63649752 alkohol dan fenol

21
LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA ORGANIK DASAR ALKOHOL DAN FENOL NAMA : SUKRIADI NIM : H311 07 032 GOL./KLP. : H 5/3 HARI/TGL. : KAMIS, 21 FEBRUARI 2008 ASISTEN : RAMLAH LABORATORIUM KIMIA DASAR JURUSAN KIMIA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS HASANUDDIN MAKASSAR 2008

Upload: rizki-dermawan

Post on 22-Nov-2015

138 views

Category:

Documents


7 download

DESCRIPTION

Alkohol dan Fenol

TRANSCRIPT

  • LAPORAN PRAKTIKUM

    KIMIA ORGANIK DASAR

    ALKOHOL DAN FENOL

    NAMA : SUKRIADI

    NIM : H311 07 032

    GOL./KLP. : H 5/3

    HARI/TGL. : KAMIS, 21 FEBRUARI 2008

    ASISTEN : RAMLAH

    LABORATORIUM KIMIA DASAR

    JURUSAN KIMIA

    FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

    UNIVERSITAS HASANUDDIN

    MAKASSAR

    2008

  • BAB I

    PENDAHULUAN

    1.1 Latar belakang

    Alkohol merupakan senyawa organik yang cukup populer, rumus

    molekulnya secara umum dapat ditulis sebagai R-OH, dengan R- adalah gugus

    alkil dan gugus hidroksil,O-H sebagai gugus fungsi. Alkohol mempunyai struktur

    yang serupa dengan air,dimana satu hidrogen digantikan dengan gugus alkil.

    Fenol serupa dengan alkohol tetapib gugus fungsinya melekat langsung pada

    cincin aromatik dan dengan Ar- ( sebagai aril ) maka rumus umum fenol di

    tuliskan sebagai Ar-OH. Alkohol lebih rendah ( C1-C5 ) yang lebih besar dalam

    molekulnya, sedangkan alkohol yang lebih tinggi ( C6 keatas ) terutama

    menyerupai sifat-sifat alkana, hanya sedikit larut dalam air, tetapi lebih larut

    dalam pelarut organik.

    Sifat lain dari alkohol dapat di tentukan oleh letak gugus hidroksil pada

    atom C, yang dikenal sebagai alkohol primer R-CH2-OH,

    Alkohol Sekunder Alkohol Tersier

    CH

    R

    R OH C

    R

    R OHR

    Perbedaan masing-masing alkohol tersebut dapat ditunjukkan dengan

    beberapa preaksi lucas dan kromat anhidrat. Alkohol dan fenol adalah asam-asam

    lemah (alkohol 10-100 kali lebih lemah dari air, fenol 10 kali lebih kuat dari

  • air). Tentang kesamaan ini dapat diketahui dengan penambahan karbonat

    membentuk CO2 yang adanya gelembung-gelembung gas.

    1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

    1.2.1 Maksud Percobaan

    Maksud dari percobaan ini adalah :

    1. Mempelajari beberapa sifat fisika dan sifat kimia dari alkohol dan fenol.

    2. Membedakan antara alkohol primer, sekunder, dan tersier.

    1.2.2 Tujuan Percobaan

    Tujuan dari percobaan ini adalah:

    1. Untuk mengetahui kelarutan alkohol dan fenol dalam air dan n-heksana.

    2. Membandingkan kecepatan reaksi alkohol primer, sekunder, dan tersier

    dengan membandingkan preaksi lucas.

    3. Melihat sifat keasaman dari reaksi alkohol dan fenol dengan menggunakan

    Na2CO3 dan NaHCO3.

    4. Mengamati reaksi antara alkohol/fenol dengan FeCl3.

    1.3 Prinsip percobaan

    Prinsip percobaan ini adalah melihat sifat-sifat fisika dan kimia dari alkohol dan

    fenol berdasarkan kelarutan reaksi dan preaksi lucas, dimana reaksi dari Na2CO3,

    NaHCO3 beserta reaksi dengan FeCl3.

  • BAB II

    TINJAUAN PUSTAKA

    Alkohol merupakan senyawa organik yang cukup populer, rumus

    molekulnya secara umum dapat ditulis sebagai R-OH, dengan R- adalah gugus

    alkil dan gugus hidroksil, O-H sebagai gugus fungsi. Alkohol adalah senyawa

    seperti air yang satu hidrogennya diganti oleh rantai atau cincin hidrokarbon.

