cogito ergo sum

Download Cogito Ergo Sum

Post on 14-Oct-2015

278 views

Category:

Documents

37 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Cogito ergo sumadalah sebuah ungkapan yang diutarakan olehDescartes, sangfilsufternama dariPerancis. Artinya adalah: "aku berpikir maka aku ada". Maksudnya kalimat ini membuktikan bahwa satu-satunya hal yang pasti di dunia ini adalah keberadaan seseorang sendiri. Keberadaan ini bisa dibuktikan dengan fakta bahwa ia bisa berpikir sendiri.Jika dijelaskan, kalimat "cogito ergo sum" berarti sebagai berikut. Descartes ingin mencari kebenaran dengan pertama-tama meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri.Descartes berpikir bahwa dengan cara meragukan semua hal termasuk dirinya sendiri tersebut, dia telah membersihkan dirinya dari segala prasangka yang mungkin menuntunnya ke jalan yang salah. Ia takut bahwa mungkin saja berpikir sebenarnya tidak membawanya menuju kebenaran. Mungkin saja bahwa pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa manusia kepada kebenaran, namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada semacam kekuatan tertentu yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah.Sampai di sini, Descartes tiba-tiba sadar bahwa bagaimanapun pikiran mengarahkan dirinya kepada kesalahan, namunia tetaplah berpikir. Inilah satu-satunya yang jelas. Inilah satu-satunya yang tidak mungkin salah. Maksudnya, tak mungkin kekuatan tadi membuat kalimat "ketika berpikir, sayalah yang berpikir" salah. Dengan demikian, Descartes sampai pada kesimpulan bahwa ketika ia berpikir, maka ia ada. Atau dalam bahasa Latin: COGITO ERGO SUM, aku berpikir maka aku ada.(Wikipedia)Sabtu, 29 Desember 2012Tokoh Filsafat Modern Rene Descartes ( Cogito Ergo Sum)

BAB IPENDAHULUAN

Rene Descartes dinggap sebagai Bapak aliran filsafat pada zaman modern. Disamping seorang tokoh rasionalime, Descartes pun merupakan seorang filsuf yang ajaran filsafatnya sangat populer, kerna pndangannya yang tidak pernah goyah, tentang kebenaran tertinggi berada pada akal atau rasio manusia. Rene Descartes seorang filsuf yang tidak puas dengan filsafat Skolastik yang pandangan-pandangannya saling bertentangan, dan tidak ada kepastian disebabkan oleh miskinya metode berfikir yang tepat. Descartes mengemukakan metode baru yaitu metode keragu-raguan. Jika orang ragu terhadap segala sesuatu, dalam keragu-raguan itu, jelas ia sedang berfikir. Sebab, yang sedang berfikir itu tentu ada dan jelas terang-benderang.Cogito ergo sum(saya berfikir, maka saya ada).Rasio merupakan sumber kebenaran. Hanya rasio sajalah yang dapat membawa orang paa kebenaran. Yang benar hanyalah tindakan akal yang terang benderangyang disebutnyaIdeas Claires el Distinces(pikiran yang terang benderang dan terpilah-pilah). Idea terang benderang ini pemberian tuhan sebelum orang dilahirkan (ida inate: ide bawaan). Sebagai pemberian Tuhan, maka tak mungkin tak benar.Kerasionalan dalam berfikir Descartes membuat saya tertarik untuk mengkaji tokoh ini (Descartes). Begitu juga tentang metode cara menemukan kepastian yag ia kemukakan dalam ungkapanCogito rgo sum( saya berfikir, maka saya ada). Selain itu juga tentang pendapat Descares yang mengatakan bahwa roh pada jiwa pada hakikatnya berbeda dengan benda. Sifat asasi roh adalah pemikiran, sedang asasi benda adalah keluasan.Makalah ini akan membahas beberapa pokok masalah yang terkandung di dalamnya. Diantaranya adalah biografi dari Rene Descrtes itu sendiri. Dari kelahiranya, riwayat pendidikannya, dan kondisi keluarganya, serta karya-karya monumental dari Rene Descartes itu sendiri. Kemudian pokok-pokok pemikiran beliau serta metode dan pendekatan apa yang ia pakai dalam pemikirannya tersebut. Makalah ini juga membahas tentang analisa tokoh mulai dari dukungan atas tokoh, kritik atas pemikiran tokoh, serta analisa penulis sendiri mengenai Decartes sendiri. Pembahasan berikutnya adalah mengenai epistemologi atau cara memperoleh pengetahuan yang ditawarkan Descartes dan begitu juga ontologi Descartes.Menenai makalah tujuan dari makalah ini dibuat adalah yang petama kali merupakan sebagai tugas akhir semester dari mata kuliah Filsafat Ilmu dan Logika. Untuk seterusnya penulis mengharapkan dengan terselesaikannya makalah ini, pembaca dapat mengetahui lebih dalam siapa itu Rene Descartes, apa saja pemikirannya, epistemologi Decartes dalam mencari kepastian , juga ontologi Descartes.

BAB IIPEMBAHASAN

A.BiografiRene Descartes lahir di kota La Haye Totiraine, Perancis pada tanggal 31 Maret tahun 1596 M.Dalam literatur berbahasa latin dia dikenal dengan Renatus Cartesius. Rene Descartes selain merupakan seorang filosof, dia juga seorang matematikawan Perancis. Beliau meninggal pada tanggal 11 februari 1650 M di Swedia di usia 54 tahun[1]. Kemudianjenazahnya dipindahke Perancis pada tahun 1667 M dan tengkoraknya disimpan di Museum Dhistorie Naturelle di Paris.Rene Descartes dikenal sebagai Bapak Filsafat Modern. Menurut Bertnand Russel, memang benar. Gelar itu diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan rasional. Dialah orang pertama pada akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat yangdictinct,yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat adalah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat, serta bukan yang lainnya[2].Corak pemikiran yang rasional merupakan sebuah kontribusi pemikiran yang ia berikan kepada dunia. Selain itu, ada beberapa kontribusi berupa karya-karya buku. Karya-karyanya yang terpenting dalam bidang filsafat murni dintaranyaDicours de la Methode(1637) yang menguraikan tentang metode. Selain itu juga adaMeditations de Prima Philosophia(1642), sebuah buku yang menguraikan tentang meditasi-meditasi tentang filsafat pertama. Di dalam kedua buku inilah Descartes menuangan metodenya yang terknal itu, metodeCogito ero sum, metode keraguan Descartes.[3]Rene Descates merupakan anak ketiga dari seorang anggota Parlemen Inggris yang memiliki tanah yang cukup luas. Ketika beliau mewarisinya setelah ayahnya meninggal, beliau menjual tanah warian tersebut dan menginvestasikan uangnya dengan pendapatan enam atau tujuh ribu franc per tahun[4]. Pada tahun 1612 M, beliau pidah ke Perancis. Beliau merupakan orang yang taat mengerjakan ibadah menurut ajaran Katholik, tetapi beliau juga menganut bidah-bidah Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Terbukti dalam bukunyaLa Mondeyang mana beliau memaparkan di dalamnya dua pemikiran bidah : Rotasi bumi dan keterhinggaan alam semesta[5]. Dari tahun 1629 M sampai 1649 M, beliau menetap di Belanda.Pendidikan pertama Descartes diperoleh dari College Des Jesuites La Fleche dari tahun 1604 1612 M. Beliau memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Perancis, musik dan akting. Disamping beliau juga belajar tentang filsafat, matematika, fisika, dan logika[6]. Bahkan, beliau mendapat pengetahuan tentang logika Aristoteles, etika Nichomacus, astronomi, dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Dalam pendidikannya Descartes merasakan beberapa kebingungan dalam memahami berbagai aliran dalam filafat yang saling berlawanan.Pada tahun 1612 M, Descartes pergi ke Paris dan di sana beliau mendapatkan kehidupan sosial yang menjemukan yang akhirnya beliau mengasingkan diri ke Faobourg Sain German untuk mengerjakan ilmu ukur. Kemudian pada tahun 1617 M, Descartes masuk ke dalam tentaraBelanda. Selama dua tahun, beliau mengalami suasana damai dan tentram di negeri kincir angin ini, sehingga beliau dapat menjalani renungan fisafatnya. Pada tahun 1619 M, Descartes bergabung dengan tentata Bavaria. Selama musim dingin antara tahun 1619 1620 M, di kota ini, beliau mendapatkan pengalaman, yang kemudian dituangkan dalam buku pertamanyaDiscours de la Methode.Salah satu pengalaman yang unik adalah tentang mimpi yang dialami sebanyak tiga kali dalam satu malam, yang dilukiskan oleh sebagian penulis bagaikan ilham dari Tuhan.[7]Pada tahun 1621 M, Descartes berhenti dari medan perang dan setelah berkelana ke Italia, lalu beliau menetap di Paris (1625 M.). Tiga tahun kemudian, beliu kembali masuk tentara, tetapi tidak lama beliau keluar lagi. Dan akhirnya beliau memutuskan untuk menetap di Belanda. Di sinilah Descartes menetap selama 20 tahun (1629 1649 M.) dalam iklim kebebasan berfikir. Di negeri sinilah beliau dengan leluasa menyusun karya-karyanya di bidang ilmu dan filsafat[8].Descartes menghabiskan masa hidupnya di Swedia tatkala beliau memenuhi undangan Ratu Christine yang menginginkan pelajaan-pelajaran dari Descartes. Salah satunya Ratu Christine ingin mempelajari filsafat Decartes. Pelajaran-pelajaran yang diharusakn diajarkan setiap jam lima pagi menyebabkan Descartes jatuh sakit radang paru-paru yang menjemput ajalnya pada tahun 1650 M, sebelum sempat beliau menikah. Tetapi Descartes mempunyai seorang anak perempuan kandung yang meninggal pada umur lima tahun; ini, katanya, merupakan kesedihan yang paling mendalam selama hidupnya[9].

B.Metode dan Pendekatan Pemikiran DescartesDalam pemikiran DescartesCogito Ergo Sumyang berarti aku berfikir maka aku ada, beliau menggunakan metode analistis kristis melalui keraguan (skeptis) dengan penyangsian. Yaitu dengan menyangsikan atau meragukan segala apa yang bisa diragukan. Descartes sendiri menyebutnya metodeanalitis. Descartes juga menegaskan metode lain: empirisme rasionil[10]. Metode itu mengintregasikan segala keuntungan dari logika, analisa geometris, dan aljabar. Yang di maksud analisa geometris adalah ilmu yang menyatukan semua disiplin ilmu yang dikumpulkan dalam nama ilmu pasti[11].Mengenai pendekatan yang digunakan Descartes dalam menganalisa pemikirannya, sudah kelihatan jelas bahwa beliau menggunakan pendekatan filsafat yang mana menganut paham rasionalisme yang sangat mengedepankan akal.Dapat dipahami bahwasanya Rene Descartes dalam Cogito Ergo Sumnya menggunakan metode analitis tentang penyangsian dan dengan menggunakan pendekatan filsafat yang rasional.

