakit : bobot 3

Kategori rasa sakit yang dirasakan saat bekerja adalah sebagai berikut:

Tidak sakit : Bagian tubuh operator tidak terasa nyeri sedikitpun karena

kontraksi otot yang terjadi berjalan normal, biasanya hal ini

terjadi jika bagian tubuh tidak langsung bersentuhan dengan

benda kerja.

Agak sakit : Bagian tubuh operator mulai terasa nyeri, namun rasa nyeri yang

timbul tidak membuat operator jenuh atau cepat lelah.

Universitas Sumatera Utara

Page 63: ergonomi lanjut

Sakit : Bagian tubuh operator merasakan nyeri yang cukup hebat dan

keadaan ini membuat operator mulai jenuh dan cepat lelah.

Sangat sakit : Bagian tubuh operator merasakan nyeri yang sangat luar biasa

disertasi dengan ketegangan (kontraksi otot yang sangat hebat)

sehingga membuat operator merasakan jenuh dan kelelahan yang

cukup besar.

Universitas Sumatera Utara

Page 64: ergonomi lanjut

Tabel 5.1. Hasil Pengolahan Standart Nordic Questionnaire

No. Operator Pertanyaan Ke Total keluhan 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28

1 Operator 1 1 1 3 3 2 1 2 1 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 1 1 1 1 0 0 0 0 24 2 Operator 2 0 0 3 3 2 1 2 1 3 3 2 2 2 2 3 1 2 1 3 3 0 0 2 2 0 0 0 0 20 3 Operator 3 0 0 3 3 2 1 2 1 3 3 2 2 2 2 3 2 2 2 3 3 1 1 0 0 0 0 0 0 20

Sumber : Hasil Penyebaran Standart Nordic Questionnaire

Keterangan :

1. Sakit pada leher bagian atas

2. Sakit pada leher bagian bawah

3. Sakit pada bahu kiri

4. Sakit pada bahu kanan

5. Sakit pada lengan atas bagian kiri

6. Sakit pada punggung

7. Sakit pada lengan atas bagian kanan

8. Sakit pada pinggang ke belakang

9. Sakit pada pinggul ke belakang

Universitas Sumatera Utara

Page 65: ergonomi lanjut

10. Sakit pada pantat

11. Sakit pada siku kiri

12. Sakit pada siku kanan

13. Sakit pada lengan bawah bagian kiri

14. Sakit pada lengan bawah bagian kanan

15. Sakit pada pergelangan tangan kiri

16. Sakit pada pergelangan tangan kanan

17. Sakit pada telapak tangan kiri

18. Sakit pada telapak tangan kanan

19. Sakit pada paha kiri

20. Sakit pada paha kanan

21. Sakit pada lutut kiri

22. Sakit pada lutut kanan

23. Sakit pada betis kiri

24. Sakit pada betis kanan

25. Sakit pada pergelangan kaki kiri

26. Sakit pada pergelangan kaki kanan

27. Sakit pada telapak kaki kiri

28. Sakit pada telapak kaki kanan

Universitas Sumatera Utara

Page 66: ergonomi lanjut

Hasil pengolahan data SNQ dapat dilihat pada Tabel 5.1. Histogram hasil

pengolahan SNQ dapat dilihat pada Gambar 5.1. dari histogram dapat diketahui

masing-masing kategori rasa sakit yang dirasakan oleh operator pada bagian tubuh

tertentu, yaitu :

1. Operator 1 merasakan sangat sakit pada bahu kiri, bahu kanan, pinggul ke

belakang, pantat, pergelangan tangan kiri, paha kiri dan paha kanan.

Merasakan sakit pada lengan atas bagian kiri, lengan atas bagian kanan, siku

kiri, siku kanan, lengan bawah bagian kiri, lengan bawah bagian kanan,

pergelangan tangan kanan dan telapak tangan kiri. Merasakan agak sakit pada

leher bagian atas, leher bagian bawah, punggung, pinggang ke belakang,

telapak tangan kanan, lutut kiri, lutut kanan, betis kiri dan betis kanan.

2. Operator 2 merasakan sangat sakit pada bahu kiri, bahu kanan, pinggul ke

belakang, pantat, pergelangan tangan kiri, paha kiri dan paha kanan.

Merasakan sakit pada lengan atas bagian kiri, lengan atas bagian kanan, siku

kiri, siku kanan, lengan bawah bagian kiri, lengan bawah bagian kanan,

telapak tangan kanan, telapak tangan kiri betis kiri dan betis kanan.

Merasakan agak sakit pada pergelangan tangan kanan, punggung dan

pinggang ke belakang.

3. Operator 3 merasakan sangat sakit pada bahu kiri, bahu kanan, pinggul ke

belakang, pantat, pergelangan tangan kiri, paha kiri dan paha kanan.

Merasakan sakit pada lengan atas bagian kiri, lengan atas bagian kanan,

pergelangan tangan kanan, siku kiri, siku kanan, lengan bawah bagian kiri,

lengan bawah bagian kanan dan telapak tangan. Merasakan agak sakit pada

Universitas Sumatera Utara

Page 67: ergonomi lanjut

punggung telapak tangan kanan, pinggang ke belakang, lutut kiri dan lutut

kanan.

Dari hasil tersebut dapat diketahui kategori rasa sakit dirasakan oleh ketiga

operator pada bagian tubuh tertentu yaitu kategori sangat sakit, sakit, agak sakit

dan tidak sakit. Bagian tubuh yang mengalami kategori sangat sakit disebabkan

oleh postur kerja yang tidak alamiah dan sering terjadi gerakan secara berulang-

ulang (frekuensinya lebih dari 10x / menit) dalam waktu yang lama (jam kerja

operator 10 jam/hari) karena menjangkau ubi yang akan dirajang dilanjutkan

dengan merajang ubi. Bagian tubuh yang mengalami kategori sakit disebabkan

oleh postur kerja yang tidak alamiah dan terjadi gerakan secara berulang-ulang

dalam frekuensi > 10 x / menit karena mendorong ubi ke perajangan. Bagian

tubuh yang mengalami kategori agak sakit terjadi karena postur tubuh statis dan

tidak alamiah yang terjadi dalam waktu yang lama karena duduk dan harus

meletakkan kaki diantara keranjang penampung ubi.

Hasil tersebut juga memperlihatkan perbedaan kategori rasa sakit yang

terjadi pada bagian tubuh yang sama antar operator yaitu sebagai berikut :

1. Pergelangan tangan kanan

Operator 1 dan 3 merasakan sakit, sementara operator 2 merasakan agak

sakit.

2. Telapak tangan kanan

Operator 2 merasakan sakit, sementara operator 1 dan 3 merasakan agak

sakit.

Universitas Sumatera Utara

Page 68: ergonomi lanjut

3. Betis kiri

Operator 2 merasakan sakit, operator 1 merasakan agak sakit dan operator 3

merasakan tidak sakit.

4. Betis kanan

Operator 2 merasakan sakit, operator 1 merasakan agak sakit dan operator 3

merasakan tidak sakit.

Perbedaan kategori sakit yang dirasakan oleh operator disebabkan

berbedanya antropometri operator pada setiap bagian tubuhnya. Contohnya

operator pada ukuran paling maksimum (paling panjang) pada tangan belum

tentu berada pada ukuran maksimum pada bagian tubuh yang lain. Untuk

mengatasi hal tersebut perlu dilakukan penyesuain rancangan fasilitas kerja

dengan antropometri operator. Perbedaan ini juga disebabkan oleh tata letak

komponen pada masing-masing tempat kerja yang belum teratur. Masalah

tersebut dapat diatasi dengan melakukan pengaturan tata letak komponen

sehingga tata letak lebih teratur dan benda kerja berada jangkauan operator

dengan postur kerja yang alamiah.

