bab i - fix

29
BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Perkembangan yang luar biasa di bidang teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan yang signifikan dalam sendi kehidupan. Kegiatan komunikasi yang sebelumnya menuntut peralatan yang begitu rumit, kini relatif digantikan oleh perangkat mesin otomatis. Berkembangnya teknologi transformasi data yang diiringi dengan perkembangan teknologi komputer dalam bidang software dan hardware telah berhasil mewujudkan suatu bentuk jaringan komputer terpadu yang bersifat global. Salah satu jaringan global yang sangat pesat perkembangannya adalah jaringan internet. Internet sebagai hasil dari teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi komoditi penting dalam kehidupan masa kini. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, 1

Upload: muhamad-hadi-santoso

Post on 22-Nov-2015

44 views

Category:

Documents


2 download

DESCRIPTION

WWW

TRANSCRIPT

12

BAB 1PENDAHULUAN

1.1 Latar BelakangPerkembangan yang luar biasa di bidang teknologi informasi dan komunikasi membawa perubahan yang signifikan dalam sendi kehidupan. Kegiatan komunikasi yang sebelumnya menuntut peralatan yang begitu rumit, kini relatif digantikan oleh perangkat mesin otomatis. Berkembangnya teknologi transformasi data yang diiringi dengan perkembangan teknologi komputer dalam bidang software dan hardware telah berhasil mewujudkan suatu bentuk jaringan komputer terpadu yang bersifat global. Salah satu jaringan global yang sangat pesat perkembangannya adalah jaringan internet. Internet sebagai hasil dari teknologi informasi dan komunikasi telah menjadi komoditi penting dalam kehidupan masa kini.Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi, dan budaya secara signifikan dan berlangsung demikian cepat (Noor, 2008). Dalam bidang perdagangan, internet mulai banyak dimanfaatkan sebagai media aktivitas bisnis terutama karena kontribusinya terhadap efisiensi. Aktivitas perdagangan melalui media internet ini populer disebut dengan electronic commerce (e-commerce). E-commerce tersebut terbagi atas dua segmen yaitu business to business e-commerce (perdagangan antar pelaku usaha) dan business to consumer ecommerce (perdagangan antar pelaku usaha dengan konsumen).Ditinjau dari aspek biaya dan legalitas, potensi pemanfaatan prasarana internet untuk bisnis sangat terbuka luas. Disamping itu luasnya daya jangkau penyebaran informasi oleh internet menyebabkan pemanfaatan infrastruktur ini dapat dikatakan sebagai infrastruktur yang cost effective. Pemberdayaan internet untukmendukung bisnis komersial semakin marak dengan ditemukannya world wide web yang memudahkan pemakai untuk berpindah dari satu situs ke situs lain secaramudah dan cepat meskipun masing masing dibangun atas platform yang berbeda.Perusahaan dapat memanfaatkan kemampuan ini untuk berinteraksi dengan potential customer dan trading partner nya diseluruh dunia tanpa khawatir terjadi masalah incompability sistem pada kedua belah pihak. Ternyata hal ini membawa dampakyang cukup signifikan dalam pengelolaan bisnis. Bahkan memaksa beberapa bisnis tradisional harus memikirkan ulang (fundamentalrethinking) cara bisnis mereka. Sebagai contoh, munculnya perusahaan amazon.com yang sukses memanfaatkan webbased strategy, yang menyediakan situs di internet yang menawarkan berbagai macam barang dan sekaligus menyediakan sistem akuntansi ordering cycle, shippingsystem, inventorycycle andpayment cycle dalam website nya yang dapat diakses diseluruh dunia (Jhonsyah dan Wesley)..Cara bisnis ini tentunya