Askeb v Hany Meli

Download Askeb v Hany Meli

Post on 05-Aug-2015

58 views

Category:

Documents

7 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ASUHAN KEBIDANAN V

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN JAKARTA I JURUSAN KEBIDANAN 2010

Members of Our Group

Hanifah Meliani

Pertolongan Pertama ke-Gawat Daruratan Obstetri dan Neonatus (PPGDON)

Pengertian Kegawatdaruratan

Dalam dunia medis, suatu keadaan disebut gawat apabila sifatnya mengancam nyawa namun tidak memerlukan penanganan yang segera. Contoh untuk keadaan ini adalah: pasien yang menderita penyakit kanker. Penyakit kanker adalah penyakit yang bisa mengancam nyawa seseorang, namun tidak terlalu memerlukan tindakan sesegera mungkin (immediate treatment). Biasanya keadaan gawat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit yang sifatnya kronis.

Suatu keadaan disebut darurat apabila sifatnya memerlukan penanganan yang segera. Contoh untuk keadaan ini adalah: baru saja digigit ular berbisa, sedang mengalami pendarahan hebat, tengah menderita patah tulang akibat kecelakaan, kehilangan cairan karena diare hebat, dsb. Meskipun keadaan darurat tidak selalu mengancam nyawa, namun penanganan yang lambat bisa saja berdampak pada terancamnya nyawa seseorang. Biasanya keadaan darurat dapat dijumpai pada penyakit-penyakit yang sifatnya akut.

Keadaan gawat dan darurat dapat juga terjadi bersamaan. Dalam hal ini, nyawa pasien benarbenar dalam keadaan yang mengkhawatirkan dan diperlukan penanganan yang segera terhadapnya. Contoh untuk kasus ini adalah seseorang yang telah menderita penyakit jantung dalam waktu yang lama dan tiba-tiba saja mendapatkan serangan jantung (heart attack). Gawat Darurat adalah keadaan klinis pasien yang membutuhkan tindakan medis segera guna penyelamatan nyawa dan pencegahan kecacatan lebih lanjut (UU no 44 tahun 2009).

Pre-eklampsi & EklampsiKegawatdaruratan Obstetri

Pre-eklamsi dan eklamsi, merupakan kesatuan penyakit, yakni yang langsung disebabkan oleh kehamilan, walaupun belum jelas bagaimana hal itu terjadi. Pre eklamasi diikuti dengan timbulnya hipertensi disertai protein urin dan edema akibat kehamilan setelah usia kehamilan 20 minggu atau segera setelah persalinan (Ilmu Kebidanan Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiharjo, Fak. UI Jakarta, 1998).

Penanganan Tujuan utama penanganan ialah : 1. Pencegahan terjadi pre-eklamsia berat dan eklamsia 2. Melahirkan janin hidup 3. Melahirkan janin dengan trauma sekecil kecilnya. Jika salah satu diantara gejala atau tanda berikut ditemukan pada ibu hamil, dapat diduga ibu tersebut mengalami preeklamsia 1. Tekanan darah 160/110 mmHg. 2. Oligouria, urin kurang dari 400 cc/ 24 jam.

3. Proteinuria, lebih dari 3g/ liter. 4. Keluhan subyektif (nyeri epigastrium, gangguan penglihatan, nyeri kepala, edema paru, sianosis, gangguan kesadaran). 5. Pada pemeriksaan, ditemukan kadar enzim hati meningkat disertai ikterus, perdarahan pada retina, dan trombosit kurang dari 100.000/ mm.

Sebagai pengobatan untuk mencegah timbulnya kejang dapat diberikan :

1. Larutan magnesium sulfat 40% sebanyak 10 ml (4 gram) disuntikkan intra muskulus pada bokong kiri dan kanan sebagai dosis permulaan, dan dapat diulang 4 gram tiap jam menurut keadaan. Obat tersebut selain menenangkan juga menurunkan tekanan darah dan meningkatkan dieresis. 2. Klorpomazin 50 mg intramuskulus. 3. Diazepam 20 mg intramuskulus.

Penanganan kejang dengan memberi obat antikonvulsan, menyediakan perlengkapan untuk penanganan kejang (jalan napas, masker,dan balon oksigen), memberi oksigen 6 liter/menit, melindungi pasien dari kemungkinan trauma tetapi jangan diikat terlalu keras, membaringkan pasien posisi miring kiri untuk mengurangi resiko respirasi. Setelah kejang, aspirasi mulut dan tenggorok jika perlu. Penanganan umum meliputi : 1. Jika setelah penanganan diastolik tetap lebih dari 110 mmHg, beri obat anti hipertensi sampai tekanan diastolik di antara 90100mmHg.

