Analisis Kinerja Pemetik Teh di Perkebunan Teh ?· pengembangan perkebunan menjadi teh hijau organik…

Download Analisis Kinerja Pemetik Teh di Perkebunan Teh ?· pengembangan perkebunan menjadi teh hijau organik…

Post on 17-Sep-2018

216 views

Category:

Documents

3 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<ul><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>221 </p><p>Analisis Kinerja Pemetik Teh di Perkebunan Teh Organik PT. BS, Jawa Barat </p><p> Didik Purwadi, Suharno, Wida Putri Wulandari </p><p>Jurusan Teknologi Industri Pertanian, Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada, Jl. Flora No.1 Bulaksumur 55281, Indonesia. </p><p>didik@ugm.ac.id </p><p>Abstrak </p><p>Perkebunan Teh PT.BS telah melakukan perubahan sistem pemetikan dari giring ke hancak tetap. Keadaan ini mengakibatkan mundurnya lebih dari 400 karyawan pemetik sehingga sekitar 400 Ha kebun terlantar. Oleh karena itu, perlu diteliti faktor yang berpengaruh pada kinerja pemetik yang nantinya akan meningkatkan produksi teh di perusahaan. Tujuan penelitian ini adalah mengukur kinerja pemetik secara objektif melalui uji mutu pucuk dan secara objektif melalui penilaian kinerja oleh mandor dalam bentuk kuesioner. </p><p>Pengukuran kinerja dilakukan terhadap 48 sampel yang mewakili karakteristik yang diteliti kemudian dilakukan uji mutu pucuk dan penilaian kinerja oleh mandor dengan faktor yang di ukur adalah performansi dan kompetensi pemetik. Hasil perhitungan uji mutu pucuk menyatakan bahwa pencapaian kinerja pemetik masih rendah karena belum memenuhi standar mutu pucuk perusahaan (80%). Pengujian Chi Kuadrat menunjukkan bahwa pengalaman memetik, lokasi tempat tinggal, usia dan jenis kelamin tidak mempengaruhi kinerja pemetik. Berdasarkan penilaian mandor, skor kinerja tertinggi yang telah dicapai pemetik terdapat pada indikator kerjasama, ketekunan dan kejujuran. Sedangkan skor terendah pada kecepatan dan kepemimpinan. </p><p>Kata kunci: kinerja, pemetik, teh organik </p><p>I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Masalah </p><p>Kualitas teh hijau Indonesia sangat bagus untuk kesehatan terutama terletak pada kandungan katekinnya. Berdasarkan kadar katekinnya teh Indonesia terutama teh hijau dan teh wangi memiliki potensi menyehatkan yang lebih besar dari pada teh Cina maupun teh Jepang. Semakin tinggi kadar katekin pada teh semakin besar pengaruhnya terhadap kesehatan manusia. Katekin dapat menurunkan kadar kolesterol darah dan mencegah kanker. </p><p>Industri teh Indonesia dihadapkan pada beberapa masalah antara lain: penurunan pangsa pasar, perolehan harga ekspor yang rendah dan rendahnya tingkat konsumsi di pasar dosmetik. Pemetikan pucuk teh merupakan kegiatan yang memerlukan banyak tenaga pemetik dengan kebutuhan sebanyak 1 atau 2 orang perhektar. Dari seluruh tenaga yang dibutuhkan oleh perkebunan teh sebesar </p><p>75% adalah tenaga pemetik. Permasalahan utama yang dihadapi oleh perkebunan teh dewasa ini adalah ketersediaan tenaga pemetik yang cenderung berfluktuasi dari tahun ke tahun. Struktur biaya yang hampir 80% adalah biaya tenaga kerja, khususnya tenaga pemetik, merupakan aspek yang sangat strategis untuk dianalisis. </p><p>Perkebunan