C.Pokok-Pokok Pemikiran1.Cogito ergo sumCogito Ergo Sumatau yang lebih dikenal dengan aku berfikir maka aku ada merupakan sebuah pemikiran yang ia hasilkan melalui sebuah meditasi keraguan yang mana pada awalnya Descartesdigelisahkan oleh ketidakpastian pemikiran Skolastik dalam menghadapi hasil-hasil ilmu positifrenaissance.Oleh karena itu untuk memperoleh kebenaran pasti Descartes memepunyai metode sendiri. Itu terjadi karena Descartes berpendapat bahwa dalam mempelajari filsafat diperlukan metode tersendiri agar hasil-hasilnya benar-benar logis.[12]Cogitodimulai dari metode penyangsian. Metode penyangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Oleh karenanya kesangsian ini harus meliputi seluruh pengetahuan yang dimiliki, termasuk juga kebenaran-kebenaran yang sampai kini dianggap pasti (misalnya bahwa ada suatu dunia material, bahwa saya mempunyai tubuh, bahwa tuhan ada).[13]Kalau terdapat suatu kebenaran yang tahan dalam kasangsian yang radikal itu, maka itulah kebenaran yang sama sekali pasti dan harus dijadikan fundamen bagi seluruh ilmu pengetahuan. Dan Descartes tidak dapat meragukan bahwa ia sedang berfikir. Maka,Cogito ergo sum: saya yang sedang menyangsikan,ada[14]. Itulah kebenaran yang tidak dapat disangkal, betapa pun besar usahaku.Apa sebab kebenaran ini bersifat sama sekali pasti? Karena saya mengerti itu dengan jelas dan terpilah-pilah (Inggris:clearly and distinctly). Jadi, hanya yang saya mengerti dengan jelas dan terpilah-pilah harus diterima sebagai benar. Itulah norma untuk menentukan kebenaran.[15]Cogito Ergo sum,aku berfikir, jadi aku ada. Tahapan metode Descartes itu dapat diringkas sebagai berikut[16]:

2.Ide-ide bawaanKarena kesaksian apa pun dari luar tidak dapar dipercayai, maka menurut Descartes saya mesti mencari kebenaran-kebenaran dalam diri saya dangan menggunakan norma tadi. Kalau metode dilangsungkan demikian,apakah hasilnya? Descartes berpendapat bahwa dalam diri saya terutama dapat ditemukan tiga ide bawaan (Inggris:innate ideas).[17]Ketiga ini yang sudah ada dalam diri saya sejak saya lahir msing-masing ialah pemikiran, Tuhan, dan keluasan.a.PemikiranSebab saya memahami diri saya sebagai makhluk yang berfikir, harus diterima juga bahwa pemikiran merupakan hakikat saya.

b.Tuhan sebagai wujud yang sama sekali sempurnaKarena saya mempunyaiide sempurna, mesti ada suatu penyebab sempuna untuk ide itu karena akibat tidak bisa melebihi penyebabnya. Wujud yang sempurna itu tidak lain daripada Tuhan.

c.KeluasanMateri sebagai keluasan atau ekstensi (extension), sebagaimana hal itu dilukiskan dan dipelajari oleh ahli-ahli ilmu ukur.[18]

3.SubstansiDescartes menyimpulkan bahwa selain Tuhan, ada dua subtansi:Pertama,jiwa yang hakikatnya adalah pemikiran.Kedua,materi yang hakikatny adalah keluasan. Akan tetapi, karena Descartes telah menyangsikan adanya dunia di luar aku, ia mengalami banyak kesulitan untuk memebuktikan keberadaannya. Bagi Descartes, satu-satunya alasan untuk menerima adanya dunia materiil ialah bahwa Tuhan akan menipu saya kalau sekiranya ia memberi sayaide keluasan,sedangkan di luar tidak ada sesuatu pun yang sesuai dengannya. Dengan dmikian, keberadaan yang sempurna yang ada di luar saya tidak akan menemui saya, artinya ada dunia materiil lain yang keberadaannya tidak diragukan, bahkan sempurna.[19]

4.ManusiaDescartes memandang manusia sebagai makhluk dualitas. Manusia terdiri dari dua substansi: jiwa dan tubuh. Jiwa adalah pemikiran dan tubuh adalah keluasan. Sebenarnya, tubuh tidak lain dari suatu mesin yang dijalankan oleh jiwa. Karena setiap substansi yang satu sama sekali terpisah dari substansi yang lain, sudah nyata bahwa Descartes menganut suatu dualisme tentang manusia. Itulah sebabnya, Descartes mempunyai banyak kesulitan untuk mengartikan pengaruh tubuh atas jiwa dan sebaliknya, pengaruh jiwa atas tubuh. Satu kali ia mengatakan bahwa kontak antara tubuh dan jiwa berlangsung dalamgrandula pinealis( sebuah kelenjar kecil yang letaknya di bawah otak kecil). Akan tetapi, akhirnya pemecahn ini tidak memadai bagi Descartes sendiri.[20]

D.Analisa terhadap Rene Descartes1.Pujian atau dukungan terhadap Rene DescartesBertrand Russell dalam bukunyaSejarah Filsafat Baratmengatakan bahwasanay Descartes pantas menyandang gelarThe Founder of Modern Philosophyatau Bapak Filsafat Modern. Gelar itu diberikan kepada Descartes karena dialah orang pertama pada zaman modern yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan rasional. Dialah orang pertama pada akhir abad pertengahan yang menyusun argumentasi yang kuat yangdictinct,yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat adalah akal, bukan perasaan, bukan iman, bukan ayat, serta bukan yang lainnya.[21]Bertnand Russell juga mengatakan bahwa Descartes adalah orang pertama yang memiliki kapasitas filosofis tinggi dan sangat dipengaruhi oleh fisika dan astronomi baru. Ada sebuah kesegaran dalam pemikirannya yang tidak ditemukan dalam pemikiran filsuf ternama sebelumnya semenjak Plato. Wataknya baik dan tidak suka menonjolkan keilmuannya, layaknya orang-orang pintar di dunia, bukannya seperti seorang murid. Wataknya ini luar biasa sempurna. Sangat beruntunglah filsafat modern karena pionirnya mempunyai cita rasa sastra yang mengagumkan.[22](Bertand Russell)Pengaruh keimanan yang begitu kuat pada abad pertengahan, yang tergambar dalam ungkapancredo ut intelligam[23]dari Anselmus itu, telah membuat para pemikir takut mengemukakan pemikiran yang berbeda dari pendapat tokoh gereja. Apakah ada filsuf yang mampu dan berani menyelamatkan filsafat yang dicengkram oleh iman abad pertengahan itu? Tokoh itu adalah Rene Descartes.[24]

2.Kritik terhadap Rene DescartesPenganut empirisme begitu kecewa dengan rasionalisme, karena telah menghinakan empirisme, sementara rasionalisme meyakini bahwa kebenaran itu berpusat pada kepastian tentang pikiran diri sendiri, sementara salah satu diri sendiri adalah fungsi-fungdi indrawi,yang berhubungan juga dengan empirisme. Dalam kasus ini, Immanuel Kant mengkritik habis-habisan, karena semuanya menunjukkan bahwa rasionalisme murni berpijak atas dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang goyah sehinggaCogito ergo sumtidak lagi dianggap titik tolak yang memadai.[25]

3.Analisa penulis terhadap Rene DescartesRene Descartes menurut penulis, merupakan seorang filsuf zaman modern yang memberikan trobosan, alternatif, dan logika baru dalam bidang filsafat. Descartes telah berhasil memberikan fondasi kepastian bagi pengembangan ilmu pengetahuan, sebuah dasar yang belum pernah ditemukan oleh para pendahulunya. Salah satunya yaitu bahwa filsafat pada masa lampau teerlalu mudah memasukkan penalaran yangbisa-jadi-benar(belum tentu benar) ke dalam khazanah penalaran yang sebenarnya dikhususkan bagi penalaran yang pasti. Oleh karena itu Descartes menyatakan aturan umum dalam logika dalam bukunyaDiscoursebahwasanya tidak boleh menerima hal apa saja sebagai hal yang benar jika tidak mempunyai pengetahuan yang jelas mengenai kebenarannya.Oleh karena itu semua, penulis mengatakan bahwa Descartes pantas menyandang gelarThe Founder of the Modern Philosophykarena dialah pencetus rasionalisme yang lebih mengunakan akal yang mana sebelumnya mereka masih takut akan dogma-dogma gereja.

E.Epistemologi Pemikiran Rene DescartesEpistemologi merupakan pembicaraan mengenai bagaimana sebuah ilmu pengetahuan diperoleh. Dalam perjalanannya mencari kepastian, Descartes telah menemukan metode tersendiri. Yaitu dengan cara meragukan semua yang dapat diragukan. Kesangsian ini dijalankan seradikal mungkin. Ia meragukan segala ilmu dan hasil-hasilnya seperti adanya kosmos fisik, termasuk badannya, dan bahkan adanya Tuhan. Beberapa alasan yang dikemukakan untuk mendukung keragu-raguannya ini adalah kemungkinan kekeliruan panca indra, kemungkinan ia sedang mimpi, dan adanya demon jahat penipu. Ia seolah-olah bersikap sebagai seoarang skeptikus. Dan, memang pada saat itu, ajaran skeptisisme, sebagaimana dikenal dalam karyaSextus Empirious, agak menjadi populer.[26]Menurut Descartes, untuk dapat memulai sesuatu yang baru, ia harus memiliki suatu pangkal pemikiran yang pasti. Pangkal yang pasti itu dapat ditemukan lewat keragu-raguan.[27]Ciri utama dari filsafatnya adalah penekanan yang ia sangat menggarisbawahi pada kenyataan bahwa satu hal kita sebagai manusia seluruhnya dapat merasa seyakin-yakinnya, --bahkan oleh orang yang mengalami keraguan yang amat sekalipunadalah keberadaan dirinya sendiri. Cogito, Ergo sum (I think, therfore I am). Seluruh sistem filsafatnya disusun untuk menghindarkan atau menjauhkan diri dari sifat ragu-ragu yang ditimbulkan dari dirinya sendiri. Sistem filsafatnya dipersembahkan untuk menguji bagaimana sesungguhnya seseorang dapat memahami segala apa yang ada di luar dirinya (outside); bagaimana membangun kembali fondasi yang kokoh untuk sebuah keyakinann yang dapat dipertanggungjawabkan tentang hal-hal yang ada pada dunia di luar fondasi yang kokoh untuk kepercayaan terhadap adanya Tuhan.[28]Dia juga menunut bahwa kepercayaan kita sesungguhnya dimulai dari seperti yang biasa berjaln dalam sistem berfikir deduktif dalam wilayah matematikadari premis-premis aksiomatik tertentu, yang secara intuitif bersifat pasti, dan dari sana secara perlahan-lahan lewat pengambilan kesimpulan deduktif--ke arah kesimpulan-kesimpuln yang dapat dibuktikan secara meyakinkan dan kokoh.[29]F.Ontologi Rene Descartes ( substansi-atribut-modus)Descartes telah mencari hakikat sesuatu, akan tetapi agar hakikat segala sesuatu dapat ditentukan dipergunakan pengertian-pengertian tertentu, yaitu substansi, atribu atau sifat dasar, dan modus.[30]Yang disebut substansi adalah apa yang berada sedemikian rupa, sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada. Substansi yang dipkirkan seperti itusebenarnya hanya ada satu yaitu Tuhan. Segala sesuatu yang lain hanay dapatdipikirkan sebagai berada dengan pertolongan tuhan. Jadi sebutan substansi sebenarnya tidak dapat dngan cara yang sama diberikan Tuhan dan kepada hal-hal lain. Hal-hal bendawi dan rohani yang diciptakan memang dapat juga dimasukkan ke dalam pengertian substansi itu, dan dalam prakteknya Descartes memasukkan jiwa dan materi dalam pengertian substansi juga.Yang disebut atribut adalah sifat asasi. Tiap substansi memiliki sifat asasinya sendiri, yang menentukan hakikat substansi itu. Sifat asasi ini mutlak perludan tidak dapat ditiadakan. Sifat asasi ini adanya diadakan oleh segala sifat yang lain.Yang diebut modus (jamak dari modi) adalah segala sifat substansi yang tidak mutlak perlu dan yang dapat berubah.Jelas dan teranglah sekarang bahwa segala substansi bendawi memiliki sebagai atribut atau sifat asasi; keluasan, dan memiliki sebagai modi; bentuk dan besarnya yang lahiriyah serta gerak dan perhentiannya. Dengan demikian segala benda tidk memiliki ketentuanyng kualitatif, yang menunjukkan kualitas atau mutunya. Seluruh realitas bendawi dihisabkan kedalam kuantitas atau bilangan. Oleh karena itu segala hal yang bersifat bendawi pada hakikatnya adalah sama. Perbedaan-perbedaannya bukan mewujudkan hal yang asai, melainkan hanya tambahan saja.Jelas juga bahwa roh dan jiwa memiliki sebagai sifat asasi; pemikiran, dam memiliki sebagai modinya; pikiran-pikiran individual,gagasan-gagasan dan gejala-gejala kesadaran yang lain. Roh pada jiwa pada hakikatnya berbeda dengan benda. Sifat asasi roh adalah pemikiran, sedang asasi benda adalah keluasan. Roh dapat dipikirkan dengan jelasdan terpilah-pilah,tanpa memerlukan sifat asasi benda. Oleh karena itu secara apriori tiada kemungkinan yang satu mepengaruhi yang lain, sekalipun dalam praktek tamak ada pengaruhnya.[31]

