ALK sesi 12

Download ALK sesi 12

Post on 24-Jul-2015

411 views

Category:

Documents

2 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>Analisis Fundamental dan Teknikal Saham PT. Multipolar.tbk (MLPL) Mata Kuliah : Analisi Laporan Keuangan</p> <p>(Dosen : Prof. Dr. Slamet Sugiri, MBA.)</p> <p>Disusun Oleh : Nama : Rika Henda Safitri No. Mhs : 11/MPA-XXIIA/56</p> <p>PROGRAM PENDIDIKAN PROFESI AKUNTANSI FAKULTAS EKONOMIKA DAN BISNIS UNIVERSITAS GADJAH MADA 20111</p> <p>Analisi Laporan Keuangan Saham PT. Multipolar, Tbk (MLPL)Pendahuluan Peter Lynch dalam bukunya yang berjudul ; One Up on Wall Street. How to use what you already know to make money in the market, mengatakan bahwa ada satu hal utama yang perlu anda ketahui dalam investasi yaitu : Jangan mengikuti mentah-mentah saran para professional. Mengapa? Setidaknya ada tiga alasan mengapa investor sebaiknya mengabaikan rekomendasi saham dari para pakar yaitu karena mereka mungkin salah, kalaupun mereka benar, investor tidak pernah tahu kapan mereka berubah pikiran dan menjual saham yang direkomendasi tersebut dan investor punya sumber informasi lebih baik, dan sumber itu ada di sekeliling investor.. Peter Lynch adalah manajer investasi (fund manager) Fidelity Magellan, reksa dana dengan asset terbesar di tahun 1990-an. (Fidelity sampai sekarang masih merupakan salah satu raksasa reksa dana di Amerika.) Pada waktu itu, Peter Lynch mungkin lebih terkenal dari Warren Buffet karena ada ratusan ribu orang menanamkan modal di Fidelity Magellan dan menikmati imbal-hasil (return) yang spektakuler. Investor yang memasukkan dana US$10,000 pada tahun 1977, tahun pertama Peter Lynch mengelola Magellan, akan melihat dana tersebut berkembang menjadi US$190,000 sepuluh tahun kemudian. Luar biasa. Peter Lynch yang sudah terbukti sebagai pakar saham pada intinya mengatakan bahwa investor bisa sukses berinvestasi saham dengan menggunakan apa yang sudah investor ketahui.Sebelum melakukan investasi, investor memang sebaiknya mengetahui harga wajar dari suatu saham dengan cara membandingkan nilai intrinsik saham dengan harga pasar yang berlaku. Tujuan utamanya adalah untuk memilih perusahaan yang sahamnya undervalued (cheap) atau overvalued (rich). Sekuritas yang ternyata undervalued berarti pasar gagal atau tidak menemukan adanya faktor-faktor yang membenarkan harganya harus lebih tinggi. Artinya nilai sekuritas harus lebih tinggi daripada harga jualnya. Setelah investor menyadari situasi tersebut, misalnya karena manajemen mengumumkan EPS (earning per share) lebih tinggi yang diharapkan, para investor akan membeli saham dan akan memaksa harga naik.</p> <p>Paper ini akan melakukan analisis fundamental dan tehnikal terhadap saham Multipolar Tbk (MLPL). Apakah memang investasi pada saham seperti</p> <p>PT. MLPL</p> <p>menguntungkan? Hasil analisis ini diharapkan dapat digunakan oleh investor sebagai dasar2</p> <p>dalam mengambil keputusan investasi yaitu apakah akan berinvestasi dengan membeli saham MLPL atau tidak. Pembahasan Analisis Fundamental Analisis fundamental adalah metode analisis yang didasarkan pada fundamental ekonomi suatu perusahaan. Analisis ini menitikberatkan pada rasio keuangan dan kejadian-kejadian yang secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi kinerja perusahaan. Analisis fundamental lebih cocok digunakan jika ingin memutuskan saham perusahaan mana yang akan dibeli dalam jangka panjang. Secara prinsip, untuk melakukan analisis fundamental idealnya dilakukan secara top-down, yaitu: Analisis Ekonomi, Analisis Industri, dan Analisis Perusahaan (http://id.wikipedia.org/wiki/Analisis_fundamental).1. Analisis Ekonomi</p> <p>a. Gross Domestic Product (GDP) atau Produk Domestik Bruto (PDB) Menurut Bank Dunia, Produk Domestik Bruto Indonesia adalah senilai 540 miliar dolar atau 0,87% dari ekonomi