case otitis eksterna

of 25 /25
Case Report Session Rotasi II OTITIS EKSTERNA Oleh : Finna Dwi Putri 0910313221 Suci Chairiya Akmal 0910313 Preseptor : dr. Hendriati, Sp. M (K) KEPANITERAAN KLINIK ROTASI II FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALAS PUSKESMAS ULAK KARANG PADANG

Author: finna-dwi-putri

Post on 18-Dec-2015

65 views

Category:

Documents


6 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

oe

TRANSCRIPT

Case Report Session Rotasi II

OTITIS EKSTERNA

Oleh :Finna Dwi Putri0910313221 Suci Chairiya Akmal 0910313

Preseptor :dr. Hendriati, Sp. M (K)

KEPANITERAAN KLINIK ROTASI IIFAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS ANDALASPUSKESMAS ULAK KARANGPADANG2015

BAB ITINJAUAN PUSTAKA1.1 Anatomi Telinga LuarTelinga luar terdiri dari daun telinga dan liang telinga sampai membrane timpani. Daun telinga terdiri dari tulang rawan elastin dan kulit. Liang telinga berbentuk huruf S, dengan rangka tulang rawan (kartilago) pada sepertiga bagian luar, sedangkan dua pertiga bagian dalam rangkanya terdiri dari tulang. Panjangnya kira-kira 2,5 sampai 3 sentimeter.1 bagian yang tersempit dari liang telinga adalah dekat perbatasan tulang dan tulang rawan. Hanya sepertiga bagian luar atau bagian kartilaginosa dari liang telinga yang dapat bergerak. Jika menggunakan otoskop, aurikula biasanya harus ditarik ke posterolateral untuk dapat melihat bagian tulang dan membrane timpani. Bersama dengan lapisan luar membrane timpani, liang telinga membentuk suatu kantong berlapis epitel yang dapat memerangkap kelembaban, sehingga daerah ini menjadi rentan infeksi pada keadaan tertentu.2

Gambar 1. Telinga Luar

Gambar 3. Liang telinga Kulit yang melapisi bagian kartilaginosa lebih tebal daripada kulit bagian tulang, selain itu juga mengandung folikel rambut yang banyaknya bervariasi antar individu namun ikut membantu menciptakan suatu sawar dalam liang telinga. Anatomi liang telinga bagian tulang sangat unik karena merupakan satu-satunya tempat dalam tubuh dimana kulit langsung terletak di atas tulang tanpa adanya jaringan subkutan. Dengan demikian daerah ini sangat peka, dan tiap pembengkakan akan sangat nyeri karena tidak terdapat ruang untuk ekspansi.2 Telinga luar berfungsi mengumpulkan dan menghantarkan gelombang bunyi ke struktur-struktur telinga tengah. Karena keunikan anatomi aurikula serta konfigurasi liang telinga yang melengkung atau seperti spiral, maka telinga luar mampu melindungi membrane timpani dari trauma, benda asing dan efek termal.2Pada sepertiga bagian luar kulit liang telinga terdapat banyak kelenjar serumen (kelenjar keringat) dan rambut. Kelenjar keringat terdapat pada seluruh kulit liang telinga. Pada dua pertiga bagian dalam hanya sedikit dijumpai kelenjar serumen. 1

1.2 DefinisiOtitis eksterna adalah radang liang telinga akut maupun kronis yang disebabkan infeksi bakteri, jamur dan virus. Istilah otitis eksterna telah lama dipakai untuk menjelaskan sejumlah kondisi. Spektrum infeksi dan radang mencakup bentuk-bentuk akut atau kronis. Dalam hal infeksi perlu dipertimbangkan agen bakteri, jamur dan virus. Radang non-infeksi, termasuk dermatosis, beberapa diantaranya merupakan kondisi primer yang langsung menyerang liang telinga. Suatu dermatosis dapat menjadi terinfeksi setelah beberapa waktu, sementara pada infeksi kulit dapat terjadi reaksi ekzematosa terhadap mekanisme penyebab 1,2

