bab ii tinjauan pustaka 2.1 skizofrenia 2.1.1 pengertian ii.pdf10 bab ii tinjauan pustaka 2.1...

28
10 BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Skizofrenia 2.1.1 Pengertian Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2009). Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di mana- mana sejak dahulu kala. Sebelum Kraepelin tidak ada kesatuan pendapat mengenai berbagai gangguan jiwa yang sekarang dinamakan skizofrenia, (Kaplan dan Sadock, 2003). Gangguan skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi, menerima, dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi, dan beperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2004). Menurut Kreapelin pada penyakit ini terjadi kemunduran intelegensi sebelum waktunya; sebab itu dinamakannya demensia (kemunduran intelegensi) precox (muda, sebelum waktunya), (Kaplan dan Sadock, 2010). Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan pengertian skizofrenia adalah gangguan jiwa yang menetap, bersifat kronis dan bisa terjadi kekambuhan dengan gejala psikotik beranekaragam dan tidak khas, seperti: penurunan fungsi

Upload: vodan

Post on 10-Mar-2019

227 views

Category:

Documents


0 download

TRANSCRIPT

10

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Skizofrenia

2.1.1 Pengertian

Skizofrenia berasal dari dua kata, yaitu “Skizo” yang artinya retak atau

pecah (split), dan “frenia” yang artinya jiwa. Dengan demikian seseorang yang

menderita gangguan jiwa Skizofrenia adalah orang yang mengalami keretakan

jiwa atau keretakan kepribadian (splitting of personality) (Hawari, 2009).

Skizofrenia merupakan suatu bentuk psikosa yang sering dijumpai di mana-

mana sejak dahulu kala. Sebelum Kraepelin tidak ada kesatuan pendapat

mengenai berbagai gangguan jiwa yang sekarang dinamakan skizofrenia, (Kaplan

dan Sadock, 2003). Gangguan skizofrenia adalah sekelompok reaksi psikotik yang

mempengaruhi area fungsi individu, termasuk berpikir dan berkomunikasi,

menerima, dan menginterprestasikan realitas, merasakan dan menunjukkan emosi,

dan beperilaku dengan sikap yang dapat diterima secara sosial (Isaacs, 2004).

Menurut Kreapelin pada penyakit ini terjadi kemunduran intelegensi sebelum

waktunya; sebab itu dinamakannya demensia (kemunduran intelegensi) precox

(muda, sebelum waktunya), (Kaplan dan Sadock, 2010).

Berdasarkan teori diatas maka dapat disimpulkan pengertian skizofrenia

adalah gangguan jiwa yang menetap, bersifat kronis dan bisa terjadi kekambuhan

dengan gejala psikotik beranekaragam dan tidak khas, seperti: penurunan fungsi

11

kognitif yang disertai halusinasi dan waham, afek datar, disorganisasi perilaku dan

memburuknya hubungan sosial.

2.1.2 Tanda dan Gejala

Perjalanan penyakit skizofrenia dapat dibagi menjadi 3 yaitu :

1. Fase prodromal

Biasanya timbul gejala-gejala non spesifik yang lamanya bisa minggu,

bulan ataupun lebih dari satu tahun sebelum onset psikotik menjadi jelas. Gejala

tersebut meliputi : hendaya fungsi pekerjaan, fungsi sosial, fungsi penggunaan

waktu luang dan fungsi perawatan diri. Perubahan-perubahan ini akan

mengganggu individu serta membuat resah keluarga dan teman, mereka akan

mengatakan “orang ini tidak seperti yang dulu”. Semakin lama fase prodromal

semakin buruk prognosisnya.

2. Fase aktif

Gejala positif/psikotik menjadi jelas seperti tingkah laku katatonik,

inkoherensi, waham, halusinasi disertai gangguan afek. Hampir semua individu

datang berobat pada fase ini, bila tidak mendapat pengobatan gejala-gejala

tersebut dapat hilang spontan suatu saat mengalami eksaserbasi atau terus

bertahan. Fase aktif akan diikuti oleh fase residual.

3. Fase residual

Gejala-gejala fase ini sama dengan fase prodromal tetapi gejala

positif/psikotiknya sudah berkurang. Di samping gejala-gejala yang terjadi pada

ketiga fase di atas, pendenta skizofrenia juga mengalami gangguan kognitif

12

berupa gangguan berbicara spontan, mengurutkan peristiwa, kewaspadaan dan

eksekutif (atensi, konsentrasi, hubungan sosial) (Luana, 2007).

Sedangkan menurut Bleuler dalam Maramis (2008) gejala skizofrenia dapat

dibagi menjadi dua kelompok, yaitu :

1) Gejala primer.

Gejala primer terdiri dari gangguan proses berpikir, gangguan emosi,

gangguan kemauan serta autisme.

2) Gejala sekunder.

Gangguan sekunder terdiri dari waham, halusinasi, dan gejala katatonik

maupun gangguan psikomotor yang lain.

2.1.3 Jenis Skizofrenia

1) Skizofrenia simpleks

Skizofrenia simpleks, sering timbul pertama kali pada masa pubertas. Gejala

utama ialah kedangkalan emosi dan kemunduran kemauan. Gangguan proses

berfikir biasanya sukar ditemukan. Waham dan halusinasi jarang sekali terdapat.

Jenis ini timbul secara perlahan. Pada permulaan mungkin penderita kurang

memperhatikan keluarganya atau menarik diri dari pergaulan. Makin lama ia

semakin mundur dalam kerjaan atau pelajaran dan pada akhirnya menjadi

pengangguran, dan bila tidak ada orang yang menolongnya ia akan mungkin akan

menjadi “pengemis”, “pelacur” atau “penjahat” (Maramis, 2008).