    Gugus OH pada alkohol disebut fungsi hidroksi atau gugus hidroksil. Ini

    bukanlah ion hidroksida sebab gugus ini terikat pada karbon secara kovalen.

    Kimiawan sering membagi alkohol alifatik berdasarkan strukturnya sesuai dengan

    jumlah gugus R yang menempel pada penggambar gugus hidroksil (Wilbraham

    dan Matta, 1992).

    Primer RCH2OH Hanya satu gugus R melekat pada COH alkohol

    primer (disingkat 1o).

    Sekunder

    CH

    R

    R OH

    Dua gugus R melekat pada C-OH alkohol sekunder(2o).

    Tersiaer

    C

    R

    R OHR

    Tiga gugus R melekat pada C-OH alkohol tersiar (3o).

    Baik nama IUPAC maupun nama biasa digunakan untuk alkohol. Untuk

    menamai alkohol rantai lurus maupun tersubsitusi dengan sistem IUPAC hapuslah

    akhiran pada nama alkana induk dan gantilah dengan akhiran ol. Alkana induk

    ialah rantai karbon terpanjang yang mengandung karbon pengemban gugus

  • hidroksil. Dalam penomoran rantai lurus terpanjang berilah nomor terkecil untuk

    karbon pengemban gugus hidroksil

    Alkohol yang mengandung dua, tiga, atau empat subsitusi OH disebut diol, triol,

    dan tetrol (Wilbraham dan Matta, 1992).

    Alkohol dengan sekurang sekurangnya satu hidrogen melekat pada

    karbon pembawa hidroksil dapat dioksidasi menjadi senyawa hidroksil. Alkohol

    primer menghasilkan aldehida yang dapat dioksidasi lebih lanjut menjadi asam

    karboksilat. Alkohol sekunder menghasilkan keton. Perhatikan bahwa sewaktu

    alkohol dioksidasi menjadi aldehid atau keton dan kemudian menjadi asam

    karboksilat, jumlah ikatan di antara atom karbon reaktif dan atom oksigan

    meningkat dari satu menjadi dua dan menjadi tiga. Dengan kata lain bahwa

    bilangna oksidasi karbon itu naik sewaktu kita bergerak dari alkohol menjadi

    aldehid atau keton lalu menjadi asam karboksilat. Sedangkan alkohol tersier

    karena tidak memiliki atom hidrogen pada karbon pembawa hidroksil, maka

    alkohol tersier tidak mengalami jenis oksidasi ini ( Hart, dkk., 2003 ).

    Alkohol mungkin merupakan senyawa organik yang paling dikenal oleh

    para mahasiswa. Apabila gugus hidroksil dirangkaikan pada suatu atom karbon

    dari lingkar benzena, senyawa itu dikenal sebagai fenol, anggota yang paling

    sederhana dari golongan ini yakni hidroksibenzena, disebut fenol. Fenol sering

    kali ditinjau secara terpisah dari alkohol karena sifat kimianya agak berbeda.

    Fenol merupakan zat cair yang bertitik didih tinggi atau zat padat dengan bau khas

    yang menusuk. Fenol dan kresol berasal dari ter arang, dan banyak yang

    digunakan dalam obat-obatan. Fenolnya sebagai disinfektan (Pine, dkk., 1988).

  • OH CH3

    Cl

    OH

    BrBr

    Brphenol

    1-chloro-4-methylbenzene 2,4,6-tribromophenol

    Fenol termasuk senyawaan yang mempunyai gugus gugus hidroksil yang

    langsung berikatan pada inti benzena.

    Sintesis fenol :

    1. Derivat halogen dari benzen dengan larutan basa pada suhu tinggi, tekanan

    tinggi

    2. Peleburan garam garam dari asam sulfonat dengan basa

    3. Penguraian dari garam garam diazonium.

    Cara cara 1 dan 2 : dalam teknik, cara 3 hanya pada keadaan spesial.

    Sifat sifat ;

    1. Mempunyai sifat asam, atom H dapat diganti tak hanya dengan logam,

    tetapi juga dengan basa. Sifat asam dari fenol lemah dan fenolat ini dapat

    diuraikan dengan cara karbonat.

