analisis pengaruh kebijakan dividen, kebijakan hutang...

of 118 /118
ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN DIVIDEN, KEBIJAKAN HUTANG, FIRM SIZE DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Periode 2010 - 2014) Skripsi Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi Disusun oleh: Abdul Rosyid NIM. 1110082000002 JURUSAN AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA 1438 H / 2017 M

Author: tranminh

Post on 15-May-2019

234 views

Category:

Documents


1 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

ANALISIS PENGARUH KEBIJAKAN DIVIDEN, KEBIJAKAN HUTANG, FIRM SIZE

DAN PROFITABILITAS TERHADAP NILAI PERUSAHAAN

(Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Periode 2010 - 2014)

Skripsi

Diajukan Kepada Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Untuk Memenuhi Syarat-Syarat Guna Meraih Gelar Sarjana Ekonomi

Disusun oleh:

Abdul Rosyid

NIM. 1110082000002

JURUSAN AKUNTANSI

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA

1438 H / 2017 M

vi

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

I. Identitas Pribadi

1. Nama : Abdul Rosyid

2. Tempat/tanggal lahir : Tangerang, 29 September 1992

3. Alamat : Jl. Mushola Rt05/02, No. 32 Pondok Pucung-Pondok Aren,

Tangerang Selatan.

4. Telepon : 087888151560

5. Email : [email protected]

II. Pendidikan Formal

1. MI Unwannunajah Tahun 1998 2004

2. SMPN 03 Ciputat Tahun 2004 2007

3. MA Pembangunan UIN Tahun 2007 2010

4. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Tahun 2010 2017

III. Pengalam Organisasi

1. Anggota Osis SMPN 03 Ciputat

2. Anggota Osis MA Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

3. Anggota HMI Komisariat Fakultas Ekonomi dan Bisnis

4. Anggota BEM Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis

5. Karang Taruna RW02 Pondok Pucung

IV. Latar Belakang Keluarga

Ayah : H. Ahmad Djusi

Ibu : Hj. Romeni

Kakak : Nur A'ini, Abdur Rohman, Rosyidah

Anak ke-dari : 4 dari 4 bersaudara

vii

ABSTRACT

This research aim to analyze the influence of dividend policy, debt policy, firm size and return on

equity toward the value of company of company manufactur in 2010 - 2014. The analysis method

used in the research is the analysis multiple regression perfomed with SPSS 20. The empirical

result showed that the simultaneous indicated that dividend policy, debt policy, firm size and

return on equity had significant influence toward value of company. in the partial indicated that

dividend policy did not have significant influence toward value of company. Meanwhile, the debt

policy, firm size and return on equity had significant influence toward value of company.

Keyword : dividend policy, debt policy, firm size, return on equity, value of company.

viii

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti pengaruh kebijakan deviden, kebijakan hutang, firm size

dan return on equity terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014. Metode analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda dengan mengunakan

SPSS 20. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara simultan kebijakan deviden, kebijakan

hutang, firm size berpengaruh terhadap nilai perusahaan. Sedangkan secara parsial kebijakan

dividen tidak berpengaruh terhadap nilai perusahaan dan kebijakan hutang, firm size dan return

on equity berpengaruh terhadap nilai perusahaan.

Kata kunci: kebijakan deviden, kebijakan hutang, firm size, return on equity, nilai perusahaan

ix

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb.

Alhamdulillahi RobbilAlamiin, segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat

Allah S.W.T yang telah memberikan rahmat dan limpahan karunia-Nya kepada penulis, sehingga

penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul Analisis Pengaruh Kebijakan Dividen,

Kebijakan Hutang, Firm Size Dan Profitabilitas Terhadap Nilai Perusahaan dengan

lancar. Shalawat serta salam terlimpahkan kepada baginda besar Nabi Muhammad SAW, yang

telah memberikan ajaran Islam yang telah terbukti kebenarannya dan terus terbukti

kebenarannya.

Tujuan penulisan skripsi ini adalah untuk memenuhi syarat-syarat meraih gelar Sarjana

Ekonomi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Selama proses pembuatan skripsi ini, berbagai hambatan dan kesulitan telah penulis hadapi.

Berkat petunjuk dan hidayah dari Allah SWT, doa kedua orang tua, dukungan, bimbingan serta

bantuan dari berbagai pihak, sehingga pada akhirnya skripsi ini dapat terselesaikan dengan

lancar.

Pada kesempatan ini, penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih dan penghargaan

yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini

terutama kepada:

1. Allah S.W.T atas rahmat dan karunia-Nya yang diberikan kepada penulis sehingga dapat

menyelesaikan skripsi ini.

2. Kedua orang tua tercinta, terutama buat Ayah dan Ibu tercinta yang telah memberikan

semangat serta doa yang tiada henti-hentinya kepada penulis. Yang selalu memberikan rasa

x

cinta, perhatian, kasih sayang, motivasi dan membantu secara moral dan materil serta selalu

mengiringi penulis melalui doa restu.

3. Saudara tersayang, Hj Nur 'Aini, AbdurRohman dan Rosyidah yang selalu memeriahkan

suasana rumah.

4. Bapak Dr. Arief Mufraini,LC.,M.Si selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif

Hidayatullah Jakarta.

5. Bapak Hepi Prayudiawan, SE.,MM.,AK.,CA selaku dosen Pembimbing Skripsi. Terima

kasih banyak saya ucapkan kepada bapak yang telah meluangkan waktu, memberikan

pengarahan, bimbingan serta masukan yang sangat membantu dan bermanfaat sekali, semoga

Allah SWT membalas kebaikan bapak.

6. Ibu Yessi Fitri, SE.,M.Si.,Ak.,CA selaku Pelaksana tugas Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas

Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

7. Bapak Hepi Prayudiawan.SE.,MM.,Ak.,CA selaku Sekretaris Program Studi Akuntansi

Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

8. Seluruh dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah

memberikan segenap ilmu dan pengalamannya.

9. Seluruh Staf dan Karyawan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang telah memberikan bantuan

kepada penulis.

10. Terima kasih kepada teman teman seperjuangan yang berasal dari kelas Akuntansi A, B, C

dan D. Terutama untuk saudara - saudaraku di kelas A yang tidak bisa disebut satu-satu

terima kasih banyak atas perjalanan fisik, hati dan jiwa kita selama ini. Buat sahabat tercinta

Joy Laura, Kartika, Dian, Kokoh Redho, Akbar, Legra, Genta dan Rizky terima kasih banget

buat kalian.

11. Terima kasih kepada anak-anak Karang Taruna RW02 Pondok Pucung

12. Rekan-rekan seperjuangan konsentrasi Audit, Akuntansi Manajemen dan Akuntansi

Perpajakan angkatan 2010 yang telah memberikan dukungannya selama ini kepada penulis.

Satukan tekad untuk angkatan 2010.

xi

13. Semua pihak yang terlibat yang tidak dapat disebutkan satu per satu. Terima kasih atas

masukan, support dan kenangan lainnya.

Meskipun penulis telah berusaha dengan segenap kemampuan yang dimiliki untuk

menyempurnakan skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak terdapat kekurangan

dalam penulisan ini. Oleh karena itu, penulis mengharapkan segala bentuk saran serta masukan

bahkan kritik yang membangun dari berbagai pihak.

Akhirnya dengan segala keterbatasan yang dimiliki, maka penulis ingin

mempersembahkan skripsi ini kepada semua pihak yang menaruh perhatian bagi perkembangan

dunia pendidikan khususnya bidang penelitian di Indonesia dengan harapan agar bermanfaat bagi

kita semua. Amin.

Jakarta, Juni 2017

Abdul Rosyid 1110082000002

xii

DAFTAR ISI

Lembar Pengesahan Skripsi ........................................................................... i

Lembar Pengesahan Komprehensif ............................................................... ii

Lembar Pengesahan Ujian Skripsi ................................................................. iii

Lembar Pernyataan Keaslian Karya Ilmiah ................................................. iv

Daftar Riwayat Hidup ..................................................................................... vi

Abstact ............................................................................................................... vii

Abstrak .............................................................................................................. viii

Kata Pengantar ................................................................................................ ix

Daftar Isi ........................................................................................................... xii

Daftar Tabel ..................................................................................................... xiv

Daftar Gambar ................................................................................................. xv

Daftar Lampiran .............................................................................................. xvi

BAB I PENDAHULUAN ............................................................................ 1

A. Latar Belakang Penelitian ............................................................. 1

B. Perumusan Masalah ...................................................................... 7

C. Tujuan Penelitian .......................................................................... 8

D. Manfaat Penelitian ........................................................................ 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA .................................................................. 10

A. Landasan Teori ............................................................................. 10

1. Rasio Keuangan ....................................................................... 14

a. Pengertian Rasio Keuangan ................................................ 10

b. Bentuk - Bentuk Rasio Keuangan ....................................... 12

2. Kinerja Keuangan dan Laporan Keuangan .............................. 14

3. Nilai Perusahaan ...................................................................... 17

4. Kebijakan Deviden ................................................................... 19

5. Kebijakan utang ....................................................................... 23

6. Firm Size .................................................................................. 28

7. Profitabilitas (Return on Equity) .............................................. 31

8. Pengaruh Antar Variabel .......................................................... 37

xiii

B. Penelitian Terdahulu ...................................................................... 42

C. Kerangka Pemikiran ..................................................................... 48

D. Hipotesis Penelitian ....................................................................... 49

BAB III METODOLOGI PENELITIAN .................................................... 51

A. Ruang Lingkup Penelitian ............................................................ 51

B. Metode Penentuan Sampel ........................................................... 51

C. Metode Pengumpulan Data ........................................................... 52

D. Metode Analisis Data .................................................................... 53

1. Uji Asumsi Klasik .................................................................... 53

2. Uji Hipotesis ............................................................................ 58

3. Analisis Regresi Linier Berganda ............................................ 59

E. Operasional Variabel Penelitian .................................................... 61

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ....................................................... 64

A. Sekilas Gambaran Umum Objek Penelitian ................................. 64

B. Hasil Uji Analisis Penelitian ......................................................... 65

1. Hasil Statistik Deskriptif .......................................................... 65

2. Hasil Uji Asumsi Klasik .......................................................... 67

C. Pembahasan .................................................................................. 78

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................... 81

A. Kesimpulan ................................................................................... 81

B. Saran ............................................................................................. 81

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 83

LAMPIRAN ...................................................................................................... 88

xiv

DAFTAR TABEL

Nomor Keterangan Halaman

2.1 Penelitian Terdahulu ....................................................................... 42

4.1 Perkembangan Pasar Modal Di Indonesia ...................................... 77

4.2 Hasil Uji Deskriptif Data ................................................................ 66

4.3 Hasil Uji Normalitas Data Secara Statistik ..................................... 69

4.4 Hasil Uji Multikolonieritas ............................................................. 69

4.5 Hasil Uji Autokolerasi .................................................................... 70

4.6 Hasil Uji Signifikan Simultan (Uji F) ............................................. 72

4.7 Hasil Uji Signifikan Parsial (Uji t) .................................................. 73

4.8 Hasil Koefisien Persamaan Regresi Linier Berganda ..................... 76

4.9 Hasil Uji Koefisien Determinasi (Adjusted R2) ............................... 77

xv

DAFTAR GAMBAR

Nomor Keterangan Halaman

2.1 Kerangka Pemikiran ........................................................................ 49

4.1 Hasil Uji Normalitas Data Secara Grafik ......................................... 68

4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas .......................................................... 71

xvi

DAFTAR LAMPIRAN

Nomor Keterangan Halaman

1 Daftar Nama Objek Penelitian ........................................................ 88

2 Data Mentah Hasil Perhitungan ...................................................... 89

3 Hasil Pengolahan Data Dengan SPSS 20.0 ..................................... 93

1

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Pendirian sebuah perusahaan harus memiliki tujuan yang jelas. Ada

beberapa hal yang mengemukakan tentang tujuan pendirian suatu perusahaan.