13

2) Skizofrenia hebefrenik

Skizofrenia hebefrenik atau disebut juga hebefrenia, menurut Maramis

(2008) permulaannya perlahan-lahan dan sering timbul pada masa remaja atau

antara 15–25 tahun. Gejala yang menyolok adalah gangguan proses berfikir,

gangguan kemauan dan adanya depersonalisasi. Gangguan psikomotor seperti

perilaku kekanak-kanakan sering terdapat pada jenis ini. Waham dan halusinasi

banyak sekali.

3) Skizofrenia katatonik

Menurut Maramis (2008) skizofrenia katatonik atau disebut juga katatonia,

timbulnya pertama kali antara umur 15-30 tahun dan biasanya akut serta sering

didahului oleh stres emosional. Mungkin terjadi gaduh gelisah katatonik atau

stupor katatonik.

a. Stupor katatonik

Pada stupor katatonik, penderita tidak menunjukan perhatian sama sekali

terhadap lingkungannya dan emosinya sangat dangkal. Secara tiba-tiba

atau perlahan-lahan penderita keluar dari keadaan stupor ini dan mulai

berbicara dan bergerak.

b. Gaduh gelisah katatonik

Pada gaduh gelisah katatonik, terdapat hiperaktivitas motorik, tapi tidak

disertai dengan emosi yang semestinya dan tidak dipengaruhi oleh

rangsangan dari luar.

14

4) Skizofrenia Paranoid

Jenis ini berbeda dari jenis-jenis lainnya dalam perjalanan penyakit.

Hebefrenia dan katatonia sering lama-kelamaan menunjukkan gejala-gejala

skizofrenia simplek atau gejala campuran hebefrenia dan katatonia. Tidak

demikian halnya dengan skizofrenia paranoid yang jalannya agak konstan

(Maramis, 2008).

5) Episode skizofrenia akut

Gejala skizofrenia ini timbul mendadak sekali dan pasien seperti keadaan

mimpi. Kesadarannya mungkin berkabut. Dalam keadaan ini timbul perasaan

seakan-akan dunia luar dan dirinya sendiri berubah. Semuanya seakan-akan

mempunyai arti yang khusus baginya. Prognosisnya baik dalam waktu beberapa

minggu atau biasanya kurang dari enam bulan penderita sudah baik. Kadang-

kadang bila kesadaran yang berkabut tadi hilang, maka timbul gejala-gejala salah

satu jenis skizofrenia yang lainnya (Maramis, 2008).

6) Skizofrenia residual

Skizofrenia residual, merupakan keadaan skizofrenia dengan gejala-gejala

primernya Bleuler, tetapi tidak jelas adanya gejala-gejala sekunder. Keadaan ini

timbul sesudah beberapa kali serangan skizofrenia (Maramis, 2008).

7) Skizofrenia skizoafektif

Pada skizofrenia skizoafektif, di samping gejala-gejala skizofrenia terdapat

menonjol secara bersamaan, juga gejala-gejala depresi atau gejala-gejala mania.

Jenis ini cenderung untuk menjadi sembuh tanpa efek, tetapi mungkin juga timbul

lagi serangan (Maramis, 2008).

15

2.1.4 Penatalaksanaan Skizofrenia

Ada berbagai macam terapi yang bisa kita berikan pada skizofrenia. Hal ini

diberikan dengan kombinasi satu sama lain dan dengan jangka waktu yang relatif

cukup lama. Terapi skizofrenia terdiri dari pemberian obat-obatan, psikoterapi,

dan rehabilitasi. Terapi psikososial pada skizofrenia meliputi: terapi individu,

terapi kelompok, terapi keluarga, rehabilitasi psikiatri, latihan ketrampilan sosial

dan manajemen kasus (Hawari, 2009).

WHO merekomendasikan sistem 4 level untuk penanganan masalah gangguan

jiwa, baik berbasis masyarakat maupun pada tatanan kebijakan seperti puskesmas

dan rumah sakit.

1) Level keempat adalah penanganan kesehatan jiwa di keluarga

2) Level ketiga adalah dukungan dan penanganan kesehatan jiwa di masyarakat

3) Level kedua adalah penanganan kesehatan jiwa melalui puskesmas

4) Level pertama adalah pelayanan kesehatan jiwa komunitas

Penerapan nyata yang dilakukan oleh pihak RSJ melalui 4 level tersebut yaitu:

1) Level 4 : melakukan home visit, namun tidak ke semua pasien (hanya yang

bermasalah). Contohnya pasien yang jarang dikunjungi pihak

keluarga, pasien yang sering mengalami kekambuhan, dan pasien

dengan riwayat pemasungan.

2) Level 3 : memberikan penyuluhan/pengobatan gratis melalui program

bansos.

3) Level 2 : RSJ memiliki 32 jejaring puskesmas diseluruh Bali. Pihak RSJ

juga dengan rutin melakukan kunjungan setiap bulannya disetiap

16

puskesmas, memberikan pengobatan secara rutin, melatih tenaga

puskesmas (dokter & perawat) untuk mampu memberikan

penanganan pertama pada pasien.

4) Level 1 : RSJ setiap tahunnya melakukan bakti sosial dan program

komunitas yaitu penanganan & penyuluhan.