1.3 EtiologiPenyebab otitis eksterna sirkumskripta yang tersering adalah Staphylococcus aureus, Staphylococcus albus. Faktor lainnya adalah maserasi kulit liang telinga akibat sering berenang atau mandi denga shower, trauma, reaksi terhadap benda asing, dan akumulasi serumen. Sering terjadi superinfeksi oleh bakteri piogenik (terutama Pseudomonas atau staohylococcus) dan jamur. Otitis eksterna rekuren biasanya disebabkan oleh pemakaian aplikator berujung kapas yang sering atau sering berenang dalam kolam berenang berklorinasi (atau keduanya).3,4

1.4Faktor PredisposisiFaktor predisposisi dari otitis eksterna adalah 1,2 Perubahan pH kulit kanalis yang biasanya asam menjadi basa Pengaruh lingkungan yang menyebabkan perubahan suhu dan kelembaban Trauma ringan seperti berenang atau membersihkan telinga secara berlebihan

1.5PatogenesisOtitis eksterna sirkumskripta merupakan infeksi folikel rambut, bermula sebagai folikulitis kemudian biasanya meluas menjadi furunkel. Organisme penyebab biasanya Staphylococcus. Umumnya kasus-kasus ini disebabkan oleh trauma garukan pada liang telinga. Kadang-kadang furunkel disebabkan oleh tersumbat serta terinfeksinya kelenjar sebasea di liang telinga. Panas dan lembab dapat menurunkan daya tahan kulit liang telinga, sehingga frekuensi penyakit ini agak meningkat pada musim panas. 1,2Pada kasus dini, dapat terlihat pembengkakan dan kemerahan difus didaerah liang telinga bagian tulang rawan, biasanya posterior atau superior. Pembengkakan itu dapat menyumbat liang telinga. Setelah terjadi lokalisasi dapat timbul pustula. Pada keadaan ini terdapat rasa nyeri yang hebat sehingga pemeriksaan sukar dilakukan. Biasanya tidak terdapat sekret sampai absesnya pecah. Toksisitas dan adenopati muncul lebih dini karena sifat organisme penyebab infeksi.3,4

1.6Klasifikasi Otitis Eksterna1.6.1 Otitis Eksterna akutTerdapat 2 kemungkinan otitis eksterna akut, yaitu otitis seksterna sirkumskripta dan otitis eksterna difus.a. Otitis Eksterna Sirkumskripta (Furunkulosis)

Gambar 3. Otitis eksterna Infeksi pada folikel rambut, kelenjar sebasea, kelenjar serumen di 1/3 luar liang telinga sehingga membentuk furunkel.1Kuman penyebab biasanya adalah Staphylococcus aureus atau Staphylococus albus.1,2Gejala klinisnya yaitu rasa nyeri yang hebat karena terbatasnya ruangan untuk perluasan edema dikarenakan kulit liang telinga tidak mengandung jaringan longgar dibawahnya, sehingga terjadi penekanan langsung pada perikondrium.1,2 Selain itu, rasa nyeri juga dapat timbul pada waktu membuka mulut. Terdapat juga gangguan pendengaran apabila furunkel besar dan menyumbat liang telinga.1 Terapi tergantung pada keadaan furunkel. Bila sudah menjadi abses, di aspirasi dengan cara steril untuk mengeluarkan nanahnya. Lokal diberikan antibiotika dalam bentuk salep, seperti polimixyn B atau bacitracin, atau antiseptic asam asetat 2-5% dalam alkohol. Tidak perlu diberikan antibiotika secara sistemik, hanya diberikan obat simptomatik seperti analgetik.1

