definisi vehikulum

of 13 /13
A. DEFINISI VEHIKULUM Vehikulum adalah zat inaktif/ inert yang digunakan dalam sediaan topikal sebagai pembawa obat/ zat aktif agar dapat berkontak dengan kulit. Meskipun inaktif, aplikasi suatu vehikulum pada kulit dapat memberikan beberapa efek yang menguntungkan, meliputi efek fisik misalnya efek proteksi, mendinginkan, hidrasi, mengeringkan/ mengangkat eksudat, dan lubrikasi, serta efek kimiawi/ farmakologis, misalnya efek analgesik, sebagai astringent, antipruritus, dan bakteriostatik. B. KLASIFIKASI VEHIKULUM Berdasarkan komponen penyusunnya, vehikulum dapat digolongkan dalam monofasik, bifasik, dan trifasik. Yang termasuk vehikulum monofasik di antaranya adalah bedak, salep, dan cairan. Bedak kocok, pasta, dan krim tergolong dalam vehikulum bifasik. Sementara pasta pendingin merupakan contoh vehikulum trifasik. Selain ketiga kelompok besar vehikulum di atas, terdapat vehikulum lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu golongan tersebut, yaitu jel. Pembagian lain vehikulum adalah berdasarkan kelarutannya dalam air, yaitu vehikulum hidrofobik dan vehikulum hidrofilik. Vehikulum hidrofobik meliputi berbagai hidrokarbon, silikon, alkohol, sterol, asam karboksilat, ester dan poliester, serta eter dan polieter. Sementara vehikulum hidrofilik meliputi

Author: muhammad-subhan

Post on 09-Aug-2015

1.533 views

Category:

Documents


41 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

A. DEFINISI VEHIKULUM

Vehikulum adalah zat inaktif/ inert yang digunakan dalam sediaan topikal sebagai pembawa obat/ zat aktif agar dapat berkontak dengan kulit. Meskipun inaktif, aplikasi suatu vehikulum pada kulit dapat memberikan beberapa efek yang

menguntungkan, meliputi efek fisik misalnya efek proteksi, mendinginkan, hidrasi, mengeringkan/ mengangkat eksudat, dan lubrikasi, serta efek kimiawi/ farmakologis, misalnya efek analgesik, sebagai astringent, antipruritus, dan bakteriostatik.

B. KLASIFIKASI VEHIKULUM

Berdasarkan komponen penyusunnya, vehikulum dapat digolongkan dalam monofasik, bifasik, dan trifasik. Yang termasuk vehikulum monofasik di antaranya adalah bedak, salep, dan cairan. Bedak kocok, pasta, dan krim tergolong dalam vehikulum bifasik. Sementara pasta pendingin merupakan contoh vehikulum trifasik. Selain ketiga kelompok besar vehikulum di atas, terdapat vehikulum lain yang tidak dapat dimasukkan ke dalam salah satu golongan tersebut, yaitu jel. Pembagian lain vehikulum adalah berdasarkan kelarutannya dalam air, yaitu vehikulum hidrofobik dan vehikulum hidrofilik. Vehikulum hidrofobik meliputi berbagai hidrokarbon, silikon, alkohol, sterol, asam karboksilat, ester dan poliester, serta eter dan polieter. Sementara vehikulum hidrofilik meliputi berbagai poliol dan poliglikol, sebagian dari golongan ester dan poliester, serta beberapa macam eter dan polieter. Berdasarkan konsistensinya, vehikulum dibagi menjadi cair, solid, dan semisolid. Selain berbagai kelompok vehikulum di atas, berbagai penelitian juga telah dilakukan untuk meningkatkan penetrasi obat topikal ke dalam kulit, seperti penggunaan liposom dan nanopartikel.