    2. Mudah dioksidasi, oleh O2 udara dan memberi zat zat warna, mereduksi

    larutan fehling

    3. Memberi reaksi reaksi berwarna dengan FeCl3

    4. Mempunyai sifat antiseptik, beracun. Ka = 1 x 10 -10

    Fenol biasanya diberi nama sebagai turunan senyawa induknya

    Gugus hidroksil di namai sebagai subtituen bila berda dalam molekul yang sama

    dengan gugus asam karboksilat, aldehid atau keton ( Hart, dkk., 2003 ).

  • Oleh karena memiliki gugus fungsi uyang sama, alkohol dan fenol

    mempunyai banyak kemiripan sifat, akan tetapi, jika dengan katalis asam relatif

    mudah memutuskan ikatan C OH dari alkohol, pemutusan tersebut sukar terjadi

    pada fenol, protonisasi gugus hidroksil fenolik dapat terjadi, tetapi lepasnya

    molekul air akan menghasilkan kation fenil. Dengan hanya dua gugus yang

    melekat, karbon positif pada kation fenil seharusnya terhibridisasi dan bebentuk

    linear, akan tetapi geometri ini dicegah oleh struktur cincin benzena, sehingga

    kation fenil sangat sulit terbentuk ( Hart, dkk., 2003 ).

    Alkohol mirip air dalam hal bersikap sebagai suatu basa dan menerima

    sebuah proton ( menghasilkan suatu alkohol terprotonkan, ROH2+ ). Seperti air

    pula, suatu alkohol dapat bersikap sebagai asam dan melepaskan sebuah proton

    ( menghasilkan ion alkoksida, RO - ), sepeti air, alkohol adalah asam atau basa

    yang sangat lemah ; untuk alkohol murni atau alkohol dalam air, kesetimbangan

    ionisasi terletak disebelah kiri ( di daerah alkohol takterionkan ). Dalam larutan

    encer dalam air, alkohol mempunyai pKa yang kira kira sama dengan pKa air,

    namun dalam keadaan murni ( tak ada air ) alkohol - alkohol jauh lebih lemah dari

    pada air, satu alasan mengapa alkohol murni mempunyai keasaman yang lebih

    rendah adalah karena alkohol mempunyai tetapan dielektrik yang lebih rendah.

    Karena mereka kurang polar, alkohol kurang mampu mendukung ion dalam

    larutan dari pada molekul air. Dalam larutan air yang encer, alkohol mempunyai

    nilai pKa yang kira kira sama seperti air ( Fessenden dan Fessenden, 1982 ).

    Adanya gugus OH atau hidroksil adalah ciri khas alkohol dan fenol.

    Tergantung pada sifat atom karbon diman gugus OH menempel. Alkohol

  • digolongkan menjadi tiga kelas yaitu alkohol primer, sekunder, tersier. Sebagai

    suatu kelompok senyawa, alkohol alifatik merupakan cairan yang sifatnya sangat

    dipengaruhi oleh ikatan hidrogen. Dengan bertambah panjangnya rantai, pengaruh

    gugus hidroksilyang polar terhadap sifat molekul menurun. Sifat molekul yang

    seperti air berkurang, sebaliknya sifatnya lebih seperti hidrokarbon. Akibatnya,

    alkohol dengan bobot molekul rendah cenderung larut dalam air, sedangkan

    alkohol berbobot molekul tinggi tidak demikian. Titik didih dan kelarutan fenol

    sangat bervariasi, tergantung pada sifat substituen yang menempel pada benzena

    (Petrucci-Suminar, 1987).

    Atom oksigen yang bervalensi dua, bisa satu atau keduanya berikatan

    dengan karbon, bila satu berikatan dengan hydrogen dan yang lain berikatan

    dengan C-O-H. Bentuk senyawa ini merupakan senyawa organik hidroksilat (-

    OH). Bila gugus OH terilat pada atom karbon alifatis disebut alkohol, alifatik

    dan bila gugus OH terikat pada cincin aromatis disebut fenol. Sifat kimia

    keduanya ini berbeda. Alkohol alifatis dapat dibagi berdasarkan dimana gugus -OH

    terikat pada atom karbon yaitu primer, sekunder, dan tersier (Kimia Organik,

    2008).