2. Pasang infus dengan jarum besar (16G atau lebih besar). 3. Ukur keseimbangan cairan jangan sampai terjadi overload cairan. 4. Kateterisasi urin untuk memantau pengeluaran urin dan proteinuria. 5. Jika jumlah urin kurang dari 30 ml/jam, hentikan magnesium sulfat dan berikan cairan IV NaCl 0,9% atau Ringer laktat 1 L/ 8 jam dan pantau kemungkinan edema paru. 6. Jangan tinggalkan pasien sendirian. Kejang disertai aspirasi muntah dapat mengakibatkan kematian ibu dan janin.

7. Observasi tanda-tanda vital, refleks, dan denyut jantung tiap jam. 8. Auskultasi paru untuk mencari tanda-tanda edema paru. 9. Hentikan pemberian cairan IV dan beri diuretic (mis: furosemid 40 mg IV sekali saja jika ada edema paru). 10. Nilai pembekuan darah jika pembekuan tidak terjadi sesudah 7 menit (kemungkinan terdapat koagulopati).

Hemorrhagic Post Partum (HPP)Kegawatdaruratan Obstetri

perdarahan post partum berdasarkan klasifikasi dan penyebabnya : Perdarahan postpartum dini 1. Atonia uteri Keadaan lemahnya tonus/konstraksi rahim yang menyebabkan uterus tidak mampu menutup perdarahan terbuka dari tempat implantasi plasenta setelah bayi dan plasenta lahir.2. Robekan jalan lahir Perdarahan dalam keadaan di mana plasenta telah lahir lengkap dan kontraksi rahim baik, dapat dipastikan bahwa perdarahan tersebut berasal dari perlukaan jalan lahir.

3. Retensio plasenta plasenta tetap tertinggal dalam uterus 30 menit setelah anak lahir. Plasenta yang sukar dilepaskan dengan pertolongan aktif kala III dapat disebabkan oleh adhesi yang kuat antara plasenta dan uterus.4. Gangguan pembekuan darah Penyebab pendarahan pasca persalinan karena gangguan pembekuan darah baru dicurigai bila penyebab yang lain dapat disingkirkan apalagi disertai ada riwayat pernah mengalami hal yang sama pada persalinan sebelumnya

Perdarahan postpartum lambat : 1. Sisa Plasenta Sisa plasenta dan ketuban yang masih tertinggal dalam rongga rahim dapat menimbulkan perdarahan postpartum dini atau perdarahan pospartum lambat (biasanya terjadi dalam 6 10 hari pasca persalinan). 2. Subinvolusi di daerah insersi plasenta Pada subinvolusio proses mengecilnya uterus terganggu. Faktor yang menyebabkan itu antara lain tertinggalny plasenta dan selaput ketuban dalam uterus. 3. Dari luka bekas seksio sesaria

Penanganan umum pada perdarahan post partum :1. Ketahui dengan pasti kondisi pasien sejak awal (saat masuk) 2. Pimpin persalinan dengan mengacu pada persalinan bersih dan aman (termasuk upaya pencegahan perdarahan pasca persalinan) 3. Lakukan observasi melekat pada 2 jam pertama pasca persalinan (di ruang persalinan) dan lanjutkan pemantauan terjadwal hingga 4 jam berikutnya (di ruang rawat gabung). 4. Selalu siapkan keperluan tindakan gawat darurat 5. Segera lakukan penlilaian klinik dan upaya pertolongan apabila dihadapkan dengan masalah dan komplikasi 6. Atasi syok

7. Pastikan kontraksi berlangsung baik (keluarkan bekuan darah, lakukam pijatan uterus, berikan uterotonika 10 IU IM dilanjutkan infus 20 IU dalam 500cc NS/RL dengan 40 tetesan permenit. 8. Pastikan plasenta telah lahir dan lengkap, eksplorasi kemungkinan robekan jalan lahir. 9. Bila perdarahan terus berlangsung, lakukan uji beku darah. 10. Pasang kateter tetap dan lakukan pemantauan inputoutput cairan 11. Cari penyebab perdarahan dan lakukan penangan spesifik.