C. JENIS VEHIKULUM

1. Bedak Bedak merupakan vehikulum solid/padat yang memiliki efek mendinginkan, menyerap cairan serta mengurangi gesekan pada daerah aplikasi. Sebagian besar bedak mengandung seng oksida yang memiliki efek antiseptik, magnesium silikat dengan efek lubrikasi dan mengeringkan, serta stearat yang mampu meningkatkan

daya lekat bedak pada kulit. Ke dalam bedak juga ditambahkan bahan pengawet untuk mencegah pertumbuhan mikroorganisme dan antioksidan untuk mencegah bedak teroksidasi udara luar. Kemampuan penetrasinya pada kulit yang rendah, menyebabkan penggunaannya terbatas, antara lain dalam bidang kosmetik. Efek samping yang dapat timbul pada penggunaan bedak antara lain inhalasi bedak ke dalam saluran napas, penggumpalan bedak, iritasi, dan dapat memicu pembentukan granuloma. Aplikasi bedak pada kulit yang iritasi juga dapat menghambat proses penyembuhan. Para ahli telah meneliti penggunaan urea untuk menggantikan talk sebagai bahan dasar bedak. Urea merupakan bahan non alergenik dan non toksik bagi kulit, sehingga pemakaiannya jauh lebih aman dibanding bedak konvensional. Urea memiliki sifat antipruritus, antiseptik, antiinflamasi, menghambat proses oksidasi, dan dapat membantu proses penyebuhan pada kulit yang teriritasi atau mengalami peradangan. Efek yang menguntungkan tersebut memungkinkan bedak berbahan dasar urea dapat digunakan pada kulit yang mengalami iritasi.

2. Salep Salep merupakan sediaan semisolid yang dapat digunakan pada kulit maupun mukosa. Bahan dasar salep yang digunakan dalam dermatoterapi dibagi dalam empat kelompok yaitu; 1) hidrokarbon, 2) bahan penyerapan, 3) bahan dasar emulsi, dan 4) bahan yang larut air (watersoluble based). Salep berbahan dasar hidrokarbon memiliki efek sebagai emolien, efek oklusi, dan mampu bertahan pada permukaan kulit dalam waktu lama tanpa mengering. Bahan dasar hidrokarbon yang paling banyak digunakan adalah petrolatum putih dan petrolatum kuning. Umumnya bersifat stabil, sehingga tidak memerlukan zat pengawet. Kelemahannya adalah dapat mewarnai pakaian. Bahan dasar penyerapan pembentuk salep terdiri atas lanolin dan turunannya, kolesterol dan turunannya, serta sebagian ester dari alkohol polihidrat. Kelompok bahan dasar ini memiliki efek lubrikasi, emolien, efek proteksi, serta karena sifat hidrofiliknya, dapat digunakan sebagai vehikulum obat/ zat aktif yang larut air. Salep dengan bahan dasar penyerapan bersifat lengket, namun lebih mudah dicuci dibandingkan yang berbahan dasar hidrokarbon. Bahan dasar salep yang lain, yaitu bahan dasar pengemulsi dan bahan dasar yang larut air sering digunakan untuk membentuk sediaan semisolid yang lain, yaitu krim dan jel. Konsentrasi bahan dasar salep dalam suatu sediaan berbentuk salep dapat ditingkatkan agar kemampuan penetrasi bahan aktif yang terkandung di dalamnya meningkat, misalnya sediaan salep

khusus yang disebut fatty ointment. Konsentrasi bahan dasar salep dalam sediaan tersebut mencapai lebih dari 90 persen. Sediaan tersebut dapat digunakan untuk kelainan/ penyakit kulit pada daerah dengan stratum korneum yang tebal, misalnya lipat siku, lutut, telapak tangan, dan telapak kaki.