Tujuan perusahaan yang pertama adalah untuk mencapai keuntungan maksimal

atau laba yang sebesar-besarnya. Tujuan perusahaan yang kedua adalah ingin

memakmurkan pemilik perusahaan atau para pemilik saham. Sedangkan tujuan

perusahaan yang ketiga adalah memaksimalkan nilai perusahaan yang

tercermin pada harga sahamnya. Ketiga tujuan perusahaan tersebut sebenarnya

secara substansial tidak banyak berbeda. Hanya saja penekanan yang ingin

dicapai oleh masing-masing perusahaan berbeda antara yang satu dengan yang

lainnya (Martono dan Harjito, 2005:2).

Naik turunnya nilai perusahaan salah satunya dipengaruhi oleh struktur

kepemilikan. Struktur kepemilikan sangat penting dalam menentukan nilai

perusahaan. Dua aspek yang perlu dipertimbangkan ialah (1) konsentrasi

kepemilikan perusahaan oleh pihak luar (outsider ownership concentration)

dan (2) kepemilikan perusahaan oleh manajemen (management ownership).

Pemilik perusahaan dari pihak luar berbeda dengan manajer karena kecil

kemungkinannya pemilik dari pihak luar terlibat dalam urusan bisnis

perusahaan sehari-hari (Rejeki dan Hartono, 2007:23).

2

Menurut teori keagenan, penyebab konflik antara manajemen dan

pemegang saham diantaranya adalah pembuatan keputusan yang berkaitan

dengan bagaimana dana diperoleh lalu diinvesasikan. Konflik antara manajer

dan pemegang saham dapat diminimumkan dengan suatu mekanisme

pengawasan yang dapat mensejajarkan kepentingan-kepentingan yang terkait

tersebut. Namun dengan munculnya mekanisme pengawasan tersebut akan

menimbulkan biaya yang disebut sebagai biaya keagenan (Agency Cost). Biaya

keagenan dapat dikurangi dengan meningkatkan nilai hutang (Struktur Modal)

dan meningkatkan rasio pembayaran deviden. Semakin banyak saham yang

dimilki oleh manajer akan semakin menurunkan masalah keagenan, sehingga

membuat deviden tidak perlu dibayarkan pada resiko yang tinggi (Robinson

dan Pearce, 2008:47).

Nilai perusahaan dapat dilihat dari kemampuan perusahaan membayar

dividen. Besarnya dividen ini dapat mempengaruhi harga saham. Apabila

dividen yang dibayar tinggi, maka harga saham cenderung tinggi sehingga nilai

perusahaan juga tinggi. Sebaliknya bila jika dividen yang dibayarkan kecil

maka harga saham perusahaan tersebut juga rendah. Kemampuan membayar

dividen erat hubungannya dengan kemampuan perusahaan memperoleh laba.

Jika perusahaan memperoleh laba yang besar, maka kemampuan membayar

dividen juga besar. Oleh karena itu, dengan dividen yang besar akan

meningkatkan nilai perusahaan (Matono dan Harjito, 2005:3).

3

Hasnawati (2005) membuktikan bahwa kebijakan dividen secara

langsung mempengaruhi nilai perusahaan dan secara tidak langsung keputusan

investasi mempengaruhi nilai perusahaan melalui kebijakan dividen dan

keputusan pendanaan. Dan pada penelitian Wahyudi, dkk (2004) membuktikan

bahwa keputusan pendanaan berpengaruh terhadap nilai perusahaan, tetapi

keputusan investasi dan kebijakan dividen tidak berpengaruh terhadap nilai

perusahaan.

Faktor lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah

kebijakan hutang, perusahaan yang memiliki hutang tinggi menunjukkan

struktur permodalan lebih banyak dana yang dibiayai oleh pinjaman sehingga

ketergantungan perusahaan terhadap kreditur akan meningkat, sehingga apabila

perusahaan memperoleh laba usaha, maka akan diserap untuk melunasi hutang

dan akhirnya laba yang dibagikan kepada pemegang saham akan semakin kecil

yang berakibat investor enggan membeli saham perusahaan tersebut, sehingga

berakibat nilai perusahaan tersebut akan turun (Sudana, 2011:45). Penelitian

mengenai financial leverage terhadap nilai perusahaan dilakukan oleh

Anggraini (2013) dalam penelitiannya menghasilkan bahwa pengujian secara

individual (uji t) menunjukkan bahwa variabel Debt to Equity Ratio (DER)

berpengaruh terhadap variabel nilai perusahaan (PBV).

Variabel lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah firm

size, perusahaan yang berukuran besar pada umumnya lebih teridentifikasi,

lebih mudah dalam mengakses pasar modal. Sehingga resiko kebangkrutan

relatif kecil. Hal ini menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan investor

dalam pengambilan keputusan investasi. Ukuran perusahaan secara umum

4

menunjukkan kemampuan perusahaan dalam mendanai operasi dan investasi

yang menguntungkan bagi perusahaan, sehingga semakin besar sebuah

perusahaan maka akan semakin besar pula penjualannya dan berdampak pada

laba perusahaan. Peningkatan ini akan berdampak positif pada price earning

ratio pada masa yang akan datang karena akan dinilai positif oleh para investor

(Aji dan Pangestuti, 2012:3).

Menurut Brigham dan Houston (2010:117) ukuran perusahaan adalah

rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan sampai

beberapa tahun. Dalam hal ini penjualan lebih besar daripada biaya variabel

dan biaya tetap maka perusahaan akan menderita kerugian. Ukuran perusahaan

dinyatakan sebagai determinan dari struktur keuangan dalam hampir setiap

studi dan untuk sejumlah alasan yang berbeda. Pertama ukuran perusahaan

dapat menentukan tingkat kemudahan perusahaan memperoleh dana dari pasar

modal. Perusahaan kecil umumnya kekurangan akses ke pasar modal yang

terorganisir, baik untuk obligasi maupun saham. Kedua ukuran perusahaan

menentukan kekuatan tawar-menawar (bargaining power) dalam kontrak

keuangan. Perusahaan besar biasanya dapat memilih pendanaan dari berbagai

bentuk utang, termasuk penawaran spesial yang lebih menguntungkan

dibandingkan yang ditawarkan oleh peusahaan kecil. Semakin besar

kemungkinan jumlah uang yang terlibat, semakin besar kemungkinan

pembuatan kontrak yang dirancang sesuai dengan preferen kedua pihak sebagai

ganti dari penggunaan kontrak standar utang. Ketiga ada kemungkinan

pengaruh skala dalam biaya dan return membuat perusahaan yang lebih besar

dapat memperoleh lebih banyak dana. Ukuran Perusahaan dapat ditentukan

5

berdasarkan laba, aktiva, tenaga kerja, dan lain-lain, yang semuanya

berkorelasi tinggi (Sawir, 2004:101).

Penelitian mengenai firm size terhadap nilai perusahaan telah dilakukan

oleh beberapa peneliti, salah satunya adalah penelitian yang dilakukan oleh

Pramana dan Mustanda (2016), hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa

profitabilitas, ukuran perusahaan, dan CSR secara parsial berpengaruh terhadap

nilai perusahaan, dimana profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh

positif sedangkan CSR berpengaruh negatif. Selain itu diperoleh hasil bahwa

profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif terhadap Nilai Perusahaan,

Ukuran Perusahaan secara signifikan berpengaruh positif terhadap Nilai

Perusahaan, dan Corporate Social Responsibility (CSR) secara signifikan

berpengaruh negatif terhadap Nilai Perusahaan serta CSR mampu memoderasi

pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan, namun tidak mampu

memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

Variabel lain yang dapat mempengaruhi nilai perusahaan adalah

profitabilitas yang diproksikan dengan rasio return on equity, return on equity

merupakan rasio yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang

dimiliki perusahaan. Rasio ini penting bagi pemegang saham untuk mengetahui

efektivitas dan efisiensi pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak

manajemen perusahaan (Sudana, 2011:23).

Semakin besar nilai return on equity maka tingkat pengembalian yang

di harapkan investor juga besar. Semakin besar nilai return on equity maka

perusahaan dianggap semakin menguntungkan. Sehingga perusahaan yang

6

memiliki profitable investment opportunities, maka pasar akan memberikan

reward berupa PER yang tinggi (Sartono, 2001:42). Return on equity

menunjukkan sejauh mana perusahaan mampu mengelola modal sendiri secara

efektif, mengukur tingkat keuntungan dari investasi yang telah dilakukan

pemilik modal sendiri atau memegang saham perusahaan. Return on equity

memberikan informasi pada para investor tentang seberapa besar tingkat

pengembalian modal dari perusahaan yang berasal dari kinerja perusahaan

menghasilkan laba (Aji dan Pangestuti, 2012:2).

ROE merupakan variabel yang mempengaruhi harga saham secara

langsung. Return on equity (ROE) merupakan perbandingan laba setelah pajak

dengan modal sendiri. ROE mengukur kemampuan modal sendiri perusahaan

untuk menghasilkan keuntungan bagi pemegang saham. Perusahaan dengan

ROE tinggi akan menarik minat para investor untuk menanamkan modalnya

pada perusahaan tersebut karena keuntungan yang akan mereka terima besar

sehingga dapat meningkatkan harga saham perusahaan (Riadi, 2011:3).

Penelitian mengenai return on equity terhadap nilai perusahaan telah

dilakukan oleh beberapa peneliti, salah satunya adalah penelitian yang

dilakukan oleh Suaidah (2010), hasil penelitianya menyatakan bahwa hasil

pengujian hipotesis pertama didapatkan kesimpulan bahwa semua variabel

independen, yaitu ROA dan ROE memberikan pengaruh signifikan terhadap

nilai perusahaan.

