73 Golongan

Download 73 Golongan

Post on 13-Jul-2015

600 views

Category:

Documents

0 download

Embed Size (px)

TRANSCRIPT

<p>PERPECAHAN AGAMA ISLAM MENJADI 73 GOLONGANoleh :</p> <p>KH. Siradjuddin Abbas Hartono Ahmad Jaiz Syaikh Muhammad Yusuf Qardhawi</p> <p>MUKADIMAHPresentasi ini dibuat khusus untuk semua saudara saudari seiman dan seagama, agar kita membuang jauh-jauh segala perbedaan Mazhab yang ada. Tercatat dalam sejarah bahwa perbedaan inipun telah pula membawa kepada pecahnya peperangan dan saling benci antar sesama Muslim. Marilah kita tetapi kebenaran yang sudah dibawa oleh para Wali Allah dimuka bumi kepada kita dalam barisan Ahlus Sunnah wal Jamaah, walaupun kita berbeda Imam, walaupun kita berbeda pulau, walaupun kita berbeda negara, di Indonesia, di Malaysia, di Singapore dan di Brunei. Sudah menjadi kebiasaan bahwa setiap Imam, Ulama, Wali atau pemimpin kelompok agama akan mengatakan bahwa KAMI MEMERANGI BIDAH DAN KHURAFAT, Bidah itu sesat dan kesesatan itu membawa ke neraka. Mereka juga akan berata bahwa ia akan mengembalikan umat manusia kepada kebenaran Kitabullah al Quran al Karim dan As Sunnah al Hadits. Namun apabila kita tidak memperhatikan hal-hal pokok dan penting</p> <p>KETERANGAN UMUM TENTANG ISTILAHISTILAH DALAM AGAMA ISLAMDalam memahami soal-soal Iitiqad (kepercayaan) dalam Islam lebih baik terlebih dahulu mengetahui beberapa istilah dalam Islam : [1] Usuluddin artinya pokok (hal yang sangat penting) dalam agama. Ilmu Usuluddin artinya ilmu yang mempelajari pokok-pokok agama. Ilmu Usuluddin sama dengan ilmu Kalam (perkataan/hukum Allah) = ilmu Tauhid (ke-Esaan Allah) = ilmu Aqaid atau ilmu Iitiqad (kepercayaan tentang ketuhanan, kenabian dan akhirat) = ilmu Sifat 20 (dua puluh) karena mempelajari tentang sifat Allah SWT. Kalau berbicara tentang asal usul (pokok) agama sudah tentu ada furu (cabang). Dan dalam keagamaan furu syariat berarti cabang-cabang ibadah yang meliputi shalat, puasa, zakat, haji, nikah, jual beli dan lain-lain. Dengan demikian Ushuluddin ialah Iitiqad-Iitiqad (kepercayaan/keyakinan) secara batiniah. Dan furu syariat adalah segala ibadah yang dikerjakan secara lahiriah.</p> <p>[2] Firqah artinya golongan keyakinan didalam lingkungan umat Islam. Perbedaan dalam firqah sangat bertentangan satu sama lain, sangat tajam karena menyangkut keyakinan (faham) umat yang dalam sejarah hanya karena perkara firqah inilah sehingga terjadinya pembunuhan dimana-mana. Perbedaan firqah sangat sulit untuk diperdamaikan apalagi untuk dipersatukan.</p> <p>Sabda Rasulullah SAW tentang akan adanya perpecahan</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Barangsiapa yang hidup (lebih lama) diantaramu niscaya akan melihat perselisihan (faham) yang banyak. Ketika itu pegang teguhlah Sunnahku dan Sunnah Khalifah Rasyidin yang diberi hidayah. Pegang teguhlah itu dan gigitlah dengan gerahammu. [HR. Abu Dawud]</p> <p>PERNYATAAN RASULULLAH S.A.W TENTANG FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Akan ada dilingkungan umatku 30 (tiga puluh) orang kazzab (pembohong) yang mendakwakan bahwa ia adalah