Did You Mean

Download Did You Mean

Post on 17-Dec-2015

221 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

Did You Mean

TRANSCRIPT

<p>Did you mean: LAPORAN PENDAHULUAN LEUKIMIA TINJAUAN TEORITIS 2.1 ANATOMI SISTEM HEMATOLOGI Sistem hematologi tersusun atas darah dan tempat darah diproduksi, termasuk sumsum tulang dan nodus limpa. Darah merupakan medium transpor tubuh, volume darah sekitar 7%-10% berat badan normal dan berjumlah sekitar 5 liter. Darah terdiri dari atas 2 komponen utama, yaitu sebagai berikut. 1.Plasma darah, bagian cair darah yang sebagian besar terdiri atas air, elektrolit,dan protein darah. 2.Butir- butir darah (blood corpuscles), yang terdiri dari komponen-komponen berikut ini. Eritrosit : sel darah merah (SDM- red blood cell) Leukosit : sel darah putih (SDP- white blood cell) Trombosit : butir pembeku darah platelet. 2.2. STRUKTUR DAN FUNGSI NORMAL SEL DARAH PUTIH Pada keadaan normal, darah manusia mengandung 4000 - 11.000 sel darah putih per mikroliter. Dari jumlah tersebut, jumlah tersebut, jumlah sel terbanyak adalah granulosit (leukosit polimorfonukleus, PMN). Sel granulosit muda memiliki inti berbentuk seperti kuda, yang akan berubah menjadi multilobular dengan bertambahnya umur sel. Sebagian besar sel tersebut mengandung granula neutrofilik (neutrofil), namun sebagian kecil mengandung granula yang dapat diwarnai dengan zat warna asam (eosinofil), dan sebagian lagi mengandung granula basofilik (basofil). Dua jenis sel yang lazim ditemukan dalam darah tepi adalah limfosit, yang memiliki inti bulat besar dan sitoplasma sedikit, dan monosit, yang mengandung banyak sitoplasma tak berglanula dan mempunyai inti yang berbentuk ginjal. Kerja sama sel tersebut menyebabkan tubuh memiliki sistem pertahanan yang kuat terhadap bebagai tumor, infeksi virus, bakteri, dan parasit (Ganong,2008). Fungsi Sel Darah Putih adalah sebagai serdadu tubuh yaitu membunuh dan memakan bibit penyakit/bakteri yang masuk ke dalam jaringan RES (sistem retikuloendotel), tempat pembiakannya di dalam limpa dan kelenjar limfe; sebagai pengangkut/ membawa zat lemak dari dinding usus melalui limpa terus ke pembuluh darah. Sel leukosit disamping berada di dalam pembuluh darah juga terdapat di seluruh jaringan tubuh manusia. Pada kebanyakan penyakit disebabkan oleh masuknya kuman/infeksi maka jumlah leukosit yang ada di dalam darah akan lebih banyak dari biasanya. Hal ini disebabkan sel leukosit yang biasanya tinggal di dalam kelenjar limfe, sekarang beredar dalam darah untuk mempertahankan tubuh dari serangan penyakit tersebut. Jika jumlah leukosit dalam darah melebihi 11.000/mm3 disebut leukositosis dan kurang dari 4000mm3 disebut leukopenia. Macam-macam leukosit secara jelas meliputi : 1.Agranulosit. Sel leukosit yang tidak mempunyai granula di dalamnya, yang terdiri dari: a. Limfosit, macam leukosit yang dihasilkan dari jaringan RES dan kelenjar limfe, bentuknya ada yang besar dan ada yang kecil, di dalam sitoplasmanya terdapat granula dan intinya besar, banyaknya 20%-25% dan fungsinya membunuh dan memakan bakteri yang masuk ke dalam jaringan tubuh. b.Monosit. Terbanyak dibuat di sumsum merah, lebih besar dari limfosit, fungsinya sebagai fagosit dan banyaknya 34%. Di bawah mikroskop terlihat bahwa protoplasmanya lebar, warna biru sedikit abu-abu mempunyai bintik-bintik sedikit kemerahan. Inti selnya bulat atau panjang, warnanya lembayung muda. 2.Granulosit disebut juga leukosit granular terdiri dari : a.Neutrofil atau polimorfonuklear leukosit, mempunyai inti sel yang kadang-kadang seperti terpisah-pisah, protoplasmanya banyak bintik-bintik halus/granula, banyaknya 60%-70%. b.Eusinofil. Ukuran dan bentuknya hampir sama dengan neutrofil tetapi granula dalam sitoplasmanya lebih besar , banyaknya 24%. c. Basofil, sel ini kecil dari eusinofil tetapi mempunyai inti yang bentuknya teratur, di dalam protoplasmanya terdapat granula-granula besar. Banyaknya setengah bagian sumsum merah, fungsinya tidak diketahui (Syaifuddin,2006). 