bismillah referat

Click here to load reader

Post on 10-Sep-2015

260 views

Category:

Documents

4 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

erty

TRANSCRIPT

REFERATDEMAM TIFOID

Oleh:Jayanti Dwi Cahyani (1102011129)Kafia Rakhmah (1102011132)

Luthfia Rozanah (1102011145)

Putri Mutiara (1102011212)

Talib (1102011

Pembimbing

Dr. Henny K Koesna, Sp.PD

Dr. Seno M Kamil, Sp.PD

Dr. Dinny G. Prihadi, Sp.PD, M.kes

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN ILMU PENYAKIT DALAM

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SOREANG

2015Daftar Isi

HALAMAN JUDUL . i

DAFTAR ISI .. ii

BAB I. PENDAHULUAN .1

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA3

II. Demam Tifoid .72.1 Definisi ...22

2.2 Etiologi ....232.3 Patofisiologi 252.4 Gejala Klinis292.5 Diagnosis ...302.6 Penatalaksanaan ..312.7 Komplikasi.342.8 Prognosis 35III. DAFTAR PUSTAKA .57BAB IPENDAHULUAN

Demam tifoid masih merupakan penyakit endemik di Indonesia. Penyakit ini mudah menular dan dapat menyerang banyak orang sehingga dapat menimbulkan wabah. Sejak awal abad ke-20, insidens demam tifoid menurun di USA dan Eropa. Hal ini dikarenakan ketersediaan air bersih dan sistem pembangunan yang baik, dan ini belum dimilki sebagian besar Negara berkembang.

Demam tifoid merupakan infeksi sistemik yang disebabkan oleh Salmonella enterica serovar typhi (S. typhi). Salmonella enterica serovar paratyphi A, B, dan C juga dapat menyebabkan infeksi yang disebut demam paratifoid. Demam tifoid dan paratifoid termasuk ke dalam demam enterik. Pada daerah endemik, sekitar 90% dari demam enterik adalah demam tifoid. Demam tifoid juga masih menjadi tropik yang sering diperbicangkan.

Secara keseluruhan, demam tifoid diperkirakan menyebabkan 21,6 juta kasus dengan 216.500 kematian pada tahun 2000. Insidens demam tifoid tinggi (>100 kasus per 100.000 populasi per tahun) dicatat di Asia Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, dan kemungkinan Afrika Selatan; yang tergolong sedang (10-100 kasus per 100.000 populasi per tahun) di Asia lainnya, Afrika, Amerika Latin, dan Oceania (kecuali Australia dan Selandia Baru); serta yang termasuk rendah (570 C, iodisasi, dan klorinisasi)b. Pengunjung ke daerah ini harus minum air yang telah melalui pendidihan, menjauhi makanan segar (sayur dan buah)c. Vaksinasi secara menyeluruh pada masyarakat setempat maupun pengunjung.

VaksinasiVaksinasi pertama kali ditemukan tahun 1896 dan setelah tahun 1960 efektivitas vaksinasi telah ditegakkan, keberhasilan proteksi sebesar 51-88% (WHO) dan sebesar 67% (Universitas Maryland) bila terpapar 107 bakteri.Vaksinasi tifoid belum dianjurkan secara rutin di USA, demikian juga di daerah lain. Indikasi vaksinasi adalah 1). Hendak mengunjungi daerah endemik, risiko terserang demam tifoid semakin tinggi untuk daerah berkembang (Amerika Latin, Asia, Afrika), 2). Orang yang terpapar dengan penderita karier tifoid, dan 3). Petugas laboratorium/mikrobiologi kesehatan.

Jenis Vaksin

Vaksin oral: Ty21a (vivotif Berna). Belum beredar di Indonesia.

Vaksin parenteral: ViCPS (Typhim Vi/Pasteur Merieux), vaksin kapsul polisakarida.

Pemilihan Vaksin

Pada beberapa penelitian vaksin oral Ty21a diberikan 3 kali secara bermakna menurunkan 66% selama 5 tahun, laporan lain sebesar 33% selama 3 tahun. Usia sasaran vaksinasi berbeda efektivitasnya, dilaporkan insidens turun 53% pada >10 tahun sedangkan anak usia 5-9 tahun insidens turun 17%.Vaksin parenteral non-aktif relative lebih sering menyebabkan reaksi efek samping serta tidak seefektif dibandingkan dengan ViCPS maupun Ty21a oral. Jenis vaksin dan jadwal pemberiannya, yang ada saat ini di Indonesia hanya ViCPS (Typhim Vi).

Indikasi vaksinasi

Tindakan preventif berupa vaksinasi tifoid tergantung pada faktor risiko yang berkaitan, yaitu individual atau populasi dengan situasi epidemiologisnya:

Populasi: anak usia sekolah di daerah endemic, personil militer, petugas rumah sakit, laboratorium kesehatan, industri makanan/minuman.

Individual: pengunjung/wisatawan ke daerah endemik, orang yang kontak erat dengan pengidap tifoid (karier).

anak usia 2-5 tahun toleransi dan respons imunologisnya sama dengan anak usia lebih besar.