b. Otitis Eksterna DifusInfeksi mengenai liang telinga dua pertiga dalam. Tampak kulit liang telinga hiperemis dan edema yang tidak yang jelas batas-batasnya. Kuman penyebab biasanya golongan pseudomonas. Kuman lainnya yaitu staphylococcus albus, Escherichia coli dan sebagainya. Otitis eksterna difus dapat juga terjadi sekunder pada otitis media supuratif kronis.1Gejalanya adalah nyeri tekan tragus, liang telinga sangat sempit, kadang kelenjar getah bening membesar dan nyeri tekan, terdapat secret yang berbau. Secret ini tidak mengandung lender (musin) seperti secret yang keluar dari kavum timpani pada otitis media. 1Pengobatannya dengan membersihkan liang telinga, memasukkan tampon yang mengandung antibiotika ke liang telinga supaya terdapat kontak yang baik antara obat dengan kulit yang meradang. Kadang-kadang diperlukan obat antibiotic sistemik. 1

1.7Diagnosis Banding1.7.1OtomikosisInfeksi jamur di liang telinga dipermudah oleh kelembaban yang tinggi di daerah tersebut. Yang tersering adalah Pytirosporum, Aspergilud. Kadang-kadang ditemukan juga kandida albikan atau jamur lain. Pytirosporum menyebabkan terbentuknya sisik yang menyerupai ketombe dan merupakan predisposisi otitis eksterna bakterialis. 1Gejala biasanya berupa rasa gatal dan rasa penuh di liang telinga, tetapi sering pula tanpa keluhan. 1Pengobatannya ialah dengan membersihkan liang telinga. Larutan asam asetat 2% dalam alcohol, larutan iodium povidon 5% atau tetes telinga yang mengandung campuran antibiotic dan steroid yang diteteskan ke liang telinga biasanya dapat menyembuhkan. Kadang-kadang diperlukan obat anti jamur (sebagai salep) yang diberikan secara topical yang mengandung nistatin , klotrimazol. 1

BAB IILAPORAN KASUS

STATUS PASIEN1. Identitas Pasiena. Nama/ Kelamin/ Umur : An. Z/ Laki-laki/ 4 tahun b. Pekerjaan/Pendidikan : -/- c. Alamat : Jalan Bahari 2. Latar belakang sosio-ekonomi-demografi-lingkungan keluargaa. Status perkawinan: Belum menikahb. Jumlah anak: -c. Status ekonomi keluarga : Cukup mampu, penghasilan orang tua Rp. 3.000.000,00 / buland. KB: -e. Kondisi rumah: Rumah permanen dengan pekarangan sempit, jumlah kamar 2 buah, 1 kamar mandi di dalam rumah, 1 ruang keluarga dan 1 dapur. Ventilasi cukup, setiap kamar mempunyai jendela dan ruang keluarga mempunyai 2 jendela, pencahayaan cukup. Listrik ada. Sumber air dari PDAM, sumber air minum air galon. Sampah dibakar Kesan: hygiene dan sanitasi rumah baik.

f. Kondisi lingkungan keluarga : Pasien tinggal bersama orang tua, dan 2 orang saudara kandung. Lingkungan rumah padat penduduk.

3. Aspek psikologis di keluarga Hubungan pasien dengan keluarga baik. Faktor stress dalam keluarga tidak ada.

4. Riwayat Penyakit dahulu/penyakit keluarga Riwayat menderita penyakit seperti ini sebelumnya tidak ada Riwayat alergi terhadap obat maupun makanan tidak ada Riwayat anggota keluarga yang menderita penyakit seperti ini tidak ada

5. Riwayat Penyakit Keluhan Utama: Nyeri pada telinga kanan sejak 3 hari yang lalu.RPS : Nyeri pada telinga kanan sejak 3 hari yang lalu, nyeri dirasakan terus menerus dan semakin bertambah dan sangat nyeri sejak 1 hari yang lalu. Telinga kanan dirasakan sangat nyeri walaupun hanya disentuh daun telinga. Pasien sering memasukkan jari tangannya kedalam telinganya Pendengaran telinga kanan dirasa berkurang. Pilek ada sejak 3 hari yang lalu. Keluar cairan dari telinga tidak ada. Nyeri menelan tidak ada. Nyeri kepala tidak ada. Bengkak di belakang telinga tidak ada. Bersin-bersin tidak ada. Riwayat bersin-bersin di pagi hari tidak ada.