Teh PT. BS yang berlokasi di Jawa Barat telah melakukan pengembangan perkebunan menjadi teh hijau organik sejak tahun 2004. Perubahan perkebunan konvensional menjadi perkebunan organik memiliki kendala yang cukup besar. Peralihan kebun ini juga berdampak pada berubahnya sistem pemetikan dari sistem giring menjadi sistem hancak tetap (hantap). Kendala yang cukup besar terjadi akibat perubahan ini adalah dibutuhkannya tenaga pemetik yang berkewajiban memelihara tanaman teh sampai proses pemetikannya. Keadaan ini mengakibatkan mundurnya lebih dari </p></li><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>222 </p><p>400 karyawan pemetik, hal ini berdampak buruk juga terhadap perusahaan karena sekitar 400 Ha kebun menjadi terlantar hingga saat ini. Perubahan sistem giring menjadi hantap ini diduga mengakibatkan banyak pemetik yang keluar oleh karena itu perlu diteliti faktor penyebab turunnya kinerja pemetik yang nantinya akan berpengaruh pada produksi teh hijau di perusahaan. </p><p>Perkebunan teh merupakan perusahaan yang mayoritas pekerjanya adalah tenaga pemetik. Berkaitan dengan hal tersebut tenaga pemetik merupakan faktor yang berpengaruh pada mutu petikan daun teh yang selanjutnya juga akan mempengaruhi mutu produk akhir. Untuk mengetahui kualitas pemetik dapat dilakukan uji mutu pucuk terhadap hasil petikan dari suatu kebun melalui uji sampel sebelum daun teh melalui proses pengolahan. Selain itu uji mutu pucuk juga dapat mengetahui hasil kebun atau tanaman yang mencakup kesehatan tanaman. Berdasarkan uji mutu pucuk ini maka kinerja tenaga pemetik dapat diketahui serta dapat mengidentifikasi faktor yang berpengaruh terhadap kinerja pemetik. Selain itu, untuk menganalisis kinerja pemetik teh dapat dilakukan secara subjektif yaitu melalui penilaian mandor. Penilaian kinerja oleh mandor diukur dari nilai performansi dan personal masing-masing pemetik di perkebunan. </p><p> 1.2. Tujuan Penelitian </p><p>Tujuan dalam penelitian ini adalah : 1. Mengukur kinerja pemetik secara </p><p>objektif melalui uji mutu pucuk dan subjektif melalui penilaian kinerja oleh mandor. </p><p>2. Memahami bagaimana pengaruh karakteristik pemetik yang diteliti terhadap kinerja pemetik di kebun. </p><p>3. Mengetahui besarnya hubungan personal dan performansi pemetik terhadap uji mutu pucuk. </p><p>4. Menentukan faktor-faktor penting yang dapat meningkatkan kinerja </p><p>pemetik di perkebunan teh organik PT. Bukit Sari. </p><p> 2. METODOLOGI PENELITIAN 2.1. Objek Penelitian </p><p>Objek yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah tenaga kerja pemetik teh di perkebunan PT. BS yang berlokasi di Jawa Barat. </p><p> 2.2. Data-data yang diperlukan 1. Data Primer, yaitu data yang diperoleh </p><p>langsung dari hasil kuesioner yang disebarkan kepada mandor sebagai atasan pemetik yang diteliti serta pucuk daun teh yang akan diuji pada masing-masing pemetik. </p><p>2. Data Sekunder, yaitu data-data pendukung dari instansi-instansi terkait dan studi pustaka, literatur, buku, majalah, surat kabar, internet, jurnal dan digunakan untuk mendukung landasan teori. </p><p> 2.3. Pengumpulan Data </p><p>Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menggunakan