case katarak

54
BAB I STATUS PASIEN I. IDENTITAS Nama : Tn. S Usia : 66 tahun Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Islam Alamat : Batu Ampar RT 09/01 No.26 Kec. Kramat Jati Pendidikan : S1 St. Pernikahan : Menikah No. RM : 756463 II. ANAMNESIS Autoanamnesis dengan pasien dilakukan di poliklinik mata RSUD Budhi Asih tanggal 25 Maret 2011, pukul 11.00 WIB. Keluhan Utama Mata kiri sudah tidak bisa melihat sejak 2 tahun ini dan mata kanan menjadi buram sejak 1 bulan SMRS. Keluhan Tambahan 7

Upload: astriskak

Post on 04-Jul-2015

954 views

Category:

Documents


4 download

TRANSCRIPT

Page 1: Case Katarak

BAB I

STATUS PASIEN

I. IDENTITAS

Nama : Tn. S

Usia : 66 tahun

Jenis Kelamin : Laki-laki

Agama : Islam

Alamat : Batu Ampar RT 09/01 No.26 Kec. Kramat Jati

Pendidikan : S1

St. Pernikahan : Menikah

No. RM : 756463

II. ANAMNESIS

Autoanamnesis dengan pasien dilakukan di poliklinik mata RSUD Budhi Asih

tanggal 25 Maret 2011, pukul 11.00 WIB.

Keluhan Utama

Mata kiri sudah tidak bisa melihat sejak 2 tahun ini dan mata kanan menjadi

buram sejak 1 bulan SMRS.

Keluhan Tambahan

Penglihatan berkabut dan silau.

Riwayat Penyakit Sekarang

Os datang dengan keluhan mata kiri sudah tidak bisa melihat sejak 2 tahun

dan penglihatan mata kanan menjadi buram sejak 1 bulan SMRS. Os mengaku

penglihatan mata kiri sudah mulai buram sejak 3 tahun yang lalu, sedangkan

7

Page 2: Case Katarak

penglihatan kanan awalnya dirasa baik-baik saja tetapi lama-lama penglihatan dirasa

seperti berkabut dan mulai mengganggu aktivitas pasien.

Sejak 3 tahun yang lalu, pasien sering mengeluh pandangan menjadi lebih

silau jika keluar rumah pada siang hari atau jika melihat cahaya lampu yang terang.

Pasien menyangkal melihat gambaran pelangi bila melihat cahaya terang tersebut. Os

pernah memeriksakan dirinya ke dokter spesialis mata di RS UKI November 2010

saat Os mengeluh mata kirinya sakit. Mata merah (-), berair (-), gatal (-). Lalu Os

diberi obat sebanyak 2 macam (Os lupa nama obatnya) tanpa diberi tahu oleh dokter

tentang diagnosis penyakitnya, kemudian keluhan menghilang. Kemudian 2 bulan

yang lalu Os check up ke rumah sakit di Condet, saat itu Os sempat mengeluh silau

pada kedua matanya jika melihat cahaya. Sempat didiagnosis katarak dan dikatakan

bahwa Os telat berobat untuk mata kirinya. Pasien mengaku tidak pernah ada riwayat

trauma baik tumpul maupun tajam pada kedua mata.

Riwayat Penyakit Dahulu

Hipertensi (+) tapi tidak rutin kontrol dan minum obat, Diabetes Mellitus (-),

Asthma(-). Os memiliki kacamata baca +2,50D, tetapi tidak menghilangkan keluhan.

Riwayat Penyakit Keluarga

Ayah Os : Hipertensi (+), DM (-), Asthma (-), glaucoma (-). Ibu Os :

Hipertensi (-), DM (-), Asthma (-), Glaukoma (-).

Riwayat Kebiasaan

Merokok (-), alkohol (-), konsumsi obat-obatan tertentu (-).

III. PEMERIKSAAN FISIK

Status Generalis

Keadaan umum/kesadaran : Tampak sakit ringan / compos mentis

Tanda vital

Tekanan darah : 160/80 mmHg

8

Page 3: Case Katarak

Nadi : 84 x/menit

Suhu : afebris

Pernapasan : 20 x/menit

Mata : Lihat status oftalmologis

THT : Dalam batas normal

Cor/Pulmo : Dalam batas normal

Abdomen : Dalam batas normal

Ekstrimitas : Dalam batas normal

STATUS OFTALMOLOGIS

Occuli Dekstra Occuli Sinistra

1/300 Visus 1/300

Ortoforia Kedudukan Bola

Mata

Eksoforia

Bola mata baik bergerak

kesegala arah

Pergerakan Bola

Mata

Bola mata baik bergerak

kesegala arah

Edema (-), Hematoma (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-),

Distrikiasis (-)

Palpebra Superior

Edema (-), Hematoma (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-),

Distrikiasis (-)

Edema (-), Hematoma (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-),

Disthikiasis (-)

Palpebra Inferior

Edema (-), Hematoma (-),

Enteropion (-), Ekteropion

(-), Trikiasis (-),

Disthikiasis (-)

Hiperemis (-), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Konjungtiva Tarsal

Superior

Hiperemis (-), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Hiperemis (-), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Konjungtiva Tarsal

Inferior

Hiperemis (), Folikel (-),

Papil (-), Litiasis (-)

Injeksi silier (-),

Injeksi Konjungtiva (-),

Injeksi silier (-),

9

Page 4: Case Katarak

Subconjungtival Bleeding

(-), Pinguekula (-),

Pterigium (-)

Konjungtiva Bulbi Injeksi Konjungtiva (-),

Subconjungtival Bleeding

(-), Pinguekula (-),

Pterigium (-)

Jernih, Arcus Senilis (+) Kornea Jernih, Arcus Senilis (+)

Dalam COA Dalam

Warna cokelat, Kripti baik Iris Warna cokelat, Kripti baik,

Iris tremulans

Tepi reguler, RCL (+),

RCTL (-)

Pupil Tepi reguler, RCL(-),

RCTL (+)

Keruh, Shadow test (-) Lensa Keruh, Shadow test (-)

Tidak dapat dinilai Vitreus humor Tidak dapat dinilai

Refleks Fundus (-)

Papil, Arteri/Vena,

macula, retina sulit

dinilai

Funduskopi Refleks Fundus (-)

Papil, Arteri/Vena,

macula, retina sulit

dinilai

14,1 mmHg TIO 49,2 mmHg

Proyeksi sinar :

OD OS

+ -

+ + - +

+ -

IV. RESUME

Seorang pria, 66 tahun, datang dengan keluhan mata kiri tidak dapat melihat

sejak 2 tahun SMRS dan pandangan mata kanan kabur dan berkabut sejak 1 bulan

SMRS. Awalnya pandangan mata kiri kabur sejak 3 tahun SMRS tetapi semakin lama

10

Page 5: Case Katarak

pandangan semakin berkabut dan akhirnya menjadi gelap. Mata kanan juga awalnya

dirasakan baik-baik saja, tetapi 1 bulan terakhir keluhan seperti pada mata kiri

muncul. Os sering mengeluh silau pada kedua matanya jika melihat cahaya terang.

