agama budha

Download agama budha

Post on 27-Jun-2015

170 views

Category:

Documents

5 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

KATA PENGANTAR

Puji serta rasa syukur penyusun panjatkan kehadirat Illahi Rabby yang senantiasa dan tanpa henti-hentinya mengalirkan kasih sayang serta segala ni'matNya kepada kita semua, terkhusus kepada penyusun, sehingga penyusun dapat menyelesaikan penyusunan makalah kuliah .......... Penyusun menyadari bahwa makalah ini sangat jauh sekali untuk dikatakan sempurna, oleh karena itu penyusun sangat terbuka akan kritik serta saran yang membangun, sehingga penyusun dapat mengerjakan makalah yang lebih baik dikemudian hari. Akhirnya, penyusun hanya bisa berharap, mudah-mudahan makalah ini dapat bermanfaat serta berguna bagi siapa saja, khususnya bagi penyusun dan umumnya bagi yang membacanya. Bandung, Januari 2008

Penyusun

BAB I PENDAHULUAN

Beragama merupakan sebuah insting (fitrah, red) yang dimilki oleh setiap manusia, ketika zaman dahulu kala, ketika peradaban manusia belum ada, manusia menyakini akan adanya suatu dzat yang melebihi manusia, mereka menyadari bahwa mereka lahir, hidup lalu meninggal dunia. Manusia pada waktu itu (dahulu kala) menyakini akan adanya sesuatu yang diluar daya nalar mereka, namun akal tidak dapat membantu lebih manusia untuk mencari sesuatu tersebut, akhirnya daya nalar mulai bermain-main untuk mencari sesuatu yang berada diatas daya serta kekuatan manusia tersebut. Inilah yang menjadi landasan manusia beragama. Manusia pada zaman dahulu begitu mudahnya menyakini bahwa benda-benda (keramat) adalah tuhan mereka (dinamisme) dan sebagian lain meyakini akan adanya suatu makhluk kasat mata (roh) yang menjadi tuhan mereka (animisme) Manusia pada zaman dulu begitu di nina bobokan dengan ajaran yang mereka temukan, bahkan sangat sulit untuk mengembalikan ajaran mereka pada fitrah yang sebenarnya, ini dapat kita lihat dari kehidupan sekarang, meskipun jalan kebenaran yang tampak sudah benar, namun masih ada orang yang meyakini akan ajaran nenek moyang mereka (animisme dan dinamisme)

BAB II PEMBAHASAN

Agama Buddha Agama Buddha lahir di negara India, lebih tepatnya lagi di wilayah Nepal sekarang, sebagai reaksi terhadap agama Brahmanisme. Pencetusnya ialah Siddhartha Gautama yang dikenal sebagai Gautama Buddha oleh pengikutpengikutnya. Ajaran Buddha sampai ke negara Tiongkok pada tahun 399 Masehi, dibawa oleh seorang bhiksu bernama Fa Hsien. Masyarakat Tiongkok mendapat pengaruhnya dari Tibet disesuaikan dengan tuntutan dan nilai lokal. Setiap aliran Buddha berpegang kepada Tripitaka sebagai rujukan utama karena dalamnya tercatat sabda dan ajaran sang hyang Buddha Gautama. Pengikutpengikutnya kemudian mencatat dan mengklasifikasikan ajarannya dalam 3 buku yaitu Sutta Piaka (kotbah-kotbah Sang Buddha), Vinaya Piaka (peraturan atau tata tertib para bhikkhu) dan Abhidhamma Piaka (ajaran hukum metafisika dan psikologi). Sejarah Agama Buddha Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhrtha Gautama (Sansekerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harafiah: orang yang telah

mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni atau Sakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Ayah dari Pangeran Siddharta adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Sri Ratu Maha Maya Dewi. Ibunda Ratu meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Sejak saat itu maka yang merawat Pangeran Siddharta adalah Maha Pajapati, yaitu bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana. Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 623 Sebelum Masehi di Taman Lumbini. Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala diramalkan bahwa Pangeran Siddharta kelak akan menjadi Maharaja Diraja atau akan menjadi Seorang Buddha. Hanya pertapa Kondanna yang dengan pasti meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa, atau ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah: 1. Orang tua, 2. Orang sakit, 3. Orang mati, dan 4. Seorang pertapa. Kata-kata pertapa Asita membuat Baginda tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari

kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian. Sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi. Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Tetapi Pangeran Siddharta kurang berminat dengan pelajaran tersebut. Pangeran Siddharta mendiami tiga istana, yaitu istana musim semi, musim hujan dan pancaroba. Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, ia selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayangdayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Pada akhirnya Sang Pangeran melihat empat peristiwa yang selalu diusahakan agar tidak berada di dalam penglihatannya, setelah kejadian itu Pangeran Siddharta tampak murung dan kecewa melihat kenyataan hidup yang penuh dengan derita ini. Suatu hari Pangeran Siddharta meminta ijin untuk berjalan di luar istana bermaksud untuk berburu dengan kusirnya Canna. Pada perjalanan tersebut, beliau melihat seseorang yang terbaring di tanah dengan badan yang sangat kurus dan menderita, beliaupun bertanya kepada kusirnya kenapakah orang itu, kusirnya menjawab bahwa dia adalah orang yang sedang sakit dan setiap orang pasti akan mengalaminya, setelah mendengar jawaban kusirnya tersebut pangeran sidharta pun merenung. Pada kesempatannya berburu yang kedua sang pangeran menemukan seorang yang sudah bungkuk, kepalanya tertunduk ke tanah

sambil memegang tongkat dalam keadaan tangannya bergetar, beliaupun bertanya kembali ke pada kusirnya kenapakah orang ini, kusirnya menjawab dia adalah orang yang telah tua dan Tuanpun akan mengalaminya di dalam kehidupan Tuan, setelah mendengar keterangan kusirnya pangeranpun kembali merenung. Pada kesempatannya berburu yang ketiga pangeran melewati kerumunan orang yang sedang mengusung jenazah, beliaupun kembali bertanya kepada kusirnya kenapakah orang ini, kusirnyapun menjawab dia adalah orang yang telah meninggal, dan setiap orang akan mengalaminya. Setelah mendengar pernyataan kusirnya pangeran Sidhartapun menjadi sedih dan kembali merenung. Pada ksempatannya yang keempat pangeran melihat seorang wanita menggendong anaknya yang masih kecil, sedang anaknya yang agak besar mengirinya dari belakang, dari wajah wanita tersebut terlihat kepedihan akan hidup yang dialaminya, dia berjalan kesana-kemari sambil menjulurkan tangannya memintaminta kepada setiap orang yang ditemuinya untuk memberinya makanan. Pada kesempatan inipun pangeran kembali bertanya, kenapakah dengan orang ini, kusirnyapun kembali menjawab bahwa wanita tersebut adalah orang yang miskin dan sengsara, sedangkan dia adalah termasuk kasta sudra, yaitu kasta yang amat rendah kedudukannya. Mendengar penjelasan tersebut dan merenungkan pengalaman-pengalaman yang dialaminya dalam perjalanan bersama kusirnya tersebut pangeran Sidharta menjadi sedih yang sangat mendalam, dan terus merenungkannya di istananya. Walaupun keadaan di istana sangat menyenangkan dan kebutuhan pangeran sangat mencukupi, hal-hal tersebut tidak dapat mengobati kesedihan dan kebimbangan yang dialami sang pangeran, dan keadaan

tersebutpun semakin berlarut-larut. Sehingga Pangeran Siddharta dalam kesedihannya menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini ! ". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut. Ketika pangeran Sidharta berjalan keluar istana untuk pergi bersama kusirnya ke pasar, beliau melihat seorang muni (pendeta), berpakaian lusuh dan sedang meminta-minta, walaupun kehidupan muni tersebut menurut pangeran sangat menderita beliau melihat bahwa dari pancaran wajahnya, bahwa dia dalam menjalani kehidupannya sangat tabah dan tenang. Pangeran berkata dalam hatinya, mungkinkah ini contoh yang harus kuikuti dalam mencapai kebenaran dan menyelami sebab penderitaan manusia. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, pada saat itu pangeran telah bulat tekadnya untuk meninggalkan istana dan hidup sebagai pengembara dan menjadi seorang pertapa, sedangkan pada saat tersebut istrinya sedang mengandung. Sang raja merasa bahwa dengan kecintaan sang pangeran kepada anaknya, raja berdoa agar sang pangeran dapat mengundurkan niatnya untuk mengembara. Tetapi, sang pangeranpun memutuskan sebelum tumbuh kecintaan terhadap istri dan anaknya semakin kuat ia harus segera pergi secepatnya. Tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta meninggalkan istananya dengan ditemani

oleh kusirnya Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa. Setelah pangeran merasa cukup jauh dengan kerajaan kapilawastu, pangeran dengan dibantu kusirnya Cannah segera memotong rambut dan janggutnya. Setelah itu pangeran mengganti pakaian yang dibawanya dengan pakaian seorang pengembara yang ditemuinya. Setelah hal tersebut tampaklah tampang

Recommended

View more >