bab ii tinjauan pustaka 1.1 penelitian terdahulu

of 13 /13
5 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 1.1 Penelitian Terdahulu Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebgai acuan bagi penelitian selanjutnya. Penelitian terdahulu juga dapat dijadikan sebagai pembanding dengan penelitian selanjutnya dengan melihat dari segi topik, metode penelitian yang digunakan, maupun hasil dari penelitian yang dilakukan. Studi kasus yang dilakukan oleh Kusnadi dkk., (2011) tentang “perkembangan industri gula indonesia dan urgensi swasembada gula nasional” menyatakan bahwa kemunduran industri gula mulai dari tahun 1930 sampai saat ini perlu adanya dorongan untuk mendesak tercapainya swasembada gula nasional, karena industri gula ini sangat penting dalam perekonomian. Mencapai swasembada gula nasional indonesia tidak bisa berjalan sendiri karena membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah. Penelitian tentang “analisis potensi tebu dalam mendukung pencapaian swasembada gula di kabupaten bondowoso” bertujuan untuk menganalisis potensi tebu dalam mendukung swasembada gula di Kabupaten Bondowoso. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan pendekatan sistem dinamik untuk menghitung share tebu terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) dan analisis shif share esteban marquillas untuk menghitung untuk menghitung potensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurun waktu 2010 2015 Kabupaten Bondowoso memiliki keunggulan kompetitif dan spesialisasi komuditas tebu sehingga Kabupaten Bondowoso

Upload: khangminh22

Post on 23-Apr-2023

1 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

5

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

1.1 Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu dapat dijadikan sebgai acuan bagi penelitian

selanjutnya. Penelitian terdahulu juga dapat dijadikan sebagai pembanding dengan

penelitian selanjutnya dengan melihat dari segi topik, metode penelitian yang

digunakan, maupun hasil dari penelitian yang dilakukan.

Studi kasus yang dilakukan oleh Kusnadi dkk., (2011) tentang

“perkembangan industri gula indonesia dan urgensi swasembada gula nasional”

menyatakan bahwa kemunduran industri gula mulai dari tahun 1930 sampai saat

ini perlu adanya dorongan untuk mendesak tercapainya swasembada gula

nasional, karena industri gula ini sangat penting dalam perekonomian. Mencapai

swasembada gula nasional indonesia tidak bisa berjalan sendiri karena

membutuhkan dukungan kebijakan pemerintah.

Penelitian tentang “analisis potensi tebu dalam mendukung pencapaian

swasembada gula di kabupaten bondowoso” bertujuan untuk menganalisis

potensi tebu dalam mendukung swasembada gula di Kabupaten Bondowoso.

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif

dengan pendekatan sistem dinamik untuk menghitung share tebu terhadap produk

domestik regional bruto (PDRB) dan analisis shif share esteban marquillas untuk

menghitung untuk menghitung potensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa

kurun waktu 2010 – 2015 Kabupaten Bondowoso memiliki keunggulan

kompetitif dan spesialisasi komuditas tebu sehingga Kabupaten Bondowoso

6

mempunyai peluang berkelanjutan, stategi yang diambil yaitu dengan cara

pembukaan lahan lahan baru di Kabupaten Bondowoso (Yunitasari dkk., 2018).

Studi kasus tentang “Swasembada Gula : Prospek dan Strategi

Pencapaian” membahas tentang berbagai kendala dan upaya yang dapat

dilakukan untuk mencapai target. Penelitian ini menggunakan data skunder berupa

data kinerja pabrik gula nasional 2009 dan luas areal tebu sepuluh tahun terakhir

1998-2008. Uraian data disimpulkan bahwa apabila kriteria ekonomi dapat

dipenuhi. Secara menyeluruh inefisiensi pergulaan di Indonesia terjadi dari on-

farm (bahan baku dan usahatani) serta off-farm (pengolahan barik dan

pemasaran). Banyak faktor teknis yang mempengaruhi kinerja pabrik gula

khususnya mutu gula dan rendemen, pabrik gula yang sudah tua juga tingginya

biaya produksi (Bantacut, 2010).