5.2. Penilaian Postur Kerja Aktual dengan Quick Exposure Check (QEC)

Pengambilan data dilakukan dengan pengamatan serta pengambilan foto

postur kerja operator pengukuran serta pengamatan waktu dan uraian proses pada

stasiun perajangan. Selanjutnya dilakukan penilaian postur kerja aktual operator

pada stasiun perajangan dengan menggunakan QEC untuk merumuskan perbaikan

Universitas Sumatera Utara

Page 69: ergonomi lanjut

rancangan yang akan dilakukan terhadap fasilitas kerja berdasarkan tingkat

keluhan muskuloskeletal dan penilaian postur kerja tersebut.

Kondisi stasiun perajangan dapat dilihat pada Gambar 5.2. Layout kerja

karyawan dapat dilihat pada Gambar 5.3.

Gambar 5.2. Stasiun Perajangan

Layout kerja karyawan dan aliran bahan pada stasiun perajangan adalah

sebagai berikut:

1

4

2

3

65

B

AC

1

4

2

3

65

B

AC

1

4

2

3

65

B

AC

Gambar 5.3. Layout Kerja Karyawan

Universitas Sumatera Utara

Page 70: ergonomi lanjut

Keterangan:

1. Tumpukan ubi kayu sebelum dirajang

2. Tumpukan keranjang kosong yang akan dijadikan tempat penampung ubi

3. Mesin perajang

4. Keranjang penampung ubi yang telah dirajang

5. Tempat duduk operator

6. Ubi yang telah dirajang dan akan dibawa ke stasiun pencucian

Aliran bahannya adalah sebagai berikut:

A. Operator mengambil ubi di atas lantai yang berada di samping kanan operator

B. Ubi yang telah dirajang ditampung dengan keranjang

C. Keranjang yang telah penuh diangkat ke samping kiri operator

Pengolahan data dilakukan dengan menggunakan software Quick

Exposure Check for Work-Related Musculoskeletal Risk 2003 Version. Elemen

kerja dari kegiatan perajangan, antara lain :

1. Menumpuk ubi kayu

Operator menumpuk ubi kayu di sekitar fasilitas kerja dengan jarak ± 50cm

dari tempat duduk operator.

Gambar 5.4. Menumpuk Ubi Kayu

Universitas Sumatera Utara

Page 71: ergonomi lanjut

Tabel 5.2. Skor Postur Kerja Menumpuk Ubi Kayu

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 16 2 Bahu/lengan 18 3 Pergelangan tangan/tangan 22 4 Leher 8 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 68 Sumber: Hasil pengolahan data

Persentase Exposure Level (E) dengan menggunakan rumus :

%100)(max

00 ×=

XXE

Dimana :

X = Total skor postur

Xmax = Total skor postur statis (162)

Sehingga :

%42%10016268(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.3.

Tabel 5.3. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

Universitas Sumatera Utara

Page 72: ergonomi lanjut

2. Mengambil keranjang kosong.

Operator mengambil keranjang kosong dari samping kanan dan meletakkan di

bawah mata pisau untuk menampung hasil rajangan dengan jarak ± 40cm dari

operator.

Gambar 5.5. Mengambil Keranjang Kosong

Tabel 5.4. Skor Postur Kerja Mengambil Keranjang Kosong

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 12 2 Bahu/lengan 22 3 Pergelangan tangan/tangan 10 4 Leher 8 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 56 Sumber: Hasil pengolahan data

%35%10016256(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.5.

Universitas Sumatera Utara

Page 73: ergonomi lanjut

Tabel 5.5. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

3. Mengatur posisi ujung goni

Operator mengatur posisi ujung goni mengarah ke keranjang dengan jarak ±

15 cm dari operator

Gambar 5.6. Mengatur Posisi Ujung Goni

Tabel 5.6. Skor Postur Kerja Mengatur Posisi Ujung Goni

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 10 2 Bahu/lengan 18 3 Pergelangan tangan/tangan 14 4 Leher 8 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 54 Sumber: Hasil pengolahan data

Universitas Sumatera Utara

Page 74: ergonomi lanjut

%33%10016254(%) =×=E

Kategori level resiko yang ditunjukkan Tabel 5.7.

Tabel 5.7. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

4. Menjangkau ubi kayu

Operator menjangkau ubi kayu yang akan dirajang dengan jarak ± 30 cm dari

operator.

Gambar 5.7. Menjangkau Ubi Kayu

Universitas Sumatera Utara

Page 75: ergonomi lanjut

Tabel 5.8. Skor Postur Kerja Menjangkau Ubi Kayu

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 18 2 Bahu/lengan 18 3 Pergelangan tangan/tangan 14 4 Leher 8 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 62 Sumber: Hasil pengolahan data

%38%10016262(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.9.

Tabel 5.9. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

Universitas Sumatera Utara

Page 76: ergonomi lanjut

5. Merajang ubi kayu

Gambar 5.8. Merajang Ubi Kayu

Tabel 5.10. Skor Postur Kerja Merajang Ubi Kayu

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 20 2 Bahu/lengan 20 3 Pergelangan tangan/tangan 20 4 Leher 12 5 Kekuatan tangan 4 6 Getaran 4 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 82 Sumber: Hasil pengolahan data

%51%10016282(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.11.

Universitas Sumatera Utara

Page 77: ergonomi lanjut

Tabel 5.11. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

6. Memasukkan ubi kayu yang masih menempel di goni ke keranjang

Gambar 5.9. Memasukkan Ubi ke Keranjang

Tabel 5.12. Skor Postur Kerja Memasukkan Ubi ke Keranjang

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 14 2 Bahu/lengan 18 3 Pergelangan tangan/tangan 18 4 Leher 6 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 60 Sumber: Hasil pengolahan data

Universitas Sumatera Utara

Page 78: ergonomi lanjut

%37%10016260(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.13.

Tabel 5.13. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

7. Mengangkat keranjang ke samping kiri operator dengan jarak ± 40cm dari

operator

Gambar 5.10. Mengangkat Keranjang ke Samping Kiri

Universitas Sumatera Utara

Page 79: ergonomi lanjut

Tabel 5.14. Skor Postur Kerja Mengangkat Keranjang ke Samping Kiri

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 16 2 Bahu/lengan 24 3 Pergelangan tangan/tangan 26 4 Leher 6 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 76 Sumber: Hasil pengolahan data

%47%10016276(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 5.15.

Tabel 5.15. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

Universitas Sumatera Utara

Page 80: ergonomi lanjut

Rekapitulasi analisis postur kerja dapat dilihat pada Tabel 5.16.

