bab ii tinjauan pustaka a. saham 1. pengertian saham saham

of 32/32
BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Saham 1. Pengertian Saham Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau distribusi lain yang dilakukan perusahaan kepada pemegang saham lainnya. Menurut Husnan (2005:29), “saham merupakan secarik kertas yang menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut menjalankan haknya”. Saham merupakan salah satu dari beberapa alternatif yang dapat dipilih untuk berinvestasi. Investasi dengan membeli saham suatu perusahaan, berarti investor telah menginvestasikan dana dengan harapan akan mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan kembali saham tersebut. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut dan porsi kepemilikan ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan dalam perusahaan tersebut (Darmadji, 2001:5). Sifat dasar investasi saham adalah memberikan peran bagi investor dalam memperoleh laba perusahaan. Setiap pemegang saham merupakan sebagian pemilik perusahaan, sehingga mereka berhak atas Universitas Sumatera Utara

Post on 30-Dec-2016

223 views

Category:

Documents

1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    A. Saham

    1. Pengertian Saham

    Saham adalah surat berharga yang menunjukkan kepemilikan

    perusahaan sehingga pemegang saham memiliki hak klaim atas dividen atau

    distribusi lain yang dilakukan perusahaan kepada pemegang saham lainnya.

    Menurut Husnan (2005:29), saham merupakan secarik kertas yang

    menunjukkan hak pemodal (yaitu pihak yang memiliki kertas tersebut) untuk

    memperoleh bagian dari prospek atau kekayaan organisasi yang menerbitkan

    sekuritas tersebut dan berbagai kondisi yang memungkinkan pemodal tersebut

    menjalankan haknya. Saham merupakan salah satu dari beberapa alternatif

    yang dapat dipilih untuk berinvestasi.

    Investasi dengan membeli saham suatu perusahaan, berarti investor

    telah menginvestasikan dana dengan harapan akan mendapatkan keuntungan

    dari hasil penjualan kembali saham tersebut. Wujud saham adalah selembar

    kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik

    perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut dan porsi kepemilikan

    ditentukan oleh seberapa besar penyertaan yang ditanamkan dalam perusahaan

    tersebut (Darmadji, 2001:5). Sifat dasar investasi saham adalah memberikan

    peran bagi investor dalam memperoleh laba perusahaan. Setiap pemegang

    saham merupakan sebagian pemilik perusahaan, sehingga mereka berhak atas

    Universitas Sumatera Utara

  • sebagian dari laba perusahaan. Namun hak tersebut terbatas karena pemegang

    saham berhak atas bagian penghasilan perusahaan hanya setelah seluruh

    kewajiban perusahaan dipenuhi. Pada dasarnya saham dapat digunakan untuk

    mencapai tiga tujuan investasi utama sebagaimana yang dikemukakan oleh

    Kertonegoro (2000:108) yaitu:

    a. Sebagai gudang nilai, berarti investor mengutamakan keamanan prinsipal, sehingga mereka akan mencari saham blue chips dan saham non-spekulatif lainnya.

    b. Untuk pemupukan modal, berarti investor mengutamakan investasi jangka panjang, sehingga mereka akan mencari saham pertumbuhan untuk memperoleh capital gain atau saham sumber penghasilan untuk mendapat dividen.

    c. Sebagai sumber penghasilan, berarti investor mengandalkan pada penerimaan dividen sehingga mereka akan mencari saham penghasilan yang bermutu baik dan hasil tinggi.

    2. Jenis-Jenis saham

    Dalam transaksi jual dan beli di Bursa Efek, saham merupakan

    instrumen yang paling dominan diperdagangkan. Menurut Darmadji (2001:6),

    ada beberapa sudut pandang untuk membedakan jenis-jenis saham yaitu:

    a. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim: 1) Saham Biasa (common stock)

    Saham biasa merupakan saham yang memiliki hak klaim berdasarkan laba atau rugi yang diperoleh perusahaan. Bila terjadi likuidasi, pemegang saham biasa yang mendapatkan prioritas paling akhir dalam pembagian dividen dari penjualan asset perusahaan. Menurut Siamat (2004:385), ciri-ciri dari saham biasa adalah sebagai berikut: a) Dividen dibayarkan sepanjang perusahaan memperoleh laba. b) Memiliki hak suara (one share one vote). c) Hak memperoleh pembagian kekayaan perusahaan paling akhir

    apabila bangkrut setelah semua kewajiban perusahaan dilunasi. 2) Saham Preferen (Preferred Stock)

    Saham preferen merupakan saham dengan bagian hasil yang tetap dan apabila perusahaan mengalami kerugian maka pemegang saham preferen akan mendapat prioritas utama dalam pembagian hasil atas penjualan asset. Saham preferen mempunyai sifat

    Universitas Sumatera Utara

  • gabungan antara obligasi dan saham biasa. Adapun ciri-ciri dari saham preferen menurut Siamat (2004:385) adalah: a) Memiliki hak paling dahulu memperoleh deviden. b) Tidak memiliki hak suara. c) Dapat mempengaruhi manajemen perusahaan terutama dalam pencalonan pengurus. d) Memiliki hak pembayaran sebesar nilai nominal saham lebih

    dahulu setelah kreditur apabila perusahaan dilikuidasi. b. Ditinjau dari cara peralihan: 1) Saham Atas Unjuk (Bearer Stocks)

    Pada saham atas unjuk tidak tertulis nama pemiliknya, agar mudah dipindahtangankan dari satu investor ke investor lainnya. Secara hukum, siapapun yang memegang saham ini, maka akan diakui sebagai pemiliknya dan berhak untuk ikut hadir dalam RUPS.

    2) Saham Atas Nama (Registered Stocks) Saham atas nama merupakan saham yang ditulis dengan jelas siapa nama pemiliknya, di mana cara peralihannya harus melalui prosedur tertentu.

    c. Ditinjau dari kinerja perdagangan: 1) Blue Chip Stocks

    Saham biasa dari suatu perusahaan yang memiliki reputasi tinggi, sebagai leader di industri sejenis, memiliki pendapatan yang stabil dan konsisten dalam membayar dividen.

    2) Income Stocks Saham dari suatu emiten yang memiliki kemampuan membayar dividen lebih tinggi dari rata-rata dividen yang dibayarkan pada tahun sebelumnya. Emiten seperti ini biasanya mampu menciptakan pendapatan yang lebih tinggi dan secara teratur membagikan dividen tunai. Emiten ini tidak suka menekan laba dan tidak mementingkan potensi.

    3) Growth Stocks Saham-saham dari emiten yang memiliki pertumbuhan pendapatan yang tinggi, sebagai leader di industri sejenis yang mempunyai reputasi tinggi.

    4) Speculative Stock Saham suatu perusahaan yang tidak bisa secara konsisten memperoleh penghasilan dari tahun ke tahun, akan tetapi mempunyai kemungkinan penghasilan yang tinggi di masa mendatang, meskipun belum pasti.

    5) Counter Cyclical Stocks Saham yang tidak terpengaruh oleh kondisi ekonomi makro maupun situasi bisnis secara umum. Pada saat resesi ekonomi, harga saham ini tetap tinggi, di mana emitennya mampu memberikan dividen yang tinggi sebagai akibat dari kemampuan emiten dalam memperoleh penghasilan yang tinggi pada masa resesi.

