beternak bandeng

of 76/76
 

Post on 05-Jan-2016

145 views

Category:

Documents

13 download

Embed Size (px)

DESCRIPTION

persiapan kolam sampai panen bandeng laut.

TRANSCRIPT

  • Pemanfaatan Potensi Pesisir Dengan Budidaya Ikan Bandeng Tambak

    (kesimpulan) Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia. Dengan

    13.667 pulau, wilayah laut yang luas dan garis pantai yang panjangnya lebih dari

    81.000 km, Indonesia memiliki potensi sumberdaya laut dan pantai yang besar.

    Perairan Indonesia memiliki suatu karakteristik fauna tropis yang tidak ada bandingnya.

    Saat ini perairan Indonesia diidentifikasi lebih dari 2500 spesies ikan yang berbeda

    jenis.

    Potensi sumberdaya perairan Indonesia yang besar membuat bidang perikanan

    menjadi salah satu aspek harus diprioritaskan bagi Pembangunan Nasional bangsa

    Indonesia. Undang-undang Republik Indonesia nomor 5 tahun 1985 yang mengatur

    bidang perikanan menyebutkan bahwa, dalam usaha mencapai tujuan Pembangunan

    Nasional berdasarkan Wawasan Nusantara, bidang perikanan harus mampu ikut serta

    mewujudkan kekuatan ekonomi sebagai upaya meningkatkan Ketahanan Nasional.

    Peran serta dan sumbangan bidang perikanan dalam proses pembangunan nasional

    misalnya: 1) Menambah devisa negara melalui kegiatan ekspor hasil perikanan. 2)

    Meningkatkan gizi masyarakat. 3) Meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Hal ini

    berkaitan dengan masyarakat yang bekerja dan mencari nafkah dibidang perikanan.

    Dewasa ini peledakan jumlah penduduk telah membawa akibat yang cukup luas

    diberbagai segi kehidupan manusia. Kenaikan jumlah penduduk tidak hanya menuntut

    peningkatan penyediaan bahan pangan, tetapi juga peningkatan bidang gizi. Berbagai

    upaya sejak dulu ditempuh untuk meningkatkan produksi pangan, dan sekarang upaya

    peningkatan dibidang gizi mulai diperhatikan. Ikan sebagai sumber gizi, semakin

    neningkat permintaannya seiring dengan peningkatan jumlah penduduk.

    Usaha peningkatan produksi perikanan di Indonesia tidak selayaknya hanya

    menggantungkan diri pada usaha penangkapan ikan di laut lepas dan perairan umum

    lainnya, karena jika terjadi eksploitasi secara terus-menerus seiring dengan teknologi

    penangkapan yang semakin maju justru akan mengganggu kelestarian sumberdaya

    perairan yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Oleh karena itu, usaha peningkatan

    produksi perikanan melalui usaha penangkapan ikan di laut lepas dan perairan umum

    lainnya harus diimbangi dengan usaha budidaya perikanan didarat atau yang biasa

    disebut dengan perikanan darat.

    Bandeng merupakan salah satu jenis ikan budidaya air payau (tambak) yang sekaligus

    juga merupakan bahan konsumsi masyarakat luas, sehingga mempunyai prospek yang

    cukup cerah untuk dikembangkan di Indonesia. Bandeng mempunyai toleransi salinitas

    yang tinggi (euryhalien) sehingga dapat dibudidayakan ditambak yang berair payau.

    Sifat euryhalien ini memungkinkan daerah pemeliharaannya tidak terbatas pada tambak

    pantai (tambak yang berjarak 0,5-1 km dari garis pantai), tetapi juga dapat

    dibudidayakan di tambak darat (tambak yang berjarak lebih dari 1,5 km dari garis pantai

    yang mana salinitasnya lebih rendah dari tambak pantai. Selain bersifat euryhalien, ikan

    bandeng juga tahan terhadap temperatur yang tinggi sehingga coook di budidayakan di

    Indonesia. Keadaan lain yang menguntungkan adalah tidak adanya musim dingin di

    Indonesia, sehingga pengusahaannya dapat berlangsung sepanjang tahun.

  • Penyebaran ikan bandeng begitu luas, bahkan hampir setiap pantai di Indonesia

    terdapat benih bandeng (nener). Penyebaran bandeng di Indonesia meliputi daerah-

    daerah pantai di Jawa, Sumatera, Sulawesi, Nusa Tenggara, Bali serta Pulau Buru. Di

    pulau Jawa, nener sering ditangkap di pantai Banten, Jakarta, Cirebon, Semarang,

    Gresik dan Surabaya.

    Dalam usaha budidaya bandeng, pengetahuan yang mendalam para petani tambak

    terhadap faktor produksi yang berpengaruh terhadap hasil produksi sangat penting.

    Jenis-jenis faktor produksi dan seberapa besar pengaruh faktor-faktor produksi tersebut

    terhadap hasil produksi, mutlak harus diketahui agar kegiatan budidaya memperoleh

    hasil yang menguntungkan. Berdasarkan kondisi tersebut, maka diperlukan suatu

    perhitungan biaya produksi dan perkiraan pendapatan yang akan diperoleh dari

    budidaya bandeng sehingga dapat diketahui apakah budidaya bandeng tersebut

    menguntungkan atau tidak dan berapa lama biaya investasi dapat di kembalikan.

    Analisis yang digunakan untuk menguji kelayakan usaha budidaya bandeng dalam

    penelitian ini dilakukan karena setiap kegiatan usaha pasti akan mengandung resiko,

    baik resiko terhadap komoditas maupun resiko keuangan. Analisis kelayakan dilakukan

    untuk memperkecil resiko investasi dan sekaligus membantu dalam mengambil

    keputusan investasi secara tepat.

    Sebagai ikan laut, bandeng tersebar mulai dari pantai Afrika timur sampai ke Kepulauan

    Tuamotu sebelah timur Tahita, dan dari Jepang selatan sampai Australia utara. Sifat

    yang menyolok dari ikan bandeng ialah sifat euryhallien, yaitu tahan terhadap

    perubahan yang besar dalam hal salinitas air, hal ini membuat bandeng dapat

    dipelihara dalam tambak air payau. Meskipun kadar garam dalam tambak air payau

    sering turun-naik, kehidupan sehari-hari ikan bandeng tidak terpengaruh.

    Dalam mencari makan, ikan bandeng mengais ganggang biru yang tumbuh menempel

    di dasar, kalau sudah terangkat dan mengapung dekat permukaan air oleh gelembung-

    gelembung oksigen hasil proses fotosintesis mereka.

    Pembiakan induk bandeng terjadi di dekat pantai yang airnya jernih, sedalam 40-50

    meter, menghasilkan telur sebesar 1,2 mm mengapung di bawah permukaan air.

    Pelepasan telur terjadi pada waktu malam hari di tempat sejauh 5-7 mil laut dari pantai.

    Telur bandeng menetas dalam waktu 24 jam, menjadi nener selembut 5 mm. Sambil

    tumbuh lebih lanjut, nener itu terbawa oleh air mendekati pantai, kemudian ditangkap

    oleh para penyeser. Dalam bentuk nener inilah ikan bandeng ditebarkan dan dipelihara

    dalam tambak hingga sampai dapat dipanen kelak.

    Di kalangan pertanian, istilah budidaya digunakan bagi kegiatan usaha produksi suatu

    komoditi. Istilah budidaya merupakan padanan bagi istilah culture (bahasa Inggris),

    misalnya fish culture, yang mengusahakan ternak ikan dikolam; marine culture, yang

    mengusahakan hasil laut.

  • Dalam usaha budidaya bandeng, para petani tambak akan mengalami beberapa

    tahapan kegiatan sejak dari persiapan tambak sampai dengan pemanenan hasil.

    Adapun tahapan-tahapan dalam budidaya bandeng pada umumnya adalah:

    1. Perbaikan Pematang dan Saluran.

    2. Perdalaman dan Perataan Dasar Pelataran Tengah.

    3. Pengeringan Dasar Tambak.

    4. Pemupukan dan Pemberantasan Hama.

    5. Penyiapan dan Penebaran Benih Bandeng (nener).

    6. Pemungutan Hasil.

    Perbaikan Pematang dan Saluran

    Perbaikan pematang dan saluran lazimnya dilakukan bersamaan atau beruntun saling

    susul-menyusul. Parit keliling dan saluran pembagi air yang mendangkal karena

    timbunan lumpur dari tempat lain, dikeduk agar normal kembali sedalam ukuran yang

    telah ditetapkan sebelumnya.Tanah hasil kedukan ini diteplokkan pada sisi pematang

    yang sementara itu mungkin juga sudah longsor karena terkikis tanahnya sebagian dan

    memperdangkal parit keliling atau saluran pembagi air di dekatnya.

    Perdalaman dan Perataan Dasar Pelataran Tengah

    Perdalaman dan perataan dasar pelataran tengah perlu dilakukan karena selama

    periode masa pemeliharaan sebelumnya, petakan tambak sudah menerima endapan

    lumpur yang terbawa oleh air masuk. Agar kedalaman air selama masa pemeliharaan

    berikutnya tetap normal sebagaimana yang dikehendaki, endapan lumpur dipelataran

    tengah ini perlu dikeruk juga. Kalau dilakukan setiap musim kemarau, petakan tambak

    yang bersangkutan pasti tidak begitu banyak tertimbun lumpur, sehingga penyiapannya

    tidak akan terasa begitu berat seperti pada pengerukan parit keliling. Perataan tanah

    bertujuan untuk menciptakan pelataran atau ladang pertamanan dibawah permukaan

    air bagi klekap yang hanya mau tumbuh subur bila berada dalam air yang rata-rata

    kedalamannya 40 centimeter.

    Pengeringan Dasar Tambak

    Pengeringan dasar tambak bertujuan untuk memperbaiki kondisi tanah, seperti yang

    dilakukan di kalangan pertanian mutlak diperlukan agar kemampuan tanah untuk

    menghasilkan ganggang biru yang membentuk klekap dapat senantiasa dipertahankan.

    Tanah tambak yang terus-menerus terendam air, semakin lama semakin anaerob,

    sehingga proses mineralisasi bahan organik yang memerlukan suasana anaerob

    terhambat jalannya, padahal hasil mineralisasi berupa mineral ini diperlukan oleh

    ganggang-ganggang biru klekap.

  • Pemupukan dan Pemberantasan Hama

    Pemupukan tambak sebenarnya sudah lama dikenal serta dilakukan oleh para petani

    tambak. Para petani produsen memupuk tambak dengan tujuan menyuburkan

    pertumbuhan klekap. Klekap tumbuh pada dasar tambak, sehingga pemupukan juga

    pada tanah ini. Pada umumnya para petani tambak menggunakan jenis pupuk yang

    biasanya dipergunakan dikalangan pertanian seperti pupuk kandang, kompos, guano.

    Di daerah tambak yang banyak ditumbuhi pohon bakau, orang memanfaatkan daun

    bakau, rumput-rumputan dari pematang sebagai pupuk hijau. Daun-daunan itu

    digundukkan di beberapa tempat, dengan puncaknya tetap di atas permukaan air agar

    pelan-pelan mengalami proses pembusukkan. Jumlah pupuk yang diperlukan bagi tiap

    hektar tambak sekitar 2000 kg, sehingga pengadaannya akan merepotkan para petani

    produsen dan akhirnya sering tidak dipergunakan, Pemupukan, tambak lebih sering

    menggunakan pupuk anorganik, yaitu campuran pupuk urea dan triple super phosphat

    (TSP) dengan perbandingan 2:1.

    Agar petani produsen budidaya tambak berhasil dalam usahanya, penanggulangan

    hama harus dilakukan. Hama yang diprioritaskan penanggulangannya dapat

    diklasifikasikan menjadi tiga golongan, yakni: 1) Hama pengganggu, hama jenis ini

    merusak lingkungan tambak, seperti membuat pematang bocor dan merusak pintu air.

    Hama yang sering menggangu antara lain bangsa ketam, remis penggerek dan udang

    tanah. 2) Hama penyaing, jenis hama penyaing (competitor) ini dapat menyaingi

    bandeng dalam berebut makan maupun kandungan oksigen dalam tambak, Yang

    termasuk hama ini adalah siput, ikan liar dan ketam-ketaman. 3) Hama pemangsa,

    hama pemangsa sangat merugikan, karena hama ini langsung memangsa bandeng di

    dalam tambak. Yang termasuk hama pemangsa adalah ikan buas (payus) dan kakap.