BAB IIIKESIMPULANRene Decartes merupakan tokoh filsafat yang menganut paham rasinalisme yang menganggap bahwa akal adalah alat terpenting untuk memeperoleh pengetahuan. Dan menganggap bahwa pengetahuan indra dianggap sering menyesatkan. Lahir tahun 1596 M dan meninggal tahun 1650 M. Ia adalah anak ketiga dari seorang anggota parlemen inggris. Merupakan orang yang taat mengerjakan ibadah menurut ajaran Katholik, tetapi beliau juga menganut bidah-bidah Galileo yang pada waktu itu masih ditentang oleh tokoh-tokoh gereja. Belajar di College Des Jesuites La Fleche dari tahun 1604 1612 M. Beliau memperoleh pengetahuan dasar tentang karya ilmiah Latin dan Yunani, bahasa Perancis, musik dan akting. Disamping beliau juga belajar tentang filsafat, matematika, fisika, dan logika. Bahkan, beliau mendapat pengetahuan tentang logika Aristoteles, etika Nichomacus, astronomi, dan ajaran metafisika dari filsafat Thomas Aquinas. Dalam pendidikannya Descartes merasakan beberapa kebingungan dalam memahami berbagai aliran dalam filafat yang saling berlawanan. Dan pernah masuk tantara Belanda dan Bavaria. Dan akhirnya ia meninggal di Swedia tahun 1650 M setelah menerima panggilan Ratu Christine yang ingin belajar kepada dirinya.Dalam pernyataanyang ia katakanCogito ergo sum, ia menyatakan bahwa sumber keyakinan itu berasal dari keragu-raguan. Maka dari itu dalam epistemologinya Descartes dengan menggunakan metode analitis dan dengan pendekatan filsafat rasional yang mendahulukan akal ia mengatakan bahwa aku berfikir maka aku ada. Dimulai dengan meragukan apa yang ada, segalanya, akan tetapi ia tidak dapat memungkiri bahwa dirinya yag sedang berfikitr tidak dapat diragukan. Maka dia mengatakan aku berfikir, maka aku ada.Dalam ontologinya Descartes juga mengatakan bahwa agar hakikat segala sesuatu dapat ditentukan dipergunakan pengertian-pengertian tertentu, yaitu substansi, atribut atau sifat dasar, dan modus.Subtansi merupakan apa yang berada sedemikian rupa sehingga tidak memerlukan sesuatu yang lain untuk berada ,yaitu Tuhan. Atribut adalah sifat asasi mutlak perlu dan tidak dapat ditiadakan,yaitu pemikiran. Pemikiran adalah perbuatan jiwa berdasarkan hakekatnya sendiri, bebas dari pada tubuh. Sedangkan modus adalah sifat-sifat substansi yang tidak mutlak perlu dan yang dapat diubah-ubah,yaitupikiran-pikiran individual. Dengan ituia mengatak jelas bahwa roh dan jiwa memiliki sebagai sifat asasi; pemikiran, dam memiliki sebagai modinya; pikiran-pikiran individual,gagasan-gagasan dan gejala-gejala kesadaran yang lain. Roh pada jiwa pada hakikatnya berbeda dengan benda. Sifat asasi roh adalah pemikiran, sedang asasi benda adalah keluasan.

DAFTAR PUSTAKA

Atang Abdul Hakim dan Beni Ahmad Saebani.Filsafat Umum; dari Metodologi sampai Teofilosofi.. 2008.Bandung:Pustaka Setia.Bertebs , K.,.Ringkasan Sejarah Filsafat, 1975. Yogyakarta: Kanisius.Bakker, Anton.,Metode-Metode Filsafat.1986. Jakarta: Ghalia Indonesia.Sudarsono.Ilmu Filsafat; suatu pengantar.2008. Jakarta: Rineka Cipta.Zubaedi.Filsafat Barat; Dari logika baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun. 2010. Yogyakarta: ArruzzMedia.Russell, Bertnand.Sejarah Filsafat Barat.2002. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Abdullah, Amin. 2006.Islamic Studies di Perguruan Tinggi,Pustaka Pelajar, Yogyakarta.Tafsir, Ahmad.Filsafat Umum.1990. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

[1]Zubaedi,Filsafat Barat; dari logika baru Descartes hingga revolusi sains ala Thomas Khun,(Yogyakarta: Arruzz Media, 2010) hlm.18, dikutip dari Anton Bakker,Metode-Metode Filsafat,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1986) hlm.68.[2]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.248 diambil dari (Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 107).[3]Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), hlm.129.[4]Bertnand Russell,Sejarah Filsafat Barat,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) hlm.733.[5]Bertnand Russell,Sejarah Filsafat Barat,hlm.734.[6]Zubaedi,Filsafat Barat; dari logika baru Descartes hingga revolusi sains ala Thomas Khun,(Yogyakarta: Arruzz Media, 2010) hlm.18, dikutip dari Bertnand Russell,History of Western Philosophy,vol.1 (London : George Allen and UnminLtd, 1961), hlm.542.[7]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.249 diambil dari ( Juhaya S.Pradja, 2000 : 62-63)[8]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ...hlm.249.[9]Bertnand Russell,Sejarah Filsafat Barat,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) hlm.735.[10]Anton Bakker,Metode-Metode Filsafat,(Jakarta : Ghalia Indonesia, 1986), hlm.71.[11]Anton Bakker,Metode-Metode Filsafat,hlm.71.[12]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai Teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.250.[13]K. Bertens,Ringkasan Sejarah Filsafat,(Yogyakarta: Kanisius, 2011), hlm.48.[14]Diterjemahkan secara harfiah, perkataan Latin cogito ergo sumberarti saya berfikir,jadi saya ada. Tetapi yang dimaksudkan Descartes dengan berfikir ialah menyadari. Jika saya sangsikan, saya menyadari bahwa saya sangsikan. Kesangsian secara langsung menyatakan adanya saya. Dalam filsafat modern katacogitosering kali digunakan dalam arti kesadaran.( K. Bertens,Ringkasan Sejarah Filsafat,hlm.49).[15]K. Bertens,Ringkasan Sejarah Filsafat,( Yogyakarta: Kanisius, 2011),hlm.49.[16]Ahmad Tafsir,Filsafat Umum,(Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 1990), hlm.132.[17]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai Teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.256 diambil dari ( Juhaya S.Pradja, 2000 : 67).[18]K. Bertens,Ringkasan Sejarah Filsafat,( Yogyakarta: Kanisius, 2011),hlm.49.[19]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai Teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.256 diambil dari ( Juhaya S.Pradja, 2000 : 67).[20]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai Teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.256 diambil dari ( Juhaya S.Pradja, 2000 : 67).[21]Bertnand Russell,Sejarah Filsafat Barat,(Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2002) hlm.732[22]Bertnand Russell,Sejarah Filsafat Barat,hlm. 733[23]Keyakinan tokoh Gereja bahwa dasar filsafat haruslah iman.( Ahmad Tafsir,Filsafat Umum, (Bandung: PT Remaja rosdakarya, 1990 ) hlm.129.[24]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum ; dari Metodologi sampai Teofilosofi,(Bandung : Pustaka Setia, 2008) hlm.258 diambil dari ( Ahmad Syadali dan Mudzakir, 2004 : 107).[25]Atang Abdul hakim dan Beni Ahmad Saebani,Filsafat Umum...hlm.257 diambil dari ( Juhaya S.Pradja, 2000 : 68 ).[26]Zubaedi,Filsafat Barat; Dari logika baru Rene Descartes hingga Revolusi Sains ala Thomas Khun, (Yogyakarta: ArruzzMedia, 2010 ) hlm.20.[27]Zubaedi,Filsafat Barat...hlm.21 dikutip dari Harun hadiwiyono,Sari Sejarah Filsafat Barat 2,( Yogyakarta: Kanisius, 1980), hlm.20.[28]Amin Abdullah,Islamic Studies di Perguruan Tinggi,(Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2006), hlm.120 diambil dari Frederick Copleston, S. J.AHistory of Philosophy,Vol.IV (London: Search Press, 1985).[29]Amin Abdullah,Islamic Studies...hlm.121 ( Kritik dan komentar terhadap konsepsi pemikiran Descartes, lebih lanjut lihatRichard J. Bernstein, Beyond Objectivism and Relativism: Science Hermeneutik and Praxis(Philadelphia: University of Pennsylvania Press, 1983 ), khususnya bab I.[30]Sudarsono,Ilmu Filsafat; suatu pengantar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.315.[31]Sudarsono,Ilmu Filsafat; suatu pengantar,(Jakarta: Rineka Cipta, 2008), hlm.316 dikutip dari DR. Harun Hadiwijono;Sari Sejarah Filsafat Barat,2h :23.Diposkan olehulin nuhadi19.30COGITO ERGO SUM PARTIPosted byfindracadabraon May 17, 2012 Leave a Comment

Rene-DescartesSebuah kata kata menarik dari seorang filsuf bernama Ren Descartes yaituCogito ergo sum(French: Je pense donc je suis; English: I think, therefore I am) yang dalam arti indonesianya kurang lebih aku berfikir maka aku ada. Konsep ini kurang lebih mempunyai arti Descartes ingin mencari kebenaran dengan meragukan semua hal, meragukan benda benda bahkan meragukan dirinya. Yang akhirnya menciptakan sifat skeptis tujuannya agar membersihkan dirinya dari segala prasangka untuk menghindari jalan pikiran yang salah. Mungkin saja pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa kepada kebenaran namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada faktor X yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah. Walaupun pikiran mengalahkan dirinya ke arah yang salah tetapi ia tetap berfikir, dan ini satu satunya yang menurut dia jelas. Hingga ia mempunyai kesimpulan ketika berpikir, sayalah yang berpikir (disarikan dari wikipedia)Point yang hendak penulis ambil dari kata kata Corgito ergo sum adalah, mempertanyakan semua hal. Tujuannya? Adalah mencari kebenaran. Gejala yang Descartes alami pernah penulis rasakan, mulai dari meragukan Tuhan, meragukan Kebenaran itu sendiri, tapi yang paling menarik dan konyol yang penulis alami adalah mempertanyakan semiotika (tanda) bahwa tangan kanan identik dengan kebaikan dan tangan kiri identik dengan sesuatu yang buruk. Bukan hanya dalam agama Abrahamic saja, tapi juga budaya dunia yang adat adat kesopanan menggunakan tangan kanan dalam bersalaman. parahnya orang akan merasa terhina bila diajak bersalaman menggunakan tangan kiri. Bukankah bentuk tangan kanan dan kiri itu sama? Hanya letaknya saja yang berbeda. Apakah Tuhan sebegitu bencinya dengan tangan kiri hingga kiri identik dengan hal negatif. mengabsolutkan tangan kanan sebagai kebenaran dan kiri sebagai sesuatu yang salah adalah suatu kepicikan bagi penulis saat itu. Hingga penulis berkesimpulan kanan kiri& benar salah adalah konstruksi budaya. Apakah berhenti disitu kepuasan untuk mencari kebenaran?TidakDan pada suatu ketika penulis pun tersadar, Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya dengan baik dan tepat serta ada adat istiadatnya. Minum, makan, berjabat tangan menggunakan tangan kanan. Masuk rumah, keluar rumah menggunakan kaki kanan. Cebok menggunakan tangan kiri, masuk wc, masuk pasar menggunakan kaki kiri. Tuhan membagi porsinya agar tidak bercampur, sebagai logikasikat gigi tidak tepat bila digunakan untuk sikat wc, walaupun mungkin masih bisa tetapi ke higienisan dari sikat gigipun akan diragukanItulah kenapa tangan kanan untuk makan dan tangan kiri untuk cebok, dan lain sebagainya. Segala sesuatu diatur sesuai porsinya agar tidak tercampur.point lain yang penulis dapat adalah kita lebih banyak mempertanyakan Tuhan daripada bertanya langsung kepadanya. Konyolnyakita lebih banyak berbicara tentang Tuhan daripada berbicara langsung kepadanya.Pencarian akan kebenaran memang tiada habisnya, begitula hakikat filosofi yang cinta akan kebenaran. Namun kadang ada beberapa pertanyaan yang tak dapat terjawab karena keterbatasan akal.COGITO ERGO SUM PARTIPosted byfindracadabraon May 17, 2012 Leave a Comment