Keluhan-keluhan tersebut membuat aktivitas Os menjadi terganggu. Pada riwayat

penyakit dahulu terdapat riwayat hipertensi, dan Os sebelumnya sudah memiliki

kacamata baca +2,50D tetapi hal tersebut tidak menghilangkan keluhan. Pada riwayat

penyakit keluarga, terdapat riwayat hipertensi pada ayah Os. Os tidak merokok, tidak

konsumsi alkohol, dan tidak konsumsi obat-obatan tertentu dalam jangka panjang.

Pada pemeriksaan fisik, ditemukan adanya hipertensi, dengan tekanan darah 160/80.

Pada pemeriksaan status oftalmologis, didapatkan kedua lensa tampak keruh, Shadow

test (+). Pada funduskopi tidak ditemukan adanya reflex fundus; papil, arteri/vena,

macula, dan retina sulit dinilai. Dan pada pemeriksaan TIO, didapatkan TIO OS 49,2

mmHg.

V. PEMERIKSAAN PENUNJANG

Laboratorium darah

Foto Rőntgen thorax

EKG

Konsul Penyakit Dalam

VI. DIAGNOSIS

Katarak senilis stadium matur OD

Glaukoma Sekunder OS e.c Katarak senilis stadium hipermatur

VII. PENATALAKSANAAN

Bedah katarak : Phacoemulsifikasi + IOL OD

Cendo Timol 0,5 % OS 2x1 tetes

Cendo Carpine 2 % OS 4x1 tetes

VIII. PROGNOSIS

11

Page 6: Case Katarak

Katarak senilis stadium matur OD

Ad vitam : Bonam

Ad fungtionam : Dubia ad bonam

Ad sanationam : Dubia ad bonam

Glaukoma Sekunder OS e.c Katarak senilis hipermatur

Ad vitam : Bonam

Ad fungtionam : Malam

Ad sanationam : Dubia ad malam

ANALISA KASUS

12

Page 7: Case Katarak

Pada pasien ini saya tegakkan diagnosa kerja katarak senilis stadium matur

OD berdasarkan :

1. Usia pasien yaitu lebih dari 50 tahun.

2. Autoanamnesa didapatkan, pasien mengeluh penglihatan pada mata kanan

kabur seperti berkabut. Keluhan ini dirasakan pasien awalnya kabut terlihat

sedikit yang semakin lama semakin tebal. Hal ini sesuai dengan teori, dimana

pasien dengan katarak mengeluh penglihatan berkabut, berasap, tajam

penglihatan menurun.

3. Pada pemeriksaan oftalmologi didapatkan mata kanan visus 1/300. Lensa

keruh, Shadow test (-), reflex fundus (-), papil, arteri/vena, macula, retina sulit

dinilai.

Pasien ini didiagnosa dengan glaukoma sekunder OS e.c katarak hipermatur

karena pada pemeriksaan didapatkan adanya katarak hipermatur OS, pupil lebar,

edema kornea OS, tekanan intra ocular yang meningkat dan gangguan lapang

pandang. Lensa berwarna kecoklatan di bagian bawah. Hal ini sesuai teori karena

pada stadium hipermatur korteks lensa yang konsistensinya seperti bubur telah

mencair, sehingga nucleus lensa karena daya berat terdorong ke bawah yang tampak

melalui pupil sebagai tengah lingkaran di bagian bawah dengan warna yang lain

dibanding atas.

Prognosis ad vitam bonam, karena katarak tidak mengancam jiwa. Prognosis

ad fungtionam dan ad sanationam malam karena pasien juga menderita glaukoma

sekunder dengan no light perception pada mata kiri sehingga diduga telah terjadi

papil atrofi. Pembedahan merupakan solusi terbaik untuk mengobati katarak dengan

angka keberhasilan mencapai + 95 %. Sampai saat ini belum ditemukan obat yang

dapat menghilangkan, mengurangi atau memperlambat perkembangan katarak senilis.

BAB II

13

Page 8: Case Katarak

PENDAHULUAN

Katarak adalah perubahan lensa mata yang semula jernih dan tembus cahaya

menjadi keruh, sehingga cahaya sulit mencapai retina akibatnya penglihatan menjadi

kabur. Katarak terjadi secara perlahan-lahan sehingga penglihatan penderita

terganggu secara berangsur. Katarak tidak menular dari satu mata ke mata lain, tetapi

katarak dapat terjadi pada kedua mata pada waktu yang tidak bersamaan.Perubahan

ini dapat terjadi karena proses degenerasi atau ketuaan (jenis katarak ini paling sering

dijumpai), trauma mata, infeksi penyakit tertentu (Diabetes Mellitus). Katarak dapat

terjadi pula sejak lahir (cacat bawaan), karena itu katarak dapat dijumpai pada usia

anak-anak maupun dewasa.

Data badan kesehatan PBB (WHO) menyebutkan penderita kebutaan di dunia

mencapai 38 juta orang, 48% di antaranya disebabkan katarak. Untuk Indonesia,

survei pada 1995/1996 menunjukkan prevalensi kebutaan mencapai 1,5% dengan

0,78% di antaranya disebabkan oleh katarak, dan yang terbesar karena katarak senilis/

ketuaan.

Selain penglihatan yang semakin kabur dan tidak jelas, tanda-tanda awal

terjadinya katarak antara lain merasa silau terhadap cahaya matahari, perubahan

dalam persepsi warna, dan daya penglihatan berkurang hingga kebutaan. Katarak

biasanya terjadi dengan perlahan dalam waktu beberapa bulan. Daya penglihatan

yang menurun mungkin tidak disadari karena merupakan perubahan yang

berperingkat (progresif). Menurut Istiantoro, katarak hampir tidak bisa dicegah

karena merupakan proses penuaan sel.

Meskipun tergolong penyakit menakutkan, operasi katarak membutuhkan

waktu relatif singkat yaitu 30-40 menit saja. Bahkan, teknologi kedokteran terbaru

memungkinkan pembiusan dilakukan melalui tetes mata saja. Sehingga banyak orang

keliru menganggap katarak bisa diobati hanya menggunakan obat tetes mata.

Operasi katarak merupakan operasi yang mudah dan aman bagi kebanyakan

orang. Namun, sama seperti operasi lain, operasi katarak dapat menimbulkan

14

Page 9: Case Katarak

komplikasi seperti pendarahan dan kerusakan pada kornea atau retina yang

memerlukan pembedahan lebih lanjut.

BAB III

PEMBAHASAN

15

Page 10: Case Katarak

III.1 LENSA

III.1.1 Anatomi Lensa

Pada manusia, lensa mata bikonveks, tidak mengandung pembuluh darah,

transparan, dengan diameter 9 mm, dan tebal sekitar 5 mm. Lensa terdiri dari kapsul,

epitel lensa, korteks dam nucleus.

Gambar 1. Anatomi Lensa

Ke depan, lensa berhubungan dengan cairan bilik mata, ke belakang

berhubungan dengan badan kaca. Di belakang iris, lensa digantung pada prosesus

siliaris oleh zonula Zinii (ligamentum suspensorium lentis), yang melekat pada

ekuator lensa, serta menghubungkannya dengan korpus siliare. Zonula Zinni berasal

dari lamina basal epitel tidak berpigmen prosesus siliare. Zonula Zini melekat pada

bagian ekuator kapsul lensa, 1,5 mm pada bagian anterior dan 1,25 pada bagian

posterior.