Tabel 5.16.Rekapitulasi Hasil Analisis Postur Kerja

No. Elemen Kerja Persentase Tindakan 1 Menumpuk ubi kayu

42 Diperlukan beberapa waktu

ke depan 2 Mengambil keranjang kosong

35 Aman

3 Mengatur posisi ujung goni 33 Aman

4 Menjangkau ubi kayu 38 Aman

5 Merajang ubi kayu 51 Tindakan dalam waktu dekat

6 Memasukkan Ubi ke Keranjang

37 Aman

7 Mengangkat keranjang ke samping kiri

47 Diperlukan beberapa waktu ke depan

Sumber: Hasil pengolahan data

Pada elemen kerja mengambil keranjang kosong, mengatur posisi ujung

goni, menjangkau ubi kayu, dan memasukkan ubi ke keranjang berada pada level

aman. Sementara elemen kerja menumpuk ubi, merajang ubi dan mengangkat

keranjang ke samping kiri postur kerjanya kurang baik disebabkan oleh hal-hal

sebagai berikut :

1. Menumpuk ubi kayu, disebabkan oleh posisi belakang punggung dalam

keadaan membungkuk dan gerakan lengan dan pergelangan tangan yang

kontiniu dan posisi leher yang membungkuk.

2. Merajang ubi kayu, disebabkan oleh posisi belakang punggung yang kadang-

kadang dalam keadaan membungkuk, tinggi tugas setinggi dada dan gerakan

lengan dan pergelangan tangan yang kontiniu.

3. Mengangkat keranjang ke samping kiri, disebabkan oleh posisi belakang

punggung yang kadang-kadang dalam keadaan membungkuk, bangku yang

Universitas Sumatera Utara

Page 81: ergonomi lanjut

kurang fleksibel, gerakan lengan dan pergelangan tangan yang kontiniu dan

posisi leher yang membungkuk.

Dari hasil pengolahan keluhan muskuloskeletal dengan SNQ bahwa

tingkat muskuloskeletal tertinggi dialami operator pada bahu kiri, bahu kanan,

pinggul ke belakang, pantat, pergelangan tangan kiri, paha kiri, dan paha kanan.

Dari penilaian postur kerja dengan QEC dapat disimpulkan bahwa terjadi postur

kerja yang tidak ergonomis pada operator yang disebabkan oleh posisi belakang

punggung dalam keadaan membungkuk, gerakan lengan dan pergelangan tangan

yang kontiniu dan posisi leher yang membungkuk. Hal ini disebabkan oleh

fasilitas kerja yang tidak ergonomis terutama pada tempat duduk operator yang

menyebabkan posisi punggung belakang sering membungkuk untuk menjangkau

benda kerja. Untuk mengatasi hal tersebut adalah dengan melakukan perbaikan

rancangan pada tempat duduk operator agar sesuai dengan antropometri pekerja

dan bentuk serta bahan yang digunakan dapat memberikan kenyamanan pada

operator. Dimensi tubuh yang perlu diukur untuk mendapatkan data antropometri

yang akan dijadikan acuan dalam penentuan dimensi tempat duduk adalah lebar

pinggul digunakan untuk menentukan lebar tempat duduk, panjang popliteal

digunakan untuk menentukan kedalaman tempat duduk, tinggi popliteal

digunakan untuk menentukan tinggi tempat duduk dan jangkauan tangan

digunakan untuk menentukan jangkauan maksimum operator.

Posisi mata pisau juga harus disesuaikan dengan postur duduk operator

sehingga posisi mata pisau tetap berada pada jangkauan operator. Dimensi tubuh

Universitas Sumatera Utara

Page 82: ergonomi lanjut

yang perlu diukur adalah tinggi bahu duduk digunakan untuk menentukan tinggi

maksimum mata pisau.

5.3. Data Antropometri

Untuk memperbaiki dimensi fasilitas kerja dilakukan pengukuran dimensi

tubuh operator. Data dimensi tubuh yang diperlukan berdasarkan hasil

pengukuran dapat dilihat pada Tabel 5.17.

Tabel 5.17. Data Antropometri Operator (dalam cm)

No. TBD LPD Ppo Tpo JKT 1 63,3 31,6 47,5 43,5 76,5

2 64,4 32 48 44,7 78,3

3 62,8 32,9 49,6 45 78,2

4 64,7 31,9 48,2 44,5 77

5 63,5 32,7 47 43,6 76,9

6 64,5 32 47,5 44,7 78,5

7 62,9 32,6 49 44,9 78,6

8 63 32,2 47,2 43,1 76

9 64,2 32,9 48,9 44,9 77,9

10 63,7 31,8 47,2 44 78

11 63,6 31,5 47,5 44,2 78,1

12 63,2 32,4 48 44,3 78,1

13 63,5 31,7 49,5 45 78,6

14 63,9 32,5 48,2 44,9 77,5

15 63,7 32 46,9 43 76,1

16 64 32,4 49,3 44,8 78

17 62,9 31,8 46,8 43,1 76,3

18 63,1 32,6 49 44,7 78,2

19 64,3 32,7 48,2 44 78,5

20 63,3 32,3 47,3 43,8 76,9

21 63,9 32,9 47,5 43,8 76,7

22 63,5 31,8 48,5 43,9 77

23 63,6 32,1 49,5 44,8 78,6

24 63,4 32 48,2 44,2 77,8

25 62,8 32,1 47 43,3 76,2

26 64 33 47,5 43,5 76,6

Universitas Sumatera Utara

Page 83: ergonomi lanjut

Tabel 5.17. Data Antropometri Operator (Lanjutan)

No. TBD LPD Ppo Tpo JKT 27 63 33,2 48,2 43,9 76,8 28 64,3 31,8 49 44,5 76,7 29 64,1 32,5 48,2 44,1 77,1 30 62,5 32,8 47 43,1 76,2 31 63,5 33 47,5 43,2 76,2 32 64,2 32,6 48 44,4 78,1 33 62,6 31,9 49,6 44,8 78,3 34 62,9 32,6 48,2 44,1 76,9

Sumber : Hasil Pengukuran

Keterangan :

TBD = Tinggi bahu pada posisi duduk

LPD = Lebar pinggul pada posisi duduk

Ppo = Panjang popliteal

Tpo = Tinggi popliteal

JKT = Jangkauan tangan

5.4. Data Dimensi Fasilitas Kerja Aktual

Fasilitas kerja yang digunakan di UD. Tiga Bawang bermerek Daito

Cooper, tipe YCL80B-4, ½ HP, 1400 rpm. Gambar fasilitas kerja aktual dapat

dilihat pada Gambar 5.11. Data dimensi fasilitas kerja aktual dapat dilihat pada

Tabel 5.18.

Universitas Sumatera Utara

Page 84: ergonomi lanjut

Gambar 5.11. Fasilitas Kerja Aktual

Tabel 5.18. Data Dimensi Fasilitas Kerja Aktual

No

Dimensi

Ukuran (cm)

1 Jarak mata pisau ke lantai 60 2 Diameter pisau 35 3 Panjang lubang masuk ubi 12 4 Lebar lubang masuk ubi 10 5 Diameter bangku 21 6 Tinggi bangku 18,5 7 Diameter wadah penampung 30 8 Tinggi wadah penampung 20

Sumber : Hasil Pengukuran

Data antropometri hasil pengukuran diolah untuk dijadikan sebagai acuan

untuk menentukan dimensi fasilitas kerja yang baru. Data tersebut akan melewati

beberapa uji agar layak untuk membuat dimensi atau ukuran dalam perancangan

yang terdiri dari uji kenormalan data, keseragaman data dan kecukupan data.