Penelitian tentang “Kebijakan Pengembangan Industri Bibit Tebu Unggul

untuk Menunjang Program Swasembada Gula Nasional” permasalahan mutu

bibit tebu yang terjadi saat ini belum adanya perhatian yang serius dari pihak

berwenang, hal ini dapat dilihat masih banyak pabrik gula yang belum mepunyai

KBD (kebun bibit datar) sehingga bibit yang dihasilkan kurang berkualitas,

kalaupun petani membuat KBD sendiri itupun tidak sesuai standart. Hasil

pembahasan menghasilkan rekomendasi kebijakan yaitu, (i) Pengembangan bibit

unggul seharusnya dilakukan dengan kerangka kemitraan atau kerja sama antara

industri dan APTRI; (ii) Kerja sama difokuskan pada aspek pemasaran produksi

bibit unggul (Mulyono, 2013).

Penelitian tentang “Pengembangan Parik Gula Mini untuk Mencapai

Swasembada Gula” bertujuan untuk menganalisis kelayakan pabrik gula mini

7

kapasitas 100-500 TCD sebagai basis perancangan prototipe teknis dan

melakukan perancangan dasar pabrik gula mini untuk pengembangan gula yang

ekonomis berorientasi lokal dan regional. Analisis kelayakan dan pengembangan

Pabrik Gula Mini dilakukan dengan : (i) Mengkaji kelayakan dari aspek teknis,

teknologi dan kelayakan finansial; (ii) Aspek teknis ditinjau dari sisi ketersediaan

pasokan mesin dan alat terutama dari pemasok yang telah berpengalaman dalam

pembuatan PGM; (iii) Analisis finansial meliputi parameter kelayakan yang

meliputi: Internal Rate of Return (IRR), Nilai Bersih saat ini (Net Present

Value/NPV), Titik Impas (Break Even Point/BEP) dan Waktu Pengembalian

Pokok (Pay Back Period/ PBP); dan (iv) Kajian teknologi diturunkan dari

kelayakan finansial untuk skala teknis dan ekonomis berdasarkan ekstrapolasi

nilai IRR, NPV, BEP dan PBP. Dari pilihan ini dirancang kebutuhan minimal

PGM. Data dikumpulkan melalui survey lapang untuk mengetahui keadaan dan

situasi perkebunan tebu sebagai dasar perancangan ketersediaan bahan baku.

Survey bersifat umum untuk mengetahui gambaran praktek pertanaman dan

penanganan tebu dilakukan di Kabupaten Rembang. Ketersediaan mesin diperoleh

melalui “Quotation” atau penawaran dari pabrik pembuatan mesin PGM. Hasil

dari penelitian menunjukkan pembangunan PGM adalah alternatif peningkatan

produksi gula kristal putih untuk memenuhi kebutuhan lokal menuju swasembada

gula nasional (Bantacut, 2013).

Penelitian tentang “Faktor Faktor yang Mempengaruhi Produksi Gula

PTPN VII (Persero)”. Penelitian yang bertujuan melihat pengaruh variabel

variabel sebagai faktor produksi sekaligus melihat elastisitas produksi dan skala

usaha. Variabel yang digunakan sebagai faktor produksi adalah pengaruh tingkat

8

rendemen, tenaga kerja, bahan pembantu dan lama giling. Jenis penelitian

kualitatif yang menggunkan analisis fungsi cobb-douglas dengan metode ordinary

least square guna melihat pengaruh variabel yang telah ditentukan. Hasil

penelitian menunjukkan dalam fungsi cobb-douglas bahwa variabel variabel itu

memberikan pengaruh terhadap produksi pabrik gula Cinta Manis. Untuk

elastisitas produksi dari masing masing faktor menunjukkan hasil yang belum

optimal. Skala usaha perusahaan yang berada di daerah increasing return to scale

dimana penambahan proporsi input berpengaruh terhadap output dengan proporsi

yang lebih besar. Perusahaan perlu memanfaatkan faktor faktro secara lebih

optimal guna meningkatkan produksifitas perusahaan (Savitri, 2014).