Permukaan lensa pada bagian posterior lebih cembung daripada permukaan

anterior. Di sebelah anterior lensa terdapat humor akuous dan di sebelah posteriornya

korpus vitreus. Lensa diliputi oleh kapsula lentis, yang bekerja sebagai membran

semipermeabel, yang melalukan air dan elektrolit untuk makanannya. Di bagian

anterior terdapat epitel subkapsuler sampai ekuator.

16

Page 11: Case Katarak

Gambar 2. Lapisan Lensa

Di kapsul anterior depan terdapat selapis epitel subkapsular. Epitel ini

berperan dalam proses metabolisme dan menjaga sistem normal dari aktivitas sel,

termasuk biosintesa dari DNA, RNA, protein dan lipid.

Substansi lensa terdiri dari nukleus dan korteks, yang terdiri dari lamel-lamel

panjang yang konsentris. Nukleus lensa lebih keras daripada korteksnya. Sesuai

dengan bertambahnya usia, serat-serat lamellar subepitel terus diproduksi, sehingga

lensa lama-kelamaan menjadi lebih besar dan kurang elastik. Nukleus dan korteks

terbentuk dari lamellae konsentris yang panjang. Tiap serat mengandung inti, yang

pipih dan terdapat di bagian pinggir lensa dekat ekuator, yang berhubungan dengan

epitel subkapsuler. Serat-serat ini saling berhubungan di bagian anterior. Garis-garis

persambungan yang terbentuk dengan persambungan lamellae ini ujung-ke-ujung

berbentuk {Y} bila dilihat dengan slitlamp. Bentuk {Y} ini tegak di anterior dan

terbalik di posterior (huruf Y yang terbalik).

Sebanyak 65% bagian dari lensa terdiri dari air, sekitar 35% protein

(kandungan protein tertinggi di antara jaringan-jaringan tubuh), dan sedikit sekali

mineral yang biasa ada di jaringan tubuh lainnya. Protein lensa terdiri dari water

soluble dan water insoluble. Water soluble merupakan protein intraseluler yang

terdiri dari alfa (α), beta (β) dan delta (δ) kristalin, sedang yang termasuk dalam water

insoluble adalah urea soluble dan urea insoluble. Kandungan kalium lebih tinggi di

17

Page 12: Case Katarak

lensa daripada di kebanyakan jaringan lain. Seperti telah disinggung sebelumnya,

tidak ada serat nyeri, pembuluh darah atau saraf di lensa.

 

III.1.2 Embriologi Lensa

Mata berasal dari tonjolan otak (optic vesicle). Lensanya berasal dari

ektoderm permukaan pada tempat lensplate, yang kemudian mengalami invaginasi

dan melepaskan diri dari ektoderm permukaan membentuk vesikel lensa dan bebas

terletak di dalam batas-batas dari optic cup. Segera setelah vesikel lensa terlepas dari

ektoderm permukaan, maka sel-sel bagian posterior memanjang dan menutupi bagian

yang kososng. Pada stadium ini, kapsul hialin dikeluarkan oleh sel-sel lensa. Serat-

serat sekunder memanjangkan diri, dari daerah ekuator dan tumbuh ke depan di

bawah epitel subkapsuler, yang hanya selapis dan ke belakang di bawah kapsula

lentis. Serat-serat ini saling bertemu dan membentuk sutura lentis, yang berbentuk

huruf Y yang tegak di anterior dan Y yang terbalik di posterior.  Pembentukan lensa

selesai pada usia 7 bulan penghidupan foetal. Inilah yang membentuk substansi lensa,

yang terdiri dari korteks dan nukleus. Pertumbuhan dan proliferasi dari serat-serat

sekunder berlangsung terus selama hidup tetapi lebih lambat, karenanya lensa

menjadi bertambah besar lambat-lambat. Kemudian terjadi kompresi dari serat-serat

tersebut dengan disusul oleh proses sklerosis.

III.1.3 Fungsi Lensa

Fungsi utama lensa adalah memfokuskan berkas cahaya ke retina. Supaya hal

ini dapat dicapai, maka daya refraksinya harus diubah-ubah sesuai dengan sinar yang

datang sejajar atau divergen. Perubahan daya refraksi lensa disebut akomodasi. Hal

ini dapat dicapai dengan mengubah lengkungnya lensa terutama kurvatura anterior.

Untuk memfokuskan cahaya yang datang dari jauh, otot-otot siliaris relaksasi,

menegangkan serat zonula dan memperkecil diameter anteroposterior lensa sampai

ukurannya yang terkecil; dalam posisi ini, daya refraksi lensa diperkecil sehingga

berkas cahaya pararel akan terfokus ke retina. Untuk memfokuskan cahaya dari benda

dekat, otot siliaris berkontraksi sehingga tegangan zonula berkurang. Kapsul lensa

18

Page 13: Case Katarak

yang elastik kemudian mempengaruhi lensa menjadi lebih sferis diiringi oleh daya

biasnya. Kerjasama fisiologik antara korpus siliaris, zonula dan lensa untuk

memfokuskan benda dekat ke retina dikenal sebagai akomodasi. Seiring dengan

pertambahan usia, kemampuan refraksi lensa perlahan-lahan akan berkurang.

Secara fisiologis lensa mempunyai sifat tertentu, yaitu : kenyal atau lentur

karena memegang peranan terpenting dalam akomodasi untuk menjadi cembung;

jernih atau transparan karena diperlukan sebagai media penglihatan; terletak di

tempatnya. Lensa dapat merefraksikan cahaya karena indeks refraksinya, secara

normal sekitar 1,4 pada bagian tengah dan 1,36 pada bagian perifer yang berbeda dari

aqueous dan vitreous humor yang mengelilinginya. Pada keadaan tidak

berakomodasi, lensa memberikan kontribusi 15-20 D dari sekitar 60 D seluruh

kekuatan refraksi bola mata manusia. Sisanya, sekitar 40 D kekuatan refraksi

diberikan oleh udara dan kornea.

Pada foetus, bentuk lensa hampir sferis dan lemah. Pada orang dewasa

lensanya lebih padat dan bagian posterior lebih konveks. Proses sklerosis bagian

sentral lensa, dimulai pada masa kanak-kanak dan terus berlangsung secara perlahan-

lahan sampai dewasa dan setelah ini proses bertambah cepat dimana nukleus menjadi

lebih besar dan korteks bertambah tipis. Pada orang tua lensa menjadi lebih besar,

lebih gepeng, warna kekuning-kuningan, kurang jernih dan tampak sebagai “grey

reflex” atau “senile reflex”, yang sering disangka katarak, padahal salah. Karena

proses sklerosis ini, lensa menjadi kurang elastis dan daya akomodasinya pun

berkurang. Keadaan ini disebut presbiopia, pada orang Indonesia dimulai pada umur

40 tahun.

III.1.4 Pemeriksaan Lensa

Pemeriksaan lensa dilakukan dengan menentukan visus, pemeriksaan dengan

lampu biasa, penyinaran fokal, slitlamp, oftalmoskop pada pupil yang dilebarkan

dahulu.

III.2 KATARAK

III.2.1 Definisi

19

Page 14: Case Katarak

Katarak adalah kelainan pada lensa berupa kekeruhan lensa yang

menyebabkan tajam penglihatan penderita berkurang. Kata katarak berasal dari

Yunani “katarraktes”, atau dalam bahasa Inggris (Cataract) dan Latin (Cataracta)

yang berarti air terjun, karena pada awalnya katarak dipikirkan sebagai cairan yang

mengalir dari otak ke depan lensa.