metode wawancara, metode observasi, kuesioner, dan studi pustaka. Kuesioner dibagi menjadi dua faktor dengan beberapa indikator yaitu : a. Faktor performansi pemetik Faktor performansi yang dimaksud dalam penelitian ini mengarah pada faktor teknis pemetik dalam melakukan pekerjaannya. Indikator-indikator pada faktor ini adalah pengetahuan, keterampilan, ketekunan, kecepatan, kerjasama dan inisiatif. b. Faktor personal pemetik Faktor personal pemetik yaitu sifat-sifat yang ada dalam pribadi pemetik terhadap peerjaannya. Indikator-indikator pada faktor ini adalah kejujuran, kedisiplinan, tanggungjawab, kepemimpinan dan kesetiaan. </p></li><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>223 </p><p>2.4. Penentuan Sampel dan Penyebaran Kuesioner </p><p> Dalam penentuan sampel ini teknik sampling yang dipakai adalah purposive sampling yang tergolong dalam nonprobability sampling. Penentuan sampel yang dilakukan adalah berdasarkan tujuan dari penelitian ini yaitu memenuhi keseluruhan karakteristik yang akan diteliti. </p><p>Sampel diambil dari 7 kemandoran dengan kriteria lokasi kebun yang bervariasi dimulai dari kebun yang dekat dengan jalan, agak ke tengah kemudian kebun yang lokasinya jauh dari jalan. Dari setiap kemandoran kemudian diambil sekitar 4 sampai 9 pemetik dengan karakteristik pemetik yang bervariasi antara lain status pengalaman memetik, lokasi tempat tinggal, usia pemetik dan jenis kelamin. Tenaga pemetik yang dipilih mampu mewakili kriteria-kriteria yang akan diteliti. Adapun kriteria-kriteria yang akan diteliti diklasifikasikan sebagai berikut : 1. Statsus Pengalaman Memetik </p><p>a. Pengalaman Rendah : Pemetik yang baru bekerja dibawah 5 tahun. </p><p>b. Pengalaman Cukup : Pemetik yang telah bekerja antara 5 sampai 10 tahun. </p><p>c. Pengalaman Tinggi : Pemetik yang telah bekerja lebih dari 10 tahun. </p><p>2. Lokasi Tempat Tinggal a. Lokasi Dalam Kebun : Tempat </p><p>tinggal berada di perumahan dalam perkebunan. </p><p>b. Lokasi Luar Kebun : Tempat tinggal berada di pedesaan yang jauh dari areal perkebunan. </p><p>3. Usia a. Usia &lt; 21 tahun b. Usia 21 30 c. Usia 31 40 d. Usia 41 50 e. Usia &gt; 50 </p><p>4. Jenis Kelamin : Pria dan Wanita </p><p>2.5. Pengolahan Data 1. Perhitungan Uji Mutu Pucuk </p><p>Perhitungan uji mutu pucuk dilakukan di pabrik dengan mengambil sampel sebanyak 100 gram dari masing-masing pemetik. Dari sampel tersebut kemudian dipisahkan antara pucuk yang medium dan pucuk yang tidak memenuhi syarat. Kemudian pucuk tersbut ditimbang lalu dihitung prosentasenya. Uji mutu pucuk ini dilakukan dua kali pengulangan pada setiap sampel. </p><p>Pucuk medium pada perusahaan adalah pucuk yang dihasilkan terdiri dari pucuk peko dengan duan daun muda, serta pucuk burung dangan satu atau dua daun muda, ditulis dengan rumus p+2, b+1m dan b+2m. </p><p>Berdasarkan prosentase pucuk yang diperoleh dilakukan pengujian chi square. Chi Square (kai kuadrat) untuk mengetahui apakah ada hubungan yang signifikan antara : a) kinerja pemetik teh dengan status </p><p>pengalaman memetik. b) kinerja pemetik teh dengan lokasi letak </p><p>tempat tinggal pemetik. c) kinerja pemetik teh dengan usia </p><p>pemetik. d) kinerja pemetik teh dengan jenis </p><p>kelamin. 