    Universitas Sumatera Utara

    http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/obligasi-pengertian-karakteristik-dan.html

  • 3. Harga Saham

    Saham merupakan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang dalam

    suatu perusahaan. Selembar saham adalah selembar kertas yang menerangkan

    bahwa pemilik kertas tersebut adalah pemilik saham (berapapun

    porsinya/jumlahnya) dari suatu perusahaan yang menerbitkan kertas (saham)

    tersebut. Selembar saham mempunyai nilai atau harga. Menurut Widoatmodjo

    (2000:13), harga saham dapat dibedakan sebagai berikut:

    a. Harga Nominal Harga nominal merupakan harga yang tercantum dalam sertifikat saham yang ditetapkan oleh emiten untuk menilai setiap lembar saham yang dikeluarkan. Besarnya harga nominal memberikan arti penting karena deviden yang dibayarkan atas saham biasanya ditetapkan berdasarkan nilai nominal.

    b. Harga Perdana Harga perdana merupakan harga pada waktu saham tersebut dicatat di bursa efek dalam rangka penawaran umum penjualan saham perdana yang disebut dengan IPO (Initial Public Offering). Harga saham pada pasar perdana biasanya ditetapkan oleh penjamin emisi (underwriter) dan emiten. Dengan demikian akan diketahui berapa harga saham emiten itu akan dijual kepada masyarakat.

    c. Harga pasar Harga pasar adalah harga jual dari investor yang satu dengan investor yang lain. Harga ini terjadi setelah saham tersebut dicatatkan di bursa efek. Transaksi disini tidak lagi melibatkan emiten dan penjamin emisi. Harga inilah yang disebut sebagai harga di pasar sekunder dan merupakan harga yang benar-benar mewakili harga perusahaan penerbitnya, karena pada transaksi di pasar sekunder, kecil sekali terjadi negosiasi harga antara investor dengan perusahaan penerbit. Harga yang setiap hari diumumkan di surat kabar atau media lain adalah harga pasar yang tercatat pada waktu penutupan (closing price) aktivitas di Bursa Efek Indonesia.

    Universitas Sumatera Utara

  • 4. Analisis Saham

    Analisis saham umumnya dapat dilakukan oleh para investor dengan

    mengamati dua pendekatan dasar yaitu:

    a. Analisis Teknikal

    Menurut Husnan (2001:349), analisis teknikal merupakan upaya untuk

    memperkirakan harga saham dengan mengamati perubahan harga saham

    tersebut di waktu yang lalu. Sutrisno (2005:330) menyatakan bahwa:

    Analisis teknikal adalah pendekatan investasi dengan cara mempelajari data historis dari harga saham serta menghubungkannya dengan trading volume yang terjadi dan kondisi ekonomi pada saat itu. Analisis ini hanya mempertimbangkan pergerakan harga saja tanpa memperhatikan kinerja perusahaan yang mengeluarkan saham. Pergerakan harga tersebut dihubungkan dengan kejadian-kejadian pada saat itu seperti adanya pengaruh ekonomi, pengaruh politik, pengaruh statement perdagangan, pengaruh psikologis maupun pengartuh isu-isu lainnya. Analisis teknikal merupakan upaya untuk memperkirakan harga saham

    dengan mengamati perubahan harga saham di periode yang lalu dan upaya

    untuk menentukan kapan investor harus membeli, menjual atau

    mempertahankan sahamnya dengan menggunakan indikator-indikator teknis

    atau menggunakan analisis grafik. Indikator teknis yang digunakan adalah

    moving average (trend yang mengikuti pasar), volume perdagangan, dan short-

    interest ratio. Sedangkan analisis grafik diharapkan dapat mengidentifikasi

    berbagai pola seperti key reserval, head and shoulders, dan sebagainya.

    Analisis ini menggunakan data pasar dari saham, seperti harga dan volume

    transaksi penjualan saham untuk menentukan nilai saham.

    Universitas Sumatera Utara

  • b. Analisis Fundamental

    Analisis fundamental merupakan faktor yang erat kaitannya dengan

    kondisi perusahaan yaitu kondisi manajemen organisasi sumber daya manusia

    dan kondisi keuangan perusahaan yang tercermin dalam kinerja keuangan

    perusahaan. Menurut Husnan (2001:315), analisis fundamental mencoba

    memperkirakan harga saham dimasa yang akan datang dengan mengestimasi

    nilai faktor-faktor fundamental yang mempengaruhi harga saham di masa yang

    akan datang dan menetapkan hubungan variabel-variabel tersebut sehingga di

    peroleh taksiran harga saham.

    Analisis ini sering disebut sebagai share price forecasting dan sering

    digunakan dalam berbagai pelatihan analisis sekuritas. Langkah yang paling

    penting dalam analisis ini adalah mengidentifikasi faktor-faktor fundamental

    yang diperkirakan akan mempengaruhi harga saham. Faktor yang dianalisis

    merupakan faktor yang berhubungan dengan kondisi perusahaan, yang meliputi

    kondisi manajemen, organisasi, sumber daya manusia, dan keuangan

    perusahaan yang tercermin dalam kinerja perusahaan.

    Menurut Jogiyanto (1998:315), analisis fundamental merupakan

    analisis yang menggunakan data-data finansial yaitu data-data yang berasal

    dari laporan keuangan perusahaan, seperti laba, deviden yang dibagikan dan

    sebagainya. Analisis fundamental merupakan analisis yang berkaitan dengan

    kondisi internal perusahaan. Sutrisno (2005:331), mengemukakan analisis

    fundamental merupakan pendekatan analisis harga saham yang

    menitikberatkan pada kinerja perusahaan yang mengeluarkan saham dan

    Universitas Sumatera Utara

  • analisis ekonomi yang akan mempengaruhi masa depan perusahaan. Analisis

    fundamental menitikberatkan pada rasio keuangan dan kejadian-kejadian yang

    secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja keuangan

    perusahaan. Sebagian pakar berpendapat teknik analisis fundamental lebih

    cocok untuk membuat keputusan dalam memilih saham perusahaan mana yang

    dibeli untuk jangka panjang. Beberapa faktor utama atau fundamental yang

    mempengaruhi harga saham yaitu penjualan, pertumbuhan penjualan,

    operasional perusahaan, laba, dividen, Rapat Umum Pemegang Saham

    (RUPS), perubahan manajemen, dan pernyataan-pernyataan yang dibuat oleh

    manajemen perusahaan.

    5. Penilaian Saham

    Nilai saham yang akan dibayar oleh investor tergantung dari hasil yang

    diharapkan untuk diterima dan resiko yang terkandung dalam transaksi

    pembelian saham. Penilaian (valuation) dimaksudkan untuk dapat menentukan

    nilai suatu saham sehingga perlu diperoleh standar prestasi (standar and

    performance) yang dapat digunakan untuk menilai manfaat investasi saham

    yang bersangkutan. Standar prestasi ini berupa nilai instrinsik yang

    menunjukkan prestasi (hasil dan resiko) di masa depan dari suatu sekuritas.