6. Pemeriksaan Fisika. Status GeneralisKeadaan Umum: BaikKesadaran: Komposmentis kooperatifNadi: 85x/ menitNafas: 18x/menitTD: -Suhu: 36,90CBB: 14 kgTB: 100 cm

Mata: Konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterikKulit: Turgor kulit baikTHT: Status LokalisThorakParu :Inspeksi : normochest, gerakan dada simetris kiri dan kananPalpasi : fremitus normal sama kiri dan kanan Perkusi : sonor kiri dan kananAuskultasi : vesikuler, Ronkhi -/-, wheezing -/-Jantung :Inspeksi : iktus kordis tidak terlihatPalpasi : iktus teraba 1 jari medial LMCS RIC VPerkusi: batas jantung dalam batas normalAuskultasi: irama murni, teratur, bising (-) Abdomen :Inspeksi : tidak tampak membuncitPalpasi : supel, hepar dan lien tidak teraba Perkusi : timpaniAuskultasi : BU (+) normalPunggung: sudut kostovertebre : nyeri tekan (-), nyeri ketok (-)Genitalia: tidak diperiksaAnus: tidak diperiksaEkstremitas : akral hangat, perfusi baikStatus Lokalis THTTelingaPemeriksaanKelainanDekstraSinistra

Daun telinga

Daun telingaKel kongenitalTidak adaTidak ada

TraumaTidak adaTidak ada

RadangTidak adaTidak ada

Kel. MetabolikTidak adaTidak ada

Nyeri tarikAdaTidak ada

Nyeri tekan tragusAdaTidak ada

Diding liang telingaCukup lapang (N)Tidak adaTidak ada

SempitCukup sempitCukup sempit

HiperemiAdaTidak ada

EdemaAdaTidak ada

MassaAdaTidak ada

Sekret/serumenAda / TidakTidak adaTidak ada

BauTidak adaTidak ada

WarnaTidak adaTidak ada

JumlahTidak adaTidak ada

JenisTidak adaTidak ada

Membran timpani

UtuhWarnaSulit dinilaiPutih

Reflek cahayaSulit dinilai+ arah jam 7

BulgingSulit dinilaiTidak ada

RetraksiSulit dinilaiTidak ada

AtrofiSulit dinilaiTidak ada

PerforasiJumlah perforasiSulit dinilaiTidak ada

JenisSulit dinilaiTidak ada

KwadranSulit dinilaiTidak ada

PinggirSulit dinilaiTidak ada

MastoidTanda radangTidak adaTidak ada

FistelTidak adaTidak ada

SikatrikTidak adaTidak ada

Nyeri tekan Tidak adaTidak ada

Nyeri ketokTidak adaTidak ada

Tes garpu talaRinneTidak dilakukanTidak dilakukan

SchwabachTidak dilakukanTidak dilakukan

WeberTidak dilakukan

Hidung PemeriksaanKelainanDektraSinistra

Hidung luarDeformitasTidak adaTidak ada

Kelainan kongenitalTidak adaTidak ada

TraumaTidak adaTidak ada

RadangTidak adaTidak ada

MassaTidak adaTidak ada

Pemeriksaan Kelainan Dekstra Sinistra

VestibulumVibriseAda Ada

RadangTidak ada Tidak ada

Cavum nasiCukup lapang (N)Cukup lapang (N)Cukup lapang(N)