Nabi. Saya adalah Nabi penutup, tidak ada lagi Nabi sesudahku. [HR. Tirmidzi]</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Akan keluar suatu kaum akhir zaman, orang-orang muda berfaham (perangai) jelek. Mereka banyak mengucapkan perkataan khairil bariyah (maksudnya firman-firman Tuhan yang dibawa oleh Nabi). Iman mereka tidak melampaui kerongkongan mereka. Mereka keluar dari agama seperti meluncurnya anak panah dari busurnya. Kalau orang-orang ini berjumpa denganmu maka lawanlah mereka. [HR. Bukhari]</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Ada dua golongan (firqah) dari umatku yang pada hakikatnya mereka tidak ada sangkut paut dengan Islam, yaitu kaum Murjiah dan kaum Qadariyah. [HR. Tirmidzi]</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Bagi tiap-tiap umat ada Majusi-nya, dan majusi dari umatku adalah orang yang mengingkari takdir. Kalau mereka mati jangan dihadiri pemakamannya dan kalau mereka sakit jangan dijenguk. Mereka adalah kelompok dajjal. Dan memang Allah berhak untuk memasukkan mereka kedalam kelompok dajjal. [HR. Abu Dawud dari Hudzaifah ra.]</p> <p>PERNYATAAN RASULULLAH S.A.W TENTANG FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Telah berfirqah-firqah orang Yahudi menjadi 71 firqah dan orang Nasrani seperti itu pula. Dan akan berfirqah umatku menjadi 73 firqah. [HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah ra.]</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Bahwasanya Bani Israil telah berfirqah-firqah sebanyak 72 millah (firqah) dan akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, semuanya masuk neraka kecuali satu. Para sahabat yang mendengar ucapan ini bertanya : Siapakah yang satu itu, ya Rasulullah?. Nabi menjawab : Yang satu itu adalah orang yang berpegang (beriitiqad) dengan peganganku (Iitiqadku) dan sahabat-sahabatku. [HR. Tirmidzi]</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Demi Tuhan yang memegang jiwa Muhammad ditangan-Nya, akan berfirqah umatku sebanyak 73 firqah, yang satu masuk syurga dan yang lain masuk neraka. Bertanya para sahabat : Siapakah firqah (yang tidak masuk neraka) itu, ya Rasulullah? Nabi menjawab : Ahlussunnah wal Jamaah. [HR. Thabrani]</p> <p>PERNYATAAN RASULULLAH S.A.W TENTANG FIRQAH-FIRQAH DALAM ISLAM</p> <p>Rasulullah SAW bersabda : Akan ada segolongan dari umatku yang tetap atas kebenaran sampai hari kiamat dan mereka tetap atas kebenaran itu. [HR. Bukhari]</p> <p>Awal mula timbulnya perpecahan dalam Islam.</p> <p>PERPECAHAN SETELAH WAFATNYA RASULULLAH SAW Yang teramat mulia Nabi Muhammad SAW wafat pada 12 Rabiul Awal tahun 11 Hijriah atau 8 Juni 632</p> <p>Masehi. Adapun Nabi tidaklah berwasiat kepada seorangpun dari sahabat untuk menjadi khalifah selanjutnya. Setelah wafatnya beliau sekumpulan kaum Anshar (para sahabat yang berasal dari Madinah) yang dipimpin Saad bin Ubadah (ketua suku Khazraj) berkumpul disuatu tempat yang dinamai Saqifah Bani Saidah untuk menentukan Khalifah (pengganti Nabi). Mendengar hal itu kaum Muhajirin (para sahabat yang berasal dari Mekkah) dipimpin Abu Bakar Shiddiq juga ikut menuju