analisis pencemaran lingkungan

Download analisis pencemaran lingkungan

Post on 03-Jan-2016

476 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

BAB I

BAB I.

PENDAHULUANLatar Belakang

Polimer didefinisikan sebagai substansi yang terdiri dari molekul-molekul yang menyertakan rangkaian satu atau lebih dari satu unit monomer. Manusia sudah berabad-abad menggunakan polimer dalam bentuk minyak, aspal, damar, dan permen karet. Tapi industri polimer modern baru mulai berkembang pada masa revolusi industri. Di akhir 1830-an, Charles Goodyear berhasil memproduksi sebentuk karet alami yang berguna melalui proses yang dikenal sebagai vulkanisasi. 40 tahun kemudian, Celluloid (sebentuk plastik keras dari nitrocellulose) berhasil dikomersialisasikan. Adalah diperkenalkannya vinyl, neoprene, polystyrene, dan nilon di tahun 1930-an yang memulai ledakan dalam penelitian polimer yang masih berlangsung sampai sekarang.

Polimer seperti kapas, wol, karet, dan semua plastik digunakan di hampir semua industri. Polimer alami dan sintetik bisa diproduksi dengan beragam kekakuan, kekuatan, ketebalan, dan ketahanan terhadap panas. Elastomer (polimer bersifat elastis) memiliki struktur yang saling bersilangan dan longgar. Struktur rantai bertipe inilah yang menyebabkan elastomer memiliki ingatan. Rata-rata 1 dari 100 molekul saling bersilangan. Saat jumlah rata-rata ikatan saling bersilangan itu meningkat (sekitar 1 dalam 30), material menjadi lebih kaku dan rapuh. Baik karet alami dan sintetis adalah contoh dari elastomer. Di bawah kondisi temperatur dan tekanan tertentu, plastik yang juga termasuk polimer dapat dibentuk atau dicetak. Berbeda dengan elastomer, plastik lebih kaku dan tidak memiliki elastisitas yang dapat dibalik. Selulosa mreupakan salah satu contoh material berpolimer yang harus dimodifikasi secara bertahap sebelum diproses dengan metode yang biasanya digunakan untuk plastik. Beberapa plastik (seperti nilon dan selulosa asetat) dibentuk menjadi fiber.Tujuan

Plastik, belakangan ini merupakan jenis material yang paling sering kita temui terutama pada kemasan. Penggunaan plastik banyak menuai kontroversi. Berbagai masalah mulai dari keamanan produk untuk kesehatan sampai masalah limbah plastik sering kali dilontarkan oleh aktivis gerakan anti plastik. Banyak pihak yang mengeluhkan sifat limbah plastik yang sulit terdegradasi. Di sisi lain, justru banyak pihak yang menganggap plastik adalah material yang mampu menyokong kemajuan teknologi modern. Plastik dinyatakan dapat meningkatkan efesiensi bahan baku, energi, dan waktu. Sejauh manakah efesiensi dari bahan plastik ini?

Limbah plastik juga menimbulkan masalah besar bagi manusia.Sifatnya yang sulit hancur menjadi masalah utama. Namun kendala ini bisa diselesaikan dengan memanfaatkan sifat plastik yang dapat di recycyle (daur ulang). Meski tidak semua jenis plastik, namun kebanyakan plastik mampu diproses ulang untuk menghasilkan produk baru yang bermanfaat bagi kehidupan manusia. Plastik merupakan bahan yang mudah untuk diproses dan tidak memerlukan energi yang besar. Bahkan bisa dikatakan, pengolahan plastik hanyalah bagian dari usaha pemanfaat minyak bumi agar tidak terbuang percuma. Plastik memiliki umur yang panjang. Dengan begitu sekian persen energi pengolahannya dapat dihemat sedemikian rupa. Plastik sangat fleksibel. Sifat-sifatnya sangat memungkinkan untuk direkayasa. Dengan melakukan perlakuan proses tertentu atau dengan penambahan zat aditif tertentu, plastik bisa dibuat sesuai dengan aplikasi yang diinginkan.

BAB II.

PEMBAHASANDefinisi Polimer

Suatu polimer adalah rantai berulang dari atom yang panjang, terbentuk dari pengikat yang berupa molekul identik yang disebut monomer. Sekalipun biasanya merupakan organik (memiliki rantai karbon), ada juga banyak polimer inorganik. Contoh terkenal dari polimer adalah plastik dan DNA.Meskipun istilah polimer lebih populer menunjuk kepada plastik, tetapi polimer sebenarnya terdiri dari banyak kelas material alami dan sintetik dengan sifat dan kegunaan yang beragam.

Klasifikasi Berdasarkan Sumbernya1. Polimer alami: kayu, kulit binatang, kapas, karet alam, rambut

2. Polimer sintetis

1. Tidak terdapat secara alami: nylon, poliester, polipropilen, polistiren

2. Terdapat di alam tetapi dibuat oleh proses buatan: karet sintetis

3. Polimer alami yang dimodifikasi: seluloid, cellophane (bahan dasarnya dari selulosa tetapi telah mengalami modifikasi secara radikal sehingga kehilangan sifat-sifat kimia dan fisika asalnya)

Sekarang ini utamanya ada enam komoditas polimer yang banyak digunakan, mereka adalah polyethylene, polypropylene, polyvinyl chloride, polyethylene terephthalate, polystyrene, dan polycarbonate. Sifat fisikanya

Termoplastik. Merupakan jenis plastik yang bisa didaur-ulang/dicetak lagi dengan proses pemanasan ulang. Contoh: polietilen (PE), polistiren (PS), ABS, polikarbonat (PC)

Termoset. Merupakan jenis plastik yang tidak bisa didaur-ulang/dicetak lagi. Pemanasan ulang akan menyebabkan kerusakan molekul-molekulnya. Contoh: resin epoksi, bakelit, resin melamin, urea-formaldehida

Berdasarkan jumlah rantai karbonnya

1 ~ 4 Gas (LPG, LNG)

5 ~ 11 Cair (bensin)

9 ~ 16 Cairan dengan viskositas rendah

16 ~ 25 Cairan dengan viskositas tinggi (oli, gemuk)

25 ~ 30 Padat (parafin, lilin)

1000 ~ 3000 Plastik (polistiren, polietilen, dll)

BAB III.