Universitas Sumatera Utara

Page 85: ergonomi lanjut

5.5. Uji Kenormalan Data dengan Chi-Square

Salah satu syarat penggunaan data antropometri yang akan diaplikasikan

pada perancangan fasilitas untuk populasi tertentu adalah data harus berdistribusi

normal, sehingga perlu dilakukan uji normalitas. Pada penelitian ini pengujian

kenormalan data dilakukan dengan metode Chi-Square menggunakan software

SPSS 15.0 for windows. Metode Chi-Square digunakan karena data antropometri

yang digunakan adalah data parametrik yang dapat diketahui nilai

parameter/statistik data (rata-rata, standar deviasi, dan sebagainya), merupakan

data kontiniu (hasil pengukuran), dan ukuran sampel memenuhi (34 sampel)

sehingga metode Chi-Square dapat digunakan untuk melakukan uji kenormalan

data. Hasil seluruh pengujian dinyatakan normal karena chi kuadrat (X2) hitung <

chi kuadrat (X2) tabel. Pengujian kenormalan data dapat dilihat pada lampiran dan

hasilnya dapat dilihat pada Tabel 5.19.

Tabel 5.19. Uji Kenormalan Data dengan Chi-Square

No

Dimensi

Chi kuadrat (X2) hitung

Chi kuadrat (X2) tabel

Keterangan

1 TBD 7,176 30,14 Normal 2 LPD 10,000 26,30 Normal 3 Ppo 19,529 22,36 Normal 4 Tpo 5,176 27,59 Normal 5 JKT 7,176 30,14 Normal

Sumber : Hasil pengolahan data

5.6. Uji Keseragaman Data

Uji keseragaman data dilakukan untuk mengetahui apakah data dimensi

tubuh yang diambil seragam atau berada pada batas kendali atas (BKA) dan batas

Universitas Sumatera Utara

Page 86: ergonomi lanjut

kendali bawah (BKB). Apabila dalam suatu pengukuran terdapat satu jenis atau

lebih data tidak seragam maka data tersebut akan langsung ditolak atau dilakukan

revisi dengan cara membuang data out of control tersebut dan melakukan

perhitungan kembali. Pada penelitian ini peneliti menggunakan tingkat

kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5% karena tujuan penelitian yaitu

merancang fasilitas kerja yang ergonomis tidak berpengaruh langsung atau tidak

memberikan dampak secara langsung terhadap tujuan pendirian usaha tersebut

yaitu memperoleh profit dari hasil penjualan untuk menambah kesejahteraan

karyawan, sehingga dengan tingkat kepercayaan 95% dan tingkat ketelitian 5%

peneliti yakin data yang disajikan layak untuk membuat rancangan fasilitas kerja

tersebut. Persamaan yang digunakan untuk menguji keseragaman data adalah :

σ2+= XBKA σ2−= XBKB

Jika X min > BKB dan Xmax < BKA maka data seragam.

Jika X min < BKB dan Xmax > BKA maka data tidak seragam.

Contoh perhitungan untuk tinggi bahu duduk :

nX

nXXX nn ∑=+++

=Χ....21

Dimana:

n = Banyaknya pengamatan

= Jumlah pengamatan ke n dari i = 1 hingga j = 34

= Nilai rata-rata

cm55,6334

8,216034

9,62...8,624,643,63==

++++=Χ

nXΣ

X

Universitas Sumatera Utara

Page 87: ergonomi lanjut

( )1

)( 1

2

−==∑=

n

XXSD

n

ii

σ

Nilai standar deviasi untuk data tinggi bahu duduk adalah :

59,0134

)55,639,62...()55,634,64()55,633,63()(222

=−

−+−+−== σSD

BKA = 63,55 + (2 x 0,59)

= 64,73 cm

BKB = 63,55 – (2 x 0,59)

= 62,38 cm

Output dari uji keseragaman data untuk dimensi tinggi bahu duduk dapat dilihat

pada Gambar 5.12.

Gambar 5.12. Peta Kontrol Dimensi Tinggi Bahu Duduk

Dari pengolahan data di atas dapat dilihat bahwa data tinggi bahu duduk

berada dalam batas kendali, hal ini berarti data tersebut seragam. Peta kontrol

dimensi tubuh yang lain dengan pengolahan data yang sama untuk dimensi tubuh

61

61,5

62

62,5

63

63,5

64

64,5

65

1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33

TBD

rata-rata

BKA

BKB

Universitas Sumatera Utara

Page 88: ergonomi lanjut

yang lain dapat dilihat pada lampiran. Hasil uji keseragaman data dapat dilihat

pada Tabel 5.20.

Tabel 5.20. Uji Keseragaman Data Antropometri

No Dimensi σ BKA BKB Keterangan 1 TBD 63,55 0,59 64,7 62,5 64,73 62,38 Seragam 2 LPD 32,32 0,46 33,2 31,5 33,25 31,39 Seragam 3 Ppo 48,08 0,86 49,6 46,8 49,80 46,36 Seragam 4 Tpo 44,13 0,64 45 43 45,40 42,85 Seragam 5 JKT 77,39 0,88 78,6 76 79,15 75,64 Seragam

Sumber : Hasil pengolahan data

5.7. Uji Kecukupan Data

Uji kecukupan data digunakan untuk membuktikan bahwa data yang

diambil sudah mewakili populasi yang ingin diteliti. Pengujian kecukupan data

sangat dipengaruhi oleh besarnya:

1. Tingkat ketelitian (dalam persen), yaitu penyimpangan maksimum dari hasil

pengukuran terhadap nilai yang sebenarnya.

2. Tingkat kepercayaan (dalam persen), yaitu besarnya keyakinan atau

probabilitas bahwa data terletak pada tingkat ketelitian yang telah ditentukan.

Untuk uji kecukupan data dengan tingkat ketelitian 5% dan tingkat kepercayaan

95% digunakan persamaan :

2

1

2

11

240'

=

∑∑

=

==

n

ii

n

ii

n

ii

X

XXNN

X

Universitas Sumatera Utara

Page 89: ergonomi lanjut

Keterangan:

'N = Jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan (dari hasil perhitungan)

N = Pengamatan pendahuluan

Jika NI < N, maka data pengamatan cukup

Jika NI > N, maka data pengamatan kurang dan perlu tambahan data.

Contoh perhitungan untuk dimensi tinggi bahu duduk :

cmXi 8,21069,62...8,624,643,63 =++++=∑

222222 cm 137336,69,62...8,624,643,63 =++++=∑ Xi

222 cm4669056,648,2106)( ==∑ X

13,08,2106

64,46690566,137336*3440'

2

=

−=N

Hasil pengolahan data yang dilakukan didapat < N (0,13 < 34), maka

dapat disimpulkan data yang diperoleh sudah cukup. Uji kecukupan data pada

dimensi antropometri lainnya dapat dilihat pada Tabel 5.21.

Tabel 5.21. Uji Kecukupan Data Antropometri

No Dimensi N Keterangan 1 TBD 34 2160,8 137336,6 4669056,64 0,13 Cukup 2 LPD 34 1098,8 35517,78 1207361,44 0,32 Cukup 3 Ppo 34 1634,7 78619,77 2672244,09 0,50 Cukup 4 Tpo 34 1500,3 66216,39 2250900,09 0,32 Cukup 5 JKT 34 2631,4 203680,26 6924265,96 0,20 Cukup

Sumber : Hasil pengolahan data

Xi∑ 2Xi∑ 2)( Xi∑ 'N

'N

Universitas Sumatera Utara

Page 90: ergonomi lanjut

5.8. Penentuan Dimensi Produk yang Akan Dirancang

Data antropometri digunakan sebagai data untuk perancangan peralatan.

