anatomi dan fisiologi hidung dan sinus paranasal ... fisiologi hidung berdasarkan teori struktural,...

Click here to load reader

Post on 09-Sep-2021

0 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
1
bagiannya dari atas ke bawah:
Pangkal hidung (bridge), batang hidung (dorsum
nasi), puncak hidung (hip), ala nasi, kolumela, dan
lubang hidung (nares anterior). Hidung luar dibentuk
oleh kerangka tulang dan tulang rawan yang dilapisi
kulit, jaringan ikat dan beberapa otot kecil yang
berfungsi untuk melebarkan atau menyempitkan
lubang hidung. Kerangka tulang terdiri dari tulang
hidung (os nasal), prosesus frontalis os maksila dan
prosesus nasalis os frontal, sedangkan kerangka tulang
rawan terdiri dari beberapa pasang tulang rawan yang
terletak di bagian bawah hidung yaitu sepasang
kartilagi nasalis lateralis superior, sepasang kartilago
nasalis lateralis inferior dan disebut juga sebagai
kartilago alar mayor dan tepi kartilago septum.1,2,3,4
Rangka Hidung 5
terowongan dari depan ke belakang dipisahkan oleh
septum nasi di bagian tengahnya menjadi kavum nasi
kanan dan kiri. Pintu atau lubang masuk kavum nasi
bagian depan disebut nares anterior dan lubang
belakang disebut nares posterior (koana) yang
menghubungkan kavum nasi dengan nasofaring.3,4
Bagian kavum nasi yang letaknya sesuai dengan
ala nasi, tepat di belakang nares anterior, disebut
vestibulum. Vestibulum ini dilapisi kulit yang
mempunyai banyak kelenjar sabasea dan rambut yang
disebut vibrise. Setiap kavum nasi mempunyai 4 buah
dinding yaitu dinding medial, lateral, inferior dan
superior. Dinding medial hidung ialah septum nasi.
Septum dibentuk oleh tulang dan tulang rawan. Bagian
tulang adalah: lamina perpedinkularis os etmoid,
vomer, Krista nasalis os maksila dan Krista nasalis os
palatina. Bagian tulang rawan adalah kartilago septum
(lamina kuadrangularis) dan kolumela. Septum dilapisi
oleh perikondrium pada bagian tulang rawan dan
periosteum pada bagian tulang, sedangkan di luarnya
dilapisi oleh mukosa hidung.4
terbesar dan letaknya palinga bawah adalah konka
inferior, kemudian yang lebih kecil adalah konka
media, konka superior dan konka suprema yang
biasanya rudimenter. Konka inferior merupakan tulang
tersendiri yang melekat pada os maksila dan labirin
etmoid. Diantara konka-konka dan dinding lateral
hidung terdapat rongga sempit yang disebut maetus.
Tergantung dari letaknya ada tiga maetus yaitu maetus
inferior, medius dan superior. Pada maetus inferior
terdapat muara duktus nasolakrimalis, pada maetus
media terletak muara sinus maksilaris, sinus frontal,
dan sinus etmoid anterior, pada maetus superior
terdapat muara sinus etmoid posterior dan sinus
sphenoid.6
dan dibentuk oleh os maksila dan os palatum. Dinding
superior atau atap hidung sangat sempit dan dibentuk
oleh lamina kribriformis, yang memisahkan rongga
tengkorak dari rongga hidung. Lamina kribriformis
merupakan lempeng tulang berasal dari os etmoid,
tulang ini berlubang-lubang (kribrosa) tempat
masuknya serabut saraf olfaktorius. Di bagian
posterior, atap rongga hidung dibentuk oleh os
sphenoid.3,4,6
Vaskularisasi Rongga hidung
dari a.etmoid anterior dan posterior yang merupakan
cabang dari a. oftalmika cabang dari a. karotis interna.