Katarak adalah setiap keadaan kekeruhan (opasitas) pada lensa yang tidak

dapat menggambarkan obyek dengan jelas di retina, yang dapat terjadi akibat hidrasi

(penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau kedua-duanya.

Gambar 3. Perbandingan lensa normal

dengan lensa yang terkena katarak

III.2.2 Epidemiologi

Berbagai studi cross-sectional melaporkan prevalensi katarak pada individu

berusia 65-74 tahun adalah sebanyak 50% dan meningkat hingga 70% pada individu

di atas 75 tahun.

Diperkirakan 5-10 juta individu mengalami kerusakan penglihatan akibat

katarak setiap tahun (Newell, 1986). Di USA sendiri ada 300. 000 – 400.000

ekstraksi mata tiap tahunnya. Insiden tertinggi pada katarak terjadi pada populasi

yang lebih tua.

20

Page 15: Case Katarak

Diketahui kebutaan di Indonesia berkisar 1,5 % dari jumlah penduduk

Indonesia. Dari angka tersebut presentasi angka kebutaan utama ialah :

- Katarak 0,78 %

- Kelainan kornea 0,13 %

- Penyakit glaukoma 0,20 %

- Kelainan refraksi 0,14 %

- Kelainan retina 0,03 %

- Kelainan nutrisi 0,02 %

III.2.3 Etiologi

a. Penyebab paling banyak adalah akibat proses lanjut usia/ degenerasi, yang

mengakibatkan lensa mata menjadi keras dan keruh.

b. Dipercepat oleh faktor lingkungan, seperti merokok, sinar ultraviolet, alkohol,

kurang vitamin E,radang menahun dalam bola mata, polusi asap motor/pabrik

karena mengandung timbal.

c. Cedera mata, misalnya pukulan keras, tusukan benda, panas yang tinggi,

bahan kimia yang merusak lensa.

d. Peradangan/infeksi pada saat hamil, penyakit yang diturunkan.

e. Penyakit infeksi tertentu dan penyakit metabolik misalnya diabetes mellitus.

f. Obat-obat tertentu (misalnya kortikosteroid, klorokuin, klorpromazin,

ergotamine, pilokarpin)

III.2.4 Patofisiologi

Patogenesis katarak belum sepenuhnya dimengerti. Walaupun demikian, pada

lensa katarak secara karakteristik terdapat agregat-agregat protein yang

menghamburkan berkas cahaya dan mengurangi transparaninya. Perubahan protein

lainnya akan mengakibatkan perubahan warna lensa menjadi kuning atau coklat.

Temuan tambahan mungkin berupa vesikel di antara serat-serat lensa atau migrasi sel

epitel dan pembesaran sel-sel epitel yang menyimpang. Sejumlah faktor yang diduga

21

Page 16: Case Katarak

turut berperan dalam terbentuknya katarak, antara lain kerusakan oksidatif (dari

proses radikal bebas), sinar ultraviolet dan malnutrisi.

Secara umum ada dua proses patogenesis katarak, yaitu :

1. Hidrasi

Terjadi penimbunan komposisi ionik pada korteks lensa dan penimbunan

cairan di antara celah-celah serabut lensa

2. Sklerosis

Serabut-serabut lensa yang terbentuk lebih dahulu akan terdorong ke arah

tengah sehingga bagian tengah menjadi lebih padat (yang disebut nucleus),

mengalami dehidrasi serta penimbunan kalsium dan pigmen

III.2.5 Klasifikasi

Katarak dapat diklasifikasikan menurut beberapa aspek, yaitu :

1. Berdasarkan usia :

a. Katarak kongenital ( terlihat pada usia dibawah 1 tahun )

b. Katarak juvenil ( terlihat sesudah usia 1 tahun )

c. Katarak senile ( setelah usia 50 tahun )

2. Menurut lokasi kekeruhan lensa :

a. Nuklear

b. Kortikal

c. Subkapsular (posterior/anterior) jarang

3. Menurut derajat kekeruhan lensa :

a. Insipien

b. Imatur

c. Matur

d. Hipermatur

4. Menurut kecepatan perkembangannya :

a. Stationary

b. Progressive

5. Menurut penampakan biomikroskopis :

22

Page 17: Case Katarak

a. Lamellar

b. Coralliform

c. Pungtata

6. Menurut etiologi :

a. Katarak primer

b. Katarak sekunder

7. Menurut konsistensinya :

a. Katarak lunak

b. Katarak keras

III.2.6 Katarak Berdasarkan Usia

a. Katarak Kongenital

Katarak Kongenital katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah

lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Kekeruhan sebagian pada lensa yang

sudah didapatkan pada waktu lahir umumnya tidak meluas dan jarang sekali

mengakibatkan keruhnya seluruh lensa. Letak kekeruhan tergantung pada saat

mana terjadi gangguan pada kehidupan janin.

Dibagi menjadi 2 jenis :

a. Katarak kapsulolentikular

Katarak yang mengenai kapsul dan korteks.

b. Katarak lentikular

Katarak yang mengenai korteks atau nukleus saja, tanpa disertai kekeruhan

kapsul. Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai

kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau

umum.

Katarak kongenital dapat dalam bentuk katarak lamelar atau zonular, katarak

polaris posterior (piramidalis posterior, kutub posterior), polaris anterior

(piramidalis anterior, kutub anterior), katarak inti (katarak nuklearis), dan katarak

sutural.

23

Page 18: Case Katarak

Katarak Lamelar atau Zonular

Di dalam perkembangan embriologik permulaan terdapat

perkembangan serat lensa maka akan terlihat bagian lensa sentral yang lebih

jernih. Kemudian terdapat serat lensa keruh dalam kapsul lensa. Kekeruhan

berbatas tegas dengan bagian perifer tetap bening. Katarak lamelar ini

mempunyai sifat herediter dan ditransmisi secara dominan, katarak biasanya

bilateral.

Katarak zonular terlihat segera sesudah bayi lahir. Kekeruhan dapat

menutupi seluruh celah pupil, bila tidak dilakukan dilatasi pupil sering dapat

mengganggu penglihatan.

Gangguan penglihatan pada katarak zonular tergantung pada derajat

kekeruhan lensa. Bila kekeruhan sangat tebal sehingga fundus tidak dapat

terlihat pada pemeriksaan oftalmoskopi maka perlu dilakukan aspirasi dan

irigasi lensa.

Katarak Polaris Posterior

Katarak polaris posterior disebabkan menetapnya selubung vaskular

lensa. Kadang-kadang terdapat arteri hialoid yang menetap sehingga

mengakibatkan kekeruhan pada lensa bagian belakang. Pengobatannya

dengan melakukan pembedahan lensa.

Katarak Polaris Anterior

Gangguan terjadi pada saat kornea belum seluruhnya melepaskan

lensa dalam perkembangan embrional. Hal ini juga mengakibatkan

terlambatnya pembentukan bilik mata depan pada perkembangan embrional.

Pada kelainan yang terdapat di dalam bilik mata depan yang menuju kornea

sehingga memperlihatkan bentuk kekeruhan seperti piramid. Katarak polaris

anterior berjalan tidak progresif.