SempitTidak adaTidak ada

LapangTidak adaTidak ada

SekretLokasi

JenisSerosa Serosa

JumlahSedikit Sedikit

BauTidak adaTidak ada

Konka inferiorUkuranEutrofiEutrofi

WarnaMerah mudaMerah muda

PermukaanLicinLicin

Konka mediaUkuranSulit dinilaiSulit dinilai

WarnaSulit dinilaiSulit dinilai

PermukaanSulit dinilaiSulit dinilai

EdemaSulit dinilaiSulit dinilai

Massa Tidak ada Tidak ada

SeptumCukup lupus/deviasiCukup lurusCukup lurus

PermukaanLicin Licin

WarnaMerah mudaMerah muda

SpinaTidak adaTidak ada

KristaTidak adaTidak ada

AbsesTidak adaTidak ada

PerforasiTidak adaTidak ada

Sinus paranasalPemeriksaanDekstraSinistra

Nyeri tekanTidak adaTidak ada

Nyeri ketokTidak adaTidak ada

Orofaring dan mulutPemeriksaanKelainanDekstraSinistra

Palatum mole + Arkus FaringSimetris/tidakSimetrisSimetris

WarnaMerah mudaMerah muda

EdemTidak adaTidak ada

Bercak/eksudatTidak adaTidak ada

Dinding faringWarnaMerah mudaMerah muda

PermukaanLicinLicin

Tonsil

TonsilUkuranT1T1

WarnaMerah mudaMerah muda

PermukaanRataRata

EksudatTidak adaTidak ada

Perlengketan dengan pilarTidak adaTidak ada

PeritonsilWarnaMerah mudaMerah muda

EdemaTidak adaTidak ada

AbsesTidak adaTidak ada

TumorLokasiTidak adaTidak ada

BentukTidak adaTidak ada

UkuranTidak adaTidak ada

PermukaanTidak adaTidak ada

KonsistensiTidak adaTidak ada

GigiKaries/RadiksTidak Ada Tidak Ada

KesanHigiene mulut baik

LidahWarnaMerah mudaMerah muda

BentukNormal Normal

DeviasiTidak adaTidak ada

Massa Tidak adaTidak ada

7. Pemeriksaan LaboratoriumTidak dilakukan pemeriksaan

8. DiagnosisOtitis Eksterna Sirkumskripta Auris Dekstra

9. Diagnosis Banding-10. Manajemena. Preventif 1) Hindari mengorek telinga terlalu keras dan sering menggunakan cotton bud ukuran besar.2) Hindari memasukkan benda kedalam telinga.3) Cegah masuknya air ke dalam liang telinga seperti memakai penutup telinga ketika berenang.4) Edukasi kepada ibu pasien untuk meningkatkan kebersihan terutama memotong kuku anaknya agar tidak menjadi sumber penyakit.b. Promotif 1) Menjelaskan mengenai penyakit pasien serta memberikan edukasi kepada ibu pasien mengenai faktor risiko penyakit tersebut.2) Edukasi ibu pasien cara mengoleskan salf antibiotik pada liang telinga. Salf antibiotik dioleskan menggunakan cotton bud ukuran kecil. Ketika akan mengoleskan salf antibiotik pada liang telinga, pegang cotton bud tepat pada pangkal kapas cotton bud agar tidak masuk terlalu dalam. 3) Selama fase akut berlangsung, edukasi ibu pasien agar anaknya menghindari berenang.4) Pola hidup sehat dan makan makanan yang bergizi seimbang.c. Kuratif 1) Kloramfenikol salf 3% dioleskan dengan menggunakan cotton bud ukuran kecil sebanyak 3 kali sehari selama 5 hari.1) Paracetamol 3 x tablet2) Vitamin C 3 x tablet d. Rehabilitatif 1) Kontrol kembali ke Puskesmas dalam 5 hari