Berdasarkan penjelasan yang telah diuraikan di atas, maka penulis

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai pengaruh kebijakan deviden,

kerbijakan hutang, firm size dan profitabilitas terhadap nilai perusahaan.

7

Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui apakah terdapat

pengaruh variabel kebijakan deviden, kerbijakan hutang, firm size dan

profitabilitas terhadap nilai perusahaan. Maka penelitian tersebut akan

diterjemahkan ke dalam karya tulis yang berjudul Analisis Pengaruh

Kebijakan Dividen, Kebijakan Hutang, Firm Size dan Profitabilitas

terhadap Nilai Perusahaan. (Studi Kasus Perusahaan Manufaktur Periode

2010 - 2014).

Perbedaan penelitian ini dengan penelitian sebelumnya adalah data

yang digunakan sebagai sampel dan penggunaan tahun dalam menguji dampak

yang ditimbulkan dan adanya pengaruh variabel investment opportunity set,

kebijakan dividen, firm size, inflasi, return on equity dan price earning ratio

terhadap nilai perusahaan. Dalam hal ini penulis mengambil sampel perusahaan

manufaktur yang terdaftar di BEI tahun 2010 - 2014, sehingga diharapkan

penelitian ini dapat memperbaharui penelitian sebelumnya.

B. Perumusan Masalah

Berdasarkan uraian di atas, maka permasalahan yang akan diteliti

dirumuskan sebagai berikut:

1. Apakah terdapat pengaruh secara parsial antara variabel kebijakan deviden

terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014?

2. Apakah terdapat pengaruh secara parsial antara variabel kebijakan hutang

terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014?

8

3. Apakah terdapat pengaruh secara parsial antara variabel firm size terhadap

nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode 2010 -

2014?

4. Apakah terdapat pengaruh secara parsial antara variabel profitabilitas

(return on equity) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur

yang pada periode 2010 - 2014?

5. Apakah terdapat pengaruh secara simultan antara variabel kebijakan

deviden, kebijakan hutang, firm size dan profitabilitas (return on equity)

terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini adalah

sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel kebijakan

deviden terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada

periode 2010 - 2014

2. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel kebijakan hutang

terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014

3. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel firm size terhadap

nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode 2010 -

2014

9

4. Untuk mengetahui pengaruh secara parsial antara variabel profitabilitas

(return on equity) terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur

yang pada periode 2010 - 2014

5. Untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel kebijakan

deviden, kebijakan hutang, firm size dan profitabilitas (return on equity)

terhadap nilai perusahaan pada perusahaan manufaktur yang pada periode

2010 - 2014

D. Manfaat Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah dan tujuan penelitian diharapkan

dapat bermanfaat bagi beberapa pihak, adapun manfaat penelitian sebagai

berikut:

1. Bagi peneliti

Diharapkan dengan adanya penelitian ini peneliti dapat menggali ilmu

tentang apa yang telah dikemukakan di atas dan dapat dipraktekan di

kehidupan yang sesungguhnya.

2. Bagi Investor

Sebagai bahan pertimbangan serta informasi bagi manajer dan investor

dalam menentukan alternatif pendanaan dan aspek-aspek yang

mempengaruhinya, serta sebagai salah satu masukan mengaenai kinerja

perusahaan sehingga mempertimbangkan kebijakan calon investor dalam

menanamkan modalnya.

3. Bagi Civitas Akademik

Sebagai bahan pertimbangan dalam mengevaluasi proses belajar mengajar

pada program studi sehingga dapat diterapkan di lapangan dan untuk

menambah referensi sebagai rekomendasi penelitian yang akan

dilaksanakan di waktu yang akan datang.

10

11

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Landasan Teori

1. Rasio Keuangan

a. Pengertian Rasio Keuangan

Rasio Keuangan adalah angka yang diperoleh dari hasil

perbandingan dari satu pos laporan keuangan dengan pos lainya yang

mempunyai hubungan yang relavan dan signifikan. Teknik ini sangat

lazim digunakan para analisis keuangan. Rasio keungan adalah dasar

untuk menilai dan mengarahkan prestasi operasi perusahaan. Disamping

itu, analisa rasio keuangan juga dibuat berdasarkan tujuan dari pihak si

penganalisis dalam mengevaluasi kinerja perusahaan berdasarkan laporan

keuanganya (Sugiono, 2009:64).

Laporan keuangan melaporkan aktivitas yang sudah dilakukan

perusahaan dalam suatu periode tertentu. Aktivitas yang sudah dilakukan

dituangkan dalam angka-angka baik dalam bentuk mata uang rupiah

maupun mata uang asing. Angka-angka yang ada dalam laporan

keuangan menjadi kurang berarti jika hanya dilihat dari satu sisi saja.

Artinya jika hanya dengan melihat adanya. Angka-angka ini akan

menjadi lebih apabila dapat kita bandingkan antara satu komponen satu

dengan komponen lainya. Caranya adalah dengan membandingkan

angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan laporan keuangan

12

lainya. Setelah melakukan perbandingan dapat disimpulkan posisi

keuangn dalam periode tertentu. Pada akhirnya kita dapat menilai kinerja

manajemen dalam periode tersebut. Perbandingan ini kita kenal dengan

dengan nama analisis rasio keuangan. Rasio keuangan membantu kita

untuk mengidentifikasikan beberapa kelemahan dan kekuatan keuangan

perusahaan (Keown, 2011:74).

Rasio keuangan merupakan penulisan ulang data akuntansi ke

dalam bentuk perbandingan dalam rangka mengidentifikasi kekuatan dan

kelemahan keuangan perusahaan (Keown, 2011:74).

Rasio keuangan digunakan untuk mengevaluasi kondisi

keuangandan kinerja perusahaan. Dari hasil rasio keuangan ini akan

terlihat kondisi kesehatan perusahaan yang bersangkutan (Kasmir dan

Jakfar, 2008:104). Jadi rasio keuangan merupakan kegiatan

membandingkan angka-angka yang ada dalam laporan keuangan dengan

cara membagi satu angka dengan angka lainya. Perbandingan dapat

dilakukan antara satu komponen dengan komponen dalam satu laporan

keuangn lainya. Kemudian angka yang diperbandingkan dapat berupa

angka-angka dalam satu oeriode maupun beberapa periode. Hasil rasio

ini digunakan untuk menilai kinerja manajemen dalam satu peride apakah

mencapai target seperti yang telah ditetapkan. Kemudian dapat dinilai

kemampuan manajemen dalam memberdayakan sumber daya perusahaan

secara efektif (Kasmir dan Jakfar, 2008:104).

13

Dari kinerja yang dihasilkan ini juga dapat dijadikan evaluasi hal-

hal yang perlu dilakukan ke depan agar kinerja manajemen dapat

ditingkatkan atau dipertahankan sesuai dengan target perusahaan. Atau

kebijakan yang harus diambil oleh pemilik prusahaan untuk melakukan

perubahan terhadap orang-orang yang duduk dalam manajemen kedepan

(Kasmir dan Jakfar, 2008:105).

b. Bentuk - Bentuk Rasio Keuangan

Tujuan manajemen keuangan yakni memaksimalkan harga

saham, bukan memaksimalkan laba per saham seperti ukuran akuntansi.

Data akuntansi sangat mempengaruhi harga saham dan untuk memahami

bagaimana kinerja perusahaan serta proyeksi keuangan, dan harus

mengevaluasi akuntansi yang di laporkan dalam laporan keuangan

berguna untuk mengevaluasi kemungkinan di bayarnya pinjaman dan

bagi pemegang saham berguna untuk meramaklan laba, deviden, dan

harga saham (Moeljadi, 2006:67).

Untuk mengukur kinerja keuangan perusahaan dengan

menggunakan rasio-rasio keuangan, dapat dilakukan dengan beberapa

rasio keuangan. Berikut ini merupakan bentuk-bentuk rasio keuangan

menurut Weston dalam (Kasmir dan Jakfar, 2008:106):

1) Rasio Likuiditas

Rasio likuiditas merupakan rasio yang menggambarkan

kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiban jangka pendek

(fred weston). Fungsi lain rasio likuiditas adalah untuk menunjukan

atau mengukur kemampuan perusahaan dalam memenuhi kewajiabnya

14

yang jatuh tempo, baik kewajiban kepada pihak luar perusahaan

(likuiditas badan usaha) maupun di dalam perusahaan (likuiditas

perusahaan) (Kasmir dan Jakfar, 2008:110).

2) Rasio Solvabilitas (Leverage Ratio)

Rasio solvabilitas atau leverage ratio merupakan rasio yang

digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai

dengan hutang. Artinya seberapa besar beban utang yang di tanggung

perusahaan yang di bandingkan dengan aktivanya. Dalam arti luas

dikatakan bahwa rasio solvabilitas digunakan untuk mengukur suatu

kemampuan perusahaan untuk membayar seluruh kewajibanya, baik

jangka pendek maupun jangka panjang apabila perusahaan dibubarkan

(dilikuidasi) (Kasmir dan Jakfar, 2008:151).

3) Rasio Aktivity (Activity Ratio)

Rasio aktivitas merupakan rasio yang digunakan untuk

mengukur tingkat efisiensi pemanfaatan sumber daya perusahaan

(penjualan, persediaan, penagihan piutang dan lainya) atau rasio untuk

menilai kemampuan perusahaan dalam melaksanakan aktifitas sehari-

hari dari hasil pengukuran dengan rasio ini akan terlihat apakah

perusahaan lebih efisien atau sebaliknya dalam mengelola asset yang

dimilikinya (Kasmir dan Jakfar, 2008:114).

4) Rasio Profitabilitas (Profitability Ratio)

Pada dasarnya konsep teori rentabilitas atau profitabilitas ingin

mengungkap perbandingan laba dengan modal pada periode tertentu

15

(Riyadi, 2006:155) dalam (Indriani, 2008:5). Rasio profitabilitas

merupakan rasio untuk menilai kemampuan perusahaan dalam

mencari keuntungan atau laba dalam suatu periode tertentu (Kasmir

dan Jakfar, 2008:114). Rasio pfrofitabilitas sekelompok rasio yang

menunjukan kombinasi dari pengaruh likuiditasi, manajemen asset,

dan hutang pada hasil operasi (Bringham dan Houston, 2010:146).

5) Rasio Pertumbuhan (Growth Ratio)

Rasio pertumbuhan merupakan rasio yang menggambarkan

kemampuan perusahaan dalam mempertahankan posisi ekonominya

ditengah pertumbuhan perekonomian dan sector usahanya (Kasmir

dan Jakfar, 2008:115).