Kontraindikasi Vaksinasi

Vaksin hidup oral Ty21a secara teoritis dikontraindikasikan pada sasaran yang alergi atau reaksi efek samping berat, penurunan imunitas, dan kehamilan (karena sedikitnya data). Bila diberikan bersamaan dengan obat anti-malaria (klorokuin, meflokuin) dianjurkan minimal setelah 24 jam pemberian obat baru dilakukan vaksinasi. Dianjurkan tidak memberikan vaksinasi bersamaan dengan obat sulfonamid atau antimikroba lainnya.

Efek Samping vaksinasi

Pada vaksin Ty21a demam timbul pada orang yang mendapat vaksin 0-5%, sakit kepala (0-5%), sedangkan pada ViCPS efek samping lebih kecil (demam 0,25%; malaise 0,5%, sakit kepala 1,5%, rash 5%, reaksi nyeri local 17%). Efek samping terbesar pada vaksin parenteral adalah heat-phenol inactivated, yaitu demam 6,7-24%, nyeri kepala 9-10% dan reaksi local nyeri dan edema 3-35% bahkan reaksi berat termasuk hipotensi, nyeri dada, dan syok dilaporkan pernah terjadi meskipun sporadic dan sangat jarang terjadi.

Efektivitas Vaksinasi

Serokonversi (peningkatan titer antibodi 4 kali) setelah vaksinasi dengan ViCPS terjadi secara cepat yaitu sekitar 15 hari-3 minggu dan 90% bertahan selama 3 tahun. Kemampuan proteksi sebesar 77% pada daerah endemic (Nepal) dan sebesar 60% untuk daerah hiperendemik.

2.9 Prognosis Vitam : BonamFungsionam : Bonam

Sanationam : Dubia ad bonam (penyakit dapat berulang)

Prognosis sangat tergantung pada kondisi pasien saat datang, ada tidaknya komplikasi, dan pengobatannya.

Daftar Pustaka

Panduan praktik klinis bagi dokter pelayanan primer

1. Altntepe, Gezgin, Tonbul. Etiology and prognosis in 36 acute renal failure cases related to pregnancy in central anatolia. Eur J Gen Med 2005; 2(3): 110-113.2. Aspelin P, Aubry P, Fransson sg. Efek nefrotoksik pada pasien risiko tinggi yang menjalani angiografi. NEJM 2006; 348 (6): 491.3. Boediwarsono.Gagal ginjal akut. segi praktis pengobatan penyakit dalam.Surabaya : Penerbit PT Bina Indra Karya 1985.4. Dennis L. Kasper, Eugene Braunwald, Anthony Fauci. Harrison's Principles of Internal Medicine 16th Edition. USA : McGraw-Hill, 2004. 5. Kamaludin Ameliana. 2010. Gagal Ginjal Kronik. Jakarta : Bagian Ilmu Penyakit Dalam UPH.

6. Keputusan Menteri Kesehatan RI No: 364/Menkes/SK/V/2006 tentang Pedoman Pengendalian Demam Tifoid7. Markum,M.H.S. Gagal Ginjal Akut. In: Sudoyo AW, Setiyohadi B, editors. Buku Ajar: Ilmu Penyakit Dalam. Jilid I. Edisi ke-4. Jakarta: Balai Penerbit FKUI, 2006.8. Nissenson. Epidemiology and pathogenesis of acute renal failure in the ICU. Kidney International 1998; 53; 7-10.

9. Rahardjo, J.Pudji. Kegawatan pada Gagal Ginjal. Penatalaksanaan Kedaruratan di bidang Ilmu Penyakit Dalam. Jakarta: Pusat infomasi dan Penerbitan FKUI 2000.

10. Sherwood, L. Sistem Kemih. Fisiologi Manusia: dari Sel ke Sistem. Edisi 2. Jakarta: EGC: 2001: Bab 14: 161-186.

11. Stapleton FB,Jones DP, Green RS. Acute renal failure in neonates: Incidence, etiology and outcome. Pediatr Nephrol 1987; 1; 314-320. 12. Stein,Jay H. Kelainan ginjal dan elektrolit. panduan klinik ilmu penyakit dalam.edisi ke-3. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC, 2001. 13. Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simadibrata M, Setiati S, eds. Buku ajar Ilmu Penyakit Dalam. 4 ed. Vol. III. Jakarta: Pusat Penerbitan Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI:200614. Sudoyo, A. W dkk. Penyakit Ginjal Kronik. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Jilid II. Edisi V. Jakarta : Pusat Penerbitan IPD FK UI ; 2009. p. 1035 1040

15. Takaoka, Kuro, Matsumura. Role of endothelin in the pathogenesis of acute renal failure. Drug News Perspect 2000, 13(3): 141.16. Wardhani, P,. Prihatini,. Probohoesondo. 2005. Widal Tube Capability Using Imported Antigens and Local Antigens. 12:(1). Laboratorium Patologi Klinik Fakultas Kedokteran Unair, Surabaya.36