    Model penilaian harga saham yang sering digunakan dalam analisis saham

    (Manurung, 1997:28) yaitu:

    a. Pendekatan Present Value Pendekatan nilai saat ini (present value) dari suatu saham adalah

    sama dengan present value arus kas yang diharapkan akan diterima oleh pemilik saham tersebut. Dividen merupakan arus kas bagi para pemegang saham menurut pendekatan the dividen discount model. Model ini dikembangkan menjadi dua model pendekatan yaitu :

    Universitas Sumatera Utara

    http://id.wikipedia.org/wiki/Saham

  • 1) Model Tanpa Pertumbuhan Dividen (The Zero Growth Model) Model ini didasarkan pada asumsi : a) Keuntungan tidak berubah setiap tahunnya b) Semua keuntungan dibagikan sebagai dividen Sehingga harga saham dirumuskan : Dimana : Po = Harga saham (nilai instrinsik) D = Dividen r = Required rate of return (tingkat keuntungan yang dianggap relevan atau diharapkan) 2) Model Pertumbuhan Konstan (Constant Growth Model) Model ini didasarkan pada asumsi : a) Tidak semua laba dibagikan b) Laba ditahan diinvestasikan kembali Sehingga harga saham dirumuskan :

    Dimana : Po = Harga saham (nilai instrinsik) Di = Dividen pada periode i r = Required rate of return (tingkat keuntungan yang dianggap relevan atau diharapkan) g = Growth of rate (pertumbuhan laba atau dividen di masa yang akan datang) b. Pendekatan Price Earning Ratio (PER)

    Dalam pendekatan ini harga saham (nilai instrinsik) dirumuskan sebagai berikut :

    PEREPSPo = Dimana : Po = harga saham (nilai instrinsik) EPS = Earning Per Share (laba per saham) PER = Price Earning Ratio 6. Faktor-Faktor yang mempengaruhi harga saham

    Harga saham yang terjadi di pasar modal selalu berfluktuasi dari waktu

    ke waktu. Fluktuasi harga saham tersebut akan ditentukan oleh kekuatan

    penawaran dan permintaan. Jika jumlah penawaran lebih besar dari jumlah

    rDPo =

    grDiPo

    =

    Universitas Sumatera Utara

  • permintaan, pada umumnya kurs harga saham akan turun. Sebaliknya jika

    jumlah permintaan lebih besar dari jumlah penawaran terhadap suatu efek

    maka harga saham cenderung akan naik. Faktor-faktor yang mempengaruhi

    fluktuasi harga saham dapat berasal dari internal dan eksternal perusahaan.

    Menurut Alwi (2003:87), faktor-faktor yang mempengaruhi pergerakan harga

    saham yaitu:

    1) Faktor Internal yaitu: a) Pengumuman tentang pemasaran, produksi, penjualan seperti

    pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan produk, dan laporan penjualan.

    b) Pengumuman pendanaan (financing announcements), seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.

    c) Pengumuman badan direksi manajemen (management board of director announcements) seperti perubahan dan pergantian direktur, manajemen, dan struktur organisasi.

    d) Pengumuman pengambilalihan diversifikasi, seperti laporan merger, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi.

    e) Pengumuman investasi (investment announcements), seperti melakukan ekspansi pabrik, pengembangan riset dan penutupan usaha lainnya.

    f) Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negoisasi baru, kontrak baru, pemogokan dan lainnya.

    g) Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalan laba sebelum akhir tahun fiskal dan setelah akhir tahun fiskal, earning per share (EPS), dividen per share (DPS), price earning ratio, net profit margin, return on assets (ROA), dan lain-lain.

    2) Faktor Eksternal yaitu: a) Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga

    tabungan dan deposito, kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan deregulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.

    b) Pengumuman hukum (legal announcements), seperti tuntutan karyawan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.

    c) Pengumuman industri sekuritas (securities announcements), seperti laporan pertemuan tahunan, insider trading, volume atau harga saham perdagangan, pembatasan/penundaaan trading.

    Universitas Sumatera Utara

    http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/08/strategi-penetapan-harga-produk-baru.htmlhttp://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/08/strategi-penetapan-harga-produk-baru.htmlhttp://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/08/strategi-penetapan-harga-produk-baru.htmlhttp://jurnalmanajemenn.blogspot.com/2009/07/pengaruh-rasio-modal-saham-terhadap.htmlhttp://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/05/investasi-pengertian-dasar-jenis-dan.htmlhttp://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/07/tingkat-suku-bunga-interest-rate.htmlhttp://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/04/inflasi-definisi-komponen-tingkat-dan.htmlhttp://seputarforex.blogspot.com/2009/06/all-trading-in-currencies-is-done-in.html

  • d) Gejolak politik dalam negeri dan fluktuasi nilai tukar juga merupakan faktor yang berpengaruh signifikan pada terjadinya pergerakan harga saham di bursa efek suatu negara.

    e) Berbagai isu baik dari dalam dan luar negeri.

    7. Keuntungan dan Resiko Investasi Saham

    Dua unsur yang melekat pada setiap modal atau dana yang

    diinvestasikan adalah hasil (return) dan resiko (risk). Ada timbal balik

    setimbang antara hasil dan resiko, umumnya apabila hasil suatu jenis investasi

    tinggi maka resikonya pun tinggi. Begitu juga dengan investasi saham yang

    pada umumnya memiliki resiko dan hasil yang tinggi. Dalam investasi saham,

    selain memperoleh kesempatan mendapatkan dividen dan capital gain, investor

    memiliki keuntungan dari sifat saham yang fleksibel dan liquid. Berikut

    deskripsinya yaitu:

    a. Dividen, yaitu bagian keuntungan dari perusahaan yang dibagikan kepada

    pemegang saham pada saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS). Oleh

    karena saham adalah tanda bukti kepemilikian atas emiten (perusahaan

    penerbit saham) maka investor/pemegang saham berhak mendapat bagian

    dari laba perusahaan berupa dividen tunai (cash dividend), yaitu kepada

    setiap pemegang saham diberikan dividen berupa uang tunai dalam jumlah

    tertentu untuk setiap saham, atau dapat pula berupa dividen saham (stock

    dividend), yaitu kepada setiap pemegang saham diberikan dividen dalam

    bentuk saham sehingga jumlah saham yang dimiliki seorang investor akan

    bertambah dengan adanya pembagian dividen saham tersebut.

    Universitas Sumatera Utara

    http://jurnal-sdm.blogspot.com/2009/06/nilai-tukar-mata-uang-faktor-faktor.html

  • b. Capital Gain, yaitu keuntungan yang berasal dari jual-beli saham berupa

    selisih antara harga jual yang lebih tinggi dari harga beli. Capital gain

    terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder.

    Umumnya investor dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan

    melalui capital gain. Investor seperti ini bisa saja membeli saham pada pagi

    hari, lalu menjualnya kembali pada siang hari jika saham mengalami

    kenaikan harga.

    c. Fleksibel, berarti pemegang saham dapat menjual sebagian sahamnya

    apabila tiba-tiba membutuhkan dana. Berbeda dengan investasi tanah,

    properti, emas dan sebagainya yang harus dijual secara keseluruhan.

    d. Liquid, berarti prinsip good delivery dan good fund dalam pasar modal

    menjamin investor mendapatkan saham dan dananya.