2.2 Konsep Keluarga

2.2.1 Pengertian

Keluarga adalah sekumpulan orang yang dihubungkan oleh ikatan

perkawinan, adopsi, kelahiran yang bertujuan menciptakan dan mempertahankan

budaya yang umum, meningkatkan perkembangan fisik, mental, emosional serta

sosial individu-individu yang didalamnya dilihat dari interaksi yang regular dan

ditandai dengan adanya ketergantungan dan hubungan untuk mencapai tujuan

umum (Achjar, 2010). Keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat yang terdiri

dari kepala keluarga dan beberapa orang yang berkumpul dan tinggal di suatu

tempat dibawah satu atap dalam keadaaan saling ketergantungan (Ali. Z, 2008).

2.2.2 Fungsi Keluarga

Fungsi keluarga secara umum menurut Friedman M. (1998) dalam Achjar, (2010)

sebagai berikut :

1) Fungsi Afektif (the affective function)

17

Yaitu yang berhubungan dengan fungsi internal keluarga yang

merupakan dasar keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan

kebutuhan psikososial. Anggota keluarga mengembangkan gambaran

dirinya yang positif, peranan yang dimiliki dengan baik dan penuh rasa

kasih sayang.

2) Fungsi Sosial (Sosialization And Placement Function)

Proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu yang

menghasilkan interaksi sosial dan melaksanakan perannya dalam

lingkungan sosial. Keluarga merupakan tempat individu melakukan

sosialisasi dimana anggota keluarga belajar disiplin norma keluarga,

prilaku melalui interaksi dalam keluarga. Selanjutnya individu maupun

keluarga berperan didalam masyarakat.

3) Fungsi Reproduksi (The Reproduction Function)

Fungsi reproduksi keluarga berfungsi untuk meneruskan

kelangsungan keturunan dan menambah sumber daya manusia.

4) Fungsi Ekonomi (The Economic Function)

Fungsi ekonomi keluarga adalah untukmemenuhi kebutuhan keluarga

seperti makanan, pakaian, perumahan dan lain-lain.

5) Fungsi Perawatan dan Pemeliharaan Kesehatan (The Health Care

Function)

Keluarga menyediakan makanan, pakaian, perlindungan dan asuhan

kesehatan/keperawatan dan pemeliharaan kesehatan yang

mempengaruhi status kesehatan keluarga dan individu.

18

2.2.3 Tipe Keluarga

Menurut Achjar (2010) secara tradisional keluarga dikelompokkan

menjadi dua, yaitu :

1) Keluarga inti (Nuclear Family) adalah keluarga yang hanya terdiri dari ayah,

ibu dan anak yang diperoleh dari keturunannya atau adopsi atau keduanya.

2) Keluarga besar (Extended Family) adalah keluarga inti ditambah anggota

keluarga lain yang masih mempunyai hubungan darah (kakek, nenek, paman,

bibi).

2.2.4 Lima Tugas Keluarga Dalam Bidang Kesehatan

Lima tugas keluarga dalam bidang Kesehatan menurut Friedman (1998)

dalam Achjar (2010) adalah :

1) Mengenal gangguan perkembangan Kesehatan setiap anggotanya

Kesehatan merupakan kebutuhan keluarga yang tidak boleh diabaikan.

Karena tanpa kesehatan segala sesuatu tidak akan berarti dan karena kesehatanlah

seluruh kekuatan sumber daya dan dana keluarga habis. Orang tua perlu mengenal

keadaan kesehatan dan perubahan-perubahan yang di alami anggota keluarga,

secara tidak langsung menjadi perhatian orang tua/keluarga. Apabila menyadari

adanya perubahan pada anggota keluarga perlu dicatat kapan terjadinya,

perubahan apa yang terjadi, dan seberapa besar perubahannya.

2) Mengambil keputusan untuk melakukan tindakan yang tepat.

Tugas ini merupakan upaya keluarga yang utama untuk mencari

pertolongan yang tepat sesuai dengan keadaan keluarga, dengan pertimbangan

19

siapa diantara keluarga yang mempunyai kemampuan memutuskan untuk

menentukan tindakan keluarga.

3) Memberikan perawatan pada anggota keluarga yang sakit, dan yang tidak

dapat membantu dirinya sendiri karena cacat atau usianya terlalu muda.

Anggota keluarga yang mengalami gangguan kesehatan perlu memperoleh

tindakan lanjutan atau perawatan agar masalah yang lebih parah tidak terjadi.

Perawatan dapat dilakukan di institusi pelayanan kesehatan atau di rumah, apabila

keluarga telah memiliki kemampuan melakukan tindakan untuk pertolongan

pertama.

4) Mempertahankan suasana di rumah yang menguntungkan kesehatan dan

perkembangan kepribadian anggota keluarga.

Keluarga mengetahui sumber – sumber keluarga yang dimiliki, melihat

keuntungan atau manfaat pemeliharaan lingkungan, mengetahui pentingnya

hygiene sanitasi, mengetahui upaya pencegahan penyakit, sikap atau pandangan

keluarga terhadap hygiene sanitasi, kekompakan antara anggota keluarga.

5) Mempertahankan hubungan timbal balik antara keluarga dan lembaga-

lembaga kesehatan yang menunjukkan pemanfaatan dengan baik fasilitas-

fasilitas Kesehatan yang ada.

Keluarga mengetahui keberadaan fasilitas keluarga,memahami

keuntungan-keuntungan yang dapat diperoleh dari fasilitas kesehatan, tingkat

kepercayaan keluarga terhadap petugas dan fasilitas kesehatan, mempunyai

pengalaman yang kurang baik terhadap petugas kesehatan, fasilitas kesehatan

yang ada terjangkau oleh keluarga.

