Adam Tidak Tinggal Di Surga ,,17

Download Adam Tidak Tinggal Di Surga ,,17

Post on 13-Jul-2015

71 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>Rabu, 10 Maret 2010Adam tidak tinggal di Syurga !AlQur'an banyak sekali bercerita masalah penciptaan manusia yang pertama oleh Allah Swt, yaitu Adam hingga kronologi turunnya Adam bersama sang istri, Siti Hawa, untuk menjadi khalifah dibumi. Dalam banyak ayat, AlQur'an mengatakan bahwa tempat mula-mula Adam dan Hawa adalah disuatu tempat bernama "Jannah", yang oleh kebanyakan ahli tafsir diterjemahkan sebagai "surga", sebagaimana surga yang dijanjikan untuk orang-orang yang beriman pada hari kemudian. Tetapi ... benarkah demikian adanya ? Tidakkah akan dijumpai beberapa kejanggalan dan menimbulkan masalah yang irrasional dan bertentangan dengan akal pikiran manusia, begitu memasuki pemahaman AlQur'an lebih jauh lagi ? Bukankah Allah sendiri mengatakan bahwa AlQur'an itu adalah kitab petunjuk bagi orang yang bertakwa dan suatu kitab yang isinya mudah dipahami ? "Kitab ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa." (QS. 2:2) "Sesungguhnya Kami menjadikan AlQur'an dalam bahasa Arab supaya kamu memahami(nya)." (QS. 43:3) Dan memang, pilihan Allah terhadap bahasa Arab sebagai bahasa Qur'an agar mudah dipahami rasanya sangat tepat sekali, karena bahasa Arab adalah bahasa yang kaya akan makna dan gaya bahasa serta memiliki seni keindahan tersendiri, baik dari tata bahasanya, cara pelafazannya dan lain sebagainya. Apalagi memang Rasul Muhammad Saw sendiri diutus dari kalangan bangsa Arab, yang secara otomatis bahasa Arab menjadi bahasa ibunya. "Dan jika Kami jadikan dia /sebagai/ bacaan asing tentulah mereka bertanya : "Mengapa tidak dijelaskan ayat-ayatnya ?". Apakah /patut bahasanya/ asing dan /Rasul adalah orang/ Arab ?" (QS. 41:44) Kembali kita pada permasalahan semula, yaitu mengenai kata-kata Jannah yang disebut didalam AlQur'an sebagai tempat tinggal Adam dan istrinya sebelum diturunkan kebumi, tidaklah tepat kita artikan sebagai surga. Ada pengertian lain yang lebih tepat untuk penafsiran kata Jannah ketimbang dari penafsiran surga, yaitu Kebun yang subur ! Dan memang Jannah dalam bahasa Arab dapat berarti kebun dan dapat juga diartikan sebagai surga. Dalam hal ini, A. Hassan untuk tafsir Al-Furqan-nya tetap memakai istilah Jannah untuk</p> <p>tempat tinggal Adam yang pertama kali, dengan menggunakan catatan kaki pada hal. 10 ...."tinggallah di Jannah (kebun atau surga) ini...." Sementara banyak pula tafsiran lain, termasuk versi Depag RI yang menggunakan pengertian surga untuk tafsiran kata Jannah Untuk itu, mari kita bahas lebih jauh lagi dengan berdasarkan dalil-dalil Qur'an, logika dan Science modern. Adam diciptakan oleh Allah untuk menjadi khalifah dibumi Dan sementara itu Adam tinggal di jannah yang terletak disuatu tempat lalu Adam dan Hawa melanggar atas skenario yang sudah ditentukan Tuhan selanjutnya Adam dan Hawa dipindahkan atau diturunkan dari Jannah itu menuju kedunia sebagaimana yang sudah dikehendaki oleh Allah semula. "Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ?" Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !". (QS. 2:30) "Hai Adam ! tinggallah engkau dan istrimu di Jannah serta makanlah oleh kamu berdua apaapa yang disukai, tetapi janganlah kamu mendekati Syajaratu, karena kamu akan termasuk golongan mereka yang zhalim". (QS. 7:19) Mungkinkah Adam saat itu tinggal disurga bersama dengan Jin dan malaikat ? Ingat ... Iblis adalah segolongan dari Jin Hanya saja saat itu mereka belum ingkar, sampai pada saat perintah sujud kepada Adam Setan dan Iblis itu adalah dua nama untuk satu mahkluk jahat Dan Makhluk jahat ini