    Cara penanggulangan dan pemberantasan hama tambak dapat dilakukan dengan

    menggunakan dua cara, yaitu: 1) Pemberantasan secara mekanis, yaitu

    pemberantasan dilakukan bersamaan dengan pengeringan, Setelah tambak kering,

    hama kemudian dibunuh. 2) Pemberantasan secara kimiawi, yaitu pemberantasan

    dengan menggunakan racun nabati atau pestisida.

    Penyiapan dan Penebaran Benih Bandeng (nener)

    Sukses tidaknya pengusahaan tambak tergantung juga pada penyediaan nener waktu

    musim tanam yaitu musim labuhan bulan Oktober-November, dan kemudian disusul

    dengan penebaran susulan dalam musim mareng bulan Mei tahun berikutnya.

    Penangkapan nener dilakukan didaerah pantai yang berpasir, landai dan berair jernih.

    Penebaran nener dilakukan pada petak peneneran yang airnya jelas payau, tidak terlalu

    tinggi salinitasnya. Salinitas antara 15% - 20% adalah kondisi salinitas yang optimum.

    Penebaran dilakukan pagi-pagi benar atau kalau tidak dilakukan sore hari, setelah suhu

    udara sejuk kembali. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah agar perbedaan suhu air

    pengangkutan dan air tambak tidak terlalu besar, karena nener tidak mampu

    menyesuaikan diri jika perbedaan suhu keduanya terlalu mencolok.

  • Pemungutan Hasil

    Ikan bandeng biasa membentuk suatu kelompok dengan dipimpin oleh seekor bandeng

    di depan. Salah satu sifat bandeng yang telah dewasa adalah keinginannya yang kuat

    untuk meloloskan diri dari tambak. Hal ini bukan terjadi karena perbedaan kadar garam

    atau oksigen, akan tetapi karena naluri berupaya kembali ke laut setelah dewasa untuk

    berkembang biak. Setelah bandeng menampakkan tanda-tanda ingin kembali ke laut,

    segera dimasukkan ke petakan tambak pada waktu air pasang. Hal ini menjadikan

    bandeng-bandeng tersebut untuk berenang mendekati pintu air. Bandeng-bandeng

    akan berjam-jam berenang berhenti dalam arus air laut ini. Sifat bandeng yang

    demikian dimanfaatkan para petani produsen untuk memungut hasil, Pemungutan hasil

    dengan cara demikian dinamakan cara nyerang.

    Hadie, Wartono dan Soepriatna. J, 1986, Tehnik Budidaya Bandeng. Bharata Karya,

    Aksara, Jakarta.

    Murtidjo Bambang. A., 1988, Tambak Air Payau. Kanisius, Yogyakarta.

    Soeseno, Slamet, 1988, Budidaya ikan dan Udang di Tambak, PT. Gramedia, Jakarta.

    Artikel Lainnya:

  • BUDIDAYA PEMBESARAN IKAN BANDENG

    oleh : Hotler Panjaitan, S.IP

    INSTRUKTUR BPPP -MEDAN

    PENGENALAN IKAN BANDENG:

    Ikan Bandeng (Chanos chanos), dalam bahasa inggris disebut milkfish ikan ini menetas

    di laut dalam, setelah 2-3 minggu menetas kemudian bermigrasi ketepi pantai dan

    bakau bakau dan kembali lagi ketengah laut untuk berkembang biak. Bentuk tubuh

    ikan bandeng ini adalah langsing seperti torpedo dan berenang cepat, berwarna putih

    perak dan pemakan ganggang biru berupa tumbuhan plankton, lumut, klekap

    (Herbivora) yang tumbuh di dasar perairan. Ikan ini dibudidayakan untuk konsumsi

    rumah tangga dan restoran berupa bandeng gulai, goreng, pindang, asap dan bakar.

    HABITAT IKAN BANDENG:

    Ikan bandeng mulanya hidup dilautan Hindia dan Fasifik hidup secara bergerombol

    disekitar pesisir dan pulau-pulau terumbu karang namun ahir-ahir ini hidup di air payau,

    danau mapun air tawar. Untuk budidaya pembesaran ikan bandeng lebih cocok

    dilakukan di tambak air payau dengan menumbuhkan pakan alami maupun pemberian

    pakan buatan atau pelet. Kadar tanah pH yang optimal untuk ikan bandeng antara 7-8,

    dengan kandungan oksigen terlaru 3,5 ppm. Juga dapat menyesuaikan diri dengan

    perbedaan salinitas yang ekstrim.

    TAHAPAN PEBESARAN IKAN BANDENG:

    1. PERSIAPAN TAMBAK

    Dalam hal ini tambak yang dipersiapkan adalah tambak yang telah ada dan sudah

    berulang kali melaksanakan panen ikan bandeng kita tidak lagi membicarakan site

    selection (penentuan lokasi) maupun tata letak tambak, para petani tambak yang

    tidak melaksakan tahapan persiapan dengan benar memang bisa panen ikan

    bandeng namun hasilnya kurang maksimal karena langkah langkah dalam

    persiapan tambak ini sering diabaikan atau tidak dilakukan secara benar. Agar

    dapat menghasilkan panen ikan bandeng para petani tambak sebaiknya mengikuti

    tahapan sbb:

    a. Penjemuran Tambak.

    - Air dikeringkan melalui saluran pembuangan

    - Benteng tambak yang bocor ditutup dengan baik dan diperkuat

    - Lumpur yang cair dinaikan atau dibuang dari dalam tambak

    - Dijemur hingga dasar tambak telihat retak -retak ( 2 minggu).

  • - Pintu masuk air diperbaiki untuk menghindari kebocoran pada posisi yang

    lebih tinggi

    - Pintu pembuangan air diposisi yang lebih rendah dan berfungsi untuk

    pengeringan tambak saat panen ikan bandeng

    Gambar: Penjemuran Tambak ikan Bandeng

    b. Pemupukan dan pengapuran dasar tambak

    Setelah dasar tambak terlihat retak -retak langkah berikutnya dalah pemupukan

    dasar tambak

    agar tambak dapat menghasilkan ikan bandeng sesuai yang diharapkan dalam

    jangka waktu relatif lama hindarilah penggunaan pupuk buatan /anorganik,

    penggunaan pupuk anorganik hanya dapat bertahan dalam waktu singkat oleh

    sebab itu gunakanlah pupuk organik sbb:

    - Taburlah pupuk kompos/berasal dari kotoran hewan dengan dosis 1-3

    ton/Ha, kapur 1-2 ton/Ha jumlah kapur disesuaikan dengan Ph tanah.

    - Siram/semprotkan pupuk cair organik 4 liter /Ha dan pemupukan susulan

    dilakukan tiap 2 minggu hingga panen.

  • Gambar : Pemupukan Tambak dengan Pupuk kompos

    2. PENEBARAN BENIH GELONDONGAN

    - Setelah pemupukan dasar tambak dilakukan, air dimasukan secara bertahap

    (30%) tiga kali hingga ketingian 50 cm.

    - Setelah air dimasukan biarkan selama 2 minggu

    - Penebaran benih gelondongan ukuran 10 cm dengan padat tebar 50 ekor/meter

    dengan cara terlebih dahulu memasukan plastik packing yang berisi ikan

    kedalam tambak 1-2 jam agar suhu air dalam tambak dan air didalam packing

    sama atau sesuai untuk menghindari ikan stress

    3. PEMBERIAN PAKAN

    - Benih gelondongan yang baru ditebar tentunya masih cukup makan dari pakan

    alami yang tumbuh ditambak.

    Gambar : Pakan buatan/pelet

    - Setelah 2 minggu ditaburkan lagi pupuk cair organik untuk menumbuhkan

    pakan alami

    - Memasukan pupuk kompos/kotoran ternak kedalam goni plastik dengan

    melubangi lalu dimasukan kedalam tambak untuk menumbuhkan pakan alami

    untuk menekan penggunaan pakan buatan yang dapat menekan biaya

    produksi.

  • - Pemberian pakan buatan disesuaikan dengan kondisi pakan alami didalam

    tambak dapat dilakukan setelah ikan 3 bulan didalam Tambak hingga panen

    sesuai ukuran ikan bandeng yang diharapkan menurut kebutuhan pasar

    setempat atau lokal.

    Gambar: Benih dari Pendederan siap di tebar

    4. PEMANENAN IKAN BANDENG.

    Panenen ikan bandeng dapat dilakukan dengan 2 cara yaitu:

    a. Panen selektif

    yaitu dengan cara mengeringkan/ membuang air dari tambak sebanyak 70 %

    kemudian menyeser ikan dengan jaring kemudian ikan disortir/ dipilih yang

    dipanen adalah ikan yang besar atau ikan telah memenuhi ukuran yang

    diharapkan lalu dijual kepasar atau pedagang

    b. Panen total

    yaitu panen yang dilakukan serentak atau sekaligus yang besar maupun yang

    kecil semuanya dipanen dan dijual kepasar atau kepada pedagang ikan.

    Gambar : Ikan Bandeng dibakar dengan aroma

    dan rasa lezat ukuran 2 ekor/ kg.

    Daftar Pustaka dan Nara Sumber :

    -Achmad Sudrajat,2011. Panen bandeng 50 hari

    -Afuadi Abdul jalil Ketua P2MKP Tabina Rawa

  • Tips Terbaik Budidaya Ikan Bandeng

    Do you like this story?

    Ikan bandeng atau (Chanos chanos) adalah ikan pangan yang sangat populer di Asia

    Tenggara. Ikan bandeng ini merupakan Satu-satunya spesies yang masih ada dalam

    familia Chanidae (Bersama 6 genus tambahan di laporkan pernah ada namun telah

    punah) Dalam bahasa bugis dan makasar di kenal sebagai ikan bolu, Dan dalam

    bahasa Inggrisnya milkfish.

    Mereka hidup di samudra hindia dan samudra fasifik dan cendrung berkawanan di

    sekitar pesisir dan Pulau-pulau dengan terumbu koral. Ikan yang muda dan baru

    menetas hidup di laut selama 2 -3 minggu, Kemudian berpindah ke Rawa-rawa bakau

    berair payau. Dan terkadang di danau berair asin. Bandeng baru kembali ke laut jika

    telah dewasa dan bisa berkembang biak.

    Tips Terbaik Budidaya Ikan Bandeng

    Ikan muda di sebut Nener, Di kumpulkan orang dari Sungai-sungai dan di besarkan

    (Budidayakan) di Tambak-tambak. Dan disana mereka dapat di beri makanan apa saja

    dan tumbuh dengan cepat. Setelah cukup besar yang biasanya sekitar (25 - 30 cm)

    Bandeng di jual segar atau beku. Kemudian bandeng diolah dengan cara di goreng, di

    bakar, di kukus, di pindang, atau di asap (Panggang).

    Penggelondongan Ikan Bandeng

    1. Pendahuluan

    Kegiatan penggelondongan nener merupakan mata rantai yang bertujuan salah

    satunya adalah menekan mortalitas benih karena penggelondongan nener adalah

    masa awal pemeliharaan yang dianggap sebagai masa paling kritis. Usaha

    penggelondongan nener bukan lagi sekedar usaha sambilan, Di samping usaha

    pembesaranya tambak, Melainkan sebagai usaha komersial yang harus di tangani

  • lebih serius dan berhati-hati. Oleh karena usaha penangkapan nener dari alam sulit

    di lakukan, Sedangkan kebutuhan atau permintaan akan nener meningkat, Maka di

    harapkan teknik pengelolaan penggelondongan dapat lebih di kembangkan.

    Salah satu metoda dalam penggelondongan di petakan tambak. Usaha ini di

    lakukan dalam petakan tambak yang ukuranya relatif kecil (500 - 1000 m2) Atau

    dengan cara menyekat tambak dengan masa 3 minggu sampai 1 bulan. Usaha

    penggelondongan telah banyak berkembang di beberapa daerah di Indonesia.

    Antara lain : Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Aceh.

    Usaha tersebut diupayakan membahas teknik pengelolaan penggelondongan pada

    ketikan ini. Tujuan ketikan ini adalah menginformasikan kepada para petani

    maupun pengusaha mengenai teknik pengelola penggelondongan nener yang tepat

    dan baik.

    2. Pemilihan Lokasi

    Pemilihan lokasi haruslah memperhatikan (Menyimak) Beberapa hal sebagai

    berikut:

    1. Mempertimbangkan Aspek-aspek yang berkaitan dengan lokasi, Seperti, Tata

    Ruang, Sumber air dan pengairan, Diusahakan tidak begitu jauh dari pantai agar

    suhu yang ada dapat mendukung keberhasilan usaha pemeliharaan benih

    bandeng. Dan suhu air pada tambak berkisar antara (30 - 33 derajat C).

    2. Jarak lokasi ideal dari sumber benih/nener maksimal (12 Jam). Perjalanan

    selama dalam pengangkutan konsumen tidak melebihi 12 Jam.