dunia,. Dari tahun 1967 sampai dengan tahun 2009, rata-rata Produk Domestik Bruto di Indonesia adalah 138.19 milyar dolar yang mencapai angka historis tertinggi sebesar 540.28 milyar dolar pada bulan Desember 2009 dan rekor terendah rendah sebesar 5.98 milyar dolar pada bulan Desember 1967. Indonesia merupakan Negara dengan perekonomian nasional terbesar di Asia Tenggara yang ekonomi berbasis pasar di mana pemerintah memainkan peran penting dengan memiliki lebih dari 164 perusahaan milik negara. Berikut adalah grafik GDP Indonesia dari tahun 1998 s. d 2010 :</p> <p>3</p> <p>b. Pertumbuhan GDP atau PDB</p> <p>Pada kuartal pertama tahun 2011, Produk Domestik Bruto (PDB) di Indonesia mengalami pertumbuhan sebesar 6,5 persen bila dibandingkan dengan kuartal yang sama tahun sebelumnya. Dari tahun 2000 sampai dengan tahun 2010, pertumbuhan rata-rata kuartalan PDB Indonesia adalah 1,34 persen yang mencapai angka historis tertinggi sebesar 4,23 persen pada bulan September 2000 dan rekor terendah -3,87 persen pada bulan Desember 2002. Berikut adalah grafik pertumbuhan GDP dari tahun 2007 s. d. 2011 :</p> <p> Dengan rata-rata pertumbuhan ekonomi minimal 6 persen mulai tahun 2011, PDB Indonesia akan senilai Rp 14.379 triliun (US$ 1,4 triliun) pada 2025. Dengan PDB sebesar ini, Indonesia akan mulai beranjak menuju maju. Walaupun secara agregat prognosis PDB Indonesia pada tahun 2025 masih jauh di bawah Brasil, Rusia, India, dan China, namun karena beberapa negara maju mengalami pelemahan kinerja ekonomi menyebabkan Indonesia akan mulai masuk ke dalam struktur negara di dunia dengan perekonomian terbesar. Potensi besar ekonomi Indonesia di masa mendatang bisa terjadi karena di beberapa negara maju telah terjadi titik jenuh perekonomian yang terutama disebabkan investasi di dalam negeri mereka sudah tidak bisa memberikan return yang menarik. Hal ini tentu berbeda dengan Indonesia, dengan jumlah penduduk terbesar keempat di dunia menyebabkan perekonomian dan investasi di Indonesia akan terus memanfaatkan pertumbuhan penduduk tersebut. Pasar yang begitu besar menjadi determinan penting4</p> <p>pengerak investasi dan perekonomian. Walaupun pada satu sisi, jumlah penduduk yang begitu besar menjadi masalah tersendiri namun inilah salah satu pengerak utama perekonomian Indonesia. c. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Selama Tahun 2010, Indonesia merupakan salah satu negara tujuan utama investasi di dunia. Investasi portofolio di Indonesia selama 2010 merupakan salah satu investasi yang memberikan return tertinggi di dunia. IHSG selama 2010 tumbuh sebesar 46 persen, di mana per 2 Januari 2010 sebesar 2.534 dan pada saat penutupan tahun perdagangan 2010 menjadi sebesar 3.703. Kinerja cemerlang ini menjadikan IHSG merupakan indeks saham yang mengalami pertumbuhan tertinggi di wilayah Asia Pasifik. Dengan mempertimbangkan apa yang terjadi selama 2010, diprediksi bahwa selama 2011 IHSG masih akan terus mengalami pertumbuhan. Sampai akhir tahun 2011, diprediksi IHSG akan bisa mencapai angka 4.000. Namun dengan catatan bahwa krisis politik yang terjadi di negara kawasan arab tidak terjadi lagi setelah bulan Maret.</p> <p>Chart IHSG Tanggal 18 Agustus 2011</p> <p>5</p> <p>6</p> <p>Berdasarkan data IHSG tanggal 18 Agustus 2011, volatilitas pergerakan bursa naik tajam. Pasca kenaikan sebelumnya, Dow Jones justru kembali anjlok hingga 3,68 persen ke level 10.990,58. Bursa di Amerika (AS) turun setelah muncul berita bahwa otoritas moneter giat melakukan pemeriksaan melekat terhadap cabang-cabang bank Eropa di AS, untuk mencegah masalah sistemik disistem perbankan AS. Sementara itu dari sisi makro, rilis angka inflasi AS menunjukkan bahwa tingkat inflasi Juli naik 0,5 persen MoM, atau lebih tinggi dari ekspektasi ekonom dilevel 0,2 persen MoM. Leading Economic Index (LEI) AS dibulan Juli pun naik 0,5 persen ke level 115,8, setelah menguat dibulan sebelumnya sebesar 0,3 persen. Ditengah bursa Asia yang melemah, IHSG justru mencatat penguatan. IHSG naik 1,71 persen ke level 4.020,99. Melemahnya bursa-bursa Eropa mempengaruhi laju gerak bursa Asia.