BEKAL MERAIH RAMADHAN PENUH BERKAH ?· Panduan Ramadhan BEKAL MERAIH RAMADHAN PENUH BERKAH Penulis Muhammad…

Download BEKAL MERAIH RAMADHAN PENUH BERKAH ?· Panduan Ramadhan BEKAL MERAIH RAMADHAN PENUH BERKAH Penulis Muhammad…

Post on 11-Jul-2019

215 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • Page 1 of 112

    Ringkasan

    Panduan Ramadhan BEKAL MERAIH RAMADHAN PENUH BERKAH

    Penulis Muhammad Abduh Tuasikal

    Cetakan Pertama

    Syaban 1430 H/ Agustus 2009 Cetakan Kedua

    Syaban 1431 H/ Juli 2010 Cetakan Ketiga

    Rajab 1432 H/ Juni 2011 Cetakan Keempat

    Rajab 1433 H/ Juni 2012

    Penerbit Pustaka Muslim

    bekerjasama dengan Buletin Dakwah At Tauhid Yayasan Pendidikan Islam Al Atsari Yogyakarta

    Alamat : Wisma Misfallah Tholabul Ilmi Pogung Kidul, SIA XVI. RT 01/RW 49/8C,

    Sinduadi, Mlati, Sleman Yogyakarta 55284

    Informasi: 0856 432 66668 (Syarif Mustaqim)

    Website : www.muslim.or.id dan www.muslimah.or.id

    http://www.muslim.or.id/http://www.muslimah.or.id/
  • Page 2 of 112

    PENGANTAR

    Segala puji itu hanyalah milik Allah. Dialah zat yang telah menyempurnakan nikmat-Nya untuk kita dan

    secara berturut-turut memberikan berbagai pemberian dan anugerah kepada kita. Semoga Allah menyanjung

    dan memberi keselamatan untuk Nabi kita Muhammad, keluarganya yang merupakan manusia pilihan dan

    semua sahabatnya yang merupakan manusia-manusia yang bertakwa.

    Kami bersyukur kepada Allah Taala karena telah dimudahkan untuk menyelesaikan buku panduan Ramadhan cetakan keempat ini. Buku panduan ini adalah kumpulan dari tulisan kami yang telah kami kumpulkan sejak lama yang dimuat di Buletin Dakwah At Tauhid yang disebar setiap Jumat sekitar kampus UGM Yogyakarta, tulisan kami yang pernah dipublish di website www.muslim.or.id dan website pribadi kami www.rumaysho.com. Buku cetakan keempat ini tidak beda jauh dengan cetakan sebelumnya. Cuma beberapa bagian yang diubah seperti pada catatan kaki dan ditegaskan bahwa perintah memberi makan bagi orang yang menunda qodho puasa sampai Ramadhan berikut adalah sunnah, bukan wajib sebagaimana kami mengambil pelajaran dari Syaikh Muhammad bin Sholih Al Utsaimin dalam hal ini. Kami sertakan pula dua suplemen materi yaitu mengenai panduan zakat maal dan kiat mudik penuh berkah. Di awal pembahasan kami tambahkan sedikit bahasan bagaimanakah cara beragama yang benar sehingga para pembaca mengetahui bahwa yang kita ikuti dalam beragama adalah dalil, bukan hanya sekedar perkataan fulan dan fulan.

    Kami tak lupa mengucapkan terima kasih kepada segala pihak yang telah membantu dan memberikan semangat demi terbitnya buku ini.

    Kami sangat mengharap kritik dan saran yang membangun demi baiknya buku ini pada cetakan selanjutnya. Semoga Allah selalu merahmati orang yang telah menunjukkan aib-aib kami di hadapan kami. Wa shallallahu ala nabiyyina Muhammad wa ala alihi wa shohbihi ajmain. Walhamdulillahi robbil alamin.

    Ummul Hamam, Riyadh, KSA, 25 Jumadats Tsaniyah 1433 H/ 16 Mei 2012

    Muhammad Abduh Tuasikal

    http://www.muslim.or.id/http://www.rumaysho.com/
  • Page 3 of 112

    DAFTAR ISI

    Cara Beragama yang Benar 4

    Keutamaan Bulan Ramadhan 9

    Keutamaan Puasa 11

    Ganjaran Bagi Mereka yang Berpuasa 12

    Hukum Puasa Ramadhan 16

    Menentukan Awal Ramadhan 18

    Syarat dan Rukun Puasa 22

    Sunnah-sunnah Puasa 25

    Jangan Biarkan Puasamu Sia-Sia 28

    Pembatal-Pembatal Puasa 30

    Yang Dibolehkan Ketika Puasa 33

    Yang Mendapatkan Keringan Tidak Berpuasa 36

    Qodho Puasa Ramadhan 39

    Pembayaran Fidyah 43

    Panduan Shalat Tarawih 45

    Menanti Malam 1000 Bulan 51

    Panduan Itikaf Ramadhan 55

    Tuntunan Dzikir di Bulan Ramadhan 58

    Panduan Zakat Fithri 61

    Amalan Keliru di Bulan Ramadhan 67

    Panduan Shalat Ied 71

    Lima Faedah Puasa Syawal 77

    Perpisahan dengan Bulan Ramadhan 81

    Suplemen Tambahan

    Panduan Zakat Maal 86

    Mudik Penuh Berkah 97

    Referensi 108

    Biografi Penulis 111

  • Page 4 of 112

    CARA BERAGAMA YANG BENAR

    Dalam beragama kita telah diajarkan untuk mengikuti Al Quran dan As Sunnah. Inilah yang jadi pegangan

    setiap muslim. Hal ini diterangkan dalam beberapa ayat berikut ini.