    Adapun resiko yang dapat terjadi dalam investasi saham, antara lain:

    a. Capital Loss, yaitu kerugian dari hasil jual beli saham, berupa selisih antara

    harga jual yang lebih rendah dari harga beli.

    b. Tidak mendapat deviden, berarti perusahaan akan membagikan deviden jika

    operasi perusahaan menghasilkan keuntungan. Dengan demikian,

    perusahaan tidak dapat membagikan deviden jika perusahaan tersebut

    mengalami kerugian. Dengan demikian potensi keuntungan pemodal untuk

    mendapatkan deviden ditentukan oleh kinerja perusahaan tersebut.

    c. Saham dikeluarkan dari bursa (delisting), berarti saham perusahaan di delist

    dari bursa umumnya karena kinerja perusahaan yang buruk, misalnya

    dalam kurun waktu tertentu tidak pernah diperdagangkan, mengalami

    Universitas Sumatera Utara

  • kerugian beberapa tahun, tidak membagikan deviden secara berturut-turut

    selama beberapa tahun dan berbagai kondisi lainnya sesuai dengan

    peraturan pencatatan di bursa.

    d. Saham suspend, berarti suatu saham diberhentikan (suspend)

    perdagangannya oleh otoritas bursa efek. Dengan demikian pemodal tidak

    dapat menjual sahamnya hingga saham yang di suspend tersebut dicabut

    dari status suspend. Suspend biasanya berlangsung dalam waktu singkat

    misalnya dalam 1 sesi perdagangan, 1 hari perdagangan namun dapat pula

    berlangsung dalam kurun waktu beberapa hari perdagangan. Hal yang

    menyebabkan saham di suspend yaitu suatu saham mengalami lonjakan

    harga yang luar biasa, suatu perusahaan dipailitkan oleh kreditornya, atau

    berbagai kondisi lainnya yang mengharuskan otoritas bursa menghentikan

    sementara perdagangan saham tersebut untuk kemudian diminta

    konfirmasi lainnya. Jika telah didapatkan suatu informasi yang jelas, maka

    status suspend atas saham tersebut dapat dicabut oleh bursa dan saham

    dapat diperdagangkan lagi seperti semula.

    e. Resiko Likuidasi, berarti apabila perusahaan yang sahamnya dimiliki,

    dinyatakan bangkut oleh pengadilan atau perusahaan tersebut dibubarkan.

    Dalam hal ini hak klaim dari pemegang saham mendapatkan prioritas

    terakhir setelah seluruh kewajiban perusahaan dapat dilunasi (dari hasil

    penjualan kekayaan perusahaan). Jika masih terdapat sisa dari hasil

    penjualan kekayaan perusahaan tersebut, maka sisa tersebut dibagi secara

    proporsional kepada seluruh pemengang saham. Namun jika tidak terdapat

    Universitas Sumatera Utara

  • sisa kekayaan perusahaan, maka pemegang saham tidak akan memperoleh

    apa-apa. Ini merupakan resiko terberat dari seorang pemegang saham.

    Untuk itu seorang pemegang saham dituntut untuk secara terus menerus

    mengikuti perkembangan dari saham perusahaan yang diperdagangkan di

    pasar modal.

    B. Earning Per Share (EPS)

    1. Pengertian Earning Per Share (EPS)

    Menurut Fabozzi (2001:861), earning per share adalah perbandingan

    antara laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba setelah pajak

    dikurangi dividen saham preferen) dengan jumlah saham yang beredar selama

    periode perhitungan yang dilakukan. Dengan demikian, earning per share

    merupakan besaran pendapatan yang diterima oleh para pemegang saham dari

    setiap lembar saham biasa yang beredar dalam periode waktu tertentu.

    Menurut Tandelilin (2010:373), earning per share adalah laba bersih

    setelah bunga dan pajak yang siap dibagikan kepada pemegang saham dibagi

    dengan jumlah lembar saham perusahaan. Menurut Baridwan (2007:443),

    laba bersih per saham adalah jumlah pendapatan yang diperoleh dalam satu

    periode untuk tiap lembar saham yang beredar, dan akan dipakai oleh pimpinan

    perusahaan untuk menentukan besarnya dividen yang akan dibagikan.

    Tujuan perhitungan earning per share menurut Machfoedz (2000:356),

    adalah untuk melihat kemajuan (progress) dari operasi perusahaan,

    menentukan harga saham, dan menentukan besarnya dividen yang akan

    Universitas Sumatera Utara

  • dibagikan. Selanjutnya Syamsudin (2009:66) mengatakan bahwa pada

    umumnya para pemegang saham tertarik dengan earning per share (EPS) yang

    besar karena hal tersebut merupakan salah satu indikator keberhasilan

    perusahaan.

    Salah satu alasan investor membeli saham adalah untuk mendapatkan

    deviden, jika nilai earning per share kecil, maka kecil pula kemungkinan

    perusahaan untuk membagikan deviden. Maka dapat dikatakan investor akan

    lebih meminati saham yang memiliki earnings per share tinggi dibandingkan

    saham yang memiliki earnings per share rendah. Earnings per share yang

    rendah cenderung membuat harga saham turun. Earning Per Share dapat

    dihitung dengan menggunakan rumus :

    ndingOutstaShareCommonofNumberTaxAfterIncomeNetEPS =

    (Meigh, 1999: 646)

    2. Hubungan Harga Saham dengan Earning Per Share (EPS)

    Menurut Weston dan Brigham (2001:26), salah satu faktor yang

    mempengaruhi harga saham adalah laba per lembar saham (earning per share).

    Seorang investor yang melakukan investasi pada perusahaan akan menerima

    laba atas saham yang dimilikinya. Semakin tinggi laba per lembar lembar

    saham (earning per share) yang diberikan perusahaan akan memberikan

    pengembalian yang cukup baik. Ini akan mendorong investor untuk

    melakukan investasi yang lebih besar lagi sehingga harga saham perusahaan

    akan meningkat.

    Universitas Sumatera Utara

  • Peningkatan kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba atas

    modal yang diinvestasikan para pemegang saham akan memberikan pengaruh

    positif terhadap harga saham sampai pada batasan dimana laba per lembar

    saham (earning per share) dapat memberikan informasi mengenai kondisi

    perusahaan kepada investor. Oleh sebab itu, earning per share menjadi alat

    ukur yang digunakan oleh para investor untuk memperkirakan kinerja

    perusahaan di masa depan. Pada umumnya pemegang saham biasa dan calon

    pemegang saham sangat tertarik akan earning per share, karena hal ini

    menggambarkan jumlah rupiah yang diperoleh untuk setiap lembar saham

    biasa. Para calon pemegang saham tertarik dengan earning per share yang

    besar, karena hal ini merupakan salah satu indikator keberhasilan suatu

    perusahaan. Semakin tinggi profit yang diterima oleh investor akan

    memberikan tingkat pengembalian investasi yang cukup baik. Hal ini akan

    menjadi motivasi bagi investor untuk mau melakukan investasi yang lebih

    besar lagi yang otomatis akan menaikkan harga saham perusahaan. Jumlah

    earning per share tidak berarti akan didistribusikan semuanya kepada

    pemegang saham biasa, karena berapapun jumlah yang akan didistribusikan

    tergantung pada kebijakan perusahaan dalam hal pembayaran dividen.

