dasar-dasar terapi cairan dan elektrolit · komposisi cis ini dipertahankan oleh membran plasma sel...

Click here to load reader

Post on 07-Apr-2019

280 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

1

DASAR-DASAR TERAPI CAIRAN DAN ELEKTROLIT

Syamsul Hilal Salam

Pendahuluan

Menjaga agar volume cairan tubuh tetap relatif konstan dan komposisi elektrolit

di dalamnya tetap stabil adalah penting bagi homeostatis. Beberapa masalah klinis timbul

akibat adanya abnormalitas dalam hal tersebut. Untuk bertahan, kita harus menjaga

volume dan komposisi cairan tubuh, baik ekstraseluler (CES) maupun cairan intraseluler

(CIS) dalam batas normal. Gangguan cairan dan elektrolit dapat membawa penderita

dalam kegawatan yang kalau tidak dikelolam secara cepat dan tepat dapat menimbulkan

kematian. Hal tersebut terlihat misalnya pada diare, peritonitis, ileus obstruktif, terbakar,

atau pada pendarahan yang banyak.

Elektrolit merupakan molekul terionisasi yang terdapat di dalam darah, jaringan,

dan sel tubuh. Molekul tersebut, baik yang positif (kation) maupun yang negatif (anion)

menghantarkan arus listrik dan membantu mempertahankan pH dan level asam basa

dalam tubuh. Elektrolit juga memfasilitasi pergerakan cairan antar dan dalam sel melalui

suatu proses yang dikenal sebagai osmosis dan memegang peraran dalam pengaturan

fungsi neuromuskular, endokrin, dan sistem ekskresi.

Jumlah asupan air dan elektrolit melalui makan dan minum akan dikeluarkan

dalam jumlah relatif sama. Ketika terjadi gangguan homeostasis dimana jumlah yang

masuk dan keluar tidak seimbang, harus segera diberikan terapi untuk mengembalikan

keseimbangan tersebut.

Anatomi Cairan Tubuh

Total Body Water ( TBW )

Air merupakan komponen utama dalam tubuh yakni sekitar 60% dari berat

badan pada laki-laki dewasa. Persentase tersebut bervariasi bergantung beberapa faktor

diantaranya:

2

TBW pada orang dewasa berkisar antara 45-75% dari berat badan. Kisaran ini

tergantung pada tiap individu yang memiliki jumlah jaringan adipose yang

berbeda, yang mana jaringan ini hanya mengandung sedikit air.

TBW pada wanita lebih kecil dibanding dengan laki-laki dewasa pada umur yang

sama, karena struktur tubuh wanita dewasa yang umumnya lebih banyak

mengandung jaringan lemak.

TBW pada neonatus lebih tinggi yaitu sekitar 70-80% berat badan

Untuk beberapa alasan, obesitas serta peningkatan usia akan menurunjkan jumlah

kandungan total air tubuh

TBW dibagi dalam 2 komponen utama yaitu cairan intraseluler (CIS) dan cairan

ekstra seluler (CES) seperti terlihat pada gambar

Cairan intra seluler merupakan 40% dari TBW. Pada seorang laki- laki dewasa

dengan berat 70 kg berjumlah sekitar 27 liter. Sekitar 2 liter berada dalam sel darah

merah yang berada di dalam intravaskuler. Komposisi CIS dan kandungan airnya

bervariasi menurut fungsi jaringan yang ada. Misalnya, jaringan lemak memiliki jumlah

air yang lebih sedikit dibanding jaringan tubuh lainnya.

Komposisi dari CIS bervariasi menurut fungsi suatu sel. Namun terdapat

perbedaan umum antara CIS dan cairan interstitial. CIS mempunyai kadar Na+, Cl

- dan

HCO3- yang lebih rendah dibanding CES dan mengandung lebih banyak ion K

+ dan fosfat

serta protein yang merupakan komponen utama intra seluler.

Body 100%

Water 60 % (100)

Tissue 40 %

Intracellular space 40 % (60)

Extracellular space 20 % (40)

Intravascular space 5 % (10)

Interstitial space 15 % (30)

3

Komposisi CIS ini dipertahankan oleh membran plasma sel dalam keadaan stabil

namun tetap ada pertukaran. Transpor membran terjadi melalui mekanisme pasif seperti

osmosis dan difusi, yang mana tidak membutuhkan energi sebagaimana transport aktif.