Bagian bawah rongga hidung mendapat perdarahan
dari cabang a. maksilaris interna, diantaranya a.
palatina mayor. Bagian depan hidung mendapat
perdarahab dari cabang-cabang arteri fasialis. Pada
bagian depan septum terdapat anastomosis dari cabang
a. sfenopalatina, a. etmoid anterior, a. labialis superior
dan a. palatine mayor yang disebut pleksus
Kiesselbach yang letaknya superficial dan mudah
cedera oleh trauma.3,4
dan berjalan berdampingan dengan arterinya. Vena di
vestibulum dan struktur luar hidung bermuara ke v.
oftalmika yang berhubungan dengan sinus
kavernosus.4
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
2
merupakan cabang dari n. nasosiliaris yang berasal dari
n. oftalmikus (N. V-1). Rongga hidung lain sebagian
besar mendapat persarafan sensoris dari n. maksila
melalui ganglion sfenopalatina. Ganglion sfenopalatina
selain memberikan persarafan sensoris juga
memberikan persarafan vasomotor/ otonom untuk
mukosa rongga hidung. Ganglion ini menerima serabut
saraf sensoris dari n. Maksilaris (N. V-2), serabut
parasimpatis dari n. Petrosus superfisialis mayor dan
serabut saraf simpatis dari n. Petrosus profundus.
Ganglion sfesnopalatina terletak di belakang dan
sedikit di atas ujung posterior konka media. Fungsi
penghidu berasal dari n. Olfaktorius yang merupakan
serabut saraf yang turun melalui laninankribrosa dari
permukaan bawah bulbus olfaktorius dan kemudian
berakhir pada sel-sel reseptor penghidu pada mukosa
olfaktorius di sepertiga atas hidung.4,6
Persarafan pada Rongga Hidung 3
Fisiologi Hidung
penyaring udara, humidifikasi, penyeimbang dalam
pertukaran tekanan dan mekanisme imunologis
lokal.
olfaktorius dan reserfoir udara untuk menampung
stimulus penghidu.
membantu proses bicara dan mencegah hantaran
suara sendiri melalui konduksi tulang.
- Fungsi refleks nasal, mukosa rongga hidung
merupakan reseptor yang berhubungan dengan
saluran pencernaan, kardiovaskuler dan pernafasan
melalui refleks bersin, sekresi kelenjar liur,
lambung dan pankreas.
Anatomi Sinus Paranasal
rongga berisi udara disekitar rongga hidung yang
dibatasi oleh tulang wajah dan cranial. Memiliki
struktur tidak teratur, dan seperti halnya lapisan epitel
pada hidung, tuba eustachius, telinga tengah dan region
respiratorius dan faring, sinus paranasalis dilapisi
membrana mukosa dengan lapisan epitel
pseudostratified kolumnar bersilia (respiratory
kurang vaskularisasi bila dibandingkan dengan
membrana mukosa hidung. 3
dalam keadaan steril, dimana proses sekresi dan
eliminasi berbagai kontaminan tergantung pada
aktivitas silia dan drainase mucus. Peradangan atau
kondisi alergi pada rongga hidung yang menyebabkan
kongesti vena atau limfatik, dapat mengakibatkan
kongesti sinus dan berpotensi untuk terjadinya
kegagalan drainase mucus. Secara klasik, sinus
paranasalis dikelompokkan dalam 4 pasang sinus,
yaitu: sinus frontalis, sinus etmoidalis, sinus
maksilaris, sinus sfenoidalis. Berdasarkan kepentingan
klinis, sinus paranasalis dibagi dalam dua kelompok,
yaitu: kelompok depan meliputi sinus frontalis, sinus
maksilaris dan sinus etmoidalis anterior yang bermuara
di bawah konka media, serta kelompok belakang
meliputi sinus etmoidalis posterior dan sinus
sfenoidalis yang bermuara pada beberapa lokasi di atas
konka media.3,4
berkembang pada kehidupan 13-4 bulan dan mulai
dapat dikenali secara anatomis pada usia 6-12 bulan
kehidupan ekstra uterin. Sinus maksilaris mengawali
pneumatisasi pertama kali IMB kelahiran hingga 12
bulan, mulai membesar ke arah lateral sepanjang dasar
orbita pada usia 3 tahun. Dasar dari sinus maksilaris
akan mencapai ukuran dewasa pada usia pubertas.