Penelitian tentang “Analisis Potensi Produksi dengan Pendekatan Fungsi

Produksi Frontir di PT Perkebunan Nusantara X ” Penelitian yang bertuajuan

untuk mengetahui efisiensi produksi dalam aspek efisiensi teknis, alokasi, dan

ekonomis dengan melihat faktor faktor yang mempengaruhi produksi yaitu lima

variabel bebas luas lahan, bibit, pupuk, pestisida, dan tenaga kerja. Sampel yang

diambil dari 35 responden petani tebu dengan teknik purposive. Analisis produksi

dilakukan dengan menggunakan model fungsi produksi stochastic frontier,

sedangkan untuk melihat efisiensi alokatif dan ekonomis menggunakan fungsi

cobb-dauglas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kelima variabel berpengaruh

signifikan terhadap produksi dengan nilai rata rata utnuk efisiensi teknis, alokatif,

dan ekonomis sebesar 0,77, 0,60, dan 0,45 namun belum menunjukkan efisien

secara alokatif dan ekonomis karena biaya produksi yang tinggi dan harga gula

yang masih belum memberikan keuntungan kepada petani tebu (Zainuddin dan

Wibowo, 2018).

9

Penelitian tentang “Analisis Efisiensi Pabrik Gula BUMN dan SWASTA di

Jaawa Tengah dan Jawa Timur dengan Metode DEA (Data Envelopment

analysis) Tahun 2008”. Penelitian ini meneliti tentang perbandingan tingkat

efesiensi produksi pabrik gula BUMN dan SWASTA di Jawa Timur dan Jawa

Tengah dengan menggunkan data sekunder yang diambil dari sembilan pabrik

gula di Jawa Tengah dan tujuh pabrik gula di Jawa Timur. Mengukur efisiensi

teknis data analisis meliputi jumlah tebu digiling, bahan bakar, dan jumlah tenaga

kerja tetap dan sementara sebagai input, untuk output yaitu produksi pabrik gula.

Dan untuk mengukur efesiensi penerimaan data yang digunakan meliputi biaya

tebu giling, biaya bahan bakar, dan biaya tenaga kerja tetap dan sementara sebagai

input, untuk output yaitu harga produksi pabrik gula. Hasil penelitian

menunjukkan bahwa dari 16 sampel yang dianalisis 10 pabrik gula belun

efisien.untuk rata rata efisiensi teknis dan ekonomis, Jawa Timur lebih efisien

sebesar 95,30% dan untuk jawa tengah 93,24%. Sedangkan untuk tingkat efisiensi

teknis dan ekonomis pabrik gula BUMN dan Swasta, pabrik gula Swasta lebih

efisien 96,49% dan untuk pabrik gula BUMN 93,60% (Setiawan, 2009).

Penelitian tentang “Analisis Produksi Tebu Dan Gula di PT. Perkebunan

Nusantara VII (Persero) bertujuan untuk melihat trend produksi, produktivitas

dan penggunakan input produksi tebu dan gula, mengetahui faktor faktor produksi

gula dan tebu, dan tingkat keuntungan. Dengan pengambilan sampel

menggunakan purposive sampling dan data yang digunakan menggunakan data

skunder kurun waktu 30 tahun (1984-2013). Analisis data yang digunakan

merupakan fungsi Cobb-Douglas, analisis Trend, dan analisi Keuntungan. Hasil

dari penelitian ini menujukkan bahwa analisis trend untuk produksi gula,

10

produktifitas gula, rendemen memiliki trend yang positif sedangkan untuk tenaga

kerja memiliki trend yang negatif. Untuk uji regresi fungsi cobb-douglas

menunjukkan bahawa peningkatan luas panen, curah hujan, dan rendemen

berpengaruh terhadap peningkatan prokusi guna lebih baik. Peningkatan jumlah

tenaga kerja akan membuat penurunan produksi karena jumlah tenaga kerja sudah

mencapai jumlah maksimal. Hasil dari analisis keuntungan juga menunjukkan

bahwa tingkat keuntungan tertinggi berasal dari produksi gula dan tetes, pada pola

tanam ratoon cane I, II, dan III. Dan tingkat keuntungan terendah diperoleh pada

tanaman plane cane (Apriawan dkk., 2016).