sangat berbeda jika dibandingkan dengan bisnis tradisional dimana sistem informasi akuntansi merupakan sistem internal perusahaan yang tertutup dan tidak memberi kesempatan customer untuk melakukan akses pada sebagian sistem akuntansi tersebut. Oleh karena itu sistem informasi yang dihasilkan perusahaan haruslah merupakan sistem informasi yang andal. Sistem informasi akuntansi yang andal mensyaratkan bahwa database dan sistem pemrosesan data internal perusahaan beserta dengan sistem jaringannya dapat menghasilkan dan mendistribusikan informasi yang akurat, relevan, lengkap, tepat waktu, dan aman (Jhonsyah dan Wesley).Menurut internetworldstats.com, tingkat pertumbuhan internet di Indonesia mencapai 1.150% yaitu dari tahun 2000 yang penggunanya hanya 2 juta orang menjadi 30 juta orang pada tahun 2009. Namun berdasarkan survey MARS, kebanyakan masyarakat di Indonesia masih menggunakan internet untuk aktivitas social networking (34%), browsing (32%), downloading (14,5%). Sedangkan untuk keperluan e-commerce masih dibawah 5 %. Padahal menurut survey yang dilakukan oleh AC Nielsen ditahun yang sama, 88% dari pengguna internet mengetahui bahwa mereka dapat bertransaksi melalui internet (setiawan, 2009)Rendahnya pemanfaatan internet sebagai media transaksi online memang cukup beralasan. Faktor keamanan dan kepercayaan yang dianggap masih rentan menjadi salah satu penyebab belum banyaknya pengguna e-commerce di Indonesia apabila dibandingkan dengan pengguna teknologi internet tersebut. Menurut hasil riset pada tahun 2001 yang dilakukan oleh ClearCommerce.com yang berkantor di Texas, Indonesia dinyatakan berada di urutan kedua negara asal pelaku cyberfraud setelah Ukraina. Hasilnya menunjukkan bahwa sekitar 20% dari total transaksi kartu kredit dari Indonesia di Internet adalah fraud. Riset tersebut mensurvei 1.137 toko online, 6 juta transaksi, dan 40 ribu pelanggan (Utoyo, 2003). Pada awal februari 2004, Berdasarkan laporan riset 4-bulanan "Internet Security Intelligence Brefing" yang dilansir oleh VeriSign (VeriSign.com), posisi Indonesia melejit menduduki peringkat pertama sebagai negara asal pelaku cyberfraud (Utoyo, 2002).Berbagai kemudahan yang ditawarkan serta manfaat yang dapat dirasakan dengan memanfaatkan e-commerce sebagai media transaksi menjadikan sektor ini cukup potensial untuk dikembangkan. Namun, kejahatan melalui internet (cyberfraud/internetfraud) dalam berbagai bentuknya, baik di Indonesia maupun di belahan dunia lainnya masih menjadi ancaman bagi keberlangsungan e-commerce (Rofiq, 2007). Keperilakuan merupakan tanggapan atau reaksi individu terhadap rangsangan atau lingkungan. Tanggapan atau reaksi individu dapat bersifat mendukung atau menentang rangsangan tersebut. Apabila rangsangan diberikan terus menerus, maka individu secara perlahan maupun cepat akan beradaptasi dengan rangsangan tersebut. Technology Acceptance Model (TAM) merupakan perilaku yang umumnya digunakan untuk menjelaskan penerimaan individual terhadap penggunaan sistem teknologi informasi (Hamzah, 2009)Dalam Technology Acceptance Model (TAM), kemudahan penggunaan dan kegunaan dipercaya akan mempengaruhi sikap yang pada akhirnya menjadi minat perilaku untuk menggunakannya. Selanjutnya, TAM telah menghilangkan elemen sikap sehingga keyakinan tentang kemudahan penggunaan dan kegunaan langsung membentuk minat pengguna (Venkatesh dan Davis, 1996) Adanya minat pada pemanfaatan dan penggunaan teknologi sistem informasi akan mendukung optimalisasi sistem dalam meningkatkan kinerja individu dan organisasi (Hamzah,2009).