kita klasifikasikan atas 2 : 1. Golongan Jin 2. Golongan manusia "Dan ingatlah, ketika Kami memerintah kepada malaikat: "Sujudlah kepada Adam !", lalu mereka sujud kecuali iblis. Dia adalah dari golongan jin, maka ia durhaka kepada perintah Tuhannya !" (QS. 18:50) "Dan demikianlah Kami jadikan bagi setiap Nabi itu musuh, syaitan-syaitan /dari/ manusia dan jin, sebahagian mereka membisikkan kebohongan kepada sebahagian yang lain sebagai tipu daya." (QS. 6:112) Sekarang jika kita memahami pengertian Jannah sebagai surga yang akan kita tempati pula pada hari akhir nanti : Apakah Adam tinggal disurga bersama jasad kasarnya ? Apakah dia juga bisa melihat Tuhan ? melihat malaikat ? melihat Jin ?</p> <p>Bukankah Tuhan berfirman ataupun berkata-kata kepada Adam ? hal ini mengingat dalam Qur'an tidak ada disebutkan bahwa Tuhan mewahyukan kepada Adam selama dia masih didalam Jannah melalui perantara Jibril. Bukankah juga Adam melihat akan sujudnya para malaikat kepada dirinya ? atau tidak ? Iblis jelas sudah ingkar, tapi kenapa masih ada dalam surga yang suci ? Buktinya dia masih bisa merayu Adam dan istrinya untuk mendekati Syajarah dalam terjemahan Indonesia, biasanya ditafsirkan sebagai "pohon terlarang dalam surga" Adakah hubungan antara Jannah tempat tinggal Adam pada mulanya itu dengan Jannah yang dikatakan terletak didekat Sidratul Muntaha, dimana Rasulullah Muhammad Saw melakukan perjalanan Mi'rajnya seperti pada surah 53:15 ? Dalam hal ini saya akan mencoba mengupas semua pertanyaan ini dengan gamblang dan logis, berdasarkan hal-hal yang dapat diterima oleh akal dan pikiran manusia wajar dan dapat pula dianalisis dengan ilmu pengetahuan, baik sekarang apalagi dimasa yang akan datang, InsyaAllah. Pemahaman &amp; Pendapat Saya Adam pada mulanya tinggal disebuah kebun yang sangat subur yang terletak disuatu tempat yang tinggi, Adam memang bisa melihat malaikat dan Jin namun Adam tidak bisa melihat Tuhan karena halusnya zat dari Tuhan itu sendiri dan bersesuaian dengan ayat 6:103 "Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu karena Dia amat Halus lagi Mengetahui." (QS. 6:103) Percakapan yang terjadi antara Tuhan dengan Adam as dibatasi oleh penghalang yang dalam AlQur'an disebut dengan tabir/hijab sebagaimana pada ayat 42:51 "Dan tidak bagi seorang manusiapun bahwa Allah berkata-kata kepadanya melainkan dengan ilham atau dari belakang tabir (hijab) atau Dia mengirim utusan /malaikat/ lalu dia mewahyukan dengan seizin-Nya apa-apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi lagi Maha Bijaksana. (QS. 42:51) Dialog dan sujudnya para malaikat dan Jin terhadap Adam terjadi secara real, juga terhadap ingkarnya Iblis terjadi secara nyata dihadapan Adam as dengan kata lain disaksikan oleh Adam as. Hal ini dapat kita terima secara logis, Dalam ilmu agama, batin atau tenaga dalam, ada yang disebut dengan kasyaf atau tembus pandang dimana seseorang dapat melihat tembus hal-hal ghaib yang orang lain tidak mampu melihatnya hal ini seringkali kita temukan dalam dunia sehari-hari "Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa itu benar. Dan tidakkah cukup bahwa</p> <p>sesungguhnya Tuhanmu menyaksikan segala sesuatu ?" (QS. 41:53) Ayat diatas dapat dipergunakan secara umum, karena memang amat sangat banyak tandatanda kekuasaan dan ilmu Tuhan itu didalam diri kita selaku manusia ini, baik itu dimulai dari bentuk jasmani/phisik sampai pada anatomi tubuh bagian dalam, yang melingkupi selsel, tulang, darah dan sebagainya. Mari kita baca ayat berikut ini : "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu -- DAN DIKELUARKAN DARI KEADAAN SEMULA -- dan Kami berfirman: "Turunlah kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. 