20

2.3 Persepsi

2.3.1 Pengertian

Persepsi merupakan suatu proses yang timbul akibat adanya stimulus

(rangsangan) yang diterima melalui lima indera sehingga seseorang dapat

menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan dan hal ini dipengaruhi pula oleh

pengalaman-pengalaman yang ada pada diri yang bersangkutan. Persepsi dapat

dinyatakan pula sebagai proses dimana seseorang menyeleksi, mengorganisasikan,

dan menginterpretasi stimuli yang diterima pancaindera, ke dalam suatu gambaran

dunia yang berarti dan menyeluruh (Setiadi, 2010).

Persepsi adalah penafsiran suatu obyek, peristiwa atau informasi yang

dilandasi oleh pengalaman hidup seseorang yang melakukan penafsiran itu.

Dengan demikian dapat dikatakan juga bahwa persepsi adalah hasil pikiran

seseorang dari situasi tertentu (Rahmat, 2010)

Menurut Sunaryo (2004) persepsi dapat diartikan sebagai proses

diterimanya rangsang melalui panca indera dengan didahului oleh perhatian

sehingga individu mampu mengetahui, mengartikan dan menghayati tentang hal

yang di amati, baik yang ada diluar maupun di dalam diri individu.

Dengan demikian, rangsangan yang diterima alat indra setiap individu tiap

keluarga yang kemudian diterima oleh otak menjadi sebuah informasi dan

merupakan interpretasi yang dimiliki oleh keluarga terhadap anggota keluarga

yang menderita skizofrenia. Informasi yang diperoleh tersebut akan digunakan

sebagai pengetahuan dalam merawat anggota keluarga yang menderita

skizofrenia.

21

Berdasarkan beberapa pengertian di atas dapat disimpulkan persepsi adalah

proses kognitif yang dialami oleh setiap orang di dalam memahami informasi

tentang lingkungannya, baik lewat penglihatan, pendengaran, penghayatan,

perasaan dan penciuman. Kunci untuk memahami persepsi adalah pengenalan

bahwa persepsi merupakan penafsiran yang unik terhadap situasi dan bukannya

suatu pencatatan yang benar terhadap situasi.

2.3.2 Proses Pembentukan Persepsi

Proses terjadinya persepsi pada diri individu tidak berlangsung begitu saja,

tetapi melalui suatu proses. Proses persepsi adalah peristiwa dua arah yaitu

sebagai hasil aksi dan reaksi, terjadinya persepsi melalui suatu proses, yaitu

melalui beberapa tahap sebagai berikut: 1) Suatu obyek atau sasaran menimbulkan

stimulus, selanjutnya stimulus tersebut ditangkap oleh alat indera. Proses ini

berlangsung secara alami dan berkaitan dengan segi fisik. Proses tersebut

dinamakan proses kealaman; 2) Stimulus suatu obyek yang diterima oleh alat

indera, kemudian disalurkan ke otak melalui syaraf sensoris. Proses pentransferan

stimulus ke otak disebut proses psikologis, yaitu berfungsinya alat indera secara

normal, dan 3) Otak selanjutnya memproses stimulus hingga individu menyadari

obyek yang diterima oleh alat inderanya. Proses ini juga disebut proses psikologis.

Dalam hal ini terjadilah adanya proses persepsi yaitu suatu proses di mana

individu mengetahui dan menyadari suatu obyek berdasarkan stimulus yang

mengenai alat inderanya (Walgito, 2009).

22

Menurut Setiadi (2010) sesungguhnya persepsi dibentuk oleh tiga

pengaruh yakni :

a. Karakteristik dari stimuli (rangsangan) dimana stimulus merupakan hal diluar

individu yang dapat berbentuk fisik, visual atau komunikasi verbal yang dapat

mempengaruhi tanggapan individu.

b. Hubungan stimuli dengan sekelilingnya. Persepsi yang dibentuk oleh

seseorang dipengaruhi oleh pikiran dan lingkungan sekitarnya, oleh karena itu

persepsi memiliki sifat subjektif, hal tersebut berarti bahwa setiap orang dapat

memiliki persepsi yang berbeda terhadap satu objek yang sama.

c. Kondisi yang ada dalam diri individu yang bersangkutan.

2.3.3 Faktor yang Mempengaruhi Persepsi

Menurut Rahmat (2010) faktor-faktor yang menentukan persepsi dibagi

menjadi dua yaitu : faktor fungsional dan faktor struktural.

1) Faktor fungsional

Faktor fungsional adalah faktor yang berasal dari kebutuhan, pengalaman

masa lalu dan hal-hal lain yang termasuk apa yang kita sebut sebagai

faktor-faktor personal. Faktor fungsional yang menentukan persepsi adalah

obyek-obyek yang memenuhi tujuan individu yang melakukan persepsi.

2) Faktor struktural

Faktor struktural adalah faktor-faktor yang berasal semata-mata dari sifat

stimulus fisik terhadap efek-efek syaraf yang ditimbulkan pada sistem

saraf individu. Faktor-faktor struktural yang menentukan persepsi menurut

23

teori Gestalt bila kita ingin memahami suatu peristiwa kita tidak dapat

meneliti faktor-faktor yang terpisah tetapi memandangnya dalam

hubungan keseluruhan.

Tertarik tidaknya individu untuk memperhatikan stimulus dipengaruhi

oleh dua faktor yaitu, faktor internal (kebiasaan, minat, emosi dan keadaan

biologis) dan faktor eksternal (intensitas, gerakan, dan pengulangan stimulus).