Penanganan atonia uteri : Pada umunya dilakukan secara simultan (bila pasien syok) halhal sebagai berikut : 1. Sikap Trendelenburg, memasang venous line, dan memberikan oksigen. Sekaligus merangsang konstraksi uterus dengan cara : a) Masase fundus uteri dan merangsang puting susu b) Pemberian oksitosin dan turunan ergot melalui i.m, i.v, atau s.c c) Memberikan derivat prostaglandin d) Pemberian misoprostol 800-1000 ug per rektal e) Kompresi bimanual eksternal dan/atau internal f) Kompresi aorta abdominalis 2. Bila semua tindakan itu gagal, maka dipersiapkan untuk dilakukan tindakan operatif laparotomi dengan pilihan bedah konservatif (mempertahankan uterus) atau melakukan histerektomi.

Penanganan Episiotomi, robekan perineum, dan robekan vulva : Ketiga jenis perlukaan tersebut harus dijahit. Penanganan hematoma : Penanganan hematoma tergantung pada lokasi dan besar hematoma. Pada hematoma yang kecil, tidak perlu tindakan operatif, cukup dilakukan kompres. Pada hematoma yang besar lebih-lebih disertai dengan anemia dan presyok, perlu segera dilakukan pengosongan hematoma tersebut. Dilakukan sayatan di sepanjang bagian hematoma yang paling terenggang. Seluruh bekuan dikeluarkan sampai kantong hematoma kosong. Dicari sumber perdarahan, perdarahan dihentikan dengan mengikat atau menjahit sumber perdarahan tersebut. Luka sayatan kemudian dijahit. Dalam perdarahan difus dapat dipasang drain atau dimasukkan kasa steril sampai padat dan meninggalkan ujung kasa tersebut diluar.

Penanganan Robekan dinding vagina : Robekan dinding vagina harus dijahit. Kasus kolporeksis dan fistula visikovaginal harus dirujuk ke rumah sakit.Penanganan robekan serviks : Bibir depan dan bibir belakang serviks dijepit dengan klem Fenster. Kemudian serviks ditarik sedikit untuk menentukan letak robekan dan ujung robekan. Selanjutnya robekan dijahit dengan catgut kromik dimulai dari ujung robekan untuk menghentikan perdarahan.

Penanganan retensio plasenta : kalau placenta dalam jam setelah anak lahir, belum memperlihatkan gejala-gejala perlepasan, maka dilakukan pelepasan, maka dilakukan manual plasenta. Plasenta akreta Terapi : Plasenta akreta parsialis masih dapat dilepaskan secara manual tetapi plasenta akreta komplit tidak boleh dilepaskan secara manual karena usaha ini dapat menimbulkan perforasi dinding rahim. Terapi terbaik dalam hal ini adalah histerektomi.Pencegahan gangguan pembekuan darah 1. Persiapan sebelum hamil untuk memperbaiki keadaan umum dan mengatasi setiap penyakit kronis, anemia, dan lain-lain sehingga pada saat hamil dan persalinan pasien tersebut ada dalam keadaan optimal.

2. Mengenal factor predisposisi perdarahan pasca persalinan seperti mutiparitas, anak besar, hamil kembar, hidramnion, bekas seksio, ada riwayat perdarahan pasca persalinan sebelumnya dan kehamilan resiko tinggi lainnya yang resikonya akan muncul saat persalinan. 3. Persalinan harus selesai dalam waktu 24 jam dan pencegahan partus lama. 4. Kehamilan resiko tinggi agar melahirkan di fasilitas rumah sakit rujukan. 5. Kehamilan resiko rendah agar melahirkan di tenaga kesehatan terlatih dan menghindari persalinan dukun 6. Menguasai langkah-langkah pertolongan pertama menghadapi perdarahan pasca persalinan dan mengadakan rujukan sebagaimana mestinya.

Penanganan sisa plasenta 1. Pada umumnya pengeluaran sisa plasenta dilakukan dengan kuretase. Dalam kondisi tertentu apabila memungkinkan, sisa plasenta dapat dikeluarkan secara manual. 2. Kuretase harus dilakukan di rumah sakit dengan hati-hati karena dinding rahim relatif tipis dibandingkan dengan kuretase pada abortus. 3. Setelah selesai tindakan pengeluaran sisa plasenta, dilanjutkan dengan pemberian obat uterotonika melalui suntikan atau per oral. 4. Penemuan secara dini hanya mungkin dengan melakukan pemeriksaan kelengkapan plasenta setelah dilahirkan. Pada kasus sisa plasenta dengan perdarahan pasca persalinan lanjut, sebagian besar pasien akan kembali lagi ke tempat bersalin dengan keluhan perdarahan

5. Berikan antibiotika, ampisilin dosis awal 1g IV dilanjutkan dengan 3 x 1g oral dikombinasikan dengan metronidazol 1g supositoria dilanjutkan dengan 3 x 500mg oral. 6. Lakukan eksplorasi (bila servik terbuka) dan mengeluarkan bekuan darah atau jaringan. Bila servik hanya dapat dilalui oleh instrument, lakukan evakuasi sisa plasenta dengan AMV atau dilatasi dan kuretase 7. Bila kadar Hb8 gr%, berikan sulfas ferosus 600 mg/hari selama 10 hari.