Pengobatan sangat tergantung keadaan kelainan. Bila sangat

mengganggu tajam penglihatan atau tidak terlihatnya fundus pada

pemeriksaan oftalmoskopi maka dilakukan pembedahan.

Katarak Nuklear

24

Page 19: Case Katarak

Katarak semacam ini jarang ditemukan dan tampak sebagai bunga

karang. Kekeruhan terletak di daerah nukleus lensa. Sering hanya merupakan

kekeruhan berbentuk titik-titik.

Gangguan terjadi pada waktu kehamilan 3 bulan pertama. Biasanya

bilateral dan berjalan tidak progresif, biasanya herediter dan bersifat dominan.

Tidak mengganggu tajam penglihatan. Pengobatan, bila tidak mengganggu

tajam penglihatan maka tidak memerlukan tindakan.

Katarak Sutural

Katarak sutural merupakan kekeruhan lensa pada daerah sutura fetal,

bersifat statis, terjadi bilateral dan familial.

Karena letak kekeruhan ini tidak tepat mengenai media penglihatan

maka ia tidak akan mengganggu penglihatan. Biasanya tidak dilakukan

tindakan.

b. Katarak Juvenil

Katarak juvenil adalah katarak yang lunak dan terdapat pada orang muda,

yang mulai terbentuknya pada usia lebih dari 1 tahun dan kurang dari 50 tahun.

Merupakan katarak yang terjadi pada anak-anak sesudah lahir yaitu kekeruhan

lensa yang terjadi pada saat masih terjadi perkembangan serat-serat lensa

sehingga biasanya konsistensinya lembek seperti bubur dan disebut sebagai soft

cataract. Biasanya katarak juvenil merupakan bagian dari suatu gejala penyakit

keturunan lain. Pembedahan dilakukan bila kataraknya diperkirakan akan

menimbulkan ambliopia.

Tindakan untuk memperbaiki tajam penglihatan ialah pembedahan.

Pembedahan dilakukan bila tajam penglihatan seduah mengganggu pekerjaan

sehari-hari. Hasil tindakan pembedahan sangat bergantung pada usia penderita,

bentuk katarak apakah mengenai seluruh lensa atau sebagian lensa apakah disertai

kelainan lain pada saat timbulnya katarak, makin lama lensa menutupi media

penglihatan menambah kemungkinan ambliopia.

c. Katarak Senil

25

Page 20: Case Katarak

Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut,

yaitu usia di atas 50 tahun kadang-kadang pada usia 40 tahun. Perubahan yang

tampak ialah bertambah tebalnya nukleus dengan berkembangnya lapisan korteks

lensa. Secara klinis, proses ketuaan lensa sudah tampak sejak terjadi pengurangan

kekuatan akomodasi lensa akibat mulai terjadinya sklerosis lensa yang timbul

pada usia dekade 4 dalam bentuk keluhan presbiopia.

Dikenal 3 bentuk katarak senil, yaitu katarak nuklear, kortikal, dan

subkapsular posterior.

Katarak Nuklear

Inti lensa dewasa selama hidup bertambah besar dan menjadi sklerotik.

Lama kelamaan inti lensa yang mulanya menjadi putih kekuningan menjadi

cokelat dan kemudian menjadi kehitaman. Keadaan ini disebut katarak

brunesen atau nigra.

Gambar 4. Katarak Nuklear

Katarak Kortikal

Pada katarak kortikal terjadi penyerapan air sehingga lensa menjadi

cembung dan terjadi miopisasi akibat perubahan indeks refraksi lensa. Pada

keadaan ini penderita seakan-akan mendapatkan kekuatan baru untuk melihat

dekat pada usia yang bertambah.

26

Page 21: Case Katarak

Gambar 5. Katarak Kortikal

Katarak Subkapsular Posterior

Katarak subkapsular posterior ini sering terjadi pada usia yang lebih muda

dibandingkan tipe nuklear dan kortikal. Katarak ini terletak di lapisan

posterior kortikal dan biasanya axial. Indikasi awal adalah terlihatnya

gambaran halus seperti pelangi dibawah slit lamp pada lapisan posterior

kortikal. Pada stadium lanjut terlihat granul dan plak pada korteks subkapsul

posterior ini. Gejala yang dikeluhkan penderita adalah penglihatan yang silau

dan penurunan penglihatan di bawah sinar terang. Dapat juga terjadi

penurunan penglihatan pada jarak dekat dan terkadang beberapa pasien juga

mengalami diplopia monokular.

Gambar 6. Katarak Subkaspular Posterior

Katarak Senil dapat dibagai atas 4 stadium :

1) Katarak Insipien

27

Page 22: Case Katarak

Kekeruhan yang tidak teratur seperti bercak-bercak yang membentuk

gerigi dasar di perifer dan daerah jernih membentuk gerigi dengan dasar di

perifer dan daerah jernih di antaranya. Kekeruhan biasanya teletak di

korteks anterior atau posterior. Kekeruhan ini pada umumnya hanya

tampak bila pupil dilebarkan.

Pada stadium ini terdapat keluhan poliopia karena indeks refraksi yang

tidak sama pada semua bagian lensa. Bila dilakukan uji bayangan iris akan

positif.

2) Katarak Imatur

Pada stadium yang lebih lanjut, terjadi kekeruhan yang lebih tebal

tetapi tidak atau belum mengenai seluruh lensa sehingga masih terdapat

bagian-bagian yang jernih pada lensa.

Pada stadium ini terjadi hidrasi korteks yang mengakibatkan lensa

menjadi bertambah cembung. Pencembungan lensa ini akan memberikan

perubahan indeks refraksi dimana mata akan menjadi miopik.

Kecembungan ini akan mengakibatkan pendorongan iris ke depan

sehingga bilik mata depan akan lebih sempit.

Pada stadium intumensen ini akan mudah terjadi penyulit glaukoma.

Uji bayangan iris pada keadaan ini positif.

3) Katarak Matur

Bila proses degenerasi berjalan terus maka akan terjadi pengeluaran air

bersama-sama hasil disintegrasi melalui kapsul. Di dalam stadium ini

lensa akan berukuran normal. Iris tidak terdorong ke depan dan bilik mata

depan akan mempunyai kedalaman normal kembali. Kadang pada stadium

ini terlihat lensa berwarna sangat putih akibat perkapuran menyeluruh

karena deposit kalsium. Bila dilakukan uji bayangan iris akan terlihat

negatif.

28

Page 23: Case Katarak

Gambar 7. Katarak Matur

4) Katarak Hipermatur

Merupakan proses degenerasi lanjut lensa sehingga korteks mengkerut

dan berwarna kuning. Akibat pengeriputan lensa dan mencairnya korteks,

nukleus lensa tenggelam ke arah bawah (katarak morgagni). Lensa yang

mengecil akan mengakibatkan bilik mata menjadi dalam. Uji bayangan

iris memberikan gambaran pseudopositif.

Akibat masa lensa yang keluar melalui kapsul lensa dapat

menimbulkan penyulit berupa uveitis fakotoksik atau glaukom fakolitik.