1.2 Pengertian Gula

Gula menurut Darwin (2013) adalah karbohidrat sederhana karena dapat

larut dalam air dan langsung diserap oleh tubuh untuk diubah menjadi energi.

Gula terdiri dari beberapa jenis diukur dari tingkat keputihannya berdasarkan

standart ICUMSA (International Commission For Uniform Methods of Sugar

Analysis). Semakin putih gula maka semakin kecil nilai ICUMSA dalam skala

internasional unit (IU), dalam hal ini gula dibagi tiga jenis yaitu :

1. Raw Sugar

Raw sugar adalah gula mentah berwarna coklat, raw sugar memiliki nilai

ICUMSA sekitar 600 – 1200. Gula tipe ini adalah produksi gula setengah jadi

yang nantinya diproses lagi menjadi gula kristal putih maupun gula rafinasi.

2. Refined Sugar atau Gula Rafinasi

Gula rafinasi adalah gula hasil olahan lebih lanjut dari gula mentah atau

raw sugar, gula rafinasi tidak dapat dikonsumsi langsung sebelum diolah lebih

11

lanjut. Gula rafinasi memiliki nilai mutu ICUMSA <45 dan nilai 46 – 806.

Umumnya gula rafinasi digunkan sebagai gula industri makanan ataupun

minuman sebagai bahan baku. Peredaran gula rafinasi tidak bisa sembarangan

karena harus memiliki ijin dari kementrian perindustrian.

3. White Sugar atau Gula Kristal Putih

Gula kristal putih memiliki nilai ICUMSA 250 – 450. Departemen

Perindustrian mengelompokkan menjadi tiga jenis gula kristal putih, GKP 1

dengan nilai ICUMSA 250, GKP 2 dengan nilai ICUMSA 250-350, dan GKP 3

dengan nilai ICUMSA 350-450. Semakin tinggi nilai ICUMSA maka semakin

coklat warna gula. Gula tipe ini yang umumnya dikonsumsi rumah tangga yang

diproduksi pabrik gula dengan proses pemutihan dengan teknik sulfitasi.

1.3 Proses Produksi Gula

Heizer dan Render (2005) produksi merupakan serangkaian kegiatan untuk

menghasilkan nilai dalam bentuk barang maupun jasa dengan mengubah input

menjadi output. Proses memproduksi gula tentunya itu menjadi tugas pabrik gula

mulai dari bahan baku tebu menjadi gula kristal yang siap dikonsmsi. Tujuan dari

proses produksi adalah dengan mendapatkan produksi gula setinggi mungkin,

maka dari itu ada tahapan dalam proses pengolahan antara lain :

1.3.1 Proses Pengolahan Awal

Tahap ini bahan baku (tebu) disiapkan dari lahan dan diangkut menuju

pabrik dengan sebelumnya melihat kualitas dan kuantitas. Kualitas yang dilihat

seperti kebersuhan tebu, kondisi fisik tebu dan kandungan gula didalamnya

(rendemen). Kuantitas dengan cara ditimbang sebelum digiling yang nantinya

akan menentukan berapa gula yang akan dihasilkan. Pengangkutan tebu dari lahan

12

sampai gilingan tidak boleh lebih dari 24 jam, karena itu akan mempengaruhi

kualitas tebu yang akan digiling.

1.3.2 Proses Penggilingan

Stasiun gilingan melakukan proses pemerasan dengan tujuan untuk

mendapatkan nira sebanyak banyaknya. Pemerasan dilakukan sebanyak lima kali

sampai mendapatkan nira yang bersih dari ampas gilingan. Sebagi tolak ukur tebu

itu layak untuk digiling ada kriteria sebagai berikut :

Pol tebu : 9 -11%

HK nira mentah : 74 - 84 %

Kotoran tebu : maksimal 5%

Kadar sabut : 13 – 16%

Proses giling air nira dan ampas akan terpisah, semakin banyak

pengulangan gilingan ampas maka akan semakin sedikit nira yang dikandungnya.