Analisis Pencemaran Limbah oleh Polimer ( Plastik )A. Analisis pencemaran oleh industri plastik .Perkembangan industri plastik berdasarkan data statistik memperlihatkan perkembangan yang sangat pesat terutama pada jenis plastik kemasan. Pada proses produksi industri plastik, dihasilkan dua jenis limbah yaitu limbah cair dan limbah padat.Tetapi limbah padat yang berasal dari proses produksi dapat digunakan kembali, sedangkan limbah cair yang berasal dari proses pracetak jika dibuang langsung ke badan perairan akan menjadi masalah, sehingga diperlukan pengolahan terlebih dahulu. Pada proses pracetak dari kemasan plstik dihasilkan dua jenis limbah yaitu limbah cair yang mengandung khrom dengan konsentrasi 119 ppm dan limbah cair yang mengandung karbon dan minyak.Limbah cair yang dihasilkan oleh industri pengolahan polimer berasal dari air kondensat pada proses sterilisasi, air dari proses klarifikasi, air hydrocyclone (claybath), dan air pencucian pabrik. Jumlah air bungan tergantung pada sistem pengolahan, kapasitas olah pabrik, dan keadaan peralatan klarifikasi. Limbah cair mengandung bahan organik yang relatif tinggi dan bersifat toksik karena menggunakan bahan kimia dalam proses ekstraksinya.

Limbah cair umumnya bersuhu tinggi, berwarna kecoklatan, mengandung padatan terlarut dan tersuspensi berupa koloid dan residu minyak dengan kandungan biological oxygen demand (BOD) yang tinggi. Bila larutan tersebut langsung dibuang ke perairan sangat berpotensi mencemari lingkungan, sehingga harus dioleh terlebih dahulu sebelum dibuang.

Parameter yang menggambarkan karakteristik limbah terdiri dari sifat fisik, kimia, dan biologi. Karakteristik limbah berdasarkan sifat fisik meliputi suhu, kekeruhan, bau, dan rasa, berdasarkan sifak kimia meliputi kandungan bahan organik, protein, BOD, chemical oxygen demand (COD), sedangkan berdasakan sifat biologi meliputi kandungan bakteri patogen dalam air limbah.

Berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup ada 6 (enam) parameter utama yang dijadikan acuan baku mutu limbah meliputi :

a.Tingkat keasaman (pH), ditetapkannya parameter pH bertujuan agar mikroorganisme dan biota yang terdapat pada penerima tidak terganggu, bahkan diharapkan dengan pH yang alkalis dapat menaikkan pH badan penerima.

b. BOD, kebutuhan oksigen hayati yang diperlukan untuk merombak bahan organik. Semakin tinggi nilai BOD air limbah, maka daya saingnya dengan mikroorganisme atau biota yang terdapat pada badan penerima akan semakin tinggi.

c. COD, kelarutan oksigen kimiawi adalah oksigen yang diperlukan untuk merombak bahan organik dan anorganik, oleh sebab itu nilai COD lebih besar dari BOD.

d. Total suspended solid (TSS), menggambarkan padatan melayang dalam cairan limbah. Pengaruh TSS lebih nyata pada kehidupan biota dibandingkan dengan total solid. Semakin tinggi TSS, maka bahan organik membutuhkan oksigen untuk perombakan yang lebih tinggi.

e. Kandungan total nitrogen, semakin tinggi kandungan total nitrogen dalam cairan limbah, maka akan menyebabkan keracunan pada biota.

f. Kandungan oil and grease, dapat mempengaruhi aktifitas mikroba dan merupakan pelapis permukaan cairan limbah sehingga menghambat proses oksidasi pada saat kondisi aerobik.

Kementerian Negara Lingkungan Hidup secara khusus telah menerbitkan 2 (dua) Keputusan Menteri yang menyangkut pemanfaatan air limbah yaitu Kepmen LH Nomor 28 Tahun 2003 tentang Pedoman Teknis Pengkajian dan Pemanfaatan Air Limbah Industri pada Tanah disajikan pada tabel di bawah ini.ParameterLimbah Baku Mutu Limbah (*)

pH4,106-9

BOD (g/L)212,80110

COD (g/L)347,20250

TSS (g/L)211,70100

Kandungan Nitroen Total (g/L)4120

Oil and Grease (g/L)3130

(*) Keputusan Mentri Lingkungan Hidup No 28/Men LH/10/2003

Berdasarkan data di atas, ternyata semua parameter limbah cair berada diatas ambang batas baku mutu limbah. Jika tida dilakukan pencegahan dan pengolahan limbah, maka akan berdampak negatif terhadap lingkungan seperti pencemaran air yang mengganggu bahkan meracuni bota perairan, menimbulkan bau, dan menghasilkan gas methan dan CO2 yang merupakan emisi gas penyebab efek rumah kaca yang berbahaya bagi lingkungan.

B. Analisis pencemaran oleh konsumen..Bahan dasar plastik atau polimer sebenarnya dari produk samping proses cracking minyak bumi yang setelah melalui proses polimerisasi menghasilkan polimer. Biasanya berbentuk bubuk putih. Setelah proses lebih lanjut akan dihasilkan produk jadi plastik...