    Earning per share yang besar menandakan kemampuan perusahaan

    yang lebih besar dalam menghasilkan keuntungan bersih dari setiap lembar

    saham. Peningkatan earning per share menandakan bahwa perusahaan berhasil

    meningkatkan taraf kemakmuran investor, dan hal ini akan mendorong investor

    untuk menambah jumlah modal yang ditanamkan pada perusahaan. Semakin

    Universitas Sumatera Utara

  • tinggi nilai earning per share akan menggembirakan pemegang saham karena

    semakin besar laba yang disediakan untuk pemegang saham (Darmadji,

    2001:139). Hal ini akan berakibat dengan meningkatnya laba maka harga

    saham cenderung naik, sedangkan ketika laba menurun, maka harga saham ikut

    juga menurun. Hal ini dapat ditunjukkan dalam Tabel 2.1 yang

    menggambarkan hubungan Earning Per Share dengan Harga Saham pada

    perusahaan Food & Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai

    berikut.

    Tabel 2.1 Hubungan Earning Per Share dan Harga Saham

    (Dinyatakan dalam Rupiah)

    No.

    Kode

    Nama

    Perusahaan

    Earning Per Share

    Harga Saham

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1.

    AQUA

    PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    3.712

    5.008

    6.256

    7.287

    110.000

    129.500

    127.000

    244.800

    2.

    DLTA

    PT Delta Djakarta Tbk

    2.703

    2.956

    5.230

    7.900

    22.800

    16.000

    20.000

    62.000

    3.

    FAST

    PT Fast Food Indonesia Tbk

    154

    230

    281

    408

    1.820

    2.450

    3.100

    5.200

    4.

    INDF

    PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    70

    104

    118

    236

    1.350

    2.575

    930

    3.550

    5.

    MLBI

    PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    3.492

    4.005

    10.551

    16.158

    55.000

    55.000

    49.500

    177.000

    6.

    MYOR

    PT Mayora Indah Tbk

    122

    185

    256

    485

    1.620

    1.750

    1.140

    4.500

    7.

    SMAR

    PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART)

    219

    344

    364

    261

    3.650

    6.000

    1.700

    2.550

    Universitas Sumatera Utara

  • Tbk

    8.

    TBLA PT Tunas Baru Lampung Tbk

    19

    23

    15

    33

    240

    630

    190

    340

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011) Tabel 2.1 di atas menjelaskan bahwa harga saham perusahaan food &

    beverages cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2006-2009 sejalan

    dengan kenaikan earning per share. Sebagai bahan pengamatan earning per

    share PT Aqua Golden Mississipi Tbk pada tahun 2006 menunjukkan nilai Rp

    3.712 dengan harga saham Rp 110.000 dan pada tahun 2007 earning per share

    PT Aqua Golden Mississipi Tbk menunjukkan nilai Rp 5.008 dengan harga

    saham Rp 129.500. Terjadi kenaikan earning per share dari tahun 2006 ke

    tahun 2007 sebesar Rp 1.296 dan peningkatan harga saham sebesar Rp 19.500.

    C. Dividend Per Share

    Investasi dalam bentuk saham akan memberikan keuntungan kepada

    investor, yaitu keuntungan berupa dividen dan capital gain. Capital gain

    diperoleh dari selisih harga jual dan beli saham. Sedangkan menurut

    Tangkilisan dan Hessel (2003:227), dividen adalah bagian dari laba bersih

    yang dibagikan kepada para pemegang saham. Stice (2004:902) menyatakan

    bahwa dividen adalah pembagian keuntungan kepada pemegang saham dari

    suatu perusahaan secara proporsional sesuai dengan jumlah lembar saham yang

    dipegang oleh masing-masing pemilik.

    Sehingga dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa dividen

    adalah bagian keuntungan bersih setelah pajak yang dibagikan kepada

    pemegang saham. Dividen merupakan salah satu potensi keuntungan dari

    Universitas Sumatera Utara

  • investasi melalui saham, maka pihak manajemen perusahaan perlu

    memperhatikan kebijakan dividen yang akan diterapkan dalam rangka menarik

    minat investor untuk menanamkan modalnya dalam perusahaan dalam bentuk

    kepemilikan saham.

    Dividend per share merupakan rasio yang mengukur seberapa besar

    dividen yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah saham yang beredar pada

    tahun tertentu. Rasio ini memberikan gambaran mengenai seberapa besar laba

    yang dibagikan dalam bentuk dividen kepada pemegang saham untuk tiap

    lembar saham. Rasio ini dihitung dengan membagi jumlah dividen yang

    dibayarkan dengan jumlah saham yang beredar. Dividend Per Share dapat

    dihitung dengan menggunakan rumus:

    IssueinShareOfNumber

    PaidDividendsDPS =

    Perusahaan yang dividend per share nya lebih tinggi dibandingkan

    dengan perusahaan-perusahaan sejenis akan lebih diminati oleh investor,

    karena investor akan memperoleh kepastian modal yang ditanamkannya, yakni

    hasil berupa dividen. Namun perlu diingat bahwa perusahaan juga pelu

    memperhatikan kebutuhan investasinya, sehingga perusahaan perlu

    menetapkan kebijakan dividen yang berkaitan dengan penentuan pembagian

    pendapatan (earning) antara penggunaan untuk dibayarkan kepada pemegang

    saham sebagai dividen dan untuk digunakan dalam perusahaan yang akan

    diperlukan untuk investasi perusahaan.

    Universitas Sumatera Utara

  • 1. Jenis-Jenis Dividen

    Terdapat beberapa jenis dividen yang dapat dibayarkan kepada para

    pemegang saham, tergantung pada posisi dan kemampuan perusahaan

    bersangkutan. Berikut ini adalah jenis-jenis dividen menurut Brigham dan

    Houtston (2004:95):

    a. Cash Dividend (dividen Tunai) Cash dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk uang tunai. Pada umumnya cash dividend lebih disukai oleh para pemegang saham dan lebih sering dipakai perseroan jika dibandingkan dengan jenis dividen yang lain.

    b. Stock Dividend (dividen saham) Stock dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk saham, bukan dalam bentuk uang tunai. Pembayaran stock dividend juga harus disarankan adanya laba atau surplus yang tersedia, dengan adanya pembayaran dividen saham ini maka jumlah saham yang beredar meningkat, namun pembayaran dividen saham ini tidak akan merubah posisi likuiditas perusahaan karena yang dibayarkan oleh perusahaan bukan merupakan bagian dari arus kas perusahaan.

    c. Property dividend (dividen barang) Property dividend adalah dividen yang dibayarkan dalam bentuk barang (aktiva selain kas). Property dividend yang dibagikan ini haruslah merupakan barang yang dapat dibagi-bagi serta penyerahannya kepada pemegang saham tidak akan mengganggu kontinuitas perusahaan.

    2. Pengertian Kebijakan Dividen

    Kebijakan dividen merupakan suatu keputusan untuk menginvestasikan

    kembali laba yang diperoleh dari hasil operasi perusahaan atau untuk

    membagikannya kepada pemegang saham (investor).

    Menurut Martono dan Agus Harjito (2007:253), kebijakan dividen

    (dividend policy) merupakan keputusan apakah laba yang diperoleh perusahaan

    pada akhir tahun akan dibagi kepada pemegang saham dalam bentuk dividen

    Universitas Sumatera Utara

  • atau akan ditahan untuk menambah modal guna pembiayaan investasi di masa

    yang akan datang.

