epilepsi kasus

43
RIRIN SUMANTRI LAPKAS EPILEPSI

Upload: risnawati-wahab

Post on 07-Nov-2015

86 views

Category:

Documents


3 download

DESCRIPTION

h

TRANSCRIPT

Slide 1

RIRIN SUMANTRILAPKAS EPILEPSIPenyajian kasus Identitas PasienPaien berinisial Ny Sn merupakan ibu rumah tangga yang berusia 35 tahun. Pasien bertempat tinggal di Dusun Kendaran Kecamatan Sanggau Ledo Kabupaten Bengkayang. Pasien beragama islam, pekerjaan ibu rumanh tangga. Pasien dating ke poli saraf RSUD Abdul Aziz Singkawang pada tanggal 4 Febriuari dengan no rekam medis 064675. Anamnesis dilakukan secara aloanamnesis dan autoanamnesis dengan suami pasien jam 11.30 WIB.

AnamnesisKeluhan UtamaKejang pada tanggal 6 januari 2015.

Riwayat penyakit sekarangPasien datang dengan keluhan kejang satu bulan sebelum datang ke poli saraf RSUD Abdul Aziz Singkawang. Setelah di anamnesis ternyata pasien sudah 14 kali kejang dalam waktu satu setengah tahun. Suami pasien mengatakan pasien kejang tiba-tiba tidak dapat dipastikan waktunya.Fase preiktal: Menurut suami Pasien biasanya tidak merasa ada factor penentu kejang. Pasien tiba-tiba berhenti beraktivitas misalnya pada saat masak, duduk, tidur tanpa ada sakit kepala, mual, muntah, keluhan sakit telinga, maupun halusinasi sebelum terjadi kejang, pasien tiba-tiba saja kaku pada kedua tangan dan kaki.

Fase Iktal: pasien saat kejang kedua tangan dan kaki serta badan kaku, keras seperti papan, muka pucat, mata mendelik ke atas, menggigit lidah, tangan kadang- kadang fleksi dan ekstensi. Kejang berlangsung sekitar 2-3 menit. Pasien tidak sadar Fase post iktal: Setelah terjadi kejang pasien lemah, nyeri pada badan, bingung, mual, muntah, pusing, bicara tidak nyambung. Pasien sadar sekitar 1-2 jam setelah kejang.

Pasien tidak pernah berobat ke dokter saraf selama ini. Apabila mendapat serangan kejang pasien berobat ke Puskesmas dan dokter mengobati gejala simptomatik saja seperti diberikan obat mual muntah dan pusing.

Pasien mengalami kejang pertama kali pada bulan agustus 2013 tidak diketahui bagaimana kejang terjadi karena suami tidak ada di rumah. Tiga bulan kemudian pasien mengalami kejang kembali jam 7 malam, kejang yang dialami berupa badan, tangan dan kaki kaku, keras, mata mendelik ke atas, menggigit lidah dan tangan ekstensi, berlangsung sekitar tiga menit, saat kejang pasien tidak sadar. Setelah kejang pasien lemah, bingung, bicara tidak nyambung, mual, muntahm pusing, badan nyeri dan sadar penuh sekitar 10 jam setelah kejangKemudian 2 bulan berikutnya pasien kembali mengalami kejang dengan gejala yang sama. Setelah itu pasien selalu kejang minimal 1 bulan sekali dan kadang-kadang 2 minggu sekali, terakhir kejang pada tanggal 6 januari jam 12 siang dan jam 5 sore lalu suami pasien memanggil mantri ke rumah dan dipasang infuse dan di beri obat (obat tidak diketahui) pasien membaikKejang terjadi tiba- tiba kadang- kadang pada saat masak, duduk dan tidur. Pasien tidak pernah berobat ke dokter saraf dan apabila kejang muncul suami pasien membawa berobat ke dokter dan membaik. Pasien tidak rutin minum obat kejang (tidak diketahui sudah pernah dapat obat kejang atau tidak) Pada saat kecil pasien tidak pernah kejang. 15 tahun yang lalu pasien pernah kecelakaan dan tebentur pada kepala bagian kening sebelah kanan. pasien mempunyai penyakit asma (terkontrol) dan maag. Pasien tidak punya penyakit darah tinggi, kencing manis, alergi dan jantung.