tempat tersebut. Sedangkan Ali bin Abi Thalib (dan Siti Fatimah) sedang sibuk mengurusi pemakaman Nabi dan tidak menghadiri rapat tersebut. Timbul perselisihan sengit antara Muhajirin dan Anshar, dan akhirnya diputuskan bahwa sahabat Nabi yang paling utama yaitu Abu Bakar dipilih sebagai Khalifah. Abu Bakar menjadi khalifah selama 2 tahun 3 bulan dan 10 hari, beliau wafat pada bulan Jumadil Akhir 12 Hijriah. Sebelum wafat beliau sempat memberi wasiat menunjuk khalifah kedua adalah Umar bin Khattab. Keputusan ini diterima oleh semua kaum muslimin tanpa adanya persengketaan. Umar bin Khattab menjadi khalifah selama 10 tahun 6 bulan, beliau wafat pada 16 Dzulqaedah 23 Hijriah. Kematian Umar adalah karena dibunuh oleh musuhnya dari daerah-daerah yang pernah ditaklukkan Umar. Sebelum wafat berwasiat agar memilih khalifah dengan jalan musyawarah dan jangan memilih anaknya Ibnu Umar (Abdullah bin Umar), akhirnya jatuh pilihan kepada sahabat utama yang ketiga yaitu Utsman bin Affan. Utsman bin Affan menjadi khalifah selama 10 tahun sejak 25 H hingga 35 H, adalah ia tidak seperti 2 khalifah sebelumnya Abu Bakar dan Umar yang gemar berperang untuk memperluas penyebaran agama Islam keseluruh dunia. Khalifah Utsman lebih sibuk pada penyusunan Mashaf al Quran karena mengingat banyaknya para penghafal Quran yang mati syahid akibat peperangan dimasa Abu Bakar dan Umar. Dimasa pemerintahan Utsman datanglah seorang pendeta besar Yahudi dari Yaman yang telah masuk Islam sekitar tahun 30 H, yang bernama Abdullah bin Saba. Dia menyangka kedatangannya sebagai pendeta besar yang telah muallaf akan disambut dengan penuh kehormatan oleh Khalifah Utsman, tetapi terjadi sebaliknya. Khalifah yang sangat sibuk menyusun dan mengumpulkan Al Quran tidak peduli dengan keberadaan Abdullah bin Saba.</p> <p>PERPECAHAN SETELAH WAFATNYA RASULULLAH SAW Melihat kenyataan itu membuat kebencian dalam hati Abdullah bin Saba. Ia kemudian membangun gerakan</p> <p>anti (penentang) Utsman dengan cara menyusup kedalam barisan kaum Muslimin dan menghasut mereka agar ikut membenci Utsman bin Affan. Abdullah bin Saba berusaha meruntuhkannya dengan mengubah Hadits yang lebih condong membela dan membenarkan Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah yang seharusnya. Dia mengagung-agungkan Ali bin Abi Thalib yang memang lebih banyak disebut dalam hadits Nabi. Dia juga merubah-rubah hadits dari Aisyah tentang perihal Nabi menjelang wafat dengan mengatakan bahwa Ali bin Thalib mendapat wasiat dari Rasulullah SAW untuk menjadi khalifah sesudah beliau. Karena itu Abdullah bin Saba merendahkan dan menghina Abu Bakar, Umar dan Utsman dengan menyebut mereka telah merebut kekuasaan dan tidak menuruti wasiat Nabi. Dia menyebutkan ketinggian derajat Ali yang juga sebagai sepupu dan menantu Nabi yang berarti masih ada hubungan pertalian darah antara Ali bin Abu Thalib dengan Rasulullah SAW (ahlil bait). Propagandanya ini mendapat dukungan banyak umat muslim dimasa itu, karena memang Khalifah Utsman membuat beberapa kesalahan seperti menghilangkan cincin perak Nabi (stempel) dan berlaku nepotisme