    Dari pengertian dividen tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa

    kebijakan dividen adalah suatu keputusan untuk menginvestasi kembali laba

    yang di peroleh dari suatu hasil operasi perusahaan atau untuk membagikannya

    kepada para pemegang saham.

    3. Bentuk Pembayaran Dividen

    Menurut Halim (2005:94), ada tiga bentuk pembayaran dividen yaitu:

    a. Dividen dalam jumlah rupiah stabil Banyak perusahaan yang menjalankan kebijakan pembayaran

    dividen yang stabil, artinya dividen per lembar saham (dividen per share) yang dibayarkan setiap tahunnya relatif tetap selama jangka waktu tertentu meskipun pendapatan per lembar saham (earning per share) per tahunnya berfluktuasi. Pembayaran dividen yang stabil ini dapat memberikan kesan positif kepada investor bahwa perusahaan tersebut mempunyai prospek yang baik di masa mendatang.

    b. Dividen dengan rasio pembayaran berfluktuasi. Beberapa perusahaan melakukan pembayaran dividen berdasarkan persentase tertentu dari laba. Karena laba berfluktuasi, maka menjalankan kebijakan ini akan berakibat jumlah dividen dalam rupiah akan berfluktuasi.

    c. Dividen tetap yang rendah ditambah dividen ekstra Pembayaran dividen ini merupakan modifikasi dari bentuk pembayaran dividen di atas. Kebijakan ini memberi fleksibilitas pada perusahaan tetapi mengakibatkan investor sedikit ragu-ragu tentang berapa besarnya dividen mereka.Apabila perusahaan sangat berfluktuasi, kebijakan ini akan merupakan pilihan terbaik.

    4. Hubungan Harga Saham dengan Dividen Per Share (DPS)

    Signalling theory menyebutkan bahwa ada kecenderungan harga saham

    akan naik jika ada pengumuman kenaikan dividen dan harga saham akan turun

    jika ada pengumuman penurunan dividen. Tetapi ada argumen lain yang

    menyebutkan bahwa dividen itu sendiri tidak menyebabkan

    Universitas Sumatera Utara

  • kenaikan/penurunan harga saham, tetapi prospek perusahaan yang ditunjukkan

    dengan meningkat/menurunnya dividen yang dibayarkan, yang menyebabkan

    perubahan harga saham. Teori ini dikenal dengan teori signal atau isi informasi

    dari dividen (Information Content of Dividend). Menurut teori ini, dividen

    mempunyai kandungan informasi yaitu prospek perusahaan di masa

    mendatang.

    Menurut Sharpe (1999:150), pengumuman kenaikan dividen

    merupakan sinyal bahwa manajemen telah menaikkan perkiraan pendapatan

    masa depan perusahaan. Oleh karena itu, pengumuman kenaikan dividen

    merupakan good news dan pada gilirannya akan menaikkan ekspektasi

    mereka mengenai pendapatan masa depan perusahaan. Satu implikasi dari

    pengumuman dividen akan menyebabkan kenaikan harga saham perusahaan

    dan pengumuman penurunan dividen akan menyebabkan penurunan harga

    saham perusahaan. Hal ini dapat ditunjukkan dalam Tabel 2.2 yang

    menggambarkan hubungan Dividend Per Share dengan Harga Saham pada

    perusahaan Food & Beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai

    berikut.

    Tabel 2.2 Hubungan Dividend Per Share dan Harga Saham

    (Dinyatakan dalam Rupiah)

    No.

    Kode

    Nama

    Perusahaan

    Dividend Per Share

    Harga Saham

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1.

    AQUA

    PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    630

    1.000

    1.200

    1.800

    110.000

    129.500

    127.000

    244.800

    2.

    DLTA

    PT Delta Djakarta

    1.300

    1.400

    3.500

    9.500

    22.800

    16.000

    20.000

    62.000

    Universitas Sumatera Utara

  • Tbk

    3.

    FAST PT Fast Food Indonesia Tbk

    30

    45

    57

    83

    1.820

    2.450

    3.100

    5.200

    4.

    INDF

    PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    35

    43

    47

    93

    1.350

    2.575

    930

    3.550

    5.

    MLBI

    PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    2.640

    3.600

    15.000

    12.500

    55.000

    55.000

    49.500

    177.000

    6.

    MYOR

    PT Mayora Indah Tbk

    35

    40

    50

    100

    1.620

    1.750

    1.140

    4.500

    7.

    SMAR

    PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART) Tbk

    46

    5

    180

    75

    3.650

    6.000

    1.700

    2.550

    8.

    TBLA

    PT Tunas Baru Lampung Tbk

    4

    7

    17

    2

    240

    630

    190

    340

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Tabel 2.2 di atas menjelaskan bahwa harga saham perusahaan food &

    beverages cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2006-2009 sejalan

    dengan kenaikan dividend per share. Sebagai bahan pengamatan dividend per

    share PT Aqua Golden Mississipi Tbk pada tahun 2006 menunjukkan nilai Rp

    630 dengan harga saham Rp 110.000 dan pada tahun 2007 dividend per share

    PT Aqua Golden Mississipi Tbk menunjukkan nilai Rp 1.000 dengan harga

    saham Rp 129.500. Terjadi kenaikan dividend per share dari tahun 2006 ke

    tahun 2007 sebesar Rp 370 dan peningkatan harga saham sebesar Rp 19.500.

    Universitas Sumatera Utara

  • D. Financial Leverage

    1. Pengertian Financial Leverage

    Financial leverage dapat diartikan sebagai kemampuan perusahaan

    dalam menggunakan kewajiban-kewajiban keuangan yang sifatnya tetap untuk

    memperbesar pengaruh perubahan Earning Before Interest and Taxes terhadap

    pendapatan per lembar saham biasa (Earning Per Share). Financial leverage

    timbul karena adanya kewajiban-kewajiban keuangan yang sifatnya tetap yang

    harus di bayar oleh perusahaan yaitu bunga atas hutang dan dividen untuk

    saham preferen. Penggunaan financial leverage dalam struktur modal

    perusahaan dengan harapan agar terjadi perubahan laba per lembar saham

    (Earning Per Share) yang lebih besar daripada perubahan laba sebelum bunga

    dan pajak (Earning Before Interest and Taxes).

    Multiplier effect yang dihasilkan karena penggunaan dana dengan biaya

    tetap ini disebut dengan tingkat leverage keuangan (Degree of Financial

    Leverage). Degree of financial leverage mengukur perubahan Earning Per

    Share karena perubahan Earning Before Interest and Taxes atau rasio antara

    persentase perubahan Earning Per Share dibanding dengan persentase

    perubahan Earning Before Interest and Taxes (Sartono, 2001:265). Sehingga,

    tingkat leverage keuangan (Degree of Financial Leverage) dapat dirumuskan

    sebagai berikut:

    EBITPerubahanPersentaseEPSPerubahanPersentaseDFL =

    Universitas Sumatera Utara

  • Menurut Sadalia (2010:130), analisis financial leverage diasumsikan

    bahwa dividen untuk pemegang saham preferen selalu di bayar setiap akhir

    periode di mana asumsi ini diperlukan karena tujuan utama dari financial

    leverage adalah untuk mengetahui berapa jumlah uang yang sesungguhnya

    tersedia bagi pemegang saham biasa setelah bunga dan dividen untuk

    pemegang saham preferen dibayarkan. Perhitungan persentase perubahan

    Earning Per Share dan Earning Before Interest and Taxes dapat ditunjukkan

    dalam tabel-tabel di bawah ini.

