bab ii sejarah berdirinya masyarakat arab ampel a. bab ii sejarah berdirinya masyarakat arab ampel a

Download BAB II SEJARAH BERDIRINYA MASYARAKAT ARAB AMPEL A. BAB II SEJARAH BERDIRINYA MASYARAKAT ARAB AMPEL A

Post on 26-Dec-2019

2 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

  • 20

    BAB II

    SEJARAH BERDIRINYA MASYARAKAT ARAB AMPEL

    A. Awal Mula Pemukiman Arab di Kawasan Nusantara

    Nusantara adalah sebuah kawasan yang berisi berbagai macam etnis, suku

    bangsa, ras, maupun kekayaan budaya yang sangat luar biasa banyaknya.

    Keragaman budaya yang timbul dari berbagai daerah ternyata memberikan suatu

    identitas khas dari berbagai macam etnis yang ada baik dari lokal maupun

    pendatang. Etnis lokal memberikan sentuhan lokal yang berisi ajaran leluhur

    tentang menjaga kesatuan dan persatuan antara sesama manusia maupun dengan

    alam sekitar, tidak ketinggalan pula etnis pendatang yang berasal dari luar juga

    memberikan suasana berbeda dengan kebudayaan lokal hingga melebur menjadi

    sebuah kebudayaan baru yang sesuai dengan budaya ketimuran milik bangsa kita

    sendiri.

    Etnis Arab dikenal sebagai salah satu etnis pendatang yang memiliki

    pengaruh cukup besar dalam perkembangan Nusantara sebagai sebuah nation state

    pada masa awal abad ke – 20. Mereka dikenal sebagai salah satu pedagang ulung

    serta pemuka agama Islam, dimana masyarakat pribumi masih menganut

    kepercayaan Hindu-Budha maupun kepercayaan lain. Hal ini didasarkan oleh para

    pedagang yang berasal dari kawasan yang disebut sebagai Hadramaut, sebuah

    kawasan yang berada di salah satu daerah jazirah Arab bagian selatan yang kini

    dikenal sebagai kawasan Yaman Selatan. Hanya beberapa diantara mereka yang

  • 21

    datang dari Maskat, di tepian Teluk Persia, Hijaz, Mesir, maupun dari pantai timur

    Afrika1.

    Pada awal abad pertengahan, catatan para penjelajah Barat menunjukkan

    bahwa kawasan Nusantara telah menjalin hubungan dagang yang cukup erat dalam

    bidang perdagangan antara Arab Selatan, Maskat, dan Teluk Persia2. Para pedagang

    yang berasal dari kawasan Hadramaut juga dikenal sebagai navigator ulung pada

    waktu itu. Sehingga mereka dapat menjangkau kawasan hingga ke daerah Timur

    Jauh atau yang kita kenal sebagai kawasan Nusantara pada saat ini.

    Selain berdagang, para pedagang membawa misi penting berupa

    memperkenalkan Islam di Nusantara semenjak runtuhnya kerajaan Islam Samudra

    Pasai hingga kerajaan Hindu Majapahit yang menandai awal supremasi kerajaan

    Islam hingga awal abad ke – 20. Semenjak peristiwa tersebut, para pedagang

    muslim keturunan Hadramaut mulai mendirikan sebuah pemukiman yang berada di

    pesisir pantai, seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Gresik, dan Surabaya.

    Imigran Arab yang berasal dari kawasan Hadramaut mulai memasuki

    Nusantara melalui jalur strategis berupa jalur pelayaran. Menurut catatan van den

    Berg, data berupa sensus para imigran Arab sebelum tahun 1859 tidak ditemukan

    sama sekali mengenai arus masuk maupun keluar para imigran tersebut. Namun

    semenjak revolusi industri di negara Inggris pada awal akhri abad ke – 18

    memberikan pengaruh besar dalam bidang navigasi maupun teknologi pelayaran

    1 Van den Berg, 1989, Hadramaut dan Koloni Arab di Nusantara, INIS :

    Jakarta. Hal : 1 2 Ibid. Hal : 67

  • 22

    berupa kapal uap. Sehingga mempermudah pelayaran dari kawasan Hadramaut

    hingga ke kawasan Timur Jauh menjadi lebih mudah dijangkau. Pembukaan

    Terusan Suez pada tahun 1869 memberikan dampak pada meningkatnya jumlah

    imigrasi etnis Hadramaut ke kawasan Nusantara.

    Memasuki abad ke – 19, pemukiman Arab di Nusantara diatur oleh

    pemerintah kolonial Belanda serta dikategorikan dalam penduduk timur asing atau

    oosterlingen. Pemukiman Arab Sumatera terbesar berada di Palembang yang

    sebagian besar adalah penduduk asli Arab dari Saudi maupun dari Yaman Selatan.

    Sedangkan pemukiman yang berada di pulau Jawa sebagian besar bermukim di

    kawasan pesisir seperti Batavia (Jakarta), Cirebon, Tegal, Semarang, Tuban,

    Gresik, dan Surabaya. Pemukiman Arab terbesar di luar Jawa bermukim di kota

    Pontianak, Banjarmasin, Makaasar, dan Palu.