    3. Salah satu faktor yang dapat mengakibatkan kegagalan usaha penggelondongan

    bandeng adalah persaingan penggunaan lahan antar sesama pengusaha

    tambak.

    4. Sarana transportasi. kelancaran sarana angkutan terutama jalan, sangat

    memegang peranan penting dalam usaha penggelondongan nener tersebut.

    Oleh sebab itu pilihlah lokasi yang sarana lalu lintas dapat menjamin mutu nener

    tetap baik.

    5. Jaringan Listrik. Sarana yang di perhatikan dalam memilih lokasi adalah yang

    dekat dengan jaringan listrik Negara (PLN) Namun untuk usaha

    penggelondongan bandeng kebutuhan listrik bisa di ganti dengan Alat-alat yang

    lain seperti (Genset).

    3. Sistem Petak Peneneran

    Sistem petak peneneran haruslah memperhatikan (Menyimak) Beberapa hal

    sebagai berikut :

  • 1. Petak Untuk Nener : Petakan untuk nener pada umumnya dangkal, Luasnya

    berkisar antara (500 - 1.000 m 2). Dan letak petakan nener dekat dengan

    sumber air tawar maupun air asin.

    2. Petakan Untuk Gelondongan : Petakan gelondongan mempunyai areal yang

    lebih besar dan luas dan lebih dalam (1.000 - 2.000 m 2). Hal ini di gunakan

    untuk menampung gelondongan dari petakan peneneran tempat untuk

    menumbuhkan gelondongan kecil (pre fingerling) Atau untuk penyimpanan dan

    menahan gelondongan besar (post fingerling).

    3. Petakan Aklimatisasi : Petakan untuk aklimatisasi atau yang biasa di sebut

    ipukan/babybox yang merupakan petakan kecil yang terbuat dalam

    penggelondongan dan bersifat hanya sementara. Iputan ini di batasi oleh

    pematang yang rlatif kecil (Sempit dan rendah) di bangun berdekatan dengan

    saluran air, Agar mutu lebih baik dan memudahkan pengelolaanya. Dan ukuran

    luasnya tergantung kepada banyaknya nener yang akan di tebarkan (Stock).

    Pada musim kemarau temperatur udara dapat naik mencapai (33 derajat C)

    ipukan dapat menampung (5.000 - 10.000 ekor/m 2 selama 3 hari), meskipun di

    bawah periode yang relatif tenang.

    4. Tempat Pengumpulan Atau Tempat Untuk Panen : Berupa petakan kecil

    untuk penangkapan atau kanal yang sempit atau tempat untuk mengumpulkan

    gelondongan dalam waktu singkat. Ikan-kan di kumpulkan di tempat

    pengumpulan dengan cara pengaturan aliran air, Dari air pada saat pasang atau

    air dari petakan lain yang telah di siapkan sebelumnya. Aerasi dapat diatur

    dengan aliran air dari tambak yang berdekatan atau dari tambak yang lain.

    Sehingga tidak terjadi efek yang merugikan karena kekurangan oksigen,

    Walaupun di dalam petakan tersebut padat dengan ikan. Dalam petakan ini Ikan-

    ikan tersebut mudah di jaring dan di pindahkan ke petakan yang lain dengan

    cara menggunakan jaring untuk pemindahan gelondongan. Hal tersebut di

    permudah dengan sifat ikan bandeng yang senang menentang arus.

  • Gambar satu : Letak penggelondongan komersial yang lengkap

    Keterangan Gambar 1 :

    1. Kanal utama.

    2. Kanal pembagi petakan.

    3. Petak penangkapan.

    4. Petak penggelondongan.

    5. Pintu Dan Gorong-gorong : Petakan untuk nener, gelondongan dan

    penangkapan atau pengumpulan dilengkapi dengan Pintu-pintu atau Gorong-

    gorong, Yang di pasang rapi dan diberi saringan. Yang terutama perlu di

    perhatikan adalah : Petakan untuk nener dan jangan sampai kemasukan Telur-

    telur maupun larva predator seperti kakap, kerapu, belut, Dan lain sebagainya.

    Pada pintu perlu di pasang saringan nylon yang halus, atau bahan yang serupa.

    bisa juga di pergunakan Saring-saringan yang berbentuk kantng dari nylon yang

    halus, Yang di pasang pada ujung dari Gorong-gorong selama persiapan

    petakan untuk nener dan juga selama 10 hari pertama setelah penebaran Nener.

    4. Pengelolaan Petakan Pengelondongan

    a. Persiapan Petakan Untuk Aklimatisasi : Beberapa hari sebelum penebaran

    nener bandeng,petakan aklimatisasi di persiapkandengan baik, pematrang

    dilapisi dengan tanah yang lunak,Dan di lengkapi dengan atap yang di buat

    dari Kisi-kisi bambu. Pada kaki bagian dalam pematangpeneneran sebaiknya

    di beri berm, guna memudahkan petugas tambak berada,atau bertugas lebih

    dekat dengan pembatasan air, Berm mempunyai 2 macam kegunaanya aitu :

    Merupakan tempat untuk pembetulan Bocoran-bocoran pada pematang dan

    menahan Lonsoran tanah dari pematang. Kemudian petakan di keringkan dan

    perataan dasar petakan di kerjakan.

    Dengan kemiringan yang dibuat menuju arah pintu air selama tanah belum

    keras (Masih basah). Untuk perataan tanah dapat menggunakan garu dan

    kayu, Juga dapat menggunakan papan yang panjang yang di dorongoleh dua

    atau tiga orang. Lubang bekas kaki di tutup, sebab berkemungkinan dapat di

    pakai tempat untuk sembunyinya Ikan-ikan liar atau telurnya yang dapat

    bertahan hidup selama pengairan pada masa persiapan.

    Gambar 2 Garu, Keterangan gambar : 1. Papangaru, 2. Tangkai dari kayu

    atau bambu.

  • b. Kultur Makanan Alami : Makanan yang paling ideal bibit bandeng dan

    gelondongan adalah (Klekap), Yakni kumpulan diatome dasar, alga biru,

    inverterbrata tingkat rendah, 200 Palnkton, Juga di perlukan untuk melengkapi

    nilai gizi makanan. Gelondongan yang lebih besar dan berukuran panjang (80

    mm) Sudah dapat memakan alga hijau benang atau lumut ( Chaetomorpha sp,

    Entormorpha sp, dan Cladophora sp).

    c. Kultur Klekap Pada Musim Kemarau :Musim kemarau merupakan saat yang

    paling baik dan cocok untuk menumbuhkan klekap sebagai makanan alami.

    Setelah petakan selesai perataanya lalu di biarkan kering sampai tanahnya

    Retak-retak. Waktu pengeringan di perkirakan selama 2 - 3 minggu dan

    tergantung pada tanah aslinya. Keberhasilan atau kegagalan dalam

    menumbuhkan klekap yang baik dan menahanya agar tetap menempel pada

    dasar tambak dan tregantung pada derajat kekeringanya.

    Pengeringan yang tidak seimbang atau pengeringan yang kurang sempurna

    akan menghasilkan klekap yang mudah lepas dari tanah dan akhirnya

    mengambang. Bilamana terjadi sebaliknya, Jika terlalu lama

    mengeringkanya sehingga lapisan permukaan tanah kekeringan. Maka terjadi

    suatu kondisi yang sangat tidak memungkinkan untuk pertumbuhna klekap.

    Pengeringan dianggap cukup bilamana kandungan air dari lapisan tanah yang

    tebalnya sekitar (10 cm itu kira-kira 18 - 20%). Suatu hal yang praktis untuk

    mengetahuinya ialah dengan jalan yang diatas tanah yang di keringkan

    tersebut. Bilam mana tanah tersebut cukup kuat menahan orang sehingga

    hanya turun (Tenggelam) sekitar 2 cm, Berat berat badan orang tersebut,

    Maka pengeringan tanah dianggap telah cukup.

    Pupuk organik kemudian di terbarkan setelah tanah cukup mengeras,

    Kwantitasnya tergantung kepada jumlah dari kemerosotan bahan organik

    dalam tanah tambak yang akan di pupuk. Pada umumnya Rata-rata tanah

    memerlukan 500 - 1.000 kg bekatul atau bungkil jagung per hektar : 500 -

    3.000 kg kotoran ternak untuk tiap hektar tambak. Pupuk organik segera di

    tebarkan di tanah tambak, Setelah tanah tambak tersebut di genangi air

    pasang yang baru, Sedalam Kira-kira 10 cm dan Pintu-pintu di tutup serta di

    blok dengan tanah untuk menahan air tersebut.

  • Beberapa petani tambnak menggunakan pupuk urea atau Ammonium sulfate

    (ZA) Sebanyak 50 kg atau 100 kg per hektar untuk segera di tebarkan pada

    Petak-petak agar lebih mempercepat proses pembusukan pupuk organik

    tersebut. Air dalam petakan dibiarkan menguap seluruhnya atau dialirkan

    keluar apabila telah jernih sekali. Pada dasar petakan di keringkan lagi seperti

    keadaan pengeringan pertama sebelum di tebari pupuk organik. Pada

    akhirnya praktis semua pupuk organik akan membusuk (Mengurai). Kegiatan

    yang berikutnya memasukkan air kedalam petakan dengan cara berhati-hati.

    Kemudian di saring melalui saringan halus yang berbentuk kantong dan di ikat

    pada pintu air, Kira-kira 10 cm dan sekali lagi petakan di pupuk dengan urea

    sebanyak 45 kg di tambah 45 - 55 kg pupuk TSP untuk tiap hektar.

    Apabila klekap belum tumbuh pada saat penggenangan air yang pertama,

    Pada saat ini akan mulai tumbuh dan menutupi semua permukaan dasar

    tambak, Selanjutnya kedalaman di tambak secara bertahap sampai sekitar 20

    cm dan petaan siap untuk di tebari ikan (Nener atau gelondongan bandeng).

    d. Kultur Klekap Pada Musim Hujan : Untuk menanggulangi pertumbuhan

    klekap pada musim hujan memang agak sulit, Penurunan kadar garam

    menghalangi pertumbuhan dan kemungkinan penyebab kerusakan total dari

    makanan bilamana terjadi perubahan mendadak. Oleh karena itu waktu dan

    saat yang penting dalam mempersiapkan peneneran pada musim hujan. Yang

    paling dekat diperlukan waktu 1 minggu yang cuacanya baik secara terus

    menerus jika ingin mencapai keberhasilan.

    Petakan di keringkan diratakan dan di biarkan paling sedikit 3 hari, Kemudian

    air di masukkan dan pupuk dengan pupuk organik yang kuantitasnya sama

    dengan yang dapat di gunakan pada pemupukan anorganis yang kedua di

    musim kemarau. Pada saat itu juga ditambahkan bekatul sebanyak (200

    kg/ha). Perlu di ketahui klekap yang tumbuh pada musim hujan ini tidak

    sebanyak yang tumbuh di musim kemarau dan cendrung mudah lepas dari

    tanah dasar petakan yang kemudian mengapung, Yang akhirnya

    mengelompok Di Sisi-sisi petakan akibat di hembus angin. Dalam hal

    demikian klekap tidak dapat di manfaatkan oleh ikan yang di pelihara (Di

    budidayakan).

    e. Kultur Plankton : Disini harus kita perhatikan upaya untuk menumbuhkan

    plankton agar mencapai hasil yang memuaskan (Sukses) diperlukan air yang

    dalam serta rendah kadar garamnya, Terutama pada musim hujan. Mula-mula

    petakan di kerjakan dan di biarkan selama 2 - 3 hari, Kemudian segera di isi

    (Digenangi) dengan air pasang yang baru. Pupuk organik yang di berikan

    haruslah cukup, yang biasanya terdiri dari kombinasi antara urea atau

    Amonium sulfate (ZA) sebagai N (Nitrogen) dan Superfosfate (TSP) sebagai

    sumber P205 (fosfate) ditambah bekatul yang di gunakan untuk membuat air

    menjadi hijau warnanya, Yang sebahagian besarnya adalah (phytoplankton).

    Pada umumnya petani tambak memulai dengan dosis (6 gram N, 6 - 9 gram

    P205 dan 50 - 100 gram) bekatul untuk setiap m 3 air yang kemudian di

    naikkan dosisnya sampai didapatkan hasil yang di inginkan. Blooming

    phytoplankton akan terjadi dalam 48 Jam pada cuaca yang memungkinkan.

    Petakan siap diberi ikan apabila suatu obyek yang putih berada di dalam air

    hilang (Lenyap) dari pandangan pada kedalaman kurang lebih (30 cm).