Tiga prinsip antropometri yang digunakan dalam perancangan suatu produk

adalah :

1. Prinsip penggunaan data antropometri yang ekstrem

2. Prinsip penggunaan data antropometri rata-rata

3. Prinsip penggunaan data antropometri yang dapat disesuaikan.

Pengolahan data untuk menentukan dimensi rancangan mesin perajang ini

menggunakan prinsip penggunaan data antropometri yang ekstrim dengan tujuan

hasil rancangan dapat digunakan dengan nyaman oleh seluruh populasi yang ada

di UD. Tiga Bawang. Dimensi mesin tersebut adalah:

1. Lebar Dudukan Kursi (LDK)

a. Dimensi : Lebar Pinggul duduk

b. Ukuran data : Terbesar

c. Kelonggaran : Tidak ada

d. LDK : 33,2 cm

3. Panjang Dudukan Kursi (PDK)

a. Dimensi : Panjang popliteal

b. Ukuran data : Terbesar

c. Kelonggaran : tidak ada

d. PDK : 49,6 cm

4. Tinggi Dudukan Kursi (TDK)

a. Dimensi : Tinggi popliteal

Universitas Sumatera Utara

Page 91: ergonomi lanjut

b. Ukuran data : Terkecil

c. Kelonggaran : tidak ada

d. TDK : 43 cm

5. Jarak Ubi yang Akan Dirajang ke Mesin

a. Dimensi : Jangkauan Tangan

b. Ukuran data : Terkecil

c. Kelonggaran : tidak ada

d. Jarak Ubi : 76 cm

6. Tinggi Mata Pisau (TMP)

a. Dimensi : tinggi bahu duduk + tinggi popliteal

b. Ukuran data : Terkecil

c. Kelonggaran : tidak ada

d. TMP : 62,5 cm + 43 cm = 105,5 cm

7. Tinggi Wadah Penampung Ubi Sebelum Dirajang

a. Dimensi : tinggi bahu duduk + tinggi popliteal – 20 cm

b. Ukuran data : Terkecil

c. Kelonggaran : 20 cm

d. Tinggi wadah : 62,5 cm + 43 cm – 20 = 85,5 cm

e. Tinggi meja penopang : 85,5 – 25 (tinggi keranjang) = 60,5 cm

Hasil perhitungan akan digunakan untuk ukuran dalam usulan rancangan

mesin perajang.

Universitas Sumatera Utara

Page 92: ergonomi lanjut

5.9. Peta Pekerja dan Mesin Sekarang

Dari peta pekerja dan mesin sekarang dapat dilihat hubungan antara

pekerja dan mesin aktual. Peta pekerja dan mesin sekarang dapat dilihat pada

Gambar 5.13.

PETA PEKERJA DAN MESIN

PEKERJAAN : MERAJANG UBI KAYU NAMA MESIN : MESIN PERAJANG UBI KAYU PEKERJA : OPERATOR 1 SEKARANG DIPETAKAN OLEH : WINDI WIGUNA

TANGGAL : 18 NOV 2009

USULAN

Mengumpulkan ubi kayu di atas lantai dan menumpuknya di sekitar mesin

OPERATOR MESINWaktu (det)

Operasi Lambang

Mengambil keranjang kosong dari samping kanan operator untuk menampung hasil rajangan

Mengatur posisi ujung goni yang diikatkan pada mesin perajang mengarah ke keranjang agar hasil rajangan jatuh tepat ke dalam keranjang. Menjangkau ubi kayu ke-1 yang akan dirajang dari lantai

Mendorong sisa ubi kayu ke-1 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-2

Memegang ubi kayu ke-1 yang sedang dirajang

79

6

3

2

6

2

1

6

Merajang ubi kayu

Memegang ubi kayu ke-2 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu

Menunggu

Menunggu

Menunggu

Menunggu

Menunggu

Waktu (det)Operasi Lambang

79

6

6

6

2

1

2

3

Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-1 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-2 yang akan dirajang dari lantai

Memegang sisa ubi kayu ke-2 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-3 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-2 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-3 1

6Memegang ubi kayu ke-3 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-3 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-4 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-3 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-4 1

6Memegang ubi kayu ke-4 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Gambar 5.13. Peta Pekerja dan Mesin Sekarang

Universitas Sumatera Utara

Page 93: ergonomi lanjut

PETA PEKERJA DAN MESIN

PEKERJAAN : MERAJANG UBI KAYU NAMA MESIN : MESIN PERAJANG UBI KAYU PEKERJA : OPERATOR 1 SEKARANG DIPETAKAN OLEH : WINDI WIGUNA

TANGGAL : 18 NOV 2009

USULAN

OPERATOR MESINWaktu (det)

Operasi Lambang

Mendorong sisa ubi kayu ke-4 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-5

2

1

6

Memegang ubi kayu ke-5 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu

Menunggu

Waktu (det)Operasi Lambang

6

2

1Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-4 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-5 yang akan dirajang dari lantai

Memegang sisa ubi kayu ke-5 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-6 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-5 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-6 1

6Memegang ubi kayu ke-6 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-6 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-7 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-6 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-7 1

6Memegang ubi kayu ke-7 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-7 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-8 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-7 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-8 1

6Memegang ubi kayu ke-8 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Memegang sisa ubi kayu ke-8 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-9 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-8 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-9 1

6Memegang ubi kayu ke-9 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

Gambar 5.13. Peta Pekerja dan Mesin Sekarang (Lanjutan)

Universitas Sumatera Utara

Page 94: ergonomi lanjut

W = Waktu dalam detik

OPERATOR MESIN

187 69

- 118

187 187

WAKTU KERJA

WAKTU MENGANGGUR

WAKTU TOTAL

100% 0,37%PERSENTASE PENGGUNAAN

Memasukkan ubi kayu yang masih menempel di goni ke keranjang

Mengangkat keranjang ke samping kiri operator

8

2

Menunggu

Menunggu

8

2

Memegang sisa ubi kayu ke-9 yang belum terajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-10 yang akan dirajang dari lantai

2

Menunggu 2

Mendorong sisa ubi kayu ke-9 yang belum terajang dengan ubi kayu ke-10 1

6Memegang ubi kayu ke-10 yang sedang dirajang

Merajang ubi kayu 6

1Merajang ubi kayu

PETA PEKERJA DAN MESIN

PEKERJAAN : MERAJANG UBI KAYU NAMA MESIN : MESIN PERAJANG UBI KAYU PEKERJA : OPERATOR 1 SEKARANG DIPETAKAN OLEH : WINDI WIGUNA

TANGGAL : 18 NOV 2009

USULAN

OPERATOR MESINWaktu (det)

Operasi LambangWaktu (det)

Operasi Lambang

Gambar 5.13. Peta Pekerja dan Mesin Sekarang (Lanjutan)

Universitas Sumatera Utara

Page 95: ergonomi lanjut

BAB VI

ANALISA DAN EVALUASI

6.1. Analisa Tingkat Keluhan Muskuloskeletal

Dari hasil pengolahan Standart Nordic Questionnaire (SNQ) persamaan

dan perbedaan tingkat dan kategori rasa sakit pada bagian tubuh operator. Untuk

tingkat dan kategori rasa sakit yang sama, keluhan muskuloskeletal disebabkan

oleh :

1. Kategori sangat sakit

Disebabkan oleh postur kerja yang tidak alamiah dan sering terjadi gerakan

secara berulang-ulang (frekuensinya lebih dari 10 x/menit) dalam waktu yang

lama (jam kerja operator 10 jam/hari).

2. Kategori sakit disebabkan oleh postur kerja yang tidak alamiah dan terjadi

gerakan secara berulang-ulang dalam frekuensi > 10 x / menit.