    Pulau Jawa adalah sebuah negeri yang sangat besar, negeri yang dimulai

    dari Cirebon (Choroboam) hingga Blambangan (Bulambaum)3. Negeri ini dikepalai

    oleh seorang raja Jawa penganut paganisme4. Kerajaan-kerajaan yang berada di

    pulau Jawa sejak lama sudah mengadakan hubungan dengan para pedagang muslim

    yang berasal dari Arab, Gujarat, maupun Persia5. Jumlah mereka yang amat banyak

    3 Tom Pires, 2015, Suma Oriental Karya Tome Pires : Perjalanan dari Laut

    Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodriguez, Ombak : Yogyakarta. Halaman :

    242 4 Pagan adalah kepercayaan yang berisi mengenai adanya kekuatan magis

    dari benda-benda yang disakralkan. Pada zaman dahulu, kerajaan-kerajaan yang

    ada di pulau Jawa dikuasi oleh raja-raja kafir yang berpusat di kawasan Sunda

    maupun Jawa. 5 Hal ini juga didukung oleh catatan Tome Pires dan dikutip oleh S.Q fatimi,

    bahwa orang-orang muslim pembawa Islam ke Indonesia juga berasal dari kawasan

  • 23

    mendukung para saudagar muslim untuk memperkenalkan ajaran agama Islam

    mereka di daerah pesisir pantai Jawa sembari berdagang dengan barang

    dagangannya. Islam dan kebudayaan setempat di pulau Jawa berasimilasi dan

    berakulturasi dengan baik hingga membuat suatu bentuk kebudayaan baru.

    Rickleff6 menjelaskan ada dua hal yang mendukung dalam hal proses

    islamisasi di pulau Jawa diantaranya adalah :

    1. Penduduk pribumi yang berhubungan dengan para saudagar muslim

    2. Penduduk asing yang beragama Islam, menetap, kemudian mengadakan

    perkawinan campuran dengan putri para raja pribumi maupun masyarakat

    lokal

    Selain pendapat oleh Rickleff, ada tiga jenis pola pembentukan budaya yang

    mendukung proses terjadinya islamisasi di kawasan Nusantara seperti :

    1. Samudra Pasai : Kekuasaan Supra Desa menuju negara terpusat

    2. Sulawesi Selatan : Islamisasi diawali di Keraton

    3. Jawa : Islam tampil sebagai penentang kekuasaan yang ada

    Kombinasi antara penguasa lokal dengan saudagar muslim ternyata cukup efektif

    dalam menentang kekuasaan sebelumnya, cara yang paling efektif dalam

    mendukung proses islamisasi adalah dengan menikahi putri penguasa setempat.

    Selain itu, mereka juga diundang sebagai pemimpin ritual keagamaan.

    Benggala, Maghribi, Hadramaut, maupun Persia. Diambil dari beberapa catatan

    perjalanan Tome Pires dalam Suma Oriental serta aliran-aliran Tasawuf 6 Lihat Azyumardi Azra. 1996. Islam in The Indonesia World : An Account

    of Institutional Formation. Mizan : Bandung.

  • 24

    Kemudahan dalam mendirikan sebuah pemukiman Arab di pulau Jawa

    memberikan akses masuk terhadap gelombang migrasi etnis Hadramaut, mayoritas

    memilih pindah ke kawasan Nusantara untuk mencari kehidupan baru serta

    menghindari konflik di Timur-Tengah. Setiap pemukiman Arab di pulau Jawa

    memiliki keunikan dan karakteristik masing-masing, dalam segi bidang kehidupan.

    Pemukiman Arab di Batavia merupakan pemukiman terbesar yang ada di

    Hindia Belanda pada waktu itu, tahun 1844 pemerintah kolonial mengharuskan

    tiap-tiap pemukiman agar memiliki kepala koloni dalam mempermudah proses

    sensus penduduk lokal maupun pendatang. Rumah-rumah para imigran Arab

    kebanyakan mengikuti gaya arsitektur Eropa yang terdapat di kawasan kota tua

    Batavia7. Masyarakat Arab di kawasan kota Batavia dikategorikan sebagai

    masyarakat kelas dua disamping etnis Tionghoa, atau bisa disebut sebagai Timur

    Asing atau oosterlingen. Masyarakat kelas atas diwakili oleh masyarakat Eropa.

    Pemukiman Arab di Cirebon merupakan perkembangan dari pemukiman

    orang-orang India atau Pekojan8 yang sama dengan kampung Pekojan di Batavia.

    Pemukiman ini kemudian menjadi pemukiman mandiri setelah dipisahkan dari

    pemukiman Arab Indramayu. Sama seperti kampung Arab yang ada di Batavia,

    mereka juga membangun masjid yang disebut sebagai ‘Masjid Arab’. Kampung

    Arab yang berada di Cirebon memiliki kehidupan berbanding terbalik dengan apa

    7 Lihat A. Bagoes P. Wiryomartono, 1995, Seni Bangunan dan Seni

    Binakota di Indonesia, Gramedia Pustaka Jaya : Jakarta. 8 Pekojan adalah sebutan bagi masyarakat etnis Benggali yang kebanyakan

    berasal dari tanah hindustan atau India. Kawasan Pekojan paling besar berada di

    kawasan Medan serta Batavia, kawasan Banten juga menjadi objek perkampungan

    etnis Benggali tersebut.

  • 25

    yang ada di Batavia. Kehidupan berada pada garis kemiskinan, gaya arsitektur

    rumah mereka sama dengan daerah asal mereka, sisi perkampungan juga tampak

    kotor dan kumuh. Pemukiman Arab di daerah Indramayu justru semakin

    berkembang berkat posisi tawar strategis di bidang perdagangan.

    Pemukiman Arab di Pekalongan dikenal sebagai sentranya batik

    Pekalongan yang menjadi tempat strategis dalam hal perdagangan. Sebagian besar

    penduduknya adalah berasal dari golongan sayyid9 dan kawin dengan penduduk

    pribumi. Rata-rata mereka menetap di daerah Mipitan, Kauman, dan Krapyak.

    Kehidupan sosial mereka lebih cenderung me