cetak biru seni pertunjukan

Download Cetak Biru Seni Pertunjukan

Post on 17-Feb-2018

307 views

Category:

Documents

6 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    1/204

    RENCANA

    PENGEMBANGAN

    SENI

    PERTUNJUKANNASIONAL

    2015-2019

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    2/204

    i:

    RENCANA PENGEMBANGAN SENI

    PERTUNJUKAN NASIONAL 2015-2019

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    3/204

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    4/204

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    5/204

    iv Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Pertunjukan Nasional 2015-2019

    Helly MinartiYudi Ahmad Tajudin

    Dian Ika Gesuri

    PT. REPUBLIK SOLUSI

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    6/204

    v

    RENCANA PENGEMBANGAN SENI

    PERTUNJUKAN NASIONAL 2015-2019

    Tim Studi dan Kementerian Pariwisata Ekonomi Kreatif:

    Penasihat

    Mari Elka Pangestu, Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI

    Sapta Nirwandar, Wakil Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif RI

    Pengarah

    Ukus Kuswara, Sekretaris Jenderal Kemenparekraf

    Ahman Sya, Direktur Jenderal Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan BudayaCokorda Istri Dewi, Staf Khusus Bidang Program dan Perencanaan

    Penanggung Jawab

    Mumus Muslim, Setditjen Ekonomi Kreatif berbasis Seni dan Budaya

    Juju Masunah, Direktur Pengembangan Seni Pertunjukan dan Industri Musik

    Tim Studi

    Helly Minarti

    Yudi Ahmad ajudin

    Dian Ika Gesuri

    ISBN

    978-602-72387-3-2

    Tim Desain Buku

    RURU Corps (www.rurucorps.com)

    Sari Kusmaranti Subagiyo

    Penerbit

    P. Republik Solusi

    Cetakan Pertama, Maret 2015

    Hak cipta dilindungi undang-undang

    Dilarang memperbanyak karya tulis ini dalam bentuk dan dengan cara

    apapun tanpa ijin tertulis dari penerbit

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    7/204

    vi Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Pertunjukan Nasional 2015-2019

    Abduh Azis

    Aisha Pletscher

    Amna S. Kusumo

    Bambang Subekti

    Bre Redana

    Budi SetiyonoBudi Utomo Prabowo

    Butet Kertaredjasa

    Dewi Noviami

    Edy Utama

    Een Herdiani

    Ery Mefri

    Farah Wardani

    Gianti Giadi

    Idaman Andarmosoko

    IswadiJoned Suryatmoko

    Kunci Cultural Studies

    Kurniawan

    Linda Hoemar Abidin

    Lono Simatupang

    Madia Patra Ismar

    Maria ri SulistyaniMesdin Kornelis Simarmata

    Naomi Srikandi

    Nirwan Dewanto

    Rama Taharani

    Ratna Riantiarno

    Sal Murgiyanto

    Siti ri Joelyartini

    Susi Ivvaty

    Susiyanti

    oto ArtoUbiet Raseuki

    Terima kasih Kepada Narasumber dan Peserta Focus Group Discussion(FGD)

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    8/204

    vii

    Kata Pengantar

    Perbincangan tentang seni pertunjukan di Indonesia, baik dalam percakapan sehari-hari maupun

    tulisan-tulisan di media massa, di satu sisi kerap muncul dalam nada sumbang dan lagu yang

    sedih. Namun di sisi lain, dari tahun ke tahun, di kota-kota besar maupun kecil di Indonesia,

    karya-karya seni pertunjukan (baik yang tradisional maupun kontemporer) terus digelar. Dengan

    dukungan dan fasilitas yang relatif minim, seniman atau kelompok tari, teater, serta musik terus

    saja bermunculan dan melahirkan karya. Beberapa di antara mereka bahkan sanggup berprestasi

    dan berpentas di panggung-pangung internasional.

    Sementara itu, sejak pertengahan tahun 2000-an, istilah dan gagasan industri kreatif mengemuka

    dalam perbincangan teater di Indonesia, terutama seiring dengan maraknya fenomena pertunjukanmusikal di Jakarta pada tahun-tahun tersebut. Pertunjukan-pertunjukan dengan dana produksi

    besar dengan harga tiket yang tak bisa dibilang murah itu ramai diperbincangkan dan dianggap

    sebagai kebangkitan industri kreatif dalam bidang seni pertunjukan di Indonesia. etapi, benarkah?

    Pemerintah Indonesia sendiri sejak sekitar pertengahan tahun 2000-an, di bawah kepemimpinan

    presiden Susilo Bambang Yudhoyono mulai melontarkan gagasan ekonomi kreatif sebagai salah

    satu kerangka ekonomi pembangunan Indonesia. Gagasan yang melihat bahwa praktik kreatif

    sesungguhnya memiliki potensi ekonomi yang cukup signifikan ini pun lalu diadopsi ke dalam

    rencana kerja pemerintahan dengan dibentuknya Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

    pada Desember 2011.