Sinus etmoidalis juga telah terbentuk pada saat
kelahiran, tetapi tidak membesar hingga usia mencapai
3-7 tahun. Ukuran dewasa dan sinus etmoid dicapai
pada usia 12 hingga 14 tahun.3
Arteri yang Memperdarahi Rongga Hidung 5
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
3
pubertas, dan memiliki derajat pneumatisasi yang
sangat bervariasi dan besar atau kecilnya sayap sfenoid
dan proses pterigoid. Sinus frontalis dibentuk paling
akhir, dan merupakan tipe sinus yang belum terbentuk
pada saat lahir. Sinus ini berkembang dari mukosa
nasal ke dalam resesus frontalis dan meatus media, dan
mencapai ukuran sempurna setelah usia pubertas.
Seperti juga sinus sfenoid, sinus frontalis juga
memiliki derajat penumatisasi yang bervariasi.
Perbedaan pada pembentukan sinus frontalis kiri dan
kanan sering ditemukan dan bersifat sangan
individual.3,4
1. Sinus Frontalis
sinus frontalis. Ukuran rata-rata sinus ini adalah
tinggi 3 cm, lebar 2-2,5 cm, dalam 1,5-2 cm
sedangkan kapsitas rata-rata 6-7 ml. Pada 10-12
% orang dewasa menunjukkan sinus rudimenter.
Sinus frontalis berhubungan dengan meatus media
melalui saluran duktus nasofrontalis yang berjalan
menuju muara frontoetmoidalis. 3,4,6
dan jumlah yang bervariasi terdiri dari suatu
kompleks „ honey comb“ dengan jumlah sel
antara 4 sampai 17, dan rata-rata berjumlah 9,
terletak lateral bagian atas rongga hidung pada
dinding medial tulang orbita. Sinus etmoidalis
biasanya terbagi menjadi 2 grup yaitu sel anterior
dan sel posterior. Tulang etmoid memiliki bagian-
bagian vertikal dan horizontal yang membentuk
sudut siku-siku dengan yang lainnya. Lempeng
vertikasl mempunyai bagian yang tebal di superior
disebut krista galli, di bagian bawahnya disebut
perpendicular os.etmoid dan merupakan bagian
dari septum nasi. Lempeng horizontal terdiri dari
lempeng tipis berlubang-lubang disebut lamina
kribriformis. Dinding luar dari sinus etmoidalis
adalah lamina papirasea os etmoid dan os
lakrimalis, yang merupakan lapisan tulang yang
tipis. Sinus etmoid dipisahkan dari orbita oleh
lapisan tulang tipis ini (lamina papirasea), dimana
keadaan tersebut menyebabkan suatu infeksi yang
mengenai tulang tersebut dapat dengan segera
mengenai rongga orbita dan menimbulkan
berbagai komplikasi.4
secara terbatas dalam tulang etmoid, oleh karena
pada perkembangannya dapat menginvasi meatus
media membentuk concha bullosa, dimana pada
beberapa keadaan sel-sel bulla etmoid membesar
ke dalam perlekatan anterior meatus media,
menyebabkan variasi derajat pneumatisasi meatus
(konka bullosa). Pembesaran meatus
prosesus unsinatus mendekati infundibulum
dikenal sebagai ekstramural. Sel-sel tersebut
menempati bagian medial orbita inferior dan
biasanya membentuk dinding medial
menyebabkan obstruksi sinus maksilaris dan sinus
etmoidalis anterior. Keberadaan sel Haller ini
seringkali berhubungan dengan penyakit sinus.6
Sinus Etmoidalis Posterior
dari satu sampai lima sel-sel etmoid yang
drainasenya ke meatus superior dan suprema.
Terbentuk dari primary furrow kedua dan ketiga.