</p> <p>IHSG di Bursa Efek Indonesia kembali menguat pada akhir transaksi perdagangan dan bertahan di level psikologis 4.000, setelah sempat terkoreksi tipis sehari sebelum libur memperingati hari kemerdekaan ke 66 Republik Indonesia. Pada perdagangan hari ini, IHSG berakhir menguat 67,72 poin atau 1,71 persen ke level 4.020,99. Total nilai transaksi yang dibukukan mencapai Rp6,09 triliun dan volume tercatat 12,81 juta lot dengan frekuensi 172.498 kali. Sebanyak 154 saham menguat, 89 melemah, 92 stagnan, serta 191 saham tidak terjadi transaksi. Berdasarkan gambar tersebut diatas juga nampak bahwa hanya sektor property yang mengalami penurunan, sedang untuk sektor lainnya mengalami kenaikan.7</p> <p>Sedang kondisi 40 perusahaan top yang mengalami kenaikan atau penurunan adalah sebagai berikut :</p> <p>d. Suku Bunga Tingkat suku bunga bisa menjadi salah satu acuan kondisi ekonomi. Tingkat suku bunga yang tinggi akan menghambat bergeraknya sektor riil, sebaliknya sektor riil akan bergairah saat suku bunga rendah. Secara umum, kenaikan tingkat suku bunga akan menyerap likuiditas di pasar yang pada akhirnya akan memicu penurunan harga saham karena banyak pelaku pasar menjual sahamnya dan sebaliknya, penurunan tingkat suku bunga akan membuat pelaku pasar optimis terhadap kondisi sektor riil sehingga mendorong pelaku pasar untuk melakukan pembelian saham yang tentu saja akan membuat harga saham bergerak naik. Adapun pergerakan suku bunga yang diproksikan oleh BI Rate dari tahun 2007 s. d. 2011 adalah sebagai berikut :BI Rate (%) Juni Juli 6,75 6,75 6.50 6.50 7.00 6.75 8.50 8.75 8.50 8.25</p> <p>Tahun 2011 2010 2009 2008 2007</p> <p>Jan 6,50 6.50 8.75 8.00 9.50</p> <p>Feb 6,75 6.50 8.25 8.00 9.25</p> <p>Mar 6,75 6.50 7.75 8.00 9.00</p> <p>Apr 6,75 6.50 7.50 8.00 9.00</p> <p>Mei 6,75 6.50 7.25 8.25 8.75</p> <p>Agus 6.75 6.50 6.50 9.00 8.25</p> <p>Sept 6,75 6.50 6.50 9.25 8.25</p> <p>Okt 6,75 6.50 6.50 9.50 8.25</p> <p>Nov 6,75 6.50 6.50 9.50 8.25</p> <p>Des 6.50 6.50 9.25 8.00</p> <p>8</p> <p>Berdasarkan grafik tersebut diatas terlihat bahwa tingkat suku bunga Indonesia mengalami tren penurunan sejak tahun 2006 dan stabil pada 6,50% sepanjang tahun 2010. Di tahun 2011 suku bunga bank Indonesia mengalami kenaikan menjadi 6,75% di bulan Februari 2011 dan terus stabil ditingkat 6,75% sampai dengan bulan Juli 2011. Hal ini mendorong para pemegang saham akan tetap mempertahankan saham yang dimiliki dan akan mengakibatkan peningkatan harga saham/ pergerakan IHSG. e. Inflasi Tingkat inflasi cukup berpengaruh terhadap harga saham dengan hubungan yang berbanding terbalik. Harga saham akan naik jika inflasi rendah, dan sebaliknya harga saham cenderung turun saat inflasi tinggi. Semakin turunnya tingkat inflasi menandakan bahwa daya beli masyarakat semakin meningkat. Dengan meningkatnya daya beli masyarakat, maka diharapkan bukan hanya kebutuhan sandang, pangan, papan saja yang terpenuhi namun juga kebutuhan-kebutuhan lainnya seperti berinvestasi.</p> <p>9</p> <p>Berdasarkan data di atas terlihat bahwa inflasi bulanan sejak tahun 2007 mengalami peningkatan hingga akhir tahun 2008. Hal ini berarti, harga saham akan cenderung untuk melemah/ turun dalam rentang tahun tersebut. Inflasi mulai menurun sejak tahun 2009 dan hal ini mengindikasikan bahwa harga saham akan cenderung mengalami peningkatan/ naik. Selama tahun 2010 inflasi kembali bergerak naik sampai dengan bulan Januari 2011, dan selanjutnya di bulan Juli 2011 mengalami penurunan kembali. Hal ini berarti bahwa harga saham selama tahun 2010 s. d. Januari 2011 akan cenderung untuk mengalami penurunan dan mulai akhir juli harga akan mengalami kenaikan.