Gambar 8. Katarak Hipermatur

29

Page 24: Case Katarak

Tabel 1. Perbedaan Stadium Katarak Senilis

Insipien Imatur Matur Hipermatur

Visus 6/6 ↓ (6/6 – 1/60) ↓↓ (1/300-1/~) ↓↓ (1/300-1/~)

Kekeruhan Ringan Sebagian Seluruh Masif

Cairan Lensa Normal Bertambah Normal Berkurang

Iris Normal Terdorong Normal Tremulans

Bilik Mata Depan Normal Dangkal Normal Dalam

Sudut Bilik Mata Normal Sempit Normal Terbuka

Shadow Test Negatif Positif Negatif Pseudopositif

Penyulit - Glaukoma - Uveitis + Glaukoma

III.2.7 Katarak Berdasarkan Etiologi

a. Katarak Primer

Katarak primer merupakan katarak yang terjadi karena proses penuaan atau

degenerasi, bukan karena penyebab yang lain, seperti penyakit sistemik atau

metabolik, traumatik, toksik, radiasi dan kelainan kongenital.

b. Katarak Sekunder

1. Katarak Metabolik

Katarak metabolik atau disebut juga katarak akibat penyakit sistemik,

terjadi bilateral karena berbagai gangguan sistemik berikut ini : diabetes

melitus, hipokalsemia (oleh sebab apapun), defisiensi gizi, distrofi miotonik,

dermatitis atopik, galaktosemia, dan sindrom Lowe, Werner, serta Down.

2. Katarak Traumatik

Katarak traumatik paling sering disebabkan oleh trauma benda asing

pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan

petasan merupakan penyebab yang sering; penyebab lain yang lebih jarang

adalah anak panah, batu, kontusio, pajanan berlebih terhadap panas

(glassblower’s cataract), dan radiasi pengion. Di dunia industri, tindakan

pengamanan terbaik adalah sepasang kacamata pelindung yang bermutu baik.

30

Page 25: Case Katarak

Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena

lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueous dan kadang-kadang

vitreus masuk ke dalam struktur lensa. Pasien sering kali adalah pekerja

industri yang pekerjaannya memukulkan baja ke baja lain. Sebagai contoh,

potongan kecil palu baja dapat menembus kornea dan lensa dengan kecepatan

yang sangat tinggi lalu tersangkut di vitreus atau retina.

3. Katarak Komplikata

Penyakit intraokular atau penyakit di bagian tubuh yang lain dapat

menimbulkan katarak komplikata. Penyakit intraokular yang sering

menyebabkan kekeruhan pada lensa ialah iridosiklitis, glukoma, ablasi retina,

miopia tinggi dan lain-lain. Katarak-katarak ini biasanya unilateral.

Pada uveitis, katarak timbul pada subkapsul posterior akibat gangguan

metabolisme lensa bagian belakang. Kekeruhan juga dapat terjadi pada tempat

iris melekat dengan lensa (sinekia posterior) yang dapat berkembang

mengenai seluruh lensa.

Glaukoma pada saat serangan akut dapat mengakibatkan gangguan

keseimbangan cairan lensa subkapsul anterior. Bentuk kekeruhan ini berupa

titik-titik yang tersebar sehingga dinamakan katarak pungtata subkapsular

diseminata anterior atau dapat disebut menurut penemunya katarak Vogt.

Katarak ini bersifat reversibel dan dapat hilang bila tekanan bola mata sudah

terkontrol.

Ablasio dan miopia tinggi juga dapat menimbulkan katarak komplikata.

Pada katarak komplikata yang mengenai satu mata dilakukan tindakan bedah

bila kekeruhannya sudah mengenai seluruh bagian lensa atau bila penderita

memerlukan penglihatan binokular atau kosmetik.

Jenis tindakan yang dilakukan ekstraksi linear atau ekstraksi lensa

ekstrakapsular. Iridektomi total lebih baik dilakukan dari pada iridektomi

perifer.

Katarak yang berhubungan dengan penyakit umum mengenai kedua mata,

walaupun kadang-kadang tidak bersamaan. Katrak ini biasanya btimbul pada

31

Page 26: Case Katarak

usia yang lebih muda. Kelainan umum yang dapat menimbulkan katarak

adalah diabetes melitus, hipoparatiroid, miotonia distrofia, tetani infantil dan

lain-lain.

Diabetes melitus menimbulkan katarak yang memberikan gambaran khas

yaitu kekeruhan yang tersebar halus seperti tebaran kapas di dalam masa

lensa.

Pada hipoparatiroid akan terlihat kekeruhan yang mulai pada dataran

belakang lensa, sedang pada penyakit umum lain akan terlihat tanda

degenerasi pada lensa yang mengenai seluruh lapis lensa.

4. Katarak Toksik

Katarak toksik atau disebut juga katarak terinduksi obat, seperti obat

kortikosteroid sistemik ataupun topikal yang diberikan dalam waktu lama,

ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol, antikolinesterase, klorpromazin,

miotik, busulfan. Obat-obat tersebut dapat menyebabkan terjadinya kekeruhan

lensa.

5. Katarak Ikutan (membran sekunder)

Katarak ikutan merupakan kekeruhan kapsul posterior yang terjadi

setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular akibat terbentuknya jaringan fibrosis

pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari

pasca ekstraksi ektrakapsular. Epitel lensa subkapsular yang tersisa mungkin

menginduksi regenerasi serat-serat lensa, memberikan gambaran telur ikan

pada kapsul posterior (mutiara Elschnig). Lapisan epitel berproliferasi tersebut

dapat membentuk banyak lapisan dan menimbulkan kekeruhan yang jelas.

Sel-sel ini mungkin juga mengalami diferensiasi miofibroblastik. Kontraksi

serat-serat tersebut menimbulkan banyak kerutan kecil di kapsulposterior,

yang menimbulkan distorsi penglihatan. Semua faktor ini dapat menyebabkan

penurunan ketajaman penglihatan setelah ekstraksi katarak ekstrakapsular.

Katarak ikutan merupakan suatu masalah besar pada hampir semua

pasien pediatrik, kecuali bila kapsul posterior dan vitreus anterior diangkat

pada saat operasi. Dulu, hingga setengah dari semua pasien dewasa

32

Page 27: Case Katarak

mengalami kekeruhan kapsul posterior setelah mengalami ekstraksi katarak

ekstrakapsular. Namun, tehnik bedah yang semakin berkembang dan materi

lensa intraokular yang baru mampu mengurangi insiden kekeruhan kapsul

posterior secara nyata.