  • 5. Penebaran, Penanaman, (Stocking)

    a. Persiapan petakan untuk aklimatisasi (ipukan) : Petakan untuk aklimatisasi

    (ipukan) sangat perlu di buat, Atau bila telah telah ada perlu di siapkan dengan

    baik. Pematangnya di plester atau dilapisi dengan tanah yang lunak dan

    sekalian menutup Bocoran-bocoran. Atap yang di perlukan biasanya dibuat

    dari kisi-kisi bambu (kere) untuk memberikan kesejukan kita dapat

    memanfaatkan cabang-cabang dari pohon Api-api yang baru di potong,

    Seperti, Daun kelapa, Daun nipah, diletakkan diatasnyasebagai atap (Dapat di

    gunakan daun nipah atau daun kelapa yang di buat khusus untuk atap. Dan

    ada juga yang di tancapkan pada keliling ipukan, Agar memberikan suasana

    yang sejuk (kesejukan). Dengan cara demikian ipukan tidak menerima sinar

    matahari lansung dan suhu menjadi rendah di dalamnya.

    Untuk mengatasi adanya hujan turun, Atap perlu di lapisi atau di tutup dengan

    plastik (polyethelene sheet). APabila ipukan di buat dengan 1 atau dengan 2

    pematang dari etakan sebagai Sisinya, Dan perlu adanya kanal (Saluran kecil)

    sepanjang berm untuk mengalirkan air hujan terutama dan pematang petakan

    agar masuk petakan besar dan tidak masuk ke ipukan. Semua pematang

    ipukan di tutupi dengan lembaran plasti. Terutama air hjan yang mengalir dari

    pematang petakan dan masuk kedalam ipukan dapat menyebabkan kematian

    nener yang di simpan di ipukan dalam keadaan padat. Pada saat yang singkat

    sebelum nener datang semua air di dalam ipukan di kuras keluar. Air tawar

    secukupnyadapat juga air sumur atau dari mata air yang lain disisikan pada

    ipukan pelan-pelan, Selanjutnya air pasang yang baru di lewatkan melalui

    saringan yang halus di tambahkan sampai kadar garam mencapai 15 - 20 ppt.

    Lalu air dibiarkan jernih, Sedimen dibiarkan mengendap dahulu dan semua

    Kotoran-kotoran yang mengambang di buang (Dapt juga diambili).

  • b. Penebaran Nener : Nener di bawa ketambak dengan kantong plastik dan di

    beri oksigen. Yang biasanya pada pengangkutan nener digunakan air yang

    kadar garamnya antara (15 - 20 ppt). Hal ini yang mengharuskan ipukan di isi

    air tawar agar kadar garam sesuai dengan air untuk pengangkutan nener,

    Pelepasan nener biasanya dilaksanakan pada pagi hari atau pada sore hari,

    Pada saat suhu udara relatif lebih dingin dan sejuk. Untuk mempermudah

    dalam aklimatisasi nener terhadap suhu air maka kantong plastik di biarkan

    mengambang di dalam ipukan untuk satu atau dua Jam lamanya sebelum di

    lepaskan. Kemudian di dalam petakan Penggelondongan diusahakan untuk

    kepadatan penebaran antara (40 - 50 ekor per m 2). Pelepasan nener secara

    lansung ke ipukan dapat juga di lakukan, Akan tetapi lebih aman jikalau hal

    tersebut tidak di lakukan. Pada mula nener bersama airnya dituangkan

    kedalam baskom plastik kemudian air dari ipukan ditambahkan ke baskom

    sedikit demi sedikit sampai kira-kira sama dengan kondisinya dengan air

    ipukan tersebut. Selain itu baskom secara Pelan-pelan di miringkan dan di

    biarkan nener tersebut berenang keluar.

    Pada permukaan kolam nener akan Berenang-renang di permukaan air,

    Tetapi setelah teradap tasi dan merasa segar kembali dan mereka mulai

    makan Benthhic algae yang tipis di dasar. Untuk adaptasi nener sepenuhnya

    dalam dalam ipukan di perlukan waktu sekitar 12 Jam. Lalu nener yang

    kondisi lemah akan memerlukan waktu lebih lama untuk adaptasi dan

    Berenang-renang pada permukaan air dalam ipukan. Jika nener telah nampak

    aktif bergerak dan makan, Maka pematang ipukan dapat di potong sedikit dan

    sisipkan saringan dengan bahan yang halus di tempat tersebut.

    Pematang yang di potong tersebut di pergunakan untuk memudahkan

    pertukaran air di dalam maupun di luar ipukan. Yang biasanya kadar air garam

    di luar ipukan lebih dari 40 ppt, Dan dalam sekitar 12 Jam sesudahnya. Kadar

    garam akan sama atau yang di dalam ipukan akan lebih rendah sedikit dari

    pada garam di petakan luar (Di luar ipukan). Apabila nener tampak mulai

    berkumpul di sekitar saringan menentang arus yang melewati saringan, Hal ini

    menunjukkan bahwa nener tersebut telah cukup aklimatisasi terhadap kondisi

    garam dari petakan untuk Nener. Dan saringan telah dapat diambil dan nener

    di biarkan lepas berenang keluar. Hal seperti ini di kerjakan pada pagi hari

    atau di sore hari ketika air di petakan bersuhu rendah.

    Gambar 4 : Ipukan tidak di perlukan pada saat musim hujan apabila kadar garam di

    petakan telah menjadi rendah, Nener dapat di lepaskan lansung ke dalam air setelah cukup

    aklimatisasi di dalam baskom. Jika nener Payus (Elops sp) Belum terambil atau belum di

    seleksi, Nener hendaknya di lepaskan di dalam happa nylon dengan ukuran mata jaring (5 - 6

    tiap cm) yang di pasang dalam petakan. Nener bandeng dapat lolos keluar sedang di dalam

    happa tertinggal payus serta nener bandeng yang agak besar sedikit ukuranya dari mata

    happa nylon.

  • c. Pengaturan Air : Pada umumnya selama 7 - 10 hari setelah pelepasan nener,

    Tidak di lakukan penggantian air. Selama itu nener tambah lebih menjadi

    besar dan perlu adanya saringan di pintu yang dapat menahan nener

    keluarakan tetapi dapat memasukkan air kedalam petakan. Penyegaran dapat

    di lakukan dengan mengalirkan air keluar kemudian di ganti dengan air

    pasang yang baru. Kemudian saringan perlu di cek setiap saat membuka

    pintu.

    Penutupan harus di lakukan dengan berhati-hati, Terutama dalam

    pemasangan Papan-papan pintu. Petakan untuk nener mempunyai dasar

    yang lebih tinggi dan rata jika di bandingkan dengan Petakan-petakan yang

    lain. Oleh karena itu perlu adanya tindakan bila masih terjadi Bocoran-bocoran

    pada waktu memasukkan air di saat pasang terakhir.

    Pilihan lain adalah perlu menyediakan pompa air untuk pasang yang rendah

    bila tidak mencapai petak peneneran. Nener tumbuh lebih cepat pada air yang

    berkadar garam yang agak rendah. Oleh karena itu pada musim kemarau di

    lakukan penyegaran dengan penggantian air. Penyegaran yang di lakukan

    pada pada musim hujan, Terutama untk menjaga dan memelihara klekap atau

    untuk memperbaiki kondisi air. Jika plankton merupakan makanan utama di

    perlukan kadar garam yang rendah dan sering ada hujan akan lebih baik dan

    bermanfaat.

    d. Pakan : Pemberian makanan tambahan mengakibatkan bertambahnya input.

    Hal ini hanya di berikan atau dilaksanakan jika makanan alami habis dan tidak

    ada tempat yang layak atau yang siap untuk di pergunakan. Pengusaha

    gelondongan bandeng melaksanakan penimbunan dan penahanan

    gelondongan dengan memberikan makanan tambahan, Justru itu pengusaha

    tersebut berani menggunakan padat penebaran yang tinggi pada tambak. Nah

    berikut ini beberapa macam makanan tambahan yang sering di pergunakan.

    - Katul yang halus hasil sisa penggilingan padi yang baru berbentuk tepung

    atau di jadikan pellet.

    - Tepung gandum (Terigu) berbentuk tepung atau di jadikan pellet.

    - Bungkil jagung (Bungkil dari lembaga jagung) Bberbentuk tepung atau

    pellet.

    - Bungkil kacang tanah, Berbentuk tepung atau di jadikan pellet.

    - Bungkil kelapa berbentuk tepung atau dijadikan pellet.

    - Roti yang telah lama, Atau telah basi.

    - Kotoran ternak atau lebih baik kotoran ayam.

    Penambahan makanan sebaiknya habis dimakan dalam jangka waktu 2

    sampai 3 Jam. Jika tidak, maka air akan mengalami pencemaran. Setidak-

    tidaknya makanan di berikan 3 kali setiap hari atau cukup 2 kali saja (Pagi dan

    sore hari). Makanan dapat di berikan dengan cara di taburkan atau di

    tempelkan pada suatu tempat yang tertentu yang berada di dalam kolam,

    (Petakan). Kondisi gelondongan yang kurang baik (Kurus) Perlu di perbaiki

    sebagai persiapan untuk pemindahanya ke tambak yang lain, Gelondongan

    yang kurus mudah sekali mengalami tekanan. Sisiknya mudah lepas

    walaupun diperlukan biasa saja dan tempat yang tidak berisik akan mudah

    mengalami infeksi dari bakteri dan jamur.

  • 6. Hambatan Pengelolaan

    Dalam usaha pengeloaan tambak sering dijumpai Hal-hal yang menghambat

    (Menghalangi) kelancaran usaha, Diantaranya adalah sebagai berikut :

    a. Kondisi Nener Yang Jelek Pada Saat Penebaran : Pedagang nener yang

    biasanya menampung dalam kondisi yang sangat padat sambil menunggu

    pembeli. Selama musim nener pedagang nener mengumpulkan hasil

    penangkapan setiap hari, kemudian di tampung dan di kumpulkan sampai

    cukup banyak jumlah untuk memenuhi pesanan dari pembeli yang pertama

    datang. sering juga terjadi bahwa nener tidak di beri makan untuk beberapa

    hari, Yang mengakibatkan lapar dan lemah menyebabkan kondisi nener

    menjadi lamban geraknya dan mudah mendapat tekanan (Stress) waktu

    dalam penghitungan, Apabila diangkut dalam kondisi yang berjejal dalam

    kantong plastik, Suhu tinggi, Terjadi pertukaran Zat-zat dalam tubuhnya,

    eksresi, tekanan oksigen dan jalanan yang kasar dapat menambah kelelahan

    nener tersebut. Banyak perlakuan di tambak dapat menambah makin lelah

    dan memberatkan situsi dan tidak tahan terhadap kondisi dalam petakan yang

    sedikit kurang baik.

    b. Aklimatisasi Yang Kurang Cukup : Dalam melepaskan nener ke petak

    peneneran di perlukan waktu yang cukup untuk aklimatisasi, Sehingga nener

    dapat menyesuaikan diri terhadap keadaan atau kondisi lingkungan.

    Penggantian air secara mendadak dengan perbedaan kadar garam atau suhu

    yang besar dapat mengakibatkan yang kurang baik. Nener tidak cukup waktu

    untuk menyeduaikan diri atau beradaptasi terhadap kondisi lingkungan dan

    akhirnya menjadi lemah, Bahkan dapat menyebabkan Kematian.

    c. Bocoran-bocoran : Sifat naluri yang senang menentang arus air

    menyebabkan nener mudah lolos melalui bocoran yang ada di pematang. Dan

    Pintu Saringan Dan Papan-papan penutup pintu yang tidak benar

    pemasanganya memungkinkan nener dan gelondongan kecil dapat lolos

    keluar, Hal tersebut memungkinkan pula masuknya Ikan-ikan yang buas yang

    masih kecil yang akhirny dapat memangsa nener dalam petakan tersebut.

    d. Terjerat : Alga benang, Klekap yang lebar-lebar dan lepa dari dasar tambak,

    Kantong-kantong telur dari Cacing-cacing Polychaeta merupakan benda-

    benda yang dapat menyebabkan nener di tambak terjerat. Nener terjerat atau

    terbelit oleh alga benang atau terjebak dalam gelembung Telur-telur

    Polychaeta. Pada petakan yang dangkal, Selapis klekap yang lebar Tiba-tiba

    mengambang kepermukaan akibat terkumpulnya gelembung-gelembung

    oksigen dari hasil asimilasi komponen Tumbuh-tumbuhan dapat menyebabkan

    nener yang sedang makan atau yang berenang di atasnya ikut terangkat ke

    permukaan dan akhirnya akan mati karena terdampar dan tidak dapat kembali

    ke Air.

    e. Keracunan : Oleh karena petakan untuk nener pada umumnya berukuran

    kecil, maka mudah mengalami kontaminasi Unsur-unsur yang beracun yang

    bersama air atau dari sumber yang lain. Kematian secara Besar-besaran

    Terkadang terjadi tambak yang mengalami air dari sungai yang mengalirkan

    Sisa-sisa dari pabrik atau sampah industri yang di buang. Hal tersebut

    jugasering terjadi pada daerah yang dekat dengan daerah pertanian.