Sinus etmoidalis posterior di batasi anterior oleh
lamella basalis konka media dinding anterior sinus
sfenoid di posterior, lamina papirasea di lateral, di
medial oleh bagian vertikal konka superior dan
suprema beserta meatusnya, dan di superior di
batasi oleh atap etmoid. Pengetahuan anatomis
mengenai batas-batas sinus etmoidalis posterior
sangat penting bagi seorang ahli bedah untuk
menghindari komplikasi selama operasi. Sinus
etmoidalis posterior mempunyai kepentingan
sangat penting untuk dipahami. Onodi meneliti
variabilitas anatomi sinus etmoidalis posterior, dan
ia menekankan hubungan sel paling posterior dari
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
4
dan dibagi menjadi 12 kelompok utama. Ia
menemukan bahwa sel paling posterior dari sinus
etmoidalis posterior pneumatisasinya sangat baik (
luas ), sehingga meluas ke posterior sepanjang
lamina anterior sinus sfenoid. Diseksi sinus
etmoidalis posterior dapat menyebabkan trauma
pada nervus optikus dan menyebabkan kebutaan,
terutama jika kurang mengetahui variasi
anatomisnya. Ahli bedah endoskopi yang modern
mulai menyebut variasi anatomis ini sebagai
Onodi Cell, tapi dapat juga dengan istilah
Sphenoetmoidal cell dipergunakan, dimana nama
ini lebih tepat untuk penamaan anatomisnya. Jika
sel sphenoetmoidal ini besar, kanalis karotikus
dapat menonjol (bulging) ke sinus etmoidalis
posterior.3,4
meyakinkan para ahli THT pada zamannya bahan
sinus sfenoid tidak selalu berada di belakang sinus
etmoidalis posterior. Ia menginginkan para ahli
bedah bahwa untuk mencapai sinus sfenoid, hanya
diperlukan diseksi sampai batas belakang sinus
etmoidalis posterior. Diseksi sinus etmoidalis
posterior arahnya harus inferomedial, bukan
superolateral, untuk menghindari trauma kranial
atau orbita.3,4
Menurut Schiffer, ukuran rata-rata untuk bayi
adalah 7-8 x 4-6 x 3-4 mm, pada umur 18 tahun
adalah 31-32 x 18-20 x 19-20 mm, dan kapasitas
sinus ini hampir 15 ml. Antrum berhubungan
dengan meatus media melalui ostium maksilaris
dal lokasinya pada bagian atas depan dinding
medial sinus maksilaris premolar 2, molar 1, dan
molar 2.3
satu ruang yang batas-batasannya antara lain
orbita di superior, bagian dental dan alveolar
maksila di inferior, prosesus zigomatikus di
lateral, dan sebuah dinding tulang tipis yang
memisahkan rongga tersebut dengan fossa
infratemporal dan pterygopalatina di posterior,
serta prosesus unsinatus, fontanel dan konka
inferior di medial. Ostium sinus maksilaris
terletak di dalam 1/3 bagian paling posteroinferior
infundibulum (71,8%). 4,6
infraorbital yang terletak pada alur tulang, nervus
ini dibatasi oleh membran mukosa atau oleh
tulang yang tipis dan akan terpotong waktu
kuretase dari operas sinus.3
atau disebut “ Haller’s Cell”. Haller, seorang ahli
anatomi pada abad 18, pertama kali menyatakan
“sel etmoidal yang excavates os planum dan os
maksila, diluar berhubungan dengan kapsula
labirin etmoid. Selulae ini adalah selulae etmoid
yang mengalami pneumatisasi ke lantai orbita
sinus maksilaris, letaknya inferlateral dai bulla
etmoid, dan berhubungan erat dengan
infundibulum etmoid dan ostium sinus maksilaris.
Sel Haller ini dikatakan berasal dari etmoidalis
anterior (88%) dan etmoidalis posterior (12%).
Nama-nama lain untuk sel Haller ini antara lain
adalah sel maxillo-orbital, sel maxillo-etmoidal,
dan sel orbitoetmoidal. Tapi penamaan sel Haller
untuk sekarang dipakai sel etmoidalis infraorbital
. Istilah ini lebih tepat, berdasarkan lokasi dan asal
daris sel ini dan membedakannya dari sel
supraorbital dari resesus frontalis atau resesus
suprabullar.3,4
atau atelektasis sinus maksilaris. Pada variasi ini,
sinus maksilaris lebih kecil dan dikelilingi oleh
tulang maksila yang lebih tebal, prosesus
unsinatus juga mengalami hipoplasia dan terletak
pada bagian inferomedial orbita; jadi
infundibulum juga mengalami atelektasis.
darn risiko masuk orbita.4,6
optikus, sinus kavernosus, N II, IV, V, VI. Sinus
ini sebelum bayi berusia 3 bulan, ukurannya kecil
dan pertumbuhannya maksimal terjadi pada usia
12 – 15 tahun, pada usia 1 tahun bberukuran 2,5 x
2,5 x 1,5 mm dan pada usia 9 tahun berukuran 15
x 12 x 10,5 mm. Sinus sfenoidalis memiliki
bentuk yang bervariasi, letaknya pada badan
tulang sfenoid dan berhubungan dengan tulang
hidung pada meatus superior dan sinus ini di bagi
menjadi beberapa bagian oleh septum intra sinus.