11. PrognosisQuo ad Vitam: BonamQuo ad Sanam: Bonam

BAB IIIDISKUSI

Seorang anak laki-laki berumur 4 tahun datang ke balai pengobatan Puskesmas Ulak Karang dengan keluhan utama berupa Bintik-bintik kemerahan yang gatal pada kedua sela-sela jari tangan sejak 1 bulan yang lalu. Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, pasien didiagnosis menderita Skabies.Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis jika terpenuhinya 2 dari 4 tanda kardinal. Kriteria diagnosis skabies antara lain pruritus nokturna, community infection, menemukan terowongan (kanalikuli), dan menemukan tungau Sarcoptes scabiei. Pada pasien ini dapat ditegakkan diagnosis skabies karena memenuhi dua kriteria, yaitu pruritus nokturna dan community infection. Diagnosis juga diperkuat dari pemeriksaan fisik, dimana tempat predileksi lesi yaitu pada sela jari tangan dan lengan bawah yang merupakan tempat predileksi tersering pada penyakit skabies.Dari status dermatologikus didapatkan yaitu, lokasi pada kedua sela-sela jari tangan, kedua lengan bawah, distribusi bilateral regional, bentuk tidak khas, susunan diskret konfluens, batas tegas, ukuran milier, efloresensi tampak papul eritem dan papul hiperpigmentasi disertai adanya ekskoriasi.Pemeriksaan penunjang yang seharusnya dilakukan adalah pemeriksaan kerokan kulit untuk menemukan terowongan (kanalikuli) yang akan sangat membantu dalam membuat diagnosis pasti. Jika dilakukan pemeriksaan tersebut diharapkan ditemukannya tungau melalui kerokan kulit yang dilihat dengan mikroskop.Terapi yang diberikan pada pasien ini adalah terapi secara komprehensif yang terdiri dari terapi umum dan khusus. Terapi umum bertujuan untuk mencegah timbulnya penyakit maupun mencegah penyakit yang telah ada agar tidak bertambah parah seperti menjaga kebersihan perorangan dan lingkungan, hindari pemakaian bersama alat mandi, handuk, pakaian serta sprei antar anggota keluarga serumah.serta tujuan yang utama adalah memberikan edukasi kepada pasien bahwa pengobatan penyakit ini harus dilakukan secara tuntas untuk memutuskan rantai penularan.Terapi khusus yang diberikan pada pasien ini diberikan Skabisid topikal, diberikan salf 2-4, diaplikasikan setelah mandi sore pada seluruh tubuh, termasuk wajah, kecuali area di sekitar mata, hidung, dan mulut. Pengaplikasian hanya boleh 3 x 24 jam saja dan terapi sistemik Antihistamin, diberikan Chlorphenyramine maleat (CTM) 3 x 4mg. Pasien diberikan edukasi mengenai cara mengaplikasikan obat topikal yang benar serta dianjurkan untuk kontrol ke Puskesmas 7 hari kemudian.

RESEPdr. Finna SuciSIP : 06.16.15Dinas Kesehatan Kodya PadangPuskesmas Ulak KarangTanggal : 16 Januari 2015

R/Kloramfenikol salf 3 % tube No ISucSR/ Paracetamol tab 500 mg No XS 3 dd tab1/4 S R/ Vit C tab No. XS 3dd tab 1/2 S

Pro:An. ZUmur: 4 thAlamat: Jalan Bahari

DAFTAR PUSTAKA

1. Soepardi EA et al, editor. Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala dan Leher. Edisi keenam. Jakarta: FKUI; 2007.2. Boies. Buku ajar Penyakit THT. Edisi keenam.EGC. Jakarta: EGC; 1997:75-84. 3. Mansjoer Arif, Triyanti Kuspuji, Savitri Rakhmi, et all. Kapita Selekta Kedokteran. Edisi Ketiga Jilid Pertama. Media Aesculapius Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta. 2001. Hal 83-844. Ballenger, JJ. Otitis Eksterna Penyakit Telinga Hidung Tenggorokan Kepala dan Leher. Jilid 2. Edisi 16. Bina Rupa Aksara. Jakarta. 2006. Hal 236-238.