Rene-DescartesSebuah kata kata menarik dari seorang filsuf bernama Ren Descartes yaituCogito ergo sum(French: Je pense donc je suis; English: I think, therefore I am) yang dalam arti indonesianya kurang lebih aku berfikir maka aku ada. Konsep ini kurang lebih mempunyai arti Descartes ingin mencari kebenaran dengan meragukan semua hal, meragukan benda benda bahkan meragukan dirinya. Yang akhirnya menciptakan sifat skeptis tujuannya agar membersihkan dirinya dari segala prasangka untuk menghindari jalan pikiran yang salah. Mungkin saja pikiran manusia pada hakikatnya tidak membawa kepada kebenaran namun sebaliknya membawanya kepada kesalahan. Artinya, ada faktor X yang lebih besar dari dirinya yang mengontrol pikirannya dan selalu mengarahkan pikirannya ke jalan yang salah. Walaupun pikiran mengalahkan dirinya ke arah yang salah tetapi ia tetap berfikir, dan ini satu satunya yang menurut dia jelas. Hingga ia mempunyai kesimpulan ketika berpikir, sayalah yang berpikir (disarikan dari wikipedia)Point yang hendak penulis ambil dari kata kata Corgito ergo sum adalah, mempertanyakan semua hal. Tujuannya? Adalah mencari kebenaran. Gejala yang Descartes alami pernah penulis rasakan, mulai dari meragukan Tuhan, meragukan Kebenaran itu sendiri, tapi yang paling menarik dan konyol yang penulis alami adalah mempertanyakan semiotika (tanda) bahwa tangan kanan identik dengan kebaikan dan tangan kiri identik dengan sesuatu yang buruk. Bukan hanya dalam agama Abrahamic saja, tapi juga budaya dunia yang adat adat kesopanan menggunakan tangan kanan dalam bersalaman. parahnya orang akan merasa terhina bila diajak bersalaman menggunakan tangan kiri. Bukankah bentuk tangan kanan dan kiri itu sama? Hanya letaknya saja yang berbeda. Apakah Tuhan sebegitu bencinya dengan tangan kiri hingga kiri identik dengan hal negatif. mengabsolutkan tangan kanan sebagai kebenaran dan kiri sebagai sesuatu yang salah adalah suatu kepicikan bagi penulis saat itu. Hingga penulis berkesimpulan kanan kiri& benar salah adalah konstruksi budaya. Apakah berhenti disitu kepuasan untuk mencari kebenaran?TidakDan pada suatu ketika penulis pun tersadar, Tuhan sudah mengatur segala sesuatunya dengan baik dan tepat serta ada adat istiadatnya. Minum, makan, berjabat tangan menggunakan tangan kanan. Masuk rumah, keluar rumah menggunakan kaki kanan. Cebok menggunakan tangan kiri, masuk wc, masuk pasar menggunakan kaki kiri. Tuhan membagi porsinya agar tidak bercampur, sebagai logikasikat gigi tidak tepat bila digunakan untuk sikat wc, walaupun mungkin masih bisa tetapi ke higienisan dari sikat gigipun akan diragukanItulah kenapa tangan kanan untuk makan dan tangan kiri untuk cebok, dan lain sebagainya. Segala sesuatu diatur sesuai porsinya agar tidak tercampur.point lain yang penulis dapat adalah kita lebih banyak mempertanyakan Tuhan daripada bertanya langsung kepadanya. Konyolnyakita lebih banyak berbicara tentang Tuhan daripada berbicara langsung kepadanya.Pencarian akan kebenaran memang tiada habisnya, begitula hakikat filosofi yang cinta akan kebenaran. Namun kadang ada beberapa pertanyaan yang tak dapat terjawab karena keterbatasan akal.Mungkin anda bertanya-tanya apa arti (makna) judul tulisan ini, berani bertaruh (sayang, tidak boleh dalam ajaran agama), bahwa sebagian besar lebih tahu makna yang pertamaCogito Ergo SumdibandingkanCredo Ego Sum.Cogito Ergo SumBenar, kata yang pertama,cogito ergo sum,lebih dikenal dengan kata yang menunjukkan eksistensi manusia di dunia ini. kata tersebut merupakan ucapan terkenal dari Descrates. Ada apa dengan kalimat inikokdikaitkan dengan Descartes? kalimat ini berarti: aku berfikir maka aku ada, artinya jika manusia berfikir dengan menggunakan potensi luar biasa yang Allah anugerahkan (dan ini yang membedakan dengan ciptaan lain di alam jagat ini), yaitu otak, dapat dipastikan bahwa pada hakikatnya manusia tersebut betul-betul ada sebagai manusia, sebaliknya, jika seorang manusia tidak menggunakan pikirannya (tidak pernah berfikir dengan keras, cenderung menggunakan bagian terkecil dari kemampuannya otaknya) jangan disalahkan orang lain jika anda dikatakan telah mati karena tidak mampu berfikir.Saya pernah mengalami bagaimana prinsipcogito ergo summenjadi kebenaran, kalimat inierat terkait dengan eksistensi kita sebagai manusia. Bagaimana terjadi? Dalam suatu sessi kuliah saya diberikan tugas untukmembuat makalah (sama dengan teman-teman lain), padahal kondisi saya saat itu lebih pantas untuk tidak mengerjakan membuat tulisan, apa pasalnya? Kesadaranmindsaya belum sepenuhnya normal ,setelah selama kurang lebih 8 hari mengalami apa yang banyak orang menyebut, tidak hidup dan tidak mati, alias komaDalam kondisi seperti itulah, saya menyadari betul bagaimana kondisi psikis ternyata sangat mempengaruhi diri kita!!, dalam titik itu saya kemudian menyadari alasan orang melakukan bunuh diri di daerah saya (Gunungkidul, kebetulan tempatnya adalah tetangga desa, lihat buku tulisan Darmaningtyas berjudul Pulung Gantung) lebih banyak ditentukan oleh factor ketidakmampuan mengatasi masalah yang menghimpit. Dalam bukunya tersebut Darmaningtyas berkesimpulan bahwa fenomena bunuh diri dengan cara menggantung merupakan wujud jalan pintas menyelesaikan ketidakberdayaan menghadapi sebuah masalah (dalam hal ini adalah penyakit kronis yang menimpanya). Memang dalam konteks buku tersebut tidak keluar dari factor ketidakberdayaan ekonomi sehingga cara paling mudah dan murah adalah menggunakan seutas tali, bandingkan dengan harus membeli apotas yang membutuhkan modal yang lebih banyak..JPikiran positif dalam alam bawah sadar kita ternyata sangat mempengaruhi hidup kita, ini kesimpulan saya. Pasalnya, tugas yang cukup banyak tersebut dapat diselesaikan tanpa harus meminta bantuan teman-teman mengerjakan!, sebabnya: dalam pikiran saya, saya tanamkan kuat bahwa aku harus menyelesaikan tugas ini dengan caraku sendiri karena ini sangat terkait erat dengan eksistensi saya dihadapan orang lain (terutama teman sekelas hehe). Dan lebih bersyukur lagi, ternyata teman-teman saya banyak memberikan support (selain menyelesaikan tugas tentunya). Dua factor inilah yang kemudian membentuk kemauan kuat untuk membuktikan diri bahwa sayaADAsebagai manusia!!!Credo Ego SumKalimat ini berarti aku percaya maka aku ada.Betul-betul keheranan yang saya rasakan ketika pada semester ke 3, seluruh kelas disibukkan dengan urusan membuat proposal tesis!!, dengan kondisi yang lebih membaik dibandingkan sebelumnya,tetap saja saya heran,kok cepet bangetteman-teman bikin tesis ya.. haha. Akhirnya dengan terpaksa saya ikutajaalur yang diciptakan. Pada fase ini belum muncul apa yang disebut dengan aku percaya maka aku ada dalam benak saya. Hingga ada suatu kejadian dimana eksistensi saya harus saya buktikan kembali..betul saja lebih dari 2 bulan saya mati-matian menyelesaikan tesis dengan cara yang bagi sebagian orang sangat ekstrim, >80% dari 2 bulan tersebut tidur malam setelah jam 12 malam!! Saat itu saya berfikir dengan cara sederhana saja: aku percaya bahwa aku bisa bagaimana hasilnya?Hasilnya adalah tesisseadanya yang meluluskan saya dari kuliah, karena kalimat saya percaya maka aku ada!.Pertanyaannya: kalimat mana yang anda suka untuk membuktikan bahwa andaADA?? Cogito Ergo Sumataukah Credo Ego Sum?JNB:Buat temen AAA, ada kang Yusuf, kang Yusri, Bos Saipul, kang Zaidun terima kasih telah mensupportselama ini, memang kalian sahabat luar biasa terima kasih trik main kartunya, bermanfaat loh hehe, khusushon mas Ajib.. matur nuwun sanget kagem ojek gratis antar jemput selama lebih dari 4 bulan entah dengan cara apa diriku membalasnya juga temen-temen lain yang senantiasa memberikan support tiada terkira.Juga buat teman-teman satu kontrakan (Said dan Aly), kalau tanpa kalian belum tentu jadi itu tesis, dan kalau tidak jadi tesis ya tulisan ini tidak bakalan ada donk. Ucapan ini sebagai pengganti ketiadaan ucapan terima kasih di tesis. Soale terkait dengan ucapan terima kasih buat yang dibawah iniBuat Wahyudi, gara-gara ente, setitik kesalahan dalam berbahasa Indonesia jadi terlihat begitu besar tapi jadi kalimat yang efektif dan efisien .. tenkyuBuat seseorangbenerkan??? Kamu akhirnya bisa mengerjakan dan menyelesaikan. Nah tinggal pilih sekarangcogito ergo sumataucredo Ego sum? Oiya, pada akhirnya kembali kedirimu sendiri lohJFILSAFAT RENE DESCARTES08/05/2013 bySean Ochan inpaper.