Sekitar sepertiga dari TBW merupakan cairan ekstraseluler (CES), yaitu seluruh

cairan di luar sel. Dua kompartemen terbesar dari mairan ekstrasluler adalah cairan

interstisiel, yang merupakan tiga perempat cairan ekstraseluler, dan plasma, yaitu

seperempat cairan ekstraseluler. Plasma adalah bagian darah nonselular dan terus

menerus berhubungan dengan cairan interstisiel melalui celah-celah membran kapiler.

Celah ini bersifat sangat permeabel terhadap hampir semua zat terlarut dalam cairan

ekstraseluler, kecuali protein. Karenanya, cairan ekstraseluler terus bercampur, sehingga

plasma dan interstisiel mempunyai komposisi yang sama kecuali untuk protein, yang

konsentrasinya lebih tinggi pada plasma.

Cairan transeluler merupakan cairan yang disekresikan dalam tubuh terpisah dari

plasma oleh lapisan epithelial serta peranannya tidak terlalu berarti dalam keseimbangan

cairan tubuh, akan tetapi pada beberapa keadaan dimana terjadi pengeluaran jumlah

cairan transeluler secara berlebihan maka akan tetap mempengaruhi keseimbangan cairan

dan elektrolit tubuh. Cairan yang termasuk cairan transseluler yaitu :Cairan serebrospinal,

cairan dalam kelenjar limfe, cairan intra okular, cairan gastrointestinal dan empedu,

cairan pleura, peritoneal, dan perikardial.

Komponen cairan ekstraseluler terbagi menjadi seperti pada tabel berikut:

Komponen CES pada seorang laki-laki dewasa ( BB 70 Kg)

Cairan Berat Badan (%) Volume (%)

Cairan interstitial

Plasma

Cairan transeluler

Total CES

15

5

1

21

10,5

3,5

0,7

14,7

Berikut ini merupakan bagan perpindahan cairan nterstisiel dan plasma menurut hukum

Starling:

4

Komposisi Cairan Tubuh

Secara garis besar, komposisi cairan tubuh yang utama dalam plasma, interstitial

dan intraseluler ditunjukkan pada tabel berikut:(4)

Komposisi Plasma, interstitial, dan Intraselular ( mmol/L)

Substansia Plasma Cairan interstitial Cairan intraseluler

Kation

Na+

K+

Ca2+

Mg2+

Total

Anion

Cl-

HCO3-

Protein

Lainnya

Total

153

4,3

2,7

1,1

161,1

112

25,8

15,1

8,2

161,1

145

4,1

2,4

1

152,5

117

27,1

5

Kebutuhan Air dan Elektrolit

Bayi dan anak:(7)

Pada bayi dan anak sesuai dengan perhitungan di bawah ini :

Berat badan Kebutuhan air perhari

Sampai 10 kg 100 ml/kgBB

11-20 kg 1000 ml + 50 ml/kgBB

( untuk tiap kg diatas 10 kg)

>20 kg 1500 ml + 20 ml/kgBB

( untuk tiap kg diatas 20 kg)

Kebutuhan kalium 2,5 mEq/kgBB/hari

Kebutuhan natrium 2-4 mEq/kgBB/hari

Orang dewasa:(2)

Pada orang dewasa kebutuhannya yaitu :

Kebutuhan air sebanyak 30 -50 ml/kgBB/hari

Kebutuhan kalium 1-2 mEq/kgBB/hari

Kebutuhan natrium 2-3 mEq/kgBB/hari

Faktor yang Mempengaruhi Kebutuhan Cairan

Yang menyebabkan adanya suatu peningkatan terhadap kebutuhan cairan harian

diantaranya :

Demam ( kebutuhan meningkat 12% setiap 10 C, jika suhu > 370 C )

Hiperventilasi

Suhu lingkungan yang tinggi

Aktivitas yang ekstrim / berlebihan

Setiap kehilangan yang abnormal seperti diare atau poliuria

Yang menyebabkan adanya penurunan terhadap kebutuhan cairan harian

diantaranya yaitu :

Hipotermi ( kebutuhannya menurun 12% setiap 10 C, jika suhu

6

Proses Pergerakan Cairan Tubuh

Perpindahan air dan zat terlarut di antara bagian-bagian tubuh melibatkan

mekanisme transport pasif dan aktif. Mekanisme transport pasif tidak membutuhkan

energi sedangkan mekanisme transport aktif membutuhkan energi. Difusi dan osmosis

adalah mekanisme transport pasif. Sedangkan mekanisme transport aktif berhubungan

dengan pompa Na-K yang memerlukan ATP.