3. Kategori agak sakit terjadi karena postur tubuh statis dan tidak alamiah yang

terjadi dalam waktu yang lama.

Untuk tingkat kategori rasa sakit yang berbeda pada bagian tubuh yang

disebabkan berbedanya antropometri operator pada setiap bagian tubuhnya.

Contohnya operator pada ukuran paling maksimum (paling panjang) pada tangan

belum tentu berada pada ukuran maksimum pada bagian tubuh yang lain. Untuk

mengatasi hal tersebut perlu dilakukan penyesuain rancangan fasilitas kerja

dengan antropometri operator. Perbedaan ini juga disebabkan oleh tata letak

Universitas Sumatera Utara

Page 96: ergonomi lanjut

komponen pada masing-masing tempat kerja yang belum teratur. Masalah tersebut

dapat diatasi dengan melakukan pengaturan tata letak komponen sehingga tata

letak lebih teratur dan benda kerja berada jangkauan operator dengan postur kerja

yang ergonomis.

6.2. Analisa Postur Kerja Aktual

Dari hasil penilaian postur kerja dengan menggunakan metode QEC, pada

elemen kerja mengambil keranjang kosong, mengatur posisi ujung goni,

menjangkau ubi kayu, dan memasukkan ubi ke keranjang berada pada level aman.

Sementara elemen kerja menumpuk ubi, merajang ubi dan mengangkat keranjang

ke samping kiri postur kerja yang tidak ergonomis disebabkan oleh hal-hal

sebagai berikut :

4. Menumpuk ubi kayu, disebabkan oleh posisi belakang punggung dalam

keadaan membungkuk dan gerakan lengan dan pergelangan tangan yang

kontiniu dan posisi leher yang membungkuk.

5. Merajang ubi kayu, disebabkan oleh posisi belakang punggung yang kadang-

kadang dalam keadaan membungkuk, tinggi tugas setinggi dada dan gerakan

lengan dan pergelangan tangan yang kontiniu.

6. Mengangkat keranjang ke samping kiri, disebabkan oleh posisi belakang

punggung yang kadang-kadang dalam keadaan membungkuk, bangku yang

kurang fleksibel, gerakan lengan dan pergelangan tangan yang kontiniu dan

posisi leher yang membungkuk.

Universitas Sumatera Utara

Page 97: ergonomi lanjut

Dari hasil penilaian postur kerja tersebut dapat diketahui bahwa terdapat beberapa

postur kerja yang tidak ergonomis.

6.3. Analisa Kondisi Aktual Fasilitas Kerja

Fasilitas kerja yang digunakan di stasiun perajangan dianalisa kondisinya

untuk dilakukan perbaikan dan dibandingkan dengan fasilitas kerja pada usulan

perbaikan.

Pada fasilitas kerja aktual jarak mata pisau ke lantai 60 cm, hal ini

menyebabkan posisi operator pada saat mengoperasikan mesin harus

menyesuaikan dengan tinggi tempat duduk sehingga terjadi sikap kerja yang tidak

alamiah terutama pada kaki operator dengan posisi mengapit wadah penampung

ubi hasil rajangan dan tidak dapat bergerak dengan leluasa karena terbatasnya

ruang gerak operator. Lubang tempat masuk ubi kayu yang akan dirajang terlalu

dekat dengan mata pisau sehingga dapat menimbulkan resiko tangan tergores atau

terpotong dan lubang tersebut berbentuk persegi panjang yang kurang sesuai

dengan bentuk ubi kayu. Bentuk alas duduk (bangku) operator yang berbentuk

tabung dengan tinggi 18,5 cm dan diameter 21 cm tidak sesuai dengan

antropometri operator serta bahan yang digunakan yaitu kayu tidak memberikan

kenyamanan terutama pada bagian dudukan karena bahan tersebut terlalu keras.

Operator harus memutar badan untuk mengangkat keranjang penampung

ubi hasil rajangan ke samping kiri operator dan menjangkau ubi yang akan

dirajang serta sekali-kali harus berdiri jika jarak ubi yang akan dijangkau terlalu

jauh. Ubi kayu yang akan dirajang diletakkan di atas lantai dengan posisi di

Universitas Sumatera Utara

Page 98: ergonomi lanjut

samping kanan tempat duduk operator. Hal ini merupakan sikap kerja yang tidak

alamiah yang dapat menyebabkan keluhan muskuloskeletal jika terjadi secara

terus-menerus.

Ubi hasil rajangan terkadang tidak jatuh persis di wadah penampung

sehingga ubi yang jatuh tersebut tidak mengikuti proses berikutnya dan menjadi

limbah, hal ini disebabkan penyekat di belakang mata pisau terlalu pendek. Pada

fasilitas kerja aktual untuk mencegah hal tersebut diikatkan goni pada bagian

belakang mata pisau. Operator harus mengatur posisi goni pada bagian bawah

mengarah ke dalam keranjang dan ketika keranjang tersebut penuh operator harus

membersihkan goni dari ubi hasil rajangan yang menempel. Hal ini menyebabkan

waktu menganggur bagi fasilitas kerja.

6.4. Analisa Prosedur Kerja Aktual

UD. Tiga Bawang belum mempunyai prosedur yang baku atau tertulis

bagi karyawan dalam menjalankan proses kerja. Dari peta pekerja dan mesin

sekarang dapat disimpulkan bahwa pada prosedur kerja pada fasilitas kerja aktual

terlalu banyak menganggur sedangkan waktu operator lebih banyak bekerja tanpa

melibatkan fasilitas kerja. Persentase aktivitas produktif operator adalah 100%

sedangkan fasilitas kerja hanya 0,37% dan selama operator bekerja independen

mesin perajang tetap dihidupkan sehingga terjadi pemborosan sumber daya yang

digunakan. Untuk itu prosedur kerja aktual perlu diperbaiki sehingga kerja

manusia dan mesin lebih seimbang dan karyawan dapat menjalankan proses kerja

dengan seragam dan gerakan yang efisien.

Universitas Sumatera Utara

Page 99: ergonomi lanjut

6.5. Usulan Rancangan Fasilitas Kerja yang Baru

Bentuk, ukuran dan bahan yang digunakan untuk tempat duduk operator

diganti. Bahan dudukan dibuat dari busa bantalan yang rapat dengan ketebalan 1,3

cm yang dilapisi kulit sintetis sehingga lebih nyaman saat diduduki, tidak licin,

mudah dibersihkan, tidak menyerap air dan tahan lama. Rangka kursi terbuat dari

stainless steel sehingga tahan karat. Hal ini cocok untuk kondisi di stasiun

perajangan yang selalu basah karena air yang berasal dari ubi yang telah dirajang.

Fasilitas kerja dilengkapi dengan tempat ubi kayu yang akan dirajang sehingga

mudah dijangkau oleh operator. Wadah berbahan plastik tersebut diletakkan di

atas landasan yang terbuat dari stainless steel dengan posisi di sebelah kiri

operator agar beban kerja lebih merata dan operator dapat menggunakan tangan

kiri dan tangan kanan secara bersamaan ketika proses perajangan berlansung.

Lubang mata pisau dirancang dengan bentuk tabung sehingga sesuai

dengan bentuk ubi kayu dan mencegah jari operator bersentuhan langsung dengan

mata pisau. Diameter lubang tersebut adalah 10 cm sesuai dengan ukuran

maksimal ubi kayu yang akan dirajang. Pada bagian bawah mata pisau dilengkapi

dengan plat yang terbuat dari baja karbon agar ubi hasil perajangan jatuh persis ke

dalam wadah penampung dan mencegah ubi kayu jatuh ke lantai.