</p> <p>f. Kurs Nilai mata uang rupiah atas dollar Amerika saat ini sedang mengalami penguatan. Hal ini akan mendorong investor untuk mengalihkan investasinya dari dollar ke saham, sehingga terjadi peningkatan penjualan saham yang mendorong peningkatan harga saham. Penguatan ini didukung pula oleh stabilnya nilai mata uang rupiah atas dollar Amerika yang berada pada kisaran harga Rp 8.500,00 s. d. Rp 8.750,00 per dollar. Selain itu, penguatan dan stabilnya nilai Rupiah ini secara umum juga meningkatkan optimisme pelaku pasar sehingga meningkatkan pula gairah pasar saham.</p> <p>10</p> <p>Diprediksi sepanjang 2011 rupiah stabil di kisaran angka 9.000 per dollar AS. Prediksi nilai tukar rupiah ini lebih bagus dibandingkan dengan asumsi nilai tukar dalam APBN 2011 yang sebesar 9.300 per dollar AS. Namun demikian, terdapat beberapa potensi yang membuat nilai tukar ini melemah jauh dari 9.000 per dollar. Pertama, pemulihan ekonomi global, terutama di Amerika Serikat dan negara-negara Uni Eropa akan menyebabkan dana yang ada di negera berkembang, termasuk di Indonesia akan kembali masuk ke negara-negara maju tersebut. Namun demikian, dilihat dari perbandingan fundamental return, negara-negara maju belum bisa memberikan return yang kompetitif atau lebih besar dari emerging market. Kedua, hedging yang dilakukan oleh beberapa pemain hedge fund besar berpotensi menyebabkan terjadinya capital outflow. g. Krisis di Amerika dan Eropa Standard &amp; Poors memangkas peringkat utang Pemerintah Amerika Serikat menjadi AA+ dari posisi sebelumnya AAA. Dengan diturunkannya rating utang Amerika Serikat satu knotch dari sebelumnya AAA menjadi AA+ oleh lembaga pemeringkat S&amp;P berimplikasi adanya perlambatan perekonomian AS. Hal tersebut diperkirakan berakibat perlunya negara adidaya itu membayarkan bunga utangnya lebih besar sehingga terdapat kenaikan yield dari surat utangnya. Kekhawatiran para investor terhadap krisis AS tidak saja dengan penurunan peringkat utang AS, tetapi juga kemungkinan perlambatan pertumbuhan ekonomi.11</p> <p>Investor pun seperti putus asa guna mencari tempat yang aman untuk menyelamatkan dana mereka. AS perlu merestrukturisasi utangnya yang terus membengkak dengan angka fantastis. Sentimen negatif kemudian melanda pasar global dan domestik. Krisis utang yang terjadi di Eropa dan Amerika Serikat, membuat semua investor bursa melakukan taking profit. Akibatnya, IHSG, Hangseng, Wall Street dan pasar bursa dunia lainnya mengalami penurunan volume transaksi. Ketakutan meningkatnya premium risk perekonomian dunia ini, membuat mereka yang memegang uang mengalihkan kekayaannya dari saham menjadi emas. Karenanya, harga emas terus merangkak naik menyentuh 1681,72 per troy ons. Anggito Abimanyu dalam artikelnya yang berjudul Kebalkah Kita dari Krisis AS? yang dimuat dalam kompas.com tanggal 11 Agustus 2011 mengatakan bahwa dampak krisis utang AS terhadap perekonomian Indonesia, seperti juga krisis di tahun 2008, relatif terbatas. Hal ini karena porsi ekspor Indonesia terhadap perekonomian dunia relatif kecil dibandingkan negara lain seperti Singapura, Hongkong, Korea Selatan, dan India. BI dan Bapepam juga menerapkan regulasi yang ketat terhadap lembaga keuangan, baik bank maupun bukan bank, untuk pengembangan produk derivatif keuangan. Rasio investasi, khususnya investasi asing dan joint venture, dalam Produk Domestik Bruto Indonesia juga relatif rendah. Dengan struktur yang terbatas pada paparan perekonomian dan keuangan global, perekonomian Indonesia untuk sementara dapat terhindar dari krisis yang dalam.2. Analisis Industri</p> <p>Sukses tidaknya suatu investasi banyak ditentukan juga dari pemilihan sektor industri yang tepat. Hal ini bisa tergambar dari pergerakan Indeks Harga Sah...</p>