Proses pergerakan cairan tubuh antar kompartemen dapat berlangsung secara :

a. Osmosis

Osmosis adalah bergeraknya molekul (zat terlarut) melalui membran semipermeabel

(permeabel selektif dari larutan berkadar lebih rendah menuju larutan berkadar lebih

tinggi hingga kadarnya sama. Membran semipermeabel ialah membran yang dapat

dilalui air (pelarut), namun tidak dapat dilalui zat terlarut misalnya protein.1,4

Tekanan osmotik plasma darah ialah 285 5 mOsm/L. Larutan dengan tekanan

osmotik kira-kira sama disebut isotonik (NaCl 0,96%, Dekstrosa 5%, Ringer-laktat),

lebih rendah disebut hipotonik (akuades) dan lebih tinggi disebut hipertonik.1

b. Difusi

Difusi ialah proses bergeraknya molekul lewat pori-pori. Larutan akan bergerak dari

konsentrasi tinggi ke arah larutan berkonsentrasi rendah. Tekanan hidrostatik

pembuluh darah juga mendorong air masuk berdifusi melewati pori-pori tersebut. Jadi

difusi tergantung kepada perbedaan konsentrasi dan tekanan hidrostatik.

c. Pompa Natrium Kalium

Pompa natrium kalium merupakan suatu proses transport yang memompa ion natrium

keluar melalui membran sel dan pada saat bersamaan memompa ion kalium dari luar

ke dalam. Tujuan dari pompa natrium kalium adalah untuk mencegah keadaan

hiperosmolar di dalam sel.

Air melintasi membran sel dengan mudah, tetapi zat-zat lain sulit atau diperlukan

proses khusus supaya dapat melintasinya, karena itu komposisi elektrolit di dalam dan di

luar sel berbeda. Cairan intraselular banyak mengandung ion K, ion Mg dan ion fosfat,

sedangkan ekstraselular banyak mengandung ion Na dan ion Cl.

7

Tekanan osmotik suatu larutan dinyatakan dengan osmol atau miliosmol/liter.

Tekanan osmotik suatu larutan ditentukan oleh banyaknya partikel yang larut dam suatu

larutan. Dengan kata lain, makin banyak partikel yang larut maka makin tinggi tekanan

osmotik yang ditimbulkannya. Jadi, tekanan osmotik ditentukan oleh banyaknya pertikel

yang larut bukan tergantung pada besar molekul yang terlarut. Perbedaan komposisi ion

antara cairan intraseluler dan ekstraseluler dipertahankan oleh dinding yang bersifat

semipermeabel.

Kandungan air dalam tiap organ tidak seragam seperti terlihat pada tabel 3.

Tabel 3. Kandungan air dalam tiap organ1

Jaringan Presentasi Air

Otak 84

Ginjal 83

Otot Lurik 76

Kulit 72

Hati 68

Tulang 22

Lemak 10

Perubahan Cairan Tubuh

Gangguan cairan tubuh dapat dibagi dalam tiga bentuk yakni perubahan :

1. Volume,

2. Konsentrasi, dan

3. Komposisi.

Ketiga macam gangguan tersebut mempunyai hubungan yang erat satu dengan

yang lainnya sehingga dapat terjadi bersamaan. Namun demikian, dapat juga terjadi

secara terpisah atau sendiri yang dapat member gejala-gejala tersendiri pula. Yang paling

sering dijumpai dalam klinik adalah gangguan volume.

1. Perubahan Volume

Defisit Volume

8

Pada keadaan akut, kehilangan cairan yang cepat akan menimbulkan tanda gangguan

pada susunan saraf pusat dan jantung. Pada kehilangan cairan yang lambat, lebih

dapat ditoleransi sampai defisit volume cairan ekstraseluler yang berat.

Dehidrasi

Dehidrasi sering dikategorikan sesuai dengan kadar konsentrasi serum dari natrium

menjadi isonatremik (130-150 mEq/L), hiponatremik ( 20 kg

100 ml/kg/hari

1000 ml + 50 ml/kg/hari untuk setiap kg

di atas 10 kg

1500 ml + 20 ml/kg/hari untuk setiap kg

di atas 20 kg

Cara rehidrasi yaitu hitung cairan dan elektrolit total (rumatan + penggantian defisit)

untuk 24 jam pertama. Berikan separuhnya dalam 8 jam pertama dan selebihnya

dalam 16 jam berikutnya.

9

Kelebihan Volume

Kelebihan volume cairan ekstraselular merupakan suatu kondisi akibat iatrogenic

(pemberian cairan intravena seperti NaCl yang menyebabkan kelebihan air dan NaCl

ataupun pemberian cairan intravena glukosa yang menyebabkan kelebihan air)

ataupun dapat sekunder akibat insufisiensi renal (gangguan GFR), sirosis, ataupun

gagal jantung kongestif.