Sejak dikenalkan pertama kali oleh Davis (1989) model TAM banyak diadopsi oleh penelitian di bidang teknologi informasi. TAM yang didesain untuk memprediksi adopsi penggunaan pada aplikasi sistem teknologi informasi memiliki kemampuan yang lebih baik dibanding model multi-atribut lain (TRA dan TPB) (Mathieson et al, 2001). Technology Acceptance Model (TAM) menggunakan dua variabel untuk penerimaan teknologi, yaitu kemudahan pemakaian persepsian (perceived ease of use) dan kegunaan persepsian (perceived usefulness). Kedua variabel tersebut memiliki pengaruh terhadap minat perilaku (behavior intention). Pengguna teknologi akan mempunyai minat menggunakan teknologi apabila merasa sistem teknologi tersebut bermanfaat dan mudah digunakan. (Jogiyanto, 2007). Chiu et al (2004) melakukan penelitian tentang minat pembelian konsumen pada layanan e-commerce dengan memodifikasi TAM. TAM dimodifikasi dengan menggunakan empat buah konstruk untuk memeriksa pengaruhnya terhadap minat pembelian online. Keempat faktor tersebut antara lain kesadaran personal akan pentingnya keamanan (personal awareness of security), daya inovatif personal (personal innovativeness), persepsi kemudahan pembelian (perceived ease of purchasing), dan kegunaan persepsian (perceived usefulness). Kesadaran personal akan pentingnya keamanan (personal awareness of security) secara konseptual dipandang sebagai sejauh mana konsumen percaya akan keamanan internet dalam mentransmisikan informasi untuk transaksi bisnis (Kim dan Shim, 2002). McCloskey (2003) berpendapat bahwa keamanan pembayaran online dan potensi pengungkapan informasi pribadi kerap menjadi perhatian besar bagi konsumen dan diyakini sering menjadi hambatan penggunaan e-commerce. Hal serupa juga dinyatakan Salisbury et al (2001) yang berpendapat bahwa keamanan menjadi faktor yang sangat penting dalam mempengaruhi sikap serta minat konsumen dalam melakukan pembelian online. Fenomena akan kesadaran keamanan konsumen ini rupanya digunakan oleh Chiu et al (2004) untuk melakukan penelitian dengan memasukkan variabel tersebut dalam memodifikasi model TAM. Hipotesis awal yang diambil adalah kesadaran personal akan pentingnya keamanan berpengaruh positif terhadap minat pembelian online. Hasilnya, kesadaran personal akan pentingnya keamanan terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap minat pembelian secara online. Namun, penelitian yang dilakukan oleh McClosky (2003) menyatakan sebaliknya. Tidak ada dampak signifikan antara kesadaran keamanan konsumen terhadap partisipasi perdagangan elektronik. Daya inovatif personal (personal innovativeness) berhubungan dengan keinginan konsumen untuk mencoba setiap fesyen baru untuk dikonsumsi, oleh karenanya daya inovatif personal dianggap sebagai anteseden sikap kognitif konsemen untuk menyerap dan mengaplikasikan teknologi informasi (Agarwal dan Karahanna, 2000). Para peneliti memandang daya inovatif sebagai sebuah konstruk pribadi yang dimiliki tiap orang dalam berbagai tingkatan, karena setiap orang di dalam perjalanan hidupnya mengadopsi beberapa objek baru dalam konteks pengalaman individu masing-masing. Berbagai penelitian terkait hubungan antara daya inovatif konsumen terhadap sikap dan minat penggunaan e-commerce telah membuktikan adanya pengaruh positif diantara keduanya (Citrin et al, 2000). Penelitian yang dilakukan oleh Chiu et al (2004) menguji tentang hubungan antara daya inovatif personal terhadap minat pembelian di internet. Hasil penelitian menyebutkan bahwa daya inovatif personal memiliki hubungan yang signifikan dalam mempengaruhi minat pembelian online. Citrin et al (2000) juga melakukan penelitian serupa terkait peran daya inovatif konsumen dalam melakukan online shopping. Hasil yang didapat sama dengan penelitian yang dilakukan Chiu et al (2004), yaitu daya inovatif konsumen memiliki hubungan positif terhadap peningkatan minat belanja online.Kemudahan penggunaan persepsian (perceived ease of use) didefinisikan oleh Davis (1989) sebagai tingkat keyakinan seseorang bahwa sistem tertentu akan membuatnya bebas dari usaha yang harus dilakukan. Venkatesh (2003) menilai bahwa kemudahan penggunaan persepsian menjadi faktor penting dalam mempengaruhi minat seseorang dalam menggunakan teknologi. Chau (1996) pernah melakukan penelitian pemodifikasian model TAM dengan menghilangkan salah satu konstruk asli, yaitu kemudahan penggunaan persepsian. Hasilnya ia tetap mengakui bahwa kemudahan penggunaan memainkan peranan penting dalam penggunaan teknologi, namun tidak memiliki hubungan signifikan secara langsung mempengaruhi minat seseorang dalam menggunakan teknologi. Dalam aplikasi e-commerce, faktor kemudahan penggunaan merupakan salah satu komponen penting yang mempengaruhi minat pengguna (Gefen & Straub, 2000). Penelitian yang dilakukan Chiu et al (2004) melakukan pengujian pada pengaruh persepsi kemudahan pembelian terhadap minat pembelian online. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi kemudahan pembelian mempengaruhi minat sesorang dalam melakukan pembelian online. Hasil ini konsisten dengan penelitian terdahulu yang dilakukan oleh Venkatesh dan Davis (1996).Kegunaan persepsian (perceived usefulness) didefinisikan sebagai tingkat keyakinan seseorang bahwa menggunakan sistem tertentu dapat meningkatkan kinerjanya (Davis, 1989). Menurut Maharsi dan Mulyadi (2007) kegunaan persepsian mempengaruhi minat untuk menggunakan teknologi secara langsung. Gefen dan Straub (2000) menguji signifikansi kemudahan persepsian pada perilaku minat penggunaan e-commerce dan menemukan hubungan signifikan saling mempengaruhi diantara keduanya. Kemudahan penggunaan tersebut akan beroperasi melalui kegunaan persepsian. Apabila dilihat dari perspektif e-commerce, kegunaan persepsian juga mempengaruhi sikap konsumen dalam penggunaan teknologi. Pembelian melalui internet dianggap lebih efisien dalam melakukan pembelian (Teo dalam Chiu, 2004). Penelitian yang dilakukan Chiu et al (2004) menunjukkan hasil bahwa kegunaan persepsian mempengaruhi minat untuk melakukan pembelian secara online. Hasil tersebut konsisten dengan penelitian yang dilakukan oleh Taylor dan Todd (1995) yang menyatakan kegunaan persepsian memiliki hubungan positif dalam mempengaruhi minat pembelian online (Taylor dan Todd, 1995 dalam Chiu ,2004).Seperti yang dilakukan oleh para peneliti sebelumnya, penelitian yang dilakukan Chiu et al (2004) konsisten menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara kegunaan persepsian dan kemudahan penggunaan persepsian dalam mempengaruhi minat penggunaan e-commerce. Hasil serupa ditunjukkan juga oleh faktor kesadaran personal akan pentingnya keamanan dan daya inovatif personal yang dijadikan konstruk tambahan dalam memodifikasi model TAM pada penelitian tersebut. Penelitian lain terkait daya inovatif personal seperti yang dilakukan oleh Citrin et al (2000) mendukung hasil penelitian yang dilakukan oleh Chiu et al (2004). Namun terkait dengan hubungan antara faktor kesadaran personal akan pentingnya keamanan dalam mempengaruhi minat penggunaan e-commerce, penelitian yang dilakukan oleh McCloskey (2003) menunjukkan bahwa faktor keamanan bukanlah hal yang terlalu signifikan dalam mempengaruhi minat penggunaan e-commerce. Alasan tersebut yang mendasari peneliti untuk melakukan penelitian kembali mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan e-commerce oleh penggunanya dalam kerangka TAM..Penelitian ini mengacu pada penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Chiu et al (2004). Penelitian tersebut memasukkan variabel gender sebagai salah satu parameter pengukuran adanya pengaruh kegunaan persepsian, kemudahan penggunaan persepsian , kesadaran personal akan pentingnya keamanan, dan daya inovatif personal terhadap minat dan sikap pembelian online. Selain itu, penelitian tersebut juga meneliti pengaruh tidak langsung keempat konstruk diatas dalam mempengaruhi minat pembelian online melalui sikap pengguna. Berbeda dengan penelitian sebelumnya, penelitian ini menghilangkan variabel gender dalam menguji pengaruh kesadaran personal akan pentingnya keamanan, daya inovatif personal, kegunaan persepsian, dan kemudahan penggunaan persepsian terhadap minat penggunaan e-commerce. Lembaga penelitian The Pluto Institute pada tahun 1996 melakukan sebuah penelitian terkait perbedaan gender terhadap penggunaan teknologi. Hasil penelitian menunjukkan perkembangan yang semakin pesat di bidang teknologi informasi membuat teknologi tersebut semakin tidak mengenal perbedaan gender diantara penggunanya (Haryanto, 2004) . Hal tersebut yang menarik peneliti untuk tidak memasukkan variabel gender dalam penelitian ini. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan kontribusi terhadap pengembangan teori Technology Acceptance Model (TAM) khususnya dalam menambah pengetahuan dan pengembangan modifikasi TAM dalam penelitian sistem informasi. Atas dasar uraian diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul Determinan Minat Keperilakuan Penggunaan E-Commerce : Model Penerimaan Teknologi Modifikasi.