    Tabel 2.3 Perubahan Earning Per Share

    (Dinyatakan dalam Rupiah)

    No.

    Kode

    Nama

    Perusahaan

    Earning Per Share

    Earning Per Share

    Tahun 2005

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1. AQUA PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    4.889 3.712 5.008 6.256 7.287 -1.177 1.296 1.248 1.031

    2. DLTA PT Delta Djakarta Tbk

    3.522 2.703 2.956 5.230 7.900 -819 253 2.274 2.670

    3. FAST PT Fast Food Indonesia Tbk

    93 154 230 281 408 61 76 51 127

    4. INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    13 70 104 118 236 57 34 14 118

    5. MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    4.130 3.492 4.005 10.551 16.158 -638 513 6.546 5.607

    6. MYOR PT Mayora Indah Tbk

    60 122 185 256 485 62 63 71 229

    7. SMAR PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART) Tbk

    106 219 344 364 261 113 125 20 -103

    8. TBLA PT Tunas Baru Lampung Tbk

    4 19 23 15 33 15 4 -8 18

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Universitas Sumatera Utara

  • Tabel 2.4 Perubahan Earning Before Interest and Taxes

    (Dinyatakan dalam Rupiah)

    No.

    Nama

    Perusahaan

    Earning Before Interest and Taxes

    Earning Before Interest and Taxes

    Tahun 2005

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1. PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    91.363 79.794 95.821 118.000 135.354 -11.569 16.027 22.179 17.354

    2. PT Delta Djakarta Tbk

    79.071 60.756 66.622 117.738 178.005 -18.315 5.866 51.116 60.267

    3. PT Fast Food Indonesia Tbk

    57.871 95.967 144.161 167.904 247.148 38.096 48.194 23.743 79.244

    4. PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    425.761

    1.221.206

    2.041.409

    2.599.823

    4.063.813

    795.445

    820.203

    558.414

    1.463.990

    5. PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    128.589

    111.061 131.151 313.976 472.491 -17.528 20.090 182.825

    158.515

    6. PT Mayora Indah Tbk

    67.581 141.744 209.828 274.070 503.934 74.163 68.084 64.242 229.864

    7. PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART) Tbk

    237.687

    630.758 1.512.324

    1.478.928

    992.722 393.071

    881.566

    -33.396 -486.206

    8. PT Tunas Baru Lampung Tbk

    18.515 79.152 138.648 67.046 208.347 60.637 59.496 -71.602 141.301

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Tabel 2.5

    Persentase Perubahan Earning Per Share dan Earning Before Interest and Taxes

    No.

    Nama

    Perusahaan

    % Earning Per Share % Earning Before Interest and Taxes

    Tahun

    2006

    Tahun

    2007

    Tahun

    2008

    Tahun

    2009

    Tahun

    2006

    Tahun

    2007

    Tahun

    2008

    Tahun

    2009 1. PT Aqua

    Golden Mississipi Tbk

    -24,07 34,91 24,92 16,48 -12,66 20,08 23,14 14,70

    2. PT Delta Djakarta Tbk

    -23,25 9,35 76,92 51,05 -23,1 9,65 76,72 51,18

    3. PT Fast Food Indonesia

    65,59 49,35 22,1 45,19 65,82 50,21 16,46 47,19

    Universitas Sumatera Utara

  • Tbk

    4. PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    438,4 48,57 13,46 100 186,8 69,11 27,35 56,31

    5. PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    -15,44 14,69 163,44 53,14 -13,63 18,08 139,40 50,48

    6. PT Mayora Indah Tbk

    1,03 51,63 38,37 89,45 1,09 48,03 30,61 83,87

    7. PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART) Tbk

    100,60 57,07 5,81 -28,29 165,37 139,76 -2,20 -32,87

    8. PT Tunas Baru Lampung Tbk

    375 21,05 -0,34 120 327,50 75,16 -51,64 210,75

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Tabel 2.6

    Degree of Financial Leverage

    No.

    Kode

    Nama

    Perusahaan

    Degree of Financial Leverage

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1. AQUA PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    1,90 1,73 1,07 1,12

    2. DLTA PT Delta Djakarta Tbk

    1,00 0,96 1,00 0,99

    3. FAST PT Fast Food Indonesia Tbk

    0,99 0,98 1,34 0,95

    4. INDF PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    2,34 0,70 0,49 1,77

    5. MLBI PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    1,13 0,81 1,17 1,05

    6. MYOR PT Mayora Indah Tbk

    0,94 1,07 1,25 1,06

    7. SMAR PT Sinar Mas Agro Resources & Technology

    0,64 0,40 -2,64 0,86

    Universitas Sumatera Utara

  • (SMART) Tbk 8. TBLA PT Tunas Baru

    Lampung Tbk 1,14 0,28 0,006 0,56

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Tabel 2.3 diatas menjelaskan perubahan Earning Per Share dari tahun

    2006 sampai dengan tahun 2009. Tabel 2.4 menjelaskan perubahan Earning

    Before Interest and Taxes dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2009. Tabel

    2.5 menjelaskan persentase perubahan Earning Per Share dan persentase

    perubahan Earning Before Interest and Taxes. Tabel 2.6 menjelaskan Degree

    of Financial Leverage yang diperoleh dari perbandingan persentase perubahan

    Earning Per Share dan persentase perubahan Earning Before Interest and

    Taxes.

    2. Hubungan Financial Leverage dengan Harga Saham

    Financial leverage merupakan kemampuan perusahaan dalam

    menggunakan kewajiban financial yang sifatnya tetap untuk memperbesar

    pengaruh perubahan Earning Before Income and Tax terhadap pendapatan per

    lembar saham biasa (Earning Per Share). Peningkatan Earning Per Share

    menandakan bahwa perusahaan berhasil meningkatkan taraf kemakmuran

    investor, dan hal ini akan mendorong investor untuk menambah jumlah modal

    yang ditanamkan pada perusahaan. Financial Leverage perusahaan yang tinggi

    cenderung membuat harga saham turun, sedangkan Financial Leverage yang

    rendah akan membuat harga saham cenderung naik. Hal ini disebabkan karena

    jika Financial Leverage tinggi maka dapat dikatakan hutang perusahaan

    semakin besar, dan investor merasa resiko berinvestasi semakin besar pula,

    Universitas Sumatera Utara

  • sehingga investor merespon negatif terhadap kenaikan Financial Leverage. Hal

    ini dapat ditunjukkan dalam Tabel 2.7 yang menggambarkan hubungan

    Financial Leverage dengan Harga Saham pada perusahaan Food & Beverage

    yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia sebagai berikut.

    Tabel 2.7 Hubungan Financial Leverage dan Harga Saham

    (Dinyatakan dalam Rupiah)

    No.

    Kode

    Nama

    Perusahaan

    Financial Leverage

    Harga Saham

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    Tahun 2006

    Tahun 2007

    Tahun 2008

    Tahun 2009

    1.

    AQUA

    PT Aqua Golden Mississipi Tbk

    1,90

    1,73

    1,07

    1,12

    110.000

    129.500

    127.000

    244.800

    2.