Riwayat Penyakit KeluargaPasien merupakan anak terakhir dari lima bersaudara. Tidak ada keluarga pasien yang mengalami keluhan yang sama. Hipertensi, diabtes mellitus, penyakit jantung, srtoke, alergi disangkal.Riwayat PsikososialMenurut suami pasien, pasien memiliki kepribadian yang baik, sering berkumpul dengan warga jika ada kegiatan seperti pengajian. Pasien berobat menggunakan asuransi kesehatan BPJS.

Pemeriksaan FisikKeadaan umum: Tampak baikKesadaran: Compos mentis GCS: E4M6V5Tanda- tanda vitalTekanan darah: 110/80Nadi: 66x/ menitNafas: 18x/ menitSuhu: 37, 10C

Status GeneralisKepala: simetris, normocephali, rambut hitam, tidak mudah tercabutMata: konjungtiva tidak anemis (-/-), sclera tidak ikterik (-/-), pupil bulat, isokor, diameter 3 mm, RCL +/+, RCTL +/+.Telinga: dalam batas normal, tidak ada secretHidung: sekret(-), deviasi septum (-)Mulut: sianosis (-), tonsil T1Leher: Tidak ada fraktur servikal, pembesaran KGB (-)Thorak : dalam batas normalAbdomen : dalam batas normal

Status NeurologisTanda Rangsang meningealKaku kuduk: (-)Laseg : (-)Kernig: (-)Bruzinski 1: (-)Bruzinski 2: (-)Pemeriksaan Nervus KranialisN I: Tidak ada gangguan penciumanN II: Visus ODS : >6/60N III, IV, VI: Bola mata ortho, bisa digerakkan ke segala arahN V: Refleks kornea (+/+)

N VII: Tidak ada lagoftalmos, tidak ada mulu mencong, alis terangkat sejajar, mulut dibuka simetrisN VIII: pasien tidak ada gangguan pendengaran dan gangguan keseimbanganN IX, X: pasien bisa makan dan minum , tidak ada tersedakN XI: tidak ada gangguan pada otot sterno dan otot trapeziusN XII: lidah tidak mencong.Pemeriksaan MotorikInspeksiEkstremitas atas: Atrofi (-/-)Ekstremitas bawah: Atrofi (-/-)PalpasiTonus normal pada ke empat ekstremitas

Power:5555 5555 5555 5555RefleksRefleks Fisiologis:Biseps: (2+/2+)Triseps: (2+/2+)Patella: (2+/2+)Achilles: (2+/2+)

Refleks PatologisBabinski : (-/-), chadock, (-/-), openhim (-/-), clonus (-/-), Hoffman thromner: (-/-), Gordon (-/-).Pemeriksaan Koordinasi: romberg (-), Romberg dipertajam (-), finger to nose (-/-), finger to finger (-/-), tanden walking (-).Pemeriksaan SSO: BAB dan BAK pasien lancer.

Resume Pemeriksaan Pasien Ny S datang ke poliklinik saraf dengan keluhan kejang satu bulan yang lalu. Dari hasil pemeriksaan pasien kompos mentis GCS 15. Tanda- tanda vital dalam batas normal; hasil pemeriksaan tanda rangsang meningeal negative; hasil pemeriksaan fungsi luhur dalam batas normal; pemeriksaan nervus cranial dalam batas normal; motorik dalam batas normal; tidak ada gangguan koordinasi; BAK dan BAB normal; refleks fisiologi normal; refleks patologis negative.