Nira harus melalui penyaringan sampai cairan nira bersih dari ampas, nira yang

sudah bersih dari ampas lalu siap untuk dipompakan ke stasiun pemurnian.

1.3.3 Proses Pemurnian

Proses pemurnian ini bertujuan untuk membersihkan dari kotoran maupun

bahan non sugar yang terkandung dalam nira mentah. Bahan non sugar yang

dimaksud adalah :

1. Ion organik ini nantinya akan menghambat proses pengkristalan

2. Koloid yang menybabkan sukarnya pengendapan serta pengeringan

3. Zat warna yang terkandung yang mungkin terikut seperti tanah dan sisa daun.

Ada dua cara proses pemurnian, antara lain :

13

1. Proses Defekasi, tujuan proses defekasi adalah untuk membersihkan

komponen komponen bukan gula dan meningkatkan harkat kemurnian (HK).

2. Proses Sulfitasi, nira yang tercampur masuk kedalam tangki sulfitasi dan

kemudian terjadi penurunan pH nira menjadi 7.0 – 7.2, suhu yang dibutuhkan

dalam sulfitasi 70 – 75oC.

1.3.4 Proses Penguapan

Tujuan dari penguapan adalah untuk mengurangi kadar air yang

terkandung dalam nira encer agar lebih kental dengan kekentalan 60 – 65 % brik.

Penguapan mernggunakan temperatur suhu 65 – 110oC. Penguapan dilakukan

dalam keadaan vakum, ini bertujuan agar kandungan sukrosa yang terkandung

dalam nira tidak rusak dalam prosees penguapan. Nira kental hasil dari penguapan

akan berwarna coklat tua atau gelap, warna gelap ini akan berpengaruh pada gula

yang dihasilkan nanti. Sulfitasi nira kental dialiri gas SO2 dari pembakaran

belerang hal ini bertujuan untuk memucatkan warna gelap dan menurunkan

viscositas nira hingga proses kristalisasi menjadi mudah.

1.3.5 Proses Masakan (kristalisasi)

Nira kental dari proses penguapan yang sudah dipucatkan masih

mengandung air ±35% - 40%. Apabila kandungan air melebihi ketentuan maka

waktu pemasakan akan lebih lama sampai nantinya nira kental menjadi gula

kristal.

1.3.6 Proses Putaran

Proses putaran ini bertujuan untuk memisahkan kristal gula dengan larutan

(stroop) yang masih menempel guna mendapatkan kristal gula yang bersih.

Prosees putaran ini bekerja dengan gaya centrifugal sehingga menyebabkan

14

masakan terlempar jauh dari titik putar dan menempel didinding yang sudah

dilapisi sarung yang menyebabkan kristal gula tertahan dan (stroop) terbuang

dengan menembus sarung saringan.

1.3.7 Proses Pengeringan dan Pendinginan

Proses ini ditujukan untuk memastikan gula dari stasiun putaran benar

benar kering dengan cara disemprotkan uap panas dengan suhu ± 70oC kemudian

gula didinginkan kembali bertujuan agar gula tidak rusak karena microorganisme

sehingga gula mampu bertahan lama selama proses penyimpanan sebelum

didistribusikan.

1.3.8 Proses Pengemasan

Gula yang sudah bersih selanjutnya akan diangkut kedalam sugar bin.

Sugar bin berfungsi untuk menimbang dan mengemas secara otomatis dalam

karung dengan berat 50kg per karung dan setelah itu dijahit untuk kemudian

diangkut menggunakan conveyor menuju gudang penyimpanan dan siap untuk

dipasarkan.