    Allah Taala berfirman,

    Ikutilah apa yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu dan janganlah kamu mengikuti pemimpin-pemimpin

    selain-Nya. Amat sedikitlah kamu mengambil pelajaran (daripadanya) (QS. Al Arof: 3).

    Apabila dikatakan kepada mereka: "Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan

    kepada hukum Rasul", niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-

    kuatnya dari (mendekati) kamu. (QS. An Nisa: 61). Ayat ini menunjukkan bahwa siapa yang diajak

    beramal dengan Al Quran dan As Sunnah, lantas ia menghalanginya, ini merupakan ciri-ciri munafik.

    Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nya), dan ulil amri di antara kamu.

    Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran)

    dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian (QS. An Nisa: 59).

    Dalam ayat ini dikaitkan dengan iman. Ini menunjukkan bahwa ketika terjadi perselisihan pendapat, maka

    kembalikanlah kepada Al Quran dan As Sunnah. Sehingga jika ada yang beralih ke selain Al Quran dan As

    Sunnah, maka ia tidak beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dengan benar.

    Dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari Rabbmu sebelum datang azab kepadamu

    dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya (QS. Az Zumar: 55). Sebaik-baik yang diturunkan

    kepada kita adalah Al Quran dan As Sunnah adalah penjelas dari Al Quran.

    Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang

    yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal (QS. Az Zumar: 18).

  • Page 5 of 112

    Kita sepakati bersama bahwa Al Quran dan As Sunnah adalah sebaik-baik perkataan dibanding perkataan

    si fulan.

    Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka

    tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya. (QS. Al

    Hasyr: 7).

    Dalam hadits Al Irbadh bin Sariyah radhiyallahu anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam menasehati para

    sahabat radhiyallahu anhum,

    Berpegang teguhlah dengan sunnahku dan sunnah khulafaur rosyidin yang mendapatkan petunjuk (dalam

    ilmu dan amal). Pegang teguhlah sunnah tersebut dengan gigi geraham kalian.1

    Salah seorang khulafaur rosyidin dan manusia terbaik setelah Nabi shallallahu alaihi wa sallam, Abu

    Bakar Ash Shiddiq radhiyallahu anhu berkata,

    Aku tidaklah biarkan satupun yang Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam amalkan kecuali aku

    mengamalkannya karena aku takut jika meninggalkannya sedikit saja, aku akan menyimpang.2

    Kita pun mendapat nasehat dan petunjuk dari empat imam madzhab yang terkemuka yang

    memerintahkan kita untuk tidak taklid buta. Kita malah diperintahkan untuk mengikuti ajaran Rasulullah

    shallallahu alaihi wa sallam. Dan jika ada di antara perkataan para imam yang menyelisihi dalil Al Quran

    dan As Sunnah, maka tinggalkanlah.

    Imam Abu Hanifah dan muridnya Abu Yusuf berkata,

    Tidak boleh bagi seorang pun mengambil perkataan kami sampai ia mengetahui dari mana kami mengambil

    perkataan tersebut.3

    Imam Malik berkata,

    1 HR. Abu Daud no. 4607 dan Tirmidzi no. 2676. Syaikh Al Albani menyatakan hadits ini shahih

    2 HR. Bukhari no. 3093 dan Muslim no. 1759.

    3 Ilamul Muwaqiin, 2: 211.

  • Page 6 of 112

    Sesungguhnya aku hanyalah manusia yang bisa keliru dan benar. Lihatlah setiap perkataanku, jika itu

    mencocoki Al Quran dan As Sunnah, ambillah. Sedangkan jika tidak mencocoki Al Quran dan As Sunnah,

    maka tinggalkanlah.4

    Imam Abu Hanifah dan Imam Asy Syafii berkata,

    Jika hadits itu shahih, itulah pendapatku.5

    Imam Asy Syafii berkata,

    Jika terdapat hadits yang shahih, maka lemparlah pendapatku ke dinding. Jika engkau melihat hujjah

    diletakkan di atas jalan, maka itulah pendapatku.6

    Imam Ahmad berkata,

    Barangsiapa yang menolak hadits Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, maka ia berarti telah berada

    dalam jurang kebinasaan.7

    Imam Ahmad juga berkata,

    Janganlah hanya sekedor taklid padaku dan jangan pula hanya sekedar taklid pada Malik, Syafii, dan Ats

    Tsauriy. Belajarlah sebagaimana kami belajar.8

    Imam Syafii memiliki beberapa nasehat yang serupa mengenai hal ini.

    Ar Rabie (murid Imam Syafii) bercerita, Ada seseorang yang bertanya kepada Imam Syafii tentang

    sebuah hadits, kemudian (setelah dijawab) orang itu bertanya, Lalu bagaimana pendapatmu?, maka

    gemetar dan beranglah Imam Syafii. Beliau berkata kepadanya,

    4 Ilamul Muwaqiin, 1: 75.

    5 Dinukil dari Shahih Fiqh Sunnah, 1: 39, 41.

    6 Majmu Al Fatawa, 20: 211.

    7 Ibnul Jauzi dalam Manaqib, hal. 182. Dinukil dari sifat Shalat Nabi hal. 53.

    8 Majmu Al Fatawa, 20: 211-212.

  • Page 7 of 112

    Langit mana yang akan menaungiku, dan bumi mana yang akan kupijak kalau sampai kuriwayatkan hadits

    Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kemudian aku berpendapat lain!?9

    Imam Syafii juga berkata,

    - -

    Jika kalian mendapati dalam kitabku sesuatu yang bertentangan dengan sunnah Rasulullah shallallahu

    alaihi wa sallam, maka sampaikanlah sunnah tadi dan tinggalkanlah pendapatku dan dalam riwayat lain

    Imam Syafii mengatakan maka ikutilah sunnah tadi dan jangan pedulikan ucapan orang.10

Recommended

View more >