  • BAB III

    METODE PERCOBAAN

    3.1 Bahan

    Adapun bahan yang akan digunakan adalah alkohol ( 1-butanol, 2-butanol, 2-

    metil, 2-propanol ), preaksi lucas, kromat anhidrat, logam natrium, fenol, Na2CO3,

    NaHCO3, HCl 0,1 N, H2SO4, dan n-heksana.

    3.2 Alat

    Adapun alat yang akan digunakan adalah tabung reaksi, gelas ukur 10 ml,

    pipet tetes, gelas piala, bulp, dan gegep.

    3.3 Prosedur Percobaan

    Cara kerja sebagai berikut:

    A. Kelarutan dalam air dan n-heksana

    1. Menyiapkan dua tabung reaksi yang bersih dan kering.

    2. Masing-masing tabung reaksi diisi dengan 0,5 ml air (1) dan n-heksana

    (2).

    3. Menambahkan metanol pada tabung reaksi (1) dan (2) sebanyak ( tetes

    ).

    4. Mengocok dan memperhatikan kelarutannya ( dicatat ).

    5. Mengerjakan seperti prosedur 1 s/d 4 dengan menggunakan alkohol yang

    lain.

    6. Mengerjakan seprti diatas dengan menggunakan fenol.

  • B Membedakan Alkohol primer, sekunder, dan tersier dengan cara Lucas

    1. Menyiapkan tiga buah tabung reaksi.

    2. Masing-masing tabung reaksi diisi dengan 1 ml reagen Lucas

    3. Menambahkan alkohol primer pada tabung (1), alkohol sekunder pada

    tabung (2), dan alkohol tersier pada tabung (3).

    4. Mengocok dam membiarkan selama 3-5 menit (pada temperatur kamar).

    5. Memperhatikan perubahan yang terjadi dan dicatat.

    6. Mengerjakan seperti yang diatas dengan menggunakan fenol.

    C. Beberapa reaksi alkohol dan fenol

    C1. Reaksi dengan Na2CO3 dan NaHCO3

    1. Menyiapkan empat tabung reaksi.

    2. Mengisi butil alkohol pada tabung (1), isopropilalkohol pada tabung (2),

    fenol pada tabung (3), dan asam asetat pada tabung (4) sebagai pembanding

    masing-masing 1 ml.

    3. Masing-masing tabung reaksi ditanbahkan dengan 0,5 ml Na2CO3.

    4. Mengocok dan membiarkan selama 3-5 menit.

    5. Memperhatikan perubahan dan dicatat.

    6. Mengerjakan seperti 1 s/d 5 dengan mengganti Na2Co3 dengan NaHCO3.

    C2. Reaksi dengan FeCl3

    1. Menyiapkan empat tabung reaksi.

    2. Mengisi metanol pada tabung (1), etanol pada tabung (2), 2-butanol pada

    tabung (3), dan fenol masing-masing 1 ml.

    3. Menambahkan masing-masing tabung reaksi dengan beberapa tetes FeCl3.

  • 4. Mencatat oerubahan yang terjadi.

  • BAB IV

    HASIL DAN PEMBAHASAN

    4.1 Hasil Pengamatan

    A. Kelarutan dalam air dan n-heksana

    Alkohol/fenol Kelarutan dalam air Kelarutan dalam n-heksana1-butanol Tidak larut Larut fenol Tidak larut Larut-keruhAmyl alkohol Tidak larut Larut 2-propanol Larut-keruh Tidak larut2-butanol Larut-keruh Larut-keruhMetanol Larut Tidak larutEtanol Larut Larut1-propanol Larut Larut2-metil-2-propanol Larut Larut

    B. Pembedakan alkohol primer, sekunder, dan tersier dengan pereaksi Lucas

    Alkohol Pereaksi LucasPrimer (1-butanol) Lambat, keruh Sekunder (2-butanol) Cepat, bening Tersier (2-metil-2-propanol) Lebih Cepat, lebih keruhFenol Terbentuk 2 fase