A.PendahuluanEra filsafat modern dimulai sejak munculnya pemikiran positivisme dan rasionalisme. Positivisme adalah aliran filsafat yang menyatakan bahwa ilmu alam merupakan satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak hal-hal yang bersifat metafisik.Sedangkan rasionalisme secara umum diartikan sebagai teori yang menyatakan bahwa kebenaran ditentukan melalui pembuktian, logika dan analisis yang bisa diterima oleh akal manusia. Ciri khas dari aliran filsafat ini adalah semboyan yang berbunyi Corgito Ergo Sum yang berarti saya berpikir, maka saya ada.Selain rasionalisme, ada beberapa aliran lain yang ikut meramaikan dunia akademik filsafat, diantaranya:1. Empirisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa segala pengetahuan berasal dari pengalaman. Aliran ini menolak anggapan bahwa manusia membawa pengetahuan dalam dirinya ketika dilahirkan. Tokoh-tokohnya antara lain David Hume, George Berkeley dan John Locke.2. Idealisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa mental dan ideasional sebagai kunci untuk mencapai kebenaran realitas. Tokoh-tokohnya antara lain Johan G. Fitcher, Hegel dan Immanuel Kant.[1]Pada dasarnya aliran-aliran filsafat ini mencoba untuk mengemukakan teori-teori pengetahuan untuk memperoleh kebenaran akan pengetahuan tersebut. Banyak cara yang bisa dilakukan untuk memperoleh kebenaran pengetahuan. Dalam hal realitas yang bisa dijangkau oleh panca indera manusia, kebenaran dari pengetahuan tersebut bisa dibuktikan melalui pengujian secara ilmiah, pendekatan melalui akal pikiran terhadap benda-benda yang nyata yang bertemu langsung antara subjek dan objeknya. Sedangkan hal-hal yang tidak bisa dijangkau oleh panca indra manusia dan bersifat abstrak, mendapatkan kebenaran pengetahuan tersebut bisa dilakukan dengan berpikir dan merasakan dengan pengalaman.Dalam makalah ini akan dibahas teori filsafat rasionalisme dengan berbagai teori dan semboyan serta metode yang digunakan untuk mendapatkan pengetahuan maupun kebenarannya. Selain itu juga akan dipaparkan tokoh yang menggunakan teori pemikiran ini.B.Pengertian RasionalismeKata rasionalisme secara berasal dari kata rasio yang memiliki arti masuk akal, akal budi. Rasional memiliki beberapa pengertian, yaitu:1. Secara umum, rasional menunjukkan modus atau cara pengetahuan diskursif, konseptual yang khas manusiawi.2. Secara khusus, raisonal memiliki makna konklusif, logis, metodik. Ilmu pengetahuan rasional merupakan ilmuyang bersifat deduktif atau reduktif.3. Rasional juga menunjukkan sesuatu yang mempunyai atau mengandung rasio atau dicirikan oleh rasio, dapat dipahami, cocok dengan rasio, dapat dimengerti/ditangkap.Bentukan kata lain dari kata rasio adalah rasionalisasi yg memiliki dua makna umum, yaitu:1. Makna positif, yaitu membuat rasional (masuk akal) atau membuat sesuatu dengan akal budi atau menjadi masuk akal.2. Arti negatif, yaitu pembenaran berdasarkan motif-motif tersembunyi.Adapun rasionalisme adalah prinsip bahwa akal harus diberi peranan utama dalam menjelaskan sesuatu. Secara umum kata rasionalisme menunjuk pada pendekatan filosofis yang menekankan akal budi (rasio) sebagai sumber utama pengetahuan.[2]Rasionalisme menjadi aliran baru dalam filsafat sejak Descartes mengemukakan hasil filosofinya dengan menggunakan pikiran dan rasionya untuk menguji kebenaran pengetahuan. Dasar-dasar dari aliran ini dilandaskan pada pemikiran filsafat Descartes yang kemudian dikenal sebagaiRasionalisme Kontinental.C.Sejarah Hidup Descartes (1596-1650)Descartes dikenal sebagai Penemu Filsafat Modern dan Bapak Matematika Modern. Ia lahir di La Haye, sebuah kota kecil di daerah Tourine, Perancis. Pada tahun 1606 ia mengikuti pendidikan di Jesuit College yang berada di kota La Fleche. Selama menempuh studi disana, ia menjadi siswa kesayangan gurunya, walaupun Descartes menyatakan bahwa ia hanya mendapatkan sedikit ilmu dan lebih banyak memberikan perhatian pada studi matematika. Pada tahun 1616, Descartes mendapatkan gelarBaccalaureatdanLicencedalam bidang hukum dari University of Poitiers.[3]Pada tahun 1618, Descartes berangkat ke Belanda untuk bergabung dengan pasukan Perancis dibawah pimpinan pangeran Maurice dari Nassau. Disana ia bertemu dengan Isaack Beckman yang kemudian bersama-sama menciptakan sebuah nada musik yang dikenal denganCompendium Musicae. Pada tahun 1619, ia berangkat ke Jerman dalam misinya bersama pasukan Perancis. Pada malam tanggal 10 November, setelah seharian merenung dan berpikir, ia mendapatkan mimpi yang ditafsirkannya sebagai pertanda dari Tuhan (divine sign) yang dianggap sebagai takdir hidupnya untuk menemukan kesatuan ilmu alam pada matematika.[4]Pada masa itu ketertarikannya sangat tertuju pada hukum alam dan matematika yang diinspirasi oleh Isaac Beckman. Selama masa perang tersebut, Descartes lebih banyak melakukan perjalanan daripada menulis dalam bidang filosofi atau ilmu alam. Pada tahun 1622, ia kembali ke Perancis dan menetap selama beberapa waktu di Paris serta melakukan beberapa perjalanan di Eropa.Pada tahun 1628, Descartes menulis karya pertamanya yang tidak pernah terselesaikan yang berjudulRegulae ad Directionem ingenii(aturan dalam pengarahan pikiran) yang dikerjakannya dalam kurun waktu satu tahun. Karyanya tersebut menunjukkan bahwa Descartes telah menyibukkan diri dengan metode-metode untuk memajukan ilmu alam (scientific advance), sebuah metode yang berdasarkan inspirasi hitungan matematika, walaupun ditujukan sebagai metode penyelidikan rasional pada berbagai keadaan subjek dan hal-hal lain. Pada bulan November 1628, Descartes membuat dirinya terkenal melalui pertentangan (perbedaan pendapat) dengan Chandoux yang menganggap ilmu (science) hanya bisa dibangun dari kemungkinan-kemungkinan. Sedangkan menurut Descartes, kepastian absolut yang menjadi dasar pengetahuan manusia dan ia mempunyai metode untuk membuktikannya.[5]Pada tahun tersebut, Descartes pensiun menjadi tentara dan pergi ke Belanda serta menetap disana sampai tahun 1649 dengan berulang kali berpindah alamat.Pada tahun 1629, Descartes menulis tentangLe Monde(The World) yang merupakan hasil penyelidikan ilmiahnya tentang alam. Ketika ia mendengar penghukuman Galileo yang mengajarkan sistem Copernican[6], ia membatalkan penerbitan Le monde tersebut. Kejadian itu merupakan hal penting dalam hidup Descartes yang menunjukkan sikap hati-hati dan kebijaksanaan terhadap otoritas yang berlaku dalam dirinya.[7]Pembatalan penerbitan buku tersebut juga mempengaruhi penerbitan karya Descartes berikutnya yang mana ditujukan untuk memperlihatkan kurangnya pengaruh ortodox dalam gaya pemikirannya.Pada tahun 1637, Descartes menerbitkan sebuah buku yang berjudulDiscours de la Metode.Buku ini memuat tiga rumus dalam matematika dan hukum alam, yaituGeometry, DioptricdanMeteors. Buku ini menjadi sebuah tanda penting bagi Descartes, baik dari segi kepadatan penjelasan tentang penemuan sistem Cartesian, autobiographical, dan kenyataan bahwa buku tersebut ditulis di Perancis. Buku ini ditujukan bagi kaum akademik yang diharapkan bisa memberikan masukan penting bagi Descartes. Model Perancis yang dikembangkan oleh Descartes dalam perkembangan ilmu matematika dan ilmu alam ini dihargai sebagai model ekspresi dari pemikiran abstrak bagi bahasa tersebut.[8]Pada tahun 1641, Descartes menerbitkan buku lain yang lebih membahas tentang hal-hal metafisik. Buku yang berjudulMeditationes de Prima Philosophia(Perenungan sebagai langkah awal berfilosofi) memuat enam langkah berpikir dalam filsafat.[9]Setahun kemudian ia menerbitkan edisi revisi dari bukuMeditationsdengan tujuh langkah berpikir dalam filsafat.Pada tahun 1643, filsafat Cartesian dianggap tidak layak untuk akademik di University of Utrecht dan Descartes mulai hubungan surat menyurat dengan putri Elizabeth dari Bohemia. Pada tahun berikutnya, Descartes mengunjungi Perancis dan menerbitkan tulisannya yang lebih formal dalam filsafat yang berjudulPrincipia Philosophiae(prinsip dalam berfilsafat). Selain memuat tentang filsafat Descartes, buku tersebut juga memuat tentang pandangan Descartes terhadap kosmologi (ilmu perbintangan) yang mana ia menyatakan bahwa ia berharap buku tersebut dapat digunakan sebagai bahan pelajaran bagi umat Kristen tanpa harus bertentangan dengan teks Aristoteles.Pada tahun 1647, Descartes diberikan penghargaan dari raja Perancis dan menerbitkanComment on a Certain Broadsheetserta mulai menulis tentangDescription of the Human Body. Pada tahun 1648, ia mendapatkan wawancara oleh Frans Burman di Egmond-Binne yang kemudian menjadi tulisan yang berjudulConversation with Burman.Pada tahun 1649, Descartes berangkat ke Swedia atas undangan dari ratu Christina. Setelah beberapa lama menunggu ia menyerah setelah mendapati banyak ketidakpastian dari permintaan ratu Christina yang menyatakan bahwa ia akan dimasukkan ke dalam golongan filsuf terkemuka. Pada tahun ini Descartes juga menerbitkan bukuLes Passions de lame(gairah jiwa). Tahun berikutnya, Descartes meninggal karena terserang penyakit pheneumonia sebagai akibat dari iklim yang ada di Swedia dan ketatnya jadwal yang diinginkan oleh sang ratu.D.Pemikiran Filsafat DescartesSebagai seorang filsuf, Descartes memiliki konsep sendiri tentang pengetahuan. Menurut beliau pengetahuan adalah keyakinan yang yang berdasarkan pada sebuah alasan yang kuat yang tidak bisa digoyahkan oleh alasan lain yang muncul kemudian. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada. Hal ini terlihat pada bukunya yang berjudulMeditationsdimana ia menempatkan keraguan sebagai renungan pertama.Descartes menyandarkan keraguannya pada semua kepercayaan yang ada dalam dirinya pada sebuah alasan, yaitu keyakinan yang tidak bisa digoyahkan, keyakinan yang nyata yang diketahui oleh orang umum yang biasa digunakan dalam prinsip matematika. Walaupun saya dalam keadaan sadar ataupun bermimpi, dua ditambah tiga hasilnya tetap lima. Oleh karena itu, Descartes meminta kita untuk berimajinasi sebuah jiwa yang memiliki kekuatan dan kemampuan yang menyebabkan kita merasakan pengalaman yang kita miliki dan semua keyakinan yang berkaitan dengannya.[10]Menurut beliau, ada beberapa langkah untuk mencapai pengetahuan yang tidak ada lagi keraguannya. Dalam Ensiklopedi Filsafat disebutkan empat aturan dalam menjalankan metode keraguan Descartes[11], yaitu:1. Menerima bahwasanya tidak ada sesuatu yang benar (true). Hal ini berguna untuk mencegah adanya dugaan dan prasangka dalam menentukan kebenaran, untuk menerima kebenaran itu apa adanya yang tidak ada celah untuk meragukannya kembali.2. Mengelompokkan berbagai masalah yang akan diperiksa sebanyak yang bisa dilakukan dan yang dibutuhkan untuk mencapai kebenaran tersebut, yang kemudian diselesaikan dengan cara yang paling baik/tepat.3. Memasukkan pemikiran subjek (peneliti/pemikir) sesuai dengan masalahnya, dimulai dari objek yang paling mudah dimengerti, kemudian meningkatkannya secara perlahan. Atau dengan cara mengetahui yang paling rumit sesuai dengan keadaan sekalipun hal tersebut tidak nyata, yang diantaranya tidak sesuai dengan peristiwa alam yang saling berkaitan satu sama lain.4. Yang terakhir adalah dengan memberikan penomoran terhadap semua kasus dengan lengkap dan meninjaukembali secara umum supaya terhindar dari ketiadaan (nothing).Langkah-langkah diatas cukup rumit untuk dipahami karena ada beberapa hal yang terkesan vague. Langkah pertama cukup jelas dengan meragukan semua kebenaran yang ada agar tidak terjadi perselisihan antara kebenaran yang ada di dalam pikiran dengan kebenaran yang ada dalam realitas alam. Hal ini bisa disebut dengan menghapuskan doktrin atau tradisi yang terdapat di dalam pikiran manusia dari ia dilahirkan hingga ia bertemu dengan sesuatu yang belum diketahui kebenaran aslinya.Langkah kedua yaitu dengan mengelompokkan masalah-masalah yang ingin diteliti kebenarannya kemudian diselesaikan dengan cara yang tepat. Semua hal yang berkaitan dengan masalah yang ingin diketahui kebenarannya tersebut dikelompokkan sesuai tema dan inti permasalahannya agar tidak terjadi kesalahan di dalam memahami kebenaran yang ingin diungkap. Dengan begitu, kebenaran akan terbuka satu-persatu seiring dengan terpecahkannya masalah yang sudah dikumpulkan sebelumnya.Langkah ketiga yaitu dengan memasukkan pemikiran subjek sesuai dengan masalahnya. Pada langkah ini, setelah semua masalah diketahui dengan jelas dan telah dilihat dari berbagai aspek yang meliputi hal tersebut, subjek mulai memasukkan pemahaman yang ada dalam pikirannya untuk membuka secara perlahan inti dari masalah tersebut, dimulai dari hal yang paling mudah hingga hal yang paling sulit, atau sebaliknya, dimulai dari hal yang paling rumit hingga bisa menjawab hal yang paling mudah. Misalkan meneliti kepribadian dan cara berpikir seseorang untuk mengetahui sejauh mana ia menilai kebenaran dari sebuah pengetahuan. Hal yang paling mudah bisa saja dengan mengetahui sejarah hidupnya, kemudian latar belakang intelektualnya, dilanjutkan dengan kebiasaannya dalam berpendapat hingga masuk ke alam pemikirannya. Atau sebaliknya dengan mencoba menerobos alam pikirannya dari gaya pengungkapan dan pemilihan bahasanya yang kemudian dilanjutkan dengan melihat kebiasaannya sehari-hari.Langkah terakhir adalah verifikasi terhadap semua masalah yang ada dan memberikan tanda tertentu terhadap permasalahan yang sudah diselesaikan. Hal ini bertujuan agar tidak ada masalah yang tertinggal atau luput dari penyelesaian. Semua masalah yang telah diselesaikan ditinjau kembali untuk mendapatkan pemahaman yang tepat terhadap kebenaran yang didapatkan.Langkah-langkah diatas terkesan cukup sulit untuk dilakukan dalam perenungan dan penelitian ilmu alam. Leibniz menanggapi metode tersebut dengan cara yang mudah, yaitu: ambil apa yang kamu perlukan, lakukan apa yang harus kamu lakukan, dan kamu akan mendapatkan apa yang kamu inginkan.