6) Rasio Penilaian (Valution Ratio)

Rasio penilaian merupakan rasio yang memberikan ukuran

kemampuan manajemen menciptakan nilai pasar usahanya di atas

biaya investasi seperti:

a) Rasio harga saham terdapat pendapatan

b) Rasio nilai pasar saham terdapat nilai buku

2. Kinerja Keuangan dan Laporan Keuangan

Dalam sebuah perusahaan kinerja adalah hal yang teramat sangat

penting dan perlu mendapatkan perhatian lebih. Kinerja perusahaan

merupakan indikator yang penting tidak hanya bagi pihak perusahaan

namun juga untuk para pemangku kepentingan, misalnya investor. Kinerja

perusahaan menunjukkan kemampuan manajemen dalam perusahaan untuk

16

mengelola semua sumber daya yang ada dalam perusahaan untuk mencapai

tujuan perusahaan.

Laporan keuangan merupakan hasil akhir dari proses akuntansi.

Sebagai hasil akhir dari proses akuntansi, laporan keuangan memberikan

informasi yang berguna untuk pengambilan keputusan berbagai pihak,

misalnya pemilik perusahaan atau kreditor (Suwiknyo, 2010:42).

Dua laporan keuangan yang umumnya memakai dasar akrual adalah

laporan keuangan laba rugi (profit and loss statement) dan neraca (balance

sheet). Sementara itu, laporan arus kas (cash flow statement) adalah laporan

keuangan yang juga didasarkan atas dasar akrual, tetapi telah disesuaikan

sedemikian rupa sehingga mencerminkan arus kas yang sebenarnya

(Mardiyanto, 2008:27).

Brigham dan Houston (2010:87) menjelaskan bahwa neraca

(balance sheet) adalah suatu laporan mengenai posisi keuangan perusahaan

pada suatu titik tertentu). Sedangkan menurut Revee, dkk (2009:22)

neraca merupakan daftar asset, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada waktu

tertentu, biasanya pada tanggal terakhir dari bulan atau tahun tertentu.

Neraca terdiri dari dua sisi dimana sisi sebelah kanan menyajikan data

aktiva yang dimiliki oleh perusahaan, sedangkan sisi sebelah kiri

menyajikan kewajiban dan ekuitas perusahaan yang mencerminkan klaim

terhadap aktiva. Neraca merupakan laporan keuangan yang menggambarkan

kondisi finansial perusahaan pada suatu waktu tertentu.

17

Neraca disebut juga sebagai gambaran kondisi keuangan perusahaan

yang bersifat snapshot atau gambaran sesaat seperti layaknya sebuah foto,

karena neraca hanya memberikan informasi posisi keuangan perusahaan

pada saat tertentu saja (Tandelilin, 2010:365-366).

Neraca merupakan laporan yang mengungkapkan posisi keuangan

(kekayaan) dari suatu perusahaan pada tanggal tertentu mencakup aktiva

(asset), utang (liability) dan ekuitas (equity). Hubungan ketiganya disebut

sebagai persamaan akuntansi, yakni aktiva sama dengan utang ditambah

ekuitas (Mardiyanto, 2008:27).

Mengenai laporan laba rugi (income statement), Brigham dan

Houston (2010:93) menjelaskan bahwa laporan laba rugi (income

statement) adalah laporan yang merangkum pendapatan dan beban

perusahaan selama suatu periode akuntansi, biasanya satu kuartal atau satu

tahun. Lebih lanjut Revee, dkk (2009:22) menjelaskan bahwa laporan laba

rugi merupakan ringkasan dari pendapatan dan beban untuk suatu periode

waktu tertentu, seperti satu bulan atau satu tahun. Pada laporan laba rugi,

penjualan bersih disajikan pada bagian atas laporan, sedangkan biaya-biaya

operasional, bunga, dan pajak dijadikan sebagai pengurang untuk

menentukan besarnya laba bersih yang tersedia bagi para pemegang saham.

Komponen dalam laporan laba/rugi terdiri dari, laba bersih atau rugi bersih,

pendapatan, beban, harga pokok produksi dan harga pokok penjualan (Fuad,

dkk, 2006:167).

18

3. Nilai Perusahaan

Nilai perusahaan dapat dianggap sebagai kue bola. Tujuan dari

manajer adalah untuk memperbesar kue bola tersebut keputusan struktur

permodalan (capital structure decision) dapat dilihat sebagai bagaimana

baiknya memotong kue bola tersebut. Jika bagaimana anda memotong

mempengaruhi ukuran kue bola tersebut maka keputusan struktur

permodalan ada pengaruhnya. Nilai perusahaan merupakan nilai pasar

hutang ditambah dengan nilai pasar equity (Rodoni dan Ali, 2010:3 - 4).

Harga saham dan nilai perusahaan mengikhtisarkan penilaian kolektif

investor tentang seberapa baikkah keadaan suatu perusahaan, baik kinerja

saat ini maupun prospek masa depannya. Oleh sebab itu, peningkatan harga

saham mengirimkan sinyal positif dari investor kepada manajer. Dan inilah

keunggulan penting perusahaan go public. Perusahaan tertutup tidak bisa

mengunakan harga saham sebagai ukuran kinerja (Brealy, Myers & Marcus,

2007:56).

Beberapa konsep nilai yang menjelaskan nilai suatu perusahaan

adalah nilai nominal, nilai pasar, nilai intrinsic, nilai buku dan nilai

likuidasi. Nilai nominal adalah nilai yang tercantum secara formal dalam

anggaran dasar perseroan, disebut secara eksplisit dalam neraca perusahaan,

dan juga ditulis jelas dalam surat saham kolektif. Nilai pasar, sering juga

disebut kurs adalah harga yang terjadi dari proses tawar-menawar dipasar

saham. Nilai intrinsik, merupakan konsep yang paling abstrak, karena

mengacu pada perkiraan nilai riil suatu perusahaan. Nilai perusahaan dalam

konsep nilai intrinsik ini bukan sekedar harga dari sekumpulan asset,

19

melainkan nilai perusahaan sebagai entitas bisnis yang memiliki

kemampuan menghasilkan keuntungan dikemudian hari. Sedangkan nilai

buku adalah nilai perusahaan yang dihitung dengan dasar konsep akuntansi.

Secara sederhana dihitung dengan cara membagi selisih antara total aktiva

dan total hutang dengan jumlah saham yang beredar. Nilai likuidasi adalah

nilai jual seluruh asset perusahaan setelah dikurangi semua kewajiban yang

harus dipenuhi. Nilai sisa itu merupakan bagian para pemegang saham.

Nilai likuidasi bisa di hitung dengan cara yang sama dengan menghitung

nilai buku, yaitu berdasarkan neraca proforma yang disiapkan ketika suatu

perusahaan akan dilikuidasi (Keown, 2008:849).

Nilai perusahaan yang tinggi menjadi keinginan para pemilik

perusahaan, sebab dengan nilai yang tinggi menunjukan kemakmuran

pemegang saham juga akan meningkat. Kekayaan pemegang saham dan

perusahan direpresentasikan oleh harga pasar dari saham yang merupakan

cerminan dari keputusan investasi, kebijakan dividen, dan keputusan

pendanaan (Brigham dan Houston, 2009:19). Rasio yang dipakai untuk

mengukur nilai perusahaan adalah sebagai berikut (Mardiyanto, 2008:64):

a. Price Book Value (PBV)

Menggambarkan seberapa besar pasar menghargai nilai saham

suatu perusahaan. Semakin tinggi rasio ini maka pasar percaya akan

prospek perusahaan. Rumus menghitung PBV adalah:

20

b. Tobins Q

Nilai perusahaan dihitung dengan menggunakan Tobins Q,

dengan rumus sebagai berikut:

Keterangan : Q = Nilai perusahaan

EMV = Nilai pasar ekuitas

EMV = Harga saham x jumlah saham beredar)

D = Nilai buku dari total hutang

EBV = Nilai buku dari total aktiva

Harga saham yang dimaksud disini adalah harga pada saat saham

penutupan atau harga terakhir dan merupakan harga yang tidak mungkin

berubah sampai bursa diaktifkan kembali dan harga terakhir ini mewakili

nilai bagi investor. Perusahaan yang menunjukkan Tobins Q lebih besar

berarti perusahaan memanfaatkan sumber daya yang dimilikinya dengan

sangat baik.

4. Kebijakan Deviden

Rasio antara dividen dan laba bersih sering disebut sebagai dividend

payout ratio (DPR). Dengan kebijakan ini perusahaan kurang dapat

memperkirakan jumlah pembayaran deviden yang akan dilakukan setiap

periode. Jumlah pembayaran deviden dengan persentase tetap dari EPS akan

mempengaruhi posisi harga saham dio pasar. Pada saat laba menurun maka

pembayaran deviden juga menurun dan hal ini akan menyebabkan harga

saham menurun juga (Astuti, 2004:146). Sepintas, para pemegang saham

21

akan merasa senang apabila bagian dari laba bersih yang dibagikan sebagai

dividen ini semakin besar. Akan tetapi, apabila DPR ini semakin besar,

berarti laba ditahan semakin menciut. Dengan demikian, keputusan dividen

akan mengacu pada suatu kebijakan dividen (dividend policy) yang optimal

terutama disesuaikan dengan konsep tujuan memaksimumkan nilai

perusahaan.

Rodoni dan Ali (2010:125) mengatakan bahwa kebijakan dividen

yang optimal (optimal dividend policy) perusahan adalah kebijakan yang

menciptakan keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan

perusahaan di masa yang akan datang yang memaksimalkan nilai

perusahaan.

Menurut agency theory (Jansen and Mackling, 1976) dalam Farah

Margaretha (2009:5) salah satu pendekatan untuk meminimumkan agency

problem adalah dengan mekanisme pembayaran dividen. Menurut Rozeff

(1982) dan Mohd et.al,. (1998) dalam Haruman (2008:151) masalah

keagenan dapat diturunkan dengan mekanisme pembayaran dividen, karena

dengan pembayaran dividen pemegang saham melihat bahwa pengelola

perusahaan telah melakukan tindakan yang sesuai dengan keinginan mereka,

sehingga akan mengurangi konflik keagenan.

Selain agency theory, terdapat beberapa teori yang menjelaskan

mengenai kebijakan dividen, antara lain (Sjahrial, 2008:311)

a. Teori Dividen Tidak Relevan (Dividend Irrelevant Theory)

Modigliani dan Miller (M&M) berpendapat, nilai suatu

perusahaan tidak ditentukan oleh besar kecilnya dividen payout ratio,

tapi ditentukan oleh laba bersih sebelum pajak (EBIT) dan kelas risiko

22

perusahaan. Jadi menurut MM, dividen tidak relevan untuk

diperhitungkan karena tidak akan meningkatkan kesejahteraan pemegang

saham. Menurut MM kenaikan nilai perusahaan dipengaruhi oleh

kemampuan perusahaan untuk mendapatkan keuntungan atau earning

power dari asset perusahaan.

b. Teori The Bird in The Hand

Gordon dan Litner menyatakan bahwa biaya modal sendiri

perusahaan akan naik jika dividend payout rendah karena investor lebih

suka menerima dividen dari pada capital gains. Menurut mereka,

investor memandang dividend yield lebih pasti dari pada capital gains.