    C. Reaksi alkohol dan fenol dengan Na2CO3 dan NaHCO3

    Zat Na2CO3 NaHCO3Butil alkohol Larut, keruh, terdapat

    gelembung CO2Larut, keruh, terdapat gelembung CO2

    Isopropilalkohol Larut tapi tidak terjadi perubahan

    Larut tapi tidak terjadi perubahan

    Fenol Terjadi 2 fase, ada gelembung CO2

    Terjadi 2 fase, ada gelembung CO2

    Asam asetat Larut tidak terjadi perubahan warna

    Larut tidak terjadi perubahan warna

  • D. Reaksi alkohol dan fenol dengan FeCl3

    Zat FeCl3 KeteranganMetanol Larut agak bening Kuning terangEtanol Larut agak bening Kuning terang2-butanol Tidak larut Terbentuk 2 faseFenol Tidak larut dan terdapat gelembung

    Terbentuk 2 fase

    4.2 Reaksi

    B..Reaksi alkohol/fenol dengan pereaksi Lucas

    ZnCl21. CH3-CH2-CH2-CH2-OH + HCl pekat CH3-(CH2)3-Cl + H2O

    ZnCl22. CH3-CH-CH2-CH3 + HCl pekat CH3-CH-CH2-CH3 + H2O

    OH Cl

    OH Cl ZnCl2

    3. CH3-C-CH3 + HCl pekat CH3-C-CH3 + H2O CH3 CH3

    4.

    OH

    + HClZnCl2

    Cl

    + H2O

    C1. Reaksi alkohol/fenol dengan natrium Carbonat dan Natrium Bikarbonat

    A.

  • 1. CH3-CH2-CH2-CH2-OH + Na2CO3 CH3-(CH2)3-ONa + NaOH + CO2

    2. CH3-CH-OH + Na2CO3 CH3-CH-ONa + NaOH+CO2 CH3 CH3

    3.OH

    + Na2CO3

    ONa

    + NaOH+ CO2

    O O

    4. CH3-C-OH + Na2CO3 CH3-C-ONa + NaOH +CO2

    B.

    1. CH3-CH2-CH2-CH2-OH + NaHCO3 CH3-(CH2)3-ONa + H20+CO3

    2 CH3-CH-OH + NaHCO3 CH3-CH-ONa + H20 + CO3

    CH3 CH3

    3.OH

    + NaHCO3

    ONa

    + H2O + CO2

    O O 4. CH3-C-OH + NaHCO3 CH3-C-ONa + H2O+CO2

    C2. Reaksi alkohol/fenol dengan Besi III Klorida

    1. CH3-OH + FeCl3 3 CH3-Cl + Fe(OH)3

    2. CH3-CH2-OH + FeCl3 CH3-CH2-Cl + Fe(OH)3

    3. CH3-CH-OH + FeCl3 CH3-CH-CH2-CH3 + Fe(OH)3

  • OH Cl

    4.

    OH

    + FeCl3 FeO

    O O

    3 HCl+

    4.3 Pembahasan

    Untuk mengetahui kelarutan alkohol/fenol maka digunakan preaksi air dan

    n-heksana, dimana alkohol lebih rendah (C1 C2) mempunyai sifat yang

    menyerupai air karena gugus hidroksil (-OH) mengambil bagian yang lebih besar

    dalam molekulnya. Pada metanol dan etanol yang dilarutkan dalam air dapat larut

    sedangkan apabila dilarutkan dalam n-heksana tidak larut karena metanol adalah

    senyawa polar yang bisa larut dengan senyawa polar juga, kalau 1-propanol dan

    2-propanol dapat larut dalam air dan n-hesana karena 1-propanol dan 2-propanol

    memilki sifat diantara sifat polar dan non polar. 1-butanol, 2-butanol dan fenol

    tidak dapat larut dalam air tetapi dapat larut dalam n-heksana karena 1-butanol, 2-

    butanol dan fenol memiliki sifat yang sama dengan n-heksana yaitu non polar.