2.3 LEUKEMIA 1. DEFINISI Leukemia mula-mula dijelaskan oleh Virchow pada tahun 1847 sebagai darah putih, adalah penyakit neoplastik yang ditandai oleh proliferasi abnormal dari sel-sel hematopoietik (Price, 1994). Leukemia adalah proliferase leukosit yang tidak terkontrol di dalam darah, sumsum tulang, dan jaringan retikuloendotelial (Tuker, 1998). Leukemia merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang berlebihan (sel muda) dari sel darah putih (SDP) (Engram, 1998). Leukemia merupakan proliferatif neoplastik dari perkusor sel darah putih, yang menyebabkan penggantian difus sumsum tulang normal oleh sel leukemia dengan akumulasi sel abnormal pada darah tepi dan infiltrasi organ misalnya hati, limpa, kelenjar limfe, meningen, dan gonad oleh sel leukemi (Underwood, 1999). Leukemia adalah proliferasi tidak teratur atau akumulasi sel darah putih dalam sumsum tulang, mengganti elemen sumsum tulang normal. Juga terjadi proliferasi di hati,limpa dan nodus limfatikus dan invasi organ nonhematologis, seperti meninges, traktus gastrointestinal, ginjal dan kulit (Smeltzer, 2001). Leukemia adalah penyakit mengenai sel darah putih yang mengalami pembelahan yang berulang-ulang.penyakit ini semacam kanker yang menyerang sel-sel darah putih. Akibatnya fungsi sel darah putih terganggu, bahkan sel-sel darah merah dapat terdesak karena pertumbuhan yang berlebihan ini jumlah sel darah merah menurun (Irianto,2004). Leukemia (kangker darah) merupakan suatu penyakit yang ditandai pertambahan jumlah sel darah putih (leukosit). Pertambahan ini sangat cepat dan tak terkendali serta bentuk sel- sel darah putihnya tidak normal (Yatim, 2003). Leukemia merupakan suatu penyakit yang ditandai dengan proliferasi dini yang berlebihan dari sel darah putih (Handayani, 2008) Dari beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa Leukemia adalah suatu penyakit sistem hematologi yang ditandai dengan proliferasi yang berlebihan dan tidak normal pada sel darah putih yang mengakibatkan fungsi sel darah putih terganggu. 2.4 KLASIFIKASI LEUKEMIA Leukemia dapat diklafikasikan ke dalam : 1. Maturitas sel : Akut (sel-sel asal berdiferensiasi secara buruk) Kronis (lebih banyak sel dewasa) 2. Tipe-tipe sel asal Mielositik (Mieloblast yang dihasilkan sumsum tulang) Limfositik (limfoblast yang dihasilkan sistem limfatik) Normalnya, sel asal (mieloblast dan limfoblast) tak ada pada darah perifer. Maturitas sel dan tipe sel dikombinasikan untuk membentuk empat tipe utama leukemia : 1. LEUKEMIA MIELOGENUS AKUT (LMA) Leukemia Mielogenus Akut (LMA) atau leukemia mielositik akut atau dapat juga disebut leukemia granulositik akut (LGA), mengenai sel stem hematopetik yang kelak berdiferensiasi ke semua sel mieloid; monosit, granulosit (basofil, netrofil, eosinofil), eritrosit, dan trombosit. Dikarakteristikan oleh produksi berlebihan dari mieloblast. Semua kelompok usia dapat terkena; insidensi meningkat sesuai dengan bertambahnya usia. Merupakan leukemia nonlimfositik yang paling sering terjadi. 2. LEUKEMIA MIELOGENUS KRONIS (LMK) Leukemia Mielogenus Kronis (LMK) atau leukemia mielositik kronis atau leukemia granulositik kronis (LGK), juga dimasukan dalam keganasan sel stem mieloid. Namun, lebih banyak terdapat sel normal di banding pada bentuk akut, sehingga penyakit ini lebih ringan. Abnormalitas genetika yang dinamakan kromosom Philadelpia ditemukan 90% sampai 95% pasien dengan LMK. LMK jarang menyerang individu di bawah 20 tahun, namun insidensinya meningkat sesuai pertambahan usia. Gambaran menonjol adalah : - adanya kromosom Philadelphia pada sel sel darah. Ini adalah kromosom abnormal yang ditemukan pada sel sel sumsum tulang. - Krisis Blast. Fase yang dikarakteristik oleh proliferasi tiba-tiba dari jumlah besar mieloblast. Temuan ini menandakan pengubahan LMK menjadi LMA. Kematian sering terjadi dalam beberapa bulan saat sel sel leukemia menjadi resisten terhadap kemoterapi selama krisis blast. 