    DLTA

    PT Delta Djakarta Tbk

    1,00

    0,96

    1,00

    0,99

    22.800

    16.000

    20.000

    62.000

    3.

    FAST

    PT Fast Food Indonesia Tbk

    0,99

    0,98

    1,34

    0,95

    1.820

    2.450

    3.100

    5.200

    4.

    INDF

    PT Indofood Sukses Makmur Tbk

    3,21

    0,70

    0,49

    1,77

    1.350

    2.575

    930

    3.550

    5.

    MLBI

    PT Multi Bintang Indonesia Tbk

    1,13

    0,81

    1,17

    1,05

    55.000

    55.000

    49.500

    177.000

    6.

    MYOR

    PT Mayora Indah Tbk

    0,94

    1,07

    1,25

    1,06

    1.620

    1.750

    1.140

    4.500

    7.

    SMAR

    PT Sinar Mas Agro Resources & Technology (SMART) Tbk

    0,64

    0,40

    -2,64

    0,86

    3.650

    6.000

    1.700

    2.550

    8.

    TBLA

    PT Tunas Baru Lampung Tbk

    1,14

    0,28

    0,006

    0,56

    240

    630

    190

    340

    Sumber: Diolah Peneliti dari ICMD (2011)

    Tabel 2.7 di atas menjelaskan bahwa harga saham perusahaan food &

    beverages cenderung mengalami kenaikan dari tahun 2006-2009 berbanding

    Universitas Sumatera Utara

  • terbalik dengan penurunan financial leverage. Sebagai bahan pengamatan

    financial leverage PT Aqua Golden Mississipi Tbk pada tahun 2006

    menunjukkan nilai 1,90 dengan harga saham Rp 110.000 dan pada tahun 2007

    financial leverage PT Aqua Golden Mississipi Tbk menunjukkan nilai 1,73

    dengan harga saham Rp 129.500. Terjadi penurunan financial leverage dari

    tahun 2006 ke tahun 2007 sebesar 0,17 dan peningkatan harga saham sebesar

    Rp 19.500.

    E. Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Tabel 2.8 Ringkasan Tinjauan Penelitian Terdahulu

    Tahun Peneliti Uraian Hasil Penelitian 2004 Susanto Susanto meneliti pengaruh Financial Leverage, Earning Per

    Share, dan Price Earning Ratio terhadap Harga Saham Blue Chip di Bursa Efek Surabaya periode 1997-2001. Hasil penelitan menunjukkan bahwa variabel independen Financial Leverage, Earning Per Share, dan Price Earning Ratio tidak berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun signifikan terhadap variabel dependen yaitu Harga Saham Blue Chip di Bursa Efek Surabaya.

    2005 Miftah Miftah meneliti pengaruh Dividend Per Share dan Financial Leverage terhadap Harga Saham studi kasus pada PT. Bank NISP di BEJ periode 1999-2003. Hasil penelitan menunjukkan bahwa variabel independen Dividend Per Share dan Financial Leverage, tidak berpengaruh signifikan baik secara parsial maupun simultan terhadap variabel dependen yaitu Harga Saham pada PT. Bank NISP di BEJ periode 1999-2003.

    2008 Hasugian Hasugian meneliti pengaruh Kebijakan Dividen, Volume Perdagangan Saham, dan Leverage Perusahaan terhadap Harga Saham setelah Ex Dividend Day di Bursa Efek Indonesia periode 2005-2007. Berdasarkan analisis yang dilakukan secara parsial maupun secara simultan antara variabel-variabel independen (dividen, volume, leverage) tidak terdapat pengaruh dengan variabel dependen (Harga Saham setelah Ex Dividend Day).

    2009 Naibaho Naibaho meneliti pengaruh Dividend Per Share (DPS) dan Return On Equity (ROE) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Makanan dan Minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2004-2007. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Dividend Per Share memiliki pengaruh yang signifikan

    Universitas Sumatera Utara

  • terhadap harga saham perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia, sedangkan Return On Equity tidak memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia. Dividend Per Share dan Return On Equity secara simultan (bersama-sama) memiliki pengaruh yang signifikan terhadap harga saham perusahaan makanan dan minuman yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

    2010 Subrata Subrata meneliti pengaruh Earning Per Share dan Dividend Per Share terhadap Harga Saham pada Perusahaan Manufaktur yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2006-2008. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara parsial Earning Per Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS) masing-masing berpengaruh secara signifikan terhadap harga saham. Secara simultan, hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Earning Per Share (EPS) dan Dividend Per Share (DPS) berpengaruh signifikan terhadap harga saham.

    Sumber: Diolah Peneliti (2011)

    F. Kerangka Konseptual dan Hipotesis Penelitian

    1. Kerangka Konseptual

    Menurut Sekaran (2006: 127) mengemukakan bahwa kerangka

    konseptual merupakan model konseptual tentang bagaimana teori berhubungan

    dengan berbagai faktor yang telah diidentifikasi sebagai masalah yang

    penting. Pada penelitian ini variabel independen adalah Earning Per Share,

    Dividend Per share, dan Financial Leverage sedangkan variabel dependen

    adalah harga saham. Earning per share menggambarkan perbandingan antara

    laba yang tersedia bagi pemegang saham biasa (laba setelah pajak dikurangi

    dividen saham preferen) dengan jumlah saham yang beredar selama periode

    perhitungan yang dilakukan. Dividend per share merupakan rasio yang

    mengukur seberapa besar dividen yang dibagikan dibandingkan dengan jumlah

    saham yang beredar pada tahun tertentu. Financial leverage diartikan sebagai

    persentase perubahan Earning Per Share terhadap Earning Before Interest and

    Universitas Sumatera Utara

  • Taxes. Adapun kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan

    sebagai berikut:

    H1

    H2

    H3

    H4

    Gambar 2.1 Kerangka Konseptual

    2. Hipotesis Penelitian

    Menurut Erlina (2007:41), hipotesis adalah proposisi yang dirumuskan

    dengan maksud untuk diuji secara empiris. Proposisi merupakan ungkapan

    atau pernyataan yang dapat dipercaya, disangkal atau diuji kebenarannya

    mengenai konsep atau konstruk yang menjelaskan atau memprediksi

    fenomena-fenomena. Dengan demikian, hipotesis merupakan penjelasan

    sementara tentang perilaku, fenomena atau keadaan tertentu yang telah terjadi

    atau akan terjadi. Hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

    H1 : Earning Per Share (EPS) berpengaruh secara parsial terhadap harga

    saham pada perusahaan food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia.

    Earning Per Share

    (X1)

    Dividend Per Share

    (X2)

    Financial Leverage

    (X3)

    Harga Saham

    (Y)

    Universitas Sumatera Utara

  • H2 : Dividen Per share (DPS) berpengaruh secara parsial terhadap harga

    saham pada perusahaan food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia.

    H3 : Financial Leverage (FL) berpengaruh secara parsial terhadap harga

    saham pada perusahaan food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek

    Indonesia.

    H4 : Earning Per Share (EPS), Dividen Per share (DPS) dan Financial

    Leverage (FL) berpengaruh secara simultan terhadap harga saham pada

    perusahaan food & beverage yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

    Universitas Sumatera Utara