1.4 Produktivitas

Produktivitas dalam industri pabrik gula sangat penting karena

menggambarkan efisiensi bahan baku (tebu) dalam menghasilkan jumlah gula. Se

makin tinggi produktivitas berarti semakin bagus kualitas bahan baku yaitu dalam

hal tingkat rendemen. Menurut KBBI, produktivitas adalah kemampuan untuk

menghasilkan suatu daya untuk berproduksi. Menurut Sinungan (2000)

produktivitas merupakan hubungan antara hasil nyata dan hasil fisik (barang

barang atau jasa) dengan masukan yang sebenarnya.

15

Handoko (2011) produktivitas yaitu hubungan antara masukan masukan

dan keluaran keluaran dalam suatu sistem produksi. Menurut Daryanto (2012)

produktivitas merupakan berbagai konsep yang menggambarkan hubungan antara

hasil (jumlah barang atau jasa yang diproduksi) dengan smber (jumlah tenaga

kerja, modal, tanah, energi dan sebagainya) untuk menghasilkan hasil tersebut.

1.5 Rendemen

Menurut KBBI, Rendemen adalah nilai prosentase perbandingan antara

nilai kering (output) terhadap nilai basah (saat panen) yang dinyatakan dengan

persen (%). Dalam buku Panduan Teknik Budidaya Tebu PTPN XI ( 2010),

menjelaskan rendemen dalam industri gula adalah gula yang dihasilkan dari

proses pengolahan nira tebu disatuan pabrik gula.

Faktor faktor yang mempengaruhi rendemen adalah :

1. On Farm (kualitas tebu, varietas, kadar nira tebu, manajemen tebang angkut)

2. Off Farm (efisiensi pabrik)

Contoh perhitungan rendemen = nilai nira perahan pertama X faktor rendemen

Nilai nira perahan pertama = Pol – 0,4 X (brix – Pol)

= 10,5 – 0,4 X (15,5 – 10,5)

= 10,5 – 2,0

= 8,5

Jadi rendemen = 8,5 X 0,68

= 5,78 %

1.6 Luas Lahan

Seperti yang kita ketahui salah satu faktor produksi adalah ketersediaan

lahan, seperti halnya dalam industri gula yang memerlukan lahan untuk menanam

16

bahan baku (tebu). Sesuai dalam teori apabila semakin besar luas lahan maka akan

semakin besar produktivitasnya yang dihasilkan (Ambarita dan Kartika, 2015)

dalam (Arimbawa dan Widanta, 2017)

Nasution (2008) menyatakan luas lahan dalam sektor pertanian memiliki

peranan penting dalam usaha pertanian dan proses produksi, semakin luas lahan

yang digunakan akan berpengaruh pada tingkat efisien dan output yang

dihasilkan.

1.7 Analisis Trend

Analisis trend merupakan suatu analisis statistik yang digunakan untuk

suatu peramalan di waktu yang akan datang. Peramalan dapat dilakukan apabila

memiliki data yang cukup banyak untuk diamati dalam periode waktu yang relatif

panjang.

Menurut Muktiadji dan Soemantrie (2009) analisis trend digunakan untuk

melihat kecenderungan, perkembangan suatu perusahaan dalam waktu tertentu.

Analisis trend ini bertujuan untuk melihat tendensi atau kecenderungan

perusahaan baik kecenderungan naik atau kecenderungan menurun. Langka

langka yang dilakukan Pernyataan lain dari Sunyoto (2011), besar kecilnya

perubahan tergantung pada faktor yang mempengaruhinya dan rangkaian waktu

(time series) dari suatu variabel, sehingga analisis trend merupakan analisis yang

menunjukkan perubahan pada variabel tertentu dalam kurun waktu. Perubahan

suatu variabel dengan kecenderungan menurun disebut trend negatif, dan

perubahan dengan kecenderungan naik disebut trend positif.

17

1.8 Kerangka Berfikir

Gambar 2.8.1 Kerangka Berfikir

Potensi Produksi Gula

Jawa Timur

Jumlah

Produksi

Gula

Rendemen Jumlah

Produksi

Tebu

Luas Areal Produktivitas

Analisis

Deskriptif Kuantitatif

1. Tabel

2. Diagram Garis

3. Analisis Trend

Harga

Gula