3. Krim Krim merupakan sediaan semisolid yang mengandung satu atau lebih zat aktif yang terdispersi dalam suatu medium pendispersi dan membentuk emulsi. Untuk kestabilan emulsi, digunakan suatu agen pengemulsi (emulsifier). Bahan pengemulsi dapat terlarut dalam kedua fase cairan penyusun emulsi, dan mengelilingi cairan yang terdispersi membentuk titik-titik air mikro yang terlarut dalam medium pendispersi. Surfaktan maupun beberapa jenis polimer atau campuran keduanya dapat digunakan sebagai bahan pengemulsi. Beberapa contoh surfaktan yang sering digunakan dalam pembentukan emulsi adalah sodium lauril sulfat, Spans, dan Tweens. Berdasarkan fase internalnya, krim dapat dibagi menjadi krim oil-in-water dan krim water-in-oil. Krim water-in-oil mengandung air kurang dari 25 persen dengan minyak sebagai medium pendispersi. Selain surfaktan, zat pengawet juga seringkali digunakan dalam sediaan krim water-in-oil. Sediaan ini kurang lengket dibanding dua sediaan yang disebutkan sebelumnya, sehingga relatif lebih mudah diaplikasikan. Sediaan ini juga memiliki efek sebagai emolien karena kandungan minyaknya, sedangkan kandungan air di dalamnya memberikan efek mendinginkan saat diaplikasikan. Krim oil-in-water mengandung air lebih dari 31 persen. Formulasi ini merupakan bentuk yang paling sering dipilih dalam dermatoterapi. Sediaan ini dapat dengan mudah diaplikasikan pada kulit, mudah dicuci, kurang berminyak, dan relatif lebih mudah dibersihkan bila mengenai pakaian. Sebagai pengawet, biasanya digunakan paraben untuk mencegah pertumbuhan jamur. Bahan lain yang terkandung dalam emulsi oil-in-water adalah humektan, misalnya gliserin, propilen glikol, ataupun polietilen glikol. Fase minyak dalam sediaan ini juga menyebabkan rasa lembut saat diaplikasikan.

4. Jel Jel merupakan sediaan semisolid yang mengandung molekul kecil maupun besar yang terdispersi dalam cairan dengan penambahan suatu gelling agent. Formulasi yang dibutuhkan dalam membentuk jel adalah air, propilen glikol, dan atau

polietilen glikol ditambah dengan suatu bahan pembentuk jel. Gelling agent yang biasa digunakan adalah carbomer 934 serta carboxymethylcellulose dan

hydroxypropylmethyl-cellulose yang merupakan turunan dari selulosa. Bahan dasar pembentuk jel merupakan bahan yang larut air (water soluble based) dan tidak mengandung minyak. Bahan ini sangat mudah dicuci, tidak mewarnai pakaian, tidak memerlukan pengawet, dan kurang oklusif. Bahan dasar ini lebih sering digunakan pada sediaan topikal agar konsentrasi pada permukaan kulit lebih tinggi dan membatasi penyerapan ke dalam kulit, misalnya pada berbagai antifungal dan antibiotik topikal. Jel merupakan vehikulum yang cocok untuk banyak zat aktif. Jel juga relatif mudah diaplikasikan pada kulit, dapat digunakan pada daerah berambut, serta memiliki penetrasi yang baik. Kekurangan dari sediaan dalam bentuk jel antara lain efek protektifnya yang rendah sehingga tidak dapat digunakan sebagai emolien, dan dapat menyebabkan kulit kering dan panas bila kandungan alkohol atau propilen glikolnya tinggi. Selain jel berbahan dasar larut air, telah ditemukan juga formulasi jel terbaru berbahan dasar pelarut organik yang disebut organogel. Bahan dasar yang digunakan antara lain lesitin, jelatin, dan ester sorbitan. Jel dengan bahan dasar tersebut umumnya digunakan untuk zat aktif yang sukar larut di dalam air.

5. Cairan/ liquid Vehikulum berbentuk cair dapat berupa air, alkohol, minyak, dan propilen glikol. Penambahan suatu zat aktif ke dalam berbagai vehikulum cair tersebut dapat membentuk suatu sediaan cair yang berbeda bergantung kelarutan dan jenis zat yang terdispersi dalam medium pendispersi, yaitu solusio, emulsi, dan suspensi.