3. LEUKEMIA LIMFOSITIK AKUT (LLA) Leukemia Limfositik Akut (LLA) dianggap sebagai suatu proliferasi ganas limfoblas. Paling sering terjadi pada anak-anak, dengan laki-laki lebih banyak dibanding perempuan,dengan puncak insidensi pada usia 4 tahun. Setelah usia 15 tahun , LLA jarang terjadi. 4. LEUKEMIA LIMFOSITIK KRONIS (LLK) Leukemia Limfositik Kronis (LLK) cenderung merupakan kelainan ringan yang terutama mengenai individu antara usia 50 sampai 70 tahun. Negara-negara barat melaporkan penyakit ini sebagai leukemia yang umum terjadi. LLK dikarakteristikan oleh proliferasi dari diferensiasi limfosit yang baik (mudah dikenali sel-sel yang menunjukkan jaringan asal). Kelompok Klasifikasi Leukemia Akut Menurut French-American-British (FAB) Leukemia Limfositik Akut L-1 pada masa kanak-kanak: populasi sel homogen L-2 Leukemia limfositik akut tampak pada orang dewasa: populasi sel heterogen L-3 Limfoma Burkitt-tipe leukemia: sel-sel besar, populasi sel homogen. Leukemia Mieloblastik Akut M-1 Diferensiasi granulositik tanpa pematangan M-2 Diferensiasi granulositik disertai pematangan menjadi stadium promielositik M-3 Diferensiasi granulositik disertai promielosit hipergranular yang dikaitkan dengan pembekuan intra vaskular tersebar (Disseminated intravascular coagulation). M-4 Leukemia mielomonositik akut: kedua garis sel granulosit dan monosit. M-5a Leukemia monositik akut : kurang berdiferesiasi M-5b Leukemia monositik akut : berdiferensiasi baik M-6 Eritroblast predominan disertai diseritropoiesis berat M-7 Leukemia megakariositik. 2.5 ETIOLOGI Penyebab leukemia belum diketahui secara pasti. Diperkirakan bukan penyebab tunggal tetapi gabungan dari faktor resiko antara lain : Terinfeksi virus. Agen virus sudah lama diidentifikasi sebagai penyebab leukemia pada hewan. Pada tahun 1980, diisolasi virus HTLV-1 dari leukemia sel T manusia pada limfosit seorang penderita limfoma kulit dan sejak saat itu diisolasi dari sampel serum penderita leukemia sel T. Faktor Genetik. Pengaruh genetik maupun faktor-faktor lingkungan kelihatannya memainkan peranan , namun jarang terdapat leukemia familial, tetapi insidensi leukemia lebih tinggi dari saudara kandung anak-anak yang terserang , dengan insidensi yang meningkat sampai 20% pada kembar monozigot (identik). Kelainan Herediter. Individu dengan kelainan kromosom, seperti Sindrom Down, kelihatannya mempunyai insidensi leukemia akut 20 puluh kali lipat. Faktor lingkungan. - Radiasi. Kontak dengan radiasi ionisasi disertai manifestasi leukemia yang timbul bertahun-tahun kemudian. - Zat Kimia. Zat kimia misalnya : benzen, arsen, kloramfenikol, fenilbutazon, dan agen antineoplastik dikaitkan dengan frekuensi yang meningkat khususnya agen-agen alkil. Kemungkinan leukemia meningkat pada penderita yang diobati baik dengan radiasi maupun kemoterapi. 2.6 PATOFISIOLOGI Jika penyebab leukemia virus, virus tersebut akan masuk ke dalam tubuh manusia jika struktur antigennya sesuai dengan struktur antigen manusia. Bila struktur antigen individu tidak sama dengan struktur antigen virus, maka virus tersebut ditolaknya seperti pada benda asing lain. Struktur antigen manusia terbentuk oleh struktur antigen dari berbagai alat tubuh, terutama kulit dan selaput lendir yang terletak di permukaan tubuh (kulit disebut juga antigen jaringan ). Oleh WHO terhadap antigen jaringan telah ditetapkan istilah HL-A (Human Leucocyte Lucos A). Sistem HL-A individu