Usulan Pemeriksaan PenunjangPemeriksaan laboratorium darah rutin (H2TL, glukosa darah, creatinin, ureum, Cl)EEG (Elektroensefalogram)DiagnosisDiagnosis Klinis : Epilepsi bangkitan umum tipe grand-malDiagnosis Topik : Kortek SerebriDiagnosis Etiologik: Idiopatik.

Penatalaksanaansodium valproat 500 mg tablet 2 kali sehari peroralprognosisAd Vitam: dubia ad BonamAd functionam:dubia ad BonamAd sanactionam: dubia ad Bonam

TINJAUAN PUSTAKA DAN PEMBAHASAN

DefinisiEpilepsi merupakan gangguan susunan saraf pusat yang dicirikan oleh terjadinya serangan (seizure, fit, attack, spell) yang bersifat spontan (unprovoked) dan berkala. Serangan dapat diartikan sebagai modifikasi fungsi otak yang bersifat mendadak dan sepintas, yang berasal dari sekelompok besar sel sel otak, bersifat sinkron dan berirama. Serangan dapat berupa gangguan motorik, sensorik, kognitif atau psikis. Istilah epilepsi tidak boleh digunakan untuk serangan yang terjadi hanya sekali saja, serangan yang terjadi selama penyakit akut berlangsung dan occasional provokes seizures misalnya kejang atau serangan pada hipoglikemia. Klasifikasi Jenis Epilepsi

Klasifikasi epilepsi merupakan International League Against Epilepsy (ILAE) 1981Bangkitan Parsial (fokal)Bangkitan parsial sederhana (tanpa gangguan kesadaran).Dengan gejala motorik Dengan gejala sensorik Dengan gejala otonomik Dengan gejala psikis

Pada pasien ini, saat terjadi kejang pasien mengalami penurunan kesadaran, pasien tidak sadar, namun tidak ada gejala aura terlebih dahulu. Aura adalah gejala peringatan yang dirasakan pasien menjelang serangan kejang, biasanya muncul sebelum serangan kejang parsial sederhana.

b. Bangkitan parsial kompleks (bangkitan parsial sederhana yang diikuti dengan gangguan kesadaran). Gejala-gejala yang dijuluki kompleks ialah sensorik, motorik dan autonom. Adapun gejala kompleks yang dimaksud ialah halusinasi, ilusi dj vu, perasaan curiga dan automatismus.Awalnya parsial sederhana, kemudian diikuti gangguan kesadaranBangkitan parsial sederhana, diikuti gangguan kesadaranDengan automatismeDengan gangguan kesadaran sejak awal bangkitanDengan gangguan kesadaran sajaDengan automatisme

Pada pasien ini, berdasarkan hasil anamnesis dari pasien dan suaminya pertama kali mendapat serangan kejang memang langsung tidak sadar dan pasien tidak ingat apa yang terjadi. Hal ini menjadi dasar bahwa pasien tidak pernah mengalami kejang parsial atau perubahan dari bangkitan parsial sederhana menjadi bangkitan parsial kompleks.

c. Bangkitan umum sekunder (tonik-klonik, tonik atau klonik)

Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi bangkitan umumBangkitan parsial kompleks berkembang menjadi bangkitan umum. Bangkitan parsial sederhana berkembang menjadi parsial kompleks, dan berkembang menjadi bangkitan umum

2. Bangkitan Umum (konvulsif atau nonkonvulsif)

AbsensBangkitan ini ditandai dengan gangguan kesadaran mendadak (absence) dalam beberapa detik (sekitar 5-10 detik) dimana motorik terhenti dan penderita diam tanpa reaksi. Pasca serangan, penderita akan sadar kembali dan biasanya lupa akan peristiwa yang baru dialaminya. MioklonikBangkitan mioklonik muncul akibat adanya gerakan involuntar sekelompok otot skelet yang muncul secara tiba-tiba dan biasanya hanya berlangsung sejenak. Gambaran klinis yang terlihat adalah gerakan ekstensi dan fleksi lengan atau keempat anggota gerak yang berulang dan terjadinya cepat.