2. Perubahan Konsentrasi

Perubahan konsentrasi cairan tubuh dapat berupa hipernatremia atau hiponatremia

maupun hiperkalemia atau hipokalemia.

Rumus untuk menghitung defisit elektrolit :3,4

o Defisit natrium (mEq total) = (Na serum yang diinginkan Na serum

sekarang) x 0,6 x BB (kg)

o Defisit Kalium (mEq total) = (K serum yang diinginkan [mEq/liter] K serum

yang diukur) x 0,25 x BB (kg)

o Defisit Klorida (mEq total) = (Cl serum yang diinginkan [mEq/liter] Cl

serum yang diukur) x 0,45 x BB (kg)

3. Perubahan komposisi

Perubahan komposisi itu dapat terjadi tersendiri tanpa mempengaruhi osmolaritas

cairan ekstraseluler. Sebagai contoh misalnya kenaikan konsentrasi K dalam darah

dari 4 mEq menjadi 8 mEq, tidak akan mempengaruhi osmolaritas cairan

ekstraseluler tetapi sudah cukup mengganggu otot jantung. Demikian pula halnya

dengan gangguan ion kalsium, dimana pada keadaan hipokalsemia kadar Ca kurang

dari 8 mEq, sudah akan timbul kelainan klinik tetapi belum banyak menimbulkan

perubahan osmolaritas.

Gangguan Keseimbangan Air dan Elektrolit

Gangguan keseimbangan air dan elektrolit dapat terjadi karena:

Gastroenteritis, demam tinggi ( DHF, difteri, tifoid )

Kasus pembedahan ( appendektomi, splenektomi, section cesarea, histerektomi )

10

Penyakit lain yang menyebabkan pemasukan dan pengeluaran tidak seimbang

( kehilangan cairan melalui muntah )

Dehidrasi

Dehidrasi merupakan keadaan dimana kurangnya terjadi kekurangan jumlah

cairan tubuh dari jumlah normal akibat kehilangan, aasupan yang tidak memadai atau

kombinasi keduanya. Menurut jenisnya dehidrasi dibagi atas ;

Dehidrasi hipotonik

Dehidrasi hipertonik

Dehidrasi isotonik

Sedangkan menurut derajat beratnya dehidrasi yang didasarkan pada tanda interstitial

dan tanda intravaskuler yaitu ;

Dehidrasi ringan ( defisit 4% dari BB)

Dehidrasi sedang ( defisit 8% dari BB)

Dehidrasi berat ( defisit 12% dari BB)

Syok ( defisit dari 12% dari BB)

Defisit cairan interstitial dengan gejala sebagai berikut :

Turgor kulit yang jelek

Mata cekung

Ubun-ubun cekung

Mukosa bibir dan kornea kering

Defisist cairan intravaskuler dengan gejala sebagai berikut :

Hipotensi, takikardi

Vena-vena kolaps

Capillary refill time memanjang

Oliguri

Syok ( renjatan)

Dehidrasi hipotonik ( hiponatremik )

Pada anak yang diare yang banyak minum air atau cairan hipotonik atau diberi

infus glukosa 5%

Kadar natrium rendah (

11

Dehidrasi hipertonik

Biasa terjadi setelah intake cairan hipertonik ( natrium, laktosa ) selama diare

Kehilangan air >> kehilangan natrium

Konsentrasi natrium > 150 mmol/ L

Osmolaritas serum meningkat > 295 mOsm/L

Haus, irritable

Bila natrium serum mencapai 165 mmol/L dapat terjadi kejang

Berikut tabel yang menggambarkan tentang beberapa gangguan elektrolit.

Ion dan batas CES

normal ( mEq/L)

Terganggu ( mEq/L) Gejala- gejala Penyebab

Natrium ( 136- 142) Hipernatremia ( >150) Haus, kulit kering

dan mengkerut,

penurunan tekanan

dan volume darah,

bahkan kolaps

sirkulasi

Dehidrasi, kehilangan

cairan hipotonik

Hiponatremia (8) Aritmia jantung

berat

Gagal ginjal,

penggunaaan diuretic,

asidosis kronik

Hipokalemia ( 11) Konfusi, nyeri otot,

aritmia jantung, batu

ginjal, kalsifikasi

pada jaringan lunak

Hiperparatiroid, kanker,

toksisitas vit. D.

suplemen kalsium

dengan dosis yang

12

sangat berlebihan

Hipokalsemia (

13

Caitran pengganti ( replacement )

o Sekuestrasi ( cairan third space )

o Pengganti darah yang hilang

o Pengganti cairan yang hilang melalui fistel, maag slang dan drainase

Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang dapat dilakukan penghitungan untuk

menghitung berapa besarnya cairan yang hilang tersebut :