Potongan koronal dari Sinus Maksilaris 5
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
5
kavernosus sinus terletak lateral, serta nervus
maksilaris (bagian dari N.V) pada bagian anterior
terletak inferolateral. Diseksi sinus sfenoid dapat
menyebabkan kerusakan dari arteri karotis dan nervus
optikus.3
septum internus. Struktur ini sangat bervariasi,
bentuknya dapat oblik dan bukan sagital. Septum yang
inkomplit juga sering terjadi. Manipulasi septum
sfenoid harus dilakukan dengan sangat hati-hati,
dimana septum intersinus diketahui menempel pada
midline, dekat atau pada kanalis karotikus. 3,4
Fisiologi Sinus Paranasal
udara yang dilapisi mukosa epitelium pseudostratified
bersilia diselingi sel-sel goblet. Silia tersebut menyapu
cairan mukus kearah ostia. Penyumbatan ostia sinus
akan mengakibatkan penimbunan mukus sehingga
terjadi penurunan oksigenasi rongga sinus dan tekanan
udara sinus. Penurunan oksigenasi sinus akan
menyuburkan pertumbuhan bakteri anaerob. Tekanan
pada rongga sinus yang menurun pada gilirannya akan
menimbulkan rasa nyeri daerah sinus terutama sinus
frontal dan sinus maksilaris. 3
Fisiologi dan fungsi sinus paranasal belum jelas
diketahui dan sampai sekarang masih tetap
diperdebatkan (Knops.dkk 1993), antara lain untuk:3,4
Menghasilkan dan membuang mukus
melindungi organ-organ yang sensori.
melindungi orrgan-organ yang sensitif seperti
mata, hipofise otak dan medula dan perubahan-
perubahan.
Mempertahankan keseimbangan kepala
hubungannya dengan peradangan mukosa sinus ialah
adanya : Silia, mukus, dan ventilasi hidung.3
Silia
microns. Berfungsi mendorong mukus kearah hidung
dengan efektif dan cepat, sedangkan pengembalian
silia gerakannya lambat. Selama pukulan efektif ujung
silia kontak dengan pinggir bawah lapisan gel.
Pengembaliannya menembus lapisan air (Watery sol
layer) dengan akibat debu dan partikel lain tertangkap
lapisan gel dan diangkut keluar sinus kearah
nasofaring, rata-rata frekuensi pukulan pada silia 14,5
Hz „ pukulan“ detik dan mucociliary clearance untuk
orang dewasa kira-kira 10 menit.3,4
Mukus
propria dan sel goblet, yang membentuk lapisan mukus
pada permukaan mukosa. Mukus terdiri dari 96% air,
1-2% garam organik dan 2,5 - 3% mucin. Fungsi
mukus sebagai pertahanan tubuh, bersifat
bakteriostatik karena mukuis mengandung lisosim
yang dapat menghancurkan bakteri. Arah dari aliran
mukus oleh gerakan silia merupakan arah dari drainase
normal dan dari dalam sinus menuju ke ostium.3,4
Epithelium Sinus Paranasal 3
mantel ruang sinus dan nasal, juga merupakan
perangkat unsur yang baik. Tidak semua silia
„memukul“ dengan rate yang sama, tetapi bervariasi
dalam seluruh sinus, tiap segmen berbeda dalam
kecepatan memukulnya.3
Faktor Imunologis
pertahanan imunologi yang penting:3,4
infeksi, disekresi dari plasma sel yang terdapat di
lamina propria yang kemudian di transport aktif
ke epitel glandular dan di simpan dalam mukus
blanket. Bekerja menghambat mikroorganisme di
permukaan sel. Jadi mencegah pemasukan
kedalam jaringan tubuh.
dengan Ig A. Jumlahnya lebih kecil ari Ig.
Lisosim
Dapat membunuh secara spesifik terhadap
polisakharida dan mukopeptida yang ditemukan
dalam dinding sel organisme grampositif.