KlonikKejang klonik dapat berbentuk fokal, unilateral, bilateral dengan pemulaan fokal dan multifokal yang berpindah-pindah. Kejang klonik fokal berlangsung 1-3 detik, terlokalisasi, tidak disertai gangguan kesadaran dan biasanya tidak diikuti oleh fase tonik.

TonikBerupa pergerakan tonik satu ekstrimitas atau pergerakan tonik umum dengan ekstensi lengan dan tungkai yang menyerupai deserebrasi atau ekstensi tungkai dan fleksi lengan bawah dengan bentuk dekortikasi.

Tonik-Klonik/Grand-MalSecara tiba-tiba penderita akan jatuh disertai dengan teriakan, pernafasan terhenti sejenak kemudian diikuti oleh kekauan tubuh. Setelah itu muncul gerakan kejang tonik-klonik (gerakan tonik yang disertai dengan relaksasi). Pada saat serangan, penderita tidak sadar, bisa menggigit lidah atau bibirnya sendiri, dan bisa sampai mengompol. Pasca serangan, penderita akan sadar secara perlahan dan merasakan tubuhnya terasa lemas dan biasanya akan tertidur setelahnya.AtonikBangkitan ini jarang terjadi. Biasanya penderita akan kehilangan kekuatan otot dan terjatuh secara tiba-tiba.Pada pasien ini, pertama terjadi kejang tiba-tiba, pasien terjatuh dan badan kaku, tidak ada pencetus, tidak sadar dan terjadi tiba-tiba pada saat pasien beraktivitas seperti masak ataupun saat pasien bersantai dan tidur, mata pasien mendelik ke atas ,Kemudian pasien juga menggigit lidahnya sendiri dan tangan terkadang ekstensi dan fleksi ,pasca kejang pasien merasa badan dan ektremitasnya lemah. Hal ini kemungkinan gambaran dari kejang tonik klonik atau grandmal.

Etiologi Epilepsi

Sekitar 70% kasus epilepsi yang tidak diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi idiopatik dan 30% yang diketahui sebabnya dikelompokkan sebagai epilepsi simptomatik, misalnya trauma kepala, infeksi, kongenital, lesi desak ruang, gangguan peredaran darah otak, toksik dan metabolik. Epilepsi kriptogenik dianggap sebagai simptomatik tetapi penyebabnya belum diketahui, misalnya West syndrome dan Lennox Gastaut syndrome.

patofisiologiBangkitan epilepsi karena transmisi impuls yang berlebihan di dalam otak yang tidak mengikuti pola yang normal, sehingga terjadi sinkronisasi dari impuls. Sinkronisasi ini dapat terjadi pada sekelompok atau seluruh neuron di otak secara serentakFungsi jaringan neuron penghambat (neurotransmitter GABA dan Glisin) kurang optimal hingga terjadi pelepasan impuls epileptik secara berlebihan.Keadaan dimana fungsi jaringan neuron eksitatorik (Glutamat dan Aspartat) berlebihan hingga terjadi pelepasan impuls epileptik berlebihan juga

Pendekatan Diagnostik Anamnesa/AloanamnesaRiwayat keluarga dapat mengungkapkan adanya anggota keluarga yang epileptik atau penyakit-penyakit yang erat hubungannya dengan epilepsi. Riwayat penyakit dahulu memberikan informasi tentang faktor kausatif yang relevanRiwayat kehamilan dan kelahiran mendasari anggapan atau perkiraan tentang adanya trauma lahir atau gangguan cerebral dalam masa intrauterine, seperti infeksi viral ataupun trauma abdominal

2. Pemeriksaan neurologik umum dan khususDengan pemeriksaan neurologik gejala defisit unilateral atau bilateral dapat ditemukan. Pada pasca kejang terkadang terjadi todds paralisis atau todds paresis dimana terjadi kelemahan pada sisi tubuh kiri dan kanan. Gambaran klasik dari todds paresis adalah kelemahan sementara dari tangan, lengan atau tungkai setelah kejang parsial. Penyebab todds paralisis tidak diketahui, ada dua hipotesa dari penyebabnya. 1.Pertama teori depletion, dimana korteks motor kelelahan yang berakibat terjadinya prolonged neuronal hyperpolarization. 2.Kedua, adanya inaktivitasi sementara dari fiber motor yang disebabkan aktivitas NMDA receptors. Tidak ada terapi yang spesifik pada todds paralisis karna paralisis mrnghilang dengan cepat.