    Terutama daerahsawah yang sering memberi pestisida untuk pemberantasan

    hama. Kadang-kadang pematang tambak sendiri dapat menjadi sumber

    material yang mempunyai daya racun yang tinggi. Telah banyak contoh

    kematian total yang terjadi pada peneneran setelah selesai hujan pertama

    yang sangat lebat setelah musim kemarau yang panjang.

  • Kasus demikian juga sering terjadi pada Tambak-tambak yang baru dibangun

    dari daerah Rawa-rawa yang banyak pohon bakaunya (mangrove). Pematang

    di buat dari Tanah-tanah yang terdiri dari banyak akar-akaran yang membusuk

    dan terkumpul bahan organik yang mengandung Unsur-unsur racun asam

    humus dan asam Sulfida (H2S) Di lereng diatas pematang tersebut di

    gambarkan sebagai hasil penguapan dari pematang yang banyak

    mengandung air atau kadar air yang tinggi. Senyawaan belerang dapat pula

    terbentuk dari pembusukkan akar yang tampak di pematang. Tetesan air

    hujan mencucinya dan membawanya masuk ke tambak karena terbatasnya

    areal di peneneran, Unsur yang di kehendaki tersebut segera menyebar

    sehingga menyebabkan nener maupun gelondongan banyak yang mati karena

    Keracunan.

    f. Penanganan Yang Salah (Tidak Benar) : Pengeringan yang mendadak

    disebabkan penutupan pintu kurang sempurna adlah yang sering

    menyebabkan banyak nener dan gelondongan hilang atau mati, Saringan

    yang rusak yang robek atau kesalahan dalam pemasanganya adalah faktor

    penyebab hilangnya nener. Sifat masa bodoh tersebut (sifat masa bodoh

    penjaga) tidak dapat dianggap sepi begitu saja. Penjaga yang sangat letih

    (lelah) terkadang mudah sekali tertidur, Sedangkan periode pengeringan atau

    pengisian peneneran berlangsung pada malam hari di saat terjadinya surut

    rendah atau pasang yang tinggi, Karena tidur maka penjaga tidak mengontrol

    keadaan dengan teliti dan baik,Yang mengakibatkan lingkungan pematang

    terjadi kerusakan

    g. Analisa Usaha Penggelondongan Bandeng : Dalam pemeliharaan nener

    bandeng untuk gelondongan di perlukan waktu pemeliharaan selama lebih 21

    hari, Pada usia tersebut ukuran telah mencapai gelondongan yaitu panjang 2 -

    3 cm dan berat Rata-rata 2 - 3 gram. Dengan kepadatan tebar 40 - 50 ekor/m

    2 Rp. 50,-per ekor maka kelangsungan hidup nener untuk mencapai

    gelondongan adalah 75% - 90%. Harga jual per ekor untuk ukuran

    gelondongan tersebut adalah Rp. 100,- Usaha Penggelondongan tersebut

    dapat dilaksanakan di tambak luas 0,5 HA (4 Petakan). Dalam 1 tahun di

    perhitungkan dapat memelihara bandeng tersebut sebanyak 6 periode,

    Selanjutnya pada tebar 200.000 ekor dengan SR 80%. Hal inilah yang dapat

    memberikan harapan dikembang usahakan sebagai salah satu komoditas

    dalam agribisnis.

    Sekian terimakasih karena anda telah menyimak dan membaca artikel Tips

    Terbaik Budidaya Ikan Bandeng Tersebut, semoga banyak manfaatnya untuk

    anda tentunya pengunjung

    saya http://sabdaalamnusantara.blogspot.com/2013/10/tips-terbaik-budidaya-

    ikan-bandeng.html

  • Budidaya Ikan Bandeng (Chanos chanos) di Tambak

    13 JUL 2015

    ARIS SANDO HAMZAH

    AIR PAYAU, BUDIDAYA, IKAN BANDENG, TAMBAK

    I. PENDAHULUAN

    Usaha budidaya tambak pada umumnya mengalami beberapa permasalahan antara

    lain: ancaman penyakit, sedimentasi yang tinggi yang menyebabkan pandangkalan

    saluran tambak, sulitnya mencari benih unggul, tingginya harga saprodi dan

    terbatasnya penerapan budidaya tambak ramah lingkungan serta rusaknya ekosistem

    lingkungan pesisir dan areal pertambakan sehingga produksi tidak optimal. Kendala

    dan permasalahan dalam usaha budidaya tambak perlu diperhatikan, karena selain

    menjadi tantangan juga dapat menjadi ancaman untuk pengembangan budidaya

    tambak. Oleh karena itu perikanan budidaya tambak di daerah-daerah di Indonesia

    khususnya kota kendari perlu dikembangkan berdasarkan komoditas budidaya dan

    aplikasi teknologi budidaya yang sesuai dengan daya dukung lingkungannya.

    Kurangnya perhatian dan manajemen budidaya tambak yang baik akan menimbulkan

    kerusakan dan pencemaran serta kerugian yang besar. Hal ini dapat menjadi salah satu

    ancaman bagi pembudidaya yang baru memulai budidaya tambak. Selain itu ilmu

    pengetahuan dan teknologi memiliki peranan penting dalam keberlanjutan usaha

    budidaya tambak. Produktivitas tambak yang rendah ini perlu mendapat perhatian

    terutama terkait dengan daya dukung lahan tambak, agar daya dukung lahan tambak

    dapat diketahui lebih dini sehingga alokasi sumberdaya lahan tambak dapat ditentukan

    lebih tepat. Akibat lebih lanjut adalah konsep budidaya tambak yang berkelanjutan

    dapat terwujud. Dalam Pasal 8 Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 26

    tahun 2008 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional telah ditetapkan bahwa

    kebijakan pengembangan kawasan budidaya meliputi: pengendalian perkembangan

    kegiatan budidaya agar tidak melampaui daya dukung dan daya tampung lingkungan.

    Ikan bandeng merupakan salah satu komoditas yang memiliki keunggulan komparatif

    dan strategis dibandingkan komoditas perikanan lainnya karena teknologi pembesaran

    dan pembenihannya telah dikuasai dan berkembang di masyarakat. Pembudidayaan

    bandeng merupakan salah satu upaya diversifikasi akibat kemerosotan mutu

    lingkungan yang diakibatkan oleh mewabahnya penyakit pada udang. Sehingga

    berdampak pada menurunnya produksi udang dan banyaknya tambak yang terlantar

    karena pemilik mengalami kerugian. Bandeng menurut Ahmad dan Yakob (1998)

    adalah komoditas yang tahan terhadap perubahan mutu lingkungan dan diharapkan

    dapat mempertahankan produktivitas lahan tambak.

  • II. PEMBAHASAN

    A. Klasifikasi dan Morfologi

    Menurut Prahasta dan Hasanawi (2009), jenis ikan bandeng yang dibudidayakan

    oleh masyarakat termasuk dalam genus Chanos. Ikan bandeng, jika dilihat secara

    ilmiah, dengan taksonomi hewan atau sistermatika hewan, dapat diklasifikasikan

    sebagai berikut :

    Kingdom : Animalia

    Phylum : Chordata

    Class : Actinopterygii

    Ordo : Gonorynchiformes

    Family : Chanidae

    Genus : Chanos

    Species : Chanos chanos

    Gambar 1. Morfologi Ikan Bandeng (Sumber: www.animaldiversity.org)

    Ikan bandeng mempunyai bentuk luar yang hampir sama dengan ikan-ikan lainnya,

    yaitu seperti torpedo, dimana sirip-sirip berfungsi sebagai alat untuk berenang

    (Martosudarmo et al., 1984). Mulut ikan bandeng berbentuk simetribilateral, di

    depan dan bergigi, terdiri dari rahang atas (premaxilla) dan rahang bawah (maxilla).

    Mempunyai dua buah lubang hidung (nostril), terletak di

    depan mata dan tertutupi oleh lapisan seperti gelatin dan tidak mempunyai pelupuk

    mata (eyelid). Ikan bandeng mempunyai beberapa sirip pada tubuhnya, antara lain:

    sirip punggung berjari-jari lemah 13-17 terletak ditengah-tengah punggung, sirip

    dada berjari-jari lemah 16-17. Sirip dada dan perut mempunyai sisik tambahan

    (auxilliarry scale) dan terlihat jelas pada pangkal sirip tersebut. Sirip dubur jauh

    kebelakang dekat sirip ekor dan berjari-jari lemah sampai 11. Sirip ekor panjang

    dan bercagak. Umumnya tubuh ikan bandeng dilindungi oleh sisik cyclid. Sisik garis

    rusuk (linea lateralis) tampak pada kedua sisi badan ikan, terbentuk dari baris sisik

    yang berpori (Marzuqi, 2015).

  • B. Produksi Ikan Bandeng

    Dilihat dari aspek konsumsi, ikan bandeng adalah sumber protein yang sehat sebab

    bandeng adalah sumber protein yang tidak mengandung kolesterol. Saat ini

    bandeng dibudidayakan secara tradisional dengan padat penebaran 3.000 5.000

    ekor per hektar. Pemeliharaan hanya mengandalkan pupuk sebagai input untuk

    pertumbuhan kelekap atau alga sebagai pakan alami dengan rata-rata produksi

    yang dicapai hanya sekitar 300-1.000 kg per hektar. Banyak faktor yang

    mempengaruhi keberhasilan produksi budidaya ikan bandeng, antara lain dari

    faktor teknis, biologis, sosial dan ekonomi. Lokasi merupakan salah satu penentu

    keberhasilan usaha budidaya bandeng. Secara teknis, lokasi sangat mempengaruhi

    konstruksi dan daya tahan serta biaya memelihara tambak. Secara biologis, lokasi

    sangat menentukan tingkat produktivitas usaha dan bahkan keberhasilan panen.

    Secara sosial dan ekonomi keuntungan maksimal dapat diperoleh bila lokasi yang

    dipilih mampu menurunkan biaya panen dan transportasi serta meningkatkan akses

    ke pemasaran (Kaunang, 2006). Tata letak suatu tambak harus memenuhi tujuan

    antara lain : menjamin mobilitas operasional sehari-hari, menjamin keamanan

    kelancaran pasok air dan pembuangannya, dapat menekan biaya konstruksi tanpa

    mengurangi fungsi teknis dari unit tambak yang di bangun, dan mempertahankan

    kelestarian lingkungan (Mustafa, 2008).

    1. Persiapan Wadah

    Penggolongan tambak pada dasarnya dibedakan berdasarkan managemen

    pengelolahan tambak dan kemampuan ataupun jenis tambak itu sendiri.

    Managemen didalam budidaya tambak udang merupakan serangkaian kegiatan

    operasional yang dilakukan dalam masa pembesaran udang atau disebut

    dengan (on growing). Menurut Kongkeo (1997), menyatakan bahwa persiapan

    lahan adalah operasi paling penting dalam budidaya udang intensif. Persiapan ini

    dapat menghilangkan gas beracun, seperti amonia, hidrogen, sulfide, dan

    metana, serta pathogen didasar yang telah terakumulasi dari budidaya

    sebelumnya. Kegiatan yang termasuk persiapan lahan adalah pengeringan,

    pemupukan, pengapuran, pengendalian hama, pemasangan kincir, pengisian air.

    Keasaman tanah kolam dapat dinetralkan dan produktivitas kolam dapat

    diperbaiki dengan pengapuran (William, 2009). Menurut Mahyudin (2008),

    pemberian kapur dilakukan dengan cara disebar merata di permukaan tanah

    dasar kolam. setelah pengapuran selesai, tanah dasar kolam dibalik dengan

    cangkul sehingga kapur bisa lebih masuk ke dalam lapisan tanah dasar.

    pengapuran untuk kolam semen dan terpal dilakukan dengan cara dinding kolam

    dan dasar terpal dikuas dengan kapur yang telah dicampuri air. Tujuan

    pemupukan tambak adalah untuk menyuburkan pertumbuhan klekap yang

    hidupnya menempel pada tanah dasar tambak. Karena kehidupan klekap yang

    menempel pada tanah dasar tambak tersebut maka pemupukan lebih ditujukan

    pada pemupukan tanah dasar (Zakaria, 2011). Selain itu, ikan bandeng yang

    dipelihara pada tambak wanamina mengalami pertumbuhan rata-rata 100 gr

    lebih tinggi dibandingkan dengan ikan bandeng yang dipelihara pada tambak non

    wanamina (Poedjirahajoe, 2000).