Refraktometer

Defisit cairan : BD plasma 1,025 x BB x 4 ml

Ket. BD plasma = 0,001

Dari serum Na+

Air yang hilang : 0,6 Berat Badan x BB (Plasma Natrium 1 )

Ket. Plasma Na = 140

Dari Hct

Defisit plasma (ml) = vol.darah normal (vol.darah normal x nilai Hct awal )

Hct terukur

Sementara kehilangan darah dapat diperkirakan besarnya melalui beberapa

kriteria klinis seperti pada tabel di bawah ini ;

Klas I Klas II Klas III Klas IV

Kehilangan darah

( ml)

Sampai 750 750-1500 1500-2000 >2000

Kehilangan darah

( %EBV)

Sampai 15% 15-30% 30-40% >40%

Denyut nadi 100 >120 >140

Tek. Darah

(mmHg)

Normal Normal Menurun Menurun

Tek. Nadi

(mmHg)

Normal atau

meningkat

Menurun Menurun Menurun

Frek. Napas 14-20 20-3- 30-35 >35

Produksi urin

(ml/jam)

>30 20-30 5-15 Tidak ada

SSP / status Gelisah ringan Gelisah sedang Gelisah dan Bingung dan

14

mental bingung letargi

Cairan pengganti

( rumus 3 :1)

Kristaloid Kristaloid Kristaloid dan

darah

Kristaloid dan

darah

Pemilihan Cairan

Cairan intravena diklasifikasikan menjadi kristaloid dan koloid. Kristaloid

merupakan larutan dimana molekul organik kecil dan inorganik dilarutkan dalam air.

Larutan ini ada yang bersifat isotonik, hipotonik, maupun hipertonik. Cairan kristaloid

memiliki keuntungan antara lain : aman, nontoksik, bebas reaksi, dan murah. Adapun

kerugian dari cairan kristaloid yang hipotonik dan isotonik adalah kemampuannya

terbatas untuk tetap berada dalam ruang intravaskular.

Kristaloid

Cairan kristaloid yang paling banyak digunakan adalah normal saline dan ringer

laktat. Cairan kristaloid memiliki komposisi yang mirip cairan ekstraselular. Karena

perbedaan sifat antara kristaloid dan koloid, dimana kristaloid akan lebih banyak

menyebar ke ruang interstitial dibandingkan dengan koloid maka kristaloid sebaiknya

dipilih untuk resusitasi defisit cairan di ruang intersisial.

Penggunaan cairan normal salin dalam jumlah yang besar dapat menyebabkan

timbulnya asidosis hiperkloremik, sedangkan penggunaan cairan ringer laktat dengan

jumlah besar dapat menyebabkan alkalosis metabolik yang disebabkan adanya

peningkatan produksi bikarbonat akibat metabolisme laktat.

Larutan dekstrose 5% sering digunakan jika pasien memiliki gula darah yang

rendah atau memiliki kadar natrium yang tinggi. Namun penggunaannya untuk resusitasi

dihindarkan karena komplikasi yang diakibatkan antara lain hiperomolalitas-

hiperglikemik, diuresis osmotik, dan asidosis serebral.

Tabel 6. Komposisi Cairan Kristaloid5

Solution Glucose

(mg/dL)

Sodium

(mEq/L)

Chloride

(mEq/L)

Potassium

(mEq/L)

Kalsium

(mEq/L)

Lactate

(mEq/L)

(mOsmol/L)

15

5%

Dextrose in

water

5000 253

D5 NS 5000 77 77 406

D5 NS 5000 154 154 561

0,9% NaCl 154 154 308

Ringer

Laktat

130 109 4.0 3.0 28 273

D5 RL 5000 130 109 4.0 3.0 28 525

5% NaCl 855 855 1171

Koloid

Cairan koloid disebut juga sebagai cairan pengganti plasma atau biasa disebut

plasma expander. Di dalam cairan koloid terdapat zat/bahan yang mempunyai berat

molekul tinggi dengan aktivitas osmotik yang menyebabkan cairan ini cenderung

bertahan agak lama dalam ruang intravaskuler.

Koloid dapat mengembalikan volume plasma secara lebih efektif dan efisien

daripada kristaloid, karena larutan koloid mengekspansikan volume vaskuler dengan

lebih sedikit cairan dari pada larutan kristaloid. Sedangkan larutan kristaloid akan keluar

dari pembuluh darah dan hanya 1/4 bagian tetap tinggal dalam plasma pada akhir infus.