    Satu hal tampak jelas, praktik kreatif dalam bidang seni apapun, memiliki potensi ekonomi yang

    besar dan karenanya dibutuhkan suatu kerangka yang komprehensif untuk mengembangkannya

    menjadi industri kreatif. Pada tahun 1999, di Inggris misalnya, laporan tahunan Departemen

    Kebudayaan, Media dan Olahraga (Department of Culture, Media and Sport-DCMS) menunjukkanperolehan ekonomi industri kreatif di Inggris empat kali lebih besar dari industri agrikultural,

    perikanan dan perhutanan. Sementara di New York, berdasar data dari Te Broadway League,

    pertunjukan-pertunjukan di Broadway pada tahun 2008-2009 menyumbang US$ 9,8 miliar ke

    dalam pemasukan kota. Industri kreatif yang sangat kuat di New York ini bahkan jauh melampaui

    kota lain di Amerika.

    Lalu bagaimana dengan ekonomi kreatif seni pertunjukan di Indonesia?

    Buku ini disusun sebagai suatu upaya memetakan kenyataan dan potensi ekonomi kreatif seni

    pertunjukan di Indonesia. Lebih dari itu, tim penyusun buku ini sejak awal bersepakat untuk

    tak hanya berhenti di sana tetapi juga berusaha membuat semacam cetak biru dan rencana kerja

    pengembangan industri kreatif bidang seni pertunjukan di Indonesia. Sasaran strategis serta

    indikasi capaian yang ditulis di buku ini, disusun berdasarkan watak seni pertunjukan sebagai

    suatu disiplin serta berdasarkan kenyataan, sejarah, potensi serta masalah yang yang ditemukan

    selama penelitian.

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    9/204

    viii Ekonomi Kreatif: Rencana Pengembangan Seni Pertunjukan Nasional 2015-2019

    Beberapa kenyataan yang penting disampaikan di sini adalah bahwa industri kreatif bidang

    seni pertunjukan di Indonesia belum terolah dan terbangun dengan sistematis, terkoordinasi,

    transparan serta dapat dipertanggungjawabkan. Infrastruktur kelembagaan dalam bentuk regulasi

    dan sokongan dana yang mendukung seni pertunjukan Indonesia untuk tumbuh dan berkembang

    bisa dibilang masih lemah dan tak terencana dengan baik. Masih ditemukan banyaknya tumpang

    tindih antara lembaga terkait (Kemenparekraf, Kemendikbud, Kemendag) yang menyebabkaninefisiensi serta pelaksanaan program yang tak tepat sasaran. Soal lain yang tak kalah penting

    adalah kurikulum dan sistem pendidikan seni pertunjukan di sekolah-sekolah seni Indonesia yang

    masih lemah dalam bertaut dengan perkembangan seni pertunjukan global dan perkembangan

    masyarakat penontonnya sendiri.

    Kami menyusun Rencana Pengembangan Seni Pertunjukan Nasional 2015-2019 Indonesia ini

    berdasarkan kenyataan-kenyataan dan potensi yang ada, dengan harapan rencana aksi yang

    diusulkan untuk mengembangkan industri kreatif seni pertunjukan ini benar-benar memiliki dasar

    yang kokoh dan terukur capaiannya. entu saja masih banyak kelemahan dan ketaksempurnaan

    dalam rancangan yang kami susun ini. Karenanya, kritik dan saran merupakan bagian pentingyang kami harapkan bisa muncul untuk menyempurnakan buku ini.

    erakhir, dalam keterbatasan-keterbatasan yang kami hadapi, tim penyusun buku ini tak

    mungkin bisa merampungkan tugas seluas ini tanpa bantuan dan sumbangan pemikiran dari

    banyak pihak. Karena itu kami mengucapkan terima kasih dan apresiasi yang besar pada para

    narasumber penelitian dan peserta Focus Group Discussion (FGD) yang kami adakan sepanjangbulan Mei-Juni. anpa informasi, saran serta pengetahuan yang dibagi oleh mereka semua tak

    mungkin kami bisa memetakan masalah, potensi serta menyusun Rencana Pengembangan Seni

    Pertunjukan Nasional 2015-2019 ini.

    Semoga buku ini dapat digunakan oleh pihak-pihak terkait dan bisa ikut menyumbang proses

    pembentukan industri kreatif dalam bidang seni pertunjukan di Indonesia.

    Jakarta, September 2014.

    Salam Kreatif,

    Mari Elka Pangestu

    Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif

  • 7/23/2019 Cetak Biru Seni Pertunjukan

    10/204

    ix

    Daftar Isi

    Kata Pengantar................................................................................................................... vii

    Daftar Isi.............................................................................................................................. ixDaftar Gambar..................................................................................................................... xii

    Daftar Tabel......................................................................................................................... xiii

    Ringkasan Eksekutif........................................................................................................... xiv

    BAB 1 PERKEMBANGAN SENI PERTUNJUKAN DI INDONESIA....................................... 3

    1.1 Definisi dan Ruang Lingkup Seni Pertunjukan di Indonesia............................................ 4

    1.1.1 Definisi Seni Pertunjukan........................................................................................ 4

    1.1.2 Ruang Lingkup Pengembangan Seni Pertunjukan.................................................... 7

    1.2 Sejarah dan Perkembangan Seni Pertunjukan................................................................... 24

    1.2.1 Sejarah dan Perkembangan Seni Pertunjukan Dunia................................................ 24

    1.2.2 Sejarah dan Perkembangan Seni Pertunjukan