2:36) Keadaan semula ini bisa juga diterjemahkan dengan terkeluar dari keadaan yang mereka sudah ada padanya. Sekarang yang menjadi pertanyaan.......keluar dari keadaan semula atau keadaan yang sudah ada pada mereka yang bagaimanakah maksudnya ? Apakah ini bisa diartikan bahwa Adam dan Hawa dikeluarkan dari kesucian mereka, bukankah mereka sebelumnya makhluk yang suci sebelum akhirnya melanggar ? Ataukah merupakan keluarnya mereka dari keadaan kasyaf mereka mula-mula yang dapat melihat segala sesuatu selain zat Allah yang Maha Halus. Namun, jika kita mengatakan bahwa maksud dari dikeluarkan dari keadaan semula adalah dikeluarkannya Adam dan istrinya dari Jannah, maka hal itu kurang tepat, sebab pernyataan yang demikian, yaitu masalah pengeluaran Adam ini disebutkan pada kalimat berikutnya, pada saat Allah berfirman menyuruh mereka pergi (setelah kesalahannya diampuni oleh Allah). Silahkan melihat kembali ayat 2:36 tersebut dengan lebih teliti dan lihat juga Surah 20:122 dan 123 ! "Lalu keduanya digelincirkan oleh syaitan dari Jannah itu dan dikeluarkan dari keadaan semula dan Kami berfirman: "Turunlah kamu ! Sebahagian kamu menjadi musuh bagi yang lain, dan bagi kamu ada tempat kediaman di bumi, dan kelengkapan hidup sampai waktu yang ditentukan". (QS. 2:36) "Kemudian Tuhannya memilihnya maka Dia menerima taubatnya dan memberinya petunjuk. Allah berfirman:Turunlah kamu berdua dari Jannah bersama-sama, sebagian kamu menjadi musuh sebahagian yang lain. Maka jika datang kepadamu petunjuk daripada-Ku, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, ia tidak akan sesat dan ia tidak akan celaka." (QS. 20:122-123) Pada surah 20:122 dikatakan bahwa Tuhan memilihnya (Adam), ini bisa kita tafsirkan bahwa Allah memilih Adam atau dalam hal ini berperan sebagai makhluk manusia yang dekat</p> <p>denganNya dan merupakan makhluk yang paling mulia dari semua makhluk Allah yang ada yang sudah diciptakan oleh Allah. Namun kata Tuhan memilihnya ini juga bisa kita tafsirkan dengan terpilihnya Adam dari makhluk-makhluk Allah yang telah lebih dulu ada dan tercipta untuk mendiami planet bumi. Dan memang benar tidak dijelaskan secara nyata bahwa Allah akan menunjuk manusia sebagai penghuni bumi, tetapi pendapat yang demikian kiranya bisa dibantah oleh surah 2:3034 yang jelas menunjukkan bahwa Allah telah menjadikan Adam sebagai makhluk yang akan memegang tampuk kekhalifahan Tuhan dibumi. "Ketika Tuhan-mu berkata kepada Malaikat: "Sesungguhnya Aku hendak jadikan seorang khalifah dibumi !". Mereka bertanya: "Apakah Engkau mau menjadikan padanya makhluk yang akan membuat bencana padanya dan akan menumpahkan darah, padahal kami bertasbih dengan memuji Engkau dan memuliakan Engkau ?" Dia menjawab: "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui !". (QS. 2:30) "Lalu Dia mengajarkan kepada Adam keterangan-keterangan itu semuanya, kemudian Dia menunjukkan benda-benda itu kepada para Malaikat seraya berkata: "Sebutkanlah kepada-Ku keterangan-keterangan ini jika memang kamu makhluk yang benar !" Mereka menjawab:"Maha Suci Engkau ! tiada yang kami ketahui selain apa yang telah Engkau ajarkan kepada kami; sesungguhnya Engkaulah Yang Mengetahui, Bijaksana." (QS. 2:31-32) Catatan : Sebenarnya terjemahan "Hakim" dengan "Maha bijaksana" pada ayat terakhir 32 (Innaka Antal 'alimul Hakim) kuranglah tepat, karena arti Hakim ialah Yang mempunyai Hikmah. Hikmah adalah penciptaan dan penggunaan sesuatu yang sesuai dengan sifat, guna dan faedahnya. Tetapi disini diartikan dengan "Maha Bijaksana" karena dianggap arti tersebut hampir mendekati pengertian "Hakim". Sekarang jika benar bahwa Adam dapat melihat Iblis, kenapa