AbortusKegawatdaruratan Obstetri

Jenis Abortus, Macam Abortus, Definisi, Tanda dan GejalaAbortus spontan (terjadi dengan sendiri, keguguran) merupakan 20% dari semua abortus. Abortus spontan terdiri dari 7 macam : 1. Abortus imminens (keguguran mengancam) adalah Abortus ini baru mengancam dan ada harapan untuk mempertahankan. Penatalaksanaan : Karena ada harapan bahwa kehamilan dapat dipertahankan, maka pasien: a) Istirahat rebah (tidak usah melebihi 48 jam). b) Diberi sedativa misal luminal, codein, morphin. c) Progesteron 10 mg sehari untuk terapi substitusi dan mengurangi kerentanan otot-otot rahim (misal gestanon). d) Dilarang coitus sampai 2 minggu.

2. Abortus incipiens (keguguran berlangsung) adalah Abortus sudah berlangsung dan tidak dapat dicegah lagi. Penatalaksanaan : Kemungkinan terjadi abortus sangat besar sehingga pasien: a) Mempercepat pengosongan rahim dengan oxytocin 2 satuan tiap jam sebnayak 6 kali. b) Mengurangi nyeri dengan sedativa. c) Jika ptocin tidak berhasil dilakukan curetage asal pembukaan cukup besar.3. Abortus incomplete (keguguran tidak lengkap) adalah Sebagian dari buah kehamilan telah dilahirkan tetapi sebagian (biasanya jaringan plasenta) masih tertinggal di rahim. Penatalaksanaan : Harus segera curetage atau secara digital untuk mengehntikan perdarahan.

4.

Abortus completus (keguguran lengkap) adalah Seluruh buah kehamilan telah dilahirkan lengkap. Kontraksi rahim dan perdarahan mereda setelah hasil konsepsi keluar. 5. Missed abortion (keguguran tertunda) adalah Missed abortion ialah keadaan dimana janin telah mati sebelum minggu ke 22 tetapi tertahan di dalam rahim selama 2 bulan atau lebih setelah janin mati. Penatalaksanaa : a) Diutamakan penyelesaian missed abortion secara lebih aktif untuk mencegah perdarahan dan sepsis dengan oxytocin dan antibiotika. Segera setelah kematian janin dipastikan, segera beri pitocin 10 satuan dalam 500 cc glucose. b) Untuk merangsang dilatasis serviks diberi laminaria stift.6. Abortus habitualis (keguguran berulang ulang) adalah abortus yang telah berulang dan berturut turut terjadi sekurang kurangnya 3 kali berturut turut.

7.

Abortus febrilis adalah Abortus incompletus atau abortus incipiens yang disertai infeksi. Penatalaksanaan : a) Pelaksanaan curetage ditunda untuk mencegah sepsis, keculai perdarahan banyak sekali. b) Diberi atobiotika. c) Curetage dilakukan setelah suhu tubuh turun selama 3 hari. Abortus provocatus (disengaja, digugurkan) merupakan 80% dari semua abortus. Abortus provocatus terdiri dari 2 macam, diantaranya : 1. Abortus provocatus artificialis atau abortus therapeutics adalah Pengguguran kehamilan dengan alat alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan membawa maut bagi ibu, misal ibu berpenyakit berat. Indikasi pada ibu dengan penyakit jantung (rheuma), hypertensi essensialis, carcinoma cerviks.

2. Abortus provocatus criminalis Adalah pengguguran kehamilan tanpa alasan medis yang syah dan dilarang oleh hukum.

AsfiksiaKegawatdaruratan Neonatus

Asfiksia neonatorum merupakan suatu kondisi dimana bayi tidak dapat bernapas secara spontan dan teratur segera setelah lahir. Keadaan tersebut dapat disertai dengan adanya hipoksia, hiperkapnea, sampai asidosis. Asfiksia ini dapat terjadi karena kurangnya kemampuan organ bayi dalam menjalankan fungsinya, seperti pengembangan paru.Penatalaksanaan Penatalaksanaan pad...