[12]Adapun pemikiran filsafat Descartes yang dirangkum dalam wikipedia dibagi menjadi tiga bagian[13], yaitu:Pengetahuan yang Pasti.Menurut Descartes, pengetahuan adalah sesuatu yang tidak ada lagi keraguan di dalamnya. Metode yang digunakannya adalah meragukan semua pengetahuan yang ada hingga ia mendapatkan kesimpulan bahwa ada tiga pengetahuan yang bisa diragukan, yaitu: Pengetahuan yang berasal dari pengalaman inderawi. Contohnya kayu lurus yang dimasukkan ke dalam air maka akan kelihatan bengkok. Fakta umum tentang dunia seperti api itu panas dan benda yang berat akan jatuh. Ia juga menyatakan bahwa mimpi yang berulang kali bisa memberikan pengetahuan tentang sesuatu. Prinsip-prinsip logika dan matematika. Ia menyatakan bagaimana jika ada seorang makhluk yang bisa memasukkan ilusi ke dalam pikiran kita, dengan kata lain kita berada dalam suatu matrix.Menurut Decrates, eksistensi pikiran manusia adalah sesuatu yang absolut dan tidak dapat diragukan. Sebab meskipun pemikirannya tentang sesuatu salah, pikirannya tertipu oleh suatu matriks, ia ragu akan segalanya. Oleh karena itu tidak dapat diragukan lagi jika pikiran itu eksis. Sedangkan pikiran menurut Descartes adalah suatu benda berpikir yang bersifat mental, bukan bersifat fisik atau material. Dari prinsip awal bahwa pikiran itu ada, Descrates melanjutkan penyelidikan filsafatnya untuk membuktikan bahwa Tuhan itu ada.Ontologi Tuhan Dan BendaDecrates mendeskripsikan Tuhan sebagai makhluk sempurna yang tak terhingga. Gagasan tersebut tidak mungkin muncul begitu saja dari hasil pikiran dan pengalaman manusia karena kedua hal tersebut merupakan sesuatu yang tidak sempurna dan bisa diragukan dan tidak memenuhi sebab lebih sempurna dari akibat. Gagasan tentang Tuhan itu muncul karena ada yang menaruh pikiran itu ke dalam pikiran manusia, yaitu Tuhan tersebut.Setelah membuktikan keberadaan Tuhan, Descartes mencoba membuktikan benda material itu ada. Ia menyatakan bahwa Tuhan menciptakan manusia dengan ketidakmampuan untuk membuktikan bahwa benda material itu sejatinya tidak ada, bahkan Tuhan menciptakan manusia untuk memiliki kecenderungan bahwa benda material itu ada. Jika pemahaman bahwa benda material itu ada hanya sebuah matrik kompleks yang menipu pikiran manusia, hal itu menunjukkan bahwa Tuhan adalah penipu dan bagi Descrates penipu adalah ketidaksempurnaan sedangkan Tuhan adalah makhluk sempurna sehingga Tuhan tidak mungkin menipu dan benda material itu ada.MetafisikaMenurut Descartes, realitas itu terdiri dari tiga hal, yaitu: benda material yang terbatas seperti objek-objek fisik, benda-benda mental yang terbatas seperti pikiran dan jiwa manusia, dan benda mental yang tidak terbatas yaitu Tuhan. Ia juga membedakan pikiran dan tubuh manusia yang membawanya kepada pembagian ilmu, yaitu realitas material sebagai ranah bagi keilmuan baru seperti yang dibawa oleh Galileo dan Copernicus, dan realitas mental bagi ranah keilmuan seperti ilmu agama, etika dan sejenisnya yang tidak berkaitan dengan objek material.Hasil pemikiran Descartes yang dijelaskan dalam tiga bagian diatas cenderung merupakan hasil refleksi yang disampaikannya dalam bukuMeditations. Pengetahuan yang pasti dengan metode keraguannya adalah langkah awal dalam perenungan. Dilanjutkan dengan berpikir untuk menemukan eksistensi diri terdapat pada perenungan kedua. Pengetahuan akan Tuhan terdapat dalam perenungan ketiga. Perenungan keempat membahas tentang objek material. Pada perenungan kelima membahas tentang pembuktian keberadaan Tuhan. Pengetahuan akan metafisika dibahas dalam perenungan keenam.[14]Dibawah ini akan dijelaskan tentang enam langkah perenungan (meditasi) filsafat rasionalisme yang juga dianggap sebagai dasar awal terbentuknya aliran rasionalisme tersebut.Meditasi Pertama: Apa Saja yang Bisa Diragukan[15]Sejak dilahirkan, manusia diberikan pengetahuan yang diajarkan terus-menerus seiring pertumbuhannya, baik ajaran dari keluarga, lingkungan, masyarakat, sekolah ataupun yang lain yang merupakan refleksi dari pikirannya. Semua pengetahuan tersebut tertanam dalam pikiran manusia, begitu dalam hingga apa saja yang ada dalam pikiran mereka semua dianggap benar sesuai dengan apa yang telah diajarkan dan dimasukkan dalam pikiran tersebut. Ketika manusia mencapai titik kesadaran tertentu dimana dia berhadapan dengan realitas yang berbeda dengan apa yang ada dalam pikiran mereka selama ini, mulai timbul keraguan yang semakin dalam apakah pengetahuan tersebut sudah benar, ataukah masih perlu dikaji ulang.Lebih jelasnya jika diilustrasikan pada diri penulis. Saya hidup dalam lingkungan yang mempunyai adat, tradisi dan agama. Saya terikat pada hukum-hukum yang berlaku pada tiga hal tersebut. Seiring pertumbuhan saya dan minat saya dalam mengetahui sebuah hal secara lebih dalam dan terperinci, saya melihat banyak perbedaan antara apa yang saya pelajari dengan apa yang terjadi dalam kenyataan (realitas). Apa yang saya temukan dari hasil penglihatan, percobaan, dan berpikir lebih dalam (seeing deep insight)[16], mengantarkan saya pada sebuah kesadaran bahwasanya semua hal yang sudah tertanam di dalam pikiran saya dapat diragukan kebenarannya. Saya semakin tertarik untuk mengetahui hal tersebut dan berusaha untuk menemukan sebuah pengetahuan yang tidak dapat lagi diragukan kebenarannya.Descartes berkata :But to accomplish this, it will not be necessary for me to show all my opinions are falls, which is something i could perhaps never manage. Reasons now leads me to think that i should hold back my assent from opinions which are not completely certain and indubitable just as carefully as i do from those which are patently false.[17]Tidak semua pengetahuan yang tertanam di dalam pikiran harus diragukan, ada beberapa juga yang harus dipertahankan yang belum bisa diragukan. Untuk mencapai pengetahuan yang benar, alasan diperlukan sebagai tolak ukur bahwasanya pengetahuan itu tidak bisa diragukan kembali.Cara untuk menolak semua pengetahuan yang dimiliki (opinions) dapat dilakukan dengan menemukan alasan untuk meragukan pengetahuan tersebut. Ketika kebenaran baru telah ditemukan dengan menggunakan alasan tersebut, maka kebenaran pengetahuan yang lama yang berada dalam pikiran akan hilang dengan sendirinya. Apapun yang saya terima sebagai hal yang paling benar harus saya yakinkan baik dalam sense (indera/perasaan) maupun melalui perasaan tersebut. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, saya menemukan bahwasanya perasaan dan sense saya ternyata menipu. Akan lebih bijak jika saya tidak mempercayai orang atau apapun yang telah menipu saya.[18]Walaupun sense kita terkadang menipu untuk mempercayai objek yang kecil dan jauh, ada keyakinan lain yang lebih tidak mungkin untuk diragukan walaupun itu berasal dari sense. Contohnya: saya sedang duduk diatas api, menggunakan pakaian musim dingin (jaket yang sangat tebal dan hangat) sambil memegang beberapa kertas. Pertanyaannya adalah apakah tubuh itu benar-benar milik saya? Apakah saya sedang bermimpi atau dalam keadaan sadar? Mimpi ataupun sadar, pengetahuan yang saya dapatkan itu ada dan tertanam dalam pikiran.[19]Ini adalah sebuah alasan yang tepat. Apapun keadaan saya, baik tidur ataupun terjaga, pengalaman yang saya rasakan dan pengetahuan yang saya dapatkan tetap sama. Ketika saya bermimpi sedang menggunakan jaket yang tebal, saya merasa jaket itu benar-benar ada dan pengalaman/pengetahuan yang saya dapatkan juga ada sekalipun ketika terbangun saya dalam keadaan tanpa busana. Jadi, apapun yang bisa dikhayalkan baik dari segi bentuk tubuh atau warna-warna dan apa yang ada di bumi itu nyata sekalipun hanya dalam pikiran kita.[20]Bisa disimpulkan bahwa fisika, astronomi, kedokteran dan disiplin ilmu lain yang memerlukan pengajaran (study) untuk menggabungkan sesuatu bisa diragukan. Sedangkan aritmatic, geometry dan hal-hal lain yang lebih sederhana sekalipun dia nyata atau tidak di dunia ini mengandung kepastian dan tidak bisa diragukan kembali.[21]Meditasi Kedua: Pikiran Alami Manusia.[22]Seperti yang telah dijelaskan pada meditasi pertama, segala sesuatu yang dapat diragukan bisa dianggap sebagai hal yang palsu. Oleh karena itu dibutuhkan sebuah metode untuk menemukan hal atau pengetahuan yang tidak bisa diragukan dan tidak bisa digoyahkan oleh hal lainnya. Sebuah pernyataan menarik dari Descartes dalam meragukan pengetahuan yang ada, yaitu:I will Suppose then, that everything I see is spurious. I will believe that my memory tells me lies, and that none of the things that it reports ever happened. I have no senses. Body, shape, extensions, movement and places are chimeras. So what is remains true? Perhaps just the one fact that nothing is certain.[23]Lebih lanjut, ia mempertanyakan siapa yang memasukkan pengetahuan dalam pikirannya, apakah itu Tuhan atau apapun sebutan-Nya. Tapi mengapa ia bisa berpikiran seperti itu sedangkan ada kemungkinan bahwa ia yang menuliskan pengetahuan tersebut ke dalam pikirannya. Oleh karena itu, ia menganggap bahwa dirinya adalah sesuatu yang dia yakini ada (exist). Akan tetapi di sisi lain ia juga menerima bahwa ada kekuatan besar dan cerdas yang ikut mempengaruhi diri dan pikirannya. Menurut Descartes, dalam kasus ini ia menganggap bahwa keberadaan dirinya tidak dapat diragukan lagi. Sekalipun ada kekuatan di dalam dirinya yang mempengaruhi pikirannya, kekuatan tersebut tidak akan bisa meyakinkan bahwa dirinya tidak ada selama ia berpikir bahwa ia adalah sesuatu. Disinilah kemudian muncul istilahCogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada.[24]Dalam kamus filsafat dijelaskan bahwa ada beberapa pengertian yang terkait denganCogito Ergo Sum, antara lain: Ungkapan tersebut merupakan kepastian pertama menurut Descartes. Sebelumnya sudah ada argumen Agustinus Si Fallor Sum, jika saya tertipu saya ada. Satu-satunya kepastian yang kita miliki adalah kepastian eksistensi (keberadaan) kita sendiri. Dengan ungkapan tersebut, Descartes mau menunjukkan suatu intuisi langsung, niscaya, dan tidak dapat diragukan, dimana ia mengenal dirinya sendiri secara jelas dan terpilah-pilah. Seseorang tidak dapat meragukan bahwa dia berpikir (ragu), karena dalam tindakan meragukan itu dia membuktikan bahwa hal tersebut ada (eksis) dan nyata. Cogito Ergo Sum dianggap sebagai kebenaran yang terbukti dengan sendirinya atau aksioma yang jelas dengan sendirinya dan dari dasar ini Descartes mengembangkan sistem filsafatnya yang bersifat rasionalistis.