Koloid adalah cairan yang mengandung partikel onkotik dan karenanya menghasilkan

tekanan onkotik. Bila diberikan intravena, sebagian besar akan menetap dalam ruang

intravaskular.

Meskipun semua larutan koloid akan mengekspansikan ruang intravaskular,

namun koloid yang mempunyai tekanan onkotik lebih besar daripada plasma akan

menarik pula cairan ke dalam ruang intravaskular. Ini dikenal sebagai ekspander plasma,

sebab mengekspansikan volume plasma lebih dari pada volume yang diberikan.

Albumin

Albumin merupakan larutan koloid murni yang berasal dari plasma manusia.

Albumin dibuat dengan pasteurisasi pada suhu 600C dalam 10 jam untuk meminimalisir

resiko transmisi virus hepatitis B atau C atau pun virus imunodefisiensi. Waktu paruh

albumin dalam plasma adalah sekitar 16 jam, dengan sekitar 90% tetap bertahan dalam

intravascular 2 jam setelah pemberian.

Dekstran

16

Dekstran merupakan semisintetik koloid yang secara komersial dibuat dari

sukrose oleh mesenteroides leukonostok strain B 512 dengan menggunakan enzim

dekstran sukrose. Ini menghasilkan dekstran BM tinggi yang kemudian dilengketkan oleh

hidrolisis asam dan dipisahkan dengan fraksionasi etanol berulang untuk menghasilkan

produk akhir dengan kisaran BM yang relatif sempit. Dekstran untuk pemakaian klinis

tersedia dalam dekstran 70 (BM 70.000) dan dekstran 40 (BM 40.000) dicampur dengan

garam faal, dekstrosa atau Ringer laktat.

Dekstran 70 6 % digunakan pada syok hipovolemik dan untuk profilaksis

tromboembolisme dan mempunyai waktu paruh intravaskular sekitar 6 jam. Pemakaian

dekstran untuk mengganti volume darah atau plasma hendaknya dibatasi sampai 1 liter

(1,5 gr/kgBB) karena risiko terjadi perdarahan abnormal. Batas dosis dekstran yaitu 20

ml/kgBB/hari.

Sekitar 70% dosis dekstran 40 yang diberikan akan dieksresikan ke dalam urine

dalam 24 jam. Molekul- molekul yang lebih besar dieksresikan lewat usus atau dimakan

oleh sel-sel sistem retikoloendotelial. Volume dekstran melebihi 1 L dapat mengganggu

hemostasis. Disfungsi trombosit dan penurunan fibrinogen dan faktor VIII merupakan

alasan timbulnya perdarahan yang meningkat. Reaksi alergi terhadap dekstran telah

dilaporkan, tetapi kekerapan reaksi anafilaktoid mungkin kurang dari 0,02 %. Dekstran

40 hendaknya jangan dipakai pada syok hipovolemik karena dapat menyumbat tubulus

ginjal dan mengakibatkan gagal ginjal akut.

Gelatin

Gelatin dibuat dengan jalan hidrolisis kolagen sapi. Preparat yang umum

dipasaran adalah gelatin yang mengalami suksinasi seperti Gelofusin dengan pelarut

NaCL isotonik. Gelatin dengan ikatan urea-poligelin ( Haemaccel ) dengan pelarut NaCL

isotonik dengan Kalium 5,1 mmol/l dan Ca 6,25 mmol/ L.

Pemberian gelatin agaknya lebih sering menimbulkan reaksi alergik daripada

koloid yang lain. Berkisar dari kemerahan kulit dan pireksia sampai anafilaksis yang

mengancam nyawa. Reaksi-reaksi tersebut berkaitan dengan pelepasan histamine yang

mungkin sebagai akibat efek langsung gelatin pada sel mast.

Gelatin tidak menarik air dari ruang ekstravaskular sehingga bukan termasuk

ekspander plasma seperti dekstran. Larutan gelatin terutama diekskresikan lewat ginjal

dalam urin, sementara itu gelatin dapat menghasilkan diuresis yang bagus. Sebagian kecil

17

dieliminasikan lewat usus. Karena gelatin tidak berpengaruh pada sistem koagulasi,

maka tidak ada pembatasan dosis. Namun, bila terlalu banyak infus, pertimbangkan

adanya efek dilusi. Gelatin dapat diberikan pada pasien dengan gangguan fungsi ginjal

bahkan pada pasien yang menjalani hemodialisis. Indikasi gelatin : Penggantian volume

primer pada hipovolemia, stabilisasi sirkulasi perioperatif. Sedangkan kontraindikasi

adalah infark miokard yang masih baru terjadi, gagal jantung kongestif dan syok

normovolemik.