III.2.8 Gejala Klinis

Katarak berkembang secara perlahan dan tidak menimbulkan nyeri disertai

gangguan penglihatan yang muncul secara bertahap.

a) Penglihatan kabur dan berkabut

b) Fotofobia

c) Penglihatan ganda

d) Kesulitan melihat di waktu malam

e) Sering berganti kacamata

f) Perlu penerangan lebih terang untuk membaca

g) Seperti ada titik gelap didepan mata

Gambar 9. Perbedaan mata sehat dengan mata katarak

Gejala klinis katarak menurut tempat terjadinya sesuai anatomi lensa :

33

Page 28: Case Katarak

a. Katarak Inti/Nuclear

Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat, dan untuk melihat

dekat melepas kaca mata nya

Penglihatan mulai bertambah kabur atau lebih menguning , lensa akan lebih

coklat

Menyetir malam silau dan sukar

b. Katarak Kortikal

Kekeruhan putih dimulai dari tepi lensa dan berjalan ketengah sehingga

mengganggu penglihatan

Penglihatan jauh dan dekat terganggu

Penglihatan merasa silau dan hilangnya penglihatan kontra

c. Katarak Subscapular

Kekeruhan kecil mulai dibawah kapsul lensa, tepat jalan sinar masuk

Dapat terlihat pada kedua mata

Mengganggu saat membaca

Memberikan keluhan silau dan ”halo” atau warna sekitar sumber cahaya

Mengganggu penglihatan

III.2.9 Diagnosis

Diagnosis katarak dapat ditegakkan berdasarkan anamnesis dan pemeriksaan

oftalmologi.

a. Anamnesis

Pada anamnesis didapatkan adanya keluhan yang merupakan gejala

utama yaitu : Penglihatan yang berangsur-angsur memburuk atau berkurang

dalam beberapa bulan atau tahun merupakan gejala utama. Penurunan

ketajaman penglihatan secara progresif (gejala utama katarak). Mata tidak

merasa sakit, gatal atau merah. Gambaran umum gejala katarak yang lain,

yaitu : berkabut, berasap, penglihatan tertutup film. Perubahan daya lihat

warna. Gangguan mengendarai kendaraan pada malam hari, lampu besar

sangat menyilaukan mata. Lampu dan matahari sangat mengganggu karena

34

Page 29: Case Katarak

silau. Sering meminta ganti resep kacamata. Penglihatan ganda. Menjadi baik

untuk melihat dekat pada pasien rabun dekat (hipermetropia).

b. Pemeriksaan oftalmologi

- Pemeriksaan visus atau ketajaman penglihatan

- Melihat lensa melalui senter tangan, kaca pembesar

Dengan penyinaran miring (45o dari poros mata) dapat dinilai kekeruhan

lensa dengan mengamati lebar pinggir iris pada lensa yang keruh (iris

shadow). Bila letak bayangan jauh dan besar berarti kataraknya imatur,

sedang bayangan kecil dan dekat dengan pupil terjadi pada katarak matur.

- Slit lamp

Pemeriksaan dengan menggunakan slit lamp tidak hanya ditujukan untuk

melihat adanya kekeruhan pada lensa, tetapi juga untuk melihat struktur

okular yang lain seperti konjungtiva, kornea, iris dan segmen anterior

lainnya.

- Pemeriksaan oftalmoskop, sebaiknya dengan pupil berdilatasi.

Pemeriksaan ini harus dilakukan terutama pada katarak imatur dimana kita

harus meluhat keadaan fundus.

Hal – hal yang perlu perhatian khusus:

- Tajam pengelihatan kadang sering masih sangat baik pada katarak

brunesen, walaupun terlihat kekeruhan sudah padat pada nukleusnya.

- Pengelihatan yang nyata berkurang pada miopia tinggi walaupun katarak

yang terlihat belum berarti. Hal ini mungkin disebabkan kelainan makula

lutea.

III.2.10 Penatalaksanaan

a) Katarak Kongenital

Katarak kongenital merupakan katarak yang terjadi sejak bayi dalam

kandungan dan segera dapat terlihat sesudah bayi lahir. Korteks dan nukleus lensa

mata bayi mempunyai konsistensi yang cair. Bila kekeruhan lensa sudah demikian

berat sehingga fundus bayi sudah tidak dapat dilihat pada funduskopi maka untuk

35

Page 30: Case Katarak

mencegah ambliopia dilakukan pembedahan secepatnya. Katarak kongenital

sudah dapat dilakukan pembedahan pada usia 2 bulan pada satu mata. Paling

lambat yang lainnya sudah dilakukan pembedahan bila bayi berusia 2 tahun.

Sekarang dilakukan pembedahan lensa pada katarak kongenital dengan

melakukan di sisi lensa, dengan menyayat kapsul anterior lensa dan

mengharapkan masa lensa yang cair keluar bersama akuos humor atau

difagositosis oleh makrofag. Biasanya sesudah beberapa waktu terjadi penyerapan

sempurna masa lensa sehingga tidak terdapat lensa lagi, keadaan ini disebut

afakia.

Penyulit di sisi lensa

Masa lensa yang telah keluar dari kapsulnya merupakan benda asing untuk

jaringan mata sehingga menimbulkan reaksi radang terhadap masa lensa tubuh

sendiri yang disebut uveitis fakoanafilaktik. Kadang-kadang massa lensa yang

keluat ini mengakibatkan penyumbatan jalan keluar akuos humor pada sudut bilik

mata sehingga terjadi pembendungan akuos humor di dalam bola mata yang akan

mengakibatkan naiknya tekanan bola mata yang disebut glaukoma sekunder. Bila

sisa lensa tidak diserap seluruhnya dan menimbulkan jaringan finrosis akan

terjadi katarak sekunder. Katrak sekunder yang kecil walaupun terletak di depan

pupil dapat tidak akan mengganggu tajam penglihatan. Kadang-kadang katarak

sekunder ini sangat tebal sehingga mengganggu perlihatan maka dalam keadaan

demikian dapat dilakukan di sisi lensa.

b) Pembedahan Katarak Senil

Pengobatan pada katarak adalah pembedahan. Untuk menentukan waktu

kapan katarak dapat dibedah ditentukan oleh keadaan tajam penglihatan dan

bukan oleh hasil pemeriksaan. Pembedahan dilakukan jika penderita tidak dapat

melihat dengan baik dengan bantuan kacamata untuk melakukan kegiatan sehari-

hari. Beberapa penderita mungkin merasa penglihatannya lebih baik hanya

36

Page 31: Case Katarak

dengan mengganti kacamatanya atau menggunakan kacamata bifokus yang lebih

kuat. Jika katarak tidak mengganggu biasanya tidak perlu dilakukan pembedahan.

Digunakan nama insipien, imatur, dan hipermatur didasarkan atas

kemungkinan terjadinya penyulit yang dapat terjadi. Bila pada stadium imatur

terjadi glaukoma maka secepatnya dilakukan pengeluaran lensa walaupun

kekeruhan lensa belum total. Demikian pula pada katarak matur dimana bila

masuk ke dalam stadium lanjut hipermatur maka penyulit mungkin akan tambah

berat dan sebaiknya pada stadium matur sudah dilakukan tindakan pembedahan.

Ekstraksi lensa sebenarnya suatu tindakan yang sederhana, namun resikonya

berat. Kesalahan pada tindakan pembedahan atau terjadinya infeksi akan

mengakibatkan hilangnya penglihatan tanpa dapat diperbaiki lagi. Pembedahan

biasanya dengan anestesi lokal. Hanya pada anak kecil, orang-orang yang tidak

tenang, neurosis atau takut dilakukan dalam narkosa umum.

Pembedahan katarak senil dikenal 2 bentuk yaitu :

1. Intracapsular Cataract Extraction (ICCE) atau ekstraksi intrakapsular.

Ekstraksi katarak intrakapsular merupakan tindakan umum pada

katarak senil karena bersamaan dengan proses degenerasi lensa juga

terjadi degenerasi zonula Zinn sehingga dengan memutuskan zonula ini

dengan menarik lensa, maka lensa dapat keluar bersama-sama dengan

kapsul lensa.