[25]Dari pola pikir bahwa ia adalah sesuatu (something), Descartes melanjutkan pembuktiannya untuk mengetahui siapakah dia sebenarnya. Dia mempertanyakan dirinya sendiri dan menjawab pertanyaan itu dengan cara yang unik, yaitu:What then did I formerly thinks I was? A man. But what is a man? Shall I say a rational animal? No; for then I should have to enquire what an animal is, what rationality is, and in this way one question would lead me down the slope to other harder ones, and I do not now have the time to waste on subtleties of this kindWhat else I am? I will use my imagination. I am not the structure of limbs which is called a human body. I am not even some thin vapour which permeates the limbs a wind, fire, air, breath, or whatever I depict in my imagination, for those are things which I suppose to be nothing..But what then am I? A thing that thinks. What is that? A thing that doubts, understands, affirms, denies, is willing or unwilling, and also imagines and has sensory perceptions.[26]Perjalanan pemikirannya untuk membuktikan keberadaan dirinya dan siapakah sebenarnya dirinya tersebut, Descartes menciptakan dua istilah yang dianggap sebagai pondasi dasar dalam pemikiran rasionalisme. Istilah yang pertama adalah Cogito Ergo Sum, saya berpikir maka saya ada. Dengan berpikir manusia sudah membuktikan jika dirinya ada (exist). Pikiran adalah kunci keberadaan manusia. Hal ini berimplikasi jika manusia atau sesuatu tidak berpikir maka dia tidak ada. Sedangkan istilah kedua yaitu Sum Res Cogitans, saya adalah sebuah benda yang berpikir.Dari sini Descartes mulai menaruh pijakannya bahwa manusia adalah sebuah benda yang berpikir, benda yang mempunyai mental yaitu pikiran itu sendiri. Sebuah benda yang bisa meragukan, bisa mengerti, bisa menegaskan, bisa menolak, bisa berkehendak ataupun tidak berkehendak, bisa berimajinasi dan mempunyai pemikiran sendiri. Klaim seperti ini tentu bertentangan dengan ajaran agama yang menyatakan manusia adalah makhluk, bukan benda. Ini salah satu bukti rasionalitas dalam berfilsafat yang dikemukakan oleh Descartes.Meditasi Ketiga: Keberadaan Tuhan.[27]Seperti yang telah disinggung pada meditasi pertama, Descartes mengemukakan bahwasanya ada sebuah kekuatan besar dan memiliki kecerdasan yang memasukkan pengetahuan ke dalam pikiran manusia. Kekuatan besar dan memiliki kecerdasan yang digambarkan Descartes sebagai makhluk yang sempurna ini disebut sebagai Tuhan. Descartes melanjutkan pemikirannya untuk mengetahui eksistensi Tuhan.Setelah menyatakan dirinya adalah benda yang bisa berpikir, Descartes mencoba untuk melanjutkan pemikirannya terhadap sesuatu yang berada dalam dirinya yang belum ia sadari. Kembali ke pemikiran awalnya bahwa ia meragukan berbagai hal yang ada di dunia ini, baik itu bumi, langit, bintang dan apapun yang bisa dipahami dengan sense (indera/perasaan). Walaupun begitu, ia menyadari bahwa ada sesuatu di luar dirinya yang sudah terbiasa ia yakini sebagai sumber ide yang muncul di pikirannya.[28]Disini ia mulai membuka kembali pengetahuan yang ada dalam pikirannya. Descartes berkata:Indeed, the only reason for my later judgement that they were open to doubt was that it occured to me that perhaps some God could have given me a nature such i was deceived even in matters which seemed most evident. And whenever my preconceived believe in the supreme power of God comes to mind, I can not but admit that it would be easy for him, if he so desired, to bring it about that I go wrong even in those matters which I think I see utterly clearly with my minds eye.[29]Dari pernyataan tersebut, Descartes mengakui bahwa Tuhan itu ada dan mempunyai kemampuan untuk mengubah persepsi atau pandangannya menjadi salah jika Tuhan berkehendak sekalipun Descartes sudah melihat dengan jelas melalui mata dan pikirannya. Pernyataan Descartes berikutnya adalah pijakan awal untuk mengetahui keberadaan Tuhan dengan meragukan adanya Tuhan, yaitu:And since I have no cause to think that there is a deceiving God, and I do not yet even know for sure there is a God at all, any reason for doubt which depends simply on this supposition is very slight and, so to speak, metaphysical one. But in order to remove even this slight reason for doubt, as soon as the opportunity arises I must examine whether there is a God, and, if there is, whether he can be deceiver.[30]Langkah pertama yang dilakukan Descartes untuk membuktikan keberadaan Tuhan yaitu dengan memisahkan pikirannya dalam beberapa hal yang terperinci dan membedakan mana yang benar (truth) dan mana yang palsu (falsity). Hal ini berguna agar ia bisa mengkategorikan mana yang ia sebut dengan kehendak (volition) atau perasaan (emotion) dan yang mana ia sebut dengan penilaian (judgement). Ketika pengetahuan yang ia terima berdasarkan kehendak dan perasaan yang ada dalam pikirannya, maka tidak ada kekhawatiran pengetahuan tersebut jatuh kepada kepalsuan (falsity). Ia juga menjaga pikirannya agar tidak sampai membuat penilaian (judgement) yang pada akhirnya membuat ia melakukan kesalahan. Diantara ide-ide yang muncul dalam pikirannya, beberapa merupakan pengetahuan yang didapatkan sejak lahir, beberapa didapatkan dengan cara tidak sengaja[31], dan beberapa lainnya merupakan pengetahuan yang ditemukan dalam proses berfilsafatnya.[32]Langkah selanjutnya, Descartes memisahkan antara objek dan ide. Objek adalah hal di luar pikiran yang menjadi sumber pengetahuan yang bisa ditangkap langsung oleh indera manusia. Sedangkan ide adalah persepsi yang ada dalam pikiran tentang objek tersebut sekalipun objek tersebut tidak ada (exist) atau abstrak.Ia mencontohkan matahari untuk menjelaskannya. Matahari adalah sebuah objek yang bisa dilihat langsung oleh mata atau indera manusia. Dengan penglihatan langsung, matahari terlihat kecil bahkan jauh lebih kecil dibandingkan bumi. Ketika sudah menggunakan ilmu astronomi dalam melihat matahari, ternyata matahari begitu besar, bahkan jauh lebih besar daripada bumi.[33]Ada dua ide yang muncul dari sebuah objek yaitu matahari. Ide pertama bahwa matahari itu terlihat kecil dan memancarkan cahaya, ide kedua bahwa matahari itu ternyata jauh lebih besar daripada bumi. Adapun ide yang muncul tanpa ada objek nyata dicontohkan dalam beberapa bentuk. Diantaranya adalah panas. Panas bisa dirasakan oleh kulit kita sekalipun objeknya tidak ada atau tidak terlihat[34]. Panas dari api maupun dari pancaran sinar matahari memunculkan satu ide tentang sesuatu yang abstrak tapi eksis.Menurut Descartes, ide tentang panas sekalipun dia tidak terlihat, adalah sebuah bukti bahwa panas itu ada. Jadi ada sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh indera manusia tapi ada (exist) di sekitar mereka. Begitu juga bunyi. Kita hanya bisa mendengar dan mengetahui suara sirene dari jenis gelombang udara yang ditimbulkan. Kita yakin sirene itu ada walaupun kita tidak tahu persis bagaimana bentuknya.[35]Berangkat dari gagasan diatas, Descartes mencoba untuk menjelaskan tentang Tuhan. Dia berkata:Undoubtly, the ideas which represent subtances to me amount to something more and, so to speak, contain within themselves more objective reality than the ideas which merely represent modes or accidents. Again, the idea that gives me my understanding of a supreme God, eternal, infinite, omniscient, omnipotent and the creator of all things that exist apart from him, certainly has in it more objective reality than the ideas that represent finite substance.[36]Dari pernyataan diatas, secara tidak langsung Descartes mendefinisikan Tuhan sebagai sesuatu yang luar biasa, abadi, maha besar, maha mengetahui, maha kuasa dan pencipta segala sesuatu yang ada di dunia ini. Dalam pernyataan lain ia menyebutkan bahwa Tuhan ketika menciptakan dia telah menempatkan ide tentang eksistensi Tuhan ke dalam pikiran Decrates sebagai tanda bahwa ia (manusia) adalah hasil ciptaan-Nya.[37]Meditasi Keempat: Truth and Falsity.[38]Setelah mengetahui keberadaan Tuhan, Descartes menyadari bahwa dirinya adalah makhluk yang tidak sempurna. Dengan menggunakan konsep Thingking thing, sesuatu yang berpikir, Descartes menyadari ada sesuatu atau makhluk (being) yang memiliki kesempurnaan sebagai akibat dari keberadaan dirinya yang tidak sempurna. Makhluk tersebut, yang disebut Descrates sebagai Tuhan, adalah sesuatu yang berbeda dari dirinya. Dia mengakui kenyataan bahwa dirinya memiliki keraguan, tidak sempurna dan bergantung pada sesuatu, yang kemudian memunculkan gagasan tentang sesuatu yang berdiri sendiri dan sempurna yang disebut Tuhan. Dia juga menyadari bahwa kemampuan berpikir manusia (human intellect) tidak bisa mengetahui sesuatu dengan sangat jelas dan pasti. Dari sini, dia mengakui bahwa Tuhan yang memiliki kebijaksanaan dan mengetahui apa yang tersembunyi dibalik pengetahuan sepenuhnya (secara pasti).[39]Dalam menjelaskan tentang kebenaran dan falsity, Descartes lebih banyak membandingkan kemampuan dirinya dengan kemampuan Tuhan. Hal ini juga mengantarkan ia pada kesadaran dimana ia adalah makhluk yang bisa berbuat salah atau menuju kesalahan, sedangkan Tuhan selalu menyampaikan kebenaran yang tidak mungkin bisa disalahkan.Sebagai langkah awal, Descartes menanamkan dalam pikirannya bahwa Tuhan tidak mungkin menipu dirinya. Hal ini disebabkan segala macam bentuk tipu daya adalah bukti dari ketidaksempurnaan. Walaupun memiliki kemampuan untuk menipu sebagai bukti maha kuasa Tuhan, keinginan untuk menipu itu sendiri tidak diragukan lagi adalah sebuah kelemahan dan ketidaksempurnaan, jadi hal tersebut tidak mungkin terdapat pada Tuhan yang sempurna.[40]Langkah selanjutnya yang ditempuh oleh Descartes adalah dengan menyadari bahwa ia memiliki pengetahuan (faculty) dalam menilai sesuatu (judgement). Seperti halnya segala yang ada dalam dirinya, ia menerima bakat tersebut dari Tuhan. Karena Tuhan tidak mungkin menipu dirinya, maka ia yakin bahwa Tuhan tidak akan memberikan bakat (pengetahuan) yang bisa mengantarkan dirinya kepada kesalahan jika ia menggunakan bakat tersebut dengan benar.[41]Descartes menyadari bahwa tidak mungkin ada celah untuk berbuat salah atau salah menilai jika semua yang ada pada dirinya datang dari Tuhan. Oleh karena itu, jika ia terus berpikir tentang Tuhan dan memberikan seluruh perhatiannya kepada Tuhan, dia tidak menemukan sebab apapun untuk berbuat salah (error or falsity). Akan tetapi, jika ia kembali kepada dirinya sendiri, dengan pengalaman yang ia miliki, ia menyadari bahwa dirinya rawan untuk melakukan kesalahan (error). Dari sini ia mengetahui bahwa ia mengakui dan berpikir secara nyata tentang hal-hal positif yang berasal dari Tuhan yang maha sempurna, dan juga ia mengakui ada sisi negatif dan kekurangan sebagai akibat dari ketidaksempurnaan tersebut.[42]Di sisi lain Descartes menjelaskan bahwa kekeliruan (error) disebabkan kurangnya pengetahuan yang ada dalam dirinya. Hal ini jauh berbeda dengan kemampuan Tuhan yang maha tahu. Lebih lanjut Descrates menjelaskan perbedaan antara dirinya dan Tuhan:For since I now know that my own nature is very weak and limited, whereas the nature of God is immense, incomprehensible and infinite. I also know without more ado that he is capable of countless things whose cause are beyond my knowledge.[43]Hal itulah yang menjadi alasan bagi Descrates untuk mencari tahu sebab yang tidak bisa diungkap dalam ilmu fisika dengan pertimbangan bahwa dirinya mempunyai kemampuan untuk mengetahui tujuan Tuhan. Oleh karena itu, untuk mengetahui apakah ciptaan Tuhan itu sempurna sesuai dengan diri-Nya yang sempurna, jangan hanya melihat pada satu ciptaan-Nya saja, akan tetapi lihat seluruh dunia secara luas.Langkah berikutnya yang digunakan Descartes adalah dengan melihat jauh ke dalam dirinya sendiri dan menyelidiki kekurangan atau ketidaksempurnaan yang ada pada dirinya yang menyebabkan ia bisa melakukan kekeliruan. Ia menyadari ada dua pengetahuan yang terdapat dalam dirinya, yaitu pengetahuan yang didasarkan pada pilihan dan pengetahuan yang didasarkan pada kebebasan berkehendak, yang mana kedua pengetahuan tersebut bergantung pada kemampuan berpikir (intelektual) dan kehendak secara bersamaan.