dengan mengangkat keluarganya duduk didalam pemerintahan dan menjadi pengusaha-pengusaha daerah. Akhirnya terjadi gerakan pemberontakan terhadap khalifah Utsman. Puncak keberhasilan propaganda Abdullah bin Saba ini membuahkan hasil dengan dibunuhnya Khalifah Utsman bin Affan pada tahun 35 H. Kemudian diputuskanlah oleh semua umat muslim baik kaum yang memberontak anti Utsman dan kaum yang tidak memberontak bahwa Ali bin Abi Thalib sebagai Khalifah keempat. Semasa pemerintahan khalifah Ali inilah mulai terjadi perpecahan besar, karena sebagian sahabat Nabi menganggap pengangkatan Ali adalah kudeta (perebutan kekuasaan) setelah membunuh Utsman dan menuntut qisas (hukum balas) atas kematian Utsman. Sedangkan sebagian sahabat lain berpendapat lain, sehingga akhirnya para sahabat Rasulullah SAW itu membentuk golongan-golongan sendiri bergantung pada ijtihad masing-masing. Para sahabat akhirnya terpecah menjadi 4 (empat) golongan besar.</p> <p>PERPECAHAN SETELAH WAFATNYA RASULULLAH SAW 4 golongan yang terbentuk semasa pemerintahan khalifah Ali bin Thalib itu antara lain :2. 3. Golongan Syiah dan sebagian kaum Ahlus Sunnah di Madinah yang mendukung dan menyokong Khalifah Ali. Golongan pendukung Muawiyah bin Abi Sofyan yaitu Amir (penguasa = gubernur) di Damsyik (Damaskus), negeri Suriah (Syria). Mereka menganggap Ali ikut serta dalam pembunuhan Utsman bin Affan. Mereka mengangkat Muawiyah menjadi Khalifah sebagai pengganti Khalifah Utsman. Sehingga terdapat 2 khalifah, Ali di Madinah dan Muawiyah di Damaskus. Golongan yang dipimpin Siti Aisyah Ummul Mukminin, istri Rasulullah SAW dan diikuti oleh Thalhah dan Zubair. Mereka tidak mengakui Ali sebagai khalifah, tetapi tidak menganggap Ali ikut serta dalam pemberontakan membunuh Utsman. Siti Aisyah tidak berada di Madinah ketika pembunuhan Utsman, namun Thalhah dan Zubair yang ikut mengangkat Ali sebagai Khalifah secara terpaksa karena mereka berdua diancam dengan pedang diatas kepala. Golongan yang dikepalai oleh Ibnu Umar (Abdullah bin Umar bin Khattab), diikuti Muhammad bin Salamah, Utsman bin Zaid, SAad bin Abi Waqash, Hasan bin Tsabit, Abdullah bin Salam dan lainnya. Mereka tidak ikut mengangkat Ali, tidak pula menganggap Ali ikut serta dalam pembunuhan Utsman bin Affan dan juga tidak mendukung Khalifah Muawiyah.</p> <p>4.</p> <p>5.</p> <p>Akibat perpecahan itu berakibat terjadinya perang saudara antar sahabat Nabi. Perang Pertama antara Golongan Siti Aisyah melawan Khalifah Ali yang dikenal dengan nama perang Jamal (perang Onta) pada tahun 36 H, berakhir dengan kekalahan Siti Aisyah dan 2 sahabat Nabi yaitu Thalhah dan Zubair ikut terbunuh dalam perang yang masing-masing pasukan mengerahkan 200.000 orang. Perang kedua adalah perang antara Golongan Muawiyah melawan Ali, yang terbesar dan sangat terkenal dengan istilah Perang Siffin pada tahun 37 H, yang berakhir dengan gencatan senjata. Setelah perang-perang saudara yang besar ini maka muncullah berbagai aliran firqah (golongan).