1.2 Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang yang dikemukakan diatas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti adalah sebagai berikut :1. Apakah kesadaran personal akan pentingnya keamanan berpengaruh terhadap minat penggunaan e-commerce?2. Apakah daya inovatif personal berpengaruh terhadap minat penggunaan e-commerce?3. Apakah kegunaan persepsian berpengaruh terhadap minat penggunaan e-commerce?4. Apakah kemudahan penggunaan persepsian berpengaruh terhadap minat penggunaan e-commerce?

1.3 Tujuan PenelitianTujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah:1. Menguji pengaruh kesadaran personal akan pentingnya keamanan terhadap minat penggunaan e-commerce.2. Menguji pengaruh keinovasian personal terhadap minat penggunaan e-commerce.3. Menguji pengaruh persepsi kegunaan terhadap minat penggunaan e-commerce.4. Menguji pengaruh persepsi kemudahan penggunaan terhadap minat penggunaan e-commerce.

1.4 Kontribusi PenelitianHasil dari penelitian ini nantinya diharapkan dapat memberikan kontribusi bagi berbagai pihak, antara lain:1. Kontribusi teoritis Memberikan hasil empiris pada literatur sistem informasi terkait pengembangan model penerimaan teknologi, khususnya dalam hal pengaruh kesadaran personal akan pentingnya keamanan, keinovasian personal, persepsi kegunaan, dan persepsi kemudahan penggunaan terhadap minat penggunaan e-commerce. 2. Kontribusi Praktik Menambah informasi dan masukan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat keprilakuan penggunaan e-commerce. Sehingga nantinya diharapkan dapat menjadi referensi dalam pengembangan e-commerce sebagai media transaksi bisnis masa depan. 3. Peneliti Selanjutnya Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan referensi dan tambahan pengetahuan mengenai pengembangan penelitian di bidang e-commerce, khususnya yang berkaitan dengan modifikasi model penerimaan teknologi.

1.5 Sistematika PembahasanSebagai gambaran umum dan untuk memudahkan dalam pembahasan dan penelaahan dimana dapat memberikan uraian yang lebih terarah dan terperinci, maka skripsi ini disusun menjadi lima bab. Bab pertama, menguraikan mengenai latar belakang masalah, perumusan masalah, tujuan dan kegunaan penelitian, serta sistematika pembahasan.Pada Bab kedua menguraikan secara teoritis mengenai pandangan dan pendapat-pendapat yang berkaitan dengan topik yang diteliti dan diambil dari beberapa literatur dan jurnal ilmiah sebagai landasan penulis dalam melakukan penelitian. Dari uraian tersebut, maka disusun kerangka konsep pemikiran dan hipotesis yang akan diajukan. Bab ketiga menjelaskan mengenai metoda yang digunakan dalam penelitian, yang meliputi metoda pengumpulan data, populasi dan sampel, variabel penelitian dan pengukuran penelitian, pengujian hipotesis, dan metoda analisis data. Bab keempat menguraikan mengenai hasil penelitian dan analisis data serta pembahasannya berdasarkan metoda penelitian yang digunakan dalam penelitian ini. Pada bab kelima menguraikan mengenai kesimpulan penelitian dari hasil penelitian, keterbatasan dari penelitian serta saran-saran yang membangun bagi peneliti, pihak-pihak yang terkait serta penelitian selanjutnya.

Sesuai Technology Acceptance Model (TAM), faktor persepsi pengguna terhadap manfaat yang diperoleh (perceived usefulness) dan persepsi pengguna terhadap kemudahan dalam penggunaan (perceived ease of use) diyakini menjadi dasar dalam menentukan penerimaan dan penggunaan bermacam-macam teknologi informasi. Bagaimanapun juga keyakinan ini mungkin tidak sepenuhnya menjelaskan minat pengguna terhadap munculnya teknologi informasi yang termasuk baru seperti e-commerce. Oleh karena itu dengan menggunakan Technology Acceptance Model (TAM) sebagai kerangka teori yang telah dimodifikasi sesuai dengan TAM yang digunakan oleh Chiu et al (2004), penelitian ini juga menggunakan faktor kesadaran personal akan pentingnya keamanan (personal awareness of security) yang mencerminkan keamanan dan privasi pengguna e-commerce dan juga Keinovasian personal (personal innovativeness) sebagai faktor yang mencerminkan keinginan konsumen untuk mencoba setiap fesyen baru untuk dikonsumsi.

Sehingga sangatlah menarik untuk meneliti Tentang faktor-faktor yang mempengaruhi minat menggunakan e-commerce oleh penggunanya dalam kerangka TAM.