6. Solusio atau larutan adalah sediaan cair yang mengandung bahan kimia terlarut (solut) yang terlarut secara homogen dalam media pelarut misalnya air, alkohol, minyak, atau propilen glikol. Contoh dari solusio adalah solusio Burrowi, yodium tingtur, dan linimen. Suspensi atau losio adalah suatu sistem berbentuk cair yang komponennya terdiri atas dua fase zat. Fase pertama merupakan fase eksternal/ kontinu dari suspensi, yang umumnya berbentuk cair atau semisolid, dan fase kedua merupakan fase internal yang merupakan partikel yang tidak larut dalam fase kontinu, namun terdispersi di dalamnya. Dalam suatu sediaan obat topikal, fase internalnya adalah zat atau obat aktif. Karena tidak larut dalam medium pendispersinya, maka zat aktif dalam suatu sediaan berbentuk suspensi atau losio dapat mengendap bila

didiamkan, sehingga sebelum digunakan harus dikocok terlebih dahulu agar dosis obat aktif yang diaplikasikan merata. Losio banyak digunakan untuk pasien anak, karena mudah diaplikasikan secara merata. Penguapan air yang terkandung dalam sediaan ini setelah aplikasinya memberikan efek mendinginkan. Dibandingkan salep, losio dapat menyebabkan kondisi kulit yang kering, dan dapat menyebabkan abrasi pada kulit.

7. Pasta Pada dasarnya pasta merupakan salep yang ke dalamnya ditambahkan bedak dalam jumlah yang relatif besar, hingga mencapai 50 persen berat campuran. Konsistensinya relatif lebih keras dibanding salep karena penambahan bahan padat tersebut. Kandungan bedak yang ditambahkan ke dalamnya dapat berupa seng oksida, kanji, kalsium karbonat, dan talk. Seperti halnya salep, pasta dapat membentuk lapisan penutup/film di atas permukaan kulit, yang impermeabel terhadap air sehingga dapat berfungsi sebagai protektan pada daerah popok. Komponen zat padat dalam pasta menjadikannya dapat digunakan sebagai sunblock. Pasta relatif kurang berminyak dibandingkan salep, karena sebagian besar komponen minyak yang terkandung dalam salep telah berasosiasi dengan bahan padat yang ditambahkan.

8. Lacquer Lacquer merupakan sediaan topikal yang relatif baru di bidang dermatologi. Sediaan ini mulai digunakan untuk mengobati kasus-kasus onikomikosis. Nail lacquer merupakan larutan yang terdiri dari etil asetat, isopropil alkohol, dan butil monoester asam maleat. Setelah aplikasinya di atas lempeng kuku, lacquer akan membentuk lapisan film di atas tempat aplikasi. Penelitian secara in vitro pada kuku yang telah dilepaskan, menunjukkan sediaan ini mampu menembus lempeng kuku hingga kedalaman 0,4 cm.

9. Foam Foam merupakan suatu dispersi cairan dan atau zat padat dalam medium berbentuk gas. Dibandingkan dengan sediaan topikal lain, foam merupakan sediaan yang paling mudah diaplikasikan pada permukaan kulit tanpa memerlukan penekanan, sehingga sediaan ini menjadi pilihan untuk digunakan pada berbagai kelainan/ penyakit kulit dengan inflamasi yang berat dan luas, karena penekanan yang

berlebihan pada kulit yang mengalami inflamasi menimbulkan rasa nyeri dan dapat memperberat reaksi inflamasi. Sediaan topikal berbentuk foam dikemas dalam suatu wadah bertekanan yang berkatup. Hal tersebut menjadi salah satu kelemahan dari sediaan berbentuk foam, karena proses pembuatan wadah bertekanan merupakan hal yang rumit dan memerlukan biaya yang tinggi, sehingga harga sediaan berbentuk foam menjadi mahal. Suatu penelitian yang membandingkan kemampuan bentuk sediaan foam, salep, krim, dan jel dalam melepaskan zat aktif (betametason valerat) telah dilakukan. Hasil penelitian menunjukkan sediaan foam memiliki kemampuan yang sama dengan salep dan jel dalam melepaskan komponen zat aktif, namun lebih baik dibandingkan sediaan krim. Penelitian lain dilakukan terhadap 25 orang anak dan bayi dengan infeksi candida pada daerah popok. Ke 25 subyek diterapi dengan sediaan berbentuk foam yang mengandung nistatin, klorheksidin, dan prednisolon. Setelah dilakukan terapi selama 13 hari, seluruh subyek penelitian, termasuk subyek dengan manifestasi klinis yang berat menunjukkan kesembuhan.