  • 2. Penebaran Benih

    Ruang gerak karena adanya padat penebaran secara langsung tidak

    berpengaruh terhadap kelangsungan hidup ikan bandeng, karena ikan bandeng

    tidak mempunyai sifat kanibal terhadap lainnya, dan juga ikan bandeng

    merupakan jenis ikan yang suka berkelompok dalam mencari makanan

    walaupun dalam jumlah yang tidak begitu besar. Lain halnya dengan udang

    windu padat penebaran secara langsung berpengaruh terhadap kelangsungan

    hidup, karena udang windu mempunyai sifat kanibal terhadap lainnya. (Tjoronge,

    2005). Akan tetapi menurut McCormick et al. (1998) dalam Ninef (2002), bahwa

    padat penebaran yang tinggi akan menyebabkan tingkat persaingan terhadap

    makanan dan ruang menjadi tinggi yang akan menurunkan tingkat

    kelulushidupan suatu organisme. Menurut Mangampa dkk. (2008), menyatakan

    bahwa semakin besar kepadatan ikan yang kita berikan, akan semakin kecil laju

    pertumbuhan per individu. Dengan kepadatan rendah ikan mempunyai

    kemampuan memanfaatkan makanan dengan baik dibandingkan dengan

    kepadatan yang cukup tinggi, karena makanan merupakan faktor luar yang

    mempunyai peranan di dalam pertumbuhan (Syahid dkk., 2006).

    3. Pemberian Pakan

    Ikan tidak mempunyai kebutuhan protein yang mutlak, namun untuk menunjang

    pertumbuhannya, ikan membutuhkan suatu campuran yang seimbang antara

    asam amino esensial dan non-esensial (Buwono, 2000). Kesesuaian jenis pakan

    sangat mempengaruhi suatu organisme untuk dapat bertahan hidup, tumbuh,

    dan berkembang biak (Gilangsari, 2000). Pemberian pakan tambahan

    (supplement feed) dari kombinasi tepung cacing tanah (L. rubellus) dan tepung

    S. platensis yang memberikan pengaruh yang nyata terhadap laju pertumbuhan

    ikan bandeng (C. chanos). Laju pertumbuhan tertinggi terdapat pada perlakuan

    (pemberian supplement feed berupa tepung cacing tanah 100%) dengan nilai

    1,36% (Spikadhara dkk., 2012). Burhanuddin et al. (1993) sebesar antara 4,1-

    4,3%/hari dan 49,8% (rasio konversi 2,01) yang mendapat pakan sebesar 5-

    200% biomasa/hari. Dengan demikian pemberian pakan masih dapat

    ditingkatkan lagi menjadi lebih dari 4% dari biomasa/hari (Sumawidjaja dkk.,

    2002).

  • 4. Pencegahan dan Pemberantasan Hama dan Penyakit

    Hama merupakan sumber penyakit pada ikan yang sering menyerang kolam

    budidaya. Hama merupakan hewan yang berukuran lebih besar dan mampu

    menimbulkan gangguan pada ikan, yang terdiri dari predator, kompetitor, dan

    pencuri. Sumber penyakit yang sering menyerang ikan dikelompokkan menjadi 3,

    yaitu: hama, parasiter, dan non parasiter. Parasiter adalah penyait yang

    disebabkan oleh aktifitas organisme parasit, seperti virus, bakteri, jamur,

    protozoa, cacing, dan udang renik. Non parasiter adalah penyakit yang

    disebabkan oleh hama atau parasit, tetapi disebabkan oleh lingkungan, pakan,

    dan keturunan. Penyakit ikan adalah sesuatu yang dapat menimbulkan ganguan

    pada ikan baik secara langsung maupun tidak langsung. Gangguan terhadap

    ikan dapat disebabkan oleh organisme lain, pakan, maupun kondisi lingkungan

    yang kurang menunjang kehidupan ikan. Sedangkan penyakit ikan dibedakan

    menjadi dua yaitu penyakit infeksi (biasanya disebabkan oleh bakteri, virus,

    parasit, dan jamur) dan penyakit non infeksi (seperti stres, tumor, gangguan gizi

    pakan, dan traumatik). Berdasarkan daerah penyerangannya, penyakit yang

    disebabkan oleh parasit dibagi menjadi penyait kulit, penyakit pada insang, dan

    penyakit pada organ dalam (Suwarsito dan Mustafidah 2011).

    Hewan kompetitor dan predator yang biasanya menyerang ikan bandeng adalah

    belanak, payus, bioso, serta kepiting. Sedangkan hewan penyaing pakan dan

    ruang adalah ikan mujair, udang, serangga, sera siput. Sedangkan penyaki pada

    ikan bandeng dapat disebabkan oleh bakteri, virus, ektoparasit, dan lingkungan

    yang kurang baik untuk pertumbuhan. Ektoparasit yang sering meyerang ikan

    bandeng biasanya adalah Caligus sp., Trichodina sp., Caligus epidemicus,

    Caligus punctatus, Lernaea, dan Dactylogyrus (Fidyandini et al., 2012). Menurut

    Rangka dan Asaad (2010), menjelaskan bahwa pengandalian hama dan

    penyakit pada budidaya ikan bandeng yang dilakukan di Kabupaten Sinjai adalah

    dengan melakukan pengendalian dini dan pengendalian lanjutan.

    5. Monitoring dan Pemanenan

    Biasanya panen dilakukan pada saat bandeng berumur 4 sampai 5 bulan dan

    berbobot diantara 200 sampai 250 gram per ekor atau satu kilo berisi antara 4

    sampai 5 ekor .Cara pemanenan dilakukan dengan menggunakan jaring

    bandeng, dinamakan jaring bandeng karena jaring ini dibuat khusus untuk

    memanen bandeng dan ukurannya hanya dapat menangkap ikan bandeng yang

    berukuran 200 gram keatas. Ikan-ikan kecil yang berukuran dibawah 200 gram

    dapat lolos dan dapat tumbuh besar dan dapat dipanen pada bulan berikutnya.

    Setelah panen dengan menggunakan jaring dan dimasukkan kedalam blung dan

    apabila bandeng dipanen pada pada siang maupun sore hari maka bandeng

    akan diawetkan dengan menggunakan es balok dan dijual pada malam hari

    ataupun pada dini hari dan apabila panennya pada malam hari atau pada dini

    hari maka ikan bandeng akan bisa langsung dijual. Cara penjualan ikan bandeng

    ini bisa berbagai macam bisa dijual langsung kepasar ataupun dengan

    memanggil bakul ikan maka ikan tersebut akan diambil oleh bakul ikan dan upah

    penjualan itu biasanya dengan menggunakan komisi (Romadon dan Subekti,

    2011).

  • C. Kualitas Air

    1. Amonia

    Amonia di perairan berasal dari sisa metabolisme (eksresi) hewan dan proses

    dekomposisi bahan organik oleh mikroorganisme. Pada air buangan tambak

    udang, keberadaaan amonia dihasilkan dari aktivitas ekskresi udang itu sendiri

    dan proses dekomposisi bahan organik dari sisa pakan dan kotoran selama

    pemeliharaan udang. Menurut Effendi (2003), sumber amonia lainnya di perairan

    adalah gas nitrogen dari proses difusi udara yang tereduksi di dalam air. Amonia

    di perairan dapat dijumpai dalam bentuk amonia total yang terdiri dari amonia

    bebas (NH3) dan ion amonium (NH4+). Kesetimbangan antara kedua bentuk

    amonia di atas bergantung pada kondisi pH dan suhu perairan (Midlen dan

    Redding, 2000). Amonia di perairan akan ditemukan lebih banyak dalam bentuk

    ion amonium jika pH perairan kurang dari 7, sedangkan pada perairan dengan

    pH lebih dari 7, amonia bebas atau amonia tak-terionisasi yang bersifat toksik

    terdapat dalam jumlah yang lebih banyak (Novotny dan Olem, 1994). Menurut

    Abel (1989), tingkat toksisitas amonia tak-terionisasi tergantung pada kondisi pH

    dan suhu di suatu perairan, sehingga kenaikan nilai pH dan suhu menyebabkan

    proporsi amonia bebas di perairan meningkat (Abel, 1989).

    Toksisitas amonia tak-terionisasi berbahaya bagi organisme akuatik, khususnya

    bagi ikan (Effendi, 2003). Karena konsentrasi NH3 bebas yang tinggi di perairan

    dapat menyebabkan kerusakan insang pada ikan. Selain itu tingginya

    konsentrasi NH3 bebas dapat menyebabkan meningkatnya kadar amonia dalam

    darah dan jaringan tubuh ikan, sehingga dapat mengurangi kemampuan darah

    untuk mengangkut oksigen serta mengganggu kestabilan membran sel (Boyd,

    1989). Menurut McNeely et al. (1979) dalam Effendi (2003), kadar amonia pada

    perairan alami tidak lebih dari 0.1 mg/liter. Kemudian jika konsentrasi ammonia

    tak-terionisasi lebih dari 0.2 mg/liter akan bersifat toksik bagi beberapa jenis ikan

    (Sawyer dan McCarty, 1978 dalam Effendi, 2003).

    2. Suhu

    Suhu air merupakan salah satu faktor abiotik yang memegang peranan penting

    bagi kehidupan organisme. Pada perairan tropika suhu relatif tinggi (> 250C)

    sepanjang tahun, sehingga demikian suhu relatif stabil dan umumnya jarang

    menunjukkan gejala stratifikasi (Nur, 2002). Peningkatan suhu dapat

    menyebabkan kecepatan metabolisme dan respirasi organisme air. Peningkatan

    suhu sebesar 100C menyebabkan konsumsi oksigen meningkat sekitar 2-3 kali

    lipat. Kisaran suhu optimum bagi pertumbuhan fitoplankton di perairan adalah

    sebesar 200C 300C (Effendi, 2003). Menurut Poernomo (1988) kisaran suhu

    yang diperbolehkan dalam pemeliharaan udang windu adalah 260C 320C

    sedangkan untuk pemeliharaan benih bandeng di tambak, temperatur air

    bervariasi antara 240C 38,50C (Bardach et al., 1973).

  • 3. Derajat Keasaman (pH)

    Derajat keasaman (pH) didefinisikan sebagai logaritme negatif dari konsentrasi

    ion hidrogen [H+] yang mempunyai skala antara 0 sampai 14. Nilai pH

    mengindikasikan apakah air tersebut netral, basa atau asam. Air dengan pH

    dibawah 7 termasuk asam dan diatas 7 termasuk basa. Parameter pH

    merupakan variable kualitas air yang dinamis dan berfluktuasi sepanjang hari.

    Pada perairan umum yang tidak dipengaruhi aktivitas biologis yang tinggi, nilai

    pH jarang mencapai diatas 8,5. Tetapi pada tambak ikan atau udang, pH air

    dapat mencapai 9 atau lebih. Dibidang perikanan nilai pH perairan sangat

    menentukan dalam usaha budidaya ikan. Perairan dengan pH rendah akan

    berakibat fatal bagi kehidupan ikan, yaitu akan memperlambat laju pertumbuhan.

    Sebagian besar biota akuatik sensitive terhadap perubahan pH dan menyukai

    nilai pH sekitar 7 8,5. Pada pH < 4, sebagian besar tumbuhan air mati karena

    tidak dapat bertoleransi terhadap pH rendah (Effendi 2003). Perubahan

    keasaman pada air buangan, baik ke arah alkali (pH naik) maupun ke arah asam

    (pH menurun), akan sangat mengganggu kehidupan ikan dan hewan air di

    sekitarnya. Nilai pH air normal adalah antara pH 6 sampai 8, sedangkan pH air

    terpolusi, berbeda-beda nilainya tergantung dari jenis buangan (Fardiaz 1992).

    4. Salinitas

    Salinitas dapat didefinisikan sebagai total konsentrasi ion-ion terlarut dalam air.

    Dalam budidaya perairan, salinitas dinyatakan dalam permil (/oo) atau ppt atau

    gram/liter. Salinitas suatu perairan dapat ditentukan dengan menghitung jumlah

    kadar klor yang ada dalam suatu sampel (klorinitas). Sebagian besar petambak

    membudidayakan udang dalam air payau (15-30 ppt). Menurut Khordi (1997)

    ikan bandeng akan memiliki pertumbuhan optimum pada kisaran salinitas 10-35

    ppt. Sedangkan udang windu (Penaeus monodon), dan udang peci (P.

    merguensis ) akan tumbuh dengan baik pada kisaran salinitas 15-22ppt.