Lactoferin
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
6
and Paranasal Sinuses dalam Bailey B.J. 2006.
Maxillary, Ethmoid and Sphenoid Sinises in: Atlas
of Head and Neck Surgery Otolaryngology.
Lippincott Raven Publisher. Philadelphia. New
York. Page 1480-1499
Surgery: McGraw Hill ; 2003. h.596-608.
3. Andrew, J.M., Ronald, G.A 2001. Sinus Anatomy
and Function. In: Head and Neck Surgery-
Otolaryngology. Third Edition. Edited by: Bailey
B.J. Lippincott-Raven Publisher. Washington
4. Ballenger, J.J, Aplikasi Klinis Anatomi dan
Fisiologi Hidung dan Sinus Paranasalis Dalam
Penyakit Telinga, Hidung, Tenggorokan, Kepala dan
Leher. Edisi 13. Alih Bahasa: Staf Ahli Bagian
THT-RSCM-FKUI. Binarupa Aksara, Jakarta.
Indonesia. 1994. Hal: 1-27
6.Graney, D.O., Baker, S.R. Anatomy. In: Head and
Neck Surgery Otolaryngology. Second Edition.
Edited by Cummings C.w. Mosby Year Book, Inc.
St Louis, Misouri. USA. 1993. page 627-639.
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
7
American Academy of Otolaryngology – Head & Neck
Surgery 1996 istilah sinusitis diganti dengan
rinosinusitis (RS) karena dianggap lebih akurat dengan
alasan:1,2
lanjutan mukosa hidung
dijumpai pada rinitis ataupun sinusitis.
Perkembangan penelitian mengenai patofisiologi,
pada sinus secara singkat dapat dilihat dalam dua
rekomendasi para ahli yang dilakukan di Amerika
Serikat dan Eropa. Para ahli di Amerika Serikat,
melalui rekomendasi Rhinosinusitis Task Force
(RSTF) pada tahun 1996, merekomendasikan bahwa
rinosinusistis didiagnosis berdasarkan gejala klinis,
durasi gejala, pemeriksaan fisis, nasoendoskopi dan
tomografi komputer.3
tumpang tindih, baik pada penderita yang disertai polip
hidung atau tanpa polip hidung. Para ahli di Eropa,
melalui rekomendasi European Position Paper on
Rhinosinusitis and Nasal Polyps (EP3OS) menegaskan
bahwa perbedaan antara penderita polip hidung dan
rinosinusitis kronik harus berdasarkan pemeriksaan
nasoendoskopi. Selain itu, rekomendasi ini
menegaskan bahwa polip hidung merupakan
subkelainan dari rinosinusitis kronik.4
multisinusitis dan bila mengenai seluruh sinus
paranasal, disebut pansinusitis. Sinus maksila sering
terkena, kemudian sinus etmoid, sinus frontal dan sinus
sfenoid. Penyakit ini berasal dari perluasan infeksi
hidung, gigi, faring, tonsil atau adenoid. Tetapi dapat
juga terjadi akibat trauma langsung, barotrauma,
berenang atau menyelam. Ikut berperan pula beberapa
faktor predisposisi yang menyebabkan obstruksi muara
sinus maksila, sehingga mempermudah terjadinya
sinusitis seperti deviasi septum,hipertropi konka,
massa di dalam rongga hidung dan alergi.5,6
Rinosinusitis dapat mengakibatkan gangguan
umum atau dokter spesialis lain untuk memiliki
pengetahuan yang baik mengenai definisi, gejala dan
metode diagnosis dari penyakit rinosinusitis ini. Yang
berbahaya dari sinusitis adalah komplikasinya ke
orbita dan intrakranial. Komplikasi ini terjadi akibat
tatalaksana yang inadekuat atau faktor predisposisi
yang tak dapat dihindari. Tatalaksana dan pengenalan
dini terhadap rinosinusitis ini sangat penting. Awalnya
diberikan terapi antibiotik dan jika telah begitu
hipertrofi, mukosa polipoid dan atau terbentuknya
polip atau kista maka dibutuhkan tindakan operasi.7
Definisi
keradangan yang terjadi secara bersamaan pada rongga
hidung dan sinus paranasal.1,2,8,9,10
Rinosinusitis (termasuk polip hidung)
paranasal yang ditandai dengan adanya dua atau lebih
gejala, salah satunya termasuk hidung
tersumbat/obstruksi/kongesti atau pilek (sekret hidung
anterior/posterior):11
± penurunan/hilangnya penghidu
atau edema/obstruksi mukosa di meatus medius
dan/atau gambaran tomografi komputer; perubahan
mukosa di kompleks ostiomeatal dan/atau sinus.