Perlu diingat bahwa dilihat dari sisi investor, biaya modal sendiri dari

laba ditahan (Ks) adalah tingkat keuntungan yang disayratkan investor

pada saham. Ks adalah keuntungan dari capital gains (capital gains

yield) ditambah keuntungan dari capital gains (capital gains yield).

Menurut MM pendapat ini merupakan suatu kesalahan karena pada

akhirnya investor akan kembali menginvestasikan dividen yang diterima

pada perusahaan yang sama atau perusahaan yang memiliki resiko yang

hampir sama (Halim, 2005:124).

c. Teori Perbedaan Pajak.

Teori ini diajukan oleh Litzenberger dan Ramaswarmy,

menyatakan bahwa karena ada pajak terhadap keuntungan dividen dan

capital gains, para investor lebih menyukai capital gains karena dapat

menunda pembayaran pajak. Oleh karena itu investor mensyaratkan suatu

tingkat keuntungan yang lebih tinggi pada saham yang memberikan

dividend yield tinggi, capital gains yield rendah dari pada saham dengan

dividen yield rendah, capital gains yield tinggi.

23

d. Teori Signaling Hypothesis.

Terdapat bukti empiris bahwa jika ada kenaikan dividen, sering

diikutu dengan kenaikan harga saham. Sebaliknaya penurunan dividen

pada umumnya menyebabkan harga saham turun. Fenomena ini dapat

dianggap sebagai bukti bahwa para investor lebih menyukai dividen dari

pada capital gains. Seperti teori dividen yang lain, teori signaling

hypothesis ini juga sulit dibuktikan secara empiris. Adalah nyata bahwa

perubahan dividen mengandung beberapa informasi. Tapi sulit dikatakan

apakah kenaikan dan penurunan harga setelah adanya kenaikan dan

penurunan dividen semata-mata disebabkan oleh efek sinyal atau

disebabkan karena efek sinyal dan preferensi terhadap dividen.

e. Teori Clientele Effect

Teori ini menyatakan bahwa kelompok (clientele) pemegang

saham yang berbeda akan memiliki preferensi yang berbeda terhadap

kebijakan dividen perusahaan. Kelompok pemegang saham yang

membutuhkan penghasilan pada saat ini lebih menyukai suatu dividend

payout ratio yang tinggi. Sebaliknya kelompok pemegang saham yang

tidak begitu membutuhkan uang saat ini lebih senang jika perusahaan

menahan sebagian besar laba bersih perusahaan. Kelompok pemegang

saham yang membutuhkan penghasilan pada saat ini akan lebih

menyukai suatu dividend payout ratio (DPR) yang tinggi. Sebaliknya,

kelompok pemegang saham yang tidak begitu membutuhkan uang saat

ini akan lebih senang jika perusahaan menahan sebagian laba bersih

perusahaan.

24

Adapun rasio yang digunakan sebagai indikator dari kebijakan

dividen adalah dividend payout ratio (DPR). Dividen payout ratio (DPR)

merupakan rasio yang memperlihatkan bagian earning (pendapatan) yang

dibayarkan sebagai dividen kepada investor. Rasio ini diukur dengan

membagi jumlah dividen perlembar saham dengan laba perlembar saham.

Perusaahaan yang mempunyai tingkat pertumbuhan yang tinggi akan

mempunyai rasio pembayaran dividen yang rendah, sebaliknya perusahaan

yang tingkat pertumbuhannya rendah akan mempunyai rasio yang tinggi

(Hanafi, 2008:86).

Rodoni dan Ali (2010:125) menyatakan setiap perubahan dalam

kebijakan pembayaran dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan

yaitu apabila dividen akan dibayarkan semua, maka keputusan cadangan

terabaikan dan sebaliknya apabila laba akan ditahan semua kepentingan

pemegang saham akan uang kas akan terabaikan. Untuk menjaga kedua

kepentingan tersebut, maka manajer dapat menempuh kebijakan yang

optimal. Kebijakan dividen yang optimal merupakan kebijakan yang

menciptakan keseimbangan antara dividen saat ini dan pertumbuhan dimasa

yang akan datang, sehingga dapat dimaksimumkan laba dan mempengaruhi

nilai perusahaan.

5. Kebijakan Hutang

Kebijakan hutang diproksikan dengan rasio hutang yaitu debt to

equity ratio, Rasio ini mengukur berapa besar penggunaan utang dalam

pembelanjaan perusahaan. Sudana (2011:158) menjelaskan bahwa

25

penggunaan utang dalam pembelanjaan investasi perusahaan dapat

mempengaruhi kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba atas modal

yang digunakan (return on equity).

Sampai sejauh apa perusahaan menggunakan pendanaan melalui

utang akan memberikan tiga dampak penting, yaitu:

a. Menghimpun dana melalui utang, pemegang saham dapat mengendalikan

perusahaan dengan jumlah investasi ekuitas yang terbatas.

b. Kreditor melihat ekuitas atau dana yang diberikan oleh pemilik sebagai

batas pengaman. Jadi, makin tinggi proporsi total modal yang diberikan

oleh pemegang saham, makin kecil risiko yang dihadapi oleh kreditor.

c. Jika hasil yang diperoleh dari asset perusahaan lebih tinggi dari pada

tingkat bunga yang dibayarkan, maka penggunaan utang akan

mengungkit (leverage) atau memperbesar pengembalian atas ekuitas

atau ROE. (Brigham dan Houston, 2010:140)

Menurut Sudana (2011:20-21) Besar kecilnya rasio ini dapat dikukur

dengan Debt Ratio, Times interest earned ratio, dan Long Term Debt to

Equity Ratio.

a. Debt Ratio merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur

tingkat leverage perusahaan. Debt Ratio digunakan untuk mengukur

proporsi dana yang bersumber dari utang untuk membiayai aktiva

perusahaan. Rasio yang semakin besar menunjukkan porsi utang yang

semakin besar dalam investasi pada aktiva perusahaan. Porsi utang yang

semakin besar akan meningkatkan risiko keuangan perusahaan.

Demikian pula sebaliknya, rasio yang rendah menunjukkan rendahnya

26

=

=

=

porsi utang dalam pembiayaan perusahaan yang mengakibatkan semakin

rendah pula risiko keuangan perusahaan. Debt ratio dapat diukur dengan

formula sebagai berikut:

b. Time Interest Earned Ratio merupakan rasio keuangan yang digunakan

untuk mengukur kemampuan perusahaan untuk membayar beban tetap

perusahaan berupa bunga dengan menggunakan laba sebelum bunga dan

pajak. Rasio yang semakin besar menunjukkan semakin baik kemampuan

perusahaan dalam membayar bunga. Keadaan ini akan memberikan

peluang yang semakin besar bagi perusahaan untuk mendapatkan

tambahan pinjaman dari pihak luar. Rasio ini dapat diukur dengan

formula sebagai berikut:

c. Long term debt to equity ratio merupakan rasio keuangan yang

digunakan untuk mengukur besar kecilnya penggunaan utang jangka

panjang dibandingkan dengan modal sendiri perusahaan.Rasio yang

semakin besar mencerminkan risiko perusahaan yang semakin tinggi,

demikian pula sebaliknya, rasio yang semakin rendah menunjukkan

risiko keuangan perusahaan yang semakin rendah. Long Term Debt to

Equity Ratio dapat diukur dengan formula sebagai berikut:

27

Sugiono dan Untung (2008:130) menambahkan bahwa rasio leverage

dapat juga diukur dengan total debt to equity ratio. Total debt to equity

ratio adalah rasio yang menggambarkan komposisi asset perusahaan yang

dibiayai oleh hutang (Sugiono dan Untung, 2008:130). Sedangkan menurut

Harahap (2007:306) Total Debt to Equity Ratio adalah rasio yang

menggambarkan hubungan antara hutang perusahaan terhadap modal

maupun asset. Total Debt to Equity Ratio merupakan rasio yang

menunjukkan perbandingan penggunaan utang terhadap modal sendiri yang

dimiliki oleh perusahaan. Semakin besar rasio ini menunjukkan bahwa

risiko keuangan perusahaan semakin tinggi, dan sebaliknya, semakin rendah

rasio ini menunjukkan tingkat risiko yang semakin rendah bagi perusahaan.

Untuk mengukur sejauh mana perusahaan dibiayai dengan hutang salah

satunya dapat dilihat melalui total debt to equity ratio. Rasio Total Debt to

Equity Ratio dapat dirumuskan sebagai berikut (Sugiono dan Untung,

2008:130):

Dari sudut pandang manajemen keuangan, rasio leverage keuangan

merupakan salah satu rasio yang banyak dipakai untuk meningkatkan

(leveraged) profitabilitas perusahaan. Rasio leverage membawa implikasi

penting dalam pengukuran risiko finansial perusahaan. Terdapat pengaruh

negatif pada leverage keuangan yakni bahwa profitabilitas perusahaan

berkurang sebagai akibat dari penggunaan hutang perusahaan yang besar,

sehingga dapat menyebabkan biaya tetap yang harus ditanggung lebih besar

28

dari operating income yang dihasilkan hutang tersebut, (Martono,

2002:128).

Bagi perusahaan sebaiknya hutang tidak boleh melebihi modal

sendiri agar beban hutang tetapnya tidak terlalu tinggi. Dimana DER yang

tinggi menunjukkan struktur permodalan usaha lebih banyak memanfaatkan

hutang terhadap ekuitas. Perusahaan dengan laba bertumbuh mempunyai

kesempatan yang profitable dalam mendanai investasinya secara internal

sehingga perusahaan menghindar untuk menarik dana dari luar dan berusaha

mencari solusi yang tepat atas masalah-masalah yang terkait dengan

hutangnya, selain itu dengan profitabilitas yang meningkat akan

meningkatkan laba ditahan sehingga akan mengurangi minat perusahaan

untuk melakukan pinjaman dan rasio DER menurun. Karena hutang

mempunyai dampak yang buruk terhadap kinerja perusahaan, karena tingkat

hutang yang semakin tinggi berarti beban bunga akan semakin besar yang

artinya mengurangi keuntungan. Semakin tinggi DER menunjukkan

semakin besar beban perusahaan terhadap pihak luar, hal ini sangat

memungkinkan menurunkan kinerja perusahaan.

Laba yang diberikan kepada para pemegang saham disebut leverage

keuangan. Secara bahasa leverage berarti pengungkit (alat ungkit). Jadi, jika

diterapkan dalam istilah keuangan, dapat dikatakan bahwa dengan usaha

sedikit akan diperoleh hasil yang besar. Leverage keuangan tercipta pada

waktu laba perusahaan lebih besar daripada bunga pinjaman yang harus

dibayarnya (Kuswadi, 2005:90).