Adam dapat terpedaya oleh Iblis ? Bukankah Adam dapat melihat Iblis ? Benar Adam dapat melihat Iblis pada waktu itu, tapi Iblis sendiri sejak dia menolak untuk hormat kepada Adam, sudah bersumpah kepada Tuhan untuk menyesatkan mereka dan keturunannya kelak dikemudian hari. Iblis sendiri dan juga Adam, tidak mengetahui bahwa semuanya itu sudah diatur oleh Allah. Allah menyatakan bahwa Dia akan menjadikan Adam khalifah dibumi hanya kepada malaikat, bukan kepada Adam dan bukan juga kepada Jin/Iblis ! Selanjutnya, Allah menciptakan Adam dan disuruhlah malaikat dan Jin untuk bersujud, hormat kepadanya. Salah satu golongan dari Jin, yaitu Iblis, menolak perintah Allah tersebut dengan bersombong diri bahwa dia lebih mulia ketimbang Adam dalam hal kejadiannya. Allah menegur Iblis dan Iblis memintakan penangguhan dirinya hingga hari kiamat kelak.</p> <p>Permintaan Iblis dikabulkan oleh Allah dan jadilah Adam diberikan ujian terhadap Iblis, sedang Iblis sendiri tidak sadar bahwa dengan godaannya itulah justru kehendak Allah akan tercapai, yaitu menjadikan Adam dan keturunannya khalifah dibumi, bukan diJannah tersebut. Inilah sedikit bukti bahwa Adam dapat melihat para Malaikat, Jin dan Iblis : Dan dia bersumpah kepada keduanya: "Sesungguhnya aku ini bagi kamu, termasuk dari mereka yang memberi nasehat." (QS. 7:21) Bagaimanakah Iblis dapat mengucapkan sumpah pada keduanya jika dia tidak dapat dilihat oleh Adam dan istrinya ? Belum lagi pada waktu Allah mengingatkan kepada Adam pada waktu Iblis menyatakan keingkarannya terhadap perintah Tuhan agar dia sujud, menghormat kepada Adam as, tentunya Adam menyaksikan peristiwa penolakan Iblis itu dan langsung Allah mewanti-wanti Adam terhadap makhluk itu : Lalu Kami berkata: "Hai Adam ! sesungguhnya ini musuh bagimu dan bagi isterimu, maka janganlah ia mengeluarkan kamu berdua dari Jannah, karena engkau akan menjadi susah." (20:117) Selanjutnya, akan saya ketengahkan satu Hadits Qudsi yang mendukung pendapat bahwa Adam dapat melihat mereka: Abdullah bin Muhammad bercerita kepada kami, Abdur Razaq bercerita kepada kami dari Ma'mar dari Hammam dari Abu Hurairah r.a. dari Nabi Saw bersabda : "Allah menciptakan Adam, tingginya 60 hasta", kemudian Allah berfirman: "Pergilah, berilah salam kepada malaikat itu, dan dengarkan penghormatan mereka kepadamu itulah penghormatanmu dan penghormatan keturunanmu". Adam berkata: "Assalamu'alaikum /semoga kesejahteraan tetap atasmu/". Mereka menjawab: "Assalamu'alaikum warahmatullah /semoga kesejahteraan dan rahmat Allah atasmu/". Mereka menambah wa rahmatullah /dan rahmat Allah/. Setiap manusia yang masuk surga dengan bentuk seperti Adam, penciptaan itu senantiasa berkurang sampai sekarang." Ditahrijkan oleh Al Bukhari dalam kitab Bad'ul Khalqi, Bab Khalqu Adam jilid IV, hal 131 dan termaktub dalam buku Kelengkapan Hadist-Qudsi terbitan CV. Toha Putra Semarang yang aslinya diterbitkan oleh Lembaga AlQur'an dan AlHadist Majelis Tinggi Urusan Agama Islam Kementrian Waqaf Mesir, Bab 10 : Tentang Penciptaan Adam halaman 158 s.d 175. Dan Adam memang berhasil diperdaya oleh Iblis untuk mendekati pohon terlarang Tapi .... benarkah didalam Jannah atau kebun itu terdapat sebuah pohon yang terlarang untuk dimakan buahnya oleh Adam dan istri ? Mari kita tinjau dulu arti pohon terlarang ini dari ayat aslinya : Istilah yang dipakai oleh Qur'an untuk menyatakannya adalah dengan Syajaratu atau Syajarah yang selalu ditafsirkan oleh para penafsir Qur'an dengan kata pohon. Padahal tidak demikian adanya.</p> <p>Istilah Syajaratu memiliki pengertian Pertumbuhan, dan istilah Syajarah berarti Bertumbuh bukan = pohon. Adapun yang berarti pohon ialah Syaja...</p>