Fasilitas kerja dirancang sesuai dengan antropometri seluruh operator laki-

laki di UD. Tiga Bawang agar rancangan ergonomis sehingga dapat mengurangi

postur kerja yang tidak alamiah yang dapat menyebabkan keluhan

muskuloskeletal. Ukuran fasilitas kerja usulan berdasarkan hasil pengolahan data

yaitu sebagai berikut:

Universitas Sumatera Utara

Page 100: ergonomi lanjut

1. Jarak mata pisau ke lantai 105,5 cm

2. Tinggi wadah ubi kayu sebelum dirajang 85,5 cm

3. Jarak wadah ubi kayu sebelum dirajang ke mata pisau 76 cm

4. Tinggi kursi operator 43 cm

5. Panjang dudukan kursi 49,6 cm

6. Lebar dudukan kursi 33,2 cm

Gambar hasil rancangan fasilitas kerja usulan dapat dilihat pada Gambar

6.1.- 6.5.

Gambar 6.1. Fasilitas Kerja Usulan Pandangan Depan

Universitas Sumatera Utara

Page 101: ergonomi lanjut

Gambar 6.2. Fasilitas Kerja Usulan Pandangan Belakang

Gambar 6.3. Fasilitas Kerja Usulan Pandangan Samping Kanan

Universitas Sumatera Utara

Page 102: ergonomi lanjut

Gambar 6.4. Fasilitas Kerja Usulan Pandangan Samping Kiri

6.6. Analisa Postur Kerja pada Fasilitas Kerja Usulan

Analisa postur kerja ini dilakukan berdasarkan gambar pada fasilitas kerja

usulan. Gambar tersebut dapat dilihat pada Gambar 6.5.-6.6. Penilaian postur

kerja dengan menggunakan metode QEC untuk setiap elemen kerja dari kegiatan

perajangan, antara lain :

Universitas Sumatera Utara

Page 103: ergonomi lanjut

1. Menjangkau ubi kayu dari keranjang di samping kiri operator.

Gambar 6.5. Menjangkau Ubi Kayu

Tabel 6.1. Skor Postur Kerja Menjangkau Ubi Kayu

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 10 2 Bahu/lengan 14 3 Pergelangan tangan/tangan 10 4 Leher 4 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 42 Sumber: Hasil pengolahan data

%26%10016242(%) =×=E

Universitas Sumatera Utara

Page 104: ergonomi lanjut

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 6.2.

Tabel 6.2. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

2. Merajang ubi kayu.

Gambar 6.6. Merajang Ubi Kayu

Universitas Sumatera Utara

Page 105: ergonomi lanjut

Tabel 6.3. Skor Postur Kerja Merajang Ubi Kayu

No. Kategori Skor 1 Belakang punggung 16 2 Bahu/lengan 16 3 Pergelangan tangan/tangan 20 4 Leher 8 5 Kekuatan tangan 1 6 Getaran 1 7 Langkah 1 8 Tingkat stres 1

Total 64 Sumber: Hasil pengolahan data

%40%10016264(%) =×=E

Kategori level resiko ditunjukkan Tabel 6.4.

Tabel 6.4. Nilai Level Tindakan QEC

Level Tindakan

Persentase Skor Tindakan

Total Skor Exposure

1 0-40% Aman 32-70

2 41-50% Diperlukan beberapa waktu ke depan 71-88

3 51-70% Tindakan dalam waktu dekat 89-123

4 71-100% Tindakan sekarang juga 124-176

Sumber: Hasil pengolahan data

Dari hasil penilaian postur kerja dengan menggunakan metode QEC untuk

setiap elemen kerja dari kegiatan perajangan pada fasilitas kerja usulan didapatkan

hasil semua elemen kerja berada pada level aman.

Universitas Sumatera Utara

Page 106: ergonomi lanjut

6.7. Peta Pekerja dan Mesin Usulan

Hubungan antara pekerja dan mesin pada usulan perbaikan rancangan

fasilitas kerja dapat dilihat pada Gambar 6.7.

PETA PEKERJA DAN MESIN

PEKERJAAN : MERAJANG UBI KAYU NAMA MESIN : MESIN PERAJANG UBI KAYU PEKERJA : OPERATOR 1 SEKARANG DIPETAKAN OLEH : WINDI WIGUNA

TANGGAL : 26 NOV 2009

USULAN

OPERATOR MESINWaktu (det)

Operasi LambangMenjangkau ubi kayu ke-1 yang akan dirajang dari keranjang dengan tangan kananMemegang ubi kayu ke-1 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-2

2

6

6

Merajang ubi kayu

Menunggu

Waktu (det)Operasi Lambang

6

2

6

6

6

6

Memegang ubi kayu ke-2 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-3

Merajang ubi kayu 6

Memegang ubi kayu ke-3 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-4

Memegang ubi kayu ke-4 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-5

Memegang ubi kayu ke-5 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-6

Memegang ubi kayu ke-6 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-7

Memegang ubi kayu ke-7 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-8

Memegang ubi kayu ke-8 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-9

Memegang ubi kayu ke-9 yang sedang dirajang dengan tangan kiri dan tangan kanan menjangkau ubi kayu ke-10

6

6

6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Merajang ubi kayu 6

Universitas Sumatera Utara

Page 107: ergonomi lanjut

Gambar 6.7. Peta Pekerja dan Mesin Usulan

W = Waktu dalam detik

OPERATOR MESIN

62 60

- 2

62 62

WAKTU KERJA

WAKTU MENGANGGUR

WAKTU TOTAL

100% 96,77%PERSENTASE PENGGUNAAN

Memegang ubi kayu ke-10 yang sedang dirajang

PETA PEKERJA DAN MESIN

PEKERJAAN : MERAJANG UBI KAYU NAMA MESIN : MESIN PERAJANG UBI KAYU PEKERJA : OPERATOR 1 SEKARANG DIPETAKAN OLEH : WINDI WIGUNA

TANGGAL : 26 NOV 2009

USULAN

OPERATOR MESINWaktu (det)

Operasi LambangWaktu (det)

Operasi LambangMerajang ubi kayu

6 6

Gambar 6.7. Peta Pekerja dan Mesin Usulan (Lanjutan)

6.8. Pembuatan Prosedur Kerja yang Baru

Prosedur kerja yang baru yang diusulkan adalah sebagai berikut:

1. Karyawan transportasi mengangkat ubi kayu yang telah dikupas dari stasiun

pengupasan dengan menggunakan kereta sorong dan meletakkan ke dalam

keranjang tempat ubi yang belum dirajang di samping kanan operator.

2. Operator mesin perajang menjangkau ubi kayu dari keranjang tempat ubi

kayu yang belum dirajang kemudian merajang ubi tersebut.

Universitas Sumatera Utara

Page 108: ergonomi lanjut

3. Karyawan transportasi mengambil keranjang penampung ubi kayu hasil

perajangan yang telah penuh dan menukarnya dengan keranjang kosong

kemudian mengangkat keranjang yang telah terisi penuh tersebut dengan

menggunakan trolley ke stasiun pencucian.

Tabel 6.5. Perbandingan Prosedur Kerja Lama dan Baru

No. Prosedur Kerja Lama No. Prosedur Kerja Baru 1. Karyawan transportasi mengangkat

ubi kayu yang telah dikupas dari stasiun pengupasan dengan menggunakan kereta sorong dan meletakkan di atas lantai di samping kanan operator.