    5. Oksigen Terlarut

    Kehidupan makhluk hidup di dalam air (tumbuhan dan biota air) tergantung dari

    kemampuan air untuk mempertahankan konsentrasi oksigen terlarut atau

    dissolved oxygen (DO) minimal yang diperlukan. Oksigen terlarut dalam air dapat

    berasal dari hasil proses fotosintesis oleh fitoplankton atau tanaman air lainnya,

    dan difusi dari udara (Hariyadi et al., 1992). Kadar oksigen terlarut di perairan

    dipengaruhi oleh proses aerasi, fotosintesis, respirasi, dan oksidasi bahan

    organik. Terdapat suatu hubungan antara kadar oksigen dengan suhu, dimana

    semakin tinggi suhu maka kelarutan oksigen semakin berkurang. Peningkatan

    suhu sebesar 10C akan meningkatkan konsumsi oksigen sebesar 10%. Hampir

    semua organism akuatik menyukai kondisi dengan kelarutan oksigen > 5 mg/liter

    (Effendi 2003).

  • BUDIDAYA BANDENG DI TAMBAK TRADISIONAL

    Posted on 28/06/2011

    Bandeng (milkfish, Chanos chanos), adalah ikan laut penting di kawasan Asia

    Tenggara. Di Jawa, bandeng merupakan ikan yang dikonsumsi oleh masyarakat mulai

    dari kelas warteg, sampai menjadi bandeng presto sebagai oleh-oleh masyarakat

    papan atas. Habitat bandeng tersebar di Samudera Hindia, mulai dari Laut Merah

    sampai ke Afrika Selatan, dari Jepang Samudera Pasifik mulai dari California sampai ke

    kepulauan Galapagos, dan dari pantai timur Afrika sampai pantai Barat Amerika.

    Indonesia dan Filipina merupakan kepulauan yang menjadi habitat cukup baik bagi

    bandeng. Bandeng tidak terdapat di Samudera Atlantik.

    Habitat bandeng adalah laut tropis, yang kaya plankton. Baik zooplankton maupun

    phytoplankton. Phytoplankton juga dikenal sebagai algae bersel satu. Zooplankton dan

    phytoplankton merupakan makanan utama bandeng. Bandeng adalah ikan keluarga

    (famili) Chanidae subfamili Chaninae yang masih eksis di alam. Tercatat pernah ada

    tujuh spesies dari lima genus dalam famili Chanidae, yang sekarang sudah punah.

    Hingga bandeng merupakan spesies dan genus tunggal dari ikan famili

    Chanidae. Bandeng merupakan ikan soliter yang hidup berpasang-pasangan di sekitar

    terumbu karang, di perairan laut dangkal.

    Ikan ini disebut milkfish, karena sisiknya yang lembut dan berwarna keperakan. Warna

    putih perak inilah yang mengingatkan orang akan warna putih susu. Sisik bandeng

    demikian lembutnya, hingga tidak perlu dibuang sebelum dimasak. Bandeng

    merupakan ikan berbentuk torpedo yang sangat kompak, dangan kepala dan bagian

    ekor meruncing. Sirip ekor bercabang dua. Di laut lepas, bandeng bisa mencapai

    ukuran panjang sampai 1 m. lebih. Bandeng tangkapan dari alam, umumnya berukuran

    kurang dari 50 cm. Sementara bandeng konsumsi hasil budidaya di tambak, umumnya

    hanya berukuran antara 20 sd. 30 cm.

    # # #

    Bandeng berpijah di laut dengan salinitas penuh, namun masih berdekatan dengan

    pantai berperairan payau. Setelah menetas, juvenil (nener, anak bandeng), hanya akan

    hidup di air asin selama 1 sd. 2 minggu, untuk kemudian pindah ke perairan payau

    terutama kawasan mangrove (hutan bakau, api-api dan nipah). Di sini bandeng akan

    tumbuh menjadi dewasa dengan mengkonsumsi Zooplankton dan phytoplankton.

    Setelah dewasa dan siap kawin, barulah bandeng kembali ke laut dengan salinitas

    normal, untuk berpijah dan seterusnya hidup di sana. Itulah siklus hidup bandeng di

    alam, yang sampai sekarang tetap dimanfaatkan oleh manusia.

  • Sebab beda dengan udang, terutama udang windu (Penaeus monodon), yang sudah

    bisa dibenihkan secara buatan, sampai sekarang bandeng masih belum bisa dipijahkan

    secara buatan. Dan pengambilan nener di perairan payau, terutama di hutan mangrove,

    masih tidak mengalami hambatan. Dengan catatan pembabatan hutan bakau

    dikendalikan, disertai penanaman dengan intensitas yang bisa mengimbangi

    penebangan. Sebab kendala utama penangkapan nener adalah rusaknya hutan

    mangrove. Nener yang ditangkap di hutan mangrove inilah yang kemudian

    dibudidayakan di tambak air payau. Sebenarnya bandeng juga bisa dibudidayakan di

    tambak air tawar. Misalnya di bagian selatan Kab. Lamongan, Jatim. Bahkan di

    Cangkringan, di lereng Gunung Merapi, DIY, juga bisa dibudidayakan bandeng.

    Namun pertumbuhan bandeng yang dibudidayakan di tambak air tawar, tidak sepesat

    yang dibudidayakan di air payau. Selain itu, bandeng air tawar, hasilnya selalu berbau

    lumpur/tanah. Beda dengan bandeng air payau, atau bandeng tangkapan dari laut.

    Hingga selama ini, budidaya bandeng lebih banyak dilakukan di tambak air payau. Sifat

    bandeng ini merupakan kebalikan dari ikan nila (Tilapia nilotica), yang merupakan ikan

    air tawar, tetapi justru sangat peat pertumbuhannya, ketika dibesarkan di tambak air

    payau, bahkan juga di karamba air laut. Hingga sekarang banyak nila yang dipanen

    sebagai hasil sampingan tambak air payau udang atau bandeng.

    Tambak budidaya bandeng, umumnya merupakan tambak tradisional, bukan tambak

    semi intensif atau tambak modern. Yang dimaksud tambak tradisional adalah, tambak

    yang berpematang tanah, drainase juga merupakan aliran arus air laut maupun tawar

    secara alami, dengan batang pohon api-api dan bakau di sana-sini. Tambak tradisional,

    mengandalkan pakan alami berupa zooplankton maupun phytoplankton. Meskipun

    hasilnyatidak setinggi tambak semi intensif dan terlebih tambak modern, namun

    tambak-tambak tradisioal ini lebih ramah lingkungan, serta menghasilkan bandeng yang

    dagingnya lebih padat, dibanding bandeng yang dibesarkan dengan pelet.

    # # #

    Untuk menumbuhkan phytoplankton dan kemudian zooplankton pada tambak

    tradisional, petani tetap harus mengeluarkan biaya. Pertama, tambak yang baru saja

    dipanen, harus diberi pestisida alami berupa biji teh atau tembakau krosok, diturap

    (lumpurnya dinaikkan ke pematang), kemudian dikeringkan sampai lumpurnya pecah-

    pecah dan merekah. Setelah itu ditaburkan pupuk kandang, berupa kotoran sapi,

    kerbau, kambing, domba, maupun kuda. Tambak tidak pernah dipupuk dengan kotoran

    ayam. Tiap hektar tambak memerlukan 5 ton pupuk kandang. Popuk ini harus diratakan

    ke seluruh permukaan tanah, lalu dibiarkan beberapa hari sebelum air dialirkan

    menggenangi tambak.

  • Pada awalnya, air payau yang menggenangi tambak itu tampak jernih. tetapi dalam

    waktu dua tiga hari, apabila matahari bersinar cukup terik, maka air itu akan berangsur

    berwarna hijau. Itulah tandanya phytoplankton telah mulai tumbuh. Pada waktu itulah

    urea sebanyak 3 kuintal per hektar ditebarkan. Setelah ditebari urea, air akan segera

    menjadi hijau pekat. Pada waktu itulah zooplankton akan mulai tumbuh. Para petani

    tambak, biasa menyebut zooplankton ini dengan kutu air. Setelah pertumbuhan

    plankton stabil, salinitas dan pH, air juga sesuai dengan atandar, maka nener bisa

    ditebarkan. Dengan pakan alami plankton, pertumbuhan nener menjadi bandeng sangat

    cepat.

    Meskipun sudah diberi pestisida alami, amsih saja ada ikan hama yang akan masuk ke

    tambak. Misalnya ikan gabus. Kalau tambak bandeng itu kemasukan gabus, meka

    nener yang baru saja ditebarkan akan habis. Namun kadang-kadang tambak bandeng

    itu juga kemasukan udang galah (Machobracium resenbergii), dan udang putih

    (Penaeus merguiensis). Ketika bandeng dipanen, kadang nilai udang ikutan ini justru

    lebih tinggi dibanding dengan bandengnya. Maka petambak pun kemudian sengaja

    menerbarkan benur (benih urang), terutama benih udang windu. Sebab benih udang

    galah dan udang putih biasanya masuk dengan sendirinya, ketika saluran air dibuka

    untuk menggenangi tambak.

    Tambak tradisional pun, sekarang juga banyak yang diberi tambahan pakan pelet.

    Volume pelet dikendalikan, hingga tidak mencemari tambak, namun mampu

    meningkatkan pertumbuhan bandeng maupun udangnya. Pemberian pelet berlebihan

    pada tambak tradisional, tidak dianjurkan. Sebab sisa pelet yang tidak termakan itu

    akan membusuk, mengeluarkan amoniak dan meracuni bandeng serta udang. Sebab

    tambak tradisional tidak dilengkapi dengan pompa sirkulasi air, serta airator (kincir

    untuk meningkatkan kandungan oksigen dalam air). Hingga padat penebaran, dan

    volume pakan dalam tambak tradisional, harus disesuaikan dengan luas tambak secara

    keseluruhan.

    # # #

    Bandeng adalah ikan yang harganya jarang sekali jatuh. Meskipun ikan ini juga ada

    kelemahannya. Sebagaimana ikan mas, daging bandeng juga ada duri-duri halusnya.

    Hingga yang menghadirkan bandeng goreng, hanyalah warteg. Sementara

    warung/restoran yang kelasnya agak lebih tinggi, tidakpernah menyajikan menu

    bandeng karena faktor durinya. Namun rasa daging ikan bandeng sangat khas dan

    lezat, hingga tidak ada ikan laut yang bisa menjadi substitusinya. Bagi para penggemar

    fanatik bandeng, duri-duri halus ini tidak pernah menjadi penghalang. Mereka tetap

    menyantap bandeng goreng dengan nikmat.

  • Bagi masyarakat yang sedikit lebih elite, menyentap bandeng dengan duri-duri halus ini

    merupakan sesuatu yang mengganggu. Maka selain menjual produk mereka berupa

    bandeng segar, petani tambak juga mengolahnya menjadi pindang bandeng. Pindang

    adalah ikan bandeng yang dibuang insang dan jeroannya, kemudian direbus dengan

    diberi bumbu bawang putih, kunyit dan garam. Perebusan pindang bandeng sampai

    durinya lunak, dilakukan sampai sehari atau semalam penuh, tidak seperti pembuatan

    pindang cuik. Biasanya bandeng direbus selama enam jam, kemudian didinginkan, dan

    direbus kembali selama dua jam.

    Dengan adanya teknologi presto (perebusan dengan ketel bertekanan), maka

    pembuatan bandeng duri lunak lebih dipercepat waktunya, menjadi hanya 1,5 sampai 2

    jam saja. Selain bandeng duri lunak, yang nilainya lebih tinggi lagi adalah bandeng

    asap. Ada dua macam bandeng asap. Pertama bandeng yang memang diawetkan

    secara langsung dengan pengasapan. Biasanya bandeng yang diasap, yang berukuran

    di atas 30 cm, dan telah dibersihkan insang serta isi perutnya. Ada pula bandeng

    pindang asap. Bandeng ini pertama-tama dipindang seperti membuat bandeng duri

    lunak biasa, namun kemudian dilanjutkan dengan proses pengasapan. (R) # # #

  • 20 Cara Mudah Budidaya Ikan Bandeng

    Posted by Seputarikan .Com , 1 Comment in Budidaya on Friday, February 20, 2015

    Cara Mudah Budidaya Ikan Bandeng - Satu komoditas perikanan lain yang memiliki

    nilai ekonomi tinggi di samping udang yang dibudidayakan di tambak ikan bandeng

    (Chanos chanos Forsk) baik untuk konsumsi domestik dan ekspor ke negara-negara

    asing dalam bentuk segar maupun olahan. Bandeng juga Memiliki manfaat ikan

    bandeng bagi kesehatan.