10. Liposom Liposom artifisial ditemukan oleh Alec D. Bangham pada tahun 1961. Sejak saat itu penggunaannya meluas dalam berbagai bidang, termasuk dalam bidang dermatoterapi. Liposom merupakan vesikel buatan terkecil yang dibentuk dari fosfolipid dan kolesterol. Fosfolipid yang sering digunakan dalam menyusun liposom adalah fosfatidilkolin. Secara struktural, liposom berbentuk bulat, dengan ukuran diameter bervariasi antara 20 nm sampai 10 m, dan ketebalan membran 3 nm. Susunan membran liposom sama dengan membran sel yang terdiri atas lipid bilayer (lihat gambar 1). Liposom dapat dibedakan menjadi liposom unilamelar dan liposom multilamelar. Liposom unilamelar berukuran 0.02-0.05 um, sedangkan liposom multilamelar berukuran 0.1-0.5 um. Dalam bidang pengobatan, liposom dapat digunakan sebagai pembawa obat atau bahkan molekul DNA ke suatu sel target. Struktur unik liposom memungkinkan suatu molekul obat baik yang bersifat hidrofilik maupun hidrofobik dan juga DNA yang dibawanya dapat menembus lipid bilayer membran sel. Lipid bilayer pada liposom dapat bergabung (fusi) dengan lipid bilayer membran sel, untuk kemudian molekul obat maupun DNA yang dibawanya dilepaskan ke dalam sel target (lihat gambar 2). Dalam suatu sediaan topikal, liposom dapat diformulasikan dalam berbagai bentuk sediaan misalnya

suspensi, losio, krim, dan jel.

Gambar 1. Liposom

Gambar 2. Mekanisme pelepasan obat dari liposom ke dalam sel target.

11. Nanopartikel Nanopartikel adalah suatu partikel berukuran nanometer, dengan dimensi 50200 nm. Nanopartikel tersusun oleh makromolekul yang ke dalamnya dapat dilarutkan atau dimasukkan suatu zat, misalnya obat aktif. Pada beberapa dekade terakhir ini penggunaannya meluas, termasuk dalam bidang pengobatan, baik dalam bentuk sediaan oral, parenteral, bahkan topikal. Strukturnya menyerupai liposom, namun hanya memiliki satu lapis membran, sehingga berbeda dengan liposom, bagian dalam nanopartikel bersifat lipofilik, sehingga berbagai molekul yang larut dalam lemak, seperti vitamin A, vitamin D, dan vitamin E dapat dimasukkan ke dalamnya. Karena ukurannya yang sangat kecil, sediaan topikal yang diformulasikan dalam bentuk nanopartikel dapat berkontak dengan lebih baik pada stratum korneum sehingga penetrasi zat aktif yang ada di dalamnya pun meningkat. Baroli dkk. (2006) melaporkan kemampuan nanopartikel menembus masuk ke dalam folikel rambut dan lapisan epidermis. Sementara Vogt dkk. (2006) melaporkan bahwa hanya nanopartikel dengan ukuran 40 nm yang dapat digunakan secara efisien sebagai pembawa vaksin melalui folikel rambut, namun tidak dengan molekul nanopartikel dengan ukuran lebih besar yaitu 750 nm dan 1500 nm.

Gambar 3. Nanopartikel

Sumber: Vehikulum dalam dermatoterapi topikal oleh Anjas Asmara, Sjaiful Fahmi Daili, Tantien Noegrohowati, Ida Zubaedah MDVI Vol.39. No.1. Tahun 2012: 25-35