1) Faktor eksternal

a. Gerakan, seperti organisme lain, bahwa manusia secara visual tertarik pada

obyek-obyek yang bergerak. Contohnya kita senang melihat huruf dalam

display yang bergerak menampilkan nama barang yang diiklankan.

b. Intensitas stimuli, dimana kita akan memperhatikan stimuli yang lebih

menonjol dari stimuli yang lain.

c. Kebaruan, bahwa hal-hal baru, yang luar biasa, yang berbeda akan lebih

menarik perhatian.

d. Perulangan, hal-hal yang disajikan berkali-kali, bila disertai dengan sedikit

variasi, akan menarik perhatian. Disini unsur “familiarity” (yang sudah

kita kenal) berpadu dengan unsur-unsur “novelty” (yang baru kita kenal).

Perulangan juga mengandung unsur sugesti yang mempengaruhi bawah

sadar kita.

2) Faktor internal

a. Kebiasaan, kecenderungan untuk mempertahankan pola berpikir tertentu,

atau melihat masalah hanya dari satu sisi saja, atau kepercayaan yang

berlebihan dan tanpa kritis pada pendapat otoritas.

24

b. Minat, suatu kondisi yang terjadi apabila seseorang melihat ciri-ciri atau

arti sementara situasi yang dihubungkan dengan keinginan-keinginan atau

kebutuhannya sendiri.

c. Emosi, sebagai manusia yang utuh, kita tidak dapat mengesampingkan

emosi, walaupun emosi bukan hambatan utama. Tetapi bila emosi itu

sudah mencapai intensitas yang begitu tinggi akan mengakibatkan stress,

yang menyebabkan sulit berpikir efisien.

d. Keadaan biologis, misalnya keadaan lapar, maka seluruh pikiran

didominasi oleh makanan. Sedangkan bagi orang yang kenyang akan

menaruh perhatian pada halhal lain. Kebutuhan biologis menyebabkan

persepsi yang berbeda.

Secara umum terdapat 3 faktor yang mempengaruhi persepsi seseorang

(Notoatmojo, 2010 ) yaitu :

1) Diri orang yang bersangkutan, apabila seseorang melihat sesuatu dan

berusaha memberikan interpretasi tentang apa yang dilihat itu, ia

dipengaruhi oleh karakteristik individual juga turut berpengaruh, serta sikap,

motif, kepentinagan, minat, pengalaman dan harapannya.

2) Sasaran dan persepsi tersebut, sasaran itu mungkin berupa ruang benda atau

peristiwa, sifat sasaran itu biasanya berpengaruh terhadap persepsi orang

yang melihatnya.

3) Faktor situasi, persepsi dilihat dari situasi dimana persepsi itu perlu

mendapat perubahan, situasi merupakan faktor yang turut berperan dalam

25

pertumbuhan persepsi seseorang. Pengembangan persepsi seserang dapat

dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain :

a. Psikologi, persepsi seseorang mengenai segala sesuatu di alam dunia

ini sangat dipengaruhi oleh keadaan psikologi.

b. Keluarga, pengaruhnya yang paling besar terhadap anak-anak adalah

keluarganya. Orang tua telah mengembangkan suatu cara yang

khusus didalam memahami dan melihat kenyataan didunia ini,

banyak sikap dan persepsi-persepsi mereka diturunkan kepada anak-

anak

c. Kebudayaan dan lingkungan masyarakat tertentu juga merupakan

salah satu faktor yang kuat didalam mempengaruhi sikap, nilai, dan

cara seseorang memandang dan memahami keadaan di dunia ini.

2.3.4 Jenis Persepsi

Ada dua macam persepsi, yaitu :

1) External perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya

rangsang yang datang dari luar diri individu.

2) Self-perception, yaitu persepsi yang terjadi karena adanya rangsang

yang berasal dari dalam diri individu. Dalam hal ini yang menjadi

obyek adalah dirinya sendiri (Sunaryo, 2009).

26

2.3.5 Persepsi Keluarga Tentang Skizofrenia

Keluarga merupakan sumber pengobatan yang paling berperan bagi

anggota keluarganya yang sakit. Sikap yang baik oleh keluarga serta

dukungan sosial dapat melemahkan dampak stress dan secara langsung akan

menimbulkan dampak positif bagi kesehatan mental individu. Sikap positif

keluarga juga secara langsung akan menurunkan angka kejadian stress

individu serta konsekuensi negatifnya (Lestari dan Kartinah, 2012).

Persepsi keluarga terhadap skizofrenia tidak tergantung terhadap status

sosial-ekonomi keluarga. Persepsi negatif juga sering terjadi pada keluarga

dengan status sosial-ekonomi yang tinggi. Persepsi negatif ini, biasanya

disikapi keluarga dengan menyerahkan pengobatan sepenuhnya pada pihak

rumah sakit, mereka berkeyakinan bahwa dengan perawatan dan pengobatan

di rumah sakit jiwa kesempatan untuk sembuh akan menjadi lebih besar

(Amelia dan Anwar, 2013).