Hydroxylethyl Starch (HES)

Senyawa kanji hidroksietil ( HES ) merupakan suatu kelompok koloid sintetik

polidisperse yang mempunyai glikogen secara struktural. Kurang dapat diterima kanji

hidroksi (HES ) untuk pengantian volume paling mungkin akibat laporan-laporan adanya

koagulasi abnormal yang menyertai subtitusi plasma ini. Laporan laporan tentang HES

yang memperlihatkan koagulasi darah yang terganggu dan kecenderungan perdarahan

yang meningkat sebagian besar berdasarkan pemakaian preparat HES berat molekul

tinggi ( HMW-HES ). Waktu paruh dari 90% partikel HES adalah 17 hari.

Seperti semua koloid lainnya, kanji hidroksietil juga berkaitan dengan reaksi

anafilaktoid yang ringan dengan kekerapan kira-kira 0,006 %. Indikasi pemberian HES

adalah :Terapi dan profilaksis defisiensi volume (hipovolemia) dan syok (terapi

penggantian volume) berkaitan dengan pembedahan (syok hemoragik), cedera (syok

traumatik), infeksi (syok septik), kombustio (syok kombustio). Sedangkan kontra indikasi

adalah : Gagal jantung kongestif berat, Gagal ginjal (kreatinin serum >2 mg/dL dan >177

mikromol/L).Gangguan koagulasi berat (kecuali kedaruratan yang mengancam nyawa).

Dosis penggunaan HES adalah 20 ml/kgBB/hari.

Kontroversi kristaloid versus koloid

Pertanyaan apakah kristaloid atau koloid yang terbaik untuk resusitasi terus

merupakan bahan diskusi dan penelitian. Banyak cairan telah dikaji unruk resusitasi,

antara lain: NaCl 0,9%, Larutan Ringer laktat, NaCl hipertonik, albumin, fraksi protein

murni, plasma beku segar, hetastarch, pentastarch, dan dekstran 70.3,5

Bila problema sirkulasi utama pada syok adalah hipovolemia, maka terapi

hendaknya ditujukan untuk restorasi volume darah dengan cairan resusitasi ideal. Cairan

ideal adalah yang dapat membawa O2. Larutan koloid yang ada terbatas karena ketidak

18

mampuan membawa O2. Darah lengkap marupakan ekspander volume fisiologis dan

komplit, namun terbatas masa simpan yang tidak lama, fluktuasi dalam penyimpanannya,

risiko kontaminasi viral, reaksi alergi dan mahal.

Biarpun larutan koloid tidak dapat membawa O2, namun sangat bermanfaat

karena mudah tersedia dan risiko infeksi relatif rendah. resusitasi hemodinamik lebih

cepat dilaksanakan dengan koloid karena larutan koloid mengekspansikan volume

vaskular dengan lebih sedikit cairan dari pada larutan kristaloid. Sedangkan larutan

kristaloid akan keluar dari pembuluh darah dan hanya bagian tetap tinggal dalam

plasma pada akhir infus. Larutan kristaloid juga mengencerkan protein plasma sehingga

TOK menurun, yang memungkinkan filtrasi cairan ke interstisiel. Resusitasi cairan

kristaloid dapat pula berakibat pemberian garam dan air yang berlebihan dengan

konsekuensi edema interstitial. Pada kasus perdarahan yang cukup banyak, tetapi yang

tidak memerlukan transfusi, dapat dipakai koloid dengan waktu paruh yang lama

misalnya : Haes steril 6 %.

Bila pasien memerlukan transfusi, selama menunggu darah, kita dapat memberi

koloid dengan BM sekitar 40.000 misalnya : Expafusin, Plasmafusin, Haemaccel,

Gelafundin atau Dextran L. Dengan begitu, manakala darah siap untuk ditransfusikan

sekitar 2 -3 jam kemudian, kita dapat melakukannya langsung, tanpa khawatir terjadi

kelebihan cairan dalam ruang intravaskular.