    Cara Mudah Budidaya Ikan Bandeng

    Kegiatan budidaya ikan bandeng di tambak telah dikembangkan untuk waktu yang

    lama, hal ini didukung oleh potensi sumber daya alam yang sangat baik, terutama

    ketersediaan benih ikan bandeng (Nener) baik secara alami atau dari hatchery dalam

    Keperawatan - Keperawatan Hatchery (Hatchery), tapi produksi dan produktivitas relatif

    masih rendah.

    Rendahnya produksi dan produktivitas antara lain disebabkan terbatasnya pengetahuan

    dan keterampilan tentang teknis ikan petani ikan budidaya bandeng yang perlu

    diperbaiki, antara lain, melalui Technical Reference Guide Budidaya bandeng.

    Bandeng merupakan ikan yang tinggi protein. Bandeng merupakan ikan yang

    mengkonsumsi tumbuhan dengan berat rata-rata 0,6 kg pada usia 5-6 bulan. Ada

    beberapa tahapan dalam budidaya bandeng.

    PENGANTAR IKAN BANDENG

    Bandeng dalam bahasa Inggris (Chanos chanos), disebut ikan bandeng menetas di

    laut dalam, setelah menetas 2-3 minggu kemudian bermigrasi ke tepi, pantai dan

    bakau-bakau dan kembali lagi ke laut tengah untuk berkembang biak.

  • Bentuk tubuh bandeng ramping seperti torpedo dan berenang cepat, keperakan putih

    dan biru dalam sisi kulitnya. ikan ini pemakan tumbuhan plankton ganggang, lumut,

    klekap (herbivora) yang tumbuh di dasar perairan. Ikan ini dibudidayakan untuk

    konsumsi rumah tangga dan restoran dalam bentuk susu kari, digoreng, direbus, asap

    dan panggang.

    HABITAT IKAN BANDENG

    Bandeng (Chanos chanos) adalah sejenis ikan laut dari Family Chanidae, Ordo

    Malacopterygii. Namun ikan bandeng diklasifikasikan Euryhalin yang memiliki daya

    penyesuaian (toleransi) cukup tinggi terhadap perubahan kadar garam (salinitas) mulai

    dari 0-60 per mil. Selain itu, juga cukup tahan terhadap perubahan suhu tinggi hingga

    40 derajat Celcius.

    Bandeng pertama di ketahui hidup di India di laut Fasifik berkerumun di sekitar terumbu

    pesisir dan pulau tapi ahir-ahir hidup di air payau, danau air tawar. Untuk bandeng

    pertanian adalah pembesaran lebih cocok dilakukan di tambak air payau untuk

    menumbuhkan pakan alami dan artificial feeding atau pelet.

    Tingkat pH tanah yang optimal untuk bandeng antara 7-8, dengan kandungan oksigen

    terlaru 3,5 ppm. Hal ini juga dapat beradaptasi dengan perbedaan salinitas yang

    ekstrim.

    PERSIAPAN

    Lokasi kolam bandeng budidaya telah dipilih, antara persyaratan lainnya :

    1. Tanah dapat pasang surut air. Tinggi yang ideal pasang surut adalah 1,5 - 2,5 m.

    2. Dalam pasang surutnya lokasi lebih rendah di bawah 1 meter pengelolaan air

    dengan menggunakan pompa.

    3. Air segar tersedia untuk mengatur kadar garam yang cocok untuk pertumbuhan

    bandeng.

    4. Tekstur tanah yang ideal adalah tanah liat berpasir, karena tanah dapat menahan

    air sumur.

    5. Lokasi yang ideal ada sabuk hijau (green belt) hutan mangrove ditumbuhi dengan

    panjang minimal 100 m dari garis pantai.

    6. Keadaan sosial ekonomi untuk mendukung operasi seperti budidaya keamanan

    yang kondusif.

    Dalam hal ini kolam yang disiapkan adalah kolam yang telah ada dan telah berulang

    kali melaksanakan budidaya dan panen bandeng. jadi kita tidak lagi berbicara tentang

    pemilihan lokasi (tapak) dan tata letak kolam,

  • Petani ikan meskipun tidak benar dalam memenuhi tahapan persiapanbudidaya.

    mereka memang bisa panen bandeng namun hasilnya kurang maksimal karena

    langkah-langkah dalam penyusunan kolam ini sering diabaikan atau tidak dilakukan

    dengan benar. Baca Juga : cara budidaya ikan bawal

    Untuk menghasilkan petani memanen tambak bandeng harus mengikuti tahapan

    sebagai berikut:

    Pengeringan Kolam .

    Air dikeringkan melalui saluran pembuangan

    Benteng kolam bocor benar disegel dan diperkuat

    Lumpur cair ditambah atau dibuang di kolam

    Tampaknya kering tambak retak bawah -retak (2 minggu).

    Pintu masuk air untuk menghindari kebocoran diperbaiki dalam posisi yang lebih

    tinggi

    Pintu drainase posisi yang lebih rendah dan berfungsi untuk pengeringan kolam saat

    panen bandeng

    Pemupukan dan pengapuran dasar tambak

    Setelah dasar tambak terlihat retak -retak berikutnya langkah dalah pemupukan dasar

    tambak

    agar mampu menghasilkan kolam bandeng seperti yang diharapkan dalam waktu yang

    relatif lama menghindari penggunaan pupuk buatan / organik,

    Penggunaan pupuk anorganik hanya bisa berlangsung dalam waktu singkat dan karena

    itu menggunakan pupuk organik sebagai berikut:

    Kompos / pupuk kandang berasal dari dosis 1-3 ton / ha, jumlah kapur 1-2 ton / ha

    kapur disesuaikan dengan pH tanah.

    Siram / organik semprot pupuk cair 4 liter / ha dan selanjutnya pemupukan dilakukan

    setiap 2 minggu sampai panen.

    Setelah pemupukan dasar tambak dilakukan, pengisian air secara bertahap (30%)

    sampai tiga kali tingkat dari 50 cm. Setelah itu air di biarkan selama 2 minggu

    Pada saat air pasang naik masuk cukup tinggi ke kolam air melalui filter pada asupan

    air (inlet).

    Ketinggian air kolam dipelataran sekitar 10 cm. Lalu pintu tertutup dan asupan air dalam

    air kolam dibiarkan selama tiga hari, dengan tujuan untuk memperbaiki struktur tanah

    berada dalam kondisi yang baik untuk pertumbuhan makanan alami.

    Pada saat asupan berikutnya penggunaan air yang terbuat dari saponin (biji teh) untuk

    pemberantasan hama yang ada di kolam dan merangsang pertumbuhan fitoplankton.

  • Setelah diberi saponin, kolam dibiarkan sampai 5-7 hari. Setelah diyakini bahwa

    berbagai hama di kolam telah mati, pengisian air kembali dilakukan. Pada tahap ini air

    level 10 cm dipelataran cukup dan dibiarkan selama 3 hari untuk melakukan

    pemupukan dasar.

    Kemudian setelah itu, penambahan air di dalam kolam dilakukan secara bertahap

    sesuai dengan pertumbuhan pakan alami (klekap). Pada ketinggian 40 cm air dari air

    kolam tambak halaman dipertahankan dalam persiapan untuk penebaran ikan.

    Ukuran dari 10 cm dengan padat tebar 50 ekor / meter dengan cara kemasan plastik

    pertama kali masuk ke dalam kolam berisi ikan 1-2 jam hingga suhu air di kolam dan air

    dalam kemasan yang sama atau tepat untuk menghindari stres ikan.

    PEMBERIAN PAKAN

    Benih yang baru ditebar harus tetap harus makan cukup makanan ditambak yaitu

    makanan alami yang sudah tumbuh. Setelah 2 minggu ditaburkan pupuk cair organik

    lagi untuk menumbuhkan pakan alami.

    Memasukkan kompos / pupuk kandang dengan melubangi ke dalam goni plastik dan

    dimasukkan ke dalam kolam untuk menumbuhkan pakan alami untuk menekan

    penggunaan pakan buatan dapat mengurangi biaya produksi.

    Makanan buatan disesuaikan dengan kondisi pakan alami di dalam tambak dapat

    dilakukan setelah 3 bulan di peternakan ikan panen bandeng dalam ukuran yang

    diharapkan sesuai dengan kebutuhan pasar lokal atau lokal.

    PANEN IKAN BANDENG

    Panenen Bandeng dapat dilakukan dengan dua cara:

    Harvest Selektif: yaitu dengan pengeringan / menghilangkan air dari kolam sebanyak

    70% maka menyeser dengan jaring ikan diurutkan / ikan yang dipilih dipanen besar

    atau ikan memenuhi ukuran yang diharapkan dan kemudian dijual ke pasar atau

    pedagang.

    Total panen: panen tersebut dilakukan secara bersamaan atau pada saat yang sama

    besar dan kecil semua dipanen dan dijual ke pasar atau ke pedagang ikan.

  • Delapan Inovasi Paling Top Bandeng 50 Hari Panen

    Filed in Topik by admin on March 1, 2009 0 Comments

    Keberhasilan Muhidin beternak bandeng tidak lepas dari teknologi yang baru

    diterapkannya: tidak perlu diberi pelet, tinggkat kelulusan hidup 97-98%, padat

    penebaran tinggi, dan masa pengusahaannya cuma 50 hari. Saya hanya mengikuti

    anjuran Bapak Junaedi, ungkapnya singkat. Junaedi yang dimaksud adalah seorang

    formulator pupuk yang mencoba membantu meningkatkan hasil panen para petambak

    bandeng di daerah pesisir utara Cirebon.

    Ketika dikonfirmasi, Junaedi mengatakan lahan-lahan tambak di pesisir utara

    Cirebon sudah rusak, miskin hara. Dengan kondisi miskin hara tidak mungkin

    petambak bandeng mendapat hasil tinggi. Bahkan ada petambak kawakan bilang,

    beternak bandeng di pesisir utara Cirebon hanya buang uang dan tenaga, kata lulusan

    Jurusan Hama dan Penyakit, Fakultas Pertanian Universitas Jenderal Sudirman, itu. Itu

    memang dirasakan Muhidin, selama 31 tahun bergelut dengan ikan bermulut mungil itu

    tidak pernah untung besar. Kalau tidak rugi, paling pas-pasan, ujarnya.

    Gedebong pisang

    Teknologi yang diterapkan Muhidin sebetulnya sangat sederhana. Mula-mula kolam

    dikeringkan. Saat itulah pria 46 tahun itu menaburkan cacahan 20 gedebong pisang.

    Menurut Junaedi gedebong pisang kaya unsur fosfor organik yang tidak merusak tanah

    kolam. Karena tanah tetap gembur, unsur hara di dalam kolam mudah diserap tanaman

    yang menjadi makanan bandeng yaitu klekap. Penggunaan gedebong cukup 1 kali

    dalam setahun atau 5 periode.

    Setelah itu kolam dengan kedalaman 60-80 cm (dasar kolam menyerupai punggung

    kura-kura) itu diisi air hingga macak-macak. Jangan lupa air disaring agar tidak banyak

    predator masuk. Gunakan racun jika terlihat banyak predator. Tiga hari kemudian isi

    dengan air hingga ketinggian 40-60 cm. Terlalu dalam, sinar matahari yang dibutuhkan

    tanaman untuk berfotosintesis tidak bisa masuk ke dasar kolam.

    Muhidin masih menambahkan 1 liter probiotik untuk meningkatkan kesuburan kolam.

    Probiotik yang berisi mikroba itu dicampurkan ke dalam 50 liter air, lalu disebar merata

    ke seluruh kolam. Biarkan kolam selama 3 hari sebelum bibit bandeng ditebar. Bibit

    yang digunakan berukuran 2,5-3 cm dengan padat penebaran 3.000 ekor. Idealnya

    bibit berukuran 5 cm supaya lebih kuat. Tapi karena ketersediaan terbatas, bibit ukuran

    lebih kecil pun diambil, tutur Muhidin.

    Tiga pekan berselang Muhidin kembali menambahkan suplemen yang berasal dari

    ekstrak kotoran walet, sayur-sayuran, dan buah-buahan, serta ikan. Dosisnya sama, 1

    liter untuk kolam seluas 4.000 m2. Tujuannya untuk mengantisipasi ketersediaan pakan

    yang berkurang setelah bandeng tumbuh besar. Suplemen ini boleh digunakan, boleh

    juga tidak jika klekap yang tumbuh bisa mencukupi kebutuhan ikan, tutur Junaedi,

    formulator suplemen.

  • Tumbuh cepat

    Meski tanpa diberi pakan pelet, pertumbuhan bandeng luar biasa cepat. Saya kaget,

    pa