2. Penilaian Kinerja oleh Mandor </p><p>Pengukuran kinerja secara subjektif dilakukan dengan penilaian kinerja oleh mandor sebagai atasan pemetik sehingga mampu mengetahui faktor-faktor personal dan performansi pemetik yang diteliti.. 3. HASIL DAN PEMBAHASAN </p><p> 3.1. Deskripsi Responden dan Penentuan Sampel </p><p>Responden dikelompokkan berdasarkan lamanya bekerja dalam memetik teh. Status pengalaman rendah merupakan pemetik yang baru bekerja dibawah 5 tahun, sebanyak 39,59%. Untuk status cukup berpengalaman adalah pemetik yang bekerja antara 6 sampai 10 </p></li><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>224 </p><p>tahun, sebanyak 29,17%. Sedangkan pengalaman tinggi untuk pemetik yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun, yakni sebanyak 31,25%. </p><p>Responden dikelompokkan berdasarkan karakteristik jenis kelamin. Responden wanita mempunyai persentase lebih besar daripada pria yaitu 64,58 %. Dari segi usia, responden terbanyak adalah responden yang berusia antara 31-40 tahun (36,73%). Sedangkan responden yang berusia kurang dari 21 tahun mempunyai presentase terendah (10,2%). </p><p>Responden dikelompokkan berdasarkan lokasi tempat tinggal pemetik. Pemetik di perkebunan bukitsari ada yang tinggal di dalam perkebunan yaitu di kompleks atau perumahan yang telah disediakan oleh perusahaan, yakni sebanyak 60,42%. Sedangkan mereka ada yang tinggal di luar kebun yaitu di desa tetangga sebanyak 39,58%. Mereka yang bertempat tinggal di luar kebun ini dijemput menggunakan truk dari perusahaan karena jarak kebun menuju desa terebut sangatlah jauh sampai 10 km. </p><p>3.2. Pencapaian Uji Mutu Pucuk Masing-masing Pemetik </p><p>Perusahaan telah menetapkan standar mutu pucuk yaitu 80%. Dengan perbandingan antara pucuk medium dan pucuk tua adalah 80% banding 20% yang terdapat dalam standar uji mutu pucuk maka hal ini dianggap sudah memenuhi keberhasilan perusahaan dalam menghasilkan pucuk teh yang siap olah. Hasil uji mutu pucuk dipengaruhi oleh beberapa hal yang diantaranya adalah pengelolaan produksi di bagian tanaman, keadaan atau kondisi sumberdaya manusia, sarana, dan lain sebagainnya. Oleh karena itu mutu pucuk teh sangat mempengaruhi mutu produk akhir dan mutu produk akhir sangat mempengaruhi tingkat penjualan. Bila perusahaan tidak mampu menyediakan produk yang sesuai standar dan tidak dapat memenuhi harapan dan kebutuhan konsumen maka jumlah penjualan akan menurun dan harga jual menjadi rendah. </p><p>Tabel 1. Hasil Pencapaian Kinerja Pemetik dengan berbagai Standar Mutu Pucuk </p><p>No Standar Mutu Pucuk </p><p>Prosentase Pencapaian </p><p>1 2 3 </p><p>80 % 75 % 70 % </p><p>33,33 % 62,50 % 72,92 % </p><p> Tabel 2. Rata-rata Uji Mutu Pucuk Pada Masing-masing Karakteristik </p><p>Karakteristik Jumlah Prosentase Rata-rata Uji mutu pucuk Std. Deviasi </p><p>Pengalaman -Rendah -Sedang -Tinggi </p><p> 19 14 15 </p><p> 39,6% 29,2% 31,3% </p><p> 79,56 72,20 76,48 </p><p> 9,83 6,84 7,17 </p><p>Lokasi -Dalam Kebun -Luar Kebun </p><p> 29 19 </p><p> 60,4% 39,6% </p><p> 75,97 77,19 </p><p> 8,20 9,43 </p><p>Gender -Pria </p><p> 17 </p><p> 35,4% </p><p> 76,90 </p><p> 8,12 </p></li><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>225 </p><p>-Wanita 31 64,6% 76,21 9,02 Usia -50 </p><p> 5 6 </p><p>17 14 6 </p><p> 10,4% 12,5% 35,4% 29,2% 12,5% </p><p> 79,09 77,70 75,17 76,48 76,57 </p><p> 1,94 8,72 7,54 </p><p>11,49 9,02 </p><p> Tabel 3. Rata-rata Pencapaian Pucuk pada masing-masing Kemandoran </p><p>Kemandoran Okto ber </p><p>Novem Ber </p><p>Desem Ber </p><p>Rata-rata 3 bulan </p><p>Rata-rata uji mutu pucuk </p><p>Daryan Makmur F Tanu Anan WS Daryana Deni S Ahmad R </p><p>72.91 73.18 71.91 66.11 81.36 71.00 71.64 </p><p>75.84 77.25 75.96 71.43 84.42 78.78 77.00 </p><p>81.31 81.31 81.71 80.79 87.27 82.13 81.14 </p><p>76.68 77.25 76.53 72.78 84.35 77.31 76.59 </p><p>81.32 77.53 73.28 71.17 75.47 74.90 86.72 </p><p> Tabel 4. Hasil Pengujian Kai Kuadrat masing-masing Karaktristik </p><p>Karakteristik X2 </p><p>hitung X2 tabel df Keputusan </p><p>Pengalaman memetik 3,244 5,9915 2 Ho diterima Lokasi tempat tinggal 1,089 3,8415 1 Ho diterima </p><p>Usia 1,751 9,4887 4 Ho diterima Jenis Kelamin 0,182 3,8415 1 Ho diterima </p><p>Berdasarkan Tabel 1. maka jumlah pemetik yang memenuhi standar perusahaan adalah 33,33%. Hal ini menunjukkan bahwa dengan standar uji mutu pucuk yang ditetapkan perusahaan dirasa terlalu tinggi sehingga kinerja pemetik kurang memuaskan keinginan perusahaan. Standar perusahaan ini dianggap kurang efektif karena belum ada tindakan tegas dari perusahaan terhadap pucuk yang tidak memenuhi standar mutu pucuk. Standar 80 % ini adalah standar baru, sedangkan sebelumnya perusahaan menetapkan standar 75% dan karakter pucuk medium juga berbeda yaitu termasuk p+3. Apabila standar diturunkan menjadi 75% maka presentse pemetik yang memnuhi adalah 62,50% kemudian jika diturunkan lagi menjadi 70% adalah </p><p>72,92%. Penilaian kinerja pemetik bahkan belum mencapai 100% padahal standar uji mutu pucuk sudah diturunkan. Hal ini menunjukkan bahwa pada kenyataannya kinerja pemetik masih jauh dari kriteria mutu pucuk yang berkualitas untuk diolah. Perolehan uji mutu pucuk apabila dirata-rata berdasarkan karakteristik yang diteliti akan diperinci oleh Tabel 2. </p><p>Berdasarkan Tabel 2. dapat diamati rata-rata uji mutu pucuk yang paling tinggi dari berbagai karakter yang diteliti. Untuk pengalaman terlihat bahwa rata-rata tidak berbanding lurus dengan status pengalaman namun rata-rata tertinggi dicapai pada pemetik yang berpengalaman rendah walaupun belum memenuhi standar perusahaan. Dari lokasi tempat tinggal pemetik dapat dibandingkan bahwa </p></li><li><p> Proceeding Seminar Nasional APTA, 16 Desember 2010 </p><p>226 </p><p>pemetik yang berasal dari luar lebih tinggi dibanding yang didalam, hal ini sesuai dengan pengamatan langsung yang menyatakan bahwa pemetik yang berasal dari luar lebih rajin karena mereka akan bekerja sesuai dengan jadwal truk yang menjemput. Sedangkan untuk pemetik yang tinggal didalam kebun dapat pulang sewaktu-waktu dan terlihat kurang disiplin. Menurut jenis kelamin tidak terdapat perbedaan yang signifikan, kedua jenis kelamin ini hampir mencapai rata-rata yang sama yaitu presentase mutu pucuk 76% maka faktor keberhasilan pemetikan tidak dapat dilihat berdasarkan gender. Dari segi usia, sebanding den...</p></li></ul>