Tabel 7. Perbandingan Kristaloid dan Koloid3

Kristaloid Koloid

Keunggulan 1. Lebih mudah tersedia dan

murah

2. Komposisi serupa dengan

plasma (Ringer asetat/ringer

laktat)

3. Bisa disimpan di suhu kamar

4. Bebas dari reaksi anafilaktik

5. Komplikasi minimal

1. Ekspansi volume plasma

tanpa ekspansi interstitial

2. Ekspansi volume lebih besar

3. Durasi lebih lama

4. Oksigenasi jaringan lebih

baik

5. Insiden edema paru dan/atau

edema sistemik lebih rendah

Kekurangan 1. Edema bisa mengurangi 1. Anafilaksis

19

ekspansibilitas dinding dada

2. Oksigenasi jaringan

terganggu karena

bertambahnya jarak kapiler

dan sel

3. Memerlukan volume 4 kali

lebih banyak

2. Koagulopati

3. Albumin bisa memperberat

depresi miokard pada pasien

syok

Berikut ini tabel beberapa jenis cairan kristaloid dan kandungan masing- masing :

Nama produk Na+

K+

Mg+

Cl-

Laktat Dekstrose (gr/L) Kalori (Kcal/L)

Ringer laktat 130 4 - 109 28 - -

NaCl 0,9% 154 - - 154 - - -

Dextrose 5% - - - - - 27 108

Berikut ini tabel yang menunjukkan pilihan cairan pengganti untuk suatu

kehilangan cairan yaitu ;

Kehilangan

Kandungan rata- rata

(mmol/ L)

Cairan pengganti yang sesuai

Na+

K+

Darah 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9% / koloid / produk

darah

Plasma 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9% / koloid

Rongga ketiga 140 4 Ringer asetat / RL / NaCl 0,9%

Nasogastrik 60 10 NaCl 0,45% + KCl 20 mEq/L

Sal. Cerna atas 110 5-10 NaCl 0,9% ( periksa K+ dengan teratur )

Diare 120 25 NaCl 0,9% + KCl 20 mEq/L

20

DAFTAR PUSTAKA

1. Guyton, A. Kompartemen Cairan Tubuh: Cairan Ekstraseluler dan Intraseluler.

Dalam: Buku ajar Fisiologi Kedokteran edisi 9. Jakarta: EGC; 1997. hal 375-7.

2. Latief, AS, dkk. Petunjuk Praktis Anestesiologi : Terapi Cairan Pada

Pembedahan. Edisi Kedua. Bagian Anestesiologi dan Terapi Intensif, FKUI.

2002.

3. Pinnock, Colin, et al. Fundamentals of Anaaesthesia. GMM. 1999.

4. Graber, MA. Terapi Cairan, Elektrolit, dan Metabolik. Edisi 2. Jakarta:

Farmedia. 2003.

5. Aitkenhead, Alan R, et al. Textbook of Anaethesia. Fifth Edition. United

Kingdom : Churchill Livingstone. 2007.

6. Stoelting, Robert K, and Ronald D. miller. Basics of Anesthesia. Fifth edition.

California : Churchill Livingstone. 2007.

7. Evers, AS, and Mervyn Maze. Anesthetic Pharmacology: Physiologic

Principles and Clinical Practice. United Kingdom : Churchill Livingstone.

2004.

8. Morgan, GE, et al. Clinical Aneshesiology : Fluid Management and

Transfusion. Third Edition. New York : Lange Medical Books/McGraw-Hill.

2002.

9. Lyon Lee. Resuscitation Fluids, Disorder of Fluid and Electrolyte Balance.

Oklahoma State University Center for Veterinary Health. 2006. Tersedia dari ;

http://member.tripod.com/-lyser/ivfs.htm

10. Anonim. Resusitasi Cairan dan Elektrolit. Dalam Buku Pegangan Pelatihan

Bantuan hidup Dasar dan Bantuan Hidup Lanjut bagi Dokter Umum se-Propinsi

Sulawesi Selatan. Makassar: Ikatan Dokter Spesialis Anestesiologi Indonesia

Cabang Sulawesi Selatan; 2000. hal 62-72.

http://member.tripod.com/-lyser/ivfs.htm

21

11. Anonym. Electrolyte Disorders. Available from: URL:

http://www.nejm.article.php. Accessed Desember 14, 2005.

12. Anonym. Fluid and Electrolyte Therapy in Children. Available from: URL:

http://www.bmj.com/merckcourse.htm. Accessed Desember 14, 2005.

13. Anonym. Fluid and Electrolyte Therapy. Available from: URL:

http://www.cvm.okstate.edu/courses.vmed5412. Accessed Desember 14, 2005.

14. Anonim. Kebutuhan Harian Air dan Elektrolit, gangguan Keseimbangan Air dan

Elektrolit, dan Terapi Cairan. Dalam: Pedoman Cairan Infus edisi revisi VIII.

Jakarta: PT. Otsuka Indonesia; 2003. hal. 16-33.

http://www.nejm.article.php./http://www.cvm.okstate.edu/courses.vmed5412