1. Karyawan transportasi mengangkat ubi kayu yang telah dikupas dari stasiun pengupasan dengan menggunakan kereta sorong dan meletakkan ke dalam keranjang tempat ubi yang belum dirajang di samping kanan operator.

2. Operator mesin perajang mengumpulkan ubi kayu di atas lantai dan menumpuknya di sekitar mesin

2. -

3. Operator mesin perajang mengambil keranjang kosong dari samping kanan operator dan meletakkan di bawah mata pisau untuk menampung hasil rajangan

3. -

4. Operator mesin perajang mengatur posisi ujung goni yang diikatkan pada mesin perajang mengarah ke keranjang agar hasil rajangan jatuh tepat ke dalam keranjang.

4. -

5. Operator mesin perajang menjangkau ubi kayu yang akan dirajang dari lantai

5. Operator mesin perajang menjangkau ubi kayu yang akan dirajang dari keranjang di samping kanan operator

6. Operator mesin perajang merajang ubi kayu

6. Operator mesin perajang merajang ubi kayu

7. Operator mesin perajang memegang sisa ubi kayu yang belum terajang dengan tangan kiri

7. -

8. Operator mesin perajang menjangkau ubi kayu yang akan dirajang dari lantai (ubi berikutnya) dengan tangan kanan

8. Operator mesin perajang menjangkau ubi kayu yang akan dirajang dari keranjang di samping kanan operator

9. Operator mesin perajang mendorong sisa ubi kayu yang

9. -

Universitas Sumatera Utara

Page 109: ergonomi lanjut

belum terajang dengan ubi kayu yang baru

Tabel 6.5. Perbandingan Prosedur Kerja Lama dan Baru (Lanjutan)

No. Prosedur Kerja Lama No. Prosedur Kerja Baru 10. Operator mesin perajang merajang

ubi kayu 10. Operator mesin perajang merajang ubi

kayu 11. Operator mesin perajang

memasukkan ubi kayu yang masih menempel di goni ke keranjang

11. -

12. Operator mesin perajang mengangkat keranjang ke samping kiri operator

12. Karyawan transportasi mengambil keranjang penampung ubi kayu hasil perajangan yang telah penuh dan menukarnya dengan keranjang kosong kemudian mengangkat keranjang yang telah terisi penuh tersebut dengan menggunakan trolley ke stasiun pencucian.

Layout kerja karyawan dan aliran bahan pada usulan perbaikan rancangan

fasilitas kerja yang baru di stasiun perajangan adalah sebagai berikut:

1

23

4

BA

5

1

23

4

BA

5

1

23

4

BA

5

Gambar 6.8. Layout Kerja Karyawan dan Aliran Bahan

Keterangan:

7. Keranjang tempat ubi kayu sebelum dirajang

8. Mesin perajang

Universitas Sumatera Utara

Page 110: ergonomi lanjut

9. Keranjang penampung ubi yang telah dirajang

10. Tempat duduk operator

11. Tumpukan keranjang kosong yang akan dijadikan tempat penampung ubi

Aliran bahannya adalah sebagai berikut:

D. Operator mengambil ubi kayu dari keranjang yang berada di samping kanan

operator

E. Ubi kayu yang telah dirajang ditampung dengan keranjang

F. Keranjang yang telah penuh diangkat karyawan transportasi ke stasiun

pencucian.

Universitas Sumatera Utara

Page 111: ergonomi lanjut

BAB VII

KESIMPULAN DAN SARAN

7.1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil pengolahan dan analisa pemecahan masalah dapat

diambil kesimpulan sebagai berikut :

1. Dari hasil pengolahan SNQ terdapat perbedaan tingkat kategori rasa sakit

pada bagian tubuh operator yang disebabkan berbedanya antropometri

operator pada setiap bagian tubuhnya. Perbedaan ini juga disebabkan oleh

tata letak komponen pada masing-masing tempat kerja yang belum teratur.

2. Dari hasil penilaian postur kerja aktual, elemen kerja mengambil keranjang

kosong, mengatur posisi ujung goni, menjangkau ubi kayu, dan memasukkan

ubi ke keranjang berada pada level aman. Sementara elemen kerja menumpuk

ubi, merajang ubi dan mengangkat keranjang ke samping kiri postur kerjanya

tidak ergonomis.

3. Tindakan perbaikan yang dilakukan pada rancangan fasilitas kerja yaitu

penyesuaian dimensi fasilitas kerja, penyesuaian bentuk serta bahan yang

digunakan. Dimensi antropometri yang digunakan untuk penyesuaian

dimensi fasilitas kerja adalah tinggi bahu duduk, lebar pinggul, panjang

popliteal, tinggi popliteal dan jangkauan tangan.

4. Perbaikan rancangan fasilitas kerja terdiri dari :

Universitas Sumatera Utara

Page 112: ergonomi lanjut

1) Perbaikan dimensi,

a. Jarak mata pisau ke lantai 105,5 cm

b. Tinggi wadah ubi kayu sebelum dirajang 85,5 cm

c. Jarak wadah ubi kayu sebelum dirajang ke mata pisau 76 cm

d. Tinggi kursi operator 43 cm

e. Panjang dudukan kursi 49,6 cm

f. Lebar dudukan kursi 33,2 cm

2) Bentuk tempat duduk operator pada bentuk aktual berbentuk tabung

setelah perancangan berbentuk kursi dengan rangka kursi terbuat dari

stainless steel sehingga tahan karat.

3) Bahan tempat duduk yang terbuat dari busa bantalan yang rapat dengan

ketebalan 1,3 cm yang dilapisi kulit sintetis sehingga lebih nyaman saat

diduduki, tidak licin, mudah dibersihkan, tidak menyerap air dan tahan

lama.

4) Fasilitas kerja dilengkapi dengan tempat ubi kayu yang akan dirajang

sehingga mudah dijangkau oleh operator.

5) Lubang mata pisau dirancang dengan bentuk tabung dengan diameter 10

cm untuk mencegah jari operator bersentuhan langsung dengan mata

pisau.

5. Pada bagian bawah mata pisau dilengkapi dengan plat yang terbuat dari baja

karbon untuk mencegah ubi kayu jatuh ke lantai.

6. Dari hasil penilaian postur kerja pada fasilitas kerja usulan diperoleh semua

elemen kerja berada pada level aman.

Universitas Sumatera Utara

Page 113: ergonomi lanjut

7. Pada prosedur kerja yang lama, waktu yang diperlukan untuk merajang 1

keranjang ubi kayu (6 kg) adalah 187 detik dan pada prosedur kerja usulan

waktu yang diperlukan adalah 62 detik. Terjadi penghematan waktu 125 detik

persiklus.

7.2. Saran

Saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :

1. Usulan fasilitas kerja dan prosedur kerja yang baru ini sebaiknya digunakan di

lapangan untuk mengurangi keluhan muskuloskeletal yang dialami operator

dan memberikan rasa nyaman kepada operator saat mengoperasikan fasilitas

kerja tersebut serta cara kerja operator lebih seragam dan efisien.

2. Perlu dilakukan sosialisasi penggunaan fasilitas kerja dan prosedur kerja yang

baru kepada operator di UD. Tiga Bawang sebelum dilakukan penerapan di

lapangan.

3. Perlu dilakukan pemahaman tentang pentingnya keselamatan dan kesehatan

kerja terhadap pemilik dan operator di UD. Tiga Bawang.

Universitas Sumatera Utara