    Untuk mengetahui kecapatn reaksi antara alkohol promer, sekunder, dan

    tersier maka digunakan preaksi lucas yang merupakan suatu preaksi dari

    campuran ZnCl2 dan HCl pekat yang digunakan untuk membedakan alkohol

    primer, sekunder, dan tersier. Alkohol tersier akan bereaksi segera membentuk

  • lapisan keruh yang terpisah, sedangkan alkohol primer memerlukan pemanasan

    beberapa jam baru terbentuk lapisan keruh. Sehingga kecepatan reaksinya adalah

    tersier > sekunder > primer. Alkohol primer lambat bereaksi karena alkohol

    primer sudah berada pada tingkat yang hampir stabil sedangkan alkohol sekunder

    dan alkohol tersier sangat mudah bereaksi karena lebih tidak stabil dari alkohol

    primer.

    Alkohol dan fenol merupakan asam-asam lemah. Untuk melihat keasaman dari

    alkohol dan fenol dapat digunakan preaksi Na2CO3 dan NaHCO3 yang akan

    membentuk gas CO2 yang ditujukan dengan adanya gelembung-gelembung gas yang

    menuju pada sifat keasaman. Pada butil alkohol yang dicampurkan dengan Na2CO3 dan

    NaHCO3, tidak larut karena terbentuk 2 fase dimana fase tersebut memisahkan antara

    polar dengan nonpolar. Sedangkan isopropilalkohol dan asam asetat dapat bereaksi

    dengan Na2CO3 dan dapat pula bereaksi dengan NaHCO3 karena sama-sama bersifat

    polar. Dan fenol dapat bereaksi dengan Na2CO3 daripada NaHCO3 karena kedua

    preaksi tersebut memilki sifat yang berbeda.

    Alkohol dan fenol dengan reaksi FeCl3, pada metanol dan etanol yang

    dilarutkan pada FeCl3 sangat larut dengan sempurna karena memiliki sifat yang sama,

    kecuali 2-butanol dan fenol yang memilki sifat yang berbeda dengan FeCl3.2-butanol

    dan fenol beabeda dengan FeCl3 karena pada fenol mengalami resonansi dimana

    elektronnya terdelokalisasi sehingga tidak bereaksi dengan FeCl3. alkohol dalam hal ini

    2-butanol juga tidak bereaksi karena alkhol bersifat basa dan polar seperti air, sehingga

    tidak bereaksi dengan FeCl3 yang bersifat asam, tambahan pula fungsi dari FeCl3

    adalah untuk melihat keasaman lewis.

  • BAB V

    KESIMPULAN DAN SARAN

    5.1 Kesimpulan

    Berdasarkan percobaan yang telah dilakukan, maka dapat ditarik

    kempulan bahwa :

    1. Alkohol dan fenol mempunyai kemiripan sifat kimia dan fisika

    berdasarkan kelarutannya dalam air dan n-heksana.

    2. Kecepatan reaksi pada alkohol primer, sekunder dan tersier dengan

    urutan tersier > sekunder > primer.

    3. Reaksi alkohol dan fenol dengan Na2CO3 dan NaHCO3 ditandai dengan

    larutnya senyawa tersebut dan munculnya gelembung gas CO3.

    4. Reaksi alkohol dan fenol yang lebih bagus bereaksi dengan FeCl3 yaitu

    yang tidak terlalu asam.

    5.2 Saran

    Untuk laboraturium agar alat dan bahan yang akan digunakan telah

    tersedia dalam melakukan praktikan agar dapat mengifisienkan waktu. Sebaiknya

    memperhatikan praktikan dalam melakukan praktikum.

  • DAFTAR PUSTAKA

    Fessenden, R., J. dan Fessenden, J., S., 1982, Kimia Organik, Edisi ketiga, Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

    Hart, H., Craine, L.E., Hart, D.J.,2003, Kimia Organik Edisi II, Erlangga, Jakarta

    Petrucci-Suminar, R. H., 1985, Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern, Erlangga, Jakarta.

    Pine, S.H., Hendrickson, J.B., Cram, D.J., Hammond, G.S., Kimia Organik Edisi IV, ITB, Bandung.

    Tim Dosen Kimia, 2008, Penuntun Praktikum Kimia Organik, Universitas Hasanuddin, Makassar.

    Wilbraham, A.C., dan Matta M.S., 1992, Pengantar Kimia Organik dan Hayati, ITB, Bandung.

  • LEMBAR PENGESAHAN

    Makassar, 24 Februari 2008

    Asisten, Praktikan,

    (RAMLAH) (SUKRIADI)

  • LAMPIRAN

    ALKOHOL DAN FENOL