29

Para kreditor secara umum akan lebih suka jika rasio ini lebih

rendah. Semakin rendah rasio ini, semakin tinggi tingkat pendanaan

perusahaan yang disediakan oleh pemegang saham, dan semakin besar

perlindungan bagi kreditor, jika terjadi penyusutan nilai aktiva atau kerugian

besar (Horne dan Wachowicz, 2009:209). Formulasi dari debt to equity ratio

adalah sebagai berikut:

6. Firm Size

Menurut Prabandi dan Rustiana (2007:29), ukuran perusahaan dapat

diartikan sebagai suatu skala dimana dapat diklasifikasikan besar kecil

perusahaan dengan berbagai cara antara lain dinyatakan dalam total aktiva,

nilai pasar saham, dan lain-lain. Keputusan ketua BAPEPAM No. Kep.

11/PM/1997 menyebutkan perusahaan kecil dan menengah berdasarkan

aktiva (kekayaan) adalah badan hukum yang memiliki total aktiva tidak

lebih dari seratus milyar, sedangkan perusahaan besar adalah badan hukum

yang total aktivanya diatas seratus milyar.

Pada dasarnya ukuran perusahaan hanya terbagi pada tiga kategori,

yaitu perusahaan besar (large firm), perusahaan menengah (medium size),

dan perusahaan kecil (small firm). Penentuan perusahaan ini didasarkan

pada total asset perusahaan, kategori ukuran perusahaan yaitu (Fajri,

2008:7):

a. Perusahaan Besar

Debt to Total Ratio = Total Hutang

Modal Sendiri

30

Perusahaan besar adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih

lebih besar dari Rp 10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki

penjualan lebih dari Rp 50 milyar/tahun.

b. Perusahaan Menengah

Perusahaan menengah adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih

Rp 1-10 Milyar termasuk tanah dan bangunan. Memiliki hasil penjualan

lebih besar dari Rp 1 Milyar dan kurang dari Rp 50 Milyar.

c. Perusahaan Kecil

Perusahaan kecil adalah perusahaan yang memiliki kekayaan bersih

paling banyak Rp 200 juta tidak termasuk tanah dan bangunan dan

memiliki hasil penjualan minimal Rp 1 Milyar/tahun.

Ukuran perusahaan merupakan fungsi dari kecepatan pelaporan

keuangan karena semakin besar suatu perusahaan maka perusahaan akan

melaporkan hasil laporan keuangan yang telah diaudit semakin cepat karena

perusahaan memiliki banyak sumber informasi dan memiliki sistem

pengendalian internal perusahaan yang baik sehingga dapat mengurangi

tingkat kesalahan dalam penyusunan laporan keuangan yang memudahkan

auditor dalam melakukan audit laporan keuangan. Dengan demikian dapat

disimpulkan bahwa kemungkinan ukuran perusahaan dapat mempengaruhi

waktu penyelesaian audit (Rachmawati, 2008:3).

Menurut Brigham dan Houston (2010:117) ukuran perusahaan

adalah rata-rata total penjualan bersih untuk tahun yang bersangkutan

sampai beberapa tahun, dalam hal ini penjualan lebih besar daripada biaya

variabel dan biaya tetap maka perusahaan akan menderita kerugian.

31

Ukuran perusahaan dinyatakan sebagai determinan dari struktur

keuangan dalam hampir setiap studi dan untuk sejumlah alasan yang

berbeda. Pertama ukuran perusahaan dapat menentukan tingkat kemudahan

perusahaan memperoleh dana dari pasar modal. Perusahaan kecil umumnya

kekurangan akses ke pasar modal yang terorganisir, baik untuk obligasi

maupun saham. Kedua ukuran perusahaan menentukan kekuatan tawar-

menawar (bargaining power) dalam kontrak keuangan. Perusahaan besar

biasanya dapat memilih pendanaan dari berbagai bentuk utang, termasuk

penawaran spesial yang lebih menguntungkan dibandingkan yang

ditawarkan oleh peusahaan kecil. Semakin besar kemungkinan jumlah uang

yang terlibat, semakin besar kemungkinan pembuatan kontrak yang

dirancang sesuai dengan preferen kedua pihak sebagai ganti dari

penggunaan kontrak standar utang. Ketiga ada kemungkinan pengaruh skala

dalam biaya dan return membuat perusahaan yang lebih besar dapat

memperoleh lebih banyak dana. Ukuran perusahaan dapat ditentukan

berdasarkan laba, aktiva, tenaga kerja, dan lain-lain, yang semuanya

berkorelasi tinggi (Sawir, 2004:101).

Ukuran perusahaan merupakan variabel kontrol yang banyak

digunakan dalam penelitian, hal ini disebabkan karena banyaknya keputusan

investasi dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. Ukuran perusahaan biasanya

diproksikan dengan total asset, karena nilai asset yang cukup besar maka

ukuran perusahaan akan diperhalus dengan melakukan Log (Asset) atau Ln

(Asset). Ukuran perusahaan (Size) adalah ukuran besar kecilnya suatu

perusahaan. Perusahaan yang lebih besar cenderung memiliki sumber

permodalan yang lebih terdiversifikasi sehingga ukuran perusahaan (Size)

Size = Ln (total aktiva)

32

merupakan kebalikan keuntungan terjadinya kebangkrutan. Pengukuran

ukuran perusahaan dilakukan dengan menggunakan rumus (Asnawi dan

Wijaya, 2005:274):

7. Profitabilitas (Return on Equity)

Menurut Munawir (2004:8) profitabilitas adalah suatu kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba dalam periode tertentu. Profitabilitas

juga dapat menunjukkan hasil akhir dari sejumlah kebijaksanaan dan

keputusan-keputusan manajemen.

Menurut Sudana (2011:22-23) rasio ini mengukur kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba dengan menggunakan sumber-sumber

yang dimiliki perusahaan, seperti aktiva, modal, atau penjualan perusahaan.

Rasio ini dapat diukur dengan beberapa indikator, yaitu return on assets,

return on equity, net profit margin, operating profit margin, gross profit

margin dan basic earning power.

a. Return on assets (ROA) menunjukkan kemampuan perusahaan dengan

menggunakan seluruh aktiva yang dimiliki untuk menghasilkan laba

setelah pajak. Rasio ini penting bagi pihak manajemen untuk

mengevaluasi efektivitas dan efisiensi manajemen perusahaan dalam

mengelola seluruh aktiva perusahaan. Semakin besar ROA berarti

semakin efisien penggunaan aktiva perusahaan dan demikian pula

sebaliknya. Return on assets (ROA) dapat diukur dengan formula sebagai

berikut:

33

b. Return on Equity (ROE) menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri

yang dimiliki perusahaan. Rasio ini penting bagi pemegang saham untuk

mengetahui efektivitas dan efisiensi pengelolaan modal sendiri yang

dilakukan oleh pihak manajemen perusahaan. Semakin tinggi rasio ini

berarti semakin efisien penggunaan modal sendiri yang dilakukan oleh

pihak manajemen perusahaan. Return on Equity (ROE) dapat dirumuskan

sebagai berikut:

=

c. Profit margin ratio mengukur kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba dengan menggunakan penjualan yang dicapai

perusahaan. Semakin tinggi rasio menunjukkan bahwa perusahaan

semakin efisien dalam menjalankan operasinya demikian pula

sebaliknya. Profit margin ratio dibedakan menjadi:

1) Net profit margin, rasio ini mengukur kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba bersih dari penjualan yang dilakukan oleh

perusahaan. Rasio ini mencerminkan efisiensi seluruh bagian, yaitu

produksi, personalia, pemasaran, dan keuangan yang ada dalam

perusahaan. Net profit margin dapat diukur dengan formula sebagai

berikut:

34

2) Operating profit margin merupakan rasio keuangan yang digunakan

untuk mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba sebelum

bunga dan pajak dengan penjualan yang dicapai perusahaan. Rasio ini

menunjukkan efisiensibagian produksi, personalia, serta pemasaran

dalam menghasilkan laba. Operating profit margin dapat diukur

dengan formula sebagai berikut:

3) Gross profit margin merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk

mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba kotor

dengan penjualan yang dilakukan perusahaan. Rasio ini

menggambarkan efisiensi yang dicapai oleh bagian produksi. Rasio ini

dapat diukur dengan formula sebagai berikut:

=

d. =

Basic earning

power merupakan rasio keuangan yang digunakan untuk mengukur

kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum bunga dan

pajak dengan menggunakan total aktiva yang dimiliki perusahaan. Rasio

ini mencerminkan efektivitas dan efisiensi pengelolaan seluruh investasi

yang telah dilakukan oleh perusahaan. Semakin tinggi rasio ini berarti

semakin efektif dan efisien pengelolaan seluruh aktiva yang dimiliki

perusahaan untuk menghasilkan laba sebelum bunga dan pajak. Basic

earning power dapat diukur dengan formula sebagai berikut.

35

Pakar keuangan lainnya berpendapat mengenai net profit margin,

diantaranya Darsono dan Ashari (2005:60) yang menyatakan bahwa net

profit margin adalah laba bersih dibagi penjualan bersih. Diantara pakar

keuangan juga ada yang menambahkan bahwa diantara rasio profitabilitas

terdapat juga Return on Total Asset (ROTA). Return on Total Asset (ROTA)

adalah rasio yang menunjukkan berapa besar laba bersih diperoleh

perusahaan bila diukur dari nilai aktiva (Harahap, 2007:305). Sedangkan

menurut Walsh (2012:358) return on total asset adalah laba sebelum bunga

dan pajak yang dinyatakan dalam persentase dari total aktiva. Lebih lanjut

Walsh menjelaskan bahwa ROTA adalah penggerak peningkatan ROE

yang terpenting (Walsh, 2012:74). Walsh (2012:64) juga menjelaskan

bahwa ROTA dapat diukur dengan indikator sebagai berikut.

Diantara sekian banyak rasio profitabilitas sebagaimana dijelaskan

diatas, rasio yang terpenting dan perlu mendapat perhatian adalah return on

equity. Ada beberapa pendapat yang menjelaskan akan pentingnya rasio ini,

diantaranya Sudana (2011:22) yang menyatakan bahwa rasio ini penting

bagi pemegang saham untuk mengetahui efektivitas dan efisiensi

pengelolaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak manajemen

perusahaan. Dengan demikian berarti rasio ini berbanding lurus dengan

=

36

tingkat efisien penggunaan modal sendiri yang dilakukan oleh pihak

manajemen perusahaan.