Pengadopsian TAM juga dapat dipadukan dengan dimensi lain dari penerimaan teknologi (Mathieson et al, 2001; Nugroho)

Davis (1989) pada saat mengenalkan model Technology Acceptance Model (TAM) mengindikasikan penggunaan sistem informasi sebagai indikator penting penerimaan suatu teknologi. Model awal TAM menggunakan kemudahan penggunaan persepsian dan kegunaan persepsian. Kemudahan serta efisiensi merupakan manfaat yang ditawarkan oleh online shopping. Kedua manfaat yang ditawarkan tersebut terkait dengan kegunaan dan kemudahan penggunaan persepsian, sehingga kedua konstruk model TAM tersebut diduga menjadi antecedents dari niat individu untuk melakukan pembelian online.

Four exogenous constructs namely, personal awareness of security, personal innovativeness, perceived ease of purchasing, and perceived usefulness have not only direct influences on attitudes and online purchase intentions, but also have indirect influences on online purchase intentions through the mediation of attitudes.

Penelitian yau li pake gender, tapi yang ini gak. Modifikasi model TAM.Tam pake 2 tujuan. Tapi ini cuman meneliti 1 aja!

Studies in consumer behaviors view innovativeness as a personality construct that is possessed, to a greater or lesser degree, by all consumers, since everyone, in the course of their lives, adopts some objects that are new in the context of their individual experience ( Citrin et al. , 2000 ).

Kognitif = pengalamAN

innovativeness pribadi didefinisikan sebagai konsumen yang mencerminkan keinginan untuk mencoba setiap mode baru konsumsi, dan dapat oleh karena itu dianggap sebagai pendahuluan untuk kognitif sikap konsumen untuk teknologi penyerapan informasi dan aplikasi (Agarwal dan Karahanna, 2000)Personal innovativeness is defined as a consumer who reflects a willingness to try out any new fashion of consumption, and it can be therefore regarded as an antecedent for the consumer cognitive attitude for information technology absorption and application

Keamanan penggunaan teknologi dipandang memiliki hubungan erat dengan kepercayaan. Keamanan pembayaran online dan potensi pengungkapan informasi pribadi kerap menjadi perhatian besar bagi konsumen dan diyakini sering menjadi hambatan penggunaan e-commerce. Namun, studi yang dilakukan oleh Mc Closkey (200x) mengungkapkan Personal awareness of security is conceptualized as the extent to which consumers believe that the internet is secure for transmitting sensitive information for business transactions (kim and shim,2002)

Keamanan pembayaran online dan potensi pengungkapan informasi pribadi menjadi perhatian besar bagi konsumen dan diyakini hambatan sering untuk penggunaan e-commerce (3, 17, 36)

peneliti lain telah menemukan bahwa konsumen tidak percaya bahwa situs belanja online yang responsif atau bahwa mereka mendapatkan layanan pelanggan yang memadai

Walaupun Chau (1996) dikecualikan asli konstruk persepsi kemudahan penggunaan dalam model TAM dimodifikasi, ia juga mengakui bahwa di negara eksplorasi penggunaan teknologi, kemudahan penggunaan memainkan peranan pentingEven though Chau (1996) excluded the original construct of perceived ease of use in his modified TAM model, he also admitted that in the exploratory state of technology use, ease of use plays an important role.

Penelitian yau li pake gender, tapi yang ini gak. Modifikasi model TAM.Tam pake 2 tujuan. Tapi ini cuman meneliti 1 aja!

Venkatesh (2000) believes that for any emerging IT/IS, perceived ease of use is an important determinant of users' intention of acceptance and usage behavior

From the perspective of e-tail service, perceived usefulness for online purchases can be defined as the prospective consumer's subjective probability that using the internet will efficiently facilitate his or her purchasing ( Koufaris, 2002 ; Taylor and Todd, 1995a ; Teo, 2001 ).

Tam pake 2 tujuan. Tapi ini cuman meneliti 1 aja!

Kegunaan persepsian menjelaskan sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan meningkatkan kinerja pekerjaannya. Sedangkan kemudahan penggunaan persepsian menjelaskan sejauh mana seseorang percaya bahwa menggunakan suatu teknologi akan bebas dari usaha (Davis et al,1989 dalam jogiyanto)>>uraikan!

kuisionerwould feel secure in providing sensitive information for purchasing CCP online

it would be no security problem to transmitting sensitive information online for buying CCp

i feel the risk associated with online purchase was low1