2. Extracapsular Cataract Extraction (ECCE) atau ekstraksi ekstrakapsular.

Katarak ekstraksi ekstrakapsular dilakukan dengan merobek kapsul

anterior lensa dan mengeluarkan lensa dan korteks lensa. Dilakukan pada

katarak senil bila tidak mungkin dilakukan intrakapsular misal pada

keadaan terdapatnya banyak sinekia posterior bekas suatu uveitis sehingga

bila kapsul ditarik akan mengkibatkan penarikan kepada iris yang akan

menimbulkan perdarahan.

Ekstrakapsular sering dianjurkan pada katarak dengan miopia tinggi

untuk mencegah mengalirnya badan kaca yang cair keluar, dengan

37

Page 32: Case Katarak

meninggalkan kapsul posterior untuk menahannya. Pada saat ini

ekstrakapsular lebih dianjurkan pada katarak senil untuk mencegah

degenerasi makula pasca bedah.

Cara lain mengeluarkan lensa yang keruh adalah yang keruh adalah dengan

Phacoemulsification, yaitu dengan terlebih dahulu menghancurkan masa lensa

dengan gelombang suara frekuensi tinggi (40.000 MHz), dan masa lensa yang

sudah seperti bubur dihisap melalui sayatan yang lebarnya cukup 3.2 mm. Untuk

memasukkan lensa intraokular yang dapat dilipat (foldable IOL) lubang sayatan

tidak selebar sayatan pada ekstraksi katarak ekstrakapsulat. Keuntungan bedah

dengan sayatan kecil ini adalah penyembuhan yang lebih cepat dan induksi

terjadinya astigmatismat akan lebih kecil.

Gambar 10. Phacoemulsification

Keuntungan dari metode ini antara lain:

38

Page 33: Case Katarak

Insisi yang dilakukan kecil, dan tidak diperlukan benang untuk menjadhit

karena akan menutup sendiri. Hal ini akan mengurangi resiko terjadinya

astigmatisma, dan rasa adanya benda asing yang menempel setelah operasi.

Hal ini juga akan mencegah peningkatan tekanan intraokuli selama

pembedahan, yang juga mengurangi resiko perdarahan.

Cepat menyembuh.

Struktur mata tetap intak, karena insisi yang kecil tidak mempengaruhi

struktur mata.

Operasi katarak sering dilakukan dan biasanya aman. Setelah pembedahan

sering sekali terjadi infeksi atau perdarahan pada mata yang bisa menyebabkan

gangguan penglihatan yang serius. Untuk mencegah infeksi, mengurangi

perdarahan, atau mempercepat penyembuhan, beberapa minggu setelah

pembedahan diberikan tetes mata atau salep. Untuk menghindari mata dari

cedera, pasien sebaiknya menggunakan kacamata atau pelindung mata yang

terbuat dari logam sampai luka pembedahan benar-benar sembuh.

Persiapan bedah katarak

Dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan, Uji Anel, Tonometri dari ada atau

tidak adanya infeksi di sekitar mata.

Pemeriksaan keadaan umum penderita sebaiknya sudah terkontrol gula darah,

tekanan darah selain penderita sudah diperiksa paru untuk mencegah

kemungkinan batuk pada saat pembedahan atau pasca bedah.

III.2.11 Komplikasi

Glaucoma dikatakan sebagai komplikasi katarak. Glaucoma ini dapat timbul

akibat intumesenensi atau pembengkakan lensa.

Komplikasi katarak yang tersering adalah glaukoma yang dapat terjadi karena

proses fakolitik, fakotopik, fakotoksik.

Fakolitik

39

Page 34: Case Katarak

- Pada lensa yang keruh terdapat kerusakan maka substansi lensa akan

keluar yang akan menumpuk di sudut kamera okuli anterior terutama

bagian kapsul lensa.

- Dengan keluarnya substansi lensa maka pada kamera okuli anterior

akan bertumpuk pula serbukan fagosit atau makrofag yang berfungsi

merabsorbsi substansi lensa tersebut.

- Tumpukan akan menutup sudut kamera okuli anterior sehingga timbul

glaukoma.

Fakotopik

- Berdasarkan posisi lensa

- Oleh karena proses intumesensi, iris, terdorong ke depan sudut kamera

okuli anterior menjadi sempit sehingga aliran humor aqueaous tidak

lancar sedangkan produksi berjalan terus, akibatnya tekanan

intraokuler akan meningkat dan timbul glaukoma

Fakotoksik

- Substansi lensa di kamera okuli anterior merupakan zat toksik bagi

mata sendiri (auto toksik)

- Terjadi reaksi antigen-antibodi sehingga timbul uveitis, yang

kemudian akan menjadi glaukoma.

Jika katarak ini muncul dengan komplikasi glaukoma, maka diindikasikan

ekstraksi lensa secara bedah. Selain itu uveitis kronik yang terjadi setelah adanya

operasi katarak telah banyak dilaporkan. Hal ini berhubungan dengan terdapatnya

bakteri pathogen termasuk Propionibacterium acnes dan Staphylococcus epidermidis.

III.2.12 Prognosis

Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan

tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-

kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian penglihatan

pada kelompok pasien ini. Prognosis untuk perbaikan ketajaman penglihatan setelah

40

Page 35: Case Katarak

operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak

kongenital bilateral inkomplit yang progresif lambat.

Sedangkan pada katarak senilis jika katarak dapat dengan cepat terdeteksi

serta mendapatkan pengobatan dan pembedahan katarak yang tepat maka 95 %

penderita dapat melihat kembali dengan normal.

III.2.13 Pencegahan

Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak

dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui

adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun.

Pada saat ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya katarak dengan :

Tidak merokok, karena merokok dapat meningkatkan radikal bebas dalam

tubuh, sehingga risiko katarak dapat bertambah.

Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur.

Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan katarak

pada mata.

Menjaga kesehatan tubuh dari penyakit seperti kencing manis dan penyakit

lainnya.

DAFTAR PUSTAKA

41

Page 36: Case Katarak

1. Ilyas,Sidharta. Katarak Lensa Mata Keruh. Glosari Sinopsis. Cerakan Kedua.

Balai Penerbitan FKUI. Jakarta. 2007.

2. Ilyas, Sidharta; Mailangkay; Taim, Hilman; Saman,Raman; Simarmata,Monang;

Widodo,Purbo. Ilmu Penyakit Mata untuk dokter umum dan mahasiswa

kedokteran. Edisi kedua. Sagung Seto. Jakarto. 2002.

3. Ilyas, Sidharta. Ilmu Penyakit Mata. Edisi ketiga. Balai Penerbitan FKUI. Jakarta.

2006.

4. Vaughan, Daniel; Asbury, Taylor; Riordan-Eva, Paul. Oftalmologi Umum. Edisi

17. EGC. Jakarta. 2008.

5. Ilyas, Sidharta, dkk. Ilmu Penyakit Mata untuk Dokter Umum dan Mahasiswa

Kedokteran. Perhimpunan Dokter Spesialis Mata Indonesia. Penerbit : Sagung

Seto. Jakarta. 2002.

6. Olver J, Cassidy L. Opthalmology at A Glance. Hongkong : SNP Best-set

Typesetter Limited. 2005. p36-9.

7. Victor V. Cataract Senile. Tersedia di : http://www.emedicine.com. Diambil

tanggal 31 Maret 2011.

8. Cataracts. Tersedia di http://www.nortwesteyeclinic.com. Diambil tanggal 31

Maret 2011.

42