Pendapat ini juga diperkuat oleh Brigham dan Houston (2010:133)

yang menyatakan bahwa rasio yang paling penting adalah pengembalian

atas ekuitas (ROE), yang merupakan laba bersih bagi pemegang saham

dibagi dengan total ekuitas pemegang saham. Tinggi rendahnya ROE akan

menunjukkan tingkat pengembalian modal yang akan diperoleh pemegang

saham. Dan juga salah seorang spesialis keuangan senior di irish, Ciaran

Walsh, juga menyatakan lebih tegas bahwa ROE adalah penggerak nilai

perusahaan yang terpenting (Walsh, 2012:74).

Demikian pentingnya return on equity, maka perlu diperhatikan juga

beberapa faktor yang mempengaruhi besar kecilnya rasio ini. Adapun

beberapa faktor yang mempengaruhi return on equity yang dikemukakan

para ahli antara lain sebagai berikut.

a. Penggunaan utang dalam pembelanjaan investasi. Sebagaimana

dijelaskan oleh Sudana (2011:158) bahwa penggunaan utang dalam

pembelanjaan investasi perusahaan dapat mempengaruhi kemampuan

perusahaan untuk menghasilkan laba atas modal yang digunakan (return

on equity).

b. Return on total assets. Sebagaimana dijelaskan oleh Walsh (2012:74)

bahwa return on total assets adalah penggerak peningkatan return on

equity yang terpenting.

37

Profitabilitas diproksikan dengan return on equity, Return on equity

merupakan rasio yang menunjukan kemampuan perusahaan terhadap modal

yang dimiliki (Harahap, 2007:305). Return on Equity (ROE) merupakan

rasio keuangan yang menunjukkan kemampuan perusahaan untuk

menghasilkan laba setelah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang

dimiliki perusahaan (Sudana, 2011:23).

Return on equity merupakan rasio yang menunjukan kesuksesan

manajemen dalam memaksimalkan tingkat pengembalian pada pemegang

saham. Semakin tinggi return on equity maka akan semakin baik, karena

memberikan tingkat pengembalian yang lebih besar bagi para pemegang

saham (Darsono dan Ashari, 2005:57). Semakin besar nilai ROE maka

tingkat pengembalian yang diharapkan investor juga besar. Semakin besar

nilai ROE maka perusahaan dianggap semakin menguntungkan. Sehingga

perusahaan yang memiliki profitable investment opportunities, maka pasar

akan memberikan reward berupa PER yang tinggi (Sartono, 2001:52).

Return on equity (ROE) merupakan rasio profitabilitas untuk

mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba berdasarkan

modal saham yang dimiliki perusahaan. ROE digunakan untuk mengukur

tingkat kembalian perusahaan atau efektifitas perusahaan dalam

menghasilkan keuntungan dengan memanfaatkan ekuitas yang dimiliki

perusahaan. Jika rasio ini meningkat manajemen cenderung dipandang lebih

efisien dari sudut pandang pemegang saham. ROE merupakan perbandingan

antara laba bersih yang dihasilkan dengan modal sendiri atau equity (Riadi,

2011:2).

38

Menurut Harahap (2007:304) menyatakan bahwa profitabilitas

merupakan kemampuan perusahaan mendapatkan laba melalui semua

kemampuan dan sumber yang ada seperti, kegiatan penjualan, kas, modal,

jumlah karyawan, jumlah cabang dan sebagainya, terdapat beberapa rasio

profitabilitas, yaitu profit margin, return on asset, return on equity, return

on total asset, basic earning power dan earning per share. Namun dalam

penelitian hanya menjelaskan mengenai return on equity.

Yang dimaksud dengan return on equity (ROE) dalam penelitian ini

adalah laba bersih dibagi total ekuitas (Sugiono dan Untung, 2008:132).

Menurut Sudana (2011:22) semakin tinggi Return on Equity (ROE)

menunjukkan bahwa semakin efisien penggunaan modal sendiri (ekuitas)

yang dilakukan oleh manajemen perusahaan. Adapun rumus perhitungan

return on equity adalah sebagai berikut:

8. Pengaruh Antar Variabel Penelitian

a. Pengaruh antara Variabel Kebijakan Deviden terhadap Nilai

Perusahaan

Rasio antara dividen dan laba bersih sering disebut sebagai

dividend payout ratio (DPR). Dengan kebijakan ini perusahaan kurang

dapat memperkirakan jumlah pembayaran deviden yang akan dilakukan

setiap periode. Jumlah pembayaran deviden dengan persentase tetap dari

EPS akan mempengaruhi posisi harga saham dio pasar. Pada saat laba

=

39

menurun maka pembayaran deviden juga menurun dan hal ini akan

menyebabkan harga saham menurun juga (Astuti, 2004:146). Sepintas,

para pemegang saham akan merasa senang apabila bagian dari laba

bersih yang dibagikan sebagai dividen ini semakin besar. Akan tetapi,

apabila DPR ini semakin besar, berarti laba ditahan semakin menciut.

Dengan demikian, keputusan dividen akan mengacu pada suatu kebijakan

dividen (dividend policy) yang optimal terutama disesuaikan dengan

konsep tujuan memaksimumkan nilai perusahaan. Rodoni dan Ali

(2010:125) menyatakan setiap perubahan dalam kebijakan pembayaran

dividen akan memiliki dua dampak yang berlawanan yaitu apabila

dividen akan dibayarkan semua, maka keputusan cadangan terabaikan

dan sebaliknya apabila laba akan ditahan semua kepentingan pemegang

saham akan uang kas akan terabaikan.

Rodoni dan Ali (2010:125) mengatakan bahwa kebijakan dividen

yang optimal (optimal dividend policy) perusahan adalah kebijakan yang

menciptakan keseimbangan di antara dividen saat ini dan pertumbuhan

perusahaan di masa yang akan datang yang memaksimalkan nilai

perusahaan.

Menurut Hatta (2002) dalam Wijaya dan Wibawa (2010), terdapat

sejumlah perdebatan mengenai bagaimana kebijakan deviden

mempengaruhi nilai perusahaan. Pendapat pertama menyatakan bahwa

kebijakan dividen tidak mempengaruhi nilai perusahaan, yang disebut

dengan teori irrelevansi dividen. Pendapat kedua menyatakan bahwa

40

dividen yang tinggi akan meningkatkan nilai perusahaan, yang disebut

dengan Bird in The Hand Theory. Pendapat ketiga menyatakan bahwa

semakin tinggi dividend payout ratio suatu perusahaan, maka nilai

perusahaan tersebut akan semakin rendah.

b. Pengaruh antara Variabel Kebijakan Hutang terhadap Nilai

Perusahaan

Struktur modal merupakan proporsi atau perbandingan dalam

menentukan pemenuhan kebutuhan belanja perusahaan, apakah dengan

cara menggunakan hutang, ekuitas, atau dengan menerbitkan saham.

Struktur modal adalah panduan atau kombinasi sumber dana jangka

panjang yang digunakan oleh perusahaan. Struktur modal pada intinya

terdiri dari dua bagian penting yaitu debt dan equity (Rodoni dan Ali,

2010:137).

Menurut Weston dan Copeland (2005) dalam Rodoni dan Ali

(2010:137) mengatakan bahwa struktur modal adalah pembiayaan

permanen yang terdiri dari utang jangka panjang, saham preferen dan

modal pemegang saham. Struktur modal dapat mencerminkan

perimbangan antara hutang jangka panjang dengan modal sendiri.

Sebuah perusahaan dikatakan tidak memiliki keseimbangan

finansial apabila total hutang perusahaan lebih besar daripada total yang

dimiliki perusahaan. Dengan semakintingginya rasio leverage

menunjukkan semakin besarnya dana yang disediakan oleh kreditur. Hal

tersebut akan membuat investor berhati-hati untuk berinvestasi di

41

perusahaan yang rasio leverage nya tinggi karena semakin tinggi rasio

leverage nya semakin tinggi pula resiko investasinya (Halim, 2008:56).

Perusahaan yang memiliki hutang tinggi menunjukkan struktur

permodalan lebih banyak dana yang dibiayai oleh pinjaman sehingga

ketergantungan perusahaan terhadap kreditur akan meningkat, sehingga

apabila perusahaan memperoleh laba usaha, maka akan diserap untuk

melunasi hutang dan akhirnya laba yang dibagikan kepada pemegang

saham akan semakin kecil yang berakibat investor enggan membeli

saham perusahaan tersebut, sehingga berakibat nilai perusahaan tersebut

akan turun (Sudana, 2011:45).

Menurut Mardiyati et al., (2012) kebijakan hutang berpengaruh

positif tetapi tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Soliha dan

Taswan (2002) menyimpulkan kebijakan hutang berpengaruh positif

namun tidak signifikan terhadap nilai perusahaan. Setiyati (2011: 64)

Kebijakan hutang terbukti memiliki pengaruh signifikan terhadap nilai

perusahaan. Hal ini menunjukkan bahwa perusahaan dengan

menggunakan hutang yang tinggi lebih memberikan nilai perusahaan

yang tinggi dibanding perusahaan dengan menggunakan hutang lebih

rendah. Rustendi dan Jimmi (2008: 420) menyimpulkan secara parsial

hutang berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan. Hal ini berarti jika

hutang naik atau bertambah maka nilai perusahaan akan mengalami

kenaikan, demikian pula sebaliknya jika hutang menurun maka nilai

perusahaan akan mengalami penurunan.

42

c. Pengaruh antara Variabel Firm Size terhadap Nilai Perusahaan

Suatu perusahaan besar yang sudah mapan akan memiliki akses

yang mudah menuju pasar modal, sementara perusahaan yang baru dan

yang masih kecil akan mengalami banyak kesulitan untuk memilki akses

ke pasar modal. Karena kemudahan akses ke pasar modal cukup berarti

untuk fleksibilitas dan kemampuannya untuk memperoleh dana yang

lebih besar, sehingga perusahaan mampu memiliki rasio pembayaran

deviden yang lebih tinggi daripada perusahaan kecil.

Size merupakan simbol ukuran suatu perusahaan. Suatu

perusahaan yang sudah mapan akan memiliki akses yang mudah menuju

pasar modal untuk meningkatkan dana dengan biaya yang lebih rendah,

sementara perusahaan yang baru dan yang masih kecil akan mengalami

banyak kesulitan untuk memiliki akses ke pasar modal. Size adalah salah

satu indikator yang dapat digunakan untuk melihat ukuran perusahaan

adalah net sales yang dimiliki. Sebuah perusahaan besar akan lebih

mudah mengakses ke pasar modal, sedangkan perusahaan kecil lebih

sulit untuk mengaksesnya. Kemudahan akses ke pasar modal dapat

diartikan adanya fleksibilitas dan kemampuan perusahaan untuk

menciptakan hutang atau menarik investor untuk menanamkan

modalnya. Dengan adanya dana baru perusahaan dapat membayarkan

kewajibanya termasuk juga membayar deviden kepada pemegang saham

(Marietta dan Sampurno, 2013:3).