ini diturunkan menurut hukum genetika sehingga adanya peranan faktor ras dan keluarga dalam etiologi leukemia tidak dapat diabaikan. Leukemia merupakan proliferasi dari sel pembuat darah yang bersifat sistemik dan biasanya berakhir fatal. Leukemia dikatakan penyakit darah yang disebabkan karena terjadinya kerusakan pada pabrik pembuat sel darah yaitu sumsum tulang. Penyakit ini sering disebut kanker darah. Keadaan yang sebenarnya sumsum tulang bekerja aktif membuat sel-sel darah tetapi yang dihasilkan adalah sel darah yang tidak normal dan sel ini mendesak pertumbuhan sel darah normal. Proses patofisiologi leukemia dimulai dari transformasi ganas sel induk hematologis dan turunannya. Proliferasi ganas sel induk ini menghasilkan sel leukemia dan mengakibatkan penekanan hematopoesis normal, sehingga terjadi bone marrow failure, infiltrasi sel leukemia ke dalam organ, sehingga menimbulkan organomegali, katabolisme sel meningkat, sehingga terjadi keadaan hiperkatabolik. 2.8 MANIFESTASI KLINIS Gejala yang khas leukemia secara umum : Pucat Panas Splenomegali Hepatomegali Limfadenopati Perdarahan dapat berupa ekimosis, petekia, epitaksis, dan perdarahan gusi Gejala yang tidak khas Sakit/ nyeri sendi atau sakit tulang disalahtafsirkan sebagai reumatik Lesi purpura pada kulit Efusi pleura kejang Leukemia Mielogenus Akut Kebanyakan tanda dan gejala terjadi akibat berkurangnya produksi sel darah normal. Peka terhadap infeksi akibat granulositopenia, kekurangan granulosit Kelelahan dan kelemahan terjadi karena anemia Kecendrungan perdarahan terjadi akibat trombositopenia, kurangnya jumlah trombosit. Proliferase sel lukemi dalam organ mengakibatkan berbagai gejala tambahan : nyeri akibat pembesaran limfa; sakit kepala atau muntah akibat leukemi meningeal (sering terjadi pada leukemia limfositik); dan nyeri tulang akibat penyebaran sumsum tulang belakang. Leukemia Mielogenus Kronis Gambaran klinis LMK mirip dengan gambaran LMA, tetapi tanda dan gejalanya lebih ringan. Banyak pasien yang menunjukkan tanda dan gejala selama bertahun-tahun. Terdapat peningkatan leukosit, kadang sampai jumlah yang luar biasa. Limpa sering membesar. Leukemia Limfositik Akut Limfosit imatur berploriferasi dalam sumsum tulang dan jaringan perifer dan menggangu perkembangan sel normal. Akibatnya: Hematopoesis normal terhambat, mengakibatkan penurunan jumah leukosit, sel darah merah, dan trombosit. Eritrosit dan trombosit jumlahnya rendah dan leukosit jumlahnya dapat rendah atau tinggi tetapi selalu terdapat sel imatur. Manifestasi infiltrasi leukemia ke organ-organ lain lebih sering terjadi pada LLA daripada jenis leukemia lain dan mengakibatkan : - Nyeri karena pembesaran hati dan limpa - Sakit kepala - Muntah karena keterlibatan meninges, dan - Nyeri tulang. Leukemia Limfositik Kronis Kebanyakan pasien tidak menunjukkan gejala dan baru terdiagnosa pada saat penanganan fisik atau penanganan untuk penyakit lain. Manifestasi yang mungkin terjadi adanya : Anemia Infeksi Pembesaran nodus limfe dan organ abdominal Jumlah eritrosit dan trombosit mungkin normal atau menurun. Terjadi penurunan jumlah limfosit (limfositopenia) 2.9 KOMPLIKASI Komplikasi leukemia meliputi perdarahan dan infeksi, yang merupakan penyabab utama kematian. Pembentukan batu ginjal, anemia dan masalah gastroentestinal merupakan komplikasi lain. Risiko perdarahan berhubungan dengan tingkat defisiensi trombosit (trombositopenia). Angka trombosit rendah ditandai dengan memar (ekimosis) dan petekia (bintik perdarahan kemerahan atau keabuan sebesar ujung jarum di permukaan kulit). Pasien juga dapat mengalami perdarahan berat jika jumah trombositnya turun sampai di bawah 20.000/mm3 darah. Dengan alasan tidak jelas, demam dan infeksi dapat meningkatkan kemungkinan perdarahan. Karena kekuran...</p>