Di negara-negara maju, persepsi masyarakat terhadap skizofrenia lebih

didasari oleh pengetahuan psikologis. Sedangkan pada negara-negara

berkembang, persepsi masyarakatnya terhadap skizofrenia lebih dipengaruhi

oleh unsur mitologi, sehingga sikap dan perilaku keluarga terhadap penderita

skizofrenia juga akan dipengaruhi oleh mitos-mitos tersebut. Hal ini

mendorong masyarakat untuk membawa pasien ke dukun ataupun

pengobatan tradisional lainnya sebagai alternatif utama pengobatan (Nurtanti,

2005)

27

2.3.6 Pengukuran Persepsi

Pengukuran persepsi keluarga dilakukan untuk mengetahui bagaimana

persepsi keluarga mengenai penyakit skizofrenia yang diderita oleh anggota

keluarganya. Penilaian terhadap persepsi keluarga didasarkan pada

pengalaman keluarga selama merawat anggota keluarganya yang menderita

skizofrenia. Menurut Rahmat (2010), persepsi dilandasi oleh pengalaman

hidup seseorang yang kemudian ditafsirkan menjadi sebuah gagasan oleh

pelakunya. Berdasarkan dari pengalaman keluarga, persepsi dapat dinilai

dengan aspek bagaimana persepsi keluarga tentang gejala penyakit

skizofrenia, beratnya penyakit skizofrenia, resiko penyakit skizofrenia dan

pencegahan penyakit skizofrenia.

Persepsi keluarga terhadap skizofrenia dapat digolongkan menjadi

persepsi negatif dan persepsi positif. Persepsi keluarga dikatakan negatif

apabila skor yang didapatkan kurang dari rata-rata kelas, dan dikatakan

positif apabila lebih besar dari rata-rata kelas (Lestari dan Kartinah, 2002).

2.4 Ekspresi Emosi

2.4.1 Pengertian Emosi

Emosi berasal dari bahasa Latin, yaitu emovere, yang berarti bergerak

menjauh. Sehingga dapat diartikan kecenderungan bergerak merupakan hal

mutlak dari emosi. Daniel Goleman (2002) mengatakan bahwa emosi merujuk

pada suatu perasaan dan pikiran yang khas, suatu keadaan biologis dan psikologis

28

dan serangkaian kecenderungan untuk bertindak. Emosi merupakan reaksi

terhadap rangsangan dari luar dan dalam diri individu.

Chaplin (2002) merumuskan emosi sebagai suatu keadaan yang terangsang

dari organisme mencakup perubahan-perubahan yang disadari, yang mendalam

sifatnya, dan perubahan perilaku. Emosi cenderung terjadi dalam kaitannya

dengan perilaku yang mengarah atau menyingkir terhadap sesuatu. Perilaku

tersebut pada umumnya disertai adanya ekspresi kejasmanian sehingga orang lain

dapat mengetahui bahwa seseorang sedang mengalami emosi.

2.4.2 Ekspresi Emosi

Ekspresi emosi merupakan kesatuan dari emosi, sikap dan perilaku yang

diekspresikan oleh seseorang (Nurtanti, 2005). Ekspresi seseorang merupakan

suatu indikator yang dapat digunakan dalam menilai kemunculan ekspresi

seseorang. Ekspresi tersebut muncul secara spontan dan seringkali sulit dikontrol.

Ekspresi emosi seseorang dipengaruhi oleh genetis seseorang. Charles Darwin,

pada abad ke-19 mengatakan bahwa dasar dari ekspresi wajah dari emosi-emosi

tertentu merupakan bawaan lahir.

2.4.3 Bentuk-bentuk Ekspresi Emosi

Bentuk-bentuk ekspresi emosi manusia yang sering muncul dalam realitas

adalah : ekspresi wajah, suara, sikap dan tingkah laku, serta ekspresi lain seperti

pingsan, kejang-kejang, ngompol, dan sebagainya.

29

1) Ekspresi Wajah

Ekspresi wajah merupakan ekspresi paling umum yang tampak. Wajah pucat,

merah, mengerut, berseri-seri, atau murung merupakan sederet bentuk ekspresi

emosi yang ditunjukkan. Menurut Davidoff (1999), ekspresi wajah bersifat

hereditas, karena fakta membuktikan bahwa bayi yang terlahir buta-tuli

sekalipun dapat menunjukkan emosi dengan ekspresi-ekspresi yang khas.

2) Ekspresi Suara

Ekspresi suara yang sering tampak dalam kehidupan sehari-hari adalah tawa,

bersenandung, berteriak, memaki atau tiba-tiba terenyak dengan tatapan

kosong. Namun, mengetahui ekspresi seseorang dengan ekspresi suara tidak

mudah dilakukan, karena terkadang suara yang dibuat oleh seseorang tidak

mewakili emosi yang mereka rasakan. Akan tetapi, bila dikolaborasikan

dengan ekspresi wajah, kedua bentuk ekpresi ini akan lebih menunjukkan

emosi yang sedang dirasakan oleh seseorang.

3) Ekspresi Sikap dan Tingkah Laku

Seikap adalah kesiapan untuk melakukan suatu tindakan tertentu terhadap

sesuatu yang tertentu pula. Ekspresi dalam bentuk tingkah laku cakupannya

sangat luas. Ekspresi sikap dan tingkah laku dapat dibagi menjadi dua, yaitu

pelibatan diri (attachment) dan pelepasan diri (withdrawal). Tingkah laku

emosi dengan pelibatan diri adalah tingkah laku dengan upaya bergerak maju

mempertahankan suasana yang menyenangkan pada emosi positif. Sedangkan

tingkah laku dalam bentuk pelepasan diri adalah lari dan menghindar dari

obyek yang menimbulkan emosi.

30

4) Ekspresi Lain-lain

Pada kasus emosi berat, sering dijumpai adanya orang yang mengalami syok

berat atau bahkan sampai tidak sadarkan diri (pingsan). Emosi yang

menyebabkan pengsan ataupun syok berat ini tidak selalu emosi negatif,

namun juga dapat terjadi pada emosi senang yang berlebihan.