[44]Intelektual membuat ia mampu untuk menyadari dimana subjek dimungkinkan untuk memberikan penilaian yang tidak ada celah kekeliruannya. Akan tetapi ada hal-hal dimana ia tidak mempunyai atau kurang pengetahuan sehingga bisa mengarahkan penilaiannya pada kesalahan. Hal ini disebabkan karena ia tidak mempunyai alasan untuk membuktikan bahwa Tuhan seharusnya memberikan ia pengetahuan yang luas daripada yang ia miliki. Disamping itu, ia tidak bisa mengeluh atas kebebasan berkehendak dan memilih yang diberikan Tuhan kepadanya yang bisa mengantarkan ia kepada kekeliruan dan ketidaksempurnaan. Ia juga tidak bisa mengeluh kenapa Tuhan memberikan keinginan (kebebasan) yang jauh lebih besar daripada intelektualnya.[45]Sebagai kesimpulan dari meditasi keempat ini, Descartes menyadari bahwa semua kebenaran itu datang dari Tuhan yang memberikan pengetahuan untuk mencapai kebenaran tersebut, dan segala kekeliruan yang ada adalah akibat dari keinginan manusia yang banyak serta kebebasan yang ia miliki yang diberikan Tuhan melebihi pengetahuan, karena manusia itu tidak sempurna dan kurang pengetahuannya sehingga wajar jika mereka berbuat salah.Meditasi Kelima: Inti dari Benda Materi dan Keberadaan Tuhan.[46]Descartes menyatakan bahwa setelah ia mengetahui apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari untuk memperoleh kebenaran, ia anggap sebagai cara untuk lepas dari keraguan yang menjadi pondasi metodenya dan bisa mencapai beberapa kepastian yang berkaitan dengan objek material.[47]Sebelum melakukan penyelidikan tentang benda-benda lain yang eksis di luar dirinya, Descartes memikirkan kembali gagasan-gagasan tentang benda-benda yang eksis dalam pikirannya yang mana yang berbeda (distinct) dan yang mana yang membingungkan (confused).[48]Hal pertama yang ingin dijelaskan oleh Descartes adalah jumlah (quantity). Hal-hal yang bisa dijumlahkan atau bisa dihitung adalah hal yang bisa dibedakan (distinctly) menurut Descartes meliputi panjang, lebar dan kedalaman. Ia juga memasukkan beberapa bagian dalam hal tersebut yang meliputi ukuran, bentuk, posisi dan gerak tetap, dan pada gerak tersebut ia menentukan durasinya. Selain itu, ia juga membedakan benda-benda yang tidak terhingga seperti bentuk, angka dan gerakan. Kebenaran dari benda-benda tersebut adalah mereka selalu seimbang dengan alam dan tidak memerlukan kajian lebih dalam karena mereka akan tetap seperti itu.[49]Akan tetapi, yang menjadi masalah kemudian, Descartes menemukan banyak gagasan tentang benda-benda yang mungkin saja tidak eksis di luar dirinya dan tidak bisa dikatakan tidak ada (nothing). Ia kemudian memberikan contoh dalam bentuk segitiga yang mana sering digunakan dalam rumus-rumus matematika. Segitiga tersebut merupakan sebuah benda luar yang masuk dalam pikirannya hingga ia bisa memastikan bahwa segitiga itu ada dan nyata. Berbeda ketika membicarakan tentang Tuhan. Tuhan ditemukan dari hasil perenungan jauh ke dalam hati (diri) dan pikiran yang mana Tuhan akan selalu ada dan mempunyai alam-Nya sendiri seperti halnya bentuk dan angka yang mengikuti sifat alaminya.[50]Lebih lanjut ia menjelaskan dua bagian penting dari alam, yaitu esensi (inti) dan eksistensi (keberadaan). Manusia merupakan esensi dari bukti eksistensi Tuhan. Ada pernyataan menarik dari Descartes ketika membahas eksistensi Tuhan, yaitu:However, even granted that I cannot think of God except as existing, just as I cannot think of a mountain without a valley, it certainly does not follow from the fact that i think from mountain with a valley that there is mountain in the world, and similiarly, it does not seem to follow from the fact that i think of God as existing that he does exist. For my tought does not impose any necessity on things, and just as I imagine a winged horse even though no horse has wings, so i may be able to attach existence to God even though no God exist.[51]Dari pernyataan diatas, Descartes dengan rasionalitasnya tidak terlalu yakin dengan keberadaan Tuhan, tetapi ia yakin bahwa apa yang eksis dalam pikirannya adalah eksis menurut pemikirannya walaupun tidak ada bukti nyata akan keberadaan hal tersebut.Descartes menyimpulkan meditasi ini dengan menyatakan bahwa ia telah menyadari akan keberadaan Tuhan dan mengerti bahwa semua hal bergantung pada-Nya, dan Tuhan bukan seorang penipu. Ia juga membuat kesimpulan bahwa semua hal yang sudah jelas baginya dan bisa dibedakan dengan benar merupakan komponen yang dibutuhkan untuk mencapai kebenaran. Ia juga menyatakan, selama ia masih bisa mengingat dengan jelas dan menyadari dengan nyata tentang sesuatu, maka tidak ada argumen atau alasan lain yang bisa membuat ia ragu akan hal tersebut, bahkan ia memiliki kebenaran dan pengetahuan yang pasti akan hal tersebut.[52]Meditasi Keenam: Keberadaan Benda Material dan Perbedaan Jelas Antara Pikiran dan Tubuh.[53]Sebelum menjelaskan tentang benda material, Descartes menanamkan dalam pikirannya bahwa ada kemungkinan benda material itu ada dan tidak ada keraguan lagi bahwa Tuhan memiliki kemampuan untuk menciptakan apapun yang mana ia memiliki kemampuan untuk menyadari ciptaan Tuhan tersebut. Selain itu ia juga menyatakan bahwa keberadaan benda material itu dinyatakan oleh bakat imajinasi yang mana ia menyadari penggunaannya ketika mengarahkan pikirannya kepada benda material. Descartes berkata: For when I give more attentive consideration to what imagination is, it seems to be nothing else but an application of the cognitive faculty to a body which is intimately present to it, and which therefore exist.[54]Langkah awal yang digunakan Descartes untuk menjelaskan benda material adalah menjelaskan perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar (pure understanding). Ia memberikan contoh ketika ia membayangkan sebuah segitiga. Ia tidak sekedar memahami bahwa itu bentuk yang terbuat dari tiga garis, akan tetapi pada saat yang sama ia juga melihat tiga garis tersebut dengan mata pikirannya (minds eye) seperti yang diperlihatkan padanya. Hal ini ia sebut sebagai imajinasi. Ia menyadari imajinasi memerlukan cara yang khas dan unik dari pikiran yang mana tidak membutuhkan pemahaman dalam mengetahuinya. Cara berpikir yang khas ini secara jelas menunjukkan perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar.[55]Dari kemampuan berimajinasinya, Descartes meyakini ada sesuatu yang memberikan pengetahuan padanya tentang hal-hal yang belum bisa dicapai oleh inderanya sehingga ia bisa membayangkan sesuatu sekalipun sesuatu itu belum ada. Kemudian ia membedakan dengan jelas perbedaan antara imajinasi dan pemahaman dasar, yaitu: Ketika pikiran memahami sesuatu, ia akan menggali pengetahuan yang ada di dalam pikiran tersebut dan mencari gagasan yang ada di dalamnya. Sedangkan ketika berimajinasi, pikiran akan menjelajahi seluruh tubuh dan mencari sesuatu pada tubuh tersebut yang sesuai dengan gagasan yang dipahami oleh pikiran atau disadari oleh perasaan.[56]Disamping menggunakan teori matematika yang bersifat exact seperti contoh diatas, ada kebiasaan imajinasi lain yang digunakan oleh Descartes. Seperti membayangkan tentang warna, suara, rasa, sakit dan yang lain sejenisnya.Now i perceive this thing much better by means of the senses, which is how, with the assistance of memory, they appear to have reached the imagination. So in order to deal with them more fully, I must pay equal attention to the senses, and see whether the things which are perceived by means of that mode of thinking which i call sensory perception provide me with any sure argument for the existence of corporeal things.[57]Dalam pernyataan diatas ia mengenalkan sebuah istilah baru yang disebut dengansensory perception(tanggapan pancaindera) yang merupakan sebuah cara berpikir baru untuk hal-hal yang abstrak yang memberikan argumen pasti terhadap eksistensi benda-benda jasmani.Kemudian ia menjelaskan metode yang dipakai untuk membedakan antara pikiran dan tubuh. Metode ini dimulai dengan mengembalikan semua hal yang disadari atau dipahami oleh panca indera dan menganggap bahwa hal-hal tersebut adalah benar, menemukan alasan untuk memikirkan hal ini (perbedaan tubuh dan pikiran). Kemudian menetapkan alasannya dan menempatkan hal-hal tersebut dalam keraguan. Langkah terakhir adalah mempertimbangkan satu-persatu yang mana yang harus diyakini kebenarannya.[58]Langkah paling awal adalah kesadaran dengan menggunakan panca indera bahwa ia memiliki kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh yang lain yang merupakan bagian dari dirinya. Ia juga menyadari bahwa ia bisa merasakan sesuatu yang menyenangkan seperti kebahagiaan dan yang tidak menyenangkan seperti rasa sakit. Ia juga menyadari bahwa dirinya memiliki rasa yang bermacam-macam seperti rasa lapar, haus, maupun hal-hal lain kecewa, sedih, marah dan lain sebagainya. Selain itu ia juga bisa mengetahui adanya cahaya, warna, bau dan rasa. Ia tidak bisa menjelaskan kenapa ia harus makan, merasa kering ketika kehausan dan dengan refleks pikirannya mengatakan ia harus minum, kecuali karena hal tersebut terjadi secara alami.[59]Descartes berpendapat bahwa tubuh manusia seperti sebuah mesin yang tersusun dari tulang, saraf, otot, urat, darah dan kulit. Sekalipun dalam tubuh tersebut tidak terdapat pikiran, ia tetap melaksanakan semua gerakan dengan alami yang mana gerakan tersebut tidak disertai dengan kehendak atau keinginan sebagai akibat ketiadaan pikiran.[60]Selanjutnya Descartes mengemukakan hasil observasi pertamanya. Disini ia menyatakan ada perbedaan besar antar pikiran dan tubuh, tubuh dengan alaminya bisa dibagi (terpisah) sedangkan pikiran tidak dapat dipisahkan. Ketika ia memikirkan tentang pikirannya, ia tidak bisa membedakan bagian-bagian dari dirinya, ia memahami dengan jelas bahwa pikiran adalah sesuatu yang menyatu (single) dan lengkap.[61]Walaupun pikiran sepertinya menyatu dengan tubuh, akan tetapi jika ada bagian tubuh yang terlepas (cut off), tidak ada bagian dari pikiran yang ikut terlepas.[62]Pengamatan berikutnya Descartes menyatakan bahwa pikiran dipengaruhi secara langsung oleh bagian tubuh kecuali otak, atau mungkin bagian kecil dari otak yang mana mengandung nalar (common sense). Ketika bagian kecil tersebut dalam keadaan memberitahukan, ia membuat sebuah sinyal ke dalam pikiran, sekalipun bagian lain yang ada di tubuh berada dalam kondisi yang berbeda.[63]Pengamatan terakhir Descartes menjelaskan bahwa gerakan apapun yang terjadi dalam bagian kecil otak secara langsung mempengaruhi pikiran yang menciptakan hanya satu sensasi yang keterkaitan. Pengalaman menunjukkan bahwa perasaan itu terjadi secara alami dalam berbagai kondisi. Oleh karena itu, tidak ditemukan hal apapun yang menyalahi kekuasaan dan rahmat Tuhan.[64]Sebagai kesimpulan dari meditasi terakhir ini, Descartes menyatakan bahwa pikiran memiliki alurnya sendiri yang bergerak bebas untuk menemukan pengetahuan dan membuktikan kebenaran sebagai akibat adanya keraguan dalam pengetahuan tersebut. Sedangkan tubuh adalah sebuah mekanisme yang bergerak secara alami dan terpisah dari pikiran walaupun pada dasarnya adalah satu kesatuan. Tubuh juga berfungsi sebagai proyeksi dari pikiran dan menangkap hal-hal yang kemudian diolah oleh pikiran untuk menjadi sebuah pengetahuan. Kombinasi dari tubuh dan pikiran merupakan bukti bahwa Tuhan itu ada dan menjadi salah satu masterpiece ciptaan-Nya yang paling sempurna dari sifat kesempurnaan yang dimiliki-Nya.[65]E.Rasionalisme dalam FilsafatRasionalisme muncul sebagai aliran filsafat ketika Descartes mulai berfilosofi dan menyampaikan hasil pemikirannya kepada khalayak umum. Rasionalisme klasik era Descartes merupakan awal dari terbentuknya pemikiran filsafat yang menyandarkan pengetahuan dari hasil berpikir. Aliran filsafat ini juga disebut denganrasionalisme kontinental.Menurut Lorens Bagus, ada beberapa ajaran pokok aliran rasionalisme[66], yaitu:1. Dengan proses pemikiran abstrak kita dapat mencapai kebenaran fundamental yang tidak dapat disangkal, tentang apa yang ada dan mengenai strukturnya serta tentang alam semesta pada umumnya.2. Realitas atau kebenaran tentang realitas dapat diketahui secara tidak tergantung dari pengamatan, pengalaman, dan penggunaan metode empiris.3. Pikiran dapat mengetahui beberapa kebenaran tentang realitas yang mendahului pengalaman apapun juga (selain kebenaran analitis). Kebenaran-kebenaran ini adalah gagasan bawaan dan secara isomorfis cocok dengan realitas.4. Akal budi adalah sumber utama pengetahuan, dan ilmu pengetahuan pada dasarnya adalah suatu sistem deduktif yang dapat dipahami secara rasional yang hanya