</p> <p>Index HyperlinkSYIAH KHAWARIJ MURJIAH MUTAZILAH QADARIYAH JABARIYAH NAJARIYAH MUSYABBIHAH IBNU TAIMIYAH BAHAIYYAH AHMADIYAH WAHABI ISLAM JAMAAH ISLAM LIBERAL</p> <p>INDEX</p> <p>SYIAH</p> <p>SEJARAH SINGKAT FAHAM SYIAHPada masa kekhalifahan Utsman bin Affan, ada seorang pendeta besar Yahudi yang masuk Islam bernama Abdullah bin Saba. Sesudah masuk islam ia datang ke Madinah sekitar tahun 30 Hijriah. Ia mengira kedatangannya akan disambut dengan upacara kebesaran oleh Khalifah Utsman dan penghargaan besar dari umat muslim terdahulu. Namun sebaliknya ia tidak mendapati sambutan dan penghargaab. Akhirnya Abdullah bin Saba menjadi jengkel, kesal dan ia pun membenci kepada Khalifah Utsman. Kemudian ia pun mulai menghasut untuk menjatuhkan Khalifah Utsman. Ia berjalan ke Madinah, Mesir, Kuffah, Bashrah (Irak), Damsyik (Syiria) dan kota-kota lainnya untuk menyebarkan fitnah kekurangan dan kejelekan Utsman bin Affan. Untuk menjatuhkan Utsman, maka Abdullah bin Saba mengagung-agungkan Ali bin Thalib dengan menyinggung hadits-hadits (sunnah Nabi SAW) yang banyak dirawi (diceritakan) oleh Ali. Tetapi ia juga membuat hadits-hadits palsu untuk merendahkan Utsman bin Affan, dan juga kepada Umar bin Khattab dan Abu Bakar. Dan ajaran-ajarannya mendapat sambutan dan antusias dari umat muslim ketika itu. Beberapa ajaran (pengajian) Abdullah bin Saba adalah : (1) Al Wishayah (wasiat), yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW berwasiat supaya Imam (pemimpin) sesudah beliau adalah Ali bin Abi Thalib. (2) Ar Rajah (kembali), yaitu bahwa Nabi Muhammad SAW akan dibangkitkan kembali diakhir zaman seperti halnya kembalinya Nabi Isa Al Masih alaihis salam. Dan bahwa Ali bin Abi Thalib sama halnya seperti Nabi Isa bahwa ia belum mati tetapi diangkat ke atas langit dan akan diturunkan kembali kebumi untuk menjadi Khalifah terakhir (Imam Mahdi) (3) Ketuhanan Ali (Ali Ar-Rabbi), yaitu Abdullah bin Saba mengajarkan bahwa dalam tubuh Ali bin Abi Thalib bersemayam unsur ketuhanan yang telah bersatu padu dengan tubuhnya, sehingga beliau bisa mengetahui segala perkara gaib. Oleh karena itu Ali selalu menang dalam peperangan melawan orang kafir. Suara petir adalah suara Ali dan kilat adalah senyuman Ali.</p> <p>Pada intinya kaum Syiah bersyahadat : La ilaha illallah, wa Ali rasullullah. (Tak ada Tuhan selain Allah, dan Ali adalah Rasul Allah)</p> <p>SEJARAH SINGKAT FAHAM SYIAHSyiah dalam bahasa Arab artinya pengikut. Syiah Ali berarti pengikut Ali. Tetapi arti Syiah dalam pengertian umum adalah kaum yang beritiqad meyakini bahwa Ali bin Abi Thalib adalah orang berhak menjadi khalifah pengganti Nabi Muhammad SAW.</p> <p>Inti dari ajaran agama Syiah : 6. Pangkat khalifah pengganti Nabi adalah harus diwarisi oleh ahli waris Nabi dan ditunjuk oleh Nabi sendiri dengan wasiat yaitu Ali bin Abi Thalib karena ia sepupu Nabi (anak paman Rasulullah SAW), ia juga menantu Nabi dan pahlawan Islam yang berani. Khalifah dalam Syiah disebut IMAM yang merupakan pangkat tertinggi dalam Islam Syiah. Imam utama ditunjuk oleh Nabi dan Imam-imam lainnya ditunjuk oleh Imam utama tadi. Orang-orang memilih khalifah (pemimpin) dengan musyawarah dianggap melakukan perbuatan dosa bes...</p>