Selain ekspresi tersebut, ada juga bentuk ekspresi emosi lain seperti mual

dan muntah ketika merasa jijik, bergerak tak menentu (linglung) atau perilaku-

perilaku tidak lazim pada saat keterbangkitan emosi yang intensitasnya luar biasa.

2.4.4 Skala Ekspresi Emosi

Menurut Atkinson (1995) dalam penelitian Nurtantri (2005), ekspresi emosi dapat

dinilai melalui beberapa skala, yaitu :

1) Kritik/Critical Comments (CC)

kritik didasari oleh intonasi suara. Kata-kata yang menyatakan kritik apabila

keluarga tidak menyukai, tidak menyetujui atau sikap/perilaku yang

menampakkan kemarahan. Ketidakpuasan diekspresikan dengan amarah yang

sangat hebat. Kata-kata yang diucapkan oleh keluarga, seperti : “dia

mengganggu saya” atau “saya tidak menyukainya”. Aspek vokal untuk

mengidentifikasi kritik dinilai dari nada bicara yang tinggi, berbicara cepat,

perubahan nada suara dan kekerasan suara.

2) Keterlibatan emosi yang berlebihan/Emotional Over Involment (EOI)

EOI didasari oleh terdapatnya respon emosi yang berlebihan terhadap penyakit

penderita, ditandai dengan pengorbanan diri yang tidak biasa dan perilaku

31

sayang/setia yang berlebihan, atau memberikan perlindungan yang sangat

berlebihan.

3) Hostilitas/Hostility (H)

Hostilitas didasari oleh penyerangan terhadap penderita karena keadaan

penyakitnya, bukan karena apa yang penderita lakukan.

4) Kehangatan/Warmth (W)

Berdasarkan simpati, keprihatinan, empati yang diperlihatkan oleh keluarga.

Menunjukkan minat dan antusiasme terhadap kegiatan penderita, pernyataan

kasih sayang secara spontan dan nada suara yang lebut sewaktu membicarakan

penderita.

5) Komentar yang positif/Positive Remarks (PR)

Pernyataan yang mengungkapkan pujian, persetujuan atau penghargaan

terhadap tingkah laku penderita.

2.5 Konsep Kekambuhan

2.5.1 Pengertian

Kambuh merupakan keadaan pasien dimana muncul gejala yang sama

seperti sebelumnya dan mengakibatkan pasien harus dirawat kembali (Andri,

2008). Kekambuhan pasien skizofrenia adalah istilah yang secara relatif

merefleksikan perburukan gejala atau perilaku yang membahayakan pasien dan

atau lingkungannya. Tingkat kekambuhan sering di ukur dengan menilai waktu

32

antara lepas rawat dari perawatan terakhir sampai perawatan berikutnya dan

jumlah rawat inap pada periode tertentu (Pratt, 2006).

Kekambuhan pasien skizofrenia adalah munculnya kembali gejala-gejala

pisikotik yang nyata. Angka kekambuhan secara positif hubungan dengan

beberapa kali masuk Rumah Sakit (RS), lamanya dan perjalanan penyakit.

Penderita-penderita yang kambuh biasanya sebelum keluar dari RS mempunyai

karakteristik hiperaktif, tidak mau minum obat dan memiliki sedikit keterampilan

sosial (Akbar, 2008).

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan kekambuhan pasien

skizofrenia adalah kembalinya suatu penyakit setelah nampaknya mereda.

Kekambuhan menunjukkan kembalinya gejala-gejala penyakit yang sebelumnya

cukup parah dan menganggu aktifitas sehari-hari dan memerlukan rawat inap dan

rawat jalan yang tidak terjadwal.

2.5.2 Frekuensi Kekambuhan Skizofrenia

Frekuensi kekambuhan dinilai dari banyaknya jumlah kekambuhan yang

dialami pasien dalam kurun waktu tertentu. Sebuah studi yang dilakukan di

Hongkong oleh Christy (2011) menemukan bahwa dari 93 pasien psikosis, tingkat

kekambuhan adalah 21% pada tahun pertama, 33% pada tahun kedua, dan 40%

pada tahun ketiga. Penelitian lain di wilayah kerja Puskesmas Mantup Lamongan

menyatakan bahwa kekambuhan skizofrenia adalah 1-2 kali dalam satu tahun.

33

Menurut Nurdiana (2007) dalam Nifu (2012) kejadian kekambuhan skizofrenia

dapat dikategorikan menjadi kategori rendah, tinggi dan sedang. Dikatakan

kategori rendah apabila klien tidak pernah kambuh dalam waktu satu tahun,

sedang apabila klien kambuh satu kali dalam waktu kurang dari satu tahun dan

tinggi apabila klien kambuh lebih dari dua kali dalam satu tahun.