Selain itu diperlukan pemeriksaan penunjang seperti pemeriksaan laboratorium, pencitraan seperti CT Scan atau MRI dan pemeriksaan elektroensefalogram (EEG). Dan terapi yang diselenggarakan harus didasarkan atas adanya serangan epileptik.tatalaksanaTatalaksana epilepsy meliputi 3 bidangPenegakan diagnosis yang mengenai jenis bangkitan, penyebabnya dengan tepatTerapiRehabilitasi, sosialisasi, edukasi

Golongan Hidantoin3Fenitoin. Merupakan golongan Hidantoin yang paling sering dipakai. Kerja obat ini antara lain penghambatan penjalaran rangsang dari fokus ke bagian lain di otak. Golongan Barbiturat Fenobarbital. Merupakan golongan Barbiturat yang bekerja lama (long acting). Kerjanya membatasi penjalaran aktivitas serangan dengan menaikkan ambang rangsang. Indikasi untuk epilepsi umum khusus epilepsi Grand-Mal tipe sadar, epilepsi fokalGolongan BenzodiazepamDiazepam. Dikenal sebagai obat penenang tetapi disini merupakan obat pilihan utama untuk status epileptic.Nitrazepam. Indikasi epilepsy spasme infantile dan epilepsy mioklonik.Klonazepam. Indikasi untuk epilepsy spasme infantil, epilepsy mioklonik.

Golongan SuksinidSodium Valproat. Indikasi Epilepsi Petit Mal murni dapat pula untuk epilepsi pada lobus temporalis.Azetazolamid. Dikenal sebagai diuretic tetapi pada pengobatan epilepsy mempunyai cara kerja menstabilkan keluar masuknya natrium pada sel otakKarbamazepin. Indikasi untuk epilepsy lobus temporalis dengan epilepsy Grand Mal.Terapi Non-MedikamentosaMengingat pentingnya terapi medikamentosa, maka setiap penderita atau orang tuanya harus diberi penerangan yang jelas dan tegas yaitu1:Obat yang diberikan harus dimakan menurut aturan yang sudah ditetapkan. Walaupun tidak ada serangan, obat harus terus dimakan sampai saat dimana dokter akan menetapkan aturan pemakaian yang baru. Berilah penjelasan tentang perawatan epilepsy sebagai berikut:Epilepsi adalah penyakit yang dapat disembuhkanSembuhnya dapat berarti bebas dari serangan dengan makan obat untuk seumur hidup atau dengan makan obat untuk sementara waktu

Pada umumnya diusahakan agar penderita bebas dari serangan dengan dosis antikonvulsan yang optimal. Usaha ini tidak langsung berhasil baik karena jenis dan dosis obat ditetapkan secara titrasi pada setiap kunjungan follow upBila sudah dicapai jenis dan dosis obat yang dapat membebaskan penderita dari serangan, maka jenis dan dosis obat tersebut dilanjutkan selama sampai 1 tahun. Follow up berikutnya menentukan apakah dosis obat tersebut dikurangi atau tetap dipertahankan untuk sementara waktu1.

Kesimpulan Berdasarkan hasil anamnesis Ny S didiagnosa mengalami epilepsi bangkitan umum tipe grandmall ditentukan berdasarkan gejala yang dialami pasien. Terapi yang diberikan untuk mencegah timbulnya kembali kejang yaitu pemberian sodium valproat dengan dosis 500 mg tablet 2 kali sehari peroral. Dapat diberikan sebagai monoterapi.