Klasifikasi
1. RS akut : 4 minggu
2. RS subakut : > 4-12 minggu
3. RS kronik : > 12 minggu
4. RS akut rekuren : ≥ 4 episode per tahun; tiap
episode ≥ 7-10 hari resolusi komplit di antara
episode
tiba-tiba dari RS kronik dengan kekambuhan
berulang setelah pengobatan
Immunology; American Academy of Otolaryngic
Allergy; American Academy of Otolaryngology-Head
and Neck Surgery; American College of Allergy,
Asthma and Immunology; and American Rhinologic
Society mengusulkan subklasifikasi lebih lanjut dari
RS kronik adalah:1,2,12
polipoid dengan edema, infiltrasi eosinofil.
Limfosit T dan B, serta kerusakan pada epitel
yang disebabkan oleh produk-produk aktivasi sel
eosinofil. Tipe ini berhubungan dengan
meningkatnya prevalensi polip hidung dan juga
berhubungan dengan lebih luasnya gambaran
patologis kelainan sinus pada tomografi
komputer.
yang tidak disertai oleh tanda-tanda tersebut di
atas, namun ditandai oleh hiperplasia kelenjar
seromukosa submukosa yang jelas.
dikategorikan ke dalam 4 grup:1,2
1. Fungus ball
Dr. Yussy Afriani Dewi, Mkes, SpTHT-KL Departemen Ilmu Kesehatan THT-KL FKUP/RSHS
8
hal, yaitu: 8
- Lokasi : sinus etmoid, sinus
- Komplikasi : tanpa komplikasi, dengan
meningkat, diperkirakan sekitar 10 - 15 % terjadi pada
populasi di Eropa Tengah setiap tahunnya. Di Amerika
Serikat terdapat 30 juta kasus rinosinusitis akut
bakterial setiap tahunnya, di negara ini jumlah
penderita sinusitis akut yang berobat ke dokter adalah
0,5 – 2,0 % pada dewasa dan 5 – 10 % pada anak dari
semua penyakit infeksi saluran napas atas.13
Data dari Divisi Rinologi Departemen THT
RSCM Januari-Agustus 2005 menyebutkan jumlah
pasien rinologi pada kurun waktu tersebut adalah 435
pasien, 69%nya adalah sinusitis.10
Survei pendahuluan di bagian Rinologi-alergi
Ilmu Kesehatan Telinga Hidung dan Tenggorok (THT)
Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) didapatkan angka
kunjungan penderita rinosinusitis akut periode Januari-
Desember 2009 tercatat 260 kasus, terdiri dari 121
laki-laki dan 139 perempuan.14
hidung dapat menjalar secara langsung
maupun melalui limfatik submukosa.
diikuti invasi bakteri.
dapat masuk ke sinus melalui ostium. Gas
klorin berkadar tinggi dalam kolam renang
juga dapat memicu inflamasi oleh zat kimia.
Trauma. Fraktur atau luka tusuk pada sinus
frontal, maksila dan etmoid dapat menjadi
infeksi pada mukosa. Sama seperti
barotraumas yang diikuti oleh infeksi.
Infeksi gigi. Penyebab utama sinsusitis
maksilaris. Infeksi dari gigi molar atau
premolar.
Beberapa faktor dapat menyebabkan stasis
sekresi sinus, yaitu:
alergi atau vasomotor
nasofaring karena kekentalannya (fibrosis
atresia koanal.
lingkungan berpolusi, dan kebiasaan
nutrisi dan kelainan sistemik (diabetes,
sindrom defisiensi imun), serta perubahan
hormonal (kehamilan).
berawal dari infeksi viral pada saluran napas
atas yang berlanjut lebih dari 10 hari. Dalam
beberapa kasus, RS bakterial sekunder bisa…