2.5.3 Tanda dan Gejala Kekambuhan

Menurut Samsara (2010), beberapa tanda dan gejala awal kekambuhan yang

perlu dikenali oleh anggota keluarga :

1. Mulai menarik diri dari lingkungan : tidak mau bergaul, mengurung diri di

dalam kamar, asyik dengan kegiatan pribadi

2. Mengabaikan perawatan diri, tidak mau mandi, membiarkan rambut kotor dan

kuku tidak kotor dan tidak dirawat

3. Perilaku aneh dan tidak biasanya seperti bicara dan tertawa sendiri

4. Mendengar suara yang tidak ada sumbernya, adanya idea tau pikiran yang

aneh-aneh

5. Susah tidur, malam lebih banyak terjaga, mondar-mandir dan mengerjakan

sesuatu yang tidak jelas

6. Emosi berubah, mudah marah, ketakutan dan gelisah

7. Susah untuk konsentrasi

8. Mudah lupa

9. Merasa gelisah dan kuatir setiap saat

34

10. Perasaan takut kepada orang lain, barang dan tempat yang biasaanya serta

curiga yang terlau berlebihan

11. Merasakan orang lain membicarakan dan mentertawakan dirinya

2.5.4 Tahap-Tahap Kekambuhan

Menurut Stuart dan Sundeen (2005), relaps dibagi menjadi 4 tahap, yaitu :

1. Overextension

Tahap ini menunjukkan ketegangan yang berlebihan. Pasien mengeluh

perasaannya terbebani. Gejala dari cemas makin intensif dan energi yang besar

digunakan untuk mengatasi hal ini.

2. Restricted Consciousnes

Tahap ini menunjukkan pada kesadaran yang terbatas. Gejala yang

sebelumnya cemas digantikan oleh depresi

3. Disinhibition

Penampilan pertama pada tahap ini adalah adanya hipomania dan biasanya

meliputi munculnya halusinasi (Halusinasi tahap 1 dan II) dan delusi, dimana

pasien tidak lagi mengontrol defense makanisme sebelumnya telah gagal disini.

Hipomania awal ditandai dengan mood yang tinggi. Kegembiraan optimisme dan

percaya diri. Gejala lain dari hipomania ini adalah percaya diri yang berlebihan,

waham kebesaran, mudah marah, senang dan bersukaria dalam menghambur-

hamburkan uang, euphoria.

35

4. Psikotic Disorganization

Pada saat ini gejala psikotik sangat jelas dilihat. Tahap ini diuraikan sebagai

berikut :

a. Pasien tak lagi mengenal lingkungan/orang yang familiar dan mungkin

menuduh anggota keluarga menjadi penipu. Agitasi yang ekstrim mungkin

terjadi, fase ini dikenal sebagai penghancuran dari dunia luar.

b. Pasien kehilangan identitas dan mungkin melihat dirinya sendiri sebagai

pihak orang ke-3. Fase ini menunjukkan kehancuran pada diri.

c. Total Fragmentation adalah kehilangan kemampuan untuk membedakan

realitas dari psikosis dan kemungkinan dikenal sebagai loudly psychotic

d. Psychotic Resolution

Tahap ini terjadi di rumah sakit. pasien diobati dan masih mengalami

psikosis tetapi gejala berhenti atau diam.

2.5.5 Faktor yang Mempengaruhi Kekambuhan

Ada beberapa hal yang bisa memicu kekambuhan skizofrenia, antara lain

tidak minum obat dan tidak kontrol ke dokter secara teratur, menghentikan sendiri

obat tanpa persetujuan dari dokter, kurangnya dukungan dari keluarga dan

masyarakat, serta adanya masalah kehidupan yang berat yang membuat stress

(Akbar, 2008).

Terdapat banyak faktor yang mempengaruhi kekambuhan skizofrenia,

meliputi faktor individu, faktor terapi dan faktor lingkungan. Faktor individu

merupakan faktor yang berasal dari dalam diri pasien, salah satunya adalah

36

kepercayaan pasien terhadap pengobatan. Kepercayaan terhadap pengobatan

merupakan satu hal yang secara tidak langsung akan mempengaruhi kekambuhan,

karena hal ini akan berdampak terhadap kepatuhan klien dalam menjalani

pengobatan (Chi Mei dalam Inneke, 2011). Faktor terapi yang dimaksud adalah

faktor yang berasal dari terapis. Dokter berperan dalam pengobatan klien,

memberikan obat dengan efek samping merugikan yang minimal. Efek samping

yang umum dan penting adalah efek samping pada ekstrapiramidal, gangguan

seksual, dan penambahan berat badan. Pasien yang tidak mengalami efek samping

terhadap pengobatannya kemungkinan lebih mau melanjutkan pengobatan (Loebis

dalam Inneke, 2011). Selain itu, tenaga kesehatan seharusnya membangun

hubungan terapeutik dengan pasien. Pasien dan keluarga harus diberi informasi

tentang penyakitnya. Faktor terakhir adalah faktor lingkungan, yang termasuk di

dalamnya adalah keluarga, teman dan masyarakat luas. Penerimaan lingkungan

sosial terhadap keberadaan pasien skizofrenia secara langsung akan

mempengaruhi kesehatan mental pasien. Sebaliknya stigma negatif serta isolasi

dari lingkungan sosial akan memicu stress pasien yang akan berujung pada

kambuhnya skizofrenia.

2.5.6 Peran Keluarga dalam Mencegah Kekambuhan

Menurut Samsara (2010), beberapa hal yang perlu diperhatikan keluarga

untuk mencegah kekambuhan antara lain :

1) Memastikan obat diminum

37

2) Memotivasi dan membawa anggota keluarganya yang menderita

skizofrenia untuk kontrol ke dokter secara teratur

3) Memberikan dukungan dan rasa aman serta kehangatan

4) Menerima orang dengan skizofrenia apa adanya, tidak menyalahkan,

mengkritik, membanding-bandingkan atau mengucilkan

5) Melibatkan anggota keluarganya yang menderita skizofrenia pada berbagai

kegiatan atau pekerjaan yang seusia dengan kemampuannya

6) Menghindari terjadinya masalah kehidupan yang terlalu berat