Perusahaan yang besar akan membagikan deviden yang tinggi

demi menjaga reputasi di kalangan investor, sedangkan ukuran

perusahaan yang kecil akan mengalokasikan laba ke laba ditahan demi

menambah asset perusahaan sehingga perusahaan cenderung

43

membagikan deviden yang kecil. Hasil dalam penelitiannya

menunjukkan bahwa adanya pengaruh ukuran perusahaan terhadap

dividend payout ratio (Mahaputra dan Wirawati, 2014:7).

Prasetyorini (2013) menemukan dalam penelitiannya bahwa

ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusaha-an.

Sejalan dengan Sujoko dan Soebiantoro (2007) menemukan bahwa

ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

Ukuran perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan (Soliha

dan Taswan, 2002 dalam Kasnawati, 2015). Penelitian Rachmawati dan

Triatmoko (2007) juga menyatakan bahwa ukuran perusahaan dinyatakan

berhubungan positif dan signifikan terhadap nilai perusahaan.

Berdasarkan argumen ter-sebut, dapat dirumuskan hipotesis yakni ukuran

perusahaan berpengaruh positif terhadap nilai perusahaan.

d. Pengaruh antara Variabel Profitabilitas (Return On Equity) terhadap

Nilai Perusahaan

Profitabilitas merupakan rasio untuk menilai kemampuan

perusahaan dalam mencari keuntungan. Rasio ini juga memberikan

ukuran tingkat efektivitas manajemen suatu perusahaan. Hal ini

ditunjukkan oleh laba yang dihasilkan dari penjualan dan pendapatan

investasi. Intinya bahwa penggunaan rasio ini menunjukkan efisiensi

perusahaan (Kasmir dan Jakfar, 2010:115). Jika memiliki profitabilitas

yang tinggi, tetapi mempunyai likuiditas yang rendah, perusahaan

menghadapi masalah, yaitu dapat dipailitkan karena tidak mampu

membayar hutangnya. Maka semakin tinggi profitabilitas perusahaan,

44

maka semakin besar pula tersedianya dana internal untuk investasi,

sehingga penggunaan hutang akan lebih kecil. Pada tingkat profitabilitas

rendah, perusahaan menggunakan hutang untuk membiayai

operasionalnya (Sugiono, 2009:66). Ukuran kinerja finansial

memberikan petunjuk apakah strategi perusahaan, implementasi dan

pelaksanaannya memberikan kontribusi atau tidak kepada peningkatan

laba perusahaan (Kaplan dan Norton, 2000:23).

Semakin besar nilai ROE maka tingkat pengembalian yang di

harapkan investor juga besar. Semakin besar nilai ROE maka perusahaan

dianggap semakin menguntungkan. Sehingga perusahaan yang memiliki

profitable investment opportunities, maka pasar akan memberikan reward

berupa PER yang tinggi (Sartono, 2001:52).

Profitabilitas dapat dihitung dengan ROE (return on equity). ROE

mencerminkan tingkat hasil penembalian investasi bagi pemegang

saham. Profitabilitas yang tinggi mencerminkan kemampuan perusahaan

dalam menghasilkan keuntungan yang tinggi bagi pemegang saham.

Dengan rasio profitabilitas yang tinggi yang dimilki sebuah perusahaan

akan menarik minat investor untuk menanamkan modalnya diperusahaan.

Tingginya minat investor untuk menanamkan modalnya pada perusahaan

dengan ROE yang tinggi akan meningkatkan harga saham (Kim et

all,1993;dan Kusumawati:2012). Maka, akan terjadi hubungan positif

antara profitabilitas dengan harga saham dimana tingginya harga saham

akan mempengaruhi nilai perusahaan.

Semakin tingginya profitabilitas perusahaan juga akan

meningkatkan laba per lembar saham (EPS atau earning per share)

perusahaan. Adanya peningkatan EPS akan membuat investor tertarik

45

untuk menanamkan modalnya dengan membeli saham perusahaan.

Kinerja perusahaan dalam mengelola manajemen dapat digambarkan

dengan profitabilitas. Angg (1997) menyatakan bahwa rasio profitabilitas

menunjukkan keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan keuntungan.

Profitabilitas merupakan salah satu yang dapat mempengaruhi nilai

perusahaan. Dengan banyaknya investor yang membeli saham

perusahaan maka akan menaikkan harga saham perusahaan tersebut

sehingga akan meningkatkan nilai perusahaan.

B. Penelitian Terdahulu

Penelitian terdahulu merupakan suatu sumber yang dijadikan acuan

dalam melakukan penelitian. Penelitian terdahulu yang digunakan berasal dari

jurnal dan skripsi dengan melihat hasil penelitianya dan akan dibandingkan

dengan penelitian selanjutnya. Adapun ringkasan penelitian terdahulu akan

dijabarkan pada tabel di bawah ini:

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No Judul

Penelitian Peneliti Dan

Tahun Metode

Penelitian Hasil

Penelitian 1. Analisa

Pertumbuhan Penjualan, Ukuran Perusahaan, Return On Asset, dan Struktur Modal terhadap Nilai Perusahaan Yang Tercatat di Indeks Lq 45

Pantow, dkk (2015)

Regresi Linier Berganda

Hasil analisis data disimpulkan bahwa Pertumbuhan Penjualan berpengaruh positif tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan, Ukuran Perusahaan berpengaruh Negatif tidak signifikan terhadap Nilai Perusahaan, sedangkan ROA dan Struktur Modal berpengaruh positif signifikan terhadap Nilai Perusahaan.

Berlanjut Ke halaman Berikutnya

46

Tabel 2.1 (Lanjutan)

No Judul Penelitian

Peneliti Dan Tahun

Metode Penelitian

Hasil Penelitian

2. Pengaruh Faktor Debt To Equity Ratio, Return On Equity Dan Total Assets Terhadap Price Earning Ratio (PER)Pada Perusahaan Otomotif

Riadi (2011) Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa debt to equity ratio berpengaruh negatif dan signifikan terhadap price earning ratio (sig. 0,040), return on equity berpengaruh negatif dan signifikan terhadap price earning ratio (sig. 0,000), total assets berpengaruh positif dan signifikan terhadap price earning ratio (sig. 0,002).

3. The Examination of the Effect of Ownership Structure on Firm Performance in Listed Firms of Tehran Stock Exchange Based on the Type of the Industry

Fazlzadeh, dkk (2011)

Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian menyatakan bahwa Ownership concentration (tidak signifikan), Institutional Ownership (signifikan dan positif), Institutional Ownership Concentration (signifikan dan negatif), Size (signifikan dan positif), Leverage (Signifikan positif), Liquidity (signifikan dan positif), risk (signifikan dan positif), business cycle (signifikan dan negatif).

4. Pengaruh IOS, Leverage dan Dividend Yield terhadap Profitabilitas dan Nilai Perusahaan Sektor Manufaktur di BEI

Pratiska (2012) Regresi Linier Berganda

Hasil menyatakan bahwa hanya variabel IOS dan profitabilitas yang secara signifikan mempengaruhi nilai perusahaan, sedangkan variabel leverage dan dividend yield tidak terbukti berpengaruh secara signifikan terhadap nilai perusahaan.

Berlanjut Ke halaman Berikutnya

47

Tabel 2.1 (Lanjutan)

No Judul

Penelitian

Peneliti Dan

Tahun

Metode

Penelitian

Hasil

Penelitian

5. Analisis Pengaruh

Profitabilitas dan

Kebijakan

Dividen Terhadap

nilai Perusahaan

Perdagangan,

Jasa, dan Investasi

yang terdaftar di

Bursa Efek

Jakarta

Nurainun dan

Sintawati

(2007)

Regresi

Linier

Berganda

Hasil penelitian

menunjukan bahwa

profitabilitas dan

kebijakan deviden

mempunyai pengaruh

yang signifikan

terhadap nilai

perusahaan

Profitabilitas dan

kebijkan deviden

secara simultan

mempunyai pengaruh

yang signifikan

terhadap nilai

perusahaan

6. The Effect Of

Financial Ratios

On The Firm

Value: Evidence

From Turkey

Karaca (2011) Regresi

Linier

Berganda

Hasil penelitian

menyatakan bahwa

Acid-Test Ratio (ATR)

signifikan dan positif,

Inventory Turnover

(IT) signifikan dan

negatif Return on

Equity (ROE)

signifikan dan negatif

7.

Pengaruh Struktur

Modal, Kebijakan

Dividen dan

Keputusan

Investasi terhadap

Nilai Perusahaan

Gayatri dan

Mustanda

(2013)

Regresi

Linier

Berganda

Hasil penelitian yaitu

struktur modal dan

keputusan investasi

berpengaruh positif

signifkan terhadap nilai

perusahaan, sedangkan

kebijakan dividen tidak

berpengaruh signifikan

terhadap nilai

perusahaan.

Berlanjut Ke halaman Berikutnya

48

Tabel 2.1 (Lanjutan)

No Judul Penelitian

Peneliti Dan Tahun

Metode Penelitian

Hasil Penelitian

8. Pengaruh Profitabilitas dan Size terhadap Nilai Perusahaan Dengan CSR Sebagai Variabel Pemoderasi

Pramana dan Mustanda (2016)

Regresi Linier Berganda

Hasil pengujian hipotesis menunjukan bahwa profitabilitas, ukuran perusahaan, dan CSR secara parsial berpengaruh terhadap nilai perusahaan, dimana profitabilitas dan ukuran perusahaan berpengaruh positif sedangkan CSR berpengaruh negatif. Selain itu diperoleh hasil bahwa Profitabilitas secara signifikan berpengaruh positif terhadap Nilai Perusahaan, Ukuran Perusahaan secara signifikan berpengaruh positif terhadap Nilai Perusahaan, dan Corporate Social Responsibility (CSR) secara signifikan berpengaruh negatif terhadap Nilai Perusahaan serta CSR mampu memoderasi pengaruh profitabilitas terhadap nilai perusahaan, namun tidak mampu memoderasi pengaruh ukuran perusahaan terhadap nilai perusahaan.

9. Pengaruh Struktur Modal dan Return on Equity (ROE) terhadap Nilai Perusahaan pada Perusahaan Sektor Pertanian di Bursa Efek Indonesia (Perusahaan yang Terdaftar Di BEI)

Yuliana, dkk (2012)

Regresi Linier Berganda

Hasil penelitian ini menunjukan secara parsial, struktur modal tidak mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan, dan return on equity (ROE) mempunyai pengaruh terhadap nilai perusahaan

Berlanjut Ke halaman Berikutnya

49

Tabel 2.1 (Lanjutan)

No Judul

Penelitian

Peneliti Dan

Tahun

Metode

Penelitian

Hasil

Penelitian

10. Pengaruh ukuran

perusahaan,

leverage, Price

earning ratio dan

profitabilitas

terhadap Nilai

perusahaan

Prasetyorini

(2013)

Regresi

Linier

Berg